P. 1
Indragiri_1297774578 (2)

Indragiri_1297774578 (2)

|Views: 311|Likes:
Dipublikasikan oleh achmadrt87

More info:

Published by: achmadrt87 on Jul 30, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/12/2014

pdf

text

original

KATA PENGANTAR

Dalam rangka pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Kebijakan SDA Provinsi dan Pola Pengelolaan SDA Wilayah Sungai Indragiri sesuai kontrak antara Satuan Kerja Dirjen Sumber Daya Air Kegiatan Pembinaan Penyelenggaraan Air Baku Departemen Pekerjaan Umum dengan PT. JASAPATRIA GUNATAMA dengan Nomor : KU.08.08/17/P2AB/VIII/2005, Tanggal 16 Agustus 2005, maka dapat disusun Konsep Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Indragiri. Dalam laporan khusus ini berisikan uraian pendahuluan, tahapan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai Indragiri, kondisi dan potensi wilayah sungai Indragiri, Visi dan Misi pengelolaan sumber daya air , arahan kebijakan pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai Indragiri dan strategi pengelolaan sumber daya air wilayah sungai Indragiri. Atas segala arahan dan bantuan dari berbagai pihak terkait demi kelancaran pembuatan laporan ini diucapkan terima kasih. Demikian Laporan Khusus disampaikan, semoga dapat bermanfaat bagi semua pihak dan dapat dipergunakan sebagai bahan masukan untuk perumusan kebijakan pola pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai Indragiri.

Bandung, 10 Desember 2005 PT. JASAPATRIA GUNATAMA,

(Ir. Rini Kosasih) Direktur

i

DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel Daftar Lampiran Peta BAB-I PENDAHULUAN 1.1 Umum 1.2. Pengertian 1.3. Kedudukan dan Fungsi 1.4. Maksud Dan Tujuan 1.5. Landasan Hukum 1.6. Ruang Lingkup BAB-II TAHAPAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI INDRAGIRI 2.1. Tahapan Pengelolaan Sumber Daya Air WS Indragiri BAB-III KONDISI DAN POTENSI WILAYAH SUNGAI INDRAGIRI 3.1. Kondisi Tata Ruang Wilayah Sungai Indragiri 3.1.1. Batas Wilayah Sungai 3.1.2. Pemanfaatan Lahan di WS Indragiri 3.2. Kondisi Sosial Ekonomi 3.2.1. Kependudukan 3.2.2 Mata Pencaharian dan Pendapatan Penduduk 3.2.3 Sektor Pertanian 3.2.3.1 Sub Sektor Tanaman Pangan 3.2.3.2 Sub Sektor Perkebunan 3.2.3.3 Sub Sektor Perikanan 3.2.3.4 Sub Sektor Peternakan 3.2.3.5 Sub Sektor Kehutanan 3.2.4. Sektor Energi dan Air Bersih 3.2.4.1 Sub Sektor Listrik 3.2.4.2. Sub Sektor Air Bersih 3.2.5 Sektor Pariwisata 3.2.6. Sektor Industri Pengolahan 3.2.7. Sektor Pertambangan dan Penggalian 3.2.8. Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Sungai Indragiri 3.2.8.1. Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Riau 1993 - 2003 i ii v vi ix 1 1 2 3 4 4 5 4 6 6 8 8 9 14 14 16 17 17 18 21 22 24 26 26 28 30 32 34 37 37

ii

BAB-IV

BAB-V

3.2.8.2. Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Sumatera Barat 1993 - 2004 3.3. Kondisi Hidrologi 3.3.1 Curah Hujan, Iklim dan Debit 3.4. Kondisi Kualitas Air WS Indragiri 3.5. Kondisi Fisik Wilayah Sungai Indragiri 3.5.1 Kondisi Sub Basin Sinamar 1,2,3 dan Agam 3.5.2 Kondisi Sub Basin Palangki dan Sukam 3.5.3 Kondisi Sub Basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5 3.5.4. Kondisi Sub Basin Peranap 3.5.5. Kondisi Sub Basin Cenako 3.5.6. Kondisi Sub Basin Indragiri 3.6. Kondisi Pengembangan Sumber Daya Air 3.6.1 Infrastruktur yang ada (kondisi eksisting) 3.6.2 Kebutuhan Air Irigasi 3.6.3 Kebutuhan Air Rumah-tangga, Perkotaan dan Industri 3.6.4 Kebutuhan air PLTA Danau Singkarak VISI DAN MISI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR 4.1. Visi Pengelolaan SDA di Wilayah Sungai Indragiri 4.2. Misi Pengelolaan SDA di Wilayah Sungai Indragiri ARAHAN KEBIJAKAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI INDRAGIRI 5.1. Konservasi Sumber Daya Air Wilayah Sungai Indragiri 5.1.1. Strategi Konservasi 5.1.2 Pola Konservasi 5.1.2.1. Pola Konservasi Sub Basin Sumani 5.1.2.2 Pola Konservasi Sub Basin Sinamar 1, 2,3 dan Agam 5.1.2.3 Pola Konservasi Sub Basin Lembang 1, 2, Ombilin dan Lawas 5.1.2.4 Pola Konservasi Sub Basin Palangki dan Sukam 5.1.2.5 Pola Konservasi Sub Basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5 5.1.3 Pengelolaan kualitas dan pengendalian pencemaran air 5.2 Pendayagunaan Sumber Daya Air WS Indragiri 5.2.1 Penatagunaan Sumber Daya Air 5.2.2 Penyediaan Sumber Daya Air 5.2.3 Penggunaan Sumber Daya Air 5.2.4 Pengembangan Sumber Daya Air 5.2.5 Pengusahaan Sumber Daya Air

38 39 39 43 55 56 57 58 62 64 65 69 69 69 71

72 73 73 74 74 74 76 77 78 79 81 82 85 86 86 86 87 87 87

iii

5.3. Pengendalian Banjir dan Daya Rusak Air
5.3.1 Pengendalian Banjir 5.3.2 Pengendalian Daya Rusak Air 5.4 Peran Serta Masyarakat 5.5 Sistem Informasi Sumber Daya Air STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI INDRAGIRI

BAB-VI

87 87 91 92 93 94

iv

DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1. Tahapan Pengelolaan Sumber Daya Air Gambar 2 Peta Pemanfaatan Lahan di WS Indragiri Gambar 3 Perkembangan Produksi Padi Sawah di WS Indragiri Gambar 4 Perkembangan Produksi Jagung di WS Indragiri Gambar 5 Perkembangan Produksi Ubi Kayu di WS Indragiri Gambar 6 Perkembangan Produksi Ubi Jalar di WS Indragiri Gambar 7 Perkembangan Luas Areal Tanaman Karet di WS Indragiri Gambar 8 Perkembangan Luas Perkebunan Kelapa di WS Indragiri Gambar 9 Perkembangan Populasi Sapi di WS Indragiri Gambar 10 Perkembangan Populasi Kerbau di WS Indragiri Gambar 11 Perkembangan Populasi Kambing di WS Indragiri Gambar 12 Perkembangan Konsumsi Total Listrik di WS Indragiri Gambar 13 Perkembangan Wisatawan di Provinsi Sumatera Barat Gambar 14. Pertumbuhan Ekonomi Riau dan Sumatera Barat Tahun 1993-2004 Gambar 15. Pos Hidrologi di Wilayah Sungai Gambar 16. Data Hujan Bulanan Gambar 17. Hujan Tahunan Gambar 18 . Evapotranspirasi dengan Metode Penman Gambar 19. Ketersediaan Data Debit Aliran Gambar 20 Sistem Konfigurasi Sungai Indragiri Gambar 21 Sub Basin WS Indragiri Gambar 22 Kebutuhan Air Irigasi Gambar 23. Peta Tipologi Konservasi WS Indragiri Gambar 24. Strategi Konservasi WS Indragiri Gambar 25 Overland Flow Skenario (Q 50Th) Indragiri Hulu 1 Gambar 26. Overland Flow Skenario (Q 50Th) Indragiri Hulu 2 Gambar 27 Overland Flow Skenario (Q 50Th) Indragiri Hilir 1 Gambar 28 Overland Flow Skenario (Q 50Th) Indragiri Hilir 2 7 13 17 17 18 18 19 20 22 23 23 26 30 39 39 40 40 41 42 43 55 70 75 76 88 89 90 91

v

DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Luas Wilayah Sungai Indragiri per Kabupaten Tabel 2. Pemanfaatan Lahan Setiap Sub Basin WS Indragiri Tabel 3. Kepadatan dan Penyebaran Penduduk di WS Indragiri Tabel 4.Jumlah Penduduk di WS Indragiri Periode 1989 – 2004 Tabel 5. Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun ke atas ( Usia Bekerja) di WS Indragiri Tahun 2000 Tabel 6. Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan Listrik dan non Listrik Tabel 7. Produksi Air Minum menurut Sumber Air di WS Indragiri Tahun 2003 Tabel 8. Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum di WS Indragiri Tahun 2003 Tabel 9. .Jumlah Industri Menengah Besar Menurut Kelompoknya di WS Indragiri Sumatera Barat Tabel 10. Cadangan Bahan Galian Tambang di WS Indragiri Riau Tabel 11. Jumlah Ijin Usaha Pertambangan di WS Indragiri Tabel 12. PDRB Riau Tahun 2003 Atas Dasar Harga Berlaku Tabel 13. PDRB Provinsi Sumatera Barat Berdasarkan Harga Berlaku Tahun 2004 Tabel 14. Daftar Pos Klimatologi Tabel 15. Daftar Pos Duga Air Tabel 16. Sistem Konfigurasi Sub Basin S.Indragiri Tabel 17. Kualitas Air S.Lembang dan Bt Sumani di Provinsi Sumatera Barat dan Kriteria Mutu AirKlas I,II,III,IV PP 82/2001 Tabel 18. Persen Parameter Kualitas Air S.Lembang dan Bt Sumani Provinsi Sumatera Barat yang Tidak Memenuhi Kriteria Mutu Air `Klas I Tabel 19. Persen Parameter Kualitas Air S.Lembang dan Bt Sumani Provinsi Sumatera Barat yang Tidak Memenuhi Kriteria Mutu Air Klas II Tabel 20. Persen Parameter Kualitas Air S.Lembang dan Bt Sumani Provinsi Sumatera Barat yang Tidak Memenuhi Kriteria Mutu Air Klas III Tabel 21. Persen Parameter Kualitas Air S.Lembang dan Bt Sumani Provinsi Sumatera Barat yang Tidak Memenuhi Kriteria Mutu Air Klas IV Tabel 22. Kualitas Air Sungai Bt.Sumani Di Propinsi Sumatera Barat Tabel 23. Klasifikasi Tingkat Kesuburan Danau Berdasarkan OECD Tabel 24. Kualitas Air Danau Singkarak 8 9 14 15 16 27 28 29 33 36 36 38 38 41 42 44 44

45

45

46

46 47 48 48

vi

Tabel 25. Kualitas Air Bt.Ombilin dan Bt Agam di Provinsi Sumatera Barat dan Kriteria Mutu AirKlas I,II,III,IV PP 82/2001 49 Tabel 26. Persen Parameter Kualitas Air Bt.Agam dan Bt Ombilin Provinsi Sumatera Barat yang Tidak Memenuhi Kriteria Mutu Air Klas I 50 Tabel 27. Persen Parameter Kualitas Air Bt.Agam dan Bt Ombilin Provinsi Sumatera Barat yang Tidak Memenuhi Kriteria Mutu Air Klas II 50 Tabel 28. Persen Parameter Kualitas Air Bt.Agam dan Bt Ombilin Provinsi Sumatera Barat yang Tidak Memenuhi Kriteria Mutu Air Klas III 51 Tabel 29. Persen Parameter Kualitas Air Bt.Agam dan Bt Ombilin Provinsi Sumatera Barat yang Tidak Memenuhi Kriteria Mutu Air Klas IV 51 Tabel 30. Kualitas Air Sungai Bt.Ombilin dan Bt.Agam di Propinsi Sumatera Barat 52 Tabel 31. Pengukuran Kualitas Air Sungai di WS.Indragiri Propinsi Riau (Pada Ruas Sungai I, dengan Peruntukan dan Baku Mutu Air Sungai Indragiri Klas I, Keputusan Gubernur Provinsi Riau, No. 24/Tahun 2003) 53 Tabel 32. Pengukuran Kualitas Air Sungai di WS.Indragiri Propinsi Riau (Pada Ruas Sungai II, dengan Peruntukan dan Baku Mutu Air Sungai Indragiri Klas II, Keputusan Gubernur Provinsi Riau, No. 24/Tahun 2003) 54 Tabel 33.Jenis Tanah Yang Ditemukan Pada Sub Basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5 59 Tabel 34. Sifat Fisik dan Erodibilitas (K) Tanah-tanah di Sub Basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5 60 Tabel 35. Nilai Kation Al. Ca. Mg. Kejenuhan Al dan Kebutuhan Kapur di Sub Basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5 61 Tabel 36. Erosi Potensial dan Aktual (ton/ha/th) di Wilayah Sub Basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5 62 Tabel 37. Jenis Tanah dan Klasifikasi Tanah Sub Basin Peranap 62 Tabel 38. Nilai Sifat Fisik Tanah di sub basin Peranap 63 Tabel 39. Erosi Potensial dan Aktual (ton/ha/th) di Wilayah Sub Basin Peranap 63 Tabel 40. Jenis Tanah pada Sub Basin Cenako 64 Tabel 41. Sifat Fisik dan Erodibilitas (K) Tanah-tanah di Sub Basin Cenako64 Tabel 42. Sistem Lahan dan klasifikasi Tanah di Wilayah S. Indragiri 65 Tabel 43. Hasil Analisis Sifat Kimia 66 Tabel 44. Hasil Analisis Sifat Fisik 66 Tabel 45. Hasil Penelitian Erosi Tanah Pada Berbagai Kondisi di Sub basin Indragiri 67 Tabel 46. Laju sedimentasi pada beberapa Sungai di Sub Basin Indragiri 67 vii

Karasteritik Ekositem Sub Basin Indragiri Luas Irigasi di WS Indragiri Luas Irigasi di Water District Kebutuhan Air Rumah-tangga, Perkotaan dan Industri (m3/s) Pola konservasi Sub Basin Sumani Pola Konservasi Sub Basin Sinamar 1, Agam, Sinamar 2, dan Sinamar 3 Tabel 53. Pola konservasi sub basin Lembang 1, 2, Ombilin dan Lawas Tabel 54. Luas Areal Konservasi Sempadan Sungai Sungai Lembang 1, 2, Ombilin dan Lawas Tabel 55. Luas Areal Konservasi Sempadan Sungai Palangki dan Sukam Tabel 56. Pola konservasi sub basin Palangki dan Sukam Tabel 57. Luas Areal Perlu Dikonservasi Dengan Metode Vegetatif Di kiri Kanan Sungai Kuantan 1,2,3,4 dan 5 Tabel 58. Pola Konservasi Sub Basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5 Tabel 59. Rencana Program Pengelolaan Sumber Daya Air

Tabel 47. Tabel 48. Tabel 49. Tabel 50. Tabel 51. Tabel 52.

68 69 70 71 78 79 80 81 81 82 83 84 95

viii

DAFTAR LAMPIRAN PETA
1. Lampiran I
Peta Wilayah Sungai Siak dan Indragiri di Provinsi Riau

2. Lampiran II
Arahan Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Indragiri Provinsi Riau

3. Lampiran III Kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan yang memiliki fungsi sebagai daerah resapan air dan tangkapan air di Wilayah Sungai Indragiri 4. Lampiran IV
Kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan lindung dan telah berubah fungsi menjadi kawasan lain , kondisinya dinilai kritis dan harus dikembalikan fungsinya sebagai kawasan lindung di Wilayah Sungai Indragiri

5. Lampiran V
Kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan pelestarian hutan lindung, kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam di Wilayah Sungai Indragiri

6. Lampiran VI Kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana di Wilayah Sungai Indragiri

ix

KONSEP POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI INDRAGIRI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Umum Air merupakan sumber kehidupan manusia yang keberadaannya dipermukaan bumi secara alami melalui suatu proses siklus hidrologi yang erat hubungannya dengan kondisi cuaca, kemampuan dan kondisi tutupan permukaan lahan untuk menyimpan air pada suatu daerah tangkapan air. Air merupakan kebutuhan utama baik secara ekonomi maupun sosial, persediaan air yang secara kuantitas dan kualitas tidak memenuhi akan berpengaruh terhadap perkembangan sosial ekonomi masyarakat. Sehingga kuantitas dan kualitas air dan sumber air menjadi suatu hal yang sangat penting dan perlu diperhatikan ketersediaannya serta penggunaan seefisien mungkin. Menurunnya sumber air secara kuantitas dan kualitas telah mengakibatkan terjadinya kekurangan pasokan air pada beberapa daerah terutama untuk kebutuhan pokok sehari-hari masyarakat dan usaha pertanian. Rusaknya kondisi tutupan lahan (hutan) di daerah tangkapan air telah berakibat pada peningkatan erosi dan sedimentasi serta bencana banjir. Meningkatnya kebutuhan masyarakat dan dunia usaha terhadap air telah mendorong lebih meningkatnya nilai ekonomis air dibanding fungsi sosialnya, hal tersebut telah menimbulkan konflik kepentingan antar masyarakat, antar sektor, antar wilayah dan berbagai pihak yang berkepetingan dengan air. Pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan pada semua sektor sedikit banyak akan sangat bergantung pada penyediaan dan penggunaan air, oleh karenanya upaya-upaya untuk melestarikan ketersediaan air menjadi sesuatu yang mutlak untuk dilakukan.

Pola - 1

Untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya air yang dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat , maka perlu disusun Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai yang ditetapkan oleh pejabat yang berwewenang. Wilayah Sungai Indragiri melintasi dua buah provinsi, yaitu Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Riau, maka kewenangan penetapan pola pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai tersebut merupakan kewenangan Pemerintah. 1.2. Pengertian Dalam Pola Pengelolaan Sumber Daya Air WS Indragiri yang dimaksud dengan: 1. Pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air. 2. Sumber daya air adalah air, sumber air dan daya air yang terkandung di dalamnya. 3. Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat. 4. Air permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah. 5. Air tanah adalah semua air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. 6. Sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan tanah. 7. Konservasi sumber daya air adalah upaya memelihara keberadaan, keberlanjutan keadaan, sifat dan fungsi sumber daya air agar senantiasa tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup baik pada waktu sekarang maupun pada generasi yang akan datang. 8. Pendayagunaan sumber daya air adalah upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan sumber daya air secara optimal agar berhasil guna dan berdaya guna 9. Pengendalian daya rusak air adalah upaya untuk mencegah, menanggulangi, dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air. 10. Daya rusak air adalah daya air yang dapat merugikan kehidupan. 11. Wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2.000 km2.

Pola - 2

12. Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. 13. Cekungan air tanah adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran, dan pelepasan air tanah berlangsung. 14. Pemulihan adalah upaya merehabilitasi suatu keadaan sehingga kembali pada fungsinya semula. 15. Perlindungan sumber air adalah upaya pengamanan sumber air dari kerusakan yang ditimbulkan baik akibat tindakan manusia maupun gangguan yang disebabkan oleh daya alam. 16. Pengawetan air adalah upaya memelihara keberadaan dan ketersediaan air atau kuantitas air agar tersedia sesuai fungsi dan manfaatnya. 17. Pengelolaan kualitas air adalah upaya mempertahankan dan memulihkan kualitas air yang masuk dan yang berada di sumber air. 18. Peruntukan air adalah penggolongan air pada suatu sumber air menurut jenis penggunaannya. 19. Penyediaan sumber daya air adalah penentuan dan pemenuhan volume air persatuan waktu untuk memenuhi kebutuhan air dan daya air serta memenuhi berbagai keperluan sesuai dengan waktu, kualitas dan kuantitas. 20. Penggunaan sumber daya air adalah pemanfaatan sumber daya air dan prasarananya sebagai media dan atau materi. 21. Pengembangan sumber daya air adalah upaya peningkatan kemanfaatan fungsi sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan air, dan atau sumber air, dan atau daya air. 22. Pengusahaan sumber daya air adalah upaya pemanfaatan sumber daya air untuk tujuan komersial. 23. Dinas adalah dinas teknis di tingkat provinsi yang membidangi sumber daya air 24. Pengelola sumber daya air adalah institusi yang diberi wewenang untuk melaksanakan pengelolaan sumber daya air. 1.3. Kedudukan dan Fungsi Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Indragiri disusun dan ditetapkan berdasarkan kebijakan Pemerintah, Pemerintah Provinsi Riau , Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Pemerintah Kabupaten/Kota terkait dalam bidang sumber daya air, setelah mendapat rekomendasi dari Dewan Sumber Daya Air Nasional , Dewan Sumber Daya Air Provinsi Riau, Dewan Sumber Daya Air Provinsi Sumatera Barat dan Dewan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Indragiri.

Pola - 3

Ketetapan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Indragiri perlu dijabarkan lebih lanjut dalam Rencana Induk Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Indragiri, rencana induk tersebut akan menjadi pedoman bagi Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota, seluruh dinas/instansi terkait serta pihakpihak yang berkepentingan lainnya, sesuai dengan tanggung jawab dan kewenangannya. Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Indragiri berfungsi untuk memberikan arah bagi seluruh Departemen dan Dinas/Instansi terkait dalam menyusun kebijakan program yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

1.4. Maksud Dan Tujuan Maksud disusunnya Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Indragiri adalah untuk memberikan arahan strategis dalam pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Indragiri Tujuannya yang ingin dicapai dengan disusunnya Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Indragiri adalah untuk menjamin terselenggaranya pengelolaan sumber daya air yang lestari, berwawasan lingkungan dan berkelanjutan dari generasi ke generasi, serta dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat dalam segala bidang kehidupan dan penghidupan. Sedangkan sasarannya adalah untuk : 1) mewujudkan keterpaduan, sinergitas serta sinkronisasi dalam pengelolaan sumber daya air wilayah sungai; 2) memelihara dan menjaga ekosistem dan daya dukung lingkungan wilayah sungai 3) memenuhi ketersediaan dan kebutuhan sumber daya air (air, sumber air dan daya air) bagi semua pemanfaat 4) melakukan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan dengan selalu memenuhi fungsi lingkungan hidup dan pemenuhan ekonomi secara selaras, serasi dan seimbang 1.5. Landasan Hukum Landasan hukum penyusunan Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Indragiri adalah : 1) 2) Undang-undang Dasar 1945 Undang-undang RI No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.

Pola - 4

3)

Undang-undang RI No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 4) Undang-undang RI No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, juncto, Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 41 Tentang Kehutanan 5) Undang-undang RI No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. 6) Undang-undang RI No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 7) Undang-undang RI No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah 8) Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 9) Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air 10) Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2002 tentang Tata Hutan Dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Pengawasan Kawasan Hutan. 11) Keputusan Presiden RI No. 9 Tahun 1999 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Kebijaksanaan Pendayagunaan Sungai dan Pemeliharaan Kelestarian Daerah Aliran Sungai. 12) Keputusan Presiden RI No. 62 Tahun 2000 tentang Koordinasi Penataan Ruang Nasional 1.6. Ruang Lingkup Pola Pengeloaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Indragiri merupakan kerangka dasar yang berisi arahan strategis dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian ( pemantauan & evaluasi) serta pengawasan kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Indragiri yang meliputi 19 sub basin, yaitu :. 1. Sub basin Sumani 2. Sub basin Agam 3. Sub basin Sinamar 1 4. Sub basin Sinamar 2 5. Sub basin Sinamar 3 6. Sub basin Ombilin 7. Sub basin Agam 8. Sub basin Lawas 9. Sub basin Lembang 1 10. Sub basin Lembang 2 11. Sub basin Palangki 12. Sub basin Sukam 13. Sub basin Kuantan 1 14. Sub basin Kuantan 2 15. Sub basin Kuantan 3 16. Sub basin Kuantan 4 17. Sub basin Kuantan 5 18 Sub basin Indragiri 19. Sub basin Cenako

Pola Pengeloaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Indragiri berisi : 1. 2. 3. 4. Tahapan Pengelolaan Sumber Daya Air di wilayah sungai Indragiri Tinjauan kondisi dan potensi wilayah sungai Indragiri Arahan kebijakan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai Indragiri Strategi pengelolaan sumber daya air wilayah sungai Indragiri

Pola - 5

BAB II TAHAPAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI INDRAGIRI

2.1. Tahapan Pengelolaan Sumber Daya Air WS Indragiri Pengelolaan sumber daya air wilayah sungai Indragiri meliputi 3 tahapan yaitu : Policy, planning and programming stage, implementation stage dan operation and maintenance stage. Policy, planning and programming stage meliputi penyusunan kebijakan pengelolaan sumber daya air provinsi, penyusunan pola pengelolaan sumber daya air , penyusunan rencana induk, perencanaan dan program. Implementation stage meliputi pembuatan detail disain fisik dan non fisik , pelaksanaan kegiatan fisik dan non fisik. Operation and maintenance stage, adalah pengoperasian dan pemeliharaan sarana dan prasarana yang telah dibangun merupakan tahap terakhir setelah pelaksanaan kegiatan fisik dan non fisk selesai dilaksanakan Tahapan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai bagan pada Gambar 1. pada halaman berikutnya : digambarkan dalam

Pola - 6

Gambar 1. Tahapan Pengelolaan Sumber Daya Air
DEPARTEMEN KEHUTANAN / DINAS DEPARTEMEN PERTANIAN / DINAS DEPARTEMEN PERTAMBANGAN / DINAS

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM
LEGALISASI

Tidak

RENCANA UNTUK : KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA POLA PENGELOLAAN SDA WILAYAH SUNGAI RENCANA INDUK PENGELO LAAN SDA KONSERVASI SDA PENDAYAGU NAAN SDA PENGENDALI AN DAYA RUSAK AIR

Ya

FS

Ya

PROGRAM

RENCANA KEGIATAN

RENCANA DETAIL DESAIN DED (FISIK & NON FISIK) KEGIATAN

PELAKS. KONSTRUKSI

O& M

LEGALISASI

Tidak

POLICY, PLANNING, PROGRAMMING STAGE

IMPLEMENTATION STAGE

O & M STAGE

BAPPEDA PROVINSI/KAB/KOTA DINAS PEKERJAAN UMUM PROVINSI/KAB/KOTA SUB DINAS….

Pola - 7

BAB III KONDISI DAN POTENSI WILAYAH SUNGAI INDRAGIRI

3.1. Kondisi Tata Ruang Wilayah Sungai Indragiri 3.1.1. Batas-batas Wilayah Sungai Wilayah sungai Indragiri melintasi dua provinsi yakni Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Riau, bagian hulu sungai yang berada di wilayah Provinsi Sumatera Barat meliputi 5 kabupaten dan 5 kota, sedangkan bagian hilir yang berada di wilayah Provinsi Riau meliputi tiga kabupaten, sebagaimana terlihat pada Tabel 1 dibawah ini.

Tabel 1. Luas Wilayah Sungai Indragiri per Kabupaten
WS Indragiri Luas Administratif 2 (km ) 8 198.26 7 656.03 11 605.97 27 460.26 1 336.0 23.0 2 232.30 25.24 3 130.80 273.45 80.43 3 354.3 7 084,20 57,64 17 587,36 4 5 047,62 Luas WS Indragiri (km2) Persentase Luas (%)

1. Prov. Riau: a. Kab. Indragiri Hulu b. Kab. Kuantan Senggigi c. Kab. Indragiri Hilir Sub Total 1. Prov. Sumatera Barat: a. Kab. Tanah Datar b. Kota Padang Panjang c. Kab. Agam d. Kota Bukittinggi e. Kab. Sawahlunto/Sijunjung f. Kota Sawahlunto g. Kota Payahkumbuh h. Kab. Limapuluh Kota i. Kab. Solok j. Kota Solok Sub Total Total Sumber: Laporan JICA, 1996.

7 643.0 1 168.0 8 811.0 1 336.0 23.0 330.0 25.24 2 310.0 273.45 80.43 1 354.0 1 667,24 57,64 7 457,0 16 268,0

48 10 32 100 100 15 100 74 100 100 100 24 100 42 36

Pola - 8

3.1.2. Pemanfaatan Lahan di WS Indragiri Penggunaan Lahan Di WS Indragiri sangat bervariasi topografi mulai dari datar, berbukit, lembah dan bergunung, dimana daerah yang mempunyai kelerengan diatas 40 % pemanfatan lahannya diarahkan bagi Kawasan Lindung yang harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya agar masyarakat terhindar dari berbagai peristiwa alam yang merugikan. Luas lahan yang masuk dalam Wilayah Sungai Indragiri tahun 2004 seluas 17.587,36 Ha, dimana distribusi penggunaan lahannya dilihat pada Tabel 2 sebagai berikut: Tabel 2 Pemanfaatan Lahan Setiap Sub Basin WS Indragiri
NO 1 SUB BASIN I=1 PEMANFAATAN LAHAN PT.LK HT.LK.P HT.LKS PT.LKS PT.LK PT.LKS HT.LKS HT.LKP HT.LK.P HT.LK.S PT.LK LUAS 414,60 140,14 107,64 165,60 827,98 225,00 135,00 54,00 36,00 450,00 275,55 54,00 100.20 501,30 KETERANGAN
HL = Hutan LIndung LK= Lahan Kering PBR = Perkebunan HTI = Hutan Tanaman Industri HR = Hutan Rakyat HT.PRD.KV = Hutan Produksi Konversi PT LB = Pertanian Lahan Basah HT.MG.S = Hutan Mangrove Sekunder HPK = Hutan Produksi Konversi HKM = Hutan Keswadayaan Masyarakat PT.LB = Pertanian Lahan Basah HT.RW.BK= Hutan Rawa Bakau

dapat

2

I=2

3.

I=3

SUMBER : Hasil Perhitungan dari luas eksisting

Pola - 9

Tabel 2 (lanjutan) Pemanfaatan Lahan Setiap Sub Basin WS Indragiri
NO 4 SUB BASIN I=4 PEMANFAATAN LAHAN PERKBN HT.M.S PT.LK HT.LK.S HT.LK.P PERT.LK HT.LK.S HT.LK.P HT.MG.S PERK. HT.LK.P PERK. PERT.LK LK PERT.LK HT.LK.S PERKBN LK HT.LK HT.LK.P PT.LK HL PBS LK HL LK HR LB PBS HL LK LUAS 35,65 71,30 163,99 213,90 228.16 713,00 28.08 62.40 34.32 12.48 18.72 156.00 121.30 20.30 60.90 202.50 107.50 35.85 394.30 179.25 716.90 88.88 555.50 188.87 277.75 1111.00 368.40 92.10 153.50 614.00 195.50 117.30 19.55 58.65 391.00 242.50 145.50 97.00 485.00 KETERANGAN
HL = Hutan LIndung LK= Lahan Kering PBR = Perkebunan HTI = Hutan Tanaman Industri HR = Hutan Rakyat HT.PRD.KV = Hutan Produksi Konversi PT LB = Pertanian Lahan Basah HT.MG.S = Hutan Mangrove Sekunder HPK = Hutan Produksi Konversi HKM = Hutan Keswadayaan Masyarakat PT.LB = Pertanian Lahan Basah HT.RW.BK= Hutan Rawa Bakau HT.LKP = Lahan Kering Primer HT MS= Hutan Mayarakat Sekunder

5

I-5

6

I-6

7

I-7

8

I-8

9

I-9

10

I - 10

11

I - 11

SUMBER : Hasil Perhitungan dari luas eksisting

Pola - 10

Tabel 2. (Lanjutan) Pemanfaatan Lahan Setiap Sub Basin WS Indragiri
NO 12 SUB BASIN I – 12 PEMANFAATAN LAHAN LK HTI LB INDUSTRI PBR HR PBS HPK HTI PBS LK LB HR PBS LK HTI PBR HTI PBS HKM HL PBR PBR PERT.LB PBS HR HTI HKM LB LK INDUSTRI LUAS 218.28 321.00 166.92 6.42 166.92 199.02 205.44 1284.00 46.88 134.78 158.22 70.32 175.80 586.00 83.44 312.90 125.16 365.05 156.45 1043.00 1253.70 179.10 901.50 468.78 126.21 144.42 162.27 1803.18 717.50 143.50 11.48 100.45 57.40 129.15 287.01 1446.49 KETERANGAN
HL = Hutan Lindung LK= Lahan Kering PBR = Perkebunan HTI = Hutan Tanaman Industri HR = Hutan Rakyat HT.PRD.KV = Hutan Produksi Konversi PT LB = Pertanian Lahan Basah HT.MG.S = Hutan Mangrove Sekunder HPK = Hutan Produksi Konversi HKM = Hutan Keswadayaan Masyarakat PT.LB = Pertanian Lahan Basah HT.RW.BK= Hutan Rawa Bakau

13

I – 13

14

I - 14

15

I - 15

16

I - 16

SUMBER : Hasil Perhitungan dari luas eksisting

Pola - 11

Tabel 2. (Lanjutan) Pemanfaatan Lahan Setiap Sub Basin WS Indragiri
NO 17 SUB BASIN I - 17 PEMANFAATAN LAHAN HKM HTI LGB PBS PBR LB LK LGB HTI PBR PERT.LB PERMUKIMAN PBR HL HT.RW/BK HT.PRD.KV PT.LB LUAS 49.45 99.01 29.67 247.25 296.70 197.80 69.23 989.11 89.55 268.65 1253.7 179.10 1791.00 3.50 817.60 140.16 93.44 54.89 58.40 1167.99 KETERANGAN
HL = Hutan LIndung LK= Lahan Kering PBR = Perkebunan HTI = Hutan Tanaman Industri HR = Hutan Rakyat HT.PRD.KV = Hutan Produksi Konversi PT LB = Pertanian Lahan Basah HT.MG.S = Hutan Mangrove Sekunder HPK = Hutan Produksi Konversi HKM = Hutan Keswadayaan Masyarakat PT.LB = Pertanian Lahan Basah HT.RW.BK= Hutan Rawa Bakau

18

I - 18

19

I - 19

SUMBER : Hasil Perhitungan dari luas eksisting

Pola - 12

Gambar 2 Peta Pemanfaatan Lahan di WS Indragiri

Pola - 13

3.2. Kondisi Sosial Ekonomi
3.2.1. Kependudukan Dari segi kependudukan, penduduk yang bermukim di Wilayah Sungai Indragiri Provinsi Riau pada tahun 2004 berjumlah 1.154 568 jiwa sedangkan di Provinsi Sumatera Barat berjumlah 2.238.902 jiwa, dengan tingkat kepadatan dan penyebaran sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Kepadatan dan Penyebaran Penduduk di WS Indragiri
WS Indragiri 1. Prov. Riau: a. Kab. Indragiri Hulu b. Kab. Kuantan Singingi c. Kab. Indragiri Hilir Sub Total 2. Prov. Sumatera Barat: a. Kab. Tanah Datar b. Kota Padang Panjang c. Kab. Agam d. Kota Bukittinggi e.Kab. Sawahlunto/Sijunjung f. Kota Sawahlunto g. Kota Payahkumbuh h. Kab. Limapuluh Kota i. Kab. Solok j. Kota Solok Sub Total Total Luas Administratif (km2) 8 198.26 7 656.03 11 605.97 Jumlah Penduduk 2004 (org) 284 302 241 766 628 500 Kepadatan Jiw/km2

35 32 54

27 460.26 1 336.0 23.0 2 232.30 25.24 3 130.80 273.45 80.43 3 354.3 7 084,2 57,64

1 154 568 339 216 44 699 428 433 100 254 343 819 52 457 104 377 324 528 444089 57300

42 254 1 943 192 3 972 110 192 1 298 97 63 994

17 587,36 45 047,62

2 238 902 3 393 470

127 75

Ditinjau dari segi kepadatan penduduk, tingkat kepadatan tertinggi di kota Bukittinggi , yaitu sebesar 3 972 jiwa/km2, dan yang terendah di Kabupaten Kuantan Singingi sebesar 32 jiwa/km2, dengan tingkat kepadatan penduduk rata-rata 75 jiwa/km2 (jarang) . Laju pertumbuhan penduduk rata-rata di WS Indragiri selama periode 1989 – 2004 relatif rendah yaitu sekitar 1.3%, di WS Indragiri Prov. Riau sebesar 2.5% sedangkan di WS Indragiri Prov. Sumatera Barat hanya 0.6%, sebagaimana tersaji pada Tabel 4 sebagai berikut.

Pola - 14

Tabel 4 Jumlah Penduduk di WS Indragiri Periode 1989 – 2004
Wilayah Sungai Indragiri Provinsi Riau
1 Kab. Indragiri Hulu 2 Kab. Kuantan Senggigi 3 Kab. Indragiri Hilir
346104 368374 379859 397750 407200 414411 437000 429180 436056 465906 455946 478066 486037 498723 501625 510256 509000 515250 569591 514848 802050 846440 865896 896473 908825 924667 946000 944430 1005647 980754 458877 524775 247306 250314 247306 282569 216732 220248 216732 240582 555701 563178 555701 626229 284302 241766 628500 -0.0015 0.0288 0.0228 0.0252

Jumlah Penduduk (orang) 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003

No I.

Rata-rata Pertum 2004 buhan

Sub Total Provinsi Sumatera Barat
1 Kab. Sawahlunto/Sijunjung 2 Kota Sawahlunto 3 Kab. Tanah Datar 4 Kab. Agam 5 Kab. Limapuluh Kota 6 Kota Padang Panjang 7 Kota Payah kumbuh 8 Kota Bukittinggi 9 Kab. Solok 10 Kota Solok

983652 10197391033740 1019739 1149380 1154568

II.

291063 297129 321630 320792 388400 291657 293557 298928 320700 302404 15383 15279 15749 15957 53300 55030 55863 55949 56086 56101 360565 342139 350296 349105 350932 358658 361508 361513 354500 356600 426902 407767 410400 419005 413600 424262 428567 433540 433693 434791 307229 297009 300020 307541 304400 310872 324345 323186 312500 313377 35282 87980 76747 38577 90872 83811 422692 42702 2037977 2884417 39698 93012 84276 40472 38312 38160 96298 94800 93019 86783 88318 89886 38153 93395 87136 49400 40147 93813 92328 51000 38257 94600 88428 52100 39057 95152 94222 53810

311244 55546 360980 436496 325937 40074 95930 96320 489220 54480

307810 313808 319890 337200 50875 51065 51760 52600 327114 320960 332700 333600 417324 418837 422231 425100 312090 313445 315677 322271 40169 40466 97997 98579 92768 93282 48120 48680 40544 94350 42817 98551 99032 101878

343819 52457 339216 428433 324258 44699 104377 100254 444089 57300

0.0156 0.01577 -0.0035 0.0004 0.0039 0.0166 0.0116 0.0186 0.0029 0.0127

464600 472000 479800 479360

438975 435950 441524 442805 55872 565582

Sub Total TOTAL

2196524 2222404 2230664 2224874 2266227 21332422135072 2173580 2213404 2238902 3142524 3166834 3236311 3205628 3249879 31529813168812 3193319 3362784 3393470

Pola - 15

3. 2.2 Mata Pencaharian dan Pendapatan Penduduk Jenis mata pencaharian utama adalah sektor pertanian sebesar 55.9%, jasa sebesar 15.6%, perdagangan sebesar 13.9%, industri pengolahan sebesar 4.2%, angkutan sebesar 2.6% dan sektor lainnya sebesar 7.7 % Tabel 5. Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun ke atas ( Usia Bekerja) di WS Indragiri Tahun 2000
No. Wilayah Sungai Indragiri I. Propinsi Riau 1 Kab. Indragiri Hulu 2 Kuantan Senggigi 3 Kab. Indragiri Hilir Sub Total Propinsi Sumatera Barat Kab. Sawahlunto/Sijunjung Kota Sawahlunto Kab. Tanah Datar Kab. Agam Kab. Limapuluh Kota Kota Padang Panjang Kota Payah kumbuh Kota Bukittinggi Sub Total TOTAL Tan. Pangan 20135 29418 55336 104889 22.2 79494 4172 64665 76562 74513 1529 7463 862 309260 42.3 414149 34.4 Perkebunan Perikanan Peterna kan 305 220 472 997 0.2 720 384 1069 781 2902 75 670 58 6659 0.9 7656 0.6 Pekerjaan Perta nian Industri Lainnya Pengolahan 8763 11198 9016 28977 6.1 10179 640 10284 12001 13761 79 1006 379 48329 6.6 77306 6.4 5003 2697 7169 14869 3.2 6336 1631 4630 8173 4680 797 2523 1994 30764 4.2 45633 3.8 Perdag. Jasa Angku tan Lainnya TOTAL

30699 29759 112253 172711 36.6 21463 219 2307 5712 11093 24 85 80 40983 5.6 213694 17.8

785 261 6555 7601 1.6 329 10 537 2115 897 17 70 15 3990 0.5 11591 1.0

11569 10397 28636 50602 10.7 13461 2682 20196 22716 14211 4298 10022 14011 101597 13.9 152199 12.7

15162 11653 21829 48644 10.3 14148 5504 18403 26010 17396 5670 12511 14274 113916 15.6 162560 13.5

2224 1633 3030 6887 1.5 3017 657 4220 4129 3021 754 1482 1881 19161 2.6 26048 2.2

12611 6710 16513 35834 7.6 9031 3641 13492 15560 7857 1493 2510 2835 56419 7.7 92253 7.7

107256 103946 260809 472011 100.0 158178 19540 139803 173759 150331 14736 38342 36389 731078 100.0 1203089 100.0

II. 1 2 3 4 5 6 7 8

Pola - 16

3.2.3 Sektor Pertanian 3.2.3.1 Sub Sektor Tanaman Pangan Di WS Indragiri yang memberikan kontribusi terbesar pada sektor Pertanian adalah sub sektor Tanaman Pangan , yaitu sebesar 22,2 % di Provinsi Riau dan 34,4 % di Provinsi Sumatera Barat. Pada tahun 2004, sesuai PDRB/Perekonomian Tahun 2004, untuk Provinsi Sumatera Barat kontribusi sub sektor Tanaman Pangan sebesar 12,04 %. Tanaman pangan didominasi oleh padi, jagung, ubikayu, ubi jalar, dan kacang tanah. Gambar 3 sampai dengan Gambar 6 berikut menjelaskan trend produksi tanaman pangan di WS Indragiri

GambarG a m b a r 3 .3 .1 . P e r kProduksi n P r oSawah a d iWSw a h d i 3 Perkembangan e m b a n g a Padi d u k s i P di S a Indragiri
W S I n d r a g ir i
1400000 1200000 Produksi (ton) 1000000 800000 600000 400000 200000 0 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 Tah u n

P ro p in s i R ia u

P ro p in s i S u m a te ra B a ra t

TO TA

Gambar 3.3.2.Perkembangan Produksi Jagung di WS Gambar 4 Perkembangan Produksi Jagung di WS Indragiri Indragiri
80000 70000

Produksi (ton)

60000 50000 40000 30000 20000 10000 0 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

Tahun
Propinsi Riau Propinsi Sumatera Barat TOTAL

Pola - 17

Gambar 3.3.3. Perkembangan Ubi Kayu di Kayu di WS Gambar 5 Perkembangan ProduksiProduksi Ubi WS Indragiri Indragiri

160000 140000 120000 100000 80000 60000 40000 20000 0 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 Tahun
1 Propinsi Riau 2 Propinsi Sumatera Barat 3 TOTAL

Produksi (ton)
Produksi (ton)

Gambar 3.3.4. Perkembangan Produksi Ubi Jalar (ton) di WS Gambar 6 Perkembangan Produksi Ubi Jalar di WS Indragiri Indragiri
40000 35000 30000 25000 20000 15000 10000 5000 0 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 Tahun
Propinsi Riau Propinsi Sumatera Barat TOTAL

3.2.3.2 Sub Sektor Perkebunan

Sub sektor perkebunan memberikan kontribusi sebesar 5.2 % untuk PDRB Provinsi Sumatera Barat dan 4.2% untuk PDRB Provinsi Riau pada tahun 2003. Komoditi perkebunan yang dominan di WS Indragiri adalah karet, kelapa sawit , kelapa dan kayu manis. Tanaman karet dan kelapa yang dibudidayakan umumnya adalah perkebunan rakyat, sedangkan perkebunan kelapa sawit sebagian besar adalah perkebunan besar swasta/negara. Di Pulau Sumatera tanaman karet merupakan salah satu tanaman tahunan tradisionil disamping kopi dan lada. Pada tahun 2003 di WS Indragiri produksi karet berjumlah 234.473 ton slab, di WS Indragiri Riau sebesar 117.531 ton slab (50.1%) sedangkan

Pola - 18

produksi karet di WS Indragiri Sumatera Barat berjumlah 116.942 ton (49,9 %) Pada tahun 2003 luas tanaman karet rakyat di WS Indragiri Riau sebesar 117.531 Ha (57.8%) , sedangkan di WS Indragiri Sumatera Barat pada tahun 2004 seluas 85.807 Ha (42.2%). Di Kabupaten Indragiri Hulu, luas areal perkebunan karet milik Perseroan Terbatas Perkebunan (PTP)/Perkebunan Besar Swasta (PBS) sebesar 2.745 Ha yang terletak di Kecamatan Pasir Penyu dan seluruhnya merupakan tanaman menghasilkan (TM). Disamping itu terdapat perkebunan Pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) seluas 11.349 Ha yang dikelola oleh PTPN V. Gambar 7 berikut menjelaskan trend perkembangan luas areal tanaman karet di WS Indragiri.

Gambar 3.3.5. Perkembangan Luas Areal Tanaman Karet di WS Karet Gambar 7 Perkembangan Luas Areal Tanaman Indragiridi WS Indragiri
350000 300000 250000 Luas (ha) 200000 150000 100000 50000 0 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 Tahun Propinsi Riau Propinsi Sumatera Barat TOTAL

Tanaman perkebunan yang dominan lainnya adalah kelapa yang juga merupakan tanaman tradisional. Produksi kelapa tahun 2003 di WS Indragiri berjumlah 476.835 ton , dimana 93.3% di WS Indragiri Sumatera Barat dan 6.7% di WS Indragiri Riau. Luas areal perkebunan kelapa pada tahun 2003 di WS Indragiri adalah 469.983 Ha dimana 94.6% terdapat di WS Indragiri Riau dan 5.4% terdapat di WS Indragiri Sumatera Barat. Beberapa perkebunan swasta besar juga terdapat di kabupaten ini seperti Sri Guntung Hasrat Makmur, Multi Gambut Indonesia, dll. Perkebunan kelapa yang terbesar di WS Indragiri Sumatera Barat terdapat di

Pola - 19

kabupaten Agam yaitu 14.000 Ha (55.4%), kabupaten ini sebagian terletak di dataran rendah dan memliki garis pantai yang sesuai untuk tanaman kelapa. Perkembangan luas perkebunan kelapa di WS Indragiri Sumatera Barat periode 1991 - 2003 relatif tinggi yaitu rata-rata 10.7%/tahun sedangan di WS Indragiri Riau meningkat dengan rata-rata 3.0%/tahun. Gambar 8 berikut menjelaskan trend perkembangan areal perkebunan kelapa di WS Indragiri.

Gambar 3.3.6. Perkembangan Luas Perkebunan Kelapa di WS Indragiri

Gambar 8

Perkembangan Luas Perkebunan Kelapa di WS Indragiri

600000 500000 Luas (Ha)_ 400000 300000 200000 100000 0 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 Tahun

Propinsi Riau

Propinsi Sumatera Barat

TOTAL

Komoditi perkebunan lainnya dan merupakan primadona bagi Provinsi Riau adalah kelapa sawit. Harga jual output yang relatif menguntungkan, tersedianya dan relatif murahnya bibit, teknologi budidaya yang relatif sederhana, biaya pemeliharaan relatif rendah, serangan hama penyakit relatif kecil, dan harga lahan yang relatif rendah merangsang masyarakat untuk bercocok tanam komoditi kelapa sawit. Produksi kelapa sawit pada tahun 2003 di WS Indragiri berjumlah 1.577.994 ton TBS (tandan buah segar), sedangkan di WS Indragiri Riau berjumlah 1.460.080 ton TBS (92.5%) , sedangkan produksi kelapa sawit di WS Indragiri Sumatera Barat pada tahun 2004 berjumlah 117.914 ton TBS (7.5% dari produksi WS Indragiri). Luas perkebunan kelapa sawit di WS Indragiri pada tahun 2004 berjumlah 325.381 Ha yang mana 283.723 Ha (87.2 %) terdapat di WS Indragiri Riau dan 41.658 Ha (12.8%) terdapat di WS Indragiri Sumatera Barat .

Pola - 20

Luas perkebunan sawit di Kabupaten Indragiri Hulu sampai tahun 2003 yang dikelola PTP/PBS baik dalam bentuk PIR mapun non PIR 84.164 Ha. : • Pola PIR antara lain dikelola oleh PT. Meganusa Inti Sawit sebesar 14.000 Ha, PT. Inti Indosawit sebesar 8.900 Ha, dan PT. Regunas Agri Utama sebesar 5.776 Ha. • Pola non PIR dengan total luas areal 55.488 Ha yang tersebar di Kecamatan Rengat Barat sebesar 1.000 Ha, Kec. Seberida sebesar 17.915 Ha, Kec.Pasir Penyu sebesar 23.803 Ha, Kec Kelayang sebesar 1.000 Ha, dan Kec. Peranap sebesar 8.770 Ha. 3.2.3.3 Sub Sektor Perikanan Perkembangan produksi budidaya perikanan darat di perairan umum (danau, telaga, sungai) dan tambak air payau/kolam selama periode 1991 – 2004 di WS Indragiri cenderung menurun dengan laju penurunan rata-rata 2.2%/tahun, di WS Indragiri Riau menurun rata-rata 2.4%/tahun, sementara di WS Indragiri Sumatera Barat meningkat ratarata sebesar 4.3%/tahun. Produksi perikanan perairan umum di WS Indragiri pada tahun 2003 berjumlah 6.807 ton dimana 3.754 ton (55.1%) berasal dari WS Indragiri Riau dan 3.053 ton (44.9%) berasal dari WS Indragiri Sumatera Barat. Produksi perikanan perairan umum terbesar berasal dari sungai yaitu 2.563,9 ton (82.9%) dan danau sebesar 196,8 ton (6.4%). Luas daerah perairan umum di Kabupaten Indragiri Hilir mencapai 88.933 Ha. Kecamatan yang memiliki daerah perairan umum yang luas antara lain: Kec. Gaung seluas 16.125 Ha (18.1%), Kec. Batang Tuaka seluas 13.618,7 Ha (15.3%), Kec. Kuala Indragiri seluas 12.353,5 Ha (13.9%). Luas perairan umum di WS Indragiri Sumatera Barat pada tahun 2003 tercatat 24.966 Ha , kabupaten terluas yang memiliki perairan umum adalah Kabupaten Agam seluas 10.466 Ha kemudian Kabupaten Tanah Datar seluas 7.120 Ha. Di WS Indragiri Sumatera Barat terdapat 2 danau yaitu:1) Danau Singkarak seluas 13.011 Ha yang berada di Kabupaten Tanah Datar dan Solok, 2) Danau Maninjau seluas 9.950 Ha yang terdapat di Kabupaten Agam. Produksi perikanan budidaya tambak air payau hanya terdapat di WS Indragiri Riau yaitu di Kabupaten Indragiri Hilir dengan produksi pada tahun 2003 berjumlah 1.329 ton.Selama periode 1992 –2003 produksi tambak meningkat signifikan dengan laju rata- rata pertumbuhan 59%. Luas tambak di daerah ini pada tahun 1998 seluas 160,5 Ha. Jenis ikan yang dibudidayakan umumnya adalah udang windu.

Pola - 21

Produksi perikanan kolam dan keramba di WS Indragiri pada tahun 2003 berjumlah 12.236 ton, yang mana 10.547 ton (86.2 %) dihasilkan oleh WS Indragiri Sumatera Barat dan 1.690 ton (13.8%) dihasilkan oleh WS Indragiri Riau. 3.2.3.4 Sub Sektor Peternakan Sub sektor peternakan ruminansia meliputi tiga jenis ternak yang dominan yaitu usaha ternak sapi, kerbau dan kambing. Usaha ternak ini umumnya adalah usaha ternak rakyat. Data usaha penggemukan sapi (fattening) ataupun usaha sapi perah di WS Indagiri sampai saat ini belum ditemukan. Sedangkan usaha ternak kerbau dan kambing hampir seluruhnya usaha ternak rakyat. Populasi sapi di WS Indragiri selama periode 1991 – 2004 meningkat rata-rata 1.5%/tahun yang mana di WS Indragiri Riau menurun rata-rata 07%/tahun sedangkan di WS Indragiri Sumatera Barat meningkat rata-rata 3.6%/tahun. Populasi pada tahun 2003 di WS Indragiri berjumlah 312.384 ekor yang terdiri dari 48.855 ekor (15.6%) terdapat di WS Indragiri Riau dan 263.529 ekor (84.4%) terdapat di WS Indragiri Sumatera Barat. Gambar 9 menjelaskannya trend perkembangan populasi ternak di WS Indragiri

Gambar 3.3.7. Perkembangan Populasi Sapi di WS Indragiri Gambar 9 Perkembangan Populasi Sapi di WS Indragiri
350000 300000 Populasi (ekor) 250000 200000 150000 100000 50000 0 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 Tahun Propinsi Riau Propinsi Sumatera Barat TOTAL

Usaha ternak kerbau juga berkembang di WS Indragiri terutama di Sumatera Barat. Selama periode 1991 – 2004 populasi kerbau meningkat dengan laju pertumbuhan rata-rata 1.6%/tahun. Populasi kerbau di WS Indragiri Riau cenderung lebih cepat berkembang dengan laju pertumbuhan 3.7%/tahun dibandingkan dengan WS Indragiri Sumatera Barat yang hanya 2.4%/tahun.

Pola - 22

Gambar 3.3.8. Perkembangan Populasi Kerbau di WS Indragiri

Gambar 10 Perkembangan Populasi Kerbau di WS Indragiri

200000 180000 160000 140000 120000 100000 80000 60000 40000 20000 0 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 Tahun Propinsi Riau Propinsi Sumatera Barat TOTAL

Pada tahun 2003 populasi kerbau di WS Indragiri berjumlah 177.457 ekor yang mana 161.029 ekor (90.7%) berasal dari WS Indragiri Sumatera Barat sedangkan dari WS Indragiri Riau berjumlah 16.428 ekor (9.3%). Ternak kerbau di Sumatera Barat merupakan ternak tradisional dan bagian dari adat istiadat. Komoditas ternak lainnya adalah kambing dengan trend pekembangan populasi digambarkan pada Gambar 11.
Gambar 3.3.9. Perkembangan Populasi Kambing di WS Gambar 11 Perkembangan Populasi Kambing di Indragiri WS Indragiri
250000 Jumlah (ekor) 200000 150000 100000 50000 0
19 94 19 95 19 96 19 97 19 98 19 99 20 00 20 01 20 02 20 03 19 91 19 92 19 93 20 04

Jumlah (ekor)

Tahun Propinsi Riau Propinsi Sumatera Barat TOTAL

Pada tahun 2003 populasi ternak kambing di WS Indragiri berjumlah 181.480 ekor yang mana 117.237 ekor (64.6%) terdapat di WS Indragiri Sumatera Barat dan 64.243 ekor (35.4%) terdapat di WS Indragiri Riau.

Pola - 23

3.2.3.5 Sub Sektor Kehutanan Luas hutan di WS Indragiri selama periode 2001 - 2004 menurun tajam dengan laju penurunan rata- rata 21.5%/tahun. Sampai tahun 2003 luas hutan di WS Indragiri Riau tinggal 790.503 Ha dimana Kabuapaten Indragiri Hulul yang memiliki hutan terluas yaitu 461.071 Ha (58.3%) dan Kabupaten Indragiri Hulul yang memiliki hutan terkecil yaitu 143.790 Ha (18.2%). Luas hutan di WS Indragiri Sumatera Barat sampai pada tahun 2004 berjumlah 1.333.557 Ha dimana Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung memiliki hutan terluas yakni 636.815 Ha (47.8%) dan kedua terbesar adalah Kabupaten Limapuluh Kota dengan luas 335.479 Ha (25.2%) sedangkan Kota Bukittinggi, Padangpanjang, Payakumbuh, dan Kota Sawahlunto tidak memiliki hutan. Berdasarkan fungsi hutannya, luas hutan lindung di WS Indragiri menurun luasnya selama periode 2001 – 2004 dengan laju penurunan rata-rata 2.5%/tahun. Luas hutan lindung di WS Indragiri Sumatera Barat selama periode tersebut luasannya tetap sedangkan di WS Indragiri Riau meningkat tajam rata-rata 78.2%/tahun. Luas hutan lindung terbesar di WS Indragiri Riau terdapat di Kabupaten Indragiri Hulul dengan luas 205.979 Ha (76.9%). Sementara di WS Indragiri Sumatera Barat terluas terdapat di Kabupaten Limapuluh Kota dengan luas 151.174 Ha (43.8%). Luas hutan lindung ini perlu dijaga kelestariannya karena merupakan daerah tangkapan air WS Indragiri. Luas hutan produksi terbatas yaitu hutan yang dapat diproduksi dengan sistim tebang pilih di WS Indragiri selama periode 2001 – 2004 menurun rata-rata 32.7%/tahun yang mana di WS Indragiri Riau menurun rata-rata 16.5%/tahun dan di WS Indragiri Sumatera Barat meningkat rata-rata 2.6%/tahun. Luas hutan produksi terbatas pada tahun 2003 di WS Indragiri seluas 351.673 Ha , sedangkan di WS Indragiri Sumatera Barat pada tahun 2004 seluas 72.880 Ha. Luas hutan produksi tetap di WS Indragiri selama periode 2001 – 2004 menurun rata-rata 24.1%/tahun yang mana di WS Indragiri Riau menurun rata-rata 32.7%/tahun dan sebaliknya di WS Indragiri Sumatera Barat meningkat rata-rata 4.6%/tahun. Luas hutan produksi tetap pada tahun 2003 di WS Indragiri seluas 131.150 Ha dimana sebanyak 104 016 Ha (79.3%) berada di WS Indragiri Sumatera Barat dan 27.134 Ha (20.7%) berada di WS Indragiri Riau. Jenis hutan berdasarkan fungsi lainnya adalah hutan suaka margasatwa tetap yang secara langsung juga penting peranannya dalam menjaga konservasi sumberdaya alam. Fungsi utama hutan ini adalah menjaga kelestarian satwa langka yang masih ada. Luas hutan suaka margasatwa pada tahun 2003 di WS Indragiri seluas 392.457 Ha dimana sebanyak 145.043 Ha (37.0%) berada di WS Indragiri Sumatera Barat dan 247.414 Ha (63.0%) berada di WS Indragiri Riau. Luas hutan suaka margsatwa tetap terluas di WS Indragiri Riau pada tahun 2003 berada di Kabupaten

Pola - 24

Indragiri Hulul seluas 184.728 Ha (74.7%) sedangkan di WS Indragiri Sumatera Barat pada tahun 2004 terdapat di Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung seluas 63.745 Ha (44.1%). Untuk menjaga kelestarian hutan pemerintah juga melakukan program reboisasi dan rehabilitasi, dimana di Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2004 telah dilakukan reboisasi seluas 1.419 Ha dan penghijauan (agroforestry) seluas 4.108 Ha. Dari data yang tersedia produksi hasil hutan Provinsi Riau untuk kayu bulat (log) pada tahun 2003 berjumlah 195.093 m3, sementara di Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2004 berjumlah 437.257 m3. Selama periode 1991- 2003 di Provinsi Riau produksi kayu bulat meningkat rata-rata 37.8%/tahun sedangkan di Prov. Sumatera Barat meningkat dengan laju pertumbuhan yang lebih kecil yaitu 8.1%/tahun. Produksi kayu bulat di WS Indragiri Riau pada tahun 2003 berjumlah 39 785 m3 dan selama periode 2001 – 2003 menurun rata-rata 55.8%/tahun. Produksi kayu gergajian (sawn timber) di Provinsi Riau pada tahun 2003 berjumlah 400 351 m3 da di Provinsi Sumatera Barat berjumlah 95 770 m3. Produksi kayu gergajian di Provinsi Riau periode 1990 –2003 meningkat rata-rata 9.4%/tahun, sedangkan di Provinsi Sumatera Barat periode 1990 -2004 meningkat rata-rata 81.7%/tahun. Untuk WS Indragiri Riau produksi kayu gergajian pada tahun 2003 berjumlah 241.862 m3 dan Kabupaten Kuantan Singingi sebagai produsen terbesar yaitu 135.404 m3 (56.0%). Produksi ini cenderung meningkat rata-rata 18.4%/tahun kurun waktu 2001 – 2003. Produksi hasil hutan lain yang menjadi primadona kehutanan di Provinsi Riau adalah pulp. Pabrik Riau Pulp Paper yang berada di Kabupaten Pelalawan merupakan salah satu pabrik pulp terbesar di Indonesia. Produksi pulp di Provinsi Riau pada tahun 2003 berjumlah 2.167.672 m3 dan selama kurun waktu 1990 – 2003 produksi ini meningkat rata-rata 222.5%. Produksi hasil hutan lainnya di Provinsi Riau adalah kayu lapis (plywood) dimana produksi pada tahun 2003 berjumlah 404.466 m3 dan selama periode 1990 – 2003 produksi ini cenderung menurun rata-rata 1.5%/tahun. Di Provinsi Sumatera Barat hasil hutan lainnya yang potensial adalah getah pinus, rotan dan damar. Produksi getah pinus pada tahun 2004 berjumlah 388.857 kg dan meningkat rata-rata 105.0%/tahun. Getah pinus, rotan dan damar merupakan produk hasil hutan yang mendukung konservasi, dan jenis tanaman untuk sosial forestry.

Pola - 25

3.2.4. Sektor Energi dan Air Bersih 3.2.4.1 Sub Sektor Listrik Berdasarkan jenis pelanggannya, konsumsi listrik terbesar diserap oleh sektor rumah tangga dimana pada tahun 2004 jumlah listrik yang dikonsumsi di WS Indragiri Sumatera Barat sebesar 342,223 MWH dan di WS Indragiri Sumatera Barat mencapai 254,199 MWH (74.3% dari total pelanggan). Jumlah konsumsi listrik dari pelanggan rumah tangga terbesar berasal dari Kabupaten Agam sebesar 60,688 MWH (23.9%) yang disuplai oleh PLN Cabang Lubuk Basung, Simpang IV dan Baso. Kemudian yang kedua terbesar adalah Kota Bukittinggi sebesar 45,339 MWH (17.8%) yang disuplai oleh PLN Cabang Bukittinggi. Kabupaten Agam merupakan pengkonsumsi lisrik terbesar di WS Indragiri Sumatera Barat pada tahun 2004 yaitu 73,988 MWH (21.6%), kemudian Kota Bukittinggi sebesar 67,368 MWH (19.7%), sebagaimana tergambar pada Gambar 12.

Gambar 3.3.10. Perkembangan Konsumsi Total Listrik di Gambar 12 Perkembangan Konsumsi Total LIstrik di WS WS Indragiri Indragiri
400000 350000 Konsumsi (mwh) 300000 250000 200000 150000 100000 50000 0 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 Tahun Provinsi Riau Provinsi Sumatera Barat Total

Di Kabupaten Agam terdapat PLTA (Hydropower) , yaitu PLTA Agam dengan kapasitas 10,5 MW dan PLTA Maninjau dengan kapasitas 68 MW dengan sumberdaya air dari Danau Maninjau. Berdasarkan data di BPS pada tahun 2003, hanya 70.1% dari seluruh rumah tangga yang menggunakan listrik di WS Indragiri, yakni 58.4% listrik PLN dan 11.8% listrik non PLN, sedangkan 29.9% rumah tangga

Pola - 26

lainnya menggunakan sumber penerangan petromak, pelita/sentir dan lainnya. Persentase penduduk di WS Indragiri Riau yang menggunakan listrik sebagai sumber penerangan relatif rendah yaitu 52.8% yang mana 32.2% berasal dari PLN dan 20.6% berasal dari non PLN. Sementara di WS Indragiri Sumatera Barat persentase rumah tangga yang sudah menggunakan listrik relatif tinggi yaitu 87.5% yang mana 84.51% berasal dari PLN dan hanya 2.94% dari non PLN, sebagaimana tertera pada Tabel 6 sebagai berikut. Tabel 6. Persentase Rumah Tangga yang Menggunakan Listrik dan non Listrik
Sumber Penerangan No. I. Wilayah Sungai Indragiri Provinsi 1. Kab. Indragiri Hulu Riau 2. Kuantan Singingi 3. Kab. Indragiri Hilir Sub Total II. Provinsi 1. Kab. Sawahlunto/Sijunjung Sumatera 2. Kota Sawahlunto Barat 3. Kab. Tanah Datar 4. Kab. Agam 5. Kab. Limapuluh Kota 6. Kota Padang Panjang 7. Kota Payahkumbuh 8. Kota Bukit tinggi Sub Total Total Listrik PLN 37.2 35.4 24.1 32.2 62.8 81.3 87.8 87.0 67.6 98.5 92.9 98.2 84.5 58.36 Listrik Non Petromak Pelita/ Jumlah PLN Senter, dll 17.5 25.8 18.5 20.6 9.5 7.9 1.3 2.5 0.7 0.7 0.2 0.8 2.9 11.77 9.0 3.7 16.6 9.8 5.1 4.1 2.5 8.0 13.3 0.8 4.2 0.6 4.8 7.29 36.4 35.1 40.8 37.4 22.6 6.8 8.4 2.5 18.4 0.0 2.7 0.3 7.7 22.6 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

Sumber: 1. Statistik Kesejahteraan Propinsi Riau 2003. 2. Survei Sosial Ekonomi Nasional 2003 Propinsi Sumatera Barat.

Konsumsi listrik oleh badan usaha (kantor pemerintah/swasta, hotel dan restauran ) Di WS Indragiri Sumatera Barat , jenis pelanggan kategori umum (rumah sakit, sekolah, rumah ibadah dna fasilitas umum lainnya) merupakan pengkonsumsi listrik kedua terbesar sesudah rumah tangga yaitu 44.260 MWH (12.9%).

Pola - 27

3.2.4.2. Sub Sektor Air Bersih Produksi air minum di WS Indragiri sebesar 15.4 juta m3 (69.7%) sebagian besar berasal dari mata air (water spring), kemudian dari sungai 6.5 juta m3 (29.3%) dan selebihnya 0.2 juta m3 (1.0%) berasal dari artesis (air tanah). Di WS Indragiri Riau 91.4% air minum yang diproduksi berasal dari air sungai, sedangkan sumber air minum terbesar di WS Indragiri Sumatera Barat berasal dari mata air yakni 15.4 juta m3 (78.6%) dan selebihnya 21.4% berasal dari air sungai. Tabel 7. Produksi Air Minum menurut Sumber Air di WS Indragiri Tahun 2003
Sumber Air (000 m3) No. Wilayah Sungai Indragiri 1 Kab. Indragiri Hulu 2 Kuantan Sengingi 3 Kab. Indragiri Hilir Sub Total II. Provinsi Sumatera Barat 1 Kab. Sawahlunto /Sijunjung 2 Kota Sawahlunto 3 Kab. Tanah Datar 4 Kab. Agam 5 Kab. Limapuluh Kota 6 Kota Padang Panjang 7 Kota Payah kumbuh Kota Bukit tinggi Sub Total Total Sungai 1637 67 588 2292 1191 918 0 1369 725 0 0 0 4203 6495 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2229 1088 0 2094 5498 4515 15424 15424 215 215 0 0 0 0 0 0 0 0 0 215 Danau 0 Mata Air 0 Artesis 0 Total 1637 67 803 2507 1191 918 2229 2457 725 2094 5498 4515 19627 22134 I. Provinsi Riau

Jumlah pelanggan PAM di WS Indragiri Sumatera Barat sampai pada tahun 2004 berjumlah 61.339 unit, sedangkan di WS Indragiri Riau sampai pada tahun 2000 berjumlah 11.479 unit Jika dilihat ke seluruh rumah tangga yang ada di WS Indragiri Sumatera Barat pada tahun 2004 maka persentase rumah tangga yang menggunakan air PAM/ledeng masih rendah yaitu 12.82%, sedangkan di WS Indragiri Riau pada tahun 2000 baru mencapai 4.63%. Sumber air minum lain yang banyak digunakan masyarakat adalah dari air sumur/perigi yaitu 47.4%% dari seluruh rumah tangga di WS Indragiri Riau dan 40.3% rumah tangga di WS Indagiri Sumatera Barat. Sedangkan sumber air minum utama di Kabupaten Indragiri Hilir berasal

Pola - 28

dari air hujan yaitu sebanyak 94.2% rumah tangga mengkonsumsinya, karena daerah ini sebagian besar daerah pasang surut. Tabel 8. Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum WS Indragiri Tahun 2003
Sumber Air minum No. Wilayah Sungai Indragiri Ledeng/ Sumur PAM 5.4 6.4 3.4 5.1 9.4 34.9 23.4 13.5 3.6 64.2 66.2 54.1 33.7 19.4 63.6 76.3 2.4 47.4 44.7 38.7 43.0 56.4 59.9 29.9 22.4 27.6 40.3 43.9 Mata Pomp Air Lainnya Jumlah Air a Sunga i 0.0 3.4 0.0 1.1 34.7 15.3 28.9 19.0 28.0 2.9 11.3 5.8 18.2 9.7 2.3 1.0 0.0 1.1 0.7 1.9 0.2 4.2 4.3 2.5 0.2 10.4 3.0 2.1 19.0 12.9 1.1 11.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 5.5 28.7 0.0 94.2 41.0 10.5 9.3 4.5 7.0 4.2 0.4 0.0 2.1 4.7 22.8 100 100 100 100.0 100 100 100 100 100 100 100 100 100.0 100.0

di

I. Provinsi Riau

1. Kab. Indragiri Hulu 2. Kuantan Singingi 3. Kab. Indragiri Hilir Sub Total

II. Provinsi Sumatera Barat

1. Kab. Sawahlunto/Sijunjung 2. Kota Sawahlunto 3. Kab. Tanah Datar 4. Kab. Agam 5. Kab. Limapuluh Kota 6. Kota Padang Panjang Kota Payahkumbuh Kota Bukit tinggi Sub Total Total

Selama kurun waku 1991 – 2004 jumlah air yang dikonsumsi oleh pelanggan rumah tangga di WS Indragiri Sumatera Barat meningkat ratarata 7.4%/tahun. Jumlah air yang dikonsumsi oleh pelanggan rumah tangga di WS Indragiri Sumatera Barat pada tahun 2004 berjumlah 11.75 juta m3 atau setiap rumah tangga mengkonsumsi air PAM sebanyak 215.9 m3 per tahunnya. Dengan rata-rata 4.18 jwa/kk berarti tingkat konsumsi air per kapita per tahun 51.65 m3. Kebutuhan air minimun /kapita/tahun adalah 60lt/hr atau 21.9 m3 jadi konsumsi di atas melebihi konsumsi minimun. Sementara di WS Indragiri Riau jumlah air yang dikonsumsi oleh pelanggan rumah tangga pada tahun 1999 mencapai 1.16 juta m3 atau 121.6 m3/rumah tangga/tahun. Jenis pelanggan lainnya pengguna air PAM adalah kelompok niaga dan industri temasuk hotel dan restauran. Jumlah pelanggan niaga dan industri selama masa 1991 - 2004 di WS Indragiri Sumatera Barat meningkat signifikan rata-rata 10.4%/tahun, sedangkan di WS Indragiri Riau periode 1999 – 2000 meningkat 11.0%/tahun.

Pola - 29

Sampai pada tahun 2004 jumlah pelanggan kelompok niaga dan industri di WS Indragiri Sumatera Barat berjumlah 4.128 unit. 3.2.5 Sektor Pariwisata Jumlah obyek wisata di WS Indragiri Sumatera Barat pada tahun 2004 berjumlah 51 buah yang terdiri dari wisata alam, wisata sejarah, wisata kepurbakalaan dan wisata seni budaya. Di wilayah ini terdapat dua danau yaitu Danau Singkarak yang terletak di Kabupaten Tanah Datar dan Danau Maninjau yang terletak di Kabupaten Agam, serta obyek wisata lainnya seperti Ngarai Sianok, Benteng peninggalan Belanda abad ke-18 Fort De Kock, Gua Pertahanan Jepang, semuanya menjadi daya tarik bagi wisatawan. Semakin berkembangnya sektor pariwisata akan berdampak pula pada semakin meningkatnya kebutuhan air dalam rangka melayani industri pariwisata seperti jasa perhotelan, demikian pula dalam rangka penggunaan sumber daya air untuk keperluan olahraga air baik di danau maupun sungai. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Barat selama periode 1990 – 2004 meningkat signifikan rata-rata 10.1%/tahun. Berdasarkan asalnya, jumlah wisman meningkat rata-rata 8.0%/tahun dan wisatawan nusantara/wisnu meningkat lebih tinggi yaitu rata-rata 10.7%/tahun. Trend perkembangan jumlah kunjungan wisatawan ke Prov. Sumatera Barat tertera pada Gambar 13 , di bawah ini.

Gambar 3.3.11. Perkembangan Wisatawan di Provinsi Sumbar Perkembangan Wisatawan di Prov. Gambar 13
Sumatera Barat
1200000 1000000 Jumlah (orang) 800000 600000 400000 200000 0 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 1997 Wisman Wisnu Sub Total

Pada tahun 2004 jumlah kunjungan wisatawan ke Prov. Sumatera Barat mencapai 1.120.164 jiwa yang terdiri dari 4.9% wisman dan 95.1% wisnu. Khusus kunjungan wisatawan ke Bukittinggi pada tahun 2004 berjumlah 183.904 jiwa yang terdiri dari 7.8% wisman dan 92.2% wisnu.

Pola - 30

Pemerintah daerah Sumatera pembangunan pariwisata yaitu:

Barat

memiliki

pendekatan

dalam

1. Berbasis kerakyatan (Community Base Development) dengan pengembangan pariwisata inti rakyat. 2. Pendekatan sosial budaya yaitu Clean Tourism 3. Pendekatan lintas wilayah dan lintas sektor, pengembangan kerjasama antar wilayah seperti Indonesia Malayasia Thailand – Growth Triangle (IMT- GT) dan Indonesia Malaysia Singapura – Growth Triangle (IMS – GT). 4. Pendekatan Menoleh keluar. 5. Sasaran yang ingin dicapai oleh Pemda Sumatera Barat pada tahun 2005 adalah: 1) Kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 72.500 orang dengan lama tinggal (long stay) 4.8 hari, dan belanja wisata sebesar US$ 421.1 juta, 2) Kunjungan wisatawan nusantara sebanyak 1.252 juta dengan lama tinggal 3.4 hari dan belanja wisata Rp 352.8 miliar. Untuk mendukung peningkatan jumlah kunjungan wisatawan perlu prasarana pariwisata yang memadai seperti, akomodasi, restoran, prasarana dan sarana transportasi, jobyek wisata yang menarik, kemudahan pencapaian ke lokasi obyek wisata, keramahtamahan dan keamanan. Dari observasi lapangan semua prasarana pariwisata ini sudah dimiliki oleh Sumatera Barat. Sub sektor hotel pada PDRB Sumatera Barat tahun 2004 memberikan kontribusi ekonomi relatif kecil Rp 60.4 milyar (0.16% dari PDRB) dan bertumbuh 3.1% dibandingkan tahun 2003. Jumlah hotel di WS Indragiri sampai pada tahun 2004 berjumlah 109 buah dan yang terbesar terdapat di Bukittinggi yaitu 49 buah (45.0%). Selama periode 2000 – 2004 jumlah hotel menurun rata-rata 4.9%/tahun. Hal ini karena tingkat hunian hotel (occupancy rate) yang relatif rendah yaitu untuk hotel berbintang hanya 39.0% periode 2003 – 2004, sedangkan hotel non berbintang hanya 34.3%/tahun. Kemudian rata-rata lama menginap juga relatif rendah yaitu 1.7 hari untuk hotel berbintang dan non bintang Restoran juga sebagai sarana pendukung pariwisata, jumlah restoran yang ada di wilayah WS Indragiri Sumatera Barat sampai pada tahun 2004 berjumlah 45 buah dan 46.7% terdapat di Bukittinggi, 17.8% terdapat di Kabupaten Tanah Datar. Sub sektor Restoran pada tahun 2004 memberikan kontribusi 0.48% dengan nilai ekonomi Rp 179.1 milyar, dan dibandingkan dengan tahun 2003 bertumbuh 4.2%. Berdasarkan kebangsaannya persentase turis asing yang dominan pada tahun 2004 berasal dari Malaysia sebesar 22.0%, Singapura sebesar 11.5%, dan Austalia dan Selandia Baru sebesar 10.5%, turis-turis lainnya

Pola - 31

dari Belanda (9.2%), Jepang (9.0%), Inggris (5.8%), dan Amerika Serikat (5.1%). Obyek wisata yang cukup potensial di WS Indragiri Riau antara lain: 1. Kabupaten Indragiri Hulu a. Taman Nasional Bukit Tiga Puluh Luasnya menapai 17 698 Ha kaya akan flora (660 species) dan fauna (56 mammalia dan 192 species burung) termasuk harimau, gajah dan kera jambu. Juga terdapat suku asli Talang Mamak yang hidup nomaden. b. Istana raja peninggalan Kerajaan Indragiri di Kota Lama 2. Kabupaten Indragiri Hilir a. Air Terjun Tembulun Rusa dan Delapan Enam Terletak di utara Desa Batu Ampar dengan tinggi 15 m. b. Danau Taga Raja Guntung seluas 100 Ha Lokasi sekitar 4 km dari Kota Guntung meupakan bekas tempat mandi raja dari Kerajaan Kateman. 3. Kabupaten Kuantan Singingi a. Wisata alam berupa Air terjun Batang Koban di Lubuk Jambi, Panorama alam Bukit Cokiak di Muara Lembu, Danau Kari Koto Kari, Danau Sungai Serik, Bendungan Teso di Benai. b. Adventure tourism berupa wisata bekas Tambang Emas di Logas, olahraga rafting di Sungai Singingi dan Pangkalan Indarung, Gua Bunian di Bukit Kanua , dan olahraga mendaki di Bukit Batabuah. c. Festival Budaya Tahunan yaitu Pacu Jalur lomba perahu panjang (50 - 60 orang) yang diadakan pada hari Kemerdekaan RI, Perahu Baganduang yaitu parade perahu yang sudah dihias, dll. Jumlah wisman yang berkunjung ke WS Indragiri Riau relatif masih sedikit , jika diasumsikan turis yang berkunjung melalui pintu masuk Pekanbaru adalah turis ke daerah ini, maka pada tahun 2002 jumlah wisman hanya 1. 517 jiwa (0.008%). 3.2.6. Sektor Industri Pengolahan

Sektor industri pengolahan (industri non migas) di Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2004 memiliki nilai ekonomi Rp 4.53 triliun atau memberikan kontribusi yang signifikan sebesar 12.9% menurut harga berlaku. Sektor ini bertumbuh 3.48% pada tahun 2004 dan selama periode 2000 – 2004 bertumbuh rata-rata 2.8%/tahun, sektor industri pengolahan ini tentu menggunakan sumberdaya air untuk proses produksi maupun konsumsi karyawan.

Pola - 32

Sektor industri berdasarkan skala usahanya dikelompokkan menjadi dua yaitu Industri Menengah Besar dan Industri Kecil, masing-masing kelompok dibagi menjadi dua bagian yaitu: 1. Industri Kimia, Agro dan Hasil Hutan (IKAHH) 2. Indusri Logam, Mesin dan Elektronika (ILMEA). Jumlah industri menengah besar di WS Indragiri Sumatera Barat berdasarkan kelompoknya , jumlah IKAHH terbesar terdapat di Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung yaitu 15 unit (34.1%), kemudian Kabupaten Agam sebanyak 10 buah (22.7%) dan Kota Sawahlunto tidak memilikinya sama sekali. Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung adalah kabupaten/kota yang memiliki hutan dan lahan pertanian/perkebunan terluas di WS Indragiri Sumatera Barat sehingga industri yang berbasis pertanian (Pabrik Kelapa Sawit, Pabrik Tapioka, Parik Karet Remah, dll) tumbuh subur di daerah ini Jenis industri LMEA terbesar terdapat di Kabupaten Agam yakni 12 unit usaha (44.4%) dan hanya Kota Padang Panjang yang tidak memiliki jenis industri ini.

Tabel 9. Jumlah Industri Menengah Besar Menurut Kelompoknya di WS Indragiri Sumatera Barat
Tahun 2003 (unit) No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Kabupaten/Kota Sawahlunto/Sijunjung Sawahlunto Tanah Datar Agam Limapuluh Kota Padang Panjang Payahkumbuh Bukittinggi Sub Total IKAHH 15 0 1 10 4 3 6 5 44 ILMEA 2 2 3 12 2 0 3 3 27 Jumlah 17 2 4 22 6 3 9 8 71 Tahun 2004 (unit) IKAHH 15 0 1 10 4 3 6 5 44 ILMEA 2 2 3 12 2 0 3 3 27 Jumlah 17 2 4 22 6 3 9 8 71

Sumber: Indag Dalam Angka 2003 –2004, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Barat, 2004.

Sektor industri pengolahan di Provinsi Riau pada tahun 2003 bernilai Rp 12.3 triliun (16.7% dar Total PDRB). Sektor ini bertumbuh rata-rata 6.3%/tahu selama periode 2000 – 2003. Berdasarkan data BPS, tahun 2004 di WS Indragiri Riau terdapat 19 industri pengolahan dan 52.6% terdapat di Kabupaten Indragiri Hilir, 26.3% di Kabupaten Kuantan

Pola - 33

Singingi dan sisanya di Kabupaten Indragiri Hulu. Jenis industri yang terbesar adalah industri makanan, minuman, dan tembakau (termasuk industri pengolahan hasil pertanian) yaitu 52.6% dan sisanya adalah industri hasil hutan. Sementara di WS Indragiri Sumatera Barat jenis industri terbesar adalah industri hasil hutan sebanyak 18 unit (22.3%), tekstil sebanyak 18 unit (22.3%), dan industri makanan, minuman dan tembakau sebanyak 16 unit (19.8%). Industri hasil hutan/kayu dan barang dari kayu terbanyak terdapat di Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung sebanyak 12 unit (66.7%). Industri makanan dan minuman terbanyak terdapat di Kabupaten Tanah Datar dan Payakumbuh masing-masing 4 unit (25.0%) dan kemudian Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung sebanyak 3 unit (18.7%). 3.2.7. Sektor Pertambangan dan Penggalian Bagi Provinsi Sumatera Barat peranan sub sektor pertambangan dan penggalian relatif kecil, hal ini dapat dilihat dari kecilnya kontribusinya ke PDRB tahun 2004 yang hanya Rp 205.1 milyar (0.65%). Bahkan sub sektor ini pertumbuhan ekonominya menurun 11.5% pada tahun 2004 dibandingkan dengan tahun 2003. Sebaliknya dengan Provinsi Riau pada tahun 2003 sektor pertambangan dan penggalian memberikan nilai ekonomi Rp 12.3 triliun (16.7% dari total PDRB) dan merupakan yang terbesar dari seluruh sektor ekonomi dan bertumbuh signifikan rata-rata 6.3%/tahun. Berdasarkan Undang-undang Nomor 11 tahun 1967 tentang ketentuan pokok pertambangan, bahan galian tambang dikelompokkan atas tiga golongan yaitu bahan galian golongan A (bahan galian strategis), golongan B (bahan galian vital), dan golongan C (bahan galian yang tidak termasuk golongan A dan B). Di WS Indragiri Sumatera Barat potensi bahan tambang mulai dari Golongan A sampai C relatif banyak tetapi yang operasional saat ini hanya tambang batubara di Kota Sawahlunto yakni tambang Ombilin. Potensi bahan galian strategis batubara terdapat di daerah a.l: 1. Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung: Dengan lokasi di Sungai Tambang (Kiliran Jao), Bukit Bual, Sisawah, Muao, Kabun, Lubuk Tarab dan Jujuhan Sinamar dengan potensi 76 juta ton. 2. Kota Sawahlunto: Dengan lokasi di Tanah Hitam, Kandi, Sawah Luwung, Waringin Sugar, Sapan Dalam, Sigalut, dan Parambahan dengan cadangan terukur sebanyak 104.8 juta ton dan cadangan tertambang sebesar 38.45 juta ton. 3. Kabupaten Limapuluh Kota:

Pola - 34

Dengan lokasi di Sarilamak, Tanjung Pati, Galugur, Kapur IX. Potensi bahan galian vital (Golongan B) terdapat di daerah: 1. Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung: a. Air raksa, terdapat di Gade Talang b. Emas, terdapat di: Bukit Kabun, Batu Manjulur, Silokek, Palangki dan Lubuk Karya. c. Bijih besi, terdapat di Batu Manjulur. d. Mangan, terdapat di Batu Manjulur. e. Tembaga, terdapat di Batu Manjulur. 2. Kabupaten Limapuluh Kota: a. Emas, terdapat di: Mangani. b. Timah hitam, terdapat di: Tanjung balit, Mangani, dan Balung. c. Mangan, terdapat di: Mangani dan Ulu Air. 3. Kabupaten Tanah Datar: a. Biji besi, terdapat di: Gunung Besi. 4. Kabupaten Agam: a. Belerang, terdapat di: Kotobaru. Disamping itu terdapat pula Bahan Galian C (industri) yaitu batu kapur/gamping yang terdapat di daerah: Singkarak (6.23 juta ton) – Kab. Tanah Datar, Padang panjang (975 juta ton), Payakumbuh (45 juta ton), Muaro (16.67 juta ton), Halaban ( 825 juta ton). Perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan umum tersebar di seluruh kabupaten yang berada di WS Indragiri Sumatera Barat. Pemerintah mengeluarkan perizinan tambang bahan galian pada tahn 2003 berjumlah 85 buah dan terbanyak untuk Kabupaten Limapuluh Kota yakni 31 izin usaha. Hampir seluruh bahan galian terdapat di kabupaten ini. Dibandingkan degan tahun 2002 jumlah izin usaha ini menurun 98.8%. Berdasarkan jenis bahan tambangnya yang terbesar adalah untuk batubara yaitu 43.5% dan kedua adalah batu kapur yaitu 11.8%. Cadangan tambang dan galian di WS Indragiri Riau jauh lebih besar dibandingkan dengan WS Indagiri Sumatera Barat. Pada Tabel 10 , jumlah cadangan terindikasi batubara di Kabupaten Kuantan Singingi sebesar 73 juta ton, di Kabupaten Indragiri Hulu sebesar 1 133 juta ton cadangan tereka, 726 juta ton cadangan terindikasi dan 267 juta ton cadangan terukur. Kabupaten Indragiri Hilir juga memiliki potensi batubara sebesar 76 juta ton cadangan tereka. Menurut Dinas Pertambangan dan Energi Prov. Riau batubara di Riau termasuk jenis subbitumenous dengan nilai kalori 4.500 KKal/Kg – 5.500 KKal/Kg, dengan kandungan debu (ash content) 5% - 15.4% dan zat terbang (volatile matter) berkisar antara 33.3% - 40.2%. Bahan galian golongan B yaitu emas ditemukan di Kabupaten Kuantan Singingi sebesar 120.978 ton cadangan terukur.

Pola - 35

Tabel 10. Cadangan Bahan Galian Tambang di WS Indragiri Riau
No. 1. Bahan Galian Cadangan Golongan A: a. Batubara (juta ton): - Kab. Kuantan Singingi - Kab.Indragiri Hulu (Lokasi: Cerenti, .Ketipo, Peranap, Siberida). - Kab. Indragiri Hilir (Lokasi: Bukit Tiga Puluh Utara) 2. b. Timah : - Kab. Indragiri Hilir (Lokasi: S. Nibul, Siberida) - Kab. Indragiri Hulul (Lokasi: Peg. Tiga Puluh yaitu S. Tulang, S. Isahan, S. Akar) Golongan B: a. Emas (ton) - Kab. Kuantan Singingi b. Titan (juta ton): 3. - Kab. Indragiri Hilir Golongan C: a. Granit: - Kab. Indragiri Hulul (Lokasi: S Akar, Siberida, Bt. Kayu Mambang - Kab. Indragiri Hilir (Lokasi: Peg. Endalang, Reteh) b. Pasir Kuarsa : - Kab. Indragiri Hulul (Lokasi: Peg. Tiga Puluh) - Kab.Indragiri Hilir (Lokasi: Blok C Belilas dan Kota baru) Ket: * Cadangan tereka ** Cadangan terindikasi *** Cadangan terukur.

