Anda di halaman 1dari 27

9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian-pengertian 1. Pengertian Perumahan Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. (UU RI NO 4, 1992, tentang Perumahan Dan Permukiman). 2. Pengertian Perumahan Sehat Perumahan sehat merupakan konsep dari perumahan sebagai faktor yang dapat meningkatkan standar kesehatan penghuninya. Konsep tersebut melibatkan pendekatan sosiologis dan teknis pengelolaan faktor risiko dan berorientasi pada lokasi, bagunan, kualifikasi, adaptasi, manajemen, penggunaan dan pemeliharaan rumah dan lingkungan di sekitarnya, serta mencakup unsur apakah rumah tersebut memiliki penyediaan air minum dan sarana yang memadai untuk memasak, mencuci, menyimpan makanan, serta pembuangan kotoran manusia maupun limbah lainnya (Komisi WHO Mengenai Kesehatan dan Lingkungan, 2001).

3. Pengertian Tikus Menurut G. Serereg (1972, h. 2), pengertian tikus adalah binatang menyusui kecil, termasuk dalam familia Muridae dari ordo rodentia yang mempunyai sifat pemakan segala.

10

4. Pengertian Pinjal Menurut Dirjen PP dan PL (2008, h, 11), pengertian pinjal adalah serangga dari ordo Senophonaptera berukuran kecil (antara 1,5 4 mm), berbentuk pipih di bagian samping (dorso lateral). Kepala-dada-perut terpisah secara jelas. Pinjal tidak bersayap, berkaki panjang terutama kaki belakang, bergerak aktif di daerah rambut inang dan dapat 9 melompat.

B. Pengertian Umum Tikus Tikus adalah satwa liar yang seringkali berasosiasi dengan kehidupan manusia. Keberadaan tikus di muka bumi sudah jauh lebih tua dari umur peradaban. Kehidupan tikus (untuk spesies tertentu) sudah sangat tergantung pada kehidupan manusia. Tikus merupakan hewan liar yang sudah beradaptasi dengan manusia, seperti halnya kecoa (untuk serangga). Menurut Swastiko Priyambodo, (1995, h, 5), tikus dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Dunia : Animalia Filum : Chordata Sub Filum : Vertebrata Kelas : Mammalia Subklas : Theria Ordo : Rodentia

11

Sub ordo : Myomorpha Famili : Muridae Subfamili : Muridae Genus : Bandicota, Rattus, dan Mus Tikus termasuk hewan menyusui (kelas mamalia) yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, baik bersifat menguntungkan atau merugikan. Sifat menguntungkan terutama dalam hal penggunaannya sebagai hewan percobaan di laboratorium. Sifat merugikannya yaitu dalam hal posisinya sebagai hama pada komoditas pertanian, hewan pengganggu di rumah dan gudang, serta penyebaran dan penularan (vektor) beberapa penyakit pada manusia. Spesies Rodentia ini, kurang lebih 150 spesies tikus ada di Indonesia dan hanya 8 spesies yang paling berperan sebagai hama tanaman pertanian dan vektor pathogen manusia. Menurut Swastiko Priyambodo, (1995, h, 6), diantara kedelapan spesies tersebut adalah sebagai berikut:
a. Bandicota indica (tikus wirok). b. Rattus norvegicus (tikus riul). c. Rattus-rattus diardii (tikus rumah). d. Rattus tiomanicus (tikus pohon).

12

e. Rattus argintiventer (tikus sawah). f. Rattus exulans (tikus ladang). g. Mus musculus (mencit rumah). h. Mus caroli (mencit ladang).

Habitat dari Rattus norvegicus, Rattus-rattus diardii, dan Mus musculus biasanya di permukiman manusia, rumah, dan gedung. Adapun habitat dari lima spesies lainya adalah di areal pertanaman atau di luar permukiman manusia. Walaupun demikian, bisa saja suatu saat tikus yang tinggal di permukiman akan berpindah (migrasi) ke areal pertamanan, terutama jika kekurangan makanan. Salah satu ciri terpenting dari tikus sebagai ordo Rodentia (hewan pengerat) adalah kemampuannya untuk mengerat benda-benda yang keras. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi pertumbuhan gigi serinya yang tumbuh terus-menerus. C. Biologi Tikus Biologi tikus telah banyak dipelajari oleh para ahli sesuai dengan kepentingan masing-masing. Sebagai hewan percobaan, tikus atau mencit putih dipelajari biologinya untuk mendapatkan sifat-sifat yang sesuai dengan tujuan percobaan. Sebagai hewan yang menjadi hama dan penyebar penyakit, tikus liar dipelajari biologinya untuk mengetahui kelebihannya dan kelemahan yang dimilikinya. Dengan demikian,

13

tindakan pengendalian yang diterapkan dapat menjadi lebih efektif dan efisien. Berikut adalah manfaat untuk mengendalikan populasi tikus sehingga tidak merusak barang-barang milik manusia, tidak

membahayakan manusia, dan tidak menjadi pesaing bagi manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam.
1. Kemampuan Indera

Menurut Swastiko Priyambodo (1995, h, 17), tikus memiliki kemampuan indera yang sangat menunjang setiap aktivitas kehidupannya. Di antara kelima organ inderanya, hanya indera penglihatan yang berkembang kurang baik, tetapi kekurangan ini ditutupi oleh kempat indera yang berkembang sangat baik.
a. Indra Penglihatan (vision)

Penglihatan

tikus

kurang

berkembang

baik,

tetapi

mempunyai kepekaan terhadap cahaya. Tikus merupakan hewan yang buta warna. Sebagian besar warna yang ditangkap oleh penglihatan tikus adalah warna kelabu. Adapun kecenderungan bahwa tikus lebih tertarik warna warna kuning dan hijau terang yang ditangkap oleh tikus sebagai warna kelabu cerah (terang).
b. Indera Penciuman (smell)

14

Tikus memiliki indra penciuman yang berkembang baik. Hal ini ditunjukkan dengan aktivitas tikus menggerak-gerakkan kepala serta mendengus pada saat mencium bau makanan, tikus lain, atau musuhnya (predator).
c. Indera Pendengaran (hearing)

Tikus mempunyai indera pendengaran yang sangat baik. Sebagian rodent (hewan pengerat), memiliki tanggap akustik bimodal cochlear yang artinya pada selang audible yaitu frekuensi 40 kHz untuk tikus dan 20 kHz untuk mencit. Pada suara (sinyal) ultrasonik yang dihasilkan oleh hewan itu sendiri, mencapai frekuensi 100 kHz untuk tikus dan untuk mencit 90 kHz.
d. Indera Perasa (taste)

Kemampuan indera perasa tikus dapat mendeteksi zat-zat yang bersifat toksik, atau berasa tidak enak berhubungan dengan pengendalian tikus yang menggunakan umpan beracun. e. Indera Peraba Indera peraba tikus berkembang sangat baik. Hal ini sangat membantu dalam pergerakan tikus di daerah gelap. Tikus cenderung bergerak dengan cara menyentuhkan bagian-bagian yang sensitif (vibrissai dan misai) pada permukaan vertikal suatu

15

benda. Biasanya tikus bergerak antarobjek melalui suatu jalan khusus yang selalu diulang-ulang yang disebut dengan run-way. 2. Kemampuan Fisik Di dalam menunjang aktivitas hidupnya, selain organ indera, tikus juga memiliki kemampuan fisik yang sifatnya khas atau unik. Menurut Menurut Swastiko Priyambodo (1995, h, 20), kemampuan fisik tersebut adalah sebagai berikut.
a. Menggali (digging)

Sistem sarang di dalam tanah sering dibuat panjang oleh tikus dengan membuat lorong-lorong tambahan yang saling berhubungan dengan beberapa alternatif, terutama bila populasi meningkat.
b. Memanjat (climbing)

Kemampuan tikus arboreal dalam memanjat ditunjang oleh adanya tonjolan pada telapak kaki yang disebut footpad. Tonjolan tersebut biasanya berukuran lebih besar dan permukaannya lebih kasar dibandingkan dengan tikus terestrial yang memang kurang pandai memanjat. Footpad ini masih ditambah oleh cakar yang berguna untuk memperkuat pegangan, serta ekor sebagai alat untuk keseimbangan pada saat memanjat.
c. Meloncat (jumping)

16

Sesuai dengan otot-otot kakinya yang relatif kuat, tikus dapat melompat cukup baik. R. norvegicus dewasa dapat meloncat secara vertikal sampai ketinggian 77 cm dan horizontal mencapai 240 cm.
d. Mengerat (gnawing)

Tikus dan mencit dapat mengerat bahan-bahan yang keras. Bahan-bahan yang dikerat tersebut termasuk kayu pada bangunan, lembaran aluminium, beton berkualitas buruk, dan aspal.
e. Berenang (swimming) dan menyelam (diving)

Tikus merupakan hewan yang pandai berenang. Tikus dapat berenang selama 50-72 jam pada suatu bak air dengan suhu 35C, dengan kecepatan berenang 1,4 km/jam untuk tikus dan 0,7 km/jam untuk mencit. Kemampuan menyelam yang dimiliki tikus, maksimum mencapai 30 detik. 3. Morfologi Tikus Menurut Chasan. S Sudjain (2006, h, 72), morfologi tikus tidak hanya mengetahui bentuk tikus tersebut, dengan bentuk bulat, persegi, bulat panjang, dan sebagainya, melainkan termasuk warna bulunya dan ukuran-ukuran tertentu dari bagian-bagian tubuhnya, demikian bagian tertentu dari tengkoraknya yang dianggap penting. Hal ini kemudian dipakai sebagai dasar untuk membedakan jenis-jenis tikus yang satu

17

dengan yang lainnya, yaitu untuk mengadakan identifikasi secara morfologis. Bagian-bagian tikus tersebut dilakukan pengukuran, satuannya dinyatakan dalam milimeter dan diberi singkatan-singkatan tertentu. Bagian-bagian tubuh tersebut adalah
a. Panjang kepala dan panjang badan yaitu diukur dari ujung

moncong sampai anus, disingkat dengan H dan B (Head dan Body).


b. Panjang ekor yaitu diukur dari anus sampai ke ujung ekor, dan

dinyatakan dengan satuan milimeter serta disingkat dengan T (Tail).


c. Panjang telapak kaki belakang, diukur dari ujung tumit sampai ke

ujung kuku (cakar), disingkat dengan HF (Hind Foot).


d. Panjang telinga yaitu dari tabik (legokan atau lekukan) pada dasar

telinga sampai ke ujung daun telinga, disingkat dengan E (Ear).


e. Panjang tengkorak tikus, dimulai dari ujung tonjolan di belakang

kepala sampai ke ujung tulang hidung disingkat dengan Sk (Skull).


D. Tanda-Tanda Adanya Kehidupan Tikus Menurut Swastiko Priyambodo

(1995, h, 39)
1. Dropping (Kotoran)

18

Adannya kotoran tikus yang ditemukan di suatu tempat atau ruangan menunjukkan bahwa di tempat atau ruangan tersebut terdapat tikus. Tinja tikus dapat mudah dikenali dari bentuk dan warna yang khas. Apabila kotoran masih basah kemungkinan tikus masih berada di sekitar tempat itu. Sebaliknya jika kotorannya sudah kering maka tikus kemungkinan sudah pergi menjauh.
2. Run Way (Alur Jalan)

Tikus memiliki kebiasaan melewati jalan yang sama. Dan jalan yang sering dilewati tikus mempunyai ciri-ciri berwarna hitam (bercak kotor) pada dinding atau benda-benda yang dilewati tikus.
3. Gnawing (Mengerat)

Tikus dalam aktivitasnya akan mengerat baik untuk makan atau membuat jalan.
4. Barrow (Lubang)

Barrow adalah lubang yang berada pada sekitar keberadanya tikus, seperti dinding, lantai, perabotan dan lain-lain. 5. Kerusakan

19

Kerusakan

yang

ditimbulkan

oleh

tikus

biasanya

berhubungan dengan pertumbuhan gigi serinya. Selain itu tikus perlu mengerat untuk mencari makanan yang tersembunyi. 6. Bau Tikus mengeluarkan bau yang khas. Hal ini dapat diketahui jika tikus tersebut sudah lama mennghuni suatu tempat.
E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Adanya Kehidupan Tikus Menurut

Swastiko Priyambodo 1. Jenis Makanan Tikus memiliki kecenderungan untuk makan makanan yang disenangi manusia yaitu, karbohidrat, protein, lemak, serta akan membuat sarang yang tidak jauh dari sumber makanan dan sumber air. 2. Konstruksi Bangunan Konstruksi bangunan atau gedung, sangat penting peranannya dalam perkembangbiakan tikus. Bangunan yang tidak memenuhi syarat (tidak rat proof), akan mempermudah masuknya tikus untuk mencari makanan dan membuat sarang di dalamnya. Syarat konstruksi bangunan atau gedung adalah lantai terbuat dari beton, dinding dari batu bata yang kuat dan tidak retak, ventilasi dipasang kawat atau kasa. 3. Susunan Barang

20

Barang yang tidak tersusun dengan rapi, akan menyebabkan tikus mudah untuk mambuat sarang atau tempat persembunyian. Barangbarang harus disusun pada rak-rak dengan ketinggian 30 cm dari permukaan lantai. 4. Suhu dan Kelembaban Pinjal sangat menyenangi tempat yang gelap dan lembab karena pinjal mempunyai sifat menghindari cahaya, seperti halnya tikus. Suhu dan kelembaban yang paling disenangi tikus berkisar anatara 20C-30C sedang untuk kelembaban 80%-90%. F. Pengertian Umum Pinjal Pinjal adalah hewan parasit menghisap, yang memiliki potensi penyebaran penyakit berbahaya bagi manusia dan hewan lainnya. Meskipun ada berbagai jenis pinjal, mereka semua memiliki bagian tubuh yang sama, mata dan kaki membantu mereka selamat dari bahaya hidup mereka. Berikut adalah klasifikasi dari pinjal: Tabel 2. 1 KLASIFIKASI PINJAL No 1 2 3 4 Tingkatan Takson Dunia Filum Sub filum Klas Animalia Arthopoda Avertebrata Insect Golongan

21

5 6 7 8 9 10 12 13

Sub klas Infra klas Ordo Sub ordo Famili Subfamili Genus Spesies

Theria Dyptera Shiphonaptera Lipodoptera Pulicidae Pulicidae Xenopsylla ,Pullex, Ctenocephalides, Neopsylla Xenopsylla cheophis, Pullex irritans, Ctenocephalides canis, Ctenocephalides felis, Neopsylla sondaica

Sumber: Chasan, S Kusnadi, 2006

G.

Morfologi Pinjal Pinjal memiliki panjang 1,5-4,0 mm, yang jantan biasanya lebih kecil daripada betina. Kedua jenis kelamin yang dewasa menghisap darah. Kepalanya lekuk tempat antena yang bersegmen disimpan. Tiga segmen thoraks dikenal sebagai pronotum, mesonutum, dan metanutum

(metathoraks). Segmen yang terakhir tersebut berkembang baik untuk menunjang kaki belakang yang mendorong pinjal tersebut saat meloncat. Di belakang pronotum pada beberapa jenis terdapat sebaris duri yang kuat berbentuk sisir, yaitu ktenedium pronotal. Sedangkan di atas mulut pada beberapa jenis terdapat duri kuat berbentuk sisir, yaitu ktenedium genal.

22

Pinjal betina miliki spermateka seperti kantung dekat ujung posterior abdomen sebagai tempat untuk menyimpan sperma, dan yang jantan mempunyai alat yang seperti per melengkung yaitu aedeagus atau penis berkitindi di lokasi yang sama.

Gambar 2. 1 GAMBAR MORFOLOGI PINJAL Sumber: http.wikipedia.org

H. Daur Hidup Pinjal Menurut http//:Canine Vector Borne Diseases.com, pinjal

merupakan serangga Holometabolaus atau metamorfosis sempurna karena daur hidupnya melalui 4 staduim yaitu: telur-larva-pupa-dewasa. Pinjal betina bertelur diantara rambut inang. Jumlah telur yang di keluarkan oleh

23

pinjal betina berkisar antara 3-18 butir. Pinjal betina dapat bertelur 2-6 kali sebanyak 300-400 butir selama hidupnya. Telur pinjal berukuran 0,4-0,5 mm, bentuk oval berwarna putih, saat akan menetas telur berwarna kuning kecokelatan. Telur pinjal akan menetas menjadi larva pada suhu 18C-27C dan kelembaban 75%-80% setelah 2-12 hari. Larva menjadi kepompong 9-12 hari dan mengalami ganti kulit 2 kali. Daur hidup pinjal secara normal berkisar antara 2-3 minggu.
I.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pinjal Menurut Adang Iskandar et all (1985) 1. Suhu dan Kelembaban Perubahan periodik kondisi cuaca atau iklim biasanya diikuti fluktuasi suhu dan kelembaban udara. Perkembangan jenis setiap pinjal mempunyai variasi musiman yang berbeda. Udara yang kering mempunyai pengaruh yang tidak menguntungkan bagi kelangsungan hidup pinjal. Suhu dalam sarang tikus lebih tinggi selama musim dingin dan lebih rendah selama musim panas daripada suhu luar. Suhu di luar dan dalam sarang memperlihatkan bahwa suhu di dalam sarang cenderung berbeda dengan suhu luar. 2. Cahaya

24

Beberapa jenis pinjal menghindari cahaya (fototaksis negatif). Pinjal jenis ini biasanya tidak mempunyai mata, sebaliknya pinjal yang bersifat fototaksis positif mempunyai mata. Pada sarang tikus yang kedalamannya dangkal populasi pinjal tidak akan ditemukan karena sinar matahari dapat menembus sampai dasar sarang. Pada sarang tikus yang kedalamannya lebih dalam dan mempunyai jalan yang berkelok, sinar matahari tidak dapat menembus sampai ke dasar sarang. Sehingga pada tikus ini akan dapat ditemukan banyak pinjal. 3. Parasit Bakteri Yersinia pestis di dalam tubuh pinjal merupakan parasit pinjal. Pinjal yang mengandung bakteri pes pada suhu 10C-15C dapat bertahan hidup selama 50 hari, sedangkan pada suhu 27C hanya dapat bertahan hidup selama 23 hari. Pada suhu normal bakteri pes akan berkembang cepat, kemudian akan menyumbat mulut pinjal sehingga pinjal tidak bisa menghisap darah dan akhirnya mati. 4. Predator Predator pinjal alami merupakan faktor penting dalam menekan populasi pinjal pada tikus. Beberapa predator pinjal seperti semut dan kumbang kecil telah diketahui memakan pinjal pradewasa dan pinjal dewasa. J. Indeks Umum Pinjal

25

Kepadatan pinjal pada tikus disebut dengan indeks umum pinjal, yaitu untuk mengetahui kepadatan investasi rata-rata dari pinjal yang ditemukan, dan untuk mengetahui kepadatan jenis pinjal tertentu disebut dengan indeks pinjal spesifik. Perhitungan jumlah pinjal dikenal dua jenis rumus angka indeks yaitu: Indeks Pinjal Umum = Jumlah seluruh pinjal yang diperoleh Jumlah tikus yang tertangkap Indeks Pinjal Spesifik = Jumlah spesies pinjal tertentu Jumlah tikus yang tertangkap
K. Penyakit yang Dapat Ditularkan Oleh Tikus dan Pinjal (Rodent Borne

Disease. Menurut Swastika Priyambodo ( 1995, h, 29)


1.

Penyakit Pes (plague) Penyakit pes disebabkan oleh bakteri Yersinia

pseudotuberculosis, sinonimnya Yersinia pestis atau Pasteurella pestis yang dicirikan dengan gejala peradangan dan pembekakan pada kelenjar limfa, septicamia (penyakit distenik yang disebabkan oleh organisme patogenik atau toksinnya di dalam aliran darah) peradangan di kulit, dan lain-lain. Pes ditularkan oleh tikus melalui gigitan pinjal (Xenopsylla sp.) yang hidup pada kulit atau rambut tikus.

26

2.

Leptospirosis Leptospirosis atau penyakit kuning adalah penyakit penting

pada manusia, tikus, anjing, babi, dan sapi. Penyakit ini disebabkan oleh Spirochaeta Leptospira icterohaemorrihagae atau yang bisa disebut dengan bakteri Leptospira yang hidup pada ginjal dan urine tikus. Patogen ini masuk ke dalam tubuh manusia melalui membran mukosa atau garukan pada kulit. Gejala penyakit ini ditandai dengan demam, kedinginan, muntah, konjungtivitis, meningitis, serta

pendarahan pada kulit dan membran mukosa. 3. Salmonellosis Salmonellosis secara umum merupakan penyakit pada manusia atau hewan yang disebabkan oleh bakteri dari genus Salmonella yang biasa meracuni makanan. penularan penyakit ini akibat kontaminasi dari feses dan urine tikus pada makanan atau minuman yang dikonsumsi oleh manusia. Gejala yang timbul pada manusia akibat infeksi bakteri ini adalah sakit perut, gastroenteritis (sakit perut) akut, diare, rasa mual, muntah dan demam yang diikuti dengan dehigrasi. 4. Murine typhus

27

Penyakit ini disebabkan oleh Rickettsia typhi (R. mooseri) yang dikeluarkan dari tikus ke manusia melalui gigitan pinjal Xenopsylla cheopsis. Gejal penyakit ini pada manusia adalah sakit kepala, kedinginan, demam, dan nyeri di seluruh tubuh.

5.

Rickettsial pox Rickettsial pox adalah penyakit pada manusia dan mencit yang

disebabkan oleh gigitan tungau Allodermanyssus sanguineus yang menularkan patogen Rickettsia akari. Gejala yang timbul ditandai dengan adanya bercak yang mula-mula berkembang di sekitar gigitan tungau. Seminggu kemudian timbul demam, kedinginan, dan sakit kepala. Kemudian muncul bintik-bintik merah menyerupai cacar pada permukaan tubuh. 6. Rat-bite Fever Demam karena gigitan tikus ini terutama terjadi pada anakanak di bawah umur 12 tahun dengan masa inkubasi 1- 22 hari menimbulkan gejala kedinginan, demam, muntah, dan sakit kepala. Dua patogen yang menyebabkan penyakit ini adalah bakteri Spirillium minus (termid sodoku) dan Streptobacillus moniliformis (haverhill fever).
L. Pengendalian Tikus dan Pinjal

28

1. Prinsip Dasar Pengendalian Tikus Upaya pengendalian populasi tikus, merupakan kunci keberhasilan progam pengendalian tikus di masyarakat. Tikus mempunyai kebiasaan menghuni berbagai bagian di sekitar penghunian manusia. Setiap kawasan memiliki kemampuan tertentu dalam mendukung kehidupan tikus. Kemampuan ini berhubungan dengan kemudahan untuk memperoleh makanan, tempat persembunyian, ruang kehidupan dan berbagai kebutuhan pokok tikus.
2. Pengendalian Tikus

Menurut WHO (1991) ada 2 unsur utama pengendalian tikus di lingkungan rumah yaitu:
a. Meniadakan kebutuhan hidup tikus. b. Membuat atau melengkapi struktur bangunan rumah dengan

bahan anti tikus (rat proofing). Upaya pengendalian tikus secara berdaya guna dan berhasil guna hanya mungkin diperoleh apabila telah mengenal dengan baik kehidupan tikus beserta segala sifat dan kebiasaan. Disamping itu, upaya pengendalian tikus tersebut akan memperoleh daya guna bila dipahami beberapa prinsip dasar dan tehnik pengendalian.
3. Tehnik Pengendalian Tikus ( Adang Iskandar et all, 1985, h, 222)

29

Secara garis besar usaha pengendalian tikus dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu: a. Perbaikan sanitasi lingkungan dengan maksud menghilangkan sumber makanan dan tempat persembunyian. b. Merencanakan pembunuhan tikus secara berhasil guna. c. Mengusahakan tindakan rapat tikus pada suatu bangunan secara berdaya guna. Ketiga usaha pengendalian tersebut dapat mempertahankan populasi tikus pada tingkat yang sangat rendah. 1) Perbaikan Sanitasi Lingkungan Usaha perbaikan sanitasi lingkungan untuk pemberantasan tikus dapat ditempuh menurut langkah-langkah berikut:
a) Penyimpanan Sampah (Storage of Refuse)

Sarana penyimpanan sampah hendaknya cukup untuk menampung seluruh sampah yang dihasilkan dan dibuang setiap hari, sehingga tidak dijadikan tempat bersarang.
b) Penyimpanan Barang yang Masuk Berguna (Storage of

Useble Material)

30

Penyimpanan barang di gudang dengan cara yang benar dapat mengurangi tempat persembunyian dan sumber makanan bagi tikus. Semua bahan makanan dalam keadaan terbungkus sebaiknya diletakan pada rak dengan ketinggian 30-40 cm dari lantai.
c) Pengumpulan Sampah (Collection of Refuse)

Pelaksanan penyimpanan sampah dengan baik tergantung kepada usaha pengumpulan sampah dengan cara yang sebaik-baiknya. Usaha pengumpulan sampah rumah tangga 2 x satu minggu dapat mencegah kelebihan beban pada sarana penyimpanan sampah rumah tangga sehingga memungkinkan tikus memperoleh makanan.

d) Pembuangan Sampah Cara pembuangan sampah dengan penimbunan saniter (sanitary landfill) dapat menghambat perkembangan populasi tikus. 2) Pembunuhan Tikus Menurut Dit. Jen. PPM dan PLP (1987), sebelum peracunan dan penangkapan tikus dilakukan, upaya pre baiting atau pemasangan umpan pendahuluan untuk mengetahui jenis

31

makanan yang disukai tikus tanpa dicampur dengan racun ataupun digunakan umpan perangkap. Umpan tersebut

diletakan di tempat yang biasa dilalui tikus. Baru kemudian umpan dicampur dengan racun atau digunakan untuk trapping. a) Peracunan (Pengendalian Tikus Secara Kimia) Usaha peracunan tikus adalah salah satu cara yang banyak ditempuh dalam rangka pengendalian tikus. Penggunaan racun dalam pengendalian tikus sering dilakukan bersama dengan umpan.
b) Penggasan (Gassing)

Penggasan ke dalam lubang tikus dipergunakan sebagai tindakan pelengkap dalam pembunuhan tikus. Penggasan ini tidak boleh dilakukan oleh tenaga pelaksana yang tidak terlatih. Beberapa bahan yang dapat digunakan antara lain adalah Calenin cyanida, debu cyanida dan sebagainya. Penggunaan debu cyanida sangat berdaya guna karena dapat dimasukkan ke dalam lubang dimana terdapat perindukan tikus. Namun demikian debu cyanida tidak berguna apabila kondisi tanah sangat kering. Kelembaban dibutuhkan baik di dalam tanah ataupun di udara guna mengubah debu menjadi gas.

32

c) Pemasangan Perangkap (Secara Mekanik)

Misalnya dengan pemasangan perangkap tikus, di daerah-daerah yang dicurigai adanya tikus, misalnya pada tempat tikus lewat, di depan sarang tikus, dan lain-lain. Pemasangan perangkap akan dilakukan apabila peracunan mengalami kegagalan atau dianggapkan pada resiko yang sangat tinggi dimana bau busuk bangkai tikus yang tidak ditemukan akan menimbulkan masalah.
d) Pembunuhan oleh Predator (Secara Biologi)

Pengaruh predator terhadap pengurangan populasi tikus hanya bersifat sementara. Kegiatan predator ini merupakan faktor pembatas yang mempengaruhi keseimbangan

populasi tikus di suatu tempat. 4. Pengendalian Pinjal


a. Pemberantasan Binatang Mengerat

Penangkapan, peracunan binatang mengerat seperti tikus dapat mengurangi populasi tikus dan parasit yang dibawanya sehingga populasi pinjal dapat ditekan pada tingkat yang rendah.
b. Membuat Sesuatu Bersifat Rat-profing

33

Menggunakan bahan-bahan rumah tangga yang bersifat ratprofing dapat mencegah tikus beserta vektor penyakit (pinjal) untuk datang dan mendekat di rumah.
c. Memperbaiki Sanitasi

Memperbaiki sanitasi untuk menjaga populasi binatang mengerat pada tingkat serandah mungkin, terutama

memperhatikan penyimpanan sampah, pengumpulan dan pembuangan sampah dan menghilangkan tempat

persembunyian binatang mengerat atau tikus.

34

M. Kerangka Teori Ti Tikus k us Pi Pinjalnj al Faktor yang mempengaruhi kehidupan pinjal

Biologi tikus

Tanda kehidupan tikus

Faktor yang mempengaruhi adanya kehidupan tikus

Penyakit yang ditularkan


Pes (plague) Leptospirosis Salmonellosis Murine typhus Rickettsial pox Rat-bite Fever

Pengendalian

Memperbaikidan Pinjal Tikus sanitasi lingkungan


Membuat sesuatu bersifat rat-profing

Pengendalian secara biologi Pengendalian secara kimia Pengendalian secara mekanik


Pemberantasan binatang mengerat

Gambar 2. 2

35

GAMBAR KERANGKA TEORI