Anda di halaman 1dari 7

BAB II PEMBAHASAN

II.1. PENGERTIAN a. Sifat Termal Bahan Sifat termal adalah respon material aplikasi dari panas. Benda padat menyerap energi dalam bentuk panas , sehingga temperatur dan dimensinya naik. Kapasitas Termal dan konduktifitas termal adalah sifat yang sering dibahas pada pemanfaatan praktis dari padatan. b. Kapasitas Termal Kapasitas Termal adalah sifat yang mengindikasikan untuk menyerap panas c. Konduktivitas Termal Konduktivitas atau keterhantaran termal, k, adalah suatu besaran intensif bahan yang menunjukkan kemampuannya untuk menghantarkan panas. Berikut ini nilai konduktivitas termal beberapa benda. Jenis benda Perak Tembaga Aluminium Baja Es Kaca (biasa) Bata Air Tubuh manusia Kayu Gabus Wol Busa Udara Konduktivitas Termal (k) J/m.s.C Kkal/m.s.Co 420 1000 x 10-4 380 920 x 10-4 200 500 x 10-4 40 110 x 10-4 2 5 x 10-4 0,84 2 x 10-4 0,84 2 x 10-4 0,56 1,4 x 10-4 0,2 0,5 x 10-4 0,08 0,16 0,2 x 10-4 0,4 x 10-4 0,042 0,1 x 10-4 0,040 0,1 x 10-4 0,024 0,06 x 10-4 0,023 0,055 x 10-4
o

kemampuan

materi

Tabel 1. Perbandingan nilai konduktivitas termal beberapa benda.

Benda yang memiliki konduktivitas termal (k) besar merupakan penghantar kalor yang baik (konduktor termal yang baik). Sebaliknya, benda yang memiliki konduktivitas termal yang kecil merupakan merupakan penghantar kalor yang buruk (konduktor termal yang buruk). d. Koefisien Muai Linier Peristiwa yang mengikuti penambahan temperatur pada bahan adalah perubahan ukuran dan keadaannya. Gaya antar atom dipandang sebagai kumpulan pegas yang menjadi penghubung antar atom bahan. Pada setiap temperatur atom padatan tersebut akan bergetar. Kenaikan temperatur akan mengakibatkan penambahan jarak rata-rata atar atom bahan. pada dimensi linier disebut sebagai muai linier. Hal ini mengakibatkan terjadinya pemuaian (ekspansi) pada seluruh komponen padatan tersebut. Perubahan ukuran

II.2. FAKTOR KONDUKTIVITAS TERMAL a. Suhu Konduksi termal akan meningkat seiring dengan kenaikan suhu b. Kandungan uap air Konduksi Termal akan meningkat seiring meningkanta kandungan kelembaman.Bila nilai (k) besar maka merupakan pengalir yg baik,tetapi bila nilai (k) kecil maka bukan pengalir yg baik. c. Berat jenis Nilai konduktifitas termal akan berubah bila berat jenisnya berubah. Semakin tinggi berat jenis makan semakin baik pengalir konduktifitas tersebut. d. Keadaan pori-pori bahan Bila semakin besar rongga maka akan semakin buruk konuktifitas termalnya.

II.3. MEKANISME KONDUKTIVITAS TERMAL

Panas diangkut dalam bahan padat oleh kedua gelombang getaran kisi (fonon) dan elektron bebas. Konduktivitas termal berhubungan dengan masing-masing mekanisme ini dan konduktivitas total jumlah kontribusi keduanya. Dimana k1 mewakili getaran kisi dan konduktivitas termal elektron.energi termal yang terkait dengan fonon atau gelombang kisi diangkut dalam arah gerak mereka. Hasil kontribusi k1 dari gerakan bersih fonon dari tinggi ke suhu rendah dari tubuh dalam gradiens suhu. Elektron bebas dapat berpartisipasi dalam konduksi termal elektronik, dengan elektron bebas di daerah spesimen panas smapai mendapatkan keuntungan energi kinetik.kemudian bermigrasi ke daerah dingin, di mana beberapa energi kinetika akan dipindahkan ke atom sendiri (sebagai energi getaran) sebagai akibat tumbukan dengan fonon atau ketidaksempurnaan lain dalam kristal. Kontribusi relatif ke, untuk meningkatkan total konduktivitas termal dengan meningkatnya konsentrasi elektron bebas, karena lebih banyak elektron yang tersedia untuk berpartisipasi dalam proses transferrence panas. II.2. METODE PENGUKURAN a. Konduktivitas Panas konduktivitas termal = laju aliran panas jarak / ( luas perbedaan suhu )

Besaran ini didefinisikan sebagai panas, Q, yang dihantarkan selama waktu t melaui ketebalan L, dengan arah normal ke permukaan dengan luas A yang disebabkan oleh perbedaan suhu T dalam kondisi tunak dan jika perpindahan panas hanya tergantung dengan perbedaan suhu tersebut. b. Koefisien Muai Linier Jika panjang dimensi linier bahan adalah l, maka perubahan panjang akibat perubahan temperatur T adalah sebesar l. Untuk perubahan temperatur yang kecil, maka pertambahan panjang pada temperatur tertentu (l t) dengan perubahan temperatur dan panjang mula-mula (l0 ). akan sebanding

lt = l0 (1 +T )

l = T

adalah koefisien muai linier yang memiliki nilai berbeda untuk masingmasing bahan.
=
l T