73** 1 133*, 267*** 79*

726

**,

4.42 – 21.94 gr/m3 2090 gr/m3, 0.036 – 654 gr/m3. 120 078*** 5 737*

35 juta m3 4..6 dan 80.5 juta ton

Perusahaan yang bergerak dalam industri pertambangan juga telah berkembang di WS Indragiri Riau hal ini terlihat dari banyaknya izin usaha yang diberikan . Pada Tabel 11 dijelaskan secara rinci jumlah Izin Usaha Pertambangan di WS Indragiri. Tabel 11. Jumlah Ijin Usaha Pertambangan di WS Indragiri
Kabupaten JmlIzin Luas (ha) 1.Kuantan Singingi 3 2. Indragiri Hulu 3. Indragiri Hilir 2* 1 48 796 137 250 2 146 5 20 297.9 Jenis Bahan Galian Emas (4) Batubara (4) Batubara (2) Batubara (2) Batubara Eksploitasi (2) Eksplorasi (1) Eksploitasi (2) Studi Kelayakan (1) Eksplorasi Kegiatan

Ket.:*Sebagian wilayah masuk kabupaten/kota tetangga.

Ijin Usaha Pertambangan dalam bentuk Kuasa Pertambangan (KP) yang diberikan untuk perusahaan nasional, Kontrak Karya (KK) yang diberikan untuk perusahaan asing dan Pernjajian Karya Pengusahaan

Pola - 36

Pertambangan Batubara (PKP2B) yaitu wilayah yang telah dicadangkan untuk dikelola pemerintah tetapi diminati oleh swasta. Perusahaan yang bergerak di bidang industri pertambangan batubara di Kabupaten Kuantan Singingi adalah PT. Nusa Riau Kencana Coal. Perusahaan tambang di Kabupaten Indragiri Hulul yaitu PT. Tambang Batubara Bukit Asam dengan luas wilayah kerja 112.800 Ha untuk jenis bahan galian batubara, dan di Kabupaten Indragiri Hilir yaitu PT. Abdi Sarana Nusa dengan luas wilayah kerja 2.146 Ha untuk bahan galian batubara. Provinsi Riau adalah provinsi yang memiliki cadangan migas terbesar di Indonesia dimana cadangan minyak bumi sebesar 6.107,6 MMSTB (Juta standar Tank Barrel) atau 69% dari cadangan nasional. Juga memiliki cadangan gas bumi sebesar 50 TCF (Triliun Cubic Feet) atau 38% dari cadangan nasional. Potensi migas juga terdapat di WS Indragiri Riau. Perusahaan pertambangan migas yang beroperasi di WS Indragiri Riau ada 4 buah, hanya di Kabupaten Indragi Hulu yaitu :1) PT. Caltex Pacific Indonesia, 2) PT. Ekspan Sumatera, 3) Pertamina JOB Lirik Petroleum, dan 4) Pertamina OEP II. 3.2.8. Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Sungai Indragiri 3.2.8.1. Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Riau 1993 - 2003 Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Riau pada tahun 2003 berjumlah Rp 73.6 triliun menurut harga berlaku. Dari jumlah tersebut, sektor pertambangan dan penggalian memberikan kontribusi 50.7%, kemudiaan sektor industri pengolahan 16.7%, dan sektor pertanian 11.9 %. Provinsi Riau adalah penghasil minyak bumi terbesar di Indonesia. Pendapatan/nilai tambah migas termasuk industri pengolahannya mencapai Rp 40.1 triliun. Sektor listrik, gas dan air bersih peranannya dalam memberikan kontribusi pendapatan ekonomi Riau relatif kecil pada tahun 2004 yaitu 0.4%.. Selama periode 1989 –2003 ekonomi Riau tumbuh rata-rata 15.0%/tahun menurut harga berlaku (nominal). Sedangkan berdasarkan berdasarkan harga konstan tahun 1993 ( PDRB riil) selama periode 1993 – 2003 ekonomi Riau bertumbuh rata-rata 3.7%/tahun. Pada tahun 1998 laju pertumbuhan ekonomi negatif 3.9% artinya perekonomian Riau merugi sebesar 3.9%. Pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi pada tahun 2000 yakni 6.7%, penyebabnya karena tejadinya pertumbuhan yang relatif tinggi pada sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 34.0%. Adanya Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Perimbangan Bagi Hasil yang diterima Provinsi Riau sebagai implementasi UU Otonomi Daerah No.25 Tahun 1999 berdampak positif terutama bagi sektor tersebut. Sektor lainnya juga bertumbuh signifikan a.l:1) Sektor bangunan sebesar 10.4%, 2) Sektor industri dan pengolahan 9.5% dan 3) Sektor pertanian 9.1%.

Pola - 37

Tabel 12. PDRB Riau Tahun 2003 Atas Dasar Harga Berlaku
No. PDRB Berdasarkan Lapangan Usaha 1 Pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan 2 Penambangan dan penggalian 3 Industri pengolahan 4 Listrik, gas dan air bersih 5 Bangunan 6 Perdagangan, hotel dan restaurant 7 Pengangkutan dan komunikasi 8 Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 9 Jasa-jasa Tahun 2003 Persentase (%) 11.9 50.7 16.7 0.4 2.5 8.1 2.9 2.0 4.8 (Rp juta) 8 718 959 37 297 939 12 304 659 279 322 1 875 290 5 935 909 2 127 613 1 483 591 3 553 245

Total

73 576 528

100.0

3.2.8.2. Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Sumatera Barat 1993 - 2004 Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Sumatera Barat atas dasar harga berlaku pada tahun 2004 berjumlah Rp 35.7 triliun. Dari jumlah tersebut, sektor pertanian memberikan kontribusi 25.4 %, sektor perdagangan, hotel dan restoran memberikan kontribusi 19.5%, kemudiaan sektor jasa-jasa 17.0% terhadap pendapatan Provinsi Sumatera Barat, sebagaimana tertera pada Tabel 13 berikut. Tabel 13. PDRB Provinsi Sumatera Barat Berdasarkan Harga Berlaku Tahun 2004
No. PDRB Sumatera Barat Berdasarkan Lapangan Usaha 1 Pertanian 2 Pertambangan dan penggalian 3 Industri pengolahan 4 Listrik, gas dan air bersih 5 Bangunan 6 Perdagangan, hotel dan restaurant 7 Pengangkutan dan komunikasi 8 Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 9 Jasa-jasa Jumlah 6060770 35700084 17.0 100.0 Tahun 2004 (Rp juta) 9066535 1315145 4528766 549321 2006972 6951205 4619394 2062909 Persentase (%) 25.4 3.7 12.7 1.5 5.6 19.5 12.9 5.8

Pola - 38

Gambar 14 Pertumbuhan Ekonomi Riau dan Sumbar Gambar 14. PertumbuhanEkonomi Riau dan Sumatera Barat1993 - 2004 -2004 Tahun 1993
12 10 Pertumb. Ekon (%) 8 6 4 2 0 -2 -4 -6 -8 Tahun Pertumb. Ekonomi Riau Pertumb. Ekonomi Sumbar 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003

3.3. Kondisi Hidrologi
3.3.1 Curah Hujan, Iklim dan Debit

Gambar 15. Pos Hidrologi di Wilayah Sungai

Pola - 39

Data Availability

Rainfall historical [mm]
12-1979

12-1981

12-1983

12-1985

12-1987

12-1989

12-1991

12-1993

12-1995

12-1997

12-1999

12-2001

12-2003

RU14100 PH SB113 PH

RU14102 PH SB114 PH

RU14104 PH SB131014 PH

RU14203 PH

RU14208 PH

RU14227 PH

RU14228 PH

SB111 PH

SB112 PH

Gambar 16. Data Hujan Bulanan

Hujan Annual (mm/tahun) 3000 2500 2000 (mm) 1500 1000 500 0
14 10 0 R U 14 10 2 R U 14 10 4 R U 14 20 3 R U 14 20 8 R U 14 22 7 R U 14 22 8 SB 11 1 SB 11 2 SB 11 3 SB 11 SB 4 13 10 14

R

U

Gambar 17. Hujan Tahunan Secara keseluruhan rata-rata hujan tahunan pada wilayah studi sebesar 2310 mm dengan rentang dari 1755 sampai dengan 2957 mm

Pola - 40

Tabel 14. Daftar Pos Klimatologi
SERIES 141 – 06 141 – 12 141 – 13 131 – 09 131-15 131 – 14 141 – 11 141 – 02 141-09 141-05 141 – 08 141 – 15 DATATYPE ET ET ET ET ET ET ET ET ET ET ET ET STATNAME

Pasir Pangarayan Bangko Jaya Kota Lama Saning Bakar Buo Sijunjung Kota Baru Sentajo Buatan Air Molek Dumai Sribintan

LATITUDE 00:51:00S 01:40:41S 00:46:30S 00:42:05S 00:27:39S 00:27:39S 00:13:31S 00:27:00S 00:44:45S 00:22:00S 01:31:23S 01:06:23S

LONGITUDE 100:17:42E 100:15:19E 100:34:59E 100:34:40E 100:45:00E 100:58:14E 101:19:09E 101:37:30E 101:49:00E 102:16:59E 101:20:30E 104:26:53E

Evapotranspirasi Hasil perhitungan Evapotranspirasi pada data iklim yang ada dengan menggunakan pendekatan Penman dengan hasil untuk masing-masing Pos adalah seperti ditampilkan pada Gambar 18. berikut ini.

Evapotranspiration
160

140

120

Penman estimate [mm]

100

80

60

40

20

0 05-01-1979

04-02-1979

06-03-1979

05-04-1979

05-05-1979

04-06-1979

04-07-1979

03-08-1979

02-09-1979

02-10-1979

01-11-1979

01-12-1979

Time 131 - 09 ET 131 - 14 ET 131-15 ET 141 - 02 ET 141 - 08 ET 141 - 11 ET 141-05 EH 141-09 EH

Gambar 18 . Evapotranspirasi dengan Metode Penman

Pola - 41

Data Debit Aliran Data-data debit aliran dan dapat dikoleksi dari pos-pos duga air tersaji pada pada Tabel 15. berikut ini : Tabel 15. . Daftar Pos Duga Air No-STATION 010660007 010620003 010660004A 010660008A 010660001 010660002 010660010 010660012 010660004 010660005 010620008 010660008 010660011 010660007A TP QH QH QH QH QH QH QH QH QH QH QH QH QH QH LOKASI BT.AGAM-PADANG TARAB BT.LAMPASI-BATU HAMPAR BT.KUANTAN-BATU GAJAH S.CINAKU-PEJANGKI BATANG KUANTAN-PERANAP BT.KUANTAN-LUBUK AMBACANG BT SUKAM-MUARA BATUK BT.PALANGKI-DUSUN TUO BT OMBILIN-TANJUNG AMPALU BT.SUMANI-BANDAR PADUNG BATANG SANGINGI-KOTA BARU BATANG SELO-SARUASO BT.LEMBANG-KTBARU/BTKUDO BT. KUANTAN – P BERHALA

Discharge Data Availability
Discharge historical [m3/s]
12-1979 12-1981 12-1983 12-1985 12-1987 12-1989 12-1991 12-1993 12-1995 12-1997 12-1999 12-2001 12-2003 12-2005

010620003 QH 010660004A QH 010660011 QH

010620008 QH 010660005 QH 010660012 QH

010660001 QH 010660008 QH 10660007 QH

010660002 QH 010660008A QH

010660004 QH 010660010 QH

Gambar 19. Ketersediaan Data Debit Aliran

Pola - 42

3.4. Kondisi Kualitas Air WS Indragiri
I-1 I-5 I-9 I-6 I-2 I-7 D.Singkarak I-8 Sinamar Atas Sinamar I-3

I-4 Kuantan Atas I-12 Kuantan I-13

I-14

I-15

I-16 Keterangan: I-17 I-1 I C-1 : Sub Basin : Alur Sungai : Bendungan

I-18 I-19

Gambar 20 Sistem Konfigurasi Sungai Indragiri

Pola - 43

Tabel 16 Sistem Konfigurasi Sub Basin S.Indragiri
No Sub Basin I-1 I-2 I-3 I-4 I-5 I-6 I-7 I-8 I-9 I-10 I-11 I-12 I-13 I-14 I-15 I-16 I-17 I-18 I-19 Elevasi Nama Sungai Sinamar 1 Agam Sinamar 2 Sinamar 3 Lembang 1 Sumani Lembang 2 Ombilin Palangki Lawas Sukani Kuantan 1 Kuantan 2 Kuantan 3 Peranap Kuantan 4 Kuantan 5 Cenako Indragiri Luas (Km2) 828 450 501 713 156 203 717 1.111 614 391 485 1.284 586 1.043 1.803 1.435 989 1.791 1.168
16.268

Panjang Sungai (Km) 65 40 40 44 30 22 15 67 76 53 44 59 63 96 100 65 60 165 60

Tertinggi Terendah 1.930 1.340 2.262 2.597 2.597 2.891 2.891 2.891 1.933 2.032 1.243 1.199 392 188 438 167 87 830 45 490 490 300 125 390 390 362 125 100 110 100 67 48 20 20 16 45 8 3

Tabel 17. Kualitas Air S.Lembang dan Bt Sumani di Provinsi Sumatera Barat dan Kriteria Mutu AirKlas I,II,III,IV PP 82/2001
No Lokasi ZPTS (mg/L) BOD (mg/L) Kadar Minimum –Minimum(1). COD DO Deter gent (mg/L) (mg/L) (µg/L) Koli Tinja Jml/100 mL T Koli Tinja Jml/100 mL 930

S.Lembang(Ds.Bandar Rambut Solok 126 2,2 10 6,3 10 230 1 ), n=1 *) 2 Bt.Sumani(Lubuk Selasih),n=5; **) 75-167 1,2-2,4 2,8-4 7,1-7,7 6-11 36-290 (a) 3 Bt.Sumani(Sinapa Piliang),n=5**) 112-182 1,2-7 4,9-18 5,4-7 20-220 36-1500 (a) 4 Bt.Sumani(Enam Suku),n=5**) 54-180 2,2-7,4 5,5-20 5-7 25-200 200-4600 (a) (a) 5 Bt.Sumani(Kapuak),n=5**) 107-229 2,4-7,5 6,3-24 5,6-6 38-210 360-2800 Kriteria Mutu Air Klas I,PP 82/2001 50 2 10 6 200 100 1000 Kriteria Mutu Air Klas II,PP 82/2001 50 3 25 4 200 1000 5000 Kriteria Mutu Air Klas III,PP 82/2001 400 6 50 3 200 2000 10.000 Kriteria Mutu Air Klas IV,PP 82/2001 400 12 100 0 (b) 2000 10.000 Keterangan:, ZPTS= Zat Padat Tersuspensi; n= jumlah data hasil pemantauan kualitas air ; *) UPTD Balai Pengujian Juli, 2005;**): Pengukuran Puslitbang Pengairan : Juni,Juli,Agustus, September, November, tahun 1994 ;(a) = Tidak diukur;(b)=Tidak menjadi persyaratan

Pola - 44

Tabel 18 Persen Parameter Kualitas Air S.Lembang dan Bt Sumani Provinsi Sumatera Barat yang Tidak Memenuhi Kriteria Mutu Air `Klas I
Persen Parameter yang Tidak Memenuhi Klas I – PP82/2001 (1) Deter Koli T-Koli ZPTS BOD COD DO gent Tinja Tinja 100% 100% 0% 0% 0% 100% 0% 100% 100% 100% 100% 50 20 % 80% 100% 100% 2 0% 60% 60% 60% 10 0% 80% 80% 80% 6 0% 20% 0% 20% 200 60 % 80% 100% 100% 100 (a) (a) (a) (a) 1000

No

Lokasi

S.Lembang(Ds.Bandar Rambut Solok ), n=1 1 *) 2 Bt.Sumani(Lubuk Selasih),n=5; **) 3 Bt.Sumani(Sinapa Piliang),n=5**) 4 Bt.Sumani(Enam Suku),n=5**) 5 Bt.Sumani(Kapuak),n=5**) Kriteria Mutu Air Klas I,PP 82/2001

Keterangan:, ZPTS= Zat Padat Tersuspensi; n= jumlah data hasil pemantauan kualitas air ; *) UPTD Balai Pengujian Juli, 2005;**): Pengukuran Puslitbang Pengairan : Juni,Juli,Agustus, September, November, tahun 1994 ;(a) = Tidak diukur;(b)=Tidak menjadi persyaratan

Tabel 19 Persen Parameter Kualitas Air S.Lembang dan Bt Sumani Provinsi Sumatera Barat yang Tidak Memenuhi Kriteria Mutu Air Klas II
Persen Parameter yg Tidak Memenuhi Klas II – PP82/2001(1) Deter T-Koli Koli ZPTS BOD COD DO gent Tinja Tinja 100% 0% 0% 0% 0% 0% 0%

No

Lokasi

S.Lembang(Ds.Bandar Rambut 1 Solok ), n=1 *) 2 Bt.Sumani(Lubuk Selasih),n=5; **) 100% 0% 0% 0% 0% 0% (a) 3 Bt.Sumani(Sinapa Piliang),n=5**) 100% 40% 0% 0% 20% 20% (a) 4 Bt.Sumani(Enam Suku),n=5**) 100% 40 % 0% 0% 0% 60% (a) 5 Bt.Sumani(Kapuak),n=5**) 100% 75% 0% 0% 20% 40% (a) Kriteria Mutu Air Klas II,PP 82/2001 50 3 25 4 200 1000 5000 Keterangan:, ZPTS= Zat Padat Tersuspensi; n= jumlah data hasil pemantauan kualitas air ; *) UPTD Balai Pengujian Juli, 2005;**): Pengukuran Puslitbang Pengairan : Juni,Juli,Agustus, September, November, tahun 1994 ;(a) = Tidak diukur;(b)=Tidak menjadi persyaratan

Pola - 45

Tabel 20 Persen Parameter Kualitas Air S.Lembang dan Bt Sumani Provinsi Sumatera Barat yang Tidak Memenuhi Kriteria Mutu Air Klas III
Persen Parameter yg Tidak Memenuhi Klas III– PP82/2001 Deter Koli T-Koli ZPTS BOD COD DO gent Tinja Tinja 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 50% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 20% 0% 20% 0% 0% 40% 20% (a) (a) (a) (a)

No 1 2 3 4 5

Lokasi S.Lembang(Ds.Bandar Rambut Solok ), n=1 *) Bt.Sumani(Lubuk Selasih),n=5; **) Bt.Sumani(Sinapa Piliang),n=5**) Bt.Sumani(Enam Suku),n=5**) Bt.Sumani(Kapuak),n=5**)

Kriteria Mutu Air Klas III,PP 82/2001 400 6 50 3 200 2000 10.000 Keterangan:, ZPTS= Zat Padat Tersuspensi; n= jumlah data hasil pemantauan kualitas air ; *) UPTD Balai Pengujian Juli, 2005;**): Pengukuran Puslitbang Pengairan : Juni,Juli,Agustus, September, November, tahun 1994 ;(a) = Tidak diukur;(b)=Tidak menjadi persyaratan

Tabel 21 Persen Parameter Kualitas Air S.Lembang dan Bt Sumani Provinsi Sumatera Barat yang Tidak Memenuhi Kriteria Mutu Air Klas IV
Persen Parameter yang Tidak Memenuhi Klas IV– PP82/2001 Deter T-Koli Koli ZPTS BOD COD DO gent Tinja Tinja 0% 0% 0% 0% (b) 0% 0% 0% 0% 0% 0% 400 0% 0% 0% 0% 12 0% 0% 0% 0% 100 0% 0% 0% 0% 0 (b) (b) (b) (b) (b) 0% 0% 40% 20% 2000 (a) (a) (a) (a) 10.000

No

Lokasi

S.Lembang(Ds.Bandar Rambut 1 Solok ), n=1 *) 2 Bt.Sumani(Lubuk Selasih),n=5; **) 3 Bt.Sumani(Sinapa Piliang),n=5**) 4 Bt.Sumani(Enam Suku),n=5**) 5 Bt.Sumani(Kapuak),n=5**) Kriteria Mutu Air Klas IV,PP 82/2001

Keterangan:, ZPTS= Zat Padat Tersuspensi; n= jumlah data hasil pemantauan kualitas air ; *) UPTD Balai Pengujian Juli, 2005;**): Pengukuran Puslitbang Pengairan : Juni,Juli,Agustus, September, November, tahun 1994 ;(a) = Tidak diukur;(b)=Tidak menjadi persyaratan

Pola - 46

Tabel 22 Kualitas Air Sungai Bt.Sumani Di Propinsi Sumatera Barat
Nama Sungai Lokasi Waktu ZPTS mg/L BOD mg/L COD mg/L Kualitas Air DO mg/L Detergent µg/L
200 200 200 (b) 6 11 8 (a) (a) 220 170 100 32 20 180 200 170 29 25 210 190 190 38 46

Koli Tinja Jml/100mL
100 1000 2000 2000 290 240 94 36 150 110 1500 160 36 430 1100 3900 360 200 4600 1100 2800 230 360 430

T-Koli Tinja Jml/100mL
1000 5000 10.000 10.000 (a) (a) (a) (a) (a) (a) (a) (a) (a) (a) (a) (a) (a) (a) (a) (a) (a) (a) (a) (a)

Kriteria Mutu Air Kls I PP82/01 50 2 10 6 Kriteria Mutu Air Kls II PP82/01 50 3 25 4 Kriteria Mutu Air Kls III PP82/01 400 6 50 3 Kriteria Mutu Air Kls IV PP82/01 400 12 100 0 HASIL PENGUKURAN Bt.Sumani Lubuk Selasih 13-06-94 167 1.2 3 7.7 Bt.Sumani Lubuk Selasih 27-07-94 75 2.4 3 7.5 Bt.Sumani Lubuk Selasih 24-08-94 82 1.3 3.3 7.5 Bt.Sumani Lubuk Selasih 21-09-04 108 1.3 4 7.1 Bt.Sumani Lubuk Selasih 23-11-94 98 1.3 2.8 7.5 Bt.Sumani Sinapa Piliang 13-06-94 141 1.2 7.6 5.9 Bt.Sumani Sinapa Piliang 27-07-94 182 2.4 11 5.8 Bt.Sumani Sinapa Piliang 24-08-94 110 7 13 5.4 Bt.Sumani Sinapa Piliang 21-09-04 112 6.7 18 5.4 Bt.Sumani Sinapa Piliang 23-11-94 112 2.7 4.9 7 Bt.Sumani Enam Suku 13-06-94 54 2.9 9.1 5.9 Bt.Sumani Enam Suku 27-07-94 180 2.2 17 5.5 Bt.Sumani Enam Suku 24-08-94 140 5.1 16 5 Bt.Sumani Enam Suku 21-09-04 120 7.4 20 5.1 Bt.Sumani Enam Suku 23-11-94 121 2.9 5.5 7 Bt.Sumani Kapuak 13-06-94 135 (a) 9,1 6.7 Bt.Sumani Kapuak 27-07-94 229 2,4 24 5.7 Bt.Sumani Kapuak 24-08-94 107 7,5 16 6 Bt.Sumani Kapuak 21-09-04 128 6,3 22 5.9 Bt.Sumani Kapuak 23-11-94 136 4,9 6,3 5.6 Keterangan:, ZPTS= Zat Padat Tersuspensi; (a) = Tidak diukur;(b)=Tidak menjadi persyaratan

Limnologi Danau Singkarak Kondisi kualitas air di D.Singkarak dapat diketahui dengan mengevaluasi hasil pengukuran terhadap klasifikasi tingkat kesuburan danau berdasarkan kriteria dari OECD (Tabel 22)

Pola - 47

Tabel 23. Klasifikasi Tingkat Kesuburan Danau Berdasarkan OECD
Parameter T-Nitrogen (µg/L) T-Posfat (µg/L) Klorofil – a (mg/m3) Kecerahan(cm) Oligotrophic 307-1630 <10,0 <2,5 >300 Mesotrophic 313-1387 10-35 2,5-8 150-300 Eutrophic 393-6100 35-100 8-25 70-150

OECD:Organization for Economic Co-operation and Development (Ryding and Rast, 1989

Tabel 24 Kualitas Air Danau Singkarak
Parameter

Sumber Data Pusair,1994 Klasifikasi Limnology in Developing Countries,1999*) Klasifikasi

T-Nitrogen, µg/L 130- 250 Oligotrophic 180-1200

T-Posfat ,µg/L 30– 43 Mesotrophic 20– 170

Klorofil-a, mg/m3 3,17-5,62 Mesotrophic 0,88-1,97

Kecerahan ,cm 400 Oligotrophi c 210-320

Oligotrophic

Mesotrophic – Eutrophic

Mesotrophic

Mesotrophi c

Keterangan : *)= Pasi Lehmusluoto, Eexpedition Indodanau,P.O.Box 717,FIN00101,Helsinki,Finlandia, and Baduddin Machbub, dkk, Research Institute for Water Resources Development, Jl.Ir.H.Juanda 193, Bandung

Pola - 48

Tabel 25 Kualitas Air Bt.Ombilin dan Bt Agam di Provinsi Sumatera Barat dan Kriteria Mutu AirKlas I,II,III,IV PP 82/2001
Kadar Minimum –Minimum(1). Deter gent (µg/L)
tt-160 74-6170 41-350 (a) (a) (a) (a) 6.7 (a) 60 91 106 (a) (a) 50 (a) (a) 0,6 1,4 2 3 6 12 (a) (a) 3,9 9,9 10 25 50 100 (a) 6.5 6.5 6.9 6,9 6,9 6 4 3 0 (a) (a) 10 0,08 200 200 200 (b) (a) (a) 93 23 100 1000 2000 2000 (a) (a) 210 2400 240 460 93 1000 5000 10.000 10.000

No
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Lokasi
Bt.Agam(Kmp.Durian), n=5**) Bt.Agam(Kb Gulai Bancah), n=5**) Bt.Agam(Magek Guguk Pincuran),n=5**) Bt.Tambuo(Tambuo) n=2***) Bt.Tambuo(Ikua Labuah) n=2***) Bt.Ombilin,Pintu Air PLTA Singkarak,n=1*) Bt.Ombilin,Ds.Salak Sblm.PLTU,n=1*) Bt.Ombilin,Ds.Salak Stlh. PLTU,n=1*) Bt.Ombilin,Muaro Sikalang Stlh. Limbah Bt. Bara,n=1*) Bt.Ombilin,Ds. Simpadang Tj.Ampalu,n=1*) S.Ombilin,Jemb.Ampalu Sawahlunto,n=1*)) Bt.Ombilin;Stlh.Muaro Bt.Lunto,n=1*))

ZPTS (mg/L)
97-127 292-515 12-140 140-196 164-168 23

BOD (mg/L)
2,1-3,2 12-182 9,6-81 1,2-1,9 3,1-5,1 (a) (a)

COD (mg/L)
5,8-17 12-734 11-158 4,6-4,9 6,1-9,1 (a) (a)

DO (mg/L)
6,5-7,1 tt-5,6 1,9-5,8 (a) (a) 6.5

Koli Tinja Jml/100 mL
10-230 2400240.000 150-2400 210-210 21-1100 (a) (a)

T Koli Tinja Jml/10 0 mL
(a) (a) (a) (a) (a) 120 93

35

Kriteria Mutu Air Klas I,PP 82/2001 Kriteria Mutu Air Klas II,PP 82/2001 Kriteria Mutu Air Klas III,PP 82/2001 Kriteria Mutu Air Klas IV,PP 82/2001

50 400 400 Keterangan:, ZPTS= Zat Padat Tersuspensi; n= jumlah data hasil pemantauan kualitas air ; *))= UPTD Balai Pengujian Oktober, 2002;*) UPTD Balai Pengujian Oktober,1998;**): Pengukuran Puslitbang Pengairan : Juni,Juli,Agustus, September, November, tahun 1994 ;***)= Pengukuran Puslitbang Pengairan : Juni,Juli,tahun 1994 (a) = Tidak diukur;(b)=Tidak menjadi persyaratan

Pola - 49

Tabel 26 Persen Parameter Kualitas Air Bt.Agam dan Bt Ombilin Provinsi Sumatera Barat yang Tidak Memenuhi Kriteria Mutu Air Klas I
Persen Parameter yang Tidak Memenuhi Klas I – PP82/2001 (1) Deter Koli T-Koli ZPTS BOD COD DO gent Tinja Tinja 100% 100% 20% 0% 0% 60% (a) 100% 100% 100% 100% 80% 100% (a) 80% 100% 100% 100% 40% 100% (a) 100% 0% 0% (a) (a) 100% (a) 100% 100% 0% (a) (a) 50% (a) 0% (a) (a) 0% (a) (a) 0% 0% (a) (a) 0% (a) (a) 0% 100% (a) (a) 0% (a) (a) 0% 100% (a) (a) 0% (a) (a) 100%

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Lokasi

Bt.Agam(Kmp.Durian), n=5**) Bt.Agam(Kb Gulai Bancah), n=5**) Bt.Agam(Magek Guguk Pincuran),n=5**) Bt.Tambuo(Tambuo) n=2***) Bt.Tambuo(Ikua Labuah) n=2***) Bt.Ombilin,Pintu Air PLTA Singkarak,n=1*) Bt.Ombilin,Ds.Salak Sblm.PLTU,n=1*) Bt.Ombilin,Ds.Salak Stlh. PLTU,n=1*) Bt.Ombilin,Muaro Sikalang Stlh. Limbah Bt. 9 Bara,n=1*) 10 Bt.Ombilin,Ds. Simpadang Tj.Ampalu,n=1*) 100% (a) (a) 0% (a) (a) 0% 11 S.Ombilin,Jemb.Ampalu Sawahlunto,n=1*)) (a) 0% 0% 0% 0% 0% 0% 12 Bt.Ombilin;Stlh. Muaro Bt.Lunto,n=1*)) (a) 0% 0% 0% 0% 0% 0% Kriteria Mutu Air Klas I,PP 82/2001 50 2 10 6 200 100 1000 Keterangan:, ZPTS= Zat Padat Tersuspensi; n= jumlah data hasil pemantauan kualitas air ; *))= UPTD Balai Pengujian Oktober, 2002;*) UPTD Balai Pengujian Oktober,1998;**): Pengukuran Puslitbang Pengairan : Juni,Juli,Agustus, September, November, tahun 1994 ;***)= Pengukuran Puslitbang Pengairan : Juni,Juli,tahun 1994 (a) = Tidak diukur;(b)=Tidak menjadi persyaratan

Tabel 27 Persen Parameter Kualitas Air Bt.Agam dan Bt Ombilin Provinsi Sumatera Barat yang Tidak Memenuhi Kriteria Mutu Air Klas II
Lokasi No 1 2 3 4 5 6 7 8 Persen Parameter yang Tidak Memenuhi Klas I – PP82/2001 (1) Deter Koli T-Koli ZPTS BOD COD DO gent Tinja Tinja 100% 20% 0% 0% 0% 20% (a) 100% 100% 80% 80% 80% 100% (a) 80% 100% 80% 80% 40% 40% (a) 100% 0% 0% (a) (a) 0% (a) 100% 100% 0% (a) (a) 50% (a) 0% (a) (a) 0% (a) (a) 0% 0% (a) (a) 0% (a) (a) 0% 100 % (a) (a) 0% (a) (a) 0% 100 % (a) (a) 0% (a) (a) 0%

Bt.Agam(Kmp.Durian), n=5**) Bt.Agam(Kb Gulai Bancah), n=5**) Bt.Agam(Magek Guguk Pincuran),n=5**) Bt.Tambuo(Tambuo) n=2***) Bt.Tambuo(Ikua Labuah) n=2***) Bt.Ombilin,Pintu Air PLTA Singkarak,n=1*) Bt.Ombilin,Ds.Salak Sblm.PLTU,n=1*) Bt.Ombilin,Ds.Salak Stlh. PLTU,n=1*) Bt.Ombilin,Muaro Sikalang Stlh. Limbah Bt. 9 Bara,n=1*) 10 Bt.Ombilin,Ds. Simpadang Tj.Ampalu,n=1*) 100 % (a) (a) 0% (a) (a) 0% 11 S.Ombilin,Jemb.Ampalu Sawahlunto,n=1*)) (a) 0% 0% 0% 0% 0% 0% 12 Bt.Ombilin;Stlh. Muaro Bt.Lunto,n=1*)) (a) 0% 0% 0% 0% 0% 0% Kriteria Mutu Air Klas II,PP 82/2001 50 3 25 4 200 1000 5000 Keterangan:, ZPTS= Zat Padat Tersuspensi; n= jumlah data hasil pemantauan kualitas air ; *))= UPTD Balai Pengujian Oktober, 2002;*) UPTD Balai Pengujian Oktober,1998;**): Pengukuran Puslitbang Pengairan : Juni,Juli,Agustus, September, November, tahun 1994 ;***)= Pengukuran Puslitbang Pengairan : Juni,Juli,tahun 1994 (a) = Tidak diukur;(b)=Tidak menjadi persyaratan

Pola - 50

Tabel 28 Persen Parameter Kualitas Air Bt.Agam dan Bt Ombilin Provinsi Sumatera Barat yang Tidak Memenuhi Kriteria Mutu Air Klas III
Persen Parameter yang Tidak Memenuhi Klas I – PP82/2001 (1) Deter Koli T-Koli ZPTS BOD COD DO gent Tinja Tinja 0% 0% 0% 0% 0% 20% (a) 40 % 100% 80% 80% 80% 100% (a) 0% 100% 60% 60% 40% 40% (a) 0% 0% 0% (a) (a) 100% (a) 0% 0% 0% (a) (a) 50% (a) 0% (a) (a) 0% (a) (a) 0% 0% (a) (a) 0% (a) (a) 0% 0% (a) (a) 0% (a) (a) 0% 0% (a) (a) 0% (a) (a) 0%

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Lokasi

Bt.Agam(Kmp.Durian), n=5**) Bt.Agam(Kb Gulai Bancah), n=5**) Bt.Agam(Magek Guguk Pincuran), n=5**) Bt.Tambuo(Tambuo) n=2***) Bt.Tambuo(Ikua Labuah) n=2***) Bt.Ombilin,Pintu Air PLTA Singkarak,n=1*) Bt.Ombilin,Ds.Salak Sblm.PLTU,n=1*) Bt.Ombilin,Ds.Salak Stlh. PLTU,n=1*) Bt.Ombilin,Muaro Sikalang Stlh. Limbah Bt. 9 Bara,n=1*) 10 Bt.Ombilin,Ds. Simpadang Tj.Ampalu,n=1*) 0% (a) (a) 0% (a) (a) 0% 11 S.Ombilin,Jemb.Ampalu Sawahlunto,n=1*)) (a) 0% 0% 0% 0% 0% 0% 12 Bt.Ombilin;Stlh. Muaro Bt.Lunto,n=1*)) (a) 0% 0% 0% 0% 0% 0% Kriteria Mutu Air Klas III,PP 82/2001 400 6 50 3 200 2000 10.000 Keterangan:, ZPTS= Zat Padat Tersuspensi; n= jumlah data hasil pemantauan kualitas air ; *))= UPTD Balai Pengujian Oktober, 2002;*) UPTD Balai Pengujian Oktober,1998;**): Pengukuran Puslitbang Pengairan : Juni,Juli,Agustus, September, November, tahun 1994 ;***)= Pengukuran Puslitbang Pengairan : Juni,Juli,tahun 1994 (a) = Tidak diukur;(b)=Tidak menjadi persyaratan

Tabel 29 Persen Parameter Kualitas Air Bt.Agam dan Bt Ombilin Provinsi Sumatera Barat yang Tidak Memenuhi Kriteria Mutu Air Klas IV
Persen Parameter yang Tidak Memenuhi Klas I – PP82/2001 (1) Deter Koli T-Koli ZPTS BOD COD DO gent Tinja Tinja 0% 0% 0% 0% (b) 20% (a) 40% 60% 40% (b) 100% 80% (a) 0% (a) 80% 60% 0% (b) 40% 0% 0% 0% (a) (a) 0% (a) 0% 0% 0% (a) (a) 0% (a) 0% (a) (a) 100% (a) (a) 0% 0% 100% 0% (a) (a) (a) (a) 0% (a) (a) 100% (a) (a) 0% 0% (a) (a) 100% (a) (a) 0%

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Lokasi

Bt.Agam(Kmp.Durian), n=5**) Bt.Agam(Kb Gulai Bancah), n=5**) Bt.Agam(Magek Guguk Pincuran),n=5**) Bt.Tambuo(Tambuo) n=2***) Bt.Tambuo(Ikua Labuah) n=2***) Bt.Ombilin,Pintu Air PLTA Singkarak,n=1*) Bt.Ombilin,Ds.Salak Sblm.PLTU,n=1*) Bt.Ombilin,Ds.Salak Stlh. PLTU,n=1*) Bt.Ombilin,Muaro Sikalang Stlh. Limbah Bt. 9 Bara,n=1*) 0% (a) (a) 100% (a) (a) 0% 10 Bt.Ombilin,Ds. Simpadang Tj.Ampalu,n=1*) (a) 0% 0% 0% 0% 0% 0% 11 S.Ombilin,Jemb.Ampalu Sawahlunto,n=1*)) (a) 0% 0% 0% 0% 0% 0% 12 Bt.Ombilin;Stlh. Muaro Bt.Lunto,n=1*)) 400 12 100 0 (b) 2000 10.000 Kriteria Mutu Air Klas IV,PP 82/2001 Keterangan:, ZPTS= Zat Padat Tersuspensi; n= jumlah data hasil pemantauan kualitas air ; *))= UPTD Balai Pengujian Oktober, 2002;*) UPTD Balai Pengujian Oktober,1998;**): Pengukuran Puslitbang Pengairan : Juni,Juli,Agustus, September, November, tahun 1994 ;***)= Pengukuran Puslitbang Pengairan : Juni,Juli,tahun 1994 (a) = Tidak diukur;(b)=Tidak menjadi persyaratan

Pola - 51

Tabel 30 Kualitas Air Sungai Bt.Ombilin dan Bt.Agam di Propinsi Sumatera Barat
Nama Sungai Kualitas Air, Lokasi Waktu ZPTS mg/L 50 50 400 400 BOD mg/L 2 3 6 12 COD mg/L 10 25 50 100 DO mg/L 6 4 3 0 MBAS µg/L 200 200 200 (b) KoliTinja Jml/100mL 100 1000 2000 2000 T Koli Tinja Jml/100mL 1000 5000 10.000 10.000

Kriteria Mutu Air Kls I PP82/01 Kriteria Mutu Air Kls II PP82/01 Kriteria Mutu Air Kls III PP82/01 Kriteria Mutu Air Kls IV PP82/01 HASIL PENGUKURAN 03-10-02 S.Ombilin,Jemb.Ampalu (a) 0,6 3,9 6,9 10 93 460 Sawahlunto*)) 03-10-02 Bt.Ombilin;Stlh. Muaro (a) 1,4 9,9 0,08 23 6,9 Bt.Lunto*)) 93 23-10-98 Bt.Ombilin,Pintu Air PLTA (a) (a) (a) (a) 23 6.5 Singkarak*) 120 23-10-98 Bt.Ombilin,Ds.Salak (a) (a) (a) (a) 35 6.7 Sblm.PLTU*) 93 23-10-98 Bt.Ombilin,Ds.Salak Stlh. (a) (a) (a) (a) 60 6.5 PLTU*) 210 Bt.Ombilin,Muaro Sikalang 23-10-98 (a) (a) (a) (a) Stlh. Limbah Bt. Bara*) 2400 91 6.5 23-10-98 Bt.Ombilin,Ds. Simpadang (a) (a) (a) (a) 106 6.9 Tj.Ampalu*) 240 (a) Bt.Agam **) Kmp.Durian 127 2.3 17 6.9 160 210 13-06-94 Bt.Agam **) Kmp.Durian (a) 27-07-94 97 2.4 6.3 7 130 230 Bt.Agam **) Kmp.Durian (a) 24-08-94 100 2.1 6.6 7.1 150 10 Bt.Agam **) Kmp.Durian 21-09-04 (a) 99 3.2 5.8 6.5 tt 91 (a) Bt.Agam **) Kmp.Durian 27 113 2.5 6.8 7 12000 23-11-94 (a) Bt.Agam **) Kb Gulai 384 54 91 1.5 380 2400 Bancah 13-06-94 (a) Bt.Agam **) Kb Gulai 292 98 194 tt 6170 240.000 Bancah 27-07-94 Bt.Agam **) Kb Gulai (a) (a) 515 84 166 0.5 290 Bancah 24-08-94 Bt.Agam **) Kb Gulai (a) (a) 495 182 734 tt 930 Bancah 21-09-04 Bt.Agam **) Kb Gulai 24.000 (a) Bancah 23-11-94 238 12 12 5.6 74 (a) Bt.Agam **) Mgk Ggk 93 79 152 1.9 130 1000 Pncurn 13-06-94 (a) Bt.Agam **) Mgk Ggk 12 81 158 3.1 350 150 Pncurn 27-07-94 (a) Bt.Agam **) Mgk Ggk 140 26 45 2.6 220 150 Pncurn 24-08-94 (a) Bt.Agam **) Mgk Ggk 120 30 122 2.6 82 2400 Pncurn 21-09-04 (a) Bt.Agam **) Mgk Ggk 104 9.6 11 5.8 41 2400 Pncurn 23-11-94 Bt.Tambuo**) Tambuo (a) (a) 210 (a) 196 1.2 4.6 13-06-94 Bt.Tambuo**) Tambuo (a) (a) 210 (a) 140 1.9 4.9 27-07-94 Bt.Tambuo**) Ikua Labuah 13-06-94 (a) (a) 1100 (a) 168 3.1 9.1 Bt.Tambuo**) Ikua Labuah 27-07-94 (a) (a) 21 (a) 164 5.1 6.1 Keterangan:, ZPTS= Zat Padat Tersuspensi;*) UPTD Balai Pengujian Juli, 2005;**): Pengukuran Puslitbang Pengairan (a) = Tidak diukur;(b)=Tidak menjadi persyaratan

Pola - 52

Tabel 31 Pengukuran Kualitas Air Sungai di WS.Indragiri Propinsi Riau (Pada Ruas Sungai I, dengan Peruntukan dan Baku Mutu Air Sungai Indragiri Klas I, Keputusan Gubernur Provinsi Riau, No. 24/Tahun 2003)
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Parameter TSS Salinitas DO Klorida, Cl Besi,Fe Minyak dan Lemak BOD COD Detergent Satuan mg/L Kep.Gub Riau 24/2003 Kelas I 50 6 600 0,3 1000 2 10 200 1 Pengukuran 30 April,2005, Lokasi 2 3 4 5 268 0 5,7 14,99 3,631 5 30,1 79,3 10 369 0 6,6 37,99 3,496 3 32,1 103,4 20 172 0 5,7 11,99 2,456 4 11,3 37,93 tt 130 0 5,6 12,99 2,535 3 14,4 41,4 40

mg/L mg/L mg/L µg/L mg/L mg/L µg/L Jml/100 10 Fecal Coliform 7000 4900 2600 35000 24000 mL 100 Jml/100 mL 1000 11 Total Coliform 54000 35000 92000 160000 240000 Keterangan : 1=Lubuk Ambacang ;2=Banjar Padang.Lubuk.Jambi;3= Ds.Koto Gunung Kampung Baru; 4= Ds Sawah / Pasar Taluk; 5= Ds.Pauh Anggit Pangean Pengukuran (1):30 April,2005 dan Kep.Gub Riau (2) 1 Mei, 2005, pada Lokasi : No Parameter Satuan 24/2003 Kelas I 6(1) 7(1) 8(2) 9(2) 10(2) mg/L 50 118 114 135 156 121 1 TSS 0 0 0 0 0 2 Salinitas mg/L 6 4,8 5,1 5,8 5,7 4,4 3 DO mg/L 600 12,49 11,99 12,99 13,99 13,49 4 Klorida, Cl mg/L 0,3 1,48 2,718 1,759 2,084 2,525 5 Besi,Fe 1000 5 4 4 6 3 6 Minyak dan Lemak µg/L 2 29,4 29,1 8,3 13,1 12,8 mg/L 7 BOD mg/L 10 86,2 75,9 27,6 48,3 37,93 8 COD 30 20 tt 50 tt 9 Detergent µg/L 200 Jml/100 24.000 4.900 11.000 22.000 54.000 mL 100 10 Fecal Coliform Jml/100 92.000 7.900 54.000 92.000 160.000 mL 1000 11 Total Coliform Keterangan : 6= Pasar Usang Baserah;7=Ds.Bom Air Molek;8=Ds.Pasait Ringit Lirik; 9= Pasir.Kemilu,Rengat; 10= Dermaga Kuala Cinako

153 0 6,7 8,99 2,962 4 27,3 75,9 tt

Pola - 53

Tabel 32 Pengukuran Kualitas Air Sungai di WS.Indragiri Propinsi Riau (Pada Ruas Sungai II, dengan Peruntukan dan Baku Mutu Air Sungai Indragiri Klas II, Keputusan Gubernur Provinsi Riau, No. 24/Tahun 2003)
Kep.Gub Riau No
1 2 3 4 5 6 7 8 9

Pengukuran (2): 1 Mei, 2005 dan
11
(2)

(3) : 2 Mei, 2005 pada Lokasi :
14
(3)

Parameter TSS Salinitas DO Klorida, Cl Besi,Fe
Minyak dan Lemak

Satuan mg/L

24/2003 Kelas II 50 -

12

(2)

13

(2)

15(3) 110 0 5,3 12,49 2,716 3 12,1 34,5 tt 54.000 92.000

16(3) 140 0 6 13,09 2,173 5 12,8 37,58 tt 28.000 92.000

126 0 4,1 15,19 2,367 5 15,6 41,4 tt 160.000 160.000

188 0 4,1 13,49 2,414 4 34,7 96,5 tt 54.000 160.000

152 0 4,7 21,99 3,057 2 18,2 55,2 30 92.000 92.000

96 0 5 12,49 1,753 5 9,2 27,6 10 240.000 240.000

mg/L mg/L mg/L µg/L mg/L mg/L µg/L
Jml/100 mL Jml/100 mL

4 (-) (-) 1000 3 25 200
1000 5000

BOD COD Detergent Fecal Coliform Total Coliform

10 11

Keterangan : 11=Desa Sei Gantang;12=Sei Palas ;13= Tembilahan Kota; 14=Desa Peranap;15=Pulau Jambu;16= Uji .Tanjung Siberakun

Pola - 54

3.5. Kondisi Fisik Wilayah Sungai Indragiri Gambar 21 Sub Basin WS Indragiri

!

Pekanbaru

.

Bangkinang

.

Lubuks ikaping

1
. .

Payakum buh

Bukit Tinggi

2

3 17
.

.

Tem bilahan

Rengat

.

. Paadang Panjang

4 12 13

14 16 18 11 9 15

19

.

Pariam an

7

8
.

Sawahlunto

.

Solok

10

.

Kualatungkal

6
!

Padang

5

.

Painan
.

Muara Bungo
!

Jambi

.

Muaratem bes i

Pola - 55

3.5.1 Kondisi Sub Basin Sinamar 1,2,3 dan Agam Sub basin Sinamar 1,2,3 dan Agam dalam tipologi lingkungan/ekosistem termasuk tipologi rawan akibat (a) kondisi topografi agak curam sampai curam (b) fungsinya terhadap perlindungan sungai nasional Indragiri. Luas masing-masing kempat sub basin tersebut telah disajikan pada Tabel 15, sedangkan luas keseluruhan tipologi ini adalah 241.410 Ha. Sebagaimana telah diuraikan diatas keempat sub basin tersebut termasuk dalam satu tipologi dan sebagai akibatnya jenis tanah pada kempat sub basin tersebut juga hampir sama. Berdasarkan peta RePPProt (1983) jenis tanah yang sub basin Sinamar 1,2, 3 dan Agam sangat beragam, yaitu ultisol, oxisol, andison, molisol, inceptisol dan entisol yang tersebar pada satuan fisiografi dataran vulkan, pegunungan, perbukitan, dataran alluvial-kolovial dan dataran alluvial. Solum tanahnya sangat bervariasi. Jenis tanah yang bersolum dalam pada umumnya adalah yang berumur lanjut, seperti: (a) podsolik (ultisol), latosol (oxisol, sedangkan tanah bersolum dangkal sampai sedang pada umumnya merupakan tanah mudah atau sedang berkembang, seperti andosol (andisol), aluvial (inceptisol) dan litosol (entisol). Berdasarkan hasil penelitiaan BPDAS Agam Kuantan di Sub basin Sinamar, tepatnya pada SPAS Pinamang tahun 2004, curah hujan ratarata 2.363 mm. Curah hujan maksimum terjadi pada bulan Nopember (132 mm), curah hujan minimum terjadi pada bulan Maret (0 mm) Hari hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari (30 hari). Sub basin Sinamar, 1,2,3 dan Agam sebagian besar mempunyai lereng agak curam, curam dan sangat curam. Pengunaan lahan sub basin Sinamar 1,2,3,dan Agam antara lain, adalah pertanian lahan kering bercampur semak, hutan lahan kering primer, dan hutan lahan kering sekunder. (BPDAS Agam Kuantan, 2004). Semakin meningkatnya kebutuhan lahan pada sub basin Sinamar 1,2,3 dan Agam, menyebakan banyak lahan yang kemampuanya tidak sesuai untuk tujuan pertanian diubah menjadi daerah pertanian tanpa melakukan konsevasi tanah yang baik. Kondisi ini menambah jumlah lahan kritis, diperkirakan pertambahan lahan kritis sebesar 10 % per tahun (BPDAS Agam Kuantan, 2004). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan BPDAS (Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai ) Agam Kuantan Provinsi Sumatera Barat tahun 2004 yang berlokasi di Sub DAS Sinamar dengan luas catchment area 2262 ha, diperoleh hasil sedimentasi tahunan 37,438 ton per tahun. Dengan luas 2262 ha, maka laju sedimentasi per tahun sebesar 37,438 /2262 ha = 0,01655 ton/ha/tahun atau 1,6655 ton/km2/tahun. Kondisi Sub Basin Lembang 1, Lembang 2, Sunami, Umbilin dan Lawas

Pola - 56

Sub basin Lembang 1, Lembang 2, Umbilin dan Lawas mempunyai tipologi rawan ekologis, berhubung : (a) fungsi sub basin tersebut dalam perlindungan tata air sungai nasional Indragiri, (b) topografi yang agak curam sampai curam, dan (c) khusus sub basin Sunani sangat penting fungsinya sebagai perlindungan Danau Singkarak. Berdasarkan peta RePPProt jenis tanah yang sub basin Lembang 1, Sunani, Lembang 2, Umbilin, dan Lawas didominasi oleh jenis tanah ultisol,oxisol, andison,molisol, inceptisol dan entisol. Berdasarkan hasil penelitiaan BPDAS Agam Kuantan di sub basin Ombilin, tepatnya pada SPAS tahun 2004, curah hujan rata-rata 4.462 mm. Sub basin Lembang 1, Lembang 2, Sunani, Umbilin dan Lawas sebagian besar mempunyai lereng agak curam, curam dan sangat curam. Penggunaan lahan pada sub basin Lembang 1, Lembang 2, Sunami, umbilin dan Lawas antara lain pertanian lahan kering bercampur semak, hutan lahan kering primer, dan hutan lahan kering sekunder. (BPDAS Agam Kuantan, 2004). Hampir sama dengan sub basin Sinamar, pada sub basin ini diperkirakan pertambahan lahan kritis sebesar 10 % per tahun (BPDAS Agam Kuantan, 2004). Berdasarkan hasil penelitian yang BPDAS (Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai) Agam Kuantan prvinsi Sumatera Barat tahun 2004 di Sub DAS Ombilin dengan luas catchment area 1142,8 ha, diperoleh hasil sedimentasi tahunan 41,953 ton per tahun. Dengan luas 1142,8 ha, maka laju sedimentasi per tahun sebesar 41,953 /1142,8 = 0,0367 ton/ha/tahun atau 3,67 ton/km2/tahun. 3.5.2 Kondisi Sub Basin Palangki dan Sukam Sub basin Palangki dan Sukam dapat dikatakan sebagai bagian tengah WS Indragiri, Kedua sub basin ini merupakan peralihan ekosistem bagian hulu dan bagian hilir WS Indragiri. Kedua sub basin ini mempunyai tipologi yang rawan secara ekologis akibat : (a) fungsinya sebagai perlindungan tata air pada sungai nasional Indragiri, (b) Tekanan pembukaan lahan/konverssi dari pengusaha HTI dan perkebunan (terutama sawit) terhadap sub basin ini besar. Hal ini disebabkan maraknya konversi lahan menjadi perkebunan sawit dari bagian hilir WS Indragiri bagian hilir sebagaimana telah dijelaskan pada karakteristik ekosistem hulu dan hilir di atas. Berdasarkan peta RePPProt jenis tanah yang sub basin Palangki dan Sukam didominasi oleh jenis tanah ultisol, oxisol, andison, molisol, inceptisol dan entisol.

Pola - 57

Data iklim terdekat dengan sub basin Palangki dan Sukam adalah Stasiun Kuantan Mudik, Muara Lembu, Air Molek dan Rengat. Berdasarkan ke empat stasiun diatas curah hujan di wilayah sub basin Palangki dan Sukam berkisar dari 2198,90 sampai 2948,0 mm per tahun.. Sub basin Palangki sebagian besar tergolong sangat curam, sedangkan kemiringan sub basin Sukam dominan agak curam sampai curam. Penutupan lahan di sub basin Palangki dan Sukam sebagian besar masih berupa hutan lahan kering primer dan hutan lahan kering sekunder. 3.5.3 Kondisi Sub Basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5 Berdasarkan rencana teknik lapangan RLKT (Rehablitasi Lahan dan Konservasi Tanah) yang disusun BPDAS ( Badan pengelolaan Daerah Aliran Sungai) Indragiri Rokan bekerja sama dengan Pusat Pengkajian Lahan dan Pengembangan Wilayah (P2LPW) UNRI pada Tahun 2003, bahwa Sub DAS kuantan yang meliputi sub basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5. Dari hasil penelitian yang dilakukan sub basin kuantan 1,2,3,4 dan 5 dapat memberikan informasi sebagai berikut : a) jenis tanah pada sub basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5 sebagaimana Tabel 33; b) sifat fisik dan erodibilitas (K) tanah - sub basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5 segaimana Tabel 34. c) kesuburan tanah sub basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5 sebagaimana Tabel 35.

Pola - 58

Tabel 33. Jenis Tanah Yang Ditemukan Pada Sub Basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5
Satuan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. Lokasi PPT (1983) Kuantan Perhentian Gunung Medan Pulau Ingu Siberakun Gunung Gambir Kota Baru Pulau Raman Petonggan Rimpian Kelayang Kampung Bayas Jaya Danau Baru Talang PT Inecda Kempas Jaya Pulau Gelang Jatirejo Latosol Regosol Aluvial Aluvial Podsolik Latosol Latosol Latosol Latosol Organosol Aluvial Aluvial Organosol Aluvial Aluvial Podsolik Regosol Organosol Regosol Aluvial Klasifikasi Tanah USD (1975) Dystropepts Tropofluvents Tropaquents Fluvaquents Tropudults Dystropepts Dystropepts Dystropepts Dystropepts Troposaprists Dystropepts Fluvaquents Troposaprists Fluvaquents Fluvaquents Tropodults Tropofluvents Troposaprists Fluvaquents Fluvaquents FAO (1974) Kambisol Fluvisol Fluvisol Fluvisol Acrisol Kambisol Kambisol Kambisol Kambisol Histosol Kambisol Fluvisol Histosol Fluvisol Fluvisol Acrisol Fluvisol Histosol Fluvisol Fluvisol Kuantan Kuantan Kuantan Kuantan Kuantan Kuantan Kuantan Kuantan Kuantan Kuantan Kuantan Kuantan Kuantan Kuantan Kuantan Kuantan Kuantan Kuantan Kuantan Kuantan Sub DAS

Sumber : BPDAS Indragiri Rokan (2003)

Pola - 59

Tabel 34.
Satuan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16 17. 18. 19. 20.

Sifat Fisik dan Erodibilitas (K) Tanah-tanah di Sub Basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5
Lokasi Tekstur Liat berdebu Lempung Debu Debu Debu Lempung Lempung Debu Lempung Debu Lempung Lempung Lemp liat Debu Lempung Debu Lempung Lempung Debu Lempung Struktur Granular Granular Pejal Pejal Granular Granular Granular Granular Gumpal Granular s. Granular Granular Granular s. Granular s. Granular Granular Granular Granular s. Granular s. Granular Permiabilitas (cm/ja) 9.36 14.75 5.20 0.24 TU 0.18 1.35 7.31 24.0 1.25 13.4 2.20 18.5 7.50 7.0 7.03 14.80 1.9 0.05 5.21 Kedlm > 90 > 90 60-90 60-90 > 90 > 90 > 90 > 90 > 90 > 90 60-90 60-90 60-90 60-90 > 90 > 90 > 90 60-90 60-90 60-90 Bahan 4.83 3.45 2.33 1.55 4.31 2.76 3.28 3.71 3.28 0.86 3.19 6.64 9.12 3.96 3.79 3.19 3.45 8.79 3.28 3.28 Erodibilitas 0.14 0.36 0.79 0.77 0.64 0.37 0.48 0.48 0.48 0.75 0.50 0.35 0.30 0.49 0.53 0.57 0.33 0.21 0.72 0.51

Kuant Terhen G. Medan Pulau Ingu Siberakun Galintang Gambir Koto Baru Pulau Petonggan Rimpian Kelayang Kp Sekip Bayas Jaya Danau Tgl erinjing PT Inecda Kempas Pulau Jatirejo

Sumber : BPDAS Indragiri Rokan (2003)

Pola - 60

Tabel 35
No. Smp 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20.

Nilai Kation Al. Ca. Mg. Kejenuhan Al dan Kebutuhan Kapur di Sub Basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5
Lokasi Nilai kation (me/100g) Al Ca 1.18 1.13 4.12 5.88 0.88 0.88 1.41 1.69 2.82 4.23 1.97 12.11 11.83 7.32 10.99 3.94 1.13 2.82 12.68 1.69 TU 1.44 0.72 1.55 2.32 0.62 1.91 0.77 TU 0.98 TU 1.80 TU TU 2.01 TU 3.61 TU 0.77 Mg 0.10 0.07 0.57 0.77 0.20 0.13 0.04 0.13 0.30 0.48 0.07 1.15 1.37 4.53 1.33 0.65 0.07 0.61 1.59 0.07 59.77 32.73 8.04 42.58 50.99 23.22 44.61 13.95 26.13 10.82 23.93 39.24 19.02 2.62 Tidak dikapur Tidakdikapur Tidak dkapur Tidakdikapur 1.37 2.38 Tidak dikapur 1.42 Tidak dikapur Tidak dikapur Tidak dikapur Tidak dikapur Tidak dikapur Tidak dikapur Tidak dikapur Tidak dikapur Tidak dikapur 2.7 Tidak dikapur 2.63 Kejenuhan Kebutuhan

KuantanTengah Perhentian aweh Gunung Medan Pulau Ingu Siberakun Gunungmalintang Gambir Koto Baru Pulau Baru Pulau Raman Petonggan Rimpian Kampung Sekip Bayas Jaya Danau Baru Talang Jerinjing PT Inecda Kempas Jaya Pulau Gelang Jatirejo

Sumber : BPDAS Indragiri Rokan (2003)

Stasiun terdekat dengan sub basin 1,2,3,4 dan 5 adalah Kuantan Mudik, Muara lembu, Air Molek, dan Rengat. Curah hujan rata-rata di Kuantan Mudik adalah 2948 mm per tahun, di Muara Lembu 2546,9, di Air Molek 2330,5 dan di Rengat 2198,90 mm per tahun . Kemiringan areal sub Basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5, sebagian besar merupakan daerah datar dan paling terbesar kedua adalah daerah landai. Kondisi penutupan lahan di sub basin 1,2,3,4 daan 5 didominasi oleh kebun karet campur belukar, kebun sawit, hutan dataran rendah campur belukar dan dan hutan rawa gambut. Berdasarkan rencana teknik lapangan RLKT yang disusun BPDAS Indragiri Rokan dengan Pusat P2LPW UNRI pada Tahun 2003, memberikan informasi bahwa Erosi Potensial dan Aktual tanah serta kedalaman efektif - sub basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5 sebagaimana Tabel 36.

Pola - 61

Tabel 36
Erosi

Erosi Potensial dan Aktual (ton/ha/th) di Wilayah Sub Basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5
Sub DAS Kuanta Erosi Potensial Erosi Aktual 4,68 197,02 Pada kedalaman efektif < 30 Cm Pada kedalaman efektif 60-90 Cm Ket

Erosi Minimum Rerata Tertimbang

467,59 1.228,36

Catatan : Erosi Potential dihitung menggunakan rumus A = RKLS dan Erosi Aktual dihitung menggunakan rumus A = RKLSCP Sumber : BPDAS Indragiri Rokan (2003)

Pada sub basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5 ditemukan kisaran nilai erosi sangat besar. Besar kecilnya erosi ini sangat tergantung dari kedalaman efektif (kedalaman sampai dimana akar dapat menembus lapisan tanah). Tabel 35. memperlihatkan: ditemukan erosi actual sebesar 4,68 ton/ha/tahun, yakni pada kedalaman tanah kurang dari 30 cm, (b). Pada kedalaman tanah antara 60 cm sampai 90 cm atau lebih dari 90 cm ditemukan erosi rata-rata tertimbang sebesar 197,02 ton/ha/tahun. Bersarnya kisaran tersebut selain ditentukan perbedaan kedalaman efektif juga sangat tergantung dari jumlah sample yang diambil dari setiap land unit.

3.5.4. Kondisi Sub Basin Peranap Berdasarkan rencana teknik lapangan yang disusun BPDAS Indragiri Rokaan dengan P2LPW - UNRI pada Tahun 2003, dalam kaitannya dengan karasteristik tanah di sub basin Peranap, berturut turut dapat dilihat: (a) pada Tabel 37 diperlihatkan jenis tanah pada sub basin Peranap, (b) pada Tabel 38 diperlihatkan sifat fisik tanah pada sub basin Peranap. Tabel 37. Jenis Tanah dan Klasifikasi Tanah Sub Basin Peranap
Nomor 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Lokasi PPT (1983) Lubuk Ramo Pantai Air Buluh-1 Air Buluh-2 Lubuk Barokeh Muara Srangge Peranap Latosol Podsolik Latosol Podsolik Latosol Latosol Latosol Klasifikasi Tanah USDA (1975 Peleudults Tropodulst Dystropepts Tropodults Dystropepts Dystropepts Dystropepts FAO (1974) Nitosol Acrisol Kambisol Acrisol Kambisol Kambisol Kambisol

Sumber : BPDAS Indragiri Rokan (2003)

Pola - 62

Tabel 38. Nilai Sifat Fisik Tanah di sub basin Peranap
No. Lokasi Tekstur Al Struktur Ca Permeab) Kedlm fektif (cm) Bahan (%) Erodibiltas (K)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Lubuk Pantai Air Buluh-1 Air Buluh-2 Lubuk Muara Peranap

Lempung Lempung Lempung Lempung Lempung Lempung Liat

Granular Gumpal Granular Granular Granular Gumpal Granular

0.24 2.27 0.13 1.20 0.13 24.0 TU

> 90 > 90 > 90 > 90 > 90 > 90 > 90

2.24 3.45 2.67 1.03 2.67 3.28 5.17

0.22 0.42 0.52 0.25 0.52 0.48 0.20

Sumber : BPDAS Indragiri Rokan (2003)

Stasiun terdekat dengan sub basin Peranap adalah Air Molek dan Kuantan Mudik. Curah hujan rata-rata per tahun di stasium Air Molek 2330,5 mm, sedangkan di stasiun Kuantan Mudik 2948,0 mm. Kemiringan areal sub Basin Peranap sebagian besar merupakan landai dengan kemiringan 9-15 %, dan sebagian lagi adalah curam dengan kemiringan 41-60 %. Kondisi penutupan lahan di sub basin Peranap mulai dari terbesar adalah hutan dataran rendah campur belukar, kebun sawit campur semak, hutan dataran rendah dan hutan dataran rendah dengan perladangan berpindah. Pada sub basin Peranap ditemukan kirasan nilai erosi sangat besar. Besar kecilnya erosi ini sangat tergantung dari kedalaman efektif, yaitu kedalaman sampai dimana akar dapat menembus lapisan tanah. Pada sub basin Peranap ditemukan : (a) pada umumnya erosi aktual sebesar 3,06 ton/ha per tahun dengan kedalaman tanah kurang dari 30 cm, (b). Pada kedalaman tanah antara 60 cm sampai 90 cm atau lebih dari 90 cm ditemukan erosi sebesar 235,24 ton/ha/tahun sebagaimana diperlihatkan Tabel 39. Besarnya kisaran tersebut selain ditentukan perbedaan kedalaman efektif juga sangat tergantung dari jumlah sample yang diambil dari setiap land unit. Tabel 39. Erosi Potensial dan Aktual (ton/ha/th) di Wilayah Sub Basin Peranap
Erosi Sub DAS Peranap Erosi Potensial Erosi Minimum Rerata Tertimbang 305,96 1.902,04 Erosi Aktual 3,06 235,24 Pada kedalaman efektif < 30 Cm Pada kedalaman efektif 60-90 Cm Ket

Catatan : Erosi Potential dihitung menggunakan rumus A = RKLS dan Erosi Aktual dihitung menggunakan rumus A = RKLSCP Sumber : BPDAS Indragiri Rokan (2003)

Pola - 63

3.5.5. Kondisi Sub Basin Cenako Jenis tanah pada sub basin Cenako antara lain alluvial, latosol, podsolik dan regosol sebagaimana Tabel 40. Sedangkan sifat fisik tanah erodiblitas, tanah berkisar antara 0,06 sampai 0,51 seperti Tabel 41. Tabel 40.
Satuan

Jenis Tanah pada Sub Basin Cenako
Klasifikasi Tanah

PPT (1983)
20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. Aluvial Aluvial Aluvial Latosol Podsolik Latosol Aluvial Regosol Podsolik

USD (1975)
Fluvaquents Dystropepts Fluvaquents Paleudults Tropudults Dystropepts Dystropepts Fluvaquents Tropodults

FAO (1974)
Fluvisol Kambisol Fluvisol Nitosol Acrisol Kambiasol Kambisol Fluvisol Acrisol

Sumber : PPT (2003)

Tabel 41. Sifat Fisik dan Erodibilitas (K) Tanah-tanah di Sub Basin Cenako
Satuan 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. Tekstur Lempung Debu Debu Debu Debu Debu Debu Lempung Debu Struktur Granular halus Granular s. Granular s. Granular s. Granular s. Granular s. Granular s. Granular halus Granular halus Permiabil (cm/jam) 5.21 6.74 TU 10.20 16.51 2.30 21.60 TU 7.71 Kedlm 60-90 > 90 > 90 > 90 60-90 > 90 60-90 60-90 60-90 Bahan 3.28 3.71 6.90 9.48 11.03 10.34 4.91 3.10 5.17 Erodibilitas 0.51 0.49 0.45 0.17 0.06 0.14 0.49 0.46 0.46

Sumber : Disarikan dari PPT (2004)

Stasiun terdekat dengan sub basin Cenako adalah Stasiun Tembilahan dan Pulau Kijang. Curah hujan rata-rata per tahun di stasium Pulau Kijang adalah 2445,4 mm, sedangkan di stasiun Tembilahan adalah 1895,90 mm. Kemiringan areal sub basin Cenako sebagian besar agak landai sampai agak curam dengan kemiringan berkisar antara 16-40 %. Kondisi penutupan lahan di sub basin Cenako didominasi oleh hutan lahan kering primer, pertanian lahan kering bercampur semak belukar.

Pola - 64

Berikut ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Skarbovik (1993) pada sub basin Cenako. Erosi alami yang terjadi di daerah Pangkalan Kasai (Sub Basin Cinaku) menghasilkan penumpukan sedimen adalah 5 mg/l (maksimum 72 mg/l) dan menurut perhitungan hasil penumpukan sediment diperoleh angka rata-rata 12,6 ton/km2/tahun (Skarbovik, 1993 dalam BPDAS Indragiri Rokan dan Balai TNBT, 2002). Pembukaan lahan di daerah Sungai Togan (hulu Sungai Cinaku) oleh aktifitas logging selama periode 6-7 tahun hingga tahun 1991, mengakibatkan peningkatan suspensi sediment rata-rata 59 mg/L dengan maksimum mencapai 580 mg/L. Endapan sediment dan Sub basin Cinaku meningkat hingga 51 ton/km2/tahun (Bruijinzeel, 1990 dan Skarnovik, 1993 dalam BPDAS Indragiri Rokan dan Balai TNBT, 2002). Suatu peningkatan yang cukup besar untuk ukuran suatu sub basin. Hal ini diperparah lagi dengan bertambahnya perusahaan yang membuka lahan konsesi baru akhir-akhir ini. 3.5.6. Kondisi Sub Basin Indragiri Berdasarkan peta land system lembar rengat No 0915 wilayah sub basin Indragiri terdiri dari beberapa system lahan sebagimana Tabel 42.

Tabel 42. Sistem Lahan dan klasifikasi Tanah di Wilayah S. Indragiri
Great Group soil Taxonomy (USDA, 1990) Tropaquepts Fluvaquents Tropohemist 2 Beliti (BLI) Tropaquepts Fluvaquents Tropohemist 3 Mendawai (MDW) Tropasoprist Tropohemist 4 Sikladipanjang (SLP) Tropaquepts Fluvaquents Tropohemist Sumber: Peta ReProt, lembar Rengat,skala 1 :250.000 Peta Land status lembar Rengat, skla : 1 :250.000 No 1 Sitem Lahan Khayan (KHY)

Hasil Penelitian Tanah di Areal HPH PT. Sari Hijau Mutiara (lokasinya berada di sub basin Indragiri) dalam rangka pembangunan HTI karet dan jelutung Tahun 1998 memperlihatkan hasil sifat kimia tanah seperti Tabel 43 sedangkan hasil analisis sifat fisik seperti Tabel 44.

Pola - 65

Tabel 43. Hasil Analisis Sifat Kimia
No. 1 Macam Tanah Tropaquepts Lereng (%) 0 –8 Kedalaman(cm) PH H20 C-Organik (%)

0 –30 5,10 (M) 1,09 (R) 30-60 5,10 (M) 0,47 (SR) 2 Fluquents 0 –8 0 –30 4,80 (M) 1,31 (R) 30-60 5,10 (M) 0,32 (SR) 3 Tropohemist 0 –8 0 –30 5,00 (M) 0,91 (SR) 30-60 5,15 (M) 0,27 (SR) Sumber: - Diserahkan dan Laporan Studi Pembangunan HTI SHM Tahun 1998 - Kriteria Penelitian Mengacu pada TOR Tipe A. Survai Kapabalitas Tanah (LPT, 19900

Tabel 44. Hasil Analisis Sifat Fisik
Permeablitas Tekstur 3 fraksi (%) (cm/jam) Pasir Debu Liat 1 7,56 8,56 43,45 47,90 2 5,82 6,24 47,21 46,55 3 9,24 8,14 46,31 46,55 4 8,23 7,30 38,42 54,28 5 3,47 4,76 41.25 53,99 6 2,94 6,22 46,20 47,58 7 4,62 4,87 47,34 47.79 8 3,83 6,41 39,17 54,42 Sumber - Disarikan dari Laporan Studi Pembanguan HTI SHM Tahun 1998 - Kriteria Penilaian mengacu pada TOR Tipe A Survai Kapablitas Tanah (LPT, 1983): No.sampel

Stasiun terdekat dengan sub basin Indragiri adalah Stasiun Tembilahan dan Pulau Kijang. Curah hujan rata-rata per tahun di stasium Pulau Kijang adah 2445,40 mm, sedangkan di stasiun Tembilahan adalah 11895,90 mm. Kemiringan areal sub basinIndragiri hampir semua datar dengan kemiringan kurang dari 2 %. Kondisi penutupan lahan di sub basin Indragiri didominasi oleh vegetasi kebun sawit dan karet dan sebagian lagi ditumbuhi hutan rawa sekunder. Perbandingan erosi yang terjadi pada berbagai kondisi pengolahan, yaitu konsisi areal non hutan, bekas tebangan, pembukaan wilayah hutan (jalan, base camp) dan HTI disajikan pada Tabel 45. Sedangkan hasil pengukuraan sedimentasi diperlihatkan pada Tabel 46.

Pola - 66

Tabel 45.

Hasil Penelitian Erosi Tanah Pada Berbagai Kondisi di Sub basin Indragiri

No Erosi (ton Tingkat Bahaya Sampel Erosi (TBE) /ha/thn) /ha/thn) Non Hutan 1 167.635 B 2 127.004 B 3 174.631 B 4 169.889 B B. Hutan Bekas Tebangan 1 110.309 B 2 104.465 B 3 114.887 B 4 105.225 B C.Tanaman Hutan Industri 1 2.794 R 2 2.117 R 3 2.911 R 4 2.831 R 5 2.758 R 6 2.612 R 7 2.872 R 8 2.631 R Sumber - Disarikan dari Laporan Studi Pembanguan HTI SHM Tahun 1998 - Kriteria Penilaian mengacu pada TOR Tipe A Survai Kapablitas Tanah (LPT, 1983):

Penutupan Lahan

Tabel 46. Laju sedimentasi pada beberapa Sungai di Sub Basin Indragiri Nama Sungai Kritang Retih Lumahan Sedimentasi Pada Inlet (ton/thn) 253.50 727,83 1.524,09 Sedimentasi Pada Outlet (ton/thn) 86.31 1259,71 6.820,45

Sumber: Disarikan dari Laporan AMDAL PT. SHM (1988)

Berdasarkan Peta Satuan Tanah Lembar Rengat (0915), satuan peta tanah dominan di wilayah sub basin Indragiri adalah turunan dari group fisiografi Marin (B), Group fisiografi kubah gambut (D) dan grup fisiografi alluvial. Tetapi yang paling dominan adalah Group fisiografi kubah gambut (D). Tabel 47 berikut ini menyajikan karasteristik tanah gambut pada sub basin Indragiri.

Pola - 67

Tabel 47. Karasteritik Ekositem Sub Basin Indragiri
Group Marin Subgroup
Dataran pasang surut

Uraian Satuan Peta tanah
Dataran pasang surut sepanjang pantai bervegetasi mangrove, sedimen halus Dataran pasang surut sepanjang pantai bervegetasi nipah atau mangrove, sedimen halus Dataran pantai diatas pasang rata-rata , sedimen halus Daerah sepanjang dataran estuari yang telah didrainase dan diolah, sedimen halus Rawa belakang pantai , telah diolah, sediment halus

Rawa belakang Pantai Group Kuba Gambut

Subgroup
Kubah gambut oligtrofik air tawar

Satuan Peta tanah
Kubah gambut oligotrofik air tawar kedalaman gambut 0,5 - 2m Kubah gambut oligotrofik air tawar kedalaman gambut > 2 m Kubah gambut oligtrofik terpenuhi air asin dengan kedalaman gambut 0,5 – 2 m Kubah gambut yang telah diolah dengan dengan kedalaman gambut 0,5 – 2 m Kubah gambut yang telah diolah dengan dengan kedalaman gambut > 2 m

Kubah gambut oligtrofik terpenuhi air asin Kubah gambut yang telah diolah

Group Aluvial

Subgroup
Aluvial

Satuan Peta tanah

Dataran banjir dari sungai yang bermeander tidak dibedakan, sedimen tidak dibedakan, datar Dataran banjir dari sungai yang bermeander , sedimen tidak dibedakan, jalur meander, tanggul, alur-alur drainase, datar sampai berombak Dataran banjir dari sungai yang bermeander , sedimen tidak dibedakan, rawa belakang, datar sampai cekung Pelembahan sempit antara dataran tinggi, sedimen tidak dibedakan, datar Teras sungai Teras sungai datar, sedimen tidak dibedakan, agak tertoreh Teras sungai berombak, sediment tidak dibedakan, agak tertoreh Teras sungai berombak, sediment kasar, agak tertoreh Sumber : Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, 1990

Pola - 68

3.6. Kondisi Pengembangan Sumber Daya Air
3.6.1 Infrastruktur yang ada (kondisi eksisting) Pada saat ini bangunan air penting yang ada di WS Indragiri adalah: Danau Singkarak PLTA Singkarak

3.6.2. Kebutuhan Air Irigasi Luas Sawah di Wilayah Studi Distribusi dari daerah irigasi di Wilayah Sungai Indragiri menurut CTI dan Nippon Koei (1995) untuk setiap Kabupaten, adalah sebagai berikut. Tabel 48 Luas Irigasi di WS Indragiri
Nama Eksisting Kabupaten (ha) Sijunjung 5,665 Tanahdatar 12,694 Agam 4,385 Limapuluh Kota 12,818 Solok 17,079 Total 52,641 Sumber CTI & NK (1995) Eksisting + Potensial (ha) 12,277 13,514 4,385 13,255 17,998 61,429

Pola - 69

Luasan sawah ini dari kabupaten selanjutnya dikonversikan ke dalam water district (WD), sebagai berikut. Tabel 49 Luas Irigasi di Water District
WD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Jumlah Existing_ha 3,350 1,546 3,398 1,832 0 2,770 13,964 6,882 118 130 431 1,227 12 0 81 0 0 0 0 35,740 Total_ha 3,463 1,598 3,588 2,098 0 2,920 14,739 7,621 255 282 935 2,642 25 0 176 0 0 0 0 40,342

Kebutuhan air irigasi dihitung berdasarkan Pedoman KP01, dan Pedoman Perencanaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (Ditjen Sumber Daya Air, 2004).

Kebutuhan Air di Petak Sawah

9.0 8.0 7.0 Tebal Lapisan Air (mm/hari) 6.0 5.0 4.0 3.0 2.0 1.0 0.0 1 Kebutuhan di Sawah Evapotranspirasi Hujan Efektif 6.3 3.8 3.6 2 7.4 4.4 2.8 3 5.0 4.4 3.4 4 4.8 4.2 3.7 5 6.1 3.8 2.3 6 6.3 3.6 0.7 Bulan 7 4.9 4.0 0.7 8 2.7 3.9 1.3 9 1.9 4.2 2.6 10 1.2 4.1 3.6 11 6.1 3.8 4.0 12 8.2 3.5 4.1 Kebutuhan di Sawah Evapotranspirasi Hujan Efektif

Gambar 22 Kebutuhan Air Irigasi

Pola - 70

3.6.3 Kebutuhan Air Rumah-tangga, Perkotaan dan Industri Perhitungan kebutuhan air rumah-tangga, perkotaan dan industri, dilakukan berdasarkan jumlah penduduk, laju pertumbuhan penduduk, dan indeks kebutuhan air sesuai dengan Pedoman Perencanaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (Ditjen Sumber Daya Air, 2004). Hasil perhitungan proyeksi kebutuhan air rumah-tangga, perkotaan dan industri pada 13 Kabupaten di wilayah studi, disajikan pada Tabel berikut ini, dimana digunakan sebagai masukan pada simpul Public Water Supply Node di program DSS-Ribasim. Tabel 50 Kebutuhan Air Rumah-tangga, Perkotaan dan Industri (m3/s)
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kabupaten/Kota Kab. Indragiri Hulu Kab.Kuantan Senggigi Kab. Indragiri Hilir Kab. S.Lunto / Sijunjung Kota Sawahlunto Kab. Tanah Datar Kab. Agam Kab. Limapuluh Kota Kota Padang Panjang Kota Payakumbuh Kota Bukit tinggi Kota Solok Kab. Solok Jumlah 2005 1.04 0.91 2.36 1.28 0.20 1.24 1.57 0.65 0.17 0.39 0.37 0.21 0.70 11.10 2020 1.41 1.94 4.59 2.24 0.34 1.63 2.20 0.96 0.30 0.64 0.69 0.46 1.27 18.67 2030 1.72 3.17 7.09 3.23 0.49 1.94 2.72 1.23 0.43 0.88 1.02 0.77 1.86 26.53

3.6.4. Kebutuhan air PLTA Danau Singkarak Pada studi ini, besarnya kebutuhan air PLTA tersebut diperkirakan sesuai dengan kondisi pengoperasian pada bulan Agustus 2005 (musim kemarau) sebagai berikut, dimana dengan inflow hanya 17,23 m3/s, dikeluarkan total 33,48 m3/s dengan perincian untuk turbin 30,48 m3/s dan ke Batang Ombilin (untuk sanitasi dan irigasi) hanya sebesar 3 m3/s. Dengan demikian disimpulkan bahwa kebutuhan air untuk PLTA adalah sekitar 30 m3/s.

Pola - 71

BAB IV VISI DAN MISI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI INDRAGIRI

Visi merupakan pandangan jauh kedepan, suatu gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan berisikan cita dan citra yang ingin diwujudkan dalam kaitan pengelolaan sumber daya air di WS Indragiri. Dasar-dasar perumusan Visi : (1) mencerminkan apa yang ingin dicapai dalam pengelolaan sumber daya air, (2) memberikan arah dan fokus strategi yang jelas, (3) mampu menjadi perekat dan menyatukan berbagai gagasan strategis yang ada di kedua provinsi serta seluruh stakeholder, (4) memiliki orientasi terhadap masa depan, sehingga segenap tingkatan pemerintahan, lembaga/instansi serta stakeholder lainnya turut berperan dalam mendefinisikan dan membentuk masa depan sumber daya air, (5) mampu menumbuhkan komitmen seluruh tingkatan pemerintahan, lembaga/instansi serta stakeholder lainnya dalam rangka pemanfaatan sumber daya air serta (6) mampu menjamin kesinambungan pemanfaatan sumber daya air bagi generasi yang akan datang. Misi adalah sesuatu yang harus diemban atau dilaksanakan oleh segenap tingkatan pemerintahan, lembaga/instansi serta stakeholder lainnya sesuai dengan Visi yang telah ditetapkan, agar pencapaian tujuan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air dapat terlaksana dan berhasil dengan baik. Dengan Misi tersebut diharapkan seluruh stakeholder mengenal kewenangan dan posisinya serta mengetahui peran dan fungsinya, program dan kegiatan yang harus dilaksanakan serta hasil yang harus dicapai pada masa-masa yang akan datang.

Pola - 72

Perumusan Visi dan Misi pengelolaan sumber daya air WS Indragiri mengacu pada Visi dan Misi Nasional Pengembangan Sumber Daya Air, Visi dan Misi Pemerintah Provinsi Riau dan Sumatera Barat , Visi dan Misi Pemerintah Kabupaten/Kota terkait, serta rumusan hasil Pertemuan Konsultasi Masyarakat di Provinsi Riau dan Provinsi Sumatera Barat; 4.1. Visi Pengelolaan SDA di Wilayah Sungai Indragiri : “Terwujudnya pemanfaatan SDA di Wilayah Sungai Indragiri yang lestari, berwawasan lingkungan dan berkesinambungan secara kualitas dan kuantitas bagi kesejahteraan masyarakat di Provinsi Riau dan Provinsi Sumatra Barat” 4.2. Misi Pengelolaan SDA di Wilayah Sungai Indragiri : 1. Konservasi sumber daya air yang berkelanjutan; 2. Pendayagunaan sumber daya air yang adil untuk berbagai kebutuhan masyarakat yang memenuhi kuantitas dan kualitas; 3. Pengendalian daya rusak air; 4. Pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat, swasta dan pemerintah dalam pengelolaan sumber daya air 5. Peningkatan keterbukaan (aksesibiltas) dan ketersediaan data serta informasi dalam pengelolaan sumber daya air. Adapun kebijakan pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Indragiri sejalan dengan kebijakan nasional, provinsi dan kabupaten yang bersangkutan , yaitu : • Mengoptimalkan ketersediaan sumber daya air baik secara kuantitas dan kualitas, serta upaya pelestarian lingkungan hidup yang diarahkan melalui pemanfaatan sumber daya air untuk kepentingan kesejahteraan rakyat dengan memperhatikan keseimbangan dan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta senantiasa memperhitungkan prinsip pembangunan yang berkelanjutan. • Pengembangan sarana dan prasarana sumber daya air yang lebih terkendali dengan pemprioritaskan pada upaya antisipasi pemecahan masalah yang mungkin timbul di lapangan.

Pola - 73

BAB V ARAHAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI INDRAGIRI
Arah kebijakan pengelolaan sumber daya air WS Indragiri mengacu pada arah kebijakan nasional yang telah diatur dalam Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, yang meliputi ; konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. 5.1. Konservasi Sumber Daya Air Wilayah Sungai Indragiri Konservasi SDA meliputi upaya-upaya perlindungan dan pelestarian sumber daya air, pengawetan dan pengendalian pencemaran air dengan tujuan menjaga kelangsungkan daya dukung, daya tampung dan fungsi sumber air. Perlindungan dan pelestarian sumber air dapat dilakukan dengan kegiatan fisik dan non fisik. Untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam upaya meningkatkan kegiatan pemberdayaan dan peran serta masyarakat dan dalam upaya menyeimbangkan fungsi sosial, lingkungan dan ekonomi pengembangan SDA, maka kegiatan non fisik perlu di utamakan antara lain: monitoring kualitas air wilayah sungai Indragiri secara rutin untuk mengetahui adanya penurunan kualitas air yang diakibatkan oleh pencemaran limbah. 5.1.1. Strategi Konservasi Berdasarkan sudut pandang ekosistem, maka tipologi ke 19 sub basin Wilayah sungai Indragiri pada dasarnya dapat dibagi menjadi 6 (enam) tipologi konservasi, yaitu : • 3 (tiga) tipologi di WS Indragiri bagian hulu, yaitu tipologi Sinamar, Ombilin dan Palangki. • 3 (tiga) tipologi bagian hilir WS Indragiri , yaitu tipologi Peranap, Cenako, dan Indragiri sebagaimana disajikan pada Gambar 23

Pola - 74

Gambar 23. Peta Tipologi Konservasi WS Indragiri

Pola - 75

Secara umum pola penyusunan strategi konservasi WS Indragiri disajikan dalam diagram pada Gambar 24 Strategi pengelolaan konservasi yang perlu dilakukan dalam rangka meminimalisasi erosi dan sedimentasi yang pada gilirannya diharapkan dapat :(a) meminimalisasi perbedaan debit maksimum dan minimum, (b) meningkatkan kualitas dan kuantitas air di WS Indragiri.

Gambar 24. Strategi Konservasi WS Indragiri

Kondisi Biofisik Di dalam Kawasan Hutan Negara -HL -HP -HPT -HK

Status Kawasan Sub Basin Kondisi Biofisik Di luar kawasan hutan Vegetasi Kondisi Sosial ekonomi budaya

Kondisi Sosial ekonomi budaya
Strategi Konservasi

5.1.2 Pola Konservasi Arahan Strategis Pola Pengelolaan Sumber Daya air pada aspek Konservasi SDA di WS Indragiri diarahkan adalah : 1. Mengupayakan selalu tersedianya air dengan kualitas dan kuantitas yang memadai. 2. Melestarikan sumber-sumber air dengan memperhatikan kearifan lokal/adat istiadat setempat. 3. Melindungi sumber air dengan lebih mengutamakan kegiatan rekayasa sosial, peraturan Perundang-undangan, monitoring kualitas air dan kegiatan vegetatif. 4. Mengembangkan budaya pemanfaatan air yang efisien. 5. Mempertahankan dan memulihkan kualitas air yang berada pada sumber sumber air. Pola - 76

6. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam kegiatan konservasi SDA. 5.1.2.1. Pola Konservasi Sub Basin Sumani Sub basin Sumani dengan luas 203 km2 atau 20.300 ha merupakan Daerah Tangkapan Air Danau Singkarak, secara secara administrasi pemerintahan meliputi Kota Sawalunto, Kabupaten Solok, Tanah Datar, Kota Padang Panjang dan Kota Solok. Arahan pola konservasi makro pada sub basin Sumani sebagaimana disajikan pada Tabel 51 Pola Konservasi Sempadan Sungai Sub Basin Sumani Sempadan sungai adalah wilayah sekitar sungai yang perlu dikonsevasi untuk melindungi sungai tersebut. Departemen Kehutanan menetapkan untuk sungai yang lebarnya > 30 m sempadannya 100 m kiri kanan sungai, sedangkan sungai yang lebarnya < 30 m ditetapkan sempadan sungai 50 m kiri kanan sungai. Panjang sungai Sumani 22 km dengan sempatan 200 m, sehingga luas konservasi sempadan sungai menjadi 440 Ha. Areal seluas 440 ha ini perlu dikelola dengan menanam dengan tanaman penguat tebing atau yang berlereng curam. Tanaman yang memenuhi syarat untuk tanaman tersebut antara lain: tanaman bambu dan rotan.

Pola - 77

Tabel 51. Pola konservasi Sub Basin Sumani .
No 1. Pola Konservasi Reboisasi Lokasi Pengelolaan kawasan hutan Negara : HL, HSAW, HPT, HPK tidak disukai masyarakat penutupan lahan terbuka/semak belukar potensi hutan rendah diluar kawasan hutan kritis/tidak produktif ada pemilikan/penguasaan lahan kawasan hutan Negara ketergantungan masyarakat terhadap kawasan hutan tinggi penutupan lahan terbuka atau semak belukar kegiatan didalam dan diluar kawasan hutan Negara ada masyarakat tersedia tanaman pokok : kayu-kayuan dan MPTS (Multi Porpuse Tree Species) komoditi yang dikembangkan lebih cenderung tanaman semusim hasil yang dihapkan adalah non kayu / buah buahan diluar kawasan hutan Negara lahan kurang produktif ada kepemilikan/status lahannya jelas luas minimal 0,4 ha tanaman kayu-kayuan diluar kawasan hutan ada masyarakat/kelembagaan bisa dilaksanakan tumpangsari terdapat lebih dari 2 jenis tanaman pokok didalam kawasan hutan Negara vegetasi sekunder (log over area) potensi kawasan menurun/rendah tanaman yang ditanam merupakan jenis tanaman komersil didalam kawasan hutan Negara pohon sebagai sumber jenis cukup potensi kawasan masih tinggi diluar/didalam kawasan hutan Negara dikawasan pemukiman run off tinggi kawasan suaka margasatwa potensi pohon sudah berkurang potensi pakan satwa rendah

2. 3.

Penghijauan Social forestry

4.

Aneka kehutanan

usaha

5.

Hutan rakyat

6.

Agroforestry

7.

Pengkayaan tanaman

8. 9. 10.

Suksesi alami Penghijauan lingkungan Penanaman pakan tanaman

5.1.2.2 Pola Konservasi Sub Basin Sinamar 1, 2,3 dan Agam Kondisi lapangan di sub basin Sinamar 1, 2,3 dan Agam telah menunjukkan gejala-gejala krisis air diantaranya: (a) menurunnya persediaan air di beberapa wilayah pada musim kemarau, (b) adanya fluktuasi debit sungai yang tinggi antara musim kering dan musim hujan, dan (3) kecenderungan meningkatnya kekeruhan air sungai Sinamar pada saat musim hujan. Kondisi ini dan ditambah dengan kenyataan pesatnya perkembangan pembangunan berbagai sector. Kondisi ini akan mempengaruhi keberlanjutan fungsi sungai, sehingga perlu upaya-upaya yang terkait dengan usaha penyelamatan daerah tangkapan air Sinamar 1,2,3 dan Agam. Berdasarkan : (a) prediksi erosi dan sedimentasi, (b) kondisi biofisik, (c) kondisi social ekonomi masyarakat sekitar sub basin Sinamar 1, Agam, Sinamar 2 dan Sinamar 3 , maka penekanan konservasi adalah mengatasi erosi yang terjadi akibat adanya lahan kritis . Arahan Pola konservasi yang disajikan Tabel 52.

Pola - 78

Tabel 52
No 1

Pola Konservasi Sub Basin Sinamar 1, Agam, Sinamar 2, dan Sinamar 3
Rekomendasi RLKT Agroforestry, Wanatani/Wanafarma, Grass Barrier/Alley Croping, Teras Hutan Rakyat, Agroforestry, Teras Hutan Rakyat, Tanaman Tahunan, Teras Penghijauan, Hutan Rakyat, DAM Penahan Pengkayaan Tanaman Pengkayaan Tanaman, Hkm Pergiliran Tanaman, Wanatani/Wanafarma, Teras Reboisasi, Pengkayaan Tanaman Agroforestry, Wanatani/Wanafarma, Grass Barrier/Alley Croping, Teras Hutan Rakyat, Agroforestry, Teras Reboisasi, Pengkayaan Tanaman, Penghijauan, Hutan Rakyat, Teras Pengkayaan Tanaman Pengkayaan Tanaman, Hkm (Hutan Kemasyarakatan) Pergiliran Tanaman, Wanatani/Wanafarma, Teras Pergiliran Tanaman, Hutan Rakyat, Tanaman Tahunan, Teras Pergiliran Tanaman, Wanatani/Wanafarma, Teras Reboisasi, Hkm, Teras Reboisasi, Pengkayaan Tanaman, Reboisasi, Pengkayaan Tanaman Pengkayaan Tanaman, Hkm Pergiliran Tanaman, Wanatani/Wanafarma, Teras Pengkayaan Tanaman, Hkm Reboisasi, Hkm, Teras

Sub Basin Sinamar 1

2

Agam

3

Sinamar 2 dan 3

5.1.2.3 Pola Konservasi Sub Basin Lembang 1, 2, Ombilin dan Lawas Pada sub basin Lembang 1,2, Ombilin dan Lawas, perlu dilakukan pengendalian sedimentasi sebagai akibat dari erosi yang masih terus berlangsung Jenis-jenis kegiatan pengendalian sedimentasi dalam hal ini adalah: a. Dam pengendali b. Dam penahan c. Gully plug, Gully drop, dan Gully repair d. Bangunan pengendali tebing sungai Adapun fungsi dan manfaat dari bangunan sedimentasi adalah untuk menampung hasil-hasil erosi yang masih terjadi di daerah tangkapannya (daerah hulu) sehingga dapat dicegah atau dihambat untuk masuk sungai utama (Sungai Lembang 1,2, Ombilin dan Lawas) dan apabila dibiarkan akan menimbulkan berbagai dampak di daerah hilir seperti pendangkalan sungai, banjir, dan longsor. Pembangunan bangunan sedimentasi didasarkan pada criteria teknis sbb: berikut: a. Tingkat laju erosi lahan tinggi b. Kemiringan berkisar 15 – 35 % c. Luas daerah tangkapan: Pola - 79

Dam pengendali maksimal 250 ha Dam penahan maksimal 75 ha Gully dan Gally drop maksimal 10 ha Tabel 53. Pola konservasi sub basin Lembang 1, 2, Ombilin dan Lawas
No. 1 Pola Konservasi Reboisasi Arahan Lokasi Kawasan hutan Negara : HL, HSAW, HPT, HPK. Tidak dikuasai masyarakat Penutupan lahan terbuka/semak belukar Lokasi jauh Potensi hutan rendah Diluar kawasan hutan Kritis/tidak produktif Ada pemilikan/penguasaan lahan Kawasan hutan Negara Ketergantungan masyarakat terhadap kawasan hutan tinggi Penutupan lahan terbuka atau semak belukar Ada kelembagaan formal (misalnya : koperasi, dll) maupun non formal (misalnya : masyarakat adat) Kegiatan didalam dan diluar kawasan hutan negara Ada masyarakat Tersedia tanaman pokok : kayu-kayuan dan mpts Komoditi yang dikembangkan lebih cenderung tanaman semusim Hasil yang diharapkan adalah non kayu Diluar kawasan hutan negara Lahan kurang produktif Ada kepemilikan/status lahannya jelas Luas minimal 0,4 ha Tanaman kayu-kayuan Diluar kawasan hutan Ada masyarakat/kelembagaan Bisa dilaksanakan tumpangsari Terdapat lebih dari 2 jenis tanaman pokok Didalam kawasan hutan negara Vegetasi sekundder (log over area) Potensi kawasan menurun/rendah Tanaman yang adalah jenis tanaman komersil Didalam kawasan hutan negara Pohon sebagai sumber jenis cukkup Potensi kawasan masih tinggi Umumnya dilakukan di hutan rawa Diluar/didalam kawasan hutan negara Bekas galian tambang (galian c) Tambang terbuka/tertutup Diluar/didalam kawasan hutan Negara Dikawasan pemukiman Run off tinggi

2.

Penghijauan

3.

Social forestry

4.

Aneka usaha kehutanan

5.

Hutan rakyat

6.

Agroforestry

7.

Pengkayaan tanaman

8.

Suksesi Alami

9.

Reklamasi bekas tambang Penghijauan lingkungan

10.

Pola Konservasi Sempadan Sungai Lembang 1, 2, Ombilin dan Lawas Pola Konservasi Sempadan Sungai Sub Basin Sub Basin Lembang 1, 2, Ombilin dan Lawas bertujuan menjaga badan sungai terutama yang terjal/tebing. Luas sempadan sungai yang perlu dikonservasi dengan cara vegetatif dapat dilihat pada Tabel 54. Pola - 80

Tabel 54. Luas Areal Konservasi Sempadan Sungai Sungai Lembang 1, 2, Ombilin dan Lawas
No. Sub Basin 1-5 I-7 I-8 I-10 Nama Sungai Panjang Sungai (Km) 156 717 1.111 391 1265.111 Sempadan Sungai (m) 200 200 200 200 800 Luas (Ha)

Lembang 1 Lembang 2 Ombilin Lawas Total

3120 14340 22,2 7820 25302,2

Tanaman konservasi yang diusulkan adalah tanaman bambo dan rotan, terutama jenis rotan manau. 5.1.2.4 Pola Konservasi Sub Basin Palangki dan Sukam Sub basin Palangki dan Sukam berada pada bagian tengah WS Indragiri, merupakan wilayah penerima pertama dampak pengelolaan wilayah sungai yang kurang baik dibagian hulu, sedangkan dari bagian hilir menerima tekanan konversi lahan untuk HTI, perkebunan sawit dan karet.. Luas areal sempadan sungai yang perlu dikonservasi pada sub basin Palangki dan Sukam disajikan pada Tabel 55. Tabel 55. Sukam
No. Sub Basin I-10 I-11

Luas Areal Konservasi Sempadan Sungai Palangki dan

Nama Sungai

Panjang Sungai (Km) 53 44 97

Lawas Sukam Total

Lebar Sempadan Sungai (m) 200 200 400

Luas (Ha)

1060 880 1940

Luas sempadan sungai yang perlu dikonservasi 1940 Ha, jenis tanaman yang disarankan adalah rotan manau dan bambu, jenis rotan tersebut telah terbukti banyak ditemukan di kelompok hutan Sungai Palangki , habitatnya telah sesuai dan merupakan jenis endemic. Pola umum konservasi pada sub basin ini, dapat dilakukan dengan cara teknis seperti: reboisasi, penghijauan, social forestry, aneka usaha kehutanan, hutan rakyat, agroforestry, pengkayaan tanaman, penghijauan lingkungan.

Pola - 81

Tabel 56
No. 1

Pola konservasi sub basin Palangki dan Sukam
Arahan Lokasi Kawasan hutan Negara : HL, HSAW, HPT, HPK. Tidak dikuasai masyarakat Penutupan lahan terbuka/semak belukar Lokasi jauh Potensi hutan rendah Diluar kawasan hutan Kritis/tidak produktif Ada pemilikan/penguasaan lahan Kawasan hutan negara Ketergantungan masyarakat terhadap kawasan hutan tinggi Penutupan lahan terbuka atau semak belukar Ada kelembagaan formal (misalnya : koperasi, dll) maupun non formal (misalnya : masyarakat adat) Kegiatan didalam dan diluar kawasan hutan negara Ada masyarakat Tersedia tanaman pokok : kayu-kayuan dan mpts Komoditi yang dikembangkan lebih cenderung tanaman semusim Hasil yang diharapkan adalah non kayu Diluar kawasan hutan Negara Lahan kurang produktif Ada kepemilikan/status lahannya jelas Luas minimal 0,4 ha Tanaman kayu-kayuan Diluar kawasan hutan Ada masyarakat/kelembagaan Bisa dilaksanakan tumpangsari Terdapat lebih dari 2 jenis tanaman pokok Didalam kawasan hutan Negara Vegetasi sekundder (log over area) Potensi kawasan menurun/rendah Tanaman yang adalah jenis tanaman komersil Diluar/didalam kawasan hutan Negara Dikawasan pemukiman Run off tinggi

Pola Konservasi Reboisasi

2.

Penghijauan

3.

Social forestry

4.

Aneka usaha kehutanan

5.

Hutan rakyat

6.

Agroforestry

7.

Pengkayaan tanaman

8.

Penghijauan lingkungan

5.1.2.5 Pola Konservasi Sub Basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5 Tingkat erosi sub basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5, termasuk dalam kategori berat, yang disebabkan oleh penutupan vegetasi lahan dalam kondisi yang jarang sampai gundul. Dampak yang berkaitan dengan erosi dapat dikelompokkan menjadi offsite impact dan on-site dampact. On-site impact adalah hilangnya tingkat kesuburan tanah karena hilangnya unsure hara (senyawa yang dibutuhkan tanaman seperti N, S, P, Ca, K, Mg, dll) serta bahan organic, sehingga berdampak pada penurunan tingkat produksi tanaman pertanian dan perkebunan.

Pola - 82

Sedangkan off-site impact adalah pengikisan lapisan tanah yang dicirikan dengan meningkatnya kandungan suspensi (sediment) pada sungai. Akibat yang ditimbulkan adalah penurunan kualitas air minum, berkurangnya ikan di sungai, perubahan pada banjir, dan terganggunya lalu-lintas perahu (akibat pendangkalan sungai). Kondisi sumberdaya lahan di wilayah sub basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5 di beberapa tempat memerlukan perhatian dalam hal pembukaan lahan untuk perkebunan atau kehutanan, penebangan hutan di kiri kanan sungai, dan daerah pemukiman. Areal kanan kiri sungai perlu diperhatikan keberadaan hutannya, mengingat sebagian besar masyarakat di wilayah sub basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5 banyak bermukim di pinggir sungai serta corak mata pencaharian masyarakat pada umumnya tergantung pada alam terutama sungai. Oleh karena itu pengawasan pola usaha tani pelestarian lingkungan perlu mendapat perhatian agar tidak menimbulkan permasalahan dikemudian hari. Pola Konservasi Sempadan Sungai Kuantan 1,2,3,4, dan 5 Tujuan konservasi disepanjang sempadan Sungai Kuantan 1,2,3,4, dan 5 adalah untuk pengendalian daya rusak erosi terhadap sungai. Metode konservasi dengan teknik vegetatif adalah dengan menanami dikiri kanan sungai Kuantan 1,2,3,4,dan 5. Lebar kiri kanan sungai minimal yang dikonservasi 100 m atau total 200 m. Tabel 57 Luas Areal Perlu Dikonservasi Dengan Metode Vegetatif Di kiri Kanan Sungai Kuantan 1,2,3,4 dan 5 No. Sub Basin I-12 I-13 I-14 I-16 I-17 Nama Sungai Kuantan 1 Kuantan 2 Kuantan 3 Kuantan 4 Kuantan 5 Total Panjang Sungai (Km) 59 63 96 65 60 Lebar Kirikanan Sungai (m) 200 200 200 200 200 Luas (Ha)

1180 1260 1920 1300 1200 6760

Jenis tanaman konservasi pada kiri kanan Sungai Kuantan 1,2,3,4 dan 5 yang direkomendasikan secara umum adalah : a) Tanaman yang cocok dengan daerah basah/memerlukan air b) Tanaman yang akarnya kuat/ berfungsi menahan longsor, terutama di tebing-tebing sungai. c) Sifat perakarannya dapat menahan air. Jenis tanaman yang direkomendasikan adalah sebagai berikut.: 1) Tanaman bambu-bambuan 2) Tanaman rotan. 3) Tanaman jelutung Pola - 83

Tabel 58. Pola Konservasi Sub Basin Kuantan 1,2,3,4 dan 5 No Kecamatan Pola Konservasi
Agroforestry, Wanatani/Wanafarma, Grass Barrier/Alley Croping, Teras Perghijauan, Agroforestry, Teras Pergiliran Tanaman, Hutan Rakyat, Tanaman Tahunan, Teras Guludan Pergiliran Tanaman, Wanatani/Wanafarma, Teras Reboisasi, Pengkayaan Tanaman Reboisasi, Pengkayaan Tanaman, Hkm, Teras Agroforestry, Wanatani/Wanafarma, Grass Barrier/Alley Croping, Teras AUK, Hkm Penghijauan, Agroforestry, Teras Pergiliran Tanaman, Hutan Rakyat, Tanaman Tahunan, Teras Guludan Pergiliran Tanaman, Wanatani/Wanafarma, Teras Reboisasi, Pengkayaan Tanaman Reboisasi, Pengkayaan Tanaman, Hkm, Teras Hkm Reboisasi, Pengkayaan Tanaman, Hkm, Teras Agroforestry, Wanatani/Wanafarma, Grass Barrier/Alley Croping, Teras , Hkm Penghijauan, Agroforetry, Teras Pergiliran Tanaman, Hutan Rakyat, Tanaman Tahunan, Teras Guludan Pergiliran Tanaman, Wanatani/Wanafarma, Teras Reboisasi, Pengkayaan Tanaman Reboisasi, Pengkayaan Tanaman, Hkm, Teras Agroforestry, Wanatani/Wanafarma, Grass Barrier/Alley Croping, Teras Penghijauan, Agroforetry, Teras Pengkayaan Tanaman, DAM Penahan Pergiliran Tanaman, Wanatani/Wanafarma, Teras Reboisasi, Pengkayaan Tanaman Penghijauan, Agroforetry, Teras Pergiliran Tanaman, Hutan Rakyat, Tanaman Tahunan, Teras Guludan Penghijauan, Agroforetry, Teras Reboisasi, Pengkayaan Tanaman Agroforestry, Wanatani/Wanafarma, Grass Barrier/Alley Croping, Teras Hutan Rakyat, Agroforestry, DAM Penahan Pergiliran Tanaman, Hutan Rakyat, Tanaman Tahunan, Teras Guludan Penghijauan, Agroforestry, Teras Pergiliran Tanaman, Wanatani/Wanafarma, Teras Reboisasi, Pengkayaan Tanaman Reboisasi, Pengkayaan Tanaman, Hkm, Teras

1

Cerenti

2

Kelayang

3

Keritang

4

Kuantan Hilir

5

Kuantan Tengah Langgam Pangkalan Kuras

6 7

8

Pasir Penyu

Pola - 84

Tabel 58 Lanjutan
No Kecamatan Pola Konservasi
Agroforestry, Wanatani/Wanafarma, Grass Barrier/Alley Croping, Teras , Hkm Hutan Rakyat, Agroforestry, DAM Penahan Penghijauan, Agroforestry, Teras Pergiliran Tanaman, Hutan Rakyat, Tanaman Tahunan, Teras Guludan Pergiliran Tanaman, Wanatani/Wanafarma, Teras Reboisasi, Pengkayaan Tanaman Reboisasi, Pengkayaan Tanaman, Hkm, Teras Agroforestry, Wanatani/Wanafarma, Grass Barrier/Alley Croping, Teras AUK, Hkm Grass Barrier/Alley Cropping, Wanatani/Wanafarma Penghijauan, Agroforestry, Teras Pergiliran Tanaman, HKm, Pengkayaan Tanaman Pergiliran Tanaman, Wanatani/Wanafarma, Teras Reboisasi, Pengkayaan Tanaman Reboisasi, Pengkayaan Tanaman, Hkm, Teras Agroforestry, Wanatani/Wanafarma, Grass Barrier/Alley Croping, Teras Hutan Rakyat, Agroforestry, DAM Penahan Penghijauan, Agroforestry, Teras Pergiliran Tanaman, HKm, Pengkayaan Tanaman Pergiliran Tanaman, Wanatani/Wanafarma, Teras Agroforestry, Wanatani/Wanafarma, Grass Barrier/Alley Croping, Teras Hutan Rakyat, Agroforestry, DAM Penahan Pergiliran Tanaman, Wanatani/Wanafarma, Teras Reboisasi, Pengkayaan Tanaman Agroforestry, Wanatani/Wanafarma, Grass Barrier/Alley Croping, Teras , Hkm Pergiliran Tanaman, Wanatani/Wanafarma, Teras Reboisasi, Pengkayaan Tanaman, Hkm, Teras Reboisasi, Pengkayaan Tanaman Reboisasi, Pengkayaan Tanaman, Hkm, Teras

9

Kuantan ds

10

Rengat

11

Rengat Barat

12 13 14 15

Siberida Tempuling Tempuling Ukui

5.1.3. Pengelolaan kualitas dan pengendalian pencemaran air Dalam rangka pengelolaan kualitas air pada sumber air dan pengendalian pencemaran air , dilakukan melalui : 1) Peningkatan kesadaran masyarakat dan dunia usaha dengan mensosialisasikan secara terus menerus pentingnya pengolahan limbah cair industri dan domestik baik secara individu maupun terpusat sebelum dibuang ke badan air. 2) Pemantauan, penyidikan pelanggaran, dan evaluasi kualitas air. 3) Pengendalian dan pengawasan pembuangan limbah domestik dan industri secara intensif 4) Pengelolaan limbah industri secara terpadu 5) Pengelolaan sampah domestik secara terpadu 6) Pengelolaan limbah cair domestik secara terpadu. 7) Audit lingkungan

Pola - 85

5.2 Pendayagunaan Sumber Daya Air WS Indragiri Pendayagunaan sumber daya air meliputi upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan dan pengusahaan sumber daya air secara optimal, agar berhasil guna dan berdaya guna. Dalam rangka meningkatkan transparasi dan akuntabilitas pengelolaan sumber air perlu ditetapkan ”Zona pemanfaatan sumber air” sebagai suatu unit terkecil di dalam pengelolaan sumber air. Penetapan Zona pemanfaatan sumber air di koordinasikan melalui wadah koordinasi sumber air (PPTPA) pada wilayah sungai Indragiri. Penetapan rencana Zona pemanfaatan sumber air merupakan bagian dari proses penyusunan pola pengelolaan SDA. Arahan Strategis Pola Pengelolaan Sumber Daya air pada aspek Pendayagunaan SDA di WS Indragiri adalah sebagai berikut : 1) Mendayagunakan fungsi atau potensi yang terdapat pada sumber air secara berkelanjutan. 2) Mengupayakan penyediaan air untuk berbagai kepentingan secara proporsional dan berkelanjutan. 3) Mengupayakan penataan sumber air secara layak. 4) Memanfaatkan sumber daya air dan prasarananya sebagai media/materi sesuai prinsip penghematan penggunaan, ketertiban dan keadilan, ketepatan penggunaan, keberlanjutan penggunaan, dan saling menunjang antara sumber air dengan memprioritaskan penggunaan air permukaan. 5) Meningkatkan kemanfaatan fungsi sumber daya air, dan atau peningkatan ketersediaan dan kualitas air. 6) Meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air dengan prinsip meningkatkan efisiensi alokasi dan distribusi kemanfaatan sumber air. 5.2.1 Penatagunaan Sumber Daya Air Penatagunaan sumber daya air dilakukan melalui : 1) Penetapan zona pemanfaatan air. 2) Perlindungan sumber air, danau, dan mata air dalam rangka penyediaan air baku untuk keperluan air bersih. 3) pengelolaan sungai, danau, waduk, mata air dan sumber daya air 5.2.2 Penyediaan Sumber Daya Air Penyediaan sumber daya air dilakukan melalui : 1) Penyediaan air baku untuk keperluan rumah tangga perkotaan dan industri bagi kabupaten dan kota di wilayah sungai Indragiri dengan penekanan bahwa untuk Kota Sawahlunto perlu diambil

Pola - 86

dari lokasi setelah pertemuan sungai Lawas, Palangki dan Sukam 2) Penyediaan air irigasi di DI. Singkarak dilakukan dengan peningkatan operasi Danau Singkarak 5.2.3 Penggunaan Sumber Daya Air Dengan keterbatasan air baku di wilayah hulu sungai, perlu dilakukan optimasi penggunaan air yang ada, yaitu dengan alokasi air secara real time 5.2.4 Pengembangan Sumber Daya Air Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi Pengembangan angkutan sungai dalam wilayah provinsi. Pengembangan rawa pasang surut, sampai dengan 200 ribu hektar Pengembangan daerah irigasi Lubukjambi, seluas 50 ribu hektar Pengembangan kelistrikan tenaga air. Pengembangan dan pengelolaan daerah rawa 5.2.5 Pengusahaan Sumber Daya Air Bila kondisi memungkinkan , dapat dilakukan pengusahaan air melalui fasilitas pengusahaan air yang berlebih, antara lain untuk PLTA, Industri, dan lainnya. 5.3. Pengendalian Banjir dan Daya Rusak Air Pengendalian Daya Rusak Air adalah upaya untuk mencegah, menanggulangi dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh daya rusak air. Daya rusak air dapat berupa banjir, kekeringan, erosi dan sedimentasi, longsoran tanah, banjir lahar dingin,amblesan tanah, perubahan sifat dan kandungan kimiawi, biologi dan fisika air, terancamnya kepunahan jenis tumbuhan dan/atau satwa, dan/atau wabah penyakit. Daya rusak air telah banyak menimbulkan kerugian baik yang terhitung maupun yang tidak terhitung, dan berdampak terhadap kondisi sosialekonomi masyarakat terutama terganggunya aktifitas masyarakat dalam menjalankan kehidupannya. 5.3.1. Pengendalian Banjir Arahan strategis/skenario sebagai berikut : pengendalian banjir sungai Indragiri adalah

Pola - 87

1). Pada segmen sungai Sinamar Atas, sungai Lampasi dan sungai Agam upaya yang perlu dilakukan adalah pembuatan tanggul dan peningkatan kapasitas saluran / sungai. Hal ini sesuai dengan temuan hasil analisis bahwa tidak terdapat limpasan/banjir pada segmen sungai Sinamar atas, sungai Lampasi maupun sungai Agam, sebagaimana terlihat pada pada Gambar 25

Gambar 25

Overland Flow Skenario (Q 50Th) Indragiri Hulu 1

2). Pada segmen sungai Sinamar Bawah, S. Palangki S. Ombilin dan S. Sijunjung/Sukam, pada tahap pengendalian banjir jangka pendek perlu dilakukan upaya struktural, yaitu peningkatan kapasitas saluran sungai dan pembuatan tanggul sungai untuk pengamanan banjir dengan kala ulang Q10th pada lokasi Sinamar (S. Sinamar, S. Agam dan S. Lampasi) dan lokasi Sijunjung, sebagaimana terlihat pada Gambar 26.

Pola - 88

Gambar 26. Overland Flow Skenario (Q 50Th) Indragiri Hulu 2 3). Pada segmen sungai S. Kuantan yang bermuara di S. Indragiri , pada tahap pengendalian banjir jangka pendek, perlu dilakukan upaya struktural, yaitu peningkatan kapasitas saluran dan pembuatan tanggul untuk banjir dengan kala ulang Q5th, juga diharuskan upaya normalisasi sungai pada ruas-ruas yang terjadi meander. Banjir pada segmen sungai bagian hilir (pertemuan antara sungai Kuantan dengan sungai Indragiri) tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, namun akan sangat jauh berkurang, hal ini dapat dilihat pada Gambar 27

Pola - 89

Gambar 27 Overland Flow Skenario (Q 50Th) Indragiri Hilir 1 4). Pada segmen sungai Perenap dan sungai Cenako yang bermuara di sungai Indragiri, upaya yang perlu dilakukan adalah - Pembuatan Flood Way untuk mengalihkan debit sebesar 500 m3/dt ke S. Gaung dan S. Guntung. - Pembuatan Retarding Basin di Perenap Banjir pada segmen sungai bagian hilir (pertemuan sungai Perenap , sungai Cenako dengan sungai Indragiri) sebagaimana terlihat pada Gambar 28 tidak dapat dihilangkan sepenuhnya dikarenakan tebing sungai yang rendah dan kemiringan sungai yang sangat landai.

Pola - 90

Gambar 28 Overland Flow Skenario (Q 50Th) Indragiri Hilir 2 5). Selain upaya struktural yang diuraikan pada butir 1) sampai dengan 4) di atas , masih ada upaya lain yang perlu dilakukan dalam pengendalian banjir yaitu upaya non struktural, yang meliputi aspekaspek konservasi dalam menjaga kelestarian dan pengurangan daya rusak sungai terhadap sistem tata air secara keseluruhan. Upaya non struktural ini diharapkan dilakukan secara menerus dan berkesinambungan. 5.3.2. Pengendalian Daya Rusak Air Pemerintah dan masyarakat perlu melakukan upaya-upaya peningkatan sistem pencegahan dan penanggulangan bencana , pemulihan fungsi sarana dan prasarana berkaitan dengan daya rusak air , baik yang bersifat upaya pencegahan sebelum terjadi bencana, upaya penanggulangan pada saat terjadi bencana maupun upaya pemulihan akibat bencana. Arahan strategis Pengendalian Daya Rusak Air di wilayah sungai Indragiri adalah : 1. Mengupayakan keberlangsungan aktifitas masyarakat dan terlindungnya sarana dan prasarana pendukung aktifitas masyarakat. 2. Mengupayakan sistem pencegahan bencana akibat daya rusak air. 3. Meningkatkan sistem penanggulangan bencana Pola - 91

4. Memulihkan fungsi sarana dan prasarana guna pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari. 5. Meningkatkan peran masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan daya rusak air. 6. Menghijaukan dan memelihara tebing-tebing sungai 7. Menanggulangi daya rusak air dengan membuat konstruksi penahan longsoran tanah dan perlindungan tebing sungai. 8. Melakukan pengembangan dan pembangunan waduk dan bendung 9. Membuat kolam/rawa retensi banjir 10. Melakukan normalisasi dan pelurusan sungai 11. Melakukan pengerukan sedimen sungai 12. Melakukan rehabilitasi sarana dan prasarana pengairan 5.4 Peran Serta Masyarakat Untuk terselenggaranya tata pengaturan air yang baik di wilayah sungai Indragiri perlu diupayakan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam menjaga serta memelihara keberlangsungan lingkungan hidupnya mulai dari lingkungan terkecil yaitu tempat tinggal keluarga, RT/RW, desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota sampai ke lingkungan yang lebih besar yaitu kawasan daerah aliran sungai. Tingkat kesadaran masyarakat dan etika/moral dalam memperlakukan lingkungan hidup perlu dibangun secara terus menerus dan melembaga sampai pada tingkat wilayah sungai. Keanekaragaman dinamika masyarakat di wilayah sungai Indragiri perlu dijadikan sebagai potensi kekuatan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi. Setiap tahapan dalam proses pembangunan perlu melibatkan masyarakat dan mereka mendapat kesempatan untuk mengutarakan kepentingan dan kebutuhannya yang berkaitan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air di wilayah sungai Indragiri. Arahan strategis dalam rangka peningkatan peran serta adalah : masyarakat

1) Membentuk dan menfungsikan peran Dewan SDA Provinsi/Kab/Kota dan Dewan SDA Wilayah Sungai Indragiri. 2) Pemberdayaan dan peningkatan ekonomi masyarakat sekitar hutan, sempadan sungai, waduk dan mata air 3) Peningkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan kehutanan, perkebunan, HTI, dan IUPHH. 4) Peningkatan peran serta masyarakat dalam menjaga dan memelihara kelestarian sumber daya air dan lingkungan hidup 5) Penegakan hukum dalam pengelolaan kualitas sumber daya air dan lingkungan hidup

Pola - 92

5.5 Sistem Informasi Sumber Daya Air Untuk mendukung pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai Indragiri, Pemerintah dan Pemerintah daerah menyelengarakan pengelolaan sistem informasi sumber daya air sesuai dengan kewenangannya. Informasi sumber daya air meliputi informasi mengenai kondisi hidrologis, hidrometeorologis, kebijakan sumber daya air, prasarana sumber daya air, tehnologi sumber daya air, lingkungan pada sumber daya air dan sekitarnya, serta kegiatan sosial ekonomi budaya masyarakat yang terkait dengan sumber daya air. Arahan strategis dalam pengelolaan sistem informasi sumber daya air adalah : 1) Pengelolaan sistem informasi sumber daya air harus dapat mengakses informasi yang berkaitan dengan sumber daya air yang tersebar dan dikelola oleh berbagai instansi 2) Sistem informasi sumber daya air memelihara dan mengupdating data dan informasi hidrologi, hidrometeorologi, kebijakan sumber daya air, sarana dan prasarana sumber daya air, teknologi sumber daya air, kualitas lingkungan sumber air dan sekitarnya serta data dan informasi sosial ekonomi dan budaya masyarakat yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air. 3) Pengelolaan sistem informasi sumber daya air khususnya data dan informasi hidrologi wilayah sungai perlu diinformasikan secara berkala ke tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota.

Pola - 93

BAB VI STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI INDRAGIRI

Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air WS Indragiri disusun berdasarkan 3 (tiga) kerangka waktu, yaitu Strategi Jangka Pendek, Jangka Menengah dan Jangka Panjang. Strategi jangka Pendek merupakan strategi yang dilaksanakan pada tahun pertama setelah Pola Pengelolaan Sumber Daya Air ini ditetapkan sampai tahun kelima . Strategi Jangka Menengah merupakan strategi yang dilaksanakan dengan rentang waktu 15 tahun kedepan. Strategi Jangka Panjang merupakan strategi yang dilaksanakan dengan rentang waktu 25 tahun kedepan Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Indragiri meliputi berbagai rangkaian program dan kegiatan yang disusun berdasarkan kebutuhan dan kondisi nyata di lapangan, disajikan dalam bentuk matriks sebagaimana Tabel 59.

Pola - 94

Tabel 59.

Rencana Program Pengelolaan Sumber Daya Air
Rencana Program Pengelolaan SDA

Pilar

Sub Pilar

No. urut
1

Program
Pembangunan hutan rak yat dengan jenis tanaman kayu-kayuan produktif pada lahan kritis Pemanfaatan lahan tidur dan terlantar dise panjang wilayah sungai sebagai lahan produktif Peningkatan insentif dan disinsentif antara hulu dan hilir dalam pengelolaan SDA

Provinsi Riau Sumbar Riau Sumbar

Jangka Pendek

Jangka Menengah

Jangka Panjang

KETERANGAN Sub basin Kuantan 4 100ha, Kuantan 5 seluas 49,ha, dan Peranap 126 ha Terutama dengan ta naman MPTS (serba guna) atau ada hasil bagi masyarakat desa Hasil pendapatan pengusaha di bagian hilir WS dialokasikan untuk dana konservasi WS bagian Hulu (Sumbar)

2006 - 2010 KONSER VASI
Perlin dungan dan Peles tarian Sumber Air Kec Rengat Barat _

2011 - 2020
Kec, Cerenti, Kec Peranap , Kec. Cenako Inhu _

2021 -2030
_

2

Kab. Inhu Kab Solok, Payakumbuh dan Kab. Sawahlunto, Kab.Indragiri Hulu, Kab.Indragiri Hilir Kab. Solok, Payakumbuh dan Kab. Sawahlunto Sijun jung, Kab 50 Kota, Kab. Agam, Kab. Tanah Datar, Kuantan Singingi Sawahlunto, Bukittinggi

Kab. Inhil Kota Solok, Kota Bukittinggi

Kab Kuantan Singingi Kab. 50 Kota

3

Riau Sumbar

Kab.Indragiri Hulu, Kab.Indragiri Hilir Kab. Solok, Payakumbuh dan Kab. Sawahlunto Sijunjung, Kab 50 Kota, Kab. Agam, Kab. Tanah Datar, Rengat Solok

Kab.Indragiri Hulu, Kab.Indragiri Hilir Kab. Solok, Payakumbuh dan Kab. Sawahlunto Sijunjung, Kab 50 Kota, Kab. Agam, Kab. Tanah Datar, Tembilahan Payakumbuh

4

Penataan bangunan dan lingkungan pada kawasan sepanjang sungai yang pertumbuhannya cepat

Riau Sumbar

Pola - 95

Rencana Program Pengelolaan SDA Pilar Sub Pilar No. urut Program Provinsi
Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang KETERANGAN

2006 - 2010 5 KONSER VASI Perlin dungan dan Peles tarian Sumber Air
Menetapkan kawasan di wilayah sungai yang perlu dikonservasikan dan dipelihara kelestariannya Reboisasi dan perlindungan hutan

2011 - 2020

2021 -2030
Lokasi sepanjang sempatan sungai WS Indragiri di 19 Subbasin

Riau Sumbar

Sub Basin I-12s/d I-19 Sub Basin I-1 s/d I-11

6

Riau Sumbar

Kec.Sapat Inhil, Kec.Kemuning Inhil Kab.Lima puluh Kota

Kec. Peranap Inhu Sawahlunto Sijunjung, Solok

Kec. Kuantan Mudik Kab. Agam

Pada kawasan hutan negara Konservasi hutan sekitar danau Singkarak Pada lahan semak belukar di luar maupun kawasan hutan

7

Penghijauan lahan kritis dan penutupan lahan terbuka /semak belukar

Riau Sumbar

Kec. Kuantan Tengah Kab. Tanah Datar, Kota Solok

Kec.Cerenti Kota Payakumbuh, Kota Padang Panjang

Kecamatan Peranap Kota Sawahlunto

8

Pengendalian dan pengawasan perlindungan sempadan sungai, danau ,sempadan sungai, waduk dan mata air

Riau Sumbar

Lawas, Sukam, Kuantan I, Kuantan 2 dan mata air di Kuantan Singingi Danau Singkarak, Danau Diatas, Danau dibawah

Kuantan 3, Peranap, Kuantan 4, Kuantan 5, Cenako, Indragiri Sinamar 1, Agam, Sinamar 2, Sinamar 3, Lembang 1,

Kuantan 3, Peranap, Kuantan 4, Kuantan 5, Cenako, Indragiri, Sunami, Lembang 2, Umbilin, Palangki

Pelarangan penebangan pohon sesuai UU no 41 tahun 1999

Pola - 96

Rencana Program Pengelolaan SDA Pilar Sub Pilar No. urut Program Provinsi
Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang KETERANGAN

2006 - 2010 5 KONSER VASI Perlin dungan dan Pelestarian Sumber Air 6
Menetapkan kawasan di wilayah sungai yang perlu dikonservasikan dan dipelihara kelestariannya Reboisasi dan perlindungan hutan

2011 - 2020

2021 -2030
Lokasi sepanjang sempatan sungai WS Indragiri di 19 Sub-basin

Riau Sumbar

Sub Basin I-12s/d I-19 Sub Basin I-1 s/d I-11

Riau Sumbar

Kec.Sapat Inhil, Kec.Kemuning Inhil Kab.Lima puluh Kota

Kec. Peranap Inhu Sawahlunto Sijunjung, Solok

Kec. Kuantan Mudik Kab. Agam

Pada kawasan hutan negara Konservasi hutan sekitar danau Singkarak Pada lahan semak belukar di luar maupun kawasan hutan Pelarangan penebangan pohon sesuai UU no 41 tahun 1999

7

Penghijauan lahan kritis dan penutupan lahan terbuka /semak belukar

Riau Sumbar

Kec. Kuantan Tengah Kab. Tanah Datar, Kota Solok Lawas, Sukam, Kuantan I, Kuantan 2 dan mata air di Kuantan Singingi Danau Singkarak, Danau Diatas, Danau dibawah

Kec.Cerenti Kota Payakumbuh, Kota Padang Panjang Kuantan 3, Peranap, Kuantan 4, Kuantan 5, Cenako, Indragiri Sinamar 1, Agam, Sinamar 2, Sinamar 3, Lembang 1,

Kecamatan Peranap Kota Sawahlunto

8

Pengendalian dan pengawasan perlindungan sempadan sungai, danau ,sempadan sungai, waduk dan mata air

Riau Sumbar

Kuantan 3, Peranap, Kuantan 4, Kuantan 5, Cenako, Indragiri, Sunami, Lembang 2, Umbilin, Palangki

Pola - 97

Rencana Program Pengelolaan SDA Pilar Sub Pilar No. urut Program Provinsi
Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang KETERANGAN

2006 - 2010 KONSER VASI Perlin dungan dan Peles tarian Sumber Air 9
Pengayaan/penanaman lahan rawa dengan mangrove /bakau Tidak memberi ijin usaha HTI,IUPHH,Perkebunan dan industri di hulu sungai, sub basin atau sub DAS Reklamasi lahan pertambangan

2011 - 2020

2021 -2030
Seluas 93,44 Ha

Riau Sumbar Riau Sumbar

Sub Basin Indragiri
-

10

Kec.Sapat Inhil, Kec.Kemuning Inhil Kab.Lima puluh Kota

Kec. Peranap Inhu Sawahlunto Sijunjung, Solok

Kec. Kuantan Mudik Kab. Agam

Terutama di kawasan yang diprediksi dapat dibangun Bendu ngan Kuantan ( Lubuk Jambi Lubuk Ambacang)

11

Riau Sumbar

Kec.Rakit Ulin, Kec. Siberida, Kec. Batang Gansal Lima Puluh Kota,

Kec. Gunung Tohar Kab. Kuantan, Kec. Singingi Hilir Sawahlunto,

12

Rehabilitasi lahan gambut

Riau Sumbar

Kuantan V Indragiri Hulu, Kec. Cenako

Kab.Kuantan Singingi Kab.Sawah Lunto Sijunjung

Sub Basin Kuan tan 5 = 20.67 Ha , dan Sub basin Cenako=89,555 Ha

13

Sinkronisasi RTRW di wilayah perbatasan antar provinsi, kabupaten dan kota

Riau Sumbar

Pola - 98

Rencana Program Pengelolaan SDA Pilar KONSER VASI Sub Pilar Perlin dungan dan Peles tarian Sumber Air No. urut 14 Program
Mensikronkan imple men tasi UU,PP,KPTS Menteri Perda, SK Gub , SK Bupati, dalam pem berian ijin HTI, Per kebunan, IUP HH, Pertamba ngan dan Konservasi lahan Penyusunan nota kesepahaman dalam pengelolaan SDA wilayah sungai dan forum koordinasi Kali bersih/ pengola han limbah industri dan domestik secara individu atau terpusat Pengelolaan sam pah domestik secara terpadu

Provins i Riau Sumbar

Jangka Pendek

Jangka Menengah

Jangka Panjang

KETERANGAN Secara terus menerus Secara terus menerus

2006 - 2010
Ya Ya

2011 - 2020
Ya Ya

2021 -2030
Ya Ya

15

Riau Sumbar

WS Indragiri bagian hilir WS Indragiri bagian hulu

Dalam rangka pem berian per iji nan usa ha yang berkai tan dengan pelesta rian dan pengelolaan WS Kec. Reteh, Tanah Merah Tanah Datar, Lima Puluh Kota Baserah, Peranap, Rengat, Tembilahan (tahap pembangunan fisik, O&M ) Payakumbuh, Sawahlunto, Muara Sijunjung, Solok, Bukittinggi, Pintubatu (tahap pembangunan fisik, operasi dan pemeliharaan) _ _

KONSER VASI

Penge lolaan kuali tas dan pengendali an pencema ran

1

Riau Sumbar

Kec. Rengat, Tembilahan Sawahlunto,Agam, Payakumbuh Baserah, Peranap, Rengat, Tembilahan (tahap Studi dan Penyusunan DED) Payakumbuh, Sawahlunto, Muara Sijunjung, Solok, Bukittinggi , Pintubatu( tahap Studi dan Penyusunan DED)

2

Riau Sumbar

Baserah, Peranap, Rengat, Tembilahan ( tahap operasi dan pemeliharaan ) Payakumbuh, Sawahlunto, Muara Sijunjung, Solok, Bukittinggi , Pintubatu ( tahap operasi dan pemeliharaan)

Kawasan perkotaan yang cepat tumbuh Kawasan perkotaan yang cepat tumbuh

Pola - 99

Rencana Program Pengelolaan SDA Pilar KONSER VASI Sub Pilar Penge lolaan kuali tas dan pengendalia n pencema ran No. urut 3 Program
Pengelolaan limbah industri secara terpadu

Provinsi Riau

Jangka Pendek

Jangka Menengah

Jangka Panjang

KETERANGAN Swasta

2006 - 2010
Kabupaten Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir (tahap Studi dan Penyusunan DED) Kawasan Andalan di hulu WS Indragiri

2011 - 2020
Kabupaten Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir (tahap pembangunan fisik, operasi dan pemeliharaan) Kawasan Andalan di hulu WS Indragiri

2021 -2030
Kabupaten Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir ( tahap operasi dan pemeliharaan ) Kawasan Andalan di hulu WS Indragiri

Sumbar

Swasta

4

Pengelolaan limbah cair domestik secara terpadu

Riau

Baserah, Peranap, Rengat, Tembilahan (tahap Studi dan Penyusunan DED) Payakumbuh, Sawahlunto, Muara Sijunjung, Solok, Bukittinggi , Pintubatu( tahap Studi dan Penyusunan DED)

Baserah, Peranap, Rengat, Tembilahan (tahap pembangunan fisik, operasi dan pemeliharaan) Payakumbuh, Sawahlunto, Muara Sijunjung, Solok, Bukittinggi, Pintubatu (tahap pembangunan fisik, operasi dan pemeliharaan)

Baserah, Peranap, Rengat, Tembilahan ( tahap operasi dan pemeliharaan ) Payakumbuh, Sawahlunto, Muara Sijunjung, Solok, Bukittinggi , Pintubatu ( tahap operasi dan pemeliharaan)

Kawasan perkotaan yang cepat tumbuh Kawasan perkotaan yang cepat tumbuh

Sumbar

Pola - 100

Rencana Program Pengelolaan SDA Pilar KONSER VASI Sub Pilar Penge lolaan kuali tas dan pengen dalian pence maran No. urut 5 Program
Pengendalian dan pengawasan pembuangan limbah domestik dan industri limbah domestik dan industri Audit lingkungan

Provinsi Riau Sumbar

Jangka Pendek

Jangka Menengah

Jangka Panjang

KETERANGAN

2006 - 2010
WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

2011 - 2020
WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

2021 -2030
WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu Monitoring dan evaluasi secara terus menerus secara periodik (kuarta lan),

6

Riau Sumbar

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

Kajian dan evaluasi daya dukung lingkungan setiap 2 tahun

Penge lolaan kuali tas dan pengen dalian pencema ran

7

Pemantauan, penyelidikan, pelanggaran, dan evaluasi kualitas air

Riau Sumbar

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

8

Sosialisasi dan pemberdayaan masyarakat sepanjang bantaran sungai

Riau Sumbar

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

Pola - 101

Rencana Program Pengelolaan SDA Pilar PENDA YAGUNAAN Sub Pilar Penata gunaan No. urut 1 Program Provinsi
Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang KETERANGAN

2006 - 2010
Perlindungan sumber air, Riau danau, dan mata air dalam rangka penyediaan air Sumbar baku untuk keperluan air bersih. Pengelolaan sungai, danau, waduk, mata air dan sumber daya air. Sumber mata air di Kuantan Singingi Dn Singkarak, Dn Diatas

2011 - 2020
Sumber mata air di Kuantan Singingi Dn Singkarak, Dn Diatas

2021 -2030
Sumber mata air di Kuantan Singingi Dn Singkarak, Dn Diatas pemeliharaan dalam jangka menengah dan panjang

2

Riau Sumbar

WS Indragiri bag. tengah dan hilir, sumber mata air di Kab.Kuantan Singingi WS Indragiri bag. hulu, Dn Singkarak, Dn Diatas

WS Indragiri bag. tengah dan hilir, sumber mata air di Kab.Kuantan Singingi WS Indragiri bag. hulu, Dn Singkarak, Dn Diatas

WS Indragiri bag. tengah dan hilir, sumber mata air di Kab.Kuantan Singingi WS Indragiri bag. hulu, Dn. Singkarak, Dn Diatas

pemeliharaan dalam jangka menengah dan panjang

3

Penetapan zona pemanfaatan air.

Riau Sumbar

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu, Danau Singkarak, Danau Diatas

Pola - 102

Pilar PENDA YAGU NAAN

Sub Pilar Penye diaan

No. urut 1

Rencana Program Pengelolaan SDA Program
Penyediaan air baku untuk keperluan rumah tangga perkotaan dan in dustri bagi kabupaten dan kota di wilayah sungai Indragiri dengan penekanan bah wa untuk Kota Sawahlunto perlu diambil dari lokasi setelah pertemuan sungai Lawas, Palangki dan Sukam Penyediaan air irigasi di DI. Singkarak, dengan pening katan operasi Danau Singkarak Optimasi penggunaan air yang ada, yaitu dengan alokasi air secara real time

Provinsi Riau Sumbar

Jangka Pendek

Jangka Menengah

Jangka Panjang

KETERANGAN

2006 - 2010
Baserah, Rengat, Tembilahan Kota Sawahlunto, Studi/FS, DED

2011 - 2020
Kota Sawahlunto, pem bangunan sistem/ p erpipaan air baku /air bersih dan WTP

2021 -2030
Pengoperasian instalasi WTP , sistem perpipaan dan pemeliharaan

2

Riau Sumbar
DI Singkarak, Kab. Solok

Pengguna an

1

Riau Sumbar
Danau Singkarak, Kab. Solok

Pola - 103

Rencana Program Pengelolaan SDA Pilar Sub Pilar No. urut 1 Program Provinsi
Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang KETERANGAN

2006 - 2010 PENDA YAGU NAAN Pengem bangan
Pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi

2011 - 2020
Terlampir Batang Sinamar Kab. Tanah Datar, Dataran Kandis Solok, Sawahlunto Sijunjung Lubuk Jambi/Lubuk Ambacang Kab. Kuantan Singingi, Tahapan Studi/FS dan penyusunan DED, pembebasan tanah Dukungan penyiapan lahan dan pembebasan tanah

2021 -2030
Terlampir Batang Sinamar Kab. Tanah Datar, Dataran Kandis Solok, Sawahlunto Sijunjung Lubuk Jambi/Lubuk Ambacang Kab. Kuantan Singingi, Tahapan Pembangunan Fisik, Operasi dan Pemeliharaan MoU antara Pemerintah Prov Riau dan Sumbar Batang Sinamar 3000 Ha, Dataran Kandis 2380 Ha, Sawahlunto Sijunjung 18600 Ha, Daerah genangan wa duk di Prov. Sumatra Barat seluas 91,5 km2, dengan daya tampung 1.570 juta m3 Dukungan penyiapan lahan dan pembebasan tanah

Riau
Sumbar

Terlampir Batang Sinamar Kab. Tanah Datar, Dataran Kandis, Solok, Sawahlunto Sijunjung

2

Pengembangan kelistrikan tenaga air.

Riau

Sumbar

3

Pengembangan rawa pasang surut, sampai dengan 200 ribu hektar

Riau Sumbar

Kec. Kuala Indragiri, Kec. Tanah Merah, Kec. Pelangiran -

Pola - 104

Rencana Program Pengelolaan SDA Pilar Sub Pilar No. urut 4 Program Provinsi
Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang KETERANGAN

2006 - 2010 PENDA YAGU NAAN Pengem bangan
Pengembangan angkutan sungai dalam wilayah provinsi.

2011 - 2020

2021 -2030

Riau Sumbar

Kab Indagiri Hulu dan Kabupaten Indragiri Hilir

Kec. Kuala Cenako, Kec. Tempuling, Kec. Reteh

5

Pengembangan dan pengelolaan daerah rawa

Riau Sumbar

Lubuk Jambi Kab.Kuantan Singingi

6

Pengembangan daerah irigasi Lubukjambi, seluas 50 ribu hektar

Riau Sumbar

Pola - 105

Rencana Program Pengelolaan SDA Pilar Sub Pilar No. urut Program Provinsi
Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang KETERANGAN

2006 - 2010 Pengusa haan.
1 Fasilitasi pengusahaan air yang berlebih, antara lain untuk PLTA, Industri, dan lainnya

2011 - 2020

2021 -2030

Riau Sumbar

x

x

x

PENGEN DALIAN DAYA RUSAK AIR

Pence gahan

1

Penghijauan & Pemeliharaan tebing sungai

Riau Sumbar

Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Kuantan Singingi Kabupaten 50 Kota, Agam, Sawahlunto Sijunjung

Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Kuantan Singingi Kabupaten 50 Kota, Agam, Sawahlunto Sijunjung

Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Kuantan Singingi Kabupaten 50 Kota, Agam, Sawahlunto Sijunjung

Secara terus menerus

Secara terus menerus

2

Pengembangan dan pembangunan waduk dan bendung

Riau Sumbar

FS dan Studi Dam Kuantan FS dan Studi Dam Sukam dan Sinamar

Kuantan Sukam, Sinamar

Luas DAS 360 km2 Luas DAS Sinamar 1580 km2, DAS Sukam 7453 km2

Pola - 106

Rencana Program Pengelolaan SDA Pilar Sub Pilar No. urut Program Provinsi
Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang KETERANGAN

2006 - 2010 PENGEN DALIAN DAYA RUSAK AIR Pence gahan 3
Program pengelolaan waduk dan bendung

2011 - 2020

2021 -2030
Kuantan Sukam, Sinamar Operasi dan pemeliharaan

Riau Sumbar

Penanggul a ngan

1

Perlindungan tebing sungai.

Riau Sumbar

Rengat, PeranapJayapura Payakumbuh, Solok, Sijunjung

Lubuk Jambi- Peranap

Kuala CenakoTembilahan

2

Pembangunan kolam/rawa retensi banjir

Riau Sumbar

Rengat Kabupaten Indragiri Hulu

3

Pelurusan sungai

Riau Sumbar

Rengat, PeranapJayapura Payakumbuh, Solok, Sijunjung

Lubuk Jambi- Peranap

Pola - 107

Rencana Program Pengelolaan SDA Pilar Sub Pilar No. urut 1 Program Provinsi
Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang

KETERANGAN

2006 - 2010 PENGEN DALIAN DAYA RUSAK AIR Pemu lihan
Pengerukan sedimen sungai

2011 - 2020
Peranap- Kuala Cenako Tembilahan

2021 -2030
Peranap- Kuala Cenako Tembilahan

Riau Sumbar

Peranap- Kuala Cenako Tembilahan

-

-PM PM

-

2

Rehabilitasi InstalasiPengolahan Air Limbah (IPAL)

Riau Sumbar

3

Normalisasi sungai

Riau Sumbar

Lubuk Jambi-Peranap, Peranap -Japura, Rengat Payakumbuh, Solok, Sijunjung

4

Rehabilitasi konstruksi tebing sungai

Riau Sumbar

Lubuk Jambi-Peranap, Peranap -Japura, Rengat Payakumbuh, Solok, Sijunjung

Lubuk Jambi-Peranap, Peranap -Japura, Rengat Payakumbuh, Solok, Sijunjung

Lubuk Jambi-Peranap, Peranap -Japura, Rengat Payakumbuh, Solok, Sijunjung

Sesuai dengan kondisi kerusakan dan kebutuhan

Pola - 108

Pilar PENGEN DALIAN DAYA RUSAK AIR PERAN SERTA MASYA RAKAT

Sub Pilar Pemulihan

No. urut 5

Rencana Program Pengelolaan SDA Program
Rehabilitasi bangunan waduk, bendung

Provinsi Riau Sumbar

Jangka Pendek

Jangka Menengah

Jangka Panjang

KETERANGAN

2006 - 2010

2011 - 2020

2021 -2030

Singkarak

Singkarak

Singkarak Pemeliharaan rutin

1

Peningkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan kehutanan, perkebunan,HTI, dan IUPHH Pemberdayaan dan Peningkatan ekonomi masyarakat sekitar hutan masyarakat sekitar hutan,sempadan sungai, waduk,mata air

Riau Sumbar

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

2

Riau Sumbar

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

Pola - 109

Pilar PENGEN DALIAN DAYA RUSAK AIR

Sub Pilar Pemulihan

No. urut 3

Rencana Program Pengelolaan SDA Program
Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Pengelola SDA WS yang secara struktural di bawah Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (atau dengan nama lain) yang bertanggungjawab dalam pengelolaan SDA WS yang bersangkutan Pembentukan Dewan SDA Provinsi/kab./ kota dan Dewan SDA wilayah sungai (untuk sungai lintas provinsi)

Provinsi Riau

Jangka Pendek

Jangka Menengah

Jangka Panjang

KETERANGAN

2006 - 2010
UPT PSDA Dinas KIMPRASWIL Provinsi Riau berkedudukan di Inhu atau Inhil atau Kuansing

2011 - 2020

2021 -2030

Sumbar

-

4 PERAN SERTA MASYA RAKAT

Riau Sumbar

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

Pola - 110

Rencana Program Pengelolaan SDA Pilar Sub Pilar No. urut 5 PERAN SERTA MASYA RAKAT 6 Program
Peningkatan kemampuan sumber daya manusia aparat dinas teknis yang bertanggungjawab dalam pengelolaan SDA dan kehutanan Peningkatan peran serta masyarakat dalam dalam pengelolaan lingkungan hidup (LH)

Provinsi Riau Sumbar

Jangka Pendek

Jangka Menengah

Jangka Panjang

KETERANGAN

2006 - 2010
WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

2011 - 2020
WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

2021 -2030
WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

Riau Sumbar

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

7

Penataan hukum dan kelembagaan dalam pengelolaan SDA dan LH

Riau Sumbar

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

Pola - 111

Rencana Program Pengelolaan SDA Pilar Sub Pilar No. urut
1

Program
Pembangunan system informasi SDA

Provinsi

Jangka Pendek 2006 - 2010
WS Indragiri bagian tengah dan hilir WS Indragiri bagian hulu

Jangka Menengah 2011 - 2020

Jangka Panjang 2021 -2030

KETERANGAN

Riau Sumbar

SISTEM INFOR MASI
2

Pengelolaan System informasi SDA

Riau Sumbar

WS Indragiri tengah dan hilir WS Indragiri hulu

WS Indragiri tengah dan hilir WS Indragiri hulu

WS Indragiri tengah dan hilir WS Indragiri hulu

3

Menyebarluaskan informasi ke seluruh stakeholder (fungsi, tugas pokok dan tang gungjawab BPDAS), serta melibatkan BPDAS dalam proses perijinan usaha yang terkait dengan pemanfaatan lahan di DAS yang berdampak pada pelestarian hutan

Riau Sumbar

WS Indragiri tengah dan hilir WS Indragiri hulu

WS Indragiri tengah dan hilir WS Indragiri hulu

WS Indragiri tengah dan hilir WS Indragiri hulu

Pola - 112

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->