Anda di halaman 1dari 29

GANGGUAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

I. Pendahuluan Di dalam tubuh manusia terdapat berbagai proses fisiko-kimia, enzimatik dan biolistrik yang berada dalam keadaan seimbang dan bekerja secara harmonis dan berfungsi optimal dalam kondisi tertentu. Tubuh selalu berusaha agar seluruh nilai berada dalam batas normal atau dengan kata lain, set-point di dalam tubuh berada dalam suatu rentang yang konstan melalui proses yang disebut homeostasis. Dengan demikian, homeostasis adalah sistem kontrol tubuh dalam mempertahankan nilai-nilai berbagai faktor realtif stabil pada suatu set point. Pada keadaan ini, seluruh sistem metabolisme bekerja sama secara harmonis satu dengan yang lain dalam menjalankan fungsinya.1 Salah satu syarat agar seluruh sistem metabolisme tubuh dapat bekerja sama secara optimal ialah konsentrasi atom hidrogen atau pH berada dalam

rentang normal. Sebagian besar enzim yang terlibat dalam proses metabolisme bekerja optimal jika pH tubuh berkisar antara 7,35-7,45. Perubahan pH akan menyebabkan perubahan struktur dan fungsi enzim serta berbagai proses metabolisme tubuh. Nilai pH normal tersebut dipertahanan oleh berbagai faktor, antara lain keseimbangan air dan elektrolit, sistem buffer, serta sistem respirasi dan ginjal. Bila sistem buffer, respirasi dan ginjal tidak mampu mengantisipasi dan melakukan kompensasi, maka timbul gangguan fungsi organ tubuh.1

II. Air dan Elektrolit

II.1.Air Air merupakan bagian terbesar pada tubuh manusia, persentasenya dapat berubah tergantung pada umur, jenis kelamin dan derajat obesitas seseorang. Pada bayi usia < 1 tahun cairan tubuh adalah sekitar 80-85% berat badan dan pada bayi usia > 1 tahun mengandung air sebanyak 70-75 %. Seiring dengan pertumbuhan seseorang persentase jumlah cairan terhadap berat badan berangsur-angsur turun yaitu pada laki-laki dewasa 50-60% berat badan, sedangkan pada wanita dewasa 50 % berat badan.2 Hal ini terlihat pada tabel berikut :

Tabel.1 Perubahan cairan tubuh total sesuai usia

Usiailog Be rat (%)

II.2.Elektrolit

Elektrolit adalah molekul anorganik terlarut yang berperan sebagai ion dalam konduksi aliran listrik.1 Merupakan zat yang terdisosiasi dalam cairan dan menghantarkan arus listrik. Elektrolit dibedakan menjadi ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Jumlah kation dan anion dalam larutan adalah selalu sama (diukur dalam miliekuivalen).3 Kation

Kation utama dalam cairan ekstraselular adalah sodium (Na+), sedangkan kation utama dalam cairan intraselular adalah potassium (K+). Suatu sistem pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa keluar sodium dan potassium ini. Anion

Anion utama dalam cairan ekstraselular adalah klorida (Cl-) dan bikarbonat (HCO3-), sedangkan anion utama dalam cairan intraselular adalah ion fosfat (PO43-). Karena kandungan elektrolit dalam plasma dan cairan interstitial pada intinya sama maka nilai elektrolit plasma mencerminkan komposisi dari cairan ekstraseluler tetapi tidak mencerminkan komposisi cairan intraseluler.3 a. Natrium Natrium sebagai kation utama didalam cairan ekstraseluler dan paling berperan di dalam mengatur keseimbangan cairan. Kadar natrium plasma: 135-145mEq/liter.4 Kadar natrium dalam plasma diatur lewat beberapa mekanisme: - Left atrial stretch reseptor - Central baroreseptor - Renal afferent baroreseptor - Aldosterone (reabsorpsi di ginjal)

- Atrial natriuretic factor - Sistem renin angiotensin - Sekresi ADH - Perubahan yang terjadi pada air tubuh total (TBW=Total Body Water) Kadar natrium dalam tubuh 58,5mEq/kgBB dimana + 70% atau 40,5mEq/kgBB dapat berubah-ubah. Ekresi natrium dalam urine 100-180mEq/liter, faeces 35mEq/liter dan keringat 58mEq/liter. Kebutuhan setiap hari = 100mEq (6-15 gram NaCl).5 Natrium dapat bergerak cepat antara ruang intravaskuler dan interstitial maupun ke dalam dan keluar sel. Apabila tubuh banyak mengeluarkan natrium (muntah,diare) sedangkan pemasukkan terbatas maka akan terjadi keadaan dehidrasi disertai kekurangan natrium. Kekurangan air dan natrium dalam plasma akan diganti dengan air dan natrium dari cairan interstitial. Apabila kehilangan cairan terus berlangsung, air akan ditarik dari dalam sel dan apabila volume plasma tetap tidak dapat dipertahankan terjadilah kegagalan sirkulasi. 5

b. Kalium Kalium merupakan kation utama (99%) di dalam cairan ekstraseluler berperan penting di dalam terapi gangguan keseimbangan air dan elektrolit. Jumlah kalium dalam tubuh sekitar 53 mEq/kgBB dimana 99% dapat berubah-ubah sedangkan yang tidak dapat berpindah adalah kalium yang terikat dengan protein didalam sel.5 Kadar kalium plasma 3,5-5,0 mEq/liter, kebutuhan setiap hari 1-3 mEq/kgBB. Keseimbangan kalium sangat berhubungan dengan konsentrasi H+ ekstraseluler. Ekskresi

kalium lewat urine 60-90 mEq/liter, faeces 72 mEq/liter dan keringat 10 mEq/liter. 6

c. Kalsium Kalsium dapat dalam makanan dan minuman, terutama susu, 80-90% dikeluarkan lewat faeces dan sekitar 20% lewat urine. Jumlah pengeluaran ini tergantung pada intake, besarnya tulang, keadaan endokrin. Metabolisme kalsium sangat dipengaruhi oleh kelenjar-kelenjar paratiroid, tiroid, testis, ovarium, da hipofisis. Sebagian besar (99%) ditemukan didalam gigi dan + 1% dalam cairan ekstraseluler dan tidak terdapat dalam sel.5

d. Magnesium Magnesium ditemukan di semua jenis makanan. Kebutuhan untuk pertumbuhan +10 mg/hari. Dikeluarkan lewat urine dan faeces. 5

e. Karbonat Asam karbonat dan karbohidrat terdapat dalam tubuh sebagai salah satu hasil akhir daripada metabolisme. Kadar bikarbonat dikontrol oleh ginjal. Sedikit sekali bikarbonat yang akan dikeluarkan urine. Asam bikarbonat dikontrol oleh paruparu dan sangat penting peranannya dalam keseimbangan asam basa.5 Non elektrolit

Merupakan zat seperti glukosa dan urea yang tidak terdisosiasi dalam cairan. Zat lainya termasuk penting adalah kreatinin dan bilirubin.3

Gambar 1. Susunan Kimia Cairan Ekstraseluler dan Intraseluler5 Diambil dari Guyton & Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 2:56

I. Fisiologi Keseimbangan Air dan Elektrolit I.1. Karakteristik air dalam fisiologi Air adalah senyawa esensial untuk semua makhluk hidup dan mempunyai beberapa karakteristik fisiologik:

Media utama pada reaksi intrasel Diperlukan oleh sel untuk mempertahankan kehidupan. Hampir semua reaksi biokimia tubuh terjadi dalam media air, sehingga dapat dikatakan bahwa air merupakan pelarut untuk kehidupan.

Pelarut terbaik untuk solut polar dan ionik. Media transpor pada sistem sirkulasi, ruang di sekitar sel (ruang intravaskuler, interstisium), dan intra sel

Mempunyai panas jenis, panas penguapan, dan daya hantar panas yang tinggi sehingga berperan penting dalam pengaturan suhu tubuh.1

I.1. Jumlah Cairan Tubuh

Total body water (air tubuh total) dapat ditentukan melalui beberapa perhitungan yang menerapkan teknik dilusi dengan menggunakan berbagai zat seperti duterium, tritium, dan antipirin. Penentuan jumlah cairan ekstrasel

biasanya diukur secara langsung akan tetapi lebih sulit dibandingkan pengukuran air tubuh total. Hal ini disebabkan bahan yang digunakan dalam proses dilusi harus hanya terdapat pada cairan ekstrasel dan tersebar pada seluruh kompartemen ekstrasel.1 Beberapa cara mengukur kompatemen cairan tubuh, yaitu:1 a. Pengukuran cairan kompartemen tubuh berdasarkan konsentrasi suatu zat di dalam kompartemen:

Konsentrasi zat = jumlah zat disuntikanvolume distribusi

b. Dalam melakukan pengukuran jumlah air di kompartemen, perlu dilakukan

perhitungan (koreksi) zat zat yang dieskresikan dalam kurun waktu yang dibutuhkan oleh zat tersebut sejak disuntikkan dan terdistribusi ke dalam kompatemen.