Telah dibuat alat ukur konduktivitas panas bahan homogen dengan metode Needle Probe, yaitu suatu metode pengukuran dengan menggunakan batang probe dari logam yang dialiri panas dan dengan sensor suhu di tengah bagian dalam pemanas probe untuk mengetahui perubahan suhu yang terjadi di dalam probe. Alat ukur ini merupakan pengembangan secara digital dari alat ukur yang telah dibuat dengan sistem analog. Dengan mengaplikasikan mikrokontroler AT89S52 sebagai basis pengolah data, maka suhu yang terdeteksi ditampilkan sevent segment melalui BCD converter dalam satuan derajat celcius. Pada dasarnya alat ukur konduktivitas panas dengan metode Needle Probe ini merupakan suatu sistem pendeteksi panas secara digital yang dipasang pada Needle Probe. Untuk setiap kenaikan temperatur 1 C, sensor yang digunakan memberikan keluaran sebesar 0.01 V dengan ketelitian pembacaan temperatur pada display sebesar 1 0C dan tingkat kesalahan 0,01 %. Metode Needle Probe Berdasarkan hukum kedua termodinamika konduktivitas panas dapat diukur jika terjadi perpindahan panas dari suhu yang tinggi ke suhu yang rendah. Dengan rumusan tersebut maka jika suatu materi diberikan daya panas tertentu akan terjadi perpindahan panas. Prinsip tersebut selanjutnya diterapkan pada metode Needle Probe, yaitu salah satu metode praktis untuk mengukur suatu konduktivitas panas bahan dengan sistem kerja sebagai berikut: probe yang telah dialiri suatu panas tertentu dimasukkan dalam bahan yang akan diukur, kemudian adanya perbedaan panas antara panas pada probe dan bahan yang akan diukur menyebabkan terjadinya perpindahan panas yang kemudian akan terdeteksi oleh suatu sensor yang berada didalam probe itu sendiri. Energi panas yang dihasilkan dalam Needle Probe dapat dihasilkan dari energi listrik dengan

mengalirkan arus listrik ke dalam kawat pemanas. Arus listrik pada kawat didefinisikan sebagai jumlah muatan yang melewati kawat tiap satuan waktu pada satu titik. Dengan demikian arus I didefinisikan sebagai: I = q/t q adalah jumlah muatan (C) yang melewati konduktor pada suatu lokasi selama jangka waktu t (detik) I adalah arus listrik (A). Apabila q yang bergerak melewati beda potensial sebesar V adalah qV, maka daya P, yang merupakan kecepatan perubahan energi adalah: P = qV/ t dengan P adalah daya (watt) V = beda potensial yang dihasilkan (volt). Muatan yang mengalir tiap detik merupakan arus listrik, dengan demikian: P = VI Panas yang dihasilkan dalam kumparan pemanas terjadi karena adanya banyak tumbukan antara elektron yang bergerak dan atom pada kawat. Pada setiap tumbukan, sebagian energi elektron ditransfer ke atom yang ditumbuknya.Sebagai akibatnya, energi kinetik atom bertambah dan dengan demikian temperatur elemen kawat bertambah. Energi panas yang bertambah ini selanjutnya dapat ditransfer sebagai kalor secara konduksi pada Needle Probe.

LOGAM dalam logam tinggi kemurnian, mekanisme elektron transportasi panas jauh lebih efisien maka kontribusi Fonon karena elektron tidak kita mudah tersebar sebagai fonon dan memiliki kecepatan yang lebih tinggi. selanjutnya, logam merupakan konduktor panas yang sangat baik karena jumlahnya relatif besar elektron bebas ada yang berpartisipasi dalam konduksi termal. konduktivitas termal dari beberapa logam

biasa diberikan dalam tabel; nilai umumnya berkisar antara sekitar 20 dan 400 W / mK. karena elektron bebas bertanggung jawab untuk kedua konduksi listrik dan termal dalam logam murni, perawatan teoritis menunjukkan bahwa dua konduktivitas harus terkait sesuai dengan hukum Wiedemann-Franz. (Rumus) paduan logam dengan hasil kotoran pada penurunan konduktivitas termal, untuk alasan yang sama bahwa konduktivitas listrik berkurang, yaitu atom pengotor, terutama jika dalam larutan padat, bertindak sebagai scaterring pusat, menurunkan efisiensi gerak elektron. sebidang konduktivitas termal versus komposisi untuk paduan tembaga-seng menampilkan efek ini. juga baja tahan karat, yang sangat alloyd, menjadi relatif resistif terhadap panas transportasi. Polimer Seperti yang tercantum dalam tabel 20,1, konduktivitas termal untuk polimer sebagian besar berada di urutan 0,3 / mK W. untuk materi ini, transfer energi ini dilakukan dengan getaran. translasi, dan rotasi dari molekul rantai. besarnya konduktivitas termal tergantung pada derajat kristalinitas, sebuah polimer dengan struktur yang sangat kristal dan memerintahkan akan memiliki konduktivitas lebih besar dari bahan amorf setara. hal ini disebabkan getaran terkoordinasi lebih efektif dari rantai molekul bagi negara kristal.

Polimer sering digunakan sebagai isolator termal karena dari sana konduktivitas termal rendah. seperti keramik, sifat insulative mereka mungkin akan lebih ditingkatkan dengan pengenalan kecil pori-pori, yang biasanya diperkenalkan oleh berbusa selama polimerisasi. berbusa polystyrene (styrofoam) umumnya digunakan untuk minum cangkir dan isolasi dada.

Anda mungkin juga menyukai