Anda di halaman 1dari 17

PARASITOLOGY DAN PROTOZOOLOGY VETERINER

BEBERAPA ISTILAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT PARASITER


Food-borne Parasite: Penyakit-penyakit yang menular bersama makanan dan minuman (mis: Taeniasis, Trikinellosis) Tick-borne Parasite: Penyakit parasit yang ditularkan bersamaan dengan infestasi caplak/insekta (mis: Tripanosomiasis, Babesiosis) Infeksi Laten: Infeksi oleh parasit yang baru menampakkan gejala apabila ada faktor penggerak bagi patogenitas penyakit, atau apabila ada faktor-faktor pendepresi ketahanan tubuh inang, antara lain: bahan kimia, kelelahan, kedinginan, pengaruh hormon (mis: Plasmodium) Larva Migran: Kondisi, dimana larva cacing Nematoda terdapat dalam anggota tubuh inang yang tidak sesuai Larva migran Kutan: Kondisi, dimana larva cacing Nematoda bermigrasi dalam kulit atau di bawah kulit inang yang tidak serasi (mis: Larva Ancylostoma caninum pada kulit manusia)

Periode Prepaten: Kurun waktu antara masuknya stadium infektiv ke dalam induk semang hingga terdeteksinya keberadaan parasit dalam induk semang (adanya telur dalam tinja atau terlihatnya gejala klinis) Periode Paten: Kurun waktu antara tercapainya kedewasaan seksual sampai parasit tidak terdeteksi lagi dalam tubuh induk semang

Akibat infestasi/infeksi dari suatu parasit terhadap hospesnya Kematian Tingkat kesakitan yang tinggi Persaingan dalam merebut zat nutrisi (B12 Diphyllobothrium latum) Berkurangnya nafsu makan (cacing Nematoda saluran pencernaan) Berkurangnya sintesa protein dalam otot skeletal Anemia Dapat mengakibatkan infeksi sekunder (Clostridia spp) Rusak/terganggunya jaringan tubuh induk semang, sering merupakan akibat respon imunologis dari induk semang berupa nekrotis, dermatitis atau oedema

Immunitas (Kekebalan)
Kekebalan Mutlak: Kekebalan yang timbul sebagai fenomena alami akibat hospes yang tidak sesuai Kekebalan Aktif: Kekebalan yang didapat secara alami setelah menderita infeksi dengan parasit sebelumnya Kekebalan Sistemik: Kekebalan yang timbul sebagai akibat dibentuknya zat anti spesifik, kegiatan fagositosis, dari unsur-unsur sel, resistensi jaringan, kegiatan zat pencernaan, keadaan kulit yang tidak dapat ditembus dan keadaan fisik/status nutrisi yang baik

Mekanisme Kekebalan
Kekebalan Humoral: Cairan tubuh mengandung zat anti yang menghancurkan parasit atau menghambat perkembangan parasit Kekebalan Seluler: adanya proses fagositosis oleh leukosit dan sel-sel lainnya

TREMATODA
Subklas Monogenea
Parasit yang terdapat pada hewan berdarah dingin (ikan, amphibia dan reptil) sebagian besar merupakan ektoparasit. Siklus hidupnya adalah langsung.

Subklas Aspidogastrea
Subklas ini hanya memiliki satu famili, Aspidogastridae, bersifat parasit pada ikan, penyu, moluska atau krustacea. Parasit ini tidakpernah ditemukan pada hewan domestik

Subklas Digenea
Merupakan parasit yang menyerang sebagian besar hewan domestik, siklus hidupnya membutuhkan satu, dua atau lebih induk semang antara

Sub Klas Digenea


Umumnya bersifat hermaphrodyte, kecuali Schistosomatidae dan Dioymozoidae  Telur dari digenea biasanya keluar melalui feses, dan akan menetas menjadi mirasidia.  Ada lima tahapan larva; mirasidium, sporocyst, redia, serkaria dan metaserkaria  Kemampuan reproduksinya sangat tinggi, sebuah mirasidium dapat menghasilkan jutaan serkaria  Metaserkaria merupakan tahap larva terakhir yang menginfeksi induk semang melalui daun, air atau induk semang antara kedua.  Kecuali pada Schistosoma, serkaria yang secara aktif melakukan penetrasi pada kulit induk semang

Siklus hidup

Ophisthorchis
Synonim: Cacing hati pada kucing

Ophisthorchis

Terdiri dari dua spesies yaitu: Ophisthrochis tenuicollis (syn: O. felineus) dan Ophisthorchis viverini

O. Tenuicollis
Predileksi: Saluran empedu, dan kadang-kadang pada intestinum dan saluran pencreas Induk semang definitif: anjing, kucing, serigala, babi dan manusia Distribusi: Eropa timur, terutama Polandia, Jerman, siberia dan juga di Asia Predileksi: Saluran empedu, dan kadang-kadang pada intestinum dan saluran pencreas Induk semang definitif: Musang, kucing liar dan kucing domestik, Anjing dan manusia Distribusi: Asia Tenggara, terutama Thailand dan Laos

O. viverini

Menyerang: Kucing, anjing, rubah, babi dan juga manusia Morphology:


Panjang7-12 mm, lebar 3 mm Berbentuk pipih dan memanjang Oral sucker dan ventral sucker berukuran sama Testis terletak pada sepertiga bagian akhir, berlobus Uterus terletak antara ventral sucker dan ovarium Telur berukuran 26-30 X 11-15 Mikrometer, berbentuk oval dan memiliki sedikit bahu yang menonjol

Siklus Hidup
Induk semang antara I merupakan siput dari genus Bithynia, sedangkan induk semang antara II adalah ikan air tawar Telur dimakan oleh siput mirasidium sporosis redia cercaria dimakan oleh ikan metacercaria dewasa Metacercaria menetas dalam duodenum dan bermigrasi melalui ductus choleducus ke saluran empedu Masa prepaten 3-4 minggu

Pathogenesa dan gejala klinis


Cacing Ophistorchis menyebabkan infeksi kataralis pada saluran empedu Epithel saluran empedu mengalami hiperplasia dan kemudian akan berkembang menjadi carcinoma Pembesaran pada hati dan pelebaran saluran empedu Gejala klinis berupa hilangnya nafsu makan, muntah, anemia, ikterus, gangguan pencernaan, oedem, dan pada stadium lanjut terjadi ascites

Pencegahan
Pada daerah endemik, ikan mentah jangan dikonsumsi ataupun diberikan kepada hewan peliharaan

Fasciola

Fasciola gigantica dan Fasciola hepatica


Distribusi: Seluruh dunia (F. hepatica biasanya negara-negara temperate, F. gigantica negara tropis) Induk semang: Sapi, kerbau, kambing, domba, kuda, ruminansia liar dan manusia

Morfologi
F. gigantica lebih panjang dari F. hepatica, bersifat hermaphrodite Hidup dalam saluran empedu dan bertelur s 1000 butir per hari, telur memiliki operculum, ukuran 150-180m Telur keluar bersama feses Mirasidium sporosis Redia Redia anak Serkaria Metaserkaria (fase infektif) tertelan oleh induk semang definitif Mirasidium menetas di air, berenang dan mencari siput (inang perantara) yang cocok. Inang perantara adalah siput dari famili Lymnaedae (Lymnae rubiginosa, L. truncatula dll). Mirasidium menembus tubuh siput untuk berkembang di dalamnya Sporosis, redia, redia anak dan serkaria berada di dalam tubuh siput. Serkaria yang matang meninggalkan tubuh siput, metaserkaria melekat pada rumput, daun atau benda yang memiliki permukaan datar lainnya. Hewan akan terinfeksi apabila menelan metaserkaria

Siklus hidup:

Jalur Infestasi: Secara oral, dengan tertelannya metaserkaria yang menempel pada rumput/tumbuhan air. Metaserkaria dapat bertahan hingga 10 bulan di alam bebas Metaserkaria mengalami ekskistasi di dalam rumen dan menetas di dalam usus halus. Menembus dinding usus, perineum dan menembus parenchima hati untuk menuju saluran empedu Diagnosa: dengan melihat keberadaan telur di dalam feses dengan metode sedimentasi Gejala klinis: lemah, oedem pada bagian mandibularis dan dada bagian bawah, inappetence, kurus, anemia, bulu rontok, Pada kasus infestasi massal terjadi kematian tiba-tiba Masa prepaten: 16 minggu (F. gigantica); F. hepatica 8-16 minggu Masa paten: bertahun-tahun