Anda di halaman 1dari 108

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. INDONESIA POWER UNIT BISNIS PEMBANGKITAN SURALAYA 5 MARET 2008 – 26 MARET 2008

SISTEM PENGUKURAN KUANTITAS BATUBARA PADA INSTALASI PENYALURAN BAHAN BAKAR

K UANTITAS BATUBARA PADA INSTALASI PENYALURAN BAHAN BAKAR diajukan oleh 1. Amir Faisal 2. Ari Kristianto

diajukan oleh

1. Amir Faisal

2. Ari Kristianto

(05/186877/TK/30966)

(05/189695/TK/31137)

Program Studi : Fisika Teknik

kepada Jurusan Teknik Fisika Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

2008

LAPORAN KERJA PRAKTEK PT. INDONESIA POWER UNIT BISNIS PEMBANGKITAN SURALAYA 5 MARET 2008 – 26 MARET 2008

SISTEM PENGUKURAN KUANTITAS BATUBARA PADA INSTALASI PENYALURAN BAHAN BAKAR

1. Amir Faisal

2. Ari Kristianto

Diajukan oleh,

(05/186877/TK/30966)

(05/189695/TK/31137)

Telah disetujui oleh :

Pembimbing,

Ketua Jurusan,

Dr. Alexander Agung, S.T., M.Sc. NIP. 132 215 058

Dr.-Ing. Sihana NIP. 131 887 483

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala

atas

segala

limpahan

berkat

dan

rahmat-Nya

sehingga

penulis

dapat

menyelesaikan kerja praktek dan dapat menyusun laporan pelaksanaan kerja

praktek dengan judul “Sistem Pengukuran Batubara pada Instalasi Penyaluran

Bahan Bakar” di PT. Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya.

Laporan ini disusun sebagai hasil akhir kerja praktek yang dilaksanakan mulai

tanggal 5 Maret 2008 sampai dengan 26 Maret 2008.

Laporan Kerja Praktek ini disusun sebagai salah satu syarat yang harus

dipenuhi untuk menyelesaikan Program Studi S1 pada Jurusan Teknik Fisika

Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Melalui kerja praktek ini penulis dapat

melihat langsung dunia kerja.

Selama proses pelaksanaan Kerja Praktek, penulis banyak mendapatkan

bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini, penulis ingin

mengucapkan

terimakasih

kepada

yang

telah

membantu

pelaksanaan

dan

penyususnan Laporan Kerja Praktek ini, khususnya kepada :

1. Ir. Tulus Ruseno, M.T. selaku PJH General Manager PT. Indonesia Power

UBP Suralaya.

2. Ir. Aksin Sidqi selaku Deputi General Manager Pengelolaan Batubara PT.

Indonesia Power UBP Suralaya.

3. Ridwan Suwarno, SE. selaku Deputi General Manager Bidang Umum PT

Indonesia Power UBP Suralaya.

iii

4. Drs.

Rusno,

Suralaya.

MM.

selaku

manajer

SDM

PT

Indonesia

Power

UBP

5. Suharto, BS. selaku SPS PSDM PT Indonesia Power UBP Suralaya.

6. Tatang Sumarno selaku PSK SDM PT Indonesia Power UBP Suralaya,

yang selalu memberikan nasehat–nasehat yang sangat bermanfaat bagi

penulis.

7. Andi Adam, ST., SE. Manajer Coal PT Indonesia Power UBP Suralaya.

8. Bapak Ht. Simarmata selaku Supervisor Senior Pemeliharaan Instalasi

Bahan Bakar PT Indonesia Power UBP Suralaya.

9. Bapak

Soleman

Hasan

selaku

Supervisor

Pemeliharaan

Kontrol

dan

Instrumen Instalasi Bahan bakar PT Indonesia Power UBP Suralaya, yang

selalu memberikan bimbingan, pengarahan, pengalaman, dan ilmu-ilmu

bagi penulis.

10. Bapak Ade Sudrajat, Ade Fitriyana, Agus Budi Cahyono, Agus Tresna,

Trisno W., Nasrudin, dan Hendra selaku teknisi Kontrol dan Instrumen

Instalasi Bahan Bakar PT Indonesia Power UBP suralaya yang selalu

menemani penulis dan membuat suasana sehari-hari penuh canda tawa di

bengkel selama kerja praktek ini.

11. Dr.–Ing. Sihana, selaku Ketua Jurusan Teknik Fisika Universitas Gadjah

Mada.

12. Dr. Alexander Agung, S.T., M.Sc. selaku pembimbing kerja praktek

penulis di Jurusan Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada.

iv

13.

Dosen-dosen di Jurusan Teknik Fisika yang telah memberikan ilmu-ilmu

yang bermanfaat bagi penulis.

14. Ibu Amrih dan Ibu Tati yang telah banyak membantu dalam urusan

administrasi sehingga penulis dapat menyelesaikan kerja praktek ini.

15. Rekan-rekan PKL Periode 6 Februari – 27 Februari 2008 (Abdi, Herdi,

Yudha, Candra, Adi, Andi, Lani, Fitri, dan Vina).

16. Teman-teman Fisika Teknik angkatan 2005 Universitas Gadjah Mada.

17. Pak Deden, Pak Andi, dan Abdi yang telah menemani penulis selama di

Wisma Melati.

Penulis dengan senang hati menerima saran dan kritik dari segenap pembaca

demi

perbaikan

pengetahuan

ini

dan

penyempurnaan

berguna

bagi

kita

Laporan

Kerja

Praktek

semua

khususnya

dalam

ini.

Semoga

dunia

ilmu

pengetahuan, enjiniring, perusahaan, serta pembaca pada umumnya.

Suralaya, 18 Maret 2008

v

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN PENGESAHAN

ii

KATA PENGANTAR

iii

DAFTAR ISI

vi

DAFTAR TABEL

x

DAFTAR GAMBAR

xi

DAFTAR LAMPIRAN

xiii

BAB I PENDAHULUAN

1

I.1. Latar Belakang

1

I.2. Waktu dan Lokasi Kerja Praktek

3

I.3. Maksud dan Tujuan Kerja Praktek

5

I.4.

Batasan Masalah

5

I.5. Metodologi Penyusunan

5

I.6. Sistematika Penyusunan

6

BAB II PROFIL PT. INDONESIA POWER

8

II.1. Pendahuluan

8

II.2. Sejarah dan Perkembangan PT. Indonesia Power

10

II.3. Visi, Misi, Motto, Tujuan, dan Paradigma PT. Indonesia Power

12

 

II.3.1. Visi

13

vi

II.3.2. Misi

14

II.3.3. Motto

14

II.3.4. Tujuan

14

II.3.5. Paradigma

15

II.4. Budaya Perusahaan, Lima Filosofi Perusahaan, dan Tujuh Nilai

Perusahaan PT. Indonesia Power (IP-HaPPPI)

15

II.4.1. Budaya Perusahaan

15

II.4.2. Lima Filosofi Perusahaan

15

II.4.3. Tujuh Nilai Perusahaan PT. Indonesia Power

(IP-HaPPPI)

16

II.5. Sasaran dan Program Kerja Bidang Produksi

17

II.6. Makna Bentuk dan Warna Logo

18

II.6.1. Bentuk

18

II.6.2. Warna

19

II.7. Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya

20

II.7.1. Sejarah UBP Suralaya

20

II.7.2. Lokasi PLTU Suralaya

23

II.7.3. Struktur Organisasi UBP Suralaya

25

II.7.4. Proses Produksi Tenaga Listrik PLTU

26

II.8. Dampak Lingkungan

31

II.9. Data Teknik Komponen Utama PLTU Suralaya

32

vii

BAB III Sistem Instalasi Penyaluran Bahan Bakar

45

III.1. Sistem Penanganan Bahan Bakar (Coal Handling System)

45

III.2. Coal Handling Area

46

III.2.1.

Unloading Area

46

III.2.2. Coal Stock Area

49

III.2.3.

Power Plant

49

III.3 Coal Handling System Unit

50

III.4. Coal Handling System Unit 5-7

52

III.5. Komponen – komponen Coal Handling

53

III.5.1. Peralatan Utama

53

III.5.2. Peralatan Pendukung

63

III.5.3. Peralatan Pengaman (Proteksi)

65

BAB IV Sistem Pengukuran Kuantitas Batubara

pada Instalasi Penyaluran Bahan Bakar

68

IV.1. Pendahuluan

68

IV.2. Tinjauan Umum Sistem Pengukuran

70

IV.2.1. Elemen Fungsional Instrumen Sistem Pengukuran

70

IV.2.2. Gambaran Umum Sistem Timbangan Industri

72

IV.2.3. Kalibrasi Timbangan Proses Industri

73

IV.3. Prinsip Timbangan pada Belt Weigher

74

IV.3.1. Fungsi Dasar dari Belt Weigher

74

IV.3.2. Prinsip Pengoperasian Belt Weigher

76

viii

IV.3.3. Komponen dari Belt Weigher

76

IV.3.4. Kalibrasi

80

IV.4. Hasil Pengukuran Kuantitas Batubara

Pada Belt Weigher 34 dan 35

84

BAB V PENUTUP

87

DAFTAR PUSTAKA

89

LAMPIRAN

90

ix

DAFTAR TABEL

Tabel I.1. Kapasitas Terpasang Per–unit Bisnis Pembangkit

Tabel I.2. Daya Mampu per-Unit Bisnis Pembangkit

Tabel I.3. Produksi Listrik (GWh) per–Unit Bisnis Pembangkit

Tabel I.4. Daya Terpasang (MW) Sistem Jawa Bali

Tabel I.5. Periode Pembangunan UBP Suralaya

Tabel I.6. Luas Area PLTU Suralaya

Tabel IV.1. Pemantauan Belt Weigher 34 dan 35 pada Bulan Februari 2008

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Logo PT. Indonesia Power

Gambar 2.2. Lokasi PLTU Suralaya

Gambar 2.3. Denah PLTU Suralaya

Gambar 2.4. Struktur Organisasi PT Indonesia Power UBP Suralaya

Gambar 2.5. Rute Transportasi Batubara dari Tanjung Enim ke PLTU Suralaya

Gambar 2.6. Produksi Tenaga Listrik PLTU Suralaya

Gambar 3.1. Pelabuhan/Dermaga I Batubara

Gambar 3.2. Dermaga II Batubara

Gambar 3.3. Pelabuhan SPJ

Gambar 3.4. Facility Discharging Equipment (FDE)

Gambar 3.5. Instalasi Penanganan Batubara UBP Suralaya

Gambar 3.6. Instalasi Penyaluran Bahan Bakar Unit 1, 2, 3, dan 4

Gambar 3.7. Instalasi Penyaluran Bahan Bakar Unit 5, 6, dan 7

Gambar 3.8. Konstruksi Belt Conveyor

Gambar 3.9. Konstruksi Motor, Fluid Cuopling dan Reducer

Gambar 3.10. Konstruksi Belt Feeder

Gambar 3.11. Stacker Reclaimer

Gambar 3.12. Ship Unloader

Gambar 3.13.Telescopic Chute dan Juction House

Gambar 3.14. Konstruksi Junction House

Gambar 3.15. Hopper

Gambar 3.16. Diverter Gate

xi

Gambar 3.17. Tripper dan Scrapper Conveyor

Gambar 3.18. Dust Collector

Gambar 3.19. Pull Cord Switch

Gambar 3.20. Belt Sway

Gambar 3.21. Local Control Panel

Gambar 4.1. Blok Diagram Sistem Pengukuran Secara Umum

Gambar 4.2. Blok Diagram Sistem Pengukuran pada Timbangan Industri

Gambar 4.3. Load Cell Sensor Timbangan Industri

Gambar 4.4. Belt Weigher Terpasang pada Belt Conveyor

Gambar 4.5. Load Cell

Gambar 4.6. Weight Frame (Dudukan)

Gambar 4.7. Integrator

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Pengesahan Perusahaan

Hasil Penilaian Perusahaan

Sertifikat Kerja Praktek

Conveyor No. 34 & 35 10-14-4/4 Belt Weigher Alignment Drawing

Weigh Idler Modification to Suit Ramsey Belt Scales

Conveyor No. 34 & 35 10-14-4/4 Belt Weigher GA & Instalation Drawing

xiii

1

BAB I

PENDAHULUAN

I.1.

Latar Belakang

Kebutuhan energi merupakan hal yang sangat penting dalam seluruh

kehidupan

manusia

untuk

meningkatkan

kesejahteraan

hidup.

Salah

satu

kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan lagi dalam kehidupan manusia pada masa

sekarang ini adalah kebutuhan energi listrik. Pemanfaatan energi listrik ini secara

luas

telah

digunakan

untuk

kebutuhan

rumah

tangga,

pemerintah, industri dan sebagainya.

komersial,

instansi

Dalam masa sekarang ini tersediannya energi listrik

merupakan salah

satu komponen yang penting dalam mendorong pertumbuhan perekonomian

di

dalam

suatu

negara.

Sehingga

penyediaan

energi

listrik

dituntut

menjadi

menyediakan energi listrik yang handal, stabil, dan bermutu serta efisien yang

sangat layak untuk dijadikan tumpuan dalam menjamin kesuksesan pelayanan

kebutuhan secara cepat dan tepat. Dalam usaha penyediaan energi listrik yang

handal dan efisien inilah Unit Pembangkitan Suralaya merupakan salah satu

perusahaan yang mengoperasikan mesin pembangkit listrik yang menggunakan

mesin dengan tenaga uap dengan bahan bakar utama batubara yang terdiri dari

tujuh unit, semuanya berjumlah 3400 MegaWatt yang diperkirakan memenuhi

30% kebutuhan listrik di pulau Jawa, Bali, dan Madura.

Dengan

makin

pentingnya

peranan

energi

listrik

dalam kehidupan

sehari-hari khususnya bagi keperluan industri, maka Unit Pembangkitan Suralaya

sebagai unit penyedia energi listrik terbesar dituntut untuk dapat memenuhi mutu

2

tenaga listrik yang juga menjadi tuntutan yang makin besar dari pihak pemakai

energi listrik. Mutu tenaga listrik itu meliputi :

A. Kontinuitas penyediaan ; apakah tersedia 24 jam sehari sepanjang tahun.

B. Nilai tegangan ; apakah selalu dalam batas–batas yang diizinkan.

C. Nilai frekuensi ; apakah selalu ada dalam batas–batas yang diizinkan.

D. Kedip tegangan ; apakah besar dan lamanya masih dapat diterima oleh

pemakai energi listrik.

Faktor utama agar mutu tenaga listrik dapat tercapai adalah dengan cara

mengoperasikan peralatan secara benar dan efisien serta pemeliharaan yang benar,

sehingga peralatan tetap bisa beroperasi secara baik, andal dan prima.

Pembangkit Listrik Tenaga Uap merupakan jenis pembangkit listrik

yang menggunakan uap sebagai media untuk memutar sudu-sudu turbin, dimana

uap yang digunakan untuk memutar sudu-sudu tersebut adalah uap kering. PLTU

beroperasi

pada

siklus

Rankine

yang

dimodifikasi

agar

mencakup

proses

pemanasan lebih lanjut (super heating), pemanasan air pengisi ketel/boiler (feed

water heating) dan pemanasan kembali uap keluar turbin tekanan tinggi (steam

reheating). Pada PLTU Suralaya ini, pemanasan itu dihasilkan dati pembakaran

batubara sebagai bahan bakar utama.

Sistem penanganan batubara (Coal Handling System) di PLTU Suralaya

terdiri dari peralatan bongkar muat batubara dari kapal dan peralatan transportasi

dari tempat bongkar menuju tempat tujuan. Batu bara yang dibongkar dari kapal

dapat langsung disalurkan menuju coal bunker di setiap unit atau dapat ditampung

terlebih dahulu di stock area.

3

Pada proses bongkar muat dari kapal tongkang, penyimpanan di stock

area, dan sebelum masuk coal bunker terdapat belt weighter yang berfungsi

sebagai timbangan untuk menimbang batubara. Timbangan ini bersifat dimanis

karena menimbang laju

aliran batubara yang sedang berjalan di atas Belt

Conveyor

untuk

diketahui

flow

rate

dalam

satuan

Ton/jam yang

melewati

conveyor.

Dalam pelaksanaan kerja praktek ini penulis ditempatkan di bagian Coal

Handling System. Kerja praktek yang telah dilaksanakan di PT. Indonesia Power

UBP Suralaya memberikan banyak pengetahuan dan pengalaman bagi penulis

dalam

berbagai

disiplin

ilmu

dan

pengetahuan

tentang

dunia

kerja

yang

seberarnya. Dari sekian banyak pengetahuan yang penulis dapatkan selama kerja

praktek,

maka

di

dalam

laporan

ini

penulis

membahas

mengenai

“Sistem

Pengukuran Kuantitas Batubara pada Instalasi Bahan Bakar di PT. Indonesia

Power UBP Suralaya”.

I.2.

Maksud dan Tujuan Kerja Praktek

Kerja praktek ini merupakan salah satu mata kuliah wajib yang ada di

kurikulum akademik Jurusan Teknik Fisika Fakultas Teknik Universitas Gadjah

Mada. Maksud dan tujuan pelaksanaan kerja praktek ini adalah untuk memenuhi

syarat untuk meraih gelar Sarjana Teknik, di Jurusan Teknik Fisika Fakultas

Teknik Universitas Gadjah Mada.

4

Secara khusus tujuan kerja praktek ini adalah

1. Bagi Mahasiswa

a. Untuk

memperoleh

pengalaman

secara

langsung

penerapan

ilmu

pengetahuan dan teknologi yang didapat dalam dunia pendidikan pada

dunia industri.

b. Untuk melatih kemampuan analisa permasalahan yang ada di lapangan

berdasarkan teori yang telah diperoleh.

c. Untuk menambah wawasan tentang dunia kerja sehingga nantinya ketika

terjun ke dunia kerja dapat menyesuaikan diri dengan cepat.

2. Bagi Institusi Pendidikan

a. Menjalin kerjasama antara perguruan tinggi dengan dunia industri.

b. Mendapatkan bahan masukan tentang sistem pengajaran yang lebih sesuai

dengan lingkungan kerja.

c. Untuk meningkatkan kualitas dan pengalaman lulusan yang dihasilkan.

3. Bagi Perusahaan

a. Membina hubungan baik dengan pihak institusi perguruan tinggi dan

mahasiswa.

b. Untuk merealisasikan partisipasi dinia usaha terhadap pengembangan

dunia pendidikan.

Tujuan yang ingin dicapai dari pelaksanaan kerja praktek ini adalah

a. Mempelajari proses-proses yang terjadi pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap

dengan menggunakan bahan bakar batubara.

5

b.

Mengadakan pengamatan dan penelitian tentang penerapan teori dengan

kondisi yang sebenarnya.

 

c.

Memperoleh pengalaman operasional dari suatu industri dalam penerapan,

rekayasa, dan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

d.

Mengetahui

prinsip-prinsip

alat-alat

yang

ada

pada

sistem

penanganan

batubara.

I.3.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kerja Praktek.

 

Kerja

Praktek

ini

dilaksanakan

di

PT.

Indonesia

Power

Unit

Bisnis

Pembangkitan Suralaya, Jl. Komplek PLTU Suralaya Kotak Pos 15 Merak 42456,

Merak Banten. Waktu pelaksaan kerja praktek mulai tanggal 5 Maret 2008 sampai

dengan 26 Maret 2008.

I.4.

Batasan Permasalahan

Karena sistem instalasi bahan bakar ini sangat luas dan terdiri dari banyak

peralatan

dan

keterbatasan

waktu

dalam

kerja

praktek

ini,

maka

penulis

membatasi topik permasalahan pada Sistem Pengukuran Kuantitas Batubara pada

instalasi Penyaluran Bahan Bakar.

I.5.

Metode Pengumpulan Data

Selama kerja praktek ini, metode yang digunakan dalam pengumpulan data

adalah sebagai berikut :

1.

Observasi

Data diperoleh dengan mengadakan pengamatan langsung ke lapangan dengan

bimbingan mentor/pembimbing yang ada.

6

2.

Wawancara.

 

Penulis melakukan wawancara langsung dengan mentor maupun dengan

operator agar mendapatkan data yang diperlukan.

 

3.

Studi Literatur.

 

Dengan

metode

ini

penulis

mendapatkan

data

melalui

beberapa

buku

referensi, buku manual, data percobaan.

 

I.6.

Sistematika Penulisan

 

Dalam penulisan laporan kerja praktek ini, penulis membagi dalam 5 bab, yaitu :

BAB I : Pendahuluan

Bab ini membahas tentang latar belakang penulisan, maksud dan tujuan

kerja praktek, waktu dan tempat pelaksaaan kerja praktek, batasan masalah,

metode pengumpulan data, dan sistematika penulisan.

BAB II : Profil PT. Indonesia Power

Bab ini membahas tentang sejarah dan perkembangan PT. Indonesia Power, visi,

misi, motto, tujuan, dan paradigma PT. Indonesia Power, budaya perusahaan, lima

filosofi perusahaan, dan tujuh nilai perusahaan PT. Indonesia Power (IP-

HAPPPI), sasaran dan program kerja bidang produksi, makna bentuk dan warna

logo, Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya, dampak lingkungan, data teknik

komponen utama PLTU Suralaya.

BAB III : Sistem Instalasi Penyaluran Bahan Bakar.

Bab ini berisi sistem penanganan batu bara secara umum, peralatan-

peralatan yang ada dalam sistem penanganan batubara, serta proses penanganan

7

batubara. Sistem penanganan bahan bakar (coal handling system), Coal Handling

Area yang terdiri dari unloading area, coal stock area, power plant, Coal

Handling System Unit 1-4, Coal Handling System Unit 5-7, Komponen-komponen

Coal Handling terdiri dari peralatan utama, peralatan pendukung, dan peralatan

pengaman (proteksi).

BAB IV : Sistem Pengukuran Kuantitas Batubara pada Instalasi Penyaluran

Bahan Bakar.

Bab ini membahas mengapa perlu untuk mengukur kuantitas batubara

selain juga diukur kualitasnya; tinjauan umum sistem pengukuran, yaitu: elemen

fungsional instrumen sistem pengukuran, gambaran umum sistem timbangan

industri, kalibrasi timbangan proses industri; prinsip timbangan pada belt weigher,

meliputi fungsi dasar dari belt weigher, prinsip pengoperasian belt weigher,

komponen dari belt weigher, dan kalibrasi; serta hasil pengukuran kuantitas

batubara pada belt weigher 34 dan 35.

BAB V : Penutup

Bab ini berisi kesimpulan dan saran penulis terhadap materi yang penulis

tulis dalam laporan ini.

Daftar Pustaka

Berisi buku acuan yang digunakan dalam penulisan laporan kerja praktek

ini.

8

BAB II

PROFIL PT. INDONESIA POWER

II.1. Pendahuluan.

Salah satu kebutuhan energi yang mungkin hampir tidak dapat dipisahkan

lagi dalam kehidupan manusia pada saat ini adalah kebutuhan energi listrik.

Seperti diketahui untuk memperoleh energi listrik ini melalui suatu proses yang

panjang dan rumit, namun mengingat sifat dari energi listrik ini yang mudah

disalurkan dan mudah untuk dikonversikan ke dalam bentuk energi lain seperti

menjadi energi cahaya, energi kalor, energi kimia, energi mekanik, suara, gambar,

dan sebagainya. Pemanfaatan energi listrik ini secara luas telah digunakan untuk

keperluan rumah tangga, komersial, instansi pemerintah, industri, dan sebagainya.

Karena

kebutuhan

manusia

terhadap

listrik

tersebut,

maka

dibangunlah

pembangkit listrik. Pembangkit listrik dapat dibedakan menjadi :

1. Pembangkit listrik dengan sumber energi dapat diperbaharui, seperti PLTA

(Pembangkit Listrik Tenaga Air), PTLS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya),

PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi), dan sebagainya.

2. Pembangkit listrik dengan sumber daya tidak dapat diperbaharui, seperti

PLTN

(Pembangkit

Listrik

Tenaga

Nuklir),

PLTU

(Pembangkit

Listrik

Tenaga Uap), PLTGU/PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap), PLTD

(Pembangkit Listrik Tenaga Diesel)

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) merupakan jenis pembangkit

tenaga listrik yang menggunakan uap sebagai media untuk memutar sudu-sudu

turbin, dimana uap yang digunakan memutar sudu-sudu tersebut adalah uap

9

kering. PLTU pada umumnya berbahan nakar minyak dan batubara. PLTU

beroperasi

pada

siklus

Rankine

yang

dimodifikasi

agar

mencakup

proses

pemanasan lanjut (super heating), pemanasan air pengisi ketel/boiler (feed water

heating)

dan

pemanasan

kembali

uap

keluar

turbin

tekanan

tinggi

(steam

reheating). Untuk meningkatkan efisiensi panas (thermal efficiency) maka uap

yang dipakai harus dibuat bertekanan dan suhu setinggi mungkin. Demikian pula

turbin yang dipakai secara ekonomis dibuat dengan ukuran yang sebesar mungkin

agar dapat menekan biaya investasi (karena daya yang dihasilkan menjadi besar).

Karena pertimbangan-pertimbangan ini, sekarang ini banyak digunakan turbo

generator

dengan

berkapasitas 100

kapasitas

500

MW.

Dengan

pemakaian

turbin-turbin

uap

MW

atau lebih,

efisiensi

ditingkatkan

melalui pemanasan

kembali (reheating) uap setelah sebagian berekspansi melalui tingkat-tingkat suhu

akhir (turbin tekanan rendah).

PLTU merupakan salah satu dari jenis pembangkit tenaga listrik yang

digunakan di Indonesia. Khususnya, PLTU batubara merupakan jenis pembangkit

yang sangat cocok digunakan mengingat potensi kekayaan sumber daya alam di

Indonesia dalam hal ini batubara tersedia sangat banyak di beberapa pulau di

Indonesia seperti Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Oleh karena itu

prospek PLTU batubara di Indonesia sangat cerah dan sangat strategis karena

bangsa ini dapat memanfaatkan semaksimal mungkin penggunaan batubara untuk

pembangkit tenaga listrik.

10

II.2. Sejarah Singkat PT. Indonesia Power

Keberadaan

Indonesia

Power

sebagai

perusahaan

pembangkitan

merupakan bagian dari deregulasi sektor ketenagalistrikan di Indonesia. Diawali

dengan dikeluarkannya Keppres No. 37 Tahun 1992 tentang pemanfaatan sumber

dana swasta melalui pembangkit–pembangkit listrik swasta, serta disusunnya

kerangka

dasar

dan

pedoman

jangka

panjang

bagi

restrukturisasi

sektor

ketenagalistrikan oleh Departemen Pertambangan dan Energi pada tahun 1993.

Sebagai tindak lanjutnya, tahun 1994 PLN dirubah statusnya dari Perum

menjadi Persero. Tanggal 3 Oktober 1995 PT. PLN (Persero) membentuk dua

anak perusahaan untuk memisahkan misi sosial dan misi komersial yang salah

satunya adalah PT. Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa-Bali I (PLN PJB I)

menjalankan usaha komersial bidang pembangkitan tenaga listrik dan usaha

lainnya. Setelah lima tahun beroperasi PLN PJB I berganti nama menjadi PT.

Indonesia Power pada tanggal 3 Oktober 2000.

Saat ini, PT. Indonesia Power merupakan pembangkit listrik terbesar di

Indonesia dengan delapan unit bisnis pembangkitan yaitu UBP Suralaya, UBP

Priok, UBP Saguling, UBP Kamojang, UBP Mrica, UBP Semarang, UBP Perak

Grati dan UBP Bali serta satu Unit Bisnis Jasa Pemeliharaan terbesar di pulau

Jawa dan Bali dengan total kapasitas terpasang 8.978 MW. Pada tahun 2002

keseluruhan unit-unit pembangkitan tersebut menghasilkan tenaga listrik hampir

41.000 GWh yang memasok lebih dari 50 % kebutuhan listrik Jawa Bali. Secara

keseluruhan di Indonesia total kapasitas terpasang sebesar 9.039 MW tahun 2002

11

dan 9.047 untuk tahun 2003 serta menghasilkan tenaga listrik sebesar 41.253

GWh.

PT. Indonesia Power sendiri mempunyai kapasitas yang terpasang per-unit

bisnis pembangkit yang dapat dilihat pada Tabel II.1.

Tabel II.1. Kapasitas Terpasang Per–unit Bisnis Pembangkit

Unit Bisnis Pembangkitan

Kapasitas (MW)

Suralaya

3400,00

Priok

1.444,08

Saguling

797,36

Kamojang

360,00

Mrica

306,44

Semarang

1.414,16

Perak-Grati

864,08

Bali

335,07

Jawa-Bali

6756

Total Indonesia Power

6756

Sesuai dengan tujuan pembentukannya, PT. Indonesia Power menjalankan

bisnis pembangkit tenaga listrik sebagai bisnis utama di Jawa dan Bali. pada

Tahun 2004, PT Indonesia Power telah memasok sebesar 44.417 GWh atau

sekitar 46,51% dari produksi Sistem Jawa dan Bali.

Tabel II.1.Daya Mampu per-Unit Bisnis Pembangkit

Pembangkitan

Tahun 2004 (MW)

TW I 2005 (MW)

April 2005 (MW)

Suralaya

2.852

2.810

2.789

Priok

1.026

1.128

1.061

Saguling

697

770

791

Kamojang

333

332

330

Mrica

298

291

291

Semarang

1.098

1.055

1.002

Perak-Grati

673

685

732

Bali

244

280

275

Total Indonesia Power

7.221

7.351

7.270

12

Untuk produksi listrik pada unit-unit bisnis pembangkitan dari tahun 1999

sampai dengan Triwulan pertama tahun 2005 dapat di lihat pada Tabel II.2.

Tabel II.2. Produksi Listrik (GWh) per – Unit Bisnis Pembangkit

Unit Bisnis

               

TW I

Pembangkitan

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

Suralaya

15.041

15.979

18.513

21.212

21.063

21.449

23.462

22.711

5.801

Priok

7.495

6.126

7.073

7.457

6.914

6.787

7.248

6.797

1.552

Saguling

1.645

3.589

2.720

2.656

3.392

2.683

2.098

2.366

933

Kamojang

2.605

2.593

2.728

2.649

2.908

3.056

2.804

2.988

743

Mrica

708

1.143

1.230

1.121

1.173

826

869

892

293

Semarang

5.158

3.871

3.902

4.799

4.558

5.096

5.146

5.524

1.237

Perak-Grati

349

119

166

67

476

931

1.534

1.745

561

Bali

626

393

722

526

503

1.022

1.214

1.394

337

Jumlah

33.627

33.812

37.054

40.487

40.987

41.849

44.374

44.417

11.457

Sedangkan dalam menyuplai kebutuhan akan tenaga listrik dari Jawa Bali

dari tahun 1998 sampai 2004 tidak hanya PT. Indonesia Power yang menyuplai

tetapi juga pembangkit yang lain yaitu IPP dan PJB, seperti diperlihatkan pada

Tabel II.3.

Tabel II.3. Daya Terpasang (MW) Sistem Jawa Bali

Perusahaan

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

Smt I 2004

PT. Indonesia Power

33.627

33.812

37.054

40.487

40.987

41.849

44.374

22.087

PT. PJB

25.766

25.672

27.095

26.115

27.828

26.902

26.417

 

IPP

1.585

1.431

3.752

8.225

12.409

17.738

19.151

 

Jumlah

60.978

60.915

67.901

74.826

81.224

86.489

89.941

 

II.3. Visi, Misi, Motto, Tujuan, dan Paradigma PT. Indonesia Power

Sebagai perusahaan pembangkit listrik yang terbesar di Indonesia dan dalam

rangka

menyongsong

era

persaingan

global

maka

PT.

Indonesia

Power

mempunyai visi yaitu menjadi perusahaan publik dengan kinerja kelas dunia dan

bersahabat dengan lingkungan. Untuk mewujudkan visi ini PT. Indonesia Power

13

telah melakukan langkah-langkah antara lain melakukan usaha dalam bidang

ketenagalistrikan

dan

mengembangkan

usaha-usaha

lainnya

yang

berkaitan,

berdasarkan kaidah industri dan niaga sehat, guna menjamin keberadaan dan

pengembangan perusahaan dalam jangka panjang.

Dalam pengembangan usaha penunjang di dalam bidang pembangkit tenaga

listrik, PT. Indonesia Power telah membentuk anak perusahaan yaitu PT. Cogindo

Daya Bersama dan PT. Artha Daya Coalindo. PT. Cogindo Daya Bersama

bergerak dalam bidang jasa pelayanan dan menejemen energi dengan penerapan

konsep cogeneration, energy outsourcing, energy efficiency assessment package

dan distributed generation. Sedangkan PT. Artha Daya Coalindo bergerak dalam

bidang perdagangan batubara sebagai bisnis utamanya dan bahan bakar lainya

yang diharapkan menjadi perusahaan trading batubara yang menangani kegiatan

terintegrasi di dalam rantai pasokan batubara, selain kegiatan lainnya yang

bernilai tambah, baik sendiri maupun bekerjasama dengan pihak lain yang

mempunyai potensi sinergis. Selain itu PT. Indonesia Power juga menanamkan

saham di PT. Artha Daya Coalindo yang bergerak di bidang usaha perdagangan

batubara sebesar 60%.

II. 3. 1.

Visi

“Menjadi Perusahaan publik dengan kinerja kelas dunia dan bersahabat

dengan lingkungan”.

14

II. 3. 2.

Misi

“Melakukan usaha dalam bidang ketenagalistrikan dan mengembangkan

usaha lainnya yang berkaitan berdasarkan kaidah industri dan niaga yang sehat

guna

menjamin

panjang”.

keberadaan

dan

pengembangan

perusahaan

dalam

jangka

II.

3. 3.

Motto

 

“ Bersama kita maju “.

II.

3. 4.

Tujuan

A.

Menciptakan mekanisme peningkatan efisiensi yang terus menerus dalam

penggunaan sumber daya perusahaan.

B.

Meningkatkan pertumbuhan perusahaan secara berkesinambungan dengan

bertumpu pada usaha penyediaan tenaga listrik dan sarana penunjang yang

berorientasi pada permintaan pasar yang berwawasan lingkungan.

C.

Menciptakan kemampuan dan peluang untuk memperoleh pendanaan dari

berbagai sumber yang saling menguntungkan.

D.

Mengoperasikan pembangkit tenaga listrik secara kompetitif serta mencapai

standar kelas dunia dalam hal keamanan, kehandalan, efisiensi, maupun

kelestarian lingkungan.

E.

Mengembangkan budaya perusahaan yang sehat diatas saling menghargai

antar karyawan dan mitra serta mendorong terus kekokohan integritas pribadi

dan profesionalisme.

15

II. 3. 5.

Paradigma

“Hari ini lebih baik dari hari kemarin, hari esok lebih baik dari hari ini”.

II.4. Budaya

perusahaan,

Lima

filosofi

Perusahaan,

dan

Tujuh

nilai

Perusahaan PT. INDONESIA POWER (IP-HaPPPI)

II. 4. 1. Budaya Perusahaan

Salah satu aspek dari pengembangan sumber daya manusia perusahaan

adalah pembentukan budaya perusahaan. Unsur-unsur budaya perusahaan :

A. Perilaku akan ditunjukkan seseorang akibat adanya suatu keyakinan akan

nilai-nilai atau filosofi.

B. Nilai adalah bagian daripada budaya/culture perusahaan yang dirumuskan

untuk membantu upaya mewujudkan budaya perusahaan tersebut. Di PT.

Indonesia Power, nilai ini disebut dengan “Filosofi Perusahaan”.

C. Paradigma adalah suatu kerangka berpikir yang melandasi cara seseorang

menilai sesuatu.

Budaya perusahaan diarahkan untuk membentuk sikap dan perilaku yang

didasarkan pada 5 filosofi dasar dan lebih lanjut, filosofi dasar ini diwujudkan

dalam tujuh nilai perusahaan PT. Indonesia Power (IP-HaPPPI).

II. 4. 2.

Lima filosofi Perusahaan

A. Mengutamakan pasar dan pelanggan.

Berorientasi kepada pasar serta memberikan pelayanan yang terbaik dan nilai

tambah kepada pelanggan.

B. Menciptakan keunggulan untuk memenangkan persaingan.

16

Menciptakan keunggulan melalui sumber daya manusia, teknologi financial

dan

proses

bisnis

persaingan.

yang

handal

dengan

semangat

untuk

memenangkan

C. Mempelopori pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Terdepan

dalam

memanfaatkan

teknologi secara optimal.

perkembangan

ilmu

D. Menjunjung tinggi etika bisnis.

pengetahuan

dan

Menerapkan etika bisnis sesuai standar etika bisnis internasional.

E. Memberi penghargaan atas prestasi.

Memberi penghargaan atas prestasi untuk mencapai kinerja perusahaan yang

maksimal.

II. 4. 3.

TUJUH NILAI PERUSAHAAN PT. INDONESIA POWER (IP-

HaPPPI) :

A. Integritas

Sikap moral yang mewujudkan tekad untuk memberikan yang terbaik kepada

perusahaan.

B. Profesional

Menguasai pengetahuan, keterampilan, dan kode etik sesuai bidang.

C. Harmoni

serasi, selaras, seimbang, dalam :

- Pengembangan kualitas pribadi,

- Hubungan dengan stakeholder (pihak terkait)

- Hubungan dengan lingkungan hidup

17

D. Pelayanan Prima

Memberi pelayanan yang memenuhi kepuasan melebihi harapan stakeholder.

E. Peduli

Peka-tanggap dan bertindak untuk melayani stakeholder serta memelihara

lingkungan sekitar.

F. Pembelajar

Terus menerus meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan serta kualitas diri

yang mencakup fisik, mental, sosial, agama, dan kemudian berbagi dengan

orang lain.

G. Inovatif

Terus menerus dan berkesinambungan menghasilkan gagasan baru dalam

usaha melakukan pembaharuan untuk penyempurnaan baik proses maupun

produk dengan tujuan peningkatan kinerja.

II.5. Sasaran dan Program Kerja Bidang Produksi

Sasaran dari bidang ini adalah mendukung pemenuhan rencana penjualan

dengan biaya yang optimal dan kompetitif serta meningkatkan pelayanan pasokan.

Untuk mencapai sasaran tersebut, strateginya adalah sebagai berikut :

A. Melakukan optimalisasi kemampuan produksi terutama pembangkit beban

dasar dengan biaya murah.

B. Meningkatkan efisiensi operasi pembangkit baik biaya bahan maupun biaya

pemeliharaan.

C. Meningkatkan optimalisasi pola operasi pembangkit.

18

E. Meningkatkan

keandalan

dengan

meningkatkan

availability,

menekan

gangguan dan memperpendek waktu pemeliharaan.

Adapun program kerja di bidang produksi :

A.

Mengoptimalkan kemampuan produksi.

B.

Meningkatkan efisiensi operasi dan pemeliharaan pembangkit :

-

Efisiensi termal.

-

Efisiensi pemeliharaan.

-

Pengawasan volume dan mutu bahan bakar.

C.

Melakukan optimasi biaya bahan bakar.

D.

Meningkatkan keandalan pembangkit.

E.

Meningkatkan waktu operasi pemeliharaan.

II.6. Makna Bentuk dan Warna Logo

Logo mencerminkan identitas dari PT. Indonesia Power sebagai Power

Utility Company terbesar di Indonesia.

Power sebagai Power Utility Company terbesar di Indonesia. Gambar 2.1. Logo PT. Indonesia Power II. 6.

Gambar 2.1. Logo PT. Indonesia Power

II. 6. 1.

Bentuk

A. INDONESIA dan POWER ditampilkan dengan menggunakan dasar jenis

huruf FUTURA BOOK / REGULAR dan FUTURA BOLD menandakan font

yang kuat dan tegas.

19

B. Aplikasi bentuk kilatan petir pada huruf “O” melambangkan “TENAGA

LISTRIK” yang merupakan lingkup usaha utama perusahaan.

C. Titik/bulatan

merah

(red

dot)

diujung

kilatan

petir

merupakan

simbol

perusahaan yang telah digunakan sejak masih bernama PT. PLN PJB I. Titik

ini merupakan simbol yang digunakan di sebagian besar materi komunikasi

perusahaan. Dengan simbol yang kecil ini, diharapkan identitas perusahaan

dapat langsung terwakili.

II. 6. 2.

Warna

A. Merah

Merah, diaplikasikan pada kata INDONESIA, menunjukkan identitas yang

kuat dan kokoh sebagai pemilik sumber daya untuk memproduksi tenaga

listrik, guna dimanfaatkan di Indonesia dan juga di luar negeri.

B. Biru

Biru,

diaplikasikan

pada

kata

POWER.

Pada

dasarnya

warna

biru

menggambarkan

sifat

pintar

dan

bijaksana,

dengan

aplikasi

pada

kata

POWER, maka warna ini menunjukkan produk tenaga listrik yang dihasilkan

perusahaan memiliki ciri-ciri :

- Berteknologi tinggi.

- Efisien.

- Aman.

- Ramah lingkungan.

20

II.7. Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Suralaya

II. 7. 1.

Sejarah UBP Suralaya

Dalam rangka memenuhi peningkatan kebutuhan akan tenaga listrik

khususnya di Pulau Jawa yang sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah untuk

meningkatkan pemanfaatan sumber energi primer dan diversifikasi sumber energi

primer untuk pembangkit tenaga listrik, maka PLTU Suralaya telah dibangun

dengan menggunakan batubara sebagai bahan bakar utama. Beberapa alasan

mengapa Suralaya dipilih sebagai lokasi yang paling baik diantaranya adalah:

1. Tersedianya tanah dataran yang cukup luas, di mana tanah tersebut dipandang

tidak produktif untuk pertanian.

2. Tersedianya pantai dan laut yang cukup dalam, tenang dan bersih, hal ini baik

untuk

dapat

dijadikan

pelebuhan

guna

pemasokan

bahan

baku,

dan

ketersediaan pasokan air, baik itu air pendingin maupun air proses.

3. Karena

faktor

nomor

dua

di

atas,

maka

akan

membantu/memperlancar

pengangkutan bahan bakar dan berbagai macam peralatan berat yang masih di

impor dari luar negeri.

4. Jalan masuk ke lokasi tidak terlalu jauh dan sebelumnya sudah ada jalan

namun dengan kondisi yang belum begitu baik.

5. Karena jumlah penduduk di sekitar lokasi masih relatif sedikit sehingga tida

perlu adanya pembebasan tanah milik penduduk guna pemasangan saluran

transmisi kelistrikan.

6. Dari

hasil

survey

sebelumnya,

diketahui

bahwa

tanah

di

Suralaya

memungkinkan untuk didirikan bangunan yang besar dan bertingkat.

21

7.

Tersedianya tempat yang cukup untuk penimbunan limbah abu dari sisa

penbakaran batubara.

 

8.

Tersedianya

tenaga

kerja

yang

cukup

untuk

memperlancar

pelaksanaan

pembamgunan.

 

9.

Dampak lingkungan yang baik karena terletak diantara pelabuhan dan laut.

10.

Menimbamg kebutuhan beban di Pulau Jawa merupakan yang terbesar, maka

tepat apabila dibangun suatu pembangkit listrik dengan daya yang besar di

Pulau Jawa.

UBP Suralaya merupakan salah satu unit pembangkit yang dimiliki oleh

PT

Indonesia

Power.

Diantara

pusat

pembangkit

yang

lain,

UBP

Suralaya

memiliki kapasitas daya terbesar dan juga merupakan pembangkit paling besar di

Indonesia.

PLTU Suralaya dibangun melalui tiga tahapan yaitu :

Tahap I

: Membangun dua unit PLTU, yaitu unit 1 dan 2 yang masing-masing

berkapasitas

400

MW.

Dimana

pembangunannya

dimulai

pada

bulan Mei 1980 sampai dengan bulan Juni 1985 dan telah beroperasi

sejak tahun 1984, tepatnya pada tanggal 4 April 1984 untuk unit 1

dan 26 Maret 1985 untuk unit 2.

 

Tahap II

: Membangun dua unit PLTU yaitu unit 3 dan 4 yang masing-masing

berkapasitas 400 MW. Dimana pembangunannya dimulai paada

bulan Juni 1985 dan berakhir sampai dengan bulan desember 1989.

dan telah beroperasi sejak 6 Februari 1989 untuk unit 3 dan 6

Nopember 1989 untuk unit 4.

22

Tahap III

: Membangun tiga unit PLTU, yaitu unit 5,6, dan 7 yang masing-

masing berkapasitas 600 MW. Pembangunannya dimulai sejak bulan

Januari 1993 dan telah beroperasi pada bulan Oktober 1996 untuk 5.

untuk unit 6 pada bulan April 1997 dan Oktober 1997 untuk unit 7.

Tabel II.4. Periode Pembangunan UBP Suralaya

No.

Item

Unit I

Unit II

Unit III

Unit IV

Unit V

Unit VI

Unit VII

 

Konstruksi

     

1.

dimulai

1980

1984

 

1994

2.

Penyalaan

26-05-

11-03-

28-05-

04-02-

22-06-

26-01-

14-07-

Pertama

1984

1985

1988

1989

1996

1997

1997

3.

Masuk

24-08-

11-06-

25-08-

24-04-

16-12-

26-03-

19-09-

Jaringan

1984

1985

1988

1989

1996

1997

1997

4.

Operasi

04-04-

26-03-

06-02-

06-11-

25-06-

11-09-

19-12-

Komersial

1985

1986

1989

1989

1997

1997

1997

Dalam pembangunannya secara keseluruhan dibangun oleh PLN Proyek

Induk Pembangkit Thermal Jawa Barat dan Jakarta Raya dengan konsultan asing

dari Montreal Engineering Company (Monenco) Canada untuk Unit 1 s/d Unit 4

sedangkan untuk Unit 5 s/d Unit 7 dari Black & Veatch Iternational (BVI)

Amerika Serikat. Dalam melaksanakan pembangunan Proyek PLTU Suralaya

dibantu oleh beberapa kontraktor lokal dan kontraktor asing.

Saat ini telah terpasang dan siap beroperasi PLTG (Pembangkit listrik

Tenaga Gas) dengan kontraktor pembuat yaitu John Brown Engineering, England.

PLTG ini dimaksudkan untuk mempercepat suplai catu daya sebagai penggerak

peralatan Bantu PLTU, apabila terjadi ‘black out’ pada sistem kelistrikan Jawa-

Bali.

Beroperasinya PLTU Suralaya diharapkan akan menambah kapasitas dan

keandalan

tenaga

listrik

di

Pulau

Jawa-Bali

yang

terhubung

dalam

sistem

23

interkoneksi se-Jawa dan Bali. Mensukseskan program pemerintah dalam rangka

penganekaragaman

sumber

energi

primer

untuk

pembangkit

tenaga

listrik

sehingga

lebih

menghemat

BBM,

juga

meningkatkan

kemampuan

bangsa

Indonesia dalam menyerap

teknologi

maju,

penyediaan

lapangan

kerja,

peningkatan

taraf

hidup masayarakat dan pengembangan wilayah sekitarnya

sekaligus meningkatkan produksi dalam negeri.

II. 7. 2.

Lokasi PLTU Suralaya

PLTU Suralaya terletak di desa Suralaya, Kecamatan Pulo Merak, Serang,

Banten. 120 km ke arah barat dari Jakarta menuju pelabuhan Ferry Merak, dan 7

km ke arah utara dari Pelabuhan Merak tersebut.

