Selain merasa teologi Islam terancam, yang mempengaruhi intoleransi terhadap rumah ibadah tampaknya juga adalah kebijakan

negara, yaitu SKB (Surat Keputusan Bersama) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No.8-9/2006 tentang Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama. Meski sisi positif SKB ini mengharuskan didirikannya Forum Kerjasama antar Umat Beragama (FKUB) di setiap kota/kabupaten, tetapi SKB ini tampaknya diskriminatif terkait dengan tata cara pendirian rumah ibadah yang mengharuskan ijin warga sekitar dan prosedurnya yang rumit. Syarat-syarat pendirian rumah ibadah yang tertera dalam pasal 14 ayat 2-nya cukup memberatkan. Di antaranya adalah dukungan minimal 60 orang dari masyarakat setempat dan daftar nama, serta KTP 90 orang yang akan menjadi jema atnya. Aspek persetujuan 60 orang itu sangat rawan dimanipulasi, dipolitisasi, dan memicu konflik. Bisa dikatakan aturan yang dibuat negara ini melanggar hak kebebasan beragama, bukan saja bagi non Muslim di daerah mayoritas Muslim, tetapi juga bagi Muslim di daerah mayoritas non Muslim seperti di Bali sebagaimana dikeluhkan sebagian tokohnya.\

PENDIRIAN RUMAH IBADAH
PENDIRIAN RUMAH IBADAH Oleh: Pdt. Paulus M. Tangke, MTh., MH. Tata cara pendirian rumah ibadah diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 dan Nomor 9 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukuna Umat n Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dan Pendirian Rumah Ibadah. Pada Pasal 13 Perber Menag dan Mendagri No. 8/9 Tahun 2006, disebutkan bahwa pendirian rumah ibadah didasarkan pada keperluan nyata dan sungguh -sungguh berdasarkan jumlah penduduk bagi pelayanan umat beragama yang bersangkutan di wilayah kelurahan/desa. Pendirian rumah ibadah ini dilakukan dengan tetap menjaga kerukunan umat beragama, tidak mengganggu ketentraman dan ketertiban umum, serta mematuhi peraturan perundangundangan. Apabila keperluan nyata bagi pelayanan umat beragama di wilayah kelurahan/desa tidak terpenuhi, maka pertimbangan komposisi jumlah penduduk digunakan batas wilayah kecamatan atau kabupaten/kota/provinsi. Pendirian rumah ibadah wajib memenuhi persyaratan administrative dan persyaratan teknis bangunan gedung. Demikian juga harus memenuhi persyaratan khusus, meliputi: 1. Daftar nama dan Kartu Tanda Penduduk pengguna rumah ibadah paling sedikit 90 orang yang disahkan pejabat setempat sesuai dengan tingkat batas wilayah; 2. Dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 orang yang disahkan oleh lurah/kepala desa; 3. Rekomendasi tertulis dari kantor departemen agama kabupaten/kota; dan

Adapun persyaratan untuk mendapatkan izin sementara ini. dan 4. Izin sementara pemanfaatan bangunan gedung bukan rumah ibadat sebagai rumah ibadat sementara harus mendapat surat keterangan pemberian izin sementara dari bupati/walikota. Sebelum suart izin diterbitkan. Rekomendasi tertulis FKUB kabupaten/kota. bupati/walikota/camat harus mempertimbangkan pendapat tertulis kepala kantor depag dan FKUB kabupaten/kota. 3. Bupati/walikota memberikan keputusan paling lambat 90 hari sejak permohonan pendirian rumah ibadat diajukan oelh panitia. meliputi: 1.4. Rekomendasi tertulis lurah/kepala desa. 2. Permohonan pendirian diajukan oleh panitia pembangunan rumah ibadat kepada bupati/walikota untuk memperoleh IMB rumah ibadat. Pelaporan tertulis kepada FKUB kabupaten/kota. . Izin ini hanya berlaku selama 2 (dua) tahun. Izin tertulis pemilik bangunan. Pelaporan tertulis kepada kepala kantor depag kabupaten/kota. Penerbitan surat keterangan pemberian izin sementara dapat dilimpahkan kepada camat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful