Anda di halaman 1dari 24

KARYA ILMIAH

PELAKSANAAN RETRIBUSI DI DAERAH

OLEH : Drs. JOKE PUNUHSINGON, SH

YAYASAN GMIM Ds. A.Z.R. WENAS UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA TOMOHON FAKULTAS HUKUM TOMOHON 2007

PENGESAHAN
Panitia Penilai Karya Ilmiah Dosen Fakultas Hukum

Universitas Kristen Indonesia Tomohon, menilai karya ilmiah dari : Nama NIDN Jabatan

telah memeriksa dan

: Drs. JOKE PUNUHSINGON, SH : 0930086204 : Asisten Ahli PELAKSANAAN RETRIBUSI DI

Judul Karya Ilmiah :

DAERAH Dengan Hasil : Memenuhi Syarat

Tomohon, September 2007 Dekan / Ketua Tim Penilai

JULIUS KINDANGEN, SH

KATA PENGANTAR
Disadari bahwa segala sesuatu tidak akan berhasil

dilakukan tanpa campur tangan Tuhan Yang Maha Kuasa, demikian pula dengan penulisan karya ilmiah ini diyakini dapat terselesaikan oleh karena bimbingan dan penyertaanNya. Untuk itu patutlah dilimpahkan puji syukur kehadiratNya. Penulisan karya ilmiah yang berjudul "PELAKSANAAN RETRIBUSI DI DAERAH ini dimaksudkan untuk mengadakan pengkajian terhadap sumber-sumber pencemaran laut serta upaya penegakan hukum terhadap pihak pencemar. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada para pihak yang telah membantu penulis dalam penulisan karya ilmiah ini, khususnya kepada Panitia Penilai Karya Tulis Ilmiah Fakultas Hukum UKIT, lebih khusus lagi kepada Bapak JULIUS KINDANGEN, SH, selaku Dekan/Ketua Tim Penilai Karya Tulis Ilmiah yang telah memberikan koreksi dan masukanmasukan terhadap karya ilmiah ini. Sebagai manusia biasa tentu saja dalam usaha penulisan karya ilmiah ini terdapat kekurangan dan kelemahan, baik itu materi maupun teknik penulisannya, untuk itu maka segala kritik dan saran yang sifatnya konstruktif amat penulis harapkan demi kesempurnaan penulisan ini. Akhir kata semoga Tuhan Yang Maha Esa, selalu menyertai segala usaha dan tugas kita. Tomohon, September 2007 Penulis,

Drs. PUNUHSINGON, SH

JOKE

DAFTAR ISI
JUDUL PENGESAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI .. ... .. BAB I PENDAHULUAN ........................................................ ............................ A. Latar Belakang Masalah .. B. Perumusan Masalah . C. Tujuan Penulisan BAB II PELAKSANAAN RETRIBUSI DI DAERAH ........................................... A. Objek dan Golongan Retribusi B. Cara Penghitungan Retribusi . C. Pengaturan Retribusi Oleh Daerah D. Tata Cara Pemungutan . BAB III PENUTUP ................................................................. 14 ............................ A. Kesimpulan ............................................................. .......................... B. 14 14 6 6 9 11 12 1 1 4 4 I ii iii iv

Saran ...................................................................... ........................... DAFTAR PUSTAKA 15

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ]Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 yang

menempatkan perpajakan sebagai salah satu perwujudan kewajiban kenegaraan, dalam penjelasan Pasal 23 ayat (2) ditegaskan bahwa penetapan belanja mengenai hak rakyat untuk menentukan nasibnya sendiri, maka segala tindakan yang menempatkan beban kepada rakyat, seperti pajak dan lain-lainnya, harus ditetapkan dengan undang-undang, yaitu dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat, oleh karena itu pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah harus didasarkan pada undang-undang. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, pajak dan retribusi merupakan sumber pendapatan daerah agar Daerah dapat melaksanakan otonominya, yaitu mampu mangatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, di samping penerimaan yang berasal dari Pemerintah berupa subsidi/bantuan dan bagi hasil pajak dan bukan pajak. Sumber pendapatan daerah tersebut untuk diharapkan meningkatkan menjadi dan sumber pembiayaan kesejahteraan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah, memeratakan masyarakat. Sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai dengan pembentukan Undang-undang ini, maka Undang-undang ini menetapkan ketentuan-ketentuan pokok yang memberikan pedoman kebijaksanaan dan arahan bagi Daerah dalam pelaksanaan pemungutan pajak dan retribusi, sekaligus

