Anda di halaman 1dari 11

ASKEP TINEA KRURIS

I. DEFINISI Tinea adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya lapisan teratas pada kulit pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan golongan jamur dermatofita (jamur yang menyerang kulit). Tinea kruris sendiri merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur pada daerah genitokrural (selangkangan), sekitar anus, bokong dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah. Tinea Cruris adalah dermatofitosis pada sela paha, perineum dan sekitar anus. Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsun seumur hidup. Lesi kulit dapat terbatas pada daerahgenito-krural saja atau bahkan meluas ke daerah sekitar anus, daerah gluteus dan perut bagian bawah atau bagian tubuh yang lain. Tinea cruris mempunyai nama lain eczema marginatum, jockey itch, ringworm of the groin, dhobie itch (Rasad, Asri, Prof.Dr. 2005) Tinea cruris adalah infeksi dari permukaan kulit yang mempengaruhi daerah pangkal paha, termasuk alat kelamin , daerah kemaluan dandaerah perianal . Hal ini terutama mempengaruhi orang-orang dan dominan cuaca hangat dan lembab. Hal ini disebabkan oleh jamurdermatofit Trichophyton rubrum dan kadang-kadang oleh Candida albicans , Trichophyton mentagrophytes dan floccosum Epidermophyton. Tinea cruris, juga dikenal sebagai rasa gatal selangkangan, selangkangan busuk, marginatum Eksi, rasa gatal pusat , rasa gatal atlet, dan Kurap pangkal paha di Amerika Inggris: 303 dan dhobi rasa gatal atau scrot membusuk di british Bahasa Inggris, (rujuka) adalah dermatofit infeksi jamur dari selangkangan daerah di kedua jenis kelamin , meskipun lebih sering terlihat pada pria. II. ETIOLOGI Penyebab utama dari tinea cruris Trichopyhton rubrum (90%) danEpidermophython fluccosum Trichophyton mentagrophytes (4%), Trichopyhton tonsurans (6%) (Boel, Trelia.Drg. M.Kes.2003) Pria lebih sering terkena daripada wanita. Maserasi dan oklusi kulit lipat paha menyebabkan peningkatan suhu dan kelembaban kulit yang akan memudahkan infeksi. Tinea kruris biasanya timbul akibat penjalaran infeksi dari bagian tubuh lain. Penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan individu yang terinfeksi atau tidak langsung melalui benda yang mengandung jamur, misalnya handuk, lantai kamar mandi, tempat tidur hotel dan lain-lain. III. EPIDEMIOLOGI Tinea cruris dapat ditemui diseluruh dunia dan paling banyak di daerah tropis. Angka kejadian lebih sering pada orang dewasa, terutama laki-laki dibandingkan perempuan. Tidak ada kematian yang berhubungan dengan tinea cruris.Jamur ini sering terjadi pada orang yang kurang memperhatikan kebersihan diri atau lingkungan sekitar yang kotor dan lembab
1

IV. PATOFISIOLOGI Cara penularan jamur dapat secara angsung maupun tidak langsung. Penularan langsung dapat secara fomitis, epitel, rambut yang mengandung jamur baik dari manusia, binatang, atau tanah. Penularan tidak langsung dapat melalui tanaman, kayu yang dihinggapi jamur, pakaian debu. Agen penyebabjuga dapat ditularkan melalui kontaminasi dengan pakaian, handuk atau sprei penderita atau autoinokulasi dari tinea pedis, tinea inguium, dan tinea manum. Jamur ini menghasilkan keratinase yang mencerna keratin, sehingga dapat memudahkan invasi ke stratum korneum. Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya didalam jaringan keratin yang mati. Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke jaringan epidermis dan menimbulkan reaksi peradangan. Pertumbuhannya dengan pola radial di stratum korneum menyebabkan timbulnya lesi kulit dengan batas yang jelas dan meninggi (ringworm). Reaksi kulit semula berbentuk papula yang berkembang menjadi suatu reaksi peradangan. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya kelainan di kulit adalah: a. Faktor virulensi dari dermatofita Virulensi ini bergantung pada afinitas jamur apakah jamur antropofilik, zoofilik, geofilik. Selain afinitas ini massing-masing jamur berbeda pula satu dengan yang lain dalam hal afinitas terhadap manusia maupun bagian-bagian dari tubuh misalnya: Trichopyhton rubrum jarang menyerang rambut, Epidermophython fluccosum paling sering menyerang liapt paha bagian dalam. b. Faktor trauma Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil lebih susah untuk terserang jamur. c. Faktor suhu dan kelembapan Kedua faktor ini jelas sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur, tampak pada lokalisasi atau lokal, dimana banyak keringat seperti pada lipat paha, sela-sela jari paling sering terserang penyakit jamur. d. Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur dimana terlihat insiden penyakit jamur pada golongan sosial dan ekonomi yang lebih rendah sering ditemukan daripada golongan ekonomi yang baik e. Faktor umur dan jenis kelamin

