Anda di halaman 1dari 19

RUANG LINGKUP LAPORAN KEUANGAN

Makalah

Disusun untuk memenuhi tugas Analisa Laporan Keuangan

Oleh: 1. Siti Nur Indah Sari


2. Sheima Kartikarini 3. Ailen Salim

C1C107061 C1C107241 C1C109120 C1C109122

4. Meiliyani Fatmasari

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN 2011

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatNya, Penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Tim Dosen yang telah memberikan kepercayaan kepada Penulis untuk menyusun makalah ini. Makalah ini diberi judul Ruang Lingkup Laporan Keuangan. Dalam makalah ini, Penulis akan membahas mengenai hal apa saja yang terkait dengan laporan keuangan. Tentunya Penulis menyadari makalah ini tidak lepas dari kesalahan. Oleh karena itu, Penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca yang dapat Penulis gunakan sebagai bahan pertimbangan di waktu mendatang. Akhir kata, Penulis berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Banjarmasin,

Juli 2011

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ................................................................................................................... 2 Daftar Isi ............................................................................................................................ 3 Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Penulisan ............................................................................................ 4 1.2 Tujuan Penulisan ......................................................................................................... 4 1.3 Sistematika Penulisan .................................................................................................. 4 Bab II Pembahasan 2.1 Definisi Laporan Keuangan dan Analisis Laporan Keuangan ................................... 5 2.2 Tujuan Laporan Keuangan .......................................................................................... 5 2.3 Pihak-Pihak Yang Menggunakan Laporan Keuangan dan Tujuan Penggunaannya ........................................................................................ 6 2.4 Syarat-syarat Laporan Keuangan ................................................................................ 7 2.5 Sifat Laporan Keuangan .............................................................................................. 7 2.6 Keterbatasan Laporan Keuangan ............................................................................... 10 2.7 Laporan Keuangan yang Dapat Dipercaya ................................................................ 11 2.8 Jenis-Jenis Laporan Keuangan ................................................................................... 12 2.9 Bentuk Penyajian Laporan Keuangan ........................................................................ 13 2.10 Hubungan Antara Neraca dan Laporan Laba/Rugi .................................................. 16 Bab III Penutup 3.1 Kesimpulan ................................................................................................................ 17

Daftar Pustaka .................................................................................................................. 19

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penulisan Materi ini perlu dibahas karena laporan keuangan merupakan alat yang vital bagi suatu perusahaan. Mengapa? Karena di dalam laporan keuangan tercakup semua informasi / data yang diperlukan pihak-pihak terkait untuk menilai kinerja dari suatu perusahaan dan juga sebagai pedoman untuk pengambilan keputusan. Namun dibalik betapa pentingnya suatu laporan keuangan, laporan keuangan sendiri tentunya memiliki berbagai keterbatasan. Hal ini juga perlu diketahui secara lebih mendetail agar para penggunanya bisa mempergunakan laporan keuangan tersebut secara tepat. Hal ini juga mendasari betapa pentingnya materi ini. Menurut Penulis, sebelum kita menganalisa sesuatu, kita haruslah mengenal objek tersebut secara mendalam. Oleh karena itu, dalam karya tulis ini, Penulis mencoba untuk membahas mengenai ruang lingkup laporan keuangan. 1.2 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan dari karya tulis ini adalah sebagai berikut: Untuk memahami apa itu laporan keuangan dan hal-hal yang berkaitan Untuk mengetahui jenis-jenis laporan keuangan. erat dengan laporan keuangan.

1.3 Sistematika Penulisan Dalam menulis karya tulis ini, Penulis menggunakan metode kepustakaan (literatur), di mana Penulis mencari informasi-informasi dari beberapa referensi yang ada.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Laporan Keuangan dan Analisis Laporan Keuangan Laporan keuangan adalah hasil refleksi dari sekian banyak transaksi yang terjadi dalam suatu perusahaan (Djarwanto, 1997: 4). Sedangkan Munawir mendefinisikan laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktifitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktifitas perusahaan tersebut (1999: 2). Menurut Harahap (2006: 190) analisis laporan keuangan adalah menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang mempunyai makna antara satu dengan lain baik antara data kuantitatif maupun data non kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat. Menurut Bernstein (1983: 3) dalam Harahap (2006: 190) analisis laporan keuangan mencakup penerapan metode dan teknik analitis atas laporan keuangan dan data lainnya untuk melihat dari laporan itu ukuran-ukuran dan hubungan tertentu yang sangat berguna dalam proses pengambilan keputusan.

2.2 Tujuan Laporan Keuangan APB Statement No.4 (AICPA) dalam Harahap (2006: 133), menggambarkan tujuan laporan keuangan dengan membaginya menjadi dua yaitu:

Tujuan umum menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan secara wajar sesuai prinsip akuntansi yang diterima.

Tujuan khusus memberikan informasi tentang kekayaan, kewajiban, kekayaan bersih, proyeksi laba, perubahan kekayaan dan kewajiban, serta informasi lainnya yang relevan.

Sedangkan menurut SAK (Harahap, 2006: 134), tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

2.3 Pihak-Pihak Adapun a.

Yang

Menggunakan yang

Laporan

Keuangan keuangan

Dan dan

Tujuan tujuan

Penggunaannya pihak-pihak menggunakan laporan penggunaannya adalah sebagai berikut: Pemilik Perusahaan; laporan keuangan digunakan untuk menilai hasildi masa yang akan hasil yang telah dicapai dan untuk memprediksi hasil datang. b. Manajer atau Pimpinan Perusahaan; laporan keuangan digunakan hasil kerja masing-masing individu yang telah diserahi untuk mengukur tingkat biaya, mengukur efisiensi tiap aktifitas perusahaan, mengukur tanggungjawab dan wewenang, pengambilan keputusan dalam memperbaiki kinerja perusahaan. c. Investor; laporan keuangan digunakan untuk pertimbangan perlu tidaknya berinvestasi dalam suatu perusahaan tertentu, memprediksi hasil dari dana yang ditanamkan ke perusahaan tertentu. d. Kreditur dan bankers; laporan keuangan digunakan untuk menerima atau menolak permintaan kredit (pinjaman).

e. f.

Pemerintah;

untuk

menetapkan

besarnya

pajak,

sebagai

dasar

perencanaan pemerintah. Analis, Akademis, Pusat Data Bisnis; sumber informasi yang berguna.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa laporan keuangan memiliki kegunaan untuk menilai kemampuan perusahaan; baik itu dalam memenuhi kewajiban jangka panjang maupun pendek, pengembalian atas investasi, perputaran kas, keefektifan dalam penggunaan aktiva, dan lain-lain.

2.4 Syarat-syarat Laporan Keuangan Adapun syarat syarat laporan keuangan, antara lain: 1. Relevan artinya bahwa informasi yang dijadikan harus adalah hubungan dengan pihak-pihak yang memerlukan untuk mengambil keputusan. 2. Dapat dimengerti artinya bahwa laporan keuangan yang disusun berdasarkan secara jelas dan mudah dipahami oleh para pemakainya. 3. Daya uji artinya bahwa laporan keuangan yang disusun berdasarkan konsepkonsep dasar akuntansi dan prinsip-prinsip akuntansi yang dianut, sehingga dapat diuji kebenarannya oleh pihak lain. 4. Netral artinya bahwa laporan keuangan yang disajikan bersifat umum, objektif dan tidak memihak pada kepentingan pemakai tertentu. 5. Tepat waktu artinya bahwa laporan keuangan harus di sajikan tepat pada waktunya . 6. Daya banding artinya bahwa perbandingan laporan keuangan dapat diadakan baik antara laporan perusahaan dalam tahun tertentu dengan tahun sebelumnya atau laporan keuangan perusahaan tertentu dengan perusahaan lain pada tahun yang sama. 7. Lengkap artinya bahwa laporan keuangan yang disusun harus memenuhi syaratsyarat tersebut diatas dan tidak menyesatkan pembaca.

