Anda di halaman 1dari 9

TINJAUAN PUSTAKA

Kutu Putih (Pseudococcus spp.)

Menurut Kalshoven (1981), kutu putih (Pseudococcus spp.) dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Mollusca : Gastropoda : Homoptera : Pseudococcidae : Pseudococcus : Pseudococcus spp. Kutu betina berbentuk oval memanjang, beruas, tidak bersayap dan mampu bertelur sampai 300-500 butir,. Telurnya berwarna kuning terbungkus dalam jaringan seperti lilin yang longgar (Borror, 1971). Telur menetas setelah 6-20 hari. Peletakan telur berlangsung selama 1 atau 2 minggu kemudian kutu betina mati. Nimfa muda menghisap cairan dari daun atau buah. Kutu putih bergerak lambat (Metcalf dan Flint, 1992). Nimfa muda gerakannya lamban dan untuk tumbuh sampai dewasa memerlukan waktu 1-4 bulan. Bentuk kutu elips, berwarna coklat kekuningan, panjang 3 mm, tertutup dengan massa putih seperti lilin yang bertepung. Sepanjang tepi badannya terdapat tonjolan terpanjang pada bagian belakang (Rukmana dan Sugandi, 2002).

Universitas Sumatera Utara

Kutu Pseudococcus spp. cepat berkembang di daerah ketinggian 600 mdpl. Hidup secara koloni di bawah tanah dan kadang ditemukan di permukaan buah. Siklus hidup kutu ini sekitar 20-40 hari. Induk betina menghasilkan telur sampai 300 butir (Kalshoven, 1981).

Gambar 1 : Kutu putih (Pseudococcus spp.) Diunduh dari www.ditlin.hortikultura.deptan.go.id (22 Februari 2010)

Gejala Serangan

Penyebaran kutu dapat disebabkan oleh angin, terbawa bibit, terbawa orang, maupun terbawa serangga lain dan terbawa burung. Keberadaan kutu yang cukup tinggi dan bersifat polipag mempunyai potensi menyebar yang sangat cepat. Disamping itu, dari sifat biologisnya yang merusak tanaman dengan cara menghisap cairan tanaman serta mengeluarkan racun, mengakibatkan terjadinya khlorosis, kerdil, malformasi daun, daun muda dan buah rontok, banyak menghasilkan eksudat berupa embun madu sampai menimbulkan kematian tanaman. Dengan demikian kutu putih ini memiliki potensi dapat merugikan ekonomis yang cukup tinggi (Direktorat Jenderal Hortikultura, 2010). Hama ini merusak dengan cara mengisap cairan tanaman. Kuncup bunga dan buah muda yang diserang menjadi kering karena kehabisan cairan. Buah yang diserang menimbulkan kualitasnya menurun (Tjahjadi, 2002).

Universitas Sumatera Utara

Kutu putih merusak penampilan buah manggis. Kutu muda hidup dan menghisap cairan kelopak bunga, tunas atau buah muda. Kutu dewasa mengeluarkan semacam tepung putih yang menyelimuti seluruh tubuhnya (Kuntarsih, 2005). Kutu putih dewasa mengeluarkan cairan seperti gula yang selanjutnya dapat menarik semut hitam dan menyebabkan timbulnya jelaga pada buah. Walaupun rasa buah kurang terpengaruh, kulit buah yang kotor menyebabkan kualitas buah menurun (Balai Penelitian Tanaman Buah, 2006).

Gambar 2 : Gejala serangan kutu putih (Pseudococcus spp.) Diunduh dari www.ditlin.hortikultura.deptan.go.id (22 Februari 2010)

Pengendalian Kutu Putih (Pseudococcus spp.)

Cara kultur teknis - Mengurangi kepadatan tajuk agar tidak terlalu rapat dan saling menutupi; - Mengurangi kepadatan buah. Cara kimiawi - Mencegah semut dengan memberi kapur anti semut; - Menyemprot dengan insektisida dan fungisida yang efektif dan terdaftar (bila ada jelaga hitam).