V. MANIFESTASI KLINIS a. Anamnesis Keluhan penderita adalah rasa gatal dan kemerahan di regio inguinalis dan dapat meluas ke sekitar anus, intergluteal sampai ke gluteus. Dapat pula meluas ke supra pubis dan abdomen bagian bawah. Rasa gatal akan semakin meningkat jika banyak berkeringat. Riwayat pasien sebelumnya adalah pernah memiliki keluhan yang sama. Pasien berada pada tempat yang
2

beriklim agak lembab, memakai pakaian ketat, bertukar pakaian dengan orang lain, aktif berolahraga, menderita diabetes mellitus. Penyakit ini dapat menyerang pada tahanan penjara, tentara, atlit olahraga dan individu yang beresiko terkena dermatophytosis. b. Pemeriksaan Fisik Efloresensi terdiri atas bermacam-macam bentuk yang primer dan sekunder. Makula eritematosa, berbatas tegas dengan tepi lebih aktif terdiri dari papula atau pustula. Jika kronis atau menahun maka efloresensi yang tampak hanya makula hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya dan disertai likenifikasi. Garukan kronis dapat menimbulkan gambaran likenifikasi. Manifestasi tinea cruris : 1. Makula eritematus dengan central healing di lipatan inguinal, distal lipat paha, dan proksimal dari abdomen bawah dan pubis 2. Daerah bersisik 3. Pada infeksi akut, bercak-bercak mungkin basah dan eksudatif 4. Pada infeksi kronis makula hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya dan disertai likenifikasi 5. Area sentral biasanya hiperpigmentasi dan terdiri atas papula eritematus yang tersebar dan sedikit skuama 6. Penis dan skrotum jarang atau tidak terkena 7. Perubahan sekunder dari ekskoriasi, likenifikasi, dan impetiginasi mungkin muncul karena garukan 8. Infeksi kronis bisa oleh karena pemakaian kortikosteroid topikal sehingga tampak kulit eritematus, sedikit berskuama, dan mungkin terdapat pustula folikuler 9. Hampir setengah penderita tinea cruris berhubungan dengan tinea pedis.

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan mikologik untuk membantu penegakan diagnosis terdiri atas pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pada pemeriksaan mikologik untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis berupa kerokan kulit yang sebelumnya dibersihkan dengan alkohol 70%. a. Pemeriksaan Dengan Sediaan Basah Kulit dibersihkan dengan alkohol 70% kerok skuama dari bagian tepi lesi dengan memakai scalpel atau pinggir gelas taruh di obyek glass tetesi KOH 10-15 % 1-2 tetes tunggu 10-15 menit untuk melarutkan jaringan lihat di mikroskop dengan pembesaran 10-45 kali, akan didapatkan hifa, sebagai dua garis sejajar, terbagi oleh sekat, dan bercabang, maupun spora berderet (artrospora) pada kelainan kulit yang lama atau sudah diobati, dan miselium b. Pemeriksaan Kultur Dengan Sabouraud Agar Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada medium saboraud dengan ditambahkan chloramphenicol dan cyclohexamide (mycobyotic-mycosel) untuk menghindarkan kontaminasi bakterial maupun jamur kontaminan. Identifikasi jamur biasanya antara 3-6 minggu (Wiederkehr, Michael. 2008)

c. Punch biopsi Dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis namun sensitifitasnya dan spesifisitasnya rendah. Pengecatan dengan Peridoc Acid Schiff, jamur akan tampak merah muda atau menggunakan pengecatan methenamin silver, jamur akan tampak coklat atau hitam (Wiederkehr, Michael. 2008). d. Penggunaan lampu wood bisa digunakan untuk menyingkirkan adanya eritrasma dimana akan tampak floresensi merah bata(Wiederkehr, Michael. 2008).

PENATALAKSANAAN Pada infeksi tinea cruris tanpa komplikasi biasanya dapat dipakai anti jamur topikal saja dari golongan imidazole dan allynamin yang tersedia dalam beberapa formulasi. Semuanya memberikan keberhasilan terapi yang tinggi 70-100% dan jarang ditemukan efek samping. Obat ini digunakan pagi dan sore hari kira-kira 2-4 minggu. Terapi dioleskan sampai 3 cm diluar batas lesi, dan diteruskan sekurang-kurangnya 2 minggu setelah lesi menyembuh. Terapi sistemik dapat diberikan jika terdapat kegagalan dengan terapi topikal, intoleransi dengan terapi topikal. Sebelum memilih obat sistemik hendaknya cek terlebih dahulu interaksi obat-obatan tersebut. Diperlukan juga monitoring terhadap fungsi hepar apabila terapi sistemik diberikan lebih dari 4 mingggu. Pengobatan anti jamur untuk Tinea cruris dapat digolongkan dalam emapat golongan yaitu: golongan azol, golongan alonamin, benzilamin dan golongan lainnya seperti siklopiros,tolnaftan, haloprogin. Golongan azole ini akan menghambat enzim lanosterol 14 alpha demetylase (sebuah enzim yang berfungsi mengubah lanosterol ke ergosterol), dimana truktur tersebut merupakankomponen penting dalam dinding sel jamur. Goongan Alynamin menghambat keja dari squalen epokside yang merupakan enzim yang mengubah squalene ke ergosterol yang berakibat akumulasi toksik squalene didalam sel dan menyebabkan kematian sel. Dengan penghambatan enzim-enzim tersebut mengakibatkan kerusakan membran sel sehingga ergosterol tidak terbentuk. Golongan benzilamin mekanisme kerjanya diperkirakan sama dengan golongan alynamin sedangkan golongan lainnya sama dengan golongan azole. Pengobatan tinea cruris tersedia dalam bentuk pemberian topikal dan sistemik: Obat secara topikal yang digunakan dalam tinea cruris adalah: 1. Golongan Azol a. Clotrimazole (Lotrimin, Mycelec) Merupakan obat pilihan pertama yang digunakan dalam pengobatan tinea cruris karena bersifat broad spektrum antijamur yang mekanismenya menghambat pertumbuhan ragi dengan mengubah permeabilitas membran sel sehingga sel-sel jamur mati. Pengobatan dengan clotrimazole ini bisa dievaluasi setelah 4 minggu jika tanpa ada perbaikan klinis. Penggunaan pada anak-anak sama seperti dewasa. Obat ini tersedia dalam bentuk kream 1%, solution, lotion. Diberikan 2 kali sehari selama 4 minggu. Tidakada kontraindikasi obat ini, namun tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukan hipersensitivitas, peradangan infeksi yang luas dan hinari kontak mata. b. Mikonazole (icatin, Monistat-derm) Mekanisme kerjanya dengan selaput dinding sel jamur yang rusak akanmenghambat biosintesis dari ergosterol sehingga permeabilitas membran sel jamur meningkat
4

c.

d.

e.

f.

