Anda di halaman 1dari 4

Nama : M.

Wahyudi Heru P E03207006


Uswatun Hasanah
Mata Kuliah : Ushul Fiqh
Dosen Pembimbing :

Karakteristik Hukum Islam

Sebagai sebuah agama penyempurna, Islam datang dengan membawa aturan


dan hukum untuk umat manusia. Hukum yang ada di dalam Islam adalah
berdasarkan ketetapan Allah yang disampaikan melalui Nabi Muhammad sebagai
utusan-Nya. Oleh karena itu, terdapat berbagai perbedaan antara hukum Islam
dengan hukum-hukum lain buatan manusia. Hukum Islam memiliki keistimewaan
dan karakteristik khusus, antara lain sebagai berikut:

1. Hukum Islam didasarkan pada wahyu Ilahi

Keistimewaan hukum Islam dibanding undang-undang buatan manusia


adalah bahwa hukum Islam bersumber pada wahyu Allah yang tersurat dalam Al
Qur'an dan sunnah Nabi. Maka setiap mujtahid dalam melakukan istimbath
(penggalian) hukum-hukum syara' selalu merujuk pada dua sumber tersebut, baik
secara langsung maupun melalui yang tersirat darinya, yaitu dengan memahami
ruh syari'at, tujuan-tujuannya secara umum, kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip
umum.1

Jadi pada dasarnya, setiap hukum Islam pasti didasarkan pada Al Qur'an dan
As Sunnah meskipun hanya dengan mengambil yang tersirat dari keduanya.
Sebagai contoh, digunakannya urf, mashlahah mursalah, istihsan, dan lain lain
dalam pengambilan hukum syara' oleh seorang mujtahid, bukan berarti bahwa
mujtahid tersebut meninggalkan Al Qur'an dan As Sunnah, namun hal itu
dilakukan setelah terlebih dahulu memahami ruh syari'at yang tersirat pada nash
Al Qur'an dan As Sunnah, berupa tujuan, kaidah dan prinsip-prinsip umumnya.

Tujuan Syari' dalam pembentukan hukumnya yaitu merealisir kemaslahatan


manusia dengan menjamin kebutuhan pokoknya (dloruriyah) dan memenuhi
kebutuhan sekunder (hajiyah) serta melengkapi kebutuhan pelengkap (tahsiniyah)
mereka. Jadi setiap hukum syara' tidak ada tujuan kecuali salah satu dari tiga

1
, Syariat Islam, Pergumulan Teks dan Realitas, , ,
, hal. 82
unsur tersebut, dimana dari tiga unsur tersebut dapat terbukti kemaslahatan
manusia.1

2. Hukum Islam bersifat komprehensif

Hukum Islam bersifat komprehensif, yakni mencakup seluruh tuntutan


kehidupan manusia. Disini akan sangat tampak kelebihan hukum Islam dibanding
dengan undang-undang yang lain, karena hukum Islam mencakup tiga aspek
hubungan, yaitu manusia dengan Tuhannya, manusia dengan dirinya sendiri dan
manusia dengan masyarakatnya.

Oleh karena itu, hukum Islam yang terkait dengan perbuatan seorang
mukallaf selalu mencakup dua aspek, yaitu hukum-hukum ibadah dan hukum-
hukum mu'amalah. Hukum ibadah meliputi segala hal yang terkait dengan
hukum-hukum yang dimaksudkan untuk mengatur hubungan antara manusia
dengan Tuhannya. Sedangkan hukum-hukum mu'amalah meliputi segala hal yang
dimaksudkan untuk mengatur hubungan sesama manusia, baik bersifat pribadi
maupun kelompok.2

3. Hukum Islam terkait dengan masalah akhlak/moral

Hukum Islam berbeda dengan undang-undang pada umumnya, karena ia


terpengaruh dengan tatanan moral, bahkan sebagaimana ditegaskan oleh Nabi
Muhammmad, bahwa Islam datang untuk menyempurnakan akhlak/moral
manusia. Hal ini sangat berbeda dengan hukum positif buatan manusia yang
hanya mengacu pada aspek manfaat, yaitu menjaga sistem dan stabilitas
masyarakat meskipun kadang menghancurkan sebagian prinsip moral.

Adapun hukum Islam bertujuan menjaga keutamaan, idealitas dan tegaknya


moralitas. Diharamkannya riba misalnya, dimaksudkan untuk menyebarkan
semangat tolong-menolong (ruh ta'awun) kasih sayang di antara manusia dan
melindungi orang-orang miskin dari keserakahan para pemilik harta. Demikian

1
Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, Maktabah ad-Da'wah al-Islamiyyah, Mesir, 1956, hal.
197
2
, hal. 83
pula diharamkannya minuman keras yang dimaksudkan untuk menjaga akal yang
salah satu fungsinya adalah sebagai tolak ukur baik dan buruk.1

4. Adanya orientasi kolektivitas dalam hukum Islam

Artinya, dalam hukum Islam itu selalu menjaga kemaslahatan individu dan
sosial secara bersama-sama, tanpa harus melanggar hak orang lain. Ooleh karena
itu, kemaslahatan yang bersifat umum atau sosial harus didahulukan dibanding
dengan kemaslahatan yang bersifat individual terutama ketika terjadi
peretentangan antara keduanya.2

5. Hukum Islam berbicara tentang halal-haram

Dalam hukum Islam selalu ada pemikiran mengenai halal-haram terhadap


setiap tindakan, tidak hanya pada persoalan-persoalan yang bersifat duniawi, tapi
juga yang bersifat ukhrawi. Hukum duniawi titik tekannya adalah pada hal-hal
yang tampak atau eksoteris dan tidak mempersoalkan hal-hal yang bersifat
esoteris. Dan itulah yang disebut keputusan hukum (al hukmu al qada'i) dari
seorang hakim. Oleh karena itu seorang hakim hanya memutuskan hukum
berdasarkan bukti-bukti formal saja.oleh karena itu, sebenarnya keputusan hakim
tidak dapat merubah yang halal menjadi haram atau sebaliknya.

Sedangkan hukum akhirat itu didasarkan pada kebenaran material yang


hakiki, meskipun bagi seseorang (misalnya hakim) hal itu sangat samar dan tidak
tampak. Sebab yang memutuskan dalam hal ini adalah Allah dan diberlakukan
langsung kepada hamba-hamba-Nya.

6. Hukuman bagi pelanggar hukum di dunia dan akhirat

Ciri khusus lain yang membedakan hukum Islam dengan hukum-hukum lain
buatan manusia adalah bahwa hukum Islam memberikan sangsi hukuman bagi
yang melanggar pada dua hal, yaitu hukuman dunia, baik berupa hukuman hudud
yang sudah ditentukan maupun ta'zir yang yang tidak ditentukan, dan hukuman
akhirat.

1
, hal 87-88
2
, hal. 89-90