P. 1
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 19 TAHUN 2008

PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 19 TAHUN 2008

|Views: 80|Likes:
Dipublikasikan oleh Komhukum Corp
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN DAN TATA CARA PERLINDUNGAN KONSUMEN PADA KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI
PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN DAN TATA CARA PERLINDUNGAN KONSUMEN PADA KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI

More info:

Categories:Types, Letters
Published by: Komhukum Corp on Jul 28, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

07/28/2011

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBUK INDONESIA

PERATURANMENTERIENERGIDAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN DAN TATA CARA PERLIN DUNGAN KONSUMEN PADA KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL,
Menimbang : a. bahwa dalam upaya melindungi konsumen dalam penyediaan produk minyak dan gas bumi, perlu rnernberikan kesempatan dan peranan yang Iebih luas kepada Badan Usaha untukmenjaga standarmutu produk minyak dan gas bumi danjasa pelayanan yang dihasilkan; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan dalam rangka pembinaan dan pengawasan sesuai peraturan perundang-undangan bidang Minyak dan Gas Bumi serta untuk melaksanakan ketentuan Pasal3 ayat (2) dan Pasal8 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen, perlu mengatur mengenai Pedoman dan Tata Cara Perlindungan Konsumen pada Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi dalam suatu Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral; 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3821); 2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4152) 815

Mengingat

sebagaimana telah berubah dengan Putusan Mahkamah Konstitusi tanggaI 21 Desember 2004 pada Perkara Nomor 002lPUU-I12003 (Berita Negara Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2005); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 103, Tambahan LembaranNegaraRepublikIndonesiaNomor4126); 4. Peraturan Pemerintah Nomor '36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4436); 5. Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2005 tanggat 16 November 2005 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu; 6. Keputusan Presiden Nomor 1871M Tahun 2004 tanggaI20 Oktober 2004 sebagaimana telah beberapa kaIi diubah, terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 77/P Tahun 2007 tanggal28 Agustus 2007; 7. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya MineraI Nomor 0007 Tahun 2005 tanggal21 April 2005 tentang Persyaratan dan Pedoman Pelaksanaan Izin U saha daIam Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi: 8. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya MineraI Nomor 0030 Tahun 2005 tanggaI 20 Juli 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Energi dan Sumber Daya MineraI; 9. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya MineraI N omor 0048 Tahun 2005 tanggaI30 Desember 2005 tentang Standar dan Mutu (Spesifikasi) serta Pengawasan Bahan Bakar Minyak, Bahan Bakar Gas, Bahan Bakar Lain, LPG, LNG, dan Hasil Olahan yang Dipasarkan di Dalam Negeri; MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTER! ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL TENTANG PEDOMAN DAN TATA CARA PERLINDUNGAN KONSUMEN PADA KEGIATAN USAHA HILIR MINYAKDAN GAS BUM!

816

BABI KETENTUANUMUM Pasall DaIam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Minyak dan Gas Bumi, Kegiatan Usaha Hilir, Badan Usaha, Izin Usaha, Bahan Bakar Minyak, Bahan Bakar Gas, Bahan Bakar Lain, LPG, LNG, dan Hasil Olahan adalah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi. 2. Konsumen pada Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi, selanjutnya disebut Konsumen Hilir Migas adaIah setiap orang dan atau Badan Usaha pemakai barang dan ataujasa hasil kegiatan usaha hilir Minyak dan Gas Bumi yang tersedia daIam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. 3. Menteri adalah Menteri yang bidang tugas dan tanggungjawabnya meliputi kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi. 4. Direktur JenderaI adalah Direktur Jenderal yang tugas dan tanggung jawabnya meliputi kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi. Pasal2 Dalam menetapkan tingkat standar mutu produk Minyak dan Gas Bumi yang meliputi Bahan Bakar Minyak, Bahan Bakar Gas, Bahan Bakar Lain, LPG, LNG, serta Hasil Olahan dan jasa pelayanan yang diberikan, Badan Usaha wajib memperhatikan: a. ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perlindungan konsumen, dan b. ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi; BABIl STANDAR MUTU PRODUK MINYAK DAN GAS BUM!

DAN JASAPELAYANAN
Pasal3 (1) Setiap Badan Usaha pemegang Izin Usaha yang melaksanakan Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi wajib menjaga standar mutu produk Minyak dan Gas Bumi dan jasa pelayanan yang diberikan untuk melindungi Konsumen Hilir Migas. (2) Untuk menjaga standar mutu produk Minyak dan Gas Bumi dan jasa pelayanan yang diberikan sebagaimana dimaksud pada ayat 817

(3)

(1), Badan Usaha wajib memperhatikan hak Konsurnen Hilir Migas yang meliputi: a. jaminan kelangsungan penyediaan dan pendistribusian produk; b. standar dan mutu (spesifikasi) produk sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; c. keselamatan, keamanan, dan kenyamanan; d. harga pada tingkat yang wajar; e. kesesuaian takaran/volume/timbangan; f. jadwal waktu pelayanan; g. prosedur dan mekanisme pelayanan yang mudah, sederhana, dan diinformasikan secara luas. Pimpinan Badan Usaha bertanggungjawab untuk menjaga standar mutu produk Minyak dan Gas Bumi danjasa pelayanan yang diberikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasa14 Untuk melindungi Konsumen Hilir Migas, Badan U saha wajib menyesuaikan tingkat standar mutu produk Minyak dan Gas Bumi dan jasa pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal3 ayat (2) yang didasarkan pada indikator perlindungan yang ditetapkan sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. BABm PENGAWASAN Pasa15 (1) Untuk melindungi Konsumen Hilir Migas, Badan Usaha wajib memiliki sarana pengaduan masyarakat berupa PO BOX, N omor Telepon/HP, Faksimilie, Email. Sarana pengaduan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib dilaporkan kepada Direktur Jenderal. Pasa16 Dalam hal terdapat pengaduan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal5, dalamjangka waktu paIinglama 14(empatbelas)bari setelahditerimanya pengaduan masyarakat, Badan Usaha wajib mengambil tindakan dan penanganan. Pasa17 Badan Usaha wa'jib menyampaikan laporan mengenai realisasi tingkat standar mutu produk Minyak dan Gas Bumi dan jasa pelayanan yang 818

(2)

diberikan secara berkala setiap 3 (tiga) bulan kepada Direktur Jenderal melalui Direktur yang tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan dan pengawasan Kegiatan Usaha Hilir.
Pasal 8

Direktur Jenderal melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan sarana pengaduan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan penanganan terhadap pengaduan masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal6, serta laporan realisasi tingkat stan dar mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7.
Pasal 9

(1) (2)

Direktur Jenderal melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan dari Peraturan Menteri ini. Dalam melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Direktur Jenderal dapat berkoordinasi dengan instansi terkait dan membentuk tim pengawas independen.
BABIV SANKSI AHMINISTRATIF Pasal 10

(1)

(2)

(3)

(4)

Direktur Jenderal memberikan teguran tertulis kepada Badan Usaha yang melakukan pelanggaran terhadap indikator perlindungan yang ditetapkan sebagaimana tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Dalam hal Badan Usaha setelah mendapatkan teguran tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (I), tetap melakukan pelanggaran, Direktur Jenderal dapat mengusulkan kepada Menteri untuk menangguhkan izin usahanya. Dalam hal Badan Usaha setelah mendapatkan penangguhan izin usahanya sebagaimana dimaksud pada ayat (2), tetap melakukan pengulangan pelanggaran, Direktur Jenderal dapat mengusulkan kepada Menteri untuk membekukan kegiatan usahanya. Dalam hal setelah diberikannya teguran tertulis, penangguhan, dan pembekuan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (I), ayat (2), dan ayat (3),kepada Badan Usaha diberikan kesempatan untuk meniadakan pe1anggaranyang dilakukan atau memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalamjangka paling lama 60 (enam puluh) hari sejak ditetapkannya pembekuan.

819

(5)

Dalam hal setelah berakhirnyajangka waktu 60 (enam puIuh) hari sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Badan Usaha tidak melaksanakan upaya peniadaan pelanggaran dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan, Menteri dapat mencabut Izin Usaha yang bersangkutan.

BABV PENUTUP Pasalll
Paling lambat dalam waktu 6 (enam) bulan terhitung sejak ditetapkannya Peraturan Menteri ini, Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 wajib melaksanakan ketentuan dalam Peraturan Menteri ini.

Pasall2
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal13 Juni 2008 MENTERIENERGIDAN PURNOMO SUMBER DAYA MINERAL,

ttd
YUSGIANTORO

820

LAMPI RAN

PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYAMINERAL NOMOR 19 TAHUN 2008 TANGGAL: 13 Juni 2008 KONSUMEN mLIR. MIGAS

INDIKATOR PERLINDUNGAN
NO 1. MAKSUD DAN TUJUAN Menjamin kelangsungan pendislribusian prod uk

INDIKATOR PELAVANAN a. Slok di depot b. Slok di lembaga penyalur c. Safety stock a. Pemeriksaan mutu harian b. Sampling rutin c. Pemberlakuan slandar dan mulu (spesifikasi) alau SNI terhadap Bahan Bakar Minyak, Bahan Bakar Gas, Bahan Bakar Lain, dan Hasil Olahan yang diniagakan di dalam negeri sesuai yang dilelapkan oleh Menleri a. Memenuhi slandar keselamatan, keamanan, dan kenyamanan (pemadaman kebakaran, rambu-rambu yang jelas, dan lain-lain) b. Peralalan yang digunakan lelah memenuhi standar sesuai dengan kelentuan paraturan perundang-undangan c. Adanya stan dar teknis operasi yang digunakan a. Sesuai dengan kelenluan peraluran perundang-undangan b. Informasi tentang perubahan harga di sales
point

2..

Slandar dan mutu (spesifikasi) produk sesuai dengan kelenluan peraluran perundang-undangan

3.

Keselamalan, keamanan, dan kenyamanan

4.

Harga pada ling kat yang wajar

5. 6.

Kesesuaian takaranivolumellimbangan Jadwal waktu pelayanan

Sesuai kelenluan Badan Melrologi a. Sesuai kebuluhan (24 jam, 12 jam, dan lainlain) b. Informasi lenlang jadwal pelayanan di sales
point

7.

Prosedur dan mekanisme pengaduan yang mudah, sederhana, dan diinformasikan secara luas

a. Conlacl CenlerBadan Usaha b. Telepon layanan pengaduan, PO BOX, SMS, email, dan sebagainya

MENTERIENERGIDAN

SUMBERDAYAMINERAL,
ttd

PURNOMOYUSGIANTORO

821

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBUK INDONESIA

PERATU RAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA 01 BIDANG KEGIATAN USAHA MINYAK DAN GAS BUM I SECARA WAJIB

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL,

Menimbang

Mengingat

: a. bahwa dalam rangka pemenuhan kompetensi tenaga teknik yang berkualitas dan memiliki kemampuan teknis dan keterampilan khusus minyak dan gas bumi, perlu ditetapkan Pemberlakuan secara Wajib Standar Kompetensi Kerja N asional Indonesia di Bidang Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi; b. bahwa Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 111 K170/MEM12003 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia Kompetensi Kerja Tenaga Teknik Khusus Minyak dan Gas Bumi SebagaiStandarWajibdiBidangKegiatanUsahaMinyak dan Gas Bumi, sudah tidak sesuai perkembangan peraturan perundang-undangan di bidang minyak dan gas bumi dan peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakeIjaan; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan pemberlakuan Standar Kompetensi Kerja N asional Indonesia di bidang kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi secara wajib dalam suatu Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral; 1. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4152) sebagaimana telah

822

2.

3. 4.

5.

6.

7.

8.

9.

berubah dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 002lPUU-I12003 pada tangga121 Desember 2004 (Berita Negara Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2005); Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279); MijnPolitieReglement 1930 (Stbl. 1930 Nomor341); Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1974 tentang Pengawasan Pelaksana Eksplorasi dan Eksploitasi Minyak dan Gas Bumi di Daerah Lepas Pantai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3031); Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1979 tentang Keselamatan Kerja pada Pemurnian dan Pengolahan Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara RepublikIndonesia Tahun 1979 Nomor 18, Tambahan Lembaran N egara Republik Indonesia N omor 3135); Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia N omor 4435) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 81, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4530); Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 124. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4436); Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2006 tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4637); Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tanggal 20 Oktober 2004 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden N omor 77IP Tahun 2007 tanggal 28 Agustus 2008;

823

10. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 0030 Tahun 2005 tanggal 20 Juli 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral; 11. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor Per.211MEN/XI2007 tanggal 25 Oktober 2007 tentang Tata Cara Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia; MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTER! ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA DI BIDANG KEGIATAN USAHA MINYAK DAN GAS BUMI SECARAWAJIB

Pasall
Memberlakukan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) di Bidang Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi yang terdiri dari: a. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Industri Minyak dan Gas Burni serta Panas Bumi Sub Sektor Industri Minyak dan Gas Burni Hulu Bidang Pengeboran Sub Bidang Pengeboran Darat sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP.24 1lMENN12007 tanggal3I Mei 2007; b. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi serta Panas Bumi Sub Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi Hulu Hilir (Supporting) Bidang Laboratorium Pengujian sebagairnana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP.242/MENN12007 tanggal 31 Mei 2007; c. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi serta Panas Bumi Sub Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi HuIu Bidang Produksi Sub Bidang Perawatan Sumur sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP.243/MENN12007 tanggal3I Mei 2007; d. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Industri Minyak dan Gas Burni serta Panas Burni Sub Sektor Industri Minyak dan Gas Burni HuIu Hilir (Supporting) Bidang Sistem Manajemen Lingkungan sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP.244/MENN12007 tanggal31 Mei 2007; 824

e.

f.

g.

h.

i.

J.

Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi serta Panas Bumi Sub Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi Hulu Hilir (Supporting) Bidang Operasi Pesawat Angkat, Angkut, dan Ikat Beban sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP.245/MENN12007 tanggal31 Mei 2007; Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi serta Panas Bumi Sub Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi Hulu Hilir (Supporting) Bidang Aviasi sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi NomorKEP.246/MENN12007 tanggal31 Mei 2007; Standar Kompetensi Kerja N asional Indonesia Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi serta Panas Bumi Sub Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi Hulu Hilir (Supporting) Bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP.248/MENN I 2007 tanggal31 Mei 2007; Standar Kompetensi Kerja N asional Indonesia Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi serta Panas Bumi Sub Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi Hulu Bidang Produksi Sub Bidang Operasi Produksi sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi N omor KEP.250/MENN 12007 tanggal31 Mei 2007; Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi serta Panas Bumi Sub Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi Hulu Bidang Eksplorasi Sub Bidang Penyelidikan Seismik sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi N ornor KEP.251 lMENN 12007 tanggal 31 Mei 2007; Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi serta Panas Burni Sub Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi Hulu Hilir (Supporting) Bidang Boiler Sub Bidang Operasi Boiler sebagairnana ditetapkan daJam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP.254/MENN 12007 tanggal 31 Mei 2007, sebagairnana tercantum dalam Lampiran I sampai dengan Lampiran X yang rnerupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini, sebagai SKKNI wajib. Pasal2

SKKNI di Bidang Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi sebagaimana dimaksud daJam Pasall sebagai acuan bagi penyelenggaraan pendidik'an dan pelatihan profesi, uji kompetensi, dan sertifikasi profesi di bidang Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Burni.

825

Pasal3 Dalam me1aksanakankegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi, Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap wajib mempekerjakan tenaga kerja yang memenuhi dan memiliki sertifikat kompetensi kerja sebagaimana dimaksud dalam PasaI 1. Pasal4 Terhadap tenaga kerja di bidang kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi yang telah memiliki Sertifikat Tenaga Teknik Khusus Minyak dan Gas Bumi yang dikeluarkan sebelum ditetapkan Peraturan Menteri ini, tetap berlaku sampai berakhirnya masa sertifikat dimaksud. Pasal 5 (1) Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi melakukan pembinaan dan pengawasan atas pelaksanaan Peraturan Menteri ini. (2) Dalam rangka penerapan SKKNI sebagaimana dimaksud dalam Pasall, Direktur JenderaI Minyak dan Gas Bumi menetapkan petunjuk teknis. Pasal6 Dengan berlakunya Peraturan Menteri ini, Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 111 K170/MEM12003 tanggal14 Februari 2003 tentang Pemberlakuan Standar NasionaI Indonesia Kompetensi K.erjaTenaga TeknikKhusus Minyak dan Gas Bumi Sebagai Standar Wajib di Bidang Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal7 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal3 Juni 2008
MENTERIENERGIDAN PURNOMO SUMBERDAYAMINERAL,

ttd
YUSGIANTORO

826

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->