menyebabkan sel jamur mati. Tersedia dalam bentuk cream 2%, solution, lotio, bedak. Diberikan 2 kali sehari selama 4 minggu. Penggunaan pada anak sama dengan dewasa. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas, hindari kontak dengan mata. Econazole (Spectazole) Mekanisme kerjanya efektif terhadap infeksi yang berhubungan dengan kulit yaitu menghambat RNA dan sintesis, metabolisme protein sehingga mengganggu permeabilitas dinding sel jamur dan menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan dengan ecnazole dapat dilakukan dalam 2-4 minggu dengan cara dioleskan sebanyak 2kali atau 4 kali dalam sediaan cream 1%.. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas, hindari kontak dengan mata. Ketokonazole (Nizoral) Mekanisme kerja ketokonazole sebagai turunan imidazole yang bersifat broad spektrum akan menghambat sintesis ergosterol sehingga komponen sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan dengan ketokonazole dapat dilakukan selama 2-4 minggu. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas, hindari kontak dengan mata. Oxiconazole (Oxistat) Mekanisme oxiconazole kerja yang bersifat broad spektrum akan menghambat sintesis ergosterol sehingga komponen sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan dengan oxiconazole dapat dilakukan selama 2-4 minggu. Tersedia dalam bentk cream 1% atau bedak kocok. Penggunaan pada anak-anak 12 tahun penggunaan sama dengan orang dewasa. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas dan hanya digunakan untuk pemakaian luar. Sulkonazole (Exeldetm) Sulkonazole merupakan obat jamur yang memiliki spektrum luas. Titik tangkapnya yaitu menghambat sintesis ergosterol yang akan menyebabkan kebocoran komponen sel, sehingga menyebabkan kematian sel jamur. Tersedia dalam bentuk cream 1% dan solutio. Penggunaan pada anak-anak 12 tahun penggunaan sama dengan orang dewasa (dioleskan pada daerah yang terkena selama 2-4 minggu sebanyak 4 kali sehari).

Griseofulfin Termasuk obat fungistatik, bekerja dengan menghambat mitosis sel jamur dengan mengikat mikrotubuler dalam sel. Obat ini lebih sedikit tingkat keefektifannya dibanding itrakonazole. Pemberian dosis pada dewasa 500mg microsize (330-375 mg ultramicrosize) PO selama 24minggu, untuk anak 10-25 mg/kg/hari Po atau 20 mg microsize /kg/hari ASUHAN KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN A. Wawancara Wawancara dilakukan untuk mengklasifikasikan suatu pemahaman sehingga perlu ada kesepakatan antara pemeriksa dan pasien. Wawancara harus efektif dan harus

memahami perasaan pasien sehingga pasien lebih terbuka. Dibawah ini adalah wawancara pada pasien gangguan sistem integumen, sebagai data fokus. 1. Kapan pasien pertama kali mengetahui masalah penyakit kulit ini (demikian pula selidiki durasi dan intensitasnya)? 2. Apakah masalah penyakit kulit yang dideritanya pernah terjadi sebelumnya? 3. Apa ada gejala yang lain? 4. Pada kulit bagian mana tempat pertama kali terkena? 5. Bagaimana ruam atau lesi tersebut terlihat ketika muncul pertama kalinya? 6. Pada bagian mana dan seberapa cepat penyebaranya? 7. Apakah terdapat rasa gatal, terbakar, kesemutan atau seperti ada yang merayap? 8. Apakah ada gangguan kemampuan untuk merasa? 9. Apakah masalah tersebut menjadi bertambah parah pada waktu atau musim tertentu? 10. Apakah pasien dapat menjelaskan bagaimana kelainan tersebut berawal 11. Apakah pasien memiliki riwayat hay fever, asma, biduran, eczema atau alergi? 12. Apakah ada diantara anggota keluarga anda yang mengalami masalah kulit? 13. Apakah erupsi kulit tersebut muncul sesudah makan-makanan tertentu? 14. Apakah baru-baru ini pasien mulai mengkonsumsi alkohol? 15. Apakah ada hubungan antara kejadian tertentu dengan masa ruam atau lesi? 16. Obat-obatan apa yang anda gunakan? 17. Obat oles (krim, salep, lotion) apa yang anda gunakan untuk mengobati lesi tersebut (termasuk obat-obat yang dapat dibeli bebas di toko obat)? 18. Produk kosmetik atau preparat perawatan kulit apa yang anda gunakan? 19. Apa pekerjaan anda? 20. Apakah pada lingkungan disekitar anda terdapat faktor-faktor (tanaman, hewan, zat-zat kimia, infeksi) yang dapat mencetuskan masalah penyakit kulit ini? 21. Apakah ada sesuatu yang baru atau perubahan apapun dalam lingkungan tersebut? 22. Apakah ada sesuatu yang ketika mengenai kulit anda menyebabkan terjadinya ruam? B. Pengkajian Fisik 1. Pengkajian Kulit a. Inspeksi Pasien berada dalam ruangan yang terang dan hangat, pemeriksa menggunakan penlight untuk menyinari lesi sehingga pemeriksa akan melihat apakah keadaan kulit pasien, meliputi: Warna kulit : ...................... Kelembaban kulit : ....................... Tekstur kulit : ....................... Lesi : ....................... Vaskularisasi : ....................... Mobilitas kondisi rambut serta kuku: ....................... Turgor kulit : ....................... Edema : ........................ Warna kebiruan, sianosis (hipiksia seluler) dapat dilihat pada ekstremitas dan dasar kuku, bibir, membran mukosa: ..........................................
6

Ikterus (kulit yang menguning) akibat kenaikan bilirubin :........................... Skelera membran mukosa :....................... Perubahan vaskular (petekie) :..................... Ekimosis :.................................................... b. Palpasi Dalam melakukan tindakan ini pemeriksa harus menggunakan sarung tangan, guna melindungi dari terpaparnya penyakit pasien. Tindakan ini dimaksudkan untuk memeriksa: Turgor kulit : ............................. Edema : .............................. Elastisitas kulit : ............................. C. Riwayat kesehatan keluarga II. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Perubahan kenyamanan (nyeri, gatal) Defenisi : Keadaan dimana individu mengalami sensasi yang tidak menyenangkan dalam berespons terhadap suatu rangsangan yang berbahaya. Batasan Mayor : Klien memperlihatkan atau melaporkan ketidaknyamanan Batasan minor : Respons autonom pada nyeri akut Nadi meningkat Sikap / posisi berhati hati Raut wajah kesakitan Pruritis Intervensi Teliti keluhan nyeri tentang lokasi, intensitas khusus (skala 0-10). Catat faktor peningkatan nyeri. Beri lingkungan tenang Dorong teknik relaksasi (bimbingan imajinasi, visualisasi) aktivitas hiburan (radio & TV) Pertahankan perawatan kulit, dengan teknik septik aseptik Kolaborasi untuk pemberian analgetik (memperidin) Rasional 1. Nyeri sering menyebar terlokalisir menunjukan terjadinya abses (proses inflamasi) menunjukkan berat ringannya nyeri 2. Meningkatkan relaksasi dan memampukan klien untuk memfokuskan perhatian, dapat meningkatkan koping 3. Mencegah perluasan infeksi 4. Memperidin biasanya efektif untuk menghilangkan nyeri Evaluasi Nyeri berkurang / hilang (rasa nyaman terpenuhi)
7

1. 2. 3. 4.

a. b. c. d.

Nadi normal Aktifitas lancar Raut wajah tenang Tidak terjadi pruritis (gatal)

2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan permukaan kulit, karena destruksi lapisan kulit Defenisi : Keadaan dimana seseorang / individu mengalami atau beresiko terhadap kerusakan jaringan epidermis dan dermis. Batasan Mayor: Gangguan jaringan epidermis dan dermis Papul Pustul Vesikel Batasan minor : Eritema Lesi (sekunder, primer) Pruritis Intervensi 1. Kaji, catat : warna, kedalaman, luas luka. 2. Berikan perawatan luka secara tepat, dan kontrol infeksi (balutan basah, topical) 3. Kolaborasi untuk insisi (bila terdapat abses/furunkel) 4. Kolaborasi untuk pemberian obat topikal, antibiotik 5. Pendidikan kesehatan Rasional 1. Dasar informasi, tentang sirkulasi pada area luka 2. Menurunkan resiko infeksi 3. Insisi dapat memberi drainase pada Furunkel, (mengeluarkan pus) 4. Mencegah perluasan infeksi 5. Pendidikan kesehatan dapat meningkatkan koping dan personal hygiene Evaluasi Kulit normal Papul, postul vesikel hilang Eritema tidak ada, lesi hilang 3. Gangguan citra diri berhubungan dengan perubahan penampilan sekunder kelainan kulit, cedera / pembedahan. Defenisi : Suatu keadaan dimana individu mengalami atau beresiko untuk mengalami gangguan dalam cara penyerapan citra diri seseorang Batasan karakteristik : Mayor : Malu, bersalah
8

Minor : Perubahan dalam bersosialisasi Perasaan negatif terhadap tubuh (kerentanan) Larut dengan perubahan kulit Intervensi 1. Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan pikiran, pandangan dirinya. 2. Dorong klien untuk bertanya tentang masalah, penanganan, perkembangan, prognosa kesehatan 3. Berikan informasi yang dapat dipercaya 4. Perjelas berbagai kesalahan konsep klien terhadap 5. Perawatan diri dan pemberi perawatan 6. Beri dukungan keluarga untuk beradaptasi Rasional 1. Memerlukan dukungan untuk perbaikan yang normal 2. Meningkatkan perilaku positif, dan berkesempatan untuk tujuan dan rencana masa depan berdasarkan realita 3. Meningkatkan kepercayaan dan mengadakan hubungan antara klien dan perawat 4. Klien dan orang terdekat cenderung menerima krisis dengan cara yang sama meningkatkan kepercayaan 5. Diri klien 6. Meningkatkan ventilasi perasaan dan memungkinkan respons yang lebih membantu klien Evaluasi Mengimplementasikan pola penanganan baru Mengungkapkan dan mendemonstrasikan penerimaan penampilan (kehadiran, kerapihan) Mengawali, memantapkan kembali pendukung yang ada ansietas berhubungan dengan perubahan kesehatan (peradangan kulit) 4. Ansietas berhubungan dengan perubahan kesehatan (peradangan kulit) Defenisi : Keadaan dimana individu/kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivitas sistem syaraf otonom dalam berespons terhadap ancaman tidak jelas nonspesifik Batasan karakteristik : Mayor : Eritema, papul, vesikel Minor : Gelisah Menarik diri Mencela diri sendiri Ketidak berdayaan Menangis dan sedih Reaksi terkejut tentang penyakit

Intervensi 1. Identifikasi dan ketahui presepsi klien terhadap ancaman / situasi 2. Catat adanya kegiatan menolak (menolak, mengikuti program medis) 3. Kaji tanda verbal/non verbal klien 4. Hindari kontraksi 5. Dorong klien atau orang terdekat untuk mengkomunikasikan tentang masalah pada perawat 6. Berikan privasi untuk klien 7. Dorong untuk kemandirian klien dalam perawatan & pembuatan keputusan rencana pengobatan Rasional 1. Koping terhadap penyakit, klien takut, cemas, tentang masalah yang tidak teratasi 2. Penelitian menunjukkan beberapa hubungan antara derajat ekspresi, marah atau gelisah dan peningkatan resiko 3. Klien mungkin tidak menunjukkan masalah secara langsung (kata-kata), tindakan dapat menunjukkan rasa marah dan gelisah 4. Kontraksi dapat menimbulkan rasa marah, menurunkan kerjasama yang dapat memperhambat penyembuhan 5. Informasi yang diberikan dapat membentuk dukungan kenyamanan, menghilangkan kehawatiran 6. Klien dapat mengekspresikan perasaan, menghilangkan kecemasan 7. Meningkatkan kepercayaan diri dan menurunkan rasa gatal dalam pengobatan Evaluasi Klien tidak mengalami ansietas (berkurang/hilang) Klien dapat menunjukkan koping yang efektif Tidak gelisah Tidak menarik diri Gembira Dapat menerima keadaan penyakit yang dialami Bekerja sama dengan perawat 5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, pengobatan, berhubungan dengan kurangnya informasi. Defenisi : Suatu keadaan dimana seorang individu/ kelompok mengalami defisiensi, pengetahuan kognitif, atau ketrampilan, psikomotor, berkenaan dengan kondisi atau rencana pengobatan Batasan karakteristik: Mayor mengungkapkan: Tidak tahu tentang penyakit Melakukan perilaku tidak tepat tentang kesehatan (pengobatan alternatif) Minor mengungkapkan: Kurang integrasi tentang rencana pengobatan Tidak tahu tentang cara pengobatan (daerah yang pruritus, digesek, digaruk) menimbulkan: eritema, iritasi, erosi, papul, visikel Intervensi
10

1. Kaji ulang prognosis dan harapan yang akan datang 2. Diskusikan tentang harapan klien untuk melakukan aktivitas normal 3. Kaji ulang tentang perawatan luka Rasional 1. Memberikan dasar pengetahuan klien dalam membuat pilihan keputusan 2. Kesulitan melakukan aktivitas mempengaruhi keberhasilan menilai tindakan hidup normal 3. Meningkatkan kemampuan perawatan diri Evaluasi Klien mengerti tentang prognosis, perawatan dan mampu membuat keputusan Klien dapat melakukan aktivitas secara normal Klien mampu melakukan perawatan luka

11