Vd : Jumlah zat disuntikan-Jumlah diekskresikanKonsentrasi setelah


ekuilibrium

c. Untuk mengukur volume cairan kompartemen, diperhitungkan zat tertentu

yang terdistribusi dengan sendirinya di dalam kompartemen. Sementara pengukuran volume kompartemen yang tidak mengandung zat tertentu, dilakukan dengan melakukan pengurangan.1 Untuk mengukur jumlah total air tubuh (total body water, TBW) dibubuhkan zat deuterium atau disebut deuterated water (D2O), tritium atau disebut tritiated water (THO), dan antipirin. Volume ekstraseluler (extracellular fluid volume, ECFV) diukur dengan melakukan pemberian label dengan inulin, sukrosa, mannitol dan sulfat. Volume plasma (plasma volume, PV) diukur dengan melakukan pemberian label radioaktif, yaitu radiolabeled albumin atau zat warna biru Evans (Evans blue dye yang berikatan dengan albumin). Volume intraselular (intracellular fluid volume, ICFV) diukur dengan melakukan substraksi :

ICF = TBW ECFV

Volume cairan interstisium (interstitial fluid volume, ISFV) diukur dengan melakukan substraksi :

ISFV = ECFV - PV

Jumlah cairan tubuh total kurang lebih 55-60% dari berat badan dan persentase ini berhubungan dengan jumlah lemak dalam tubuh, jenis kelamin dan

umur. Pengaruh terbesar berhubungan dengan jumlah lemak tubuh. Kandiungna air di dalam sel lemak lebih rendah dibandingkan kandungan air dalam sel otot, sehingga cairan tubuh total pada orang yang gemuk lebih rendah dari mereka yang tidak gemuk. Pada bayi dan anak, persentase cairan tubuh total lbih besar dibanding dengan orang dewasa dan akan menurun sesuai dengan pertambahan usia. Pada bayi prematur jumlah cairan tubuh total sebesar 70-75% dari berat badan, sedangkan pada bayi normal dan pada orang dewasa sebesar 55-60% dari berat badan. Kadar lemak pada wanita umumnyalebih bayak dibadning dengan pria, sedangkan kadar air pada pria lebih besar dari pada wanita. Makin tua seseorang, biasanya jumlah lemaknya meningkat sedngkan jumlah airnya makin berkurang. 1 Bila diperkirakan sekitar 55% berat tubuh merupakan air, maka perhitungan cairan tubuh total menggunakan rumus :

Jumlah total air tubuh (L) = Berat badan (Kg) x 55%

Perhitungan

ini

hanya

berlaku

untuk

individu

dalam

keadaan

keseimbagnan air tubuh normal. Untuk orang dewasa obesitas hasil penghitungan rumus ini dikurangi 10%, sedangkan untuk orang kurus ditambahkan 10%. Pada keadan dehidrasi berat, air tubuh total berkurang sekitar 10% maka pada keadaan dehidrasi berat air tubuh total dihitung dengan menggunakan rumus:

Jumlah air total tubuh (L) = 0,9 x Berat badan (Kg) x 55%

Perhitungan di atas tidak dapat digunakan pada keadaan edema karena kemungkinan kesalahan sangat besar.

3,3. Distribusi Cairan Tubuh Seluruh cairan tubuh didistribusikan ke dalam kompartemen intraselular dan kompartemen ekstraselular. Lebih jauh kompartemen ekstraselular dibagi menjadi cairanintravaskular dan intersisial.6 Cairan intraselular

Cairan yang terkandung di antara sel disebut cairan intraselular. Pada orang dewasa, sekitar duapertiga dari cairan dalam tubuhnya terdapat di intraselular (sekitar 27 liter rata-rata untuk dewasa laki-laki dengan berat badan sekitar 70 kilogram), sebaliknya pada bayi hanya setengah dari berat badannya merupakan cairan intraselular.6

Cairan ekstraselular

Cairan yang berada di luar sel disebut cairan ekstraselular. Jumlah relatif cairan ekstraselular berkurang seiring dengan usia. Pada bayi baru lahir, sekitar setengah dari cairan tubuh terdapat di cairan ekstraselular. Setelah usia 1 tahun, jumlah cairan ekstraselular menurun sampai sekitar sepertiga dari volume total. Ini sebanding dengan sekitar 15 liter pada dewasa muda dengan berat rata-rata 70 kg.6 Cairan ekstraselular dibagi menjadi6 : Cairan Interstitial

Cairan yang mengelilingi sel termasuk dalam cairan interstitial, sekitar 11- 12 liter pada orang dewasa. Cairan limfe termasuk dalam volume interstitial. Relatif terhadap ukuran tubuh, volume ISF adalah sekitar 2 kali lipat pada bayi baru lahir dibandingkan orang dewasa.6 Cairan Intravaskular

Merupakan cairan yang terkandung dalam pembuluh darah (contohnya volume plasma). Rata-rata volume darah orang dewasa sekitar 5-6L dimana 3 liternya merupakan plasma, sisanya terdiri dari sel darah merah, sel darah putih dan platelet.6 Cairan transeluler

Merupakan cairan yang terkandung diantara rongga tubuh tertentu seperti serebrospinal, perikardial, pleura, sendi sinovial, intraokular dan sekresi saluran pencernaan. Pada keadaan sewaktu, volume cairan transeluler adalah sekitar 1 liter, tetapi cairan dalam jumlah banyak dapat masuk dan keluar dari ruang transeluler.6 Perubahan jumlah dan komposisi cairan tubuh, yang dapat terjadi pada perdarahan, luka bakar, dehidrasi, muntah, diare, dan puasa preoperatif maupun perioperatif, dapat menyebabkan gangguan fisiologis yang berat. Jika gangguan tersebut tidak dikoreksi secara adekuat sebelum tindakan anestesi dan bedah, maka resiko penderita menjadi lebih besar.2 Cairan ekstrasel berperan sebagai : Pengantar semua keperluan sel (nutrien, oksigen, berbagai ion, trace mierals, dan regulator hormon/molekul).

Pengangkut CO2 sisa metabolisme, bahan toksik atau bahan yang telah mengalami detoksifikasi dari sekitar lingkungan sel.1

Diagram 1. Distribusi cairan tubuh

I.1. Pergerakan Cairan Tubuh

Pergerakan cairan tubuh (hidrodinamik) mencakup penyerapan air di usus, masuk ke pembuluh darah dan beredar ke seluruh tubuh. Pada pembuluh kapiler, air mengalami filtrasi ke ruang interstisium dan selanjutnya masuk ke dalam sel melalui proses difusi, sebaliknya air dari dalam sel keluar kembali ke ruang interstisium dan masuk ke pembuluh darah.1 Pergerakan air juga meliputi filtrasi air di ginjal (sebagian kecil dibuang sebagai urin), ekskresi air ke saluran cerna sebagai liur pencernaan (umumnya

diserap kembali) serta pergerakan air ke kulit dan saluran nafas yang keluar sebagai kerinat dan uap air. Pergerakan cairan tersebut bergantung kepada tekanan hidorostatik dan osmotik.1

I.2. Konsep Homeostasis

Sel-sel tubuh hanya dapat hidup dan berfungsi bila berada/terendam dalam cairan ekstrasel yang sesuai. Cairan ekstrasel ini biasa juga disebut lingkungan dalam tubuh (milieu interieur). Lingkungan dalam tubuh ini boleh dikatakan selalu konstan dan hanya dapat berdeviasi (berubah) dalam kisaran yang sangat sempit. Contoh: pH darah 7.40, hanya boleh berdeviasi antara 7.38-7.42. proses mempertahankan lingkungan dalam yang relatif stabil ini disebut homeostatis.1 Berbagai faktor lingkungan dalam yang harus dipertahankan dengan mekanisme tertentu, antara lain:

Kadar molekul nutrien yang diperlukan untuk metabolisme, misalnya kadar glukosa darah. Bila kadar glukosa darah meningkat, akan disekresi lebih banyak insulin; bila kadar glukosa darah menurun akan disekresi berbagai hormon seperti glukagon untuk meningkatkan glukosa darah.

O2 yang terus dipakai dan harus selalu digantikan, CO2 yang terus dihasilkan dan harus dikeluarkan dalam jumlah yang sesuai. Bila kadar O2 darah arteri menururn atau kadar CO2 darah arteri meningkat, akn terjadi perangsangan dan peningkatan ventilasi.

Kadar sisa metabolisme. Sisa metabolisme jangan sampai menimbulkan gangguan (toksis), dengan meningkatkan pengeluaran misal (CO2), ginjal dan hati. melalui paru

Keasaman pH. Gangguan akibat perubahan pH terutama pada elektrofisiologi. Berbagai reaksi dalam sistem homeostasis akan segera mengatasi hal ini.

Kadar air, garam-garam dan elektrolit lain, melalui berbagai hormon seperti ADH, aldosteron, ANP dan rasa haus.1 Suhu tubuh, yang umumnya berkisar sekitar 37CO. berbagai reaksi tubuh

akan timbul bila ada peningkatan suhu tubuh, seperti berkeringat dan vasodilatasi atau vasokonstriksi dan menggigil bila suhu tubuh terlalu rendah. Volume dan tekanan, misalnya peningkatan atau penurunan volume darah, tekanan darah, dengan berbagai respons yang sesuai.1

Homeostatis air Perubahan volume cauran ekstraselular dalam jumlah kecil tidak akan memberi reaksi fisiologik. Keseimbangan cairan dipertahankan dengan mengatur volume dan osmolaritas cairan ekstrasel. Bila terjadi peningkatan volume dalam jumlah besar akan timbul mekanisme koreksi yang serupa dengan pengaturan volume dan tekanan darah.1 Peningkatan volume cairan ekstrasel akan meningkatkan volume darah dan tekanan darah dan sebaliknya. Jadi, pengaturan volume cairan ekstrasel penting dalam pengaturan tekanan darah. Oleh karena itu, pemantauan jumlah cairan ekstraselular dilakukan dengan melakukan pemantauan tekanan darah.1 Bila asupan (intake) air terlalu banyak, akan segera dikeluarkan dengan mengurangi sekresi ADH (antidiuretic hormone) dari hipofisis posterior, yang mengurangi reabsorpsi air air di tubulus distal dan duktus koligentes nefron ginjal. Peningkatan volume plasma akan diikuti oleh berkurangnya venous return, yang

akan meregang dinding atrium. Dengan adanya rangsangan pada reseptor (berupa baroreseptoryang berada di sinus karotid, sinus aorta dan dinding atrium kanan) akan merangsang pelepasan Atrial Natriuretic Peptide (ANP) yang menimbulkan blokade pada sekresi aldosteron dan diikuti peningkatan pengeluaran natrium dan air melalui urin.1 Pada keadaan hipovolumia baik karena kekurangan intake atau pengeluaran berlebihan seperti pada diare dan muntah-muntah, tubuh berusaha menghambat pengeluaran air lebih lanjut dengan menambah sekresi ADH, yang meningkatkan reabsorpsi air di ginjal. Juga timbul rasa haus dan dorongan untuk minum, agar kekurangan itu segera teratasi.1 Pada saat terjadi penurunan volume cairan ekstraselular, volume dan tekanan darah akan berkurang. Hal ini akan menimbulkan rangsangan pada sistem renin-angiotensin sehingga timbul respons berupa pengurangan produksi urin (restriksi pengeluaran cairan), rangsangan haus yang disertai dengan meningkatnya pemasukan cairan yang selanjutnya akan meningkatkan volume cairan

ekstraselular. Keseimbangan cairan dipertahankan dengan mengatur volume dan osmolaritas cairan ekstrasel.1 Mekanisme homeostasis air dan elektrolit bertujuan mempertahankan volume dan osmolaritas cairan ekstrasel dalam batas normal dengan mengatur keseimbangan antara absorpsi diet (makanan dan minuman) dan eksresi ginjal (konservasi dan eksresi air dan elektrolit) yang melibatkan juga sistem hormonal.

Homeostasis elektrolit

Keseimbangan elektrolit ini sangat penting karena mempengaruhi keseimbangan cairan dan fungsi sel. Keseimbangan elektrolit ini sangat penting karena mempengaruhi keseimbangan cairan dan fungsi sel. 1 Ada dua kation yang penting, yaitu natrium dan kalium. Keduanya mempengaruhi tekanan osmotik cairan ekstraselular dan intraselular dan langsung berhubungan dengan sistem selular. Oleh karenanya pembahasan kedua jenis kation ini sangat penting dalam keseimbangan elektrolit.1 Elektrolit adalah senyawa yang di dalam larutan berdisiosiasi menjadi ion muatan positif dan negatif. Elektrolit penting dalam mengatur keseimbangan dan fungsi sel. Dalam dua kompartemen cairan tubuh terdapat beberapa kation dan anion (elektrolit) yang penting dalam mengatur keseimbangan cairan dan fungsi sel. Perbedaan yang nyata antara cairan ekstrasel dan intrasel terletak pada kation. Dua kation penting, yaitu natrium dan kalium langsung berhubungan dengan fungsi sel. Jumlah kation sama dengan jumlah anion pada setiap komparteemen. 1

I.1. Asupan dan kehilangan cairan dan elektrolit pada keadaan normal Homeostasis cairan tubuh yang normalnya diatur oleh ginjal dapat berubah oleh stres akibat operasi, kontrol hormon yang abnormal, atau pun oleh adanya cedera pada paru-paru, kulit atau traktus gastrointestinal.10 Pada keadaan normal, seseorang mengkonsumsi air rata-rata sebanyak 2000-2500 ml per hari, dalam bentuk cairan maupun makanan padat dengan kehilangan cairan rata-rata 250 ml dari feses, 800-1500 ml dari urin, dan hampir 600 ml kehilangan cairan yang tidak disadari (insensible water loss) dari kulit dan paruparu.10

Kepustakaan lain menyebutkan asupan cairan didapat dari metabolisme oksidatif dari karbohidrat, protein dan lemak yaitu sekitar 250-300 ml per hari, cairan yang diminum setiap hari sekitar 1100-1400 ml tiap hari, cairan dari makanan padat sekitar 800-100 ml tiap hari, sedangkan kehilangan cairan terjadi dari ekskresi urin (rata-rata 1500 ml tiap hari, 40-80 ml per jam untuk orang dewasa dan 0,5 ml/kg untuk pediatrik), kulit (insensible loss sebanyak rata-rata 6 ml/kg/24 jam pada rata-rata orang dewasa yang mana volume kehilangan bertambah pada keadaan demam yaitu 100-150 ml tiap kenaikan suhu tubuh 1 derajat celcius pada suhu tubuh di atas 37 derajat celcius dan sensible loss yang banyaknya tergantung dari tingkatan dan jenis aktivitas yang dilakukan), paruparu (sekitar 400 ml tiap hari dari insensible loss), traktus gastointestinal (100-200 ml tiap hari yang dapat meningkat sampai 3-6 L tiap hari jika terdapat penyakit di traktus gastrointestinal), third-space loses.6

Tabel.2 Rata-rata harian asupan dan kehilangan cairan pada orang dewasa6LUID

S FLUID LOSES I.2. Perubahan cairan tubuh Perubahan cairan tubuh dapat dikategorikan menjadi 3, yaitu : 1. Perubahan volume

a. Defisit volume Defisit volume cairan ekstraselular merupakan perubahan cairan tubuh yang paling umum terjadi pada pasien bedah. Penyebab paling umum adalah

kehilangan cairan di gastrointestinal akibat muntah, penyedot nasogastrik, diare dan drainase fistula. Penyebab lainnya dapat berupa kehilangan cairan pada cedera jaringan lunak, infeksi, inflamasi jaringan, peritonitis, obstruksi usus, dan luka bakar. Keadaan akut, kehilangan cairan yang cepat akan menimbulkan tanda gangguan pada susunan saraf pusat dan jantung. Pada kehilangan cairan yang lambat lebih dapat ditoleransi sampai defisi volume cairan ekstraselular yang berat terjadi.10

Dehidrasi Dehidrasi sering dikategorikan sesuai dengan kadar konsentrasi serum dari natrium menjadi isonatremik (130-150 mEq/L), hiponatremik (<139 mEq/L) atau hipernatremik (>150 mEq/L). Dehidrasi isonatremik merupakan yang paling siring terjadi (80%), sedangkan dehidrasi hipernatremik atau hiponatremik sekitar 5-10% dari kasus.16 Dehidrasi Isotonis (isonatremik) terjadi ketika kehilangan cairan hampir sama dengan konsentrasi natrium terhadap darah. Kehilangan cairan dan natrium besarnya relatif sama dalam kompartemen intravaskular maupun kompartemen ekstravaskular.16 Dehidrasi hipotonis (hiponatremik) terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium lebih banyak dari darah (kehilangan cairan hipertonis). Secara garis besar terjadi kehilangan natrium yang lebih banyak dibandingkan air yang hilang. Karena kadar natrium serum rendah, air di kompartemen intravaskular berpindah ke kompartemen ekstravaskular, sehingga menyebabkan penurunan volume intravaskular.16

Dehidrasi hipertonis (hipernatremik) terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium lebih sedikit dari darah (kehilangan cairan hipotonis). Secara garis besar terjadi kehilangan air yang lebih banyak dibandingkan natrium yang hilang. Karena kadar natrium tinggi, air di kompartemen ekstraskular berpindah ke kompartemen intravaskular, sehingga meminimalkan penurunan volume intravaskular.16

Tabel.3 Tanda-tanda klinis dehidrasi16

Tabel. 4 Derajat dehidrasi16Dehidrasi Dewasa Anak

Terapi untuk dehidrasi (rehidrasi) dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan cairan untuk rumatan, defisit cairan dan kehilangan cairan yang sedang berlangsung. Beberapa pendekatan terangkum dalam tabel 5.18

Tabel.5 Pendekatan pada masalah cairan dan elektrolit18

Tabel.6 Rumatan cairan menurut rumus Holliday-Segar16

Strategi untuk rehidrasi adalah dengan memperhitungkan defisit cairan, cairan rumatan yang diperlukan dan kehilangan cairan yang sedang berlangsung disesuaikan . Cara rehidrasi17 :
1. Nilai status rehidrasi (sesuai tabel 4 di atas), banyak cairan yang diberikan

(D) = derajat dehidrasi (%) x BB x 1000 cc


2. Hitung cairan rumatan (M) yang diperlukan (untuk dewasa 40

cc/kgBB/24 jam atau rumus holliday-segar seperti untuk anak-anak) 3. Pemberian cairan :
a. 6 jam I = D + M atau 8 jam I = D + M (menurut

Guillot18)
b. 18 jam II = D + M atau 16 jam II = D + M (menurut

Guillot 18)

b. Kelebihan volume Kelebihan volume cairan ekstraselular merupakan suatu kondisi akibat iatrogenik (pemberian cairan intravena seperti NaCl yang menyebabkan kelebihan air dan NaCl ataupun pemberian cairan intravena glukosayang menyebabkan kelebihan air) ataupun dapat sekunder akibat insufisiensi renal (gangguan pada

GFR), sirosis, ataupun gagal jantung kongestif.9,10 Kelebihan cairan intaseluler dapat terjadi jika terjadi kelebihan cairan tetapi jumlah NaCl tetap atau berkurang.11

2. Perubahan konsentrasi Hiponatremia Jika < 120 mg/L maka akan timbul gejala disorientasi, gangguan mental, letargi, iritabilitas, lemah dan henti pernafasan, sedangkan jika kadar < 110 mg/L maka akan timbul gejala kejang, koma. Hiponatremia ini dapat disebabkan oleh euvolemia (SIADH, polidipsi psikogenik), hipovolemia (disfungsi tubuli ginjal, diare, muntah, third space losses, diuretika), hipervolemia (sirosis, nefrosis). Keadaan ini dapat diterapi dengan restriksi cairan (Na+ 125 mg/L) atau NaCl 3% sebanyak (140-X)xBBx0,6 mg dan untuk pediatrik 1,5-2,5 mg/kg.12 Koreksi hiponatremia yang sudah berlangsung lama dilakukan scara perlahanlahan, sedangkan untuk hiponatremia akut lebih agresif. Untuk menghitung Na serum yang dibutuhkan dapat menggunakan rumus19 : Na= Na1 Na0 x TBW Na = Jumlah Na yang diperlukan untuk koreksi (mEq) Na1 = 125 mEq/L atau Na serum yang diinginkan Na0 = Na serum yang aktual TBW = total body water = 0,6 x BB (kg)

Hipernatremia

Jika kadar natrium > 160 mg/L maka akan timbul gejala berupa perubahan mental, letargi, kejang, koma, lemah. Hipernatremi dapat disebabkan oleh kehilangan cairan (diare, muntah, diuresis, diabetes insipidus, keringat berlebihan), asupan air kurang, asupan natrium berlebihan. Terapi keadaan ini adalah penggantian cairan dengan 5% dekstrose dalam air sebanyak {(X-140) x BB x 0,6}: 140.12

Hipokalemia Jika kadar kalium < 3 mEq/L. Dapat terjadi akibat dari redistribusi akut kalium dari cairan ekstraselular ke intraselular atau dari pengurangan kronis kadar total kalium tubuh. Tanda dan gejala hipokalemia dapat berupa disritmik jantung, perubahan EKG (QRS segmen melebar, ST segmen depresi, hipotensi postural, kelemahan otot skeletal, poliuria, intoleransi glukosa. Terapi hipokalemia dapat berupa koreksi faktor presipitasi (alkalosis, hipomagnesemia, obat-obatan), infus potasium klorida sampai 10 mEq/jam (untuk mild hipokalemia ;>2 mEq/L) atau infus potasium klorida sampai 40 mEq/jam dengan monitoring oleh EKG (untuk hipokalemia berat;<2mEq/L disertai perubahan EKG, kelemahan otot yang hebat).14 Rumus untuk menghitung defisit kalium18 :

K = K1 K0 x 0,25 x BB K = kalium yang dibutuhkan K1 = serum kalium yang diinginkan K0 = serum kalium yang terukur

BB = berat badan (kg)

Hiperkalemia Terjadi jika kadar kalium > 5 mEq/L, sering terjadi karena insufisiensi renal atau obat yang membatasi ekskresi kalium (NSAIDs, ACE-inhibitor, siklosporin, diuretik). Tanda dan gejalanya terutama melibatkan susunan saraf pusat (parestesia, kelemahan otot) dan sistem kardiovaskular (disritmik, perubahan EKG). Terapi untuk hiperkalemia dapat berupa intravena kalsium klorida 10% dalam 10 menit, sodium bikarbonat 50-100 mEq dalam 5-10 menit, atau diuretik, hemodialisis.14

3. Perubahan komposisi Asidosis respiratorik (pH< 3,75 dan PaCO2> 45 mmHg) Kondisi ini berhubungan dengan retensi CO2 secara sekunder untuk menurunkan ventilasi alveolar pada pasien bedah. Kejadian akut merupakan akibat dari ventilasi yang tidak adekuat termasuk obstruksi jalan nafas, atelektasis, pneumonia, efusi pleura, nyeri dari insisi abdomen atas, distensi abdomen dan penggunaan narkose yang berlebihan. Manajemennya melibatkan koreksi yang adekuat dari defek pulmonal, intubasi endotrakeal, dan ventilasi mekanis bila perlu. Perhatian yang ketat terhadap higiene trakeobronkial saat post operatif adalah sangat penting. 10,14

Alkalosis respiratorik (pH> 7,45 dan PaCO2 < 35 mmHg)

Kondisi ini disebabkan ketakutan, nyeri, hipoksia, cedera SSP, dan ventilasi yang dibantu. Pada fase akut, konsentrasi bikarbonat serum normal, dan alkalosis terjadi sebagai hasil dari penurunan PaCO2 yang cepat. Terapi ditujukan untuk mengkoreksi masalah yang mendasari termasuk sedasi yang sesuai, analgesia, penggunaan yang tepat dari ventilator mekanik, dan koreksi defisit potasium yang terjadi.10,14

Asidosis metabolik (pH<7,35 dan bikarbonat <21 mEq/L) Kondisi ini disebabkan oleh retensi atau penambahan asam atau kehilangan bikarbonat. Penyebab yang paling umum termasuk gagal ginjal, diare, fistula usus kecil, diabetik ketoasidosis, dan asidosis laktat. Kompensasi awal yang terjadi adalah peningkatan ventilasi dan depresi PaCO2. Penyebab paling umum adalah syok, diabetik ketoasidosis, kelaparan, aspirin yang berlebihan dan keracunan metanol. Terapi sebaiknya ditujukan terhadap koreksi kelainan yang mendasari. Terapi bikarbonat hanya diperuntukkan bagi penanganan asidosis berat dan hanya setelah kompensasi alkalosis respirasi digunakan.10,14

Alkalosis metabolik (pH>7,45 dan bikarbonat >27 mEq/L) Kelainan ini merupakan akibat dari kehilangan asam atau penambahan bikarbonat dan diperburuk oleh hipokalemia. Masalah yang umum terjadi pada pasien bedah adalah hipokloremik, hipokalemik akibat defisit volume ekstraselular. Terapi yang digunakan adalah sodium klorida isotonik dan penggantian kekurangan potasium. Koreksi alkalosis harus gradual selama perode 24 jam dengan pengukuran pH, PaCO2 dan serum elektrolit yang sering.10,14

Kesimpulan

Sekitar 60% tubuh terdiri dari cairan yang didistribusikan ke dua kompartemen utama, yaitu satu per tiga cairan ekstraseluler dan dua per tiga cairan intraseluler. Dari 33,3% total cairan tubuh, cairan ekstraseluler terdiri dari 78% plasma dan 22% cairan interstisial. Komposisi kimiawi cairan tubuh dalam keadaan normal adalah terjadi keseimbangan antara ion positif dan ion negatif. Natrium dan klorida merupakan ion yang dominan dalam plasma darah, sedangkan kalium dan asam fosfat lebih dominan dalam cairan intraseluler. Terapi defisit cairan terdiri dari tiga komponen, yaitu menentukan derajat defisit, menentukan tipe defisit cairan, dan mengoreksi defisit cairan. Derajat defisit cairan ditentukan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien

DAFTAR PUSTAKA 1. Gangguan Keseimbangan Air-Elektrolit dan Asam Basa, Fisiologi, Patofisiologi, Diagnosis, dan Tatalaksana. Unit Pendidikan KedokteranPengembangan Keprofesioan Berkelanjutan. FKUI. 2007
2.

Keseimbangan Cairan, Elektrolit, Asam dan Basa. Kuntarti, Skp., M. Biomed. (Diakses tanggal 21 Januari 209) http/www.Ourblogtemplates.com

3.

Heitz U, Horne MM. Fluid, electrolyte and acid base balance. 5th ed. Missouri: Elsevier-mosby; 2005.p3-227

4.

Leksana E. Terapi cairan dan elektrolit. Smf/bagian anestesi dan terapi intensif FK Undip: Semarang; 2004: 1-60.

5.

Holte K, Kehlet H. Compensatory fluid administration for preoperative dehydrationdoes it improve outcome? Acta Anaesthesiol Scand. 2002; 46: 1089-93

6.

Pandey CK, Singh RB. Fluid and electrolyte disorders. Indian J.Anaesh. 2003;47(5):380-387.

7.

Kaswiyan U. Terapi cairan perioperatif. Bagian Anestesiologi dan Reanimasi.Fakultas KEdokteran Unpad/ RS. Hasan Sadikin. 2000.

8.

Guyton AC, Hall JE.Textbook of medical physiology. 9th ed. Pennsylvania: W.B. Saunders company; 1997: 375-393

9.

Latief AS, dkk. Petunjuk praktis anestesiologi: terapi cairan pada pembedahan. Ed.Kedua. Bagian anestesiologi dan terapi intensif, FKUI. 2002

10. Mayer H, Follin SA. Fluid and electrolyte made incredibly easy. 2nd ed. Pennsylvania: Springhouse; 2002:3-189. 11. Schwartz SI, ed. Principles of surgery companion handbook. 7th ed. New york: McGraw-Hill; 1999:53-70. 12. Silbernagl F, Lang F. Color atlas of pathophysiology. Stuttgart: Thieme; 2000: 122-3.
13. Lyon Lee. Fluid and Electrolyte Therapy. Oklahoma State University -

Center for Veterinary Health. 2006. (Diakses tanggal 21 Januari 2009). Tersedia dari: http://member.tripod.com/~lyser/ivfs.htm

14. Barash PG, Cullen BF, Stoelting RK. Handbook of clinical anesthesia. 5th ed.Philadelphia: Lippincot williams and wilkins; 2006: 74-97. 15. Sunatrio S. Resusitasi cairan. Jakarta: Media aesculapius;2000:1-58.
16. Ellsbury DL, George CS. Dehydration. eMed J [serial online] 2006 Mar

(Diakses tanggal 21 Januari 2009). Tersedia dari: URL: http://www.emedicine.com/CHILD/topic925.htm. 17. Fakultas Kedokteran Unpad. Protokol Tindakan Bedah. Bandung. 2003 18. Graber MA. Terapi cairan, elektrolit dan metabolik. Ed.2. Farmedia; 2003: 17-40.