Anda di halaman 1dari 3

Sebuah Nama

Mungkin aku adalah orang yang paling malang di dunia ini. Si Tanpa Nama, begitulah orang-orang memanggilku. Julukan itu kudapat karena orang tua kandungku meninggal tanpa sempat memberiku nama. Begitu juga dengan paman dan bibi yang mengabdosiku juga meninggal dunia sebelum memberikan sebuah nama. Begitulah cerita yang ada di desaku. Sejak bayi aku diasuh oleh seorang kakek yang miskin dan bisu. Kakek itu pun juga tidak bisa menulis. Penduduk di kampung memberikan makanan seikhlasnya pada kami berdua. Begitulah cara kami bertahan hidup dengan memanfaatkan makanan yang telah diberikan walaupun makanan tersebut memang kurang layak dikonsumsi. Enam tahun telah berlalu sejak kakek memungutku. Kesehatan kakek pun sudah nampak sudah tidak bisa bertahan lagi karena sakit. Aku pun tidak tahu apa yang harus diperbuat. Sehari setelah itu kakek pun meninggal. Aku sangat sedih karena aku tidak memiliki siapapun di desaku. Bahkan orang-orang di desa enggan berbicara padaku. Mereka menganggap aku seperti pembawa bencana bagi siapapun yang dekat denganku. Aku sendiri telah hilang harapan pada kehidupan ini. Tanpa keluarga, tanpa harta, yang kupunya hanyalah gubuk tua yang ditinggalkan kakek. Setelah kematian kakek, aku pun harus berjuang hidup sendiri karena para penduduk sudah tidak pernah lagi memberikan makanan. Setiap pagi aku pergi ke hutan untuk keperluan makan sehari-hari. Bahkan pakaian yang kupakai pun adalah bekas pakaian kakek. Kehidupan ini seakan tidak memberikan sebuah ruang untuk aku hidup dengan nyaman. Berulang kali aku mencoba mengajak bermain anak-anak penduduk, namun mereka tetap menjauhiku. Segala cara sudah kucoba sampai-sampai aku harus menampakkan senyum palsu pada para penduduk. Mengingat kejadian itu, aku selalu ingin bunuh diri. Hidup bertahuntahun tanpa teman, seakan-akan tubuh ini tidak memiliki jiwa. Mereka memang jahat dan kejam. Kemudian aku memutuskan untuk meninggalkan desa itu, meninggalkan gubuk tua yang pernah membesarkanku. Untuk apa terus hidup di tempat yang tidak bisa menerimaku. Keesokan pagi pun aku berangkat meninggalkan desa. Sebelum pergi, aku mengunjungi makam keluargaku, paman , bibi dan makam kakek. Aku hanya ingin mereka tahu

bahwa aku akan meninggalkan desa ini untuk mencari kehidupan yang lebih layak. Entah telah berapa lama sejak aku meninggalkan desa. Melangkah kemana pun arah angin berhembus. Tapi sedikit pun aku tidak menemukan seseorang. Memang sudah sewajarnya, karena desaku memang terpencil dan terletak dipertengahan hutan. Hari demi hari telah berlalu. Lalu aku melihat sebuah rumah kecil dari kejauhan. Lalu aku bergegas mempercepat langkahku menuju rumah itu sambil berharap ada yang memberiku air dan makanan. Saat sampai di sana, aku melihat seorang pria tua bersama wanita tua yang duduk sambil menatap padang rumput yang luas. Aku pun menghampiri mereka. Mereka menatapkan dengan sorot mata yang berbeda dari sorotan mata para penduduk di desa. Pria tua itu mengajakku masuk dan memberikan makanan seadanya. Setelah berbincang-bincang tentang masa laluku, pria tua itu kemudian menawarkan agar aku menginap di rumahnya. Aku pun bersedia memenuhi tawaran pria tua itu. Mereka berdua sangat ramah padaku walaupun aku tidak memiliki hubungan darah dengan mereka. Bocah Kecil, begitulah mereka memanggilku yang tanpa nama ini. Suatu hari pria tua itu mengajakku untuk berburu rusa di hutan. Rusa itu nantinya akan dibuatkan makanan nanti sore. Saat berjalan menuju hutan, pria tua itu tiba-tiba bertanya padaku, apa kamu tahu arti sebuah perang dalam kehidupan ini? Lalu aku menjawab tidak tahu. Bagi orangorang biasa arti perang itu adalah sebuah pertikaian antarmanusia yang tamak. Namun bagiku sendiri perang adalah tempat dimana kaum muda mati sebagai prajurit kemudian pemimpinnya menjadi pemegang kekuasaan. Setelah itu para orang tua akan berkomentar. Prajurit yang masih hidup maupun yang sudah mati ditelentarkan begitu saja. Begitulah yang kutahu sejak perang melawan penjajah dulu, ujar pria tua itu. Mendengar itu aku pun berpikir tentang arti perang itu dalam kehidupanku. Sambil memikirkan hal itu tanpa sadar aku telah sampai di hutan. Kemudian aku pun diajari berburu oleh pria mantan pejuang itu. Kami bersyukur hari ini mendapat buruan yang lumayan untuk makan nanti. Harihari menyenangkan aku lewati bersama mereka. Mereka seperti keluarga baru dalam kehidupanku. Namun tetap saja nasib malang menimpaku. Aku tidak akan pernah melupakan hari itu. Hari dimana kobaran api melahap rumah itu. Entah darimana asal api tersebut. Aku pun menjadi binggung karena ketika bangun semua rumah sudah hangus terbakar, wanita tua yang

tidur disampingku sudah tidak berdaya karena asap yang banyak dihirup. Aku pun setengah sadar dan mendengar langkah tergesa-gesa ke arah kami. Ternyata pria tua itu berusaha mengeluarkan kami dari sana. Namun memang sial nasibnya, ketika hampir keluar, tiba-tiba tiang penyangga rumah roboh dan menimpa pria tua tersebut. Ia lalu melemparku keluar rumah. Aku ingin menolong tapi pria tua itu melarangku masuk karena kondisi rumah sangat berbahaya. Aku berteriak keras meminta tolong. Tetapi tidak ada seorang pun yang datang. Pria tua itu terlihat pasrah dan mengucapkan kata-kata terakhirnya padaku. Kehidupan setelah ini adalah perangmu, teruslah hidup, tetaplah tegar dan hiduplah dengan nama Ksatria karena sudah banyak yang kau alami, kata pria itu. Akhirnya aku pun tidak bisa melakukan apa-apa karena tubuhku sangat kesakitan. Saat itu aku berpikir seandainya aku lebih kuat maka aku akan bisa menolong mereka. Aku hanya bisa menatap mereka yang terbakar api sambil berteriak. Sehari setelah memakamkan mereka, dengan sedih aku pun pergi meninggalkan tempat itu menuju sebuah kehidupan baru. Tapi aku harus tetap tegar sesuai pesan beliau. Sekarang aku pun mencari kehidupanku dengan nama pemberian beliau yaitu Ksatria.

Natha Kusuma SIXSMA