menetapkan pengaturan yang cukup rinci untuk menjamin penerapan prosedur umum perpajakan daerah dan retribusi. Undang-undang Nomor 11 Drt. Tahun 1957 tentang Peraturan Umum jenis Pajak pajak, Daerah beberapa yang selama ini berlaku telah biaya menyebabkan Daerah berpeluang untuk memungut banyak diantaranya mempunyai administrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasilnya dan atau hasilnya tidak memadai. Di samping itu, terdapat beberapa jenis pajak yang tidak memadai untuk dipungut Daerah karena tumpang tindih dengan pajak lain dalam arti terdapat pajak lain untuk jenis objek yang sama, menghambat efisiensi alokasi sumber ekonomi, bersifat tidak adil, atau tidak benar-benar bersifat pajak, tetapi bersifat retribusi. Pungutan retribusi yang berkembang selama ini didasarkan pada Undang-undang Nomor 12 Drt. Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Retribusi Daerah menunjukkan beberapa kelemahan, seperti: a. hasilnya kurang memadai jika dibandingkan dengan biaya penyediaan jasa oleh Daerah; b. biaya pemungutannya relatif tinggi; c. kurang kuatnya prinsip dasar retribusi terutama dalam hal pengenaan, penetapan, struktur, dan besarnya tarif; d. adanya beberapa jenis retribusi yang pada hakekatnya bersifat pajak karena pemungutannya tidak dikaitkan secara langsung dengan jasa pelayanan pemerintah daerah kepada pembayar retribusi; e. adanya jenis retribusi perizinan yang tidak efektif dalam usaha untuk melindungi kepentingan umum dan kelestarian lingkungan; f. adanya jenis retribusi yang mempunyai dasar pengenaan atau objek yang sama.

Untuk itu, jenis-jenis retribusi perlu diklasifikasikan dengan kriteria tertentu, agar memudahkan penerapan prinsip dasar retribusi sehingga mencerminkan hubungan yang jelas antara tarif retribusi dengan pelayanan dan jasa yang diberikan Pemerintah Daerah. Dewasa ini besarnya penerimaan Daerah Tingkat I yang berasal dari pajak dan retribusi cukup memadai, sedangkan penerimaan Daerah Tingkat II dari pajak dan retribusi masih relatif kecil. Keadaan ini kurang mendukung perkembangan otonomi daerah yang nyata dan bertanggung jawab dengan titik berat pada Daerah Tingkat II. Oleh karena itu, perlu usaha peningkatan penerimaan daerah yang berasal dari sumber pajak dan retribusi yang potensial dan yang mencerminkan kegiatan ekonomi daerah. Sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan Bakar penerimaan Bermotor Daerah yang Tingkat II tersebut, dengan diperkenalkan adanya jenis pajak baru, yaitu Pajak Bahan Kendaraan dibagihasilkan Daerah Tingkat I dengan imbangan sebagian besar untuk Daerah Tingkat II. Pajak ini dianggap sangat baik ditinjau dari segi potensinya karena konsumsi bahan bakar kendaraan bermotor cukup besar dan setiap tahun selalu meningkat. Konsumsi bahan bakar kendaraan bermotor tersebut mencerminkan kegiatan ekonomi daerah dan erat kaitannya dengan produk domestik regional bruto, pembangunan dan pemeliharaan jalan sehubungan dengan banyaknya kendaraan bermotor pengguna jalan. Dalam rangka menata kembali beberapa jenis retribusi yang pada hakekatnya bersifat pajak serta untuk lebih memberi

perhatian pada pelestarian lingkungan, maka dalam Undangundang ini Retribusi Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C dan Retribusi Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan dinyatakan masing-masing menjadi Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C dan Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan. Kedua jenis pajak tersebut merupakan pajak Daerah Tingkat II, dengan pertimbangan untuk lebih memperkuat upaya peningkatan penerimaan Daerah Tingkat II dan mendukung perkembangan otonomi daerah yang nyata dan bertanggung jawab dengan titik berat pada Daerah Tingkat II. Dewasa ini pengadministrasian beberapa jenis pajak dan retribusi belum dilakukan dengan baik sehingga realisasi penerimaannya lebih kecil dari yang semestinya. Dalam Undang-undang ini usaha perbaikan administrasi guna peningkatan efektivitas dan efisiensi pemungutan dalam rangka peningkatan penerimaan daerah cukup mendapat perhatian. Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, Undang-undang ini bertujuan untuk menyederhanakan dan memperbaiki jenis dan struktur perpajakan daerah, meningkatkan pendapatan daerah, memperbaiki sistem administrasi perpajakan daerah dan retribusi sejalan dengan sistem administrasi perpajakan nasional, mengklasifikasikan retribusi, dan menyederhanakan tarif pajak dan retribusi. Dalam rangka penyederhanaan jenis pajak dan retribusi, Undang-undang ini menetapkan jenis jenis pajak dan retribusi

yang

dapat

dipungut

Daerah.

Penyederhanaan

tersebut

diharapkan dapat meningkatkan penerimaan daerah dari sumber pajak dan retribusi, mengingat penetapan pajak dan retribusi yang dapat dipungut Daerah berdasarkan Undangundang ini didasarkan, antara lain, pada potensinya yang cukup besar. Dengan penyederhanaan ini, sekaligus Daerah diharapkan mampu menutup hilangnya penerimaan yang berasal dari pajak dan retribusi yang kurang potensial, tetapi saat ini masih dipungut oleh Daerah. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah diharapkan untuk menitikberatkan perhatiannya pada jenis-jenis pajak dan retribusi yang potensinya besar. Pajak daerah dan pajak nasional merupakann satu sistem perpajakan Indonesia, yang pada dasarnya merupakan beban masyarakat sehingga perlu dijaga agar kebijaksanaan perpajakan tersebut dapat memberikan beban yang adil. Sejalan dengan perpajakan nasional, maka pembinaan pajak daerah nasional. harus dilakukan ini secara harus terpadu dilakukan dengan secara pajak terusPembinaan

menerus, terutama mengenai objek dan tarif pajaknya antara pajak pusat dan pajak daerah tersebut saling melengkapi. Dalam sistem dan struktur perpajakan daerah dan retribusi yang lama, dasar hukum pemungutannya diatur dalam berbagai undang-undang/ordonansi. Peraturan perundang-undangan yang lama tersebut

didasarkan pada situasi dan kondisi pada waktu itu yang sudah sangat berbeda dengan keadaan sekarang, dengan kemajuan di berbagai bidang dan lebih-lebih lagi peraturan

perundang-undangan ekonomi masyarakat

tersebut pada

tidak

mungkin akan

dapat datang.

menampung ataupun mengantisipasi perkembangan sosial masa yang Penyederhanaan ini juga dimaksudkan untuk mempermudah masyarakat memahami dan mematuhi peraturan perundangundangan sehingga pada akhirnya tumbuh kesadaran untuk memenuhi kewajiban perpajakan dan retribusi. A. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis permusan masalahnya i adalah sebagai beriktu: 1. 2. 3. Apa saja yang menjadi obyek dan golongan Retribusi. Bagaimanan cara penghitungan retribusi. Bagaimana Pengaturan Retribusi Oleh Daerah. akan

membahas tentang Pelaksanaan Retribusi Di Daerah, dengan

B. Tujuan Penulisan Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui: 1. 2. 3. Apa saja yang menjadi obyek dan golongan Retribusi. Bagaimanan cara penghitungan retribusi. Bagaimana Pengaturan Retribusi Oleh Daerah.

BAB II PELAKSANAAN RETRIBUSI DI DAERAH A. Objek dan Golongan Retribusi Pasal 18 UU Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah, disebutkan bahwa objek retribusi terdiri dari: a. Jasa Umum; b. Jasa Usaha; c. Perizinan Tertentu. Kemudian Retribusi itu dibagi atas tiga golongan, yakni: a. Retribusi Jasa Umum; b. Retribusi Jasa Usaha; c. Retribusi Perizinan Tertentu. Jenis-jenis retribusi yang termasuk golongan Retribusi Jasa Umum, Retribusi Jasa Usaha dan Retribusi Perizinan Tertentu ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Objek retribusi adalah berbagai jenis jasa tertentu yang disediakan oleh Pemerintah Daerah.Tidak semua jasa yang diberikan oleh Pemerintah Daerah dapat dipungut

retribusinya, namun hanya jenis-jenis jasa tertentu yang menurut pertimbangan sosial-ekonomi layak untuk dijadikan sebagai objek retribusi. Jasa tertentu tersebut dikelompokkan dalam tiga golongan, yaitu Jasa Umum, Jasa Usaha, dan Perizinan Tertentu. Jasa Umum, antara lain, pelayanan kesehatan dan pelayanan persampahan. Yang tidak termasuk Jasa Umum adalah jasa urusan umum pemerintahan. yang Jasa Usaha, oleh antara lain, penyewaan aset dimiliki/dikuasai Pemerintah

Daerah, penyediaan tempat penginapan, usaha bengkel kendaraan, tempat pencucian mobil, dan penjualan bibit. Mengingat fungsi perizinan dimaksudkan untuk mengadakan pembinaan, pengaturan, pengendalian, dan pengawasan, maka pada dasarnya pemberian izin oleh Pemerintah Daerah tidak harus dipungut retribusi. Akan tetapi untuk melaksanakan fungsi tersebut, Pemerintah Daerah mungkin masih kekurangan biaya yang tidak selalu dapat dicukupi dari sumber-sumber penerimaan daerah, sehingga terhadap perizinan tertentu masih dipungut retribusi. Perizinan tertentu yang dapat dipungut retribusi, antara lain, Izin Mendirikan Bangunan, Izin Peruntukan Penggunaan Tanah. Pengajuan izin tertentu oleh Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah tetap dikenakan retribusi, karena badan-badan tersebut merupakan kekayaan negara atau kekayaan daerah yang telah dipisahkan. Pengajuan izin oleh Pemerintah baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah tidak dikenakan retribusi Perizinan Tertentu. Penggolongan menetapkan jenis retribusi ini dimaksudkan tentang prinsip guna dan

kebijaksanaan

umum

sasaran dalam penetapan tarif retribusi yang ditentukan dalam Pasal 21. Penetapan jenis-jenis Retribusi Jasa Umum dan Jasa Usaha dengan Peraturan Pemerintah dimaksudkan agar tercipta ketertiban dalam penerapannya, sehingga dapat memberikan kepastian jenis bagi masyarakat Perizinan dan disesuaikan dengan tetap dengan Peraturan memerlukan kebutuhan nyata daerah yang bersangkutan. Penetapan jenisRetribusi Tertentu Daerah, Pemerintah karena perizinan tersebut walaupun merupakan kewenangan Pemerintah koordinasi dengan instansi-instansi teknis terkait. Sebagai contoh, Izin Mendirikan Bangunan memerlukan koordinasi dengan Departemen Pekerjaan Umum dan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Dalam menetapkan jenis-jenis retribusi ke dalam golongan Retribusi Jasa Umum digunakan kriteria sebagai berikut: a.jasa tersebut termasuk yang dalam kelompok daerah urusan dalam pemerintahan diserahkan kepada

rangka pelaksanaan asas desentralisasi; b.selain melayani kepentingan dan kemanfaatan umum, jasa tersebut memberi manfaat khusus bagi orang pribadi atau badan yang diharuskan pemungutan kriteria membayar dan retribusi, misalnya sampah pelayanan pelayanan memenuhi pembuangan sedangkan

dimaksud,

kebersihan jalan umum tidak memenuhi kriteria tersebut; c. dianggap layak apabila jasa tersebut hanya disediakan atau diberikan kepada orang pribadi atau badan yang membayar retribusi, contoh pelayanan kesehatan untuk perseorangan adalah layak untuk dikenai retribusi dengan syarat orang

yang

tidak

mampu

membayar

retribusi

diberikan

keringanan, sedangkan pelayanan pendidikan dasar tidak layak untuk dikenai retribusi; d.retribusi atas jasa tersebut tidak bertentangan dengan kebijaksanaan nasional mengenai penyelenggaraan jasa tersebut; e.retribusi tersebut dapat dipungut secara efektif dan efisien, serta merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang potensial; f. memungkinkan penyediaan jasa tersebut dengan tingkat dan atau kualitas pelayanan yang memadai. Dalam menetapkan jenis-jenis retribusi ke dalam golongan Retribusi Jasa Usaha digunakan kriteria sebagai berikut: a.jasa tersebut adalah jasa yang bersifat komersial yang seyogyanya disediakan oleh sektor swasta tetapi belum memadai, misalnya sarana pasar dan apotik; atau b.terdapatnya harta yang dimiliki/dikuasai Daerah yang belum dimanfaatkan secara penuh oleh Pemerintah Daerah, misalnya tanah, bangunan, dan alat-alat berat. Dalam menetapkan jenis-jenis retribusi ke dalam golongan Retribusi berikut: a.perizinan tersebut termasuk urusan pemerintahan yang diserahkan desentralisasi; b.perizinan tersebut benar-benar diperlukan guna melindungi kepentingan umum; kepada Daerah dalam rangka asas Perizinan Tertentu digunakan kriteria sebagai

c. perizinan tidak bertentangan atau tumpang tindih dengan perizinan yang diselenggarakan oleh tingkat pemerintahan yang lebih tinggi; d.biaya yang menjadi beban Daerah dalam penyelenggaraan perizinan tersebut cukup besar sehingga layak dibiayai sebagian atau seluruhnya dari retribusi perizinan. Kemudian dalam Pasal 19 berbunyi Jasa yang diselenggarakan oleh Badan Usaha Milik Daerah bukan merupakan objek retribusi. Jasa yang telah dikelola secara khusus oleh suatu Badan Usaha Milik Daerah tidak merupakan objek retribusi, tetapi sebagai penerimaan Badan Usaha Milik Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apabila Badan Usaha Milik Daerah memanfaatkan jasa atau perizinan tertentu yang diberikan oleh Pemerintah Daerah, maka Badan Usaha Milik Daerah wajib membayar retribusi. B. Cara Penghitungan Retribusi Pasal 20 menyebutkan, Besarnya retribusi yang terutang dihitung berdasarkan: a. Tingkat penggunaan jasa; b. Tarif retribusi. Besarnya retribusi yang harus dibayar oleh orang pribadi atau badan yang menggunakan jasa yang bersangkutan dihitung dari perkalian antara tingkat penggunaan jasa dan tarif retribusi. Tingkat penggunaan jasa dapat dinyatakan sebagai kuantitas penggunaan jasa sebagai dasar alokasi beban biaya yang

dipikul

daerah

untuk

penyelenggaraan

jasa

yang

bersangkutan, misalnya berapa kali masuk tempat rekreasi, berapa kali/berapa jam parkir kendaraan. Akan tetapi ada pula penggunaan jasa yang tidak dapat dengan mudah diukur. Dalam hal ini tingkat penggunaan jasa mungkin perlu ditaksir berdasarkan rumus. Misalnya mengenai izin bangunan, tingkat penggunaan jasa dapat ditaksir dengan rumus yang didasarkan atas luas tanah, luas lantai bangunan, jumlah tingkat bangunan, dan rencana penggunaan bangunan. Tarif retribusi adalah nilai rupiah atau persentase tertentu yang ditetapkan untuk menghitung besarnya retribusi yang terutang. Tarif dapat ditentukan seragam atau dapat diadakan pembedaan mengenai golongan tarif sesuai dengan prinsip dan sasaran tarif tertentu, misalnya pembedaan retribusi tempat rekreasi antara anak dan dewasa, retribusi parkir antara sepeda motor dan mobil, retribusi pasar antara kios dan los, retribusi sampah antara rumah tangga dan industri. Besarnya tarif dapat dinyatakan dalam rupiah per unit tingkat penggunaan jasa. Pasal 21 menyebutkan tentang Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif ditentukan sebagai berikut: a. untuk Retribusi jasa Jasa Umum, ditetapkan berdasarkan kemampuan kebijaksanaan Daerah dengan mempertimbangkan biaya penyediaan yang bersangkutan, masyarakat, dan aspek keadilan; b. untuk Retribusi Jasa Usaha, didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak; c. untuk Retribusi Perizinan Tertentu, didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau sama dengan biaya penyelenggaraan pemberian izin yang bersangkutan.

Penetapan

tarif

Retribusi

Jasa

Umum

pada

dasarnya

disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jenis-jenis retribusi yang berhubungan dengan kepentingan nasional. Di samping itu tetap memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat. Tarif Retribusi Jasa Usaha ditetapkan oleh Daerah sehingga dapat tercapai keuntungan yang layak, yaitu keuntungan yang dapat dianggap memadai jika jasa yang bersangkutan diselenggarakan oleh swasta. Tarif Retribusi Perizinan Tertentu ditetapkan sedemikian rupa sehingga hasil retribusi dapat menutup sebagian atau sama dengan perkiraan biaya yang diperlukan untuk menyediakan jasa yang bersangkutan. Untuk pemberian izin bangunan, misalnya, dapat diperhitungkan biaya pengecekan dan pengukuran lokasi, biaya pemetaan, dan biaya pengawasan. Cara perhitungan besarnya retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 serta prinsip dan sasaran penetapan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 diatur dengan Peraturan Pemerintah. Dalam Pasal 23 disebutkan bahwa Tarif retribusi ditinjau kembali secara berkala dengan memperhatikan prinsip dan sasaran penetapan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21. Kewenangan Daerah untuk meninjau kembali tarif secara berkala dan jangka waktunya, dimaksudkan untuk mengantisipasi perkembangan perekonomian daerah dari objek retribusi yang bersangkutan. C. Pengaturan Retribusi Oleh Daerah

Dalam Pasal 24 disebutkan bahwa Retribusi ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Peraturan Daerah tentang Retribusi tidak dapat berlaku surut. Peraturan Daerah tentang retribusi sekurang-kurangnya mengatur ketentuan mengenai: a. nama, objek, dan subjek retribusi; b. golongan retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2); c. cara d. prinsip mengukur yang tingkat dalam penggunaan penetapan jasa struktur yang dan bersangkutan; dianut besarnya tarif retribusi; e. struktur dan besarnya tarif retribusi; f. wilayah pemungutan; g. tata cara pemungutan; h. sanksi administrasi; i. tata cara penagihan; j. tanggal mulai berlakunya. Peraturan Daerah tentang Retribusi dapat mengatur

ketentuan mengenai: a. masa retribusi; b. pemberian keringanan, pengurangan, dan pembebasan dalam hal-hal tertentu atas pokok retribusi dan atau sanksinya; c. tata cara penghapusan piutang retribusi yang kedaluwarsa. Ketentuan dalam huruf d ini ditujukan agar Pemerintah Daerah menyatakan kebijaksanaan yang dianut dalam menetapkan tarif sehingga kebijaksanaan tersebut dapat diketahui oleh masyarakat. Mengenai jenis-jenis retribusi yang prinsip tarifnya telah ditetapkan dalam peraturan perundang-

undangan,

maka

Peraturan

Daerah

yang

bersangkutan

mencantumkan prinsip tersebut. Terhadap jenis-jenis retribusi lainnya, Peraturan Daerah menyatakan prinsip dan sasaran tarif sesuai dengan kebijaksanaan daerah. Ketentuan dalam huruf g ini termasuk mengatur tentang penentuan pembayaran, tempat pembayaran, angsuran, dan penundaan pembayaran. Dasar pemberian pengurangan dan keringanan dikaitkan dengan kemampuan Wajib Retribusi, sedangkan pembebasan retribusi dikaitkan dengan fungsi objek retribusi. Misalnya, retribusi tempat rekreasi diberikan keringanan untuk orang jompo, cacat, dan anak sekolah. Untuk pembebasan retribusi, misalnya, pelayanan kesehatan bagi korban bencana alam. D. Tata Cara Pemungutan Tata Cara Pemungutan terdapat dalam Pasal 26 yang

berbunyi pemungutan retribusi tidak dapat diborongkan. Yang dimaksud dengan tidak dapat diborongkan adalah bahwa seluruh proses kegiatan pemungutan retribusi tidak dapat diserahkan kepada pihak ketiga. Namun, dalam pengertian ini bukan berarti bahwa Pemerintah Daerah tidak boleh bekerja sama dengan pihak ketiga. Dengan sangat selektif dalam proses pemungutan retribusi, Pemerintah Daerah dapat mengajak bekerja sama badan-badan tertentu yang karena profesionalismenya layak dipercaya untuk ikut melaksanakan sebagian tugas pemungutan jenis retribusi secara efisien. Kegiatan pemungutan dengan retribusi pihak yang tidak dapat kegiatan dikerjasamakan ketiga adalah

penghitungan

besarnya

retribusi

terutang,

pengawasan

penyetoran retribusi, dan penagihan retribusi. Kemudian Pasal 27 berbunyi Retribusi dipungut dengan menggunakan Surat Ketetapan Retribusi Daerah atau dokumen lain yang dipersamakan. Dalam hal Wajib Retribusi tertentu tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan dari retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan Surat Tagihan Retribusi Daerah. Yang dimaksud dengan dokumen lain yang dipersamakan, antara lain, berupa karcis masuk, kupon, kartu langganan. Pasal 28 berbunyi Wajib Retribusi tertentu dapat mengajukan keberatan hanya kepada Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk atas Surat Ketetapan Retribusi Daerah atau dokumen lain yang dipersamakan. Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas. Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal Surat Ketetapan Retribusi Daerah diterbitkan, kecuali apabila Wajib Retribusi tertentu dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasannya. Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar retribusi dan pelaksanaan penagihan retribusi. Yang dimaksud dengan keadaan di luar kekuasaannya adalah suatu keadaan yang terjadi di luar kehendak/kekuasaan Wajib

Retribusi, misalnya, karena Wajib Retribusi sakit atau terkena musibah bencana alam.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Objek retribusi terdiri dari Jasa Umum, Jasa Usaha dan Perizinan Tertentu. Objek retribusi adalah berbagai jenis jasa tertentu yang disediakan oleh Pemerintah Daerah.Tidak semua jasa yang diberikan oleh Pemerintah Daerah dapat dipungut retribusinya, namun hanya jenis-jenis jasa tertentu yang menurut pertimbangan sosial-ekonomi layak untuk dijadikan sebagai objek retribusi. Jasa tertentu tersebut dikelompokkan dalam tiga golongan, yaitu Jasa Umum, Jasa Usaha, dan Perizinan Tertentu.

B.

Saran Pajak daerah dan pajak nasional merupakann satu sistem perpajakan Indonesia, yang pada dasarnya merupakan beban masyarakat sehingga perlu dijaga agar kebijaksanaan

perpajakan tersebut dapat memberikan beban yang adil. Sejalan dengan perpajakan nasional, maka pembinaan pajak daerah nasional. harus dilakukan ini secara harus terpadu dilakukan dengan secara pajak terusPembinaan

menerus, terutama mengenai objek dan tarif pajaknya antara pajak pusat dan pajak daerah tersebut saling melengkapi.

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. 4. Undang-Undang Dasar 1945. Undang-undang Nomor 11 Drt. Tahun 1957 tentang Peraturan Umum Pajak Daerah. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. UU Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah.