100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
149 tayangan153 halaman

Ekonomi Internasional dan Manfaatnya

Ilmu ekonomi internasional mempelajari hubungan ekonomi antar negara, termasuk teori perdagangan internasional dan neraca pembayaran. Hubungan ekonomi antar negara berupa perdagangan barang dan jasa, pertukaran sumber daya, serta hutang piutang, dan memberi manfaat seperti memperoleh barang yang tidak bisa diproduksi sendiri dan peningkatan efisiensi produksi melalui spesialisasi.

Diunggah oleh

Ian Muhammad Ilham
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
149 tayangan153 halaman

Ekonomi Internasional dan Manfaatnya

Ilmu ekonomi internasional mempelajari hubungan ekonomi antar negara, termasuk teori perdagangan internasional dan neraca pembayaran. Hubungan ekonomi antar negara berupa perdagangan barang dan jasa, pertukaran sumber daya, serta hutang piutang, dan memberi manfaat seperti memperoleh barang yang tidak bisa diproduksi sendiri dan peningkatan efisiensi produksi melalui spesialisasi.

Diunggah oleh

Ian Muhammad Ilham
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC atau baca online di Scribd

PENDAHULUAN

A. Pengertian dan Ruang Lingkup Ekonomi Internasional Dalam perkembangan ekonomi dunia yang makin interdependent dan global, konsekuensi terbesar dapat berupa peningkatan arus perdagangan barang maupun uang antar negara. Batas negara juga makin kurang relevan, khususnya dalam hal perpindahan uang dan investasi. Masing-masing negara tentu saja berupaya untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari perkembangan tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, kajian ilmu ekonomi juga semakin berkembang dan maju, di mana dibutuhkan suatu kajian ekonomi yang secara khusus membahas perekonomian dunia dengan melihat keterkaitan hubungan ekonomi antar negara, dalam hal ini adalah ilmu ekonomi internasional. Ilmu ekonomi internasional adalah cabang ilmu ekonomi yang secara khusus mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan hubungan ekonomi antar negara. Ilmu ekonomi internasional

menggambarkan aplikasi prinsip-prinsip teori ekonomi mikro dan ekonomi makro ke dalam konteks internasional. Ilmu ekonomi internasional mengkaji teori perdagangan

internasional, kebijakan perdagangan internasional, pasar valuta asing dan


Ekonomi Internasional Muh. Ilham

2
neraca pembayaran (balance of payment) yang ditinjau dari aspek teori ekonomi mikro. ilmu ekonomi mikro membahas teori dan kebijakan perdagangan internasional, sebab berhubungan dengan masing-masing negara sebagai individu yang diperlakukan sebagai unit tunggal, serta berhubungan dengan harga relatif satu komoditas. Teori perdagangan internasional menganalisis dasar-dasar terjadinya perdagangan

internasional serta keuntungan yang diperolehnya. Kebijakan perdagangan internasional membahas alasan-alasan serta pengaruh pembatasan perdagangan, serta hal-hal menyangkut proteksionisme baru (new protectionism). Pasar valuta asing merupakan kerangka kerja terjadinya pertukaran mata uang suatu negara dengan mata uang negara lainnya. Sementara dari aspek teori ekonomi makro, neraca pembayaran (balance of payment) mengukur penerimaan total suatu negara dari negara-negara lainnya di dunia dan total pembayaran ke negara-negara tersebut. Ilmu ekonomi makro negara terbuka juga membahas mekanisme penyesuaian dalam ketidaksesuaian neraca pembayaran (defisit dan surplus) seperti halnya pengaruh saling ketergantungan antar negara di bawah sistem moneter internasional yang berbeda, serta pengaruhnya terhadap tingkat pendapatan nasional dan indeks harga umum serta kesejahteraan suatu negara. Hubungan ekonomi internasional berbeda dengan hubungan ekonomi yang terjadi antar penduduk dalam suatu wilayah yang sama (hubungan Ekonomi Muh. Ilham ekonomi dalam negeri). Dalam hubungan ekonomi

Internasional

3
internasional, setiap negara selalu menerapkan beberapa pembatasan (restriksi) terhadap arus barang, jasa, serta berbagai macam faktor produksi yang akan melintasi batas negaranya. Hal tersebut tidak dilakukan secara internal (dalam negeri). Selain itu, arus ekonomi internasional banyak dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan bahasa, adat istiadat, serta hukum yang berlaku di masing-masing negara. Selanjutnya, arus barang, jasa, dan sumber daya secara internasional juga akan menimbulkan pembayaran dan penerimaan dalam bentuk mata uang asing, yang nilainya selalu berubah sepanjang waktu. Ilmu ekonomi internasiomal telah mengalami perkembangan yang cukup pesat dan berkelanjutan hingga saat ini. Perkembangan ilmu ekonomi internasional tersebut tak lepas dari kontribusi banyak ahli ekonomi terkenal seperti Adam Smith, David Ricardo, Jhon Stuart Mill, Alfred Marshall, Eli Heckscher, Bertil Ohlin, Paul Anthoni Samuelson, dan lain-lain. Ilmu ekonomi internasional akan terus berkembang, tentunya tidak lepas dari berbagai masalah dalam ekonomi internasional dengan yang terus

bermunculan.

Misalnya

kaitannya

perdagangan

internasional, masalah yang serius dihadapi dunia saat ini adalah meningkatknya proteksionisme di berbagai negara maju (developed countries) serta kecenderungan negara-negara di dunia membentuk blokblok perdagangan, walaupun di sisi lain negara-negara maju terus mendengungkan adanya perdagangan bebas. Berkaitan dengan masaah Ekonomi Muh. Ilham Internasional

4
moneter internasional adalah menyangkut ketidakstabilan kurs valuta asing yang terus berlanjut, serta besarnya dan menetapnya misalignment (yaitu fakta bahwa kurs dapat berada jauh di luar keseimbangan untuk jangka waktu lama). Masalah ekonomi internasional lainnya yang dianggap serius antara lain munculnya tingkat pengangguran yang cukup tinggi, serta tingginya kemiskinan dan melebarnya jurang ketidakadilan

(inequlities) yang dihadapi berbagai negara miskin di dunia. Oleh karena itu, melalui hubungan ekonomi antar negara yang terjadi secara murni diharapkan mampu melihat dan mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing negara maupun secara global. Hubungan ekonomi antar suatu negara dengan negara lainnya (hubungan ekonomi internasional) meliputi berbagai macam kegiatan yang dapat digolongkan dalam tiga bentuk, yaitu : 1. Hubungan ekonomi yang terjadi karena adanya pertukaran atau perdagangan barang dan jasa yang dihasilkan. 2. Hubungan ekonomi yang terjadi karena adanya pertukaran sumber daya ekonomi atau faktor-faktor produksi. 3. Hubungan ekonomi yang terjadi karena adanya hubungan hutang piutang. Ketiga bentuk hubungan ekonomi tersebut memiliki kaitan yang erat satu sama lain. Misalnya, hubungan hutang piutang antara suatu negara dengan negara lainnya dapat terjadi karena adanya hubungan

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

5
perdagangan barang dan jasa, atau karena adanya hubungan pertukaran faktor-faktor produksi. Terjadinya hubungan ekonomi internasional didorong oleh perbedaan antar negara, perbedaan yang dimaksud adalah : 1. Iklim dan kesuburan tanah. Perbedaan iklim dan kesuburan tanah mengakibatkan adanya perbedaan barang hasil-hasil pertanian, hasil tambang dan mineral, serta sumber alam lainnya. 2. Kebudayaan dan gaya hidup. Perbedaan kebudayaan dan gaya hidup masing-masing negara mengakibatkan perbedaan barang-barang yang dihasilkan oleh masing-masing negara. Barang-barang seni atau kerajinan yang dihasilkan suatu negara sangat diwarnai oleh kebudayaan dan gaya hidup masyarakatnya. 3. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perbedaan ilmu pengetahuan dan teknologi berimplikasi pada timbulnya perbedaan jenis barang yang dihasilkan. Negara dengan teknologi lebih maju cenderung lebih banyak menghasilkan barang-barang industri.

Sebaliknya negara yang belum maju teknologinya lebih banyak menghasilkan barang-barang agraris. 4. Kebutuhan yang semakin bertambah. Semakin maju suatu

masyarakat, maka kebutuhannya semakin banyak, sehingga relatif terbatas untuk memenuhinya apabila hanya mengandalkan hasil produksi dalam negeri.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

6
5. Adanya spesialisasi internasional. Negara agraris akan

mengembangkan produksi pertanian yang padat tenaga kerja (labor intensif), sedangkan negara yang relatif lebih tandus akan

mengembangkan teknologi yang menghasilkan barang-barang industri dengan padat modal (capital intensif). 6. Semakin berkembangnya kegiatan perusahaan multinasional

(multinational corporation). Dewasa ini kegiatan perusahaan besar banyak yang beroperasi di berbagai negara, sehingga hubungan ekonomi semakin berkembang. Dengan berbagai perbedaan antar negara di dunia, maka melalui hubungan ekonomi internasional diharapkan masing-masing negara yang melakukan hubungan dapat saling memetik manfaat yang berarti, baik untuk kepentingan nasional masing-masing negara maupun dunia internasional pada umumnya. B. Manfaat Hubungan Ekonomi Internasional Hubungan ekonomi yang berlangsung antar negara dapat memberi manfaat dan keuntungan bagi masing-masing negara yang melakukan hubungan ekonomi, yaitu di antaranya : 1. Negara-negara yang melakukan hubungan ekonomi dapat memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang tidak dapat diproduksi sendiri di dalam negeri. 2. Masing-masing negara dapat melakukan spesialisasi dalam

memproduksi barang ataupun jasa yang efisiensinya lebih tinggi di Ekonomi Muh. Ilham Internasional

7
banding negara lain, atau suatu negara dapat memproduksi barang ataupun jasa dengan harga yang relatif rendah di banding negara lainnya. 3. Memungkinkan dilakukannya perluasan pasar bagi barang-barang ataupun jasa yang diproduksi di dalam negeri tetapi tidak dapat lagi dinaikkan penjualannya di dalam negeri, karena kebutuhan di dalam negeri sudah terpenuhi, sementara kapasitas penggunaan faktor-faktor produksi belum optimal. Dalm kondisi demikian, maka perlu melakukan ekspor ke luar negeri, sehingga kapasitas produksi tetap dapat ditingkatkan dengan penggunaan alat-alat produksi yang semakin efisien. 4. Memungkinkan terjadinya arus faktor-faktor produksi dari suatu negara ke negara lainnya. Misalnya arus modal dari negara yang memiliki modal ke negara yang relatif kekurangan modal. Arus modal (dana) tersebut dapat terjadi melalui investasi maupun hutang piutang. Demikian halnya dengan arus tenaga kerja, baik kuantitas maupun kualitas. 5. Memungkinkan terjadinya alih teknologi dari suatu negara ke negara lainnya, berupa penggunaan teknik produksi yang lebih modern dan tepat guna, pengelelolaan perusahaan yang lebih modern. Hal tersebut memungkinkan suatu negara dapat meningkatkan produktivitasnya.

C. Rangkuman 1. Ilmu ekonomi internasional adalah cabang ilmu ekonomi yang secara khusus mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan hubungan

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

8
ekonomi antar negara. Ilmu ekonomi internasional menggambarkan aplikasi prinsip-prinsip teori ekonomi mikro dan ekonomi makro ke dalam konteks internasional. 2. Hubungan ekonomi antar suatu negara dengan negara lainnya dapat berbentuk : a. b. c. Pertukaran atau perdagangan barang dan jasa yang dihasilkan. Pertukaran sumber daya ekonomi atau faktor-faktor produksi. Hubungan hutang piutang.

3. Terjadinya hubungan ekonomi internasional didorong oleh perbedaan antar negara, yakni : a. b. c. d. e. f. Iklim dan kesuburan tanah. Kebudayaan dan gaya hidup. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kebutuhan yang semakin bertambah. Adanya spesialisasi internasional. Semakin berkembangnya kegiatan perusahaan multinasional

(multinational corporation). 4. Hubungan ekonomi yang berlangsung antar negara dapat memberi manfaat dan keuntungan bagi masing-masing negara yang

melakukan hubungan ekonomi, yaitu di antaranya : a. Dapat memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang tidak dapat diproduksi sendiri di dalam negeri. b. Dapat melakukan spesialisasi. Ekonomi Muh. Ilham Internasional

9
c. Memungkinkan dilakukannya perluasan pasar. d. Memungkinkan terjadinya arus faktor-faktor produksi dari suatu negara ke negara lainnya. e. Memungkinkan terjadinya alih teknologi dari suatu negara ke negara lainnya. D. Soal-Soal Latihan 1. Jelaskan ruang lingkup dan pengertian ekonomi internasional 2. Jelaskan dalam kerangka apa hubungan ekonomi internasional dapat terjadi. 3. Uraikan perbedaan-perbedaan apa saja yang terjadi sehingga timbul hubungan ekonomi internasional 4. Jelaskan manfaat hubungan ekonomi internasional

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

TEORI PERDAGANGAN INTERNASIONAL

A. Pengertian dan Ruang Lingkup Perdagangan Internasional Perdagangan atau pertukaran barang dan jasa antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain merupakan salah satu bentuk hubungan ekonomi internasional. Perdagangan timbul karena salah satu atau kedua belah pihak memperoleh manfaat tambahan dari kegiatan tersebut. Suatu perdagangan yang murni dapat terjadi atas dasar suka rela antara kedua belah pihak, yaitu hubungan perdagangan yang terjadi tanpa adanya tekanan dari satu pihak terhadap pihak lainnya atau tanpa dikaitkan dengan faktor-faktor di luar faktor ekonomi. Jadi secara teoritis terjadinya hubungan perdagangan didasari oleh manfaat ekonomi yang dapat diperoleh masing-masing negara. Dalam kenyataannya sering kita mengamati bahwa terjadinya hubungan perdagangan antar suatu negara dengan negara lainnya seringkali dikaitkan dengan faktor non ekonomi, misalnya faktor politik. Seringkali kita mengamati kebanyakan negara-negara berkembang mengalami tekanan-tekanan baik politik maupun ekonomi dari negaranegara maju yang memiliki kekuatan ekonomi dan politik internasional. Negara-negara berkembang terpaksa harus tunduk terhadap berbagai
Ekonomi Internasional Muh. Ilham

10

11
kebijakan ekonomi maupun politik negara-negara maju dalam melakukan hubungan perdagangan ataupun hubungan ekonomi secara umum dengan negara-negara maju. Namun demikian, dalam pembahasan perdagangan internasional kita hanya mengkaji dari aspek ekonomi.

B. Pandangan Merkantilisme Mengenai Perdagangan Internasional Merkantilisme merupakan suatu sistem tentang kebijakan ekonomi yang dianjurkan dan dipraktekkan sekelompok negarawan-negarawan Eropa pada abad XVI dan XVII. Oleh Adam Smith (1776) menamakan sistem ini dengan The commercial or mercantile system. Jadi merkantilisme belum merupakan suatu teori perdagangan, akan tetapi masih merupakan ide yang dianjurkan oleh para penganjurnya, antara lain Sir Josiah Child, Thomas Mun, Jean Bodin, Von Hornich, dan telah dipraktekkan di negara-negara Eropa pada masa tersebut di atas. Adapun ide pokok merkantilisme dalam kebijakan perdagangan luar negeri adalah : 1) Penumpukan logam mulia, 2) Keinginan untuk mencapai dan mempertahankan kelebihan nilai ekspor terhadap nilai impor. Pada dasarnya ide merkantilisme tersebut berkembang berkaitan dengan tujuan merkantilisme yaitu pembentukan negara nasional yang kuat dan pemupukan kemakmuran nasional untuk mempertahankan dan mengembangkan kekuatan negara. Guna mencapai tujuan tersebut, maka alat yang dapat digunakan adalah melalui perdagangan internasional. Sir Josiah Child (1630-1699) menyatakan yang artinya bahwa perdagangan Ekonomi Muh. Ilham Internasional

12
luar negeri menghasilkan kekayaan, kekayaan menghasilkan kekuasaan, kekuasaan melindungi/mempertahankan perdagangan dan agama kita. Merkantilisme beranggapan bahwa untuk mencapai kekayaan, kemakmuran dan kekuasaan, maka logam mulia harus diperbanyak melalui perdagangan yang surplus. Melalui perdagangan yang surplus dapat diperoleh logam mulia. Logam mulia atau uang lebih berharga dari pada barang-barang lainnya. Oleh karena itu pada awal perkembangan merkantilisme, eskpor logam mulia tidak diperbolehkan, karena dapat mengurangi cadangan di dalam negeri. Untuk menghasilkan neraca perdagangan yang menguntungkan (surplus), maka merkantilsme menempuh kebijakan perdagangan yang protektif, di mana ekspor harus didorong berupa pemberian subsidi terhadap industri barang-barang ekspor, pelarangan ekspor bahan mentah agar harga bahan mentah domestik tetap rendah. Sebaliknya untuk barang-barang impor dibatasi sedemikian rupa dengan menetapkan tarif yang cukup tinggi ataupun larangan secara langsung masuknya barangbarang impor apabila dapat dihasilkan sendiri di dalam negeri. Selanjutnya di bidang ketenagakerjaan, diterapkan pelarangan emigrasi bagi tenaga-tenaga teknisi, upah tenaga kerja harus

dipertahankan serendah mungkin, agar harga barang-barang dan jasajasa di dalam negeri tetap murah di banding harga barang-barang impor. Kebijakan lain yang diterapkan oleh merkantilisme adalah kebijakan monopoli perdagangan dalam upaya memperoleh daerah-daerah jajahan. Ekonomi Muh. Ilham Internasional

13
Ide kebijakan perdagangan yang dikembangkan oleh kaum

merkantilisme terutama menyangkut penumpukan logam mulia dikritik oleh David Hume dengan mekanisme otomatis dari aliran logam mulia-harga ( price-specie flow mechanism). Logam mulia merupakan alat pembayaran yang digunakan dalam perdagangan. Apabila ekspor lebih besar dari pada impor, maka terjadi aliran uang masuk yang semakin banyak (jumlah uang beredar bertambah). Bertambahnya uang beredar di dalam negeri yang tidak diimbangi dengan peningkatan produksi barang dan jasa, maka akan terjadi inflasi atau kenaikan harga. Kenaikan harga dalam negeri tentu mengakibatkan naiknya harga barang ekspor, sehingga volume ekspor menurun. Di sisi lain, harga barang impor menjadi lebih rendah, sehingga volume impor meningkat. Kondisi demikian mengakibatkan neraca perdagangan menjadi defisit (ekspor lebih kecil dari pada impor) yang berdampak pada berkurangnya uang beredar (logam mulia). Berkurangnya logam mulia atau uang beredar mengakibatkan kemakmuran negara yang bersangkutan menjadi lebih rendah, karena logam mulia identik dengan kekayaan dan kemakmuran. Dengan demikian melalui mekanisme penyesuaian neraca perdagangan otomatis (price-specie flow

mechanism), tidaklah mungkin untuk dapat mempertahankan neraca perdagan yang surplus. Selanjutnya, penumpukan logam mulia oleh individu mengakibatkan inefisiensi ekonomi yang dapat menghambat perkembangan kegiatan ekonomi, di mana investasi produktif yang dilakukan menurun, sehingga Ekonomi Muh. Ilham Internasional

14
produksi barang dan jasa tidak dapat ditingkatkan yang berdampak pada menurunnya kekayaan dan kemakmuran nasional. Dengan adanya kritik tersebut, maka ide merkantilisme tidak relevan lagi.

C. Teori Perdagangan Internasional : Klasik 1. Teori Keunggulan Absolut Teori keunggulan absolut atau keunggulan mutlak (absolut advantage) dikemukakan oleh Adam Smith sebagai kritik terhadap ideide yang dikemukakan oleh merkantilisme. Kritik Adam Smith tersebut adalah dengan mengemukakan pendapat sebagai berikut : 1) Ukuran kemakmuran suatu negara bukanlah ditentukan oleh banyak logam mulia (uang). Tetapi kemakmuran suatu negara ditentukan oleh besar Gross Domestic Produkct (GDP). Jadi yang penting adalah apa yang dapat dibeli dengan uang yang dimiliki. 2) Untuk meningkatkan GDP dan perdagangan luar negeri, maka pemerintah harus mengurangi intervensinya dalam perekonomian, sehingga akan tercipta perdagangan bebas (free trade). Perdagangan bebas akan menimbulkan persaingan (competition) yang semakin ketat, sehingga mendorong masing-masing negara untuk melakukan spesialisasi/pembagian kerja internasional berdasarkan keunggulan absolut yang dimiliki oleh masing-masing negara. Keunggulan absolut diartikan sebagai keunggulan yang dinyatakan dengan banyaknya jam kerja per hari yang dibutuhkan untuk membuat barang-barang ataupun Ekonomi Muh. Ilham Internasional

15
jasa-jasa. Jadi keunggulan absolut diperoleh apabila suatu negara mampu memproduksikan suatu barang ataupun jasa dengan jumlah jam per hari kerja yang lebih sedikit dibandingkan seandainya barang/jasa tersebut dibuat oleh negara lain. 3) Spesialisasi internasional akan mendorong masing-masing negara untuk memfokuskan produksinya pada barang-barang tertentu yang sesuai dengan keunggulan yang dimilikinya, baik itu keunggulan alamiah (natural advantage) ataupun keunggulan yang

diperkembangkan (acquired advantage). Keunggulan alamiah adalah keunggulan yang diperoleh karena sesuatu negara memiliki sumber daya alam yang tidak dimiliki oleh negara lain, baik kuantitas maupun kualitas. Keunggulan yang diperkembangklan adalah keunggulan yang diperoleh karena sesuatu negara telah mampu mengembangkan kemampuan dan keterampilan dalam menghasilkan produk-produk yang diperdagangkan yang belum dimiliki oleh negara lain. 4) Spesialisasi internasional dapat memberikan hasil berupa manfaat perdagangan (gains of trade) berupa kenaikan produktivitas dan efisiensi, sehingga terjadi kenaikan GDP dan perdagangan luar negeri yang berimplikasi pada kenaikan produksi dan konsumsi barang dan jasa yang identik dengan peningkatan kemakmuran suatu negara. Berdasarkan teori keunggulan absolut bahwa setiap negara akan memperoleh manfaat perdagangan internasional karena melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang/jasa jika negara tersebut Ekonomi Muh. Ilham Internasional

16
memiliki keunggulan mutlak serta mengimpor barang jika negara tersebut tidak memiliki keunggulan mutlak untuk suatu barang tertentu. Jadi suatu negara dapat melakukan perdagangan dengan negara lain dan akan saling memperoleh keuntungan jika masing-masing negara tersebut mempunyai keunggulan mutlak terhadap barang-barang yang mereka produksi. Teori keunggulan absolut ini didasarkan pada beberapa asumsi pokok antara lain sebagai berikut : 1. Faktor produksi yang diperhitungkan hanya tenaga kerja 2. Kualitas barang yang diproduksikan kedua negara sama. 3. Pertukaran dilakukan secara barter (tanpa menggunakan uang). 4. Biaya transport diabaikan. Berikut ini akan diberikan contoh terjadinya hubungan perdagangan antara dua negara berdasarkan model keunggulan absolut. Tabel 1 : Keunggulan Absolut Berdasarkan Jam Kerja Per Satuan Output.
Negara Indonesia Malaysia Kain 15 menit/meter 10 menit/meter Timah 60 menit/kg 100 menit/gram Dasar Tukar Domestik (DTD) 1 kg timah = 4 meter kain 1 kg timah = 10 meter kain

Tabel 1 menunjukkan bahwa Indonesia dapat menghasilkan timah per kg dalam waktu 60 menit, sedangkan kain dapat dihasilkannya dalam waktu 15 menit per meter. Di pihak lain, Malaysia dapat menghasilkan timah per kg dalam waktu 100 menit dan dapat menghasilkan kain per meter dalam waktu 10 menit. Dengan demikian Indonesia memiliki keunggulan absolut dalam produksi timah, karena jumlah jam kerja yang Ekonomi Muh. Ilham Internasional

17
digunakan untuk menghasilkan 1 kg timah lebih rendah di banding jumlah jam kerja yang digunakan Malaysia. Sebaliknya Malaysia memiliki keunggulan absolut dalam produksi kain, karena jumlah jam kerja yang digunakannya lebih rendah bila di bandingkan jumlah jam kerja yang digunakan Indonesia dalam produksi kain. Apabila kedua negara mengadakan hubungan perdagangan, maka Indonesia akan mengekspor timah dan megimpor kain, sebaliknya Malaysia akan mengekspor kain dan mengimpor timah. Kedua negara akan memperoleh keuntungan apabila dasar tukar internasional (DTI) berada di antara dasar tukar domestik (DTD) masing-masing negara. Dimisalkan DTI yang berlaku adalah 1 kg timah = 7 meter kain. Keuntungan yang dapat diperoleh Indonesia melalui perdagangan tersebut adalah Indonesia akan memperoleh keuntungan 3 meter kain, karena di Indonesia 1 kg timah hanya dapat ditukarkan sebanyak 4 meter kain, sementara dalam perdagangan internasional 1 kg timah dapat ditukarkan sebanyak 7 meter kain. Demikian halnya Malaysia akan memperoleh keuntungan 3 meter kain, karena di Malaysia 10 meter kain hanya dapat ditukarkan internasional dengan untuk 1 kg timah, sementara 1 kg dalam perdagangan cukup

memperoleh

timah

Malaysia

menukarkannya dengan 7 meter kain, atau Malaysia dapat memperoleh tambahan 1 kg timah menjadi 1,43 kg timah apabila menukarkan 10 meter kain (yaitu 10 ; 7 = 1,43)

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

18
Jika jumlah jam kerja tenaga kerja dikonversi ke ongkos produksi yang kemudian menentukan harga barang (berdasarkan asumsi hanya faktor produksi tenaga kerja yang diperhitungkan), maka dapat dikatakan bahwa harga kain di Indonesia 1,5 kali lebih mahal di banding harga kain di Malaysia (yaitu 15 menit/meter : 10 menit/permeter). Sebaliknya, harga timah di Malaysia 1,67 kali lebih mahal di banding harga timah di Indonesia. Oleh karena itu, rasional jika Indonesia sebaiknya hanya memproduksi timah kemudian mengekspor ke Malaysia, dan mengimpor kain dari Malaysia. Sebaliknya, Malaysia akan lebih baik jika hanya memproduksi kain kemudian mengekspor ke Indonesia, dan mengimpor timah dari Indonesia. Selanjutnya dalam bentuk lain dapat diberikan contoh berdasarkan jumlah output per tenaga kerja dalam 1 hari (8 jam kerja).

Tabel 2 : Keunggulan absolut berdasarkan jumlah output per tenaga kerja per hari (8 jam kerja)
Negara Indonesia Malaysia Kain 32 meter 48 meter Timah 8 kg 4,8 kg Dasar Tukar Domestik (DTD) 1 kg timah = 4 meter kain, atau 8 kg timah = 32 meter kain 1 kg timah = 10 meter kain, atau 8 kg timah = 80 meter kain

Penjelasan tabel 1 dapat pula digunakan untuk penjelasan tabel 2. Untuk penjelasan dengan angka yang berbeda yaitu berdasarkan jumlah output yang dihasilkan per tenaga kerja per hari dengan DTI 1 kg timah = 7 meter kain, maka Indonesia berdasarkan output yang

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

19
dihasilkannya pada tabel 2 apabila mengadakan perdagangan dengan Malaysia, maka 8 kg timah dapat ditukar dengan 56 meter kain (yaitu 8 x 7 = 56), sehingga Indonesia akan memperoleh total keuntungan 24 meter kain, karena melalui perdagangan internasional 8 kg timah dapat ditukarkan sebanyak 56 meter kain, sementara perdagangan di domestik Indonesia hanya akan memperoleh 32 meter kain (8 x 4 = 32), yang berarti ada tambahan keuntungan sebesar 24 meter kain. Selanjutnya Malaysia berdasarkan output yang dihasilkannya apabila mengadakan perdagangan dengan Indonesia pada DTI 1 kg timah = 7 meter kain (atau 8 kg timah = 56 meter kain), maka Malaysia akan memperoleh keuntungan 24 meter kain, karena di domestik (Malaysia) 8 kg timah dapat ditukarkan dengan 80 meter kain, sementara dalam perdagangan internasional 8 kg timah cukup ditukarkan sebanyak 56 meter kain. Atau jika dihitung keuntungan dalam perolehan timah, maka dalam perdagangan domestik 80 meter kain dapat ditukar dengan 8 kg timah, sedangkan dalam perdagangan internasional 80 meter kain dapat ditukar dengan 11,43 kg timah (80 : 7 = 11,43), dengan demikian Malaysia akan memperoleh tambahan sebanyak 3,43 kg timah. Apabila kedua negara tidak memperdagangkan seluruh jumlah outputnya antara kedua jenis barang berdasarkan tabel 1 dan 2, maka akan terjadi surplus. Dengan surplus tersebut, maka kedua negara
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

20
akan menukarkannya dengan jenis barang lainnya yang diproduksikan oleh negara mitra dagangnya, atau bahkan mencari pasar di negara lainnya. Dengan demikian perdagangan bebas melalui keunggulan absolut akan menciptakan spesialisasi internasional yang dilakukan oleh masing-masing negara dan semakin memperluas perdagangan internasional, memperbesar output dan konsumsi, serta meningkatkan kemakmuran penduduk negara-negara yang mengadakan hubungan perdagangan.

2. Teori Keunggulan Komparatif : David Ricardo Penjelasan mengenai hukum keunggulan komparatif

dikemukakan oleh David Ricardo dalam bukunya Principles of Political Economy and Taxation (1817). Menurut hukum keunggulan komparatif, meskipun sebuah negara kurang efisien dibanding (atau memiliki kerugian absolut terhadap) negara lain dalam memproduksi kedua jenis komoditi yang dihasilkan, namun masih tetap terdapat dasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak. Negara A misalnya harus melakukan spesialisasi dalam memproduksi dan mengekspor komoditi yang memiliki kerugian absolut lebih kecil (yang merupakan komoditi yang memiliki keunggulan komparatif) dan mengimpor komoditi yang memiliki kerugian absolut cukup besar (komoditi yang memiliki kerugian komparatif). Jadi harga sesuatu barang
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

21
tergantung dari banyaknya tenaga kerja yang dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut. Teori keunggulan absolut tidak dapat digunakan sebagai dasar dalam perdagangan internasional apabila salah satu negara memiliki keunggulan absolut atas kedua jenis komoditi. Atau dengan kata lain bahwa bila salah satu negara memiliki keunggulan absolut atas kedua jenis komoditi, maka perdagangan tidak akan terjadi. Namun dengan teori keunggulan komparatif, perdagangan internasional antara dua negara masih dapat berlangsung walaupun salah satu negara memiliki keunggulan absolut atas kedua jenis komoditi. Hal tersebut dapat dijelaskan pada contoh di bawah ini. Tabel 3 : Keunggulan komparatif berdasarkan jam kerja per satuan output : David Ricardo
Negara India Malaysia Permadani 30 menit/meter 40 menit/meter Sutra 24 menit/meter 50 menit/meter Dasar Tukar Domestik (DTD) 1 meter sutra = 0,8 meter permadani 1 meter sutra = 1,25 meter permadani

Pada tabel 3 bila dilihat jumlah jam (waktu) yang digunakan tanpa memperhatikan perbandingan dasar tukar domestik antara permadani dan sutra di kedua negara, tampaknya India memiliki keunggulan absolut atas permadani dan sutra, karena India dapat menghasilkan permadani dalam waktu 30 menit/meter, sedangkan Malaysia menggunakan waktu yang lebih banyak 40 menit/meter, begitu pula sutra, India hanya menggunakan waktu 24 menit/meter,
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

22
sedangkan Malaysia menggunakan 50 menit/meter. Dengan demikian berdasarkan teori keunggulan absolut, perdagangan antara India dan Malaysia tidak akan terjadi, karena India memiliki keunggulan absolut atas kedua jenis komoditi. Bila didasarkan pada teori keunggulan komparatif, perdagangan antara India dan Malaysia masih tetap akan terjadi, karena secara komparatif India memiliki keunggulan atas sutra dan Malaysia memiliki keunggulan atas permadani. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan dasar tukar domestik masing-masing negara, yaitu DTD di India adalah 1 meter sutra dapat ditukar dengan 0,8 meter permadani, sementara di Malaysia 1 meter sutra dapat ditukar dengan 1,25 meter permadani. Atau dengan kata lain bahwa di India harga sutra lebih murah di banding harga permadani (karena ongkos produksinya hanya 24/50 atau 48 % dari ongkos produksi sutra di Malaysia, sedang ongkos produksi permadani 30/40 atau 75 % dari ongkos produksi permadani di Malaysia). Sebaliknya di Malaysia harga permadani lebih murah dibandingkan harga sutra (karena ongkos produksi permadani adalah 40/30 atau 133,33 % dari ongkos produksi di India, sedangkan ongkos produksi sutra adalah 208,33 % dari ongkos produksi di India). Perbedaan harga komoditi di kedua negara dapat pula dijelaskan sebagai berikut : harga relatif sutra terhadap permadani di India

sebesar (24/30 = 0,8) adalah lebih rendah di banding Malaysia sebesar


Ekonomi Muh. Ilham Internasional

23
( 50/40 = 1,25), dan harga relatif permadani terhadap sutra di Malaysia sebesar (40/50 = 0,8) adalah lebih rendah di banding India sebesar (30/24 = 1,25). Menurut Ricardo bahwa keuntungan perdagangan dapat diperoleh kedua negara yang melakukan hubungan perdagangan apabila dasar tukar internasional (DTI) 1 : 1. Dengan DTI 1 : 1, maka India akan memperoleh keuntungan sebanyak 0,2 meter permadani, karena di domestiik 1 meter sutra dapat ditukar dengan 0,8 meter permadani, tetapi melalui perdagangan internasional 1 meter sutra dapat ditukar dengan 1 meter permadani. Selanjutnya, Malaysia memperoleh keuntungan sebanyak 0,25 meter sutra, karena di domestik 1 meter sutra dapat ditukar dengan 1,25 meter permadani, tetapi dengan perdagangan internasional 1 meter sutra dapat ditukar dengan 1 meter permadani, dalam hal ini keuntungan Malaysia adalah berupa efisiensi dalam menukarkan permadani, yaitu dari 1,25 meter permadani menjadi hanya 1 meter permadani untuk memperoleh 1 meter sutra. Selanjutnya dalam bentuk lain, yaitu banyaknya komoditi yang dapat dihasilkan per tenaga kerja dalam satu hari dengan jumlah jam kerja 8 jam per hari adalah sebagaimana pada tabel berikut : Tabel 4 : Keunggulan komparatif berdasarkan output per tenaga kerja per hari (8jam kerja) : David Ricardo
Negara India Permadani 16 meter Sutra 20 meter Dasar Tukar Domestik (DTD) 1 meter sutra = 0,8 meter permadani 20 meter sutra = 16 meter permadani

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

24
Malaysia 12 meter 9,6 meter 1 meter sutra = 1,25 meter permadani 9,6 meter sutra = 12 meter permadani

Berdasarkan tabel 4 setiap tenaga kerja di India dapat menghasilkan permadani dalam sehari sebanyak 16 meter dan sutra sebanyak 20 meter, sedangkan Malaysia dapat menghasilkan 12 permadani dan 9,6 meter sutra. Apabila kedua negara melakukan perdagangan dengan DTI 1 : 1, maka India dapat memperoleh permadani sebanyak 20 meter (ada tambahan 4 meter permadani, yaitu dari 16 meter menjadi 20 meter), dan Malaysia dapat memperoleh sutra sebanyak 12 meter (ada tambahan sebanyak 2,4 meter sutra, yaitu dari 9,6 meter menjadi 12 meter). Apabila DTD kedua negara atau salah satu negara sama dengan DTI 1 : 1, maka perdagangan antara kedua negara kecil kemungkinan untuk terjadi karena perdagangan luar negeri menghasilkan keuntungan sama dengan perdagangan domestik. Demikian halnya bila DTD kedua negara adalah 1 : 1, maka perdagangan juga tidak terjadi karena salah satu negara akan memperoleh kerugian. Jadi perdagangan yang akan memberi keuntungan kedua negara apabila DTI 1 : 1 berada di antara DTD masing-masing negara. 3. Teori Keunggulan komparatif : Jhon Stuart Mill

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

25
Teori ini menyatakan bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh banyaknya tenaga kerja yang dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut. Makin banyak tenaga kerja yang digunakan untuk

memproduksi suatu barang, makin mahal harga barang tersebut. Suatu negara akan memproduksi dan mengekspor barang yang memiliki keunggulan komparatif terbesar dan mengimpor barang yang memiliki relatif kerugian komparatif. Atau dengan kata lain suatu negara akan memproduksi dan mengekspor barang yang dapat dihasilkan dengan harga relatif murah dan mengimpor barang yang apabila diproduksi sendiri menggunakan ongkos produksi yang relatif lebih besar. Pada dasarnya teori keunggulan komparatif yang dikemukakan David Ricardo dan J.S. Mill sama, yang membedakan adalah penentuan dasar tukar internasional (DTI). Menurut Ricardo bahwa perdagangan yang dapat memberikan keuntungan kedua belah pihak adalah DTI 1 : 1, sedangkan J.S. Mill DTI tidak perlu 1 : 1, asalkan DTI berada di antara DTD masing-masing negara, maka perdagangan kedua belah pihak dapat dilaksanakan dengan memberikan keuntungan kedua-duanya. Tabel 5 : Keunggulan komparatif berdasarkan jam kerja per satuan output : J.S. Mill.
Negara Iran Indonesia Sutra 2 jam/meter 1 jam/meter Permadani 4 jam/meter 5 jam/meter Dasar Tukar Domestik (DTD) 1 meter permadani = 2 meter sutra 1 meter permadani = 5 meter sutra

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

26
Berdasarkan tabel 5 apabila DTI 1 : 1, maka perdagangan antara Iran dan Indonesia tidak akan terjadi, karena kedua negara hanya bersedia menukarkan sutra untuk memperoleh permadani. Jika Iran berspesialisasi pada permadani, maka dengan DTI 1 meter permadani = 1 meter sutra berarti dalam perdagangan internasional Iran akan mengalami kerugian sebesar 1 meter sutra (yaitu dari 2 meter sutra yang dapat ditukarkan dengan 1 meter permadani di dalam negeri, sedangkan di luar negeri Iran hanya akan memperoleh 1 meter sutra). Sebaliknya, Indonesia jika berspesialisasi pada sutra, maka akan mengalami keuntungan sebanyak 4 meter sutra (yaitu dari 5 meter sutra yang dapat ditukarkan dengan 1 meter permadani di dalam negeri, maka di luar negeri hanya ditukarkan sebanyak 1 meter sutra untuk memperoleh 1 meter permadani, yang berarti Indonesia akan memperoleh efisiensi sebanyak 4 meter sutra). Selanjutnya, jika diandaikan Iran berspesialisasi pada sutra, maka dengan DTI 1 meter permadani : 1 meter sutra, Iran akan memperoleh keuntungan sebesar 1 meter sutra, karena di dalam negeri untuk memperoleh 1 meter permadani harus ditukarkan dengan sutra sebanyak 2 meter. Sebaliknya, jika Indonesia berspesialisasi pada permadani, maka dengan DTI 1 meter permadani = 1 meter sutra, Indonesia akan mengalami kerugian sebanyak 4 meter sutra,

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

27
karena di dalam negeri jika 1 meter permadani ditukar dengan sutra, maka akan diperoleh sebanyak 5 meter sutra. Berdasarkan dua kondisi yang digambarkan di atas, maka hubungan perdagangan antara dua Iran dan Indonesia tidak akan terjadi. Hal tersebut disebabkan karena, ada negara yang mengalami keuntungan, tetapi negara lainnya mengalami kerugian. Menurut J.S. Mill, berdasarkan data pada tabel 5, perdagangan antara Iran dan Indonesia dapat terjadi dan memberikan keuntungan kedua belah pihak apabila DTI berada di antara DTD masing-masing negara, misalnya DTI 1 meter permadani = 3 meter sutra. Tabel 5 menunjukkan bahwa Iran memiliki keunggulan

komparatif atas permadani, karena waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi permadani lebih sedikit dibanding waktu yang digunakan untuk memproduksi sutra. Sebaliknya Indonesia memiliki keunggulan komparatif atas sutra. Apabila kedua negara melakukan perdagangan, maka Iran akan berspesialisasi pada produksi permadani dan mengekspornya ke Indonesia kemudian akan mengimpor sutra dari Indonesia. Sebaliknya dengan Indonesia akan mengekspor sutra dan mengimpor permadani. Melalui perdagangan internasional Iran akan memperoleh 3 meter sutra yang ditukar dengan 1 meter permadani, sehingga memperoleh keuntungan sebanyak 1 meter sutra. Di pihak lain, Indonesia akan memperleh keuntungan dengan hanya

menukarkan 3 meter sutra untuk memperoleh 1 meter permadani,

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

28
yang berarti Indonesia akan memperoleh efisiensi yang setara dengan 2 meter sutra. Tabel 6 : Keunggulan komparatif berdasarkan output per jam kerja tenaga kerja (8 jam kerja/hari) : J.S. Mill.
Negara Iran Indonesia Sutra 4 meter 8 meter Permadani 2 meter 1,6 meter Dasar Tukar Domestik (DTD) 1 meter permadani = 2 meter sutra; 2 meter permadani = 4 meter sutra 1 meter permadani = 5 meter sutra; 1,6 meter permadani = 8 meter sutra

Berdasarkan tabel 6 apabila Iran dan Indonesia melakukan perdagangan dengan DTI 1 meter permadani = 3 meter sutra, maka bila Iran mengekspor permadani sebanyak 2 meter, ia akan memperoleh sutra sebanyak 6 meter, sedangkan perdagangan domestik 2 meter permadani hanya bernilai 4 meter sutra. Selanjutnya Indonesia bila mengekspor sutra sebanyak 8 meter, ia akan memperoleh permadani sebanyak 2,67 meter, sedangkan di domestik 8 meter sutra hanya bernilai 1,6 meter permadani. Dengan demikian perdagangan internasional akan memberikan manfaat bagi kedua negara yang berdagang, baik dalam bentuk peningkatan produksi, konsumsi maupun kesejahteraan masyarakat di kedua negara. 4. Teori Klasik Dengan Dua Negara Banyak Barang dan Banyak Negara Banyak Barang Pada pembahasan sebelumnya telah diuraikan teori klasik sebagamana yang dikemukakan oleh Adam Smith dengan teori keunggulan absolutnya, dan David Ricardo serta J.S. Mill dengan teori

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

29
keunggulan komparatif yang masing-masing berbeda, tetapi meiliki persamaan dalam asumsi dua barang dan dua negara yang melakukan hubungan perdagangan. Dalam keadaan yang relatif realistis, setiap negara dapat menghasilkan lebih dari dua macam barang. Oleh karena itu pada bagian ini akan dibahas penerapan teori keunggulan komparatif apabila (1) dua negara yang melakukan hubungan perdagangan menghasilkan dan memperdagangkan lebih dari dua barang; (2) lebih dari dua negara menghasilkan lebih dari dua barang dan saling melakukan hubungan perdagangan. a. Hubungan Perdagangan Dua Negara yang Memperdagangkan Lebih dari Dua Barang Teori keungulan komparatif dalam kasus dua negara yang memperdagangkan lebih dari dua barang dapat dijelaskan sebagai berikut : Semua barang yang dihasilkan oleh suatu negara disusun berdasarkan urutan indeks produktivitas kemudian dibandingkan dengan indeks produktivitas barang yang dihasilkan oleh negara mitra dagangnya. Bagi negara yang satu digunakan dasar indeks

produktivitas (i) = 100 bagi semua macam barang yang dihasilkannya. Besarnya indeks produktivitas ditentukan berdasarkan jam kerja (j) dan tingkat upah tenaga kerja (w) untuk menghasilkan masing-masing jenis barang. Jam kerja untuk menghasilkan berbagai jenis barang, yaitu barang A, B, C, dan seterusnya pada masing-masing negara (negara X dan Y) adalah :
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

30

Tabel 7 : Perhitungan harga barang yang dihasilkan oleh dua negara yang melakukan hubungan perdagangan
Jenis Barang A B C Jam Kerja Xja Xjb Xjc Negara X Tingkat Upah Xwa Xwb Xwc Harga (P) Xpa = Xja . Xwa Xpb = Xjb . Xwb Xpc = Xjc . Xwc Jam Kerja Yja Yjb Yjc Negara Y Tingka t Upah Ywa Ywb Ywc Harga (P) Ypa = Yja . Ywa Ypb = Yjb . Ywb Ypc = Yjc . Ywc

Dst.

dst.

dst.

dst.

dst.

dst.

dst.

Oleh karena indeks produktivitas negara X menggunakan indeks = 100 untuk semua macam barang yang dihasilkannya, maka Xia = Xib = Xic = dan seterusnya, sedangkan untuk negara Y indeks produktivitas untuk semua jenis barang (Yi) dapat sama dapat pula berbeda. Selanjtunya tingkat upah di negara X untuk menghasilkan masing-masing jenis barang adalah Xwa untuk barang A, Xwb untuk barang B, Xwc untuk barang C dan seterusnya, sedangkan di negara Y adalah Ywa untuk barang a, Ywb untuk barang b, Ywc untuk barang C dan seterusnya. Selain jam kerja dan tingkat upah, variabel yang diperhitungkan dalam penentuan harga masing-masing jenis barang pada masing-masing negara adalah nilai tukar (kurs) mata uang kedua negara. Contoh : Negara Indonesia dan USA melakukan hubungan perdagangan. Kedua negara menghasilkan barang yang sama, yaitu A, B, C,.....G. Tingkat upah di Indonesia w = Rp.5.000/jam, di USA w = US$0,75/jam. Kurs mata uang yang berlaku adalah US$1 = Rp.8.000. Dengan demikian tingkat upah di Indonesia diperhitungkan dalam US$
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

31
adalah 5000/800 (w = US$0,625/jam), dan tingkat upah di USA diperhitungkan dalam rupiah adalah 0,75 x 8000 (w = Rp.6.000/jam). Berdasarkan data yang ada dapat diketahui barang apa yang akan diperdagangkan oleh kedua negara. Tabel 8 : Harga Berbagai Jenis Barang yang dihasilkan oleh Indonesia dan USA Jenis Indonesia USA Barang Jam Harga Harga Jam Harga Harga kerja (Rp) (US$) Kerja (US$) (Rp) A 3 15.000 1.875 7 5.25 42.000 B 3 15.000 1.875 6.5 4.875 39.000 C 4 20.000 2.5 6 4.5 36.000 D 5 25.000 3.125 5.5 4.125 33.000 E 6 30.000 3.75 5 3.75 30.000 F 7 35.000 4.375 4 3 34.000 G 7,5 37.500 4.6875 3 2.25 18.000 Berdasarkan tabel 8 dapat ditentukan indeks produktivitas masing-masing jenis barang yang dihasilkan Indonesia (indeks dasar = 100) dan USA. Indeks dasar = 100 untuk Indonesia diperoleh dari harga barang Indonesia : harga barang Indonesia x 100, sedangkan indeks produktivitas USA di peroleh dari harga barang USA : harga barang Indonesia x 100. Tabel 9 menunjukkan bahwa barang A, B, C dan D merupakan barang yang diekspor oleh Indonesia dan diimpor oleh USA, karena harga barang tersebut lebih murah di Indonesia di banding di USA, sehingga lebih menguntungkan bagi USA bila mengimpornya. Barang yang tidak diperdagangkan adalah barang yang memiliki indeks

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

32
produktivitas yang sama antara Indonesia dan USA, yaitu barang E, di mana barang ini di kedua negara mempunyai harga yang sama, sehingga tidak memberi keuntungan bagi kedua negara. Selanjutnya barang F dan G merupakan barang yang diekspor oleh USA dan diimpor oleh Indonesia, karena kedua barang tersebut lebih murah di USA, sehingga akan lebih menguntungkan bagi Indonesia bila mengimpornya. Tabel 9 : Indeks produktivitas di Indonesia dan USA pada kurs Rp.8.000/US$ Jenis Indeks Produktivitas Barang Indonesia USA A 100 280 Ekspor Indonesia / B 100 260 Impor USA C 100 180 D 100 132 Tidak diperdagangkan kedua negara E 100 100 F 100 69 Ekspor USA / Impor G 100 48 Indonesia Bila seandainya terjadi perubahan kurs, yaitu menjadi Rp.10.000 per US$ dengan tingkat upah yang tetap, maka komposisi perdagangan kedua negara akan mengalami perubahan. Tabel 10 memperlihatkan bahwa depresiasi rupiah terhadap dollar USA mengakibatkan harga barang di Indonesia menurun (lebih murah dibanding harga barang di USA). Harga barang yang lebih murah di Indonesia dibanding di USA adalah barang A, B, C, D dan E, sedangkan harga barang yang lebih mahal di Indonesia dibanding di
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

33
USA adalah barang F dan G. Dengan demikian barang yang diekspor Indonesia adalah barang yang harganya lebih murah dan akan mengimpor dari USA bagi barang yang harganya lebih mahal di Indonesia dibanding di USA. Tabel 10 : Harga Berbagai Jenis Barang yang dihasilkan Indonesia dan USA pada kurs Rp.10.000/US$ Jenis Indonesia USA Barang Jam Harga Harga Jam Harga Harga kerja (Rp) (US$) Kerja (US$) (Rp) A 3 15.000 1.5 7 5.25 52.500 B 3 15.000 1.5 6.5 4.875 48.750 C 4 20.000 2 6 4.5 45.000 D 5 25.000 2.5 5.5 4.125 41.250 E 6 30.000 3 5 3.75 37.500 F 7 35.000 3.5 4 3 30.000 G 7,5 37.500 3.75 3 2.25 22.500 Oleh karena kurs Rp/US$ mengalami perubahan, maka harga berbagai jenis barang juga mengalami perubahan, sehingga merubah perbandingan indeks produktivitas berbagai jenis barang yang dihasilkan antara kedua negara tersebut. Berdasarkan contoh data di atas terlihat bahwa jenis barang ekspor Indonesia bertambah menjadi 5 jenis (ada tambahan 1 jenis yaitu barang E). Sebelumnya barang E merupakan barang yang tidak diperdagangan oleh kedua negara, karena harga barang tersebut di kedua negara adalah sama.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

34
Tabel 11 : Indeks produktivitas di Indonesia dan USA pada kurs Rp.10.000/US$ Jenis Indeks Produktivitas Barang Indonesia USA A 100 350 B 100 325 Ekspor Indonesia / C 100 225 Impor USA D 100 165 E 100 125 F 100 86 Ekspor USA / Impor Indonesia G 100 60 Bila diandaikan terjadi kenaikan tingkat upah di Indonesia sebesar 10 % dari Rp.5000/jam pada kurs tetap Rp.8.000/US$, maka tingkat upah di Indonesia sekarang menjadi Rp.5.500/jam. Pada kondisi tersebut komposisi perdagangan kedua negara mengalami perubahan. Tabel 12 memperlihatkan bahwa kenaikan upah di Indonesia sebesar 10 % mengakibatkan naiknya harga barang di Indonesia, begitu pula dengan indeks produktivitas di USA mengalami

perubahan, sehingga jumlah barang ekspor USA meningkat. Tabel 12 : Harga Berbagai Jenis Barang yang dihasilkan oleh Indonesia dan USA setelah adanya kenaikan upah 10 % di Indonesia. Jenis Indonesia USA Baran Jam Harga Harga Jam Harga Harga g kerja (Rp) (US$) Kerja (US$) (Rp) A 3 16.500 2.0625 7 5.25 42.000 B 3 16.500 2.0625 6.5 4.875 39.000 C 4 22.000 2.75 6 4.5 36.000 D 5 27.500 3.4375 5.5 4.125 33.000 E 6 33.000 4.125 5 3.75 30.000 F 7 38.500 4.8125 4 3 34.000
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

35
G 7,5 41.250 5.156 3 2.25 18.000 Pada tabel 13 tampak bahwa jenis barang yang diekspor

Indonesia ke USA setelah kenaikan upah 10 % bila dibandingkan dengan tabel 9 adalah tetap, yaitu barang A, B, C dan D, di pihak lain USA mengalami kenaikan ekspor yaitu barang E, F dan G (sebelumnya pada tabel 9 barang E merupakan jenis barang yang tidak diperdagangkan kedua negara, karena harga barang tersebut sama di kedua negara). Tabel 13 : Indeks produktivitas di Indonesia dan USA pada kurs Rp.8.000/US$ setelah adanya kenaikan upah di Indonesia 10 %. Jenis Barang Indeks Produktivitas Indonesia USA A 100 255 Ekspor Indonesia / B 100 236 Impor USA C 100 164 D 100 120 E 100 91 Ekspor USA / F 100 62 Impor Indonesia G 100 44 b. Hubungan Perdagangan Lebih Dari Dua Negara dan Lebih Dari Dua Barang Dalam kondisi yang lebih realistis, hubungan perdagangan internasional tidak hanya terjadi antara dua negara, akan tetapi lebih banyak negara dengan jumlah barang yang diperdagangkan juga lebih banyak. Perdagangan internasional yang melibatkan banyak negara dan banyak barang sangat sulit untuk dianalisis pola perdagangannya. Berikut ini diberikan ilustrasi dari Frank D. Graham (1923) tentang

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

36
terjadinya perdagangan internasional yang melibatkan banyak negara dan banyak barang. Misalkan terdapat 4 negara A, B, C dan D yang melakukan hubungan perdagangan atas 3 jenis barang yaitu barang X, Y dan Z. Sebelum hubungan perdagangan terjadi masing-masing negara mengalokasikan 1/3 faktor produksinya pada masing-masing jenis barang, dan masing-masing negara akan meningkatkan konsumsinya terhadap ketiga jenis barang tersebut secara proporsional dari keuntungan yang diperoleh dari perdagangan internasional. Bila kemampuan produktif masing-masing negara yang dinyatakan dalam barang X adalah berbanding 1 : 2 : 3 : 4. Kemampuan produktif masing-masing negara atas ketiga jenis barang yang diperdagangkan (yang menunjukkan dasar tukar domestik atau DTD masing-masing negara adalah sebagaimana pada tabel berikut : Tabel 14 : Kemampuan produktif negara A, B, C dan D atas barang X, Y dan barang Z. Negara A Negara B Negara C Negara D 10 X 10 X 10 X 10 X 19 Y 20 Y 15 Y 28 Y 42 Z 24 Z 30 Z 40 Z Produksi masing-masing negara atas masing-masing jenis barang pada waktu tertentu (atas dasar hukum spesialisasi) sebelum terjadi hubungan perdagangan internasional adalah sebagaimana digambarkan pada tabel di bawah ini :
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

37
Tabel 15 : Jumlah Produksi Negara A, B, C dan D atas barang X, Y dan Z sebelum terjadi hubungan perdagangan. Negara A Negara B Negara C Negara D 10.000X 20.000X 30.000X 40.000X 19.000Y 40.000Y 45.000Y 112.000Y 42.000Z 48.000Z 90.000Z 160.000Z Bila dasar tukar internasional (DTI) 10X = 19Y = 42Z, maka negara B, C dan D akan berspesialisasi pada X dan Y dan akan menukarkan barangnya dengan negara A, yaitu membeli barang Z yang dibayar dengan barang X atau Y, sedangkan negara A tidak bersedia untuk berdagang, karena DTI = DTD negara A. Uraian : DTI : 10X = 19Y = 42Z atau 1X = 1,9Y = 4,2Z dan 1Y =

2,21Z. Karena DTD negara A = DTI, maka negara A tidak bersedia

melakukan perdagangan luar negeri. DTD negara B : 10X = 20Y = 24Z atau 1X = 2Y = 2,4Z dan

1Y = 1,2Z, maka negara B akan berspesialisasi pada X dan Y untuk ditukarkan dengan barang Z, karena di pasar internasional negara A bisa memperoleh 4,2Z jika ditukar dengan 1X, dan bisa memperoleh 2,21Z jika ditukar dengan 1Y, sedangkan di dalam negeri 1Y hanya bisa tukar sebanyak 1,2Z. DTD negara C : 10X = 15Y = 30Z atau 1X = 1,5Y = 3Z dan

1Y = 2Z, maka negara C akan berspesialisasi pada X dan Y untuk


Ekonomi Muh. Ilham Internasional

38
ditukarkan dengan barang Z, karena di dalam negeri 1X hanya dapat diperoleh sebanyak 3Z, dan 1Y hanya dapat diperoleh sebanyak 2Z. DTD negara D : 10X = 28Y = 40Z atau 1X = 2,8Y = 4Z dan

1Y = 1,43Z, maka negara D akan berspesialisasi pada barang X dan Y untuk ditukarkan dengan barang Z, karena di dalam negeri 1X hanya dapat ditukar sebanyak 4Z, dan 1Y hanya bisa ditukar sebanyak 1,43Z. Berdasarkan kondisi di atas berarti permintaan terhadap Z meningkat, sehingga harga barang Z naik dan akan mengubah DTI. Misalkan DTI menjadi 10X = 19Y = 30Z, maka negara A berspesialasi pada barang Z, negara B pada barang Y, negara C pada barang X dan Z, negara D pada barang Y. Uraian : DTI : 10X = 19Y = 30Z atau 1X = 1,9Y = 3Z dan 1Y = 1,58Z DTD negara A : 10X = 19Y = 42Z atau 1X = 1,9Y = 4,2Z dan

1Y = 2,21Z, maka negara A akan berspesialisasi pada barang Z untuk ditukarkan dengan barang X dan Y, karena melalui perdagangan internasional untuk memperoleh 1X cukup ditukarkan sebanyak 3Z di banding di dalam negeri sebanyak 4,2Z. Kemudian untuk memperoleh 1Y dalam perdagangan internasional, maka negara A hanya menukarkan sebanyak 1,58Z dibanding di dalam
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

39
negeri harus ditukarkan dalam jumlah yang lebih besar yaitu sebanyak 2,21Z. DTD negara B : 10X = 20Y = 24Z atau 1X = 2Y = 2,4Z dan

1Y = 1,2Z, maka negara B akan berspesialisasi pada barang Y untuk ditukarkan dengan barang X dan Z, karena melalui perdagangan internasional untuk memperoleh 1X cukup ditukar sebanyak 1,9Y dibanding di dalam negeri sebanyak 2Y. Kemudian dengan menukarkan sebanyak 1Y dapat diperoleh sebanyak 1,58Z dalam perdagangan internasional dibanding di dalam negeri hanyak sebanyak 1,2Z. DTD negara C : 10X = 15Y = 30Z atau 1X = 1,5Y = 3Z dan

1Y = 2Z, maka negara C akan berspesialisasi pada barang X dan Z untuk ditukarkan dengan barang Y, karena melalui perdagangan internasional dengan menukarkan sebanyak 1X dapat diperoleh sebanyak 1,9Y dibanding di dalam negeri hanya sebanyak 1,5. Kemudian untuk memperoleh 1Y dalam perdagangan

internasional, maka dapat ditukar dengan Z sebanyak 1,58Z, sedangkan di dalam negeri untuk memperoleh 1Y harus ditukar sebanyak 2Z. DTD negara D : 10X = 28Y = 40Z atau 1X = 2,8Y = 4Z dan

1Y = 1,43Z, maka negara D akan berspesialisasi pada barang Y untuk ditukarkan dengan barang X dan Z, karena melalui
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

40
perdagangan internasional untuk memperoleh 1X hanya ditukar dengan barang Y sebanyak 1,9Y dibanding di dalam negeri harus ditukar sebanyak 2,8Y. Kemudian dengan menukarkan sebanyak 1Y dalam perdagangan internasional, maka dapat diperoleh sebanyak 1,58Z, sedangkan di dalam negeri hanya sebanyak 1,43Z. Oleh karena terdapat 2 negara yang berspesialisasi pada barang Y (negara B dan D), maka penawarannya meningkat : 3(40.000) + 3(112.000) = 456.000Y, sementara permintaan hanya sebesar 40.000 + 45.000 + 112.000 + 19.000 = 216.000Y. Oleh karena penawaran jauh lebih tinggi dari pada permintaan, maka harga barang Y akan turun yang selanjutnya akan mengubah DTI. Misalkan DTI menjadi 10X = 22Y = 30Z, maka negara A berspesialisasi pada barang Z, negara B pada barang X, negara C pada barang X dan Z, negara D pada barang Z. Uraian : - DTI : 10X = 22Y = 30Z atau 1X = 2,2Y = 3Z dan 1Y = 1,36Z. - DTD negara A : 10X = 19Y = 42Z atau 1X = 1,9Y = 4,2Z dan 1Y = 2,21Z, maka negara A akan berspesialisasi pada barang Z. Melalui perdagangan internasional untuk memperoleh 1X dapat ditukar dengan barang Z sebanyak 3Z dibanding di dalam negeri sebanyak 4,2Z. Kemudian untuk memperoleh sebanyak 1Y cukup ditukar
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

41
dengan barang Z sebanyak 1,36 dibanding di dalam negeri sebanyak 2,21Z. - DTD negara B : 10X = 20Y = 24Z atau 1X = 2Y = 2,4Z dan 1Y = 1,2Z, maka negara B akan berspesialisasi pada barang X. Melalui perdagangan internasional jika menukarkan sebanyak 1X, maka dapat diperoleh sebanyak 2,2Y dibanding di dalam negeri hanya sebanyak 2Y. Kemudian dengan menukarkan sebanyak 1X, maka dapat diperoleh sebanyak 3Z dibanding di dalam negeri hanya sebanyak 2,4Z. DTD negara C : 10X = 15Y = 30Z atau 1X = 1,5Y = 3Z dan 1Y = 2Z, maka negara C akan berspesialisasi pada barang X dan Z. Melalui perdagangan internasional dapat ditukar sebanyak 2,2Y dibanding di dalam negeri hanya sebanyak 1,5Y. Kemudian jika barang z ditukar dengan barang Y, maka dalam perdagangan internasional untuk memperoleh 1Y dapat ditukar dengan sebanyak 1,36Z, sedangkan di dalam negeri harus ditukar sebanyak 2Z. - DTD negara D : 10X = 28Y = 40Z atau 1X = 2,8Y = 4Z dan 1Y = 1,43Z, maka negara D akan berspesialisasi pada barang Z. Melalui perdagangan internasional untuk memperoleh 1X cukup ditukar sebanyak 3Z dibanding di dalam negeri sebanyak 4Z, dan untuk memperoleh 1Y cukup ditukar dengan 1,36Z dibanding di dalam negeri sebanyak 1,43Z.
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

42
Dalam kondisi DTI tersebut di atas tidak satupun negara yang bersedia menghasilkan barang Y, sehingga penawaran barang Y turun yang selanjutnya menaikkan harga barang Y. Perubahanperubahan DTI akan terus berlangsung hingga tercapainya DTI stabil, yaitu apabila DTI = 10X = 21Y = 30Z atau 1X = 2,1Y = 3Z dan 1Y = 1,43Z. Pada DTI yang terakhir, negara A akan berspesialisasi pada barang Z, negara B pada barang X, negara C pada barang X dan Z, negara D pada barang Y dan D. Teori Perdagangan Internasional : Modern (Teori Heckscher Ohlin) 1. Pendahuluan Keunggulan komparatif yang dimiliki oleh suatu negara sebagaimana telah dikemukakan oleh para ekonom klasik (Adam Smith, David Ricardo dan J.S. Mill) adalah bersumber dari perbedaan produktivitas tenaga kerja (tenaga kerja merupakan satu-satunya faktor produksi yang secara eksplisit diperhitungkan). Dalam teori tersebut tidak dijelaskan secara rinci mengenai sebab-sebab

perbedaan tingkat produktivitas itu sendiri.. Teori Heckscher-Ohlin (H-O) yang dikemukakan oleh Eli Heckscher dan seorang mahasiswanya bernama Bertil Ohlin untuk pertama kalinya menelaah sebab-sebab munculnya keunggulan komparatif bagi setiap negara dan dampak yang ditimbulkan oleh

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

43
hubungan perdagangan terhadap pendapatan faktor produksi di kedua negara yang melakukan hubungan perdagangan. Menurut teori H-O bahwa adanya hubungan perdagangan berdasarkan keunggulan komparatif yang dimiliki oleh suatu negara, selain disebabkan oleh perbedaan produktivitas tenaga kerja juga disebabkan oleh adanya perbedaan karunia sumber daya, atau variasi dalam kepemilikan sumber daya di negara yang satu dengan yang di miliki oleh negara lain. Salah satu contoh mengenai perbedaan kepemilikan sumber daya dapat dilihat pada pola perdagangan antara Kanada dan Amerika Serikat. Selama ini Kanada mengekspor hasil-hasil hutan ke Amerika Serikat tidak berarti bahwa tenaga kerja pada sektor kehutanan di Kanada lebih produktif dibanding tenaga kerja Amerika Serikat, akan tetapi karena jumlah penduduk Kanada yang relatif sedikit mempunyai hutan per kapita yang lebih luas dari pada Amerika Serikat. Dengan kelimpahan sumber daya hutan, maka Kanada lebih produktif dalam menghasilkan kayu. Gagasan yang menyatakan bahwa sumber utama perdagangan internasional adalah adanya perbedaan karunia sumber antarnegara merupakan salah satu landasan teori yang paling berpengaruh dalam ilmu ekonomi internasional, khususnya teori H-O. Oleh karena teori H-O menekankan saling keterkaitan antara perbedaan proporsi penggunaannya dalam memproduksi berbagai macam barang, maka
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

44
teori tersebut seringjkali disebut sebagai teori proporsi faktor (factor proportion theory). Teori H-O didasarkan pada sejumlah asumsi lugas yang sengaja dikemukakan untuk menyederhanaan permasalahannya. Adapun asumsi-asumsi tersebut adalah : (a) Hanya ada 2 negara yang memperdagangkan 2 jenis barang (barang X dan barang Y), dan dalam menghasilkan kedua jenis barang

tersebut digunakan 2 jenis faktor produksi, yaitu modal dan tenaga kerja. Penggunaan asumsi ini bertujuan untuk mengilustrasikan teori pada suatu gambar dua dimensi. (b) Kedua negara yang melakukan hubungan perdagangan memiliki dan menggunakan metode arau tingkat teknologi yang sama. Berdasarkan asumsi ini, seandainya harga faktor produksi di kedua negara sama, maka maka para produsen negara A maupun negara B akan menggunakan tenaga kerja dan modal dalam jumlah dan komposisi yang sama dalam memproduksi setiap jenis barang (X dan Y). Namun karena harga faktor produksi di kedua negara berbeda, maka produsen dari setiap negara akan mengunakan lebih banyak faktor produksi yang harganya relatif lebih murah guna meminimalkan biaya produksi. Dengan demikian, pengutamaan barang yang dihasilkan kedua negara akan berbeda. Bila negara A mengutamakan (berspesialisasi) pada barang X, maka negara B akan berspsialisasi pada barang Y, karena pada sektor itulah harga faktor produksi yang dibutuhkannya secara relatif lebih murah.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

45
(c) Barang X merupakan barang padat tenaga kerja (labor intensive),

sedangkan barang Y merupakan barang padat modal (capital intensive). Asumsi ini mengisyaratkan bahwa barang X memerlukan lebih banyak tenaga kerja dibanding modal dalam proses produksinya. Sebaliknya barang Y memerlukan lebih banyak modal dalam proses produksinya. Secara tekniks, asumsi ini

mengisyaratakan bahwa rasio tenaga kerja-modal (labor-capital ratio, L/K) dalam produksi barang X lebih tinggi dibanding rasio dalam produksi barang Y. Dalam bentuk yang lain tetapi mempunyai makna yang sama yaitu rasio modal-tenaga kerja (capital-labor ratio, K/L) untuk barang X lebih rendah dibanding rasio untuk barang Y. Rasio K/L atau L/K untuk barang X begitu pula untuk barang Y berbeda di kedua negara.
(d)

Barang X dan barang Y sama-sama diproduksi dalam kondisi skala hasil yang konstan (constant scale of returns). Asumsi ini mengandung pengertian bahwa peningkatan jumlah tenaga kerja dan modal dalam produksi setiap barang akan meningkatkan outputnya dalam proporsi yang sama. Atau dengan kata lain bahwa peningkatan jumlah penggunaan faktor produksi akan proporsional dengan peningakatan produksi.

(e) Spesialisasi produksi yang tidak penuh di kedua negara atau

spesialisasi tidak sempurna (incomplete specialization). Asumsi ini mengisyaratkan bahwa meskipun kedua negara terlibat dalam perdagangan, kedua negara akan tetap memproduksi kedua jenis barang sekaligus. Artinya kedua negara akan tetap memproduksi
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

46
barang X maupun barang Y. Dengan demikian dalam teori H-O secara implisit juga mengasumsikan bahwa di antara kedua negara tidak ada yang kekuatan ekonomi sangat lemah. (f) Selera dan preferensi permintaan konsumen di kedua negara sama. Asumsi ini bermakna bahwa preferensi-preferensi permintaan yang tercermin pada bentuk dan lokasi kurva-kurva indeferensi di kedua negara identik. Jadi, apabila harga relatif barang di kedua negara itu sama (karena berlangsungnya perdagangan bebas di natara kedua negara), maka kedua negara itu akan mengkonsumsikan barang X dan Y dalam proporsi yang sama.
(g) Adanya persaingan sempurna (perfect comptetition), baik di pasar

barang maupun di pasar faktor produksi. Asumsi ini bermakna bahwa jumlah produsen, konsumen barang X dan Y di kedua negara sangatlah banyak. Seorang produsen dan seorang konsumen tidak memiliki kemampuan mempengaruhi harga barang X maupun barang Y atau harga faktor produksi tenaga kerja maupun modal. Harga tercipta sepenuhnya atas dasar mekanisme pasar. Kompetisi sempurna juga dapat ditafsirkan sebagai suatu kondisi tertentu di mana dalam jangka panjang harga-harga barang yang berlaku akan sama besarnya dengan biaya produksi, sehingga jika semua biaya diperhitungkan (termasuk implicit cost), sehingga tidak ada lagi laba ekonomis yang tersisa. Kompetisi sempurna adalah kompetisi yang sangat ketat, sehingga memaksa setiap pihak yang terlibat untuk menekan harga serendah mungkin agar tidak tersingkir dari pasar.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

47
Kompetisi sempurna juga berarti semua produsen, konsumen dan pemilik faktor produksi memiliki pengetahuan dan informasi yang sempurna mengenai harga-harga yang sedang berlaku di setiap sektor ekonomi di mana terjadi persaingan.
(h) Terdapat mobilitas faktor produksi yang sempurna di dalam negeri

(internal factor mobility) masing-masing negara, namun tidak ada mobilitas faktor produksi antar negara. Asumsi ini mengisyaratkan bahwa modal dan tenaga kerja dapat bergerak bebas di dalam negeri masing-masing negara, yakni dari sektor yang hasilnya relatif lebih rendah ke sektor yang hasil relatif lebih tinggi, akan tetapi faktor-faktor produksi tersebut tidak dapat bergerak/berpindah secara bebas ke luar negeri. Atas dasar asumsi ini, teori H-O secara tegas menyatakan bahwa mobilitas faktor produksi internasional

(international factor mobility) sama dengan nol. (i) Biaya transportasi diabaikan, tarif dan berbagai bentuk kebijakan perdagangan internasional juga diabaikan. Asumsi ini

mengisyaratkan bahwa kegiatan-kegiatan spesialisasi produksi (untuk semua jenis barang yang diperdagangkan) akan terus berlangsung sampai harga-harga relatif dan absolut dari berbagai barang yang diperdagangkan persis sama di kedua negara. Seandainya biaya transportasi dan tarif diperhitungkan, maka spesialisasi itu akan terhenti apabila harga-harga relatif maupun absolut dari berbagai barang yang diperdagangkan mempunyai selisih yang tidak lebih dari jumlah atau besaran biaya trasnportasi atau tarif itu sendiri.
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

48
(j) Semua sumber daya produktif atau faktor produksi yang ada di

masing-masing negara dapat dikerahkan secara penuh dalam kegiatan-kegiatan produksi (full employment). Asumsi ini

menandakan bahwa dalam model H-O tidak diperhitungkan adanya faktor produksi yang menganggur. Semua faktor produksi (modal dan tenaga kerja) yang ada dapat diserap sepenuhnya dalam sektorsektor ekonomi produktif di kedua negara. (k) Terjadi keseimbangan perdagangan kedua negara (besarnya ekspor sama dengan besarnya impor). Asumsi ini bermakna bahwa total nilai ekspor dari suatu negara (misalnya negara A) sama dengan total nilai impor dari negara lain yang menjadi mitra dagangnya (misalnya negara B). Hal ini berarti tidak ada negara yang akan mengalami defisit maupun surplus perdagangan. 2. Intensitas Faktor (Factor Intensity) dan Kelimpahan Faktor (Factor Abundance) a). Intensitas Faktor Berdasarkan asumsi dua barang (X dan Y) dan dua faktor produksi (modal dan tenaga kerja) yang dihasilkan dalam suatu perekonomian, maka kita dapat menyatakan bahwa barang Y merupakan barang padat modal apabila rasio modal-tenaga kerja (K/L) yang digunakan dalam memproduksi Y lebih besar dibanding rasio K/L yang digunakan dalam memproduksi X.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

49
Untuk mengukur intensitas faktor dalam menentukan apakah sesuatu barang merupakan padat modal atau padat tenaga kerja tidak didasarkan pada jumlah absolut modal dan tenaga kerja yang digunakan dalam memproduksi sesuatu barang, akan tetapi didasarkan pada jumlah modal per unit tenaga kerja atau sebaliknya jumlah tenaga kerja per unit modal yang digunakan dalam proses produksi sesuatu barang. Sebagai contoh, di negara A untuk memproduksi barang Y dibutuhkan dua unit modal (2K) dan dua unit tenaga kerja (2L), maka rasio modal-tenaga kerja untuk memproduksi satu unit Y adalah K/L = 2/2 = 1. Bila dalam waktu yang sama untuk memproduksi satu unit X dibutuhkan 1K dan 4L, maka rasio K/L untuk memproduksi X adalah K/L = . Oleh karena rasio K/L = 1 untuk barang Y, sedangkan untuk barang X rasio K/L = , maka barang Y merupakan barang pada modal dan barang X merupakan barang padat tenaga kerja. Gambar 1 : intensitas faktor negara A
K K/L = 1 untuk Y 5 4 3 2 1 Ekonomi Muh. Ilham Internasional K/L = untuk X

50
1 2 3 4 5 L

Berdasarkan gambar di atas tampak bahwa di negara A garis intensitas faktor untuk barang Y (K/L = 1) lebih condong ke sumbu modal (K) dibanding garis intensitas faktor untuk barang X (K/L = ). Sebaliknya garis intensitas faktor untuk barang X lebih condong ke sumbu tenaga kerja (L) dibanding garis intensitas faktor untuk barang Y. merupakan barang padat tenaga kerja. Selanjutnya di negara B untuk memproduksi barang Y dibutuhkan dua unit modal (2K) dan satu unit tenaga kerja (1L), maka rasio modaltenaga kerja untuk memproduksi satu unit Y adalah K/L = 2/1 = 2. Bila dalam waktu yang sama untuk memproduksi satu unit X dibutuhkan 3K dan 2L, maka rasio K/L untuk memproduksi X adalah K/L = 3/2 = 1,5. Oleh karena rasio K/L = 2 untuk barang Y, sedangkan untuk barang X rasio K/L = 1,5, maka barang Y merupakan barang padat modal dan barang X merupakan barang padat tenaga kerja. Gambar 2 : intensitas faktor negara B
K K/L = 2 untuk Y K/L = 1,5 untuk X 5 4 3 2 1 Ekonomi Muh. Ilham Internasional

Dengan

demikian barang Y merupakan barang padat modal dan barang X

51
1 2 3 4 5 L

Berdasarkan gambar di atas tampak bahwa di negara B garis intensitas faktor untuk barang Y (K/L = 2) lebih condong kesumbu modal (K) dibanding garis intensitas faktor untuk barang X (K/L = 1,5). Sebaliknya garis intensitas faktor untuk barang X lebih condong ke sumbu tenaga kerja (L) dibanding garis intensitas faktor untuk barang Y. Dengan demikian barang Y merupakan barang padat modal dan barang X merupakan barang padat tenaga kerja. Berdasarkan contoh negara B di atas tampak bahwa secara absolut penggunaan modal lebih banyak dalam proses produksi barang X dibanding dalam proses produksi barang Y, akan tetapi yang disebut sebagai barang padat modal adalah barang Y karena rasio K/L untuk Y lebih besar dari pada rasio K/L untuk X (K/LY > K/LX). Selanjutnya bila dibandingkan antara negara A dengan negara B, tampak bahwa barang Y merupakan padat modal di kedua negara. Negara B menggunakan rasio K/L yang lebih tinggi baik untuk barang Y (K/L = 2) maupun barang X (K/L = 1,5) di banding negara A untuk Y (K/L = 1) dan untuk barang X (K/L = ). Dengan demikian negara B merupakan negara yang lebih padat modal dibanding negara A dalam memproduksi kedua jenis barang. Pertanyaannya adalah : mengapa negara B menggunakan teknik produksi yang lebih padat modal dibanding negara A

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

52
?. Jawabannya adalah, karena harga modal di negara B secara relatif lebih murah dibanding di negara A, sehingga dengan teknik produksi yang demikian negara B bisa menghemat biaya produksi. b). Kelimpahan Faktor Konsep kelimpahan faktor dapat dijelaskan dalam dua cara. Pertama, kelimpahan faktor yang didasarkan pada unit-unit fisik, yakni didasarkan pada keseluruhan faktor produksi modal dan tenaga kerja yang tersedia bagi setiap negara. Kedua, kelimpahan faktor yang didasarkan atas harga-harga relatif faktor produksi modal dan tenaga kerja (relative factor price), yaitu didasarkan atas harga atau sewa modal dan upah tenaga kerja yang berlaku di masing-masing negara. Berdasarkan pada unit-unit fisik, negara B disebut sebagai negara yang berkelimpahan modal apabila rasio total jumlah modal terhadap total jumlah tenaga kerja (TK/TL) di negara B lebih besar dibanding di negara A (TK/TLB > TK/TLA). Walaupun misalnya negara A memiliki total jumlah modal yang lebih besar dari pada total jumlah modal negara B, akan tetapi negara B dikatakan sebagai negara yang berkelimpahan modal apabila : TK/TLB > TK/TLA, sebaliknya negara A merupakan negara yang berkelimpahan tenaga kerja karena TL/TKA > TL/TKB. Misalnya total jumlah modal di negara A sebanyak 112 unit dan total jumlah tenaga kerja 160, maka TK/TL = 112/160 = 0,70. Total jumlah modal di negara B sebanyak 110 unit dan total jumlah tenaga kerja 88, maka TK/TL =

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

53
110/88 = 1,25. Dengan demikian TK/TLB > TK/TLA, sehingga negara B layak disebut negara yang berkelimpahan modal. Selanjutnya berdasarkan harga ralatif faktor-faktor produksi, negara B dikatakan sebagai negara yang berkelimpahan modal apabila rasio harga modal terhadap harga tenaga kerja lebih kecil dibanding negara A, yaitu apabila r/wB < r/wA, di mana r adalah harga atau sewa modal dan w adalah harga atau upah tenaga kerja. Misalkan harga modal di negara A Rp.1.250/unit dan harga tenaga kerja Rp.1000/tk, maka r/wA = 1.250/1.000 = 1,25. Harga modal di negara B sebesar Rp.1.680/unit dan harga tenaga kerja Rp.2.100/tk, maka r/wB = 1.680/2.100 = 0,80. Dengan demikian r/wB < r/wA, sehingga negara B layak disebut negara yang

berkelimpahan modal. Ukuran kelimpahan faktor pada ukuran yang pertama

(berdasarkan unit fisik faktor produksi) hanya memperhatikan aspek penawaran faktor produksi. Pada ukuran kelimpahan faktor yang kedua (berdasarkan harga relatif faktor-faktor produksi) selain memperhatikan aspek penawaran juga dari aspek permintaan. Hubungan antara ukuran kelimpahan faktor yang pertama dengan yang kedua adalah : oleh karena TK/TLB > TK/TLA, di mana negara B sebagai negara yang berkelimpahan modal, maka harga relatif modal terhadap harga tenaga kerja di negara B lebih rendah dibanding harga relatif modal terhadap harga tenaga kerja di negara A, sehingga rasio r/w B < r/wA. Dengan demikian dapat disimpulkan jika TK/TLB > TK/TLA, maka r/wB < r/wA.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

54
Kesesuaian kesimpulan antara kedua ukuran kelimpahan faktor tersebut di atas tidak selamanya terjadi. Sebagai contoh, apabila jumlah permintaan Y yang merupakan barang padat modal meningkat sangat tinggi di negara B melebihi permintaan Y di negara A, maka permintaan terhadap modal juga mengalami peningkatan di negara B (berdasarkan permintaan turunan terhadap faktor produksi). Konsekuensinya adalah harga modal di negara B akan mengalami kenaikan dibanding harga modal di negara A (meskipun penawaran modal di negara B lebih tinggi dibanding di negara A). Dalam kasus seperti ini, negara B hanya dapat dikatakan sebagai negara berkelimpahan modal berdasarkan unit fisik. Akan tetapi bila didasarkan pada harga relatif faktor produksi, maka negara B dikatakan sebagai negara yang berkelimpahan tenaga kerja, karena rasio r/wB > r/wA. Dalam kasus seperti dikemukakan di atas, maka kita akan mengambil kesimpulan pengertian kelimpahan faktor produksi (sumber daya) berdasarkan harga relatif faktor produksi, yang berarti bahwa negara A merupakan negara yang berkelimpahan modal, sedangkan negara B merupakan negara yang berkelimpahan tenaga kerja. Bagaimanakah bentuk kurva kemungkinan produksi suatu negara berdasarkan kelimpahan faktor ? Bila negara B merupakan negara yang berkelimpahan modal, dan barang Y merupakan barang padat modal, maka negara B akan memproduksi lebih banyak Y dibanding negara A. Di lain pihak, karena negara A adalah negara yang berkelimpahan tenaga kerja, maka negara A kan memproduksi barang X (barang padat tenaga kerja) dalam jumlah yang lebih banyak dibanding negara B. Adapun
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

55
bentuk kurva kemungkinan produksi (production possibility curve) kedua negara adalah : Gambar 3 : Kurva kemungkinan produksi negara A dan negara B
Y Yn
PPC negara B

Ym

PPC negara A

Xm

Xn

Gambar di atas menunjukkan bahwa kurva PPC negara A lebih landai dan melebar mendekati sumbu X (barang padat tenaga kerja) yang mengisyaratkan negara A sebagai negara yang berkelimpahan tenaga kerja akan memproduksi lebih banyak barang X sebanyak 0Xn dan barang Y hanya sebanyak 0Ym, sedangkan negara B memiliki kurva PPC yang lebih mendekati sumbu Y mengisyaratkan bahwa negara B sebagai negara yang berkelimpahan modal akan memproduksi lebih banyak Y sebanyak 0Yn dan barang X (barang padat tenaga kerja) hanya sebanyak 0Ym. Berikut contoh hubungan perdagangan antara negara A

(kelimpahan tenaga kerja) dan negara B (kelimpahan modal).

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

56

Gambar 4 : (a) Tingkat produksi negara A dan B B sebelum perdagangan


Y PB Y1B YoB YoA b a IC0 PA XoB XoA X Y1A Y

(b) Tingkat produksi negara A dan setelah perdagangan


PC f g e d c IC1 PC X1B X1A X

Gambar (a) menunjukkan bahwa sebelum perdagangan negara A dapat memproduksi barang X sebanyak Xo dan Y sebanyak Yo (titik a pada PPC). Di pihak lain negara B dapat memproduksi X sebanyak XoB dan Y sebanyak YoB (titik b pada PPC). Konsumsi masing-masing negara dengan tingkat kepuasan yang sama ditunjukkan oleh kurva indeferensi (IC0) yaitu negara A pada garis PA (Py/Px negara A) yang merupakan tangen PPC negara A, negara B pada garis PB (Py/Px negara B) yang merupakan tangen PPC negara B.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

57
Berdasarkan rasio harga relatif barang tersebut, berarti secara relatif harga modal terhadap harga tenaga kerja di negara B lebih murah di banding di negara A, sebaliknya secara relatif harga tenaga kerja terhadap harga modal di negara A lebih murah di banding di negara B. Dengan demikian negara A adalah negara yang berkelimpahan tenaga kerja dan negara B merupakan negara yang berkelimpahan modal. Oleh karena negara A berkelimpahan tenaga kerja, maka negara A akan

berspesialisasi pada barang X dan negara B yang berkelimpahan modal akan berspesialisasi pada barang Y. Negara A yang memiliki keunggulan komparatif pada barang X akan mengekspor X ke negara B, sebaliknya negara B yang memiliki keunggulan komparatif pada barang Y akan mengekspor Y ke negara A. Dengan berlangsungnya perdagangan antara kedua negara, maka produksi dan konsumsi kedua negara akan mengalami perubahan. Hal tersebut ditunjukkan pada gambar (b). Spesialisasi negara A akan terus berlangsung hingga mencapai titik c, sedangkan spesialisasi negara B akan berlangsung hingga mencapai titik f, karena pada titik itulah kurva transformasi dari kedua negara menjadi tangen terhadap garis harga relatif bersama (common relative price line) atau PC = PC= Py/Px. Contoh : Misalkan Negara A mempunyai fungsi permintaan dan penawaran : (1) Permintaan dan penawaran domestik negara A dan keseimbangan pasar : untuk barang Y : DA = 1.115 2P
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

58
SA = 2,5P 1.315 2,5P 1.315 = 1.115 2P 4,5P = 2.430 P = 540, maka DA = SA = 35 unit

Untuk barang X : DA = 665 - 1,5P SA = 1,5P 535 1,5P 535 = 665 1,5P 3P = 1.200 P = 400; maka DA = SA = 65 unit Py/Px negara A = 540/400 = 1,35

(2) Permintaan dan penawaran domestik negara B dan keseimbangan pasar : untuk barang Y : DB = 600 - 1P SB = 2P 1.005 2P 1.005 = 600 1P 3P = 1.605 P = 535; maka DB = SB = 65 unit Untuk barang X : DB = 1.115 - 2,5P SB = 2,5P 1.025
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

59
2,5P 1.035 = 1.115 2,5P 5P = 2.150 P = 430; maka DB = SB = 40 unit Py/Px negara B = 535/430 = 1,24

(3) Fungsi permintaan dan penawaran dunia (dua negara) dan keseimbangan pasar : Fungsi permintaan barang Y DA = 1.115 2P DB = 600 - 1P + 2D = 1.715 3P D = 857,5 1,5P Fungsi penawaran barang Y : SA = 2,5P 1.315 SB = 2P 1.005 + 2S = 4,5P 2.320 S = 2,25 1.160 Keseimbangan internasional barang Y D = 857,5 1,5P S = 2,25 1.160 2,25 1.160 = 857,5 1,5P 3,75P = 2.017,5 P = 538 Fungsi permintaan barang X
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

60
DA = 665 - 1,5P DB = 1.115 - 2,5P + 2D = 1.780 4P D = 890 2P

Fungsi penawaran barang X : SA = 1,5P 535 SB = 2,5P 1.025 + 2S = 4P 1.560 S = 2P 780 Keseimbangan inrernasional barang X : D = 890 2P S = 2P 780 2P 780 = 890 2P 4P = 1.670 P = 417,5 Penawaran dan permintaan setelah perdagangan (berdasarkan harga internasional : D dan S barang Y di negara A berdasarkan harga Py = 538 DA = 1.115 2P = 1.115 2(538) = 1.115 1.076 = 39 unit SA = 2,5P 1.315
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

61
= 2,5(538) 1.315 = 1.345 1.315 = 30 unit Impor = DA SA = 39 30 = 9 unit D dan S barang X di negara A berdasarkan harga Px = 417,5 DA = 665 - 1,5P = 665 1,5(417,5) = 665 626,25 = 38,75 unit SA = 1,5P 535 = 1,5(417,5) 535 unit = 626,25 535 = 91,25 Ekspor = SA DA = 91,25 38,75 = 52,5 unit D dan S barang Y di negara B berdasarkan harga Py = 538 DB = 600 - 1P = 600 538 = 62 unit SB = 2P 1.005 = 1076 1005 = 71 unit Ekspor = SB DB = 71 62 = 9 unit D dan S barang X di negara B berdasarkan harga Px = 417,5 DB = 1.115 - 2,5P = 1.115 1.043,75 = 71,25 unit SB = 2,5P 1.025 = 1.043,75 1.025 = 18,75 unit Impor = DB SB = 71,25 18,75 = 52,5 unit Py/Px = Pc = Pc = 538/417,5 = 1,29 (harga relatif internasional)

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

62
Melalui perdagangan internasional berdasarkan hasil perhitungan di atas tampak bahwa : - Jumlah impor barang Y negara A sebesar 9 unit yang sama besarnya dengan jumlah ekspor barang Y negara B. - Jumlah ekspor barang X negara A sebesar 52,5 unit sama dengan jumlah impor barang X negara B. - Kedua negara tidak melakukan spesialisasi secara sempurna. - Py/Px internasional berada di antara Py/Px kedua negara, yaitu 1,29, di mana Py/Px negara A = 1,35 dan Py/Px negara B = 1,24. - Suatu negara akan mengekspor barang yang dalam proses produksinya lebih banyak menyerap faktor produksi yang relatif melimpah dan murah di negara yang bersangkutan, dan dalam waktu bersamaan akan mengimpor barang yang dalam proses produksinya memerlukan faktor produksi yang relatif langka dan mahal di negara tersebut. E. Rangkuman 1. Menurut Merkantilisme bahwa sebuah negara hanya dapat memperoleh keuntungan dari perdagangan dengan mengorbankan negara lainnya. Oleh karena itu merkantilisme melakukan proteksi yang ketat terhadap impor, memberikan insentif terhadap ekspor, dan memberlakukan peraturan pemerintah secara keta.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

63
2. Menurut Adam Smith bahwa perdagangan didasarkan pada keunggulan absolut dan akan menguntungkan kedua belah pihak. Jika setiap negara berspesialisasi pada komoditi yang memiliki keunggulan absolut dan menukarkannya dengan komoditi yang memiliki kerugian absolut, maka kedua negara akan dapat mengkonsumsi lebih banyak kedua komoditi. 3. David Ricardo dan J.S. Mill memperkenalkan teori keunggulan komparatif. Teori ini mengatakan bahwa meskipun salah satu negara kurang efisien di banding negara lainnya dalam memproduksi kedua komoditi, masih terdapat dasar dilakukannya perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak. 4. Pada intinya Teori H-O menjelaskan bahwa perdagangan internasional berlangsung atas dasar keunggulan komparatif yang berbeda dari masing-masing negara, di mana perbedaan keunggulan komparatif tersebut disebabkan karena adanya perbedaan dalam karunia sumber daya alam. F. Soal-Soal Latihan 1 [Link] secara singkat pandangan Merkantilisme mengenai perdagangan internasional. b. Kemukakan kritik David Hume terhadap Merkantilisme mengenai penumpukan logam mulia dalam perdagangan internasional melalui price-specie flow mechanism.
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

64
c. Kemukakan pula kritik Adam Smith terhadap pandangan Merkantilisme mengenai perdagangan internasional. 2. Bila diketahui Indonesia dapat memproduksi kain sutra dengan jumlah jam kerja 30 menit per meter dan permadani 150 menit per meter, sedangkan Iran sebagai mitra dagang dapat memproduksi kain sutra dengan jumlah jam kerja 50 menit per meter dan permadani 100 menit per meter. Berdasarkan data tersebut a. b. c. Tentukanlah Dasar Tukar Domestik kedua jenis barang tersebut di masing-masing negara. Tentukan negara yang memiliki keunggulan absolut pada kain sutra dan permadani. Jelaskan mengapa! Bila Dasar Tukar Internasional adalah 1 meter kain sutra : 3 meter permadani, tentukanlah keuntungan yang diperoleh masingmasing negara bila melakukan hubungan perdagangan. 3. Bila diketahui untuk menghasilkan barang X digunakan 9 unit tenaga kerja dan 5 unit modal, sedangkan untuk menghasilkan barang Y digunakan 10 unit tenaga kerja dan 8 unit modal. Tentukanlah barang apa yang merupakan padat tenaga kerja dan barang apa yang merupakan barang padat modal. Jelaskan dan gambarkan grafiknya. 4. Bila negara A memiliki total tenaga kerja sebanyak 100 unit dan modal sebanyak 75 unit, harga tenaga kerja/unit W = 1.500/unit dan harga modal/unit r = 2.000/unit. Selanjutnya negara B memiliki tenaga kerja sebanyak 175 unit dan modal sebanyak 120 unit, harga tenaga kerja/unit W= 1.000/unit dan harga modal r = 1.500/unit. Tentukanlah negara mana yang berkelimpahan modal
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

65
dan negara mana yang berkelimpahan tenaga kerja dan jelaskan mengapa demikian.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

PERTUMBUHAN DAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL


A. Pertumbuhan Faktor Produksi Tenaga Kerja dan Modal Jumlah penduduk selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu (pada umumnya selalu bertambah). Perubahan jumlah penduduk ini tentu saja berimplikasi terhadap perubahan jumlah angkatan kerja. Perubahan juga terjadi pada kepemilikan dan stok modal, karena setiap negara senantiasa berusaha mengerahkan segenap sumber daya yang dimilikinya untuk menciptakan dan mengakumulasikan modal. Kenaikan kepemilikan tenaga kerja dan modal di suatu negara dari waktu ke waktu akan mendorong ke atas kurva-kurva batas kemungkinan produksi negara yang bersangkutan. Jika tenaga kerja (L) dan modal (K) sama-sama tumbuh dalam tingkatan yang sama, maka batas kemungkinan produksi negara tersebut akan bergerak ke atas secara sejajar di semua titiknya sesuai dengan pertambahan L dan K. Hal tersebut berarti besaran sudut atau slope dari kurva batas-batas kemungkinan produksi yang lama (sebelum pertambahan faktor produksi) dan yang baru (setelah pertambahan faktor produksi) akan sama besarnya di setiap titik bila diukur berdasarkan sebuah garis bayangan yang ditarik dari pusat sumbu. Hal inilah yang biasa disebut dengan pertumbuhan seimbang (balanced growth).

Ekonomi Internasional Muh. Ilham

66

67
Jika L dan K tumbuh pada tingkatan yang berbeda, maka pergeseran ke atas kurva batas-batas kemungikinan produksi negara tersebut tidak akan sejajar. Seandainya yang mengalami pertambahan hanya faktor L, sementara K tetap atau bertambah tetapi tidak sebesar pertambahan L, maka keadaannya tentu berbeda. Output komoditi X dan Y akan tetap bertambah karena faktor L dipergunakan dalam produksi kedua komoditi. Di samping itu faktor L juga dapat disubstitusikan untuk mengganti sebagian K dalam produksi kedua komoditi tersebut (karena jumlahnya menjadi relatif sedikit, harganya tentu meningkat). Meskipun demikian output komoditi X yang padat L akan bertambah lebih banyak di banding dibanding Y yang padat K. Hal yang sebaliknya terjadi jika yang bertambah adalah faktor K. Untuk memperjelas uraian kedua keadaan di atas, maka dapat dilihat pada gambar berikut di bawah ini. Gambar III.1 : a. Pertumbuhan seimbang
Y 40

PPC II 70 60 40 A 20 Px/Py II PPC I Px/Py B

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

68

50

130 140

260

280

b. Pertumbuhan yang berbeda


Y 130 PPC III 80 70 60 40 25 20
50

PPC I Px/Py I

PPC II Px/Py II

Px/Py III
130 140 150 255 275 X

Gambar III.1.a memperlihatkan kasus pertumbuhan seimbang berdasarkan asumsi bahwa jumlah faktor produksi L dan K di negara 1 sama-sama meningkat dua kali lebih besar di banding keadaan sebelumnya. Jika skala hasilnya konstan, maka jumlah maksimum dari masing-masing komoditi yang dapat diproduksi oleh negara 1 juga naik dua kali lipat, yaitu dari 140X menjadi 280 X (untuk komoditi X) atau dari 70Y menjadi 140Y (untuk komoditi Y). Perhatikan bahwa bentuk kurva kemungkinan produksi PPC I sama dengan PPC II, sehingga slope Px/Py I sama dengan slope atau kemiringan Px/Py II.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

69
Selanjutnya gambar III.1.b memperlihatkan kasus

pertumbuhan yang berbeda, di mana pertambahan faktor L dan K tidak sama. PPC I menggambarkan sebelum pertambahan faktor produksi. PPC II menggambarkan setelah pertambahan faktor L dan K dalam proporsi yang berbeda (faktor L bertambah dua kali lipat, sedangkan pertambahan K kurang dari dua kali lipat) jumlah produksi Y menjadi 80Y dan produksi X menjadi 275X. PPC III menggambarkan pertambahan faktor K dua kali lipat, sedangkan faktor L kurang dari dua kali lipat, sehingga pertambahan produksi Y tidak sebesar dua kali lipat melainkan dari 70Y menjadi 130Y, begitu pula dengan produksi X hanya bertambah dari 140X menjadi 150X. Apabila faktor produksi L maupun K bertambah dalam jumlah yang sama, sedangkan skala hasilnya dalam jumlah produksi kedua komoditi konstan, maka tingkat produktivitas dan pendapatan/harga dari faktor L dan K juga akan tetap sama seperti sebelumnya. Apabila tingkat ketergantungan (yakni rasio jumlah penduduk yang mengandalkan hidupnya pada penduduk lain yang produktif) juga tidak berubah, maka pendapatan per kapita riil serta tingkat kesejahteraan negara tersebut secara keseluruhan juga tidak akan mengalami perubahan. Namun jika hanya faktor L yang bertambah (atau pertambahan L itu lebih besar dari pada pertambahan K), maka K/L akan turun, demikian pula halnya dengan produktivitas L. Selanjutnya penurunan produktivitas L tersebut berimplikasi pada turunnya tingkat upah dan berkurangnya pendapatan per kapita riil. Namun di lain pihak, jika faktor K yang bertambah lebih banyak, maka K/L akan

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

70
meningkat, demikian pula halnya produktivitas L, sehingga akan meningkatkan upah serta pendapatan per kapita riil. Rybczynski mengemukakan analisisnya yang berbeda dengan analisis di atas yang dikenal dengan Teorema Rybczynski, yang menyatakan bahwa pada harga-harga komoditi yang konstan, setiap kenaikan dalam kepemilikan atau jumlah salah satu faktor produksi akan meningkatkan output dari komoditi yang lebih banyak menggunakan faktor produksi itu di banding faktor produksi lainnya, dan dalam waktu bersamaan akan menurunkan output komoditi lain. Jika terjadi pertambahan faktor L (sementara faktor K tetap atau bertambah sedikit saja), maka output komoditi X yang padat L akan meningkat dan melampaui output komoditi Y yang padat K. Bahkan secara relatif output Y akan menurun pada Px/Py yang konstan. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut. Gambar III.2. Teorema Rybczynski Mengenai Pertambahan Faktor Produksi L
Y

80 70 PPC I Px/Py I 20 10 A B 130 140 150 270 275 X PPC II Px/Py II = Px/Py I

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

71
Gambar III.2 menjelaskan kurva kemungkinan produksi sebelum kenaikan faktor produksi L (PPC I) dan setelah kenaikan faktor produksi L (PPC II), sedangkan faktor K konstan atau kenaikannya tidak sebesar faktor L. Pada kondisi perdagangan bebas pada PPC I titik produksi berada di titik A dengan jumlah output 20 Y dan 130X berdasarkan harga-harga relatif Px/Py I. Ketika faktor L bertambah PPC bergeser ke PPC II, sedangkan harga relatif konstan di mana Px/Py II = Px/Py I dengan titik produksi pada titik B. Titik tersebut terletak pada PPC II dengan jumlah output 10Y dan 270X. Dengan demikian output X yang padat L bertambah bahkan lebih dari dua kali lipat yaitu dari 130X menjadi 270X, sedangkan output Y yang padat K justru menurun dari 20Y menjadi 10Y. Kenaikan output X tersebut hanya disebabkan oleh bertambahnya faktor L, namun juga berpindahnya sebagian faktor L yang semula berada pada sektor yang memproduksi Y, sehingga output X bertambah dua kali lipat atau lebih besar dari rasio pertambahan faktor L. B. Pertumbuhan dan Perdagangan Bagi Negara Kecil Di dalam perdagangan internasional besar kecilnya suatu negara tidak diukur secara absolut, tetapi besar kecilnya suatu negara diukur secara relatif terhadap pasar. Artinya walaupun suatu negara dilihat dari aspek wilayah adalah negara kecil (secara absolut), akan tetapi produk negara tersebut menguasai pasar internasional, maka ia layak disebut sebagai negara besar.. Jika produk suatu negara menguasai pasar internasional, maka ia dapat menjadi penentu harga (price maker). Dengan demikian sebuah negara kecil adalah negara yang
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

72
bertindak sebagai price taker yaitu negara yang tidak mampu mengubah harga pasar suatu produk berapapun jumlah yang diminta atau ditawarkan atas produk terserbut. 1. Dampak pertumbuhan terhadap Perdagangan Apa yang akan terjadi terhadap volume perdagangan suatu negara akan ditentukan oleh seberapa banyak output negara itu dapat diekspor dan sejauh mana perubahan pada pola konsumsinya setelah pendapatan nasionalnya bertambah berkat adanya pertumbuhan ekonomi, dan terselenggaranya hubungan perdagangan. Jika output di negara pengekspor meningkat secara proporsional sehingga melebihi kenaikan output yang biasanya diimpornya berdasarkan harga-harga komoditi relatif yang konstan, maka pertumbuhan itu cendrung menaikkan volume perdagangan antar negara ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Inilah yang disebut sebagai pertumbuhan pro-perdagangan (protrade growth). Namun sebaliknya jika pertumbuhan itu justru menurunkan volume perdagangan, maka pertumbuhan output tersebut lazim disebut sebagai pertumbuhan anti perdagangan (antitrade growth). Jika kenaikan output tidak mengubah volume perdagangan, maka pertumbuhan tersebut disebut sebagai pertumbuhan yang bersifat netral terhadap perdagangan (neutral growth). Pertambahan output akan bersifat netral terhadap perdagangan apabila hal itu tidak mengubah volume perdagangan yang sementara berlangsung. Di lain pihak jika konsumsi terhadap barang impor meningkat lebih besar dari pada peningkatan konsumsi terhadap barang yang diekspor berdasarkan harga konstan, maka dampak
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

73
konsumsi itu cenderung kian memperbesar volume perdagangan (peningkatan konsumsi itu disebut pro perdagangan). Sama halnya dengan pertumbuhan produksi, peningkatan konsumsi tersebut selain dapat bersifat pro perdagangan juga bisa bersifat anti perdagangan atau netral. Apabila baik produksi maupun konsumsi bersifat pro perdagangan dengan sendirinya volume perdagangan akan meningkat dalam proporsi yang lebih tinggi dari pada pertambahan output (baik output ekspor maupun impor). Sebaliknya jika produksi dan konsumsi sama-sama anti perdagangan, maka volume perdagangan akan mengalami peningkatan namun dalam proporsi yang lebih rendah di banding peningkatan output, atau bahkan mungkin menurun secara absolut. Jika produksi bersifat pro perdagangan, sedangkan konsumsi bersifat anti perdagangan (atau sebaliknya), maka apa yang terjadi terhadap volume perdagangan akan ditentukan oleh mana yang lebih kuat antara kedua kekuatan tersebut. Dalam prakteknya, aktivitas produksi dan konsumsi jarang menimbulkan dampak yang netral terhadap perdagangan. Jika tidak bersifat pro perdagangan, maka keduanya akan bersifat anti perdagangan. Artinya, proporsi peningkatan perdagangan jarang sekali sama dengan proporsi peningkatan output. 2. Pertumbuhan Faktor Produksi, Perdagangan dan Kesejahteraan Untuk menguraikan bagian Pada ini terlebih gambar dahulu III.3a perlu terlihat

memperhatikan gambar III.3.

sebelum terjadi pertumbuhan faktor produksi L negara 1 berproduksi


Ekonomi Muh. Ilham Internasional

74
pada titik A, dan memperdagangkan sebanyak 60X (130X 70X) untuk memperoleh 60Y (80Y 20Y) berdasarkan harga relatif Px/Py I, sehingga menjangkau kurva indiferensi IC1. Ketika faktor L naik dua kali lipat di negara 1, PPCnya bergerak dari PPC I ke PPC II. Seandainya negara 1 adalah negara kecil, sehingga sulit untuk mempengaruhi harga relatif dari komoditi yang diperdagangkannya, maka ia akan berproduksi di titik B, yakni kurva PPC yang baru merupakan tangen untuk Px/Py I = Px/Py II. Pada titik B tersebut negara 1 berproduksi dua kali lipat atas komoditi X di banding ketika di titik A, namun produksinya atas komoditi Y berkurang dari 20Y menjadi 10Y sebagaimana dirumuskan oleh Teorema Rybcznsky. Berdasarkan harga relatif Px/Py II = Px/Py I, negara 1 akan memperdagangkan X sebanyak 150 unit (270X 120X) untuk memperoleh 150Y (160Y 10Y), dan berkonsumsi di titik Z yang terletak pada IC2. Gambar III.3 : Pertumbuhan Faktor Produksi dan Perdagangan : Kasus Negara Kecil (a) Y

210

E2 IC2

160

IC1

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

75

80 70

E PPC I Px/Py I PPC II

E1

Px/Py II = Px/Py I B

20 10
70

A
120 130 140 150 270 X

(b) Y Px/Py II = 1 Negara 1 Z

150

Negara 1
60 E

X 60 150

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

76
Oleh karena komoditi X yang merupakan komoditi andalan ekspor negara 1 mengalami peningkatan, sedangkan Y mengalami penurunan, maka pertumbuhan output X tersebut bersifat pro

perdagangan atau menunjang perdagangan. Demikian pula, karena konsumsi Y sebagai komoditi impor bagi negara 1 meningkat dalam proporsi yang lebih tinggi di banding konsumsi komoditi X (sebagaimana ditunjukkan oleh titik Z), maka pertumbuhan konsumsi tersebut juga bersifat pro perdagangan. Mengingat dampak yang ditimbulkan oleh produksi dan konsumsi sama-sama pro perdagangan, maka volume perdagangan negara 1 akan meningkat dalam proporsi yang lebih tinggi di banding pertumbuhan output komoditi X. Selanjutnya gambar III.3b merupakan kurva tawar-menawar (offer curve) yang memperlihatkan kasus perdagangan bagi negara 1 bila diukur berdasarkan nilai tukar perdagangan yang sama. Maksudnya dalam kondisi perdagangan bebas, sebelum terjadinya pertumbuhan faktor produksi L, negara 1 akan mengekspor X sebanyak 60 unit dan mengimpor Y juga sebanyak 60 unit berdasarkan harga relatif Px/Py. Setelah pertumbuhan faktor produksi L terjadi, negara 1 akan mengekspor X sebanyak 150 unit untuk mengimpor Y sebanyak 150 unit juga berdasarkan harga relatif Px/Py. Garis diagonal yang melalui titik nol (0) melambangkan nilai tukar perdagangan yang konstan, juga mewakili kurva tawar-menawar negara yang menjadi mitra dagangnya. Akan tetapi karena negara 1 merupakan

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

77
negara kecil, maka kurva tawar menawar sebelum dan sesudah terjadinya pertumbuhan faktor produksi akan tetap berpotongan pada kurva tawarmenawar negara mitra dagangnya. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tukar perdagangan bagi negara 1 senantiasa konstan. Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa sesungguhnya kesejahteraan di negara 1 justru mengalami penurunan setelah terjadinya pertumbuhan faktor produksi tadi, karena jumlah angkatan kerjanya (dan juga penduduknya) naik dua kali lipat, sedangkan total konsumsinya tidak mengalami peningkatan dalam proporsi yang sama besarnya (bandingkan titik Z yang melambangkan ekspor 120X dan impor 160Y setelah terjadinya pertumbuhan ekspor faktor faktor 70X produksi, impor dengan 80Y titik E yang

melambangkan pertumbuhan

dan

sebelum

terjadinya dan

produksi.

Dengan

demikian

konsumsi

kesejahteraan negara 1 mengalami kemerosotan relatif akibat petumbuhan faktor produksi. Kesimpulan ini dapat ditarik berdasarkan asumsi bahwa selera dan pola konsumsi negara 1 secara keseluruhan seragam dan kuantitasnya bersesuaian dengan total jumlah penduduk yang ada.

C. Pertumbuhan dan Perdagangan Bagi Negara Besar 1. Pertumbuhan dan Nilai Tukar Perdagangan Serta Kesejahteraan
Jika terjadi pertumbuhan di negara besar yang dapat meningkatkan volume perdagangan negara itu berdasarkan harga konstan, maka nilai tukar perdagangannya cenderung merosot. Di sisi lain, seandainya Ekonomi Muh. Ilham pertumbuhan itu menurunkan volume perdagangan Internasional

78
berdasarkan harga konstan, maka nilai tukar perdagangan negara tersebut justru akan membaik. Inilah yang biasa disebut sebagai dampak nilai tukar perdagangan dari pertumbuhan (terms-of-trade effect of growth). Dampak akhir dari adanya pertumbuhan terhadap kesejahteraan suatu negara besar akan ditentukan oleh hasil netto dari perpaduan dampak-dampak nilai tukar perdagangan dan dampak kekayaan. Istilah dampak kekayaan (wealth effect) mengacu pada perubahan-perubahan dalam output per tenaga kerja atau per orang yang dikarenakan adanya pertumbuhan faktor produksi. Jika dampak kekayaan itu positif, maka hal tersebut cenderung dapat meningkatkan kesejahteraan negara yang bersangkutan secara keseluruhan. Namun jika dampak kekayaan itu tidak positif, maka tingkat kesejahteraan negara tadi cenderung tidak berubah, atau bahkan mengalami penurunan. Seandainya dampak kekayaan itu positif dan nilai tukar perdagangannya juga menjadi lebih baik berkat adanya pertumbuhan faktor produksi dan

terselenggarakannya perdagangan dengan negara lain, maka tingkat kesejahteraan negara tadi bisa dipastikan segera meningkat. Demikian sebaliknya, jika dampak kekayaannya negatif, sedangkan nilai tukar perdagangan justru mengalami penurunan akibat pertumbuhan faktor produksi dan perdagangan. Dalam situasi seperti itu, dengan sendirinya tingkat kesejahteraan di negara itu akan merosot. Kemudian jika dampak kekayaan dan nilai tukar perdagangan saling bertentangan, maka tingkat kesejahteraan negara itu bisa merosot, meningkat atau tetap saja tidak berubah, tergantung pada kekuatan relatif dari kedua hal tersebut. Ekonomi Muh. Ilham Internasional

79
Sebagai contoh, jika hanya faktor L yang naik dua kali lipat di negara 1, maka dampak kekayaan yang ditimbulkannya cenderung menurunkan kesejahteraan. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar III.4a. Dalam gambar III.4a diasumsikan bahwa negara 1 adalah sebuah

negara besar yang mampu mempengaruhi harga-harga relatif dari berbagai macam komoditi yang diperdagangkannya dengan negara lain (dalam hal ini komoditi X dan Y). Jika pertumbuhan faktor produkksi dan hubungan perdagangan yang sedang berlangsung mengakibatkan

merosotnya nilai tukar perdagangan negara 1 dari Px/Py II = Px/Py I = 1 menjadi PC = 0,5, maka titik produksi negara tersebut akan bergeser ke titik C. Pada titik C negara 1 akan memperdagangkan sebanyak 140X untuk memperoleh 170Y dari negara 2, dan berkonsumsi di titik D yang terletak pada kurva IC2. Oleh karena kesejahteraan negara 1 merosot (artinya dampak kekayaannya negatif) ketika ia terlalu lemah untuk mempengaruhi nilai tukar perdagangannya, maka kini dalam kasus negara besar ternyata nilai tukar perdagangannya juga merosot, sehingga penurunan

kesejahteraan yang terjadi di negara 1 (sebagai sebuah negara besar) akan semakin parah. Keadaan tersebut tampak pada posisinya di IC2 yang lebih rendah dari kurva indiferen semula yaitu pada IC3.

Gambar III.4 : Pertumbuhan Faktor Produksi dan Perdagangan : Kasus Negara Besar (a) Y

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

80

IC3 160 Z

IC2 IC1 100 80 70 E PPC I Px/Py I 30 20 10


70 100

PPC II PC Px/Py II = Px/Py I C A B


120 130 140 150 240 270 X

(b) Y

Px/Py II = 1 Negara 1 150 Z

Pc = 0,5

Negara 1
60 E

Negara 2

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

81

X 60 140

Selanjutnya pada gambar III.4b memperlihatkan dampakdampak yang ditimbulkan oleh terjadinya kenaikan atau pertumbuhan satu atau semua faktor produksi (yang selanjutnya meningkatkan output), kenaikan volume perdagangan dan kemerosotan nilai tukar terhadap kurva tawar menawar negara tersebut, ketika negara 1 mencoba mempengaruhi nilai tukar perdagangannya sebagaimana adanya.

2. Pertumbuhan yang Memiskinkan (Immiserizing Growth) Sekalipun dampak kekayaan yang dialami negara besar bersifat positif (cenderung meningkatkan kesejahteraan), namun kemerosotan nilai tukar perdagangan bisa sangat parah sehingga akhirnya tingkat kesejahteraan negara tersebut justru mengalami kemerosotan. Keadaan ini sesuai dengan pepatah yang mengatakan sudah jatuh tertimpa tangga, dalam istilah ekonomi kasus ini disebut sebagai pertumbuhan yang memiskinkan (immiserizing growth). Konsep ini pertama kalinya diperkenalkan oleh Jagdish Bhagwati. Untuk lebih jelasnya keadaan tersebut dapat disimak pada gambar berikut. Gambar III.5 : Pertumbuhan yang Memiskinkan
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

82
Y

80 70 50

E G B Px/Py I Px/Py II A 60 70
130 140 160 280 X

30 20 10

Gambar III.5 menunjukkan kurva batas kemungkinan produksi (PPC) negara 1 sebelum dan sesudah terjadinya kemajuan teknologi netral yang kemudian meningkatkan produktivitas faktor L dan K hingga dua kali lipat namun hanya pada sektor yang memproduksi komoditi X saja. Dampak kekayaan yang muncul sebenarnya bersifat positif, yakni cenderung meningkatkan kekayaan negara 1 berdasarkan harga konstan, sehubungan dengan meningkatnya output negara 1, sedangkan jumlah angkatan kerja dan penduduknya konstan. Meskipun demikian, karena tipe kemajuan teknologi ini cenderung meningkatkan volume perdagangan, maka nilai tukar perdagangan negara 1 akan berubah yaitu dari Px/Py I menjadi Px/Py II, sehingga pada akhirnya kesejahteraan negara 1 tetap saja merosot. Dalam kasus tersebut, negara 1 akan terpaksa berproduksi di titik G yang terletak pada IC1

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

83
yang letaknya di bawah IC2. IC2 adalah yang dicapai dalam kondisi perdagangan bebas sebelum terjadinya pertumbuhan). Kemungkinan terjadinya pertumbuhan yang memiskinkan akan lebih besar apabila : (a) (b) Pertumbuhan tersebut cenderung melonjakkan ekspor berdasarkan nilai tukar perdagangan yang konstan. Negara 1 sedemikian besar, sehingga setiap lonjakan ekspor akan (c) (d) menimbulkan dampak negatif terhadap nilai tukar perdagangannya. Elastisitas pendapatan permintaan negara 2 terhadap negara 1 begitu rendah sehingga nilai tukar perdagangan mudah merosot. Negara 1 begitu tergantung pada perdagangan internasional sehingga setiap kemerosotan nilai tukar perdagangannya yang cukup parah langsung menurunkan kesejahteraannya. 3. Perdagangan dan Pertumbuhan yang Serba Menguntungkan Pada bagian ini kita akan membahas kasus di mana faktor produksi yang bertambah dua kali lipat di negara 1 hanyalah faktor K atau modal. Dampak kekayaan yang ditimbulkannya cenderung bersifat positif, yakni cenderung meningkatkan kesejahteraan negara yang bersangkutan. Hasil yang sama juga akan tercipta apabila terjadi kemajuan teknologi yang netral di sektor yang menghasilkan komoditi Y sebagai komoditi yang pada modal di negara 1. Karena tipe kemajuan teknologi ini cenderung menurunkan volume perdagangan berdasarkan harga konstan, maka keberadaan teknologi tersebut menjadikan nilai tukar perdagangan negara 1 membaik. Sehubungan dengan positifnya dampak kekayaan dan dampak nilai tukar perdagangan, maka dapat
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

84
dipastikan tingkat kesejahteraan negara 1 akan meningkat. Hal tersebut dapat dijelaskan berdasarkan gambar berikut di bawah ini. Gambar III.6 : Pertumbuhan Faktor Produksi yang Meningkatkan Nilai Tukar Perdagangan dan Kesejahteraan. (a)
Y 130 105 IC1 E 70 S Px/Py I 30 20 10
70

IC3 IC2 W U R

PR = PB = 1 Ps = 2
X

110 120 130 140 150

Gambar III.6a memperlihatkan PPC negara 1 sebelum terjadinya pertumbuhan (PPC I), dan setelah faktor K bertambah dua kali lipat PPCnya bergeser ke PPC II. Berdasarkan harga komoditi relatif Px/Py = 1, negara 1 akan berproduksi di titik R. Pada titik tersebut jumlah produksi X sebanyak 110 unit dan produksi Y sebanyak 105 unit. Negara 1 akan memperdagangkan sebanyak 15X untuk memperoleh sebanyak 15Y dari negara 2, serta mengkonsumsi tepat dititik U pada IC2. Jika jumlah tenaga kerja dan total penduduk di negara tersebut tidak bertambah, maka tipe pertumbuhan faktor

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

85
produksi ini dapat dipastikan akan menaikkan tingkat kesejahteraan penduduk negara 1. Selanjutnya, karena volume perdagangan negara 1 menurun pada harga konstan sebelum terjadinya pertumbuhan faktor produksi (dalam kondisi perdagangan bebas negara 1 akan mencapai keseimbangan di titik E), maka nilai tukar perdagangan negara 1 juga akan menjadi lebih baik yakni dari PR = PA = 1 menjadi PS = 2, negara 1 akah berproduksi di titik S yakni menghasilkan X sebanyak 120 unit dan Y sebanyak 90 unit. Pada titik tersebut negara 1 dapat mengekspor komoditi X hanya sebanyak 20 unit untuk ditukarkan dengan komoditi Y sebanyak 40 unit dari negara 2. Selanjutnya negara 1 akan berkonsumsi di titik W pada IC3. Dengan demikian adanya dampak kekayaan dan nilai tukar perdagangan yang positif akan membawa negara 1 pada tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Pada gambar III.6b memperlihatkan perubahan pada kurva tawar-menawar negara 1 sehubungan dengan terjadinya pertumbuhan faktor produksi K yang berkaitan langsung dengan volume dan nilai tukar perdagangan, tidak peduli apakah negara 1 berusaha merubah nilai tukar perdagangannya atau tidak. Dampak kekayaan dan nilai tukar perdagangan yang muncul sama-sama bersifat positif (sehingga keduanya menjadi alasan bagi meningkatnya kesejahteraan negara 1).
(b) Y Negara 1 Ps = 2 Negara 2 60 PR = 1

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

86
Negara 1

50 W 40
30 20 U 10 X 10 20 60

D. Rangkuman 1. Dalam kondisi skala hasil konstan dan harga relatif konstan, pertumbuhan faktor L dan K secaraseimbang akan membuat kurva kemungkinan produksi (PPC) negara yang bersangkutan bergerak sejajar di semua titik yang terdapat pada kurva tersebut, dan output per tenaga kerja juga konstan. 2. Jika pertumbuhan L lebih tinggi di banding K, maka PPC negara tersebut akan bergerak namun tidak proporsional, dan mengarah pada komoditi yang padat L, dan output per tenaga kerja akan turun. Sebaliknya jika K bertambah lebih banyak di banding L. 3. Pada intinya teorema Rybczynsky menyatakan bahwa berdasarkan harga-harga relatif konstan, kenaikan dalam kepemilikan salah satu faktor produksi akan meningkatkan output komoditi yang

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

87
menggunakan faktor produksi itu dalam proporsi yang lebih besar, dan dalam waktu bersamaan akan menurunkan output komoditi lain. 4. Kegiatan produksi akan bersifat pro perdagangan jika output komoditi ekspor suatu negara meningkat dalam proporsi yang lebih tinggi dari pada output komoditi impornya. Konsumsi dapat dikatakan pro perdagangan jika konsumsi suatu negara atas komoditi impor meningkat dalam proporsi yang lebih tinggi di banding konsumsinya terhadap komoditi ekspor. 5. Jika pertumbuhan faktor produksi meningkatkan volume perdagangan suatu negara berdasarkan harga-harga konstan, maka nilai tukar perdagangan negara tersebut cenderung memburuk. Jika volume perdagangan menurun, maka pertumbuhan tadi akan memperbaiki nilai tukar perdagangan atau konstan. 6. Jika dampak nilai tukar perdagangan dan dampak kekayaan yang dimunculkan oleh pertumbuhan faktor produksi positif, maka dengan sendirinya tingkat kesejahteraan negara yang bersangkutan pasti meningkat. Namun dalam kasus lain tingkat kesejahteraan suatu negara bisa konstan atau bahkan merosot, tergantung hasil netto yang ditimbulkan oleh kedua dampak itu (jika salah satu atau keduanya bersifat negatif). 7. Adakalanya dampak negatif pada nilai tukar perdagangan sedemikian besar, sehingga menghapuskan manfaat dari dampak kekayaan positif dan pada akhirnya membawa negara yang bersangkutan pada Ekonomi Muh. Ilham Internasional

88
kemerosotan kesejahteraan. Kasus ini disebut sebagai pertumbuhan yang memiskinkan. E. Soal-soal Latihan 1. Apa yang ditimbulkan oleh pertumbuhan faktor produksi dalam berbagai tipe terhadap pergeseran kurva kemungkinan produksi suatu negara? Apa sesungguhnya yang dimaksud pertumbuhan seimbang? 2. Pada intinya gagasan apa yang dinyatakan oleh Teorema Rybczynsky? Jelaskan dan gambarkan grafiknya! 3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan produksi atau konsumsi yang bersifat pro perdagangan, anti perdagangan dan yang netral. 4. Jelaskan dampak yang ditimbulkan oleh pertumbuhan faktor produksi terhadap nilai tukar perdagangan. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan dampak kekayaan dari pertumbuhan? 5. Jelaskan dampak pertumbuhan terhadap kesejahteraan suatu negara, baik untuk kasus negar kecil maupun kasus negara besar.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

NERACA PEMBAYARAN INTERNASIONAL

A. Pengertian Neraca pembayaran internasional suatu negara merupakan catatan sistematis mengenai semua transaksi ekonomi antara

penduduk suatu negara dengan penduduk negara-negara lainnya selama periode tertentu. Pengertian di atas cukup jelas, tetapi juga masih menimbulkan pertanyaan : siapakah yang dimaksud dengan penduduk itu? Apakah yang dimaksud dengan transaksi ekonomi itu?. Pengertian penduduk dalam neraca pembayaran internasional meliputi : Orang perorang/individu, Badan hukum, dan pemerintah. Penduduk adalah siapapun yang tempat tinggalnya berada dalam suatu negara, tanpa memperdulikan kewarganegaraan atau status

paspornya. Pengertian orang perorang/individu adalah orang perorang yang tidak mewakili pemerintah suatu negara di mana mereka mempunyai tempat tinggal tetap atau di mana mereka memperoleh penghasilan tetap atau bekerja. Suatu Badan Hukum dianggap sebagai penduduk dari negara di mana Badan Hukum tersebut memperoleh status sebagai Badan Hukum. Cabang-cabangnya yang berada di luar

Ekonomi Internasional Muh. Ilham

89

90
negeri di anggap sebagai penduduk luar negeri. Badan-badan pemerintah adalah jelas sebagai penduduk dari negara yang

diwakilinya. Misalnya para diplomat kedutaan besar dianggap sebagai penduduk dari negara yang mereka wakili. Transaksi ekonomi adalah setiap pertukaran nilai, yang biasanya merupakan suatu tindakan yang mengakibatkan terjadinya pengalihan barang atau jasa ekonomi, atau pengalihan kekayaan dari penduduk suatu negara ke penduduk negara lain. Yang termasuk dalam neraca pembayaran hanyalah transaksi ekonomi internasional saja. Transaksi bantuan militer tidak termasuk di dalamnya. Setiap transaksi ekonomi memiliki dua sisi dari sudut pandang negara pencatat yaitu transaksi debet dan transaksi kredit. Transaksi debet adalah transaksi yang menimbulkan kewajiban untuk melakukan pembayaran kepada penduduk negara lain. Transaksi kredit adalah adalah transaksi yang menimbulkan hak untuk menerima pembayaran dari penduduk negara lain.

B. Struktur dan Unsur-unsur Neraca Pembayaran Internasional Telah dikemukakan di atas bahwa Neraca Pembayaran Internasional disusun berdasarkan transaksi debet dan transaksi kredit. Unsur-unsur dari pos Neraca Pembayaran Internasional yang berisikan transaksi debet biasanya diberi tanda minus ( ). Misalnya transaksi
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

91
impor yang menciptakan kewajiban bagi penduduk untuk melakukan pembayaran kepada penduduk negara pengekspor, maka transaksi tersebut diberi tanda minus. Sebaliknya, transaksi karena menimbulkan hak bagi penduduk untuk menerima pembayaran dari negara pengimpor akan diberi tanda positif ( + ) dan biasanya tanda positif tersebut tidak dituliskan lagi. Berdasarkan susunan Neraca Pembayaran Internasional tersebut di mana setiap unsur transaksi yang terjadi dicatat dalam transaksi debet bagi transaksi yang menimbulkan kewajiban

pembayaran, dan dicatat dalam transaksi kredit bagi transaki yang menimbulkan hak menerima pembayaran, maka pencatatan Neraca Pembayaran Internasional secara akuntansi selalu dalam

keseimbangan, namun pada akhirnya akan terdapat perbedaan antara jumlah total debet dengan jumlah total kredit. Perbedaan tersebut dicatat dalam rekening Selisih Perhitungan. Adapun unsur-unsur Neraca pembayaran Internasional adalah sebagai berikut : 1). Transaksi Barang dan Jasa Transaksi ini meliputi transaksi ekspor maupun impor barang dan jasa, disebut pula transaksi sedang berjalan (current account). Ekspor barang meliputi barang-barang yang dapat dilihat secara fisik seperti ekspor kayu, minyak dan gas, cengkeh dan sebagainya. Ekspor
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

92
jasa meliputi transaksi ekonomi yang tidak berbentuk barang seperti jasa-jasa angkutan, turis, asuransi dan sebagainya, dalam transaksi jasa ini termasuk pula pendapatan dari investasi modal di luar negeri. Ekspor barang dan jasa merupakan transaksi kredit sebab transaksi ini menimbulkan hak untuk menerima pembayaran (terjadinya aliran dana masuk). Transaksi impor barang meliputi misalnya barang-barang konsumsi, bahan mentah untuk industri dan kapital, sedang impor jasa meliputi pembelian jasa-jasa dari penduduk negara lain. Termasuk dalam impor jasa adalah pendapatan bunga, dividen tau keuntungan untuk modal yang ditanam di dalam negeri oleh penduduk negara lain. Impor barang-barang dan jasa merupakan transaksi debet sebab transaksi ini menimbulkan kewajiban untuk melakukan pembayaran kepada penduduk negara lain (terjadinya aliran dana ke luar negeri). Penjumlahan transaksi barang dan transaksi jasa diperoleh transaksi berjalan (current account). Surplus transaksi yang sedang berjalan menujukkan bahwa ekspor barang dan jasa lebih besar di banding impor barang dan jasa. Ini berarti suatu negara mengalami akumulasi kekayaan valuta asing, sehingga mempunyai saldo positif dalam investasi luas negeri. Sebaliknya defisit transaksi yang sedang berjalan berarti impor barang dan jasa lebih besar dari ekspor barang dan jasa, sehingga terjadi pengurangan investasi di luar negeri. Dengan
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

93
demikian transaksi yang sedang berjalan sangar erat hubungannya dengan pendapatan nasional. Hal ini dapat dilihat berdasarkan

persamaan pendapatan nasional dari sisi pengeluaran : Y = C + I + G + (X M). 2). Transaksi Modal Transaksi modal terdiri atas : (a) Transaksi modal jangka pendek, yang meliputi : - Kredit untuk perdagangan dari negara lain (transaksi kredit) atau kredit perdagangan yang diberikan kepada penduduk negara lain (transaksi debet). - Deposito bank oleh penduduk domestik di luar negeri (transaksi debet) atau deposito bank di dalam negeri milik penduduk negara lain (transaksi kredit). - Pembelian surat berharga luar negeri jangka pendek (transaksi debet) atau penjualan surat berharga dalam negeri jangka pendek kepada penduduk negara lain (transaksi kredit). (b) Transaksi modal jangka panjang, yang meliputi : - Investasi langsung di luar negeri (transaksi debet) atau investasi asing di dalam negeri (transaksi kredit). - Pembelian surat-surat berharga jangka panjang milik penduduk negara lain (transaksi debet) atau pembelian surat-surat berharga

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

94
jangka panjang dalam negeri oleh penduduk negara lain (transaksi kredit). - Pinjaman jangka panjang yang diberikan kepada penduduk negara lain (transaksi debet) atau pinjaman jangka panjang yang diterima dari penduduk negara lain (transaksi kredit). Jadi setiap transaksi modal yang menyebabkan kenaikan (penurunan) kekayaan suatu negara di luar negeri merupakan aliran modak keluar (masuk) atau merupakan transaksi debet (kredit). Demikian juga setiap transaksi modal yang menyebabkan kenaikan (penurunan) kekayaan asing di dalam negeri merupakan aliran modal masuk (keluar) atau merupakan transaksi debet (kredit). 3). Transaksi Satu Arah (Unilateral Transfer) Transaksi satu arah adalah transaksi yang tidak menimbulkan kewajiban untuk melakukan pembayaran, misalnya hadiah (gifts) dan bantuan (aid). Apabila suatu negara memberikan hadian atau bantuan kepada negara lain, maka ini merupakan transaksi debet. Sebaliknya, apabila suatu negara menerima hadiah atau bantuan dari negara lain merupakan transaksi kredit. 4). Selisih Perhitungan (error and ommission) Rekening ini merupakan rekening penyeimbang apabila nilainilai transaksi kredit tidak persis sama dengan nilai-nilai transaksi debet. Dengan adanya rekening selisih perhitungan ini maka jumlah
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

95
total nilai sebelah kredit dan debet dari suatu neraca pembayaran internasional akan selalu sama (balance). 5). Lalu Lintas Moneter Transaksi ini sering disebut accomodating sebab merupakan transaksi yang timbul sebagai akibat dari adanya transaksi lain. Transaksi lain tersebut sering disebut autonomous sebab transaksi lain tersebut timbul dengan sendirinya, tanpa dipengaruhi oleh oleh transaksi lain. Termasuk dalam transaksi autonomous adalah

transaksi-transaksi yang sedang berjalan, transaksi kapital serta transaksi satu arah. Perbedaan antara transaksi autonomous debet dengan kredit diseimbangkan dengan transaksi lalu lintas moneter. Transaksi ini timbul diakibatkan oleh ketidakseimbangan antara transaksi autonomous debet dan kredit. Termasuk dalam transaksi lalu lintas moneter adalah mutasi dalam hubungan dengan IMF, pasica luar negeri serta aktiva luar negeri. Defisit atau surplus neraca pembayaran dapat diketahui dari transaksi autonomous tersebut. Defisit apabila transaksi autonomous debet lebih besar dari pada transaksi

autonomous kredit. Sebaliknya, surplus terjadi apabila transaksi autonomous kredit lebih besar dari pada transaksi autonomous debet. Untuk lebih jelasnya susunan dan unsur-unsur dalam Neraca Pembayaran Internasional dapat diberikan contoh pada tabel IV.1.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

96

Tabel IV.1 : Neraca Pembayaran Internasional Indonesia Tahun 1999 Uraian Nilai Transaksi (Juta US$) A. Neraca Transaksi Berjalan 5,782 1. Neraca Perdagangan (Barang) 20,643 a. Ekspor (f.o.b) 51,242 i. Non Migas 40,987 ii. Migas 10,255 b. Impor (f.o.b) -30,599 i. Non Migas 26,632 ii. Migas 3,968 2. Neraca Jasa (bersih) -14,861 a. Non Migas -11,660 b. Migas -3,201 B. Transaksi Modal -4,570 1. Modal pemerintah 5,352 a. Penerimaan 9,422 b. Pelunasan Pinjaman -4,070 2. Modal Swasta (Bersih) -9,922 a. Penanaman Modal Langsung -3,270 b. Non PML -6,652 C. Jumlah (A + B) 1,212 D. Selisish Perhitungan (Bersih) 2,081 E. Lalu Lintas Moneter -3,292 Reserve 19,125 Pada tabel IV.1 tampak bahwa pencatatan transaksi yang menimbulkan kewajiban mwmbayar pihak Indonesia dicatat dengan angka minus, sedangkan yang menimbulkan hak bagi pihak Indonesia untuk menerima pembayaran dari pihak asing dicatat dengan angka positif.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

97
Berdasarkan pencatatan di atas diperoleh nilai neraca perdagangan dengan angka positif sebesar US$ 20,643 yang berarti neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus. Kemudian neraca jasa menunjukkan angka negatif sebesar US$ -14,861 yang dal;am neraca jasa Indinesia mengalami defisit dalam arti bahwa Indonesia lebih banyak melakukan pembayaran di banding mermperoleh

penerimaan. Selanjutnya neraca transaksi berjalan yang merupakan penjumlahan neraca perdagangan barang dengan neraca jasa menunjukkan angka positif sebesar US$ 5,782 yang berarti bahwa neraca transaksi berjalan mengalami surplus. Selanjutnya dalam neraca transaksi modal terlihat bahwa penerimaan bantuan dan pinjaman oleh pemerintah Indonesia sebesar US$ 9,422 yang merupakan transaksi kredit karena terjadi aliran dana masuk, sedangkan pelunasan pinjaman hanya sebesar US$ 4,070 (berangka negatif) yang merupakan transaksi debet, karena terjadi aliran dana keluar. Penjumlahan transaksi modal pemerintah sebesar US$ 5,352 yang berarti terjadi surplus dalam transaksi modal pemerintah. Selanjutnya untuk transaksi modal swasta menunjukkan penanaman modal langsung sebesar US$-3,270 yang berarti terjadi aliran dana keluar (transaksi debet). Begitu puila dengan transaksi non penanaman modal langsung sebesar US$ 6,652 juga terjadi aliran dana keluar (transaksi
Ekonomi Muh. Ilham

debet).

Secara

keseluruha

transaksi

modal

Internasional

98
mengalami defisit sebesar US$ 4,570 (angka negatif) yang berarti jumlah modal yang keluar lebih besar dari pada jumlah modal yang masuk. Penjumlahan neraca transaksi berjalan dengan transaksi modal sebesar US$1,212 (angka positif) yang berarti secara

keseluruhan transaksi ekonomi internasional Indonesia yang tercatat mengalami surplus atau aliran dana masuk lebih besar dari pada aliran dana keluar. Namun jika memperhitungkan selisih perhitungan yang muncul karena kurang akuratnya data transaksi diketahui bernilai sebesar US$ 2,081. Dengan demikian lalu lintas moneter yang tercatat sebesar US$ -3,292. Hal ini menunjukkan bahwa Neraca Pembayaran Internasional Indonesia mengalami surplus dalam hubungan ekonomi dengan negara lain. C. Rangkuman 1. Neraca Pembayaran Internasional adalah sebuah rangkuman laporan dari semua transaksi ekonomi yang dilakukan oleh penduduk dari suatu negara dengan penduduk negara lainnya selama periode tertentu. 2. Transaksi-transaksi-transaksi internasional dapat dklasifikasikan sebagai transaksi debet dan transaksi kredit. Transaksi debet adalah transaksi yang menimbulkan kewajiban membayar kepada

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

99
pihak lain, sedang transaksi kredit adalah transaksi yang

menimbulkan hak untuk menerima pembayaran dari phak lain. 3. Setiap transaksi yang menyangkut barang dan jasa muncul dalam neraca transaksi berjalan, sedangkan pembelian atau penjualan aset-aset masuk ke neraca modal. Defisit neraca berjalan harus diimbangi dengan surplus neraca modal dalam jumlah yang sama D. Soal-soal Latihan 1. Kemukakan pengertian Neraca Pembayaran Internasional. 2. Apa yang dimaksud dengan transaksi debet dan transaksi kerdit dalam neraca pembayaran. Unsur-unsur apa saja dalam Neraca P[embayaran Internasional masuk dalam transaksi debet ataukah transaksi kredit. Jelaskan mengapa ! 3. Kumpulkan data Neraca Pembayaran Internasional Indonesia selama 3 tahun terakhir, kemudian analisislah unsur-unsur yang saling berhubungan.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

KEBIJAKSANAAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL

A. Pengertian dan Tujuan Kebijaksanaan Perdagangan Internasional Kebijakan perdagangan internasional merupakan tindakan yang ditempuh oleh suatu negara dalam mempengaruhi berlangsungnya perdagangan internasional. Dalam hal ini yang berkaitan dengan tindakan terhadap rekening yang sedang berjalan (current account) dari pada neraca pembayaran internasional, khususnya tentang ekspor dan impor barang/jasa. Adapun tujuan dari kebijakan perdagangan yang dilakukan oleh suatu negara pada umumnya adalah : (a) Autarki. Tujuan autarki bermaksud untuk menghindarkan pengaruhpengaruh negara lain, baik pengaruh ekonomi, politik maupun militer terhadap kegiatan ekonomi domestik. Jadi politik autarki benar-benar menutup hubungan ekonomi dengan pihak luar, sehingga tujuan ini bertentangan dengan prinsip-prinsip perdagangan internasional. (b) Meningkatkan kesejahteraan penduduk. Melalui kebijakan

perdagangan internasional yang ditempuh suatu negara diharapkan dapat mendorong produksi maupun konsumsi dalam negeri.

Ekonomi Internasional Muh. Ilham

100

101
(c) Proteksi. Tujuan ini untuk melindungi industri domestik dari persaingan barang/jasa impor. B. Tarif Impor dan Kuota Impor 1. Jenis-Jenis Tarif Impor Tarif impor adalah pajak atau cukai yang dikenakan untuk suatu komoditi impor. Tarif impor jika ditinjau dari mekanisme penghitungannya, ada beberapa jenis tarif, yaitu : a). Tarif spesifik (specific tariff). Tarif jenis ini adalah tarif/pajak yang dikenakan sebagai beban tetap setiap barang yang diimpor (misalnya Rp.100 untuk setiap kg beras impor). b). Tarif ad valorem (ad valorem tariff). Adalah pajak yang dikenakan berdasarkan angka persentase tertentu dari nilai barang-barang yang diimpor (misalnya pembebanan tarif sebesar 10 % dari nilai setiap kg beras yang diimpor). c). Tarif campuran (compound tariff). Adalah gabungan tarif spesifik dan tarif ad valorem. Misalnya, harga beras impor per kg Rp.1.500, jika jumlah beras impor sebanyak 1000 kg, maka berdasarkan tarif spesifik akan dikenakan sebesar Rp.100 x 1.000 kg = Rp.100.000. Kemudian berdasarkan tarif ad valorem, maka dikenakan sebesar 10 % dari nilai 1000 kg beras, yaitu 10 % x Rp.1.500.000 = Rp.150.000. Dengan demikian total tarif yang dibebankan sebesar Rp.100.000 + Rp.150.000 = Rp.250.000. 2. Dampak tarif terhadap konsumsi dan produksi dalam negeri Dampak yang ditimbulkan akibat pemberlakuan tarif dapat dibahas melalui gambar di bawah ini. Misalkan, negara A mempunyai
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

102
fungsi penawaran atas barang x adalah Qs = 1,5P 5 dan fungsi permintaan Qd = 70 P, maka harga keseimbangan di negara A tanpa perdagangan luar negeri adalah : 1,5P 5 = 70 P 2,5P = 75 P = Rp.30/unit; dan Q = 40 unit Jadi sebelum adanya perdagangan luar negeri harga x di negara A adalah Px = Rp.30/unit, dan jumlah x yang ditawarkan dan diminta di dalam negeri sebesar 40 unit. Bila negara A mengadakan hubungan perdagangan luar negeri tanpa pembebanan tarif, dan harga x di pasar internasional dimisalkan Px = Rp.10/unit, maka jumlah x yang diminta oleh konsumen negara A meningkat menjadi 60 unit. Di pihak lain, produsen barang x di negara A hanya akan menawarkan sebanyak 10 unit pada harga Px = Rp.10/unit, karena tidak mampu bersaing pada harga tersebut. Dengan demikian jumlah impor negara A atas barang x sebesar 50 unit (total konsumsi dalam negeri 60 unit dikurang jumlah yang ditawarkan produsen dalam negeri 10 unit). Gambar V.1 : Dampak tarif impor terhadap harga, produksi dan konsumsi dalam negeri Px
70 D S

30

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

103
15 10
10 17,5 40 55 60 70 Qx

Selanjutnya, dimisalkan terhadap barang x dikenakan tarif sebesar 50 % dari harga per unit, maka harga barang x di negara A naik menjadi Px = Rp.15/unit, sehingga konsumen negara A mengurangi permintaannnya menjadi 55 unit. Di pihak lain, produsen negara A pada harga tersebut menaikkan penawarannya menjadi 17,5 unit. Jumlah impor negara A atas barang x turun menjadi 37,5 unit (total konsumsi sebesar 55 unit dikurang total produksi dalam negeri sebesar 17,5 unit). Berdasarkan ilustrasi di atas tampak bahwa perdagangan

internasional tanpa tarif memberikan keuntungan bagi konsumen, yaitu dapat mengkonsumsi x dalam jumlah yang lebih banyak, karena harga yang lebih murah. Di pihak lain, produsen dalam negeri yang tidak mampu bersaing dengan barang impor mengurangi produksinya (ada sebahagian produsen gulung tikar). Jadi dampak tarif terhadap konsumsi dalam negeri bersifat negatif, sedangkan terhadap produksi dalam negeri bersifat positif. 3. Biaya dan Manfaat Tarif Telah diuraikan di atas bahwa tarif meningkatkan harga barang di negara pengimpor, sehingga konsumen negara pengimpor secara relatif merugi, sedangkan produsen di negara pengimpor memperoleh
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

104
keuntungan. Jadi tarif membawa biaya sekaligus manfaat. Untuk menggambarkan biaya dan manfaat tarif, kita kembali menggunakan contoh pada gambar sebelumnya. Berdasarkan gambar V.2, tampak bahwa dengan adanya tarif sebesar 50 % dari harga per unit barang x, surplus konsumen yang hilang adalah sebesar : 18,75 + 68,75 + 187,5 + 12,5 = Rp.287,5. Dari jumlah tersebut sebesar Rp.187,5 diterima oleh pemerintah dalam bentuk pajak impor, sebesar Rp.68,75 didistribusikan ke produsen, sedangkan sebesar 18,75 + 12,5 = Rp.31,25 merupakan biaya proteksi atau biaya bobot mati (deadweight loss) sebagai beban yang ditanggung oleh perekonomian secara keseluruhan. Biaya proteksi sebesar Rp.18,75 merupakan biaya yang timbul akibat adanya pengalihan sumber daya domestik dari produksi barang Y ke produksi barang x untuk keperluan ekspor. Biaya proteksi sebesar Rp.12,5 merupakan biaya yang timbul karena kenaikan tarif meningkatkan harga x (Px) secara relatif terhadap harga y (Py), dan menimbulkan distorsi atau gangguan terhadap pola konsumsi di dalam negeri. Gambar V.2 : Biaya dan Manfaat Tarif
Px 70 D S

e
30

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

105

15 10 10 17,5 40 55 60 70 Qx

Keterangan : = (17,5 unit 10 unit ) x Rp.5 : 2 = Rp.18,75

= (17,5 unit x Rp.5) Rp.18,75 = Rp.68,75 = (55 unit 17,5 unit) x p.5 = Rp.187,5 = (60 unit 55 unit) x Rp.5 : 2 = Rp.12,5

3. Kuota Impor Kuota impor adalah pembatasan secara langsung terhadap jumlah impor. Kuota bisa berupa pembatasan kuantitas pasokan, misalnya

sekian ton atau sekian unit per tahun, atau bisa juga berupa pembatasan nilai impor. Pembatasan impor biasanya diberlakukan dengan memberi lisensi kepada beberapa kelompok individu atau perusahaan domestik untuk mengimpor suatu produk yang jumlahnya langsung dibatasi itu. Kuota impor dapat digunakan untuk melindungi sektor industri dalam negeri, sektor pertanian, atau neraca pembayaran suatu negara. Dampak kuota impor dapat diilustrasikan melalui gambar grafik V.3. Dalam

kondisi perdagangan bebas, harga internasional yang berlaku untuk barang x adalah Px = Rp.10/unit, jumlah permintaan (konsumsi dalam

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

106
negeri) sebesar 60 unit. Jika negara A sebagai negara pengimpor memberlakukan kuota impor yang hanya memperbolehkan impor x sebesar 37,5 unit (garis tebal a-b), maka harga x naik menjadi Px =

Rp.15/unit, sehingga konsumsi x di dalam negeri turun menjadi 55 unit, dan produksi dalam negeri meningkat menjadi 17,5 unit (sebelum ada kuota impor produksi dalam negeri sebesar 10 unit). Jadi pada dasarnya dampak kuota kuota impor sama dengan tarif impor. Gambar V.3 : Dampak kuota impor terhadap perekonomian dalam negeri
Px 70 D D1 S

e 30 20 15 10 a a
10 17,5 25 40

e b b c
Qx

50 55 60 65 70

Perbedaan kuota impor dengan tarif impor muncul ketika terjadi pergeseran kurva permintaan dari D ke D1, yaitu fungsi permintaan penjadi Qd = 80 - P. Bila terjadi pemberlakukan tarif sebesar 50 % dari harga semula (Rp.10/unit), maka harga naik menjadi Rp.15/unit, tetapi pergeseran kurva permintaan dari D ke D1, tidak mengakibatkan kenaikan harga Px lebih dari Rp.15/unit, namun jumlah permintaan meningkat menjadi 65 unit,
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

107
berarti ada tambahan impor sebesar garis terputus-putus b c sebesar 10 unit. Bila kuota impor yang dikenakan, maka pergeseran kurva permintaan dari D ke D1, justru akan menaikkan harga dalam negeri lebih tinggi misalnya menjadi Px = Rp.20/unit. Oleh karena kuota impor telah ditetapkan sebesar 37,5 unit (garis tebal a b), maka dengan adanya pergeseran kurva permintaan dari D ke D1 dengan harga Rp.20/unit jumlah produksi dalam negeri meningkat menjadi 25 unit, sehingga konsumsi dalam negeri hanya meningkat menjadi 62,5 unit (jumlah produksi dalam negeri 25 unit ditambah kuota impor 37,5 unit). Berdasarkan uraian di atas tampak bahwa perbedaan antara kuota impor dengan tarif impor adalah kenaikan permintaan pada kasus kuota impor sebesar 37,5 unit dalam contoh di atas dapat menaikkan harga dalam negeri jauh lebih tinggi bisa mencapai Px = Rp.20/unit. Kenaikan permintaan dalam kasus tarif impor sebesar 50 % (dengan jumlah impor sebesar 37,5 unit) tidak akan menaikkan harga dalam negeri lebih tinggi, harga dalam negeri hanya akan naik pada Px = Rp.15/unit. C. Dumping. Dumping adalah kebijakan perdagangan yang ditempuh oleh suatu negara dengan menjual barang ekspornya jauh lebih rendah di banding harga jual dalam negeri. Dumping dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yakni dumping terus menerus, dumping predator, dan dumping sporadis.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

108
a. Dumping terus menerus (permanent dumping). Jenis dumping ini biasa disebut sebagai praktek banting harga atau diskriminasi harga internasional (international price discrimination) adalah kecenderungan terus menerus dari sebuah perusahaan monopolis dalam negeri untuk memaksimalkan total keuntungannya dengan menjual suatu komoditi dengan harga yang lebih tinggi di pasar dalam negeri, sedangkan harga yang diberlakukan untuk pasar-pasar di luar negeri sengaja ditetapkan lebih murah (karena ia harus bersaing dengan produk dari negara lainnya, yang mungkin produksinya lebih efisien, sehingga lebih murah dan kompetitif). b. Dumping Predator (predatory dumping) Dumping predator adalah praktek penjualan komoditi di bawah harga atau harga yang jauh lebih murah di luar negeri di banding harga dalam negeri. Proses dumping predator ini hanya berlangsung untuk sementara, namun diskriminasi atau penciptaan selisih harganya sangat tajam, sehingga benar-benar dapat menggusur atau bahkan mematikan produksi pesaing dalam waktu singkat (oleh karena itu disebut predator). Begitu perusahaan pelakunya menguasai pangsa pasar yang lebih luas, maka ia akan segera meningkatkan harga ekspornya dan menghentikan dumping tersebut. Dumping predator seringkali ditempuh sebagai strategi untuk mengusir produk pesaing dari negara lain.
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

109
c. Dumping Sporadis (sporadic dumping) Dumping sporadis adalah penjualan suatu komoditi di luar negeri dengan harga yang sedikit lebih murah di banding harga dalam negeri., namun hal itu terjadi sekali-sekali saja, dan tujuannyapun sekedar untuk mengatasi surplus komoditi yang sesekali terjadi tanpa menurunkan harga domestik. Jadi, niatnya sama sekali tidak untuk menindas atau mematikan produk pesaing. Dalam beberapa kasus dumping permanen dan sporadis, keuntungan yang diperoleh konsumen dari harga yang lebih murah itu ternyata lebih besar di banding nilai kerugian yang dialami oleh sebahagian produsen dalam negeri. Jadi dumping tidak selamanya merugikan, bahkan sering pula menguntungkan (khususnya bagi konsumen), tetapi bagi produsen yang produknya tersaingi tentunya akan menanggung kerugian, sehingga mereka tidak mau mentolerir segala bentuk dumping. D. Subsidi Ekspor Subsidi ekspor adalah pembayaran langsung atau pemberian keringanan pajak atau bantuan subsidi kepada para eksportir atau calon eksportir nasional, dan/atau pemberian pinjaman berbunga rendah kepada para pengimpor dari negara-negara lain dalam rangka memacu ekspor suatu negara (biasa disebut subsidi kredit ekspor). Subsidi ekspor biasa juga dikategorikan sebagai salah satu bentuk dumping.
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

110
Dampak yang ditimbulkan akibat adanya subsidi ekspor dapat dibahas melalui gambar di bawah ini. Misalkan, negara A mempunyai fungsi penawaran atas barang x adalah Qs = 1,5P 5 dan fungsi permintaan Qd = 70 P, maka harga keseimbangan di negara A tanpa perdagangan luar negeri adalah : Py = Rp.30/unit; dan Qy = 40 unit. Gambar V.4 : Dampak subsidi ekspor terhadap perekonomian dalam negeri.
Py 70 D 45 a 35 30 b c d S

25

35 40 47,5

62,5 70

Qy

a = 25 unit x Rp.10 = Rp.250 b = (35 unit 25 unit) x Rp.10 : 2 = 50 c = (62,5 unit 25 unit) x Rp.10 b d = Rp.250 d = (62,5 47,5) x Rp.10 : 2 = Rp.75 Gambar di atas menunjukkan bahwa keseimbangan dalam negeri tanpa hubungan perdagangan internasional adalah pada harga Py = Rp.30/unit dengan kuantitas Qy = 40 unit. Dalam kondisi perdagangan
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

111
bebas tanpa subsidi ekspor harga internasional Py = Rp.35/unit dan kuantitas yang ditawarkan Qy = 47,5 unit. Dari 47,5 unit tersebut sebanyak 35 unit dikonsumsi di dalam negeri dan 12,5 unit di ekspor ke luar negeri. Ketika pemerintah negara tersebut memberikan subsidi kepada eksportir sebesar 10 rupiah per unit, maka harga dalam negeri meningkat menjadi Py = Rp.45/unit, produsen meningkatkan produksinya, sementara konsumen dalam negeri menurunkan konsumsinya dari 35 unit menjadi 25 unit. Kenaikan harga dalam negeri terjadi karena produsen sebagai eksportir barang y meningkatkan ekspornya dari 12,5 unit menjadi 37,5 unit (total produksi 62,5 unit dikurang konsumsi dalam negeri 25 unit), yang mengakibatkan jumlah barang y di dalam negeri berkurang, sehingga harganya naik. Di sisi lain konsumen luar negeri tetap membayar dengan harga Py = Rp.35/unit. Berdasarkan ilustrasi di atas, tampak bahwa subsidi ekspor mengakibatkan kerugian bagi konsumen dalam negeri, sementara produsen dalam negeri memperoleh keuntungan berupa kenaikan harga dalam negeri dan meningkatnya jumlah ekspor. Kerugian yang dihadapi oleh konsumen dalam negeri adalah sebesar a + b = Rp.300, sedangkan keuntungan yang diperoleh produsen dalam negeri adalah sebesar a + b + c = Rp.550. Selanjutnya pemerintah sebagai pemberi subsidi ekspor memikul beban sebesar b + c + d = Rp.375. Biaya proteksi atau biaya bobot mati (deadweight loss) akibat subsidi ekspor yang ditanggung perekonomian negara pengeskpor adalah sebesar b + d = Rp.125.
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

112

E. Bentuk-bentuk proteksi lainnya Selain kebijakan-kebijakan perdagangan yang merupakan

penghambat perdagangan bebas, masih ada beberapa hambatan perdagangan, di antaranya adalah : a. Pembatasan ekspor secara sukarela (VERs Voluntary Export Restraints). Konsep VERs mengacu pada kasus di mana pengimpor mendorong atau bahkan memaksa negara lain untuk mengurangi ekspornya secara rela. Biasanya, permintaan untuk membatasi ekspor dibarengi dengan ancaman bahwa negara pengimpor tersebut akan melakukan hambatan perdagangan yang lebih keras lagi. Adapun alasannya adalah,m impor tersebut dikhawatirkan akan melumpuhkan sektor tertentu. Dampak ekonomi yang ditimbulkan pembatasan ekspor secara sukarela sama dengan dampak yang ditimbulkan oleh pemberlakukan kuota impor (oleh karena itu, dampak-dampak VERs dapat dianalisis dengan menggunakan analisis kuota impor), kecuali bahwa

pembatasan ekspor itu dilakukan oleh negara pengekspor tanpa tekanan dari negara pengimpor, maka keuntugan monopoli akan diperoleh negara pengekspor lainnya.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

113
b. Berbagai bentuk ketentuan teknis, administratif dan berbagai macam peraturan yang menghambat perdagangan (impor). Kelancaran hubungan perdagangan antar negara dapat pula dipersulit oleh berbagai bentuk peraturan teknis, standar kesehatan yang terlalu kaku, prosedur administratif yang terkadang mengada-ada. Instrument proteksi yang relatif terselubung lainnya adalah persyaratan kandungan lokal (local content requirement) yang

mensyaratkan bagian-bagian tertentu dari suatu produk secara fisik harus dibuat di dalam negeri, atau menggunakan bahan baku dan komponen setempat, di mana bagian dari kandungan lokal itu dinyatakan dalam unit-unit fisik., atau persyaratan ditetapkan dalam satuan nilai yang mensyaratkan sekian persen dari harga jual produk yang bersangkutan harus bersumber dari elemen atau bahan baku dengan nilai tambah domestik. Instrumen lainnya berupa kebijakan mengutamakan produk dalam negeri, pajak-pajak perbatasan. F. Argumen-Argumen Tentang Proteksi Beberapa argumen tentang perlunya dilakukan proteksi : a. Argumen tenaga kerja murah Salah satu argumen yang paling ekstrim mengenai perlunya dilakukan proteksi terhadap sektor-sektor ekonomi dalam negeri terhadap tekanan persaingan impor adalah bahwa pemberlakuan hambatan-hambatan perdagangan merupakan suatu hal yang wajar
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

114
dan diperlukan guna melindungi tenaga kerja domestik dari tekanan persaingan produk impor yang menggunakan tenaga kerja murah. Landasan argumen ini sesungguhnya sangat lemah, karena sekalipun tingkat upah tenaga kerja dalam negeri tinggi bila dibandingkan tenaga kerja di negara lain, biaya tenaga kerja dalam negeri bisa saja dibuat lebih rendah asalkan produktivitasnya cukup tinggi. Selama

produktivitas tenaga kerja dalam negeri lebih unggul dari pada produktivitas tenaga kerja di negara lain, maka menjadi lebih rendahnya upah tenaga kerja di negara lain tidak menjadi maasalah bagi produsen dalam negeri. Bahkan kalaupun produktivitas tenaga kerja dalam negeri ternyata sulit mengalahkan produktivitas tenaga kerja negara lain, maka hubungan dagang yang saling menguntungkan masih dapat

terselenggara atas dasar keunggulan komparatif, sehingga proteksi itu tidak perlu diberlakukan. Artinya negara yang memiliki tenaga kerja murah itu, hendaknya dibiarkan melakukan spesialisasi produksi dan eskpor atas komoditi-komoditi yang padat karya, sedangkan

perekonomian dalam negeri yang lebih dapat mengandalkan faktor produksi lainnya (misalnya modal), dapat melakukan spesialisasi pula dalam produksi ekspor komoditi yang padat modal. b. Argumen Tarif Ilmiah.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

115
Argumen ekstrim lainnya mengenai perlunya diberlakukan proteksi mengacu pada apa yang disebut sebagai tarif ilmiah (scientific tariff). Hal ini adalah tingkat tarif yang perlu diterapkan agar harga produk-produk impor sama dengan harga-harga dalam negeri agar memungkinkan bagi produsen dalam negeri dapat bersaing dengan produsen dari negara lain (itu saja ilmiahnya). Namun jika apa yang disebut sebagai tarif ilmiah itu benar-benar diberlakukan, maka selisih harga internasional yang menjadi dasar berlangsungnya perdagangan antara negara akan berkurang atau bahkan lenyap, sehingga akan lenyap pula hubungan ekonomi antar negara tersebut dengan segala keuntungannya. Sampai di sinipun kita sudah akan melihat bahwa argumen yang mengaku dirinya ilmiah ini justru tidak memiliki aspek ilmiah yang berarti. c. Argumen Ketenagakerjaan (employment argument) Argumen ketenagakerjaan yang pada intinya menyatakan bahwa proteksi perlu diberlakukan demi mengurangi pengangguran dalam negeri. d. Argumen Neraca Pembayaran (balance of payment argument) Argumen neraca pembayaran menyatakan bahwa proteksi itu perlu diberlakukan demi mengatasi defisit neraca pembayaran suatu

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

116
negara (yakni kelebihan pembayaran suatu negara kepada pihak luar negeri dari penerimaannya dari pihak luar negeri). Argumen c dan d sama-sama berkeyakinan bahwa jika sebahagian produk impor digantikan dengan produksi dalam negeri, maka dengan sendirinya devisa bisa dihemat (defisit neraca pembayaran teratasi) dan akan tercipta sejumlah lapangan kerja baru (sehingga pengangguranpun ikut teratasi). Namun kedua argumen tersebut sama-sama mengandung kelemahan yang fatal, yakni melalaikan kemungkinan terjadinya tindakan balasan dari negara lain. Hal ini berkaitan dengan teori mengenai kecenderungan setiap negara untuk memetik keuntungan atas pengorbanan negara lain (beggarthy-neighbor). Teori ini menyatakan bahwa begitu suatu negara memberi proteksi bagi produsen dalam negerinya, maka negaranegara lain yang merasa dicurangi akan melakukan hal yang sama sehingga pada akhirnya semua pihak akan dirugikan akibat hilangnya hubungan perdagangan di antara mereka. Seandainya sebuah negara memberlakukan proteksi dalam rangka mengatasi masalah pengangguran dalam negeri atau

mengatasi defisit neraca pembayaran, maka tindakan tersebut lambat laun akan dibalas atau ditiru oleh negara-negara lain, sehingga pada akhirnya angka penganggurannya justru menjadi lebih tinggi dan angka defisit neraca pembayarannya menjadi lebih besar. Jika
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

117
masing-masing negara melakukan tindakan destruktif seperti ini, maka pada akhirnya tidak akan ada pihak yang untung bahkan semuanya akan mengalami kerugian. Lagi pula menurut ilmu ekonomi

internasional, masalah pengangguran dalam negeri dan defisit neraca pembayaran itu bukan merupakan sasaran kebijakan perdagangan. Setiap negara yang ingin mengatasi masalah pengangguran dan defisit neraca pembayaran, maka harus bertumpu pada kebijakankebijakan moneter dan fiskal yang tepat. e. Argumen Industri Bayi (infant industry argument) Pada dasarnya argumen ini menyatakan bahwa proteksi perlu diberlakukan dalam rangka melindungi industri-industri dalam negeri yang masih bayi atau baru saja tumbuh, yang jika tidak diberi proteksi ia akan menghadapi tekanan kompetisi produk-produk impor. Bila keadaan tersebut dibiarkan, pada akhirnya industri dalam negeri yang baru tumbuh tersebut pada akhirnya harus menghentikan kegiatannya. Argumen infant industri menjelaskan bahwa setiap negara biasanya memiliki potensi keuntngan komparatif dalam komoditi tertentu, namun karena terbatasnya teknologi dan tingkat output pertamanya, sektor industri yang menghasilkan komoditi tersebut sulit sekali berkembang, karena pada awal berdirinya ia sudah harus bersaing secara ketat dengan para produsen asing yang sudah jauh lebih mapan. Untuk mengatasi masalah tersebut, argumen ini
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

118
menegaskan perlunya pemberian proteksi perdagangan secara temporer (untuk sementara), demi membangun dan mengembangkan sektor-sektor industri dalam negeri yang masih sangat muda dan rapuh itu sampai ia cukup mapan dan mampu untuk bersaing. Jadi meskipun menganjurkan proteksi, argumen ini memberi batasan waktu. Ketika industri yang diberi proteksi sudah dianggap cukup mapan dan mampu bersaing, maka proteksi terhadapnya harus dicabut. Pengertian mapan di sini adalah bahwa sektor industri dalam negeri tersebut secara umum sudah mampu bersaing, sudah mampu mencapai skala ekonomis tertentu, dan dapat memanfaatkan

potensim keunggulan komparatif jangka panjang yang dimiliki oleh perekonomian negara yang bersangkutan. Sampai di sini, argumen ini tampak sepenuhnya logis. Namun sesungguhnya ada beberapa kelemahan dari argumen ini : Pertama, agar sektor industri dalam negeri tersebut dapat mapan dan mampu bersaing dengan produsen-produsen asing, maka sejak awal ia harus memiliki tingkat keuntungan yang relatif besar dan untuk itu ia harus memasang harga yang cukup tinggi bagi para konsumen dalam negeri. Selama industri dalam negeri tersebut belum mapan, maka konsumen dalam negerilah yang memikul biaya berupa tingginya harga produk. Kedua, Agar konsumen dalam negeri tidak tertarik untuk beralih ke produk saingan negara lain, maka dengan sendirinya
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

119
pemerintah harus memberi proteksi yang lebih tinggi lagi. Dalam kenyataanya sektor-sektor industri dalam negeri yang memperoleh berbagai macam keistimewaan dalam berbagai macam proteksi itu justru menjadi manja dan tidak terdorong untuk segera memperbaiki kinerjanya. Sebagai akibatnya terciptalah inefisiensi yang hanya akan menggorogoti kapabilitas perekonomian di negara yang bersangkutan. Argumen infant industri pada dasarnya lebih cocok bagi negaranegara berkembang (di mana pasar modalnya belum berfungsi secara memadai, di banding bagi negara-negara maju). Bagi negara-negara maju argumen yang cocok tentang pentingnya proteksi adalah argumen kebijakan perdagangan strategis . f. Kebijakan perdagangan strategis. Kebijakan perdagangan strategis pada dasarnya adalah argumen yang mendukung pemberlakuan tarif. Menurut argumen ini sebuah negara, dapat menciptakan keuntungan komparatif (melalui pemberlakuan proteksi dagang untuk sementara, pemberian subsidi, pemberian keringanan pajak dan pengadaan program-program kerja sama antara pihak pemerintah dengan sektor-sektor atau industri tertentu) dalam bidang industri berteknologi tinggi yang paling berpotensi menjadi andalan perekonomian secara keseluruhan di masa-masa mendatang. Sektor-sektor industri yang dimaksudkan

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

120
adalah industri yang berteknologi tinggi. Apabila industri tersebut berhasil, maka menimbulkan efek ekonomis eksternal. Para penganjur kebijakan perdagangan strategis mengatakan bahwa apabila suatu negara mengembangkan industri-industri andalan, maka ia akan memperoleh efek ekonomis eksternal yang sangat besar sehingga pertumbuhan ekonominya di masa-masa mendatang akan lebih terjamin. Jadi pada dasarnya argumen kebijakan perdagangan strategis, tampaknya cocok untuk negara-negara maju yang memiliki kapabilitas dasar dalam mengembangkan sektor-sektor industri

berteknologi tinggi. Dalam kenyataannya, setiap negara, apakah itu negara maju atau negara berkembang, sampai batas tertentu berusaha mengembangkan industri berteknologi tinggi. G. Perjanjian Umum Mengenai Tarif dan Perdagangan (GATT General Agreement on Tarif and Trade) GATT merupakan sebuah organisasi internasional yang dibentuk pada tanggal 30 Oktober 1947 yang ditandatangani oleh 23 negara dengan tujuan mempromosikan hubungan perdagangan internasional yang lebih bebas melalui rangkaian negosiasi atau perundingan perdagangan multilateral. Melalui markas besarnya di Jenewa Swiss, GATT berusaha merangkul sebanyak mungkin negara untuk duduk bersama guna menurunkan tingkat tarif secara serentak. Menurut catatan terakhir hingga saat ini sudah 117 negara (termasuk Amerika Serikat dan
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

121
semua negara besar, kecuali bekas Uni Soviet dan Cina) masuk sebagai anggota atau pihak penandatangan GATT. Di samping itu ada 24 negara lainnya yang mengakui yurisdiksi GATT dalam bidang-bidang tertentu saja. Dewasa ini lebih dari 90 % perdagangan internasional dilangsungkan berdasarkan peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh GATT. Dalam melaksanakan fungsi-fungsinya, GATT bertumpu pada tiga prinsip dasar sebagai berikut : 1). Prinsip non diskriminasi. Prinsip ini mengacu pada kewajiban setiap negara untuk menerima prinsip negara paling pavorit untuk semua negara tanpa kecuali dan tanpa syarat. Artinya setiap negara sejauh mungkin harus memperlakukan semua negara secara sama. Apa yang dilakukan oleh suatu negara terhadap negara lain harus sebanding dengan apa yang diterimanya dari negara tersebut. Inilah sesungguhnya pengertian negara paling pavorit. Satu-satunya pengecualian dari prinsip ini adalah masih dibenarkan pembedaan tarif dalam kasus intergrasi ekonomi, di mana sesama anggota

menetapkan tarif yang lebih rendah dibanding tarif yang mereka berlakukan untuk pihak luar (non anggota suatu persekutuan ekonomi). Dalam hubungan perdagangan antara sebuah negara

dengan negara lain yang pernah menjadi koloni atau daerah jajahan (daerah bekas koloni biasanya memperoleh akses istimewa). Dalam

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

122
kondisi itulah tindakan-tindakan yang berbau diskriminatif (yakni pembedaan tarif dan akses pasar) masih bisa ditolerir. 2). Penghapusan semua bentuk hambatan perdagangan non tarif (misalnya kuota), kecuali untuk produk-produk pertanian yang diakui rentan terhadap tekanan harga internasional. Bagi negara-negara yang mengalami kesulitan dengan neraca pembayarannya juga masih dibenarkan untuk memberlakukan hambatan non tarif. 3). Konsultasi. Artinya dalam mengatasi setiap masalah atau konflik semua negara anggota GATT dihimbau untuk menempuh jalan negosiasi secara damai. Perang tarif atau tindakan balas-membalas sejauh mungjkin dihindari. Pada bulan Desember 1993, seri terakhir negosiasi perdagangan multilateral dalam kerangka GATT, yakni Putaran Uruguay berhasil diselesaikan. Namun perundingan Perdagangan Multilateral Putaran Uruguay dinyatakan selesai pada tanggal 15 April 1994, dan mulai berlaku efektif sejak tanggal 1 Juli 1995. Penandatanganan Putaran Uruguay termasuk juga adanya persetujuan pembentukan World Trade

Organization (WTO) sebagai pengganti GATT sebagai pelaksana seluruh hasil perundingan Putaran Uruguay, diharapkan perdagangan dunia menjadi lebih bebas, adil dan transparan pada masa-masa mendatang. Adapun beberapa kesepakatan penting yang dicapai dalam Putaran Uruguay antara lain adalah sebagai berikut :
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

123
1). Soal tarif. Negara-negara anggota sepakat untuk menurunkan tarif yang selama ini masih diberlakukan untuk produk-produk industri dari rata-rata 4,7 persen menjadi 3 persen, sedangkan proporsi produk yang dibebaskan dari tarif akan ditingkatkan dari 20 22 persen menjadi 40 45 persen. Tarif untuk beberapa sektor tertentu dihapuskan sama sekali, misalnya untuk sektor farmasi, perlatan konstruksi, perlengkapan medis, produk-produk kertas dan baja. 2). Soal kuota. Negara-negara peserta sepakat untuk menggantikan kuota yang selama ini masih diterapkan terhadap impor pertanian, tekstil dan pakaian jadi dengan tarif restriktif lebih rendah yang tingkatannya akan diturunkan secara bertahap dalam periode sepuluh tahun. Sementara itu tingkat tarif untuk produk-produk pertanian juga akan diturunkan hingga 24 persen bagi negara-negara berkembang, dan hingga 36 persen di negara-negara industri, sedangkan tarif untuk tekstil akan dikurangi hingga 25 persen. 3). Soal tindakan anti dumping. Diputuskan ketentuan-ketentuan yang lebih tegas dan cepat untuk mengatasi perselisihan yang bersumber dari penggunaan undang-undang anti dumping di banyak negara, meskipun GATT tidak dapat melarang sepenuhnya penggunaan undang-undang seperti itu. 4). Mengenai subsidi. Volume ekspor pertanian yang disubsidi akan dikurangi hingga 21 persen dalam periode selama enam tahun.
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

124
Sedangkan subsidi pemerintah untuk kegiatan-kegiatan riset industri yang bersifat penelitian dasar dibatasi hingga 50 persen dari total biaya untuk riset terapan. 5). Mengenai ketentuan pengaman khusus (safeguard). Negara-negara yang masih dimungkinkan restriksi untuk meningkatkan tertentu guna tarif atau

memberlakukan

perdagangan

meredam

lonjakan impor yang diperkirakan dapat memukul industri domestik. Namun negosiasi Putaran Uruguay sepakat untuk melarang setiap negara untuk menerapkan standar-standar kesehatan dan keamanan produk secara sepihak kecuali hal tersebut didasarkan dengan buktibukti ilmiah yang jelas dan bukannya sekadar kedok untuk membatasi impor. Misalnya sebuah negara boleh saja menolak impor daging sapi jika ia dapat membuktikan bahwa daging sapi tersebut berasal dari ternak yang dikembangkan dengan aneka hormon non alamiah hingga konsumsinya bisa membahayakan kesehatan manusia. 6). Mengenai hak cipta dan hak milik intelektual (intellectual property rights). Perjanjian yang tercapai memberikan perlindungan 20 tahun untuk setiap paten dan hak cipta, namun terdapat pula ketentuan pelonggaran berupa pembebasan pembayaran royalti selama 10 tahun untuk sektor industri farmasi, khusus bagi negara-negara berkembang.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

125
7). Mengenai perdagangan sektor jasa. Pemerintah USA pada akhirnya gagal untuk memperoleh akses pasar di Jepang, Korea Selatan dan di berbagai negara berkembang lainnya. Ini berarti keinginan USA agar bank-bank dan perusahaan asuransinya dapat bergerak bebas di negara-negara tersebut belum dapat terwujud. Di samping itu delegasi USA juga gagal memaksa Perancis dan negara-negara anggota Uni Eropa lainnya untuk menghapuskan hambatan-hambatan bagi

masuknya film-film dan program-program televisi dari USA secara bebas. 8). Mengenai industri lainnya pada umumnya. USA dan negara-negara Eropa sepakat untuk melanjutkan pembicaraan mengenai pembatasan subsidi pemerintah bagi para produsen pesawat terbang sipil, pembukaan pasar jasa telepon jarak jauh, dan pembatasan subsidi bago para produsen baja yang sebelumnya banyak diberikan oleh negara-negara Eropa. USA juga mengisyaratkan niatnya untuk terus melanjutkan negosiasi bagi dilaksanakannya pembukaan lebih jauh pasar semi konduktor komputer (chips) di Jepang. 9). Mengenai aspek-aspek investasi yang berkenaan dengan

perdagangan (TRIMs, Trade-Related Investment Measures). Negaranegara peserta Puratan Uruguay sepakat untuk menghilangkan berbagai persyaratan bagi para investor asing (misalnya di sektor

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

126
otomotif) untuk membeli suku cadang lokal, atau mengadakan ekspor senilai impornya. 10). Rencana pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization, WTO). Negara-negara peserta Putaran Uruguay juga sepakat untuk segera menggantikan sekretariat GATT dengan sebuah lembaga baru yang cakupannya lebih luas dan dengan wewenang lebih besar, yaitu WTO yang akan bermaskar di Jenewa. WTO akan memiliki wewenang untuk tidak hanya mengawasi perdagangan terhadap produk-produk industri tetapi juga untuk mengontrol perdagangan komoditi pertanian dan jasa. WTO juga memiliki mekanisme baku dalam menyelesaikan setiap perselisihan dagang yang keputusan finalnya akan ditentukan melalui pemungutan suara. Untuk kasus tertentu diperlukan dua pertiga suara dari seluruh anggota untuk menentukan pihak pemenangnya. H. Rangkuman 1. Kebijakan perdagangan internasional merupakan tindakan yang ditempuh oleh suatu negara dalam mempengaruhi berlangsungnya perdagangan internasional melalui rekening yang sedang berjalan (current account) dari pada neraca pembayaran internasional.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

127
2. Tujuan dari kebijakan perdagangan yang dilakukan oleh suatu negara pada umumnya adalah : (a) Autarki, (b) Meningkatkan kesejahteraan penduduk, (c) Proteksi. 3. Perdagangan internasional tanpa tarif memberikan keuntungan bagi konsumen, yaitu dapat meningkatkan konsumsi dengan harga yang lebih murah. Di pihak lain, produsen dalam negeri yang tidak mampu bersaing dengan barang impor mengurangi produksinya (ada sebahagian produsen gulung tikar). 4. Biaya yang timbul dengan adanya tarif adalah hilangnya surplus konsumen, biaya proteksi atau biaya bobot mati (deadweight loss) sebagai beban yang ditanggung oleh perekonomian secara keseluruhan. Manfaat tarif adalah berupa penerimaan oleh pemerintah dalam bentuk pajak impor dan adanya surplus produsen domestik. 5. Pada hakekatnya kuota impor sama dengan tarif impor yang tujuannya membatasi masuknya produk-produk asing yang dapat menyaingi produk domestik. Perbedaan antara keduanya adalah kenaikan harga dalam negeri yang disebabkan oleh kuota impor lebih tinggi di banding tarif impor. 6. Dumping adalah kebijakan perdagangan yang ditempuh oleh suatu negara dengan menjual barang ekspornya jauh lebih rendah di banding harga jual dalam negeri. Jenis-jenis dumping terdiri atas :
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

128
(a) permanent dumping, (b) predatory dumping, (c) sporadic dumping. 7. Subsidi ekspor adalah pembayaran langsung atau pemberian keringanan pajak atau bantuan subsidi kepada eksportir/calon eksportir nasional, dan/atau pemberian pinjaman berbunga rendah kepada para pengimpor dari negara lain dalam rangka memacu ekspor negara yang bersangkutan. Subsidi ekspor biasa juga dikategorikan sebagai salah satu bentuk dumping. 8. Proteksi lainnya dapat berbentuk : pembatasan ekspor secara suka rela, dan pembatasan yang berbentuk teknis, administratif dan peraturan yang ketat. 9. Beberapa argumen yang mendukung perlunya dilakukan proteksi adalah : (a) argumen tenaga kerja murah, (b) argumen tarif ilmiah, (c) argumen ketenagakerjaan, (d) argumen neraca pembayaran, (e) argumen industri bayi dan (f) argumen kebijakan perdagangan strategis. 10. GATT merupakan sebuah organisasi internasional yang bertujuan mempromosikan hubungan perdagangan internasional yang lebih bebas melalui rangkaian negosiasi atau perundingan perdagangan multilateral. Dalam perundingan Perdagangan Multilateral Putaran Uruguay dinyatakan selesai pada tanggal 15 April 1994, dan mulai berlaku efektif sejak tanggal 1 Juli 1995, juga sekaligus persetujuan
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

129
pembentukan World Trade Organization (WTO) pengganti GATT sebagai pelaksana seluruh hasil perundingan Putaran Uruguay yang memeiliki wewenang lebih luas dalam mengawasi

perdagangan dunia agar menjadi lebih bebas, adil dan transparan. I. Soal-soal Latihan 1. Kemukakan pengertian dan tujuan kebijaksanaan perdagangan internasional. 2. Kemukakan dan jelaskanlah jenis-jenis tarif impor. 3. Jelaskanlah dampak yang ditimbulkan oleh tarif impor bagi perekonomian dalam negeri dengan menggunakan gambar grafik. 4. Bila diketahui fungsi penawaran barang X di negara A adalah Q = 1,5P 100 dan fungsi permintaannya adalah Q = -0,5P + 400. Tentukanlah harga dan kuantitas keseimbangan barang X di negara A (dalam kondisi tanpa hubungan perdagangan). Apabila negara A membuka hubungan perdagangan dengan negara lain, maka harga barang X dalam kondisi perdagangan bebas adalah Rp.100 per unit. Berapakah jumlah impor X negara A, dan berapa jumlah produksi X yang mampu diproduksi oleh produsen di negara A. Bila negara A menetapkan tarif impor terhadap barang X sebesar 50 % dari harga perdagangan bebas. Hitunglah harga barang X, jumlah impor, dan jumlah produksi domestik (setelah adanya tarif), tentukan
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

130
pula keuntungan dan kerugian dengan adanya tarif tersebut. Gambarkan grafiknya. 5. Jelaskan persamaan dan perbedaan antara tarif impor dengan kuota impor. 6. Jelaskan arti dan jenis-jenis dumping. 7. Sebutkan dan jelaskan alasan-alasan bagi pihak-pihak yang pro terhadap kebijakan proteksi perdagangan internasional. 8. Sebutkan dan jelaskan secara singkat prinsip-prinsip GATT. 9. Kemukakan kesepakatan-kepakatan yang dicapai dalam Putaran Uruguay yang mulai berlaku sejak tanggal 1 Juli 1995.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

VALUTA ASING
A. Pengertian Pertukaran valuta asing adalah suatu kegiatan

memperdagangkan mata uang dari negara-negara yang berbeda. Berbagai mata uang tersebut mengambil bentuk sebagai uang di dalam suatu negara. Uang masing-masing negara memiliki harga yang diukur oleh uang negara lain. Hal inilah yang disebut nilai tukar (exchange rate). Apabila sesuatu barang ditukar dengan barang lain, tentu di dalamnya terdapat perbandingan nilai tukar antara keduanya. Nilai tukar ini merupakan harga di dalam pertukaran tersebut. Semua transaksi valuta asing yang berlangsung seketika atau secara langsung, di mana kedua belah pihak sepakat untuk saling menukarkan simpanan bank mereka serta melaksanakan secepatnya disebut dengan kurs spot, sedangkan kesepakatannya disebut transaksi spot. Istilah seketika atau spot ini lazimnya baru dilaksanakan sampai dua hari setelah tercapainya kesepakatan. Kelambatan ini terjadi karena kebanyakan transaksi bank perlu waktu dua hari guna melaksanakan instrumen pembayaran (misalnya berupa cek). Beberapa kesepakatan valuta asing secara khusus menetapkan suatu tanggal nilai lebih dari dua hari, bisa 30 hari, 90 hari, 180 hari, atau bahkan beberapa tahun. Kurs yang menjadi dasar transaksi semacam ini disebut kurs berjangka (forward exchange rates). Dengan
Ekonomi Internasional Muh. Ilham

131

132
demikian transaksi ini dilakukan di pasar berjangka, yaitu pasar di mana transaksi jual beli terjadi dengan harga yang disetujui pada saat transaksi dilakukan, tetapi penyerahan barang dilakukan kemudian hari. B. Fungsi Pasar Valuta Asing Pasar valuta asing mempunyai beberapa fungsi pokok dalam membantu kelancaran lalu lintas pembayaran internasional : a). Mempermudah penukaran valuta asing serta pemindahan dana dari satu negara ke negara lain. Proses penukaran atau pemindahan dana ini dapat dilakukan dengan sistem clearing. Pasar valuta asing memberikan jasa kliring bagi para pengusaha atau individu. Para turis biasanya menemukan pasar ini di banyak bandar udara., di mana tempat penukaran mata uang asing yang dilengkapi dengan papan petunjuk tingkat nilai tukar yang sedang berlaku. b). Memungkinkan dilakukannya hedging. Seorang pedagang

melakukan hedging apabila ia pada saat yang sama melalukan transaksi jual dan beli valuta asing di pasar yang berbeda, untuk menghilangkan/mengurangi resiko kerugian akibat perubahan kurs. Hedging dapat dilakukan di pasar berjangka (forward market). Sebagai contoh : seorang importir dari Indonesia membeli mobil dari USA seharga US$7,000 dengan pembayaran 4 bulan yang akan datang. Kurs pada saat itu, misalnya US$ 1 = Rp.9.000, sehingga harga mobil tersebut dalam mata uang rupiah adalah Rp.63.000.000. Apabila kurs berubah menjadi US$ 1 = Rp.9.300, maka harga mobil menjadi Rp.65.100.000, dengan demikian importir harus membayar lebih
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

133
banyak. Untuk menghindari kerugian karena harga mobil yang meningkat, maka importir dapat melakukan hedging di pasar berjangka. Caranya, importir menghubungi bank di Indonesia untuk membeli mobil seharga US$7,000 dengan penyerahan 4 bulan yang akan datang dengan kurs yang disetujui saat itu US$ 1 = Rp.9,000. Kurs tersebut disebut kurs berjangka (forward exchange rate). Perbedaan kurs berjangka dengan kurs spot menggambarkan adanya perbedaan tingkat bunga di Indonesia dan USA. Selanjutnya bank di Indonesia yang dihubungi importir akan berusaha membeli US$ pada pasar spot dan kemudian menyimpannya selama 4 bulan di USA. Atas tindakan bank tersebut, ia (bank di Indonesia) akan memperoleh bunga dari bank di USA. Apabila tingkat bunga di USA lebih rendah dari pada di Indonesia, importir harus membayar perbedaannya. Sebaliknya, apabila tingkat bunga di USA lebih tinggi, maka perbedaannya oleh bank tersebut diberikan kepada importir. Misalnya, importir memerlukan US$7,000 untuk 4 bulan dengan kurs spot US$ 1 = Rp.9.000. Jika tingkat bunga simpanan di USA 4 % dan di Indonesia 5 %, maka bank di Indonesia yang menjual US$7,000 forward kepada importir akan meminta Rp.63.000.000 (kurs spot) ditambah dengan 1 % kerugian tingkat bunga karena uang dollar disimpan di USA. Total harga US$7,000 adalah Rp.63.000.000 + Rp.630.000 = Rp.63.630.000. Kurs forwardnya menjadi US$ 1 = 63.630.000/7.000 = Rp.9.090, yakni 1 % discount terhadap kurs spot (US$ = Rp.9.300).

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

134
Sebaliknya, apabila tingkat bunga di USA 4 % dan di Indonesia 3 %, maka harga total US$7,000 forward akan menjadi =

Rp.63.000.000 Rp.630.000 = Rp.62.370.000. Kurs forwardnya menjadi US$ 1 = 62.370.000/7.000 = Rp.8.910, yakni 1 % premium terhadap kurs spot ( US$ 1 = Rp.9.300). c). Dapat melakukan arbitrage. Ratio antara kurs forward dengan kurs spot menggambarkan perbedaan dalam tingkat bunga. Apabila terdapat perbedaan, tindakan arbitrage (tindakan menjual/membeli valuta asing di negara yang kursnya tinggi/rendah untuk memperoleh keuntungan karena perbedaan kurs di kedua negara akan menghilangkan perbedaan tersebut. Tindakan arbitrage akan cenderung menyamakan kurs valuta asing di berbagai negara. Tindakan arbitrage akan berhenti apabila keuntungan yang diperoleh karena adanya perbedaan tingkat bunga diimbangi dengan kerugian yang sama dari pasar valuta asing jangka (forward market). Hal ini biasa disebur dengan interest parity. Secara simbolis interest parity dapat dijelaskan sebagai berikut :
(r rs ) p= f rs

jika positif forward premium, dan jika negatif forwad discount

ra = kurs spot Rp/US$ rf = kurs forward Rp/US$ ia = tingkat bunga di USA 3 bulan ie = tingkat bunga di Indonesia 3 bulan

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

135
Misalnya uang US$ 1 diinvestasikan di USA selama 3 bulan dengan tingkat bunga di USA 4 % dan kurs US$ = Rp.9.000 akan menghasilkan :
US$1 (1 + ia) = US$1 (1.04) = US$1.04 dalam rupiah = Rp.9.360.

Seandainya uang tersebut diinvestasikan di Indonesia dengan tingkat bunga 5 % selama 3 bulan, maka terlebih dahulu harus ditukar dengan rupiah di pasar spot, sehingga hasil yang akan diperoleh sebesar :

US$1.

(1 + ie ) 1.05 =US$1. =Rp.9.450 atau : rs 0.00011111 1

U $1( R .9.0 0 x 1.0 ) =R .9.45 S p 0 5 p 0

Hasil tersebut terlebih dahulu ditukar dengan US$ di pasar jangka untuk membandingkan dengan hasil investasi yang diperoleh di USA, yaitu dengan cara :
US$1. (1 +ie )r rs f
apabila

r (1 ie ) f >(1 +ie ) , maka modal jangka pendek akan mengalir dari rs

USA ke Indonesia. Sebaliknya, apabila


r (1 ie ) f <(1 +ie ) , maka modal jangka pendek akan mengalir dari rs

Indonesia ke USA. Keadaan keseimbangan akan tercapai apabila :

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

136
r (1 ie ) f =(1 +ie ) rs

Jika

r f = + , di mana p adalah forward premium (jika positif) dan 1 p rs

forward discount (jika negatif), maka persamaan di atas dapat dituliskan dengan :

(1 + p)(1 + ie) = (1 + ia)


Persamaan di atas dapat diringkas menjadi :

P = ia ie, persamaan ini yang disebut dengan dengan keadaan


interest parity. Tindakan arbitrage dapat digambarkan dengan lebih sederhana, yaitu misalnya harga dollar dalam rupiah yang dinyatakan dengan kurs Rp/US$ adalah US$1 = Rp.9.000 yang sedang berlaku di Jakarta, sedangkan kurs yang berlaku di New York misalnya US$1 = Rp.9.200, maka pelaku arbitrage akan membeli dollar di Jakarta dengan kurs US1 = Rp.9.000 dan segera menjualnya kembali di New York dengan kurs US$1 = Rp.9.200, sehingga dalam waktu singkat pelaku arbitrage memperoleh keuntungan sebesar Rp.200. Dalam waktu bersamaan permintaan rupiah di New York meningkat, sehingga akan menguatkan nilai tukar mata uang rupiah. Kegiatan arbitrage tersebut pada akhirnya akan menyamakan kurs di Jakarta dan New York. Hal tersebut dapat terjadi karena karena kuatnya permintaan dollar USA di Jakarta, sehingga nilai tukar rupiah/US$ akan naik di atas Rp.9.000, begitu pula permintaan rupiah yang menguat di New York akan menguatkan rupiah di New York hingga di bawah Rp.9.200. Kondisi tersebut akhirnya akan
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

137
menyamakan kurs di kedua tempat. Jika kurs di kedua tempat sama, maka kegiatan arbitrage akan terhenti, karena pelaku arbitrage tidak lagi memperoleh keuntungan atas tindakannya. C. Sistem Kurs Valuta Asing 1. Sistem Kurs yang Berubah-ubah Di dalam pasar bebas perubahan kurs tergantung pada beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing. Permintaan valuta asing diperlukan guna melakukan transaksi pembayaran ke luar negeri (impor). Jadi permintaan valuta asing bersumber dari transaksi debet dalam neraca pembayaran internasional. Penawaran valuta asing berasal dari eksportir, yakni dari transaksi kredit neraca pembayaran internasional. Suatu mata uang dikatakan kuat apabila transaksi autonomous kredit lebih besar dari pada transaksi autonomous debet (surplus neraca pembayaran). Transaksi autonomous kredit dan debet dipengaruhi oleh faktorfaktor dari dalam maupun luar negeri, termasuk harga, pendapatan dan tingkat bunga. Makin tinggi tingkat pertumbuhan pendapatan (relatif terhadap negara lain) makin besar kemungkinan untuk mengimpor, sehingga makin besar pula permintaan terhadap valuta asing yang

mengakibatkan naiknya kurs mata uang asing (mata uang domestik turun). Begitu pula dengan kenaikan harga (inflasi) akan

menyebabkan impor naik yang mengakibatkan naiknya kurs mata

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

138
uang asing. Kenaikan tingkat bunga dalam negeri cenderung menarik modal masuk dari luar negeri, sehingga kurs valuta asing akan turun (mata uang domestik naik). Berdasarkan uraian di atas, maka semua kebijakan

pemerintah baik fiskal maupun moneter yang berkaitan dengan pendapatan, harga, dan tingkat bunga secara tidak langsung akan mempengaruhi kurs. Di samping faktor-faktor ekonomi tersebut di atas, faktor-faktor non ekonomi dapat pula mempengaruhi kurs, seperti faktor politik dan psykologis. Misalnya, kepanikan yang terjadi di dalam negeri akan menyebabkan larinya dana ke luar negeri, sehingga kurs valuta asing akan naik. Semua faktor yang disebutkan di atas akan mempengaruhi pergeseran kurva permintaan dan penawaran sebagaimana

digambarkan berikut ini. Gambar VI.1 : Pergerakan dan Pergeseran kurva Permintaan Valutas Asing
Rp. S 10

6 D1

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

139
2 Do

Eo

E1

E2

US$

Gambar di atas memperlihatkan bahwa pada kurs US$1 = Rp.2000 permintaan terhadap US$ sebanyak E2, permintaan US$ menurun menjadi E1 pada kurs US$1 = Rp.6000 dan Eo pada kurs US$1 = Rp.10000 (kondisi di mana terjadi pergerakan sepanjang kurva permintaan). Selanjutnya pergeseran kurav permintaan dari Do ke D1 menunjukkan bahwa walaupun kurs meningkatkan jumlah permintaan US$ tetap mengalami peningkatan yang disebabkan misalnya oleh kenaikan pengeluaran pemerintah, kenaikan jumlah uang beredar, aliran modal keluar karena adanya kepanikan di dalam negeri. 2. Sistem Kurs Stabil Pada dasarnya kurs stabil dapat timbul secara : a) Aktif : yakni pemerintah menyediakan dana untuk tujuan stabilisasi kurs (stablization funds). b) Pasif : yakni di dalam suatu negara yang menggunakan sistem standar emas. 1). Stabilisasi Kurs Kegiatan stabilisasi kurs dapat dijalankan dengan cara sebagai berikut : apabila ada tendensi kurs valuta asing akan turun, maka pemerintah membeli valuta asing di pasar. Dengan adanya
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

140
tambahan permintaan valuta asing di pasar, maka tendensi turunya kurs valuta asing dapat dicegah. Sebaliknya, jika kurs valuta asing bertendensi untuk naik, maka pemerintah menjual valutra asing di pasar, sehingga penawaran valuta asing bertambah dan kenaikan kurs dapat dicegah. Misalnya, Bank Indonesia menghendaki kurs stabil pada tingkat US$1 = Rp.8.000. Hal tersebut dapat dijelaskan dengan gambar berikut di bawah ini. Gambar VI.2 : Kebijaksanaan Stabilisasi Kurs
Rp D1 D2 S1 S2 8.3 8 7.7 8 Rp D1 D2 S1 S2

US$ (a) (b)

US$

Pada gambar VI.2a dimisalkan ekspor meningkat, sehingga penwaran valuta asing (US$) bergeser ke kanan dari S1 ke S2. Jika permintaan tetap pada D1, kurs cenderung menjadi US$1 = Rp.7.700. Untuk mencegah turunnya kurs, pemerintah membeli US$ di pasar bebas, sehingga permintaan akan naik yang

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

141
ditunjukkan oleh pergeseran dari D1 ke D2. Tindakan pemerintah tersebut akan terus dilakukan hingga kurs kembali ke US$1 = Rp.8.000. Selanjutnya pada gambar VI.2b dimisalkan terjadi kenaikan pendapatan atau inflasi di dalam negeri, di mana impor meningkat. Kenaikan impor tersebut mengakibatkan meningkatnya permintaan valuta asing (ditunjukkan oleh pergeseran kurva permintaan dari D1 ke D2). Jika penawarannya tetap, maka kurs akan naik menjadi US$1 = Rp.8.300. Untuk menurunkan kembali kurs pada tingkat US$1 = Rp.8.000, maka pemerintah menjual US$ di pasar bebas. Penjualan ini akan terus dilakukan hingga kurva penawaran bergeser dari S1 ke S2. 2). Standar Emas Suatu negara dikatakan menganut standar emas apabila : (a) Nilai mata uangnya dijamin dengan nilai seberat emas tertentu (b) Setiap orang boleh membuat serta melebur uang emas. (c) Pemerintah sanggup membeli atau menjual emas dalam jumlah yang tidak terbatas pada harga tertentu (yang sudah ditetapkan pemerintah).

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

142
Dalam sistem standar emas kurs mata uang suatu negara terhadap negara lain ditentukan dengan dasar emas. Misalnya, USA menetapkan bahwa 1 gram emas = US$10, dan Indonesia menetapkan bahwa 1 gram emas = Rp.50.000, maka kurs antara US$ dan Rp adalah U$1 = Rp.5.000. Kurs ini akan stabil selama syarat-syarat di atas dipenuhi dan lalu lintas emas berlangsung secara bebas.

3. Sistem Kurs Pengawasan Devisa (exchange Control) Dalam sisitem ini pemerintah memonopoli seluruh transaksi valuta asing. Tujuannnya adalah untuk mencegah adanya aliran modal keluar. Menghadapi jumlah valuta asing yang relatif sedikit

dibandingkan dengan permintaannya, pemerintah perlu mengadakan alokasi di dalam penggunaannya. Sistem kurs ini dapat dijelaskan melalui gambar berikut. Gambar VI.3 : Sistem Kurs dalam Pengawasan Devisa
Rp. D S

5 4,5

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

143

Eo

E1

E2

US$

Jika pasar valuta asing adalah bebas, maka kurs yang akan terjadi adalah US$1 = Rp.5.000, di mana jumlah yang ditawarkan sama dengan jumlah yang diminta (0E1). Biasanya dalam sistem pengawasan devisa kurs pasar bebas dianggap terlalu tinggi (over valued). Pada kurs US$1 = Rp.4.500 jumlah yang diminta sebesar 0E2, sedangkan jumlah yang tersedia hanya sebanyak 0Eo. Oleh karena itu pemerintah perlu mengalokasikan jumlah yang tersedia tersebut dengan menggunakan kurs yang ditetapkan. Kurs yang ditetapkan bisa satu (single exchange rate) atau lebih (multiple exchange rate). Penggunaan multiplke exchange rate tergantung pada tujuan penggunaan, misalnya kurs US$1 = Rp.4.500 dipergunakan untuk impor barang-barang esensial, seperti impor bahan baku yang akan dipergunakan untuk menghasilkan barang-barang ekspor. Kemudian penggunaan kurs US$1 = Rp.5.000 atau di atas Rp.5.000 misalnya untuk mencegah impor barang konsumsi yang dapat mematikan produksi industri domestik. Di dalam mengadakan alokasi penggunaan devisa, pemerintah dapat menggunakan beberapa cara, antara lain :

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

144
(a) individual allocation : setiap pemohon devisa (importir) diadakan penelitian tentang penggunaannya. Apabila disetujui lalu diberikan izin untuk membeli sejumlah tertentu devisa. (b) Exchange quota : untuk setiap kategori impor ditentukan jumlah devisanya berdasarkan devisa yang akan diperoleh dari ekspor dalam waktu tertentu. Apabila devisa sudah tersedia, lalu dijual dengan prinsip yang lebih dulu bermohon dilayani terlebih dahulu samlai jatah untuk kategori impor tersebut habis. (c) Waiting list : ini merupakan pelengkap cara (b) di atas. Setiap surat permohonan pembelian devisa ditempatkan dalam daftar tunggu sampai devisa tersedia.

D. Kebijakan Devisa di Indonesia Pada umumnya sistem devisa dapat dibagi dua, yaitu sistem devisa kontrol dan sistem devisa bebas. Dalam sistem devisa kontrol, kegiatan transaksi devisa dibatasi oleh pemerintah. derajat tingkat

pembatasan berbeda-beda pada masing-negara tergantung pada ultimate target dari kebijakan tersebut. Sementara pada sistem devisa bebas tidak ada pembatasan dalam melalukan transaksi devisa. 1. Sistem Devisa Kontrol

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

145
Indonesia menerapkan sistem devisa kontrol sesuai dengan Undang-undang Nomor 32 tahun 1964 tentang Peraturan lalu Lintas devisa yang berlangsung hingga tahun 1967. Dalam undang-undang tersebut ditetapkan bahwa devisa yang berasal dari kekayaan alam dan usaha Indonesia dikuasai oleh negara. Eksportir wajib menjual devisa hasil ekspor kepada bank devisa yang selanjutnya dijual kembali kepada Bank Indonesia. Di samping itu, warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia wajib mendaftar dan menyimpan surat berharga dalam valuta asing yang dimilikinya pada bank devisa pemerintah. Kebijakan devisa kontrol pada saat itu cukup berhasil dalam mengisolasikan perekonomian Indonesia dari pengaruh eksternal. Namun, pada sisi lain kebijakan tersebut juga memberikan dampak negatif, yaitu dengan terciptanya pasar gelap valuta asing, sehingga nilai tukar rupiah di pasar valuta asing jauh di atas harga yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. 2. Sistem Devisa Bebas Sejak dikeluarkannya Undang-undang Nomor 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, Indonesia menganut sistem devisa bebas. Undang-undang tersebut bertujuan untuk menarik masuknya modal asing dalam rangka pembiayaan investasi di dalam negeri.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

146
Namun demikian, para investor asing masih meragukan kemungkinan mereka tidak dapat mengirimkan keuntungan usaha yang diperoleh ke negaranya (profit transfer). Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mengeluarkan Peraturan Nomor 16 tahun 1970 tentang

penyempurnaan pelaksanaan ekspor, impor dan lalu lintas devisa. Dalam ketentuan itu ditetapkan bahwa setiap orang dapat dengan bebas memperoleh dan menggunakan devisa umum. Pada tahun 1982, Indnesia menerapkan sistem devisa bebas murni dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 1982 tentang penghapusan kewajiban penjualan devisa hasil ekspor kepada bank Indonesia. Implikasi positif dari sistem devisa bebas murni adalah terjadinya aliran modal masuk ke Indonesia, baik dalam bentuk penanaman modal asing, pinjaman dan investasi portofoli di pasar modal. Implikasi negatif dari sistem devisa bebas, yaitu derasnya aliran modal masuk (khususnya dana-dana jangka pendek dalam bentuk investasi portofolio) dapat menimbulkan kerawanan pada perekonomian dalam negeri bila tidak diikuti sikap kehati-hatian para pelaku ekonomi. Kerawanan tersebut timbul ketika aliran modal masuk berbalik menjadi lairan modal keluar. Krisis yang dialami negara Amerika Latin, seperti Meksiko pada tahun 1994, negara-negara ASEAN termasuk Indonesia pada pertengahan tahun 1997 merupakan
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

147
bukti dampak negatif aliran modal masuk yang deras dan berbalik menjadi aliran modal keluar. E. Perkembangan Kebijakan Nilai Tukar di Indonesia Sejak tahun 1970 sistem nilai tukar di Indonesia dalam perkembangannya sudah menganut tiga sistem nilai tukar, yaitu sistem nilai tukar tetap, sistem nilai tukar mengambang terkendali dan terakhir sistem nilai tukar mengambang bebas.

1. Sistem Nilai Tukar Tetap (fixed exchange rate) Sistem nilai tukar tetap yang berlaku di Indonesia berdasarkan Undang-undang Nomor 32 tahun 1964 dengan nilai tukar resmi Rp. 250 per $ US, sementara nilai tukar rupiah terhadap mata uang lainnya dihitung berdasarkan nilai tukar rupiah per $ US di bursa valuta asing Jakarta dan di pasar internasional. Selama periode tersebut di atas, Indonesia menganut sistem kontrol devisa yang relatif ketat. Para eksportir diwajibkan menjual hasil devisanya kepada Bank Indonesia. Dalam rezim ini tidak ada

pembatasan dalam hal pemilikan, penjualan maupun pembelian valuta asing. Sebagai konsekuensi kewajiban penjualan devisa tersebut,

maka Bank Indonesia harus dapat memenuhi semua kebutuhan valuta asing bank komersial dalam rangka mememenuhi permintaan valuta
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

148
asing oleh importir maupun masyarakat. Berdasarkan sistem nilai tukar tetap ini, Bank Indonesia memiliki kewenangan penuh dalam

mengawasi transaksi devisa. Sementara untuk menjaga kestabilan nilai tukar pada tingkat yang telah ditetapkan, Bank Indonesia melakukan intervensi aktif di pasar valuta asing. Sistem nilai tukar tetap dengan sitem kontrol devisa pada awal tahun 1970-an masih dimungkinkan dengan pertimbangan karena lembaga keuangan di Indonesia belum berkembang, volume transaksi devisa masih relatif kecil, pasar valuta asing dan mata uang rupiah belum menjadi tradable good serta belum adanya kegiatan spekulasi valuta asing. Di samping itu, pemerintah masih melakukan

pembatasan-pembatasan dalam hal melakukan pinjaman luar negeri, penanaman modal asing dan investasi portofolio sehingga intervensi langsung yang dilakukan pemerintah dapat bekerja efektif. Selama periode tahun 1970 hingga tahun 1978, Indonesia telah tiga kali melakukan kebijakan devaluasi, masing-masing pada 17 April 1970 dengan kurs Rp. 378 per US $, tanggal 23 Agustus 1971 dengan kurs Rp. 415 per US $ dan pada tabggal 15 Nopember 1978 dengan kurs Rp. 625 per US $. Kebijakan devaluasi tersebut dilakukan karena nilai tukar rupiah mengalami overvalued sehingga dapat mengurangi daya saing produk-produk ekspor di pasar internasional.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

149
2. Sistem Nilai Tukar Mengambang Terkendali (managed floating exchange rate) Sistem nilai tukar mengambang terkendali ditetapkan bersamaan dengan kebijakan devaluasi rupiah pada tahun 1978 sebesar 33,6 persen. Pada sistem ini nilai tukar rupiah diambangkan terhadap

sekeranjang mata uang (basket currencies) negara-negara mitra dagang utama Indonesia. Dengan sistem tersebut, Bank Indonesia

menetapkan kurs indikasi dan membiarkan kurs bergerak di pasar dengan spread tertentu. Untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, maka Bank Indonesia melakukan intervensi bila kurs bergejolak melebihi batas atas atau batas bawah spread. Sesuai dengan karakteristiknya, sistem nilai tukar

mengambang terkendali pada periode tersebut dapat dibagi dalam tiga periode, yaitu managed floating I, managed floating II dan periode crawling band. Periode managed floating I berlaku dari tahun 1978 1986, di mana dalam periode ini unsur manajemennya lebih dominan dari floating. Pada kondisi tersebut nilai tukar nominal bergerak relatif tetap dan perubahan relatif baru terjadi pada tahun-tahun tertentu, yaitu pada saat Bank Indonesia melakukan devaluasi rupiah. manajemen yang cukup dominan, disesuaikan dengan Unsur kondisi

perekonomian yang relatif belum berkembang seperti saat ini, sehingga Bank Indonesia tidak kesulitan dalam menyesuaikan nilai tukar sesuai
Ekonomi Muh. Ilham Internasional

150
dengan target yang diinginkan dalam rangka mengendalikan laju inflasi dan menjaga daya saing produk-produk ekspor. Perkembangan selanjutnya (periode managed floating II), dengan semakin terbukanya perekonomian Indonesia terhadap perekonomian dunia, yang ditandai dengan semakin derasnya capital inflow ke Indonesia, serta semakin pesatnya perkembangan sektor keuangan dan dunia usaha, maka kebijakan nilai tukar managed floating lebih ditekankan pada unsur floating, yang berlaku sejak tahun 1987 1992. Dalam periode ini kekuatan pasar semakin besar, sehingga unsur floating semakin dirasakan perlu mengingat manajemen yang terlalu dominan dapat berakibat missalignment pada nilai tukar riil. Sejak Agustus 1992 hingga Agustus 1997, pemerintah

menetapkan sistem crawling band, yaitu fleksibilitas nilai tukar rupiah semakin ditingkatkan. Peningkatan fleksibilitas nilai tukar rupiah telah mendorong perkembangan pasar valuta asing domestik, yang tercermin dengan semakin berkurangnya ketergantungan bank-bank pada Bank Indonesia dalam melakukan transaksi devisa. Kegiatan transaksi valuta asing yang sebelumnya dilakukan bank dengan Bank Indonesia hampir seluruhnya mengalami pergeseran ke pasar valuta asing antar bank. Di samping itu jumlah pelaku transaksi juga semakin meningkat dan produk pasar valuta asing semakin bervariasi. Pada sisi lain,

peningkatan fleksibilitas melalui pelebaran rentang intervensi juga telah


Ekonomi Muh. Ilham Internasional

151
memberikan keleluasaan Bank Indonesia dalam melaksanakan

kebijakan moneter sehingga dapat mempermudah perencanaan pelaksanaan operasi pasar terbuka.

3. Sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas (floating exchange rate) Sejak pertengahan Juli 1997, nilai tukar rupiah mengalami tekanan yang mengakibatkan semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar USA. Tekanan tersebut berawal dari currency turmoil yang melanda Thailand dan segera menyebar ke negara-negara ASEAN termasuk Indonesia. Untuk mengatasi tekanan tersebut, Bank Indonesia melakukan intervensi baik secara spot maupun forward dan untuk sementara dapat menstabilkan nilai tukar rupiah. Namun untuk selanjutnya tekanan terhadap depresiasi rupiah semakin meningkat. Oleh karena itu dalam rangka mengamankan cadangan devisa yang terus berkurang, pada tanggal 14 Agustus 1997, Bank Indonesia memutuskan untuk menghapus rentang intervensi F. Rangkuman 1. Pertukaran valuta asing adalah suatu kegiatan memperdagangkan mata uang dari negara-negara yang berbeda. Uang masing-masing negara memiliki harga yang diukur oleh uang negara lain. Hal inilah yang disebut nilai tukar (exchange rate).

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

152
2. Transaksi valuta asing yang berlangsung seketika disebut dengan kurs spot, sedangkan kesepakatannya disebut transaksi spot. Transaksi yang dilakukan di pasar berjangka, yaitu pasar di mana transaksi jual beli terjadi dengan harga yang disetujui pada saat transaksi dilakukan, tetapi penyerahan barang dilakukan kemudian hari. 3. Pasar valuta memiliki fungsi-fungsi dalam transaksi keuangan internasional : melakukan kliring, hedging, arbitrage. 4. Sistem kurs valuta asing dapat digolongkan ke dalam : (1) sistem kurs berubah-ubah, (2) sistem kurs stabil yang terdiri atas : (a) stabilisasi kurs, (b) standar emas; (3) sistem kurs pengawasan devisa. 5. Kebijakan devisa yang pernah berlaku di Indonesia adalah : (1) sistem devisa kontrol, (2) sistem devisa bebas 6. Kebijakan nilai tukar mata uang yang pernah berlaku di Indonesia adalah : (1) sistem nilai tukar tetap, (2) sistem nilai tukar mengambang terkendali, (3) sistem nilai tukar mengambang bebas. G. Soal-soal Latihan 1. Kemukakan pengertian pasar valuta asing 2. Berikanlah contoh dengan menggunakan angka-angka proses berlangsungnya hedging dan arbitrage. 3. Jelaskanlah dan uraikan melalui analisis grafik berbagai sistem kurs mata uang.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

153
4. Uraikan perkembangan kebijakan devisa di Indonesia. 5. Uraikan perkembangan sistem kurs mata uang di Indonesia.

Ekonomi Muh. Ilham

Internasional

Anda mungkin juga menyukai