Universitas Sumatera Utara

Insektisida Nabati

Insektisida botani diperoleh dari tembakau, akar tuba, nimba, pyrethrum (Chrysanthenum cinerariaefolium) dan lainnya (Hall dan Julius, 1999). Insektisida botani diambil secara langsung dari tanaman atau hasil tanaman. Insektisida jenis ini termasuk insektisida yang paling tua dan banyak digunakan untuk pengendalian hama sebelum insektisida organik sintetik ditemukan (Untung, 1996). Nimba (Azadirachta indica A. Juss) Tanaman nimba mengandung bahan aktif azadiraktin (C35H44O16), meliantriol dan nimbin. Azadiraktin mengandung sekitar 17 komponen sehingga sulit untuk menentukan jenis komponen yang paling berperan sebagai pestisida. Kematian hama akibat dari penggunaan nimba terjadi pada pergantian instarinstar berikutnya atau pada proses metamorfosis. Nimba tidak membunuh hama secara cepat, tetapi berpengaruh terhadap hama pada daya makan, pertumbuhan, daya reproduksi, proses ganti kulit, hambatan pembentukan serangga dewasa, menghambat perkawinan, menghambat pembentukan kitin dan komunikasi seksual (Kardinan, 2004). Biji dan daun nimba mengandung beberapa jenis metabolit sekunder yang aktif sebagai pestisida, diantaranya azadirachtin, salanin, meliatriol, dan nimbin. Senyawa kimia tersebut dapat berperan sebagai penghambat pertumbuhan serangga, penolak makan (antifeedant), dan repelen bagi serangga. Metabolit lain yang terdapat di dalam mimba adalah mimbandiol, 3-desasetil salanin, salanol, azadiron, azadiradion, epoksiazadiradion, gedunin, dan alkaloid. Kematian serangga dapat terjadi dalam beberapa hari, tergantung dari stadia dan siklus

Universitas Sumatera Utara

hidup serangga target. Akan tetapi, apabila termakan dalam jumlah kecil saja mengakibatkan serangga tidak bergerak dan berhenti makan. Aktivitas residu insektisida dari azadirachtin ini umumnya terjadi antara 7-10 hari atau lebih lama lagi, tergantung dari jenis serangga dan aplikasinya (Samsudin, 2010b).

Gambar 3 : Rumus bangun azadiraktin Diunduh dari www.totallysynthetic.com (08 Maret 2010) Tanaman nimba (Azadirachta indica) mengandung zat toksik bagi serangga hama. Serangga yang menjadi hama di lapangan maupun pada bahan simpan mengalami kelainan tingkah laku akibat bahan efektif yang dikandung pada nimba (Gruber dan Karganilla, 1989). Berbagai zat aktif terkandung dalam nimba diantaranya adalah azadirachtin, salanin, meliantriol, nimbin, dan nimbidin. Semua zat aktif tersebut bermanfaat bagi kehidupan manusia. Tanaman nimba (Azadirachta indica) ini aman dikonsumsi oleh manusia dan mampu membunuh bakteri serta mikroba berbahaya (Rohmayati dan Khotimah, 2010). Mahoni (Swietenia macrophylla Jacq.) Mahoni mengandung senyawa limonoid, saponin dan flavonoida yang bersifat menghambat makan dan perkembangan serangga. Larutan hasil perasan biji mahoni dengan konsentrasi 3% sangat efektif untuk mengendalikan kutu daun (Macrosiphoniella sanborni) pada tanaman krisan. Larutan ini dibuat dengan cara

Universitas Sumatera Utara

mencampurkan 3 gram biji mahoni dalam 100 ml air, kemudian dihaluskan dengan blender. Cairan kemudian disaring dan dapat disemprotkan pada daun krisan yang terserang. Tingkat mortalitas yang dihasilkan bisa mencapai 90% lebih pada hari keempat setelah aplikasi (Rimansyah, 2010). Biji mahoni mengandung senyawa flavonoid, saponin dan swietenin. Flavonoid dapat menimbulkan kelayuan pada saraf serta kerusakan pada spirakel yang mengakibatkan serangga tidak bisa bernafas dan akhirnya mati. Saponin menunjukkan aksi sebagai racun dan antifeedant pada kutu Lepidoptera, kumbang dan berbagai serangga lain. Sedangkan sweitenin merupakan termasuk senyawa limonoid yang bersifat sebagai antifeedant dan penghambat pertumbuhan (Rosyidah, 2007).

Gambar 4: Rumus bangun flavonoid Diunduh dari www.wikipedia.org (30 Oktober 2010) Ekstrak biji mahoni dengan konsentrasi 2,5%, mengandung deterjen 0,1% dan direbus selama 5 menit memiliki aktifitas insektisida terhadap hama pengisap buah lada, yaitu menyebabkan menurunnya populasi nimfa dan imago (Rachmawati, 2010). Penggunaan insektisida golongan piretroid, pestisida nabati cengkeh, nimba, jarak kepyar pada pertanaman lada di Bangka dapat mengurangi populasi kutu putih. Penggunaan ekstrak air tembakau (10 g/l), mimba (50 g/l), monokrotofos (2 ml formulasi/l), karbofuran 3G (25 g/pH) terhadap kutu

Universitas Sumatera Utara

Planococcus pada tanaman lada di Bangka menunjukkan bahwa tembakau dan mimba sama efektifnya dengan penggunaan insektisida sintetik (karbofuran dan monokrotofos) setelah delapan minggu (Balfas, 2009). Setiap makhluk hidup mempunyai batas toleransi terhadap racun dimana makhluk tersebut tidak mati. Lewat batas tersebut akan menimbulkan kematian pada makhluk hidup yang diuji. Proses kematian akan semakin cepat dengan pertambahan dosis yang digunakan (Natawigena, 2000). Kapur (Kitosan) Perkembangan kesehatan akibat residu pestisida pada buah dan sayur telah menggeser pola pengendalian hama dan penyakit dari penggunaan pestisida ke pengendalian secara biologi. Salah satu bahan alami yang telah direkomendasikan adalah kitosan yang dihasilkan dari proses deasetilasi kitin cangkang kepiting atau eksoskeleton udang. Kitosan melindungi buah melalui 2 mekanisme : fisik dan kimiawi. Secara fisik, kitosan membentuk lapisan film yang membungkus permukaan produk dan mengatur pertukaran gas dan kelembapan. Secara kimiawi, kitosan bersifat merangsang respon resistensi pasca panen pada jaringan tanaman (Pamekas, 2007). Kitin merupakan polimer karbohidrat yang terbentuk melalui ikatan (1- 4) antara monomer-monomer nacetylglucosamine. Kitosan yang merupakan senyawa turunan kitin mempunyai lebih banyak keunggulan bila ditinjau dari segi ekonomi maupun aplikasinya. Sumber utama yang dapat digunakan untuk pengembangan lebih lanjut adalah kitin dari jenis udang-udangan (Crustaceae) (Subadiyasa, 1997).

Universitas Sumatera Utara

Kitosan merupakan produk hasil turunan kitin dengan rumus Nasetil- DGlukosamin, merupakan polimer kationik yang mempunyai jumlah monomer sekitar 2000-3000 monomer dan tidak toksik Kitosan umumnya dibuat dari limbah hasil industri perikanan, seperti udang, kepiting dan rajungan, yaitu dari bagian kepala, kulit ataupun karapas. Larutan kitosan berfungsi sebagai edible coating. Lapisan edible yang terbentuk pada permukaan dapat memperpanjang masa simpan dengan cara menahan laju respirasi, transmisi, dan pertumbuhan mikroba (Suptijah et al., 2008).

Gambar 5: Rumus bangun kitosan Diunduh dari www.wikipedia.org (30 Oktober 2010)

Kitosan berkerja sebagai racun perut, sehingga dapat mengganggu sistem pencernaan hama dan secara perlahan akan mematikan hama. Kitosan selain ramah terhadap lingkungan, bahan baku limbah golongan crustacea khususnya rajungan juga mudah didapatkan sehingga sumber daya lokal yang selama ini dimiliki dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bahan kimia (Zakiah, et al., 2007) Kitosan diproduksi dengan proses deasetilasi lapisan kitin yang terdapat di cangkang hewan crustaceae (udang-udangan) seperti udang, lobster, dan kepiting. Di bidang pertanian, kitosan bukan hanya mampu membentuk lapisan tipis permeabel terhadap gas sehingga dilaporkan mampu rnenghambat pemasakan buah, tetapi juga dilaporkan mampu berfungsi sebagai biofungisida. Karena peran

Universitas Sumatera Utara

gandanya ini, dan diklaim 100% aman bagi kesehatan, perannya di bidang pertanian menjadi semakin popular. Walaupun demikian, informasi ilmiah tentang penggunaannya sebagai pelapis buah (fruit coating) pada buah-buah tropis sulit diperoleh (Widodo, 2009). Dalam industri pangan, kitin dan kitosan bermanfaat sebagai pengawet dan penstabil warna produk. Secara kimia kitin adalah molekul besar (polimer). Senyawa ini tidak dapat disintesis secara kimia dan tersusun oleh satuan molekul N-asetil-D-glukosamin. Kalau bagian asetil ini dibuang, maka kita akan memperoleh kitosan. Struktur ini memiliki fungsi yang lebih bervariasi beberapa contoh aplikasi kitin dan kitosan dalam bidang nutrisi (suplemen dan sumber serat), pangan (nutraceutical, flavor, pembentuk tekstur, emulsifier, penjernih minuman), medis (mengobati luka, contact lens, membran untuk dialisis darah, antitumor), kesehatan kulit dan rambut (krim pelembab, hair care product), lingkungan dan pertanian (penjernih air, menyimpan benih, fertilizer dan fungisida) lain-lain (proses finishing kertas dan menyerap warna pada produk cat) (Suhartono, 2006).

Universitas Sumatera Utara