2.5 Sifat Laporan Keuangan Laporan keuangan bersifat historis, terdiri dari : 1. Fakta yang telah dicatat (Recorded fact). Laporan keuangan disusun berdasarkan fakta-fakta yang telah dicatat dalam catatan akuntansi. Di mana fakta-fakta tersebut telah terjadi di masa yang lalu. 2. Prinsip-prinsip dan kebiasaan-kebiasaan di dalam akuntansi (accounting convention and postulate). Prinsip-prinsip dan kebiasaan-kebiasaan yang diterapkan dalam laporan keuangan merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang berterima umum (General Accepted Accounting Principles). Dalam APB Statement No. 4 (Harahap, 2006: 141-143), ada beberapa prinsip yang mendasari setiap sifat dan ciri laporan keuangan, yaitu: a. Entitas (Accounting Entity). Yang menjadi fokus perhatian akuntansi adalah entity tertentu yang harus jelas memisahkan hak dan kewajiban pemilik atau pihak lain dengan entity perusahaan. Keduanya terpisah dari badan atau entity yang lain. Sehingga transaksi dicatat untuk kepentingan dan dari sudut posisi perusahaan tertentu yang terpisah dari pemiliknya. b. Kontinuitas Operasi (Going Concern). Dalam menyusun laporan keuangan harus dianggap bahwa perusahaan (entity) yang dilaporkan akan terus beroperasi di masa-masa yang akan datang, kecuali dinyatakan lain. Sehingga nilai yang dilaporkan tidak akan sama dengan nilai sekarang atau nilai likuidasi. c. Pengukuran (Measurement). Akuntansi adalah sebagai media pengukuran kekayaan ekonomi (Economic Resources) dan kewajiban (liability) beserta perubahannya. d. Periode Waktu (Time Period). Laporan keuangan menyajikan informasi untuk suatu waktu atau periode tertentu. Harus ada batas waktunya bukan tanpa batas. Akuntansi memang mencatat keadaan perusahaan yang dianggap terus beroperasi tetapi karena pemakai laporan ingin informasi yang bersifat intern, maka perlu ditetapkan cut off atau periodesasi.

e. Unit Moneter (Monetary Unit). Pengukuran dalam akuntansi adalah dalam bentuk uang bukan meter, kilogram, atau ukuran lainnya. Transaksi perusahaan dilaporkan dalam ukuran unit moneter, misalnya rupah, dollar, peso, ringgit, rial bukan ukuran kuantitatif lainnya. f. Akrual (Accrual). Penentuan pendapatan dan biaya dari posisi harta dan kewajiban ditetapkan tanpa melihat apakah transaksi Kas telah dilakukan atau tidak. g. Harga Pertukaran (Exchage Price). Nilai yang terdapat dalam laporan keuangan umumnya didasarkan pada harga pertukaran yang timbul dari interaksi dua pihak pada saat kejadiannya. h. Penaksiran (Approximation). Dalam akuntansi tidak dapat dihindarkan penaksiran-penaksiran. Seperti taksiran umur, taksiran harga, pemilihan prinsip pencatatan, penggunaan aset, dan sebagainya. i. Pertimbangan (Judgment). Dalam menyusun laporan keuangan banyak diperlukan pertimbanganpertimbangan berdasarkan keahlian akuntan, baik pertimbangan memilih alternatif prinsip maupun pemilihan cara penyajian lainnya. j. Bertujuan Umum (General Purpose). Informasi yang disajikan alam laporan keuangan yang dihasilkan Akuntansi Keuangan ditujukan bagi pemakai secara umum, bukan pemakaian khusus atau pemakai tertentu. k. Laporan yang Sangat Terkait (Interrelated Statement). Neraca, Daftar Laba/Rugi, dan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana atau laporan keuangan lainnya mempunyai hubungan yang sangat erat dan berkaitan. l. Substance Over Form. Akuntansi lebih menekankan kenyataan ekonomis suatu kejadian daripada bukti legalnya. Misalnya dalam akta Notaris Modal telah dinyatakan

disetor penuh tetapi kenyataan setoran (transaksi) belum ada, maka akuntan berpihak kepada kenyataan yang sebenarnya. m. Materialitas (Materiality). Laporan keuangan hanya memuat informasi yang dianggap penting. Dan dalam setiap pertimbangan yang dilakukannya tetap melihat signifikansinya yang diukur dari pengaruh informasi kepada pengambilan keputusan. 3. Pendapat Pribadi (Personal Judgment). Sekalipun laporan keuangan dibuat berdasarkan fakta yang telah dicatat dalam catatan akuntansi, akan tetapi penggunaan metode-metode, seperti metode penilaian persediaan, metode penyusutan, dan penaksiran piutang tak tertagih, bergantung kepada pihak manajemen perusahaan. Pendapat pribadi dalam laporan keuangan bergantung kepada kemampuan pembuatnya. Pendapat pribadi ini harus diterapkan secara konsisten, dalam artian, tidak selalu berubah-ubah. Namun bukan berarti tidak boleh berubah, hanya saja ketika ingin mengubah metode-metode yang digunakan, kita harus memberitahukannya dalam laporan keuangan tersebut kepada pihak-pihak yang akan menggunakan laporan keuangan.

2.6 Keterbatasan Laporan Keuangan Keterbatasan laporan keuangan antara lain: Adanya pendapat-pendapat pribadi ; di dalam laporan keuangan terdapat banyak pendapat pribadi, sebagai contoh yakni metode yang digunakan dalam menilai persediaan yang akan disajikan dalam laporan keuangan, taksiran biaya depresiasi, pencadangan piutang tak tertagih, dan berbagai prediksi biaya yang belum terealisasi, sehingga laporan keuangan akan bersifat tidak pasti dan tidak mutlak pengukurannya. Tidak memberikan gambaran lengkap tentang perusahaan ; karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi namun tidak dapat disajikan dalam laporan keuangan karena tidak berbentuk uang, contoh reputasi perusahaan, prestasi, eksistensi.

10

Dasar penyusunan yang berubah-ubah sehingga nilai buku belum tentu sama dengan harga pasar. Disusun berdasar transaksi yang telah lewat, dimana nilai pada saat itu kemungkinan besar akan mengalami penurunan/kenaikan di masa akan datang.

2.7 Laporan Keuangan yang Dapat Dipercaya Penilaian atau penganalisaan laporan keuangan dapat dilakukan oleh dua pihak, yaitu pihak intern dan pihak ekstern. Pihak intern adalah pihak yang berada di dalam perusahaan, di mana pihak ini memiliki kebebasan untuk memperoleh data-data akuntansi yang lebih terperinci. Sedangkan pihak ekstern merupakan pihak-pihak di luar perusahaan, di mana pihak-pihak tersebut memiliki ruang gerak yang terbatas (data-data yang diperoleh tidak terperinci). Sebelum menganalisa laporan keuangan, hendaknya kita memastikan terlebih dahulu apakah laporan keuangan tersebut dapat dipercaya atau tidak. Djarwanto dalam bukunya yang berjudul Pokok-Pokok Analisa Laporan Keuangan menuliskan beberapa petunjuk yang dapat kita gunakan untuk mengetahui apakah laporan keuangan dapat dipercaya atau tidak, yakni sebagai berikut: 1. Apakah judul laporan keuangan itu telah disebutkan dengan jelas? Judul laporan keuangan biasanya memuat nama perusahaan, nama laporan, dan tanggal atau periode penyusunan laporan keuangan itu. 2. Apakah terdapat petunjuk tentang dasar penilaian terhadap aktiva atau harta kekayaan perusahaan? Apakah terdapat catatan kaki yang memuat keteranganketerangan tambahan yang perlu dimengerti? Keterangan ini sangat bermanfaat bagi penganalisa ekstern. 3. Apakah laporan keuangan itu telah disusun dengan jelas, artinya apakah berbagai kelompok aktiva dan hutang telah ditunjukkan jumlahnya dengan jelas, dan apakah pengelompokan ini telah dilakukan dengan tepat dan logis? 4. Apakah laporan keuangan itu telah ditandatangani oleh direktur atau pimpinan perusahaan? Direktur adalah orang yang bertanggung jawab atas kebenaran penyusunan laporan keuangan itu.

11

5. Apakah laporan keuangan itu sudah diperiksa oleh akuntan umum? Laporan keuangan yang sudah diperiksa oleh akuntan umum lebih dapat dipercaya karena laporan keuangan itu telah dicocokkan dengan catatan-catatan akuntansinya. Akuntan umum akan memberikan pendapatnya setelah mengadakan penelitian melalui prosedur pemeriksaan yang lazim. 6. Bagaimana reputasi direktur atau pimpinan perusahaan dan akuntan umum yang mengaudit pembukuan perusahaan itu? Nama baik dan kejujuran mereka akan menambah kepercayaan bagi penganalisa. 7. Apakah laporan keuangan itu telah memenuhi ketentuan yang digariskan oleh pemerintah? Misalnya dapat dicocokkan dengan pedoman tentang bentuk dan isi laporan keuangan menurut Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia (Nomor 108/KMK-07/1979).

2.8 Jenis-Jenis Laporan Keuangan Menurut Kasmin (2008: 28-30) dalam prakteknya, secara umum ada lima laporan keuangan yang bisa disusun, yaitu: 1. Neraca (Balance Sheet) : laporan yang menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu. Arti dari posisi keuangan dimaksud adalah posisi jumlah dan jenis aktiva (harta) dan pasiva (kewajiban dan ekuitas) suatu perusahaan. 2. Laporan Laba Rugi (Income Statement) : laporan keuangan yang menggambarkan hasil usaha perusahaan dalam suatu periode tertentu. Dalam laporan laba rugi ini tergambar jumlah pendapatan dan sumber-sumber pendapatan yang diperoleh. 3. Laporan Arus Kas : laporan yang menunjukkan semua aspek yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan, baik yang berpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap kas. Laporan arus kas terdiri arus kas masuk (cash in) dan arus kas keluar (cash out) selama periode tertentu. 4. Laporan Perubahan Ekuitas : laporan yang berisi jumlah dan jenis modal yang dimiliki pada saat ini. Kemudian, laporan ini juga menjelaskan perubahan modal dan sebab-sebab terjadinya perubahan modal di perusahaan.

12

5. Catatan atas Laporan Keuangan : Laporan catatan atas laporan keuangan merupakan laporan yang memberikan informasi apabila ada laporan keuangan yang memerlukan penjelasan tertentu.

2.9 Bentuk Penyajian Laporan Keuangan 1. Neraca Beberapa bentuk neraca, antara lain: Staffel (Report Form)

Skontro ( T Account Form)

13

2. Laporan Laba/Rugi Multiple step Penyusunan laporan laba-rugi dalam bentuk ini disusun secara bertahap mulai dari kelompok pendapatan dan beban usaha, pendapatan luar usahadan beban luar usaha. Sampai dengan kelompok pendapatan lain-lain dan beban lainlain. Bentuk multi step ini banyak digunakan di perusahaan dagang atau perusahaan industri. Bentuk laporan rugi-laba Multiple step sebagai berikut:

Single step Dalam bentuk single step semua jenis pendapatan (pendapatan usaha, dan pendapatan luar usaha dan pendapatan lain-lain) disusun dan dijumlahkan dalam satu kelompok. Kemudian disisihkan dengan jumlah semua jenis beban. Selisih jumlah pendapatan dengan jumlah beban merupakan saldo (sisa) laba atau saldo (sisa) rugi. Bentuk ini banyak digunakan dalam perusahaan jasa. Bentuk laporan Rugi laba single step sebagai berikut:

14

3. Laporan Arus Kas

15

2.10 Hubungan Antara Neraca dan Laporan Laba/Rugi Neraca dan laporan laba/rugi mempunyai hubungan atau keterkaitan satu dengan yang lain. Misalnya kita dapat melihat adanya penambahan atau penurunan modal perusahaan dari neraca dan untuk mengetahui sebab-sebabnya, kita dapat melihat dari laporan laba/rugi. Selain itu, seorang kreditur dapat melihat jaminan yang dapat disediakan perusahaan dari neraca, tetapi sebagai pelengkap, kreditur tersebut juga dapat menilai kemampuan perusahaan dalam membayar pinjamannya dari laporan laba/rugi. Secara sistematis, hubungan tersebut ditunjukkan pada Gambar 1 berikut (Jusuf, 2000: 40-41):

16

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan Laporan keuangan merupakan rangkuman atau ringkasan dari transaksi-transaksi yang dilakukan oleh perusahaan di mana ringkasan tersebut akan mengkomunikasikan data-data akuntansi kepada para penggunanya sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Pengguna laporan keuangan di antaranya: pemilik perusahaan, manajer, investor, kreditur, pemerintah, analis, akademis, pusat data bisnis, dan pihak lainnya. Laporan keuangan terdiri dari lima jenis, yaitu neraca (laporan posisi keuangan), laporan laba/rugi, laporan perubahan modal (ekuitas), laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Adapun syarat-syarat laporan keuangan, antara lain: relevan, dapat dimengerti, daya uji, netral, tepat waktu, daya banding, dan lengkap. Laporan keuangan bersifat historis dan terdiri dari fakta yang telah dicatat, prinsip-prinsip dan kebiasaankebiasaan di dalam akuntansi, dan pendapat pribadi. Laporan keuangan memiliki keterbatasan-keterbasan, yaitu: tidak memberikan gambaran lengkap tentang perusahaan, adanya pendapat pribadi, dasar penyusunan yang berubah-ubah, dan disusun berdasarkan transaksi yang lalu. Sebelum menganalisa laporan keuangan, kita perlu mengetahui apakah suatu laporan keuangan dapat dipercaya atau tidak. Laporan keuangan yang dapat dipercaya umumnya adalah laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Akuntan Publik dan telah ditandatangani oleh direktur perusahaan. Jenis-jenis laporan keuangan saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh, neraca berhubungan dengan laporan laba/rugi. Seorang kreditur dapat mengetahui dari neraca mengenai jaminan apa yang dapat disediakan perusahaan atas pinjamannya. Selain itu, kreditur juga

17

menggunakan laporan laba/rugi untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar pinjamannya. Jadi, laporan keuangan penting untuk mengukur tingkat perkembangan perusahaan, di mana nantinya laporan tersebut akan dianalisa lebih lanjut guna untuk pengambilan keputusan.

18

DAFTAR PUSTAKA

Djarwanto. 1997. Pokok-Pokok Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: BPFE. Harahap, Sofyan Syafri. 2006. Analisis Kritis atas Laporan Keuangan. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Http// anisafitriblue.blogspot.com/2011/02/01-ruang-lingkup-laporan-keuangan.html Http// hadiborneo.wordpress.com/2011/09/21/ruang-lingkup-laporan-keuangan/ Http// iyanotalone.blogspot.com/2011/02/ruang-lingkup-laporan-keuangan_15.html Jusuf, Jopie.2000. Analisis Kredit untuk Account Officer. Cet. 5. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Munawir. 1999. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty.

19