4 x 400 MW
4 x 400
MW

Gambar 2.2. Lokasi PLTU Suralaya

24

1. Main fuel oil tank 2. CWpump#1-7 3. Administration building 4. Stacks 5. Boiler house
1.
Main fuel oil tank
2.
CWpump#1-7
3.
Administration building
4.
Stacks
5.
Boiler house # 1-7
22
6.
Turbine gen. House #1-7
7.
Control room#1-7
8.
CW discharge cannal
9.
150 kV switch yard
10
Simulator building
11
Security building
16
17
12PLNPrject office
13 EHVsubst. Building
20
14 Newstorage
15 Old ST. recalimer
19
16 NewST. reclaimer
Coal open storage
21
29
18
26
1
1
15
28
17 Setlementbasin
2
18 Semi perm. JETTY
25
4 27
19 Oil JETTY
24
20 DERMAGAI
23
21 CW intake culverts
5
5
5 5
555
14
22 DERMAGAII
6
6
23 Ash conveyor
7
7
8
24 Ash disposal area
25 Water treatment area
3
500kV
26 Chlorination plant
11
SY
27 H2plant
28 Old storage
29 Coalconveyor
30 Ro-Ro Jetty
12
9
10
Gambar 2.3. Denah PLTU Suralaya

Luas area PLTU Suralaya adalah ±254 ha, terdiri dari :

Tabel II.5. Luas Area PLTU Suralaya

Area

Nama Lokasi

Luas (Ha)

A

Gedung Sentral

30

B

Ash Valley

8

C

Kompleks Perumahan

30

D

Coal Yard

20

E

Tempat Penyimpanan Alat-alat Berat

2

F

Switch Yard

6,3

G

Gedung Kantor

6,3

H

Sisanya berupa tanah dan perbukitan

157,4

 

Jumlah

254

25

II. 7. 3.

Struktur Organisasi.

Struktur organisasi yang baik sangat diperlukan dalam suatu perusahaan,

semakin besar perusahaan tersebut semakin kompleks organisasinya. Secara

umum dapat dikatakan, struktur organisasi merupakan suatu gambaran secara

skematis yang menjelaskan tentang hubungan kerja, pembagian kerja, serta

tanggung jawab dan wewenang dalam mencapai tujuan organisasi yang telah

ditetapkan semula.

General Manajer UBP Suralaya Management Deputi Deputi Representative Deputi General Manajer General Manajer
General Manajer
UBP Suralaya
Management
Deputi
Deputi
Representative
Deputi
General Manajer
General Manajer
General Manajer
Operasi dan
Pengelolaan
Bidang Umum
Pemeliharaan
Batubara
Document
Control
Manajer
Manajer
Manager
Logistik
Perencanaan
Ash Handling
Evaluasi dan
Engineering
Manajer
Manajer
Pengembangan
Coal Handling
Usaha
Manajer
Pemeliharaan 1-4
Manajer
Manajer
Pelabuhan
Sumber Daya
Manajer
Manusia
Pemeliharaan 5-7
Manajer
Manajer
Keuangan
Operasi 1-4
Manajer
Manajer
Humas
Operasi 5-7

Gambar 2.4. Struktur Organisasi PT. Indonesia Power UBP Suralaya

26

PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya, secara struktural

puncak pimpinannya dipegang oleh seorang General Manajer yang dibantu oleh

Deputi General Manajer dan Manajer Bidang. Secara lengkap, struktur organisasi

PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya diperlihatkan pada

Gambar 2.4.

II. 7. 4.

Proses Produksi Tenaga Listrik PLTU

PLTU Suralaya telah direncanakan dan dibangun untuk menggunakan

batubara

sebagai

bahan

bakar

utamanya.

Sedangkan

sebagai

bahan

bakar

cadangan menggunakan bahan bakar residu, Main Fuel Oil (MFO) dan juga

menggunakan solar,

High Speed Diesel (HSD) sebagai bahan bakar ignitor atau

pemantik pada penyalaan awal dengan bantuan udara panas bertekanan. Batubara

diperoleh dari tambang Bukit Asam, Sumatera Selatan dari jenis subbituminous

dengan nilai kalor 5000-5500 kkal/kg.

Transportasi batubara dari mulut tambang Tanjung Enim ke pelabuhan

Tarahan dilakukan dengan kereta api. Selanjutnya dibawa dengan kapal laut ke

Jetty Suralaya.

27

COAL TRANSPORTATION ROUTE Palembang Prabumulih South Sumatra M. Enim B. Raja K. Bumi Tarahan Suralaya
COAL TRANSPORTATION ROUTE
Palembang
Prabumulih
South Sumatra
M. Enim
B. Raja K. Bumi
Tarahan
Suralaya PP
Sunda Strait
Banten
Jakarta
West Java
Gambar 2.5. Rute Transportasi Batubara dari Tanjung Enim ke PLTU Suralaya

Batubara yang dibongkar dari kapal di Coal Jetty dengan menggunakan

Ship

Unloader

atau

dengan

peralatan

pembongkaran

kapal

itu

sendiri,

dipindahkan

ke

hopper

dan

selanjutnya

diangkut

dengan

conveyor

menuju

penyimpanan sementara (temporary stock) dengan melalui Telescopic Chute (2)

atau dengan menggunakan Stacker/Reclaimer (1) atau langsung batubara tersebut

ditransfer malalui Junction House (3) ke Scrapper Conveyor (4) lalu ke Coal

Bunker (5), seterusnya ke Coal Feeder (6) yang berfungsi mengatur jumlah aliran

ke Pulverizer (7) dimana batubara digiling dengan ukuran yang sesuai kebutuhan

menjadi serbuk yang halus.

28

28 Gambar 2.6. Produksi Tenaga Listrik PLTU Suralaya Keterangan : 1. Stacker Reclaimer 2. Telescopic Chute

Gambar 2.6. Produksi Tenaga Listrik PLTU Suralaya

Keterangan :

1. Stacker Reclaimer

2. Telescopic Chute

3. Junction House

4. Scraper Conveyor

5. Coal Bunker

6. Coal Feeder

7.

Pulverizer

8. Primary Air Fan

9. Coal Burner

10. Forced Draft Fan

11.

Air heater

17. Reheater

18. Intermediate Pressure Turbin

19. Low Pressure Turbine

20. Rotor Generator

21. Stator Generator

22. Generator Transformer

23.

Condenser

24. Condensate Excraction Pump

25. Low Pressure Heater

26. Sea Water

27.

Deaerator

29

12. Induced Draft Fan

13. Electrostatic Precipitator

14.

Stack

15. Superheater

16. High Pressure Turbine

28. Boiller Feed Pump

29. High Pressure Heater

30.

Economizer

31. Steam Drum

32. Circulating Water Pump

Serbuk batubara ini dicampur dengan udara panas dari Primary Air Fan

(8) dan dibawa ke Coal Burner (9) yang menyemburkan batubara tersebut ke

dalam ruang bakar untuk proses pembakaran dan terbakar seperti gas untuk

mengubah air menjadi uap. Udara pembakaran yang

digunakan pada ruanga

bakar dipasok dari Forced Draft Fan (FDF) (10) yang mengalirkan udara

pembakaran melalui Air Heater (11). Hasil proses pembakaran yang terjadi

menghasilkan limbah berupa abu dalam perbandingan 14:1. Abu yang jatuh ke

bagian bawah boiler secara periodik dikeluarkan dan dikirim ke Ash Valley. Gas

hasil pembakaran dihisap keluar dari boiler oleh Induce Draft Fan (IDF) (12) dan

dilewatkan melalui Electric Precipitator (13) yang menyerap 99,5% abu terbang

dan

debu

dengan

sistem

elektroda,

lalu

dihembuskan

ke

udara

melalui

cerobong/Stak (14). Abu dan debu kemudian dikumpulkan dan diambil dengan

alat pneumatic gravity conveyor yang digunakan sebagai material pembuat jalan,

semen dan bahan bangunan (conblok).

Panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar, diserap oleh pipa

pipa penguap (water walls) menjadi uap jenuh atau uap basah yang kemudian

dipanaskan di Super Heater (SH) (15) yang menghasilkan uap kering. Kemudian

uap tersebut dialirkan ke Turbin tekanan tinggi High Pressure Turbine (16),

30

dimana uap tersebut diexpansikan melalui Nozzles ke sudu-sudu turbin. Tenaga

dari uap mendorong sudu-sudu turbin dan membuat turbin berputar. Setelah

melalui HP Turbine, uap dikembalikan kedalam Boiler untuk dipanaskan ulang di

Reheater (17) guna menambah kualitas panas uap sebelum uap tersebut digunakan

kembali di Intermediate Pressure (IP) Turbine (18) dan Low Pressure (LP)

Turbine (19).

Sementara itu, uap bekas dikembalikan menjadi air di Condenser (23)

dengan pendinginan air laut (26) yang dipasok oleh Circulating Water Pump (32).

Air

kondensasi

akan

digunakan

kembali

sebagai

air

pengisi

Boiler.

Air

dipompakan dari kondenser dengan menggunakan Condensate Extraction Pump

(24), pada awalnya dipanaskan melalui Low Pressure Heater (25), dinaikkan ke

Deaerator (27) untuk menghilangkan gas-gas yang terkandung didalam air. Air

tersebut

kemudian

dipompakan

oleh

Boiler

Feed

Pump

(28)

melalui

High

Pressure Heater (29), dimana air tersebut dipanaskan lebih lanjut sebelum masuk

kedalam Boiler pada Economizer (30), kemudian air masuk ke Steam Drum (31).

Siklus air dan uap ini berulang secara terus menerus selama unit beroperasi.

Poros turbin dikopel dengan Rotor Generator (20), maka kedua poros

memiliki jumlah putaran yang sama. Ketika telah mencapai putaran nominal 3000

rpm, pada Rotor generator dibuatlah magnetasi dengan Brushless Exitation System

dengan demikian Stator Generator (21) akan membangkitkan tenaga listrik

dengan

tegangan

23

kV.

Listrik

yang

dihasilkan

kemudian

disalurkan

ke

Generator

Transformer

(22)

untuk

dinaikan

tegangannya

menjadi

500

kV.

Sebagian besar listrik tersebut disalurkan kesistem jaringan terpadu (Interkoneksi)

31

se-Jawa-Bali melalui saluran udara tegangan extra tinggi 500 kV dan sebagian

lainnya disalurkan ke gardu induk Cilegon dan daerah Industri Bojonegara

melalui saluran udara tegangan tinggi 150 kV.

II.8. Dampak Lingkungan

Untuk menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan, dilakukan

pengendalian dan pemantauan secara terus menerus agar memenuhi persyaratan

yang ditentukan oleh Pemerintah dalam hal ini Keputusan Menteri Negara

Lingkungan

Hidup

no.

02/MENLH/1988

tanggal

19-01-1988

tentang

Nilai

Ambang Batas dan no. 13/MENLH/3/1995 tanggal 07-03-1995 tentang Baku

Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak.

Untuk itu PLTU Suralaya dilengkapi peralatan antara lain :

A. Electrostatic Precipitator, yaitu alat penangkap abu hasil sisa pembakaran

dengan efisiensi 99,5%.

B. Cerobong asap setinggi 218 m dan 275 m, agar kandungan debu dan gas sisa

pembakaran sampai ground level masih dibawah ambang batas.

C. Sewage Treatment dan Neutralizing Basin yaitu pengolahan limbah cair agar

air buangan tidak mencemari lingkungan.

D. Peredam suara untuk mengurangi kebisingan oleh suara mesin produksi. Di

unit 5-7 kebisingan suara mencapai 85-90 dB.

E. Alat-alat pemantau lingkungan hidup yang ditempatkan di sekitar PLTU

Suralaya.

F. CW Discharge Cannel sepanjang 1,9 km dengan sistem saluran terbuka.

G. Pemasangan Stack Emmision.

32

H. Penggunaan Low NOx Burners.

II.9. Data Teknik Komponen Utama PLTU Suralaya.

A. Data Teknik Peralatan PLTU Suralaya Unit 1 – 4

1. Ketel (Boiler)

Pabrik pembuat

Tipe

Wall Outdoor

: Babcock & Wilcox, Canada

: Natural Circulation Single Drum Radiant

Kapasitas

: 1168 ton uap/jam

Tekanan uap keluar superheater

: 174 kg/cm 2

Suhu uap keluar superheater

: 540 o C

Tekanan uap keluar reheater

: 39,9 kg/cm 2

Bahan bakar utama

: Batubara

Bahan bakar cadangan

: Minyak residu

Bahan bakar untuk penyalaan awal: Minyak solar

2. Turbin

Pabrik pembuat

:

Mitsubishi Heavy Industries, Japan

Tipe

:

Tandem Compound Double Exhaust

Kapasitas

:

400 MW

Tekanan uap masuk

:

169 kg/cm 2

Temperatur uap masuk

:

538 o C

Tekanan uap keluar

:

56 mmHg

Kecepatan putaran

:

3000 rpm

33

 

Jumlah tingkat

:

3 tingkat

- Turbin tekanan tinggi

:

12 sudu

- Turbin tekanan menengah

:

10 sudu

- Turbin tekanan rendah 1

:

2 x 8 sudu

- Turbin tekanan rendah 2

:

2 x 8 sudu

3.

Generator

Pabrik pembuat

:

Mitsubishi Electric Corporation,

Japan

Kecepatan putaran

:

3000 rpm

Jumlah fasa

:

3

Frekuensi

:

50 Hz

Tegangan

:

23 kV

KVA keluaran

:

471 MVA

kW

:

400.350 kW

Arus

:

11.823 A

Faktor daya

:

0,85

Rasio hubung singkat

:

0,5

Media pendingin

:

Gas Hidrogen

Tekanan gas H 2

:

4 kg/cm 2

Volume gas

:

80 m 3

Tegangan penguat medan

:

500 V

Kumparan

:

Y

34

a. Penguat Medan Tanpa Sikat (Brushless Exciter)

Pabrik pembuat

:

Mitsubishi

Electric

Corporation,

Japan

Tipe

:

Totally enclosed

 

kW keluaran

:

2400 kW

Tegangan

:

500 V

Arus

:

4800 A

Kecepatan putaran

:

3000 rpm

b. Penyearah (Rotating rectifier)

Pabrik pembuat

:

Mitsubishi

Electric

Corporation,

Japan

Tipe

:

Penyearah silicon (silicon rectifier)

kW keluaran

:

2400 kW

Tegangan

:

500 V

Arus

:

400 A

c. Penguat Medan AC (AC Exciter)

Pabrik pembuat

:

Mitsubishi

Electric

Corporation,

Japan

Tipe

:

Rotating Armature

 

kVA keluaran

:

2700 kVA

Tegangan

:

410 V

Jumlah fasa

:

3

Frekuensi

:

250 Hz

35

d. Penguat Medan Bantu (Pilot Exciter)

 

Pabrik pembuat

:

Mitsubishi

Electric

Corporation,

Japan

Tipe

:

Permanet Magnetic Field

 

kVA keluaran

:

30 kVA

Tegangan

:

170 V

Arus

:

102 A

Frekuensi

:

400 Hz

Jumlah fasa

:

3

Faktor daya

:

0,95

 

e.

Lain-lain

 

Dioda silicon

:

SR 200 DM

Sekering

:

1200 A, 1 detik

 

Kondenser

:

0,6 µF

5.

Pulverizer (Penggiling Batubara)

 

Pabrik pembuat

:

Babcock & Wilcox, Canada

Tipe

 

:

MPS-89

Kapasitas

:

63.000 kg/jam, kelembaban batubara

23,6%

 

Kelembutan hasil penggilingan

:

200 Mesh

Kecepatan putaran

:

23,5 rpm

Motor penggerak

:

522 kW/6 kV/706 A/ 50 Hz

36

6. Pompa Pengisi Ketel (Boiler Feedwater Pump)

Pabrik pembuat

:

Ingersollrand, Canada

 

Tipe

:

65 CHTA – 5 stage

Kapasitas

:

725 ton/jam

N.P.S.H

:

22,2 m

Tekanan

:

216 kg/cm 2

Motor penggerak

:

6338,5 kW/6 kV/50 Hz/3 fasa

7. Pompa Air Pendingin

Pabrik pembuat

:

Mitsubishi Heavy Industries, Japan

Tipe

:

Vertical Mixed Flow

 

Kapasitas

:

31.500 m 3 /jam

Discharge head

:

12,5 m

Tekanan

: