P. 1
lapriskesdas

lapriskesdas

|Views: 1,217|Likes:
Dipublikasikan oleh Ahmad Muajis

More info:

Published by: Ahmad Muajis on Aug 01, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/29/2013

pdf

text

original

Sections

  • BAB 1.PENDAHULUAN
  • 1.1Latar Belakang
  • 1.2Ruang Lingkup Riskesdas 2007
  • 1.3Pertanyaan Penelitian
  • 1.4Tujuan Riskesdas
  • 1.5Kerangka Pikir
  • 1.6Alur Pikir Riskesdas 2007
  • 1.7Pengorganisasian Riskesdas
  • 1.8Manfaat Riskesdas
  • 1.9Persetujuan Etik Riskesdas
  • BAB 2.METODOLOGI RISKESDAS
  • 2.3Populasi dan Sampel
  • 2.3.1Penarikan Sampel Blok Sensus
  • 2.3.2Penarikan Sampel Rumah Tangga
  • 2.3.3Penarikan Sampel Anggota Rumah Tangga
  • 2.3.4Penarikan Sampel Biomedis
  • 2.3.5Penarikan Sampel Iodium
  • 2.5Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data
  • 2.6Manajemen Data
  • 2.6.1Editing
  • 2.6.3Cleaning
  • 2.7Keterbatasan Riskesdas
  • 2.8Pengolahan dan Analisis Data
  • BAB 3.HASIL DAN PEMBAHASAN
  • 3.1.1Status Gizi Balita
  • 3.1.2Status Gizi Penduduk Umur 6 – 14 tahun (Usia Sekolah)
  • 3.1.3Status Gizi Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas
  • 3.1.4Konsumsi Energi dan Protein
  • 3.1.5Konsumsi Garam Beriodium
  • 3.2Kesehatan Ibu dan Anak
  • 3.2.1Status Imunisasi
  • 3.2.2Pemantauan Pertumbuhan Balita
  • 3.2.3Distribusi Kapsul Vitamin A
  • 3.2.4Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
  • 3.3Penyakit Menular
  • 3.3.1Prevalensi Filariasis, Demam Berdarah Dengue dan Malaria
  • 3.3.2Prevalensi ISPA, Pnemonia, Tuberkulosis (TB), dan Campak
  • 3.3.3Prevalensi Tifoid, Hepatitis, Diare
  • 3.4Penyakit Tidak Menular
  • 3.4.2Gangguan Mental Emosional
  • 3.4.3Penyakit Mata
  • 3.4.4Kesehatan Gigi
  • 3.5.2Diabetes Mellitus
  • 3.6Cedera dan Disabilitas
  • 3.6.2Status Disabilitas / Ketidakmampuan
  • 3.7Pengetahuan, Sikap dan Perilaku
  • 3.7.1Perilaku Merokok
  • 3.7.2Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur
  • 3.7.3Perilaku Minum Minuman Beralkohol
  • 3.7.4Perilaku Aktifitas Fisik
  • 3.7.5Pengetahuan dan Sikap terhadap Flu Burung dan HIH/AIDS
  • 3.7.6Perilaku Higienis
  • 3.7.7Pola Konsumsi Makanan Berisiko
  • 3.7.8Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
  • 3.8Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan
  • 3.8.1Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan
  • 3.8.2Sarana dan Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan
  • 3.8.3Ketanggapan Pelayanan Kesehatan
  • 3.9Kesehatan Lingkungan
  • 3.9.1 Air Keperluan Rumah Tangga
  • 3.9.2Fasilitas Buang Air Besar
  • 3.9.3Sarana pembuangan air limbah
  • 3.9.4Pembuangan sampah
  • 3.9.5Perumahan
  • 3.10Mortalitas
  • 3.10.1Distribusi Kasus Kematian
  • 3.10.2Kematian Semua Umur
  • 3.10.3Kematian Menurut Kelompok Umur
  • DAFTAR PUSTAKA
  • LAMPIRAN

Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional 2007

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. wb. Puji syukur kepada Allah SWT kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan karuniaNYA, kita bisa menyelesaikan Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang kita persiapkan sejak tahun 2006 dan dilaksanakan pada tahun 2007 di 28 provinsi dan tahun 2008 di 5 provinsi wilayah Indonesia Timur. Perencanaan Riskesdas dimulai tahun 2008, dimulai oleh tim kecil yang berupaya menuangkan gagasan dalam proposal sederhana, kemudian secara bertahap dibahas tiap Kamis-Jum’at di Puslitbang Gizi dan Makanan Bogor. Pembahasan juga dilakukan dengan para pakar kesehatan masyarakat, para perhimpunan dokter spesialis, para akademisi dari Perguruan Tinggi termasuk Poltekkes, lintas sektor khususnya Badan Pusat Statistik, jajaran kesehatan di daerah dan tentu saja seluruh peneliti Balitbangkes sendiri. Dalam setiap rapat atau pertemuan, selalu ada perbedaan pendapat yang terkadang sangat tajam, terkadang disertai emosi, namun didasari niat untuk menyajikan yang terbaik bagi bangsa. Setelah cukup matang, dilakukan uji coba bersama BPS di Kabupaten Bogor dan Sukabumi untuk menghasilkan penyempurnaan instrumen penelitian. Selanjutnya bermuara pada “launching” Riskesdas oleh Menteri Kesehatan pada tanggal 6 Desember 2006. Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas dilakukan dua tahap, tahap pertama dimulai pada awal Agustus 2007 sampai dengan Januari 2008 di 28 provinsi, tahap kedua pada Agustus-September 2008 di 5 propinsi (NTT, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat). Kami mengerahkan 5.619 enumerator, seluruh (502) peneliti Balitbangkes, 186 dosen Poltekkes, Jajaran Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, Labkesda dan Rumah Sakit serta Perguruan Tinggi. Untuk kesehatan masyarakat, kami berhasil menghimpun data dasar kesehatan dari 33 provinsidan dan 440 kabupaten/kota. Untuk biomedis, berhasil menghimpun 36,357 spesimen dari sampel anggota rumah tangga usia satu tahun keatas yang berasal dari 540 blok sensus perkotaan di 270 kabupaten/kota terpilih. Proses editing, entry, dan data cleaning sebagai bagian dari manajemen data Riskesdas dimulai pada awal Januari 2008, yang secara paralel dilakukan pula pembahasan rencana pengolahan dan analisis. Proses manajemen data, pengolahan dan analisis ini sungguh memakan waktu, stamina dan pikiran, sehingga tidaklah mengherankan bila diwarnai dengan protes, dari sindiran melalui jargon-jargon Riskesdas sampai protes keras. Kini kami menyadari, telah tersedia data dasar kesehatan yang meliputi seluruh kabupaten/kota di Indonesia meliputi hampir seluruh status dan indikator kesehatan termasuk data biomedis, yang tentu saja amat kaya dengan berbagai informasi di bidang kesehatan. Kami berharap data itu bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk para peneliti yang sedang mengambil pendidikan master dan doktor. Kami memperkirakan akan muncul ratusan doktor dan ribuan master dari data Riskesdas ini. Perkenankanlah kami menyampaikan penghargaan yang tinggi serta terima kasih yang tulus atas semua kerja cerdas dan penuh dedikasi dari seluruh peneliti, litkayasa dan staf Balitbangkes, rekan sekerja dari BPS, para pakar dari Perguruan Tinggi, para dokter spesialis dari Perhimpunan Dokter Ahli, Para Dosen Poltekkes, Penanggung Jawab Operasional dari jajaran Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, seluruh enumerator serta semua pihak yang telah berpartisipasi mensukseskan Riskesdas. Simpati mendalam disertai doa kami haturkan kepada mereka yang mengalami kecelakaan sewaktu melaksanakan Riskesdas, termasuk mereka yang wafat selama Riskesdas dilaksanakan.

i

Kami telah berupaya maksimal, namun sebagai langkah perdana pasti masih banyak kekurangan, kelemahan dan kesalahan. Untuk itu kami mohon kritik, masukan dan saran, demi penyempurnaan Riskesdas ke-2 yang Insya Allah akan dilaksanakan pada tahun 2010 nanti. Billahit taufiq walhidayah, wassalamu’alaikum wr. wb.

Jakarta, Desember 2008
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI

Dr. Triono Soendoro, PhD

ii

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb Puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat dan bimbinganNya, Departemen Kesehatan saat ini telah mempunyai indikator dan data dasar kesehatan berbasis komunitas, yang mencakup seluruh Provinsi dan Kabupaten/Kota yang dihasilkan melalui Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas. Riskesdas telah menghasilkan serangkaian informasi situasi kesehatan berbasis komunitas yang spesifik daerah, sehingga merupakan masukan yang amat berarti bagi perencanaan bahkan perumusan kebijakan dan intervensi yang lebih terarah, lebih efektif dan lebih efisien. Selain itu, data Riskesdas yang menggunakan sampling Susenas Kor 2007, menjadi lebih lengkap untuk mengkaitkan dengan data dan informasi sosial ekonomi rumah tangga. Saya minta semua pelaksana program untuk memanfaatkan data Riskesdas dalam menghasilkan rumusan kebijakan dan program yang komprehensif. Demikian pula penggunaan indikator sasaran keberhasilan dan tahapan/mekanisme pengukurannya menjadi lebih jelas dalam mempercepat upaya peningkatan derajat kesehatan secara nasional dan daerah. Saya juga mengundang para pakar baik dari Perguruan Tinggi, pemerhati kesehatan dan juga peneliti Balitbangkes, untuk mengkaji apakah melalui Riskesdas dapat dikeluarkan berbagai angka standar yang lebih tepat untuk tatanan kesehatan di Indonesia, mengingat sampai saat ini sebagian besar standar yang kita pakai berasal dari luar. Dengan berhasilnya Riskesdas yang baru pertama kali dilaksanakan ini, saya yakin untuk Riskesdas dimasa mendatang dapat dilaksanakan dengan lebih baik. Karena itu, Riskesdas harus dilaksanakan secara berkala 3 tahun sekali sehingga dapat diketahui pencapaian sasaran pembangunan kesehatan di setiap wilayah, dari tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun nasional. Untuk tingkat kabupaten/kota, perencanaan berbasis bukti akan semakin tajam bila keterwakilan data dasarnya sampai tingkat kecamatan. Oleh karena itu saya menghimbau agar Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota ikut serta berpartisipasi dengan menambah sampel Riskesdas agar keterwakilannya sampai ke tingkat Kecamatan. Saya menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada para peneliti Balitbangkes, para enumerator, para penanggung jawab teknis dari Balitbangkes dan Poltekkes, para penanggung jawab operasional dari Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, jajaran Labkesda dan Rumah Sakit, para pakar dari Universitas dan BPS serta semua yang teribat dalam Riskesdas ini. Karya anda telah mengubah secara mendasar perencanaan kesehatan di negeri ini, yang pada gilirannya akan mempercepat upaya pencapaian target pembangunan nasional di bidang kesehatan. Khusus untuk para peneliti Balitbangkes, teruslah berkarya, tanpa bosan mencari terobosan riset baik dalam lingkup kesehatan masyarakat, kedokteran klinis maupun biomolekuler yang sifatnya translating research into policy, dengan tetap menjunjung tinggi nilai yang kita anut, integritas, kerjasama tim serta transparan dan akuntabel. Billahit taufiq walhidayah, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

iii

Jakarta, Desember 2008

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K).)

iv

Penyakit menular.357 sampel untuk pengukuran berbagai variabel biomedik dari anggota rumah tangga yang berumur lebih dari 1 tahun dan bertempat tinggal di desa/kelurahan dengan klasifikasi perkotaan. dan data biomedis yang hanya mewakili blok sensus perkotaan. Kesehatan mental. Papua Barat. confidence interval. Pemeriksaan gigi. Mortalitas. 16. relative standard error. Bagaimana hubungan antara kemiskinan dan kesehatan. 15. provinsi dan kabupaten/kota. 3. periode waktu pengumpulan data yang berbeda. lingkar perut dan lingkar lengan atas. Disabilitas. berhasil dikumpulkan sebanyak 19. sementara 28 provinsi lainnya telah selesai dilaksanakan pada tahun 2007. provinsi dan kabupaten/kota. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2007 dirancang identik dengan daftar sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Susenas 2007. Keterbatasan Riskesdas mencakup non-random error antara lain: pembentukan kabupaten baru. merepresentasikan gambaran wilayah nasional. sikap dan perilaku. Akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Maluku. Pengukuran biomedis. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 berhasil mengumpulkan sebanyak 258. Maluku Utara dan NTT) baru dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2008. baik di tingkat rumah tangga maupun tingkat individual.065 sampel rumah tangga. 13. 7. Pemeriksaan visus. Hasil pemeriksaan biomedis akan dilaporkan tersendiri. estimasi tingkat kabupaten tidak bisa berlaku untuk semua indikator. tekanan darah.366 sampel rumah tangga dan 987. 11.205 sampel anggota rumah tangga untuk pengukuran berbagai variabel kesehatan masyarakat. Bagaimana status kesehatan dan faktor penentu kesehatan. Berbagai ukuran sampling error termasuk didalamnya standard error. Konsumsi makanan. Kesehatan bayi. Populasi dalam Riskesdas 2007 adalah seluruh rumah tangga di seluruh pelosok Republik Indonesia. Apakah terdapat masalah kesehatan yang spesifik? Untuk menjawab ketiga pertanyaan tersebut. blok sensus tidak terjangkau. Sanitasi lingkungan. 9. 2. Ketanggapan pelayanan kesehatan. berhasil dilakukan pengukuran pada 257. Riskesdas 2007 juga mengumpulkan 36. v . berhasil dilakukan pengukuran pada 8. 6. Khusus untuk lima provinsi (Papua. Disain Riskesdas 2007 merupakan survei cross sectional yang bersifat deskriptif. yaitu berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence-based melalui pengumpulan data dasar dan indikator kesehatan. dengan ruang lingkup sebagai berikut: 1. design effect dan jumlah sampel tertimbang menyertai setiap estimasi variabel. Berbagai autopsi verbal peristiwa kematian. dan 3. dirumuskan tujuan antara lain yaitu penyediaan data dasar status kesehatan dan faktor penentu kesehatan. 8. 14. dan 17. 12.114 sampel yang diambil dari anggota rumah tangga berusia lebih dari 15 tahun. rumah tangga tidak dijumpai. 10. baik di tingkat nasional. 4. Status gizi. Indikator yang dihasilkan berupa antara lain status kesehatan dan faktor penentu kesehatan yang bertumpu pada konsep Henrik Blum. Untuk tes cepat yodium. Khusus untuk pengukuran gula darah.RINGKASAN A. penyakit tidak menular dan riwayat penyakit keturunan.473 sampel anak berumur 6-12 tahun yang tinggal di 30 kabupaten/kota dengan berbagai kategori tingkat konsumsi yodium. Ringkasan Eksekutif Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 merupakan salah satu wujud pengejawantahan dari 4 (empat) grand strategy Departemen Kesehatan. Imunisasi dan pemantauan pertumbuhan. sedangkan untuk pengukuran yodium di dalam urin. Pengetahuan. 5. Pengukuran anthropometri. Pertanyaan penelitian yang menjadi dasar pengembangan Riskesdas 2007 adalah: 1. 2.

DPT tiga kali (67. dan mulai banyak dijumpai pada kelompok usia muda 15 – 17 tahun (8. maka hasil Riskesdas 2007 telah dan dapat digunakan antara lain untuk pengembangan riset dan analisis lanjut. kemiskinan. Riskesdas 2007 juga memperlihatkan perubahan epidemiologis penyakit. Untuk mencegah penyebaran malaria diperlukan program pengobatan yang cepat dan tepat. sedangkan di perdesaan yang dominan adalah dukun bersalin (45.1%.1%) dibanding kuintil 1 (4. dan target Millenium Development Goals sebesar 18.7%). Demikian halnya vi .9%). Maluku. tidak berkaitan dengan tingkat sosial ekonomi (kuintil pengeluaran) seperti pada kuintil 1 (30. penelusuran hubungan kausal-efek.5%. Secara keseluruhan.5%. obese dan penyakit jantung dengan status sosial ekonomi masyarakat (pendidikan.14%. Maluku Utara. campak (81. target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi yang diproyeksikan sebesar 20%. PMT (45.5% (berdasarkan catatan yang ada).1%) dan penimbangan berat badan ibu (94. balita yang ditimbang secara rutin (4 kali atau lebih). Penyakit hipertensi misalnya.0%).2%) dan imunisasi (55. hipertensi. ditimbang 1-3 kali dan yang tidak pernah ditimbang berturut-turut adalah 45. penggunaan oralit dalam 24 jam pertama juga masih di bawah 50%. dan ibu hamil yang memeriksaan kehamilan sebanyak 84. Namun demikian.4%. Khusus untuk provinsi Nusa Tenggara Timur.3%).7%. ketimpangan juga terlihat jelas dengan adanya prevalensi malaria yang mencapai 26.Seluruh hasil Riskesdas ini bermanfaat sebagai asupan dalam pengembangan kebijakan dan perencanaan program kesehatan. Papua Barat dan Papua ditemukan sebanyak 60% melahirkan bayinya di rumah.7%). Penolong persalinan yang dominan di perkotaan adalah bidan (61. yaitu 0.4%) ditemukan pada 21 provinsi dan 216 kabupaten/kota. polio tiga kali (71. Riskesdas menghasilkan berbagai peta masalah kesehatan. misalnya prevalensi gizi buruk yang berada diatas rerata nasional (5.8%).1%).0%). pengobatan (41. Sedangkan jenis pemeriksaan kehamilan yang jarang dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan hemoglobin (33. Dengan 900 variabel. pengembangan nilai standar baru berbagai indikator kesehatan. Sedangkan kegiatan di posyandu untuk pemberian suplemen gizi (47. Hasil utama Riskesdas 2007 menggambarkan hubungan penyakit degeneratif seperti sindroma metabolik. 29.9%). Di lain pihak. Sedangkan berdasarkan gabungan hasil pengukuran Gizi Buruk dan Gizi Kurang Riskesdas 2007 menunjukkan bahwa sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional sebesar 18.417 orang (usia > 15 tahun) menunjukkan gambaran lebih tinggi pada kuintil 5 (7.6%). Posyandu merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi untuk penimbangan balita yaitu sebesar 78. strok.5%). sembilan kali lebih besar dari prevalensi nasional atau 145 kali lebih besar dari prevalensi yang terendah. kecuali pada kelompok balita –di mana prevalensinya tertinggi. Selain itu.8%) dan pemeriksaan urine (36. contohnya demam berdarah dengue. cakupan imunisasi pada anak usia 12 – 23 bulan menurut jenisnya yang tertinggi sampai terendah adalah untuk BCG (86. dan 25.8%). telah dapat dicapai pada 2007. Riskesdas 2007 menggambarkan kesadaran masyarakat untuk berobat dan akses terhadap obat malaria program secara nasional sebesar 47.7%) dan terendah hepatitis B (62. Dari pemetaan penyakit menular.5%) dan kuintil 5 (33. dll).6%). dan pemodelan statistik. Secara keseluruhan.4%.penggunaan oralit sudah di atas 50%.5% pada 2015. proporsi bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 11. yang prevalensi tertinggi tidak lagi dijumpai pada anak-anak. Untuk diare.8%).3%. tampak keberhasilan program pengendalian malaria di Jawa-Bali (prevalensi <0. walaupun beberapa provinsi sudah menunjukkan tingkat pengobatan malaria dalam 24 jam pertama cukup tinggi.4%).18%. Sebaliknya patut diduga penyakit diabetes yang diambil dari 356 kab/kota daerah perkotaan mencakup 24. melainkan pada kelompok dewasa muda (25-34 tahun). Pemeriksaan yang paling sering dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan tekanan darah (97.

‘kejelasan informasi’ 85. Tidak ada perbedaan perilaku merokok antara status sosial ekonomi rendah dan tinggi.6%. Penyebab kematian bayi yang terbanyak adalah diare (31. Sulawesi Tenggara.1%). dari 32.0%.9%). kejelasan informasi (75.3%). Aceh Barat Daya (39. Rote Ndao (40.1%). Maluku.8%. penyeban kematian yang terbanyak adalah stroke. Sumatera Utara.8%) yang meningkat dari 1. 3 domain seperti ‘waktu tunggu’ tercatat 84.8% (Asia 5% .3% (SKRT. Kota Madiun (6. Prevalensi nasional gangguan mental emosional pada penduduk yang berumur ≥ 15 tahun adalah 11. 2007).0%).1%).8%) dan kebersihan ruangan (78. dan 8.7%). kebutaan 0.8%). dari 12. Ditemukan peningkatan proporsi usia mulai merokok pada umur <20 tahun. Sulawesi Tengah. Tapanuli Utara (38.4% dan domain ‘kebersihan ruangan’ (82. sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang diatas prevalensi nasional. Gorontalo.7% (SKRT 2004) menjadi 21. Papua Barat dan Papua. Demikian halnya dengan perilaku merokok kelompok penduduk >15 tahun cenderung meningkat. sedangkan untuk usia (728 hari) penyebab kematian yang terbanyak adalah sepsis neonatorum (20.5%) dan congenital malformations (18. dari 10. Timor Tengah Selatan (40. Gianyar (6. Sedangkan untuk usia > 5 tahun.2%) dan pnemonia (15.4%.9% (Riskesdas. Kupang (38. dan Buru (37.8%).9% dan katarak (1. Minahasa (6.9%). Sedangkan untuk penyebab kematian anak balita sama dengan bayi.4% (Riskesdas.3%).3%).8% (kuintil 1) Prevalensi disabilitas menunjukkan peningkatan yang berarti. Patut diduga bahwa peningkatan jumlah kasus katarak ini berkaitan erat dengan peningkatan umur harapan hidup penduduk Indonesia pada periode 2005-2010 (69. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Balita tertinggi berturut-turut adalah Aceh Tenggara (48.0%).2 tahun).8%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.2% menurut SKRT 2001.9%) dan premature (32. maupun target Millenium Development Goals pada 2015 (18.4%) dan pnemonia (23. Dari ketanggapan rawat inap. B. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gizi Buruk dan Gizi Kurang pada Balita terendah adalah Kota Tomohon (4. Keadaan ini lebih baik dibanding dengan hasil Surkesnas 2004 yaitu waktu tunggu (78. Simeulue (39.7%). dan Gizi Kurang pada Balita adalah 13.8%). Namun demikian.8%). masing-masing sebesar 10. Tabanan (7.2%). Terdapat 8 (delapan) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat inap dan 7 (tujuh) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan. dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Ringkasan Hasil Status Gizi Balita • Prevalensi nasional Gizi Buruk pada Balita adalah 5. Nusa Tenggara Barat.0% (Susenas 2003) menjadi 33. Maluku Utara. 2007) Proporsi low vision di Indonesia adalah sebesar 4.1%).6%). Penyebab kematian perinatal (0-7 hari) yang terbanyak adalah respiratory disorders (35. Riau. Kalimantan Selatan. Kalimantan Barat.5%).3%). Kepulauan Aru (40. yaitu terbanyak adalah diare (25. Sumatera Barat. Mamuju Utara (39.1 tahun) dibanding periode 2000-2005 (66. Keduanya menunjukkan bahwa baik target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk pencapaian program perbaikan gizi (20%).3% (Riskesdas 2007).2%).5%) telah tercapai pada 2007. 2001) menjadi 11. Sulawesi Barat. Kalimantan Tengah. Kalimantan Timur. Secara nasional. Bantul • vii . baik di perkotaan maupun di perdesaan.5% (kuintil 5). Jambi. Penyebab kematian untuk semua umur telah terjadi pergeseran. Nusa Tenggara Timur.dengan Toleransi Glukosa Terganggu (TGT).

6%). Kota Jakarta Selatan (20.0%). Papua Barat. dan Aceh Utara (29. dan Luwu Timur (21.9%).2%).2%). Jambi. dan Bondowoso (8. Jambi. dan Kapuas Hulu (59. • Prevalensi nasional Gizi Lebih Pada Balita adalah 4. Kampar (20. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Tengah. Kalimantan Timur. Kota Bekasi (21. Maluku Utara. yaitu DI Aceh.7%). Nusa Tenggara Timur.(7.4%). Prevalensi nasional Balita Kurus adalah 7. Kepulauan Riau.3%). Riau. Tapanuli Selatan (31. Sumatera Selatan. Aceh Barat Daya (60. Prevalensi nasional Balita Gemuk adalah 12.7%). Sulawesi Barat. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Sangat Kurus dan Kurus tertinggi adalah Solok Selatan (41. Lampung.0%). Jambi. Jambi. Sulawesi Barat.2%). Kalimantan Timur.6%). Sulawesi Tenggara.5%).6%). Kalimantan Timur. Banten. Jawa Timur. Aceh Tenggara (66.3%. Sebanyak 25 provinsi mempunyai prevalensi Balita Kurus diatas prevalensi nasional. Maluku.5%). Kota Jakarta Selatan (8. Sumatera Utara. Kota Magelang (5. Nagan Raya (30. Riau. Lampung.3%). Asmat (30.2%). DKI Jakarta.6%). dan Papua Barat. Timor Tengah Utara (59. dan Bangka (5. Sumatera Selatan. Badung (7.7%).3%).6%). prevalensi nasional Balita Pendek dan Balita Sangat Pendek (stunting) adalah 36. Kota Tanjung Pinang (19. Kota Madiun (21.0%). Sumatera Barat. Kalimantan Barat. Seram Bagian Barat (31.0%). DKI Jakarta. Bandung (4. Manggarai (33. Tapanuli Utara (61.1%). Nias Selatan (67. Maluku dan Papua. Bali. dan Papua Barat. Sulawesi Selatan. dan Papua. Seruyan (41. Kota Salatiga (4.9%). Banten.3%).9%). Simeulue (63. Kalimantan Tengah. Gorontalo.4%). Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Balita Pendek dan Balita Sangat Pendek di atas prevalensi nasional. DKI Jakarta. Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai prevalensi Balita Pendek dan Sangat Pendek terendah adalah Sarmi (16.4%).6%). Sorong Selatan (60. Bengkulu.0%).5%). Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Gizi Lebih Pada Balita diatas prevalensi nasional.9%). Sumatera Selatan. Sulawesi Tengah. Wajo (18. Secara bersama-sama. Jawa Timur.3%). Kota Tomohon (2. yaitu DI Aceh. DI Yogyakarta. Banten.7%). Sebanyak 21 provinsi mempunyai prevalensi Balita Sangat Kurus diatas prevalensi nasional.9%). Maluku. Kalimantan Barat.8%.1). Riau.4%). Sulawesi Selatan.8%). yaitu DI Aceh. Sumatera Selatan. Sumatera Utara.2% (wasting-kritis). Kalimantan Selatan. Sulawesi Tengah. Maluku. Sumatera Barat. Secara nasional. • • • • • • • viii . Cianjur (5. yaitu Sumatera Utara. Sorong Selatan (60. Kota Bogor (4. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Sangat Kurus dan Kurus terendah adalah Minahasa (0%). 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Balita Pendek dan Sangat Pendek tertinggi adalah Seram Bagian Timur (67. Timor Tengah Utara (59. Kalimantan Selatan. Gorontalo. Nusa Tenggara Barat. Maluku Utara. Nusa Tenggara Timur. Banten. Sulawesi Tengah. Kota Magelang (8. Jawa Timur. Kalimantan Barat.9%). Kepulauan Riau. Sumatera Utara. Sebanyak 18 provinsi mempunyai Balita Gemuk diatas prevalensi nasional. Kota Mojokerto (19. Riau. yaitu DI Aceh. Sumatera Utara.2%.7%). Bengkulu. Gorontalo. Nusa Tenggara Timur. Gayo Lues (59. Kota Sukabumi (3. Lampung.4% (wasting-serius) dan Balita Sangat Kurus adalah 6. Kalimantan Tengah. Sumatera Selatan. Bengkulu. Buru ( 30. Sulawesi Barat.7). Kota Batam ( 20. Sulawesi Tenggara.1%). Secara nasional. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Barat.9%). Kalimantan Selatan. Bangka Belitung.

Kalimantan Timur. Sulawesi Barat. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Kurus (laki-laki) diatas prevalensi nasional.3%. dan Maluku. Sulawesi Barat. Kalimantan Tengah. Sulawesi Selatan. yaitu DI Aceh.8%. Maluku Utara. Kalimantan Selatan. Sulawesi Tengah. Bangka Belitung. yaitu DI Aceh.9%. sedangkan prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Gemuk (Perempuan) adalah 6. Jawa Timur. Kalimantan Timur. Maluku. Papua Barat. Sumatera Utara. Jawa Timur. Riau. Bengkulu.3%. Kalimantan Timur. dan Papua. Jambi. Kalimantan Tengah. Nusa Tenggara Timur. DKI Jakarta. Prevalensi nasional Kurang Energi Kronis Pada Wanita Usia Subur (berdasarkan LILA yang disesuaikan dengan umur) adalah 13. Jawa Timur. Sulawesi Selatan. Prevalensi nasional Obesitas Sentral Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 18. Sulawesi Tenggara. Jawa Barat. Lampung. yaitu DI Aceh. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Gemuk (Laki-laki) diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Gemuk (Perempuan) diatas prevalensi nasional. Sumatera Selatan. Banten. Kalimantan Selatan. Papua Barat. yaitu Sumatera Utara. Bangka Belitung. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Obesitas Sentral Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional. Kalimantan Timur. Jambi. Kalimantan Tengah. Nusa Tenggara Barat. Jawa Barat. Jawa Tengah. Banten. Sumatera Selatan. Sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Anak Usia Sekolah Kurus (Perempuan) diatas prevalensi nasional. bahwa prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Laki-Laki Umur ≥ 15 Tahun adalah 13. Berdasarkan perbedaan menurut jenis kelamin menunjukkan. Kalimantan Timur. Bali. Sulawesi Tengah. Riau. Kalimantan Barat. yaitu Bangka Belitung. Sumatera Selatan. yaitu DI Aceh. Banten. Kalimantan Barat. Sulawesi Utara. Kalimantan Tengah. Kepulauan Riau. Sulawesi Selatan. sedangkan prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Kurus (Perempuan) adalah 10. Sumatera Utara. Lampung. Sumatera Barat. Jambi. Maluku Utara. Jawa Tengah. Bangka Belitung. Sumatera Selatan. Gorontalo. Prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Gemuk (Laki-laki) adalah 9. Bengkulu. sedangkan prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Perempuan Umur ≥ 15 Tahun adalah 23. Kalimantan Timur. Sulawesi Utara. Kepulauan Riau. Kepulauan Riau. Kepulauan Riau. Riau.9%. Kepulauan Riau. DKI Jakarta. Riau. Maluku. Bali. Jambi. dan Maluku. Lampung. Sulawesi Tenggara.4%. Kalimantan Barat. Maluku Utara. Nusa Tenggara Barat. dan Maluku Utara. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Obesitas Umum Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional. Kalimantan Barat. Nusa Tenggara Timur. dan Papua. Status Gizi Penduduk Umur 6-14 Tahun (Usia Sekolah) • Prevalensi nasional Anak Usia Sekolah Kurus (laki-laki) adalah 13. Prevalensi nasional Obesitas Umum Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 10.5%. dan Papua. dan Papua. DKI Jakarta. Jawa Timur.8%. Kalimantan Barat.Bali. DKI Jakarta. DKI Jakarta. DKI Jakarta. Gorontalo.6%. Sebanyak 10 provinsi • • • • • Status Gizi Penduduk Umur ≥ 15 Tahun • • • Status gizi Wanita Usia Subur 15-45 tahun • ix . Sulawesi Utara. Bengkulu.

Lampung. Bangka Belitung. Sulawesi Tengah.5%). Jawa Barat. Rote Ndao (11.735. Waropen (100%). Kalimantan Tengah. Sumatera Selatan.8%).9%). Musi Banyuasin (99. dan Rokan Hulu (99. Siak (100%). Kalimantan Barat. Kalimantan Selatan. Sulawesi Utara. Kalimantan Barat. Secara nasional. Sumatera Barat. Gorontalo. Gorontalo dan Papua Barat. DI Yogyakarta. yaitu Sumatera Barat. Bengkulu. Bireuen (5. Bali. DI Yogyakarta. Flores Timur (11. Sulawesi Selatan. Sumatera Selatan. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.3% rumah tangga Indonesia mempunyai garam cukup iodium.8%). Sulawesi Barat. Kepulauan Bangka Belitung. Sulawesi Barat. Dompu (11. Papua Barat. Kalimantan Tengah.0%. Maluku Utara. Sebanyak 16 provinsi mempunyai rerata konsumsi Protein per Kapita per Hari dibawah rerata nasional. Secara nasional. Dari sampel 30 kabupaten/kota. Konsumsi Energi Dan Protein • Rerata nasional Konsumsi Energi per Kapita per Hari adalah 1. Nusa Tenggara Barat. Nusa Tenggara Timur. Jawa Timur. Merangin (100%).9%. Persentase nasional Imunisasi BCG Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 86. Jawa Barat. Maluku. Banten. Sumatera Barat.1%). Aceh Utara (12. dan Bima (12. Maluku.5%. Sulawesi Tenggara.mempunyai prevalensi Kurang Energi Kronis Pada Wanita Usia Subur diatas prevalensi nasional. dan Sulawesi Barat. Karo (99.1%). Nusa Tenggara Timur. Seram Bagian Timur (10. Gorontalo. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia tertinggi adalah Nagan Raya (100%). Bangka (100%). Tabanan (11.5%). Lampung. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi Polio 3 Pada Anak Umur 1223 Bulan dibawah persentase nasional. Sebanyak 14 provinsi mempunyai persentase Imunisasi BCG Pada Anak Umur 1223 Bulan dibawah persentase nasional. Kalimantan Selatan. Kalimantan Barat. Sumatera Utara. DKI Jakarta.4%). Sumatera Selatan. dan Papua. ternyata persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia (30-80 ppm KIO3) adalah 24. Sulawesi Utara. yaitu DKI Jakarta. Kepulauan Riau. Bengkulu.7%). Sulawesi Tengah. Sebanyak 21 provinsi mempunyai rerata Konsumsi Energi per Kapita per Hari dibawah rerata nasional. Jawa Barat. Kalimantan Timur. • Konsumsi garam beriodium • • • Status Imunisasi • • x . DI Yogyakarta. Persentase nasional Imunisasi Polio 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 71. yaitu Riau. Maluku Utara. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Kalimantan Selatan. Jambi. Nusa Tenggara Timur. Bali. Sebanyak 6 provinsi telah mencapai target Universal Salt Iodization 2010 (90%). Jawa Tengah. Jeneponto (11. yaitu Sumatera Barat.3%). Rerata nasional Konsumsi Protein per Kapita per Hari adalah 55. Gorontalo. Kepualauan Mentawai (100%). 10 kabupaten/kota dengan persentase rumah tangga yang menggunakan garam dengan kandungan yodium sesuai Standar Nasional Indonesia terendah adalah Pidie (1.5%).5 kkal. Kalimantan Tengah. Banten. Nusa Tenggara Barat. Banten. Jawa Tengah. sebanyak 62. Jambi. Sulawesi Tenggara. Maluku. Banten.5 gram. Papua Barat dan Papua. Jawa Tengah.8%). Papua Barat dan Papua. Sulawesi Selatan. Bangka Belitung. dan Sulawesi Barat. Sumatera Utara.0%). Jambi. Tolikara (100%).

Secara nasional. DKI Jakarta. • • • Pemantauan Pertumbuhan Balita • • Distribusi Kapsul Vitamin A • xi . Sumatera Utara. Sulawesi Selatan.5%). Sumatera Selatan. Kalimantan Barat. Tolikara (0%).6%). Sulawesi Tengah. Maluku.7%). Sulawesi Tenggara. Banten.0%). Papua Barat dan Papua. Jeneponto (1. dan Wajo (2. Sumatera Barat. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Barat. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase Imunisasi Lengkap tertinggi adalah Gianyar (93. Sikka (86. Bantaeng (1. dan Jayawijaya (4. Bangka Belitung. Keerom (86. Kalimantan Tengah. Papua Barat dan Papua. Kota Metro (80.4%).6%. Wonogiri (80. Lembata (93. Sulawesi Selatan. Jambi. Gorontalo. Keerom (88. Pegunungan Bintang (2. Banten. Bone (1.3%). Sebanyak 13 provinsi mempunyai persentase Imunisasi Campak Pada Anak Umur 12-23 Bulan dibawah persentase nasional. Persentase nasional Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A adalah 71. Kalimantan Selatan. Grobogan (85. Timor Tengah Utara (84.9%).2%). Sulawesi Barat. Persentase nasional Balita Yang Ditimbang ≥ 4 Kali Selama 6 Bulan Terakhir adalah 45. Riau. Papua Barat dan Papua. Raja Ampat (96. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Bengkulu.5%). Secara nasional.8%).5%. Takalar (2. Kalimantan Tengah. Sulawesi Barat.0%). Malinau (78. Bangka Belitung. Nusa Tenggara Timur.1%). Pinrang (1. 10 kabupaten/kota dengan persentase Imunisasi Lengkap terendah adalah Waropen (0%). Sumatera Utara. Jawa Barat. Sebanyak 15 provinsi mempunyai persentase Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A dibawah persentase nasional.0%).7%).3%). Maluku. Papua Barat dan Papua.1%). Kalimantan Tengah. Banten. Lampung.3%). Kepulauan Riau. dan Gunung Kidul (83. Jambi.5%). Banten.8%).7%). Paniai (0%). Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.6%). Wonogiri (84. Jawa Timur. Maluku Utara. Persentase nasional Imunisasi HB 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 62. yaitu Sumatera Utara. Sulawesi Tenggara. Kota Bontang (81.9%). Kalimantan Tengah. Kepulauan Riau. Flores Timur ( 85. Gorontalo. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi DPT 3 Pada Anak Umur 1223 Bulan dibawah persentase nasional. Maluku. Maluku. dan Wonosobo (78. dan Sulawesi Barat. Sulawesi Barat.• Persentase nasional Imunisasi DPT 3 Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 67. Sumatera Selatan. Nias Selatan (4. Sulawesi Tenggara.6%).7%). Nusa Tenggara Timur.7%). Puncak Jaya (0%). Asmat (4. Badung (81. Kalimantan Barat. Sulawesi Selatan. yaitu Sumatera Utara.0%). Persentase nasional Imunisasi Campak Pada Anak Umur 12-23 Bulan adalah 81. Jawa Barat. Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase Imunisasi HB 3 Pada Anak Umur 1223 Bulan dibawah persentase nasional. Papua Barat dan Papua.9%). Lampung. 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang Rutin terendah adalah Maros (0. Pangkajene Kepulauan (2. Gowa (1.0%). Jawa Barat.7%.8%. Kalimantan Barat. Sulawesi Tengah. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Yahukimo (0%). Bengkulu. Sidenreng Rappang (0.3%). Berau (79.1%). Karanganyar (83. Gayo Lues (1.0%). Maluku.9%).6%). Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang Rutin tertinggi adalah Kepulauan Seribu (100.4%. Sebanyak 19 provinsi mempunyai persentase Balita Yang Ditimbang ≥ 4 Kali Selama 6 Bulan Terakhir dibawah persentase nasional. Riau. Sulawesi Tengah. Nusa Tenggara Barat. Bangka Belitung. Kalimantan Tengah. Sumatera Barat.0%). Sumatera Utara.2%).

Persentase nasional Bayi Berat Lahir Rendah (< 2. Bengkulu.5% .3%). Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase Bayi Berat Lahir Lahir Rendah diatas persentase nasional. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.• Secara nasional. Kalimantan Barat. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Malaria diatas prevalensi nasional.50%. Kepulauan Riau. Banten.6%). yaitu Sumatera Selatan. Prevalensi nasional Malaria (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 2. Sulawesi Selatan. 10 kabupaten/kota yang mempunyai persentase Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A terendah adalah Yahukimo (5. Keerom (94. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tengah. Sulawesi Tenggara.0%).8%). Sumedang (92. DI Yogyakarta. Kepulauan Riau. dan Papua. Temanggung (93. Tolikara ( 28. Nusa Tenggara Timur.0%). Papua Barat dan Papua. dan Papua. Mamasa (26. dan Kepulauan Seribu (100. Nusa Tenggara Barat. Paniai (16. Prevalensi nasional Filariasis (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.5%). Nusa Tenggara Timur. Papua Barat dan Papua Persentase tempat melahirkan tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Timur.1%). Sulawesi Barat. Dairi ( 35. Semarang (94. Sabang (96.0%).2%).500 gram) adalah 11. Sumatera Utara.8%). Papua Barat.6%). Kulon Progo (92. Buru (23.8%). Bintan (93.4%). Papua Barat dan Papua adalah di rumah (berkisar antara 65. Maluku Utara. Gorontalo. Jawa Tengah. Maluku. Bengkulu. Sulawesi Tengah. Papua Barat dan Papua. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Demam Berdarah Dengue diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Barat. Maluku Utara. Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak • • • Penyakit Menular – Ditularkan Vektor • • • Penyakit Menular – Ditularkan Melalui Udara • xii . Kepulauan Sula (26. Gorontalo. Papua Barat dan Papua. Jambi. Kapuas (32. dan Mandailing Natal (36. Tempat Melahirkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Barat. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Kalimantan Selatan.0%). DKI Jakarta.8%). Maluku. Bangka Belitung. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan persentase Anak Umur 6-59 Bulan Yang Menerima Kapsul Vitamin A tertinggi adalah Landak (92.0%).62%. Bangkulu. Nusa Tenggara Timur.9%).11%. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut diatas prevalensi nasional.5%. Hanya sebagian kecil ibu di 5 provinsi ini memilih tempat melahirkan di polindes/poskesdes (berkisar antara 0. Labuhan Batu (34. Gorontalo. Kalimantan Tengah. Banten.9%).9%). Sumatera Barat. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Filariasis diatas prevalensi nasional. Maluku Utara. Maluku.4% 85. Maluku.5%). Kalimantan Selatan. DKI Jakarta.4%). Bangka Belitung. Maluku. Kalimantan Timur. Prevalensi nasional Infeksi Saluran Pernafasan Akut (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 25. Riau. Jawa Barat. Sulawesi Tengah. Prevalensi nasional Demam Berdarah Dengue (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. Sulawesi Tengah. Kalimantan Barat. Kota Surakarta (93. Maluku Utara. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tengah. Kalimantan Tengah. Bangka Belitung. Maluku Utara.3%). Nusa Tenggara Barat.3.85%. Papua Barat.

yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Timur. DKI Jakarta. Sumatera Barat. Papua Barat.. Jawa Tengah. Banten. Papua Barat dan Papua. Raja Ampat (55. Papua Barat dan Papua. Gorontalo. Prevalensi nasional Tuberkulosis Paru (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. Jawa Tengah.0%).5%). Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Diare diatas prevalensi nasional. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut terendah adalah Seram Bagian Barat (3. Sulawesi Utara. Papua Barat dan Papua. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Sendi diatas persentase nasional. Sumatera Barat. Sulawesi Selatan. Kota Palembang (6. Banten. Gorontalo. Sikka (55.4%). Banten. Sulawesi Tengah.5%). Nusa Tenggara Barat. Gorontalo. Nusa Tenggara Timur. Banten. Prevalensi nasional Penyakit Sendi adalah 30. Riau. Kalimantan Selatan. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. dan Pontianak (8. Kota Denpasar (4. Sulawesi Tengah. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.3%).60%. Maluku Utara. Sulawesi Selatan.8%). Ngada (58. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Campak diatas prevalensi nasional. Pegunungan Bintang (59. Sumatera Barat. Pulang Pisau (6.7%). dan Papua. Sulawesi Tenggara. Riau. Prevalensi nasional Campak (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 1. Sebanyak . Prevalensi nasional Tifoid (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 1. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Selatan.00%. Prevalensi nasional Pnemonia (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 2.1%).8%). dan Papua. Gorontalo.6%). Nusa Tenggara Barat.3%). Riau. Maluku Utara. Nusa Tenggara Barat. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut tertinggi adalah Kaimana (63. Nusa Tenggara Timur.13%. Papua Barat. Sorong Selatan (56. Bengkulu. Sulawesi Tengah. Lembata (62. Sumatera Barat. Prevalensi nasional Hepatitis (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0. Nusa Tenggara Barat. Jambi. Kalimantan Selatan. Gorontalo.18%. Manggarai Barat (63. Kota Binjai (5. Jawa Barat.7%). Sulawesi Tengah. Sulawesi Tenggara. Kota Pasuruan (8.60%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Tuberkulosis Paru diatas prevalensi nasional.3% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala).6%). Papua Barat dan Papua. Sulawesi Selatan.1%). Kalimantan Selatan. Sulawesi Tengah. Prevalensi nasional Diare (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 9. Gorontalo. Nusa Tenggara Barat. Jawa Barat. Langkat (7. Riau. Kalimantan Timur. Kalimantan Selatan. Nusa Tenggara Timur. Banten.0%). Ogan Komering Ulu (6. DI Yogyakarta.99%. provinsi mempunyai prevalensi Tifoid diatas prevalensi nasional. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Tengah. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.• Secara nasional.8%). Jawa Barat. Sumatera Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. dan Puncak Jaya (56. Nusa Tenggara Barat.8%). Sulawesi Selatan.1%). Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Hepatitis diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tenggara. Jawa Tengah. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Pnemonia diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Timur. Kota Pagar Alam (7. Sumatera Barat. DKI Jakarta. • • • Penyakit Menular – Ditularkan Melalui Makanan dan Minuman • • • Penyakit Tidak Menular • xiii .7%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.9%). Manggarai (61. Sulawesi Tenggara.

• Secara nasional. Banjar (9.8% (berdasarkan pengukuran).7%). Sebanyak 10 provinsi mempunyai prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun diatas prevalensi nasional. Sulawesi Tengah.0%). Tapin (46.2% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Jawa Timur. Gorontalo. Prevalensi nasional Penyakit Jantung adalah 7. DI Yogyakarta.5%). 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun tertinggi adalah Natuna (53.3%). Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Asma diatas prevalensi nasional.1%).7%).5%). DKI Jakarta. Kepulauan Mentawai (11. Mamasa (50. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.5%). dan Papua Barat. Nusa Tenggara Timur.6%). dan Jeneponto (51. Kalimantan Selatan. Pegunungan Bintang (13. Jawa Barat. Majalengka (51. Sarmi (14. dan Sulawesi Barat.4%). Lampung Tengah ().9%).6%). Lampung Utara (0.8% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Jawa Tengah. Nusa Tenggara Barat.5%).6%).2%).5%). Gorontalo.6%). Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Selatan. Rokan Hilir (47.Bengkulu.9%). Jawa Tengah.7%).7%).2%). Nusa Tenggara Timur. dan Tulang Bawang (15. dan Papua Barat.1%).7%).6%).0% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Buol (13. dan Kota Salatiga (45. Jawa Tengah. Garut (55. dan Kota Binjai (0. Serdang Bedagai (0. Kepulauan Riau. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Asma tertinggi adalah Aceh Barat (13. Kalimantan Selatan. Gorontalo. Manggarai (54.6%). Kalimantan Selatan.5%). Sorong Selatan (10. Kediri (0. Kota Binjai (10. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Jantung diatas prevalensi nasional.4%).2%). Lembata (57. Tasikmalaya (56. Kalimantan Tengah. Bali. Prevalensi nasional Penyakit Diabetes Melitus adalah 1.9%). Bener Meriah (46. Siak (9. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Asma terendah adalah Yakuhimo (0.2%). Nusa Tenggara Barat. Secara nasional. Karo (11. yaitu Riau. Langkat (0. Sulawesi Tenggara.8%).0%).6%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.1%).1%). Bangka Belitung.6%). 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Sendi tertinggi adalah Sampang (57. DI Yogyakarta. Kota Payakumbuh (11. dan Sulawesi Barat. Sedangkan 10 kabupaten/kota yang mempunyai prevalensi Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun terendah adalah Jayawijaya (6. Tolikara ( 53. Nusa Tenggara Timur. Tolikara (12. Sulawesi Tengah. Prevalensi nasional Penyakit Asma adalah 4. yaitu Nanggroe Aceh • • • • • • • xiv . Tana Toraja (9. Cianjur (56. Jawa Barat. Sumatera Barat. Jawa Barat. Tapanuli Selatan (0. Kota Makassar (12.5%).1%).5%). Jawa Barat. Ogan Komering Ulu Timur (10. Yahukimo (13. Kaimana (10. dan Manggarai (9.2%).3%).6%).6%). yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Tengah. Katingan (49. Teluk Wondama (9. Sumedang (55.9%). Pohuwato (13.2%). DKI Jakarta.5%). Prevalensi nasional Hipertensi Pada Penduduk Umur > 18 Tahun adalah sebesar 29. Kalimantan Selatan. Sulawesi Tengah. Sulawesi Utara.0%).5%). Barito Timur (11.8%). Sulawesi Tenggara. Bengkulu Selatan (11. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Penyakit Sendi terendah adalah Yakuhimo (0.6%).9%). Wonogiri (49.1%).7%).9%). Sulawesi Utara.7%).0%).6%). dan Papua Barat. Jawa Timur. Riau. Ogan Komering Ulu (8. Boalemo (11. Karo (0. Seluma (14.1% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala). Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Diabetes Melitus diatas prevalensi nasional.9%). Kuantan Senggigi (46. Secara nasional. Sumba Barat (11. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Stroke diatas prevalensi nasional. Prevalensi nasional Strok adalah 0. Kalimantan Selatan. Hulu Sungai Selatan (48. Kepulauan Riau.5%). Nusa Tenggara Barat. Sumatera Barat. Soppeng (0.

2% (berdasarkan keluhan responden 7 provinsi mempunyai prevalensi Bibir Nanggroe Aceh Darussalam. DKI Jakarta. Jawa Tengah. Sumatera Selatan. DKI Jakarta. Sumatera Selatan. DKI Jakarta. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Bangka Belitung. • • • xv . Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Rhinitis diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Barat. Bangka Belitung. Nusa Tenggara Timur. Bangka Belitung. yaitu Sumatera Barat. Prevalensi nasional Hemofilia adalah 0. Jawa Barat. Banten. Prevalensi nasional Talasemia adalah 0. 0. Bengkulu. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Talasemia diatas prevalensi nasional. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.Darussalam. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Hemofilia diatas prevalensi nasional. dan Papua Barat. Kepulauan Riau. Sumatera Selatan. Kalimantan Tengah. DKI Jakarta. Jawa Barat. Kalimantan Timur. DKI Jakarta. Sumatera Selatan. Jawa Tengah. Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Glaukoma diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Barat. Prevalensi nasional Bibir Sumbing adalah atau observasi pewawancara).8% (berdasarkan keluhan responden). dan Nusa • • • • • Prevalensi nasional Dermatitis adalah 6. Tenggara Barat. Riau. Sumatera Selatan. Sebanyak 6 provinsi mempunyai prevalensi Buta Warna diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Barat. Bangka Belitung.7% (berdasarkan keluhan responden).7% (berdasarkan keluhan responden). DI Yogyakarta. Sumatera Selatan. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. DI Yogyakarta. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Utara. Sulawesi Utara. Sebanyak Sumbing diatas prevalensi nasional. Sumatera Barat. Sulawesi Tengah. DKI Jakarta. Kepulauan Riau. dan Gorontalo. dan Gorontalo. Sumatera Barat. DI Yogyakarta. Prevalensi nasional Buta Warna adalah 0. Maluku. Gorontalo. Gorontalo. Prevalensi nasional Glaukoma adalah 0. dan Sulawesi Selatan. dan Nusa Tenggara Barat. dan Gorontalo. Sumatera Barat. DKI Jakarta. Bangka Belitung. Jawa Timur. Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi Penyakit Tumor/Kanker diatas prevalensi nasional. DI Yogyakarta. Jawa Barat. Kepulauan Riau.5% (berdasarkan keluhan responden atau observasi pewawancara). Sulawesi Utara. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Tengah. DKI Jakarta. Nusa Tenggara Barat. Jawa Tengah. yaitu Utara. Sumatera Barat.4% (berdasarkan keluhan responden). Prevalensi nasional Gangguan Jiwa Berat adalah 0.4% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). Sulawesi Utara. Jawa Timur. Sumatera Barat.5% (berdasarkan keluhan responden). Bali.1% (berdasarkan keluhan responden). Jawa Tengah. Bangka Belitung. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Dermatitis diatas prevalensi nasional. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kepulauan Riau. DKI Jakarta. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Papua Barat dan Papua. Jawa Barat. Sulawesi Tengah. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Tengah. Bengkulu. Sumatera Barat. Sulawesi Tengah. Sulawesi Selatan. Kalimantan Selatan. Prevalensi nasional Rhinitis adalah 2. Sumatera Selatan. Gorontalo. dan Papua Barat. Sebanyak 7 provinsi mempunyai prevalensi Gangguan Jiwa Berat diatas prevalensi nasional. DKI Jakarta. Kepulauan Riau. Sumatera Barat. Kalimantan Selatan. Kalimantan Timur. Kepulauan Riau. Sumatera Kepulauan Riau. • Prevalensi nasional Penyakit Tumor/Kanker adalah 0. Sulawesi Tengah.

yaitu Nanggroe Aceh Darusalam.8% (berdasarkan hasil pengukuran.6%). dan Sulawesi Barat. Belitung Timur (31.6%). Nusa Tenggara Timur.6%). Cirebon (29. Sulawesi Selatan. Banjarnegara (30. Jawa Timur. Bengkulu.7%). Banten. Timor Tengah Utara (36. Kudus (2. Jambi.• Prevalensi nasional Gangguan Mental Emosional Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun adalah 11.4%).5%. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun terendah adalah Yahukimo (1.9%). Jambi.8%). dan Papua Barat.0%). Jawa Tengah.1%). Manggarai (32. Kota Baru (2.9%). Bengkulu. Sulawesi Utara. Pulang Pisau (1. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun tertinggi adalah Aceh Selatan (53. Sumatera Selatan. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Jombang (3.4%).4%). Lampung. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Sulawesi Selatan. Sumatera Selatan. Prevalensi nasional Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun 1. Kampar (35. Bengkulu. DKI Jakarta. Gorontalo.2%). Madiun (2.7%). Jawa Tengah. Bengkulu. Prevalensi nasional Kebutaan adalah 0. Papua Barat dan Papua. Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Barat.5%). Sumatera Barat. Nusa Tenggara Timur. Bondowoso (3. Sumatera Utara. Purwakarta (32. Jawa Barat.5%). Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase penderita Katarak pada penduduk umur > 30 tahun yang pernah menjalani operasi Katarak dibawah persentase nasional. Persentase nasional penderita Katarak pada penduduk umur > 30 tahun yang pernah menjalani operasi Katarak adalah 18. DKI Jakarta. Pasaman (39.0% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). Sumatera Barat. Persentase nasional Low Vision adalah 4. Kalimantan Selatan.9%). Sebanyak 19 provinsi mempunyai prevalensi Masalah Gigi-Mulut diatas prevalensi nasional. Nusa Tenggara Barat.6% (berdasarkan Self Reported Questionnarie). DI Yogyakarta. Kota Metro (1. Jeneponto (40.9%). Secara nasional. Mojokerto (3. Aceh Barat Daya (41.2%). Riau. Lampung. Jawa Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Timur. Maluku Tengah (2. Sebanyak 8 provinsi mempunyai prevalensi Low Vision diatas prevalensi nasional. Maluku Tenggara (38. Sulawesi Selatan. Bali. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.5%). Sulawesi Tengah.6%). Maluku. Boalemo (29. Riau. Tabalong (2. DI • • • • • • • xvi .8% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). Jawa Tengah. Pidie (40. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Gangguan Mental Emosional Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun diatas prevalensi nasional.1%). Jawa Timur. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gangguan Mental Emosional tertinggi adalah Luwu Timur (33. Sulawesi Barat. Prevalensi nasional Masalah Gigi-Mulut adalah 23. Lampung Utara (3.6%). Jawa Tengah.0%). Aceh Selatan (32. Kepulauan Riau. dan Karo (3.5%).9% (berdasarkan hasil pengukuran.6%). Karanganyar (2. Boalemo (47. visus < 3/60).4%). Nusa Tenggara Barat. dan Muaro Jambi (2. Secara nasional. visus <20/60 – 3/60). Kota Magelang (2.4%). Sidoarjo (1.7%). dan Luwu Utara (35.0%). Bali. Karimun (1. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Kebutaan diatas prevalensi nasional.5%). Bengkulu. Jayapura (1. Kalimantan Selatan.1%). Bangka Belitung. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gangguan Mental Emosional terendah adalah Yahukimo (1. Gorontalo.1%). Jambi. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.3).6%). dan Papua Barat.6%). Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Tenggara. Jawa Barat.8%).9%) dan Kota Malang (29.5%). Nusa Tenggara Timur. Jawa Tengah.

Sulawesi Tengah. Sulawesi Selatan. Prevalensi nasional Diabetes Melitus (berdasarkan hasil pengukuran gula darah pada penduduk umur > 15 tahun bertempat tinggal di perkotaan) adalah 5. Maluku. dan Papua Barat. Kalimantan Timur. Nusa Tenggara Barat. Jawa Timur. Riau.5% (berdasarkan pengakuan responden.7%. Jawa Tengah. DI Yogyakarta. Nusa Tenggara Barat. Bangka Belitung. bertempat tinggal di perkotaan) adalah 10. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Barat. Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa adalah 13. Kalimantan Timur. Kalimantan Barat. yaitu Sumatera Utara. Sebanyak 11 provinsi mempunyai prevalensi Gosok Gigi Setiap Hari dibawah prevalensi nasional. Kalimantan Timur. Sulawesi Tenggara. DKI Jakarta. Jawa • Pengukuran Biomedis (Anemia dan Diabetes Mellitus) • • • • • Cedera dan Disabilitas • xvii . Sebanyak 17 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa dibawah nilai rerata nasional. Banten. Bangka Belitung. Bangka Belitung. Jawa Tengah. Kalimantan Tengah. Jawa Tengah. Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Laki-Laki Dewasa adalah 14. dan Maluku Utara. DKI Jakarta. yaitu Sumatera Barat. Prevalensi nasional Toleransi Glukosa Terganggu (berdasarkan hasil pengukuran gula darah pada penduduk umur > 15 tahun. Lampung. Lampung. Sulawesi Barat. Sulawesi Selatan. Kalimantan Selatan. Kalimantan Timur. Kalimantan Selatan. DKI Jakarta.00 g/dl. Sulawesi Tengah. dan Papua Barat.2%. Bangka Belitung. untuk berbagai penyebab cedera). Di Yogyakarta. Nusa Tenggara Timur. Jawa Tengah. Kepulauan Riau. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. DKI Jakarta. Sebanyak 14 provinsi memiliki prevalensi Karies Aktif diatas prevalensi nasional. Sumatera Selatan. Riau. • Prevalensi nasional Gosok Gigi Setiap Hari adalah 91. Sulawesi Selatan.Yogyakarta. dan Maluku. DKI Jakarta. Kalimantan Selatan. Kalimantan Tengah. Jambi. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Tengah. Maluku Utara. Maluku. Lampung. Sulawesi Tenggara. Bangka Belitung. Sulawesi Tengah. Maluku Utara. Jawa Barat. Gorontalo. Kalimantan Barat. Kalimantan Barat. Gorontalo. Sulawesi Barat. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu diatas prevalensi nasional. Gorontalo. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Utara.4%. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Barat. Sulawesi Barat. Sumatera Barat. Nilai rerata nasional Kadar Hemoglobin Pada Anak-Anak Umur < 14 Tahun adalah 12. Sulawesi Tenggara.67 g/dl.1%. Sumatera Utara. Sulawesi Utara. Prevalensi nasional Cedera adalah 7. Jawa Timur. DKI Jakarta.67 g/dl. Prevalensi nasional Karies Aktif adalah 43. Sulawesi Selatan. Bali. Kalimantan Selatan. Sulawesi Utara. Sulawesi Selatan. yaitu Riau. Sulawesi Tenggara. Gorontalo. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi Diabetes Melitus diatas prevalensi nasional. Maluku. dan Maluku Utara. Sulawesi Utara. Sebanyak 21 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Laki-Laki Dewasa dibawah nilai rerata nasional. yaitu Bengkulu. Kalimantan Barat. DI Yogyakarta. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tengah. Riau. Maluku. Sumatera Selatan. Papua Barat dan Papua. Maluku Utara. Sumatera Utara. Sumatera Barat. Jawa Timur. Kalimantan Selatan. Banten. Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Timur. DI Yogyakarta. dan Maluku Utara. Sulawesi Tenggara. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Cedera diatas prevalensi nasional. Papua Barat dan Papua. Jawa Tengah. Sebanyak 14 provinsi mempunyai nilai rerata Kadar Hemoglobin Pada Anak-Anak Umur < 14 Tahun dibawah nilai rerata nasional. Bangka Belitung. Sulawesi Selatan.

Karo (40. Kalimantan Barat. dan Sulawesi Barat. Jawa Tengah. yaitu Sebanyak 21 provinsi mempunyai prevalensi Balita Sangat Kurus diatas prevalensi nasional. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun tertinggi adalah Asmat (53.3%). Bangka Belitung. Kota Kupang (11. Sulawesi Utara. Bali. Bangka Belitung.4%). Yapen Waropen (15. DKI Jakarta. Banten. Kalimantan Selatan.2%).6%. yaitu Sumatera Barat. Sulawesi Tenggara. Bali.6%. Pegunungan Bintang (35. Banten.2%). Kota Ambon (15. Sidoarjo (14. Pontianak (13.9%) dan terluka benda tajam (20.0%). Kalimantan Tengah. Sebanyak 22 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional. Boven Digul (36. Sumatera Selatan. Riau.9%). Buton (15. Melawi (34. Kalimantan Selatan. Disability and Health) yang paling menonjol adalah gangguan penglihatan jarak jauh (11. Jawa Barat. dan Tabalong (15. Banten. dan Papua Barat.Barat.2%). Manokwari (13. gangguan penglihatan jarak dekat (11. Secara nasional. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun diatas prevalensi nasional. Wonosobo (34. Sulawesi Selatan. Kalimantan Selatan. DI Yogyakarta.4% perokok merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain. Barru (15. Lampung. Sumatera Utara. Probolinggo (34. Secara nasional. Jawa Timur.4%). Maluku.8%). dan gangguan berjalan jauh (11. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional. Kepulauan Riau.5%). Prevalensi nasional Minum Alkohol Selama 12 Bulan Terakhir adalah 4. Riau.0%).3%). Sulawesi Tengah.5%). Bangka Belitung. kecelakaan transportasi darat (25. • • Perilaku Merokok • • • Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur • Perilaku Minum Minuman Beralkohol • xviii . Gorontalo. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.5%). dan Maluku Utara. Jawa Tengah. Nusa Tenggara Barat. Prevalensi nasional Kurang Makan Buah dan Sayur Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 93. Temanggung (36. Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Utara. Persentase nasional Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 23. Kalimantan Tengah. Sumatera Barat. Gorontalo. Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan.5%). Jawa Barat.6%). Nusa Tenggara Barat. Jawa Timur.9%). 85.5%).6%). Jawa Tengah. Sumatera Selatan.6%). Jawa Barat. Bali. Sulawesi Barat. yaitu Sumatera Utara.5%. dan Maluku Utara. Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Minum Alkohol Selama 12 Bulan Terakhir diatas prevalensi nasional.8%). Sedangkan jenis rokok yang paling diminati adalah kretek dengan filter (64. Kalimantan Barat. yaitu Sumatera Barat.7%). Kepulauan Riau. Prevalensi nasional Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun adalah 19. Sulawesi Tengah. Jambi. Mappi (44. Nusa Tenggara Barat.6%). Prevalensi nasional Disabilitas Pada Penduduk Umur > 15 Tahun (berdasarkan International Classification of Functioning. Bengkulu.7%.6%). Gorontalo. • Persentase nasional 3 penyebab cedera terbanyak adalah jatuh (58. Jawa Timur. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Merokok Setiap Hari Pada Penduduk Umur > 10 Tahun terendah adalah Puncak Jaya (8.2%).8%). dan Lampung Barat (33. Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Tengah.

Maluku Utara. Papua Barat. Prevalensi nasional Pernah Mendengar HIV/AIDS adalah 44. Sulawesi Tenggara.9%). Kalimantan Timur. dan Sulawesi Tengah. Humbang Hasundutan (62. Kota Tomohon (61.9%. Kota Samarinda (18. Sumatera Selatan. Kalimantan Timur. Kota Balikpapan (19. Jawa Tengah. Kalimantan Timur. Lampung. Banten. Kepulauan Riau.2%. DI Yogyakarta. Bangka Belitung. Maluku.0). Nusa Tenggara Barat. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun tertinggi adalah Pacitan (68. DKI Jakarta. Jawa Barat.0). Sulawesi Barat. dan Seram Bagian Barat (19. Gorontalo. Sumatera Barat. • Pengetahuan dan Sikap tentang Flu Burung • • Pengetahuan dan Sikap tentang HIV/AIDS • • Perilaku Higienis xix . dan Toba Samosir (61. Kalimantan Selatan.7%).7%. Lampung. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Berpengetahuan Benar Tentang Penularan HIV/AIDS (diantara penduduk yang pernah mendengar HIV/AIDS) dibawah prevalensi nasional. Kalimantan Selatan.1%). Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Pernah Mendengar HIV/AIDS dibawah prevalensi nasional. Jambi. Maluku. Dairi (61.4%). Gunung Kidul (65.3%).9%). dan Papua.9%). dan Papua Barat. Banten. Sumatera Barat. Kota Payakumbuh (13. Kalimantan Selatan.4%).8%). Sulawesi Barat. Jawa Barat. Sulawesi Tengah.4%. Sulawesi Selatan. Riau. Jawa Tengah. Kalimantan Tengah. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Timur. Langsa (17. Sulawesi Selatan. Riau.5%). Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. DKI Jakarta. Jawa Timur. Ogan Komering Ulu Timur (62. Jawa Timur.3%). Bangka Belitung. Magetan (63. Bali. Prevalensi nasional Berpengetahuan Benar Tentang Penularan HIV/AIDS (diantara penduduk yang pernah mendengar HIV/AIDS) adalah 13. Kalimantan Selatan.3%). Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Tenggara. Maluku Utara.4%). Kalimantan Tengah.7%). Gorontalo. Lampung. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Berpengetahuan Benar Tentang Flu Burung (diantara penduduk yang pernah mendengar Flu Burung) dibawah prevalensi nasional. Sulawesi Tengah. Sekadau (62. Sedangkan 10 kabupaten/kota mempunyai dengan prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun terendah adalah Kota Padang (11. Sulawesi Utara. Secara nasional.7%. Kepulauan Riau. Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan. yaitu Bengkulu. Bangli (62. Kota Lubuk Linggau (12. dan Papua. Aceh Timur (19. Prevalensi nasional Pernah Mendengar Flu Burung adalah 64. Perilaku Aktifitas Fisik • Prevalensi nasional Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun adalah 48. Sulawesi Tenggara. Sumatera Selatan. Nusa Tenggara Timur. Bungo (18.Sulawesi Tengah. Papua Barat. Sebanyak 16 provinsi mempunyai prevalensi Kurang Aktivitas Fisik Pada Penduduk Umur > 10 Tahun diatas prevalensi nasional. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Bangka Belitung. Kalimantan Selatan.8%). DI Yogyakarta. Banten. Jawa Barat. Sulawesi Utara. Maluku.9%). DKI Jakarta. Jawa Barat. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Pernah Mendengar Flu Burung dibawah prevalensi nasional. DI Yogyakarta.3%). yaitu Nangroe Aceh Darussalam. Jawa Tengah. Prevalensi nasional Berpengetahuan Benar Tentang Flu Burung (diantara penduduk yang pernah mendengar Flu Burung) adalah 78. yaitu Sumatera Barat.4%). Sumatera Utara. Kota Bukit Tinggi (17. Gorontalo. Bali. Maluku Utara. Sulawesi Utara. Jawa Timur.

2%. Soppeng (64. yaitu Sumatera Selatan. Papua Barat. dan Timor Tengah Selatan (3. dan Papua. dan Kuningan (60. Prevalensi nasional Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat adalah 38. dan Papua. Gorontalo. Maluku Utara.4%). Sulawesi Tenggara. Bidan Praktek) • Secara nasional. Sulawesi Tengah. Sulawesi Utara. Gorontalo. Banten. dan Sulawesi Barat.1%). Jambi. Lampung. Maluku Utara. Maluku. Nias (3.1%). Lampung. Nusa Tenggara Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.4%). Sulawesi Tenggara.7%). Jambi. Jawa Barat. Sumatera Barat.8% rumah tangga dapat mencapai sarana pelayanan kesehatan kurang atau sama dengan 30 menit. Riau. Jambi. Sulawesi Barat. Gayo Lues (1. Sebanyak 22 provinsi mempunyai penduduk umur > 10 tahun yang mengkonsumsi Penyedap diatas prevalensi nasional.3%).0%).1% rumah tangga berada kurang atau sama dengan 5 km dari salah satu sarana pelayanan kesehatan dan sebanyak 90. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Riau. Bengkulu. Sumatera Barat. Prevalensi nasional Berperilaku Benar Dalam Cuci Tangan adalah 23. Jambi.3%). Kepulauan Riau.7%). Kalimantan Tengah. Sumatera Selatan. Jawa Barat.8%). Bengkulu. Puskesmas. dan Papua. Jawa Timur. Sulawesi Utara. Sulawesi Selatan. Sulawesi Barat. Sebanyak 18 provinsi mempunyai persentase rumah tangga berada lebih dari 5 km dari sarana pelayanan kesehatan diatas persentase nasional. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dibawah prevalensi nasional. Kalimantan Timur. Manis (68. Sulawesi Tenggara. Bangka Belitung. Sulawesi Tenggara. Kota Kendari (62. Sulawesi Tengah. 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat terendah adalah Raja Ampat (0%). Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi Berperilaku Benar Dalam Cuci Tangan dibawah prevalensi nasional. Gianyar (66. sebanyak 94. Sumatera Selatan. Bali. Sulawesi Selatan. • xx . Bengkulu. Nagan Raya (2. Badung (100%). Jawa Tengah. Supiori (0%). Kota Tomohon (63. Banten. Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 22 provinsi mempunyai prevalensi Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat dibawah prevalensi nasional. • Pola Konsumsi Makanan Berisiko • • Perilaku Hidup Bersih dan Sehat • • Akses Ke Sarana Pelayanan Kesehatan (Rumah Sakit. Gorontalo. Banten. Maluku. Kota Batu ( 67. Sulawesi Tengah.1%. Secara nasional. Paniai (2. Nusa Tenggara Barat.1%). Kalimantan Barat. Nusa Tenggara Barat. Sumedang (68. Dokter Praktek. Nias Selatan (1.1%). Secara nasional. Kalimantan Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Nusa Tenggara Timur. Nusa Tenggara Timur.5%). Sulawesi Tengah. Sulawesi Selatan.2%). Jayawijaya (2. Lampung. Sumatera Utara. Gorontalo. Jawa Timur. Kalimantan Tengah. Kepulauan Mentawai (1. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Bangka Belitung. Jawa Tengah. Papua Barat. Kalimantan Selatan. Sumatera Barat. Papua Barat.5%). Sumatera Barat. Gorontalo. DKI Jakarta. Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat tertinggi adalah Klungkung (100%). Kalimantan Tengah. dan Papua Barat. dan Kafein (36. Maluku. Kalimantan Selatan. Kepulauan Riau.7%. Riau. Bangka Belitung.• Prevalensi nasional Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar adalah 71.8%). prevalensi makanan berisiko yang paling banyak dikonsumsi oleh penduduk umur > 10 tahun adalah Penyedap (77. Kalimantan Selatan.8%). Sulawesi Tengah. Banten. Sulawesi Barat. Kalimantan Barat.8%). Sukoharjo (61. Nusa Tenggara Barat. Pustu.1%).

Riau.8%). Sebanyak 17 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu untuk pembiayaan rawat inap diatas persentase nasional.9%).Akses Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (Posyandu. Bangka Belitung. Nusa Tenggara Timur. 62. Jambi. Bengkulu. dan 10.3% rumah tangga tidak memanfaatkan posyandu untuk alasan lainnya. Nusa Tenggara Barat. Bali. Sebanyak 6 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih Puskesmas untuk tempat rawat inap diatas persentase nasional. Secara nasional. Kepulauan Riau. Sulawesi Tengah. Secara nasional. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. • • Rawat Inap • • • • • Rawat Jalan • • xxi .0%) dan Puskesmas (0. dan Maluku.5% rumah tangga tidak memanfaatkan posyandu karena tidak membutuhkan. Sumatera Barat. Sumatera Selatan. Jambi. DI Yogyakarta.3%). Gorontalo. Sulawesi Selatan. Kalimantan Barat. DI Yogyakarta. Sulawesi Barat. Sulawesi Tengah.3% rumah tangga memanfaatkan posyandu.1%). sumber utama pembiayaan yang digunakan oleh rumah tangga untuk rawat inap adalah Dari Kantong Sendiri (71.5% rumah tangga dapat mencapai Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat kurang atau sama dengan 30 menit. Lampung. Sebanyak 15 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang berada kurang atau sama dengan 5 km dari salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat diatas persentase nasional. dan Papua. Sulawesi Utara. Tenaga Kesehatan (13. sebanyak 98. Maluku. Kalimantan Tengah. Lampung. Kalimantan Barat. Sumatera Utara.6%). dan Papua. Jawa Tengah. Sumatera Utara. Riau. Papua Barat. Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih Rumah Sakit Pemerintah untuk tempat rawat inap dibawah persentase nasional. Askes/Jamsostek (15. Rumah Sakit Swasta (2. Jawa Timur. Kalimantan Tengah. Secara nasional. Jambi. persentase tertinggi yang dipilih rumah tangga untuk tempat rawat jalan adalah Rumah Sakit Bersalin (14. sebanyak 27. Sebanyak 14 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memilih tenaga kesehatan sebagai tempat untuk rawat jalan diatas persentase nasional. Polindes) • Secara nasional. Sumatera Selatan. Sulawesi Barat. Lampung.6%). Kalimantan Barat. Sulawesi Tenggara. Sumatera Utara. Bangka Belitung. Banten. Sulawesi Utara. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Maluku. dan Rumah Sakit Pemerintah (1. yaitu Nangroe Aceh Darussalam. dan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (14. Poskesdes. Nusa Tenggara Timur. persentase tertinggi tempat rawat inap yang dipilih rumah tangga adalah Rumah Sakit Pemerintah (3. dan sebanyak 96. Kalimantan Tengah. Kalimantan Selatan.4% rumah tangga berada kurang atau sama dengan 5 km dari salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat. Bangka Belitung. Nusa Tenggara Timur. dan Papua. Bengkulu.8%). yaitu Nusa Tenggara Barat. Banten. Sulawesi Utara. Papua Barat.0%). Secara nasional. Papua Barat. Sulawesi Barat. Sumatera Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Lampung. Sulawesi Tenggara. Sumatera Utara. Gorontalo.

3 aspek Ketanggapan Pelayanan Kesehatan yang memperoleh penilaian baik terendah dari rumah tangga adalah Kebersihan Ruangan (82. Kalimantan Barat. Sulawesi Tengah. Sumatera Selatan. Jawa Timur. Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (10. Jawa Barat.5%). Kalimantan Tengah. Persentase nasional rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri adalah 60. Riau. Papua Barat. Bali. Banten. Papua Barat. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Selatan. Sulawesi Tenggara. Bengkulu. Sebanyak 20 provinsi mempunyai persentase rumah tangga • Ketanggapan Pelayanan Kesehatan • • Air Bersih • Fasilitas buang air besar • Sarana Pembuangan Air Limbah • Pembuangan sampah • xxii . dan Papua. Sulawesi Utara. dan Askes/Jamsostek (9. yaitu Sumatera Utara. Gorontalo. Kalimantan Barat. Maluku Utara. Bangka Belitung. Jambi. Kalimantan Tengah. dan Papua. Maluku. Nusa Tenggara Timur.• Secara nasional. Kalimantan Timur. Bali. Bangka Belitung.8%). Papua Barat. Kepulauan Riau. dan Papua Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Selatan. Sulawesi Tengah. Kalimantan Tengah. DKI Jakarta. Maluku. Persentase nasional rumah tangga yang tidak ada penampungan sampah dalam rumah adalah 72. Sebanyak 22 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang memberikan penilaian baik atas Kebersihan Ruangan dibawah persentase nasional. Sumatera Selatan. dan Papua. Maluku Utara. Kalimantan Tengah. Nusa Tenggara Barat. Sulawesi Tenggara. Lampung. Persentase nasional rumah tangga dengan rerata pemakaian air bersih per orang per hari < 20 liter adalah 14. Kepulauan Riau. Banten. Nusa Tenggara Barat. DI Yogyakarta.8%).4%. Sulawesi Barat. Jawa Tengah. Kalimantan Selatan.0%. Jawa Tengah. Gorontalo. Sulawesi Selatan. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Timur. Kalimantan Timur. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Selatan. Banten. Sumatera Barat. Maluku Utara. Persentase nasional rumah tangga yang tidak mempunyai Sarana Pembuangan Air Limbah adalah 24. Lampung. Maluku Utara. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam.8%). Sulawesi Tengah. Kalimantan Timur. Sulawesi Utara. Sebanyak 20 provinsi mempunyai rerata pemakaian air bersih per orang per hari < 20 liter dibawah persentase nasioal. dan Papua. Jawa Timur. Maluku. Bali. Sebanyak 20 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri dibawah persentase nasional. Kalimantan Barat. Sulawesi Barat.9%. Nusa Tenggara Barat. Bangka Belitung. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Selatan. dan Waktu Tunggu (84.9%). Jambi. Sulawesi Barat. Secara nasional. Bengkulu. Sebanyak 23 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang tidak mempunyai Sarana Pembuangan Air Limbah diatas persentase nasional. Maluku Utara. Bengkulu. Kalimantan Selatan. Kalimantan Barat. Kebebasan Memilih Sarana (84. Nusa Tenggara Timur. Papua Barat.9%. Sulawesi Tengah. sumber utama pembiayaan yang digunakan oleh rumah tangga untuk rawat jalan adalah Dari Kantong Sendiri (74. Maluku. Sumatera Selatan. Gorontalo. Nusa Tenggara Barat.5%). Sumatera Barat. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Kalimantan Selatan. Sebanyak 13 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu untuk pembiayaan rawat jalan diatas persentase nasional. Sulawesi Barat.

Selanjutnya. Jambi. Nusa Tenggara Timur. proporsi penyakit/gangguan yang berhubungan dengan kematian maternal serta kematian perinatal tidak berubah dalam periode terakhir (2001-2006). Dari rumah tangga yang memelihara ternak sekitar 10-20% memeliharanya di dalam rumah. Upaya-upaya peningkatan pelayanan berkualitas untuk kehamilan.6% memelihara ternak sedang. Riau. persalinan. Dengan demikian Pemerintah khususnya Departemen Kesehatan dan Dinas Kesehatan menghadapi beban ganda. Di lain pihak. dan Papua. Lampung. Pemeliharaan Ternak • Mortalitas • • • xxiii .8%. Sulawesi Barat. dan Papua. Kalimantan Barat. Maluku Utara. yaitu Lampung.5% memelihara binatang jenis anjing.0% memelihara ternak besar dan 12. Sumatera Utara. Penurunan proporsi penyakit menular sebagai penyebab dasar kematian tahun 2001-2007 tidak terlalu besar dibandingkan dengan periode sebelumnya (19952001). Bali. Maluku. Jawa Tengah. yaitu ancaman penyakit menular yang penurunannya melambat dan cenderung menetap. yaitu Nanggroe Aceh Darussalam. Gorontalo.yang tidak ada penampungan sampah dalam rumah diatas persentase nasional. masa nifas perlu terus menerus ditingkatkan untuk menurunkan kematian maternal dan perinatal. Gambaran nasional selama 12 tahun (1995–2007) menunjukkan bahwa proses transisi epidemiologi telah berlangsung seiring dengan transisi demografi. 9. 11. Banten. Jawa Timur.4% rumah tangga yang memelihara unggas. kucing atau kelinci. Nusa Tenggara Timur. Sumatera Selatan. Maluku Utara. peningkatan proporsi penyakit tidak menular selama periode tahun 1995-2001 dan periode tahun 2001-2007 hampir sama. Jawa Barat. Papua Barat. Secara nasional terdapat 39. Perumahan • Persentase nasional rumah tangga dengan rumah berlantai tanah adalah 13. Kalimantan Tengah. serta peningkatan penyakit tidak menular yang melaju cukup cepat. Jawa Timur. Maluku. Transisi epidemiologi ditandai dengan pergeseran penyebab kematian dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. Nusa Tenggara Barat. Transisi demografi ditandai dengan pergeseran proporsi kematian dari struktur penduduk umur muda ke arah penduduk umur yang lebih tua. Sebanyak 7 provinsi mempunyai persentase rumah tangga dengan rumah berlantai tanah diatas persentase nasional.

....................8 2..............4 Variabel.................... Pendahuluan .i sambutan menteri kesehatan republik indonesia................. gambar.....................9 2.......... 5 1.........................xliii BAB 1......................................................................18 xxiv ..1 1...........................................................6.............................................................1 Penarikan Sampel Blok Sensus..................... dan grafik................................................. 8 2.........9 2............................14 2..iii ringkasan .....13 2.......................................1 Editing...4 Tujuan Riskesdas...................................................................................... 18 2...................3..........................6 Alur Pikir Riskesdas 2007...3 Populasi dan Sampel.....................................1 1..............................................................................................9 Persetujuan Etik Riskesdas........................................8 Manfaat Riskesdas.8 2.........xxiv Daftar Tabel.....................................5 Penarikan Sampel Iodium.....7 2...................................................... 3 1......... xxvii Daftar Singkatan.............................................................v Daftar isi...........................................................................................................................................................................5 Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data.....................3..........................................................6 BAB 2.............6 Manajemen Data..3.................................................6 1.........................................................................................................7 Pengorganisasian Riskesdas.............................. Metodologi Riskesdas..2 Lokasi............... 2 1.......................3 Penarikan Sampel Anggota Rumah Tangga.................................................................................................................................................................................................2 1.....................................DAFTAR ISI kata pengantar.............................................7 2.........3......................................1 Latar Belakang........................................................................1 Disain..............................................................................................................................4 Penarikan Sampel Biomedis.........................................................................................................................7 2............................................. 8 2...............................................................................................................2 Ruang Lingkup Riskesdas 2007....3 1...............................................................................3...................................................2 Penarikan Sampel Rumah Tangga..........5 Kerangka Pikir....................................................................4 1..........................................xl Daftar Lampiran.................................3 Pertanyaan Penelitian...........

............................... 65 3............................................................................................................................ 170 3..2 Prevalensi ISPA........................................1 Anemia..............................................2.....................34 3..............2...........................2 Pemantauan Pertumbuhan Balita....4. 56 3..106 3. 118 3.......................................................................................................1....3 Penyakit Mata..... 20 BAB 3....................................5 Konsumsi Garam Beriodium..........................................98 3...................... Pnemonia............ 174 xxv ......................................................155 3........60 3............. Penyakit Sendi.........5......... dan Campak......................................34 3................................................147 3...6..2 Entry..................................................18 2..4...............................................................2 Status Disabilitas / Ketidakmampuan..............6 Cedera dan Disabilitas................................4 Penyakit Tidak Menular........7 Keterbatasan Riskesdas........... Tuberkulosis (TB)........... 102 3....109 3....... Hasil dan Pembahasan......................18 2...........................................1 Penyakit Tidak Menular Utama.........1 Gizi.4 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak..............109 3.............3.................................................................................................173 3..............3 Status Gizi Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas.......3.......2 Status Gizi Penduduk Umur 6 – 14 tahun (Usia Sekolah).......81 3.........................................................................................147 3.......71 3........................1 Prevalensi Filariasis............ Sikap dan Perilaku................................1 Status Gizi Balita....................................2 Gangguan Mental Emosional.............3......... 48 3.2................34 3........................5........................4 Konsumsi Energi dan Protein.......1.........1.........................6......19 2...........2 Kesehatan Ibu dan Anak............................................................................................................................1 Status Imunisasi................................. Diare... dan Penyakit Keturunan...............1 Perilaku Merokok............79 3............. 45 3...................................7 Pengetahuan.............. 160 3....2 Diabetes Mellitus........................................ Demam Berdarah Dengue dan Malaria.....65 3........6..............................98 3................5 Biomedis................ 160 3......................................3 Prevalensi Tifoid......................1..............................6........................................................................3 Penyakit Menular............................................... Hepatitis............................................. 129 3...................................1 Cedera......3 Cleaning................3 Distribusi Kapsul Vitamin A......................................................1......................2..............2.........4................4...............7.. 121 3............................................4 Kesehatan Gigi...................8 Pengolahan dan Analisis Data.........................

9..275 3....194 3........7............................................7............7....................................7 Pola Konsumsi Makanan Berisiko................ 91 2 xxvi ............................7...................................................................... 230 3..................286 Lampiran..................................................... 202 3...................................................1 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan.............2 Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur.278 Daftar Pustaka...........8..................................................265 3.................207 3.............................243 3......... 238 3...3 Perilaku Minum Minuman Beralkohol.211 3.................... 211 3...................................8...........276 3...........192 3.....................10...............................................7...9 Kesehatan Lingkungan...............275 3.3............................................267 3..........8 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat..4 Pembuangan sampah..........................................3 Kematian Menurut Kelompok Umur.1 Distribusi Kasus Kematian...........................5 Pengetahuan dan Sikap terhadap Flu Burung dan HIH/AIDS........ 205 3........2 Kematian Semua Umur.....................3 Sarana pembuangan air limbah............10...270 3....9....8 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan........... 243 3......................................................................................5 Perumahan.......................10..........................9.6 Perilaku Higienis.....................................................................................7.............................................................2 Sarana dan Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan...............10 Mortalitas...8....7.............9........................................2 Fasilitas Buang Air Besar......................257 3.. 186 3.......................................................................9............................................. 189 3...1 Air Keperluan Rumah Tangga....3 Ketanggapan Pelayanan Kesehatan .......................4 Perilaku Aktifitas Fisik.........................................................................................................

6 Tabel 3.5 Tabel 3.2 Tabel 2. Tabel 2. Tabel 3.3.1 Tabel 2. 69 Riskesdas 2007 Standar Penentuan Kurus dan Berat Badan (BB) Lebih menurut 70 Nilai Rerata IMT. Riskesdas 2007 76 xxvii .4. Riskesdas 2007 Persentase Status Gizi Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT dan Karakteristik Responden.3. 2007 Jumlah Sampel Anggota Rumah tangga (ART) per Provinsi menurut Susenas 2007 dan Riskesdas. 2007 Hal Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)* dan Provinsi. Riskesdas 2007 68 Prevalensi Balita menurut Tiga Indikator Status Gizi dan Provinsi. Umur dan Jenis Kelamin. Tabel 3.1. 61 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)* dan Provinsi. WHO 2007 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 tahun menurut Jenis Kelamin dan Provinsi.12 Tabel 3. 63 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)* dan Provinsi. DAN GRAFIK Nomor Tabel Tabel 1. 64 Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)*dan Karakteristik 65 Responden. Tabel 3. Tabel 3.9 Tabel 3. Riskesdas 2007 74 Prevalensi Obesitas Umum Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke 75 Atas) Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)*dan Karakteristik Responden.7 Tabel 3.13 Nama Tabel Indikator Riskesdas dan Tingkat Keterwakilan Sampel Jumlah Blok Sensus (BS) menurut Susenas 2007 dan Riskesdas 2007 Jumlah Sampel Rumah tangga (RT) per Provinsi menurut Susenas 2007 dan Riskesdas. GAMBAR.8 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)*dan Karakteristik 67 Responden.10 Tabel 3.2. Riskesdas 2007 71 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 Tahun menurut 72 Karakteristik. Tabel 3.1.DAFTAR TABEL.11 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Status Gizi Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT dan Provinsi.

Riskesdas 2007 Tabel 3.24 < 30 ppm (part per million) di 30 Kabupaten/ Kota.16. Riskesdas 2007. Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Iodium menurut Provinsi.25 Tabel 3.28 Persentase Anak 6-12 Tahun Dengan Ekskresi Iodium Dalam Urine < 100 µg/L Di 30 Kabupaten/Kota.18 Tabel 3.19 Tabel 3. Riskesdas 2007 Nilai Median Ekskresi Iodium dalam Urin Anak Sekolah 6-12 Tahun di 30 Kabupaten/ Kota. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Provinsi.Tabel 3.21 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke 77 Atas menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah-Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium Menurut Karakteristik Responden.23 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Perempuan Umur 15-45 Tahun menurut Karakteristik Responden.14 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah mengandung Iodium Tangga yang mempunyai Garam Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Wanita Umur 15-45 Tahun Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional. Tabel 3.27 Tabel 3.26 Tabel 3. Riskesdas 2007 Nilai Rerata LILA Wanita Umur 15-45 tahun. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Karakteristik Responden.20 Tabel 3.15 Tabel 3. Riskesdas 2007 Konsumsi Energi dan Protein Per Kapita per Hari menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.29 Tabel 3.22 Tabel 3.30 xxviii . Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional menurut Tipe Daerah dan Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita .17 Tabel 3.

Riskesdas 2007 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan Provinsi.44 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Provinsi.Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A menurut Provinsi. xxix .48 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Pemeriksaan Kehamilan dan Provinsi.46 Tabel 3.35 Tabel 3.36 Tabel 3. Riskesdas 2007 Sebaran Balita Menurut Kepemilikan Buku KIA dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan Karakteristik. Riskesdas 2007 Persentase Kepemilikan Buku KIA pada Balita Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Jenis Tabel 3.39 Tabel 3.37 Tabel 3.38 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Karakteristik Responden.45 Tabel 3.33 Tabel 3.32 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir menurut Provinsi.43 Tabel 3.31 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Provinsi.40 Tabel 3. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Provinsi.47 Tabel 3.41 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Karakteristik Responden.34 Tabel 3. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A menurut Karakteristik Responden.42 Tabel 3.

62 Tabel 3. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Neonatus Responden. dan Campak menurut Karakteristik Responden.57 Tabel 3.Riskesdas 2007 Tabel 3.56 Tabel 3.51 Tabel 3. Malaria dan Pemakaian Obat Program Malaria menurut Karakteristik Responden. Demam Berdarah Dengue. Riskesdas 2007 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Provinsi. dan Strok menurut Karakteristik Responden. Malaria dan Pemakaian Obat Program Malaria menurut Provinsi. Jantung*. Pneumonia. Riskesdas 2007 menurut Karakteristik Tabel 3. Hepatitis. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan Karakteristik Responden.65 Prevalensi Penyakit Persendian. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Tifoid. Hipertensi. Hipertensi. Riskesdas 2007 Prevalensi ISPA. Responden.63 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Frekuensi Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Tifoid. Riskesdas 2007 Prevalensi ISPA.54 Tabel 3.64 Tabel 3. Riskesdas 2007 xxx .58 Tabel 3.49 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Persendian. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi. Riskesdas 2007 Diare menurut Karakteristik Tabel 3.55 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan Provinsi. Diare menurut Provinsi. Pneumonia.60 Tabel 3. dan Strok menurut Provinsi. Demam Berdarah Dengue. Riskesdas 2007 Prevalensi Filariasis.61 Tabel 3. dan Campak menurut Provinsi. TB. Hepatitis.62 Tabel 3.53 Tabel 3.50 Tabel 3. TB. Riskesdas 2007 Prevalensi Filariasis. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Asma*. Diabetes* Dan Tumor** menurut Provinsi.52 Tabel 3.59 Tabel 3.

73 Tabel 3.81 xxxi .69 Tabel 3. Sumbing.72 Tabel 3.Tabel 3.70 Tabel 3. Rhinitis.76 Tabel 3. Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Provinsi Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.79 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan Gigi menurut Jenis Perawatan dan Karakteristik Responden. Hemofili (Permil) Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Provinsi Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Karakteristik Responden Proporsi Penduduk Usia 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision. Talasemi.80 Tabel 3.Riskesdas 2007 Bermasalah Gigi-Mulut menurut menurut Tabel 3. Glaukoma. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan Gigi menurut Jenis Perawatan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak Menurut Karakteristik Responden. Dermatitis. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk Provinsi.67 Prevalensi Penyakit Asma.77 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Karakteristik Responden.66 Tabel 3. Dan Tumor menurut Karakteristik Responden.71 Tabel 3.68 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Penyakit Keturunan*:Gangguan Jiwa Berat. Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Provinsi.75 Tabel 3. Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak menurut Provinsi. Diabetes Mellitus.74 Tabel 3. Jantung.78 Tabel 3. Buta Warna.

Riskesdas 2007 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Komponen D.Tabel 3.85 Tabel 3. Riskesdas 2007 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index menurut Karakteristik Responden.96 Tabel 3.92 Tabel 3. M. DM. F dan Index DMF-T menurut Karakteristik Responden.98 Tabel 3.86 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Provinsi.91 Tabel 3.83 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Menggosok Gigi menurut Provinsi.95 Tabel 3.90 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi Normal Gigi. Protesa dan Provinsi.88 Tabel 3.102 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Menggosok Gigi menurut Karakteristik Responden. Edentulous. Protesa dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Kadar Glukosa Darah Responden DDM Setelah Dua Jam Pemberian Makanan Cair 300 Kalori. Riskesdas 2007 Prevalensi TGT dan DM Menurut IMT.97 Tabel 3. Riskesdas 2007 Nilai Rerata Kadar Hemoglobin Penduduk Perkotaan menurut Provinsi Riskesdas 2007 Rentang Nilai Normal Kadar Hemoglobin Perempuan dan Lakilaki Dewasa.93 Tabel 3.87 Tabel 3.101 Tabel 3. Obesitas Abdominal dan xxxii . Edentulous.94 Tabel 3.103 Proporsi Berbagai Jenis Anemia Pada Orang Dewasa Dan AnakAnak Nilai Rerata ± 1SD Hasil Pemeriksaan Hematologi Lain Riskesdas 2007 Prevalensi Anemia Menurut Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Prevalensi TGT.89 Tabel 3. M. F dan Index DMF-T Menurut Provinsi.84 Tabel 3. DDM dan UDDM pada penduduk perkotaan di Indonesia Riskesdas 2007 Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu dan Diabetes Mellitus menurut Provinsi di Daerah Perkotaan. Riskesdas 2007 Prevalensi Anemia Penduduk Provinsi. Riskesdas 2007 Dewasa PerkotaanMenurut Tabel 3.99 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi TGT dan DM Menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies menurut Karakteristik Responden.82 Tabel 3. Riskesdas 2007 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index menurut Provinsi. Anak-anak dan Ibu Hamil. Riskesdas 2007 Komponen D. Riskesdas 2007 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi Normal Gigi.100 Tabel 3.

Hipertensi Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Pertama Kali Merokok/Mengunyah Tembakau dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.110 Tabel 3.111 Prevalensi DM dan TGT Menurut Kebiasaan Makan Sayur Buah dan Aktifitas Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Cedera Menurut Bagian Tubuh Terkena dan Provinsi. Riskesdas 2007. Prevalensi Jenis Cedera Menurut Provinsi.113 Tabel 3.115 Tabel 3. Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Kebiasaan Merokok dan Provinsi di Indonesia.108 Tabel 3.114 Tabel 3.109 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Perokok Saat ini dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Pertama Kali Merokok/ Mengunyah Tembakau dan Karakteristik Responden.106. Riskesdas 2007 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Karakteristik Responden.107 Tabel 3.116 Tabel 3.117 Tabel 3.104 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut Status dan Karakteristik Responden. Prevalensi Cedera Menurut Bagian TubuhTerkena dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Kebiasaan Merokok dan Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Tabel 3.105 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Karakteristik Responden.120 Tabel 3.106 Tabel 3. Riskesdas 2007.119 Tabel 3. Riskesdas 2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun KeatasMenurut Status dan Provinsi.118 Tabel 3.112 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 15 tahun ke Atas Yang Bermasalah Dalam Fungsi Tubuh/Individu/Sosial.121 xxxiii .

Riskesdas 2007 Tabel 3.Tabel 3.140 xxxiv . Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Karakteristik Responden.124 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Andaikata Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Karakteristik Responden.137 Tabel 3.128 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan dan Sikap Tentang Flu Burung dan Karakteristik Responden.130 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi Makanan Berisiko menurut Karakteristik Responden.134 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi Makanan Berisiko menurut. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Karakteristik Responden.123 Prevalensi Perokok Dalam Rumah Ketika Bersama Anggota Rumah Tangga menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir menurut Karakteristik Responden di Indonesia.136 Tabel 3.Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Karakteristik Responden di Indonesia. Riskesdas 2007 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Bila Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Provinsi di Indonesia.131 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan dan Sikap tentang Flu Burung dan Provinsi.126 Tabel 3.129 Tabel 3.122 Tabel 3.138 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Provinsi.127 Tabel 3.139 Tabel 3.132 Tabel 3.135 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Provinsi.125 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Provinsi di Indonesia.133 Tabel 3.

Riskesdas 2007 Persentase Rumah Posyandu/Poskesdes Riskesdas 2007 Tangga Menurut Pemanfaatan dan Karakteristik Rumah Tangga.145 Tabel 3.152 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang Konsumsi Sayur Buah. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) Menurut Provinsi.155 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak dan Waktu Tempuh Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Provinsi.142 Tabel 3.153 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes Menurut Provinsi.151 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat*) dan Karakteristik Rumah Tangga.143 Tabel 3. dan Merokok) pada Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.146 Tabel 3. Riskesdas 2007 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang Konsumsi Sayur Buah. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Polindes/Bidan Di Desa Menurut Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat* dan Provinsi. Kurang Aktifitas Fisik dan Merokok) pada Penduduk 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden. Tabel 3.141 Persentase Rumah Tangga yang Memenuhi Kriteria Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Baik menurut Provinsi.150 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.144 Tabel 3.148 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang memanfaatkan Polindes/Bidan Di Desa Menurut Karakteristik Rumah Tangga.Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.149 Tabel 3.154 Tabel 3.147 Tabel 3. Kurang Aktifitas Fisik. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.157 xxxv .156 Tabel 3.

di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.164 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Responden yang Rawat Jalan Satu tahun terakhir Menurut Tempat dan Provinsi.166 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga.176 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Tabel 3.161 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.169 Tabel 3.171 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Provinsi.174 Tabel 3.160 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Responden Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan dan Provinsi. Riskesdas xxxvi .163 Tabel 3. Riskesdas 2007 Menurut Tempat dan Tabel 3.173 Tabel 3.165 Tabel 3.167 Tabel 3.159 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi.168 Tabel 3.158 Persentase Rumah Tangga yang Tidak Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa Menurut Alasan Lain dan Provinsi.175 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan dan Karakteristik Rumah Tangga.170 Tabel 3.172 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Tempat dan Karakteristik Rumah Tangga.162 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air Bersih Per Orang Per Hari dan Provinsi di Indonesia.

185 Tabel 3.187 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke Sumber Air.182 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.180 Tabel 3.190 Tabel 3.189 Tabel 3. Ketersediaan Air Bersih dan Provinsi di Indonesia. Susenas 2007 Tabel 3.191 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih dan Provinsi. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Anggota Rumah Tangga yang Biasa Mengambil Air dan Karakteristik Rumah Tangga. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan dan Pengolahan Air Minum Digunakan/Diminum dan Provinsi.192 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum dan Provinsi di Indonesia.177 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air Bersih Per Orang Per Hari dan Karakteristik Rumah Tangga.188 Tabel 3. Ketersediaan Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan dan Pengolahan Air Minum Digunakan/Diminum dan Karakteristik Rumah Riskesdas 2007 Tempat Sebelum Tempat Sebelum Tangga. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap xxxvii .178 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Individu yang Biasa Mengambil Air Dalam Rumah Tangga dan Provinsi di Indonesia.179 Tabel 3.184 Tabel 3. Tabel 3.183 Tabel 3.193 Tabel 3.186 Tabel 3.2007 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum dan Provinsi di Indonesia. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia.181 Tabel 3.194 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar dan Provinsi. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke Sumber Air. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar dan Karakteristik Rumah Tangga.

197 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan Ternak/Hewan Peliharaan dan Provinsi.198 Tabel 3. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Provinsi.210 . Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Lantai Rumah.207 Tabel 3. Riskesdas 2007 Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok Penyakit. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.Sanitasi dan Provinsi. Riskesdas 2007 Distribusi Kasus Kematian menurut Kelompok Umur dan Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan Ternak/Hewan Peliharaan dan Karakteristik Rumah Tangga.206 Tabel 3. Susenas 2007 Tabel 3. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai Rumah Dan Kepadatan Hunian Dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Saluran Pembuangan Air Limbah dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Susenas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Saluran Pembuangan Air Limbah dan Provinsi.204 Tabel 3. Riskesdas 2007 Distribusi Kasus Kematian Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin. Riskesdas 2008 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Karakteristik Rumah Tangga. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian Kelompok Umur 0-6 hari dan 7-28 ha xxxviii Tabel 3.203 Tabel 3.196 Tabel 3.201 Tabel 3.199 Tabel 3.200 Tabel 3. Susenas dan Riskesdas 2007 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja dan Provinsi.209 Tabel 3. SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 Proporsi Penyakit menular dan Tidak Menular pada Semua Umur.202 Tabel 3.208 Tabel 3. Kepadatan Hunian dan Provinsi.195 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi dan Karakteristik Rumah Tangga.205 Tabel 3.

214 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 5-14 tahun menurut Tipe Daerah.211 Tabel 3.212 Tabel 3.219 Tabel 3.211 Tabel 3.216 Tabel 3.212 Proporsi Faktor Utama Ibu terhadap Lahir Mati dan Kematian Bayi 0-6 hari. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 65 Tahun ke atas menurut Jenis Kelamin xxxix . Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun enurut Jenis Kelamin. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 5 tahun ke Atas menurut Tipe Daerah.Riskesdas 2007 Proporsi penyebab kematian pada umur 29 hari-4 tahun. Riskesdas 2007 Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun menurut jenis kelamin.217 Tabel 3.210 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun enurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 65 Tahun ke atas enurut Tipe Daerah. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok umur 15-44 Tahun menurut Tipe Daerah.Tabel 3.213 Tabel 3.215 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun menurut Tipe Daerah.218 Tabel 3. Riskesdas 2007 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun menurut Jenis Kelamin.

Teeth Daerah Khusus Ibukota Diptheri Pertusis Tetanus Daerah Istimewa Yogyakarta Decay Missing Filling . Disability and Health International Council for the Control of Iodine Deficiency Disorders International Unit Joint National Committee Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Kepulauan Riau Kalimantan Timur Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Barat xl .Teeth Departemen Kesehatann Filling Teeth Gejala klinis Hemoglobin International Diabetes Federation Indeks Massa Tubuh International Classification of Functioning.DAFTAR SINGKATAN ART AFP ASKES ASKESKIN BB BB/U BB/TB BUMN BALITA BABEL BCG BBLR BATRA CPITN D DG DM DDM D-T DKI DPT DIY DMF-T DEPKES F-T G HB IDF IMT ICF ICCIDD IU JNC JABAR JATENG JATIM KEPRI KALTIM KALTENG KALSEL KALBAR Anggota Rumah Tangga Acute Flaccid Paralysis Asuransi Kesehatan Asuransi Kesehatan Miskin Berat Badan Berat Badan Menurut Umur Berat Badan Menurut Tinggi Badan Badan Usaha Milik Negara Bawah Lima Tahun Bangka Belitung Bacillus Calmete Guerin Berat Bayi Lahir Rendah Pengobatan Tradisional Community Periodental Index Treatment Needs Diagnosis Diagnosis dan Gejala Diabetes Mellitus Diagnosed Diabetes Mellitus Decay .

KK Kg KEK KKAL KEP KMS KIA KLB LP LILA mmHg mL MI M-T MTI MDG Malut Nakes NAD NTT NTB O Poskesdes Polindes Pustu Puskesmas PTI POLRI PNS PT PPI PD3I PIN Posyandu PPM RS RSB RTI RPJM Riskesdas SRQ SKTM SPAL Sumbar Sumsel Sulut Sulbar Sulsel Sulteng Kepala Keluarga Kilogram Kurang Energi Kalori Kilo Kalori Kurang Energi Protein Kartu Menuju Sehat Kesehatan Ibu dan Anak Kejadian Luar Biasa Lingkar Perut Lingkar Lengan Atas Milimeter Air Raksa Mili Liter Missing index Missing Teeth Missing Teeth Index Millenium Development Goal Maluku Utara Tenaga Kesehatan Nanggroe Aceh Darussalam Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Barat Obat atau Oralit Pos Kesehatan Desa Pondok Bersalin Desa Puskesmas Pembantu Pusat Kesehatan Masyarakat Performed Treatment Index Polisi Republik Indonesia Pegawai Negeri Sipil Perguruan Tinggi Panitia Pembina Ilmiah Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi Pekan Imunisasi Nasonal Pos Pelayanan Terpadu Part Per Million Rumah Sakit Rumah Sakit Bersalin Required Treatment Index Rencana Pembangunan Jangka Menengah Riset Kesehatan Dasar Self Reporting Questionnaire Surat Keterangan Tidak Mampu Saluran Pembuangan Air Limbah Sumatera Barat Sumatera Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Barat Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah xli .

Sultra SD SD SLTP SLTA TB TB TB/U TT TDM TGT UNHCR UNICEF UCI UDDM WHO WUS µl Sulawesi Tenggara Standar Deviasi Sekolah Dasar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Tinggi Badan Tuberkulosis Tinggi Badan/Umur Tetanus Toxoid Total Diabetes Mellitus Toleransi Glukosa Terganggu United Nations High Commissioner for Refugees United Nations Children's Fund Universal Child Immunization Undiagnosed Diabetes Mellitus World Health Organization Wanita Usia Subur Mikro Liter xlii .

1.1.DAFTAR LAMPIRAN 1.2. 2. 1. Struktur organisasi Riskesdas (Kepmenkes) Persetujuan Etik Kuesioner Riskesdas xliii .

.

proses serta luaran sistem kesehatan. Sampai saat ini belum tersedia peta status kesehatan (termasuk data biomedis) dan faktor-faktor yang melatarbelakangi di tingkat kabupaten/kota. selain validitas dan reliabilitas. baik untuk tingkat individual maupun rumah tangga menjadi isu yang sangat penting. Penyelenggaraan Riskesdas 2007 dimaksudkan pula untuk membangun kapasitas peneliti di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. belum sepenuhnya dibuat berdasarkan informasi komunitas yang berbasis bukti. Untuk mewujudkan visi “masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat”. reliable dan comparable dari Riskesdas 2007 dapat digunakan untuk mengukur berbagai status kesehatan. Sehingga dapat dikatakan bahwa survei yang ada belum memadai untuk perencanaan kesehatan di tingkat kabupaten/kota. asupan. dan berbagai aspek pelayanan kesehatan. sebagai salah satu unit utama di lingkungan Departemen Kesehatan yang berfungsi menyediakan informasi kesehatan berbasis bukti.BAB 1. Pelaksanaan Riskesdas 2007 mengakui pentingnya komparabilitas. Pada tahap disain. Dengan demikian. baik di pusat maupun di daerah. kesehatan lingkungan. Riskesdas 2007 diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). Informasi yang valid. Pengalaman menunjukkan bahwa berbagai survei berbasis komunitas seperti Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia. Data dasar ini. untuk meningkatkan manfaat Riskesdas 2007 maka komparabilitas berbagai alat pengumpul data yang digunakan. Pengalaman menunjukkan bahwa komparabilitas dari suatu survei rumah tangga seperti Riskesdas 2007 dapat dicapai dengan efisien melalui disain instrumen yang canggih dan ujicoba yang teliti dalam pengembangannya. Susenas Modul Kesehatan dan Sjurvei Kesehatan Rumah Tangga hanya menghasilkan estimasi yang mewakili tingkat kawasan atau provinsi. Data dasar yang dihasilkan Riskesdas 2007 terdiri dari indikator kesehatan utama tentang status kesehatan. sampel yang memadai. Rencana pembangunan kesehatan yang appropriate dan adequate membutuhkan data berbasis komunitas yang dapat mewakili populasi (rumah tangga dan individual) pada berbagai jenjang administrasi. provinsi dan kabupaten/kota. yaitu berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence-based di seluruh Indonesia. Riskesdas 2007 dirancang dengan pengendalian mutu yang ketat. informasi yang valid. perilaku kesehatan. serta manajemen data yang terkoordinasikan dengan baik.1 Latar Belakang Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) adalah sebuah policy tool bagi pembuat kebijakan kesehatan diberbagai jenjang administrasi. Lebih jauh lagi. Departemen Kesehatan RI mengembangkan misi: “membuat rakyat sehat”. Sejalan dengan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. agar mampu mengembangkan dan melaksanakan survei berskala besar serta menganalisis data yang kompleks. maka kewenangan yang lebih besar dalam perencanaan kesehatan kini berada di tingkat pemerintahan kabupaten/kota. perumusan dan pengambilan kebijakan di bidang kesehatan. tetapi juga menggambarkan berbagai indikator kesehatan minimal sampai ke tingkat kabupaten/kota. Pelaksanaan Riskesdas 2007 adalah upaya mengisi salah satu dari 4 (empat) grand strategy Departemen Kesehatan.PENDAHULUAN 1. reliable dan comparable dari suatu proses pemantauan dan penilaian sesungguhnya dapat berkontribusi bagi ketersediaan evidence pada skala nasional. 1 . status gizi. bukan saja berskala nasional.

dengan menggunakan sampel Susenas Kor. tingkat keterwakilan Riskesdas adalah sebagai berikut : Tabel 1.000 Nasional Kabupaten Kabupaten Kabupaten Prov/Kab Prov/Kab Prov/Kab Prov/Kab Nasional perkotaan 1. KTI: Kawasan Timur Indonesia 1. Biomedis --S: Sumatera. Gigi & Mulut --10. Riskesdas 2007 mencakup sampel yang lebih besar dari survei-survei kesehatan sebelumnya. Indikator Riskesdas dan Tingkat Keterwakilan Sampel Indikator SDKI SKRT Susenas 2007 280.000 10. Penyakit -S/J/KTI 7. Pola Mortalitas Nasional S/J/KTI 3. Riskesdas 2007 menyediakan informasi kesehatan dasar termasuk biomedis. Perilaku -S/J/KTI 4.2 Ruang Lingkup Riskesdas 2007 Riskesdas 2007 adalah riset berbasis komunitas dengan sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga yang dapat mewakili populasi di tingkat kabupaten/kota. Disabilitas -S/J/KTI 9. provinsi dan kabupaten/kota? b. Balitbangkes melaksanakan Riskesdas untuk menyediakan informasi berbasis komunitas tentang status kesehatan (termasuk data biomedis) dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya dengan keterwakilan sampai tingkat kabupaten/kota. Dibandingkan dengan survei berbasis komunitas yang selama ini dilakukan. Cedera & Kecelakaan Nasional S/J/KTI 8. Sesuai dengan latar belakang pemikiran dan kebutuhan perencanaan. 1. Apa masalah kesehatan masyarakat yang spesifik di setiap provinsi dan kabupaten/kota? 2 .3 Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian dalam Riskesdas 2007 dikembangkan berdasarkan pertanyaan kebijakan kesehatan yang sangat mendasar terkait upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Indonesia. Apa dan bagaimana faktor-faktor yang melatarbelakangi status kesehatan masyarakat di tingkat nasional.000 -Kabupaten Provinsi Kabupaten ------ Riskesdas 2007 280.1. Sanitasi lingkungan -S/J/KTI 6. Gizi & Pola Konsumsi -S/J/KTI 5. dan mencakup aspek kesehatan yang lebih luas.Atas dasar berbagai pertimbangan di atas.000 2. J: Jawa-Bali. Sampel 35. provinsi dan kabupaten/kota? c. Bagaimana status kesehatan masyarakat di tingkat nasional. maka pertanyaan penelitian yang harus dijawab melalui Riskesdas adalah: a.

pelayanan kesehatan dan keturunan.1. Menyediakan peta status dan masalah kesehatan di tingkat nasional. Konsep ini terfokus pada status kesehatan masyarakat yang dipengaruhi secara simulatn oleh empat faktor penentu yang saling berinteraksi satu sama lain. diukur atau diperiksa adalah sebagai berikut : a.1.4 Tujuan Riskesdas Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut diatas. Bagan kerangka pikir Blum dapat dilihat pada Gambar 1. Faktor yang mempengaruhi Status Kesehatan (Blum 1974) Pada Riskesdas tahun 2007 ini tidak semua indikator dikumpulkan baik yang terkait dengan status kesehatan maupun ke empat faktor penentu dimaksud. perilaku. provinsi dan kabupaten/kota.5 Kerangka Pikir Pengembangan Riskesdas 2007 didasari oleh kerangka pikir Henrik Blum (1974. Status kesehatan mencakup variabel: 3 . c. Berbagai indikator yang ditanyakan. maka tujuan Riskesdas 2007 adalah sebagai berikut : a. Membandingkan status kesehatan dan faktor-faktor yang melatarbelakangi antar provinsi dan antar kabupaten/kota 1. b. 1981). Keempat faktor penentu tersebut adalah: lingkungan.1. d. Gambar 1. Menyediakan informasi berbasis bukti untuk perumusan kebijakan pembangunan kesehatan di berbagai tingkat administratif. Menyediakan informasi untuk perencanaan kesehatan termasuk alokasi sumber daya di berbagai tingkat administratif.

Dengan demikian. serta dapat menghasilkan estimasi yang dapat mewakili rumah tangga dan individu sampai ke tingkat kabupaten/kota. reliable. maka pada setiap tahapan Riskesdas 2007 dilakukan upaya penjaminan mutu yang ketat.6 Alur Pikir Riskesdas 2007 Alur pikir (Gambar 1. • • • b. termasuk untuk upaya kesehatan berbasis masyarakat. Perilaku aktivitas fisik. polusi dan sampah Lingkungan sosial. meliputi konsumsi energi. pengukuran dan pemeriksaan Riskesdas 2007 mencakup data kesehatan yang mengadaptasi sebagian pertanyaan World Health Survey yang dikembangkan oleh the World Health Organization. tingkat sosial-ekonomi. Ketanggapan pelayanan kesehatan. berbagai instrumen yang dikembangkan untuk Riskesdas 2007 mengacu pada berbagai instrumen yang telah ada dan banyak 4 . Perilaku gosok gigi. perbandingan kota – desa dan perbandingan antar provinsi. meliputi prevalensi penyakit menular dan penyakit tidak menular Disabilitas (ketidakmampuan) Status gizi (berdasarkan pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk semua umur.2) ini secara skematis menggambarkan enam tahapan penting dalam Riskesdas 2007. Keenam tahapan ini terkait erat dengan ide dasar Riskesdas untuk menyediakan data kesehatan yang valid. sikap dan perilaku terhadap flu burung. Pelayanan kesehatan mencakup variabel: 1. Substansi pertanyaan. Siklus yang dimulai dari Tahapan 1 hingga Tahapan 6 menggambarkan sebuah system thinking yang seyogyanya berlangsung secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Faktor perilaku mencakup variabel: • • • • • • • • • • d. Dengan demikian. Perilaku higienis (cuci tangan. pengukuran lingkar perut untuk penduduk dewasa 15 tahun keatas. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan. meliputi tingkat pendidikan. meliputi air minum. Perilaku konsumsi sayur dan buah. Cakupan program KIA (pemeriksaan kehamilan. buang air besar) Pengetahuan. Faktor lingkungan mencakup variabel: • c. comparable. dan pengukuran lingkar lengan atas untuk wanita usia 15-45 tahun) Kesehatan jiwa Konsumsi gizi. vitamin dan mineral Lingkungan fisik. namun harus memberikan arah bagi pengembangan pertanyaan kebijakan berikutnya. Untuk menjamin appropriateness dan adequacy dalam konteks penyediaan data kesehatan yang valid. HIV/AIDS Akses terhadap pelayanan kesehatan.• • • • Mortalitas (pola penyebab kematian untuk semua umur) Morbiditas. pemeriksaan bayi dan imunisasi). reliable dan comparable. hasil Riskesdas 2007 bukan saja harus mampu menjawab pertanyaan kebijakan. kabupaten/kota Perilaku merokok/konsumsi tembakau dan alkohol. sanitasi. protein.

process. Indikator • Morb i as id t • Mortal t i as • Ketanggapan • Pembiayaan • Sistem Kesehatan • Ko m p osit var iabellainnya Policy Ques tions R es earch Ques tions 6.2.7 Pengorganisasian Riskesdas 5 . pe m eriksaan • Valid tas i • R eliab l t iias R is kes das 2007 5. output dan outcome kesehatan. Laporan • Tabel Dasar • Hasil Pendahuluan Nasional • Hasil Pendahuluan Provinsi • Hasil Akhir Nasional 2. diuji dan dipergunakan untuk mengukur berbagai aspek kesehatan termasuk didalamnya input. pe n gukuran.digunakan oleh berbagai bangsa di dunia (61 negara). Statistik • Deskript f i • Bivar a it • Mult va i t i ra • Uji Hipotesis 3. Alur Pikir Riskesdas 2007 1. Gambar 1. Disain Alat Pengumpul Data • Kuesioner wawancara. Instrumen dimaksud dikembangkan. Pelaksanaan Riskesdas 2007 • Pen g e mban ga n manual Riskesdas • Pen g e mban ga n m o dul pelatihan • Pelat ihan pelaksana • Pen elusuran sampel • Pen g organisasia n 4. Manajemen Data Riskesdas 2007 • Edit ing • Entry • Cleaning  follow up • Perlakuan terhadap missing data • Perlakuan terhadap outlie rs • Consistency check 1.

1. Jawa Barat. Sumatera Selatan. dan Papua c.9 Persetujuan Etik Riskesdas Riskesdas ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.8 Manfaat Riskesdas Riskesdas memberikan manfaat bagi perencanaan pembangunan kesehatan berupa : • • • Tersedianya data dasar dari berbagai indikator kesehatan di berbagai tingkat administratif. Tersedianya informasi berkelanjutan. DI Yogyakarta. Gorontalo. e. Tingkat pusat Tingkat wilayah (empat wilayah) Tingkat provinsi (33 Provinsi) Tingkat kabupaten (440 Kabupaten/Kota) Tim pengumpul data (disesuaikan dengan kebutuhan lapangan) Pengumpulan data Riskesdas 2007 direncanakan untuk dilakukan segera setelah selesainya pengumpulan data Susenas 2007. Koordinator Wilayah 4 dengan penanggung-jawab Puslitbang Gizi dan Makanan untuk: Provinsi Bengkulu. dan Kalimantan Barat Kebijakan Kesehatan untuk: Provinsi Jawa Timur. dan Sulawesi Barat. Kalimantan Barat. Maluku Utara. dan Kepulauan Riau b. Sulawesi Tenggara. Koordinator Wilayah 1 dengan penanggung-jawab Puslitbang Ekologi & Status Kesehatan untuk: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Lampung. Daftar provinsi. Sumatera Utara. b. (Lampiran 1.) : a. 1. organisasi profesi. Stratifikasi indikator kesehatan menurut status sosial-ekonomi sesuai hasil Susenas 2007. lembaga penelitian. Koordinator Wilayah 3 dengan penanggung-jawab Puslitbang Sistem dan d. Maluku. Koordinator Wilayah 2 dengan penanggung. perguruan tinggi. Bali.Sulawesi Utara.Riskesdas direncanakan dan dilaksanakan oleh seluruh jajaran Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 877 Tahun 2006. Jambi. Sulawesi Tengah. pengorganisasian Riskesdas 2007 dibagi menjadi berbagai tingkat dengan rincian sebagai berikut (Lihat Lampiran 1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.jawab Puslitbang Biomedis dan Farmasi untuk: Provinsi DKI Jakarta. Riau. koordinator wilayah dan jadwal pengumpulan data per wilayah disusun sebagai berikut: a. Bangka Belitung.2)) 6 . d. Sulawesi Selatan. Kalimantan Selatan. Kalimantan Tengah. Papua Barat. Jawa Tengah. Nusa Tenggara Barat. untuk perencanaan pembangunan kesehatan yang 1. c. Departemen Kesehatan Republik Indonesia dengan melibatkan berbagai pihak. Sumatera Barat. Nusa Tenggara Timur. Banten. pemerintah daerah. antara lain Badan Pusat Statistik. dan partisipasi masyarakat.

7) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. maka setiap pengguna informasi Riskesdas dapat memperoleh gambaran yang utuh dan rinci mengenai berbagai masalah kesehatan yang ditanyakan. 11) Kabupaten Buton Utara. 12) Kabupaten Konawe Utara (Provinsi Sulawesi Tenggara). 9) Minahasa Tenggara. 13) Kabupaten Gorontalo Utara (Provinsi Gorontalo). design effect dan jumlah sampel tertimbang akan menyertai setiap estimasi variabel. dengan catatan sebagai berikut: a. akurat dan berorientasi pada kepentingan para pengambil keputusan di berbagai tingkat administratif. 15) 7 . diukur atau diperiksa. Lebih lanjut. karena metodologinya hampir seluruhnya sama dengan Susenas 2007 (lihat penjelasan pada seksi berikut). sedangkan di tingkat provinsi. para pembentuk kebijakan dan pengambil keputusan di bidang pembangunan kesehatan dapat menarik manfaat yang optimal dari ketersediaan data Riskesdas 2007. Sebanyak 16 (enam belas) kabupaten tidak termasuk dalam sampel Riskesdas 2007 karena merupakan pengembangan kabupaten baru yang pada saat perencanaan Riskesdas belum diperhitungkan. 2) Kota Subussalam (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam). Riskesdas 2007 menyediakan data dasar yang dikumpulkan melalui survei berskala nasional sehingga hasilnya dapat digunakan untuk penyusunan kebijakan kesehatan bahkan sampai ke tingkat kabupaten/kota. 4) Kabupaten Empat Lawang (Provinsi Sumatera Selatan). 5) Kabupaten Bandung Barat (Provinsi Jawa Barat).1 Disain Riskesdas adalah sebuah survei yang dilakukan secara cross sectional yang bersifat deskriptif.METODOLOGI RISKESDAS 2.2 Lokasi Sampel Riskesdas 2007 di tingkat kabupaten/kota berasal dari 440 kabupaten/kota (dari jumlah keseluruhan sebanyak 456 kabupaten/kota) yang tersebar di 33 (tiga puluh tiga) provinsi Indonesia. 3) Kabupaten Batubara (Provinsi Sumatera Utara). Kabupaten dimaksud adalah sebagai berikut: 1) Kab. atau dengan data survei lainnya seperti data kemiskinan yang menggunakan metodologi yang sama. Pidie Jaya. secara menyeluruh. 6) Kabupaten Kayong Utara (Provinsi Kalimantan Barat). sementara Susenas 2007 sudah mengikuti jumlah kabupaten/kota yang ada. Dengan demikian. 10) Kota Mobagu (Provinsi Sulawesi Utara). Disain Riskesdas terutama dimaksudkan untuk menggambarkan masalah kesehatan penduduk di seluruh pelosok Indonesia. 8) Kabupaten Kepulauan Siao Tagolandang Biaro. Dengan disain ini. Disain Riskesdas 2007 dikembangkan dengan sungguh-sungguh memperhatikan teori dasar tentang hubungan antara berbagai penentu yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat.BAB 2. 2. 14) Kabupaten Sumba Barat Daya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa Riskesdas 2007 didisain untuk mendukung pengembangan kebijakan kesehatan berbasis bukti ilmiah. data Riskesdas 2007 mudah dikorelasikan dengan data Susenas 2007. relative standard error. Berbagai ukuran sampling error termasuk didalamnya standard error. confidence interval. Laporan Hasil Riskesdas 2007 akan menggambarkan berbagai masalah kesehatan di tingkat nasional dan variabilitas antar provinsi. dapat menggambarkan masalah kesehatan di tingkat provinsi dan variabilitas antar kabupaten/kota.

Riskesdas berhasil mengunjungi 17. 16) Kabupaten Nagekeo (Provinsi Nusa Tenggara Timur). dalam 438 kabupaten/kota pada Susenas 2007 terdapat 1.3 Populasi dan Sampel Populasi dalam Riskesdas 2007 adalah seluruh rumah tangga di seluruh pelosok Republik Indonesia. Bila dalam sebuah blok sensus terdapat lebih dari 150 (seratus lima puluh) rumah tangga maka dalam penarikan sampel di tingkat ini akan dibentuk sub-blok sensus.2 Penarikan Sampel Rumah Tangga Dari setiap blok sensus terpilih kemudian dipilih 16 (enam belas) rumah tangga secara acak sederhana (simple random sampling). berdasarkan sampel blok sensus dalam Susenas 2007 yang berjumlah 17. walaupun tidak masuk kedalam sampel Susenas 2007. yang menjadi sampel rumah tangga dengan jumlah rumah tangga di blok sensus tersebut. Secara keseluruhan. b. pada Riskesdas 2007. terkumpul 182 rumah tangga tambahan dari dua (2) kabupaten di Papua.357 (tujuh belas ribu tiga ratus lima puluh tujuh) sampel blok sensus. Sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga dalam Riskesdas 2007 identik dengan daftar sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Susenas 2007. yaitu: 1) Kabupaten Puncak Jaya dan 2) Kabupaten Pegunungan Bintang (Provinsi Papua). jumlah sampel rumah tangga dari 438 kabupaten/kota Susenas 2007 adalah 277.225 (satu juta seratus tiga puluh empat ribu dua rtus dua puluh lima) sampel anggota rumah tangga. sedang Riskesdas 2007 berhasil mengumpulkan 258. 2. Sebanyak 2 (dua) kabupaten masuk kedalam sampel Riskesdas 2007.Kabupaten Sumba Tengah. 2. Riskesdas 2007 berhasil mengumpulkan 972. seluruh anggota rumah tangga dari setiap rumah tangga yang terpilih dari kedua proses penarikan sampel tersebut diatas diambil sebagai sampel individu. Diluar itu.284 rumah tangga.989 individu yang sama dengan 8 . Berikut ini adalah uraian singkat cara penghitungan dan cara penarikan sampel dimaksud.1 Penarikan Sampel Blok Sensus Seperti yang telah diuraikan sebelumnya.630 (dua ratus tujuh puluh tujuh enam ratus tiga puluh). Dengan begitu. 2.3 Penarikan Sampel Anggota Rumah Tangga Selanjutnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metodologi penghitungan dan cara penarikan sampel untuk Riskesdas 2007 identik pula dengan two stage sampling yang digunakan dalam Susenas 2007. Dari setiap kabupaten/kota yang masuk dalam kerangka sampel kabupaten/kota diambil sejumlah blok sensus yang proporsional terhadap jumlah rumah tangga di kabupaten/kota tersebut. 2. Kemungkinan sebuah blok sensus masuk kedalam sampel blok sensus pada sebuah kabupaten/kota bersifat proporsional terhadap jumlah rumah tangga pada sebuah kabupaten/kota (probability proportional to size). Secara keseluruhan. Pada Riskesdas. Riskesdas menggunakan sepenuhnya sampel yang terpilih dari Susenas 2007.134.3. terdapat 15 blok sensus dari 2 kabupaten di Papua yang dikeluarkan Susenas 2007 (Lihat Tabel 2.150 blok sensus dari 438 jumlah kabupaten/kota.1).2). (Lihat Tabel 2.3.3.

Dari jumlah tersebut. terkumpul 673 sampel anggota rumah tangga.919. Pemilihan 30 kabupaten berdasarkan hasil survei konsumsi garam beriodium pada Susenas 2005 dengan memilih secara acak 10 (sepuluh) kabupaten dimana tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga tinggi. 30 Kabupaten yang terpilih dapat dilihat pada sub. dan kedua adalah pengukuran iodium dalam urin. dan juga sampel urin dari anak usia 6-12 tahun yang selanjutnya dikirim ke laboratorium Universitas Diponegoro.5 Penarikan Sampel Iodium Ada 2 (dua) pengukuran iodium. Untuk pengukuran kedua. dan Puslitbang Gizi dan Makanan. Pada Riskesdas 2007. 10 (sepuluh) kabupaten dengan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga sedang dan 10 (sepuluh) kabupaten dengan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga rendah.114 orang. terpilih sampel anggota rumah tangga berasal dari 971 blok sensus perkotaan yang dari 294 kabupaten/kota dalam Susenas 2007. Dari rumah tangga yang terpilih. 9 . berhasil digabung dengan sampel anggota rumah tangga Rikesdas sejumlah. Bogor. yang berasal dari 272 kabupaten/kota dan 540 blok sensus.3. 2. 2674 sampel garam beriodium rumah tangga dikumpulkan untuk dilakukan pemeriksaan kadar iodium pada garam. sampel garam rumah tangga diambil.3). Riskesdas 2007 mengumpulkan 36. dan 182 rumah tangga dari dua (2) kabupaten di Papua. dan 8473 anak usia 6-12 tahun yang dilakukan pengukuran kadar iodium dalam urin. Khusus untuk pengukuran gula darah.Susenas. 26.3.bab. Secara keseluruhan. 2. Sedangkan pengukuran iodium dalam urin adalah untuk menilai kemungkinan kelebihan konsumsi garam iodium pada penduduk. adalah pengukuran kadar iodium dalam garam yang dikonsumsi rumah tangga. Pengukuran kadar iodium dalam garam dimaksudkan untuk mengetahui jumlah rumah tangga yang menggunakan garam beriodium. Pertama.4 Penarikan Sampel Biomedis Sampel untuk pengukuran biomedis adalah anggota rumah tangga berusia lebih dari 1 (satu) tahun yang tinggal di blok sensus dengan klasifikasi perkotaan. Balai GAKI-Magelang.5. Dalam Riskesdas 2007 dilakukan test cepat iodium dalam garam pada 257. Secara nasional. sampel diambil dari anggota rumah tangga berusia lebih dari 15 tahun yang berjumlah 19. dari dua (2) kabupaten di Papua yang dikeluarkan Susenas. dipilih secara acak dua (2) rumah tangga yang mempunyai anak usia 6-12 tahun dari 16 RT per blok sensus di 30 kabupaten yang dapat mewakili secara nasional. Pengukuran kadar iodium dalam garam dilakukan dengan test cepat menggunakan “iodina” dilakukan pada seluruh sampel rumah tangga.065 sampel rumah tangga dari 438 kabupaten/kota. (Lihat Tabel 2.357 (tiga puluh enam ribu tiga ratus limapuluh tujuh) anggota rumah tangga berusia lebih dari satu (1) tahun.2.

10 . Dengan demikian 17.165 BS berhasil dikumpulkan.Tabel 2. Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.1 Jumlah Blok Sensus (BS) menurut Susenas 2007 dan Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua*) Indonesia Jml BSSusenas 2007 687 1054 692 434 380 540 342 438 230 230 427 1282 1578 216 1872 304 358 360 608 456 534 494 474 354 388 918 416 210 196 215 209 146 315 17357 Jml BSRiskesdas 2007 683 1045 689 426 379 538 337 424 230 230 409 1267 1576 215 1872 303 357 360 605 455 533 471 461 325 376 909 416 200 191 215 208 144 301 17150 Jml BS yang tidak ada 4 9 3 8 1 2 5 14 0 0 18 15 2 1 0 1 1 0 3 1 1 23 13 29 12 9 0 10 5 0 1 2 14 207 *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan Peg. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 15 BS.

359 3.0 Riau 6.2.5 Sulawesi Utara 5.366.904 7.418 94.1 Indonesia 277.9 Sumatra Utara 16.2 Kalimantan Selatan 7.6 Jambi 6.6 Jawa Barat 20.769 92.864 4.421 97.664 85.074 81.329 1.021 4.2 Papua Barat 2.728 9.375 95.981 10.915 87.0 Maluku 3.498 95.0 Sulawesi Barat 3. Jumlah Sampel Rumah Tangga (RT) per Provinsi menurut Susenas 2007 dan Riskesdas.472 5.064 92.5 Lampung 7.806 95.512 19.1 Kepulauan Riau 3.5 Sumatra Selatan 8.424 2.208 5.640 8.078 5.8 Gorontalo 3.430 94.8 Kalimantan Tengah 8.9 Jawa Tengah 25.634 96.294 6. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 182 RT.680 3.8 Jawa Timur 29.728 5. Dengan demikian rumah tangga yang dikumpulkan berjumlah 258.8 Nusa Tenggara Barat 5.832 4.420 92.578 97. 11 .7 Sulawesi Selatan 14.647 98.952 28.0 Nusa Tenggara Timur 9.284 93.585 80.4 Banten 4.2 Sumatra Barat 11.344 2.402 92.6 Bangka Belitung 3.543 7.206 94.705 88.072 10.664 4.821 78.5 Bengkulu 5.386 97.490 92.248 24.1 Bali 5.680 3.008 6.656 6.2 Papua*) 5.0 *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan Peg.456 3.890 71.630 258.792 91.3 DI Yogyakarta 3. 2007 Jumlah Sampel RTSusenas 2007 Jumlah Sampel RTRiskesdas 2007 % Sampel RT Riskesdas /Susenas Provinsi NAD 10.563 95.Tabel 2.831 94.4 DKI Jakarta 6.959 86. Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.9 Kalimantan Timur 7.263 91.431 91.090 92.933 6.578 6.6 Kalimantan Barat 7.241 93.134 2.687 13.4 Maluku Utara 3.447 87.9 Sulawesi Tengah 6.469 94.2 Sulawesi Tenggara 6.760 5.861 16.

4 94.553 63.002 39.870 27.021 25.5 84.8 92.892 69.521 95.349 10.514 16.856 36.4 81.7 69.9 84.4 85.833 13.2 92.3 92.2 81.2 61.418 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua*) Indonesia Jumlah Sampel ARTRiskesdas 2007 40.548 45.966 17.156 17.410 26.189 6.9 93.269 11.624 29.015 25.046 74.952 21.7 91.848 22.648 47.297 38.0 85.245 10.570 14.3 85.603 21. Bintang di Provinsi Papua tidak dikumpulkan dalam Susenas 2007.706 25.064 22. Jumlah Sampel Anggota Rumah Tangga (ART) per Provinsi menurut Susenas 2007 dan Riskesdas.276 20.056 22.532 %Sampel ART Riskesdas /Susenas 88.966 24.5 83.358 19.085 986.591 45.7 67.646 29.465 110.687 14.661 13.7 87.570 26.044 23.954 33.148.164 100.4 88.557 28. namun dikumpulkan dalam Riskesdas 2007 dengan total 673 ART).486 1.928 14.519 78.2 90.152 9.4 83.460 87.1 60.Tabel 2.2 91.397 21.205 orang 12 .5 81.970 68.2 85.4 83.4 82.8 89. 2007 Jumlah Sampel ARTSusenas 2007 46.8 82.756 31.530 22.119 10.3 86.412 20.642 11.9 73.898 15.250 28.3.361 13.048 29.136 16.256 42.3 70.9 *) Data dari Kabupaten Puncak Jaya dan peg.637 14.754 21.512 54.645 12.435 33.7 89. Dengan demikan ART yang berhasil di wawancarai adalah sejumlah 987.

d. Blok X tentang keterangan individu dikelompokkan menjadi: • • • • • • b. Dalam Riskesdas 2007 terdapat kurang lebih 900 variabel yang tersebar dalam 6 (enam) jenis kuesioner. ii. Blok VI tentang akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan (11 variabel). tidak menular. yang terdiri dari: • • • c. viii. Blok X-E tentang disabilitas/ketidakmampuan untuk semua anggota rumah tangga ≥ 15 tahun (23 variabel).GIZI).Maluku Utara. Papua Barat. Blok III tentang keterangan pengumpul data (6 variabel). Kuesioner gizi (RKD07. Blok V tentang mortalitas (10 variabel). Blok VII tentang sanitasi lingkungan (17 variabel). Kuesioner rumah tangga (RKD07.2. Blok X-F tentang kesehatan mental untuk semua anggota rumah vi. dengan rincian variabel pokok sebagai berikut: a.RT) yang terdiri dari: • Blok I tentang pengenalan tempat (9 variabel). Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel). Blok II tentang keterangan rumah tangga (7 variabel). Blok X-I tentang kesehatan reproduksi – pertanyaan tambahan untuk 5 provinsi: NTT. tangga ≥ 15 tahun (20 variabel). dan riwayat penyakit turunan (50 variabel). yang terdiri dari: 13 . Papua (6 variabel). Blok VIII tentang konsumsi makanan rumah tangga 24 jam lalu.IND). Kuesioner autopsi verbal untuk umur <29 hari (RKD07. Blok IV tentang anggota rumah tangga (12 variabel).AV1). v. Blok X-B tentang penyakit menular. Blok X-A tentang identifikasi responden (4 variabel).4 Variabel Berbagai pertanyaan terkait dengan kebijakan kesehatan Indonesia dioperasionalisasikan menjadi pertanyaan riset dan akhirnya dikembangkan menjadi variabel yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai cara. Blok X-G tentang imunisasi dan pemantauan pertumbuhan untuk semua anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan (11 variabel). Kuesioner individu (RKD07. Blok X-C tentang ketanggapan pelayanan kesehatan  Pelayanan rawat inap (11 variabel)  Pelayanan berobat jalan (10 variabel iv. • • Blok XI tentang pengukuran dan pemeriksaan (14 variabel). iii. Blok X-H tentang kesehatan bayi (khusus untuk bayi berumur < 12 bulan (7 variabel). Blok IX tentang keterangan wawancara individu (4 variabel). vii. yang terdiri dari: i. Maluku.

5 Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data Pelaksanaan Riskesdas 2007 menggunakan berbagai alat pengumpul data dan berbagai cara pengumpulan data. Lihat Lampiran 2. Blok IVA tentang keadaan bayi ketika lahir (6 variabel).AV3). Blok II tentang keterangan yang meninggal (7 variabel).AV2). Blok II tentang keterangan yang meninggal (7 variabel).RT dilakukan dengan teknik wawancara • Responden untuk Kuesioner RKD07. Blok IV tentang resume riwayat sakit untuk umur 5 tahun keatas (5 variabel). Blok V tentang autopsi verbal kesehatan ibu neonatal ketika hamil dan bersalin (2 variabel). Blok VIB tentang keadaan ibu (8 variabel). Blok III tentang karakteristik ibu neonatal (5 variabel). e.<5 tahun (35 variabel). Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel). Blok IIID tentang autopsi verbal untuk laki-laki atau perempuan yang berumur 15 tahun keatas (1 variabel). Blok VIA tentang bayi usia 0-28 hari termasuk lahir mati (4 variabel).< 5 tahun (RKD07. Kuesioner autopsi verbal untuk umur <29 hari . terdapat dua (2) formulir yang digunakan untuk pengumpulan data tes cepat iodium garam (Form Garam) dan data iodium didalam urin (Form Pemeriksaan Urin). Blok IIIC tentang autopsi verbal untuk perempuan pernah kawin umur 10-54 tahun (19 variabel). 2.1 Kuesioner Riskesdas 2007.RT adalah Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga atau Anggota Rumah Tangga yang dapat memberikan informasi 14 . Pengumpulan data rumah tangga menggunakan Kuesioner RKD07. dengan rincian sebagai berikut: a. yang terdiri Catatan Selain keenam kuesioner tersebut diatas. Blok IVB tentang keadaan bayi ketika sakit (12 variabel). Blok III tentang autopsi verbal riwayat sakit bayi/balita berumur 29 hari . Blok IV tentang resume riwayat sakit bayi/balita (6 variabel) f. yang terdiri dari: • • • • dari: • • • • • • • Blok I tentang pengenalan tempat (7 variabel). Kuesioner autopsi verbal untuk umur 5 tahun keatas (RKD07.• • • • • • • Blok II tentang keterangan yang meninggal (6 variabel). Blok IIIB tentang autopsi verbal untuk perempuan umur 10 tahun keatas (4 variabel). Blok IIIA tentang autopsi verbal untuk umur 5 tahun keatas (44 variabel).

Pengumpulan data kematian dengan teknik autopsi verbal menggunakan Kuesioner RKD07. Pnemonia. Khusus untuk anggota rumah tangga yang berusia kurang dari 15 tahun. Stroke. pengukuran lingkar perut. termasuk ibu hamil). tinggi badan / panjang badan. Demam Tifoid. Anggota rumah tangga berumur > 5 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan visus. Tumor / Kanker dan Penyakit Keturunan. • • • • • • • • • c.AV2 dan RKD07. serta pengukuran lingkar lengan atas (khusus untuk wanita usia subur 1545 tahun.AV yang sesuai dengan umur anggota rumah tangga yang meninggal dimaksud. Pengumpulan data individu pada berbagai kelompok umur dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan Kuesioner RKD07. Untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kematian yang terjadi dalam 12 bulan sebelum wawancara dilakukan eksplorasi lebih lanjut melalui autopsi verbal dengan menggunakan kuesioner RKD07. pengukuran tekanan darah. penggunaan alkohol. dalam kondisi sakit atau orang tua maka wawancara dilakukan terhadap anggota rumah tangga yang menjadi pendampingnya. Hepatitis. termasuk di dalamnya kejadian bayi lahir mati. Campak. Asma.IND • Secara umum. Anggota rumah tangga berumur 6-12 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan iodium dalam urin. Diare. kesehatan mental. Penyakit Tekanan Darah Tinggi.RT terdapat verifikasi terhadap keterangan anggota rumah tangga yang dapat menunjukkan sejauh mana sampel Riskesdas 2007 identik dengan sampel Susenas 2007. Tuberkulosis Paru. aktivitas fisik. RKD07. sikap dan perilaku terkait Penyakit Flu Burung. Anggota rumah tangga berumur < 12 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai kesehatan bayi. responden untuk Kuesioner RKD07. Cedera. Anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai imunisasi dan pemantauan pertumbuhan. perilaku higienis. Gigi dan Mulut. penyakit tidak menular dan penyakit keturunan sebagai berikut: Infeksi Saluran Pernafasan Akut.AV1.AV3. 15 . Informasi mengenai kejadian kematian dalam rumah tangga di recall terhitung sejak 1 Juli 2004. Anggota rumah tangga berumur ≥ 10 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai pengetahuan. Anggota rumah tangga berumur ≥ 30 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai Penyakit Katarak. serta pengukuran berat badan. HIV/AIDS. Penyakit Kencing Manis. Anggota rumah tangga semua umur menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai penyakit menular. Anggota rumah tangga berumur ≥ 12 tahun menjadi unit analisis untuk pemeriksaan gigi permanen. serta perilaku terkait dengan konsumsi buah-buahan segar dan sayur-sayuran segar. penggunaan tembakau. Malaria.• Dalam Kuesioner RKD07. Demam Berdarah Dengue. • b. Filariasis. Anggota rumah tangga berumur ≥ 15 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai Penyakit Sendi. Penyakit Jantung.IND adalah setiap anggota rumah tangga. disabilitas.

Rangkaian pengambilan sampelnya adalah sebagai berikut: • • Dari Blok sensus perkotaan yang terpilih pada Susenas 2007.Model kuesioner Riskesdas-mortalitas 2007 (RKD07. disentrifus sesegera mungkin untuk dijadikan serum. riwayat perdarahan dan menggunakan obat pengencer darah secara rutin. 1999) yang digunakan adalah sebagai berikut: • • • Normal (Non DM) < 140 mg/dl Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) 140 .AV1). Pembagian ini dimaksudkan untuk memenuhi kepraktisan ketika dilakukan wawancara agar tetap terarah pada penyebab kematian secara spesifik pada setiap kelompok usia. e. Serum segera diperiksa dengan menggunakan alat kimia klinis otomatis. Jumlah blok sensus di daerah perkotaan yang terpilih berjumlah 971. kecuali wanita hamil (alasan etika).536 RT. Nilai rujukan (WHO. Sampel darah diambil dari seluruh anggota rumah tangga (kecuali bayi) yang menanda-tangani informed consent. d.AV3). Pengambilan darah vena dilakukan setelah 2 jam pembebanan. gejala sakit sebelum seorang individu meninggal dengan teknik autopsi verbal (AV) melalui wawancara kepada keluarga almarhum/ah yang merawatnya ketka sakit. data dikumpulkan dari anggota rumah tangga berumur ≥ 15 tahun. Pengamatan tingkat nasional pada dampak konsumsi garam beriodium dinilai berdasarkan kadar iodium dalam urin.< 200 mg/dl Diabetes Mellitus (DM) > 200 mg/dl. dipilih sejumlah 15% dari total blok sensus perkotaan. Pengumpulan data konsumsi garam beriodium rumah tangga untuk seluruh sampel rumah tangga Riskesdas 2007 dilakukan dengan tes cepat iodium menggunakan “iodina test”. Khusus untuk responden yang sudah diketahui positif menderita Diabetes Mellitus (berdasarkan konfirmasi dokter). Kuesioner dilengkapi dengan lembar khusus untuk pembuatan resume riwayat patofisiologi perjalanan penyakit sampai terjadi kematian dan penegakan diagnosis penyebab kematian. Pengumpulan data biomedis berupa spesimen darah dilakukan di 33 provinsi di Indonesia dengan populasi penduduk di blok sensus perkotaan di Indonesia. kuesioner AV2 untuk balita berumur 28 hari-<5 tahun (RKD. kuesioner untuk usia lima (5) tahun ke atas (RKD. Sampel 30 kabupaten/kota dipilih untuk pengamatan ini berdasarkan tingkat konsumsi garam iodium rumah tangga hasil Susenas 2005: 16 . Ada tiga (3) macam kuesioner AV yang dipakai yaitu: kuesioner AV1 untuk neonatal berumur 0-<28 hari (RKD. hanya diberi pembebanan sebanyak 300 kalori (alasan medis dan etika). dengan melakukan pengumpulan garam beriodium pada rumah tangga bersamaan dengan pemeriksaan kadar iodium dalam urin pada anggota rumah tangga yang sama. Darah didiamkan selama 20–30 menit. Pengambilan sampel darah dilakukan pada seluruh anggota rumah tangga berumur di atas satu (1) tahun dari rumah tangga terpilih di blok sensus perkotaan terpilih sesuai Susenas 2007. dengan total sampel 15. yang keduanya akan dikerjakan oleh dokter reviewer dengan mengacu pada ketentuan International Classification of Diseases 10 (ICD-10) dari WHO.AV1 – AV3) dirancang untuk mengumpulkan tanda. Untuk pemeriksaan kadar glukosa darah. Responden terpilih memperoleh pembebanan sebanyak 75 gram glukosa oral setelah puasa 10–14 jam. f. Pengambilan darah tidak dilakukan pada anggota rumah tangga yang sakit berat.AV2).

Maluku. Buruk – meliputi Kabupaten Tapanuli Tengah. Kabupaten Tapin. Kota Pasuruan. Kabupaten Semarang. sehingga bisa melaksanakan pengumpulan data lebih awal (akhir Juli 2007). pelaksanaan pengumpulan data dalam berbagai situasi amat tergantung pada ketersediaan alat transpor.• Tinggi – meliputi Kabupaten Blitar. Kabupaten Katingan. Koordinator Wilayah I dan II bisa mencairkan anggaran sebelum terjadinya perubahan kebijakan anggaran dimaksud. Kabupaten Nganjuk. Perubahan kebijakan anggaran internal Departemen Kesehatan pada tahun anggaran 2007 menyebabkan gangguan ketersediaan dana operasional untuk pengumpulan data. Kabupaten Bantul. 17 . Kabupaten Jember. Pelatihan dilaksanakan di tiap provinsi. Kabupaten Karo. Kabupaten Balangan dan Kabupaten Mappi. Papua Barat. Kabupaten Konawe dan Kota Gorontalo). perlu dilakukan pelatihan yang intensif untuk petugas pengambil spesimen dan manajemen spesimen. Kabupaten Donggala. Kesiapan daerah untuk berperanserta dalam pelaksanaan Riskesdas 2007 amat bervariasi. Kondisi geografis dari sampel blok sensus terpilih amat bervariasi. Pelatihan dilakukan oleh peneliti dari Puslitbang Biomedis dan Farmasi dan petugas Labkesda setempat. sehingga dalam analisis perlu beberapa penyesuaian agar komparabilitas data dari satu periode pengumpulan data yang satu dengan periode pengumpulan data lainnya dapat terjaga dengan baik. c. Kabupaten Grobogan. Petugas dimaksud adalah para analis atau petugas laboratorium dari rumah sakit atau laboratorium daerah. Kabupaten Sikka.January 2008). Kota Salatiga. ketersediaan tenaga pendamping dan ketersediaan biaya operasional yang memadai tepat pada waktunya. Kabupaten Karawang. Di daerah kepulauan dan daerah terpencil di seluruh wilayah Indonesia. • • Catatan Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007 tidak dapat dilakukan serentak pada pertengahan 2007. Untuk pengumpulan data biomedis. sehingga waktu pengumpulan data pada provinsi di wilayah III dan sangat bervariasi (akhir Juli 2007 . Kabupaten Klungkung. Kota Dumai. Kota Kendari. Kota Metro. Kota Semarang. Sedangkan Koordinator Wilayah III dan IV lebih lambat. Kabupaten Solok Selatan. d. pengumpulan data baru dapat dilaksanakan pada AgustusSeptember 2008. Kota Tarakan dan Kabupaten Jeneponto. Kabupaten Bondowoso. Bahkan untuk lima (5) provinsi daerah sulit (Papua. Kabupaten Toba Samosir. Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur). Situasi ini disebabkan oleh beberapa hal berikut ini: a. Sedang – meliputi Kota Tangerang. b. sehingga pelaksanaan dari satu lokasi pengumpulan data ke lokasi lainnya memerlukan koordinasi dan manajemen logistik yang rumit.

Fokus perhatian Ketua Tim Pewawancara adalah kelengkapan dan konsistensi jawaban responden dari setiap kuesioner yang masuk.3 Cleaning Tahapan cleaning dalam manajemen data merupakan proses yang amat menentukan kualitas hasil Riskesdas 2007.6. 2. no responses. Kuesioner yang sama juga banyak mengandung skip questions yang secara teknis memerlukan ketelitian petugas entry data untuk menjaga konsistensi dari satu blok pertanyaan ke blok pertanyaan berikutnya. 18 . Ketua Tim Pewawancara harus mengkonsultasikan seluruh masalah editing yang dihadapinya kepada Penanggung Jawab Teknis (PJT) Kabupaten dan / atau Penangung Jawab Teknis (PJT) Provinsi. Kegiatan ini seyogyanya dilaksanakan segera setelah diserahkan oleh pewawancara.1 Editing Editing adalah salah satu mata rantai yang secara potensial dapat menjadi the weakest link dalam pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007.6. Urutan kegiatan manjemen data dapat diuraikan sebagai berikut. Kuesioner Riskesdas 2007 mengandung pertanyaan untuk berbagai responden dengan kelompok umur yang berbeda. 2. 2. memeriksa kuesioner yang telah diisi serta membantu memecahkan masalah yang timbul di lapangan dan juga melakukan editing. Di lapangan. Prasyarat pengetahuan dan keterampilan ini menjadi penting untuk menekan kesalahan entry. outliers amat menentukan akurasi dan presisi dari estimasi yang dihasilkan Riskesdas 2007.6 Manajemen Data Manajemen data Riskesdas dilaksanakan oleh Tim Manajemen Data Pusat yang mengkoordinir Tim Manajemen Data dari Korwil I – IV. pewawancara bekerjasama dalam sebuah tim yang terdiri dari tiga (3) pewawancara dan seorang Ketua Tim. PJT Kabupaten dan PJT Provinsi bertugas untuk melakukan supervisi pelaksanaan pengumpulan data. Perlakuan terhadap missing values. Editing mulai dilakukan oleh pewawancara semenjak data diperoleh dari jawaban responden. Tim Manajemen Data menyediakan pedoman khusus untuk melakukan cleaning data Riskesdas. Hasil pelaksanaan entry data ini menjadi bagian yang penting bagi petugas manajemen data yang bertanggungjawab untuk melakukan cleaning dan analisis data.2 Entry Tim manajemen data yang bertanggungjawab untuk entry data harus mempunyai dan mau memberikan ekstra energi berkonsentrasi ketika memindahkan data dari kuesioner / formulir kedalam bentuk digital. Petugas entry data Riskesdas merupakan bagian dari tim manajemen data yang harus memahami kuesioner Riskesdas dan program data base yang digunakannya.6.2. Buku kode disiapkan dan digunakan sebagai acuan bila menjumpai masalah entry data. Peran Ketua tim Pewawancara sangat kritikal dalam proses editing. Ketua Tim Pewawancara harus dapat membagi waktu untuk tugas pengumpulan data dan editing segera setelah selesai pengumpulan data pada setiap blok sensus.

tetapi tidak semua estimasi bisa mewakili kabupaten/kota. Besaran numerator dan denominator dari suatu estimasi yang mengalami proses data cleaning merupakan bagian dari laporan hasil Riskesdas 2007 Bila pada suatu saat data Riskesdas 2007 dapat diakses oleh publik. Pelaksanaan pengumpulan data mencakup periode waktu yang berbeda sehingga estimasi jumlah populasi pada periode waktu yang berbeda akan berbeda pula. Bisa juga terjadi anggota rumah tangga dari rumah tangga yang terpilih dan bisa dikunjungi oleh Riskesdas. Blok sensus tidak terjangkau. loka. c.) b.1.2) d. atau karena kondisi alam yang tidak memungkinkan seperti ombak besar. maka informasi mengenai imputasi (proses data cleaning) dapat meredam munculnya pertanyaan-pertanyaan mengenai kualitas data.3). karena ketidak-tersediaan alat transportasi menuju lokasi dimaksud. tersebar di seluruh kabupaten/kota (Lihat Tabel 2. Banyaknya sampel blok sensus. 2. f.Petugas cleaning data harus melaporkan keseluruhan proses perlakuan cleaning kepada penanggung jawab analisis Riskesdas agar diketahui jumlah sampel terakhir yang digunakan untuk kepentingan analisis.2. Pada Riskesdas. Total rumah tangga yang tidak berhasil dikunjungi Riskesdas adalah sebanyak 19.566 anggota rumah tangga yang tidak bisa dikumpulkan datanya (Lihat Tabel 2. Kejadian yang jarang seperti ini hanya bisa mewakili tingkat provinsi atau bahkan hanya tingkat nasional. variabel tanggal pengumpulan data bisa digunakan pada saat melakukan analisis. Proses pengadaan logistik untuk kegiatan Riskesdas 2007 terkait erat dengan ketersediaan biaya. pada saat pengumpulan data dilakukan tidak ada di tempat. Keterlambatan pada fase ini telah menyebabkan keterlambatan pada fase berikutnya. pusat-pusat penelitian. Riskesdas tidak berhasil mengumpulkan 207 blok sensus yang terpilih dalam sampel Susenas 2007.346. sampel rumah tangga. Pelaksanaan pengumpulan data mencakup periode waktu yang berbeda sehingga ada kemungkinan beberapa estimasi penyakit menular yang bersifat seasonal pada beberapa provinsi atau kabupaten/kota menjadi under-estimate atau over-estimate. Meski Riskesdas dirancang untuk menghasilkan estimasi sampai tingkat kabupaten/kota. serta perguruan tinggi setempat. seperti terlihat pada Tabel 2. Perubahan kebijakan pembiayaan dalam tahun anggaran 2007 dan prosedur administrasi yang panjang dalam proses pengadaan barang menyebabkan keterlambatan dalam kegiatan pengumpulan data. 19 . Rumah tangga yang terdapat dalam DSRT Susenas 2007 ternyata tidak dapat dijumpai oleh Tim Pewawancara Riskesdas 2007.7 Keterbatasan Riskesdas Keterbatasan Riskesdas 2007 mencakup berbagai permasalahan non-random error. sampel anggota rumah tangga serta luasnya cakupan wilayah merupakan faktor penting dalam pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2007. terutama kejadian-kejadian yang frekuensinya jarang. sebagaimana uraian berikut ini: a. Pengorganisasian Riskesdas 2007 melibatkan berbagai unsur Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Berbagai keterlambatan tersebut memberikan kontribusi penting bagi berbagai keterbatasan dalam Riskesdas 2007. balai/balai besar. e. Tercatat sebanyak 159. g. Pembentukan kabupaten/kota baru hasil pemekaran suatu kabupaten/kota yang terjadi setelah penetapan blok sensus Riskesdas dari Susenas 2007. sehingga tidak menjadi bagian sampel kabupaten/kota Riskesdas (Lihat Sub Bab 2.

anak 6 – 14 tahun. Hasil pengukuran yang diperoleh dari two stage sampling design memerlukan perlakuan khusus yang pengolahannya menggunakan paket perangkat lunak statistik konvensional seperti SPSS. 2. anak ≥6 tahun. Maluku.5 mencantumkan jumlah sampel anggota rumah tangga dan rumah tangga berdasarkan: 1) variabel pengukuran dari kelompok umur <5 tahun. beberapa kelemahan menggunakan teknis autopsi verbal akan mempengaruhi kualitas informasi yang diberikan oleh responden. Papua Barat. Untuk data mortalitas. estimasi yang dihasilkan hanya mewakili sampai tingkat perkotaan nasional. Terbatasnya dana dan waktu realisasi pencairan anggaran yang tidak lancar. Penyebabnya antara lain. Selain itu kemungkinan under-reporting. Aplikasi statistik yang tersedia didalam SPPS untuk mengolah dan menganalisis data seperti Riskesdas 2007 adalah SPSS Complex Samples. Jumlah sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga Riskesdas 2007 yang terkumpul seperti tercantum pada tabel 2. dewasa ≥ 30 tahun. Maluku Utara dan NTT) baru melaksanakan pada bulan Agustus-September 2008. dewasa ≥15 tahun.2. dan 3) variabel hasil pengujian garam iodium dirumah tangga. dan tabel 2.ketepatan umur kematian juga akan mempengauhi mutu data yang dikumpulkan. Tabel 2. 2) variabel hasil wawancara konsumsi tingkat rumah tangga. 20 . yaitu mengeluarkan missing values dan outlier serta dilakukan pembobotan sesuai dengan jumlah masing-masing sampel. Terutama kabupaten/kota dimana jumlah sampel teranalisis pada Riskesdas 2007 kurang dari 80% sampel Susenas 2007. Aplikasi statistik ini memungkinkan penggunaan two stage sampling design seperti yang diimplementasikan di dalam Susenas 2007. pada akhirnya akan berkurang untuk analisis masingmasing variabel yang dikumpulkan.3. menyebabkan pelaksanaan Riskesdas tidak serentak. ada yang dimulai pada bulan Juli 2007. serta wanita usia sunur 1545 tahun. Hasil pengolahan dan analisis data dipresentasikan pada Bab Hasil Riskesdas. maka validitas hasil analisis data dapat dioptimalkan. bahkan lima provinsi (Papua. dewasa ≥ 18 tahun.8 Pengolahan dan Analisis Data Isu terpenting dalam pengolahan dan analisis data Riskesdas 2007 adalah sampel Riskesdas 2007 yang identik dengan sampel Susenas 2007.h. (Tabel 2. Pada laporan ini seluruh analisis dilakukan berdasarkan jumlah sampel rumah tangga maupun anggota rumah tangga setelah missing values dan outlier dikeluarkan. serta kualitas pewawancara untuk bisa menggali penyebab kematian.4). j. Jumlah sampel Riskesdas 2007 cukup untuk kepentingan analisis yang menberikan gambaran nasional maupun provinsi. Akan tetapi untuk kepentingan analisis kabupaten/kota maka jumlah sampel akhir yang digunakan untuk masing-masing varibel perlu diperhatikan. karena tidak diperolehnya jawaban (missing values) maupun kemungkinan kesalahan hasil pengukuran (outlier) dari rumah tangga atau anggota rumah tangga. ketepatan waktu kejadian kematian. Dengan penggunaan SPSS Complex Sample dalam pengolahan dan analisis data Riskesdas 2007. Seluruh variabel Riskedas yang berjumlah hampir 900 pada saat analisis dilakukan prosedur yang sama. i. Riskesdas yang terdiri dari 6 Kuesioner dan 11 Blok Topik Analisis akan tergantung dari jawaban responden dan jumlahnya terhadap Susenas 2007. Disain penarikan sampel Susenas 2007 adalah two stage sampling. Khusus untuk data biomedis. tetapi ada pula yang dilakukan pada bulan Februari tahun 2008.

2 203 46.7 27 6.7 169 38.6 95 21.8 77 17.6 122 27.9% 56 12.5 73 16.0 20 4.6 105 24.9% 25 5.5 62 14.8 264 60.6 98 22.4 111 25.2 37 8.7 50 11.9 187 42.5 70-79.9 60 13.3 241 55.2 87 19.5 118 26.7 47 10.5 65 14.7 106 24.3 11 2.3 160 36.3 59 13. Riskesdas 2007 Variabel Pengukuran/Pemeriksaan pada Riskesdas Pengukuran BB/U (Balita) Pengukuran TB/U (Balita) Pengukuran BB/TB (Balita) Pemeriksaan Visus (Anak >=6 tahun) Pengukuran IMT (Anak 614tahun) Pengukuran IMT (Dewasa >=15 tahun) Pengukuran Lingkar Perut (Dewasa >=15 tahun) Pengukuran LILA (Wanita usia15-45 tahun) Pengukuran Tensi (Dewasa >=18 tahun) Pemeriksaan Katarak (Dewasa >=30 tahun) Penilaian Konsumsi Rumah Tangga Penilaian Konsumsi garam Iodium pada Rumah Tangga Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Jml Kab % Persen Sampel Teranalisis <70% 25 5.8 87 19.5 327 74.9 103 23. Tabel 2.7 151 34.2 85 19.16.4 223 50.6 213 48.5 – Tabel 2.7 >90% 332 75.7 Total Kab/Kota*) 438 438 438 438 438 438 438 438 438 438 438 438 *)Total Kabupaten/Kota 438 adalah Kabupaten/Kota Riskesdas 2007 yang sama dengan Sampel Susenas 2007 21 .4 45 10.7 95 21.5 100 22.5 58 13.9 129 29.0 129 29.9 81 18.8 73 16.Rincian jumlah kabupaten/kota setiap provinsi menurut jumlah sampel anggota rumah tangga dan sampel rumah tangga yang bisa di analisis Riskesdas 2007 terhadap jumlah sampel Susenas 2007 dapat dilihat pada Tabel 2.4 Jumlah Kabupaten menurut Persen Sampel Teranalisis dari Variabel Hasil Pengukuran/Pemeriksaan.2 80-89.4 55 12.7 47 10.7 163 37.

Tabel 2.9% 80-89.9% >=90% 2 0 1 0 0 0 0 2 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1 2 0 0 0 0 1 4 2 2 5 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 1 1 0 0 0 1 1 0 0 5 0 1 0 0 1 3 4 1 2 1 2 1 2 1 3 5 1 0 1 2 1 1 0 0 1 0 0 5 0 3 0 4 2 1 8 1 1 0 1 1 3 4 17 23 17 9 9 11 4 6 7 5 1 24 34 5 37 4 9 9 11 10 10 12 8 0 9 14 9 4 3 0 1 3 7 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 25 25 56 332 438 22 .5 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen sampel Balita hasil Pengukuran BB/U dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.

9% >=90% 4 2 2 0 0 1 0 3 0 1 3 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 1 2 4 0 2 0 0 1 7 5 3 6 3 0 0 2 1 2 4 2 0 0 2 0 1 0 1 1 0 0 1 2 4 0 2 4 0 4 1 1 1 0 2 3 3 3 4 1 5 1 2 3 2 0 2 0 3 1 0 3 1 1 1 6 3 3 1 3 1 4 10 2 0 3 1 1 2 4 11 19 16 4 8 9 2 3 7 3 1 22 33 5 34 3 8 8 8 6 7 11 6 0 6 7 7 4 0 0 0 1 5 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 50 47 77 264 438 23 .6 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.Tabel 2.9% 80-89.

Tabel 2.7 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Balita hasil Pengukuran TB/U dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi
NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79,9% 80-89,9% >=90%
4 1 2 2 0 3 0 3 0 1 4 0 0 0 0 1 0 0 1 2 1 1 2 3 0 1 0 0 2 7 5 3 6 1 1 0 2 2 1 5 2 0 0 1 1 1 0 2 1 0 0 2 2 3 0 2 5 1 1 2 0 0 0 2 4 3 7 7 3 6 1 3 3 3 1 3 0 4 3 0 7 1 1 1 7 3 4 2 3 1 4 4 2 1 3 1 1 1 4 9 16 14 1 7 7 1 2 6 2 1 20 31 5 29 3 8 8 6 5 6 10 6 0 5 17 6 4 0 0 0 1 5

Total
21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18

Indonesia

55

47

95

241

438

24

Tabel 2.8 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak ≥ 6 tahun hasil Pemeriksaan Visus Mata dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi
NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79,9% 80-89,9% >=90%
2 1 3 3 0 1 2 4 0 1 5 5 2 1 1 2 1 0 1 3 2 2 4 7 2 4 0 3 4 6 5 7 14 6 4 11 5 3 3 2 3 3 4 0 12 14 2 13 0 1 1 11 2 5 2 8 2 8 8 7 1 1 1 3 2 3 12 17 4 3 7 5 5 3 3 1 1 8 18 2 23 4 5 8 3 5 7 9 1 0 0 10 3 1 0 1 0 0 0 1 3 1 0 0 5 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 2 0 1 2 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1

Total
21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18

Indonesia

98

151

169

20

438

25

Tabel 2.9 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Anak 6-14 tahun hasil Pengukuran BB/TB dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007
Provinsi
NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79,9% 80-89,9% >=90%
1 0 2 1 0 1 0 0 0 0 5 1 1 0 0 1 0 0 0 2 3 2 2 2 0 0 0 0 2 5 2 3 9 1 2 0 4 0 0 2 4 0 1 0 1 0 1 1 1 0 0 3 2 1 1 2 6 2 3 0 2 3 1 5 4 5 7 1 3 4 6 4 4 5 1 4 0 5 4 2 8 1 2 1 7 4 5 2 8 1 8 13 4 1 0 2 1 1 3 12 22 14 2 4 9 3 1 6 1 1 18 30 2 29 3 7 8 6 4 5 8 1 0 0 7 6 2 0 0 0 1 1

Total
21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18

Indonesia

45

58

122

213

438

26

Tabel 2.10 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 15Tahun Pengukuran IMT dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007
Provinsi
NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79,9% 80-89,9% >=90%
1 1 2 1 0 0 1 0 0 0 5 1 0 0 0 2 0 0 0 2 2 1 3 5 0 1 0 1 3 6 4 6 11 3 0 1 3 1 1 4 3 2 3 0 4 3 1 2 0 1 0 8 1 4 2 4 3 7 6 4 2 2 1 3 3 5 8 12 8 5 6 4 3 7 0 3 1 19 20 4 23 3 3 1 7 5 6 6 6 1 3 14 4 2 0 1 1 0 1 9 12 8 2 3 9 1 0 5 0 0 1 12 0 13 1 5 8 1 4 2 4 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 1

Total
21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18

Indonesia

59

87

187

105

438

27

Tabel 2.11 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa ≥ 15Tahun hasil Pengukuran Lingkar Perut dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007
Provinsi
NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79,9% 80-89,9% >=90%
1 1 4 3 0 1 1 0 0 1 6 1 0 0 0 2 0 0 0 3 2 1 3 4 0 1 0 1 2 6 4 6 11 6 1 1 2 1 1 4 3 0 3 0 3 1 1 1 0 1 0 7 1 2 2 2 4 7 6 3 2 3 2 3 3 5 8 13 7 4 7 4 4 5 2 2 0 19 16 1 12 1 2 1 8 5 7 2 7 1 3 13 5 2 0 0 1 0 1 6 10 7 2 2 8 0 2 5 0 0 2 18 3 25 3 6 8 1 3 3 8 1 0 0 3 2 0 0 0 0 0 1

Total
21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18

Indonesia

65

81

163

129

438

28

Tabel 2.12 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Wanita Usia 15-45 Tahun hasil Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007
Provinsi
NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79,9% 80-89,9% >=90%
2 1 2 1 0 1 2 1 0 0 5 2 0 0 1 2 0 0 1 3 2 1 2 8 0 1 0 1 3 6 5 6 14 3 3 1 4 2 2 3 5 1 3 0 6 4 2 3 0 1 1 11 1 2 2 4 0 8 9 4 2 2 2 3 3 3 13 16 8 6 6 5 4 4 2 3 1 17 25 3 25 4 2 7 4 6 8 5 7 1 2 12 5 2 0 0 0 0 0 3 5 8 0 2 6 0 0 4 0 0 0 6 0 9 0 6 1 0 2 2 5 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 1

Total
21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18

Indonesia

73

100

203

62

438

29

Lampiran 2.13 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 18 Tahun hasil Pengukuran Tensi Darah dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007
Provinsi
NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79,9% 80-89,9% >=90%
3 4 2 4 1 1 2 1 0 1 5 3 4 0 1 2 0 0 2 3 3 3 5 8 6 4 1 2 3 6 6 6 14 3 2 2 1 0 1 4 7 0 3 1 5 4 2 3 1 1 0 11 1 4 1 4 1 4 6 3 3 2 1 1 3 2 6 5 6 5 5 2 3 2 2 2 0 16 24 2 24 3 4 2 3 7 7 5 4 0 0 13 5 0 0 1 1 0 1 9 14 9 1 4 10 0 0 5 0 0 1 3 1 10 0 4 7 0 1 0 4 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1

Total
21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18

Indonesia

106

87

160

85

438

30

Tabel 2.14 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Dewasa Usia ≥ 30 Tahun hasil Pemeriksaan Katarak dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007
Provinsi
NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79,9% 80-89,9% >=90%
1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 5 1 0 0 0 1 0 0 0 1 2 1 1 3 0 0 0 0 1 5 2 4 7 1 0 2 2 0 1 3 3 0 0 0 3 1 1 1 1 0 0 0 2 1 2 3 5 4 4 1 3 2 1 4 3 6 2 2 4 2 2 3 3 5 2 6 0 11 9 0 8 1 1 0 11 3 5 1 5 1 6 8 5 2 2 1 2 2 3 17 22 12 7 8 10 3 2 5 0 1 10 25 4 29 3 8 9 5 6 6 9 4 0 0 11 4 0 0 1 0 0 2

Total
21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18

Indonesia

37

60

118

223

438

31

Tabel 2.15 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga hasil Penilaian Konsumsi Energi dan Protein dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007
Provinsi
NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79,9% 80-89,9% >=90%
1 2 1 0 2 1 0 0 0 1 5 0 6 1 27 4 3 9 6 1 2 3 5 1 2 0 0 0 0 4 3 6 15 5 3 3 6 6 1 1 0 1 4 1 4 4 3 10 0 5 0 3 3 1 2 7 1 3 3 3 0 2 1 3 3 3 8 11 10 4 2 7 4 1 4 0 0 5 8 1 1 0 1 0 7 5 10 6 1 1 5 11 6 3 2 3 2 0 0 7 9 5 1 0 5 4 9 2 1 0 16 17 0 0 2 0 0 0 3 1 2 0 6 0 9 1 2 1 0 0 0 0

Total
21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18

Indonesia

111

95

129

103

438

32

9% >=90% 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 2 0 0 0 0 0 0 0 2 3 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 1 1 0 0 0 2 1 0 2 1 0 0 0 1 1 3 1 3 5 2 1 3 1 0 0 2 2 1 1 0 2 2 2 1 1 2 0 2 1 4 0 7 4 7 4 1 1 3 3 3 4 6 18 24 16 9 10 14 7 8 6 5 1 23 33 3 35 4 7 9 14 9 9 12 4 2 3 19 9 3 1 2 4 0 4 Total 21 25 19 11 10 14 9 10 7 6 6 25 35 5 38 6 9 9 16 12 14 13 13 9 10 23 10 5 5 8 8 9 18 Indonesia 11 27 73 327 438 33 .16 Sebaran Kabupaten/Kota menurut Persen Sampel Rumah Tangga Hasil Penilaian Konsumsi Garam Iodium dan Provinsi dari Riskesdas 2007 terhadap Susenas 2007 Provinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sebaran Kabupaten menurut % sampel teranalisis <70% 70-79.9% 80-89.Tabel 2.

1 Gizi 3.0 b.0 s/d Z-score <=2.1 kg.0 Z-score >=-2. Status gizi balita berdasarkan indikator BB/U Tabel 3.0 s/d Z-score <-2. Berdasarkan indikator BB/TB: Kategori Kategori Kategori Kategori Prevalensi Prevalensi Prevalensi Prevalensi Sangat Kurus Kurus Normal Gemuk Z-score Z-score Z-score Z-score < -3.0 >=-3. tetapi tidak memberikan indikasi apakah masalah gizi tersebut bersifat kronis atau akut. dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).0 >2. Berat badan anak ditimbang dengan timbangan digital yang memiliki presisi 0.0 s/d Z-score <=2.0 >=-2.1. yaitu: berat badan menurut umur (BB/U). Indikator BB/U memberikan gambaran tentang status gizi yang sifatnya umum.0 Z-score < -3.1.1 cm. menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator BB/U.HASIL DAN PEMBAHASAN 3. maka angka berat badan dan tinggi badan setiap balita dikonversikan ke dalam bentuk nilai terstandar (Z-score) dengan menggunakan baku antropometri WHO 2006.0 >=-3. Selanjutnya berdasarkan nilai Z-score masing-masing indikator tersebut ditentukan status gizi balita dengan batasan sebagai berikut : a.0 >2. tidak spesifik. dan tinggi badan diukur dengan menggunakan microtoise dengan presisi 0. berat badan (BB) dan tinggi badan (TB).0 Z-score >=-3. Berdasarkan indikator TB/U: Kategori Sangat Pendek Kategori Pendek Kategori Normal c. 34 . Berdasarkan indikator BB/U : Kategori Kategori Kategori Kategori Gizi Gizi Gizi Gizi Buruk Kurang Baik Lebih Z-score Z-score Z-score Z-score < -3.BAB 3.0 Perhitungan angka prevalensi dilakukan sebagai berikut: gizi buruk = (Jumlah balita gizi buruk/jumlah seluruh balita) x 100% gizi kurang = (Jumlah balita gizi kurang/jumlah seluruh balita) x 100% gizi baik = (Jumlah balita gizi baik/jumlah seluruh balita) x 100% gizilebih = (Jumlah balita gizi lebih/jumlah seluruh balita) x 100% a.0 >=-2.1 cm.0 s/d Z-score <-2. Untuk menilai status gizi anak. panjang badan diukur dengan length-board dengan presisi 0.0 s/d Z-score <-2.1 Status Gizi Balita Status gizi balita diukur berdasarkan umur. Tinggi rendahnya prevalensi gizi buruk atau gizi buruk dan kurang mengindikasikan ada tidaknya masalah gizi pada balita. tinggi badan menurut umur (TB/U). Variabel BB dan TB anak ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri.

5 80.7 9.5 18.9 7.2 4.2 8. Namun pencapaian tersebut belum merata di 33 provinsi.6 3.3 5.6 11. Kepulauan Riau.6 4.6 71.3 74.7 5.8 6.9 71.5 80.0 4.5 15.9 11.2 5.0 77. Bila dibandingkan dengan target pencapaian program perbaikan gizi pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2015 sebesar 20% dan target MDG untuk Indonesia sebesar 18.4 6.2 14.4 4.8 5.4 81.Tabel 3.3 2.8 8.4 10.8 4.8 13.6 3.3 3.4 Gizi lebih 4.7 12.4 4.0 77.1 8.9 83.0 9.6 3.4 4.2 4.6 81.9 5.2 13.3 13.3 80.2 15.7 24.5 3.6 Gizi baik 69.5 8.6 Gizi kurang 15.3 12.8 14.7 4.7 69.6 12.1 16.3 Indonesia *)BB/U= Berat Badan menurut Umur 5.3 14.2 8.3 8.3 76.0%.5 12.4 18.0 11.0 8.5 72. maka secara nasional target-target tersebut sudah terlampaui.4 72.3 6.2 10.1 6.5 16. Sebanyak 21 provinsi masih memiliki prevalensi gizi buruk di atas prevalensi nasional.1 73.1 70.0 9. 35 . Prevalensi nasional untuk gizi buruk dan kurang adalah 18.1 6.4 5.2 72.0 78.3 6.0 79.7 8.7 2. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)* dan Provinsi.5%.1 67.4 3.8 5.2 73.9 3.4 73.5 2.4 75.4 64.2 16.0 2.4 85.0 2.7 77.7 3.1.1 9.3 75.5 6.9 12.2 4.9 17.6 3.4 14. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kategori status gizi BB/U Gizi buruk 10.5 3.4 6. Bila mengacu pada target MDG maka 14 provinsi yang sudah melampaui target.3 74.0 3.3 6.0 4.0 2.8 75.7 6.5 4.1 11.9 3.4 8.0 16. Duabelas provinsi lainnya sudah berada di bawah prevalensi nasional.7 4.7 6. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.0 5.2 78.4% dan gizi kurang 13.3 72. Bangka Belitung. yaitu seluruh provinsi Jawa-Bali dan lima provinsi lain: Bengkulu.4%.1 18.0 5.4 3.7 11.5 3.4 13.0 73.3 Secara umum prevalensi gizi buruk di Indonesia adalah 5.

Bali. Delapan belas provinsi menghadapi prevalensi pendek di atas angka nasional. Jawa Timur. Terdapat 12 provinsi yang memiliki prevalensi balita sangat kurus di bawah angka prevalensi nasional.6%. Sulawesi Selatan. Bali. Dalam hal ini berat badan anak melebihi proporsi normal terhadap tinggi badannya. indikator BB/TB juga dapat digunakan sebagai indikator kegemukan. dan dianggap kritis bila prevalensi kurus sudah di atas 15.2%. Bali. Masalah kekurusan dan kegemukan pada usia dini dapat berakibat pada rentannya terhadap berbagai penyakit degeneratif pada usia dewasa (Teori Barker). Besarnya masalah kurus pada balita yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat (public health problem) adalah jika prevalensi kurus > 5%.3. Jambi. artinya muncul sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama seperti kemiskinan. Secara nasional prevalensi kurus pada balita adalah 13. menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator BB/TB. Bahkan. yaitu Sumatera Utara. perilaku pola asuh yang tidak tepat. Jawa Barat. Lampung. Di Yogyakarta. DI Yogyakarta. Jawa Tengah. Indikator BB/TB menggambarkan status gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung dalam waktu yang pendek. Kepulauan Riau. Kalimantan Barat.8%. Banten. DKI Jakarta. seperti menurunnya nafsu makan akibat sakit atau karena menderita diare. DKI Jakarta. Hal ini berarti bahwa masalah kurus di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Sulawesi Selatan. Dalam diskusi selanjutnya digunakan masalah kurus untuk gabungan kategori sangat kurus dan kurus. Status gizi balita berdasarkan indikator TB/U Tabel 3. Sumatera Selatan.2 menyajikan angka prevalensi balita menurut status gizi yang didasarkan pada indikator TB/U. Masalah kesehatan masyarakat sudah dianggap serius bila prevalensi kurus antara 10. Jawa Barat. Jawa Timur. Bengkulu.0%. sering menderita penyakit secara berulang karena higiene dan sanitasi yang kurang baik. Prevalensi gizi lebih secara nasional adalah 4. Dua provinsi lainnya yaitu Jambi dan Kalimantan Timur hanya melampaui target RPJM. Bangka Belitung. Status gizi balita berdasarkan indikator BB/TB Tabel 3. Status pendek dan sangat pendek dalam diskusi selanjutnya digabung menjadi satu kategori dan disebut masalah pendek. Indikator TB/U menggambarkan status gizi yang sifatnya kronis. Masalah pendek pada balita secara nasional masih serius yaitu sebesar 36. Salah satu indikator untuk menentukan anak yang harus dirawat dalam manajemen gizi buruk adalah indikator sangat kurus yaitu anak dengan nilai Z-score < -3. Jawa Tengah. Maluku Utara dan Papua. Kepulauan Riau. Prevalensi balita sangat kurus secara nasional masih cukup tinggi yaitu 6. dari 33 provinsi. b. Jawa Timur.1% . Di samping mengindikasikan masalah gizi yang bersifat akut.sedangkan untuk target RPJM sudah 16 provinsi yang melampaui target. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Maluku dan Papua. Riau. Ke 14 provinsi yang telah memenuhi kedua target adalah: Sumatera Selatan.0 SD. Bengkulu. Kegemukan ini dapat terjadi sebagai akibat dari pola makan yang kurang baik atau karena keturunan. Bangka Belitung. Sulawesi Utara.15. Ke 12 provinsi tersebut adalah: Bangka Belitung. c.0% (UNHCR). Dalam keadaan demikian berat badan anak akan cepat turun sehingga tidak proporsional lagi dengan tinggi badannya dan anak menjadi kurus. Kepulauan Riau. Terdapat 15 provinsi dengan prevalensi melebihi angka nasional. Kalimantan Timur. 18 provinsi di antaranya masuk dalam kategori kategori 36 .3%.

9 6.9 7.0 8.3 9.8 62.2 10.0 9.8 78.6 12.9 76.4 14. Riskesdas 2007 *) TB/U= Tinggi Badan menurut Umur Tabel 3.9 77.4 72. DI Yogyakarta dan Bali.3.1 9.9 81.7 8.2 9.8 12.8 68.2 7.3 14.1 10.5 12.kritis (prevalensi kurus >15%).4 6.6 73.6 4.4 16.4 20.3.6 7.2 3.4 5.8 6.5 15.4 7. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Kategori status gizi BB/TB Sangat kurus Kurus Normal 9.5 12.8 69.9 15.9 71.6 11.8 6.2 16.5 8. Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)* dan Provinsi.5 66.8 74.7 10.9 8.3 8.6 66.5 5.3 7.7 7.4 8.1 8.4 10.0 13.2 70.9 7.1 9.5 5.2 7.7 5. Hanya 3 (tiga) provinsi yang tidak termasuk dalam kategori serius ataupun kritis adalah: Jawa Barat.9 7.9 66.5 8.5 3.9 6.7 6.7 69.2 78. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)* dan Provinsi.4 71.8 5.6 70.3 76.0 75.3 75.8 78.8 5.4 6.3 8. 12 provinsi pada kategori serius (prevalensi kurus antara 10-15%).4 7.2 10.9 74.4 8.9 7.4 70. Pada Tabel 3.7 3.5 9.2.5 10.1 7.3 12.0 Gemuk 15.5 76.5 73.1 5.6 13.4 63.6 3.7 9. dapat dilihat bahwa prevalensi kegemukan di Indonesia adalah 12.2 8.5 9.6 37 .1 12.9 14.4 12.8 7.1 8.9 14.6 7.9 6.9 13.6 4.0 8.2 9.5 9.8 8.3 4.8 70.7 11.7 73.9 7.1 7. Berdasarkan indikator BB/TB juga dapat dilihat prevalensi kegemukan di kalangan balita.2 9.6 7.3 76.0 68.2%.4 8. Delapan belas provinsi memiliki masalah kegemukan pada balita di atas angka nasional Tabel 3.9 9.6 10.

2 78.3 12.0 81.9 3. Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/U)*dan Karakteristik Responden.1 76.2 4.4 13.3 5.2 13. pekerjaan KK.3 7.7 5. telah dilakukan tabulasi silang antara variabel bebas dan terikat tersebut.6 4.5 9.1 73.8 11.8 3.2 75.4 6. tempat tinggal dan pendapatan per kapita (sebagai variabel bebas).8 4.7 74.0 5.2 4.6 3.2 7.6 Karakteristik Responden Gizi buruk 6.4 74.9 5.8 8.5 4.0 77.7 14.7 78.0 3.3 4.9 6.9 3.7 5.8 13. pendidikan KK.8 76.4 9.8 77.7 4. Tabel 3.9 77. Tabel 3. Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/U Gizi kurang Gizi baik Gizi lebih 8.9 3.9 3.8 79. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi BB/U balita dengan variabel-variabel karakteristik responden.3 14.1 10.4 7.9 78.9 80.8 5.4 5.9 3.6 13.9 12.2 76.8 12.7 7.4 77.9 3.2 8.4 8.0 76.2 6.4 4.4.7 80.2 *) BB/TB= Berat Badan menurut Tinggi Badan d.3 75.5 4.8 5.1 12. jenis kelamin.7 78.7 5.8 5.6 4.9 11.6 12.5 14.5 Indonesia 6.3 11.7 4.8 14. Status gizi balita menurut karakteristik responden Untuk mempelajari kaitan antara status gizi balita yang didasarkan pada indikator BB/U.3 78.4.7 4.0 6.7 82.7 76.0 6.2 78.0 4.6 3.8 5.7 Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 38 .1 4.3 14.7 14.1 11.7 3.5 3.0 15.2 4.7 75.9 3.8 75.9 4.5 4.Papua 5. TB/U dan BB/TB (sebagai variabel terikat) dengan karakteristik responden meliputi kelompok umur.8 13.

c. Semakin tinggi pendidikan KK semakin rendah prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balita. Tidak ada pola yang jelas pada masalah kurus menurut tingkat pendidikan KK. d.1 9. f. baik maupun lebih antara balita laki-laki dan perempuan. Masalah kurus cenderung semakin rendah seiring dengan bertambahnya umur. Semakin bertambah umur. prevalensi gizi kurang cenderung meningkat. Sedangkan prevalensi balita kegemukan tertinggi ditemui pada kelompok dengan KK yang 39 . Prevalensi pendek cenderung lebih rendah seiring dengan meningkatnya tingkat pengeluaran keluarga per kapita per bulan.4 5. b.9 Dapat dilihat bahwa secara umum ada kecenderungan arah yang mengaitkan antara status gizi BB/U dengan karakteristik responden. Prevalensi gizi buruk dan gizi kurang daerah perkotaan relatif lebih rendah dari daerah perdesaan. e. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi BB/TB dengan karakteristik responden. b. dan sebaliknya. Pada kelompok keluarga yang memiliki pekerjaan berpenghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Swasta). c.6. Kajian deskriptif kaitan antara status gizi BB/TB dengan karakteristik responden menunjukkan: a. prevalensi pendek relatif lebih rendah dari keluarga dengan pekerjaan berpenghasilan tidak tetap. Makin tinggi pendidikan KK prevalensi pendek pada balita cenderung makin rendah. Tidak nampak adanya perbedaan yang mencolok pada prevalensi gizi buruk. untuk gizi baik dan gizi lebih semakin meningkat. Tabel 3. menyajikan hasil tabulasi silang antara status gizi TB/U dengan karakteristik responden.Kuintil 5 *)BB/U= Berat Badan menurut Umur 4. d. yaitu: a. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumahtangga per kapita per bulan semakin rendah prevalensi gizi buruk dan gizi kurang pada balitanya. kaitan antara status gizi BB/TB dan karakteristik responden menunjukkan kecenderungan yang serupa : a. sedangkan untuk gizi lebih cenderung menurun. b.6 80. e. c. d. tidak tampak adanya perbedaan masalah pendek yang mencolok pada balita. prevalensi kekurusan relatif lebih rendah dan prevalensi kegemukan relatif tinggi. f. sebaliknya terjadi peningkatan gizi baik dan gizi lebih. Kelompok dengan KK berpenghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Pegawai Swasta) memiliki prevalensi gizi buruk dan gizi kurang yang relatif rendah. Prevalensi kurus balita pada kelompok dengan KK sebagai petani/nelayan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan KK yang memiliki pekerjaan lain. tetapi pada keluarga dengan KK berpendidikan tamat PT. Menurut umur. Menurut jenis kelamin. Tidak tampak adanya perbedaan masalah kurus yang mencolok antara balita laki-laki dan perempuan. kurang. Seperti halnya dengan status gizi BB/U. Prevalensi pendek di daerah perdesaan relatif lebih tinggi dibanding daerah perkotaan.5. Tabel 3. tidak tampak adanya pola masalah pendek pada balita.

mempunyai pekerjaan dengan penghasilan tetap (TNI/Polri/PNS/BUMN dan Pegawai Swasta). namun masalah kegemukan cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat pengeluaran. Tidak ada pola pada masalah kurus menurut tingkat pengeluaran keluarga per kapita per bulan. 40 . f. Tidak ada perbedaan mencolok antara masalah kurus di daerah perdesaan dibandingkan dengan daerah perkotaan. e.

7 Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & Tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 *)TB/U= Tinggi Badan menurut Umur 41 .6 72.5 67.8 19.7 14.1 59.Tabel 3.5 17.3 59.3 18.8 67.8 65.0 20.6 18.0 13.2 22.9 21. Riskesdas 2007 Kategori status gizi TB/U Karakteristik Responden Sangat pendek 17.9 21.1 Normal 68.2 19.0 19.3 17.0 15.2 17.8 14.3 67.5 Persentase Balita menurut Status Gizi (TB/U)*dan Karakteristik Responden.8 15.8 16.1 62.1 65.6 62.1 15.8 60.7 70.1 21.1 70.0 22.1 22.4 60.2 17.2 15.5 14.5 20.0 18.8 19.6 17.6 18.8 60.4 18.6 17.2 19.3 15.9 69.8 17.2 62.2 19.0 58.6 61.9 19.2 59.1 17.9 65.7 16.7 17.0 20.7 13.5 61.8 19.1 64.3 64.9 16.5 58.3 19.9 18.7 19.2 Pendek 14.5 18.8 17.7 14.

0 7. yaitu Jawa Barat.7 10.8 68.8 12.9 72.4 7.3 7.8 11.4 12.7 7.8 6.1 73.5 7.2 74.5 7.8 14.4 11.2 73.9 7.1 7.0 Karakteristik Responden Sangat kurus 8.8 6.2 74.7 7.5 7.5 6.0 4. yang masalah gizi kronisnya lebih kecil dari angka nasional dan masalah gizi akutnya belum mencapai kondisi serius.4 73.0 6.2 6.0 5. Hanya tiga provinsi.9 7.6 11.0 76.6 Persentase Balita menurut Status Gizi (BB/TB)*dan Karakteristik Responden.6 5.4 7.0 7.6 7.5 74.0 7.0 7.9 11. BB/TB (kurus).6 6.9 12.7 6. TB/U (pendek).4 13.3 73.2 6.3 7.9 12. 42 .9 73.8 11.9 72.8 6.0 10. Tabel 3.0 Kelompok umur (bulan) 0-5 6 -11 12-23 24-35 36-47 48-60 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tdk sekolah & tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Utama KK Tdk kerja/sekolah/ibu RT TNI/Polri/PNS/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/dagang/jasa Petani/nelayan Buruh & lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran perkapita perbulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Tabel 3.2 6.5 4.7 14.9 6.9 7.9 10. Indikator TB/U memberikan gambaran masalah gizi yang sifatnya kronis dan BB/TB memberikan gambaran masalah gizi yang sifatnya akut.6 6.7 74.2 11.4 12.3 73.7 7.7 77.0 7.7 12.4 7.7 72.1 74.0 7.1 5. Tigapuluh provinsi masih menghadapi permasalahan gizi akut dan 18 provinsi menghadapi permasalahan gizi akut dan kronis.3 75.7 6. DI Yogyakarta dan Bali.8 12.3 74.1 7.Tabel 3.6 7.9 12.5 5.7 8.9 6.8 6.0 64.3 6.9 15.7.0 Gemuk 19.9 15.0 11.0 76.3 7.7 di bawah ini menyajikan gabungan prevalensi balita menurut ke tiga indikator status gizi yang digunakan yaitu BB/U (Gizi Buruk dan Kurang).1 5.5 73.2 10. Riskesdas 2007 Kategori status gizi BB/TB Kurus Normal 7.4 12.9 74.2 75.3 74.1 73.6 7.

9 17.6 √ * Permasalahan gizi akut adalah apabila BB/TB >10% (UNHCR) **Permasalahan gizi kronis adalah apabila TB/U di atas prevalensi nasional Memperhatikan jumlah sampel balita yang bisa dianalisis sampai tingkat kabupaten/kota.4 36.2 42.7 35.7 10.7 46.8 14.5 13.5 33.6 22.7 14.2 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 21.5 18.1 19.0 15. uraian berikut ini mengkaji urutan (rangking) dari yang terbaik sampai yang terburuk terhadap seluruh 440 kabupaten/kota.1 26.2 14.6 26.5 20.5 22.7 20.1 36.7 17.1 10.6 43.3 15.5 17.6 16.4 25.0 9.7 16.8 35.9 16.0 10.9 10.8 41.2 21.5 dapat dilihat jumlah kabupaten/kota dimana data balita untuk status gizi hampir sebagian besar kabupaten/kota dengan jumlah sampel Riskesdas 2007 teranalisis >80% darisampel 43 .0 11.3 22.4 24.2 15.6 19.5 39.4 BB/TB Akut (Kurus) 18.3 12.7 36.8 17.2 26.0 13.4 27.9 18.2 31.4 27.4 36.4 √ Indonesia 18.2 39.5 24.6 22.9 16.4 Akut* Kronis** Kurang 26.3 29.2 40.7 39.3 17.4 16.4 44. Seperti pada tabel 2.8 13.9 31.8 23.6 34.4 18.0 15. Riskesdas 2007 BB/U Buruk & Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua TB/U Kronis (Pendek) 44.4 16.9 44.5 45.2 13.8 38.4 12.0 43.8 13.6 17.8 9.8 27.0 36.0 16.9 15.8 33.3 15.8 22.2 37.7 35.6 12.7 14.2 16.2 15.1 40.7 25.0 38.Prevalensi Balita menurut Tiga Indikator Status Gizi dan Provinsi.8 40.6 11.0 17.

2.Susenas 2007.2% 40.7% 59. 4. setelah dilakukan rangking antar kabupaten/kota. 7. 9.7% 40. 3. Secara kasar bisa dipilih indikator dengan prevalensi / persentase yang tidak terlalu sedikit.0% 19. 2. 3.9% 21.2% 60. Contohnya untuk status gizi balita bisa diambil indikator: • Berdasarkan BB/U: underweight (gabungan gizi buruk + gizi kurang berdasarkan BB/U). 9. gambarannya adalah sebagai berikut Terbaik 1. 2. 5.0% Berdasarkan BB/TB (gabungan sangat kurus dan kurus) gambaran 10 kabupaten/kota terbaik dan terburuk adalah sebagai berikut: Terbaik Terburuk 44 . Terbaik Kota Tomohon Minahasa Kota Madiun Gianyar Tabanan Bantul Badung Kota Magelang Kota Jakarta Selatan Bondowoso 4. 5.9% 60. Sarmi Wajo Kota Mojokerto Kota Tanjung Pinang Kota Batam Kampar Kota Jakarta Selatan Kota Madiun Kota Bekasi Luwu Timur 16. 9.8% 40. kemudian diambil 10 kabupaten/kota yang terbaik dan terburuk sebagai berikut: Berdasarkan BB/U. Terburuk Seram Bagian Timur Nias Selatan Aceh Tenggara Simeulue Tapanuli Utara Aceh Barat Daya Sorong Selatan Timor Tengah Utara Gayo Lues Kapuas Hulu 67.7% 1. Terburuk Aceh Tenggara Rote Ndao Kepulauan Aru Timor Tengah Selatan Simeulue Aceh Barat Daya Mamuju Utara Tapanuli Utara Kupang Buru 48. 7. Berdasarkan TB/U: stunting (gabungan antara sangat pendek dan pendek) Berdasarkan BB/TB: wasting (gabungan antara sangat kurus dan kurus) • • Sebagai gambaran.8% 6. 4.5% 8.0% 6. daftar 10 kabupaten/kota dengan underweight paling banyak dan paling sedikit adalah: 1. 5. 6.2% 39. 8. 10. 4.0% 21.6% Berdasarkan TB/U (gabungan sangat pendek + pendek). 3.8% 63.6% 59.5% 21.7% 1. 6. 3. 9.3% 20.1% 7. 7.7% 39.1% 39.0% 37. 4.4% 67.7% 18. 6.3% 8. 8.4% 7. bila diambil gizi buruk saja prevalensinya terlalu kecil.1% 38.4% 20.8% 7.5% 59.9% 61.6% 19.1% 66. 2. 10.2% 8.2% 20.3% 38. 8. 6. 10. 10. 7.8% 6. 8. 5. kemungkinan tidak mewakili kabupaten/kota.

2 19. (Tabel 3. 9.6 23. 10.7 20.3 15.9 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 tahun menurut Jenis Kelamin dan Provinsi.6 24.1%) maupun pada anak perempuan (19. 3.9% pada perempuan. dan berat badan (BB) lebih jika nilai IMT lebih dari 2 SD nilai rerata standar WHO 2007 (Tabel 3.9% 30.8% 3.0% 30. 6.1 16.1%). 2. 8.1 16.2 27. 2.1 13. 8.9 14.9 17.9% 29.1% 29.0% 4. Sedangkan prevalensi kurus terendah di Bali. apabila nilai IMT kurang dari 2 standar deviasi (SD) dari nilai rerata.5 22.1.5 19.3% 31.5 +2SD 19.2 13.8 25.5 21.9 15. Tabel 3. Minahasa Kota Tomohon Kota Sukabumi Kota Bogor Bandung Kota Salatiga Kota Magelang Magelang Cianjur Bangka 0.3 13.5 Rerata IMT 15.9% pada anak perempuan.9) . 4.6% 3.9 15. 3.0 Perempuan +2SD 18.5 14. Sedangkan prevalensi BB lebih pada laki-laki 9.3% pada anak laki-laki dan 6.3 18.2 19.7 12. yaitu 8.1% 33.9 -2SD 13.7 24.6 17. 5.7 16. Solok Selatan Seruyan Manggarai Tapanuli Selatan Seram Bagian Barat Asmat Buru Nagan Raya Aceh Utara Bengkalis 41.8 20. 6.5% 41.3% 4.9% 31.6 -2SD 12. Riskesdas 2007 45 .5% dan perempuan 6.4% 5. 4.8 Standar Penentuan Kurus dan Berat Badan (BB) Lebih menurut Nilai Rerata IMT.6% 4.3% 30.3 15.3% pada laki-laki dan 10. 7.8).0 19. 9.5 13.7 12. Sebagai rujukan untuk menentukan kurus.9% 5. WHO 2007 Umur (Tahun) 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Laki-laki Rerata IMT 15.1 14.5 18.1.0 13.5 15.8 19.5 13. Nusa Tenggara Timur mempunyai prevalensi kurus tertinggi baik pada anak laki-laki (23. 5.2% 5.7 14.4 16. 10.0 18.5 23.9 26.9 13.4 14.4 22. Umur dan Jenis Kelamin. Menurut provinsi.3% 5. 7. secara nasional prevalensi kurus adalah 13.6% 1.4%.0% 2.6 21. Tabel 3.3 Berdasarkan standar WHO di atas.7 16.2 Status Gizi Penduduk Umur 6 – 14 tahun (Usia Sekolah) Status gizi penduduk umur 6-14 tahun dapat dinilai berdasarkan IMT yang dibedakan menurut umur dan jenis kelamin.4 15.

9 6.5 6.4%).4 11.8 6.9%).4 6.3 3. Kalimantan Barat (17. NTB (17.2%).1%).2 6.8 12. Lima provinsi dengan prevalensi BB-lebih pada 46 .0 11.4%).8 8.6 7.1 9.3 12.4 6.6 8.8 14.8 5.3 4.2 7.8 8.3 9.0 12.4 14.9%).4 12.6 7.9 10.7 7.9 15.3 11.1 8.8 9.1 12.8 14.6 4.1 9.4 9.8 13.0 4. Banten (14.2 9.8%. Sedangkan untuk anak perempuan terdapat di Provinsi NTT (19.3%).7 9.6 10.9 8.7 10.2 13.0 10.0 14. Kalimantan Tengah (15.5 6.5 13.2 11.3 17.8 10.4 15.9 13.4 11.1 12.5 13.2 14.0 6.5 3.6 10.1%).Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Laki-laki Kurus BB-Lebih 14.6 9.7 Perempuan Kurus BB-Lebih 12.1%). Riau (13.5 10.1 17.5 11.5 6.8 6.2 12.4 9.7 11.2 6.4 9.7 9.3 12.0%).6 15.1 7.1 9.6 11.8 10.2 12.3 10.1 4.9 6.2 6. Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan masing-masing 13.5 12.2%).0 8.9 10.8 6.9 13.6%) maupun pada anak perempuan (3.4 12.2 7.9 12.4 13.4 16.9 13.7 10.2 18.5 14.7 10.7 7.0 4.4 13.2 12.7 13.1 11.9 10.2 15.6 4.0 7.5 7.7 15.5 8.3 6.5 8.1 23.6 11.8 4.4 Lima provinsi dengan prevalensi kurus tertinggi pada anak laki-laki adalah NTT (23.1 11. Prevalensi BB-lebih pada anak umur 6 – 14 tahun terendah ditemukan di NTT baik pada anak laki-laki (4.0 16.0%) dan untuk anak perempuan di NAD (12.3 6. Maluku (18.4 13.8 15.4 9.3 4.7 19. Prevalensi BB-lebih pada anak umur 6 – 14 tahun tertinggi di Sumatera Selatan untuk anak laki-laki (16.3 9. dan Kalimantan Tengah (16.8 Indonesia 13.0 8.2 5.5 10.6 12.9 11.8 10.5 9.4 4.

7%).3 10. sedangkan untuk prevalensi kurus tidak menunjukkan pola yang jelas.6 3. Tabel 3.0 10.1 6.10 Prevalensi Kurus dan BB Lebih Anak Umur 6-14 Tahun menurut Karakteristik.10 menggambarkan prevalensi kurus dan BB lebih menurut karakteristik responden.1 7. Menurut tipe daerah.6 11.3 10.8 5.5 13.9 13.1 9. dan Kepulauan Riau (9.1 12. Riau (15.9 13. Papua (9. semakin bertambah umur semakin kecil prevalensi BB lebih.6 12.5 Laki-laki Kurus BB-Lebih Perempuan Kurus BB-Lebih Tingkat Pengeluaran perkapita perbulan Menurut umur tampak adanya kecenderungan.8%).2 11.2%).7 14.9%).8 6.1%).3 9.5 12.3 13.6 11.4 11.0 9. dan Papua (12. Sumatera Utara (11.0 13. Hal ini terjadi baik pada anak laki-laki maupun anak perempuan.1 10.5 1.8 8.0 7.1 8. Sumatera Utara (14.0 11.3 10.9 10.7 3.5 10. Sumatera Selatan (11%).1 7.3 13.9 6.3 12. 47 .8 12.0 8. Sedangkan prevalensi kurus tidak menunjukkan pola yang jelas menurut umur.7 10.6 9.4 10. Tampak adanya kecenderungan positip antara tingkat pengeluaran per kapita dengan BB lebih baik pada laki-laki maupun perempuan.6 14.4 9.6 8.0 11. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Umur 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 12. sebaliknya prevalensi BB lebih sedikit lebih tinggi di perkotaan.4 13.2 12.5 2. Sedangkan untuk anak perempuan terdapat di Provinsi NAD (12%).3 8.6 14.1 10. Bengkulu (14.3 13.7 15.7 5.6 4.8%).8 2. prevalensi kurus sedikit lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan.0 5.5%) Tabel 3.2 12.5 13.anak laki-laki adalah Sumatera Selatan (16%).9 12.5 13.

0 Indikator status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas yang lain adalah ukuran lingkar perut (LP) untuk mengetahui adanya obesitas sentral.0 IMT >=27. ini berlaku juga untuk prevalensi BB lebih dan obese. Pengukuran LILA dilakukan dengan pita LILA dengan presisi 0.9% dan 23.3% obese).1 cm. Prevalensi obesitas umum secara nasional adalah 19.<24. Secara nasional prevalensi obesitas umum pada laki-laki lebih rendah dibandingkan dengan perempuan (masing-masing 13.1 cm. b. Prevalensi obesitas umum lebih tinggi di daerah perkotaan dibanding daerah perdesaan. Istilah obesitas umum digunakan untuk gabungan kategori berat badan lebih (BB lebih) dan obese. Tabel 3.3. Status gizi wanita usia subur (WUS) 15 .11 menyajikan prevalensi penduduk menurut status IMT di masingmasing provinsi. Sulawesi Barat dan Sumatera Selatan.8%). Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumahtangga per kapita per bulan cenderung semakin tinggi prevalensi obesitas umum.13 menyajikan hasil tabulasi silang status gizi penduduk dewasa menurut IMT dengan beberapa variabel karakteristik responden.1% (8.5 . 48 . Gorontalo. Dari tabel ini terlihat bahwa : a.8% BB lebih dan 10. Ada 14 provinsi memiliki prevalensi obesitas umum di atas angka prevalensi nasional.12.0 . Status gizi dewasa berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh (IMT) Tabel 3. Lingkar perut diukur dengan alat ukur yang terbuat dari fiberglass dengan presisi 0. Indeks Massa Tubuh dihitung berdasarkan berat badan dan tinggi badan dengan rumus sebagai berikut : BB (kg)/TB(m)2.45 tahun dinilai dengan mengukur lingkar lengan atas (LILA). Nusa Tenggara Barat.5 IMT >=18.<27. Berikut ini adalah batasan IMT untuk menilai status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas: Kategori kurus Kategori normal Kategori BB lebih Kategori obese IMT < 18. Sedangkan lima provinsi dengan prevalensi obesitas umum tertinggi adalah: Kalimantan Timur. Batasan untuk menyatakan status obesitas sentral berbeda antara laki-laki dan perempuan.3 Status Gizi Penduduk Umur 15 Tahun Ke Atas Status gizi penduduk umur 15 tahun ke atas dinilai dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Maluku Utara.9 IMT >=25. Prevalensi obesitas umum menurut jenis kelamin disajikan pada Tabel 3. Kalimantan Barat. a.1. Lima provinsi yang memiliki prevalensi obesitas umum terendah adalah Nusa Tenggara Timur. DKI Jakarta dan Sulawesi Utara.

3 13.2 62.0 12.2 71.6 16.6 15.4 66.0 10.9 64.7 Obese 8.2 11.4 7.5 14.5 67.3 72.5 7.4 9.6 9.6 9.2 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Normal 69.0 14.7 7.2 67.2 66.7 11.8 10.8 66.8 64.1 8.1 73.3 15.7 67.1 6.1 16.3 8.8 11.5 12.7 Indonesia 14.8 6.7 9.9 9.4 6.3 70.4 13.9 12.9 11.3 66.2 11.8 69.8 7.2 10.2 7.8 17.6 72.4 12.0 8.2 8.7 5.7 60.9 63.5 9.7 10.1 7.0 9.1 6.7 11.9 23.11 Persentase Status Gizi Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut IMT dan Provinsi.7 10.6 12.5 BB-Lebih 7.3 14.5 60.1 68.1 5.5 70.4 11.8 69.1 16.8 68.4 7.0 17.9 7.9 7.9 15.8 10.0 10.6 15.0 68.3 8.4 64.0 18.5 13.8 9.Tabel 3.9 12.4 11.5 10.2 67.7 71.7 8.1 6.2 11.4 7.1 8.3 66.7 12.8 11.6 4.1 9.1 9.3 11. Riskesdas 2007 Kategori IMT Kurus 13.9 19.6 7.1 11.0 70.3 7.5 8.3 7.6 15.7 64.4 14.1 15.6 14.9 9.5 7.3 49 .3 65.0 7.6 17.9 10.2 7.9 9.4 7.6 63.1 9.9 67.2 14.

1 33.0 15.1 13.9 10.8 9.9 30.7 10.6 15.3 18.0 26.3 28.5 33.2 22.6 12.0 22.1 12.5 14.2 22.9 27.5 11.9 22.3 8.3 38.9 24.2 13.4 Indonesia 13.0 18.4 16.13 Persentase Status Gizi Dewasa (15 Tahun Ke Atas) 50 .2 20.4 19. Riskesdas 2007 Prevalensi obesitas umum (%) Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Laki-laki 11.3 16.2 19.6 20.9 16.7 11.7 14.6 27.1 21.6 19.8 10.5 20.9 7.4 13.1 26.6 14.7 20.9 23.7 16.6 18.3 15.0 18.1 Perempuan 20.9 24.7 29.9 23.8 26.1 15.7 20.4 29.7 20.7 23.0 10.4 19.Tabel 3.8 18.2 11.4 15.8 19.7 8.4 10.1 17.3 22.5 Laki-laki dan Perempuan 16.2 15.4 18.4 17.4 11.8 21.4 23.2 14.0 20.9 27.1 Tabel 3.3 16.6 20.4 11.12 Prevalensi Obesitas Umum Penduduk Dewasa (15 Tahun Ke Atas) Menurut Jenis Kelamin dan Provinsi.5 20.9 17.3 14.3 22.7 14.5 18.5 20.5 25.2 16.0 22.7 18.6 14.2 11.3 18.3 11.0 22.6 24.

9 10.4 7.6 63.7 16.9 67.3 8.1 13.7 12. Menurut tipe daerah tampak lebih tinggi di daerah perkotaan (23.1 7.7 11. Tabel 3. Status gizi dewasa berdasarkan indikator Lingkar Perut (LP) Tabel 3. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurus Pendidikan Tdk Sekolah & Tdk tamat SD Tamat SD Tamal SLTP Tamat SLTA Tamat PT Tipe daerah 13. 2005). Sedangkan menurut pekerjaan.4 65.2 67. Tidak tampak pola kecendrungan antara obesitas sentral menurut tingkat pendidikan.2 11.14 dan Tabel 3.3 9.8 11.7 Kategori IMT Normal 64.5 15.15 menyajikan prevalensi obesitas sentral menurut provinsi. Menurut kelompok umur. selanjutnya berangsur menurun kembali.7 Obese 8.9 7.4 7. Obesitas sentral dianggap sebagai faktor risiko yang erat kaitannya dengan beberapa penyakit degeneratif. 17 di antaranya memiliki prevalensi obesitas sentral di atas angka prevalensi nasional (Tabel 3.14).7%). jenis kelamin dan karakteristik responden.8 8.15).7 9.8 10.0 62.9 Perdesaan Tingkat pengeluaran RT per kapita per bulan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 17.6 15.14 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas menurut Provinsi. Dari 33 provinsi.8 67. Prevalensi obesitas sentral untuk tingkat nasional adalah 18.7%).3 67.8%.2 13.4 13.7 9.6%) dibandingkan daerah perdesaan (15.8 7.4 Perkotaan 15.5 9.9 63. Prevalensi obesitas sentral pada perempuan (29%) lebih tinggi dibanding laki-laki (7.9 12. semakin tinggi prevalensi obesitas sentral.3 66.8 68. prevalensi obesitas sentral cenderung meningkat sampai umur 45-54 tahun.Menurut IMT dan Karakteristik Responden. prevalensi obesitas sentral paling tinggi pada ibu rumah tangga (Tabel 3.7 13.8 BB-Lebih 7.9 7.2 66. Demikian juga semakin meningkat tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.1 10. Riskesdas 2007 51 .3 15. Untuk laki-laki dengan LP di atas 90 cm atau perempuan dengan LP di atas 80 cm dinyatakan sebagai obesitas sentral (WHO Asia-Pasifik.5 19.5 7.9 b.9 8.

2 19.9 15.1 18.5 31.0 27. Tabel 3. P>80) * 14.6 25.L>90.0 19.4 17.8 20.0 23.15 Prevalensi Obesitas Sentral pada Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.9 23. Riskesdas 2007 52 .4 19.1 27.0 19.8 .Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Obesitas Sentral (LP. L =Laki-laki .2 Indonesia Catatan: *) LP= lingkar perut .0 15.9 10.4 11.1 18.1 19.3 13.4 18.0 17.1 27.5 23.2 15.6 19.1 21.5 22. P = Perempuan 18.6 13.1 15.7 14.8 16.

8 19.8 10. P>80) * 8.7 29.18 menyajikan gambaran masalah gizi pada WUS 53 .17.8 19.9 23.7 23.Karakteristik Responden Kelompok Umur (Tahun) 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Obesitas Sentral (LP.0 16.3 18.9 24.3 20. Status gizi Wanita Usia Subur (WUS) 15-45 tahun berdasarkan indikator Lingkar Lengan Atas (LILA) Tabel 3.5 7.7 15.7 20.4 26.1 23.L>90. L =Laki-laki .0 17. dan Tabel 3.6 15.8 7.0 19.7 15. P = Perempuan c.0 36.16.3 25.9 15.1 18.0 19.7 16.8 17. Tabel 3.2 Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Catatan: *) LP= lingkar perut .9 15.

0 27.32 3.2 24.8 24.92 2.14 3.7 24.4 24.16 3.9 25.23 3.2 27. Tabel 3. NTT.8 26.35 3. Tabel 3.16.24 3.0 27.6 24. dan Papua.35 3. 54 .4 26.1 25. Tabel 3.6 26.22 3.9 26.4 27.29 3. yang sudah disesuaikan dengan umur (age adjusted).78 2.4 25.4 27. DI Yogyakarta.72 2.0 25.80 2.16 menggambarkan prevalensi KEK tingkat nasional berdasarkan umur.04 3.3 26.3 27. Sulawesi Tenggara.94 2.6 25. Nampak adanya kecenderungan dengan meningkatnya umur nilai rerata LILA juga meningkat. Jawa Tengah.37 3. Maluku.53 2.yang diukur dengan LILA.98 2.62 2.7 26. Hasil pengukuran LILA ini disajikan menurut provinsi dan karakteristik responden.41 Untuk menilai prevalensi risiko KEK dilakukan dengan cara menghitung LILA lebih kecil 1 SD dari nilai rerata untuk setiap umur antara 15 sampai 45 tahun. Untuk menggambarkan adanya risiko kurang enegi kronis (KEK) dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi pada WUS digunakan ambang batas nilai rerata LILA dikurangi 1 SD.9 27.17 3.10 3.62 2.17 menunjukkan 10 provinsi dengan prevalensi risiko KEK di atas angka nasional (13.32 3. Kalimantan Selatan.1 27.1 26. Riskesdas 2007 Nilai Rerata LILA Umur (Tahun 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Rerata (cm) 23.98 3. Jawa Timur.3 27.6%) yaitu DKI Jakarta.8 25. Nilai Rerata LILA Wanita Umur 15-45 tahun.37 3.33 3.60 2.2 27.2 Standar Deviasi (SD) 2.2 27.17 3. Papua Barat.2 27.57 2.31 3.

55 .0 17.1 11.1 8.9 10.2 20.6 12.4 24.8 12.6 23.0 11.5 9.2 5.1 9.3 7.9 12.8 10. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Risiko KEK* (%) 12. risiko KEK cenderung lebih tinggi dibanding tingkat pendidikan tertinggi (tamat PT).8 10.2 10.2 14. adalah: a.1 19.9 8.0 12.6 Kecenderungan risiko KEK berdasarkan tabulasi silang antara prevalensi risiko KEK dengan karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan tingkat pendidikan.5 14.Tabel 3.1 Indonesia 13.17 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Wanita Umur 15-45 Tahun Menurut Provinsi.6 8.9 12.3 16.5 15.6 10.18. gambaran nasional menunjukkan pada tingkat pendidikan terendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD).2 15.4 9.4 12.6 12.

Semakin meningkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan cenderung semakin rendah risiko KEK. Provinsi dengan angka konsumsi energi terendah adalah provinsi Sulawesi Barat (1384.b.4 Konsumsi Energi dan Protein Prevalensi rumah tangga dengan masalah konsumsi ”energi rendah” dan ”protein rendah” dari data Riskesdas 2007 diperoleh berdasarkan jawaban responden untuk makanan yang di konsumsi anggota rumah tangga (ART) dalam waktu 1 x 24 jam yang lalu. Secara nasional.1.20 dan Tabel 3.7 kkal) dan provinsi dengan angka konsumsi energi tertinggi adalah provinsi Jawa Timur (2175.21.1 16.4 13. c. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita.6 13.8 12. 56 .4 12. Responden adalah ibu rumah tangga atau anggota rumah tangga lain yang biasanya menyiapkan makanan di rumah tangga (RT) tersebut.5 13. Provinsi dengan rerata konsumsi protein terendah adalah Bengkulu (45. dan pada Tabel 3.5 Kkal untuk energi dan 55. prevalensi risiko KEK lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding perkotaan.5 gram untuk protein. merupakan data prevalensi RT dengan konsumsi ”energi rendah” dan konsumsi ”protein rendah”. menunjukkan risiko KEK cenderung tinggi pada kelompok pengeluaran terendah.19 disajikan angka rerata konsumsi energi dan protein per kapita per hari. Tabel 3. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Pendidikan Tdk Sekolah & Tdk Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran per Kapita Kuintil – 1 Kuintil – 2 Kuintil – 3 Kuintil – 4 Kuintil – 5 KEK 15.8 gram) dan provinsi dengan rerata konsumsi protein tertinggi adalah Kepulauan Riau (69.0 14.4 11.5 3. Data pada Tabel 3.19 menunjukkan bahwa rerata konsumsi per kapita per hari penduduk Indonesia adalah 1735. Prevalensi RT yang mengkonsumsi energi dan protein di atas rerata konsumsi energi dan protein tidak disajikan.18 Prevalensi Risiko KEK Penduduk Perempuan Umur 15-45 Tahun menurut Karakteristik Responden.8 13.5 kkal).1 14. Pada tabel 3.5 12. Sedangkan RT dengan konsumsi ”protein rendah” adalah bila RT dengan konsumsi protein di bawah rerata konsumsi energi nasional dari data Riskesdas 2007.0 gram). Rumah tangga dengan konsumsi ”energi rendah” adalah bila RT dengan konsumsi energi di bawah rerata konsumsi energi nasional dari data Riskesdas 2007.

Jawa Barat. Sulawesi Selatan.5 691. dan Papua. Kalimantan Timur. Sebanyak 16 provinsi dengan prevalensi konsumsi “protein rendah” di atas angka prevalensi nasional (58. Maluku Utara. Kalimantan Timur.6 653. Tabel 3. Maluku Utara.3 45.5 485.1 641. Jambi. Banten.7 1602. dan Papua Barat. semakin rendah persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “protein rendah”. dan Sulawesi Barat. Sulawesi Barat.5 28.0 %) yaitu Provinsi Riau.8 677. Maluku. Sumatera Barat.3 1371.3 1861. Lampung.8 56. Sulawesi Utara. Sumatera Utara. Riau. Riau. Jawa Timur. Kalimantan Barat. Sedangkan provinsi dengan rerata konsumsi protein di atas rerata nasional sebanyak 19 provinsi yaitu: NAD.0 59.3 57 . Tabel 3. Sumatera Selatan. Kalimantan Barat. dan Papua.0 % dan konsumsi “protein rendah” sebesar 58. Maluku. Gorontalo.5 Kkal dan 55.Provinsi dengan rerata konsumsi energi di atas rerata nasional sebanyak 11 provinsi yaitu: NAD. Bangka Belitung. Sulawesi Tengah.19 Konsumsi Energi dan Protein Per Kapita per Hari menurut Provinsi. Sumatera Barat. Bali.2 26. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Energi Rerata SD 1805.8 21. Lampung. DI Yogyakarta. Kalimantan Timur. Kalimantan Selatan.5 %.6 24. NTT. Secara nasional persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” adalah 59. NTB.6 1806. Jawa Timur. Sulawesi Tenggara. sebaliknya persentase RT di perdesaan dengan konsumsi “protein rendah” lebih tinggi dari RT di perkotaan. Sulawesi Tengah.3 1683.7 1682. Sulawesi Utara. Kalimantan Tengah. Jawa Tengah. Gorontalo.3 65. Jambi. DKI Jakarta. Kalimantan Tengah. Tabel 3. Sumatera Utara. Kalimantan Selatan. Kep. Sulawesi Selatan. Bangka Belitung.9 28.0 60. NTT. Persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “ protein rendah” menurut tingkat pengeluaran RT per kapita menunjukkan pola yang spesifik. Jawa Barat. yaitu semakin tinggi tingkat pengeluaran RT per kapita.21 menunjukkan bahwa persentase RT di perkotaan dengan konsumsi “energi rendah” lebih tinggi dari RT di perdesaan.3 602. Papua Barat. Bali.5%) yaitu Provinsi Bengkulu.0 741. DKI Jakarta. Maluku Utara. Jawa Tengah. DI Yogyakarta.5 gram). Sebanyak 21 provinsi dengan persentase konsumsi “energi rendah” di atas angka nasional (59.20 memperlihatkan persentase RT dengan konsumsi “energi rendah” dan “protein rendah” yang berarti di bawah angka rerata nasional (1735.1 28. Sulawesi Tenggara.1 28.0 Protein Rerata SD 69. NTB.0 58. Banten. Bengkulu.

Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

1375,7 1692,8 1672,9 1592,5 1636,7 1703,3 1623,7 2182,4 1371,5 1706,5 1644,7 1884,6 1594,9 1534,7 1532,2 1362,7 1381,3 1764,2 1504,6 1803,4 1451,4 1385,6 1828,1 1752,1 1865,6 1823,2

460,2 618,2 610,6 653,3 615,7 705,1 739,9 923,1 618,3 609,9 678,6 772,0 596,3 608,6 615,3 585,0 493,8 709,2 586,6 744,4 568,8 506,8 781,6 807,7 791,5 922,7

47,7 66,6 69,2 60,5 53,8 51,3 50,2 57,6 51,6 56,5 52,4 51,3 57,6 59,5 58,7 55,6 45,6 53,7 54,0 68,3 47,7 53,4 56,7 56,4 62,1 53,8

21,1 28,1 29,1 28,5 24,3 24,5 24,5 28,3 24,9 24,8 25,3 26,3 27,1 26,9 25,6 27,5 18,7 24,4 23,9 30,0 20,8 22,5 27,2 28,7 32,1 30,5

Indonesia

1735,5

748,1

55,5

26,4

Tabel 3.20 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional, Riskesdas 2007 Persentase RT Energi Protein
51,4 50,4 53,6 64,8 59,6 61,4 35,6 42,8 54,0 51,2 51,9 56,1

Provinsi
NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan

58

Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

81,4 82,3 59,9 58,9 63,9 63,1 61,6 67,1 37,5 76,8 59,6 62,9 48,4 66,8 69,8 69,3 78,4 80,5 56,5 71,7 53,8 77,4 80,3 53,8 57,7 52,0 57,9

74,9 72,5 39,1 35,8 50,3 61,1 65,9 66,9 55,2 64,0 57,7 63,1 65,6 55,5 51,5 53,0 59,1 75,9 60,6 61,7 38,8 72,2 62,3 57,2 58,6 49,4 60,9

Indonesia

59,0

58,5

Catatan: Berdasarkan angka rerata konsumsi energi (1735,5 kkal) dan Protein (55,5 gram) dari data Riskesdas 2007

Tabel 3.21 Persentase RT dengan Konsumsi Energi dan Protein Lebih Rendah dari Rerata Nasional menurut Tipe Daerah dan Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita , Riskesdas 2007.
Karakteristik Responden
Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran Per Kapita Kuintil – 1 Kuintil – 2 Kuintil – 3 Kuintil – 4

Persentase RT Energi Protein
61,4 57,3 64,1 60,9 59,0 57,4 56,1 60,4 66,8 62,4 59,3 55,3

59

Kuintil – 5 53,7 48,0 Catatan: Berdasarkan angka rerata konsumsi energi (1735,5 kkal) dan Protein (55,5 gram) dari data Riskesdas 2007

3.1.5 Konsumsi Garam Beriodium
Informasi mengenai konsumsi garam beriodium pada Riskesdas 2007 diperoleh dari hasil isian pada kuesioner Blok II No 7 yang diisi dari hasi tes cepat garam iodium. Tes cepat dilakukan oleh petugas pengumpul data dengan mengunakan kit tes cepat (garam ditetesi larutan tes) pada garam yang digunakan di rumah-tangga. Rumah tangga dinyatakan mempunyai “garam cukup iodium (≥30 ppm KIO3)” bila hasil tes cepat garam berwarna biru/ungu tua; mempunyai “garam tidak cukup iodium (≤30 ppm KIO3)” bila hasil tes cepat garam berwarna biru/ungu muda; dan dinyatakan mempunyai “garam tidak ada iodium” bila hasil tes cepat garam di rumah-tangga tidak berwarna. Disamping itu, secara nasional juga dikumpulkan sampel garam dari 30 kabupaten/kota yang dkonsumsi oleh rumah tangga untuk dilakukan pengecekan kadar iodiumnya dengan metode titrasi. Bersamaan dengan sampel garam rumah tangga tersebut, dikumpulkan urin dari anak usia 6-12 tahun untuk dilakukan pengecekan kadar iodium dalam urin. Pada penulisan laporan ini yang disajikan adalah hasil tes cepat, dan hasil pemeriksaan kadar iodium dalam garam melalui titrasi serta hasil pemeriksaan urin. Dari hasil tes cepat yang disajikan hanya yang mempunyai garam cukup iodium (> 30 ppm KIO3). Tabel 3.22 memperlihatkan persentase rumah tangga yang mempunyai garam cukup iodium (> 30 ppm KIO3) menurut provinsi. Secara nasional, baru sebanyak 62,3% RT Indonesia mempunyai garam cukup iodium. Pencapaian ini masih jauh dari target nasional 2010 maupun target ICCIDD/UNICEF/WHO Universal Salt Iodization (USI) atau “garam beriodium untuk semua” yaitu minimal 90% rumah-tangga menggunakan garam cukup iodium. Ada enam provinsi yang telah mencapai target garam beriodium untuk semua yaitu Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Gorontalo dan Papua Barat. Tabel 3.23 memperlihatkan persentase rumah-tangga yang mempunyai garam cukup iodium (≥30 ppm) menurut menurut karakteristik responden. Berdasarkan tempat tinggal, persentase rumah-tangga yang mempunyai garam cukup iodium di perkotaan lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.

Tabel 3.22 Persentase Rumah Tangga yang Mempunyai Garam Cukup Iodium menurut Provinsi, Riskesdas 2007
Rumah-tangga Provinsi
NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi

mempunyai garam cukup iodium (%)
47,3 89,9 90,3 82,8 94,0

60

Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tanggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

93,0 69,7 76,8 98,7 89,1 68,7 58,3 58,6 82,7 45,1 46,4 45,1 27,9 31,0 84,4 88,7 76,2 83,8 89,2 62,3 61,0 43,5 90,1 34,2 45,1 83,0 90,9 86,2

Indonesia

62,3

Ditinjau dari kuintil pengeluaran rumah tangga per kapita, semakin tinggi kuintil semakin tinggi persentase yang mempunyai garam cukup iodium. Demikian pula menurut pendidikan, semakin tinggi pendidikan kepala keluarga semakin tinggi persentase yang mempunyai garam cukup iodium. Berdasarkan pekerjaan, persentase yang mempunyai garam cukup iodium pada kepala keluarga yang mempunyai pekerjaan tetap seperti PNS/TNI/Polri/BUMN dan swasta lebih tinggi dibandingkan yang pekerjaannya tidak tetap.

Tabel 3.23 Persentase Rumah-Tangga Mempunyai Garam Cukup Iodium Menurut Karakteristik Responden, Riskesdas 2007
Rumah tangga Karakteristik responden
Pendidikan Kepala Keluarga Tidak tamat SD & Tidak sekolah

mempunyai garam cukup iodium (%)
50,9

61

Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Kepala Keluarga Tidak bekerja/Sekolah/Ibu rumah tangga PNS/TNI/Polri/BUMN Pegawai Swasta Wiraswasta/Pedagang/Pelayanan Jasa Petani/Nelayan Buruh/Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5

59,5 68,8 75,1 80,8 60,7 79,2 75,7 67,1 56,9 56,5 70,4 56,3 56,7 59,3 61,8 64,1 70,0

Dari hasil pemeriksaan kadar iodium dalam garam yang dikonsumsi rumah tangga dengan metode titrasi dapat dilihat pada tabel 3.24. Gambaran nasional yang diwakili 30 kabuapten/kota dapat dilihat bahwa kandungan iodium dalam garam yang dikonsumsi RT hanya 24,5% yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI): 30-80 ppm KIO3, atau 75,5% garam yang dikonsumsi rumah tangga kandungan iodiumnya tidak memenuhi SNI.

Tabel 3.24 Persentase Rumah Tangga yang mempunyai Garam mengandung Iodium < 30 ppm (part per million) di 30 Kabupaten/ Kota, Riskesdas 2007
KABUPATEN/KOTA Persentase RT mempunyai Garam Iodium < 30 ppm
Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga 77,6 68,3 72,5 84,2 69,3 66,7 90,7 96,0 72,7 69,9

62

Kota Semarang Bantul Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA

75,2 56,8 83,0 86,0 63,2 76,8 80,0 75,3 100,0 81,4 41,9 57,7 59,2 57,8 50,0 97,7 92,3 84,6 67,1 37,5 75,5

Dari tabel 3.35 dapat dilihat, sebanyak 12.9% anak 6-12 tahun di 30 kabupaten/kota dengan ekskresi iodium dalam urine (EIU) atau kadar iodium < 100 µg/L. Kadar iodium dalam urin merupakan petunjuk yang baik dari asupan (konsumsi) iodium terkini. Jika lebih 50% anak 6-12 tahun mempunyai kadar iodium urin < 100 µg/L maka pada populasi tersebut kemungkinan besar ada masalah kekurangan iodium. Dari 30 kabupaten/kota, tidak ada satupun dengan persentase kadar iodium urin < 100 µg/L yang mencapai 50%.

Tabel 3.25 Persentase Anak 6-12 Tahun Dengan Ekskresi Iodium Dalam Urine < 100 µg/L Di 30 Kabupaten/Kota, Riskesdas 2007
KABUPATEN/KOTA
Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul

Persentase Anak dengan EIU < 100 µg/L
12,4 6,4 10,1 4,4 7,4 11,9 12,7 8,0 10,5 5,7 9,8 23,3

63

Jeneponto.5 20.26 Nilai Median Ekskresi Iodium dalam Urin Anak Sekolah 6-12 Tahun di 30 Kabupaten/ Kota. Nilai median antara 100-199 µg/L menunjukkan asupan iodium di populasi tersebut telah dapat memenuhi kecukupan yang dianjurkan sedangkan nilai median diatas 300 µg/L masuk kategori asupan yang berlebih.26 menunjukkan bahwa nilai median kadar iodium urin anak 6-12 tahun di 30 kabupaten/kota adalah 224 µg/L atau masuk kategori ‘diatas angka kecukupan yang dianjurkan’.6 13. Riskesdas 2007 NILAI MEDIAN EIU KABUPATEN/KOTA Tapanuli Tengah Toba Samosir Karo Solok Selatan Kota Dumai Kota Metro Karawang Grobogan Semarang Kota Salatiga Kota Semarang Bantul Blitar Jember (µg/L) 225 230 221 229 237 290 229 365 244 304 288 192 208 214 64 .4 17.9 12. Bondowoso.3 8.9 3.2 20.5 16.1 8.9 Tabel 3. Klungkung. Catatan khusus untuk Grobogan.9 23.0 34.8 13.4 13. Dari 30 kabupaten/kota. nilai median kadar iodium urin anak 6-12 tahun di Kota Salatiga dan Kabupaten Grobogan diatas 300 µg/L.9 5.Blitar Jember Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA 10.1 10.2 15. ada 6 kabupaten/kota dengan nilai median kadar iodium urin antara 100-199 µg/L yaitu Bantul.7 14.3 22. Tabel 3. tanah dan sumber air minumnya mengandung tinggi iodium. Konawe Selatan dan Kota Gorontalo. Sementara itu.

Program imunisasi untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak yang dicakup dalam PPI adalah satu kali imunisasi BCG.2. Oleh karena jadwal tiap jenis imunisasi berbeda. Informasi tentang imunisasi dikumpulkan dengan tiga cara yaitu: • • • Wawancara kepada ibu balita atau anggota rumah-tangga yang mengetahui. informasi tentang cakupan imunisasi ditanyakan pada ibu yang mempunyai balita umur 0 – 59 bulan. dan imunisasi campak paling dini umur sembilan bulan. anak disebut sudah mendapat imunisasi lengkap bila sudah mendapatkan semua jenis imunisasi satu kali BCG. Dalam Riskesdas. tiga kali DPT. Imunisasi BCG diberikan pada bayi umur kurang dari tiga bulan. imunisasi DPT/HB pada bayi umur dua. tiga kali imunisasi DPT. tiga. imunisasi polio pada bayi baru lahir. disimpulkan bahwa anak tersebut sudah diimunisasi untuk jenis tersebut. empat kali imunisasi polio. dan tiga dosis berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu. Catatan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS).1 Status Imunisasi Departemen Kesehatan melaksanakan Program Pengembangan Imunisasi (PPI) pada anak dalam upaya menurunkan kejadian penyakit pada anak. tiga kali HB dan satu kali imunisasi campak.Bondowoso Nganjuk Kota Pasuruan Kota Tangerang Klungkung Sikka Katingan Balangan Tapin Kota Tarakan Donggala Jeneponto Kota Kendari Konawe Kota Gorontalo Mappi 30 KAB/KOTA 164 246 236 186 157 209 296 270 257 219 221 181 213 187 199 211 224 3. Selain untuk tiap-tiap jenis imunisasi. satu kali imunisasi campak dan tiga kali imunisasi Hepatitis B (HB). Bila salah satu dari ketiga sumber tersebut menyatakan bahwa anak sudah diimunisasi. empat bulan dengan interval minimal empat minggu. cakupan imunisasi yang dianalisis hanya pada anak usia 12 – 23 bulan. 65 .2 Kesehatan Ibu dan Anak 3. dan Catatan dalam Buku KIA. tiga kali polio.

Cakupan imunisasi yang lebih bervariasi antar provinsi terlihat pada imunisasi polio tiga kali yaitu terendah di Sulawesi Barat (47.3 83.1 73. atau ketidakakuratan pewawancara saat proses wawancara dan pencatatan.7 74.8 51. untuk imunisasi BCG yang terendah di Sulawesi Barat (73.1%). catatan dalam Buku KIA tidak lengkap/tidak terisi.3 93.1 99.8 79. ibu tidak mengetahui secara pasti jenis imunisasi.6 81. Tabel 3. dan campak menurut provinsi dan karakteristik responden.0 66 .0 88.3 77.7 93.4 48. Tabel 3.7 64.3 95.9%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (96.6 74.8%).3 77.3 96.5 96.1 74.6%).7 85.7 64.2 83.8 96.4 71. tiga kali HB.3 71.4 84.1 78.27 dapat dilihat secara keseluruhan.7 84. subyek yang ditanya tentang imunisasi bukan ibu balita.0 83.7 67.3 67. ibu lupa berapa kali sudah diimunisasi.27 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Provinsi.3 Jenis imunisasi Polio 3 DPT 3 HB 3 63.6 61.3 59.9 62. campak (81.3 71.9 79.0 69.1 Campak 69.4 78. yang merupakan gabungan dari tiap jenis imunisasi yang didapatkan oleh seorang anak.1 81.0%).9%). Tidak semua balita dapat diketahui status imunisasi (missing).9 89.0 53.27 dan Tabel 3. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat BCG 77.9 85.8 70.7 77.0 59.5 54.6 77.8 66.30 adalah cakupan imunisasi lengkap pada anak.0 77.9 65.2%) dan tertinggi di provinsi DI Yogyakarta (100.30).3 83.5 83.3 89.8 77.28 menunjukkan cakupan tiap jenis imunisasi yaitu BCG.4 76. Dari tabel 3. DPT tiga kali terendah juga di Sulawesi Barat (47.7 49.8 65.4 67.2 75.1 88.2 52.2 70.3 62. Bila dilihat masingmasing imunisasi menurut provinsi.2 88.27 s/d Tabel 3.7 78.1 88.5 71.9 64.9%) dan tertinggi juga di DI Yogyakarta (89.0 90.29 dan 3. Tabel 3. tiga kali DPT.1 68.4 70.5 95. Hal ini disebabkan karena beberapa alasan.5 54.3 58. polio tiga kali (71.0 89.3 87.3 60. tidak dapat menunjukkan KMS/ Buku KIA karena hilang atau tidak disimpan oleh ibu.2 74.0%).5 98.2 67.7 79.7 100.7 69.6 96.1 89. cakupan imunisasi menurut jenisnya yang tertinggi sampai terendah adalah untuk BCG (86.9 85.4 83.5 58.7 94.7 85. catatan dalam KMS tidak lengkap/tidak terisi.0 64. yaitu ibu lupa anaknya sudah diimunisasi atau belum.7 64.8 95. tiga kali polio.5 66. DPT tiga kali (67.8%).7%) dan terendah hepatitis B (62.Cakupan imunisasi pada anak umur 12 – 23 bulan dapat dilihat pada empat tabel (Tabel 3.9 59.6 76.8 62.

Pada tahun 2006 PIN diulang kembali dua kali/ dosis polio saja yang dilakukan pada bulan September dan Oktober 2006.2 73. semakin tinggi cakupan tiap jenis imunisasi. tingkat pengeluaran per kapita dengan cakupan tiap jenis imunisasi. Indonesia melakukan PIN dengan memberikan satu dosis polio pada bulan September 1995. Perbedaan cakupan imunisasi 67 .9 68. Setelah adanya kejadian luar biasa (KLB) acute flacid paralysis (AFP) pada tahun 2005.1 64. Tabel 3.6 Untuk mempercepat eliminasi penyakit polio di seluruh dunia.5 72.8 58.8 81. PIN tahun 2005 dilakukan kembali dengan memberikan tiga kali/ dosis polio saja pada bulan September.9 57.3 67.6 89.28 menunjukkan cakupan tiap jenis imunisasi menurut karakteristik anak.7 62. Cakupan untuk tiap jenis imunisasi selalu lebih tinggi antara 7. tetapi terdapat perbedaan menurut daerah.8 93.9 47.5 77.8 79.9 66.8 67.3 75.1 94.6 51.4 65.2 – 13.4 89.7 56.5%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (99. Perbedaan cakupan imunisasi anak menurut pendidikan antara kepala keluarga yang tidak sekolah dan kepala keluarga dengan pendidikan perguruan tinggi antara 17.8 79.0 67.3 67.7% di daerah perkotaan dibandingkan di daerah perdesaan.5 60.5 80. dan November.Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 82.1 90. dan tahun 2006 mencakup 100% target DPT/HB.9 72. Pada tahun 2002. Walaupun demikian.3 72.1 78. dan 1997.2%).3 64.8 68. WHO membuat rekomendasi untuk melakukan Pekan Imunisasi Nasional (PIN).4 65.5 84.7 Indonesia 86. Tetapi sejak tahun 2004 hepatitis B disatukan dengan pemberian DPT menjadi DPT/HB yang didistribusikan untuk 20% target.8 62. Cakupan imunisasi hepatitis B. Untuk imunisasi campak variasi cakupan juga terjadi menurut provinsi. Oktober. PIN dilaksanakan kembali dengan menambahkan imunisasi campak di beberapa daerah. Walaupun vaksin DPT/HB sudah didistribusikan untuk seluruh target.3 83.4%. frekuensi imunisasi polio bisa lebih dari seharusnya.1 85. Bila cakupan imunisasi campak digunakan sebagai indikator imunisasi lengkap.9 71.3 47.6 66.5 85.4 87.2%). secara keseluruhan Indonesia sudah mencapai Universal Child Immunization (UCI).1 83. Tidak terdapat perbedaan cakupan tiap jenis imunisasi menurut jenis kelamin.3 68.8 75.28 juga menunjukkan adanya hubungan positif antara tingkat pendidikan. tahun 2005 untuk 50% target.1 – 25.1 88.4 51.3 81.27) Tabel 3.2 63.7 90. 1996.4%) dan tertinggi di Bali (85. Dengan adanya PIN tersebut. bila dilihat menurut provinsi masih terdapat 12 provinsi yang belum mencapai UCI (Tabel 3.0 46. Tetapi WHO menyatakan bahwa polio sebanyak tiga kali cukup memadai untuk imunisasi dasar polio. terendah di Banten (62.6 42.1 77.0 68. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga atau makin tinggi tingkat pengeluaran per kapita per bulan.8 59.1 73.5 85.2 81.4 93.7 73. orangtua dan daerah. terendah di Sulawesi Barat (42.8 85.7 56. Imunisasi hepatitis B awalnya diberikan terpisah dari DPT.9 84.2 64.6 71. yaitu jenis imunisasi yang diprogramkan terakhir.4 50. tetapi pelaksanaan di daerah dapat berbeda tergantung dari stok vaksin DPT dan HB yang masih terpisah di tiap daerah.9 55.

Selain perbedaan yang lebar untuk cakupan imunisasi lengkap antar provinsi.3 75.5 62. Terdapat variasi yang lebar antar provinsi.0 90. Tabel 3. Persentase tertinggi anak yang tidak mendapat imunisasi sama sekali adalah di Maluku (21.7 76.1 63.4 67.0 59.5 66.1 81.6 79.1 68.3 68.3%) dan masih terdapat 11.2 76.5 75.0 58.7 Campak 82.2 82.7 86.1 67.5 78.9 57.0 95.5%) dan terendah di DI Yogyakarta (0.9 77.29.5 62.5 83.6 74.7 91.7 91.9 69.1 65.3 62.8 64.3 86.2%. hampir sama dengan yang tidak lengkap yaitu sebesar 45.5% anak 12-23 bulan yang tidak mendapatkan imunisasi sama sekali.4 92. walaupun masih terdapat 35. cakupan tertinggi bila pekerjaan kepala keluarga sebagai pegawai negri/TNI/POLRI dan cakupan terendah pada kepala keluarga dengan pekerjaan petani/nelayan/buruh.0%) yaitu tidak ada anak umur 12-23 bulan yang belum diimunisasi.9 83.1% anak 12-23 bulan di perdesaan yang belum diimunisasi sama sekali. Tabel 3.7 – 12.3%.6 71.1 71. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 BCG 87.3 71.6 74.2%.4 71.7 66.1 80.1 78.anak tingkat pengeluaran per kapita terendah (kuintil 1) dan tertinggi (kuintil 5) antara 8.8 75.9 62.6 79.2 86.9 69. Cakupan imunisasi lengkap yaitu semua jenis imunisasi yang sudah didapatkan anak umur 12-23 bulan dapat dilihat pada Tabel 3.8 85. Cakupan imunisasi menurut jenis pekerjaan terlihat bahwa untuk tiap jenis imunisasi.5 71.6 93.8 88.0 81.9 58. keluarga dan daerah.28 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Karakteristik Responden. Cakupan imunisasi lengkap di perkotaan lebih tinggi (54.5 53.2 83.3 88.5 92.4 83.4 83.1 78.1 54.6 68.3 50.1 79.0 78.0 85.5 68 .7 67.4% yang imunisasinya tidak lengkap.3 84.9%).9 81.7 57.0 70.7 Jenis imunisasi Polio 3 DPT 3 HB 3 71.2 61.0%) dibanding di perdesaan (41.0 66.9 63.4 95.7 59.3%) dan tertinggi di Bali (73.8 72.7 82.7 63.30 menunjukkan cakupan imunisasi lengkap menurut karakteristik anak.2 62. cakupan imunisasi lengkap terendah di Sulawesi Barat (17.3 66.0 87.6 78. masih terdapat 8.9 64.1 78.0 57. Terlihat bahwa secara keseluruhan cakupan imunisasi lengkap sebesar 46.8 71.

3 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Lengkap 35.1 34.2 52. menunjukkan kecenderungan yang sama.4 64.7 42. semakin sedikit anak yang tidak di imunisasi sama sekali.1 84.1 13.3 0.7 44. cakupan imunisasi lengkap terdapat pada kepala keluarga sebagai pegawai negri/TNI/POLRI (57. Riskesdas 2007 Imunisasi dasar Tidak lengkap 52.Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 87.9 Tidak sama sekali 13.9 15. demikian juga makin tinggi pengeluaran per kapita. Menurut pekerjaan kepala keluarga.9 52.6 69. makin tinggi cakupan imunisasi lengkap.6 46.7 41.3 64.8 Terdapat hubungan positif antara tingkat pendidikan kepala keluarga atau tingkat pengeluaran per kapita dengan cakupan imunisasi lengkap.0 7.0 45.7 60. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga makin tinggi cakupan imunisasi lengkap.3 86.0 74.9%) dan terendah pada kelompok petani/nelayan/buruh (41.2 89.6 2.7 30.4%.1 31.5 5.2 65.0 53.6 73.4 46.29 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Provinsi.5 41.4 48.6 24.4 35.6% dan kuintil tertinggi 53.7 9. Tingkat cakupan imunisasi lengkap dengan kepala keluarga berpendidikan terendah 35.8 1.1% dan pendidikan tertinggi sebesar 60.5 70.8 53.4 35.4 44.9 38.9 47.4 45.8 57.3 34.2 8.1%).5%.0 41.0 4.9 47.0 47. di daerah perdesaan. Tabel 3.5 11.6 91.8 69 . Persentase anak yang tidak mendapat imunisasi sama sekali terbanyak pada kelompok anak yang orangtuanya tidak sekolah.4 6. Tingkat cakupan imunisasi lengkap pada kuintil terendah 41.0 51.1 48.0 38.9 72. dari kalangan petani/nelayan/buruh.3 49.6 77. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua.3 45.5 1.3 11.9 83. Demikian juga menurut tingkat pengeluaran per kapita.6 43.3 9.0 43.7 63.6 59.9 5.5 2.7 46. dan pada kuintil terendah.8 73.1 71.1 13.0 15.3 1.

2 41.2 32.2 45.5 11.1 46.8 44.7 36.3 32.7 8.9 44.6 54.6 45.6 43. Hepatitis B minimal 3 kali.4 41.4 47.0 11.0 2.3 35.9 36.0 58. DPT minimal 3 kali.9 7.30 Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Dasar menurut Karakteristik Responden.7 54.1 15.7 9.6 17.7 2.0 60.2 4.0 7.3 5.7 41.3 21.6 7.3 57.8 55.1 70 .1 41.7 47.3 45.5 47.3 9.4 47.2 17.2 44.6 44.3 49.5 6. Tabel 3.3 17.1 11.4 44.2 45.0 46.0 46.7 44.4 44.1 46.9 14.1 6.2 48.1 4.1 50.9 7.0 51.7 32.3 8.9 37.6 7.6 39.4 38.3 5.5 Imunisasi lengkap: BCG.1 7.7 49.2 14.4 55.2 49. Riskesdas 2007 Imunisasi dasar Tidak lengkap Karakteristik responden Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Lengkap Tidak sama sekali 46.3 41. menurut pengakuan atau catatan KMS/KIA.9 4.1 39.6 48.3 7.0 41.5 65.3 40. Campak.4 35.5 11.1 39.9 49.3 47.9 6.0 43.2 8.4 45.5 8.8 42.6 Indonesia Catatan: 46.1 47.Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 57. Polio minimal 3 kali.0 62.7 54.

9 16.0 5.3 22.6 35.7 15.4 36.9 23. Campak.4 23.7 26.6 57.4 21.5 35.8 37.1 14.2 69.9 31.3 29.4 20.5 39. Tabel 3.9 8.4 24.5 57.5 26.6 16.9 34. ditimbang 1-3 kali yang berarti “penimbangan tidak teratur”.5 Catatan: Imunisasi lengkap: BCG.31 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Provinsi.0 45.9 29.5 42.9 34.1 39.0 20. Riskesdas 2007 Frekuensi penimbangan > 4 kali 1-3 kali Tidak pernah NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara 47. DPT minimal 3 kali. Dalam Riskesdas 2007.7 30.2.4 46.6 32. menurut pengakuan atau catatan KMS/KIA.1 35.0 13.2 Pemantauan Pertumbuhan Balita Pemantauan pertumbuhan balita sangat penting dilakukan untuk mengetahui adanya hambatan pertumbuhan (growth faltering) secara dini.9 40.0 28.1 15.4 38. 3.9 35.6 14.5 21.2 30.4 22. dan 4-6 kali yang diartikan sebagai “penimbangan teratur”.0 34.8 37.9 10.0 60. Polio minimal 3 kali.6 30. penimbangan balita setiap bulan sangat diperlukan.6 31. Data pemantauan pertumbuhan balita ditanyakan kepada ibu balita atau anggota rumahtangga yang mengetahui.8 29.0 17.2 57. Penimbangan balita dapat dilakukan di berbagai tempat seperti posyandu.1 26.6 33.7 58.6 56.5 Provinsi 71 . Untuk mengetahui pertumbuhan tersebut.0 5.7 32.5 41.9 36. puskesmas atau sarana pelayanan kesehatan yang lain.0 33. polindes.8 39. ditanyakan frekuensi penimbangan dalam 6 bulan terakhir yang dikelompokkan menjadi “tidak pernah ditimbang dalam 6 bulan terakhir”.Kuintil 5 53.5 28. Hepatitis B minimal 3 kali.1 46.4 30.8 38.3 27.5 62.0 78.3 28.6 38.

Cakupan penimbangan rutin bervariasi menurut provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (21. Riskesdas 2007 Frekuensi penimbangan (kali) Tidak 1-3 kali > 4 kali pernah Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI 8.6 46.3 26.1 67.7 28.0 21.1 48.9 36. 29.5 44.3 34.1 25.4 29.0 45.3 29.8 29.5 Pada Tabel 3.8 45.Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 31.7 28.4 28.5%. ditimbang 1-3 kali dan yang tidak pernah ditimbang berturut-turut 45.6 54.8 45.5 39.1 52.8 32.2 18. rumah tangga dan daerah dapat dilihat pada tabel 3. dan 25.7 36.2 27.32 Persentase Balita menurut Frekuensi Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Karakteristik Responden.2 26.0 29.1 Indonesia 45.5 26.2 33.7 33.1 39.7 22.7 42.9 28.5 37.8 39.3 8.2 Karakteristik responden 72 .7 48. Tabel 3.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (78.9 34.8 47.7 17.6 34.5%).8 56.7 23.8 25.5 26.2 44.7 33. Cakupan penimbangan balita menurut karakteristik anak.7 23.1 31.7 16.3 44.4 26.9 25.7 24.6 45.9 29.2 38.7 29.0 45.4 52.3 25.9 48.1 21.5 27.5 19.2 33.0 37.1 42.32.8 39.7 31.0 27.31 terlihat bahwa secara keseluruhan dalam enam bulan terakhir balita yang ditimbang secara rutin (4 kali atau lebih).4 29.3 29.3 28.1%.4%.9 28.1 18.9 17.8 36.9 32.6 22.

1 29.0 45.5 3.8 2.1 2.9 44.2 2.2 2.9 61.0 5.1 2.1 4.5 12.4 2.5 2.1 6.1 46.5%) dibanding di daerah perdesaan (44.33 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Provinsi.7 25.2 2.8 3.1 7.9 75.2 30.2 6.4 4.9 73 .7% untuk tingkat pendidikan dan 1.0 12.3 3.7 10.3 5. Pada tabel 3.5 4.8 3.3 15.9 8.0 13.1 3.3 47.6 Tempat penimbangan anak Puskesmas Polindes Posyandu 11.5 4.6% untuk tingkat pengeluaran per kapita.0 67.3 27. Cakupan penimbangan rutin (>4 kali dalam 6 bulan) tidak banyak berbeda menurut tingkat pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita.Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 23.5 4.2 4.1 23.6 31.3%.2 1.9 14.4 5.2 74.6 14. Sebaliknya semakin tinggi umur anak semakin tinggi pula persentase anak yang tidak pernah ditimbang.9 85. Perbedaan hanya 6.1 2.3 6.1 1.0 12.7 2.8 3.3 89.3 60.0 84.8 3.8 28.7 9.9 66.5 7.6 83.5 11.6 22.2 1.8 23.1 1. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah RS 2.6 28.9 1.0 26.33 terlihat bahwa posyandu secara keseluruhan merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi untuk penimbangan balita yaitu sebesar 78.8 91. tetapi sedikit berbeda menurut tipe daerah dengan cakupan penimbangan empat kali atau lebih dalam enam bulan terakhir sedikit lebih tinggi di daerah perkotaan (47. makin rendah cakupan penimbangan rutin (≥ 4 kali).0 65.4 5.1 9.1 6.3 15.2 6.9 24.1 76.3 30. Cakupan penimbangan balita tidak berbeda antar jenis kelamin.7 6. Tabel 3.9 3.7 46.5 4.9 27.6 85.3 2.3 31.5 45.0 2.1 Terlihat ada kecenderungan makin tinggi umur anak.0 5.3 65.8 1.4 34.2 87.0 86.9 11.1%).4 6.1 45.3 44.7 3.7 1.6 6.2 2.9 67.4 5.4 5.8 6.2 5.9 14.0 5.3 1.1 77.4 2.7 72.5 44.9 Lainnya 5.4 7.2 2.6 2.1 12.5 28.4 1.1 11.

3 1.9 2.0 6.4 13.0 1. Papua (22.5 6.3%).0 Posyandu sebagai sarana penimbangan balita paling banyak terdapat di Maluku Utara (95.6 4.2 6.0 2.5 10. Tabel 3.1 2.1 73.7 3.9 81.9 10.1 4.7 3.3 74 .4 2.9 18.9 62.2 79.0 3.2 81.5 81.0 16.5 1.7 4.6 83.1 1.2 22.4 16.5 77.1 1.5 9.5 Indonesia 3.1 3.7 2.4 8.5 79.2 17.6 74.9 3.6 95.9 8.0 2.5%).2 2.8 7.7 5. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja RS 3.8 6.0 9.0 1.6 2.0 3.5 2.1 3.5 8.1 2. Tabel 3.3 7.3 10.3 3.2 2.7 4. dan Sulawesi Selatan (18.1 78.3 7.8 5.6 3.2 83.3 3.3 8.3 7.6 2.0 4.1 1.0 7.0 4.2 12.9 2.4 72.1 59.2 8.3 8.1 9.6 2.0 6.1 1.1 1.2%) dan terendah di Kepulauan Riau (47.3 7.7 2.34 menunjukkan tempat penimbangan balita menurut karakteristik anak.6 78.4 2.0 0.6 3.6 78.2 4.0 2.3 Lainnya 6.8 0.8 0.9 7.1 84.6%).2 5.1 1.8 78.3 83.7 8. Tempat penimbangan selain posyandu yang cukup tinggi antara lain Puskesmas seperti yang terdapat di Kalimantan Tengah (24. Pada tabel tersebut terlihat bahwa untuk setiap jenis tempat penimbangan balita tidak ada pola kecenderungan baik menurut umur maupun jenis kelamin. dan tipe daerah.8 2.5 8.8 0.1 86.3 3.6 82.8 7.7 4.1 71.2 3.8 78.6 78.34 Persentase Balita menurut Tempat Penimbangan Enam Bulan Terakhir dan Karakteristik Responden.2 68.Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 2.3 2. rumah tangga.2 3.3 8.0 2.6 92.4 9.8 78.9%).9 7.4 3.9 1.8 3.7 Tempat penimbangan anak Puskesmas Polindes Posyandu 8.3 0.9 10.8 8.6 2.8 11.4 3.7 80.6 2.6 4.8 5.4 2.0 7.6 1.

Kepemilikan KMS dan dapat menunjukkan bervarisasi menurut provinsi.1 2.4 21.5 80.1 5.3 74.0 44. Persentase penimbangan di posyandu pada balita dengan kepala keluarga yang bekerja sebagai petani/nelayan/buruh atau ibu rumah tangga lebih tinggi dari pada kepala keluarga dengan jenis pekerjaan yang lain.0 22.3 2.8 32.3% balita yang mempunyai KMS dan dapat menunjukkan.7 55.8 2.7 70.9 1.6 28.3 2.1 10.8 Kepemilikan KMS* 2 41.3 43.8 18.4 52.2 29.8 39. di mana secara keseluruhan hanya 23.1 39.6 19.35 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Provinsi.7 9. Ada hubungan negatif antara tingkat pendidikan kepala keluarga atau tingkat pengeluaran per kapita dengan persentase penimbangan balita di posyandu.9 83.0 2.9 37.2 41.9 75 .6 5.9 45.8 5.8 27.8 5.4 48.2%).8 24.9 49.8 26.1 8.6 9.0 8.2 22.2 32. terendah di Sulawesi Barat (10.2 80.6 41.4 25.4 22.6 37.Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 4.0 22.8 34.9 8.1 2.5 13.6 3.8 68. Tabel 3.1 51.6 31.4 Menurut tipe daerah persentase penimbangan balita di RS dan Puskesmas lebih banyak di perkotaan dari pada di perdesaan.5 7.0 8. Sisanya sebesar 35.2 3 39.1 9.2 26.6 12.9 3.6 49.7 8. Namun sebaliknya persentase penimbangan di polindes dan posyandu lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan.9 22.3 3.0% tidak mempunyai KMS.8 35.7 3.2 38.1 8.4 4.3 32.9 12.8 38.0 2.9 2.2 2.9 45.6 43.4 25.9 22.7 83.3 29. sedangkan 41. Tabel 3.4 76.8 2.0 43.2 27.5 78.1 37.7% mengatakan punya KMS tetapi tidak dapat menunjukkan.3 77.6 26. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah 1 18.3 7.5 38.7 27.5 49.6 2.5 18.5 28.8 18.4 31.4 3.3 6.35 menunjukkan kepemilikan KMS menurut provinsi.6 23.6 9.9%) dan tertinggi di DKI Jakarta (39.9 44.9 16.1 18.0 55.7 3.

dan hanya 12.5 38.9 28.3 48.9 17.36 Persentase Balita Menurut Kepemilikan KMS dan Karakteristik Responden. Tabel 3.9 48.2 34.1 47.6 27.2 32.4 23.0 27. Menurut tipe daerah.6 45.6 41.0 42.6 16.3 41.4 Kepemilikan KMS* 2 19.0 * Catatan : 1 = Memiliki KMS dan dapat menunjukkan 2 = Memiliki KMS.2 28.6 30.4 41.5 47.4 24.8 25.0 30.3 14.5 34.7 42.3 31.3 38.6 48.4 39.4 25.7 – 42.Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 25.3 23.9 12. Tidak ada perbedaan kepemilikan KMS menurut jenis kelamin.6 41.8 49.7 35.7 20.5 Indonesia 23.1 20.2 20.7 27.4 28.3 25.6 22.8 35.9 35.1 35.8 49.8 44.6 22.3 36.7 26.0%).9 43.6 3 40.0 34.7 33.7 46.8 32.3 24.0 22. Menurut kelompok umur persentase kepemilikan KMS lebih tinggi pada anak umur di bawah 12 bulan (36.5 40. di perkotaan persentase kepemilikan KMS (28.0 18.6 43.7%) lebih tinggi dibandingkan daerah perdesaan (20.0 45.8 23.4% pada anak 48-59 bulan. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak memiliki KMS Tabel 3.0 35.9 33.4 34.3 27.9 76 .4 36.3 43.5 22. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Umur (bulan) 0– 5 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI 1 36.9 33.2 22.1 43.4 23.6%).1 38.8 38.2 31.4 23.9 39.3 10.8 49.2 31.1 38.0 45.9 54.9 23.36 menunjukkan karakteristik responden.7 45.9 38.2 20.4 32.6 46.

1 14.2 33.1 44.3 4.8 41.2 27.9 61. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak punya KMS Sedangkan menurut karakteristik rumah tangga terlihat bahwa ada kecenderungan hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga dengan kepemilikan KMS.4 40.7 37.6 7.3 31.5 * Catatan : 1 = Punya KMS dan dapat menunjukkan 2 = Punya KMS. Pada Tabel 3.5 8.5 60.9 Lainnya 24.5 30.6 18.9 72.8 39. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Kepemilikan buku KIA* 1 2 3 11.2 29.1 33.7 22. Perbedaan kepemilikan KMS menurut tingkat pendidikan sebesar 10.0 9.3 37.7 11.3 13.3 Kuintil 3 23.5 34.5 68.5 14.4 43.3 Kuintil 5 25.2 7.1 55.3 67.1% dan tingkat pengeluaran per kapita sebesar 4.1 82.1 5.37 menunjukkan bahwa kepemilikan Buku KIA lebih rendah dari kepemilikan KMS yaitu sebesar 13. Tabel 3.2 40.8 5.6 22.6 25.2 18.6 76.1 43.7 35. Tidak ada perbedaan kepemilikan KMS menurut pekerjaan kepala keluarga.4 Petani/nelayan/buruh 20.5 57.0 43.6 Kuintil 4 25.8 3.4 29.5 40.3 28.3 24.6 81.9 34.6 62.7 43.37 Persentase Kepemilikan Buku KIA pada Balita Menurut Provinsi.1 63.7 42.3 17.6 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 21.6 50.1 45.1 51.0 85.9 26.6 4.5 22.1 32.1 25.9 34.5 25.2 12.0 39.0 36.3 13.8 88.0%.8 9.5 31.9 16.3 39.2 74.0 Kuintil 2 22.Wiraswasta 25.5 2.4 21.8 46.8 22.2 26.3 41.0 27.2 17.0 40.8 25.5 77 .2 15.1%.

0 66.0 64.7 62.2 57.9 23.2 13.3 62.1 12.2 61.8 63.2 22.1 26.9 13.0 24. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak memiliki Buku KIA Kepemilikan buku KIA tersebut bervariasi antar provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (2.3 82.8 13.9 25.6 62.4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (42.1 23.9 24.9 8.1 20.0 78.3 14.6 78 .6 * Catatan : 1 = Memiliki Buku KIA dan dapat menunjukkan 2 = Memiliki Buku KIA.8 22.0 32.6 25.4 56.9 62.5 Indonesia 13.8 23.7 60.8 17.4 65.4 24.8 22.3 61.2 11.7 16.7 12.6 57.1 5.8 73.3 62.6 11.5 13.38 Sebaran Balita Menurut Kepemilikan Buku KIA dan Karakteristik Responden.7 7.9 19.7 7.9 14.38 kepemilikan Buku KIA dirinci menurut karakteristik anak.4 61.9 13.2 57.4 73.5 21.3 13.2 4.1 63.9 26.6 27.3 12.8 9.4 17.7 64.7 12. Pada Tabel 3.1 25.4 8.2 74.4 12.4 12.8 23.8 12.1 12.1 26.4 67.9 18.8 24.1 63.2 62.Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 9.1 16.7 20.0 37.8 59.7%).5 23.3 61.8 36. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Umur (bulan) 0– 5 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya 1 23.7 62. Tabel 3.7 60.1 Kepemilikan buku KIA* 2 3 14.7 24.1 5.7 34.5 26. rumah tangga dan tipe daerah.0 29.

000 IU) diberikan untuk bayi umur 6 – 11 bulan dan kapsul biru (dosis 200.3 26.9 79. Tabel 3.000 IU) untuk anak umur 12 – 59 bulan.8 82.6 79.8 72.3 Kuintil 2 13.3 81.5 62.5 23.0 67.2. tetapi tidak ada perbedaan menurut jenis kelamin.1 61.3 84. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Menerima kapsul vitamin A 74.9 51.2 23.2 82.5 69.6 Kuintil 3 13.7 79.7 73. dan tingkat pengeluaran per kapita.9 62.9 58. tidak dapat menunjukkan/ disimpan oleh orang lain 3 = Tidak punya Buku KIA Cakupan Buku KIA yang tertinggi pada kelompok umur di bawah 12 bulan (23.5 81.2 63. 3.0 73.5 24.1 78.1 74.39 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A menurut Provinsi.4 65.5 66.1 Kuintil 5 14.0 Kuintil 4 13.4 79 .2 65. pendidikan.3 Distribusi Kapsul Vitamin A Kapsul vitamin A diberikan setahun dua kali pada bulan Februari dan Agustus.8 25. sejak anak berusia enam bulan.7 67.9 73.4-23. pekerjaan kepala keluarga.9%).2 73.8 * Catatan : 1 = Punya Buku KIA dan dapat menunjukkan 2 = Punya Buku KIA. Tidak ada perbedaan kepemilikan Buku KIA menurut tipe daerah. Kapsul merah (dosis 100.1 62.Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 11.

Tabel 3.4 77.3 80 .6 72.5 Secara keseluruhan cakupan distribusi kapsul vitamin A untuk anak umur 6 .6 59.9 70.4 77.2 67.7%).8 71.3 71.7 64.9 Indonesia 71.4 71.3 73.2 70.5 74.8 76.59 bulan sebesar 71.3 65.2 69.40 Persentase Anak Umur 6-59 Bulan yang Menerima Kapsul Vitamin A menurut Karakteristik Responden.2 66.2 61.0%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (84.8 71.5 69.2 74.5 70.5% seperti terlihat dalam tabel 3.4 69.Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 69.6 57.7 74.0 75. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Umur (bulan) 6 – 11 12 – 23 24 – 35 36 – 47 48 – 59 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Menerima kapsul vitamin A 66.4 69.9 77.8 76.39 Cakupan tersebut bervariasi antar provinsi dengan cakupan terendah di Sumatera Utara (51.

7 81 .4 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak Dalam Riskesdas 2007.3%).9 78.5 74.1 19.2.7 73.3 21.6 12.6 59.1 35. ukuran bayi lahir.7 11.8 72.1 24.8 14. dikumpulkan data tentang pemeriksaan kehamilan.1 13.8 55. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu Kecil Normal Besar 18.1 19. 3.1 Tabel 3.1 69.8 75.7 12.0 10.3 29.3 18.3 7.7 70. pemeriksaan neonatus pada ibu yang mempunyai bayi.5 47.40 menunjukkan perbedaan cakupan distribusi kapsul vitamin A menurut karakteristik anak.4 73.3 9. penimbangan bayi lahir.41 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan Provinsi. jenis pemeriksaan kehamilan. makin tinggi cakupan pemberian kapsul vitamin A.3 52.8 16. nampak cakupan tertinggi pada kelompok umur 12-23 bulan (77.7%).7 7.Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 70.2 18.0 19.1 17.0 15.5 76. Cakupan pemberian kapsul vitamin A menurut kelompok umur cukup bervariasi.0 73.1 16.6 68.5 14.1 10.0 13.3 18. Data tersebut dikumpulkan dengan mewawancarai ibu yang mempunyai bayi umur 0 – 11 bulan.4 75.7 36.2 57.2 13. Sedangkan menurut jenis kelamin anak tidak nampak adanya perbedaan.8 68.1 61. Bila dilihat menurut pendidikan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita.6 14.5 6. dan dikonfirmasi dengan catatan Buku KIA/KMS/catatan kelahiran.0 71.2 19.5 61.5 10.5 13.4 12.9 14. Tabel 3. Makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga atau makin tinggi tingkat pengeluaran per kapita.4%) dibandingkan dengan di perdesaan (69.9 21.8 15. Cakupan lebih tinggi terdapat di perkotaan (74.7 11.1 14.2 23.6 72.2 57.8 16. terlihat adanya hubungan positif dengan cakupan kapsul vitamin A.5 71.2 73.9 76.5 10.2 9. rumah tangga dan tipe daerah.2 17.1 27.

42.6 65.4 20.3 10.4 20.9 Indonesia 13.9 28.2 17.8 83.9 15.4 64.4%) dan tertinggi di Nusa Tenggara Timur (21.6 66. Pada tabel tersebut terlihat bahwa lebih banyak persentase ibu yang mempunyai bayi perempuan menyatakan.5 17.6 66. Sedangkan menurut tipe daerah.1 14.42 Persentase Ibu menurut Persepsi tentang Ukuran Bayi Lahir dan Karakteristik.7 17.7 7.7 66.5 18.5%) dibandingkan persentase ibu yang mempunyai bayi laki-laki berukuran (12.1 20.5 21. Riskesdas 2007 Karakteristik Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu Kecil Normal Besar 12.4 20.4 65.5 20. Tabel 3.9 15.4 6.5 11.8 16.0 Tabel 3.8 9. 66.1 67.5 67.3 10.5 13.41 memperlihatkan persepsi ibu tentang ukuran bayi saat dilahirkan.8%).7 82.8 11.4 66.0 65.5% mempunyai persepsi ukuran bayi normal dan 20.0 23.7 20.2 19. Ukuran bayi lahir menurut persepsi ibu dapat dilihat pada Tabel 3.2 13.9 71.9 21.1 14.Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 11.4% ibu yang mempunyai persepsi bahwa bayi yang dilahirkan berukuran kecil.4 5.2 11. lebih banyak ibu di perdesaan (14.0 82 . terendah di Maluku (5.6 67.5%) yang mempunyai persepsi bayi yang dilahirkan berukuran kecil dibanding di perkotaan (11.2 69.6 66.0 22. walaupun berat badan bayi lahir tidak diketahui.0% mempunyai persepsi ukuran bayinya besar.1 19.4 69.4 66. Persentase ukuran bayi kecil bervariasi antar provinsi.5 20.0%).4 62.1 14.4 14.1 64.8 18.4 67.2 18.9 13. bahwa ukuran bayinya kecil (14.3 20. Secara keseluruhan terdapat 13.8 14.5 14.6 12.9 24.0 65.7 57.0 19.0 71.3 19.2 15.4%).7 67.2 11.3 12.0 68.

1 8.7 6.6 16.9 84.2 17.4 3.4 10.5 11.1 11.4 7.7 61.43 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir menurut Provinsi.0 84.43.2 3.0 10.1 75.2 19.5 8.5 8.2 12. Namun bila persepsi ibu tentang ukuran bayinya dikaitkan dengan tingkat pendidikan kepala keluarga.5 85.7 83.2 11.0 83.7 9.7 9.9 12.6 83.3 83.1 78.3 77.7 2.3 5.5 67.1 77.5 6.2 Persentase persepsi ibu tentang ukuran bayinya dikaitkan dengan pekerjaan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita tidak tampak adanya pola kecenderungan.5 83 .Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 13.7 5.8 20.3 65.6 8.9 10.0 67.9 5.5 4.9 15.5 8.9 5.8 14.8 3.0 7. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Berat badan bayi lahir (gram) < 2500 2500-3999 >= 4000 11.0 20. semakin kecil persentase ibu yang menyatakan ukuran bayi yang dilahirkan kecil.3 7.1 19.0 4.2 7.9 84.1 8.1 85.9 10.3 84.6 14.8 9.9 68.8 88. Berat badan lahir dari hasil penimbangan dapat dilihat pada Tabel 3.6 11.0 3.5 8.0 14.8 82.6 78.3 16.5 20.0 80.8 82.7 69.2 25.5 8.3 5.4 80.7 88.5 5.2 21.6 82.9 86.8 2.3 13. nampak ada kecenderungan hubungan negatif persepsi yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga.8 7.5 74.7 0.7 14.6 80.4 80.5 7. Tabel 3.6 21. Hanya sebagian bayi yang mempunyai catatan berat badan lahir.6 7.9 13.5 75.5 19.8 12.4 11.5 64.

Tidak tampak adanya pola kecenderungan hubungan antara persentase BBLR dengan pendidikan kepala keluarga dan tingkat pengeluaran per kapita. Sedangkan 5 provinsi dengan persentase BBLR terendah adalah Bali (5. Sumatera Selatan (19.2 5.8 2.0 83.9%).5%).8 17.2 7.6 9.2 80.3 79.6 13.0%).8%).1 8.1 5.1 85.7 10.6 85.7%).7 83.9 78.2 71.5 82.6%). Tabel 3.4 67.3 6.6 4.4 8. proporsi bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 11. proporsi BBLR tertinggi pada kelompok keluarga yang kepala keluarga tidak bekerja (17.5 80.2 5.0 7.8 12.8 9.41).1 10.3 23.8 7.1 74.2 13.0%).6%).0 11.8%).3 84 .7 81. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Berat badan bayi lahir (gram) < 2500 2500-3999 >= 4000 10. Jambi (7.2%) dibanding di perkotaan (10.0 11.0 10.2 6. Lima provinsi mempunyai persentase BBLR tertinggi adalah Provinsi Papua (27.6 6.2 80.8 27. Proporsi ini sebanding dengan persentase ibu yang mempunyai persepsi bahwa ukuran bayi pada saat lahir kecil yaitu sebesar 13.1 9.Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 7.3 5. Papua Barat (23.8 86.3 Secara keseluruhan.2 6. dan Kalimantan Barat (16.7 81.44 terlihat bahwa persentase BBLR lebih tinggi pada bayi perempuan (13. NTT (20.7 13. Menurut karakteristik rumah tangga.8 12.1 80.5 84. Sulawesi Barat (7.3 75.7 11.8 5.2 80.0 13.3%).6 14. Riau (7.1%) dan terendah bila kepala keluarga bekerja sebagai pegawai negri/TNI/POLRI (8. Pada Tabel 3.9 6.8 8.5 6.4 5.4 81.5%.2%).5 87.3 5.5 5.2 Indonesia 11.4 8.4% (Tabel 3.0 12. dan sedikit lebih tinggi di perdesaan (12.5%).8%).0 83.2 15.7 82.0%) dibanding laki-laki (10. dan Sulawesi Utara (7.0 7.44 Persentase Berat Badan Bayi Baru Lahir 12 Bulan Terakhir menurut Karakteristik Responden.

Diidentifikasi ada 8 jenis pemeriksaan kehamilan yaitu : a.6 85 .2 83.5 83.3 10. e.8 92.4 69. d. b.45 yang memperlihatkan secara keseluruhan 84.5% ibu memeriksakan kehamilan.6 90. Riwayat pemeriksaan kehamilan pada ibu yang mempunyai bayi terdapat pada Tabel 3.6 97. pemeriksan tinggi fundus (perut).3 87.7 75.1%).8 89.1 95.9 90.8 92.4 87.Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 11.4 79. f. Pemeriksaan hemoglobin.9 11. dan h. pengukuran tinggi badan.2 91. ibu ditanya tentang jenis pemeriksaan kehamilan apa saja yang pernah diterima.0%) dan tertinggi di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta (97.5 84.1 94. pemberian imunisasi TT. pemberian tablet Fe.6 5. pemeriksaan urin.3 90. penimbangan berat badan.1 74.5 81. Tabel 3.9 85.9 71.1 90. Cakupan pemeriksaan kehamilan terendah di Provinsi Papua (67.1 83.2 81.9 95. pemeriksaan tekanan darah. g. c.9 Untuk mendapatkan informasi tentang riwayat pemeriksaan kehamilan ibu untuk bayi yang lahir dalam 12 bulan terakhir.6 5.4 93.1 95.6 6.45 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Provinsi.3 71.5 80. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Periksa hamil 72.2 97.

1%) dan 86 .1 75.2 94.5 77.9 95.3 Terdapat kecenderungan hubungan positif antara cakupan pemeriksaan ibu hamil dengan tingkat pendidikan kepala keluarga dan pengeluaran per kapita.Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 84.4 79.9 90.9%) dan terendah pada kelompok keluarga petani/nelayan/ buruh (78. Tabel 3.9 92.4 86.1 78. Tabel 3. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Periksa hamil 94. semakin tinggi pula cakupan pemeriksaan kehamilan.5 81.0 Indonesia 84.9 87.0 67. tampak bahwa cakupan pemeriksaan kehamilan lebih tinggi di perkotaan (94.5 85. Secara keseluruhan pemeriksaan yang paling sering dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan tekanan darah (97. Semakin tinggi pendidikan kepala keluarga atau semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita.6 79.46).1%). Cakupan periksa kehamilan tertinggi terdapat pada kelompok keluarga dengan perkerjaan kepala keluarga sebagai pegawai negri (92.4 86.5 Menurut karakteristik rumah tangga dan tipe daerah (Tabel 3.2%).2 89.47 menunjukkan delapan jenis pemeriksaan (seperti yang diuraikan sebelumnya) yang dilakukan pada ibu hamil.46 Cakupan Pemeriksaan Kehamilan Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Karakteristik Responden.3 89.2 82.7 83.1%) dibanding di perdesaan (78.1 78.6 90.

3 99.2 91.8 33.3 96.7 95.1 96.2 98.6 34.1 91.5 10 0.8%).3 64.7 38.0 41.3 42.6 24.3 95.1 85. Variasi tiap jenis pemeriksaan menurut provinsi dapat dilihat lebih lanjut di Tabel 3.8 94.5 24.3 97.5 94.7 57.0 75.7 28.2 92.5 94.6 92.7 92.0 85.5 93.0 38.8 56.4 95.6 23.5 63.2 88.7 17.9 89.8 36.1 88.2 93.8 91.9 10 0.2 98.4 68.5 94.0 83.2 95.4 91.4 Jenis pelayanan kesehatan: a = pengukuran tinggi badan e = pemberian imunisasi TT 87 .1 30.4 48.2 98.3 95.2 95.8 96.4 47.7 84. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua a b c Jenis pelayanan* d e f 89.6 52.4 79.5 32.0 26.3 97.8 49.3 88.8 96.5 89.8 89.7 95.5 89.4 93.3 95.2 97.3 98.9 96.0 37.4 25.4 91.9 97.2 Indonesia 58.5 62.9 96.5 84.5 85.2 98.7 97.9 87.5 93.7 66.5 86.8 38.7 88.5 96.9 79.6 56.5 79.9 67.6 97.7 38.8 95.7 25.8 73. Sedangkan jenis pemeriksaan kehamilan yang jarang dilakukan pada ibu hamil adalah pemeriksaan hemoglobin (33.9 57.2 91.1 91.3 94.4 95.3 96.5 97.8 43.6 41.6 25.6 97.8 26.2 42.2 95.0 97.1 85.1 19.8 96.9 88.1 33.3 14.1 91.5 97.0 98.2 95.5 97.8 92.2 39.5 92.1 95.7 66.5 97.3 94.5 86.0 96.3 81.0 77.9 39.7 83.5 85.3 87.1 88.8 95.2 47.9 86.5 86.5 90.0 36.5 94.9 55.6 83.3 94.7 66.0 45.7 47.1 77.4 76.0 95.3 29.0 38.8 65.1 87.9 47.7 98.3 91.7 51.3 95.7 89.4 56.1 57.7 86.9 95.0 35.2 86.4 94.2 19.3 92.1 97.5 30.8 96.5 92.3 95.7 37.4 88.1 52.3 96.2 81.9 44.6 34.4%).2 86.3 56.8 62.0 91.2 91.1 65.3 98.0 83.2 27.1 42.9 90.4 22.penimbangan berat badan ibu (94.7 87.0 98.5 32.9 98.2 80. Tabel 3.1 h 40.9 93.8 98.3 82.2 89.3 45.9 71.8 69.6 52.6 75.2 90.5 42.0 46.9 41.1 90.3 75.2 34.47 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan Kehamilan dan Provinsi.1 96.7 10 0.6 g 38.5 42.47.8%) dan pemeriksaan urine (36.5 90.9 95.1 97.4 97.8 97.7 97.8 98.5 95.2 45.3 91.0 26.8 87.3 35.9 98.6 59.9 97.0 54.2 94.9 82.1 92.9 95.4 97.1 85.7 13.2 96.7 61.9 97.6 93.1 48.5 84.1 27.5 15.4 95.2 86.8 99.1 85.5 95.7 98.3 94.2 22.4 95.4 94.5 78.

7 35.1 55.1 97.8% yang hanya menerima 1-2 jenis pemeriksaan selama kehamilan.0 29. 35.6 33.3 94.8 55. Secara keseluruhan 61.6 87.8 94.4 96.3 59.2 94.1 92.0 96.3 85.0 68.0 93.8 95.0 32.4 86.9 94.4 99.2 88.9 96.6 63.1 98.5 92.1 93.0 94.8 94.1 87.48 Persentase Ibu yang Mempunyai Bayi menurut Jenis Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden.2 28. 88 .6 85.0 35.4 85.9 56.1 25.9 89.1 89.2 97.1 32.8% ibu yang menerima 6-8 jenis pemeriksaan selama kehamilan.4 90.8 62.6 38.1 40.9 92.9 86.4 90.5 89.8 56.3% ibu menerima 3 – 5 jenis pemeriksaan kehamilan.5 93.1 38.8 87.4 92.3 97.9 97. Tabel 3.6 58.49).2 98.4 58.8 83.6 97.1 88.7 88.0 97.7 93.7 92.3 91.0 96.2 88.9 60.0 87.6 g H 89.9 88.0 59.9 e = pemberian imunisasi TT f = penimbangan berat badan g = pemeriksaan hemoglobin h = pemeriksaan urine Semakin banyak jenis pemeriksaan kehamilan yang diterima ibu hamil semakin lengkap pemeriksaan kehamilan yang diterima (Tabel 3.6 95. Namun sebaliknya tidak terdapat pola kecenderungan cakupan untuk tiap jenis pemeriksaan kehamilan dengan pekerjaan kepala keluarga.4 96.2 45.8 49.6 43.9 95.1 96.8 90.2 30.6 87.4 37.5 86. Demikian juga ada kecenderungan hubungan positif antara tingkat pengeluaran rumah tangga dengan pengukuran tinggi badan.3 87.5 61.8 46.2 86.6 c Jenis pelayanan* d e f 93.4 38.7 41.0 40.7 57. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Jenis pelayanan kesehatan: a = pengukuran tinggi badan b = pemeriksaan tekanan darah c = pemeriksan tinggi fundus (perut) d = pemberian tablet Fe a 63.5 91.8 27.3 97.0 98.0 94.8 25.3 84.5 63.1 39.0 85.7 84.1 37. Terdapat kecenderungan hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga dan tiap jenis pemeriksaan kehamilan terutama pada pemeriksaan hemoglobin dan urine.3 85.8 28.2 97.4 57.8 91.9 91.4 91.0 92.3 29.7 91.b = pemeriksaan tekanan darah c = pemeriksan tinggi fundus (perut) d = pemberian tablet Fe f = penimbangan berat badan g = pemeriksaan hemoglobin h = pemeriksaan urine Jenis pemeriksaan menurut tipe daerah dan rumah tangga dapat dilihat pada Tabel 3.1 31.1 41.6 87.8 56.4 97.5 93.9 87.7 96.5 36.0 90.2 32.5 95.6 54.2 89.1 b 98.6 37.7 48.7 39.0 85. pemeriksaan hemoglobin dan urine.9 48.8 32.6 91.2 43.8 36.5 30.4 88.4 87.5 92.0 98.0 97. dan hanya 2.7 92.7 97.48 Secara umum terlihat dalam tabel tersebut bahwa cakupan tiap jenis pemeriksaan kehamilan lebih tinggi di perkotaan dibanding di perdesaan.6 85.9 90.

1 41.3 21.5 2.3 3.9 31.2 39.8 50.0 58.0 55.4 48.5 3.2 39. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pemeriksaan kehamilan 1-2 jenis 3-5 jenis 6-8 jenis 3.5 62.6 24.5 37.1 2.6 2.8 2.5 60.0 59.1 67.6 3.8 61.8 35.2 7.0 68.8 69.3 1.7 60.8 39.0 0.9 26.7 63.2 0.6 66.9 0.0 21.3 79.9 33.6 75.8 38.4 28.9 62.1%).7 2.3 58.6 20.0%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (83.7 16.3 61.1 48.9 58.3 0.0 2.0 1.2 1.7 24.4 20.3 4.8 29.6 56.0 3.3 75.0 45.0 1.0 76.9 5.3 20.7 68.0 37.6 68.8 4.49 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Provinsi.1 39.1 28.9 37.0 5.5 83.2 3.5 78.1 71.8 0.8 jenis) persentase terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Tenggara (41.4 2.0 2.3 61.2 48.8 77.4 31.3 28.2 76.4 2.6 34.8 1.5 38.6 35.0 60.8 46.1 56.5 4.0 2.8 89 .8 Indonesia 2. Tabel 3.2 2.2 28.8 33.Ibu yang mendapat pemeriksaan kehamilan relatif lengkap (6 .

1 33.0 Pemeriksaan neonatus dalam Riskesdas ditanyakan pada ibu yang mempunyai bayi. Tabel 3.51 terlihat bahwa secara keseluruhan 57.4 1.6 0.7 34.8%).5 40. Kelengkapan pemeriksaan kehamilan berhubungan secara positif tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.8 35.4 55.9 67.9%).3 4.7 64.5 30.8 2.Tabel 3.8 35.8 3.8 38.7%).0 25.6 3.1 67.2 58.2%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (81.4 2.6 64.2 69.3 61.2 69.7 1.6 62.1 2.5 28.5% neonatus umur 8-28 hari mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan.6% neonatus umur 0-7 hari dan 33.6 67. Untuk neonatus umur 8-28 hari cakupan pemeriksaan kesehatan terendah di Kalimantan Barat (19.9 3. Pemeriksaan neonatus umur 0-7 hari terendah di Papua (27.50 menunjukkan kelengkapan pemeriksaan kehamilan menurut karakteristik daerah dan rumah tangga.1 35.3 60.9 31.3 34.4 55.6 43.8 28.4%) dibanding dengan di perdesaan (55.1 2. Persentase pemeriksaan kehamilan yang lebih lengkap lebih banyak di perkotaan (69.3 3.50 Persentase Ibu Mempunyai Bayi yang Memeriksakan Kehamilan menurut Banyak Jenis Pemeriksaan yang Diterima dan Karakteristik Responden.5 61.5 63.6 1.6 57.2 4.7 54. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Skor jenis pemeriksaan kehamilan 1-2 jenis 3-5 jenis 6-8 jenis 1.2 29. 90 .7 3. Dalam Tabel 3.2 58. yaitu semakin tinggi tingkat pengeluaran RT per kapita semakin besar persentase ibu yang mendapatkan pemeriksaan kehamilan lebih lengkap.8 40.4 73.7 39.8%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (66.0 2.8 38.5 2.7 31.9 3.

8 39.5 58.6 31.0 62.1 19.5 Tabel 3. 91 .7 47.9 39.8 Indonesia 57.3 45.1 64.5 66.2 27.4 69.52 memberi gambaran tentang pemeriksaan neonatus menurut karakteristik bayi.5 23.3 64.2 62.1 25.0 26.2 59.2 22.7 65.0 53.4 30. tipe daerah dan rumah tangga.0 42.0 25.2 28.0 32.9 33.4 54.9 34.8 35.8 21.5 35.2 66.6 68.9 41.5 63.9 70.4 45.5 35.9 54.6 81.1 39.8 27.1 28.7 49.2 50.1 29.4 28.7 50.6 30.1 58.0 41.7 26. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pemeriksaan neonatus Umur 0-7 hari Umur 8-28 hari 56.7 49.2 66.6 37.8 63.7 44.1 58.8 42.3 29.3 44.9 43. Terlihat bahwa persentase cakupan baik pemeriksaan neonatus umur 0-7 hari dan 8-28 hari tidak berbeda menurut jenis kelamin bayi.Tabel 3.2 36.51 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Provinsi.9 55.6 33.

Tempat persalinan dikelompokkan menjadi 7 yaitu: RS Pemerintah.5 52. dan penolong persalinan.4 65.8 65. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Pemeriksaan neonatus Umur 0-7 hari Umur 8-28 hari 65.53 menunjukkan pada umumnya di lima provinsi sebagian besar ibu (di atas 60%) melahirkan bayinya di rumah.4 36.0 59.0 60. dan lainnya.53 sampai dengan Tabel 3. rumah.0 31.7 32.8 24.7 51.1%) dan terkecil di Papua (65.9 Selain penjelasan tersebut di atas. Papua Barat.0 69.5 42. Riskesdas mengumpulkan data tentang tempat melahirkan.8 55.2 59. RB/RBIA/Klinik. jumlah pemeriksaan kehamilan. Maluku Utara.5 37. Tabel 3.9 64. Maluku. RS Swasta.3 33.5 30.58 memberikan gambaran tentang informasi tersebut.Menurut tipe daerah di perkotaan lebih tinggi dibanding di perdesaan. 92 .4 50.52 Cakupan Pemeriksaan Neonatus menurut Karakteristik Responden.2 28.7 29.3 46.2 33.3 57. Tabel 3.7 40.2 46.7 52. dan Papua. Tabel 3.4%). Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala rumah tangga maupun pengeluaran per kapita.5 62. Persentase terbesar ibu yang melahirkan di rumah adalah di Maluku (85.1 60.9 37.0 58. yaitu Nusa Tenggara Timur. semakin tinggi persentase cakupan pemeriksaan kesehatan pada neonatus.1 41. khusus pada lima provinsi. Terdapat hubungan positif antara pemeriksaan neonatus dengan tingkat pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita.9 27.5 63.2 28. Polindes/Poskesdes. Puskesmas/Pustu.2 37.8 41.6 33.0 37.8 63.3 54.

Maluku.6 0. dukun bersalin.7 Papua Barat 14.0 f 77.50.5% telah melakukan pemeriksaan lebih dari dua kali seperti yang dianjurkan.0 Nusa Tenggara Timur 6. RB/RBIA/Klinik dibanding di perdesaan.9 2. Terlihat dalam tabel tersebut adanya variasi persentase antar provinsi untuk masing-masing jenis penolong. RS swasta c. dan Maluku Utara penolong persalinan yang dominan adalah dukun bersalin dibanding 93 .8 1. Penolong persalinan dikelompokkan menjadi 6 (enam) yaitu: dokter.5 3.5% . bidan.9 2.9 4. Riskesdas 2007 Provinsi a b 2.1 82.9 Maluku 7.56 menunjukkan penolong persalinan pertama dan terakhir pada ibu yang mempunyai balita. ibu lebih banyak melahirkan di RS Pemerintah.34. Ternyata baru 30. famili/keluarga.55 menunjukkan jumlah pemeriksaan selama kehamilian trimester-1. trimester2. sedangkan pada trimester-2 berkisar antara 15. Puskesmas/Pustu. Menurut tipe daerah.1 85.0 Keterangan: a: RS Pemerintah b.5 7. ibu lebih banyak melahirkan di rumah dan di Polindes/Poskesdes.1 0. Pada Tabel 3.5 1. Persentase ibu yang melahirkan di RS Pemerrintah paling banyak kelompok RT dengan kepala keluarga yang bekerja sebagai pegawai negri/TNI/POLRI.4% .0 1. sedangkan menurut anjuran selama trimester-1 dan trimester-2 minimal periksa kehamilian satu kali.Tabel 3. Sedangkan di perdesaan. Tabel 3.2 65.5 0. dan lainnya. minimal i kali pada trimester II dan minimal 2 kali pada trimester III.2 3.7%. Terlihat adanya variasi pemeriksaan kehamilan antar provinsi.1 5. Selama kehamilan jumlah minimal pemeriksaan kehamilan sebanyak empat kali yaitu minimal 1 kali pada trimestes I.2 Tempat melahirkan c d e 6.7% ibu yang periksa hamil empat kali atau lebih. Selama trimester-1 ibu yang tidak pernah melakukan pemeriksaan di lima provinsi berkisar antara 25.54 terlihat bahwa terdapat perbedaan yang besar tempat melahirkan di lima provinsi tersebut menurut tipe daerah.2 3. trimester-3. Terdapat hubungan positif antara pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita dengan RS Pemerintah sebagai tempat ibu melahirkan.5 Papua 18.37.8 2. Di Nusa Tenggara Timur.9 4.0 Maluku Utara 7.8%.0 0. polindes/ Poskesdes Pada Tabel 3. Sebaliknya tampak ada hubungan negatif antara tempat ibu yang melahirkan di rumah dengan pendidikan KK maupun tingkat pengeluaran per kapita.2 1. Terlihat kecenderungan hubungan positif antara jumlah pemeriksaan kehamilan yang memadai di tiap trimester dengan tingkat pendidikan kepala keluarga maupun pengeluaran per kapita.4 g 0. RS Swasta.53 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan Provinsi. Puskesmas/Pustu d.5 71. Di perkotaan.7 0.2% . Pada trimester-3 sebanyak 24.9% -50. cakupan pemeriksaan kehamilan yang memadai untuk masingmasing trimester dan ketiga trimester menunjukkan lebih banyak ibu periksa kehamilan di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan. tenaga kesehatan lain. dan trimester seluruhnya.0 4. Hal ini menunjukkan penolong persalinan pertama umumnya sama dengan penolong terakhir.4 e: RB/ RBIA/ Klinik f: Rumah g: Lainnya 3. nampak tidak banyak perbedaan. Namun bila dibandingkan antara persentase penolong persalinan pertama dan penolong persalinan terakhir untuk masing-masing jenis penolong.6 0.

9 4.0 Tidak tamat SD 3.2 86.1 6.7 7.6 2.5 2.1 1.3 1.5 2.5 3.6 2.0 0.8 0.9 91.3 Tamat SMP 9.2 85.4 2.2 85. Bila penolong persalinan dikaitkan dengan tingkat pengeluaran per kapita nampak adanya pola yang jelas.5 4.7 1.0 1.6 5. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden a b 8.4 56.1 5.2 4.7 Perdesaan 4. Persentase penolong persalinan oleh bidan dan dukun baik sebagai penolong pertama maupun terakhir lebih besar bila dibanding dengan tenaga penolong jenis lain.8 11.2 4.1 5.9 6.1 8.2 Pendidikan KK Tidak sekolah 2.8 84.6 2.5 4.6 35. Di Papua Barat yang dominan adalah bidan.0 2.6 3.9 68. yaitu semakin meningkat pengeluaran per kapita semakin banyak persalinan yang ditolong oleh dokter dan bidan.7 f 43.3 4.2 1.7 Kuintil-4 12.2 6.4 0.0 2.5 1.0 4.3 4.3 7. RS swasta c.7% dan 45.0 8.9%).6 7.7 2.6 Wiraswasta 21.9 1.6 2.8 60.0 2.7 Tamat SD 4.4 6. Namun kurang nampak adanya pola kecenderungan menurut tingkat pendidikan KK.0 0.54 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Tempat Melahirkan dan Karakteristik Responden.1 77.1 6.3 76.4 1. Puskesmas/Pustu d: Polindes/ Poskesdes Tempat melahirkan c d e 6.1 8.5 0.3 Ibu rumah tangga 18.7 3.6 2.4 2.4 1.1 Kuintil-3 8.0 1. Sedangkan di perdesaan yang dominan baik untuk penolong persalinan pertama maupun terakhir adalah dukun bersalin (masing-masing 43.2 2.5 83.9 0.3% dan 61. Sebaliknya semakin meningkat pengeluaran per kapita semakin sedikit persalinan yang ditolong oleh dukun dan famili/keluarga.3 0. Untuk penolong persalinan oleh famili/keluarga.8 0.1 71.0 Lainnya 16.2 1.7 e: RB/ RBIA/ Klinik f: Rumah g: Lainnya 94 .7%.6 7.3 PNS/POLRI/TNI 30.7 Keterangan: a: RS Pemerintah b.7 2.57 di lima provinsi terlihat bahwa penolong persalinan baik untuk penolong persalingn pertama maupun terakhir yang dominan di perkotaan adalah bidan (masingmasing 60.2 2.5 1.5 2.4 1.0 1. nampak ada pola kecenderungan yaitu semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga semakin sedikit persalinan yang ditolong famili/keluarga.3 9.6 g 1.3 55.8 0.3 kapita Kuintil-2 5.2 1.8 Tipe daerah Perkotaan 29.9 Tingkat pengeluaran per Kuintil-1 5.5 2.7 3. sedangkan di Papua yang dominan dua penolong persalinan yaitu bidan dan famili/keluarga.3 . Tabel 3.4 4.3 3. Pada tabel 3.5 5.1 6.6 0.7 4.4 2.1 1.2 6.6 0.4 6.dengan provinsi Papua Barat da Papua.8 1.2 1.1 Pekerjaan KK Tidak bekerja 12.8 0.0 7.2 Tamat PT 35.3 Kuintil-5 20.1 59.4 2.4 1.2 Tamat SMA 19.7 42.5 4.9 84.9 Petani/ buruh/ nelayan 3.2 70.

3 29.4 16.8 30.6 29.2 53.7 26.9 15.9 34.6 49.8 42.2 28.5 34.3 37.8 34.8 30.6 20.3 71.0 21.0 31.9 25.5 15.7 20.5 38.2 63.6 18.0 38.6 52.8 28.5 8.8 36.5 36.7 13.3 53.3 18.2 32.1 46.8 44.4 32.7 33.0 18.6 39.9 26.6 26.8 28.3 12.1 50.8 24.7 63.2 36.5 55.8 29.2 20.7 14.9 41.7 51.2 25.9 33.6 24.5 21.0 33.5 23.7 45.9 34.5 13.0 4.6 43.3 22.9 15.9 17.7 35.3 40.9 20.6 26.3 28.3 25. Riskesdas 2007 Provinsi/Karakteristik Responden Provinsi Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Pendidikan KK Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan KK Tidak bekerja Ibu rumah tangga PNS/POLRI/TNI Wiraswasta Petani/ buruh/ nelayan Lainnya Tingkat pengeluaran per Kuintil-1 kapita Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 25.2 18.4 26.4 17.1 38.2 21.3 33.0 26.7 20.6 20.5 39.1 22.2 22.3 12.2 15.1 32.9 40.9 30.0 50.2 12.5 27.1 65.4 28.1 23.6 28.7 42.3 40.5 41.3 17.1 40.2 21.6 46.9 22.6 16.2 29.2 56.0 29.3 42.8 32.1 32.7 15.9 33.4 49.5 49.5 30.9 29.6 50.7 22.1 15.6 24.1 42.1 25.5 32.9 23.55 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Frekuensi Pemeriksaan Kehamilan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi.6 21.5 46.4 7.7 41.9 15.3 21.1 45.2 41.3 25.2 25.1 23.8 48.9 23.3 36.9 28.9 20.0 18.6 25.2 19.7 26.4 18.3 33.3 23.3 23.5 61.8 38.1 66.0 16.3 26.8 39.9 6.5 11.4 21.5 21.3 50.1 37.9 25.2 23.8 55.5 42.6 39.0 22.4 19.6 20.1 49.9 26.7 33.1 15.6 24.0 33.3 28.4 8.7 24.4 36.1 23.3 17.9 64.8 36.3 29.2 17.3 36.1 3.5 9.4 34.8 19.6 26.5 21.6 26.9 39.7 38.4 73.2 19.6 59.8 35.8 38.2 43.6 42.0 34.0 33.2 11.0 54.7 14.2 51.5 40.1 56.1 20.0 72.8 24.2 48.5 38.8 20.8 31.3 36.1 38.7 21.9 10.0 22.3 43.3 37.9 16.Tabel 3.8 39.9 25.8 28.0 15.9 22.8 51.8 32.8 17.5 22.0 35.2 29.1 21.7 19.3 20.3 61.0 34.8 9.0 15.7 18.4 58.1 37.2 32.1 29.6 11.7 37.9 16.1 Trimester-1 Tidak 1 kali >1 kali Trimester-2 Tidak 1 kali >1 kali Tidak Trimester-3 1 kali 2 kali >2 kali Trimester 123 Tidak 1-3 kali >4 kali 95 .1 28.5 29.5 6.2 17.8 21.8 21.7 47.7 41.7 55.0 24.5 10.6 43.4 22.2 21.6 20.4 25.1 26.2 13.0 16.3 43.4 32.0 62.7 47.1 34.0 35.7 39.2 50.0 22.7 29.0 29.4 28.3 34.5 15.8 33.6 19.6 23.4 37.8 23.7 36.7 8.9 31.4 20.4 5.2 30.1 13.3 29.5 23.8 49.2 32.7 61.0 31.6 30.5 44.3 23.1 37.8 30.9 30.

7 11. Riskesdas 2007 Provinsi Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Keterangan: a 4.6 0.0 f 0.7 1.5 0.8 7.1 19.5 0.4 3.1 12.3 1.1 2.4 14.1 a: Dokter d: Dukun bersalin b: Bidan e: Famili/keluarga c: Tenaga kesehatan lain f: Lainnya 96 .2 36.3 50.4 3.9 55.2 9.2 56.4 51.5 a 3.0 34.5 39.2 Penolong persalinan terakhir b c d e 38.3 0.7 1.9 0.7 3.9 5.0 46.1 35.8 31.2 0.3 Penolong persalinan pertama b c d e 36.6 10.9 32.5 1.6 3.6 1.3 35.6 22.6 2.8 43.2 40.2 0.9 4.Tabel 3.56 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan dan Provinsi.7 1.4 12.2 f 0.6 6.6 3.1 20.7 47.7 21.0 56.7 2.8 1.9 1.4 4.

2 1.3 17.9 60.9 2.8 1.1 4.9 29.6 1.9 5.0 0.9 43.9 Kuintil-2 2.6 10.9 35.7 2.2 14.2 0.5 0.6 1.8 30.8 46.1 2.4 44.7 0.2 41.6 1.2 24.9 1.2 13.8 9.2 5.9 40.Tabel 3.3 31.9 1.1 20.0 1.1 7.6 1.0 Pekerjaan KK Tidak bekerja 4.0 63.2 4.8 1.5 38.2 65.3 0.2 18.7 1.8 49.7 15.4 2.6 13.7 18.9 16.1 31.3 17.3 27.4 11.0 23.3 2.2 39.3 0.7 Pendidikan KK Tidak sekolah 1.9 Penolong persalinan terakhir b c d e 61.0 4.6 2.2 38.4 35.5 18.5 Petani/ buruh/nelayan 2.9 51.3 1.0 52.5 46.4 Tipe daerah Perkotaan 14.3 34.7 0.1 34.4 4.6 1.4 16.6 8.3 65.1 1.9 30.9 6.57 Persentase Ibu Mempunyai Bayi menurut Penolong Persalinan dan Karakteristik Responden di Lima Provinsi.8 3.7 44.9 Kuintil-4 6.8 Tidak tamat SD 2.9 3.7 45.2 1.6 1.6 37.2 2.9 Wiraswasta 9.9 51.7 7.3 Perdesaan 2.5 1.2 1.1 Lainnya 6.6 19.1 23.9 1.3 51.5 15.2 0.8 17.9 38.6 27.4 Tamat SMP 4.0 37.3 Ibu rumah tangga 5.4 Kuintil-5 10.4 1.1 48.7 1.2 28.1 8.7 50.8 53.9 7.3 10.1 2.2 1.5 42.5 3.6 15.0 15.8 1.6 1.9 10.4 2.5 3.1 47.5 0.0 1.2 1.3 57.5 1.9 42.8 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil-1 2.5 Tamat SMA 10.9 8.0 1.5 63.0 16.4 1.0 1.9 f 0.0 2.6 5.2 Tamat PT 20.3 1.0 15.6 1.7 4.7 Keterangan: a : Dokter d: Dukun bersalin b: Bidan e: Famili/keluarga c: Tenaga kesehatan lain f: Lainnya 97 .6 f 0.7 12.7 2.2 PNS/POLRI/TNI 16.3 48.6 2.6 2.3 1.6 2.9 21.6 22.1 25.6 1.8 43.6 18.2 0.7 1.5 0.1 1.7 2.4 18.8 13.3 1.7 43.0 16.8 2.2 37.9 32.9 1.7 32.9 1. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden a Penolong persalinan pertama b c d e 60.0 6.1 35.9 Kuintil-3 4.7 1.9 36.1 41.6 1.2 10.8 45.0 55.4 19.8 18.6 4.6 62.7 0.4 2.2 a 13.3 0.1 11.4 1.2 13.0 Tamat SD 2.6 1.2 6.0 30.7 37.6 1.8 37.6 28.9 21.3 12.5 12.4 1.9 17.9 29.1 2.0 9.5 1.

kadang-kadang disertai bintik-bintik merah di bawah kulit dan atau mimisan. sedangkan prevalensi penyakit kronis dan musiman ditanyakan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir (lihat kuesioner RKD07. ditanyakan lagi apakah pernah/sedang menderita gejala klinis spesifik penyakit tersebut (G). Demikian pula diare. sakit kepala atau tanpa gejala malaria tetapi sudah minum obat antimalaria. mual dan muntah. 3. Khusus malaria. Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis malaria oleh tenaga kesehatan” dalam satu bulan terakhir ditanyakan apakah pernah menderita panas tinggi disertai menggigil (perasaan dingin). Demam Berdarah Dengue dan Malaria Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit kronis yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis. Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit infeksi tular vektor yang sering menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Penyakit ini dapat bersifat akut. selain prevalensi penyakit juga dinilai proporsi kasus malaria yang mendapat pengobatan dengan obat antimalaria program dalam 24 jam menderita sakit (O). dan diare. Data yang diperoleh hanya merupakan prevalensi penyakit secara klinis dengan teknik wawancara dan menggunakan kuesioner baku (RKD07. Umumnya penyakit ini diketahui setelah timbul gejala klinis kronis dan kecacatan.3. Prevalensi penyakit akut dan penyakit yang sering dijumpai ditanyakan dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis DBD oleh tenaga kesehatan” dalam 12 bulan terakhir ditanyakan apakah pernah menderita demam/panas. Penyakit menular yang ditularkan oleh vektor adalah filariasis. laten atau kronis. penyakit yang ditularkan melalui udara atau percikan air liur. pembengkakan payudara dan pembengkakan tungkai bawah atau atas. berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi. sakit kepala/pusing disertai nyeri di ulu hati/perut kiri atas. Kepada responden ditanyakan apakah pernah didiagnosis menderita penyakit tertentu oleh tenaga kesehatan (D: diagnosis). dan tidak sedikit menyebabkan kematian. Penyakit ini bersifat musiman yaitu biasanya pada musim hujan yang memungkinkan vektor penular (Aedes aegypti dan Aedes albopictus) hidup di genangan air bersih. Untuk responden yang menyatakan 98 . berkeringat. dan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air.3. Penyakit ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena sering menimbulkan KLB. hepatitis. pembengkakan alat kelamin. panas naik turun secara berkala. Jadi prevalensi penyakit merupakan data yang didapat dari D maupun G (DG).1 Prevalensi Filariasis.IND).3 Penyakit Menular Penyakit menular yang diteliti pada Riskesdas 2007 terbatas pada beberapa penyakit yang ditularkan oleh vektor. sedangkan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air adalah penyakit tifoid. lemas. serta dapat mengakibatkan kematian. pneumonia dan campak. dinilai proporsi kasus diare yang mendapat pengobatan oralit (O). demam berdarah dengue (DBD). dan dapat menyebabkan kecacatan dan stigma. Kepada responden yang menyatakan “tidak pernah didiagnosis filariasis oleh tenaga kesehatan” dalam 12 bulan terakhir ditanyakan gejala-gejala sebagai berikut: adanya radang pada kelenjar di pangkal paha.IND: Blok X no B01-22). Penyakit yang ditularkan melalui udara atau percikan air liur adalah penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). dan malaria. kaki/tangan dingin. tanpa konfirmasi pemeriksaan laboratorium. Malaria merupakan penyakit menular yang menjadi perhatian global.

Jambi. Sulawesi Tenggara. Nusa Tenggara Timur (2. Papua Barat. Papua Barat (2. Responden yang terdiagnosis sebagai malaria klinis dan mendapat pengobatan dengan obat malaria program dalam 24 jam menderita sakit hanya 47.5%.58.4‰). DI Yogyakarta. Sulawesi Tenggara (1. Provinsi di Jawa-Bali merupakan daerah dengan prevalensi malaria klinis terendah yaitu ≤0.6% (rentang: 0.6‰). Riau dan Sulawesi Barat.9%).3‰ . Di Provinsi DKI Jakarta. Nusa Tenggara Barat. Bengkulu. Sumatera Selatan. Papua (0. Bangka Belitung. Di 11 provinsi.4‰).5%). Sebanyak 15 provinsi mempunyai prevalensi malaria klinis di atas angka nasional. Meskipun demikian yang perlu menjadi perhatian adalah sebagian besar kasus malaria klinis di Jawa-Bali terdeteksi bukan berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. Kalimantan Timur. Papua.2‰).8%). Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat serta NAD (1.1%). Kepulauan Riau (1.9‰). Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Barat. Kalimantan Selatan.0%). yaitu Nusa Tenggara Timur (2.5‰).1 ‰ (rentang : 0. Ada delapan provinsi yang mempunyai prevalensi (DG) filariasis melebihi angka prevalensi nasional. walaupun kasus malaria klinis tinggi.4‰). Kalimantan Barat. Riau dan Maluku Utara (0.6. Dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. DKI Jakarta dan Sulawesi Tengah (1.7%. Pada 12 provinsi didapatkan prevalensi DBD klinis lebih tinggi dari angka nasional. menunjukkan bahwa dalam 12 bulan terakhir filariasis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi klinis sebesar 1.26.5%).2.1%). yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (6. Sedangkan di beberapa provinsi sebagian besar hanya berdasarkan gejala klinis yaitu Bengkulu. dan Papua). dan Sulawesi Barat (0. prevalensi malaria klinis nasional adalah 2. Ada 8 provinsi dengan proporsi pengobatan dengan obat malaria program cukup tinggi (>50%) yaitu Papua.5‰). dan Jawa Timur kasus DBD klinis lebih banyak didapatkan berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan. Tiga provinsi dengan prevalensi malaria klinis tinggi adalah Papua Barat (26. sebagian besar berada di Indonesia Timur. Sulawesi Tengah.“pernah didiagnosis malaria oleh tenaga kesehatan” ditanyakan apakah mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam pertama menderita panas. Kep Riau. Bengkulu dan DKI Jakarta (1. Hal ini disebabkan gejala klinis DBD menyerupai penyakit infeksi virus lainnya. Sebaliknya beberapa provinsi dengan prevalensi malaria klinis rendah (<10%) menunjukkan proporsi pengobatan dengan obat malaria program cukup tinggi (>50%) yaitu Kalimantan Timur. Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Kalimantan Timur.9% (rentang: 0. dan Bengkulu. Papua Barat. hanya kurang dari 50% kasus malaria mendapat pengobatan dengan obat program dalam 24 jam menderita sakit.0%). kasus DBD klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi (DG) 0. 99 . Demikian pula proporsi pengobatan dengan obat program sangat rendah (<35%) terdapat di provinsi di Jawa.7%). Di NTT. Bangka Belitung. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Jawa Tengah.2% . Papua (18.1%). Kepulauan Riau.0%). Kep Riau. Tabel 3.4%) dan NTT (12. Bengkulu. Bangka Belitung. sehingga dapat menghambat program eliminasi malaria. Papua (2.3‰ .2%). Papua Barat (4. Penyakit malaria tersebar di seluruh Indonesia dengan angka prevalensi yang beragam. Banten. dan Gorontalo (1. kasus malaria lebih banyak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan (NAD. Data ini bermanfaat untuk menilai kesiapan daerah dan mengevaluasi pelaksanaan eliminasi malaria di Jawa-Bali.

10 41.03 0.57 43.09 0.86 2.41 0.09 0.42 0.55 42.23 26.31 1.07 0.09 0.06 7.09 0.14 0.50 0.30 0.16 0.08 0.54 0.04 0.15 0.33 0.24 0.01 0.03 0.51 0.07 0.02 0.41 0.08 48.57 46.66 2.27 0.22 0.26 0.01 0.10 2.42 0.27 59.11 0.00 0.78 0.44 24.01 0.46 23.07 0.10 0.81 0.82 1.10 0.77 26.73 1.60 0.75 12.04 0.64 0.30 0.96 0.11 0.04 0.08 0.12 0.16 2.25 0.03 0.08 0.06 0.34 44.04 0.15 0.45 0.02 0.05 0.88 0.09 DG 3.45 0.10 0.21 0.20 0. Riskesdas 2007 Provinsi Filariasis D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0.06 0.68 100 . Malaria dan Pemakaian Obat Program Malaria menurut Provinsi.02 0.41 0.26 3.09 1.09 0. Demam Berdarah Dengue.10 0.33 43.08 0.02 6.87 2.12 0.62 1.29 1.69 60.05 0.59 0.65 12.79 0.35 0.03 0.84 0.41 42.78 53.15 0.01 0.55 0.02 0.65 2.07 0.63 7.Tabel 3.02 0.87 3.03 0.10 2.37 2.38 1.14 1.85 47.16 0.18 0.14 DBD D 0.04 0.10 0.83 28.85 1.25 0.11 0.05 0.58 Prevalensi Filariasis.70 0.14 0.04 0.45 0.06 0.03 20.16 0.09 0.31 15.29 0.07 0.66 49.37 1.07 0.05 0.32 64.18 0.26 0.05 Malaria DG 1.04 3.04 0.06 0.27 0.37 47.04 0.07 0.36 39.35 51.03 0.39 2.14 18.06 0.30 0.32 0.23 1.03 0.78 23.09 0.12 0.22 5.29 D 1.42 1.28 43.31 3.58 0.04 0.23 0.12 0.17 0.33 65.04 0.88 0.01 4.67 2.03 0.46 0.43 0.04 0.03 0.45 2.32 0.42 7.51 0.90 49.21 0.06 0.13 0.10 39.41 O 36.03 3.36 1.52 Indonesia 0.10 0.33 0.09 0.62 36.12 7.86 1.93 DG 0.37 1.16 0.52 0.58 0.00 34.08 0.27 5.32 0.67 58.15 0.73 1.99 30.05 0.18 0.77 2.03 0.43 0.07 0.41 27.21 0.07 0.00 0.43 0.19 0.41 1.06 0.89 1.53 36.

61 0.15 0.12 0.10 0.08 Jenis kelamin Laki-laki 0.14 1.06 Kuintil 5 0.16 0.63 0. tidak bekerja dan petani/nelayan/buruh.25 0.07 Pekerjaan Tidak kerja 0.69 2.09 0.70 0.62 0.75 1. Filariasis klinis dijumpai pada semua kelompok umur dan sudah ditemukan pada kelompok umur ≤5 tahun.38 1.06 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 0.12 0.10 Tidak tamat SD 0.59 0.05 Ibu RT 0.11 0.46 3.29 41.12 0.12 0.72 2.17 0.74 0.19 42.11 0.51 0.48 1.18 0.16 0.14 1.52 0.05 Perempuan 0.85 46. DBD dan Malaria menurut karakteristik responden.05 Tipe daerah Perkotaan 0.97 2.06 55-64 0.39 44.40 53.56 0.24 0.64 2.83 1.38 1.25 47.84 49.61 0.02 2.19 46.83 3.27 0.18 0.51 0.50 1.08 43.07 Lainnya 0.08 53.25 41.78 Kelompok umur (tahun) <1 0. Filariasis klinis lebih tinggi didapati pada responden di perdesaan dan responden yang tidak sekolah.12 0.19 0.31 1.66 0.35 1.34 0.88 1.59 1.57 0.14 0.22 1.08 1.13 54.25 0.42 1.12 0.20 0.54 3.75 1.66 D 0.05 Kuintil 2 0.09 0.19 1.07 Petani/Nelayan/ 0.63 51.66 1.15 0. Tabel 3.14 0.20 3.08 1.74 0.49 2.04 Tamat SMA 0.30 0.04 2.13 0.47 47.85 1.96 46.03 25-34 0.62 0.61 0.07 0.36 1.26 0.57 1.Tabel 3. Malaria dan Pemakaian Obat Program Malaria menurut Karakteristik Responden.70 2.28 1.22 35.10 0.10 0.14 0.12 2.05 1.15 0.83 2.12 0.42 2.23 57. tidak ada perbedaan prevalensi antara laki-laki dan perempuan.59 0.08 0. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Filariasis D DG 0.05 Kuintil 3 0.10 0.08 Sekolah 0.65 0.02 5-14 0.38 39.05 Wiraswasta 0.10 >75 0.59 adalah gambaran Filariasis.20 0.05 2.13 2.74 3.75 3.05 0.68 0.41 1.37 1.90 2.61 0.21 0.10 1.19 0.56 0.95 4.12 0.56 0. Demam Berdarah Dengue.68 0.72 46.83 46.64 0.14 0.17 0.05 Tamat PT 0.05 Tamat SMP 0.59 0.04 45-54 0.19 1.09 DBD D 0.37 1.05 101 .07 0.01 1-4 0.20 0.19 0.08 0.17 0.65 48.02 0.03 47.10 0. dan tidak ada perbedaan prevalensi menurut tingkat pengeluaran rumah tangga (RT) per kapita.21 0.03 Pegawai 0.31 1.52 O 57.06 Tamat SD 0.06 35-44 0.11 0.12 0.15 0.57 1.16 0.44 48.53 1.04 15-24 0.80 50.57 0.89 46.59 Prevalensi Filariasis.05 Kuintil 4 0.62 3.05 2.59 0.87 43.73 47.09 0.67 0.23 0.63 0.55 1.66 2.74 49.09 3.19 0.11 0.53 0.43 1.92 51.08 0.35 DG 1.32 45.11 0.78 48.69 3.83 2.03 Perdesaan 0.16 0.24 Malaria DG 0.08 65-74 0.06 Pendidikan Tidak sekolah 0.

Dalam Riskesdas ini dikumpulkan data ISPA ringan dan pneumonia. Walaupun prevalensi malaria klinis pada anak (<15 tahun) relatif lebih rendah dari orang dewasa. Malaria tersebar merata di semua kelompok umur. dan cenderung tinggi pada responden dengan pendidikan rendah. Tuberkulosis (TB). Kepada responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis campak oleh tenaga kesehatan. Di Indonesia masih terdapat kantong-kantong penyakit campak sehingga tidak jarang terjadi KLB.3. Keadaan ini menunjukkan kewaspadaan dan kepedulian penanganan penyakit malaria pada anak sudah cukup baik di mana >50% malaria klinis mendapat obat malaria program dalam 24 jam menderita sakit. sehingga risiko terkena infeksi relatif lebih besar. Prevalensi penyakit ini juga relatif lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan.DBD dahulu dikenal hanya sebagai penyakit pada anak-anak. Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit menular kronis yang menjadi isu global. ditanyakan apakah pernah menderita gejala ISPA dan pneumonia. Pneumonia merupakan penyakit infeksi penyebab kematian utama. 3. dan Campak Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering dijumpai dengan manifestasi ringan sampai berat. Hal ini mungkin berhubungan dengan tingkat kesadaran penderita dalam mengenali penyakit dan mencari pengobatan yang lebih baik di kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita yang lebih tinggi tersebut. Pengobatan dengan obat malaria program juga relatif lebih baik (≥50%) di daerah perkotaan. ISPA yang mengenai jaringan paru-paru atau ISPA berat. serta sering mengakibatkan kematian. kelompok pendidikan tinggi. Di Indonesia penyakit ini termasuk salah satu prioritas nasional untuk program pengendalian penyakit karena berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi.2%). 102 . Kepada responden ditanyakan apakah dalam satu bulan terakhir pernah didiagnosis ISPA/pneumonia oleh tenaga kesehatan. Kepada respoden ditanyakan apakah dalam 12 bulan terakhir pernah didiagnosis TB oleh tenaga kesehatan. dapat menjadi pneumonia. ditanyakan apakah menderita gejala batuk lebih dari dua minggu atau batuk berdahak bercampur darah.34 tahun (0. Prevalensi DBD klinis juga cenderung meningkat pada kelompok dengan tingkat pengeluaran rumah tangga (RT) per kapita yang lebih tinggi. Tidak terlihat perbedaan prevalensi DBD pada laki-laki dan perempuan.7%) dan terendah pada bayi (0. dan relatif tinggi pada kelompok umur produktif (25 . terutama pada balita.54 tahun). Walaupun diagnosis pasti TB berdasarkan pemeriksaan sputum BTA positif. tetapi proporsi pengobatan dengan obat malaria program cenderung lebih baik pada anak dibandingkan orang dewasa.2 Prevalensi ISPA. Prevalensi malaria klinis di perdesaan dua kali lebih besar dari prevalensi di perkotaan. kelompok petani/nelayan/buruh dan kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah. Pnemonia. Temuan yang juga perlu menjadi perhatian adalah DBD klinis relatif lebih banyak ditemukan pada responden dengan tingkat pendidikan rendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD). Prevalensi tertinggi ditemukan pada kelompok umur 25 . namun kasus yang terdeteksi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan lebih banyak di perkotaan. DBD klinis relatif lebih tinggi di perdesaan. namun kini banyak ditemukan pada penderita dewasa. prevalensi pada bayi relatif rendah. Campak merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. pegawai dan wiraswasta. responden sekolah dan petani/nelayan/buruh. Bagi responden yang menyatakan tidak pernah. diagnosis klinis sangat menunjang untuk diagnosis dini terutama pada penderita TB anak. dan kelompok dengan tingkat pengeluaran RT per kapita tinggi. Hal ini mungkin disebabkan kelompok tersebut lebih banyak terpapar (exposed) dengan nyamuk malaria. dan bila tidak.

33 0.36 0.68 0.78 6.78 1.84 0.54 0.62 1.10 25.95 8.65 2.36 17.71 0.91 0.27 1.50 2.54 29.78 0.76 0.37 0.50 4.40 0.56 0.43 0.25 0.00 0.49 26.84 0.28 7.43 2.05 0.78 1.20 36.41.12 0.31 0.20 30.85 2. Prevalensi ISPA satu bulan terakhir di Indonesia adalah 25.53 1.47 0. Riskesdas 2007 Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 11.64 22.26 8.6%).03 1.38 22.53 1.19 2.17 2.31 0.29 0.74 8.23 0.73 0.34 0.02 0.52 0.52 28.78 0.22 1.08 1.61 1.98 6.13 0.67 4.58 0.39 21.24 1.20 6.47 2.ditanyakan apakah pernah menderita gejala demam tinggi dengan mata merah dan penuh kotoran.13 D 1.43 0.73 DG 3.04 0.82 0.10 10.69 1.20 0. Kasus ISPA pada umumnya terdeteksi berdasarkan gejala penyakit.48 18.47 0.59 5.35 0.37 0.01 DG 1.42 0.37 0.56 0.77 0.36 0.44 0.23 0.45 0.07 2.80 6.31 0.48 1.33 2.39 0.08 14. serta ruam pada kulit terutama di leher dan dada.98 1.5.73 9.39 26.10 1.11 0.5% .02 0.68 4.88 9.20 0.26 0.59 1.44 9.24 2.09 2.06 0.10 0.38 7.32 0.84 18.72 0.66 0.58 0.40 25.00 1.41 1.60 0.18 0.36 22.77 1.53 0.61 0.06 2.63 Indonesia 8.98 5.03 27.18 103 .37 0.38 9. Prevalensi pneumonia satu bulan terakhir di Indonesia adalah 2.19 1.56 0.54 0.47 1.18 0.63 0.75 0.8% .06 27.43 0.36 0.04 5.58 0. dan Campak menurut Provinsi.69 1.29 1.75 0.01 0.90 19.63 1.22 1.34 0.97 2.65 17.73 0.65 0.44 1.70 0.07 2.47 30.58 0.50 0.14 0. Tabel 3.54 10.71 0.75 33.13 0.90 22.56 0.01 0.22 6.37 0.60 Prevalensi ISPA.31 0.59 1.23 0.5% (rentang: 17.94 7.16 0.52 41.04 0.03 1.12 1.27 0.40 0.24 0.26 0.97 24.39 1.11 0. TB.36 1.92 0.29 1.1% (rentang: 0.87 22.06 12.98 2.78 22.95 2.55 1.56 Pneumonia D 1.38 0.37 0.89 Campak DG 1.81 1.99 0. Pneumonia.55 28.88 1.21 0.40 5.60 24.40 0.22 0.99 22.72 0.42 0.44 0.76 2.77 1.43 0.41 1.32 0.80 0.38 0.90 0.4%) dengan 16 provinsi di antaranya mempunyai prevalensi di atas angka nasional.87 1.54 2.29 0.47 0.52 ISPA DG 36.83 1.50 1.58 0.32 25.05 5.64 5.53 4.28 1.45 4.92 2.63 0.77 0.65 20.50 0.42 0.52 20.50 0.27 1.79 3.59 5.53 1.98 8.41 2.60 2.67 2.49 0.80 30.28 1.63 2. kecuali di Sumatera Selatan lebih banyak didiagnosis oleh tenaga kesehatan.86 0.99 0.24 0.73 29.98 TB D 0.47 0.42 0.40 12.08 22.81 1.49 1.15 0.64 0.36 1.

Prevalensi relatif sama pada laki-laki dan perempuan demikian pula di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan. Sulawesi Selatan.2%) dan terendah di Provinsi Lampung dan Bali (0. Prevalensi ISPA tertinggi pada balita (>35%).4%). Pneumonia klinis terdeteksi relatif lebih tinggi pada laki-laki dan satu setengah kali lebih banyak di perdesaan dibandingkan di perkotaan. kecuali di Provinsi Sumatera Selatan. dan Campak menurut karakteristik responden. Prevalensi TB paru 20% lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan.0%. antara lain Nusa Tenggara Timur. Papua Barat. Dua belas provinsi di antaranya dengan prevalensi di atas angka nasional. Lampung. Pneumonia cenderung lebih tinggi pada kelompok yang memiliki pendidikan dan tingkat pengeluaran RT per kapita lebih rendah. Nanggroe Aceh Darussalam. Sulawesi Tengah. Empat belas provinsi mempunyai prevalensi lebih tinggi dari angka nasional.61 adalah gambaran ISPA. Provinsi dengan prevalensi ISPA tinggi juga menunjukkan prevalensi pneumonia tinggi. dan Papua Barat. Prevalensi TB paru cenderung meningkat sesuai bertambahnya umur dan prevalensi tertinggi pada usia lebih dari 65 tahun. Kasus pneumonia pada umumnya terdeteksi berdasarkan diagnosis gejala penyakit. Nusa Tenggara Timur. Kalimantan Selatan. Sulawesi Tenggara. Prevalensi campak tertinggi pada anak balita (3. tertinggi di Provinsi Papua Barat (2. dan sedikit lebih tinggi di perdesaan. Sebagian besar (26 provinsi) kasus TB terdeteksi berdasarkan gejala penyakit. tertinggi di Provinsi Gorontalo (3. Prevalensi campak klinis 12 bulan terakhir di Indonesia adalah 1. Kalimantan Tengah. Prevalensi ISPA cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan dan tingkat pengeluaran RT per kapita lebih rendah.24 tahun. dan Papua. Jawa Barat. Gorontalo.3%). Tuberkulosis paru klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi 12 bulan terakhir adalah 1. 104 . kecuali di Provinsi Bengkulu.4%) dan masih cukup tinggi ditemukan pada usia di bawah 15 tahun. Prevalensi cenderung meningkat lagi sesuai dengan meningkatnya umur. Maluku. dan relatif sama menurut tingkat pengeluaran RT per kapita. tiga kali lebih tinggi di pedesaan dibandingkan perkotaan dan empat kali lebih tinggi pada pendidikan rendah dibandingkan pendidikan tinggi. sedangkan terendah pada kelompok umur 15 . Pneumonia. Maluku Utara.5%) dan terendah di Provinsi Lampung (0. Prevalensi campak lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dibandingkan dengan pendidikan tinggi. Prevalensi antara laki-laki dan perempuan relatif sama. Banten. Tabel 3.2%. Bali. Pada umumnya kasus campak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. TB. Sulawesi Barat. kecuali di Sumatera Selatan dan Papua. kecuali pada kelompok umur ≥55 tahun (>3%) pneumonia lebih tinggi. Karakteristik responden pneumonia serupa dengan karakteristik responden ISPA. dan Papua.Empat belas dari 33 provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. DKI Jakarta. Nusa Tenggara Barat.

30 30.48 0.17 1.6 25-34 6.69 5.44 0.18 0.42 0.61 Prevalensi ISPA.04 Tipe daerah Perkotaan 8.60 26.53 28.02 0.13 0.34 0.70 0.2 15-24 5.42 Pegawai 6.60 0.49 23.42 0.60 0.20 27.50 0.42 0.70 1.21 0.89 19.79 Tidak tamat SD 7.92 20.01 26.83 1.10 1.84 1.40 0.67 Pekerjaan Tidak kerja 6.37 0.48 25.82 0.26 2.94 0.87 27.07 20.91 20.61 0.29 0.59 1.45 1.26 0.40 2.70 2.60 0.24 0.83 1.44 3.42 1.07 1.1 35-44 6.56 0.08 0.82 DG 2.44 0.40 0.18 0.27 0.34 1.10 0.27 0.40 Tamat SD 6.75 1.57 22.62 0.90 0.42 0.96 21.38 0.88 0.00 0.62 0.56 0.04 2.99 105 .80 1.18 0.04 1.43 Pneumonia D 0.46 Tamat SMP 6.17 25.17 22.57 1.27 1.06 Perempuan 8.35 0.68 0.56 0.17 1.81 1.20 3.34 Campak D 1.36 1. dan Campak menurut Karakteristik Responden.53 0.43 4.59 0.69 0.13 2.84 0.34 0.92 42.82 23.81 17.33 2.51 0.1 5-14 9.58 Wiraswasta 6.38 0.13 Perdesaan 8.32 1.64 0.65 0.29 0.01 1.63 2.67 0.76 1.73 0.39 0.26 0.6 45-54 7.96 1.39 0.40 0.12 2.17 1.98 0.62 0.27 0.79 0.32 0.21 Tamat PT 6.42 1.40 0.94 0.69 0.11 Kuintil 4 7.0 Jenis Kelamin Laki-laki 8.04 0.33 Tingkat pengeluaran per kapita Kuintil 1 8.37 Petani/Nelayan/ 6.73 23.30 0.35 0.73 0.21 0.69 DG 0.89 1.72 0.01 0. Riskesdas 2007 Karakteristik responden D ISPA DG 35.62 2.00 Pendidikan Tidak sekolah 7.50 DG 2.47 0.69 2.36 0.53 0.07 1.31 0.86 0.45 1.59 1.26 25.49 0.53 0.43 0.60 0.27 0.76 0.46 0.66 0.42 3.41 1.71 21.26 2.56 0.17 0.60 1.47 0.15 0.55 TB D 0.57 25.37 0.39 0.21 2.42 0.00 1.30 26.99 Sekolah 6.55 0.4 >75 9.0 55-64 7.55 0.51 23.67 1.73 0.80 0.61 0.94 1.40 0.77 28.47 24.46 1. TB.27 0.21 0.22 1.61 0.20 Tamat SMA 6.73 2.66 0.00 Kuintil 3 8.56 0.33 0.14 0.85 Lainnya 6.81 2.21 0.Tabel 3.84 2.09 Kuintil 2 8.17 1.47 0.75 18.84 Kelompok umur (tahun) <1 14.43 0.61 0.08 2. Pneumonia.07 22.68 24.70 0.74 0.08 1.92 1.58 0.60 1.33 1.62 0.9 1-4 16.02 1.49 0.98 Kuintil 5 7.38 4.49 18.67 0.09 0.26 0.7 65-74 8.91 2.23 0.77 1.77 Ibu RT 6.

Hepatitis klinis terdeteksi di seluruh provinsi di Indonesia dengan prevalensi sebesar 0. Kasus hepatitis ini umumnya terdeteksi berdasarkan gejala klinis. Nusa Tenggara Barat. terendah ditemukan di Provinsi Banten (29. Tiga belas provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Kasus hepatitis yang dideteksi pada survei Riskesdas adalah semua kasus hepatitis klinis tanpa mempertimbangkan penyebabnya. Dehidrasi merupakan salah satu komplikasi penyakit diare yang dapat menyebabkan kematian. muntah. Kalimantan Tengah dan Sulawesi Utara lebih banyak terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. Dua belas provinsi mempunyai proporsi pemberian oralit kurang dari proporsi nasional. tidak nafsu makan. Sumatera Selatan. Jawa Barat. Responden yang menderita diare ditanya apakah minum oralit atau cairan gula garam.2% . Sulawesi Tengah.9%). Nusa Tengara Timur. 106 . Dua belas provinsi mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Sulawesi Utara.1.62 menunjukkan bahwa prevalensi tifoid klinis nasional sebesar 1. Jawa Barat. ditanyakan apakah dalam kurun waktu tersebut pernah menderita mual. lidah kotor dan tidak bisa buang air besar. Nusa Tenggara Barat.6% (rentang: 0. ditanya apakah satu bulan terakhir pernah menderita gejala tifoid. Diare Prevalensi demam tifoid diperoleh dengan menanyakan apakah pernah didiagnosis tifoid oleh tenaga kesehatan dalam satu bulan terakhir. Gorontalo. dan Sulawesi Selatan) kasus diare lebih banyak dideteksi berdasarkan gejala klinis. ditanya apakah dalam satu bulan tersebut pernah menderita buang air besar >3 kali sehari dengan kotoran lembek/cair.2% . Secara nasional. Beberapa provinsi mempunyai prevalensi diare klinis >9% (NAD. Papua Barat dan Papua).3%). Prevalensi diare klinis adalah 9. yaitu Provinsi NAD.4%).0% (rentang: 4. Kalimantan Selatan. Gorontalo. serta kulit dan mata berwarna kuning. seperti demam sore/malam hari kurang dari satu minggu. kencing warna air teh. kecuali di Provinsi Jawa Timur. Jawa Tengah. sedang di provinsi lainnya terutama berdasarkan gejala klinis. Di 18 provinsi. Banten. proporsi responden diare klinis yang mendapat oralit adalah 42. sakit kepala.3. Responden yang menyatakan tidak pernah. Hepatitis.3 Prevalensi Tifoid. Responden yang menyatakan tidak pernah. Sulawesi Barat. Bengkulu. Hanya di tujuh provinsi (Banten. Kalimantan Selatan. kasus tifoid sebagian besar terdeteksi berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan. nyeri perut sebelah kanan atas. Papua Barat.3% . Sulawesi Tenggara. Kalimantan Selatan. Kalimantan Tengah. Prevalensi diare diukur dengan menanyakan apakah responden pernah didiagnosis diare oleh tenaga kesehatan dalam satu bulan terakhir. Tabel 3. tertinggi di Provinsi Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Timur. Sulawasi Selatan. dan Papua. Nusa Tenggara Timur. tertinggi di Provinsi NAD dan terendah di DI Yogyakarta.2%.6% (rentang: 0. Kalimantan Timur. Kasus diare di sebagian besar provinsi (75%) terdeteksi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan. Banten. Prevalensi hepatitis diperoleh dengan menanyakan apakah pernah didiagnosis hepatitis oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir.18.3. Sulawesi Tengah. Responden yang menyatakan tidak pernah didiagnosis hepatitis dalam 12 bulan terakhir. Riau. Sumatera Barat.9%).

9 52.4 41.2 0.58 0.5 5.2 10.Tabel 3.8 45.3 0.7 30.5 7.8 0.16 1.27 2.8 2.1 0. terendah pada bayi (0.9 5.6 5.9 5. Prevalensi tifoid ditemukan cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan rendah dan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah. Tifoid klinis tersebar di seluruh kelompok umur dan merata pada umur dewasa.2 3.2 47.12 0.7 56.1 5.35 1. dan relatif lebih tinggi di wilayah perdesaan dibandingkan perkotaan.96 0.48 1.1 0.2 Tabel 3.2 0.0 5.2 0.94 0.4 12. Hepatitis.2 8.2 0.3 0.8 9.88 0.8 5.7 41.51 1.90 1.1 9.2 6.3 0.5 7.2 3.4 47.2 0.5 2.67 1.0 29.8 3.53 0.30 0.3 Diare D 11.5 9.20 2.5 4.1 0.2 7.4 35.3 5. Prevalensi tifoid klinis banyak ditemukan pada kelompok umur sekolah (5 .85 Tifoid DG 2.0 5.03 1.03 1. Riskesdas 2007 Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 1.5 0.0 43.5 Indonesia 0.9 7.87 1.77 1.4 43.3 4.1 48.19 1.9 9.3 0.4 0.24 0. Hepatitis.4 0.69 0.39 2.0 37.60 0.1 0.60 0.3 13.44 2.4 9.13 2.0 10.36 0.35 0.2 0.3 0.7 29.1 0.8%).7 4.6 0.25 1.80 0.8 4.8 30.62 adalah gambaran Tifoid.3 0.9 O 42.42 0.4 53.6 50.3 10.79 1.3 0. 107 .1 0.1 0.1 0.0 49.3 36.62 Prevalensi Tifoid.56 0.7 4.5 43.43 0.2 0.1 2.3 0.7 1. Diare menurut Provinsi.2 2.6 2. dan Diare menurut karakteristik responden.6 39.96 0.16 0.44 0.98 0.86 1.33 1.31 0.6 7.2 11.2 0.0 8.3 0.44 0.3 0.4 5.9 5.7 0.68 0.14 1.8 DG 1.3 8.7 1.6 0.3 0.91 1.70 0.2 0.2 0.2 9.4 7.8 10.40 0.99 1.5 0.6 4.5 3.1 0.7 0.7 44.7 1.90 1.95 1.65 1.2 0.93 2.9%.1 6.8 2.8 1.80 1.0 8.66 0.2 4.54 0.1 0.1 0.9 0.9 47.61 0.7 4.01 0.4 0.1 0.3 0.46 1.75 1.7 51.14 tahun) yaitu 1.9 7.4 16.4 3.0 42.7 5.1 49.1 5.9 3.06 0.5 0.4 0.1 0.2 0.60 0.2 40.9 0.1 8.0 53.53 0.28 1.6 5.2 0.4 0.2 0.8 0.1 0.5 0.32 2.4 0.3 0.1 44.8 4.5 7.4 54.8 DG 18.11 Hepatitis D 0.9 8.87 0.6 6.2 47.1 43.2 0.6 0.

0 1.2 7.2 1.6 1.6 1.4 39.9 Tidak kerja 1.8 0.7 0.7 Tidak sekolah 0.5 38.9 3.8 3. hampir 2 kali lebih tinggi di perdesaan dibandingkan perkotaan.3 37.3 0.7 1.1 1.7 0.3 0.6 0.5 1.6 DG 0.7 7.3 3.4 1.9 9.8 4.5 1.8 8.7 >75 Jenis Kelamin 0.0 38.8 1-4 1.8 1.7 Tamat PT Pekerjaan 0.0 0.6 DG 16.8 43.9 4.2 0.7 1.3 36.6 0.3 7.7 Wiraswasta 0.5 1.2 0.4 6.9 Tidak tamat SD 0.8 Kuintil -1 0.4 8.5 0.4 1.6 1.3 0.3 5.9 0.5 4.8 4.9 0.9 Laki – laki 0.7 Perkotaan 0. Riskesdas 2007 Karakteristik responden D Tifoid DG 0.4 4.2 7.2 0.3 0.Tabel 3.2 4.2 0.6 37.5 39.8 Kuintil -3 0.9 Kelompok umur (tahun) 0.7 5. Diare menurut Karakteristik Responden.7 55-64 0.3 0.0 9.5 42.5 43.9 5.4 8.5 3.0 37.7 36.2 4.62 Prevalensi Tifoid.7 8.8 1.1 1.3 5.2 0.3 0.2 4.5 10.6 0.2 1.4 5.4 Hepatitis D 0.5 1.1 0.2 0.7 Tamat SMA 0.1 7.2 0. dan cenderung lebih tinggi pada 108 .6 7.7 0.8 Kuintil -4 0.1 4. Hepatitis.9 O 52.9 10.3 8.8 55.7 25-34 0.4 10.3 37.4 36.7 11.9 Tamat SD 0.6 8.4 1.7 1.9 0.6 0.6 0.0 10.7 1.0 0.9 9.8 Perempuan Tipe daerah 0.2 0.2 0.9 4.5 37.4 0.7 7.5 0.4 8.2 0.7 0.8 41.7 0.5 9.6 1.9 Perdesaan Pendidikan 0.2 0.0 8.8 42.2 0.2 5.2 0.0 40.3 0.3 1.0 5.2 0.3 0.9 Kuintil -2 0.8 41.7 9.7 42.3 0.6 5.8 0.4 1.1 5.8 1.9 15-24 0.9 0.6 0.2 0.8 Petani/nelayan/buruh 0.4 0.1 0.6 4.2 0.0 Sekolah 0.6 0.8 1.3 <1 0.5 16.5 41.5 1.1 37.4 3.2 Diare D 11.2 0.1 39.9 5.5 Lainnya Tingkat pengeluaran per kapita 0.6 1.8 1.7 Pegawai 0.0 4.8 Tamat SMP 0.5 0.8 Kuintil -5 Prevalensi hepatitis klinis paling tinggi terdeteksi pada umur > 55 tahun.1 5-14 0.5 1.1 40.2 5.4 9.2 0.9 1.0 41.1 3.8 38.2 0.2 0.9 4.7 0.6 0.7 35-44 0.7 0.8 0.3 5.2 1.6 41.2 41.6 65-74 0.1 4.2 0.0 7.6 Ibu RT 0.0 36.7 45-54 0.6 7.1 37.

109 . Diare tersebar di semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada balita (16. Setiap responden diukur tensinya minimal 2 kali. Tensimeter digital divalidasi dengan menggunakan standar baku pengukuran tekanan darah (sfigmomanometer air raksa manual). hipertensi dan stroke ditanyakan kepada responden umur 15 tahun ke atas. buta warna. Cakupan atau jangkauan pelayanan tenaga kesehatan terhadap kasus PTM di masyarakat dihitung dari persentase setiap kasus PTM yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan dibagi dengan persentase masingmasing kasus PTM yang ditemukan. Kriteria hipertensi yang digunakan pada penetapan kasus merujuk pada kriteria diagnosis JNC VII 2003.4. gangguan jiwa berat. glaukoma. ditetapkan menggunakan alat pengukur tensimeter digital. rinitis. dan dekompensasi kordis. Mengingat pengukuran tekanan darah dilakukan pada penduduk 15 tahun ke atas maka temuan kasus hipertensi pada usia 15-17 tahun sesuai kriteria JNC VII 2003 akan dilaporkan secara garis besar sebagai tambahan informasi. Penyakit Sendi. stroke. riwayat pernah mengalami gejala penyakit jantung dinilai dari 5 pertanyaan dan disimpulkan menjadi 4 gejala yang mengarah ke penyakit jantung. Prevalensi diare 13% lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan.4 Penyakit Tidak Menular 3. Untuk kasus penyakit jantung. jantung. maka dilakukan pengukuran ke tiga. yaitu hasil pengukuran tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg. dan hemofilia dianalisis berdasarkan jawaban responden “pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan” (notasi D pada tabel) atau “mempunyai gejala klinis PTM”. talasemiaa. maka prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tensi dihitung hanya pada penduduk umur 18 tahun ke atas. dermatitis. Riwayat penyakit sendi. dan untuk jenis PTM lainnya kurun waktu riwayat PTM adalah selama hidupnya. sedangkan PTM lainnya ditanyakan kepada semua responden. stroke dan asma ditanyakan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Pengukuran tensi dilakukan pada responden umur 15 tahun ke atas. yaitu penyakit jantung kongenital.pendidikan rendah. Responden dikatakan memiliki gejala jantung jika pernah mengalami salah satu dari 4 gejala termaksud. jika hasil pengukuran ke dua berbeda lebih dari 10 mmHg dibanding pengukuran pertama. Kriteria JNC VII 2003 hanya berlaku untuk usia 18 tahun keatas.1 Penyakit Tidak Menular Utama. hipertensi. angina. proporsi yang mendapat oralit pada ke dua kelompok umur tersebut berturut-turut 52. dan Penyakit Keturunan Data penyakit tidak menular (PTM) yang disajikan meliputi penyakit sendi. cenderung lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dan tingkat pengeluaran RT per kapita rendah. hipertensi. Hipertensi berdasarkan hasil pengukuran/pemeriksaan tekanan darah/tensi. Prevalensi PTM adalah gabungan kasus PTM yang pernah didiagnosis tenaga kesehatan dan kasus yang mempunyai riwayat gejala PTM (dinotasikan sebagai DG pada tabel).7%). Dua data pengukuran dengan selisih terkecil dihitung reratanya sebagai hasil ukur tensi.8% dan 55. Prevalensi diare yang tinggi pada bayi dan anak balita tidak selalu diberi oralit. asma. Prevalensi hepatitis klinis merata di semua tingkat pengeluaran RT per kapita.5%. tumor/kanker. DM. baik berdasarkan diagnosis maupun gejala (D dibagi DG). Penyakit sendi. aritmia. bibir sumbing. Data hipertensi didapat dengan metode wawancara dan pengukuran. 3.

0 26.3 4.8 33.4 27.4 D/O 10.4 7.7 12.1 9.3 7.3 8.2 5.2 9.6 7.3 31.0 D/G 16.7 9.2 11.8 10.0 10.0 29. Riskesdas 2007 Penyakit Sendi Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 23.1 7.2 7.0 10.1 29.7 6.5 33.7 5.8 27.1 6.4 8.0 8.5 29.9 8.3 7.3 5.9 28.0 31.6 5.4 7.0 28.6 15.3 28.6 5.9 8.0 9.9 32.9 5.0 30.0 11.2 30.8 7.9 19.4 7.4 5.7 6.4 8.3 Catatan : D = Diagnosa oleh Tenaga Kesehatan D/G = Didiagnosis oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala D/O = Kasus minum obat atau didiagnosis oleh tenaga kesehatan U = Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah *) Penyakit Hipertensi dinilai pada penduduk berumur >=18 tahun 110 .8 Indonesia 14.8 23.6 23.7 20.4 5.5 6.2 29.3 31.4 22.9 7.2 26.4 15.7 7.1 35.1 22.0 4.0 30.8 5. dan Stroke menurut Provinsi.6 11.6 14.8 5.4 8.6 6.1 14.4 8.1 13.9 31.9 38.5 3.1 5. Hipertensi.4 10.6 9.5 12.5 25.0 35.0 27.7 26.4 8.3 28.1 4.2 7.9 4.7 9.8 4.9 26.4 28.8 19.5 5.5 8.2 7.9 4.2 33.9 3.0 8.2 5.4 6.6 7.6 5.1 9.0 14.6 8.8 9.8 27.6 31.0 9.5 7.3 6.0 3.9 12.6 7.5 4.1 8.9 5.3 8.2 5.6 19.8 12.7 (%) D/G 34.1 5.2 2.8 8.1 24.3 8.7 2.1 30.5 8.0 8.3 9.6 29.6 9.7 7.3 41.5 9.5 6.1 Hipertensi (%) D 9.1 7.3 19.0 12.3 7.8 29.0 7.5 15.4 7.3 17.9 30.8 23.1 24.8 29.5 4.4 10.3 13.3 9.6 8.1 11.4 17.5 6.Tabel 3.7 5.5 6.2 4.5 5.6 29.0 6.9 29.4 20.7 25.6 8.6 31.1 14.1 37.6 6.8 5.2 10.0 12.9 5.7 11.6 39.4 9.7 36.1 4.2 34.4 7.4 5.6 5.8 9.6 29.7 9.4 37.9 7.8 37.8 11.3 Stroke (‰) D 10.0 5.0 5.0 6.1 32.2 20.1 5.0 6.8 7.3 7.2 12.3 10.5 6.6 26.6 33.3 6.2 7.4 9.2 36.6 38.3 11.0 8.1 4.1 6.7 28.6 31.63 Prevalensi Penyakit Persendian.2 6.7 6.4 U 30.7 4.9 3.

Bangka Belitung. Apabila kriteria hipertensi sesuai JNC VII 2003 juga diterapkan untuk penduduk 15-17 tahun. Kalimantan Tengah. prevalensi ditemukan lebih tinggi pada kelompok tidak bekerja. Provinsi Jawa Timur. prevalensi penyakit sendi cenderung lebih tinggi pada perempuan. dan gabungan kasus hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dengan kasus hipertensi berdasarkan riwayat minum obat hipertensi diberi istilah diagnosis/minum obat dengan inisial DO. Menurut provinsi. Sedangkan prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 7. Berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah. Menurut karakteristik responden. Sedangkan pola prevalensi stroke menurut jenis kelamin tidak tampak perbedaan yang mencolok. prevalensi penyakit sendi. hipertensi maupun stroke tampak meningkat sesuai peningkatan umur responden.63) sebesar 30.3% dan prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 14%. Dengan demikian cakupan diagnosis hipertensi oleh tenaga kesehatan hanya mencapai 24. Terdapat 13 provinsi dengan prevalensi stroke lebih tinggi dari angka nasional. Terdapat 11 provinsi dengan prevalensi penyakit sendi lebih tinggi dari angka nasional. Sedangkan untuk hipertensi dan stroke. Pada Tabel 3.5%).1%). Sulawesi Barat. Berdasarkan pekerjaan responden. DI Yogyakarta. namun meningkat kembali pada kelompok pendidikan tamat PT.4%). Prevalensi penyakit sendi secara nasional (Tabel 3.6‰) dan terendah di Papua (3. Riau. namun ada kecenderungan peningkatan prevalensi sesuai dengan peningkatkan tingkat pengeluaran rumah tangga. merupakan provinsi yang mempunyai prevalensi hipertensi lebih tinggi dari angka nasional. hipertensi. Sulawesi Tengah. dan yang telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 6 per 1000 penduduk. demikian pula prevalensi hipertensi. kasus hipertensi berdasarkan hasil pengukuran diberi inisial U.7%.Selain pengukuran tekanan darah.8‰). dan Nusa Tengah Tenggara Barat. 111 .6% (kasus yang minum obat hipertensi hanya 0. baik pola prevalensi penyakit sendi maupun hipertensi dan stroke tampak tidak ada perbedaan yang mencolok.2%. prevalensi penyakit sendi tertinggi dijumpai di Provinsi Papua Barat (28. ditambah kasus yang minum obat hipertensi prevalensi hipertensi berdasarkan wawancara ini adalah 7.3% kasus stroke di masyarakat telah didiagnosis oleh tenaga kesehatan. prevalensi penyakit sendi pada Petani/Buruh/Nelayan ditemukan lebih tinggi daripada kelompok pekerjaan lainnya. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Hal ini menunjukkan sekitar 72. atau dengan kata lain sebanyak 76.6%) dan terendah di Papua Barat (20. Dalam penulisan tabel. Prevalensi stroke di Indonesia ditemukan sebesar 8. maka terdapat 4050 (8. prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar 31.8%) dan terendah di Sulawesi Barat (7. Menurut jenis kelamin. responden juga diwawancarai tentang riwayat didiagnosis oleh tenaga kesehatan atau riwayat meminum obat anti-hipertensi.64 juga dapat dilihat bahwa prevalensi penyakit sendi. Jawa Tengah. Cakupan diagnosis penyakit sendi oleh tenaga kesehatan di setiap provinsi umumnya sekitar 50% dari seluruh kasus yang ditemukan.3 per 1000 penduduk. kasus hipertensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan diberi inisial D. Prevalensi stroke tertinggi dijumpai di NAD (16. prevalensi hipertensi tertinggi di Kalimantan Selatan (39.4%) responden umur 15-17 tahun yang telah mengalami hipertensi.0% kasus hipertensi dalam masyarakat belum terdiagnosis.0%. dan stroke cenderung tinggi pada tingkat pendidikan rendah dan menurun sesuai dengan peningkatan tingkat pendidikan. Menurut provinsi.

7 14.4 20.9 31.3 11.7 7.8 46.2 28.5 6.0 12.5 4.5 0.9 7.7 Penyakit Sendi (%) D D/G Hipertensi (%) D D/0 U Stroke (‰) D D/G Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga per Kapita Untuk penyakit tidak menular. dan Stroke menurut Karakteristik Responden.1 7.8 33.9 33. dapat pula dilakukan analisis sampai ke tingkat 112 .1 1.0 2.2 5.3 7.1 5.6 6.6 18.2 31.8 29.8 32.1 25.7 44.7 20.7 7.1 4.8 7.1 24.3 1.9 42.3 6.5 11.1 13.9 2.6 7.1 14.1 15.5 6.8 25.5 11.5 9.6 13.0 7.0 7.9 17.9 33.3 7.1 5.1 1.7 15.8 8.7 8.7 12.9 8.4 14.0 8.9 4.1 6.3 56.9 6.1 0.8 13.3 0.2 4.6 6.5 17.3 6.8 7.1 29.9 8.0 8.1 37.1 11.1 14.9 10.9 65.5 5.7 63.6 6.1 22.7 7.3 8.5 35.0 6.9 27.0 7.7 30.7 9.0 32.9 6.3 5.5 31.9 8.9 39.4 62.4 5.4 16.3 20.0 15.8 8.7 3.7 11.8 33.2 9.3 0.6 7.0 31.5 8.5 15.5 67.5 25.4 4.6 53.0 29.9 3.3 2.9 2.2 5.7 2.9 28.0 9.2 32.5 30.2 6.7 11.4 6.3 30. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Umur 18-24 Tahun 25-34 Tahun 35-44 Tahun 45-54 Tahun 55-64 Tahun 65-74 Tahun 75+ Tahun Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak Kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuinti 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 11.3 8.2 5.9 8.2 22.1 7.3 0.Tabel 3.9 15.64 Prevalensi Penyakit Persendian.1 9.6 7.3 7.4 11.8 9.2 12.0 6.5 5.7 9.3 4.4 0.6 31.0 14.1 28.1 5.3 16.9 5.9 19.6 28.2 30.7 13.0 29.4 31.5 22.8 17.2 19.0 18.7 6.7 13. Hipertensi.2 18.2 31.2 32.6 1.4 53.5 4.7 14.8 12.8 4.6 2.6 32.8 31.7 7.4 7.4 6.6 7.2 7.3 31.7 1.8 33.7 19.9 41.6 8.9 8.0 6.6 4.4 8.6 9.4 30.6 8.1 6.8 4.9 23.3 23.2 13.

Terdapat 16 provinsi dengan prevalensi penyakit jantung lebih tinggi dari angka nasional.55 49. Setelah ditentukan urutan (ranking) dari yang paling sedikit sampai yang paling banyak kasus hipertensi untuk usia ≥ 18 tahun. Cakupan kasus jantung yang sudah didiagnosis oleh tenaga kesehatan sebesar 12.86 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Terburuk Natuna Mamasa Katingan Wonogiri Hulu Sungai Selatan Rokan Hilir Kuantan Singingi Bener Meriah Tapin Kota Salatiga 53.9%.58 15. Terdapat 17 provinsi dengan prevalensi asma lebih tinggi dari angka nasional.6% di Lampung sampai 12.56 49. Prevalensi penyakit DM di Indonesia berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 0.2% berdasarkan wawancara.11 12.6% di DKI Jakarta.29 50. Penyakit asma ditemukan sebesar 3.6‰ di DI Yogyakarta.96 45. Prevalensi penyakit jantung di Indonesia sebesar 7.kabupaten/kota. dan tumor menurut provinsi. yaitu dengan membuat urutan (ranking) dari yang terbaik sampai yang terburuk. diabetes. Prevalensi DM menurut provinsi.7% sedangkan prevalensi DM (D/G) sebesar 1.5% di Provinsi Lampung hingga 7. lebih tinggi dibandingkan cakupan penyakit asma maupun penyakit jantung.4% di Lampung hingga 2.5% dari semua responden yang mempunyai gejala subjektif menyerupai gejala penyakit jantung. Terdapat 11 provinsi yang mempunyai prevalensi tumor lebih tinggi dari angka nasional. prevalensi asma berkisar antara 1.6%. Dalam hal ini harus dipilih indikator kesehatan yang prevalensinya cukup besar.64 13.19 Tabel 3.6% di NAD.56 14. 113 . sepuluh kabupaten/kota terbaik dan terburuk adalah sebagai berikut: Terbaik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jayawijaya Teluk Wondama Bengkulu Selatan Kepulauan Mentawai Tolikara Yahukimo Pegunungan Bintang Seluma Sarmi Tulang Bawang 6. Data ini menunjukkan cakupan diagnosis asma oleh tenaga kesehatan sebesar 54. Menurut provinsi. Sebagai contoh bisa dipilih penyakit hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah. jantung.74 46.38 11.76 9. Prevalensi penyakit jantung menurut provinsi.3% (D dibagi DG).29 46. Data ini menunjukkan cakupan diagnosis DM oleh tenaga kesehatan mencapai 63. Prevalensi menurut provinsi. Prevalensi penyakit tumor berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan di Indonesia sebesar 4.5‰ di Maluku hingga 9.2% di Gorontalo. berkisar antara 1.94 14.9%.65 menunjukkan prevalensi asma.45 13.48 48. Terdapat 17 provinsi yang mempunyai prevalensi DM lebih tinggi dari angka nasional. berkisar antara 0. berkisar antara 2.1%.3‰. sementara berdasarkan riwayat didiagnosis tenaga kesehatan hanya ditemukan sebesar 0.23 47.00 11.5% di Indonesia dan prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah 1.09 45.

8 3.6 0. D/G = Diagnosa oleh tenaga kesehatan atau dengan gejala *) Penyakit Asma.7 6.3 1.8 0.3 0.6 2.9 1.8 5.7 8.9 0.7 0. Diabetes* Dan Tumor** menurut Provinsi.7 0. jantung.9 0.8 1.0 0.4 5.7 0.3 7.6 0.4 7.1 1.9 3.4 2.5 2.3 0.6 1.0 2.0 0.2 2.0 2.5 0.5 4.7 0.0 0.5 0.5 0.3 0.3 0.8 3.7 1.1 2.3 0.0 11.4 3.6 0.4 Jantung (%) D/G 4.5 0.4 1.9 7.6 3.8 8.4 0.7 4.8 1.3 2.8 0.3 7.3 1.9 2.9 1.8 1.4 1.4 3.6 0.8 0.6 1.1 2.3 1.6 0.6 4.6 2.4 0.7 5.4 6.6 0.3 Catatan: D=Diagnosa oleh tenaga kesehatan.1 1.5 4.9 1.9 5.8 3.8 2. Jantung*.4 4.7 0.2 1.2 1.7 0.4 1. 114 .3 2.5 3.6 5.8 0.3 2.5 0.4 6.3 0.6 3.2 11.5 0.6 DM (%) D 1.1 0.0 1.1 9.6 0.8 1.7 D/G 12.7 0.7 4.6 11.Tabel 3.8 0.8 2. Riskesdas 2007 Asma Provinsi D NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 3.1 8.3 5.8 (%) D 2.0 1.0 1.0 0.1 4.2 4.2 0.5 3.8 0.7 0.4 0.5 1.7 5.8 1.9 6.3 1.8 0.2 8.4 8.5 0.8 5.6 0.5 0.5 0.6 1.2 0.5 1.6 3.5 1. jantung.8 7.7 1.6 0.0 0.8 0.2 2.0 5.65 Prevalensi Penyakit Asma*.6 1.8 1.6 2.7 0.4 6.4 8.0 3.66 menunjukkan prevalensi penyakit asma.6 7.5 1.5 8.9 3.2 7.8 0.6 3.1 2.6 0. diabetes ditetapkan menurut jawaban pernah didiagnosis menderita penyakit atau mengalami gejala **) Penyakit tumor ditetapkan menurut jawaban pernah didiagnosis menderita tumor/kanker Tabel 3.9 1.4 3.3 1.5 1.9 2.6 5.9 3.8 3.5 0.4 8.3 2.6 1.2 2.0 3.8 2.7 0.7 2.8 1.8 0.3 2.5 Tumor (‰) D/G 1.0 7.5 2.7 2.8 4.7 4.0 1.3 3.3 1.8 0.3 2.1 1.2 1.0 3.8 1. dan tumor menurut karakteritik responden.2 0.1 4.3 1.4 1.5 4.9 2.4 1.3 3.0 1.9 5.7 3.0 4.7 5.4 4.5 0.1 4.7 3.9 4.1 2.8 4.8 0.8 1.1 3.3 D 2. DM.3 1.6 3.8 1.1 2.4 Indonesia 1.8 1.3 0.7 0.6 0.4 0.6 1.4 0.8 9.

2 0.4 2.2 0.3 2.1 0.8 2.8 2.5 Perempuan 1.5 1.7 0.6 1.4 0.0 3.8 5.1 1.1 1.3 0.4 Kuintil-5 1.4 0.4 1.0 1.4 2.7 5.5 16. DM dan tumor meningkat dengan bertambahnya umur.6 3.6 5.9 1.2 Tamat PT 1.4 5.3 Wiraswasta 1.7 0.5 1.4 8.8 Tamat SMP 1.5 Pendidikan Tidak Sekolah 4.2 7.5 1.1 1.1 2.4 6.9 9.1 1.2 Petani/Nelayan/Buruh 2.2 1.6 1.3 1.2 0.2 8.7 8.5 3.4 5.3 0.5 3.8 0.2 7.0 1.9 0.7 2.2 1.2 1.2 1.3 2.2 3.4 0.5 2.2 4.7 1.0 2.4 2.9 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perkapita Kuintil-1 2.8 1.9 6.8 9.2 20.0 0.9 5.1 1.7 6.8 7.7 Tamat SMA 1.3 1.0 0.7 Jenis kelamin Laki-Laki 1.5 Kuintil-4 1.0 Ibu RT 2.9 3.8 3.3 Tidak Tamat SD 2.6 6.8 2.7 1.8 6.2 8.4 12.2 0.0 3.1 4.9 3.1 4.3 12.8 Desa 2.8 4.5 5.8 6.2 0.3 0.9 5.0 8.1 Lainnya 2.2 2.8 1.5 2.9 1.7 3. namun untuk DM prevalensi cenderung menurun kembali 115 .0 2.2 1.2 2.6 1.4 1.7 0.3 Pekerjaan Tidak Kerja 2.8 1.2 4.9 2.6 1.6 2. Diabetes Mellitus.7 3.0 0.7 5.4 Sekolah 1.3 7.5 0.1 Tempat tinggal Kota 1.3 1. Dan Tumor menurut Karakteristik Responden.1 3.7 1.0 1.0 2.0 2.7 1.2 1.4 2.3 Diabetes (%) D D/G Tumor (‰) D 0.9 10.1 11.1 10.3 1.5 0.4 Jantung (%) D D/G 0.7 0.0 0.7 6.2 0.3 0.4 6.6 0.2 7.3 10.1 0. Jantung.8 8.5 4.4 10. jantung.3 3.7 4.4 1.2 6.2 1.9 Kuintil-2 1.8 0.8 6.6 1.1 7.3 1.4 4.0 Tamat SD 2.8 0.0 8.5 10.1 6.5 0.5 1.0 4. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kelompok umur (tahun) <1 1-4 5-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Asma (%) D D/G 0.6 0.1 19.9 3.0 1.2 2.2 1.2 7.66 Prevalensi Penyakit Asma.5 8.8 1.8 0.7 Kuintil-3 1.4 3.8 1.1 Ada kecenderungan prevalensi penyakit asma.1 8.1 1.3 6.8 3.2 1 1.8 5.1 4.8 7.1 14.Tabel 3.8 3.0 Pegawai 1.9 0.4 2.0 3.4 1.5 1.9 3.7 3.7 2.9 1.7 3.

diikuti Sulawesi Tengah (105. prevalensi asma dan jantung paling tinggi pada kelompok tidak sekolah sedangkan prevalensi DM dan tumor paling tinggi terdapat pada kelompok tamat perguruan tinggi. tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (24. Prevalensi terendah terdapat di Maluku (0. Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Sumatera Utara (5.9‰). menempati urutan sesudahnya. tertinggi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (49. berturut-turut diikuti Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (12.4‰).4‰. Kep.9‰).5‰).8‰). Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Sulawesi Barat (25.8‰). Prevalensi terendah terdapat di Riau (0. Menurut tingkat pendidikan.67 memperlihatkan bahwa prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia adalah sebesar 4.4‰). Riau (21.9‰). Prevalensi penyakit jantung paling tinggi ditemukan pada kelompok ibu rumah tangga. DM.6‰).Riau (12. Sumatera Selatan (5. sebaliknya prevalensi penyakit jantung.7‰). Kalimantan Barat. Provinsi DKI Jakarta ternyata menduduki peringkat teratas untuk prevalensi bibir sumbing.setelah umur 64 tahun. Tabel 3. prevalensi penyakit asma tertinggi terdapat pada kelompok tidak bekerja. dan Sulawesi Barat masingmasing sebesar 0.0‰). tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan (113.1‰).2‰). Prevalensi penyakit asma dan jantung lebih tinggi di daerah perdesaan. Kep. Prevalensi glaukoma di Indonesia sebesar 4. Sulawesi Tengah (12. Nusa Tenggara Barat (8.6‰).6‰). Prevalensi rinitis di Indonesia sebesar 24.7‰).6‰ dan tertinggi di Provinsi DKI Jakarta (18. Sumatera Selatan (9. DKI Jakarta (37. Kalimantan Barat.4‰). Nanggroe Aceh Darussalam (7. Untuk Talasemia. Prevalensi asma dan DM tidak berbeda menurut jenis kelamin.9‰). antara lain Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (13. Riau (3.1‰).9‰). diikuti kelompok petani/nelayan/buruh dan tidak bekerja. terdapat 8 provinsi dengan prevalensi lebih tinggi dari prevalensi nasional.5‰).0‰).3‰) yang diikuti berturut-turut oleh Provinsi Kep. Nanggroe Aceh Darussalam (15.9‰ jauh di atas angka nasional (2.8‰).0‰).9‰). Nusa Tenggara Timur (99.2‰). Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (20. Sulawesi Tengah (38. jantung. Sumatera Barat (16.4‰). Prevalensi DM paling banyak terdapat pada kelompok pegawai. Gorontalo (3. Prevalensi penyakit asma. dan tumor meningkat dengan meningkatnya tingkat pengeluaran.7‰). dan tumor terendah pada kelompok responden yang masih sekolah. Jawa Barat (36.7‰). Sumatera Barat (11. Nanggroe Aceh Darussalam (98.9‰). disusul kelompok petani/nelayan/buruh.3‰) yang kemudian secara berturut turut diikuti oleh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (18.4‰. sedangkan provinsi lain seperti Sumatera Selatan (10.2‰). 116 . DKI Jakara (12. Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Jambi. Menurut jenis pekerjaan utama. Kep.3‰).8‰) dan berturut-turut disusul DI Yogyakarta (40.Tampak bahwa prevalensi penyakit asma meningkat dengan menurunnya tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.3‰. Riau (9. Nusa Tenggara Barat (9. yaitu sebesar 13.5‰).8‰).1‰).5‰).4‰). Prevalensi penyakit tumor tertinggi pada kelompok ibu rumah tangga. Prevalensi buta warna di Indonesia sebesar 7. Prevalensi terendah terdapat di Sumatera Utara(1. Prevalensi terendah terdapat di Provinsi Lampung. sedangkan DM dan tumor lebih tinggi di daerah perkotaan. sedangkan prevalensi penyakit jantung dan tumor dijumpai lebih tinggi pada perempuan.6‰. dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 0.6‰). Gorontalo (15. DKI Jakarta (99.1‰. DM. Sumatera Barat (19. Prevalensi dermatitis di Indonesia cukup tinggi (67.

4 10.8 13.3 3.3 5.0 12.Tabel 3. dermatitis.2 1.3 5.2 3.3 58.3 0.2 1.9 6.4 16.9 39.1 2. talasemia. Dermatitis.7 79.3 0.5 0.6 11.5 1.1 0. Sumbing. Talasemi.3 Talasemi 13.3 2.5 73.8 1.2 2.2 0.2 29.3 2.5 0.0 62.4 0.6 0. Kep.7 6.6 11.9 14.4 2.3 Demikian juga prevalensi Hemofilia masih terlihat tinggi.9 6.4 10.4 Dermatitis 98.3 2.8 0.6 18.4 0.7 26.5 0.3 0.6 S umbing 7.7 0.5 1. glaukoma.6 5.4 0.5 4.8 89. Hemofili (Permil) Menurut Provinsi.5 3.5 2. Riskesdas 2007 Provinsi DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Catatan: *) Penyakit keturunan ditetapkan menurut jawaban pernah mengalami salah satu dari riwayat penyakit gangguan jiwa berat (skizofrenia).8 49.6 2.1 1.9 8.1 1.4 0.9 92.4 13.6 0.1 23.1 0.8 35.2 6.0 3.5 3.2 18.0 2.4 0.8 21.4 5.9 34.9 15. Sumatera Barat (19.8 2.4 8.4 7.3 15.5 0. buta warna.1 0.4 90.4 Glaukoma 12.4 11.4 0.9 3.7 7.3 0.8 6.9 6.8 0.0 0.2 11.2 3.9 0.4 22.0 64.8 3.5 4.0 13.5 0.9 32.5 67.0 24.5 3.1 1.1 5.9 30. Gorontalo (15.0 3.9 1. atau hemofilia Jiwa 18.5 1.6 4.5 27.8 26.1 48.5 0.1 2.0 9.3 7.2 0.3 1.1 0.9 13.9 9.3 3.9 0.2 6.9 1.2 105.5 0.6 0.8 5.6 0.2 1.5 37.1 0.2 27.4 3.0 1.5 0.6 1.5 0.1 0.3 84.0 5.4 1.0 21.4 8.5 73.9‰).8 38.1 2.1 2. Glaukoma.5 24.4 0.2 25.7 2.5‰).5 9.6 3.6 7. Rhinitis.9 7.9 8.6 1.7 38.8 53.5 0.9 1. rinitis.2 0.6 12.2 2.7 0.8 40.4 0.9 9.5 113.4 1.9 1.8 Rhinitis 49.2 62.8 5.0‰).8 0.7 6.6 53.4 1.6 0.8 6.8 12.4 2.1 5.0 0.7 0.8 0.1 0.4 2.8 0.6 0.2 22. terutama di Provinsi DKI Jakarta (24.0 17.8 3.2 0.2 2.1 0.7 26.8 8.6 0.5 Hemofili 5.4 0.7 36.1 0.8 1.0 32.8 0.4 4.9 1.8 0.5 43.4 1.5 10. Riau (21.2 26.2 1.4 0.6 Buta warna 15.8 3.0 27. bibir sumbing.4 0.4 20.3 4.7 12.9 1.7 1.6 0.5 19.1 0.4 1. Buta Warna.4 9.5 99.3 34.2 1.7 1.9 20.5 0.2 1.8 1.9 2.3 67.5 2. dan 117 .4 0.6 6.0 40.6 4.9 4.3 0.67 Prevalensi Penyakit Keturunan*:Gangguan Jiwa Berat.8 0.4 0.0 1.5 0.3 0.1 99.8 2.6 39.3 0.3 92.1 94.4 47.3 2.5 1.3‰).6 1.4 21.4 0.

Individu dinyatakan mengalami gangguan mental emosional apabila menjawab minimal 6 jawaban “Ya” kuesioner SRQ. prevalensi tertinggi terdapat di DKI Jakarta yaitu gangguan jiwa berat. Nilai batas pisah yang ditetapkan pada survei ini adalah 6 yang berarti apabila responden menjawab minimal 6 atau lebih jawaban “ya”.6%). Berdasarkan umur. Nilai batas pisah tersebut sesuai penelitian uji validitas yang pernah dilakukan (Hartono.Nanggroe Aceh Darussalam (15.2 Gangguan Mental Emosional Di dalam kuesioner Riskesdas.1%). Kelompok yang rentan mengalami gangguan mental emosional adalah kelompok dengan jenis kelamin perempuan (14. Tabel 3.0% Prevalensi tertinggi di Provinsi Jawa Barat (20. pertanyaaan mengenai kesehatan mental terdapat di dalam kuesioner individu F01 –F20. buta warna. Dalam Riskesdas 2007 pertanyaan dibacakan petugas wawancara kepada seluruh responden. serta pada kelompok tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita terendah (pada Kuintil 1: 12. menunjukkan 140 dari 1000 Anggota Rumah Tangga yang berusia ≥ 15 tahun mengalami gangguan mental emosional.7%). Kesehatan mental dinilai dengan Self Reporting Questionnaire (SRQ) yang terdiri dari 20 butir pertanyaan. Ke-20 butir pertanyaan ini mempunyai pilihan jawaban “ya” dan “tidak”. kelompok yang tidak bekerja (19. bibir sumbing.3%). Prevalensi ini bervariasi antar provinsi dengan kisaran antara 5. glaukoma. Dari tabel ini dapat dilihat bahwa prevalensi nasional gangguan mental emosional pada penduduk yang berumur ≥ 15 tahun adalah 11. dan hemofilia 3. SKRT 1995 juga menggunakan SRQ sebagai alat ukur. Gangguan mental emosional merupakan suatu keadaan yang mengindikasikan individu mengalami suatu perubahan emosional yang dapat berkembang menjadi keadaan patologis apabila terus berlanjut. yaitu 21. 1995).68 di bawah ini menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk berumur ≥ 15 tahun.5‰).6%). kelompok yang memiliki pendidikan rendah (paling tinggi pada kelompok tidak sekolah.69 menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional meningkat sejalan dengan pertambahan usia. Prevalensi terendah di Provinsi Sumatera Utara (1. Hasil SKRT yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes tahun 1995.2‰). 118 .4.1% sampai dengan 20.6%. Badan Litbangkes. Riau (5. Pertanyaan-pertanyaan SRQ diberikan kepada anggota rumah tangga (ART) yang berusia ≥ 15 tahun.1%).0%). maka responden tersebut diindikasikan mengalami gangguan mental emosional.0%) dan yang terendah terdapat di Provinsi Kep. Tabel 3. tertinggi pada kelompok umur 75 tahun ke atas (33. tinggal di perdesaan (12. Lima dari 8 penyakit keturunan yang ditanyakan. SRQ memiliki keterbatasan karena hanya mengungkap status emosional individu sesaat (± 2 minggu) dan tidak dirancang untuk diagnostik gangguan jiwa secara spesifik.

9 9.3 11.8 12.5 7.3 10.8 10.8 14.0 9.7 7.1 6.9 13.9 11.1 6.2 9.3 6.4 7.0 12.1 14.8 14.2 16.0 13.7 10.6 119 .68 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Provinsi Gangguan mental emosional 14.Tabel 3.9 13.5 5.3 6.6 12.7 Kabupaten/kota DI Aceh Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Irian Jaya Barat Papua Indonesia *Nilai Batas Pisah (Cut off Point) ≥ 6 11.7 11.5 7.5 9.0 16.5 8.1 20.

4 Kota 12.0 Lainnya Tempat tinggal 10.0 Sekolah 13.0 45-54 15.7 Tidak sekolah 15.1 Kuintil 4 10.3 Desa Tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita 12.0 Tamat SD 9.69 Prevalensi Gangguan Mental Emosional pada Penduduk berumur 15 Tahun Ke Atas (berdasarkan Self Reporting Questionnaire-20)* menurut Karakteristik Responden Karakteristik Responden Gangguan Mental Emosional Kelompok umur (tahun) 8.6 Tidak kerja 8.1 Kuintil 5 *Nilai Batas Pisah (Cut off Point) ≥ 6 120 .9 35-44 12.7 15-24 9.7 75+ Jenis kelamin 9.0 Tamat SD 7.5 Tamat SMA 6.2 65-74 33.8 Tidak tamat SD 12.0 Laki-laki 14.9 Kuintil1 12.Tabel 3.0 Perempuan Pendidikan 21.4 Ibu RT 6.7 Tamat PT Pekerjaan 19.3 Pegawai 9.4 Kuintil 2 11.2 Wiraswasta 11.8 Kuintil 3 11.2 Petani/nelayan/buruh 11.9 55-64 23.0 25-34 9.

riwayat katarak.73 adalah proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir. Sedangkan proporsi penduduk yang mengaku memiliki gejala utama katarak (penglihatan berkabut dan silau) ditambah dengan yang pernah didiagnosis dalam 12 bulan terakhir secara nasional sebesar 17. dan jika visus lebih kecil dari 20/20 dilanjutkan dengan pin-hole. operasi katarak.9% dengan kisaran antara 0. mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding angka nasional. tetapi tidak pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan. Proporsi low vision dan kebutaan cenderung lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding perkotaan. Keterbatasan pada pengumpulan data katarak adalah kemampuan pengumpul data (surveyor) yang bervariasi dalam menilai lensa mata menggunakan alat bantu pen-light. Tabel 3.71 menunjukkan bahwa proporsi low vision makin meningkat sesuai pertambahan umur dan meningkat tajam pada kisaran umur 45 tahun ke atas.8%. diikuti kelompok petani/nelayan/buruh.72 memperlihatkan bahwa proporsi penduduk usia 30 tahun ke atas yang pernah didiagnosis katarak sebesar 1.1% di Provinsi Sulawesi Barat hingga 3. Prevalensi katarak dihitung berdasarkan jawaban responden berusia 30 tahun ke atas sesuai empat butir pertanyaan yang tercantum dalam kuesioner individu. dua kali lipat lebih dibanding kelompok umur 35-44 tahun. tabel 3.2% di DI Yogyakarta hingga 28.72 dan 3. makin rendah tingkat pendidikan makin tinggi proporsinya. Delapan dari 33 provinsi masih memperlihatkan proporsi low vision lebih tinggi dari angka nasional. Prevalensi low vision dan kebutaan dihitung berdasarkan hasil pengukuran visus pada responden berusia enam tahun ke atas.3%.3 Penyakit Mata Data yang dikumpulkan untuk mengetahui indikator kesehatan mata meliputi pengukuran tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen (dengan atau tanpa pinhole). tetapi dilakukan pemeriksaan visus tanpa pin-hole. Data ini 121 .8%). dengan kisaran 10.7% (di Provinsi Papua) hingga 10.4%). sedangkan DG adalah proporsi D ditambah proporsi responden yang mempunyai gejala utama katarak (penglihatan berkabut dan silau).3% (di Provinsi Kalimantan Timur) sampai 2. tetapi terdistribusi hampir merata di semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Proporsi low vision dan kebutaan pada perempuan cenderung lebih tinggi dibanding laki-laki. Keterbatasan pengumpulan data visus adalah tidak dilakukannya koreksi visus. Proporsi kebutaan tingkat nasional adalah sebesar 0. Secara keseluruhan. diikuti peningkatan proporsi kebutaan.8% dengan kisaran antara 1. sehingga proporsi tersebut mungkin tidak mewakili keadaan wilayah provinsi terkait secara keseluruhan. Notasi D pada tabel 3.4. masing-masing hampir 3 dan 1.7% di Provinsi NAD. dengan kisaran 1. dan pemeriksaan segmen anterior mata menggunakan pen-light. riwayat glaukoma. Proporsi low vision tertinggi di Provinsi Bengkulu diikuti oleh Provinsi Sulawesi Selatan (9. Sementara itu proporsi terbesar juga berada pada kelompok penduduk yang tidak bekerja. Proporsi kebutaan tertinggi di Sulawesi Selatan diikuti oleh Provinsi NTT (1. Terdapat 11 provinsi dengan proporsi lebih tinggi dibanding angka nasional.5 kali lipat angka nasional. Tabel 3.1% di Provinsi NTT. Rendahnya proporsi low vision di Papua berkaitan dengan respons rate individu yang rendah.3. Proporsi riwayat operasi katarak didapatkan dari responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak dan pernah menjalani operasi katarak dalam 12 bulan terakhir. Proporsi low vision dan kebutaan pada penduduk berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan.70 menunjukkan bahwa proporsi low vision di Indonesia adalah sebesar 4.6% (di Provinsi Sulawesi Selatan).1% (di Provinsi Bengkulu). sehingga pemakaian lensa intra-okular pada responden yang mengaku telah menjalani operasi katarak tidak dapat dikonfirmasi.

9 0.3 0.4 Indonesia 4.8 0.3 5.7 0.0 4.9 0.menggambarkan rendahnya cakupan diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan secara nasional (1.4 0.5 1.3 1. Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Provinsi Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Low vision* (%) 5.9 *)Kisaran visus: 3/60 < X < 6/18 (20/60) pada mata terbaik **)Kisaran visus <3/60 pada mata terbaik 122 . Tabel 3.8% dari 17.8 4.9 4.6 0.4 2.6 2.0 4.70 Proporsi Penduduk Usia 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.7 Kebutaan** (%) 1.0 1.4 1.4 5.1 3. Gambaran ini juga tampak di seluruh provinsi.5 0.7 9.6 0.6 0.5 4.3% atau hanya 1/10nya).9 10.9 5.9 6.2 3.8 4.1 0.9 2.8 3.4 3.1 3.0 0.7 3.2 4.5 5.6 0.2 2.4 1.6 2.0 0.4 1.8 0.6 0.5 0.3 1.1 1.5 0.4 0.1 0.4 3.2 1.5 0.2 3.5 4.1 2.0 1.7 0.7 3.0 0.5 1.7 3.

2 0.6 Kuintil 2 5.0 13.6 0.8 0.3 0.8 1.0 Wiraswasta 6.6 Tidak tamat SD 4. Kebutaan (Dengan Atau Tanpa Koreksi Kacamata Maksimal) dan Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 6 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ Low vision* (%) 1.1 Lainnya Tipe Daerah 4.1 Laki-laki 5.1 1.4 Perempuan Pendidikan 19.7 Tamat SMA 3.4 1.2 0.1 0.9 0.6 Kuintil 1 4.7 37.8 2.4 Petani/nelayan/buruh 6.7 27.5 Tidak kerja 1.2 0.71 Proporsi Penduduk Umur 6 Tahun Ke Atas menurut Low Vision.7 1.6 Tamat SD 2.3 Ibu RT 2.0 1.8 Jenis kelamin 4.3 0.72 123 .0 Kuintil 4 4.3 0.6 1.3 6.7 Kuintil 5 *)Kisaran visus: 3/60 < X < 6/18 (20/60) pada mata terbaik **)Kisaran visus <3/60 pada mata terbaik Tabel 3.0 Kuintil 3 5.Tabel 3.0 1.1 Tidak sekolah 6.2 Tamat PT Pekerjaan 11.1 Tamat SD 2.0 1.3 0.1 Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 4.8 0.3 0.1 5.7 0.8 2.8 Kebutaan* (%) 0.5 0.3 3.3 Sekolah 5.3 0.7 Pegawai 4.9 1.0 0.2 Perkotaan 5.7 6.1 14.

3 17.7 20.0 23. 124 .5 18.0 1.2 10.3 21.6 1.5 1.1 14.7 2.2 18.0 20. Tabel 3.5 16.6 20.0 19.4 2.8 2.6 2.5 17.3 *)D = proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan dalam 12 bulan terakhir.73 menunjukkan bahwa proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan meningkat sesuai pertambahan usia.4 18.0 2.8 2.7 1.2 12.3 11.7 1.4 2.Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak menurut Provinsi.0 1.2 1. Proporsi katarak menurut umur yang dikelompokkan dengan interval 10 tahun memberikan gambaran adanya kecenderungan peningkatan proporsi katarak untuk tiap kelompok umur kurang lebih dua kali lipat dalam tiap periode 10 tahunan.0 11.5 DG** (%) 27.6 1.6 10.6 15. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D* (%) 3.2 1.4 1.0 20.3 1. **)DG= proporsi responden yang mengaku pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan atau mempunyai gejala penglihatan berkabut dan silau dalam 12 bulan terakhir.0 1.2 1.8 17.0 16.1 28.0 16.9 14.3 1.6 27.3 24.6 28.2 17.1 1.1 1.4 1.1 15.9 1.5 2.5 3.6 1.0 16.4 Indonesia 1.4 1.3 1.2 12.5 13.3 2.3 2.

Proporsi operasi katarak dalam 12 bulan terakhir untuk tingkat nasional adalah sebesar 18% dari penduduk yang pernah didiagnosis katarak oleh tenaga kesehatan.4%) dan tertinggi di Provinsi Papua (91.1%). Tabel 3.1% dengan kisaran terendah di Provinsi Sulawesi Tenggara (21. Berdasarkan pekerjaan dan tipe daerah. proporsi diagnosis katarak pada kelompok penduduk yang tidak bekerja lebih tinggi. Proporsi operasi katarak pada laki-laki cenderung lebih tinggi dibandingkan perempuan. sehingga visus pasca operasi mendekati normal dan hanya sedikit penderita yang memerlukan kacamata pasca operasi. Tampak pula bahwa proporsi gejala katarak cenderung menurun pada tingkat pengeluaran rumah tangga yang lebih tinggi. Seperti halnya low vision dan kebutaan. proporsi operasi katarak terbesar dijumpai pada kelompok yang sedang sekolah dan tinggal di daerah perkotaan. terdapat penumpukan kasus katarak pada tahun terkait (2007) sebesar 82%. Pemberian kacamata pasca operasi katarak bertujuan mengoptimalkan tajam penglihatan jarak jauh maupun jarak dekat. Proporsi terendah ditemukan di Provinsi Papua Barat (5. Secara nasional cakupan operasi ini masih sangat rendah.75 menunjukkan bahwa proporsi operasi katarak makin meningkat sejalan dengan meningkatnyan umur.7%). Proporsi operasi katarak makin meningkat sesuai dengan meningkatnya lama pendidikan.73 Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak 125 . Proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan hampir merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.74 menggambarkann proporsi operasi katarak dan pemakaian kacamata pasca operasi pada penduduk umur 30 tahun ke atas.9%) dan sedikit lebih besar di daerah perkotaan (2. sehingga tidak semua penderita pasca operasi merasa memerlukan kacamata untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Tabel 3.Proporsi katarak berdasarkan riwayat diagnosis cenderung lebih besar pada perempuan (1. Pemakaian kacamata pasca operasi katarak di tingkat nasional adalah sebesar 58.5%). Dari aspek pekerjaan. proporsi diagnosis katarak oleh tenaga kesehatan lebih besar pada penduduk dengan latar pendidikan enam tahun atau kurang dibanding dengan yang memperoleh pendidikan tujuh tahun lebih. Kemungkinan lain adalah hasil operasi katarak yang cukup baik. Proporsi operasi katarak meningkat seiring dengan meningkatnya pengeluaran rumah tangga per kapita. Tabel 3. tetapi tampak bahwa proporsi diagnosis katarak tertinggi ditemukan pada tingkat pengeluaran tertinggi (2%).2%) dan tertinggi di Provinsi Sulawesi Utara (31.

3 3.6 15.0 Kuintil 5 Tabel 3.1 17.4 11.0 9.6 8.8 38.9 51.1 1.9 Kuintil 4 2.2 28.8 41.6 19.74 126 .3 17.9 17.7 18.4 3.6 1.7 17.6 4.1 2. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 30 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Lama Pendidikan < 6 Tahun 7-12 Tahun >12 Tahun Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan 0.4 5.4 1.3 16.2 5.8 Kuintil 3 1.9 2.4 13.1 1.3 0.1 8.3 16.6 18.8 17.5 7.5 19.6 Kuintil 2 1.3 1.8 19.1 D (%) DG (%) Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 1.7 1.6 1.3 1.6 Kuintil 1 1.5 1.Menurut Karakteristik Responden.0 22.2 8.7 1.5 1.

4 49.7 15.7 46.0 26.3 17.8 71.0 50.9 20.2 34.7 27.4 65.1 16.2 12.1 47.9 27.7 Indonesia 18.0 58.5 72.9 10.5 8.2 46.9 13.0 18.0 49.9 27.7 31.3 14.5 70.9 20.5 20.6 22.7 62.2 13.0 50.8 22.0 76.5 20.9 21.0 54.7 63.5 61.1 20.4 65.75 127 .7 91.8 14.6 5.8 Pakai Kacamata Pasca Operasi (%) 55. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Operasi Katarak (%) 13.3 21.1 Tabel 3.0 62.7 81.1 8.0 23.2 18.1 21.4 71.4 47.0 54.1 25.5 90.Proporsi Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Provinsi.9 10.6 11.8 66.8 8.7 66.5 50.9 66.8 43.

4 54 65.3 17 21.7 59.1 59.1 16.3 19.3 18.9 22.2 48 72 59.8 31.6 21.7 14 24.2 11.2 15.5 17.3 78.5 56.4 50.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 128 .2 19.2 13.9 57.2 56.8 64.2 15.9 46.9 72.5 35.2 22.4 19.7 14.7 63.7 60. Riskesdas 2007 Operasi katarak (%) Pakai kacamata pasca operasi (%) Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 30 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 – 74 75+ Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Lama pendidikan ≥ 6 Tahun 7-12 Tahun >12 Tahun Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 13.6 65.4 21.8 18.4 66.5 17.Persentase Penduduk Umur 30 Tahun Ke Atas dengan Katarak yang Pernah Menjalani Operasi Katarak dan Memakai Kacamata Pasca Operasi menurut Karakteristik Responden.2 20.4 52.2 55.5 46.9 18.3 56.9 58.

Analisis untuk dentally fit tidak bisa dilakukan. RTI menggambarkan besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan penumpatan/pencabutan. 129 . 2005 Performed Treatment Index(PTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang ditumpat terhadap angka DMF-T. PTI menggambarkan motivasi dari seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap Required Treatment Index (RTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang karies terhadap angka DMF-T. anak umur 12 tahun mempunyai tingkat keparahan kerusakan gigi (indeks DMF-T) sebesar 1 (satu) gigi. Hasil wawancara dan pemeriksaan gigimulut tersebut dapat terlihat pada tabel-tabel berikut. telah dilakukan berbagai program. protektif. dan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi. karena untuk penilaian CPITN ini diperlukan alat ( hand instrument ) yang spesifik. meliputi data masyarakat yang bermasalah gigi-mulut.3. hilang seluruh gigi asli. penduduk umur 35-44 tahun memiliki minimal 20 gigi berfungsi sebesar 90%. Wawancara dilakukan terhadap semua kelompok umur.4 Kesehatan Gigi Menuju target pencapaian pelayanan kesehatan gigi 2010. perawatan yang diterima dari tenaga medis gigi.1995). Terdapat lima langkah program indikator terkait penilaian keberhasilan program dan pencapaian target gigi sehat 2010. preventif. dan penduduk umur 35-44 tanpa gigi (edentulous) ≤2%. Pemeriksanan ini dilakukan pada kelompok umur 12 tahun ke atas dengan cara observasi (hanya yang terlihat) menggunakan instrumen genggam (kaca mulut) dengan bantuan penerangan senter. baik promotif. Dalam Riskesdas 2007 ini dikumpulkan berbagai indikator kesehatan gigi-mulut masyarakat. Sedangkan pertanyaan tentang perilaku pemeliharaan kesehatan/kebersihan gigiditanyakan kepada masyarakat 10 tahun keatas. baik melalui wawancara maupun pemeriksaan gigi-mulut. kuratif maupun rehabilitatif. Penilaian dan pemeriksaan status kesehatan gigi-mulut dilakukan oleh pengumpuldata dengan latar belakang yang bervariasi. antara lain anak umur 5 tahun 90% bebas karies. yaitu: Sehat/Promotif (Prevalensi) % bebas karies pada umur 5 tahun DMF-T 12 th Rawan (protektif) (Insiden) Expected incidence Kecenderungan DMF-T menurut umur DMF-T 15 th DMF-T 18 th MI CPITN RTI MI Laten/Deteksi dini dan terapi (% dentally Fit) PTI RTI Sakit/kuratif (% keluhan) % dentally fit PTI Cacat/ Rehabilitatif (% 20 gigi berfungsi) % edentulous % protesa • • • Sumber WHO. dan jenis perawatan yang diterima dari tenaga medis gigi. Berbagai indikator telah ditentukan WHO. penduduk umur 18 tahun bebas gigi yang dicabut (komponen M=0). Penilaian untuk kebutuhan perawatan penyakit periodontal Community periodontal index treatment need (CPITN) tidak dilakukan. karena pemeriksaan perlu menggunakan instrumen genggam lengkap.4. penduduk umur 65 tahun ke atas masih mempunyai gigi berfungsi sebesar 75% dan penduduk tanpa gigi ≤5% (WHO.

9 34.8 31.6 22.8 0.7 0.1 26.4 Indonesia 23.7 35.3 31.6 1.1 20.1 1.0 3. Tabel 3.4 21.0 24.5 23.4 29.6 1.1 23.6 30.7 21.9 20.1 19.7 0.4 1.7 23.2 39.Tabel 3.5 24.5 27.0 28.1 24.7 1.9 20.4 19.5 16.6 22.0 25.8 0.5 33.3 25.5 1.2 25.6% yang menerima perawatan atau pengobatan dari tenaga kesehatan gigi.5 0.8 23.0 Hilang seluruh gigi asli 1.1 26. Dari penduduk yang mempunyai masalah gigi-mulut terdapat 29.1 30.4 30.7 1.0 23.3 22.6 0.2 42.9 2.2 2.7 0.2 0.8 25.0 0.4 2.0 2.3 4.76 menggambarkan prevalensi penduduk dengan masalah gigi-mulut dan yang menerima perawatan dari tenaga medis gigi dalam 12 bulan terakhir menurut provinsi.5 2.2 21.6 29.7 19.3 27.0 1.7 2.8 2.7 1.7 18.6 29.1 17.6 130 .1 34.4 37.5 25.2 25.0 23.7 15.2 28.1 26.7 1.9 0.5 22.7 perawatan dari tenaga medis gigi 44.8 36.6% penduduk yang telah kehilangan seluruh gigi aslinya.76 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut menurut Provinsi.4 31.9 21.2 2.2 1. Riskesdas 2007 Menerima Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Bermasalah Gigi – mulut 30. dan terdapat 1.6 20.9 30.1 0.0 39.9 1.5 33. Prevalensi penduduk yang mempunyai masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir adalah 23.4 24.5 25.3 25.4%.5 31.

77 menunjukkan bahwa prevalensi masalah gigi-mulut bervariasi menurut karakteristik responden. Tidak ada pola yang jelas jenis perawatan gigi yang diterima menurut kelompok umur. dan pada kelompok umur 65 tahun ke atas hilangnya seluruh gigi mencapai 17. disusul ‘penambalan/pencabutan/bedah gigi’ (38. DI. Tetapi ada kecenderungan.2%).3%). Kepulauan Riau (19. Data tentang persentase pencabutan/penambalan/bedah mulut pada bayi (<1 tahun) sebesar 10. tetapi mulai kelompok umur 55 tahun prevalensi masalah gigi-mulut menurun kembali.6% Menurut provinsi.. Dapat dilihat bahwa jenis perawatan yang paling banyak diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut. pengobatan paling tinggi di Nanggroe Aceh Darussalam (94. 54 diantaranya mendapat perawatan dan 6 yang mendapat perawatan pencabutan/bedah mulut oleh karena sebab yang tidak diketahui.8% hilang seluruh gigi asli. Tabel 3.Lima provinsi dengan prevalensi masalah gigi-mulut tertinggi. Pada kelompok umur 45-54 tahun sudah ditemukan 1. Sulawesi Barat (11.79 menjelaskan jenis perawatan yang diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir menurut karakteristik responden.1%). Sulawesi Tengah (31. Penambalan/pencabutan/bedah gigi tertinggi di Kepulauan Riau (55.2%).4%).. Sumatera Selatan (17. dan Sumatera Selatan (10. Prevalensi masalah gigi-mulut dan kehilangan gigi asli menunjukkan kecenderungan menurut umur.0%) dan Kepulauan Bangka Belitung (19.0%) dan Bangka Belitung (3. Mulai umur 65 tahun ke atas persentase yang melakukan penambalan / 131 .2%). kecuali dalam hal perawatan/pengobatan gigi.5%).6%). semakin meningkat umur. serta persentase penduduk yang mengalami kehilangan seluruh gigi asli sedikit lebih tinggi di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.8%) dan Kalimantan Selatan (29.5%).9%) dan terendah di NTT (23.6%.9%). Menurut tipe daerah. Prevalensi masalah gigi-mulut dan yang menerima perawatan/pengobatan gigi sedikit lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. prevalensi masalah gigi dan mulut. Lampung (18. jauh di atas target WHO 2010.9%).7%).5%) dan terendah di Maluku Utara (19. Dari yang mengalami masalah gigi-mulut. Provinsi dengan prevalensi gigi-mulut terendah adalah Sumatera Utara (16.3% dan 4.2%). semakin meningkat prevalensi masalah gigi-mulut. Sedangkan yang menerima perawatan/pengobatan gigi tidak menunjukkan pola yang jelas menurut umur. Tabel 3.747 bayi yang diwawancara (orang tuanya). namun terlihat tinggi di Sulawesi Selatan (4. Konseling perawatan/ kebersihan gigi dan pemasangan gigi tiruan lepasan atau gigi tiruan cekat relatif kecil. Semakin tinggi umur. provinsi dengan persentase yang menerima perawatan/pengobatan gigi dari tenaga kesehatan gigi tertinggi di Nanggroe Aceh Darussalam (44. Sulawesi Utara (29. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. yaitu Gorontalo (33.6%.9% (6/54) didapatkan dari 16. semakin besar persentase penduduk yang menerima perawatan/pengobatan gigi. Kesadaran untuk melakukan konseling relatif sedikit di semua provinsi (13. Meskipun prevalensi penduduk yang mengalami hilang seluruh gigi asli terlihat relatif kecil 1. masing-masing sebesar 13. Tabel 3.5%). Aceh (30.9%). Pemasangan gigi tiruan lepas/cekat terlihat tinggi di tiga provinsi yaitu di Kepulauan Riau (12.0%). 175 bayi mempunyai masalah gigi/mulut.3%).78 menggambarkan jenis perawatan yang diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut dalam 12 bulan terakhir menurut provinsi. dan terendah di DKI Jakarta (74. sedangkan menerima perawatan/pengobatan gigi di perdesaan lebih rendah dibandingkan dengan di perkotaan.6%). Prevalensi masalah gigi-mulut ini tidak menunjukkan hubungan dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. semakin besar persentase yang melakukan penambalan / pencabutan / bedah gigi dan pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat. yaitu ‘pengobatan’ (87.1%).

3 30. tidak ada perbedaan persentase pemanfaatan jenis perawatan gigi yang mencolok antara laki-laki dan perempuan.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 22.7 37 25.7 Kuintil-2 23.7 28.3 29.8 1. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kelompok umur ( tahun) <1 1 .5 23.9 26. Pemasangan gigi tiruan sudah ditemui pada kelompok umur anak sekolah dan meningkat seiring dengan bertambahnya umur.1 22.7 0 0 0 0 0 0.5 24.4 1.6 Tabel 3.6 1.3 1.1 27. dan melakukan konseling gigi.7 1.3 Tipe daerah Perkotaan 21.5 Perempuan 24.8 31. yang melakukan pengobatan cenderung menurun. Sebaliknya untuk pengobatan.6 26.5 Kuintil-4 23.8 5. Menurut jenis kelamin.9 Perdesaan 24.1 0.6 1.78 132 .6 20.3 37.4 5 .9 17.6 31. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.8 26.7 32 31. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat dan konseling perawatan gigi lebih tinggi di perkotaan.6 Bermasalah Gigi-mulut Menerima perawatan Hilang seluruh gigi asli Jenis kelamin Laki-laki 22. pemasangan gigi tiruan lepasan.6 1.1 29.77 Prevalensi Penduduk Bermasalah Gigi-Mulut menurut Karakteristik Responden.4 Kuintil-3 23.pencabutan gigi mengalami penurunan. jenis perawatan penambalan/pencabutan gigi.5 30.4 30.5 26.1 28.9 21.6 29.2 28.6 21.4 1.9 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65+ 1.8 1. Menurut tipe daerah.1 6. Tabel 3.7 Kuintil-5 23. sedangkan pengobatan lebih tinggi di perdesaan.4 1. semakin tinggi persentase penduduk yang melakukan penambalan/pencabutan gigi.

9 1.1 39.2 13.3 10.5 10.5 53.2 12.4 9.7 25.6 11.6 12.9 5.7 91.0 1.6 2.1 2.9 43.79 133 .8 9.2 15.0 2.8 34.5 21.6 13.6 92.4 16.2 87.9 11.3 0.6 1.3 4.1 20.1 47.3 84.6 82.1 1.9 4.8 52.4 37.9 1.6 6.4 46.0 3.5 4.0 80.0 Konseling perawatan/ kebersihan gigi 13.7 90.5 35.0 0.2 5.9 2.6 21.5 91.3 6.3 11.3 2.5 2.6 Lain nya 0.7 34.8 0.5 93.8 6.5 42.8 55.5 16.8 9.8 9.6 12.3 85.8 81.0 39.9 4.2 2.8 28.3 2.2 13.6 12.2 Tabel 3.0 2.0 2.3 2.2 Indonesia 87.8 88.8 1.0 2.4 14.1 Penambalan/ Pencabuatan/ bedah gigi 32.7 14.5 2.9 3.2 85.3 22.0 81.9 89.0 1.0 1.0 1.2 40.8 4.3 6.6 5.5 45.9 12.0 2.8 91.9 83.6 87.9 2.2 Pemasangan gigi lepasan / tiruan 4.6 81.7 42.5 4.8 5.5 10.0 43.3 36.9 7.Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan Gigi menurut Jenis Perawatan dan Provinsi.5 88.1 85.7 7.6 86.4 2.9 35.7 89.7 10.2 13.2 85.4 83.5 15.0 2. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tengga Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pengobatan 94.1 4.3 0.6 2.4 14.2 89.1 83.9 4.7 11.2 4.6 21.0 86.3 44.9 32.4 4.3 3.2 2.6 45.9 92.0 4.5 25.2 2.8 23.9 54.0 2.0 37.1 3.9 32.8 42.7 5.1 3.7 20.0 86.6 38.8 18.3 48.3 4.2 36.7 90.5 74.5 3.0 5.

2 4.7 81.2 43.2 12.5 6.4 11.8 12.7 11.7 1.8 2.2 15.6 10.7 86.2 10.0 4.5 90. Sebagian besar penduduk umur 10 tahun ke atas (91.Persentase Penduduk yang Menerima Perawatan/Pengobatan Gigi menurut Jenis Perawatan dan Karakteristik Responden.0 3.4%).0 0.5 4.8 1.5 13.3 2.9 36.1 Konseling perawatan/ kebersihan gigi 6.5 13.2 2.80 134 .6 4. Hal ini mungkin disebabkan kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan gigi-mulut.4 2.6 2. juga adanya wilayah yang masih sulit terjangkau informasi akibat keadaan geografi yang bervariasi.4 9.7%. menggosok gigi yang benar adalah menggosok gigi setiap hari pada waktu pagi hari sesudah makan dan malam sebelum tidur.1 2.9 12.6% dan sebelum tidur malam hanya 28.2 14. Riskesdas 2007 Karakterisktik Responden Pengobatan Penambalan/ Pencabuatan/ bedah gigi Pemasangan gigi tiruan lepasan / gigi tiruan cekat 0.9 9.4 39.5%).7 93.4 3. Proporsi masyarakat yang menggosok gigi setiap hari sesudah makan pagi hanya 12.1 12.5%).1 43.4 4. Tabel 3.1 2.7 1.2 11.7%.3 2.0 88.4 87.8 5.0 2.5 84.6 4.7 39.3 87.0 0. sedangkan yang terendah di Provinsi NTT (74.0 1.4 88.4 4. Tiga provinsi yang mempunyai persentase tertinggi dalam hal menggosok gigi adalah DKI Jakarta (98.4 87. dan Kalimantan Timur (95.5 2.1 88.4 13.3 2.3 14.4 46.7%) dan Papua (58.5 44. dan kapan waktu menggosok gigi dilakukan.4 13.0 89.9 32.2 2.9 87. Jawa Barat (95.4 37.0 1–4 5–9 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65 + Jenis Kelamin Laki – laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 84.2 3.6 32.0 33.80 berikut ini menggambarkan perilaku penduduk umur 10 tahun ke atas yang berkaitan dengan kebiasaan menggosok gigi.0 0.5 88.7 29.3 Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 83.7 13.6 30.8 39. Didapatkan bahwa pada umumnya masyarakat menggosok gigi setiap hari pada waktu mandi pagi dan atau sore 90.7 41.8 2.8 45.2 11.1%) mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari.2 89.8%).2 2.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Tabel 3.4 84.8 16.5 35.5 2.6 7. Untuk mendapatkan hasil yang optimal.6 89.6 14.

Riskesdas 2007 Gosok Gigi setiap hari 87.5 6.0 11.4 2.9 48.3 26.4 89.6 26.7 34.9 14.Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Provinsi.0 94.5 2.8 44.9 1.8 94.6 20.0 95.4 41.6 92.7 32.7 1.0 9.4 13.1 4.9 3. Maluku (26.3 25.1%).0 25.9 2.8 18.8 1.5 94.2 86.3 10.2 17.1 40.0 6.5 90.4%).9 27.3 15.4 28.6 42.5 1.4 91.4 27.5 92.8 2.2 88.2 23.1 31.6 22.7 20.2 26.7 94.9 44.8 92.7 32.9 2.7 88.3 16.4 13.7 89.1 31.0 95.2 95.9 95.7%) dan Sulawesi Tenggara (26.1 18.7 12.9 91.3 17.3 93.3%) .5 95.1 15.4 90.1 2.7 32.0 16.8 9.8 3.7 6.7 1.9 46.9 12.7 Sesudah makan pagi 10.7 13.9 27.9 34.1 11.4 2.9 26.2 2.6 11.0%).8 13.4 28.2 24.3 27.2 9.9 22. Adapun provinsi dengan persentase tertinggi menggosok gigi sebelum tidur malam adalah Kepulauan Riau (50.6 93.5 95.8 2.1 Waktu menggosok gigi Saat Mandi pagi/sore 88.7 19.4 94.9 95.3 80.9 84.7 94.6 28.9 91.2 25.0 38.0 87.9 16.6 9.7 23.0 3.3 5.0 84.3%).3 12.7 74.2 4.7 3.1 58.9 37.7 25.5 96.4 95.4 26.4 3.0 5.3 86.3 97. Bali 135 .2 20.2 1.0 16.8 89.6 Sesudah bangun pagi 27.2 Sebelum tidur malam 20.3 92.0 32.7 48.7 93.5 22.7 31.5 15.7 85.9 50.6 3.6 34.2 24.4 17.9 31.0 88.6 90.8 11. Lampung (5.5 34.7 Lainnya Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 2.9 24.8 92.4 92.3 19.3 94.3 30.8 14.7 92.9 96.4 35.4 4.7 9.7 86.9 89.5 74.5 35.1%) dan Sumatera Utara (6.6 94.3 22.6%).2 94.7 40.0 37.9 92.3 20.5 94. Sulawesi Selatan (48.5 3.3 25.2 90.7 Provinsi dengan persentase tertinggi menggosok gigi setelah makan pagi adalah Papua Barat (30.1 91.0 3.1 42.8 94.2 12.7 1.6 9.7 2.7 3. Sedangkan persentase yang terendah di Provinsi Sumatera Barat (5.0 84.6 31.5 2.8 94.8 15.0 92.8 86.8 42.2 68.5 94.0 98.

81 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Menggosok Gigi Setiap Hari dan Berperilaku Benar Menyikat Gigi menurut Karakteristik Responden.0 Lainnya Karakteristik Responden Kelompok umur ( thn) 10 – 14 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65+ Jenis Kelamin Laki-laki 90.0 27. sedangkan yang terendah Provinsi Lampung (14.dan Kalimantan Selatan masing-masing (44. persentase penduduk menggosok gigi saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.3 10.4 27.0 33.9 3.0 26.0%) dan Jambi (17.3 4.2 25.5 3.0 91.8 90.5%).4%).4 93. persentase penduduk menggosok gigi setiap hari maupun semua jenis waktu menggosok gigi lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.7 13.7 4.5 3.7 27.2 89.3 25. Sedangkan menurut jenis kelamin tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok.8 13.4 27.1 Tipe daerah Perkotaan 95.4 3.9 30.0 11.5 90.6 80.4 3.8 11.9 11.8 25.5 18.9 21. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.7 92.7 89.1 25.0 26.8 13.5 Perdesaan 88. persentase penduduk yang mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya umur.3 Perempuan 91.9 3.9 29.7 92.0 94. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi penduduk yang berperilaku benar dalam menggosok gigi. 136 . hanya kebiasaan menggosok gigi sebelum tidur malam terlihat lebih banyak pada perempuan.6 31.2 58.2 12.6 Sesudah bangun pagi 25.9 3.0 4.8 3.7 10.81 menunjukkan perilaku penduduk dalam menggosok gigi bervariasi menurut karakteristik responden.8 3.3 26.2 11.8 Kuintil 4 92. NTT (16.6 3.0 Kuintil 5 93.6 Menurut tipe daerah.5 28.8 96.2 28.9 96.5 Sesudah makan pagi 11.4 11.3 91.5 91.8 38.1 90. Tabel 3.2 85.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga/kapita Kuintil 1 88.2 26.0 2.6 11.1 30. terutama mulai umur 15 tahun ke atas .3 15. Persentase penduduk menggosok gigi saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Tabel 3.5 26. Menurut umur.4 88.4 24.0 4.3 Kuintil 3 91.9 25..0 90.8 21.3 14.9 Kuintil 2 90.6 38.7 89.8 91.1%). terutama di perkotaan.9 Sebelum tidur malam 25.5 22.5 90.2 28. Riskesdas 2007 Gosok Gigi setiap hari Waktu menggosok gigi Saat Mandi pagi/sore 90.8 13.5 31. Begitu pula menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3 3.

1 7.5 17.9 91.3 94.1 95.2 5.6 8.8 84.82 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Menggosok Gigi menurut Provinsi.0 93.6 11.3 92.2 91.5 15.5 96.6 95.2 97.0 6.2 17.5 92.8 8.8 2.9 92. 137 .9 95.1 92.4 5.Pada Tabel 3.5 7.3 9.4 9.8 2. Dikategorikan berperilaku benar dalam menggosok gigi bila seseorang mempunyai kebiasaan menggosok gigi setiap hari dengan cara yang benar.7 91.7 5.5 3.3 12.4 88.2 97.8 82.9 3.2 8.2 89.8 10.7 Catatan : Berperilaku benar menyikat gigi adalah orang yang menyikat gigi setiap hari dengan cara yang benar (sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam).3 94.7 Tidak 95.9 7.0 10. yaitu dilakukan pada saat sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam.4 91.9 89.5 84.7 5.7 87.3 93.9 4.1 92.7 90.1 8.3 9.2 15.8 91.7 6.1 10.8 94.1 4.1 96.3 Indonesia 7. Tabel 3. Riskesdas 2007 Berperilaku benar menggosok gigi Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Ya 4.5 82.9 7.0 89.82 disajikan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam menggosok gigi.6 90.

3%) dan Sulawesi Tenggara (15.1%).4 92.2 91.7%).83 menggambarkan perilaku benar menggosok gigi menunjukkan variasi menurut karakteristik responden. merupakan penjumlahan dari indeks D-T. persentase perilaku benar dalam menggosok gigi lebih tinggi pada perempuan dibandingkan dengan lakilaki.4 94.8 91.8 94.6 Kuintil-4 7.3%.7 6.6 Perdesaan 5. terutama mulai umur 15 tahun ke atas. Missing/M (gigi dicabut).84 menyajikan komponen DMF-T menurut provinsi.4 Catatan : Berperilaku benar menyikat gigi adalah orang yang menyikat gigi yang benar (sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam). Kepulauan Riau (17.4 Perempuan 8. Provinsi dengan persentase penduduk tertinggi dalam berperilaku benar menggosok gigi adalah Papua Barat (17.5 92. Indeks DMF-T sebagai indikator status kesehatan gigi.5 7.4 94.3 93. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.2 Kuintil-2 5. dan Filling/F 138 . Begitu pula menurut tipe daerah.83 Persentase Penduduk Sepuluh Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Menggosok Gigi menurut Karakteristik Responden.8 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil-1 5. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 10 – 14 Berperilaku benar menyikat gigi Ya Tidak 6.6 96.4 3. Sumatera Barat (2.8 Kuintil-3 6.9%).0 90. ada kecenderungan persentase penduduk berperilaku benar dalam menggosok gigi mengalami penurunan seiring dengan peningkatan umur.0 Tipe daerah Perkotaan 9.5 93. Sedangkan menurut jenis kelamin.9 Kuintil-5 10. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.8 8. dan F-T yang menunjukkan banyaknya kerusakan gigi yang pernah dialami seseorang baik berupa Decay/D (gigi karies atau gigi berlubang).2 8.6 setiap hari dengan cara 15 – 24 25 – 34 35 – 44 45 – 54 55 – 64 65+ Jenis Kelamin Laki-laki 6.4%).7%) dan Jambi (3. Sedangkan yang terendah di Provinsi Lampung (2. Tabel 3.2 94. persentase penduduk berperilaku benar menggosok gigi lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.6 5.5 93. Tabel 3. Menurut umur.1 89.6 92.2 93. semakin tinggi persentase yang berperilaku benar dalam menggosok gigi. Tabel 3. M-T. yaitu 7.Tampak persentase penduduk yang berperilaku benar menggosok gigi masih sangat rendah.

04 1.08 0.01 2.35 1.66 2.38 5.01 6.95 1.04 0.08 4.38 1.05 0. dan Sulawesi Tengah (5.34 4.98 4.37 3.04 1.06 0.25 3.31 1.92 0.02 3.94 3.00 1. F dan Index DMF-T Menurut Provinsi.09 0.18 0.83 5.05 0. yaitu Kalimantan Selatan (6.66 3.08 5.42 1.41 1.08 0.84 4. Jawa Timur (6.50 1.46 4.92 2.05 0.05 0.04 0.83).18 4.28 3.01 2.73 3.34 1.70 3.43 5.52 3.60 3.25 4.89 1.08 0.11 6.96 F-T (X) 0.73 3.52 3.02 0.01 5.21 2.86 0.43 1.53 4.55 3.53 3. Ini berarti rata-rata kerusakan gigi pada penduduk Indonesia 5 buah gigi per orang.08 5.50 1.59 4. DMF-T yang ditemukan pada Riskesdas ini lebih rendah dari temuan SKRT 1995 139 .53 6.93 3. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua D-T (X) 1.04 0.16 0. DI Yogyakarta (6.02 0.38 0.35 1.38).98).69 3.92 4.03 5.05 0.05 Index DMF-T (X) 4. dapat dikatakan rata-rata penduduk Indonesia mempunyai 4 gigi yang sudah dicabut atau indikasi pencabutan.60 4.19 Indonesia 1.71 4. Kalimantan Barat (6.08 0.83%).16 4.44).22 6.11 M-T (X) 3.90 3.61 4.02 0.12 0.04 0.22 3.73 4.27 0.77 0.83 5.05 0.80 1. Komponen yang terbesar adalah gigi dicabut/M-T sebesar 3.00 1.68 1.86.08 0.02 5. Indeks DMF-T secara nasional sebesar 4.66 4.82 2.05 0.88 1.06 0.43 5.60 3.06 1.92 3.06 0.44 3.39 3.77 1. Tabel 3.25 4.09 0.85.60 2.13 1.05 0.02 0.06 0.19 1.84 3.84 Komponen D.36 1.85 5.84 0.08 0.24 1.47 2.(gigi ditumpat).11 0.35 1.85 DMF-T di lima provinsi sangat tinggi.68 3. M.06 0.27 4.05 4.

12 Kuintil-5 Catatan D-T : Rata2 jumlah gigi gigi berlubang per orang.14 65 + Jenis Kelamin 1. DMF-T : Rata2 jumlah kerusakan gigi per orang (baik yg masih berupa decay. Dikategorikan karies aktif bila memiliki indeks D-T >0 atau karies yang belum tertangani dan mempunyai pengalaman karies bila indeks DMFT >0. DMF-T lebih tinggi pada perempuan dan di perdesaan.02 15 0.24 3.4 dan SKRT 2001 sebesar 5.44 2. dicabut maupun ditumpat).86 menyajikan prevalensi karies aktif dan pengalaman karies penduduk umur 12 tahun ke atas menurut provinsi. (Kristanti dkk.06 Laki-laki 1.14 1.27 buah per orang.87 4.33 0.97 per orang.91 1.16 16.57 0.07 12 0.46).90 0.89 0.91 0.46 18. bahkan pada kelompok umur di atas 65 tahun DMF-T sudah menjadi 18.79 4.74 0.09 Perempuan Tipe daerah 1. F-T : Rata2 jumlah gigi ditumpat.15 4. yang berarti kerusakan gigi rata-rata 18. Tabel 3.41 4.89 4.22 3. 1997 dan Kristanti dkk. hal ini mungkin berkaitan dengan cara dan alat pemeriksaan yang digunakan.55 5.22 3.33 4.90 0. F dan Index DMF-T menurut Karakteristik Responden. Tabel 3.DMF-T hampir sama pada kelompok penduduk dengan semua umur tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.13 0.sebesar 6.24 0.47 0.11 3. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita .41 0.85 di atas menunjukkan jumlah kerusakan gigi meningkat seiring dengan peningkatan umur berdasarkan Indeks DMF-T.14 0.04 18 1.26 3.88 0.07 Kuintil-3 1.08 35 – 44 1.06 Kuintil-2 1.29 4.36 5. Riskesdas 2007 140 .27 3.05 Kuintil-1 1.57 0.85 Komponen D.22 4. Tabel 3. Bahkan komponen yang terbesar adalah M-T (rata-rata gigi dicabut) sebesar 16. Riskesdas 2007 D-T (X) M-T (X) F-T (X) Karakteristik responden Index DMF-T 0. M.06 Perdesaan Tingkat pengeluaran/ kapita 1.27. M-T : Rata2 jumlah gigi dicabut/indikasi pencabutan.92 4.99 0.3.86 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Provinsi.08 Kuintil-4 1.77 Kelompok umur ( tahun) 0. 2002) Tabel 3.13 3.72 0. Pada kelompok umur 35-44 tahun DMFT tinggi (4.90 0.10 Perkotaan 1.13 4.

2 49. Riau (53.4 62.4 64.8 43.0 40.9 76.2 58.1%.8 39.4 48.7 49.0 43.2 68.8%).8%).2 61.1 50.6 75.9 34.4 77.3 37.1 58.1 52.3 Pengalaman karies 62.3 47.3%).0 34.5 86.Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Karies aktif 41.4 50. Dari tabel di atas menunjukkan prevalensi karies sebesar 46. Sulawesi Utara (82.1 43.1 41. Maluku (54. adalah Bangka Belitung (86.2 Catatan : Orang dengan karies aktif adalah orang yang memiliki D>0 atau Karies yang belum tertangani.9 Indonesia 43.7%) Kalimantan Timur (50. .6 44.8 40.8%).9 54.0 42.2 51. Yogyakarta (52.8 40.8 40.5 68.9 62.5 83.2%).4%.1 71.6 39.1 67. Kalimantan Barat dan Sulawesi Utara (57.9 77. Kalimantan Selatan (84.9%). DI 141 . prevalensi karies aktif tertinggi (lebih dari 50%) ditemukan di Jambi (56.4 67.4 39. Sedangkan sepuluh provinsi dengan prevalensi pengalaman karies tertinggi.0 51.4%).4 75.9 71.5 55.8 65.1 72.3 56.8 77.6 47.1%).3 60. Kalimantan Selatan (50.5 60. Jawa Barat dan Sulawesi Selatan masing-masing 50.0 59.4 67.3%).0 37. Orang dengan pengalaman karies adalah orang yang memilki memiliki DMFT >0.6 30.2 55. Bangka Belitung (50.6 53.5% dan yang mempunyai pengalaman karies sebesar 72.7%). Menurut provinsi.1 70.6%).8 37.6 40.7 55.4 75.9 78. Lampung (54.

5%).6 Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 42.8 68.2 Kuintil-2 43. Riskesdas 2007 Pengalaman karies Karakteristik responden Karies aktif Kelompok umur ( tahun) 12 29..8 67.5 Perkotaan 44.7%).88 142 .6 Kuintil-1 43. ada kecenderungan semakin meningkat umur.7 66. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga.5 64.5 94. Orang dengan pengalaman karies adalah orang yang memilki memiliki DMFT >0. tetapi di perdesaan sedikit lebih tinggi dibandingkan di peran. Prevalensi karies aktif dan pengalaman karies menunjukkan variasi menurut karakteristik responden.5 65 + 32.4 Kuintil-4 42.0 68.88 di bawah ini menyajikan persentase gigi tetap yang ditumpat dan persentase gigi tetap yang karies menurut provinsi.6 68. Pengalaman karies sedikit lebih tinggi pada perempuan dan di perdesaan.4). Maluku (77. Sedangkan prevalensi karies. meningkat sampai umur 35-44 tahun dan menurun kembali pada umur 65 tahun ke atas.6 18 41. Namun prevalensi karies tidak menunjukan pola tertentu pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Menurut kelompok umur. Sedangkan prevalensi karies tidak menunjukkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.3 67.6%) dan Kalimantan Tengah (76.9%). Kalimantan Timur (76.8 35 – 44 53.5 Kuintil-3 44.8 80.8 36. semakin meningkat yang mempunyai pengalaman karies.87.9 Kuintil-5 Catatan : Orang dengan karies aktif adalah orang yang memiliki D>0 atau Karies yang belum tertangani.7 Laki-laki 43.4 Jenis Kelamin 43.Yogyakarta (78.2 50. dan Jawa Timur (76.9%). Dari tabel di atas menunjukkan prevalensi pengalaman karies (DMF-T>0) sedikit lebih tinggi pada kelompok perempuan dan di perdesaan. Tabel 3.1 43.2%).2 65.87 Prevalensi Karies Aktif dan Pengalaman Karies menurut Karakteristik Responden. Kalimantan Barat (78.1 15 36. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin banyak yang mempunyai pengalaman karies. Tabel 3. seperti tersaji pada Tabel 3. Tabel 3.0 66.Jambi (77.5 Perempuan Tipe daerah 42.

4 31.2 1.6 1.9 1. sedangkan nilai PTI tinggi pada umur 18 tahun.1 22. Persentase PTI dan RTI pada tabel 3.4 1.7 19.9 26.0 35.7 1.1 22.3 1.0 70.6 0.8 35.6 79.2 21.6%.2 1.5 26.2 0.4 1.5 32.6 76.3 77.7 27.3 22.Required Treatment Index dan Performed Treatment Index menurut Provinsi.0 71. namun menurun 143 .9 0.1 0.7 22.1 76.5 28.89 menunjukkan variasi menurut karakteristik responden.8 24.7 1.2 79.8 75.7 2.6 32.8 33.9 28.8 68.1 92.4 72.9 1.5 18.8 74.6 29.7 2.2 1.9 71.6 0.1 1.2 0.8 25.7 16.5 69.8 24.7 76.7 3.9 80.8 77.8 102.9 0.8 1.4 1.2 27.6 Dari tabel di atas tampak PTI (motivasi seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap) sangat rendah hanya 1.5 PTI 1. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua RTI 23.2 83.3 20.7 (D/DMF-T)x100% (F/DMF-T)x100% (M/DMF-T)x100% Indonesia 25.0 27.2 35.7 26.2 33.4 8.6 1.9 83. Terdapat 20 provinsi yang angka RTI-nya diatas rerata nasional dan terdapat 18 provinsi yang mempunyai nilai PTI di bawah rerata nasional.4 77.2 MTI 75.1 65.2 76.0 86. mulai umur 15 tahun nilai RTI cenderung menurun seiring meningkatnya umur.6 1.6 88. Menurut umur.6 1.6 4.9 25.6 74.6 81.9 76.2 69.7 91.0 1. sedangkan RTI (besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan penumpatan/pencabutan) sebesar 25.6 67.7 77.8 1.8 19.0 70.2%.0 1.8 19.3 1.

9 28.8 80. Tabel 3.4 78.1 Kuintil-3 25.3 1.3 1. PTI menggambarkan motivasi dari seseorang untuk menumpatkan giginya yang berlubang dalam upaya mempertahankan gigi tetap Required Treatment Index (RTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang karies terhadap angka DMF-T.9 65 + 6.6 Jenis Kelamin Laki-laki 26.1 81.3 1. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi pula nilai PTI. Nilai PTI di perkotaan dua kali lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.90 di bawah ini menyajikan proporsi fungsi gigi normal.8 1.2 80. Sedangkan menurut jenis kelamin. gigi tetap yang hilang semua (edentulous).3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 26.2 80.2 Perdesaan 25.4 2.3 0.6 18 63.6 2.7 Kuintil-4 24.5 79.6 33.3 0.89 Required Treatment Index dan Performed Treatment Index menurut Karakteristik Responden.7 Kuintil-2 26.7 79.2 15 65.4 Tipe daerah Perkotaan 25. tetapi semakin menurun nilai RTI-nya.9 64. RTI pada laki-laki lebih tinggi dan PTI-nya lebih rendah dari pada perempuan.0 1.5 2.8 1. Tabel 3. Tabel 3.0 Catatan: Performed Treatment Index(PTI) merupakan angka persentase dari jumlah gigi tetap yang ditumpat terhadap angka DMF-T.0 Kuintil-5 23.8 1. dan penggunaan protesa pada responden yang umur 12 tahun ke atas menurut provinsi.6 78.90 144 .7 26. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita..8 92. Berarti semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. semakin baik motivasi penduduk untuk merawat kesehatan giginya.0 35 – 44 32. RTI menggambarkan besarnya kerusakan yang belum ditangani dan memerlukan penumpatan/pencabutan.3 1. sedangkan nilai RTI kurang lebih sama. Riskesdas 2007 RTI (D/DMF-T)x100% PTI (F/DMF-T)x100% MTI (M/DMF-T)x100% Karakteristik responden Kelompok umur ( tahun) 12 62.pada umur yang lebih tinggi.4 78.1 1.6 Perempuan 23.

dan Gorontalo (95.6 0.1 91.3 6.9 1.5 4.6 3.5 94.1 86.1 3.0 86.0 93.6 Edentulous 2.4 1.Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi Normal Gigi.0%). Protesa dan Provinsi.0 0. Secara umum 4.2 88. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Fungsi Normal 92. Edentulous.7 10.7 5.7 3.4 2.4 0.9 4.3 3.3 90.0 5.0 0.2 2.6 3.0% sedikit lebih rendah daripada hasil SKRT 2001 (2.0 2.7 0.2 4.6 89.0 91. lebih tinggi daripada hasil SKRT 2001 (86.5 2.5 2.0 1.1 0.6 94.1 4. tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan (4.7 1. (95.9 5.7 1.4 4.8 4.9 11.6 2.2 91.8 88.9 7.3 85.5 88.5 91.0%) dan Keppulauan Riau (3. Proporsi edentulous atau hilang seluruh gigi sebesar 2.3 2.6 12.0 4.7 1.8 5.5%).8 2.0 1.5 91.3 4.4 1.3%) dan Sulawesi Barat (11.9 93.0 92.4 90.0 95.9 91.9 4. tertinggi ditemukan di Kepulauan Riau (12.8 6.0 2.3 95.5 Protesa 4.0 91.3 0.8 9.0 2.5 2. Proporsi penduduk dengan fungsi gigi normal tertinggi di Provinsi Banten (95.7%).9 92.2 2.1 93.1 1.9 2.5% penduduk telah memakai protesa atau gigi tiruan lepas atau gigi tiruan cekat.5 3.3 1.9 2.9 3.0 2.5 2.2 90.1 92.2 84.0 Indonesia 91.0 3.9 94.2%).5 0.9 2.6%).1%).2%).0% penduduk umur 12 tahun ke atas memiliki fungsi normal gigi (mempunyai minimal 20 gigi berfungsi).5 Dari tabel di atas terlihat 91.3 95.2 94.0 2.0 4.7 0.2 93. 145 .

5 1.7 1.4 2. Sedangkan pada usia 65 tahun ke atas hanya 41.91 Proporsi Penduduk Umur 12 Tahun ke Atas menurut Fungsi Normal Gigi.2 2.0 0.0 Protesa 0.3 89.2%.2 90.1 90. masih jauh di bawah target WHO (75%) namun masih lebih tinggi daripada hasil SKRT 2001 (30. Protesa dan Provinsi. Edentulous lebih banyak dijumpai pada perempuan dan lebih tinggi di perdesaan.2%).9 99. Edentulous.9 99. Dari tabel 3. edentulous dan penggunaan protesa bervariasi menurut karakteristik responden.1 5.3 6.0 0.1 2. Proporsi penduduk yang edentulous dan penggunaan protesa meningkat seiring dengan bertambahnya umur.0 4.9 41.0 90. masih jauh di atas target WHO pada tahun 2010 (5%).2 2.6%.4 17.4 91.2 4.9 95.0 Edentulous 0.Proporsi penduduk dengan fungsi normal gigi.3 90. namun penggunaan protesa miningkat seiring dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.2 91.4%). lebih tinggi dari target WHO pada tahun 2010 (90%) dan SKRT 2001 (91. Riskesdas 2007 Karakteristik Fungsi Normal 99. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Adapun proporsi edentulous penduduk umur 65 tahun ke atas sebesar 17.6 1.6 14.3 1.9 4. fungsi normal gigi dan edentulous tersebar merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga.9 Kelompok umur ( tahun) 12 15 18 35 – 44 65 + Jenis kelamin Laki – laki Perempuan Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 146 .3 91.9%.9 89.1 2.4 5.9 5.91 tampak proporsi responden umur 35 – 44 tahun dengan fungsi gigi normal sebesar 95.6 5.7 2.5 5.0 5. Proporsi fungsi gigi normal sedikit lebih tinggi pada laki-laki dibanding dengan perempuan. Tabel 3.9 2.1 0.

laki-laki dewasa 14.809 spesimen darah laki-laki dewasa (>15 tahun).67g/dl.972 spesimen darah perempuan dewasa (>15 tahun) yang tidak hamil. dan anak-anak) dikurangi 1 SD (Χ – 1SD).810 spesimen darah. dan MCHC (mean corpuscular haematocrit concentration).67g/dl. dan 278 spesimen darah ibu hamil. dan ibu hamil 11. MCH (mean corpuscular haematocrit). Telah diperiksa 34. Salah satu hasil biomedis adalah data anemia. anak-anak 12.00g/dl.3. umumnya digunakan nilai-nilai batas normal yang tercantum dalam SK Menkes RI No. MCV (mean corpuscular volume). Pemeriksaan anemia terhadap spesimen darah responden semua umur dilakukan di laboratorium kabupaten/kota setempat.93).92 memperlihatkan hasil pemeriksaan berupa nilai rerata Hb untuk perempuan dan laki-laki dewasa.5. ditetapkan rentang nilai Hb normal versi Riskesdas untuk ke empat kelompok di atas (Tabel 3. Dengan nilai-nilai tersebut di atas dan simpangan baku (standard deviation) untuk masing-masing rerata. Nilai yang diukur adalah kadar Hemoglobin (Hb). Bila menggunakan nilai rerata Hb yang diperoleh dalam Riskesdas.92 1 MCV = Ht/Σ eritrosit MCH = Hb/Σ eritrosit MCHC = Hb/Ht 147 . anak-anak dan ibu hamil di perkotaan menurut provinsi.751 spesimen darah anak-anak (<15 tahun). Tabel 3. Untuk menentukan apakah seseorang menderita anemia atau tidak. dengan perincian 13. 8. Secara nasional diperoleh nilai rerata Hb untuk perempuan dewasa sebesar 13.81g/dl.1 Ke tiga nilai yang terakhir ini diukur untuk menentukan jenis anemia.1 Anemia Data biomedis diperoleh dari pemeriksaan darah vena yang diambil dari 8% responden penduduk perkotaan. yang mungkin dapat memperkirakan penyebab anemia tersebut. yaitu : Hb laki-laki dewasa : >13 g/dl Hb perempuan dewasa : >12 g/dl Hb anak-anak : >11 g/dl Hb ibu hamil : >11 g/dl Seseorang dikatakan anemi bila kadar Hb nya kurang dari nilai baku tersebut di atas. 11. Tabel 3. seseorang dikatakan anemi bila Hb nya lebih kecil dari nilai rerata Hb nasional untuk kelompoknya (perempuan dewasa. laki-laki dewasa. 736a/Menkes/XI/1989.5 Biomedis 3.

53 12.56 14.751 12.25 14.78 12.12 12.67 12.86 12.79 12.53 13.53 14.14 13.58 14.96 12.5 13.54 14.48 13.809 14.48 14.62 13.37 14.25 13.43 12.18 15.49 12.76 12.65 12.76 13.87 12.33 13.Nilai Rerata Kadar Hemoglobin Penduduk Perkotaan menurut Provinsi Riskesdas 2007 Perempuan dewasa Provinsi ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) 13.75 13.97 12.67 278 11.74 14.36 13.54 15.8 14.00 11.48 13.41 12.22 14.972 13.9 13.6 13.66 12.67 8.17 14.07 Anak-anak (< 14 tahun) ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) 13.85 15.06 12.91 13.07 12.45 14.52 15.23 13.02 14.31 12.11 12.16 15.28 12.82 12.05 Laki-laki dewasa ∑ specimen Nilai rerata Hb (g/dl) 14.93 148 .36 14.82 12.06 12.1 12.61 12.15 13.55 12.01 15.27 11.17 12.73 12.44 15.51 14.22 12.74 13.54 11.78 13.13 13.35 13.11 12.79 12.97 12.76 14.69 12.26 12.9 12.17 12.03 14.76 12.1 Ibu hamil ∑ spesimen Nilai rerata Hb (g/dl) NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 288 691 483 73 178 246 229 313 232 48 685 1631 1841 253 2236 327 833 359 184 239 268 295 405 265 157 594 205 86 70 83 95 41 39 168 533 322 39 157 219 221 305 226 57 485 1471 1617 207 1953 307 736 337 160 182 218 253 331 220 125 483 157 75 58 47 70 28 42 115 433 315 41 77 103 175 199 147 20 366 1136 1075 115 1299 169 556 286 170 173 123 181 323 198 123 396 144 57 66 45 57 44 24 1 15 8 1 10 5 2 4 0 0 15 50 37 4 28 5 6 8 4 2 11 11 6 7 1 20 10 0 3 0 3 0 1 Indonesia 13.59 12.63 15.8 14.07 13.8 13.21 14.32 14.79 12.75 12.06 10.81 Tabel 3.83 12.21 14.77 13.

Tampak bahwa secara nasional prevalensi anemia sebesar 14.55 Rerata ± 1SD (g/dl) 11. Prevalensi anemia ditemukan sangat tinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara. menurut provinsi.81 Nilai SD (g/dl) 1. serta 12.84 1. ibu hamil yang menjadi responden biomedis (diambil darahnya) adalah sebanyak 278 orang (tidak tampak dalam Tabel 3. laki-laki dan anak-anak (adjusted for group).67 11.736a tahun 1989.09 – 14.36 Tabel 3.8% untuk anak-anak.1% untuk laki-laki dewasa perkotaan.28 – 14.58 1.95.26 – 13.83 – 16.72 12. menurut provinsi.8% dan 9.0%) menderita anemia. Terdapat 20 provinsi yang mempunyai prevalensi anemia lebih besar dari prevalensi nasional.94).51 11. dapat dilihat pada Tabel 3. 68 orang (24.9% (menurut acuan Riskesdas). Berturut-turut mengacu pada batas nilai normal Riskesdas dan SK Menkes adalah 11.8% (menurut acuan SK Menkes) dan 11. berdasarkan nilai rerata Riskesdas dikurangi 1SD dan berdasarkan nilai baku SK Menkes No.00 14. Tampak bahwa terdapat perbedaan prevalensi anemia menurut kedua acuan baku di atas. Anak-anak dan Ibu Hamil.5%) di antaranya menderita anemia menurut acuan nilai SK Menkes.72 1.25 10.Rentang Nilai Normal Kadar Hemoglobin Perempuan dan Laki-laki Dewasa. 149 . Selanjutnya dari total 33 provinsi.67 12.7% untuk anemia perempuan dewasa perkotaan. Riskesdas 2007 Kelompok Nilai rerata Hb (g/dl) Perempuan dewasa Laki-laki dewasa Anak-anak (< 14 thn) Ibu hamil 13.3% dan 19.94 memperlihatkan prevalensi anemia pada perempuan (tidak hamil) dan lakilaki dewasa serta anak-anak. Prevalensi anemi secara umum. dan menurut acuan nilai Riskesdas 39 orang (14. 12. setelah disesuaikan untuk perempuan.2% dan 13. untuk kedua acuan nilai di atas.

6 13.4 22.5 17.5 24.0 18.8 5.7 38.5 9.2 10.2 14.2 19.9 12.2 12.7 5.6 19.6 8.8 15.8 8.4 2.2 12.8 12.0 19.9 4.0 9.7 11.9 19.5 18.7 5.7 10.9 24.4 18.1 5.5 5.5 17.7 13.7 13.7 18.1 13.8 5.0 31.9 23.2 12.5 12.3 20.9 3.5 14.2 25.3 7.0 10.4 11.6 16.8 14.8 10.0 16.0 16.2 2.3 4.8 13.7 12.1 16.6 18.8 7.4 12.8 9.1 12.4 14.2 7.1 5.5 25.4 19.8 Indonesia 150 .6 5.1 19.8 12.2 17.4 19.4 9.7 11.3 13.1 8.8 7.6 17.4 12.1 17.3 4.8 20.4 9.7 5.1 25.5 7.3 5.0 19.0 17.8 26.2 14.9 20.4 12.5 10.4 8.9 14.6 7.1 34.7 10.5 16.1 3.9 15.1 16.0 8.09g/dl Provinsi Anemia (%) SK Menkes <12g/dl Anemia (%) Riskesdas <11.9 28.4 12.4 15.8 15.2 7.9 8.3 12.9 24.3 14.2 14.8 23.2 12.8 11.1 23.4 11.4 27.3 16.9 31.3 9.7 24.0 14.1 8.7 19.2 17.1 7.3 17.8 28.7 5.4 21.0 8.3 14.7 11.8 26.7 5.3 21.0 13.3 14.5 10.3 17.3 21.6 13.3 16.9 23.5 16.6 13.3 6.8 13.83g/dl NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Anak-anak Anemia (%) SK Menkes <11g/dl Anemia (%) Riskesdas <11. Riskesdas 2007 Perempuan Laki-laki Anemia (%) SK Menkes <13g/dl Anemia (%) Riskesdas <12.3 25.4 10.6 16.4 13.8 5.4 14.3 19.0 29.9 8.5 8.3 10.1 12.8 16.1 9.6 17.0 5.3 9.9 43.4 6.1 26.8 27.6 8.Tabel 3.8 5.1 7.6 9.9 11.6 17.9 8.6 17.6 8.6 10.6 19.7 19.94 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut Provinsi.1 15.6 4.4 11.8 10.9 21.1 13.2 8.9 8.5 12.8 20.5 27.8 10.28g/dl 20.6 6.4 9.6 8.0 12.

9 Indonesia 151 .8 7.1 9.9 11.6 15.5 19.3 9.Tabel 3.0 9.8 12.0 12.1 25.95 Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut Provinsi.4 15.9 13.4 21.6 18.7 14.8 12.8 12.7 14.3 9.9 4.9 14.7 17.9 12.5 23.7 13.8 11.7 10.2 21.2 15.1 9.0 11.2 15.2 13.6 12.1 19.5 6.0 8.6 29.5 9.2 31.1 6.4 22.2 18.3 24.6 16.5 18.6 17.7 14.0 5.9 12. Riskesdas 2007 Prevalensi anemia (%) (disesuaikan menurut kelompok perempuan dewasa.4 10.1 18. Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua laki-laki dewasa dan anak-anak) Menurut SK Menkes Menurut Riskesdas 16.7 10.7 25.6 11.4 16.0 19.9 11.0 10.2 15.1 14.2 19.8 5.0 16.4 17.2 10.6 16.

atau keracunan timbal.2%). Anemia mikrositik-hipokromik. Sedangkan anemia jenis normositik normokromik lebih banyak dijumpai pada laki-laki dewasa. dikenal beberapa jenis anemia2.normokromik biasanya karena penyakit kronis fase awal atau perdarahan akut. juga dilakukan pemeriksaan hematokrit. yaitu : Perempuan : Anemia Mikrositik : Anemia Normositik : Anemia Makrositik : Laki-laki : Anemia Mikrositik : Anemia Normositik : Anemia Makrositik : Perempuan dan laki-laki : Anemia Hipokromik : Anemia Normokromik : Anemia Hiperkromik : MCHC <33 % MCHC = 33 – 36% MCHC >36 % MCV <96 fl (fitoliter) MCV = 96 – 108 fl MCV >108 fl MCV <96 fl (fitoliter) MCV = 96 – 108 fl MCV >108 fl serta kombinasi dari jenis-jenis di atas. eritrosit. anemia mikrositik hipokromik ini lebih besar proporsinya pada anak-anak. Sebaliknya.96 2 Mikrositik = ukuran sel darah merah <normal Normositik = ukuran sel darah merah normal Makrositik = ukuran sel darah merah >normal Hipokrom = warna sel darah merah lebih muda dari normal Normokrom = warna sel darah merah normal Hiperkrom = warna sel darah merah lebih tua dari normal 152 . Jenis anemia pada ibu hamil sebagian besar adalah anemia mikrositik hipokromik (59% dari ibu hamil yang anemia). Jika dibandingkan antara anak-anak dan dewasa. kadar lekosit ibu hamil cenderung lebih tinggi. Tabel 3.Sesuai bentuk dan warna (morfologi) sel darah merah. lekosit dan trombosit (Tabel 3. biasanya karena kekurangan zat besi. Hasil pemeriksaan Ht dan eritrosit ibu hamil cenderung lebih rendah dibanding kelompok dewasa lainnya. Anemia makrositik biasanya karena kekurangan vitamin B12. Selain kadar Hb dan jenis anemia.97). penyakit kronis tingkat lanjut. Anemia normositik. Tabel 3.96 memperlihatkan jenis anemia terbanyak pada orang dewasa dan anak-anak adalah anemia mikrositik hipokromik (60.

9 33.5 – 354.4 193.7 5.1 0 4.9 153 .3 14.2 3.1 4.0 – 40.3 14.8 30.5 1.5 – 4.5 187.9 20.0 – 5.1 59 60.8 31.7 5.8 – 444.2 – 5.6 – 321.2 Anemia Normositik Normokromik 0.9 24.97 Nilai Rerata ± 1SD Hasil Pemeriksaan Hematologi Lain Riskesdas 2007 Hematokrit (%) 31.0 – 10.3 11.1 – 48.0 38.4 70.2 259.7 33.8 – 43.1 6.7 – 11.5 10.8 21.0 29.7 – 39.Proporsi Berbagai Jenis Anemia Pada Orang Dewasa Dan Anak-Anak N Kelompok Anemia* Anemia (%) Mikrositik Hipokromik Perempuan dewasa Laki-laki dewasa Anak-anak Ibu hamil TOTAL 1581 1445 1118 39 4183 59.2 Trombosit (ribu/µl) 221.1 6.2 30.8 4.4 Anemia Makrositik Anemia lainnya *Anemia menurut nilai baku Riskesdas Tabel 3.1 – 342.3 4.3 – 9.2 27.1 – 12.7 – 10.4 – 5.2 – 46.8 KELOMPOK Anak 1 – 4 tahun 5 – 14 tahun Dewasa Laki-laki Perempuan Ibu Hamil Eritrosit (juta/µl) 4.5 Lekosit (ribu/µl) 6.3 – 6.9 174.0 – 379.4 3.

1 4.7 10.98 Prevalensi Anemia Menurut Karakteristik Responden Riskesdas 2007 Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 1-4 5-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Pendidikan Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT Pegawai Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Anemia 27. pekerjaan dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.3 5.2 6. diikuti dengan kelompok usia lanjut (75 tahun ke atas) (17.1 6. semakin tinggi tingkat pendidikan semakin rendah prevalensi anemia.5 8. tertinggi dijumpai pada kelompok usia anak balita yaitu 27.7%.0 11 10 9 7.9 5.6 7.7 9.98 menggambarkan prevalensi anemia berdasarkan kelompok umur.4 6.7 10. makin rendah prevalensi anemia.4 17.5 5.0 6.4 8.6 7. Makin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga.9 6. Tabel 3.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 154 . pendidikan.7%).6 10. kelompok kuintil 1 mempunyai prevalensi anemia tertinggi (11%). tampak bahwa ibu rumah tangga mempunyai prevalensi anemia tertinggi.Tabel 3. Menurut pekerjaan.0 7. Menurut umur. Menurut pendidikan.9 7. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5 6.0 5.

3.5.417 responden dari sampel perkotaan saja. tidak hamil (alasan medis dan etika). Responden dipersiapkan puasa 10 – 14 jam sebelum diambil darah. kecuali pasien yang mempunyai riwayat Diabetes Mellitus (DM) (dikonfirmasi oleh dokter koordinator 155 . kemudian diberi pembebanan glukosa oral 75 gram (300 kalori).2 Diabetes Mellitus Pengambilan darah vena untuk pemeriksaan glukosa darah dilakukan pada responden usia 15 tahun keatas yang berjumlah 24. Kriteria inklusi pemeriksaan glukosa darah adalah usia 15 tahun keatas.

Riskesdas 2007 156 .5% (kira-kira 26% dari total DM). Prevalensi total DM 5. sedangkan terendah di Jambi (4%). Tabel 3.99 Prevalensi TGT. DDM dan UDDM pada Penduduk Perkotaan.7%.9%) . dan Sulut (17. Serum (300 µl) segera diperiksa (< 4 jam) untuk mengetahui kadar glukosa darah menggunakan alat kimia klinis otomatis atau fotometri. diikuti Riau (10. Secara umum prevalensi TGT yang didapat dalam penelitian ini hampir dua (2) kali prevalensi DM. darah didiamkan selama kurang dari 30 menit.99 memperlihatkan prevalensi TGT dan total DM pada penduduk perkotaan Indonesia. DM. Prevalensi DM terendah di Papua (1.8%). Pengambilan darah vena sebanyak 15 cc dilakukan setelah dua (2) jam pembebanan. Setelah diambil.1%). dan persentase responden yang belum mengetahui bahwa dirinya menderita DM – baru terdiagnosis dalam Riskesdas ini – yang dalam laporan ini disebut Undiagnosed Diabetes Mellitus (UDDM).4 %) dan NAD (8. diikuti Sulbar (17. segera disentrifus dan diambil serumnya. Angka total DM merupakan gabungan dari persentase responden yang sudah mengetahui bahwa dirinya menderita DM. diikuti NTT (1. Riskesdas 2007 TGT Penduduk perkotaan Indonesia 10.7% *DDM = Diagnosed Diabetes Melltus (Responden sudah mengetahui dirinya DM) **UDDM = Undiagnosed Diabetes Mellitus (Responden belum mengetahui dirinya menderita DM.6%).3%).2% DDM* 1. Prevalensi DM tertinggi terdapat di Kalimantan Barat dan Maluku Utara (masing-masing 11. Prevalensi TGT tertinggi di Papua Barat (21. yaitu kadar glukosa darah dua jam pembebanan: < 140 mg/dl 140 .8%). tetapi responden yang telah mengetahui dirinya menderita DM (DDM) hanya 1.100 Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu dan Diabetes Mellitus menurut Provinsi di Daerah Perkotaan. diberi makanan cair 300 kalori.5%).2% Total DM*** 5. diikuti NTT (4.tim laboratorium). Untuk menegakkan diagnosis DM dipergunakan rujukan menurut WHO 1999 dan American Diabetic Association 2003.5% UDDM** 4.< 200 mg/dl > 200 mg/dl : Tidak DM : Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) : Diabetes Mellitus (DM) Tabel 3.100 menunjukkan prevalensi TGT dan DM pada penduduk urban Indonesia menurut provinsi.7%). Sisa darah dikirim ke Laboratorium Balitbangkes Jakarta untuk pemeriksaan variabel lainnya. atau dalam laporan ini disebut Diagnosed Diabetes Mellitus (DDM). baru terdiagnosis saat pemeriksaan Riskesdas) ***Total DM = DDM + UDDM Tabel 3. Tabel 3.

6 4.1 4.0 6. demikian juga TGT pada perempuan (11.8 5.101 Prevalensi TGT dan DM Menurut Karakteristik Responden.3 6.8 7. Tabel itu menunjukkan DM dan TGT meningkat sesuai dengan bertambahnya usia.7 Indonesia 10.Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua TGT (%) 12. Riskesdas 2007 157 .8 11.5 4.1 5.2 6.2 17.5 5.1 1.3 8.6 6.3 8.4 11.6 3.7 4.8 5. Menurut jenis pekerjaan.2 5.1 5.6 10. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0%).5 8.7 3. DM lebih banyak dijumpai pada perempuan (6.2 8.101 menggambarkan prevalensi TGT dan DM berdasarkan karakteristik responden.9 6. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok ibu rumah tangga dan tidak bekerja.4 5.8 11.1 3.5 1. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok tidak sekolah dan tidak tamat SD.2 7.7%). Ditinjau dari segi pendidikan.6 10.4 4. prevalensi DM danTGT meningkat sesuai dengan meningkatnya tingkat pengeluaran.4%) dibanding lakilaki (4.3 4.7 Tabel 3.1 10.7 10.4 6.0 4.3 6.7 Total DM (%) 8.1 10.8 13.0 6.8 6.3 3.3 9.3 8.0 7.9 21. Tabel 3.2 5.3 9.0 7.0 8.5 12.0 11.3 9.2 3.2 14.5%) lebih tinggi dibanding lakilaki (8.6 4.7 17.3 7. diikuti pegawai dan wiraswasta.9 12.1 8.9.4 3.6 3.

8% 158 .3 7.3 55 – 64 17.9 2.0 5.4 8.9 5.5 14.0 10.8% 49.9 Tamat SMA 9.4 4.< 200 mg/dl >= 200 mg/dl 17.9 1.5 4.1% 17.5 Kuintil-5 Tabel 3. Tabel 3.9 Kuintil-2 10.4 Tamat SD 9.0 12.9 Wiraswasta 6.0 5. yaitu 75.6 Tidak bekerja 6.9 Tidak sekolah 12.4 Kuintil-3 10.5 4.8 65 – 74 21.8 Tamat PT Pekerjaan 12.1 4.5 13.0 7.5 35 – 44 12.0 Petani/nelayan/buruh 10. setelah dua jam pemberian makanan cair 300 kalori.9 5.7 Ibu rumah tangga 10.7 Perempuan 11.3 Tidak tamat SD 10. atau disebut Diagnosed Diabetes Mellitus (DDM).0 4.9 25 – 34 11.3 5.7 75 ke atas Jenis kelamin Laki-laki 8.8 9.5 Sekolah 11.9 8.9 6.6 6.9% (kadar glukosa > 140 mg/dl).1 Kelompok umur (tahun) 5.3% Kadar Glukosa Darah 140 . Tampak bahwa masih banyak di antara mereka yang kadar gula darahnya tidak terkontrol.0 5.6 Tamat SMP 8.3 Lainnya Tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita per bulan 8.102 Persentase Kadar Glukosa Darah Responden DDM Setelah Dua Jam Pemberian Makanan Cair 300 Kalori.102 memperlihatkan persentase kadar glukosa darah responden yang telh mengetahui dirinya menderita DM.8 5. Riskesdas 2007 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan < 140 mg/dl 33.1% 15.9% 66.8 Kuintil-1 8.6 1.1 Kuintil-4 10.Karakteristik TGT (%) Total DM (%) 0.6 Pegawai 9.8 45 – 54 15.3 15 – 24 6.5 Pendidikan 13.

1 9.3 9.9 9.7 4.2% Tabel 3.3 9.4 7.5 10.1 15.2 DM 4.0 9.103 menunjukkan bahwa prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada yang mempunyai berat badan lebih dan obesitas.3 10.104 menunjukkan prevalensi DM dan TGT kurang lebih sama pada kelompok yang mengkonsumsi sayur buah < 5 dan ≥5 porsi/hari.1% 16. Tabel 3. Tabel 3. juga pada responden dengan obesitas sentral.1 8.0 3. Prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok hipertensi dibandingkan dengan yang tidak hipertensi.103 menunjukkan bahwa prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada yang mempunyai berat badan lebih dan obesitas. Prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok hipertensi dibandingkan dengan yang tidak hipertensi. juga pada responden dengan obesitas sentral.103 Prevalensi TGT dan DM Menurut IMT. Obesitas Abdominal dan Hipertensi Karakteristik Responden IMT Kurus Normal BB lebih Obesitas Obesitas sentral Tidak obesitas sentral Hipertensi Tidak hipertensi TGT 10.104 Prevalensi DM dan TGT Menurut Kebiasaan Makan Sayur Buah dan Aktifitas Karakteristik Sayur Buah > 5 porsi/hari < 5 porsi/hari TGT 10.Total 24.4 DM 3.7 5.1 11.9 5.7 4. prevalensi DM dan TGT lebih tinggi pada kelompok yang mempunyai aktifitas fisik kurang Tabel 3.4 Perut Hipertensi Tabel 3.7 Aktifitas Fisik Cukup Kurang 159 .3 15.0 4.3 16.1 12. Menurut aktifitas fisik.7% 59.

1 Cedera Kasus cedera Riskesdas 2007 diperoleh berdasarkan wawancara. Ditemukan prevalensi kecelakaan transportasi di darat antara 14. kecelakaan transportasi darat dan terluka benda tajam/tumpul. lutut dan tungkai bawah. Yang dimaksud cedera dalam Riskesdas 2007 adalah kecelakaan dan peristiwa yang sampai membuat kegiatan sehari-hari responden menjadi terganggu.6%.2% terdapat di Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Papua 4. diperoleh prevalensi cedera secara keseluruhan antara 3.8%. menunjukkan angka prevalensi tertinggi sekitar 5. Adapun untuk prevalensi terluka karena benda tajam/tumpul paling tinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Tengah 33. Penyebab cedera lain hampir merata di setiap provinsi. Maluku.105 memberikan gambaran bahwa dari 33 provinsi di Indonesia.44. perut dan sekitarnya (perut.8%). Jawa Tengah. dan Papua Barat (10. selebihnya di bawah 10 %.5%.6% dan terendah ditemukan di Provinsi DKI Jakarta 8. tumit dan kaki.1%). bahu dan sekitarnya (bahu dan lengan atas).0%). pergelangan tangan dan tangan.2% kemudian Provinsi DI Yogyakarta 43. DKI Jakarta (10. Papua Barat. Ada 14 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional. Urutan penyebab cedera terbanyak adalah jatuh. Sulawesi Tengah (10.9%). Penyebab cedera yang sedikit menonjol adalah penyerangan. Adapun untuk penyebab cedera jatuh menunjukkan prevalensi meningkat pada umur muda kemudian menurun dan merambat meningkat lagi di umur tua.6 Cedera dan Disabilitas 3. Ada 18 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional.9% dengan rerata 7. siku dan sekitarnya (siku dan lengan bawah).9%. Tabel 3. Sulawesi Barat.1%). Jawa Timur. Ada 11 provinsi yang prevalensi cedera karena jatuh di atas angka prevalensi nasional yaitu DKI Jakarta.6.3.1%).525 orang.0% yang diikuti oleh Provinsi Nusa Tenggara Timur 64. Cedera yang ditanyakan adalah yang dialami responden selama 12 bulan terakhir dan kepada semua umur.9%. Sedang prevalensi yang terkecil terdapat di Provinsi DI Yogyakarta yaitu 45.7% melebihi angka prevalensi Nasional yaitu 20.106 menunjukkan bahwa untuk prevalensi cedera menurut kelompok umur yang menduduki peringkat tertinggi adalah umur 5-14 sekitar 9. sedang yang terendah terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Timur 14. Pembagian katagori bagian tubuh yang terkena cedera didasarkan pada klasifikasidari ICD-10 (International Classification Diseases) yang mana dikelompokkan ke dalam 10 kelompok yaitu bagian kepala. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi Bengkulu 44. Kalimantan Selatan (12. Kelompok umur lainnya hampir merata kecuali pada bayi (kelompok umur < 1 tahun). Tabel 3.0%.punggung.2% di mana reratanya 25. Banten. Responden pada umumnya mengalami cedera di beberapa bagian tubuh (multiple injury). dan Jawa Barat. Rerata penyebab cedera karena jatuh 58. Gorontalo (11. dada.0%).2%).9%. Prevalensi penyebab karena jatuh tertinggi terdapat pada kelompok umur di bawah 14 160 . leher. panggul). Sulawesi Tenggara.8% .3%.4%. Nusa Tenggara Timur.9%) sedangkan yang terendah terdapat pada Provinsi Sumatera Utara (3. Ada 15 provinsi yang prevalensi cederanya di atas angka prevalensi Nasional antara lain Nusa Tenggara Timur (12.1% dan diikuti oleh kelompok 15-24 (9. Jumlah responden yang ditanyakan tentang cedera sebesar 973.8%-12. Prevalensi tertinggi terdapat pada Provinsi Nusa Tenggara Timur (12. Prevalensi jatuh paling besar terdapat di Provinsi DKI Jakarta 67. Sedangkan untuk penyebab cedera yang lain bervariasi tetapi prevalensinya rata-rata kecil atau sedikit.

Prevalensi tertinggi terdapat pada mereka yang tamat perguruan tinggi (50.3%). Tabel 3. Prevalensi cedera yang disebabkan oleh kecelakaan transportasi di darat tertinggi pada mereka yang pegawai (53.0%) dan terendah pada yang bekerja sebagai pegawai 37. Prevalensi penyebab cedera akibat kecelakaan transportasi di darat mengelompok pada umur antara 15 – 54 tahun dan prevalensi yang lebih tinggi (47. Bila dilihat dari jenis pekerjaan. Prevalensi cedera tertinggi karena kecelakaan transportasi di darat terdapat pada kuintil 5 (34.106 juga menampilkan prevalensi cedera menurut tingkat pengeluaran perkapita per bulan.3% di Provinsi Nusa Tenggara Barat.6% di Provinsi Kalimantan Barat. bagian leher 3.7%). bagian lutut dan tungkai bawah 47.9%).6% di Provinsi NAD. Hal tersebut menggambarkan bahwa tidak ada perbedaan besaran prevalensi cedera menurut status ekonomi.2%) dan terendah pada yang tidak sekolah (13. bagian bahu/lengan atas 14. Penyebab cedera karena kecelakaan transportasi di darat meningkat sesuai dengan meningkatnya tingkat pendidikan.4%.8%).7%.4%).5% di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).6%) dan terendah pada ibu rumah tangga (19.5%) dan terluka benda tajam dan tumpul (23. bagian pinggul/tungkai atas 11. Prevalensi cedera yang disebabkan benda tajam atau benda tumpul terdapat pada mereka yang berpendidikan tamat SD (26.2% dan terendah pada pegawai 15.7%). Jika dilihat dari tingkat pendidikan.107 menunjukkan prevalensi tertinggi bagian tubuh yang terkena cedera berdasarkan provinsi sebagai berikut: bagian kepala 18. Namun jika dilihat dari penyebab kecelakaan maka didapatkan bahwa prevalensi cedera karena kecelakaan transportasi di darat terdapat di kota sekitar 30. Penyebab cedera karena jatuh terdapat pada mereka yang masih sekolah (63. Tabel 3. Penyebab cedera yang lain hampir sama pada semua tingkat pendidikan.5%) dan terendah pada yang tamat perguruan tinggi (36. bagian dada 8.9%) terdapat pada kelompok umur 15-24 tahun.0%) dan terendah pada mereka yang tamat perguruan tinggi.5% di Provinsi Kalimantan Selatan.2%) yang diikuti pada mereka yang bekerja sebagai wiraswasta (45. cedera terbanyak pada laki-laki dan penyebab cedera karena kecelakaan transportasi di darat juga terdapat pada laki-laki sedangkan penyebab cedera jatuh dan karena benda tajam terbanyak pada perempuan.4%) sedangkan penyebab cedera tertinggi karena jatuh terdapat pada kuintil 1 (63. Prevalensi cedera karena terluka benda tajam atau tumpul tertinggi pada ibu rumah tangga 32. Prevalensi cedera yang disebabkan benda tajam/tumpul tertinggi terdapat pada kuintil 2 (21. Jika ditinjau dari lokasi tempat tinggal prevalensi cedera tidak ditemukan perbedaan yang berarti antara perkotaan dan pedesaan. bagian pergelangan tangan dan tangan 38. Akan tetapi prevalensi cedera karena jatuh (58.6%) ditemukan pada responden yang bertempat tinggal di desa.8% di Provinsi Nusa Tenggara Barat.3%. Penyebab cedera lainnya merata pada laki-laki dan perempuan.5% di Provinsi Papua. prevalensi cedera merata pada semua tingkat pendidikan hanya sedikit lebih banyak pada responden yang tidak tamat SD. Pada tabel tersebut menunjukkan bahwa prevalensi cedera hampir sama atau seimbang tingkat pengeluaran antara kuintil 1 sampai dengan kuintil 5. Prevalensi tertinggi pada responden yang tidak sekolah (64. diperoleh sebanyak 9. bagian tumit dan kaki 30. 161 . bagian perut/punggung/panggul 14. bagian siku/lengan bawah 29. Secara umum.4% di Provinsi Papua Barat.tahun kemudian di atas 75 tahun. Sedang penyebab cedera karena jatuh berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan yaitu semakin meningkat tingkat pendidikan maka prevalensi jatuh semakin menurun.9% di provinsi Kepulauan Riau.3% cedera terdapat pada mereka yang masih sekolah dan yang terendah pada ibu rumah tangga (4.5% di Provinsi DKI Jakarta.

108 menggambarkan bahwa cedera di bagian kepala. Untuk cedera di dada (3.1%).3%) kebanyakan pada responden yang bermukim di perdesaan.5%. Ada 5 provinsi yang angka prevalensi jenis cedera benturan di atas angka rerata secara Nasional yaitu di Provinsi Sulawesi Selatan. leher seimbang antara perkotaan dan perdesaan.3% terdapat pada Provinsi Sulawesi Tengah. Selanjutnya untuk cedera di bagian pinggul dan tungkai atas kebanyakan diderita oleh kelompok 75 tahun keatas (15.4%. Papua (16. Untuk dicedera di bagian perut kebanyakan pada responden yang tidak sekolah (11. lutut/tungkai bawah.0%).2%. Perbedaan yang agak menyolok terdapat pada cedera di bagian siku/lengan 20. NAD (17. Prevalensi jenis cedera karena benturan tertinggi adalah 47. Ditemukan sebanyak 13 provinsi yang angka prevalensinya di atas 162 .6% dibanding 14. Prevalensi tertinggi 60.2 % yang terdapat Provinsi Kalimantan Barat. Jambi (16. Leher. perut (7.0% dan 20. cedera lainnya hampir berimbang di setiap tingkat pendidikan. Papua Barat (18. siku. Sulawesi Utara (16. kelompok umur 15-24 tahun dan yang dialami oleh kelompok 75 tahun ke atas . Cedera pada pinggul/tungkai atas terbanyak pada ibu rumah tangga 36. Sulawesi Utara.109 memperlihatkan bahwa rerata prevalensi jenis cedera karena benturan adalah 42. bahu.6%). Rerata prevalensi cedera akibat luka lecet sebesar 50. Sekitar 19 provinsi yang prevalensi jenis cedera luka lecet di atas angka rerata Nasional.8%. Ditinjau dari lokasi tempat tinggal responden. masing-masing 12. Rerata prevalensi jenis cedera luka terbuka sebesar 25. leher. dada. hanya prevalensi tertinggi bagian tubuh terkena cedera untuk bahu dan siku pada kuintil 5.9%). dada dan perut menurut tingkat pengeluaran perkapita per bulan menunjukkan bahwa untuk kuintil 1 sampai dengan kuintil 5 terlihat hampir seimbang. (6. Gorontalo. (11.9%).1% . Sedang prevalensi tertinggi cedera pada pinggul terdapat pada kuintil 3 dan cedera pada lutut pada kuintil 4.5%). Jika dilihat dari tingkat pendidikan ditemukan bahwa prevalensi responden yang mengalami cedera di kepala (12.4%).8%. Prevalensi responden yang mengalami cedera di kepala.6%). (15.3%) kebanyakan mempunyai tingkat pendidikan tamat SMA yang diikuti responden yang tamat SMP (11. dada.1%).8%).9%). tumit dan kaki kebanyakan pada laki-laki dibanding perempuan.6%) dan pinggul (6.2%). Prevalensi tertinggi sekitar 33. Adapun untuk cedera di lutut sebagian besar dialami kelompok umur 5-14 tahun (46.9%. Prevalensi bagian tubuh yang mengalami cedera di kepala.8%) terbanyak pada jenis pekerjaan petani/nelayan/buruh sedangkan prevalensi cedera di bagian perut kebanyakan pada ibu rumah tangga (9.1% terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan yang diikuti oleh Provinsi Maluku (46. bahu/lengan atas didominasi oleh kelompok umur < 1 tahun masing-masing sebanyak (50.5%).3%) dan pada mereka yang bekerja sebagai petani/buruh (9. Berdasarkan tabel 3.3%). DI Yogyakarta (16.6%). Maluku.7%).3%).Beberapa provinsi yang prevalensi cedera di bagian kepala dan di atas angka prevlensi Nasional adalah Provinsi Kepulauan Riau (18. dan Papua. prevalensi cedera pada kepala. Prevalensi cedera di bagian siku tertinggi diderita oleh responden yang berusia 15-24 tahun dan kelompok umur 5-14 tahun masing-masing 24. (3. Sedangkan cedera di bagian tangan tertinggi di kelompok 25-34 tahun sebesar 34. Sumatra Selatan (16. perut/punnggung/panggul.7%) dan kelompok umur 1-4 tahun (43.1%).0%) diikuti yang tidak bekerja dan wiraswasta. pergelangan (28.7%).7%). Tabel 3.0%). Prevalensi cedera di kepala tertinggi dialami oleh responden yang bekerja lainnya (13.4%. Untuk cedera di bahu seimbang antara umur < 1 tahun. Cedera pada dada (3. Sedang cedera pada lutut dan tungkai bawah terdapat pada responden yang masih sekolah (43.7%). Selebihnya provinsi-provinsi yang lain prevalensinya di bawah 15%.

Rerata prevalensi jenis cedera luka bakar relatif kecil yaitu 2. Ditemukan sebanyak 14 provinsi yang angka prevalensinya di atas angka rerata Nasional. Menurut kelompok umur.6%.angka prevalensi Nasional.9%.2%. dan lainnya 1. prevalensi luka bakar paling banyak dijumpai pada kelompok umur di bawah satu tahun/bayi (3. keracunan 1.110 menunjukkan jenis cedera berdasarkan karakteritik responden.0%. Kejadian keracunan lebih sering dijumpai pada kelompok umur 75 tahun ke atas. Sebanyak 16 provinsi mempunyai angka prevalensi di atas angka rerata Nasional. Rerata prevalensi jenis cedera patah tulang 4.5%. dan lebih banyak di perdesaan. Tabel 3. Rerata prevalensi jenis cedera yang lain relatif kecil. Tertinggi terdapat pada Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 36. lebih sering pada laki-laki. 163 .0%. Prevalensi tertinggi terdapat pada Provinsi Maluku Utara yaitu 9.8% . Rerata prevalensi jenis cedera anggota gerak terputus (amputasi) 1. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi NAD dan Kepulauan Riau sama-sama 3.5%. Rerata prevalensi jenis cedera terkilir/teregang 20.3%).0%.

1 3.0 0.9 15.8 1.0 0.1 44.4 1.3 0.2 0.1 9.9 0.4 7.8 62.2 1.5 19.4 0.6 0.3 3.2 0.0 0.0 0.0 0.1 53.1 0.0 0.4 0.7 1.6 5.4 3.3 0.3 2.5 8.1 0.9 22.0 0.0 0.1 0.8 3.3 53.1 2.2 0.4 67.4 1.0 0.6 Serangan 2.3 0.9 0.8 9.9 0.0 0.9 1.1 0.0 0.0 0.0 0.5 0.1 0.4 1.7 61.1 0.4 0.0 63.6 0.1 2.7 0.4 31.3 0.8 61.6 0.9 55.1 0.2 0.0 6.0 0.6 1.2 0.3 0.2 0.0 0.0 0.1 50.2 0.1 0.1 Kontak racun 1.7 54.4 0.7 30.9 0.2 0.8 0.6 0.4 0.0 0.2 1.B N.1 0.1 7.1 0.5 0.7 1.1 0.6 56.4 1.7 2.1 56.2 5.0 0.1 0.3 1.2 21.1 0.0 0.3 4.1 25.0 12.1 0.0 3.0 0.4 0.9 4.1 0.0 1.0 0.5 64.2 3.1 0.2 0.4 31.2 1.9 4.5 0.5 darat 35.1 0.2 0.1 0.0 0.6 0.1 0.1 0.0 0.2 radia si 1.1 0.1 0.1 0.0 0.2 0.3 24.4 0.1 0.2 0.3 0.7 4.7 0.0 0.2 0.3 57.2 0.1 0.0 31.0 0.2 3.9 15.7 0.2 0.0 0.2 0.4 0.0 0.1 0.3 0.5 Jatuh 48.5 31.3 15.2 0.1 0.0 0.5 0.1 0.5 1.1 0.7 24.1 0.8 1.0 0.2 0.0 0.0 0.5 7.1 0.8 29.7 9.2 0.2 0.2 0.7 57.1 0.1 0.3 0.0 0.1 0.3 0.7 9.4 12.7 22.8 5.9 7.1 50.8 7.4 9.9 4.0 0.9 2.6 29.8 0.9 0.1 0.5 25.0 1.6 0.0 Sajam /tumpul 18.2 0.2 0.4 0.3 0.0 0.8 24.4 0.5 1.1 0.9 1.8 49.0 0.2 0.0 0.0 14.1 0.2 5.3 0.9 0.7 0.3 0.3 0.4 6.9 laut 0.1 0.9 24.2 0.4 0.3 3.0 0.7 43.9 0.8 0.5 0.0 0.0 0.2 0.1 0.2 30.0 1.1 0.0 0.7 0.0 0.1 Tenggelam 0.6 0.1 0.3 0.2 0.1 0.7 0.6 22.8 1.8 0.9 21.7 1.2 1.7 164 .0 4.3 0.1 10.9 33.3 0.I Y Jatim Banten Bali N.6 1.3 5.1 19.6 Terbakar 2.4 0.5 4.1 0.4 senja ta api 0.2 0.0 0.2 0.2 1.5 0.2 0.8 0.5 1.5 1.2 0.4 0.5 1.6 1.2 0.8 0.8 16.1 0.1 3.0 16.7 1.0 0.0 0.4 1.1 0.3 0.1 0.1 0.0 0.1 55.0 0.4 1.8 17.1 0.5 0.0 0.0 2.0 0.3 0.8 1.1 0.1 53.7 5.3 0.2 1.1 0.4 10.9 3.7 0.0 0.0 0.1 0.3 0.2 0.6 0.3 0.2 Bunuh diri 0.9 0.6 23.8 0.2 60.0 0.6 15.1 0.9 1.9 0.2 0.0 0.0 0.2 0.1 0.0 0.7 0.0 0.4 0.0 0.5 0.5 0.7 14.8 30.4 0.1 4.6 12.1 0.3 25.9 1.1 51.9 1.1 0.6 57.0 0.0 0.3 6.2 0.2 0.3 0.0 27.6 0.0 0.1 0.3 0.1 Komplikasi 0.0 4.0 0.9 0.5 0.0 0.9 4.1 0.7 12.2 0.0 0.0 16.4 0.0 28.0 0.2 15.8 23.7 27.0 0.0 0.6 9.5 11.6 2.T.7 18.1 0.3 64.1 0.0 0.3 0.1 0.8 1.5 0.1 Lainnya 2.2 0.1 0.1 0.0 8.4 21.9 10.2 0.1 0.2 8.0 0.4 0.7 50.2 0.Tabel 3.2 2.4 1.T.0 0.8 0.7 1.2 24.9 30.1 0.2 0.4 29.1 0.0 0.2 8.1 0.2 0.7 32.2 0.2 0.2 2.1 0.5 22.7 3.4 45.4 0.5 0.6 0.3 64.4 0.8 25.3 31.3 5.7 0.6 0.2 30.9 Bencana alam 1.7 0.2 0.2 Asfik0.1 1.8 16.2 0.1 0.4 0.8 1. Riskesdas 2007 Penyebab cedera Karakter si it k R es p o n d e n NAD Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung Ba-Bel Kep.0 0.8 1.7 56.1 0.3 0.2 0.3 0.1 0.2 3.0 0.8 3.1 16.5 0.1 7.1 0.0 0.4 0.4 62.0 1.9 1.9 4.0 0.0 0.8 33.3 0.7 4.7 7.0 0.0 0.2 0.6 58.5 0.1 30.4 57.4 0.0 58.3 1.2 0.4 0.105 Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera Menurut Provinsi.8 17.3 1.1 0.0 0.2 3.9 0.0 0.1 0.2 0.7 19.8 1.2 0.5 0.1 0.4 0.0 4.5 0.0 2.0 0.3 0.0 0.1 9.8 0.0 0.2 2.1 0.2 6.9 20.8 0.6 0.0 0.8 27.2 0.0 0.1 0.5 7.1 0.1 0.3 1.1 0.1 0.1 56.2 udara 1.5 0.3 0.2 35.4 1.6 17.1 0.0 0.T Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Gorontalo Sulbar Maluku Malut Papua Barat Papua Indonesia Cedera 5. Riau DKI Jabar Jaten D.9 1.2 0.7 2.3 58.9 0.1 0.1 1.0 0.0 0.

8 0.2 0.1 0.8 0.5 0.3 45.3 Tamat SMP 7.1 0.1 0.7 75+ 7.8 1.3 senjata api 0.1 0.8 0.4 0.7 36.1 0.3 0.8 19.7 0.2 1.3 34.7 0.4 4.1 0.0 0.9 0.7 0.0 0.3 1–4 7.1 0.1 0.4 5 – 14 9.0 0.1 0.5 0.1 0.3 1.1 0.2 Terradiasi bakar Asfiksia 0.4 Pegawai 6.0 0.4 19.0 0.5 1.1 Tenggelam 0.9 3.5 0.1 0.8 Pekerjaan Tidak kerja 8.3 0.1 0.0 47.5 Lainnya 8.1 21.1 0.9 Tabel 3.6 25 – 34 6.4 58.6 Tamat PT 5.3 26.1 Lainnya 5.5 Petani/nelayan/b 7.5 4.1 0.0 3.9 1.9 0.1 0.1 1.1 0.3 0.2 65 – 74 7.9 24.1 0.4 0.2 4.0 0.2 0.3 1.3 1.3 18.1 0.5 0.1 0.4 0.2 0.5 0.107 Prevalensi Cedera Menurut Bagian Tubuh Terkena dan Provinsi.5 1.0 52.2 0.2 0.7 18.2 0.2 0.9 4.1 0.1 0.8 Kelompok umur (tahun) <1 2.0 0.9 1.2 0.3 0.0 0.6 21.3 0.7 1.4 0.3 28.1 0.6 0.6 0.1 0.0 0.3 0.1 0.6 1.0 1.0 0.3 0.1 0.3 1.1 0.5 0.2 0.0 0.2 0.0 19.1 1.6 3.3 0.1 1.1 0.7 1.8 Wiraswasta 7.5 1.1 0.6 Ibu RT 4.3 0.2 0.4 1.7 30.5 0.9 0.4 27.1 0.7 0.1 Komplikasi medis 0.1 4.0 24.0 0.7 28.2 0.1 0.7 13.5 3.7 1.2 3.2 0.9 20.2 0.8 1.1 1.1 0.1 0.8 0.1 0.0 1.0 0.0 3.6 Kuintil 5 7.9 1.7 0.4 1.5 0.2 0.3 0.0 0.5 53.2 11.1 1.0 0.2 2.4 0.0 49.3 17.0 0.8 29.4 Kuintil 2 7.7 1.1 0.2 0.1 19.6 0.2 0.8 0.1 0.3 1.6 19.1 0.4 4.1 0.4 20.0 4.2 30.1 12.1 0.2 0.5 67.4 0.3 0.7 0.9 4.6 Tamat SMA 6.6 23.1 0.2 4.2 0.3 0.1 0.3 uruh Tempat tinggal Kota 7.1 0.1 0.2 0. Prevalensi Cedera dan Penyebab Cedera menurut Karakteristik Responden.7 54.1 0.1 0.1 0.1 0.3 0.1 0.0 0.2 0.1 1.5 Serangan 0.8 Jenis kelamin Laki-laki 9.4 45 – 54 6.1 0. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Cedera darat laut udara Jatuh Sajam /tumpul 3.0 0.1 0.2 0.7 56.8 4.1 0.5 1.1 0.5 1.2 0.3 56.8 Bencana alam 0.0 1.7 15.6 0.0 0.0 0.106.7 1.1 0.2 0.2 18.9 4.0 1.2 0.6 15 – 24 9.4 1.7 0.2 0.6 78.5 Pendidikan Tidak sekolah 7.1 0.2 0.5 50.1 0.1 0.1 0.3 0.2 0.8 3.8 3.1 0.1 0.2 0.6 0.6 15.6 0.3 0.1 Penyebab cedera Kontak racun 0.0 0.2 0. Riskesdas 2007.1 0.3 0.1 0.7 4.4 Tdk tamat SD 8.6 3.4 0.0 0.2 0.1 1.5 2.6 4.7 4.4 14.3 0.8 19.2 0.5 3.9 87.0 0.5 0.1 0.2 0.0 0.1 63.2 0.6 0.1 0.2 45.0 0.3 1.1 0.2 0.1 0.2 0.6 1.1 0.5 Tingkat Pengeluaran rumah tangga perkapita Kuintil 1 7.1 0.2 0.3 1.3 0.5 28.0 0.2 0.2 0.5 0.1 0.7 32.2 0.1 1.Tabel 3.1 0.2 0.1 0.4 0.8 0.0 0.1 0.9 0.6 0.9 1.0 0.2 1.2 0.9 76.0 3.9 37.9 1.0 0.4 1.6 0.0 0.1 0.1 0.6 1.0 0.5 Perempuan 6.3 0.1 0.1 0.2 28.5 63.1 0.2 15.4 16.4 0.3 0.1 0.0 13.2 0.5 1.0 1.3 0.2 0.1 0. 165 .4 4.5 1.9 57.7 62.0 0.9 1.6 2.6 1.1 0.3 0.0 21.1 3.1 0.5 0.1 0.3 0.9 49.2 0.5 0.2 0.7 1.9 0.2 0.3 4.5 Sekolah 9.2 31.1 36.6 1.1 0.2 0.5 Kuintil 3 7.6 26.2 0.3 40.1 1.8 1.1 0.1 1.3 0.9 31.7 1.6 20.4 19.2 0.3 1.6 25.2 Bunuh diri 0.1 0.4 1.8 58.1 0.2 0.1 0.0 0.2 0.0 0.2 0.3 51.2 1.2 0.2 0.3 0.5 0.1 0.5 0.3 0.4 0.7 3.5 0.3 39.5 46.3 0.1 0.1 0.7 1.4 31.9 19.1 0.4 42.9 37.6 Kuintil 4 7.7 21.3 1.0 0.4 55 – 64 6.1 0.9 3.1 1.4 1.7 59.1 0.5 Desa 7.4 58.8 0.6 42.0 0.3 0.4 1.8 0.1 1.2 41.1 0.0 0.1 0.1 0.2 0.0 0.1 0.3 0.1 1.5 41.1 0.4 42.5 0.2 42.0 0.9 1.7 0.4 1.5 62.3 0.9 25.7 23.5 27.4 22.0 1.5 3.6 0.1 0.2 0.1 0.2 0.1 0.4 88.0 2.2 0.6 Tamat SD 7.4 0.7 0.1 0.1 0.5 0.0 3.0 8.1 0.2 0.7 1.1 0.2 0.5 0.6 35 – 44 6.1 0.2 0.2 0.7 9.1 0.2 0.4 0.6 0.9 64.4 0.

1 7.5 5.7 22.0 3.4 9.1 0.1 1.7 28.7 1.1 1.2 1.0 4.8 21.6 23.4 11.9 8.5 7.6 7.6 39.4 1.1 6.4 4.0 4.7 9.4 5.7 10.6 6.Kepala Karakteristik Responden Leher Dada Perut.1 18.7 8.0 14.5 7.9 10.2 36.5 5.7 15.1 5.0 21.1 6.9 5.6 18.4 7.4 5.3 5.3 12.0 19.8 11.6 5.8 38.3 26.0 15.7 31.9 1.6 7.7 26.5 5.3 23.6 8.7 20.0 4.0 13. punggung.2 7.2 6. lengan Pergelangan bawah benda tangan tangan dan tajam/tumpul Pinggul.9 6.3 37.8 13.7 45.0 1.8 23.5 23.3 6.7 30.7 7.4 21.2 1.2 7.6 15.8 9.5 29.3 5.8 2.2 6.0 16.2 25.0 0.0 17.7 18.2 1.5 4.8 13.9 6.1 8.7 11.2 11.4 43.3 4.4 25.1 22.7 17.1 3.2 4.6 8.2 40.5 43.6 31.1 18.7 7.3 27.7 23.8 1.4 11.6 36.6 6.3 9.2 44.6 3.8 5.3 37.7 29.6 28.4 9.8 14.1 3.1 4.4 9.5 28.0 4.0 1.2 18.7 31.6 2.7 20.3 4.9 35.7 14.4 13.8 28.8 12.8 10.0 36.0 34.3 15.0 5.9 15.4 23.5 10.2 11.5 3.6 5.5 7.0 12.2 5.1 6.4 26.4 2.4 0.0 27.7 21.3 6.6 25.2 3.8 11.4 14.8 20.1 16.5 21.5 16.5 25.5 5.3 6.1 5.3 30.5 3.8 27.3 28.5 32.6 13.4 35.5 5.5 5.9 31.9 13.0 27.5 7.2 1.5 24.5 7.6 10.5 10.9 25.1 7.3 1.3 14.9 11.7 6.1 1.8 35.7 5.0 23.3 13.5 21.2 3.3 36.9 14.1 2.8 22.4 19.1 6.8 6.2 28.3 28.9 30.6 1.1 1.3 8.5 2. lengan atas Bagian Tubuh Terkena Cedera Siku.0 36.4 28.3 4.2 17.6 6.7 25.3 7.7 21.3 8.3 4.5 2.0 33.1 1.2 1.8 26.3 24.3 21.8 2.1 22.9 11.2 1.7 34.6 29.0 23.5 34. panggul Bahu.4 21.6 14.7 13.4 166 .6 16.2 6.3 12.6 5.2 22.7 38.5 9.7 27.5 0. tungkai atas Lutut tungkai bawah dan Bagian dan kaki tumit NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 17.0 2.7 17.0 2.3 5.7 5.3 3.5 45.3 33.2 15.7 2.7 22.7 38.2 2.9 14.9 32.8 23.8 6.5 6.5 24.4 15.6 4.1 3.7 30.9 0.4 25.4 47.8 11.8 1.2 11.0 18.6 17.0 5.1 7.4 21.9 16.6 24.0 21.5 14.6 1.8 26.6 4.6 13.0 3.6 1.1 4.8 6.3 24.6 19.1 7.9 8.7 35.5 27.6 2.8 2.1 37.7 7.8 24.7 10.9 27.9 23.5 1.1 6.8 1.6 9.9 2.2 35.1 11.1 12.5 6.0 0.6 4.1 24.9 5.2 32.0 17.1 15.0 28.4 1.6 9.3 11.7 5.1 34.9 0.9 6.4 27.5 35.7 13.

8 6.8 27.7 37.4 9.6 14.0 29.9 3.1 3.3 1.9 21.0 17.0 1.2 7.0 Tidak tamat SD 10.5 3.5 7.5 3.1 9.3 26.9 26. Riskesdas 2007.0 1–4 26.3 6. Kepala Karakteristik Responden Leher Dada Perut.3 26.9 6.7 10.2 65 – 74 12.5 43.4 33.9 13.5 1.6 9.5 29.0 9.8 23.0 7.4 0.6 5.4 11.6 32.2 9.8 8.3 25.6 36.3 11.2 3.4 3.4 33.4 6.6 6.0 Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 13.7 3.3 5.3 20.4 26.6 2. tungkai atas Lutut tungkai bawah dan Bagian tumit dan kaki Kelompok umur (tahun) <1 50.2 11.2 5.4 21.8 27.6 27.2 20.3 35.7 15 – 24 11.4 28.7 24.1 3.6 Tamat SD 10.8 35.2 1.7 9.0 18.5 1.6 3.2 15.9 37.4 29.4 8.2 2.8 9.3 6.6 38.9 26.6 20.5 8.4 19.6 Pegawai 12.9 Pendidikan Tidak sekolah 11.3 6.4 13.0 6.3 29.8 25 – 34 11.3 3.1 18.1 3. panggul Bahu.9 Petani/nelayan/buruh 10.3 8.4 35.1 Perempuan 11.1 8.8 20.2 1.7 15. punggung.5 25.9 6.6 31.5 32.1 8.3 6.7 11.0 6.Tabel 3.8 28.3 7.4 3.6 18.4 55 – 64 11.108 Prevalensi Cedera Menurut Bagian TubuhTerkena dan Karakteristik Responden.1 22.3 12.3 13.1 17.4 0.6 1.0 6.9 4.5 1.2 24.9 25.5 3.7 8.7 Kuintil 3 13. lengan atas Bagian Tubuh Terkena Cedera Siku.5 1.8 36.7 1.6 14.9 25.9 17.5 2.1 27.9 35.5 25.7 28.9 8.3 9.7 Tamat SMA 12.9 Sekolah 10.9 30.3 26.4 17.1 11.5 Kuintil 2 12.3 3.4 1.0 7.7 5.8 29.0 6.3 43.5 4.3 8.5 6.1 2.3 5.9 31.3 25.0 6.4 Jenis kelamin Laki-laki 14.6 2.0 Kuintil 4 13.2 26.9 5.1 6.2 18.5 1.9 11.6 14.7 Lainnya 13.0 1.6 7.6 6.8 35.0 28.3 7.0 27.9 20.3 1.7 Desa 13.6 3.5 1.1 167 .3 1.6 Tempat tinggal Kota 13.1 11.6 7.9 7.2 1.3 Tamat PT 11.8 6.8 3.7 7.7 11.6 3.2 10.1 6.2 8.1 9.2 9.7 36.5 6.9 26.0 6.4 1.0 25.6 19.5 2.1 27.3 26.3 46.8 45 – 54 11.3 6.5 27.7 9.9 31.8 30.3 10.9 10.1 34.2 27.5 4.1 9.5 1.3 13.6 3.8 23.4 25.1 37.4 9.3 22.8 26.2 Ibu RT 9.6 26. lengan Pergelangan bawah benda tangan tangan dan tajam/tumpul Pinggul.3 20.0 31.9 1.7 9.8 27.3 36.0 26.1 35 – 44 10.5 35.9 7.8 9.9 2.5 3.0 3.3 5.6 24.8 18.2 2.0 21.4 27.4 1.9 3.7 7.2 27.5 6.8 Tamat SMP 11.4 1.9 16.4 18.4 26.4 29.2 Pekerjaan Tidak kerja 12.3 5.3 6.8 12.7 31.8 3.7 4.9 5.5 28.7 24.3 1.9 10.2 3.6 27.4 6.0 7.4 wiraswasta 12.4 17.4 7.0 32.1 27.8 13.6 1.5 7.2 17.4 1.2 8.8 1.5 24.8 26.4 18.5 35.6 11.5 3.1 32.4 1.2 29.2 7.6 3.6 15.8 75+ 14.1 5 – 14 12.9 8.7 24.5 Kuintil 5 13.6 6.1 3.9 1.9 25.

2 Terkilir / teregan g 31.5 59.7 2.0 49.6 54.4 0.4 0.3 3.6 1.6 4.8 2.8 23.6 1.4 47.5 2.8 40.0 0.5 21.6 0.6 42.4 60.3 2.3 1.7 9.4 20.9 55.1 42.1 15.3 .0 37.4 2.2 57.9 0.0 45.0 2.6 0.5 27.4 0.1 30.2 39.6 53.4 0.1 1.1 50.0 1.8 2.9 1.5 30.5 0.9 2.2 35.6 1.5 3.2 0.6 4.4 21.0 18.1 30.2 3.6 0.4 Luka lecet 50.0 0.2 39.5 Tabel 3.2 0.5 38.2 1.6 35.5 5.2 0.6 4.9 2.6 1.9 58.5 0.1 36.2 0.8 45.0 Keracunan 0.7 3.8 3.8 34.2 2.4 9.8 2.7 35.1 7.9 1.5 23.5 Anggota gerak terputus 1.6 1.3 4.9 2.5 56.1 0.9 1.7 20.4 27.2 33.7 .7 1.1 23.2 45.4 28.9 1.7 2.1 1.1 2.1 19.6 3.6 2.3 16.8 2.5 3.8 13.0 0.3 29.9 2.7 39.0 7.2 12.7 1.7 23.5 0.6 1.3 55.4 1.5 18.9 1.7 0.7 47.6 46.2 5.5 58.0 37.4 2.4 0.3 51.7 4.5 0.7 29.6 0.7 4.4 0.6 0.5 0.1 17.4 24.1 14.5 22.1 29.7 21.0 1.2 3.0 0.7 2.0 14.0 Lainnya 1.8 19.2 23.1 21.9 0.7 12.1 24.9 4.3 1.7 7.0 2.3 2.0 30.9 0.5 35.1 1.2 2.9 Patah tulang 8.4 Luka bakar 3.9 40.8 1.0 59.7 0.110 168 .0 3.9 28.8 22.8 3.6 2.1 31.1 19.0 1.6 12.8 2.5 39.7 31.4 1.0 1.7 13.0 1.5 45.5 0.6 2.3 49.0 1.5 0.8 46.6 25.3 1.4 31.6 14.0 28.4 4.0 1.6 0.6 56.3 1.8 1.7 28.4 39.0 2.8 53.2 42.2 39.9 2.2 6.1 22.6 2.2 2.1 15.6 1.5 35.5 0.3 0.8 0.1 2.7 23.6 0.5 13.109 Prevalensi Jenis Cedera Menurut Provinsi.7 4.3 3.Tabel 3.5 0.7 0.3 55.1 52.8 2.0 3.4 1.5 44.4 4.5 20.6 3.9 22.2 29.4 53.2 1.1 4.8 2.0 30.7 0.8 Luka terbuka 23.9 22.0 24.7 35.5 0.0 3.7 1.6 26.4 16.1 29.7 49.9 49.4 0.8 3.2 35.6 3.7 2.2 2.9 11.3 21.0 3.5 20.4 0.8 40.3 0.8 25.2 53.7 19.2 35.5 4.4 24.9 4.7 5.6 4.2 19.1 2.1 7.6 29.5 39.3 2.7 44.3 1.4 39.4 23. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Bentu ran 35.0 2.0 5.5 2.3 1.6 53.6 1.

7 2.6 0.8 2.3 22.5 5.7 27.0 Tamat SD 36.7 37.5 0.5 3.4 2.7 45 – 54 37.2 47.4 Luka bakar 3.7 21.0 1.6 4.2 1.7 Patah tulang 1.1 28.0 2.5 23.7 1.1 0.5 2.2 21.9 5.4 26.2 1.1 1.0 2.5 2.5 21.1 3.2 2.1 4.4 2. teregang 25.1 27.0 0.4 25.4 2.0 Kuintil 5 38.3 Lainnya 40.0 22.6 2.3 62.7 2.4 13.1 23.0 1.8 2.4 46.1 0.6 5.5 2.5 41.3 1.6 1.6 75+ 44.0 0.5 1.6 2.7 26.6 47.0 Tidak tamat SD 36.7 0.6 2.4 5.5 1.7 Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 37.4 2.1 2.8 Tamat SMA 39.9 4.3 0.3 7.4 2.5 51.8 1.3 25.3 0.7 1.8 25 – 34 36.9 20.4 27.1 2.5 5.8 28.3 1.2 0.5 49.8 1.6 1.7 0.4 Pekerjaan Tidak kerja 39.4 21.2 2.5 22.4 Anggota gerak terputus 0.3 6.6 Tempat tinggal Kota 38.6 2.9 51.2 13.1 2.0 Perempuan 36.1 Tamat PT 41.4 4.3 Ibu RT 33.1 3.5 2.7 Pendidikan Tidak sekolah 39.1 1.7 22.4 1.9 2.8 48.3 26.6 20.0 0.8 5.8 1.0 5.2 2.1 27.0 5.1 1.2 2.2 1.9 7.9 0.3 0.7 1—4 39.2 2.8 20.7 33.7 2.2 4.4 4.1 2.5 2.6 2.8 0.8 3.6 22.3 2.4 47.5 1.5 0.6 1.5 25.4 0.8 8.0 20.0 34.3 1.7 Kuintil 4 37.5 58.2 40.4 52.8 29.6 35.3 16.0 13.1 28.4 34.0 3.8 2.4 23.1 5.8 0.6 Kuintil 2 37.3 22.8 0.8 1.4 27.4 0.8 52.4 4.1 24.3 169 .8 Keracunan Lainnya Kelompok umur (tahun) <1 49.0 24.1 6.6 27.9 1.1 2.5 15 – 24 38.3 Kuintil 3 36.5 22.4 1.7 21.5 wiraswasta 39.5 52.8 2.7 3.2 Jenis kelamin Laki-laki 37.8 23.9 25.8 23.8 1.8 3.7 Petani/nelayan/buruh 36.1 50.7 Terkilir.8 22.1 2.Prevalensi Jenis Cedera Menurut Karakteristik Responden.2 31. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Benturan Luka lecet Luka terbuka 3.2 2.1 29.9 25.5 52.4 2.0 1.9 53.4 0.0 2.3 28.3 21.0 1.8 5 – 14 35.1 1.1 23.6 0.5 22.1 2.2 20.9 21.5 30.8 3.1 24.3 0.3 47.0 0.3 20.1 0.3 2.0 23.0 46.7 0.0 31.3 2.1 0.1 61.3 1.8 5.0 1.9 57.2 50.5 4.5 28.2 Desa 36.1 28.6 2.1 22.2 1.9 1.7 0.5 2.7 0.8 2.7 0.8 1.1 32.1 2.1 1.3 35 – 44 36.2 2.2 1.3 2.7 0.3 22.0 51.7 0.3 54.8 65 – 74 40.1 4.0 6.2 2.4 55 – 64 37.4 Tamat SMP 36.9 1.9 1.2 4.7 Pegawai 42.8 Sekolah 36.9 2.5 6.

7 6. Disebut “Bermasalah” bila responden menjawab 3. melakukan aktivitas/gerak atau berkomunikasi.9 6. Dalam analisis.6 5.2 4.3.3 11. Tabel 3.5 5. 2) Ringan. Responden diajak untuk menilai kondisi dirinya dalam satu bulan terakhir dengan menggunakan 20 pertanyaan inti dan 3 pertanyaan tambahan untuk mengetahui seberapa bermasalah disabilitas yang dialami responden.6. Disability and Health (ICF). yaitu “Tidak bermasalah” atau “Bermasalah”.3 8. dan 5) Sangat sulit/tidak dapat melakukan.5 5.8 2.2 10. dengan pilihan jawaban sebagai berikut 1) Tidak ada. merasa nyeri/merasa 170 . 4 atau 5 untuk keduapuluh pertanyaan termaksud. 4) Berat. yaitu 1) Tidak ada. 2) Ringan.9 8. dan 5) Sangat berat. Sembilan pertanyaan terkait dengan fungsi individu dan sosial dengan pilihan jawaban sebagai berikut.8 8.111 Persentase Penduduk Umur 15 tahun ke Atas Yang Bermasalah Dalam Fungsi Tubuh/Individu/Sosial.6 9. Disebut “Tidak bermasalah” bila responden menjawab 1 atau 2 pada 20 pertanyaan inti.8 11. 3) Sedang. 3) Sedang.111 tampak bahwa penduduk umur 15 tahun ke atas yang bermasalah dalam hal penglihatan jarak jauh. penglihatan jarak dekat. penilaian pada masing-masing jenis gangguan kemudian diklasifikasikan menjadi 2 kriteria. bila responden menjawab 3.5 5.7 11. Riskesdas 2007 Fungsi Tubuh/Individu/Sosial Bermasalah* (%) 11. 4) Sulit. individu dan sosial. Tiga pertanyaan tambahan terkait dengan kemampuan responden untuk merawat diri. Sebelas pertanyaan pada kelompok pertama terkait dengan fungsi tubuh bermasalah.2 Status Disabilitas / Ketidakmampuan Status disabilitas dikumpulkan dari kelompok penduduk umur 15 tahun ke atas berdasarkan pertanyaan yang dikembangkan oleh WHO dalam International Classification of Functioning.4 6.2 2.4 atau 5 Dari tabel 3. Tujuan pengukuran ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai kesulitan/ketidakmampuan yang dihadapi oleh penduduk terkait dengan fungsi tubuh. sehingga memerlukan bantuan orang lain.2 Melihat jarak jauh (20 m) Melihat jarak dekat (30 cm) Mendengar suara normal dalam ruangan Mendengar orang bicara dalam ruang sunyi Merasa nyeri/rasa tidak nyaman Nafas pendek setelah latihan ringan Batuk/bersin selama 10 menit tiap serangan Mengalami gangguan tidur Masalah kesehatan mempengaruhi emosi Kesulitan berdiri selama 30 menit Kesulitan berjalan jauh (1 km) Kesulitan memusatkan pikiran 10 menit Membersihkan seluruh tubuh Mengenakan pakaian Mengerjakan pekerjaan sehari-hari Paham pembicaraan orang lain Bergaul dengan orang asing Memelihara persahabatan Melakukan pekerjaan/tanggungjawab Berperan di kegiatan kemasyarakatan *) Bermasalah. berjalan jauh. dengan pilihan jawaban 1) Ya dan 2) Tidak.9 5.

5%.112) Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa prevalensi disabilitas menunjukkan variabilitas menurut karakteristik responden. dan mengenakan pakaian hanya sekitar 3%. Prevalensi disabilitas “Bermasalah” tertinggi ditemukan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (27. Sedangkan provinsi dengan prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” terendah adalah Maluku (1.9%). Bengkulu (2. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” semakin meningkat dengan bertambahnya umur.3%). Kalimantan Timur.112 171 . Dalam menilai status disabilitas kriteria “Bermasalah” dirinci menjadi “Bermasalah” dan “Sangat bermasalah”. dan Sumatera Utara masing-masing 1. Kriteria “Sangat bermasalah” apabila responden menjawab ya untuk salah satu dari tiga pertanyaan tambahan.8% dan “Bermasalah” 19. sedangkan yang terendah pada responden yang sekolah. Sedangkan provinsi dengan prevalensi disabilitas “Bermasalah” terendah adalah di Provinsi Maluku Utara dan Kepulauan Riau yaitu masing-masing sekitar 10%.tidak nyaman.2%).113) Tabel 3.3%. (Tabel 3. Gorontalo (2. Sulawesi Tengah (26. dan napas pendek setelah latihan ringan merupakan disabilitas yang menonjol.7%).4%).2%).4%). Nusa Tenggara Barat (2. Jawa Barat (25.5%).7%). Secara nasional ternyata status disabilitas dengan kriteria “Sangat bermasalah” adalah sebesar 1. Nusa Tenggara Barat (27.6%). Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tidak berbeda menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran perkapita per bulan. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tertinggi terdapat pada responden yang tidak bekerja. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” ternyata bervariasi menurut pekerjaan responden. (Tabel 3. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” tertinggi terdapat di Provinsi Papua Barat (2. Kalimantan Tengah. Sedangkan yang bermasalah dalam hal membersihkan seluruh tubuh. Semakin rendah tingkat pendidikan penduduk ternyata diikuti dengan prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” yang semakin tinggi. dan Sulawesi Selatan (2. Prevalensi disabilitas “Sangat bermasalah” pada perempuan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi disabilitas pada laki-laki.

1 1.113 172 .1 20.9 2.3 12.5 2.7 18. Riskesdas 2007 Status Disabilitas Sangat Bermasalah Bermasalah (%) (%) 2.8 16.8 25.7 21.4 1.4 2.3 1.2 1.7 14.7 1.7 2.0 21.6 12.1 14.1 1.0 2.1 1.0 27.2 1.8 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 1.9 20.5 2.6 1.4 22.9 1.9 10.1 14.3 17.3 1.2 17.1 18.7 1.3 1.4 2.6 21.6 26.0 1.8 19.9 23.1 21.6 15.7 19.7 19.1 27.7 1.5 Tabel 3.Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut Status dan Provinsi.0 15.5 1.4 1.0 10.4 1.7 1.6 10.4 1.9 2.6 23.6 1.8 18.3 2.9 1.9 15.9 1.5 14.

sikap dan perilaku dalam Riskesdas 2007 ditanyakan kepada penduduk umur 10 tahun ke atas.5 23.0 1.4 1.9 25.7 2.4 47.8 18.7 3. Polri) Wiraswasta Petani/Nelayan/Buruh Lainnya Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat Pengeluaran perkapita per bulan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Sangat bermasalah 1.8 1. Riskesdas 2007 Status Disabilitas Karakteristik Kelompok umur: 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun >75 tahun Jenis kelamin: Laki-laki Perempuan Pendidikan: Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan: Tidak bekerja Sekolah Mengurus RT Pegawai (Negeri.9 .0 1.5 1.0 17.7 20.7 26.6 1.8 19.0 4.8 1.2 2.7 30.9 3.2 1.2 1.8 18. Pengetahuan dan sikap yang berhubungan dengan penyakit flu burung dan HIV/AIDS ditanyakan melalui wawancara individu.7 1.0 1.8 1.2 1.8 18.1 30.8 1.3 37.8 7.3 50.1 61.1 19.0 20.8 62.4 10.8 Bermasalah 14.7 Pengetahuan.6 20.5 8.4 21.3 25.8 23.7 5.5 2. Sikap dan Perilaku Pengetahuan.1 1. Swasta.4 2.Prevalensi Disabilitas Penduduk Umur 15 Tahun Keatas Menurut Status dan Karakteristik Responden.2 1.9 19.3 20.7 1.4 31.7 17.1 20.0 29. Demikian juga perilaku 173 .

Juga ditanyakan apakah merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain.2% dengan rerata jumlah rokok yang dihisap 12 batang per hari.7% dan kelompok umur 15-24 tahun sebanyak 17%. mantan perokok atau tidak merokok. Tabel 3. Menurut pendidikan.114 menunjukkan bahwa secara nasional persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok tiap hari 24%. dengan rentang rerata 29% sampai 32%. Pada perokok kadang-kadang. ditanyakan berapa rata-rata batang rokok yang dihisap per hari dan jenis rokok yang dihisap.1%) dan Gorontalo (32. Tabel 3. ditanyakan berapa umur mulai merokok setiap hari dan berapa umur pertama kali merokok.6%).115 menggambarkan perilaku merokok penduduk umur 10 tahun ke atas menurut karakteristik responden. Prevalensi perokok saat ini tertinggi di Provinsi Lampung (34. Bagi mantan perokok ditanyakan berapa umur ketika berhenti merokok. DKI Jakarta dan Jawa Tengah masingmasing 9 batang. Bali (24. kebiasaan buang air besar. termasuk penduduk yang belajar merokok.3%). Hampir separuh (45. Persentase tertinggi ditemukan di Provinsi Bengkulu (29. Tabel 3. Sedangkan persentase terendah dijumpai di Provinsi Maluku (19. diikuti dengan Lampung (28. yaitu yang merokok setiap hari dan merokok kadang-kadang. sedangkan yang paling sedikit adalah Bali. Secara nasional prevalensi perokok saat ini 29. merokok kadang-kadang. Riskesdas 2007 174 . Tabel 3. penggunaan tembakau/ perilaku merokok.5%). Sulawesi Barat (25. pada laki-laki (9. Perokok saat ini adalah perokok setiap hari dan perokok kadang-kadang.4%). dan porsi konsumsi buah dan sayur. Untuk mendapatkan persepsi yang sama.0%).116 menunjukkan perilaku merokok saat ini dan rerata jumlah batang rokok yang dihisap menurut provinsi.9%).6%).7. dan pola konsumsi makanan berisiko. klasifikasi aktivitas fisik. Sedangkan mantan perokok proporsi tertinggi ditemukan pada kelompok umur 75 tahun ke atas (12. perilaku konsumsi buah dan sayur.2%). persentase penduduk merokok tiap hari tampak tinggi pada kelompok umur produktif (25-64 tahun). proporsi tinggi dimulai pada kelompok umur 15-24 tahun (7. Bagi penduduk yang merokok setiap hari. Secara nasional. Sulawesi Selatan (25.higienis yang meliputi pertanyaan mencuci tangan pakai sabun. selanjutnya adalah Kepulauan Riau dan Bangka Belitung masing-masing 16 batang.3%).3%). pada saat melakukan wawancara mengenai satuan standar minuman beralkohol. aktivitas fisik. Sedangkan penduduk kelompok umur 10-14 tahun yang merokok tiap hari sudah mencapai 0. minum minuman beralkohol.5%) dan Maluku (25.8%) dan perdesaan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan.2%).114 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Kebiasaan Merokok dan Provinsi di Indonesia. Tidak tampak perbedaan antara rumah tangga yang tingkat pengeluarannya rendah dan tinggi. Pada penduduk yang merokok. 3. Rerata batang rokok yang dihisap per hari paling tinggi di NAD (19 batang). disusul Bengkulu (34.1 Perilaku Merokok Pada penduduk umur 10 tahun ke atas ditanyakan apakah merokok setiap hari.8%) dan Jawa Barat (26. Provinsi-provinsi yang prevalensinya di bawah angka nasional adalah Provinsi Kalimantan Selatan (24.8%) penduduk laki-laki umur 10 tahun ke atas merupakan perokok tiap hari.9%) 10 kali lebih banyak dibandingkan perempuan (1.8%). Nusa Tenggara Barat. digunakan kartu peraga. proporsi tertinggi dijumpai pada penduduk tamat SMA (26.

3 2.3 25.0 67.8 Nasional 23.7 24.0 3.7 6.8 4.3 6.4 71.1 25.0 2.Perokok saat ini Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Tidak merokok Mantan perokok 2.0 3.6 6.1 20.7 5.1 2.5 5.3 4.6 68.9 19.8 24.0 3.1 4.1 4.5 2.6 7.5 4.5 66.8 73.6 64.3 7.2 22.1 2.8 20.8 2.1 2.9 6.0 6.9 3.0 63.7 64.4 6.3 1.6 5.5 70.4 5.1 19.4 67.2 64.7 64.6 22.8 67.115 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Kebiasaan Merokok dan Karakteristik Responden.3 3.1 2.5 5.5 71.2 23.1 72.2 2.5 5.5 6.5 3.5 5.8 1.7 23.2 3.5 22.5 2.3 3.3 69.4 20.1 20.5 25.9 19.0 5.5 28.9 3.6 6.2 68.0 23.6 5.4 Perokok setiap hari 23.8 65.0 4.2 5.2 21.3 23.1 65.3 64.8 27.6 24.4 4.7 5.4 29.6 5.4 24.5 3.4 67.3 68.8 4.8 26.9 1.3 25.5 3.7 1.8 71.5 2.4 24.9 2.6 3.8 Bukan perokok 68.6 20.8 67.7 65.5 71.5 4.6 69.4 5.0 3.6 4.2 69.2 69.0 Perokok kadangkadang 6. Riskesdas 2007 175 .8 24.1 65.8 2.0 5.0 69.6 24.8 5.1 21.6 71.8 Tabel 3.8 6.9 67.

6 3.7 5.0 9.2 25.4 68.7 4.0 4.4 24.8 28.1 1.9 Tabel 3.0 30.3 6.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 23.6 5.3 5.8 5.9 94.1 67.2 32.9 23.8 5.8 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 45.9 6.7 67.6 68.7 17.5 67.9 Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT 26.0 65.0 Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 21.9 55.8 4.3 1.6 2.2 57.Perokok saat ini Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 0.1 5.6 7.2 6.4 3.6 67.9 1.1 6.2 61.6 69.8 27.0 69.6 4.4 5.1 3.8 1.5 2.6 5.0 97.7 38.4 31.4 5.4 5.3 23.4 3.0 62.4 2.2 23.8 20.7 74.8 9.0 26.4 24.3 29.6 5.9 66.6 55.3 72.7 2.5 54. Riskesdas 2007 176 .3 7.8 3.9 3.4 67.7 2.9 12.3 21.9 23.5 2.8 2.3 5.3 63.3 Tidak merokok Mantan perokok Bukan perokok Perokok setiap hari Perokok kadangkadang 0.6 5.5 5.4 0.8 2.116 Prevalensi Perokok Saat ini dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.

4 13.1 9.8 30.4 31.7 34.3 25.8 29.1 34.0 12.3 13.117 menggambarkan prevalensi perokok saat ini dan rerata jumlah batang rokok yang dihisap per hari menurut karakteristik responden.3 28.7 15. Prevalensi perokok saat ini mulai meningkat pada kelompok umur 15-24 tahun sampai kelompok umur 55-64 tahun.8 9.4 11.Perokok Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Rerata jumlah batang rokok /hari 18.1 31.4 32.9 27.1 10.7 25.5 14.2 25.9 9.5 8.2 30.7 28.9 9.9 14.7 30.5 14.4 13.4 8.0 12. Tabel 3.2 26.2 12.7 13.8 12.2 14 saat ini 29.4 13.0 13.7 27.2 27.2 24.8 32.3 10.5 9.3 10.1 16.5 26.8 Indonesia 29.0 Tabel 3.7 29. kemudian menurun pada umur lebih lanjut.2 28.4 11.9 10. walaupun prevalensi hanya 2%. Riskesdas 2007 177 .3 30.4 14.9 24.4 30.9 30.117 Prevalensi Perokok dan Rerata Jumlah Batang Rokok yang Dihisap Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.0 27.5 12.6 25. Berbeda dengan kelompok umur 10-14 tahun.9 11.1 11.4 29.1 28.8 30. tetapi rerata jumlah batang rokok yang dihisap 16 batang per hari.

3 12.7 Prevalensi perokok saat ini pada laki-laki 11(sebelas) kali lebih tinggi dibandingkan perempuan (berturut-turut 55.6 35.6 30.7 4.0 36.7 12.5 29.3 30.118 menunjukkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia mulai merokok tiap hari.3%.0 24.9 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 29. yaitu 36. Tabel 3.6 11.1 12.5 11.0 27.5 34. Usia mulai merokok tiap hari ini penting diketahui untuk melihat lamanya paparan rokok pada penduduk. Secara nasional persentase usia mulai merokok tiap hari umur 15-19 tahun menduduki tempat tertinggi.4 30.0 37.0 26.1 55.0 38. Tidak tampak adanya perbedaan antara penduduk dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita tinggi dan rendah. tetapi rerata rokok yang dihisap oleh perokok perempuan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki (16 batang dan 12 batang). Riskesdas 2007 Provinsi Usia mulai merokok tiap hari (tahun) 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 ≥30 Tidak tahu 178 .7 11.5 28.6 11.0 29.1 12.6 29.7 15.7 12.4 2.6 34.9 25.7 11.9 12.0 11.6 12.Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Perokok saat ini (%) Rerata jumlah batang rokok /hari 10 12 13 14 13 13 10 13 11.4%).118 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Provinsi.7 33. Prevalensi perokok saat ini lebih tinggi pada penduduk tamat SMA dan penduduk tidak sekolah. Tabel 3. serta di daerah perdesaan.7% dan 4.3 28.

30 kali lebih besar dibandingkan dengan angka nasional (0.8 2.9 2.6 9.8 10.7 39.3 18.0 0.3 1.8 1.2 Indonesia 0.6 10.0 0.8 36.3 4. 19% penduduk umur 10-14 tahun sudah mulai merokok tiap hari pada usia 10-14 tahun.7 36.0 0.0 38.8 14.0 9.6 4.8 24.8 6.5 46.3 5.1 10.6 36.6 2.6 0.6 18.0 13.2 5.4 31.3 46.3 35.0 0. Berdasarkan kelompok umur.4 21.0 0.4 16.2 38.6 9.2 3.7 1.0 0.1 34.5 34.0 0.3 12.8 5.0 18.8 12.2 9.8 37.0 Untuk kelompok usia muda (5-9 tahun).6 28.3 3.1 27.6 29.2 1.3 16.2 7.NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0.3 10.4 24.3 12.4 10.7 3.5 1.0 0.7 3.4 3.4 27.0 0.9 39.9 1.5 29.0 18.0 3.1 3.1 39.3 3.5 40.6 38.2 6.3 33.6 33.9 4.6 33.7 1.0 5.2 30.2 29.2 6.0 2.4 4.6 11.0 24.9 35.4 36.0 0.9 5.3 40.4 6.0 36.3 2.1 14.4 13.6 34.6 19.5 29.0 12.2 8.9 1.2 2.5 3.1 2.5 43.6 36.7 5.4 8.7 3.1%).0 0.3 3.4 5.6 3.7 17.8 36.9 6.1 30.4 13.0 12.1 3.7 24.3 36.0 8.7 15.8 3.0 0.5 28.4 3.4 13.7 2.6 26.1 14.2 5.0 13.0 37.9 5.3 12.0 0.0 0.4 35.8 17.8 11.6 1.0 0.5 4.5 17.4 3.4 3.4 33.5 26.4 20.4 2.2%).5 3.1 2.9 15.8 0.8 2.7 32.4 11.9 4.4% mulai merokok tiap hari pada usia 5-9 tahun.1 9.0 18.5 52.3 13.0 0.5 2.3 1.1 17.0 0.2 39.0 0.5 3.7 18.3 9.8 15.4 0. Tabel 3.6 36.1 34.9 4.1 34.5 17.8 19.9 11.4 1.8 7.5 2. Papua menduduki tempat tertinggi (3.6 5.9 12.0 10.0 0.2 4. Tabel 3.3 2.4 18.4 26.6 4.7 59.0 0.0 33.8 8.5 44.7 1.8 2.119 menunjukkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia mulai merokok tiap hari dan karakteristik responden.2 35.0 39.3 14. bahkan 1.2 3.0 0.3 6.2 0.2 26.1 27.9 4.2 6.9 10.9 12.119 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Mulai Merokok Tiap Hari dan Karakteristik Responden.0 0.7 1.0 7.0 3.0 0.0 0. Riskesdas 2007 179 .7 44.9 17.9 2.4 22.8 6.0 0.0 30.

4 ≥30 2.8 17.3 14.3 6.5 5.0 30.1 0.2 4.9 4.3 29.0 36.5 18.1 0.9 2.3 8.6 22.0 43. Tabel 3.1 3.4 48.1 8.1 0.1 35.6 19.1 3.7 1.5 3.7 9.2 1.0 57.6 9.5 31.2 14.0 32.1 48.9 0.1 0.7 10.0 17.3 0.2 2.7 28.9 19.6 4.2 1.5 4.3 14.4 40.2 180 .1 38.9 29.9 6.1 18.9 35.0 14. Riskesdas 2007 Usia pertama kali merokok/kunyah tembakau (tahun) Provinsi 5-9 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau 0.6 18.2 0.5 16.1 7.3 37.7 21.5 11.0 6.6 15.0 27.4 9.5 16.1 0.0 15.5 4.2 27.4 4.Usia mulai merokok tiap hari (tahun) Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 10-14 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 1.5 10.1 1.1 11.8 4.3 24.7 55.4 8.2 3.9 36.2 0.9 6.8 9.1 0.0 7.3 29.8 20-24 11.3 2.2 4.3 16.9 30.9 55.9 38.2 24.1 16.6 5.5 79.5 21.4 4.0 33.1 0.6 3.5 1.0 3.1 33.6 19.7 7.0 7.1 0.9 0.4 0.0 45.8 1.6 10.0 3.7 10.7 7.4 0.3 22.2 4.3 6.1 0.2 0.0 0.0 1.1 0.5 6.5 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 ≥30 Tidak tahu Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Untuk setiap kelompok usia mulai merokok tiap hari pada umumnya persentase laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan.7 25-29 2.9 29.4 15.0 5.0 21.1 0.1 2.1 0.2 12.120 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Pertama Kali Merokok/Mengunyah Tembakau dan Provinsi di Indonesia.7 34.1 0.2 5.6 18.3 10-14 7.4 4.8 7.9 1.7 4.3 3.0 0.1 24.0 0.9 8.3 44.7 34.2 9.1 16.1 0.2 11. kecuali pada usia 5-9 tahun dan 30 tahun ke atas.8 10.8 43.1 3.2 19.9 10.1 34.4 15-19 26.6 17.6 34.3 Tidak tahu 49.2 0.4 7.9 3.5 4.0 10.8 2.1 4.1 0.1 7.4 3.9 29.6 9.2 15.Tidak tampak perbedaan usia mulai merokok tiap hari dilihat dari tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan.6 0.0 4.1 46.9 2.0 9.8 37.2 35.1 0.7 39.

6 0.6 10.3 34. 181 . Menurut jenis kelamin.9 1.5 33.5 33.4 13.0 50.8 34.9 1.6 4.1 0.8 3.1 13.4 27. Secara nasional.8 8.0 4.3 1.6%) dan Kalimantan Selatan (12.9 9.4 2.2 42.0 11.3 6.9 2. disusul Kepulauan Riau (2.3 3.9%).2 28.9 0.4 39.3 32.1 3.9 22.6 3.8 1.0 27.120 memperlihatkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia pertama kali merokok/mengunyah tembakau.7 1. disusul usia 20-24 tahun (11.8 1.1% yang mulai merokok pada usia 5-9 tahun.1 0.6 2.5 10. DI Yogyakarta dan Sulawesi Tengah masingmasing 1.4 11.4 1.3 28.8%).6 2.1 8.6 43.0 Nasional 1.5 1.5 13.3 0.7 11.2 Tabel 3.4%).7 1.4 1.7%).3 2.6 44.5 6.7 28.2 33.5%) dan Jawa Barat (35.3 11.7 1.0 7.2%).2 1.0 4.3%).7 5.2 40.8 1.8 14.0 9.4 11.9 3.7 3.7 1.3 38.4 11.1 24.121 menggambarkan persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok menurut usia pertama kali merokok/mengunyah tembakau dan karakteristik reponden.4 13.2 8.7 14.9 13. perokok yang mulai merokok pada usia 15-19 tahun tertinggi dijumpai di Bangka Belitung (42.0 12.3 12.9 9.8 2.3 4.8 3.4 33.8 4. Perokok yang mulai merokok pertama kali pada usia 10-14 tahun terbanyak di Provinsi Sumatera Barat (16.4 4.0 10.8 3.6 2.9 2.1 37.2 2.3 0.1 35.1 31.3 10. Menurut provinsi.3 1. Sulawesi Utara (39.8 4.2 3. disusul oleh DKI Jakarta (39.6 2.4 34.2 12.5 32.3 11.7 10. persentase tertinggi usia pertama kali merokok terdapat pada kelompok usia 15-19 tahun (32.8%).9%).6 11.0 13.7 1.2 2.6 2.6 33.3 10. Gorontalo (2.8 39.8 40.9 33.1%).6 32.4 32.6 3. selanjutnya Bangka Belitung (16. Jawa Tengah (13.6 16.9 2.1 14.9 11.7 38.5 3. Usia mulai merokok atau mengunyah tembakau mencakup juga penduduk yang baru pertama kali mencoba merokok atau mengunyah tembakau.9 2.2 1. Tabel 3.1 42.7 0. tetapi ada 5.6 13.5 6.0%).2 59.4 41.8 37.3 51.9 44.9%.5 13.8 4.6 7.0 34.2 31.9 35.3 2.9 1. Sedangkan perokok dengan umur mulai merokok pada umur 5-9 tahun tertinggi di Papua (4.4 2.3 6.6 9.0 8.2 42.3 46.7 4.6 0.1 13.0%).9%).3 4.0 3.0 2.1 39.6 10.5 1.0 22.8 45. Perokok umur 10-14 tahun umumnya mulai merokok pertama kali pada usia 10-14 tahun (31.0 40.7 1.7 3.3 33.9 0.0 0.4 1.5 8.3 12.7 1.1 1.2 8.5 43.6 1. Bangka Belitung. DKI Jakarta (13.1 31.8 10.0 32.1 1.9 35.4 34.8 13.1 2.Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 0.2 7.5 1.0 0.5 12.5 2.5 36.9 2.5 2.1 1.6 26.3 3.6 33.2 1.5 32.7 28.5 12.2 16.6 28.2 1.0%).5 6.9 1.9 1.1 11.2 9.5 1.2 6.

pada umumnya jenis rokok yang diminati adalah kretek dengan filter. Demikian juga rokok linting dan tembakau kunyah. tertinggi dijumpai di Provinsi Sulawesi Tengah (93.124). banyak diminati oleh penduduk berumur 55 tahun ke atas.4%) dan rokok linting (17. Secara nasional. laki-laki lebih dominan pada semua jenis rokok dibandingkan perempuan. kemudian kretek tanpa filter (35. Secara umum jenis rokok yang paling banyak diminati adalah rokok kretek dengan filter (64. persentase mulai merokok tertinggi dijumpai pada kelompok usia 15-19 tahun. penduduk tidak sekolah lebih banyak menggunakan rokok linting atau tembakau kunyah dibandingkan jenis rokok lainnya. Menurut pendidikan. tipe daerah.122 menunjukkan prevalensi perokok yang merokok dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga menurut provinsi. 182 . Menurut kelompok umur. demikian juga halnya menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran per kapita (Tabel 3. 3%). Tabel 3. kecuali pada kelompok umur 55 tahun ke atas kretek tanpa filter merupakan pilihannya. dan tingkat pengeluaran per kapita. dan pada jenjang pendidikan lainnya didominasi oleh penggunaan kretek dengan filter.5%). 85.pendidikan. Menurut jenis kelamin. kecuali penggunaan tembakau kunyah pada perempuan 19 kali lebih banyak dibandingkan laki-laki.123).4% perokok merokok di dalam rumah ketika bersama anggota rumah tangga lain.1%) (lihat Tabel 3. Terdapat 18 provinsi dengan prevalensi di atas angka nasional.

2 10.4 6.3 11.4 10.8 34. Riskesdas 2007 Usia pertama kali merokok/kunyah tembakau (tahun) Karakteristik responden Kelompok umur 10-14 (tahun) 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ 5.1 13.1 7.3 13.6 4.7 6.0 34.5 42.1 1.2 1.7 4.9 38.2 25.6 3.0 0.0 20.9 11.4 7.3 32.2 14.Tabel 3.9 6.9 2.2 Kuintil-3 1.0 0.2 0.0 6.1 10.5 61.3 41.1 3.0 18.5 7.0 0.3 47.2 1.0 31.2 44.9 38.2 9.6 3.9 10.4 30.8 9.2 0.0 4.1 4.6 36.3 13.6 37.3 36.0 40.0 3.5 3.7 13.4 32.8 2.4 0.7 0.6 32.0 4.0 26.8 2.5 1.6 12.8 12.2 25.7 2.4 11.9 63.3 31.5 1.4 5.1 1.0 2.7 13.1 4.4 37.2 Tabel 3.3 1.8 3.3 33.1 32.1 3.4 2.2 31.8 17.3 36.1 1.5 10.5 2.6 1.6 2.7 3.9 10.0 40.3 10.7 10.3 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 ≥30 Tidak tahu Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil-1 1.6 31.8 8.121 Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Usia Pertama Kali Merokok/ Mengunyah Tembakau dan Karakteristik Responden.5 5.2 17.8 12.6 2.2 3.2 53.6 9.4 1.7 1.122 183 .1 12.4 38.9 3.5 4.1 1.2 2.1 55.1 33.2 12.2 14.2 10.4 1.5 33.1 7.7 2.6 2.0 49.3 1.8 19.2 3.0 13.3 2.8 11.3 1.5 38.0 3.1 1.3 30.8 Kuintil-5 1.1 8.5 2.2 Kuintil-2 1.2 59.6 10.5 3.4 1.9 11.9 11.1 10.9 1.5 Kuintil-4 1.2 5.1 32.4 41.3 11.7 1.2 0.4 3.

7 82.8 93.0 84.2 89.4 87.9 91.9 86.4 78.123 184 .7 86.2 89.1 88.3 90.5 91.7 89.1 82.4 86.4 Tabel 3.7 86.4 Indonesia 85.4 79.1 85.4 84.8 80.7 92. Riskesdas 2007 Perokok merokok Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua dalam rumah ketika bersama ART 82.0 88.3 90.2 83.0 83.Prevalensi Perokok Dalam Rumah Ketika Bersama Anggota Rumah Tangga menurut Provinsi.7 83.7 87.1 64.7 77.9 84.3 90.

2 7.2 51.6 0.3 3.2 16.9 21.8 37.9 12.7 0.0 63.9 2.2 70.4 0.5 0.2 20.2 30.7 24.9 26.5 20.6 0.3 7.4 0.6 4.1 46.6 16.0 2.1 3.3 19.4 14.4 0.3 16.6 22.6 55.6 0.2 14.8 55.6 23.8 74.6 8.4 0.7 0.6 25.1 12.1 Lain nya 0.124 185 .6 21.2 0.2 0.8 0. Riskesdas 2007 Jenis rokok yang dihisap Provinsi Kretek dengan filter NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Nusa Tenggara Barat Kalimantan Barat Timur Kalimantan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur Selatan Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Gorontalo Tenggara Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 55.5 4.0 4.3 0.9 43.4 1.7 1.9 0.1 0.6 0.7 0.7 4.1 60.3 0.9 77.0 1.4 0.5 1.5 0.7 0.1 24.5 0.8 14.4 52.9 12.0 15.3 64.9 80.9 14.9 1.5 1.1 4.2 11.2 0.9 6.9 75.2 0.7 0.8 2.9 6.2 Indonesia 64.7 9.8 5.4 22.4 0.9 60.7 0.2 0.9 1.4 25.0 0.7 1.4 5.4 1.0 9.1 1.7 32.3 0.3 2.2 0.8 23.1 0.6 0.3 62.9 1.2 3.3 0.5 Cerutu 0.1 0.3 0.6 59.3 0.7 0.9 1.1 11.7 20.2 21.8 8.0 9.6 0.2 3.0 42.6 1.6 18.2 84.0 1.0 13.Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Provinsi.5 10.6 6.2 0.1 0.7 26.4 0.2 0.1 5.4 14.1 Kretek tanpa filter 38.6 25.3 0.1 33.9 Rokok putih 16.3 76.0 Rokok linting 7.7 59.4 13.4 1.5 20.5 5.2 9.2 0.7 9.3 0.7 1.9 10.7 0.4 1.8 0.7 45.4 1.1 70.0 1.7 57.2 0.2 13.6 0.1 14.7 1.3 55.9 18.8 28.5 1.2 0.4 1.9 67.7 46.1 65.7 10.5 1.9 24.3 0.0 16.9 14.5 1.3 1.5 13.6 3.3 3.9 60.5 35.6 6.3 0.3 72.8 38.4 0.1 0.3 72.7 80.5 0.4 0.5 51.7 24.5 5.8 25.2 0.2 0.4 69.2 0.9 27.7 0.3 14.4 Tabel 3.5 21.2 11.2 0.7 85.4 29.8 85.2 0.9 0.3 75.5 0.5 20.1 3.9 30.5 0.4 0.9 17.8 18.4 0.6 0.4 0.7 Tembakau dikunyah 6.4 31.9 2.6 18.2 0.2 16.0 59.0 6.2 28.8 56.3 10.3 0.0 0.4 0.2 0.5 0.1 0.2 0.1 Cangklong 0.8 82.8 0.0 0.2 0.8 17.0 13.4 12.3 2.4 20.5 0.4 0.3 0.4 46.1 0.9 0.

4 0.8 12.3 2.6 0.6 66.3 16.2 36. Dikategorikan ’kurang’ apabila konsumsi sayur dan buah kurang dari ketentuan di atas.5 0.4 38.7 37. 186 .5 0.3 59.6 68.9 1.6 0.3 14.9 0.6 15.6 0.1 31.8 17.4 0.8 5.2 Perilaku Konsumsi Buah dan Sayur Data frekuensi dan porsi asupan sayur dan buah dikumpulkan dengan menghitung jumlah hari konsumsi dalam seminggu dan jumlah porsi rata-rata dalam sehari.7 66.6 4.0 1.4 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita 3.8 0.1 1.4 0.7 33.8 0.0 37.5 0.8 38.0 5.9 12.5 4.3 60.1 37.6 0.8 4.7.9 17.7 0.6 30.0 63.4 10.8 77.4 0.3 20. Konsumsi buah dan sayur paling rendah terdapat di Provinsi Riau dan Sumatera Barat.8 35.4 0.5 0.6%.5 37.5 51.6 0.0 0.8 0.6 0.2 10.7 28.5 0.5 0.2 70.3 33.9 72.5 19.3 0.7 77.8 11.7 0. Riskesdas 2007 Jenis rokok yang dihisap Karakteristik responden Kretek dengan filter Kelompok 10-14 (tahun) 15-24 25-34 35-44 45-54 55-64 65-74 75+ Kretek tanpa filter 23.6 31.4 0.9% dan 97.2 22.7 0.6 0. masing-masing 97.3 0.3 62.6 0.7 0.6 Rokok putih Rokok linting Cangklong Cerutu Tembakau dikunyah Lain nya umur 73.6 0.Persentase Penduduk Umur 10 Tahun ke Atas yang Merokok menurut Jenis Rokok yang Dihisap dan Karakteristik Responden di Indonesia.7 3.8 35.6 3.4 0.3 0.7 0.2 6.5 18.7 2.9 1.5 24.4 40.7 41.4 9.3 0.5 1.7 18. Penduduk dikategorikan ‘cukup’ konsumsi sayur dan buah apabila makan sayur dan/atau buah minimal 5 porsi per hari selama 7 hari dalam seminggu.0 7. Tabel 3.9 34.6 0.1 1.0 24.3 0.3 12.6 44.7 6.6 40.9 0.5 0.8 35.7 0.5 0.6 0.3 9.4 22.3 34.6 0.6 0.6 2.0 14.7 0.0 0.3 41.5 1.8 12.5 30.3 3.9 27.7 0.9 1.5 7.2 13.4 4.5 0.7 4.3 1.5 0.8 79.6 0.6 7.7 0.3 0.6 0. penduduk umur 10 tahun ke atas kurang konsumsi buah dan sayur sebesar 93.7 0.8 29.6 0.5 0.4 20.5 17.4 20.5 0.4 57.4 18.8 7.5 1.125 menunjukkan bahwa secara keseluruhan.6 0.5 33.7 62.0 12.7 0.0 36.9 14.3 15.2 4.8%.7 13.5 0.6 19.6 0.5 0.6 41.4 24.4 8.4 14.0 17.0 0.8 15.6 74.7 74.7 9.7 0.1 33.3 23.

4 92.2 94.9 83.Sedangkan yang berada di bawah rata-rata nasional adalah Provinsi Gorontalo (83.5 96.2 91.6 96.5 93.6 96.7 91.5 95.7 92.8 91. Tabel 3.5%). DI Yogyakarta (86.4 94.0 86.4 97.3 89.7 Indonesia 93.1 91.6 94.1%).5 96. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang makan buah dan sayur*) 95.6 *) Konsumsi makan buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari selama 7 hari dalam seminggu Pada tabel 3.126 tampak bahwa kelompok umur yang paling kurang konsumsi buah dan sayur adalah 75 tahun ke atas (95. Sementara berdasarkan pendidikan. Tidak ada perbedaan konsumsi buah dan sayur antara laki-laki dan perempuan.7%).4 96.3%).125 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Provinsi.7 96.1 87.9 91.4 96.9 92.8 97.9 93.2 92. semakin tinggi tingkat pendidikan semakin baik konsumsi buah dan sayur.1 90.5 96. Tidak tampak adanya 187 . dan Lampung (87.9 94.7 96.

Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurang makan buah dan sayur*) Kelompok Umur (Tahun) 10-14 93. Berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita. semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita perbulan.126 Prevalensi Kurang Makan Buah dan Sayur Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.3 Jenis Kelamin Laki-laki 93. dengan perkataan lain.7 75+ 95.4 *) Konsumsi makan buah dan sayur kurang dari 5 porsi/hari selama 7 hari dalam seminggu 188 .6 15-24 93.9 Kuintil-4 93. dengan meningkatnya strata juga tampak pengurangan prevalensi kurang konsumsi buah dan sayur.1 Tamat SMP 93.3 Tamat SD 94.7 Pendidikan Tidak sekolah 94.3 Kuintil-5 92. semakin tinggi konsumsi buah dan sayur.5 Perempuan 93.9 Tidak tamat SD 94.4 35-44 93.6 Tamat SMA 92. Tabel 3.perbedaan mencolok antara perilaku konsumsi buah dan sayur di perkotaan dan perdesaan.3 Tempat Tinggal Perkotaan 93.2 Kuintil-3 93.0 Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perkapita Kuintil-1 94.7 65-74 94.8 25-34 93.3 45-54 93.8 Tamat PT 90.5 55-64 93.0 Perdesaan 94.6 Kuintil-2 94.

prevalensi minum alkohol tinggi tampak pada yang berpendidikan tamat SMP dan tamat SMA.6%. Prevalensi peminum alkohol di perdesaan lebih tinggi dari perkotaan.7%). Sulawesi Utara (17. sedangkan yang masih minum dalam satu bulan terakhir 3. Menurut jenis kelamin. Karena perilaku minum alkohol seringkali periodik maka ditanyakan perilaku minum alkohol dalam periode 12 bulan dan satu bulan terakhir. Tabel 3.127 memperlihatkan secara nasional prevalensi peminum alkohol 12 bulan terakhir sebanyak 4. yang selanjutnya meningkat menjadi 6.5%.3% pada umur 25-34 tahun.3%). Dilakukan kalibrasi terhadap berbagai persepsi ukuran yang digunakan responden.5% dan 3. yaitu sebesar 5. namun kemudian turun dengan bertambahnya umur. yaitu satu minuman standar setara dengan bir volume 285 mililiter. termasuk frekuensi.128 dapat dilihat bahwa prevalensi peminum alkohol 12 bulan dan satu bulan terakhir mulai tinggi pada umur antara 15-24 tahun. Tidak tampak perbedaan prevalensi peminum alkohol menurut tingkat pengeluaran per kapita per bulan. juga diikuti dengan prevalensi perilaku minum alkohol dalam satu bulan terakhir di atas angka nasional. prevalensi peminum alkohol lebih besar laki-laki dibanding perempuan. Pada tabel 3. seperti di Provinsi Nusa Tenggara Timur (17. sehingga didapatkan ukuran standar. Informasi perilaku minum alkohol didapat dengan menanyakan kepada responden umur 10 tahun ke atas.7.3. Pada umumnya provinsi dengan prevalensi perilaku minum alkohol dalam 12 bulan terakhir di atas angka nasional. Untuk penduduk yang menjawab “ya” ditanyakan dalam 1 bulan terakhir.3 Perilaku Minum Minuman Beralkohol Salah satu faktor risiko kesehatan adalah kebiasaan minum alkohol.0%. Sedangkan menurut pendidikan. jenis minuman dan rata-rata satuan minuman standar. Wawancara diawali dengan pertanyaan apakah minum minuman beralkohol dalam 12 bulan terakhir. dan Gorontalo (12. Beberapa provinsi mempunyai prevalensi minum alkohol tinggi.4%). 189 .7% dan 4.

9 1.5 4.8 2.4 8.Tabel 3.6 3.0 190 .7 8.9 4.9 5.5 3.2 3.0 17.7 Indonesia 4.9 4.5 6.2 1.5 0.3 1.5 3.5 1.0 2.4 4.4 3.2 13.3 1.7 1.9 5.127 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir menurut Provinsi.6 2.4 0.4 5.7 2.5 1.0 0.4 4.6 6.4 2.6 5.4 17.0 4.1 1.8 3.4 2.3 4.7 2.1 1.9 7.9 4. Riskesdas 2007 Konsumsi Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Konsumsi alkohol 1 Bulan terakhir 0.8 6.4 8.4 alkohol 12 Bulan terakhir 1.2 3.2 7.6 1.7 1.1 1.0 8.1 6.7 2.7 12.9 6.7 14.8 10.7 2.9 2.4 2.7 1.2 4.8 1.

6 Kuintil-4 4.0 Kelompok Umur (Tahun) 10-14 0.Tabel 3.1 2.5 3.0 3.3 3.8 Tamat SD 4.128 Prevalensi Peminum Alkohol 12 Bulan dan 1 Bulan Terakhir menurut Karakteristik Responden di Indonesia.0 3.5 45-54 4.9 Tipe Daerah Perkotaan 3.7 15-24 5.9 5.0 Tamat PT 3.8 Perempuan 0.6 65-74 2.0 3.9 3.7 Kuintil-3 4.5 Jenis Kelamin Laki-laki 8.5 3.9 Perdesaan 5.3 3.4 2.7 3.5 Tamat SMA 6.7 35-44 5.5 4.5 3.6 75+ 1.4 Kuintil-2 4.8 0.0 3.1 Tidak tamat SD 3.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 4.4 1.4 2.7 Kuintil-5 4.7 191 .3 2.7 0.8 55-64 3.3 2.5 Tamat SMP 5. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Pernah minum alkohol dalam 12 bulan terakhir Masih minum alkohol dalam 1 bulan terakhir 0.5 25-34 6.7 Pendidikan Tidak sekolah 3.8 2.

2%) kurang melakukan aktifitas fisik.3.7%) dan Provinsi Riau (60. dan Bengkulu (40. semakin tinggi pendidikan semakin tinggi prevalensi kurang aktifitas fisik. Prevalensi kurang aktifitas fisik penduduk perkotaan (57. Prevalensi kurang aktifitas fisik di bawah rata-rata nasional terdapat di Nusa Tenggara Timur (27. Kegiatan aktifitas fisik dikategorikan ‘cukup’ apabila kegiatan dilakukan terus-menerus sekurangnya 10 menit dalam satu kegiatan tanpa henti dan secara kumulatif 150 menit selama lima hari dalam satu minggu.4%). ’sedang’ dan ’berjalan’. Sulawesi Tengah (39.5%) lebih tinggi dibanding laki-laki (41. masing-masing untuk aktifitas ‘berat’ empat kali. Pada tabel 3. dilakukan pula pengumpulan data intensitas. dan perempuan (54. kurang aktifitas fisik paling tinggi terdapat pada kelompok 75 tahun ke atas (76.3%).9%). Selain frekuensi.4%). dan semakin tinggi tingkat pengeluaran per kapita per bulan semakin meningkat prevalensi kurang aktifitas fisik. Pada tabel 3.0%) dan umur 10-14 tahun (66.6%) lebih tinggi di banding perdesaan (42. Kurang aktifitas fisik paling tinggi terdapat di Provinsi Kalimantan Timur (61.129 tampak bahwa secara nasional hampir separuh penduduk (48. Perhitungan jumlah menit aktifitas fisik dalam seminggu mempertimbangkan pula jenis aktifitas yang dilakukan. yaitu jumlah hari melakukan aktifitas ’berat’. di mana aktifitas diberi pembobotan.4%).130 terlihat bahwa menurut kelompok umur.2%). aktifitas ‘sedang’ dua kali terhadap aktifitas ‘ringan’ atau jalan santai. Berdasarkan tingkat pendidikan.4 Perilaku Aktifitas Fisik Aktifitas fisik secara teratur bermanfaat untuk mengatur berat badan dan menguatkan sistem jantung dan pembuluh darah. Dikumpulkan data frekuensi beraktifitas fisik dalam seminggu terakhir untuk penduduk 10 tahun ke atas.1%). 192 .7.

7 52.3 42.4 61.4 43.9 43.2 *) Kurang aktifitas fisik adalah kegiatan kumulatif kurang dari 150 menit dalam seminggu Tabel 3.3 44.1 45.2 45.7 49.0 44.1 47.4 53.8 60.8 27.3 52.2 39.Tabel 3.8 49.2 50.3 46.7 47.0 Indonesia 48.2 57.130 193 .6 47.2 48.1 40.3 46.4 49.1 54.129 Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Provinsi.1 54.4 44.6 48.8 48. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang Aktifitas Fisik 53.7 55.

Flu Burung Data mengenai pengetahuan dan sikap penduduk tentang flu burung dikumpulkan dengan didahului pertanyaan saringan: apakah pernah mendengar tentang flu burung.4 Perempuan 54. Penduduk dianggap bersikap benar bila menjawab salah satu : melaporkan kepada aparat terkait. apabila ada unggas yang sakit dan mati mendadak.9 3.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 44.0 Jenis Kelamin Laki-laki 41.4 55-64 44.5 Pengetahuan dan Sikap terhadap Flu Burung dan HIH/AIDS a. Penduduk dianggap memiliki pengetahuan tentang penularan flu burung yang benar apabila menjawab cara penularan melalui kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang.7.5 Kuintil-3 47.Prevalensi Kurang Aktifitas Fisik Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden. atau membersihkan kandang unggas. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Kurang aktifitas fisik Kelompok umur 10-14 66.1 Kuintil-4 49.8 Kuintil-2 45. Untuk penduduk yang pernah mendengar.3 Tipe daerah Perkotaan 57. ditanyakan lebih lanjut pengetahuan tentang penularan dan sikapnya apabila ada unggas yang sakit atau mati mendadak.0 25-34 42.8 Tidak tamat SD 48.9 (Tahun) 15-24 52.9 35-44 38.9 45-54 38.5 75+ 76.1 Kuintil-5 53.4 Tamat SMA 52.131 194 . atau mengubur/membakar unggas sakit.6 Tamat PT 60.5 Pendidikan Tidak sekolah 48. Tabel 3.6 Perdesaan 42.4 Tamat SMP 47.1 Tamat SD 43.4 65-74 58.

7 80.6 67.5 92.9 93.8 52.9 57.2 35. 64.1 91.9 54.6 69.2 71.4 84.0 85.2 76.2 85.1 91.7% penduduk pernah mendengar tentang flu burung. membersihkan kandang unggas.6 71.7 70.1 82.2 74.1 67.4 69.9 71.3 74.7 78.7 77.9 83.7 80.6 68.2 92.0 74.2 81.6 75.2 75.3 87.3 74.4%).9 86.8 83.8 70.1 87.2 84.2 63.Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan dan Sikap tentang Flu Burung dan Provinsi.7 63.6 77.7 87. Provinsi yang penduduknya mempunyai pengetahuan yang 195 .4 Berpengetahuan benar* 81.9 79.3 96.7 63. Di antara mereka.9 66.1 86.7 41.9 88.6 74.8 73.2 70.2 81.2 92.6 85. Secara nasional.3 84.7 79.6 79.2 73. Maluku Utara (41. 78.9%).9%) dan Papua (44.8 66.9 56.8 55.4 80.4 87.131 menunjukkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan dan sikap tentang flu burung dan provinsi.6 87.8 Bersikap benar** 88.9 74.0 83.8 61. atau mengubur/membakar unggas yang sakit dan mati mendadak.7 87.7 63.2 84.6 92. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pernah mendengar 61.2 86.7 69.3 85.0 70.9 52.8 Indonesia 64.8 81.5 84.7 *) Berpengetahuan benar apabila menjawab “Ya” kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang **) Bersikap benar apabila menjawab “Ya” melaporkan pada aparat terkait.3 82.1 44.7% memiliki pengetahuan yang benar dan 87.1 81.7 74.9 85.7 83. Tiga provinsi yang penduduknya kurang mendengar tentang flu burung adalah Nusa Tenggara Timur (35.4 74.7 94.9 91.6 82.6 89.1 55.1 66. Tabel 3.7% memiliki sikap yang benar.2 81.8 51.7 86.

2 75.0 Tamat PT 93. Riskesdas 2007 Karakteristik responden Pernah mendengar Berpengetahuan benar* 73. membersihkan kandang unggas.2 Petani/nelayan/buruh 54.3 86.2 91.2 86.6 65-74 tahun 33.3 79.9 73.6 76.7 89.3 77.1 90.3 Ibu RT 65.6 Lainnya 73.1 79.1 88.4 82.6 82.2 75.0 Kuintil 2 60.2 93.3 86. Kelompok umur 15-24 tahun 196 .0 Kuintil 4 67.7 Kuintil 5 74.3 35-44 tahun 70.7 78.4 Tipe daerah Perkotaan 78.3 Wiraswasta 78.0 83.2 Perempuan 61.3 88.6 71.4 95.132 Persentase Penduduk10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan dan Sikap Tentang Flu Burung dan Karakteristik Responden.2%) dan yang sikapnya terbaik Provinsi Bali (96.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan Kuintil 1 56.9 66.1 82.5 86.8 59.6 79.4 64.5 Pendidikan Tidak sekolah 26. Tabel 3.1 PNS/Polri/TNI/BUMN 91.3 90.2 89.7 60.1 81.8 Perdesaan 56.5 Kuintil 3 64.baik tentang flu burung tertinggi di Lampung (86.4 82.1 Tamat SMA 89.5 *) Berpengetahuan benar apabila menjawab “Ya” kontak dengan unggas sakit atau kontak dengan kotoran unggas/pupuk kandang **) Bersikap benar apabila menjawab “Ya” melaporkan pada aparat terkait.6 Bersikap benar** 82.6 77. atau mengubur/membakar unggas yang sakit dan mati mendadak.5 Tamat SD 61.8 55-64 tahun 47.1 90.5 95.9 85.8 84.4 15-24 tahun 79.5 76.3 77.9 86.0 Tamat SMP 79.7 86.4 90.7 75.5 95.0 25-34 tahun 75.7 79.0 84.9 80.9 Sekolah 65.7 Pekerjaan Tidak kerja 53.4 Umur 10-14 tahun 52.4 75.3 Tidak tamat SD 44.0 45-54 tahun 60.2 80.4 89.1%).7 74.7 81.4 84. Tabel 3.8 86.9 86.8 88.7 Jenis kelamin Laki-laki 68.5 75+ tahun 19.132 menunjukkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan dan sikap tentang flu burung dan karakteristik responden.9 86.

2%).2%).3%) dan Nusa Tenggara Timur (30. berpengetahuan benar dan bersikap benar. Penduduk dianggap berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS apabila menjawab benar masing-masing 60%.6%) dan Banten (6.9%). Selanjutnya semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin baik pengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS. Dari segi pekerjaan. Untuk sikap ditanyakan: bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS apakah responden merahasiakan. penduduk yang berpenghasilan tetap lebih banyak yang berpengetahuan benar tentang HIV/AIDS. Selanjutnya penduduk yang pernah mendengar ditanyakan lebih lanjut mengenai pengetahuan tentang penularan virus HIV ke manusia (tujuh pertanyaan). b. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.merupakan kelompok tertinggi untuk kategori pernah mendengar. Tiga provinsi yang penduduknya paling sedikit mendengar tentang HIV/AIDS adalah Maluku Utara (28. penduduk di perkotaan lebih banyak yang telah mendengar tentang flu burung. Menurut tipe daerah. Tabel 3. mencari pengobatan alternatif ataukah mengucilkan penderita.3% berpengetahuan benar tentang pencegahan HIV/AIDS. laki-laki umumnya lebih banyak mendengar dan berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS dibandingkan perempuan. disusul Jawa Timur (6. Persentase laki-laki yang pernah mendengar tentang flu burung lebih tinggi dari perempuan (68. Tabel 3. demikian juga lebih banyak laki-laki memiliki pengetahuan dan sikap benar. 13. pencegahan HIV/AIDS (enam pertanyaan). Menurut jenis kelamin.8%) dan Sulawesi Selatan (38. mengikuti konseling dan pengobatan. 197 . semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi presentase penduduk yang telah pernah mendengar tentang flu burung. Secara umum.133 menggambarkan persentase penduduk berumur 10 tahun keatas menurut pengetahuan tentang HIV/AIDS dan provinsi. Pada umumnya. penduduk perkotaan lebih banyak yang sudah mendengar tentang HIV/AIDS dan berpengetahuan benar tentang pencegahan.4% penduduk sudah pernah mendengar tentang HIV/AIDS.9%).0%). Dari yang pernah mendengar. dan sikap apabila ada anggota keluarga yang menderita HIV/AIDS (lima pertanyaan).9% di antaranya berpengetahuan benar tentang penularan HIV/AIDS dan 49. Secara nasional.5%). 44. HIV/IADS Berkaitan dengan HIV/AIDS. Sulawesi Barat (29. disusul Lampung (37.2% dibanding 61. yang berpengetahuan benar tentang penularan HIV/AIDS terendah adalah di Jawa Barat (6. dan lebih banyak yang memiliki pengetahuan dan sikap yang benar terhadap flu burung dibanding perdesaan. penduduk ditanyakan apakah pernah mendengar tentang HIV/AIDS. tampak adanya peningkatan pengetahuan tentang HIV/AIDS seiring dengan peningkatan umur. membicarakan dengan ART lain. penduduk usia produktif (15-45 tahun) paling banyak mendengar dan berpengetahuan benar tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS. sedangkan yang berpengetahuan benar tentang pencegahan HIV/AIDS terendah adalah Sulawesi Barat (29.4%). dan yang mempunyai pengetahuan serta sikap yang benar tentangnya. Sedangkan dari segi tipe daerah.134 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut pengetahuan tentang HIV/AIDS dan karakteristik responden.

5 35.1 40.4 59.6 49.9 49.6 45.2 9.3 55.5 53.8 44.2 60.2 42.5 41.2 12.9 37.1 67.6 33.8 37.2 17.4 56.4 13.7 29.4 9.3 * ) Berpengetahuan benar tentang penularan adalah bila menjawab benar 4 dari 7 pertanyaan **) Berpengetahuan benar tentang pencegahan adalah bila menjawab benar 4 dari 6 pertanyaan 198 .0 54.2 38.4 40.9 44.2 58.0 64.7 52.6 15.5 14.1 16.3 35.2 8.8 21.7 50.8 10.Tabel 3.3 61.9 7.8 51.4 29.7 28.9 30.1 16.1 42.2 46.5 21.6 7.1 26.3 59.4 51.3 47.6 46.2 6.7 17.3 40.3 45.3 19.4 6.0 Berpengetahuan benar tentang pencegahan** 41.6 38.7 14.9 Indonesia 44.8 14. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Pernah mendengar 44.9 71.1 33.1 45.9 41.3 12.2 43.7 10.9 17.3 Berpengetahuan benar tentang penularan* 17.6 46.9 46.8 53.0 55.5 49.5 7.7 46.133 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Provinsi.5 57.8 13.0 40.6 6.0 34.5 44.2 52.8 61.9 12.0 40.8 45.1 46.3 46.6 40.9 61.5 29.9 53.1 13.8 52.4 39.

5 51.7 44.5 11.4 42.2 13.4 61.6 12.2 33.5 12.0 57.1 89.2 84.3 47.2 58.1 48.7 37.9 58.4 38.6 40.8 34.0 14.0 14.2 Berpengetahuan benar tentang penularan* 11.9 20.3 14.9 46.135 199 .0 38.0 40.2 46.9 43.3 57.4 51.2 40.8 14.7 17.4 12.9 56.6 50.0 42.2 51.7 17. Riskesdas 2007 Karakteristik Pernah mendengar 21.9 12.3 25.8 48.3 11.9 11.6 13.Tabel 3.8 15.2 47.7 7.3 11.8 63.0 11.4 10.9 47.1 9.134 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Pengetahuan Tentang HIV/AIDS dan Karakteristik Responden.3 13.8 49.1 53.0 14.2 14.5 32.5 11.6 60.0 13.6 26.5 14.5 33.7 37.4 14.2 Umur 10-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75+ tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT PNS/Polri/TNI/BUMN Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga perper kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 * ) Berpengetahuan benar tentang penularan adalah bila menjawab benar 4 dari 7 pertanyaan **) Berpengetahuan benar tentang pencegahan adalah bila menjawab benar 4 dari 6 pertanyaan Tabel 3.9 50.7 50.9 8.9 33.9 47.2 80.3 55.2 14.1 45.6 Berpengetahuan benar tentang pencegahan** 34.7 30.1 62.1 48.4 68.9 64.1 33.2 14.1 48.9 39.

6 6.4 82.8 67.0 24.0 87.5 75.5 48.9 64.8 64.3 89.5 24.9 89. Secara nasional.9 13.2 64.1 43.3 40.9 85.2% dan 6.3 67.6 90.1 38.1 60.7 88. sebesar 89.3 70.8 34. Sedangkan provinsi yang penduduknya bersikap baik dalam hal akan melakukan 200 .4 28.7 57.7 5.8 23.2 5.Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Bila Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Provinsi.3 64.6 9.7 68.9 76. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Merahasiakan 33. Sedangkan melakukan konseling dan pengobatan merupakan persentase tertinggi.7 68.3 5.0 5.2 63.1 90.2 75.8 27.5 57.4 7.3 Tabel 3.1 89.3 12.5 28.2 69.3 50. Sulawesi Selatan (17.9 55.3 57.1 19.3 Konseling dan pengobatan 84.5 48.0 51.7 85.2 85.1 59.1 5.8 67.0 83.1 71.8 87.4%).0 8.3 62.8 30.2 67.6 6.4 85.1 5.0 51.1 61.7 90.0 5.7 95.7 23.3 64.4 85.9 44.7 37.5 6.2 87.7 62.8 19.3 57.8 5.4 65.2 5.7 60.0 76.6 63.8 8.3 5.8 20.2 62.8 26.7 21.2 78. penduduk yang bersikap merahasiakan dan mengucilkan apabila ada ART yang menderita HIV/AIDS sebesar 34.7 63.7 24.3 29.1 93.0%.1 2.1 55.9 59.7 93.7 70.5 6.5 88.2 87.8 61.3 30.4 79.4 Mengucilkan Indonesia 28.1 5.7 76.0 88.7 Bicarakan dgn ART lain 58.5% (masing-masing 28.8 60.9 93.3 15.7 87.0 83.3 91.9 43.9 10.6 6.1 74.2 73.9 34. Provinsi-provinsi yang penduduknya bersikap baik (sedikit yang merahasiakan dan mengucilkan) adalah Sulawesi Barat (12%).9 29.2 86.135 di atas memperlihatkan persentase penduduk di atas 10 tahun menurut sikap bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS dan provinsi.1 4.7 76.0 58.3 7.7 23.5 3.3 35.5 92.0 76.3 5.3%).4 58.8 59.6 58.2 66.3 65.2 5.2 6.5%) dan Sulawesi Tengah (18.8 60.7 89.4 6.3 72.9 92.0 62.3 26.9 8.7 8.4 54.2 62.6 34.5 51.4 3.7 10.8 5.6 52.9 Cari pengobatan alternatif 60.8 50.4 56.9 5.4 67.

7 57.5 Kuintil-2 28.9 63.5 88.8 90.6 89.6 69.1 Tidak tamat SD 28.1 35-44 26.7 60.4 60.3 56.7 86.1 Petani/Nelayan/Buruh 27.0 68.0 85.2 94.9 87.3 6.1 Cari pengobata n alternatif 49.3 6.1 66.0 70.6 55.0 Tamat SD 28. Menurut 201 .1 92.9 62.6 56.3 90.5 91.8 59.8 58.3 89.9 87.5 58.7 72.5 Tipe Daerah Perkotaan 28.0 60.9 Perdesaan 27.2 Tabel 3.2 Kuintil-4 28.5 Lainnya 26.9 58.6 59.9 93.7 Wiraswasta 28.1 90.7 57.136 Persentase Penduduk 10 tahun ke Atas menurut Sikap Andaikata Ada Anggota Keluarga Menderita HIV/AIDS dan Karakteristik Responden.7 89.6 6.7 81.9 6.0 Kelompok umur (tahun) 10-14 29.konseling dan pengobatan adalah Jawa Timur dan Jawa Tengah (masing-masing 93.6 6.3 87.3 6.5 6.7 5.0 Perempuan 28.5 90.7 55.9 7.7%) dan Bangka Belitung (93.0 70.6 89.4 5.2 5.8 78.7 69.4 71.0 52.8 58.8 74.1 69.8 6.3 56.9 6.0 Jenis Kelamin Laki-laki 28.6 6.3 6.3 Tamat SMA 28.4 45-54 27.6 6.6 67.4 15-24 30.7 59.1 60.0 78.1 PNS/Polri/TNI/BUMN 27.5 59.1 6.7 58.6 64.5 Pendidikan Tidak sekolah 30.8 88.8 5. Tabel 3.9 85.7 69.6 53.2 59.136 menggambarkan persentase penduduk 10 tahun ke atas menurut sikap bila ada anggota keluarga menderita HIV/AIDS dan karakteristik responden.9 71.4%).6 91.5 61.9 6.8 75+ 24.3 52.4 25-34 28.7 Pekerjaan Tidak bekerja 29.7 5.9 58.0 Tamat PT 26. Riskesdas 2007 Karakteristik Responden Merahasiakan Bicarakan dengan ART lain 58.6 70.9 57.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 29.5 86.3 Sekolah 29.3 Kuintil-5 27.7 64.0 6.3 56.1 Tamat SMP 29.4 6.7 6.4 89.2 77.2 66.4 72.6 71.5 6.5 6.3 5.6 50.8 Ibu RT 28.5 Mengucilkan 6.4 6.3 88.6 6.1 74.1 76.7 85.0 55-64 25.2 69.2 59.8 7.0 Konseling dan pengobatan 79.4 69.8 65-74 25.8 68.9 86.7 Kuintil-3 28.4 60.

7. namun hanya 23.1% dan 18.6%) adalah provinsiprovinsi yang perilaku cuci tangan benarnya rendah. setelah buang air besar. dan setelah memegang unggas/binatang. Tabel 3. Menurut tingkat pengeluaran. yang tidak memiliki pekerjaan relatif lebih banyak yang bersikap merahasiakan dan mengucilkan anggota keluarganya yang menderita HIV/AIDS.4%).2% yang berperilaku cuci tangan benar. Tidak ada perbedaan sikap antara laki-laki dan perempuan. Perilaku BAB yang dianggap benar adalah bila penduduk melakukannya di jamban. perilaku baik dalam BAB dan cuci tangan semakin tinggi. Penduduk perkotaan berperilaku baik lebih tinggi dari perdesaan. Menurut pendidikan. Secara nasional. setelah menceboki bayi/anak. Semakin tinggi pendidikan.137 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam hal BAB dan cuci tangan menurut provinsi. Gorontalo (59. dan 27.9%.2% dibanding 70. Dari aspek pekerjaan.8% dibanding 18. demikian pula dengan penduduk perkotaan. Persentase perempuan yang berperilaku benar dalam BAB dan cuci tangan lebih tinggi dari laki-laki (berturut-turut 71. Sedangkan Provinsi Sumatera Barat (8.5%) dan Riau (14. semakin tinggi semakin kecil sikap merahasiakan dan mengucilkan ini. Sedangkan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi persentase perilaku baik dalam BAB dan cuci tangan.6%). sebelum menyiapkan makanan. Dari segi pekerjaan. tetapi tampak menurun lagi pada umur 55 tahun ke atas. 202 . sebesar 71.1% berperilaku benar dalam hal BAB.138 memperlihatkan persentase penduduk 10 tahun ke atas yang berperilaku benar dalam hal BAB dan cuci tangan menurut karakteristik. Sumatera Utara (14. semakin tinggi tingkat pendidikan semakin sedikit sikap merahasiakan dan mengucilkan. semakin muda umur penduduk semakin tinggi persentase sikap merahasiakan dan mengucilkan. Semakin tinggi usia semakin berperilaku benar dalam BAB dan cuci. Mencuci tangan yang benar adalah bila penduduk mencuci tangan dengan sabun sebelum makan. 3.2%) dan Sumatera Barat (59. Tabel 3.kelompok umur.8%). DKI Jakarta menduduki tempat tertinggi untuk perilaku baik dalam hal BAB dan cuci tangan.6 Perilaku Higienis Perilaku higienis yang dikumpulkan meliputi kebiasaan/perilaku buang air besar (BAB) dan perilaku mencuci tangan.4%). petani/buruh/ nelayan memiliki persentase perilaku baik BAB dan cuci tangan terendah (56.3%) adalah provinsi-provinsi yang perilaku BAB benarnya rendah. Provinsi Sulawesi Barat (57.

6 14.0 30. dan setelah menceboki bayi/anak. setelah buang air besar.2 86.7 59.4 14.2 59.6 Indonesia 71.3 84.9 17.9 29.2 25.3 24.9 18.7 60.3 68.9 83.9 22.2 59.9 73.9 Berperilaku benar dalam hal cuci tangan** 16.2 *) Perilaku benar dalam BAB bila BAB di jamban **) Perilaku benar dalam cuci tangan bila cuci tangan pakai sabun sebelum makan.137 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Provinsi.1 72.6 79.3 80.6 76.0 36.7 27.9 20.8 38.4 15.2 72.0 81.3 44.8 72.5 35.2 89.4 20.6 18.Tabel 3.2 20. 203 .0 65.6 29.5 19.2 57.0 23.1 32.9 68.3 25.4 63.6 60.1 32.5 73.5 8.7 67. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Berperilaku benar dalam hal BAB* 61.4 82.7 71.3 59.4 43.0 98.8 26.9 15.0 14.1 69.0 68.8 24. sebelum menyiapkan makanan.3 68.5 30.1 59.1 23. dan setelah memegang unggas/binatang.

9 30.7 56.7 *) Perilaku benar dalam BAB bila BAB di jamban **) Perilaku benar dalam cuci tangan bila cuci tangan pakai sabun sebelum makan.0 64. sebelum menyiapkan makanan.4 27.8 76.0 21.4 71.6 19.Tabel 3.6 21.3 83.9 73. Riskesdas 2007 Berperilaku Karakteristik responden benar dalam hal BAB* Umur 10-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75+ tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan Tidak sekolah Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Tamat PT Pekerjaan Tidak kerja Sekolah Ibu RT PNS/Polri/TNI/BUMN Wiraswasta Petani/nelayan/buruh Lainnya Tipe daerah Perkotaan Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah Tangga per kapita Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 68.1 77.6 75.7 28.7 58.9 20.8 72.6 73.7 19.2 23. dan setelah menceboki bayi/anak.8 84.8 29.2 59.138 Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas yang Berperilaku Benar Dalam Buang Air Besar dan Cuci Tangan menurut Karakteristik Responden.1 65.5 68.8 89.1 25.6 69.1 71.8 19.9 71.6 23. dan setelah memegang unggas/binatang. setelah buang air besar.4 24.5 Berperilaku benar dalam hal cuci tangan** 17.6 26.6 68. 204 .1 18.8 24.9 94.9 24.3 70.8 17.2 52.8 18.7 69.4 22.4 27.1 14.0 36.4 59.7 88.1 18.7 93.7 31.2 72.1 18.8 24.5 22.0 70.

7 40.8 89.5 92.2 10.7 18.3 3.2 15.5 19.3 15.2 1. dan bumbu penyedap dianggap sebagai berperilaku konsumsi berisiko.5 1.4 8.0 3.4 60.9 60.8 12.9 69.1 21.2 11.7.2 59.8 19.7 3.6 5.7 90.1 4.8 54.6 24.3 2.6 23.0 5.1 72.6 23.2 11.9 6.2 Asin 22.6 43.7 5.4 16.5 5.3 72.1 13.8 17.0 6.3 10.3 76.2 19.9 5.1 9.6 77.2 78.4 7.6 4.9 2.9 69.4 2.3 41.4 3.2 43.8 2.5 4.6 67.2 5.9 83.2 1.8 11. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Manis 69.4 3.1 1.4 2.1 6. berlemak.2 11.7 3.8 18.7 8.4 23.8 27.8 73.6 9.8 52.6 24.4 44.8 7.7 28.3 29.8 71.2 80.6 4.7 47. makanan dibakar/panggang.9 30.2 9.6 24.5 5.3 7.1 25.5 82. makanan yang diawetkan.4 2.4 21.0 4.0 8.1 59.5 28.7 24.9 59. jeroan.0 8.0 68.0 46.4 86.9 1.6 30.5 89.6 38.7 Pola Konsumsi Makanan Berisiko Penduduk yang “sering” makan makanan/minuman manis.1 90. makanan minuman makanan penduduk Tabel 3.8 63.6 84.5 8.5 77.1 1.6 2.7 Dipang gang 5.5 44.0 31.6 10.4 1.0 18.6 13.2 9.0 79.8 34.3 58.1 0.0 Diawet kan 6.4 1.0 3.0 2.6 2.8 14.1 4.1 71.1 10.2 10.2 24.6 6.2 8.3 5.0 1.7 15.8 Berle mak 15.7 14.9 29.7 52.3 15.5 58.6 6.5 25.2 50.3 16.4 4.6 68.1 9.2 2.6 2.0 2.5 89.1 64.9 27.3 21.7 4.9 38. berkafein.3 83.2 27.1 4.6 1.5 4.8 39.2 34.3 84.9 8.3 57.2 62.2 4.6 1.8 4.8 205 .3 5.0 29.1 55.0 39.4 14.9 4.0 76.4 83.9 7.4 35.1 20.2 7.2 1.8 19.139 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi Makanan Berisiko menurut Provinsi.1 3.6 70.8 3.2 68.7 85.9 13.9 79.6 2.3 19.3 36.2 5.6 2.6 47.2 86.6 86.5 19.5 79.7 17.0 4.4 35.4 5.2 3.9 7.1 22.0 79. Perilaku konsumsi makanan berisiko dikelompokkan “sering” apabila mengonsumsi makanan tersebut satu kali atau lebih setiap hari.1 74.6 55.5 45.3 85.4 2. makanan asin.5 12.8 4.3 21.5 2.2 81.2 3.6 45.8 2.8 5.3 11.0 0.9 Berka fein 45.3.5 2.5 6.6 61.6 7.3 87.4 8.6 74.7 2.8 23.4 84.2 Jeroan 3.2 30.9 1.0 75.7 1.3 1.7 31.7 7.0 4.2 87.7 47.5 85.3 71.0 Penyedap 33.9 65.3 9.1 9.1 56.8 Indonesia 65.7 4.7 1.4 8.4 7.8 1.

3 Diawet kan 8.5%) dan terendah Provinsi Bali (44.8 1.8 1.7 78.7 4.5 25.0 2.8%) dan terendah di Provinsi Bangka Belitung (5.2 65-74 61.4 68.1 5.8 1.3 6.2 12. Sedangkan prevalensi sering mengonsumsi makanan asin secara nasional ditemukan 24.7 5.6 26. Riskesdas 2007 Karakteristik Manis Asin Berle mak 13.1 65.0 Tamat SMP 66.6 13.9 78.3 6.4 12.3 1.0 71.1 66.4 Tamat SD 64.6 23.1 36. Penyedap sering dikonsumsi oleh 77.8 12. 12.8 24.5 3.2 2.8% penduduk Indonesia sering mengonsumsi makanan berlemak.2 24.4 25-34 66. Sering mengonsumsi makanan manis dilakukan oleh 65.4 35.2 78.2 6.8 11. tertinggi ditemukan di Provinsi Kalimantan Selatan (83.1 24.9 6.0 2.2%).5 77.6 26.1 7.1 Kuintil-4 66.6 4.2 78.5 3.5 21.7 32.9 1.1 39.9 Jenis kelamin Laki-Laki 67.7 14.Tabel 3.0 5.7 6.5 79.1 35.8 24.2 25.8 3.3 37.8 65.6 4.5 Tidak Tamat SD 62.4 5.7%).3 6.4 Kuintil-2 63.6%) dan terendah di Provinsi Sulawesi Tengah (5.1 12.1 5. tertinggi di Provinsi Bali (62.0 4.8 Tamat PT 71.0 36.9 2.7 78.7 77.9 1.3 3. perilaku sering 206 .1 78.5 79.8 63.4 Kuintil-5 68.0 75+ 60. tertinggi di Provinsi Gorontalo (25.5 6.7 35-44 66.8%).4 63.5 Kelompok umur 10-14 63.139 menggambarkan prevalensi penduduk 10 tahun ke atas dengan konsumsi makanan berisiko menurut provinsi.6 6.5 76.6 5.1 Tamat SMA 69.8 5.0 Tipe daerah Perkotaan 69.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 62.5% penduduk secara nasional.5 78.1 2.2% penduduk Indonesia yang berusia ≥10 tahun.5 46.7 2.7 77.6 14.4 2.0 4.9 42.1 Tabel 3.8 1.5 4.4 4.2 79.7 46. Secara nasional.5%.0 1. Sedangkan kafein sering dikonsumsi oleh 36.5 2.5 25.2 4.0 37.1 45.4 13. tertinggi di Provinsi Sumatera Selatan (41.3 28.140 menggambarkan prevalensi penduduk 10 tahun ke atas dengan konsumsi makanan berisiko menurut karakteristik responden.8% penduduk secara keseluruhan.8 Kuintil-3 65.3 24.6%).5 Berka fein 16.8 11.8 37.6 6.7 4.9 55-64 63.4 66.6 31.8 4.8 6.140 Prevalensi Penduduk 10 Tahun ke Atas dengan Konsumsi Makanan Berisiko menurut Karakteristik Responden.1 Jeroan 2.9 24.6%) dan terendah di Provinsi NAD (33. tertinggi di Provinsi Kalimantan Tengah (92.5 13.9 21.9 11.0 4.9 1.7 2.4 6.0 Perdesaan 62.1 68.9 45-54 66.7 1.7 23.1 13.4 Pendidikan Tidak Sekolah 57.0 5.7 42.5 4.7 36.0 4.7 72.0 10.2 77.3 12.0%) dan terendah di Provinsi DI Yogyakarta (11.6 7.1 24.7 6.5 24.1 38.5 Perempuan 63.1 1.8 77.7 5.3 Dipang gang 5.1 Penyedap 75.9 76.2 5.4 62.8 1.9 74.4 (tahun) 15-24 65.4 43.8 4.7 62. Menurut umur.3 78.3 6.4 24.5 11.3 35.9 12. Tabel 3.4 5.2%).3 76.1 2.6 39.5 21.

sikap dan perilaku hidup bersih dan sehat. bayi 0-6 bulan mendapat ASI eksklusif. sehingga nilai tertinggi delapan (8). dan Sulawesi Utara (46. Terdapat lima provinsi dengan pencapaian di atas angka nasional. Indikator Rumah Tangga meliputi rumah tangga memiliki akses terhadap air bersih.7. penduduk cukup beraktifitas fisik. yaitu DI Yogyakarta (58. keluarga. melalui pendekatan pimpinan. untuk meningkatkan pengetahuan. Sedangkan perilaku sering minum minuman berkafein nampak meningkat sesuai peningkatan usia. makanan berlemak. sedangkan untuk rumah tangga tanpa balita terdiri dari 8 indikator. pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. jeroan dan makanan yang dipanggang cenderung meningkat sesuai dengan peningkatan kuintil ekonomi.2% ). Dalam penilaian PHBS ada dua macam rumah tangga. dan makanan yang diawetkan ditemukan lebih tinggi di perkotaan dibanding perdesaan. penduduk yang telah memenuhi kriteria PHBS baik sebesar 38. dan penduduk cukup mengonsumsi sayur dan buah. kepemilikan/ketersediaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan. Sedangkan untuk makanan yang dipanggang. Jawa Tengah (47%). Sementara pola prevalensi sering minum minuman berkafein. makanan dipanggang dan diawetkan. dan jeroan cenderung meningkat sesuai dengan meningkatnya pendidikan. Menurut tingkat pendidikan. dan rumah tangga dengan lantai rumah bukan tanah. makanan berlemak. 207 . pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis.8%). berlemak.7%.mengonsumsi makanan manis cenderung menurun setelah usia 45 tahun. dan penyedap makanan nampak berbanding terbalik dengan peningkatan kuintil.141 memperlihatkan proporsi rumah tangga yang memenuhi kriteria PHBS baik menurut provinsi. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. makanan berlemak. makanan asin. kelompok dan masyarakat. Menurut tipe daerah. Sedangkan pola prevalensi sering mengonsumsi makanan asin. demikian halnya perilaku sering mengonsumsi makanan asin. namun setelah usia 55 tahun prevalensi cenderung menurun. Sedangkan provinsi dengan pencapaian PHBS rendah 3 Program PHBS adalah upaya untuk memberi pengalaman belajar atau menciptakan kondisi bagi perorangan. Bali (51. Indikator individu meliputi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. diawetkan dan penyedap makanan pola prevalensi menurut tingkat pendidikan nampak tidak beraturan. 3. jeroan.7% ). laki-laki cenderung lebih sering mengonsumsi makanan yang manis-manis dan minum minuman berkafein dibandingkan perempuan. bina suasana dan pemberdayaan masyarakat. minum minuman berkafein dan makanan dipanggang cenderung lebih tinggi di perdesaan dibanding perkotaan. Sedangkan untuk konsumsi jenis makanan berisiko lainnya pola prevalensi antara laki-laki dan perempuan hampir sama.8 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Riskesdas 2007 mengumpulkan 10 indikator tunggal Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)3 yang terdiri dari enam indikator individu dan empat indikator rumah tangga. yaitu rumah tangga dengan balita dan rumah tangga tanpa balita. Kalimantan Timur (49. Secara nasional. memberikan informasi dan melakukan edukasi.9% ). penduduk tidak merokok. dengan membuka jalur komunikasi. Tabel 3. sehingga nilai tertinggi adalah 10. Pola yang sama ditemukan untuk konsumsi penyedap makanan menurut umur. PHBS diklasifikasikan “kurang” apabila mendapatkan nilai kurang dari enam (6) untuk rumah tangga mempunyai balita dan nilai kurang dari lima (5) untuk rumah tangga tanpa balita. Menurut jenis kelamin. kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni (≥8m2/ orang). pola prevalensi sering mengonsumsi makanan manis. ekonomi. Sementara pola prevalensi jenis konsumsi lainnya nampak tidak berbeda menurut tempat tinggal. Untuk rumah tangga dengan balita digunakan 10 indikator. Sementara untuk makanan asin dan minum minuman berkafein pola prevalensi berbanding terbalik dengan meningkatnya pendidikan. akses jamban sehat.

4 38.7 47.9 44.7 41.0 40.8%).6 49.8 29.8 32.2%).6 47.4 42.3 28.7 Tabel 3.9 34.3 33.2 28.8 51. Riau (28.4%).8 37.142 208 . Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia RT dengan PHBS Baik 34.4 37.8 46.1 33.2 45. Tabel 3.3 27.berturut-turut adalah Papua (24.4 35.8 30.7 34. Gorontalo (27.1 26.8 28.2 35.8 33.1%) dan Sumatera Barat (28. Nusa Tenggara Timur (26.0 58.9 33.141 Persentase Rumah Tangga yang Memenuhi Kriteria Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Baik menurut Provinsi.0 24.9 32.0 33.8%).

2 57.3 44.6 96.1 45.2 23.6 48.4 49.8 27.1 91.5 96.8 97.1 20.4 24.2 23.4 43.8 49.4 20.6 94.3 52.7 24.2 22.0 Merokok*** 23.1 25.0 44.6 24.4 96.9 19.4 24.1 47.8 26.5 96.3 25.4 29.5 96.7 92.5 93.8 24.2 21.3 46.3 25.1 90.1 40.4 53.3 89.0 23.2 50.3 42.5 22.7 23.2 92.5 25.1 21. dan Merokok) pada Penduduk 10 Tahun ke Atas menurut Provinsi.2 91.2 45.7 * Penduduk umur 10 tahun ke atas yang makan sayur dan/atau buah <5 porsi/hari ** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang melakukan kegiatan kumulatif <150 menit/minggu *** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok setiap hari 209 .7 52.6 47.9 43.9 93.8 48.7 55.5 95.1 87.2 94.7 Kurang aktifitas fisik** 53.8 91.8 20.8 24.4 61.6 96.2 48.9 94.1 20.3 23.9 19.4 97.7 91.9 91.9 92.1 19.9 83.6 24.Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang Konsumsi Sayur Buah.5 28.4 96.1 54.6 22.0 Indonesia 93.6 48.4 44. Riskesdas 2007 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang konsumsi sayur buah* 95.4 92.8 60.4 94.3 46.7 49.8 27. Kurang Aktifitas Fisik.7 96.0 86.1 54.7 96.7 47.6 20.2 39.

5 4.143 Prevalensi Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular Utama (Kurang Konsumsi Sayur Buah.3 49.4 28.8 29. 210 .5 34.3 76.5 Kuintil-4 93.143 di atas merupakan gabungan dari beberapa perilaku yang menjadi faktor risiko untuk penyakit tidak menular utama (penyakit kardiovaskular.0 Kuintil-2 94.7 65-74 95.0 33.5 41.3 48.3 60.6 15-24 93.5 38. kanker.6 47.6 Tamat SMP 92.4 53.7 * Penduduk umur 10 tahun ke atas yang makan sayur dan/atau buah <5 porsi/hari ** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang melakukan kegiatan kumulatif <150 menit/minggu *** Penduduk umur 10 tahun ke atas yang merokok setiap hari konsumsi sayur buah* Kurang aktifitas fisik** Merokok*** Tabel 3.1 43.1 25. diabetes mellitus.0 35-44 93.6 66.3 Tamat SD 93.8 52.9 28.4 55.6 Perkotaan 94.1 29.5 Kuintil-5 92.0 Tamat PT Tipe daerah 93.5 55-64 94.8 30.5 29.142 tabel 3.9 48. Riskesdas 2007 Kurang Karakteristik responden Kelompok umur (tahun) 93. penyakit paru obstruktif kronik). kurang aktifitas fisik (<150 menit/minggu) dan merokok setiap hari.9 Tidak Sekolah 94.7 Laki-Laki 93.0 Tamat SMA 90.3 Tidak Tamat SD 94.9 35.9 Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 94.4 37.0 45-54 93.3 27. Kurang Aktifitas Fisik dan Merokok) pada Penduduk 15 Tahun ke Atas menurut Karakteristik Responden.1 29.6 Kuintil-3 93.0 42. stroke.0 25-34 93.4 38.0 57.1 75+ Jenis Kelamin 93.9 36.0 24.8 52.6 26.7 54.4 Perempuan Pendidikan 94.6 44.Tabel 3.4 42.7 58.6 34. yaitu perilaku kurang mengonsumsi sayur dan/atau buah (<5 porsi per hari).3 38.2 45.9 47.7 44.9 2.0 10-14 93.4 30.4 30.

Tabel 3. Daerah dengan proporsi tertinggi RT yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke sarana kesehatan adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (30. antara lain jarak tempat tinggal dan waktu tempuh ke sarana kesehatan. Sulawesi Tenggara (13.2% RT yang memerlukan waktu lebih dari setengah jam untuk mencapai sarana kesehatan.6%). di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan. serta status sosial-ekonomi dan budaya.7%).1% RT di Indonesia berada kurang atau sama dengan 5 km dari sarana pelayanan kesehatan dan hanya 6. DKI Jakarta (4. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Nanggroe Aceh Darussalam (10. Papua (30.6% penduduk dapat mencapai sarana pelayanan kesehatan dimaksud antara 16-30 menit.9%). Dari segi waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan nampak bahwa 67. dan polindes/bidan di desa.0%). pos obat desa.8%) serta Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur (4.4%).9%) Tabel 3. Sulawesi Tenggara (10.144 menunjukkan bahwa sebanyak 94.7%).1 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Kemudahan akses ke sarana pelayanan kesehatan berhubungan dengan beberapa faktor penentu. masih ada sekitar 9.8%). warung obat desa. puskesmas pembantu.4%). puskesmas. DI Yogyakarta (4. Sarana pelayanan kesehatan rumah sakit.8%). termasuk alasan apabila responden tidak memanfaatkan UKBM dimaksud. Berdasarkan tipe daerah.7%).3. 211 .4%) dan Maluku (10. 2. Kalimantan Barat (19. poskesdes. dan semakin singkat waktu tempuh ke sarana pelayanan kesehatan. Selanjutnya untuk UKBM dikaji tentang pemanfaatan dan jenis pelayanan yang diberikan/diterima oleh rumah tangga/RT (masyarakat). Papua (12. berturut-turut adalah sebagai berikut: Provinsi Kalimantan Barat (16. Dengan demikian secara nasional.3%).2% penduduk dapat mencapai ke sarana pelayanan kesehatan kurang atau sama dengan 15 menit dan sebanyak 23. proporsi rumahtangga dengan jarak ke sarana pelayanan kesehatan >5 kilometer. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin dekat jarak.5%).8. Sulawesi Barat (14. dokter praktek dan bidan praktek Upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) yaitu pelayanan posyandu.2%). yaitu: 1. Sedangkan proporsi terendah RT yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke sarana kesehatan adalah Provinsi Kepaulauan Bangka Belitung (3. Begitu pula proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh >30 menit. Sulawesi Barat (17. Provinsi dengan proporsi RT bertempat tinggal lebih dari 5 km ke sarana pelayanan kesehatan tertinggi.0% RT berada lebih dari 5 km. Nusa Tenggara Timur (14.145 menyajikan informasi tentang jarak dan waktu tempuh rumahtangga terhadap sarana pelayanan kesehatan menurut karakteristik rumah tangga. Untuk masing-masing kelompok pelayanan kesehatan tersebut dikaji akses rumah tangga ke sarana pelayanan kesehatan tersebut. di perkotaan lebih rendah dibandingkan di perdesaan. Dalam analisis ini. sarana pelayanan kesehatan dikelompokkan menjadi dua.8 Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan 3.

5 22.2 36.5 8. Praktek dan Bidan Praktek Puskesmas Pembantu.2 5.5 40.7 5.6 57.4 40.5 6.1 57.0 60.9 7.4 5.6 2.0 3.4 3.8 76.8 7.8 4.0 4.5 47.9 4.0 10.9 37.5 64.3 23.8 6.144 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Sarana Pelayanan Kesehatan*) Menurut Provinsi.8 1.8 31.7 58.6 2.4 17.9 4.6 41.7 52.1 36. Dokter Tabel 3.4 50.3 24.7 48.3 1.0 20.4 66.3 6.5 6.0 42.9 1.7 76.6 2.5 44.4 3.4 4.4 55.6 24.3 5.1 27.8 73.6 72.4 72.6 79.7 6.4 38.2 19.5 5.6 5.1 69.9 5. Riskesdas 2007 PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua JARAK KE YANKES < 1 KM 1 .2 46.4 23.8 4.0 10.7 31.3 7.4 16.2 65.7 12.6 4.0 3.1 50.6 0.1 50.4 75.2 10.7 51.1 70.0 4.6 2.2 2.2 22.7 54.2 1.0 Indonesia Catatan: 47.5 58.0 27.8 9.5 44.8 6.4 0.145 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak dan Waktu Tempuh Ke 212 .3 55.7 35.5 27.4 11.0 47.2 45.2 48.8 54.7 WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 16'-30' 31'-60' >60' 55.0 52.6 41.3 37.0 0.0 3.9 44.8 7.3 72.0 69.0 19.4 72.6 6.3 8.9 6.3 47.4 37.4 64.6 48.6 3.4 6.4 3.2 16.5 17.6 35.1 14.6 1.4 69.5 27.7 1.1 37.7 3.8 39.1 24.3 74.7 26.4 7.3 4.8 17.2 7.9 51.7 73.9 50.6 31.0 48.4 5.0 20.8 3.0 20.5 23.4 29.2 28.8 3.6 2.2 69.7 1.0 76.3 3.9 1.5 24.2 6.8 2.1 44.2 67.1 48.4 44.0 67.6 46.8 58.1 6.7 52.Tabel 3.7 *) Sarana Pelayanan Kesehatan: Rumah Sakit.3 22.5 74.7 6.2 52.0 19.6 45.2 23.2 50.6 7.6 36.6 75.9 47.6 2.4 1.0 7.6 0.3 45.2 3.2 18.5 0.4 61.5 9.8 40.9 42.2 2.6 7.8 52.6 0.5 4.7 1.3 25.5 KM > 5 KM 27.4 47.6 47.1 14.6 65.6 14.8 61.3 20.5 49.3 3.5 4.9 12.4 46.7 6.7 21. Puskesmas.6 7.0 52.9 2.6 57.4 54.6 3.8 10.9 1.5 66.4 39.3 19.6 43.6 16.9 3.8 10.9 30.

8 4. Sebanyak 11.8 22.6 26.5 6.8 26. Berdasarkan waktu tempuh ke UKBM nampak bahwa 85.5 8.9 1.4 6.147) Tabel 3. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.146 menjelaskan akses rumah tangga ke UKBM.4% rumah tangga di Indonesia dapat mencapai UKBM dalam waktu kurang dari atau sama dengan 15 menit.3%).2 4.1 69. meliputi Posyandu.8 39.0 3.8 48.7 7.3 23. Dari segi jarak. dan Polindes.3%) dan Riau (5.5% berjarak 1-5 km dari UKBM.5 46.0 6.0 Catatan: *) Sarana Pelayanan Kesehatan: Rumah Sakit.9 Tingkat Pengeluaran rumahtangga per kapita Kuintil 1 43. tertinggi adalah Provinsi Papua (15.Sarana Pelayanan Kesehatan*) dan Karakteristik Rumah Tangga. proporsi rumah tangga dengan jarak ke UKBM >5 kilometer.5 km > 5 km WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 78.6 50. (Tabel 3.5 4. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga JARAK KE YANKES < 1 km 1 .5 25.1 2. Dokter Tabel 3.6 Tipe Daerah Perkotaan 58. Puskesmas.1 Kuintil 4 48.3 >60' 0. Poskesdes.8 43. di perkotaan lebih rendah dibandingkan di perdesaan.1% rumah tangga memerlukan waktu antara 16-30 menit.3 61. Provinsi dengan proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh lebih dari 30 menit ke UKBM.1 60. Riskesdas 2007 PROVINSI JARAK KE YANKES < 1 km 1 .7 31'-60' 2. di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan.6 3. Begitu pula proporsi rumah tangga dengan waktu tempuh >30 menit.8 45.9% rumah tangga berjarak kurang dari 1 km dan 19. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin dekat jarak.5 7.7 5.3 1.4 74. dan 3.5 km > 5 km WAKTU TEMPUH KE YANKES <15' 16'-30' 31'-60' >60' 213 .4 Kuintil 2 45.4 64. Provinsi dengan proporsi rumah tangga tertinggi berjarak lebih dari 5 km ke UKBM adalah Kalimantan Barat (6.6 9. Praktek dan Bidan Praktek Puskesmas Pembantu.6 Kuintil 5 52. disusul Provinsi Nusa Tenggara Timur (11.146 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat* dan Provinsi. nampak bahwa 78.6 Kuintil 3 47.0 67.5 2. dan semakin singkat waktu tempuh ke UKBM.4 Perdesaan 40.5 19.6%).6% rumah tangga yang tersisa memerlukan waktu lebih dari 30 menit.1 8.6 5.4%).4 48.4 16'-30' 18. Berdasarkan tipe daerah.

0 5.6 Sulawesi Tenggara 80.9 1.6 31.2 1.NAD 69.4 1.1 Jawa Timur 82.7 7.9 DKI Jakarta 86.5 6.9 4.6 18.7 89.1 81.2 16.4 0.0 6.8 2.4 8.6 0.1 23.4 0.6 1.2 17.2 7. Poskesdes.8 1.6 25.4 Maluku 88.3 0.6 Nusa Tenggara Barat 85.6 12.7 90.0 0.6 2.2 83.9 8.1 68.5 9.3 27.7 22.6 15.3 16.5 1.4 92.8 67.4 Bengkulu 78.7 Banten 93.2 6.4 0.5 14.5 0.6 14.1 84.5 0.1 1.7 6.3 3.1 1.4 2.1 1.5 90.2 74.6 3.8 0.2 0.2 1.9 89.6 22.0 20.2 1.1 Lampung 76.9 11.1 21.2 27.9 15.6 0.5 1.3 88.2 Kepulauan Riau 79.8 Bangka Belitung 76.3 1.7 80.2 0.1 3.4 1.4 Papua Barat 88.5 0.3 13.0 11.1 1.9 83.5 2.2 0.5 21.7 23.9 2.7 11.1 2.9 2.1 3.4 0.7 0.6 93.5 1.8 1.1 0.9 92.3 8.7 1.5 1.7 3.8 12.2 0.4 1.7 9.5 Sulawesi Barat 68.5 9.8 79.9 4.2 0.6 66.3 2.7 88.0 16.9 86.1 Indonesia 78.8 86.5 0.5 Bali 81.9 5.9 Gorontalo 72.4 87.8 15.5 18.147 Persentase Rumah Tangga Menurut Jarak Dan Waktu Tempuh Ke Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat*) dan Karakteristik Rumah Tangga.6 0.7 2.8 Sumatera Selatan 73.7 85.1 84.1 9.9 29.3 82.3 0.7 1.6 0.7 22.9 9.7 2.5 0.7 2.0 2.1 0.4 DI Yogyakarta 87.3 24.4 Kalimantan Selatan 75.1 1.5 20.0 84.8 2.3 7.1 9.4 2. Riskesdas 2007 214 .6 4.0 3.3 Sulawesi Selatan 74.2 13.7 81.5 91.9 11.1 7.9 2.3 0.1 3. Polindes 80.6 1.3 2.2 Tabel 3.3 Nusa Tenggara Timur 70.0 Papua 66.6 2.5 Sumatera Utara 74.1 91.4 Jambi 69.0 88.0 3.8 13.4 3.2 9.7 3.8 5.4 1.4 2.0 Jawa Barat 90.9 8.3 24.2 0.2 79.3 Kalimantan Tengah 74.6 6.4 Maluku Utara 91.0 1.4 0.5 1.3 1.0 87.2 3.9 7.9 19.2 0.3 1.3 93.6 8.7 0.7 Riau 64.3 24.3 Kalimantan Barat 62.3 13.3 8.9 1.7 1.3 29.3 2.4 14.7 Sulawesi Tengah 77.0 7.9 0.5 0.8 0.5 Sumatera Barat 75.1 Sulawesi Utara 83.9 15.3 28.4 Jawa Tengah 86.6 *) UKBM meliputi Posyandu.0 27.0 16.2 Kalimantan Timur 83.2 4.9 21.

4 9.3 2.9 19. nampak ada kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin kurang memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes.8%).5 > 5 km 0.1 1 .6 1.5 17.7 86.4 1.7 21.1 1.9%) dan Nanggroe Aceh Darussalam (19.8 20.8 2.1 1.7 13.9 11.Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan JARAK KE UKBM < 1 km 88.1 *) UKBM meliputi Posyandu.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 76.148.5% rumah tangga menyatakan tidak membutuhkan pelayanan di posyandu atau poskesdes karena berbagai alasan.1 82. Bila ditinjau dari tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. seperti tidak ada anggota rumah tangga (ART) yang sakit.148 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes Menurut Provinsi. Secara keseluruhan. Tabel 3.4 1.4 24.5 WAKTU TEMPUH KE UKBM 16'-30' 6.2 73. tidak ada yang hamil atau tidak mempunyai bayi/balita.7 Kuintil 4 79. Provinsi dengan persentase rumah tangga tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/ poskesdes tertinggi adalah Provinsi Maluku (20. Poskesdes.4 2.9 10.5 km 11.8%) dan Jawa Barat (5.4 <15' 92.9 10.3 84.6 88.5 1.9%).6 1.1 31'-60' 0.7 1.4 1.1 2. Sebanyak 62. Polindes Tabel 3.9%) dan terendah adalah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (19. di Indonesia sebanyak 27.0 1.0 Kuintil 2 77.4 24.7%).6 Kuintil 5 81. memberikan gambaran persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan posyandu atau poskesdes di tiap provinsi selama tiga bulan terakhir.4 >60' 0. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Tidak Alasan lain membutuhkan NAD Sumatera Utara 30.5 19.3% rumah tangga.3% rumah tangga memanfaatkan pelayanan di posyandu atau poskesdes.8 Kuintil 3 78.4 Provinsi Memanfaatkan 215 .149 menggambarkan pemanfaatan posyandu/poskesdes berdasarkan karakteristik rumah tangga. Provinsi dengan persentase rumah tangga memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes tertinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (42.4 3. sedangkan terendah di Provinsi Jawa Tengah (5.4 2. Tabel 3.0 64.1 50.8 12.0 85. Sedangkan yang sebetulnya membutuhkan tetapi tidak memanfaatkan posyandu atau poskesdes adalah sebanyak 10.5 1.7 11. Tampak bahwa persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes di perdesaan lebih besar dibandingkan dengan perkotaan.7 3.2 81.8 18.

6 20.4 28.1 66.5 22.2 13.7 64.8 26.3 42.6 66.8 20.7 65.0 27.2 11.7 27.8 25.0 23.5 61.2 26.5 60.3 68.9 27.4 56.0 11.6 64.4 25.2 Karakteristik rumah tangga Memanfaatkan Tipe Daerah Perkotaan 24.3 15.5 28.6 58.9 Perdesaan 29. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Tidak Alasan lain membutuhkan 8.8 33.8 11.1 7.5 10.9 6.9 58.4 68.8 30.5 16.1 62.0 26.9 27.4 61.2 11.1 60.2 12.3 Tabel 3.Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 28.4 25.2 31.4 70.2 17.9 30.0 7.8 18.9 9.9 33.8 54.8 11.3 62.3 48.0 6.1 7.7 67.7 Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Per Kapita Per Bulan 216 .9 7.8 23.3 42.4 19.6 12.3 11.4 10.3 58.8 31.8 22.3 66.7 52.5 13.4 68.6 12.0 8.6 67.4 51.5 57.9 69.0 55.9 5.4 11.3 25.3 Indonesia 27.4 27.7 23.6 22.4 59.0 30.1 59.149 Persentase Rumah Tangga Menurut Pemanfaatan Posyandu/Poskesdes dan Karakteristik Rumah Tangga.2 64.4 8.7 36.8 7.9 5.2 60.8 5.

3%. penyuluhan.1 10. Tabel 3.8%). semakin sedikit yang menerima pelayanan penimbangan.5%) dan terendah di DI Yogyakarta (6. sedangkan di perdesaan alasan yang banyak dipakai adalah ’letak jauh’. dan suplemen gizi lebih banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga di perkotaan daripada di perdesaan. PMT dan suplemen gizi. Sebaliknya untuk pelayanan pengobatan dan konsultasi risiko penyakit semakin tinggi tingkat pengeluaran. Pada rumah tangga yang sebetulnya membutuhkan pelayanan posyandu/poskesdes dalam tiga bulan terakhir tetapi tidak memanfaatkan diminta untuk menyebutkan alasannya. di perkotaan alasan ’jenis layanan posyandu/poskesdes tidak lengkap’ lebih mendominasi. Menurut tipe daerah.4 66.0%) dan imunisasi (55. Tabel 3. Provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi menjawab ’layanan tidak lengkap’ adalah DI Yogyakarta (88. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. Hanya sedikit rumah tangga yang memanfaatkan posyandu/poskesdes untuk konsultasi risiko penyakit (13.0 71.4%) dan terendah di Provinsi DI Yogyakarta (5.4 10. Berdasarkan tipe daerah.153 menggambarkan alasan utama (di luar tidak membutuhkan) tidak memanfaatkan posyandu/poskesdes menurut karakteristik rumah tangga. sedangkan untuk alasan ’tidak ada posyandu/poskesdes’ tertinggi di Papua Barat (71. Riskesdas 2007 Provinsi Penimbangan Penyuluhan Imunisasi KIA KB Pengobatan PMT Suplemen Gizi Konsultasi Risiko 217 .8 62. Hampir separuh rumah tangga (49.3 Tabel 3.6%) tidak memanfaatkan pelayanan di posyandu/poskesdes karena dianggap tidak lengkap.5 54. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga.1 58. Ketidakberadaan posyandu / poskesdes disebut sebagai alasan untuk tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes oleh rumah tangga dengan persentase yang tidak berbeda antara perkotaan dan perdesaan.0 27.3 23. imunisasi.4 31.150 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi.Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3 Kuintil 4 Kuintil 5 35. Untuk alasan ’letak posyandu/poskesdes jauh’ tertinggi di Provinsi Riau (52.1 10.150 menggambarkan jenis pelayanan posyandu/poskesdes yang pernah dimanfaatkan rumah tangga dalam tiga bulan terakhir. yaitu masing-masing 26.1%).2%). Sedangkan pelayanan KB dan pengobatan di perdesaan lebih banyak daripada di perkotaan.3 10. Tabel 3.151 menggambarkan jenis pelayanan posyandu/poskesdes yang pernah dimanfaatkan rumah tangga dalam tiga bulan terakhir menurut karakteristik rumah tangga. untuk pelayanan penimbangan.6%) dan terendah adalah Papua Barat (17. PMT. semakin banyak yang menerima pelayanan tersebut.2%).7%) dan pelayanan KB (28.9 18.1 10.152 menggambarkan alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan pelayanan posyandu/poskesdes dalam tiga bulan terakhir (di luar yang tidak membutuhkan). Tampak secara keseluruhan di Indonesia jenis pelayanan yang banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga adalah penimbangan (85.1% dan 24. Tabel 3.6%). Sedangkan yang menjawab letak jauh dan tidak ada posyandu persentasenya hampir sama. imunisasi.

6 30.2 20.1 18.4 53.0 24.2 98.3 28.8 74.7%).2 22.9 32.2 50.4 37.4 53.4 46.2 46.7 14.0 53.0 22.4%).7 37.8%) lebih tinggi dibandingkan dengan di perkotaan (15.1 43.3 33.8 29.5 46.3 40.2 22.7 Provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa adalah Provinsi Sumatera Barat (34.9 43.8 59.1 93. sedangkan yang terendah adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat (13.2 95.5 51.7 39.3 23.9 36.9 52. Riskesdas 2007 218 .2 27.7 22.6 27.1 62.5 32.2 48.5 85.3 49.4 37.5 71.3 28.6 62.8 38.0 34.4 50. Secara keseluruhan lebih dari separuh rumah tangga.4 46.5 25.3 29.8 55.9 15.0 39.3 69.1 30.1 52.7 37.8 51.2 27. Tabel 3.0 11.6 42.0 62.7 92.9 68.9 58.9 34.7 56.6 62.2 11.0%) dan terendah DKI Jakarta (6.3 56.7 49.3 61.5 17.5 67.4 14.7 88.2%).2 8.2 80.4 47.3 27.5 13.5 33.2 32.5 49.1 50.0 82.5 47.6 41.6 85.155 menggambarkan pemanfaatan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir menurut karakteristik rumah tangga.8 96.9 19.1 88.0 24.9 28.2 24.6 59.1 36.6 24.3 94.9 35.0 20.6 77.1 52.9 78.3 50.9 40.1 83.2 46.7 30.3 25.2 42.7 47.2 35.0 51.0 24.8 52.1 9.9 22.8 92.8 37.7 76.3 59.0 10.2 55.6 28.2 50.2 15.4 16.6 12.5 28.0 40.6 68.2 48.5 40.2 17.3 60.5 41.5 12.7 16.5 81.5 91.0 44.1 27.2 47.7 37.9 58. tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan di desa.4 51.4 59.4 32.9 61.1 39.8 34.0%) dan Papua Barat (54.5 46.9 34.7 39.Penyakit NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 92.6 55.5 37.7 39.0 25.3 40.1 90.151 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga.7 32.5 56. Untuk alasan tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan di desa.2 23.1 54.0 40.1 18.4 35.1 67.3 85.3 36.2 25.0 56.1 40.2 11.7 13.0 36.2 36. Sedangkan provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi yang tidak memanfaatkan dengan alasan lain (diluar tidak membutuhkan) adalah Provinsi Papua (55. baik yang tinggal di daerah perdesaan maupun perkotaan.6 50.4 88.6 25.2 60.7 9.1 27.2 80.2 10.6 25.2 33.5 32.2 32.3 38.7 25.4 67.3 33.5 78.3 25.7 20.2 60.6 35.2 9.9 48.2 20.6 16.6 27.8 46. Provinsi Gorontalo menempati persentase tertinggi (76.9 55.2 36.1 89.4 27.0 78.6 30.6 80.1 34.3 45. Sedangkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa di perdesaan (25.5 70.2 54.7 46.2 35.1 10.7 37.4 31.6 31. sedangkan terendah adalah Provinsi Papua (30.9 46.1 58.4 42.9 54.5 34.1 48.9 35.5 30.4%).8 56.8 28.8 58.6 38.9 30.5 31.0 24.9 64.3 12.7 28.8 55.8 33.4 33.9 28.7 37.8 9.0 34.3 51.9 33.2 34.3 10.9 24.5 27.9 60.0 47.9 25.9 56.0 64.9 45.3 37.4 26.1 46.2 84.1 55.6 17.3 29.1 46.6 42.7 24.5 16.7 79.6 12.2 26. Tabel 3.9 38.9 48.9 72.7 42.0 43.0 32.7 28.5 14.8 30.7 33.7 54.3%).5 89.9 94.8 41.5 42.8 64.4 55.2 54.6%).7 28.7 24.3 46.0 14.4 49.3 65.9 46.2 60.9 52.7 31.0 30.0 23.

7 62.7 Kuintil 5 81.5 Kuintil 3 84.152 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Provinsi.1 44.2 56.9 15.9 14.6 47.8 30.5 39.1 25.5 40.9 40.6 27.7 Tipe Daerah Perkotaan 89.4 Perdesaan 82.7 26.7 37.6 29.2 58.6 30.6 42.3 35.4 13.2 51.2 35.1 46.0 47.2 49.4 23.4 43.9 38.7 35.6 25.7 32.2 29.0 45.1 24. Riskesdas 2007 Alasan utama tidak memanfaatkan Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan posyandu/poskesdes Tdk ada Layanan tdk Letak jauh 16.6 38.9 36.6 55.7 30.8 30.5 45.5 14.2 41.1 28.2 52.1 54.1 53.7 43.0 37.6 Kuintil 2 85.9 39.2 36.3 Tabel 3.3 30.7 43.3 13.8 46.8 219 .6 Kuintil 4 83.7 12.4 44.8 33.2 8.Tipe Daerah Penimbangan Penyuluhan Imunisasi KIA KB Pengobatan PMT Suplemen Gizi Konsultasi Risiko Penyakit 13.0 28.1 lengkap 63.7 13.2 30.7 52.6 30.3 43.8 42.7 54.5 48.1 posyandu 20.2 39.0 20.2 20.8 Tingkat Pengeluaran Rumah Tangga Per Kapita Kuintil 1 87.

6 Kuintil 3 26.3 8.0 17.6 50.1 42.0 52.2 29.2 24.8 29.5 21.4 16.9 39.4 8.8 27.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 33.5 60.6 Tabel 3.5 25.9 61.9 220 .8 67.4 43.8 17.7 26.6 19.7 37.3 10.6 55.0 34.9 19.7 44.0 17.1 24.6 16.6 12.4 35.3 10.6 31.6 60.1 44.0 50.4 44.1 17.9 16.6 33.0 10.4 38.7 18.0 25.3 24.7 50.8 51.6 39.7 71.2 22.8 5.5 22.1 22.5 13.2 46.2 88.0 6.3 24.9 50.2 41.153 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Posyandu/Poskesdes (Di Luar Tidak Membutuhkan) dan Karakteristik Rumah Tangga.4 36.2 66.9 27.7 69.1 56.1 51.5 50.2 19.4 26.1 39.8 25.7 26.Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia 23.7 Kuintil 2 29.3 37.4 6.5 47.6 18.5 30.5 49.1 Perdesaan 31.6 32.9 44.3 20.4 70.8 9.5 25.6 30.3 Tipe Daerah Perkotaan 15.3 58.0 37.3 12.4 11.8 22.9 38. Riskesdas 2007 Alasan utama tidak memanfaatkan Karakteristik rumah tangga Letak jauh posyandu/poskesdes Tdk ada Layanan tdk posyandu lengkap 60.

Kuintil 4 Kuintil 5

22.8 18.2

24.3 22.8

52.9 59.0

Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran, semakin sedikit yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dan semakin banyak yang tidak membutuhkan pelayanan polindes/bidan desa. Dari rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir, jenis pelayanan yang diterima dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pelayanan KIA dan pengobatan. Pelayanan KIA meliputi pemeriksaan kehamilan, persalinan, pemeriksaan ibu nifas, pemeriksaan neonatus, dan pemeriksaan bayi/balita. Tabel 3.156 menggambarkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut jenis pelayanan dan provinsi. Jenis pelayanan yang paling banyak dimanfaatkan adalah pengobatan (82,9%). Adapun pelayanan KIA yang terbanyak dimanfaatkan adalah pemeriksaan bayi/balita (29,2%), disusul pemeriksaan kehamilan (22,5%). Persentase rumah tangga yang memanfaatkan pelayanan persalinan, pemeriksaan ibu nifas dan pemeriksaan neonatus masing-masing di bawah 10%. Menurut provinsi, pemanfaatan polindes/bidan di desa sebagai tempat pengobatan paling tinggi di Provinsi Sulawesi Tengah (90,1%) dan terendah di DKI Jakarta (56,6%). Untuk pelayanan KIA, pemeriksaan bayi/balita terbanyak dimanfaatkan di Provinsi Maluku Utara (69,1%) dan terendah Bengkulu (17,7%). Pemeriksaan kehamilan tertinggi dimanfaatkan di Provinsi Maluku Utara (97,0%) dan terendah di Bengkulu (11,3%). Pertolongan persalinan terbanyak dimanfaatkan di Provinsi Jambi (42,1%) dan terendah di Riau (4,7%).

Tabel 3.154 Persentase Rumah Tangga Yang Memanfaatkan Polindes/Bidan Di Desa Menurut Provinsi, Riskesdas 2007
Tidak Memanfaatkan Tidak Alasan lain membutuhkan
NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah 23,4 24,0 34,0 19,9 23,9 26,0 33,1 26,8 21,4 11,3 6,4 21,9 25,3 48,8 54,3 42,4 57,5 45,5 51,2 46,2 50,8 46,4 43,4 49,4 56,9 58,2 27,8 21,6 23,6 22,5 30,7 22,8 20,7 22,4 32,2 45,3 44,2 21,2 16,5

Provinsi

Memanfaatkan

221

DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

8,7 25,6 20,5 23,5 15,8 29,2 17,2 13,3 19,3 9,8 8,2 29,1 19,2 19,9 9,9 19,0 14,1 27,7 10,8 14,3

50,4 52,5 45,3 50,1 71,0 39,0 52,9 64,5 63,3 51,7 67,4 45,6 56,1 54,3 76,4 62,2 45,0 45,4 34,9 30,7

40,9 21,8 34,3 26,3 13,2 31,8 29,9 22,1 17,3 38,5 24,4 25,3 24,7 25,8 13,7 18,8 41,0 27,0 54,3 55,0

Indonesia

21,9

52,9

25,2

Tabel 3.155 Persentase Rumah Tangga yang memanfaatkan Polindes/Bidan Di Desa Menurut Karakteristik Rumah Tangga, Riskesdas 2007
Tidak Memanfaatkan Tidak Alasan lain membutuhkan
57,0 50,3 49,6 50,7 52,5 54,0 58,2 27,4 23,8 25,6 24,8 24,9 25,2 25,1

Karakteristik rumah tangga

Memanfaatkan

Tipe Daerah Perkotaan 15,6 Perdesaan 25,8 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 24,8 Kuintil 2 24,5 Kuintil 3 22,6 Kuintil 4 20,8 Kuintil 5 16,7

222

Tabel 3.157 menggambarkan persentase rumah tangga yang memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut jenis pelayanan dan karakteristik rumah tangga. Menurut tipe daerah, nampaknya rumah tangga di perkotaan lebih banyak memanfaatkan polindes/bidan di desa untuk pelayanan KIA, sedangkan di perdesaan lebih banyak yang memanfaatkan untuk pelayanan pengobatan. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak kecenderungan, semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga, semakin sedikit yang memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa untuk pemeriksaan bayi/balita, dan semakin meningkat yang memanfaatkan pemeriksaan kehamilan. Tabel 3.158 menggambarkan alasan utama rumah tangga (di luar yang tidak membutuhkan) tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa menurut provinsi. Rumah tangga yang tidak memanfaatkan pelayanan polindes/bidan di desa dalam tiga bulan terakhir diminta untuk menyampaikan alasannya. Alasan utama yang mengemuka meliputi ’tidak ada polindes/bidan di desa’ (39,3%), ’letak jauh’ (8,9%), dan ’layanan tidak lengkap’ (7,9%). Persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ’tidak ada polindes/bidan desa’ tertinggi ditemukan di Provinsi Kalimantan Timur (77,7%) dan terkecil di Provinsi Jawa Tengah (15,3%). Provinsi Sulawesi Barat merupakan provinsi dengan persentase rumah tangga tertinggi (23,8%) yang tidak memanfaatkan polindes/bidan desa dengan alasan ‘letak polindes/bidan di desa jauh’, dan persentase terendah Provinsi DKI Jakarta (1,1%). Sedangkan untuk alasan ’layanan tidak lengkap’ persentase tertinggi adalah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (26,5%) dan terendah Provinsi Bangka Belitung (2,1%).

Tabel 3.156 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Provinsi, Riskesdas 2007
Pemeriksaan Pemeriksaan Persalinan Ibu Nifas Pemeriksaan Neonatus Pemeriksaan Bayi/Balita Pengobatan

Provinsi
DI Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat

Kehamilan

29.6 17.5 15.0 29.8 75.2 15.3 11.3 18.4 20.0 16.2 38.2 23.2 15.6 33.5 38.2 24.6 72.0 92.2

20.0 11.6 4.7 19.1 42.1 6.3 5.3 7.4 5.9 6.8 14.2 10.2 6.4 21.3 24.2 10.7 26.3 40.9

17.8 10.0 4.6 16.9 26.3 5.5 4.1 7.6 4.2 4.5 14.0 10.3 6.0 20.9 24.8 11.0 16.7 15.9

16.0 10.3 5.8 19.3 27.8 5.6 5.3 6.7 5.6 6.9 12.6 9.7 5.6 17.5 6.2 11.7 15.8 18.2

42.8 23.1 28.4 30.7 39.4 25.4 17.7 24.8 23.9 33.1 34.7 29.4 20.5 36.2 34.4 30.8 47.2 49.8

76.9 86.8 89.7 80.1 77.8 86.7 88.6 84.3 77.3 86.8 56.6 78.8 84.7 78.6 85.8 82.5 85.2 71.9

223

Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua

20.5 20.3 20.8 21.2 21.4 23.8 35.5 24.8 24.1 40.8 19.9 26.9 97.0 49.5 30.2

8.7 8.1 6.3 8.1 7.3 9.7 12.4 6.2 8.5 25.8 6.6 11.1 11.6 25.7 13.6

8.6 7.4 5.6 6.6 8.7 14.1 10.7 6.1 9.8 27.4 4.6 9.1 16.4 23.3 13.6

7.2 7.3 5.1 5.6 4.8 10.7 9.1 4.1 7.8 19.9 3.5 8.6 20.6 22.8 11.6

30.9 30.2 20.7 20.6 22.7 44.1 32.8 23.8 39.0 48.3 30.4 24.1 69.1 45.1 34.3

88.6 79.4 77.1 80.5 73.2 72.7 90.1 80.3 81.4 68.7 78.5 78.4 77.9 59.7 72.1

Indonesia

22.5

9.8

9.2

8.2

29.2

82.9

Tabel 3.157 Persentase Rumah Tangga yang Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa menurut Jenis Pelayanan dan Karakteristik Rumah Tangga, Riskesdas 2007
Kuintil 1 Karakteristik Kuintil 2 rumah Kuintil 3 Kuintil 4 tangga Kuintil 5 Tipe Daerah 20.1 21.7 Pemeriksaan 22.2 23.5 Kehamilan 26.1 10.3 9.7 9.5 10.3 Persalinan 8.8 9.3 9.2 Pemeriksaan 9.2 9.9 Ibu Nifas 8.2 10.5 8.8 8.0 8.2 Pemeriksaan 8.2 8.7 Neonatus 8.0 9.3 7.8 32.9 30.2 Pemeriksaan 28.9 26.5 Bayi/Balita 25.2 33.2 27.7 83.3 83.0 Pengo83.1 83.4 batan 81.5 77.9 84.8

Perkotaan 27.7 10.9 Perdesaan 20.6 9.4 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita

Tabel 3.159 menggambarkan persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan utama (di luar yang tidak membutuhkan) menurut karakteristik rumah tangga. Menurut tipe daerah, persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ‘letak jauh’ dan ‘layanan tidak lengkap’ lebih tinggi di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan. Sedangkan alasan ‘tidak ada polindes/bidan di desa’ lebih banyak ditemukan di perkotaan. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita nampak kecenderungan, semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga,

224

semakin sedikit yang tidak memanfaatkan polindes/bidan di desa dengan alasan ‘letak jauh’, dan semakin banyak yang mengajukan alasan ‘pelayanan tidak lengkap’. Tabel 3.160 menyajikan informasi tentang pemanfaatan Pos Obat Desa (POD) atau Warung Obat Desa (WOD) dalam tiga bulan terakhir. Secara keseluruhan sebagian besar rumah tangga (79,6%) tidak memanfaatkan POD/WOD. Persentase rumah tangga yang memanfaatkan POD/WOD tertinggi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (24,4%) dan terendah di Kepulauan Bangka Belitung (0,5%). Sedangkan persentase rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD karena tidak membutuhkan tertinggi di Provinsi Riau (16,8%) dan terendah di Lampung (0,4%). Kajian pemanfaatan POD/WOD menurut karakteristik rumah tangga tersaji pada Tabel 3.161 Persentase rumah tangga yang memanfaatkan POD/WOD lebih banyak di perdesaan (11,3%) daripada di perkotaan (8,7%), sebaliknya untuk rumah tangga yang tidak membutuhkan lebih banyak di perkotaan (11,6%). Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan bahwa ada kecederungan, semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga, semakin tinggi pula persentase rumah tangga yang tidak membutuhkan POD/WOD.

Tabel 3.158 Persentase Rumah Tangga yang Tidak Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa Menurut Alasan Lain dan Provinsi, Riskesdas 2007
Alasan Lain Tidak Memanfaatan Poslindes/Bidan Letak Tidak ada Layanan tdk jauh 7.8 13.1 9.5 17.8 8.5 14.6 9.0 12.2 4.1 5.6 1.1 10.9 6.2 2.0 7.7 5.6 5.9 18.8 13.4 20.7 7.1 7.6 polindes/bidan 39.5 46.2 30.3 27.1 19.2 19.9 31.5 22.8 27.0 71.1 81.9 28.3 15.3 70.1 19.3 53.9 39.6 26.3 53.7 35.6 53.9 25.4 lengkap 26.5 7.2 4.6 12.4 15.0 10.2 10.6 4.9 2.1 6.2 6.2 4.7 7.9 7.5 6.4 3.3 6.3 16.1 4.9 7.3 5.9 9.3 Lainnya 26.2 33.5 55.6 42.7 57.3 55.3 48.9 60.1 66.8 17.2 10.9 56.1 70.6 20.5 66.6 37.2 48.1 38.7 28.0 36.5 33.1 57.7

PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan

225

Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia

3.4 1.4 8.5 11.3 12.3 12.3 23.8 6.3 1.6 1.2 5.7 8.9

77.7 58.3 24.6 38.2 26.3 20.0 31.5 56.9 29.7 64.7 64.4 39.3

4.7 7.5 12.4 4.9 7.5 9.1 15.0 8.7 2.5 2.3 10.4 7.9

14.2 32.9 54.5 45.6 53.9 58.5 29.7 28.0 66.3 31.8 19.6 43.9

Tabel 3.159 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Polindes/Bidan di Desa dan Karakteristik Rumah Tangga, Riskesdas 2007
Karakteristik rumah Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Polindes/BDD Tidak ada Layanan Lainnya 39.9 46.8 42.1 42.9 43.0 45.0 47.3

tangga Letak jauh polindes/bidan tdk lengkap Tipe Daerah Perkotaan 3.4 49.7 7.0 Perdesaan 12.8 31.8 8.6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 11.8 39.2 6.9 Kuintil 2 10.1 39.7 7.3 Kuintil 3 9.4 40.0 7.6 Kuintil 4 7.8 38.7 8.5 Kuintil 5 5.5 37.9 9.3

Rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD diminta untuk menyebutkan alasannya. Sebagian besar rumah tangga (94,8%) tidak memanfaatkan POD/WOD dengan alasan utama ‘tidak ada POD/WOD’. Tabel 3.162 menunjukkan rumah tangga yang tidak memanfaatkan POD/WOD dengan alasan ‘letak jauh’ tertinggi Provinsi Riau (3,5%) dan terendah di Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara (masing-masing 0,1%). Yang menyatakan alasan ‘tidak ada POD/WOD’, tertinggi di Provinsi Lampung (98,2%) dan terendah di Papua Barat (90,1%). Sedangkan untuk alasan ‘obat tidak lengkap’, tertinggi di Provinsi Maluku Utara (7,1%) dan terendah di Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, dan DI Yogyakarta (0,0%). Tabel 3.163 menyajikan informasi tentang alasan utama rumah tangga tidak memanfaatkan POD/WOD menurut karakteristik rumah tangga. Alasan utama terbanyak

226

3 3.5 84.1 69. Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Memanfaatkan 24.9 85.2 96.0 5.9 15.0 21.1 88.4 11.7 4.7 74.9 4.2 75.6 7.8 85.0 89.4 9.3 81.4 7.1 9.0 85.6 13.5 12.4 0.6 12.4 0.7 10.8 10.yang dikemukakan adalah tidak adanya POD/WOD.4 69.6 4.5 0.6 8.6 10.6 6.2 10.1 5.160 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat Desa/ Warung Obat Desa dan Provinsi. begitu pula menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1 227 .7 8.9 4. Tidak tampak perbedaan antara daerah perdesaan dan perkotaan dalam hal alasan utama untuk tidak memanfaatkan POD/WOD. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Tidak Alasan lain Provinsi Nanggroe Aceh D.1 80.7 6.6 69.5 10.8 11.5 76.4 9.0 18.2 3.4 12.3 82.4 17.2 16.3 76.6 86.0 membutuhkan 11.2 88.5 14.1 13.1 79.0 15.4 3.3 9.4 12.2 71.1 66.1 77.1 9.9 3. Tabel 3.6 80.5 11.1 11.9 7.7 15.4 21.2 3.2 13.2 11.5 10.0 92.1 90.4 7.9 64.1 80.

0 5.8 79.6 5.7 79.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 10.9 Kuintil 3 10.1 5.4 79.0 Indonesia 10.6 78.9 78. Riskesdas 2007 Tidak Memanfaatkan Tidak Alasan lain membutuhkan 11.3 10.2 7.2 10.7 Perdesaan 11.6 6.5 7.6 7.6 80.3 10.6 228 .0 15.161 Persentase Rumah Tangga menurut Pemanfaatan Pos Obat Desa/ Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.4 Karakteristik rumah tangga Memanfaatkan Tipe Daerah Perkotaan 8.5 79.3 12.4 14.6 Tabel 3.2 9.4 Kuintil 2 10.5 80.2 79.6 89.4 Kuintil 4 10.2 85.8 88.0 79.6 9.1 9.2 Kuintil 5 9.Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 3.

5 0.7 2.4 1.3 2.9 3.8 1.0 90.2 0.6 93.5 2.1 0.162 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Provinsi.0 0.0 1.7 0.2 0. Riskesdas 2007 Alasan Utama Tidak Memanfaatkan POD/WOD Lokasi Tidak ada Obat tidak jauh 1.8 3.4 0.8 98.3 0.0 2.3 0.5 0.9 2.2 1.0 PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku 229 .7 4.7 0.3 lengkap 4.0 2.1 1.8 96.4 0.5 0.1 97.2 1.2 93.8 0.1 0.3 0.2 0.8 3.5 0.3 2.0 1.5 1.2 2.1 91.5 0.4 2.5 0.0 1.2 1.8 2.6 0.0 0.3 0.8 96.7 0.5 0.1 0.0 2.0 3.6 0.1 0.6 3.5 2.7 8.5 91.6 2.8 1.3 96.5 98.1 0.2 2.5 1.2 98.5 1.0 97.7 1.0 0.2 3.3 96.3 0.1 92.6 93.8 1.8 89.6 0.4 2.6 93.2 0.5 96.4 2.6 0.7 0.1 96.4 0.Tabel 3.1 3.9 4.5 Lainnya 1.3 5.0 0.9 96.7 3.2 0.3 4.1 0.2 95.9 98.0 96.2 97.0 96.9 94.0 7.2 POD/WOD 93.5 0.0 97.1 3.5 0.7 91.

Askeskin/Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).1 1.1 Tabel 3. di samping peningkatan derajat kesehatan (health status) dan keadilan dalam pembiayaan pelayanan kesehatan (fairness of financing).0 3. Asabri.8 2. dan JPK Pemerintah Daerah).0 8. Sumber biaya dibedakan menjadi sumber biaya sendiri/keluarga. serta dari 230 . Riskesdas 2007 Alasan Utama Tidak Memanfaatkan POD/WOD Lokasi Tidak ada Obat tidak jauh POD/WOD lengkap 0.9 Kuintil 2 1.1 1. Askes Swasta. Asuransi (Askes PNS.2 94.0 1. Mereka yang pernah rawat jalan maupun rawat inap diminta untuk menjelaskan dimana terakhir menjalani perawatan kesehatan.9 2.1 90.1 1.7 2.9 1.8 1.0 1.6 7.2 Sarana dan Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Salah satu tujuan sistem kesehatan adalah ketanggapan (responsiveness).9 1.0 94.0 94.1 3.5 Indonesia 1. dan lainnya.8 94. Jamsostek.0 Kuintil 4 1. Seluruh penduduk diminta untuk memberikan informasi tentang apakah yang bersangkutan pernah menjalani rawat inap dalam 5 (lima) tahun terakhir dan atau rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir.7 Kuintil 5 0.6 Tipe Daerah Perkotaan 0.2 0.Maluku Utara Papua Barat Papua 0.163 Persentase Rumah Tangga Menurut Alasan Utama Tidak Memanfaatkan Pos Obat Desa/Warung Obat Desa dan Karakteristik Rumah Tangga.4 3.0 0.2 Karakteristik rumah tangga Lainnya 3.1 Kuintil 3 1. Dana Sehat. termasuk penggunaan Askeskin/SKTM yang salah sasaran. Pada bagian ini dikumpulkan informasi tentang jenis sarana dan sumber pembiayaan yang paling sering dimanfaatkan oleh responden Pembiayaan kesehatan meliputi untuk perawatan kesehatan rawat inap dan rawat jalan.9 94.7 90.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 1.0 3.1 95.5 Perdesaan 1.0 95.1 95.1 5.5 89.9 3. Dari data ini diperoleh gambaran tentang seberapa besar persentase rumah tangga yang telah tercakup oleh asuransi kesehatan.8.4 3.7 2.

0 0.7% dan 2.4 0. Untuk rawat inap (Tabel 3.1 0.2 0.8 0.1 0.9 3.0 0.9 91.7 93. Terdapat 16 provinsi dari 33 provinsi yang memanfaatkan RS Pemerintah sebagai tempat rawat inap masih di bawah persentase nasional.0 95.1 0.1%) kemudian disusul RS Swasta (2.3 91.2 3.7 1.5 0.1 0.5 0. Pemanfaatan RS Swasta terbesar di Provinsi DI Yogyakarta dan Sulawesi Utara yaitu masing-masing sebesar 5.1 0.8 5.1 0.4 0.6 0.9 1.3 2.0 0.2 0.1 0.7 1.1 0.0 0.4 0.6 0.0 0.6 0.1 0.1 0.1 0.1 0.2 2.0 0.8 3.3 3.4 0.1 1.2 95.6 0.1 0.6 0.2 0.0 0.164 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan Provinsi.2 2.3 0.0 0.8 0.2 0.5 1. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan RS Pemerintah 2.2 0.4 0.0 0.7 5.2 0.9 2.1 0.2 0. Tabel 3.8 2.1 0.2 3.5 0.5 0.6 0.2 1. Persentase terbanyak pemanfaatan RS Pemerintah untuk rawat inap di Provinsi Kalimantan Timur dan Papua Barat yaitu masing-masing sebesar 5.6 0. paling banyak masyarakat masih memanfaatkan RS Pemerintah (3. Puskesmas sebagai tempat rawat inap secara nasional menempati urutan ketiga setelah RS Pemerintah dan RS Swasta.2 95.2 0.2 Puskesmas 0.0 0. Demikian pula dengan pemanfaatan Rumah Sakit Swasta sebagai tempat rawat inap.3 0. Persentase tertinggi terdapat di Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Barat.5 0.1 93.7 4.6 1.8 0.5 0.2 2.5%.5 0.0 0.2 0.0 RSB 0.0 93.0 0.1 0.4 0.4 0.5 0.5 RS Swasta 1.0 1.4 90.0 0.1 0. terdapat 11 provinsi yang persentase pemanfaatan di atas persentase nasional.1 4.1 0.4 1.4 0.2 0.3 0.1 3.8 2.5 0.4 1.1 Tidak rawat Inap 94.2%.0 0.1 0.0 0.8 4.0 0.6 0.9 1.1 3.1 0.8 0.2 0.1 94.0 0.2 0.3 0.6 1.1 0.1% dan 5.1 0.0 0.9 0.1 0.5 0.0 Lainnya 0.0 0.3 0.1 0.0 0.2 0.9 2.9 0.8 1.0 0.3 3.8 0.7 3.8 91.1 0.4 0.1 0.2 Batra 0.0 0.2 87.0 0.3 0.9 2.9 0.0 RSLN 0.7 0.3 0.1 0.5 96.3 0.8 0.8 1.3 0.1 95.2 95.0 0.5 0.0%).5 0.1 0.1 3.3 0.0 2.0 0.1 0.8 3.8 Tenaga 0.164).9 93.0 0.8 3.0 93.5 0.4 0.9 0.1 0.3 231 .5 92. Sedangkan terendah di Provinsi Sulawesi Barat yaitu 1.2 0.3 0.0 0. masing-masing sebesar 2.0%.0 5.1 96.0 0.3 0.3 91.1 0.9% dan 5.5 1.1 94.4 2.0 0.0 0.1 90.5 1.1 0.3 90.2 0.1 0.1 0.6 89.8 1.0 0.mana sumber biaya perawatan kesehatan tersebut.8 3.5 0.9 92. Pihak-pihak yang menanggung biaya perawatan kesehatan tersebut bisa lebih dari satu.8 0.1 0.0 0.8 0.2 1.7 2.0 0.5%.1 0.7 4.2 0.1 0.4 3.1 0.3 0.1 0.0 0.0 0.

RS Bersalin.8 0.6%).1 0.4 0.5 1.0 0.1 0.4 92.4 0.8 0.6 0.4 0.1 0.1 0.2 0.1 93.1 Menurut tipe daerah (tabel 3.4 0. Askeskin/SKTM (14.3 3.1 5.3 0. RS lain.3 0.0 0.2 4. terlihat bahwa RS Pemerintah.0 Kuintil 2 2.1 0.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 2.9 0.8 0.0 0.165).4 2.4 0.6 0.0 Kuintil 3 2. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Tabel 3.1 2.2 0.5 2.0%) pembiayaan yang dibayar oleh pasien sendiri atau keluarga (out of pocket’).1 0.7 0. pembiayaan rawat inap oleh Askes/Jamsostek lebih banyak dimanfaatkan di perkotaan.1 0.5 94.4 0.1 0. Pemanfaatan sarana lain tersebar hampir merata pada semua tingkat pengeluaran rumah tangga.0 0.4 0.0 0.7 1.9 95.5 1.7 0.1 Kuintil 5 4.5 90. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Tabel 3.0 0.0 96. maka sekitar 30% responden yang pernah rawat inap dalam kurun waktu 5 tahun terakhir telah mempunyai ‘sejenis asuransi kesehatan’.6 0. terlihat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak perawatan inap yang dibiayai Askes/Jamsostek.4 0.4 0.4 Tabel 3.7 Tenaga kesehat an 0.5 0.167 memperlihatkan bahwa menurut tipe daerah. tampak kecenderungan bahwa semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan RS Pemerintan dan RS Swasta.0 2.0 0. kemudian berturut-turut disusul oleh pembiayaan oleh Askes/Jamsostek (15.0 0.6 ah Tipe daerah Perkotaan 4.9 0.1 0. Askeskin/SKTM dan Dana Sehat diperhitungkan sebagai ‘sejenis asuransi kesehatan’. Sedangkan untuk pembiayaan rawat inap dengan memanfaatkan Askeskin/SKTM lebih banyak ditemukan di perdesaan.1 0.3 0.5 0. Riskesdas 2007 Tempat berobat rawat inap Karakteristik rumah tangga RS Pemerint RS Swasta RS LN RSB Puske s-mas 0.7 0.2 INDONESIA 3.1 0.8 0.1 0.1 0. RS Swasta.9 0.1 0.1 0.2 0.4 0.0 0.Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 2.6 94. dan tempat praktek tenaga kesehatan lebih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat perkotaan.1 0.3 0.166 memperlihatkan bahwa sumber pembiayaan rawat inap secara keseluruhan untuk Indonesia masih didominasi (71.9 1.7 90.1 0.8 94. dan Dana Sehat (2.4 0.0 4.1 0.2 0.1 3.2 0. Sebaliknya.1 0.8 0.0 0.0 0.1 93.1 0.165 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Tempat dan Karakteristik Rumah Tangga.1 0.3 0.9%). Namun apabila dicermati masih ada 232 .5 0.0 90.3%).1 0.9 94.6 1.1 0.8 95.7 0.0 Batra Lainnya 0.4 1. semakin rendah tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan Askeskin/SKTM dan Dana Sehat.1 Kuintil 4 3.0 0. Kalau pembiayaan oleh Askeskin/Jamsostek.1 0.3 0. sedangkan puskesmas lebih banyak dimanfaatkan masyarakat perdesaan.0 0.4 0.0 0.0 0.4 1.1 0.1 0.1 Tidak rawat Inap 90.7 0.9 2.8 0.3 3.3 1.4 95.0 0.1 Perdesaan 2.2 0.

5 4.4 9.9 18.0 4.3 0.5 17.4 15.4 17.1 19.8 18.8 29.8 12.1 17.2 19.4 10.3 5.6 79.2 13.5 0.1 2.4 11.7 14.9 8.3 18.0 1. Tabel 3.0 15.6 58.2 3.9 65.0 1.2 12.4 12.7 19.3 3.6 1.5 72.5 72.7 11. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Askes/ Askeskin/ Dana Jamsostek 13. Asabri.9 2.8 5.9 16.0 9.8 19.1 3.1 18.0 2.2 12.6 Sendiri/ Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Keterangan : keluarga 62.6 67.3 76. Jamsostek.9 5.3 2.9 3.4 3. Askes swasta.0 23.4 15.6 15.8 13.0 59.4 10.9 23.3 5.1 76.1 3.7 7.3 1.3 6.7 14.4 25.0 68.2 5.6 SKTM 28.4 19.5 25.2 76.2 3.5 2.5 75.9 1.0 Lainlain 6.8 76.7 1.9 7.8 0.7 63.2 71.8 4.9 3.3 22.2 4.5 68.9 4.sekitar 10% masyarakat yang mampu secara ekonomi (kuintil 5 dan 4) masih menggunakan Askeskin/SKTM.2 2.7 71.4 27.6 3.5 74.3 7.9 13.9 8.5 68.6 11.0 73.1 67.8 65.4 67.3 5.1 18.9 33.7 0.2 3.5 19.5 63.1 19.7 14.7 1.9 17.1 76.0 1.3 8.9 4.9 Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.0 75.3 13.9 11.7 6.2 5.6 10.9 12.0 11.1 11.8 70.166 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan dan Provinsi.1 13.9 10.3 Sehat 4.7 3.2 7.7 16.7 10.8 11.6 4.2 65.5 81.0 10.5 19.6 1. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM 233 .5 15.2 10.1 14.9 66.2 7.6 3.5 1.4 0.5 7.7 49.0 20.4 5.1 7.1 8.8 8.9 74.5 17.4 8.1 60.0 3.6 26.8 17.0 2.9 15.

9 6. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Sumber pembiayaan Askes/ Askeskin/ Dana Jamsostek SKTM 10.3 Sehat 2. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas Tabel 3.2 2.1 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 66.7 Kuintil 3 72.5%) dan terendah di Sumatera Utara (7.6%).5 4.0 25.8%) dan terendah di Papua (3. tertinggi di Provinsi Papua Barat (38. Sedangkan persentase tertinggi pemanfaatan tenaga kesehatan untuk rawat jalan ditemukan di Provinsi Bali (25.9 15. Persentase pemanfaatan RSB sebagai tempat rawat jalan.3 6.9 25.4 12.7 6.2 3. Askes swasta.8 7.7 3.8 Kuintil 5 71.9 6.5 9.0 18.9 17.8 Kuintil 2 71.9%).4 Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.5 5.Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas Tabel 3. Asabri.8%) dan Tenaga Kesehatan (13.6%) pada urutan ketiga. Jamsostek.5 Tipe daerah Perkotaan 69. Pemanfaatan Puskesmas (1.3%) menempati urutan keempat setelah RS Pemerintah (1.168 menunjukkan bahwa secara nasional RS Bersalin/RSB (14.4 3.8 5.2 Kuintil 4 72.9%) merupakan sarana kesehatan yang paling banyak dimanfaatkan untuk rawat jalan.7 21.6 11.8 Sendiri/ Keluarga LainLain 7. 234 .0 Perdesaan 72.5 6.167 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Sumber Pembiayaan dan Karakteristik Rumah Tangga.4 10.5 16.5 1.

2 0.7 0.3 0.0 4.4 0.0 1.9 Puskesmas 1.2 0.3 0.3 0.6 1.3 0.2 Nakes 19.6 1.4 1.6 54.3 0.4 1.3 0.1 0.5 0.9 1.0 1.3 0.2 1.4 4.1 17.1 17.2 73.6 0.2 1.7 0.4 0.2 1.1 1.8 19.0 12.8 1.2 0.1 2.2 11.1 0.2 10.2 71.7 1.7 1.6 1.0 70.1 0.2 0.1 0.5 0.8 11.0 0.2 0.0 0.3 0.4 0.1 1.6 13.3 1.5 0.1 Lainnya 0.0 0.7 0.7 0.5 0.9 19.8 1.0 1.3 0.2 13.0 11.2 0.6 9.1 0.8 10.2 0.1 0.0 0.1 0.2 2.2 2.1 12.4 0.4 0.3 0.4 2.4 67.1 0.3 0.1 67.6 14.0 0.9 1.0 RSB 26.9 3.7 0.1 1.3 70.9 0.8 0.0 7.5 0.3 1.2 0.0 0.9 11.5 35.2 0.3 0.9 235 .6 17.5 56.4 0.3 0.4 11.0 0. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua RS Pemerintah 3.4 1.7 5.3 15.4 0.3 1.2 0.8 0.8 0.9 0.3 17.9 0.5 4.0 RSLN 0.3 0.3 0.7 18.7 0.2 1.0 0.8 0.0 12.1 0.3 10.3 1.2 62.3 0.3 0.0 14.7 20.0 1.4 1.7 17.2 14.3 3.6 61.4 0.3 0.0 0.2 0.4 0.4 0.7 Di Rumah 1.4 1.4 1.1 0.6 0.1 0.1 1.8 11.5 61.6 14.5 15.3 13.9 Batra 0.1 0.1 0.9 1.7 1.9 15.2 0.5 80.0 0.6 66.5 0.1 1.1 1.7 0.3 19.7 0.9 2.4 68.1 0.5 0.0 15.1 4.6 38.7 1.2 1.6 1.5 0.1 0.1 7.1 0.2 0.2 0.0 1.6 0.6 74.1 0.9 1.2 0.3 2.6 50.9 1.3 22.7 0.Tabel 3.4 0.8 0.0 0.2 1.1 81.0 25.5 0.4 1.7 RS Swasta 0.1 0.6 0.8 2.2 3.7 0.9 0.4 19.4 68.2 0.1 0.8 0.9 1.4 66.3 0.8 16.0 0.2 0.4 0.4 0.2 4.1 13.6 2.0 0.6 73.3 66.4 0.7 0.4 0.1 1.7 16.1 54.3 0.1 4.3 0.0 64.6 0.0 0.7 70.3 1.168 Persentase Responden yang Rawat Jalan Satu tahun terakhir Menurut Tempat dan Provinsi.5 0.2 0.8 0.1 4.4 0.2 0.4 0.3 3.5 60.6 1.2 0.4 2.0 1.4 1.8 1.8 69.1 0.8 14.2 0.4 1.4 0.6 12.7 1.9 5.7 5.4 1.1 12.7 Tidak rawat Inap 46.5 0.2 12.7 67.9 0.7 10.1 14.2 0.8 1.6 1.0 0.2 0.5 0.5 58.4 2.2 0.9 0.3 0.2 0.7 61.5 1.1 0.1 71.0 0.8 67.8 11.5 2.2 53.3 0.1 0.6 14.5 33.0 1.6 13.5 16.1 0.5 7.1 0.1 0.8 1.3 2.

8% untuk rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir dan menurut provinsi.4 1.3 14.5 0.6 Menurut tipe daerah (Tabel 3. RS Swasta.8 1.2 1.5%).9 0.3 14 Kuintil 5 2. dan pengobat tradisional untuk rawat jalan.0%).7 66.5 1.5 0.2 Kuintil 4 1. Tenaga Kesehatan.5 0.7 65.2 0. di Provinsi Lampung persentase terbesar pembiayaan rawat jalan berasal dari biaya sendiri/keluarga dan yang terendah adalah pembiayaan oleh Askes/Jamsostek.169).3 12.7 0. sedangkan di Provinsi Papua Barat persentase tertinggi untuk pembiayaan rawat jalan berasal dari Askeskin/SKTM dan terendah dari biaya sendiri/keluarga.1 0.7 1.5 0. Puskesmas. Persentase sumber biaya sendiri/keluarga tertinggi ditemukan di Provinsi Lampung (88. tetapi semakin sedikit yang memanfaatkan RSB untuk rawat jalan.8 Gambaran tentang sumber pembiayaan rawat jalan dan rawat inap tampak tidak berbeda (Tabel 3.6 65.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 1.0 67. Sumber biaya dari Askeskin/SKTM secara nasional mencapai 10.5 0.INDONESIA 1.1 0.1 Perdesaa n 1.5 0.6 1.8 0.4 0.3 11.8 Kuintil 2 1.7 0.5 0.4%).0 11.2 15.6 64. Sumber biaya rawat jalan juga didominasi oleh pembiayaan sendiri/keluarga (74.8%) dan terendah di Papua Barat (40. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.6 14.8 0.5 1.4 0.3 12.3 0.7 0.7 0.3 15.4 0.4 0.3 0.6 66.9 13. tampak kecenderungan responden di perkotaan lebih banyak memanfaatkan RS Pemerintah.9 63. 236 .8 Kuintil 3 1.169 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Tempat dan Karakteristik Rumah Tangga.9 0.0 0. dan Tenaga Kesehatan.5 0. Riskesdas 2007 Tempat Berobat Jalan Provinsi RS Pemerintah RS Swasta R SLN RSB Puskesmas Nakes Batra Lainnya Di Rumah Tidak rawat Inap Tipe Daerah Perkotaan 2.3 13.3 1.4 0. Tabel 3.5 0.9 0.0 0. RS Swasta. Sedangkan responden di perdesaan lebih memanfaatkan RSB.4 0.4 65.7 0. tampak adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan RS Pemerintah. dan Puskesmas.6%) dan terkecil di DKI Jakarta (2.4 0.2 16.5 0.9 1.2 16.4 0.0 0.9 0.4 0.8 15 16. persentase terbesar ditemukan di Provinsi Papua Barat (37.8 2. Secara nasional.170).8 13.

6 4.4 46.1 2.5 49.8 2.1 5.5 8.9 83.1 6.6 4.8 84.1 88.4 3.6 0.2 1.1 10.9 1.4 12.5 64.1 10.9 7.5 47.1 22.4 11.9 13.2 4.4 6.3 88.9 4.9 11.0 72.3 15.6 2.8 3.8 79.2 3.4 5.2 21.7 1.7 18.4 70.7 11.3 7.7 7.2 83.3 11.9 2.0 1.9 6.9 3.7 85.9 3.2 1.3 20.6 1.4 78.9 1.3 77.5 7.2 0.5 6.4 6.9 11.5 6.6 28.8 Sehat 2.2 1.1 37.2 3.9 2.170 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan Provinsi.9 2.9 61.9 4.5 40.6 3.6 3.7 3.9 60.0 23.5 1.3 4.9 10.Tabel 3.9 4.3 8.8 73.8 0.3 1.3 3.2 4.1 2.9 0.5 1.3 2.6 6.6 0.3 11.5 4.6 17.8 SKTM 32.6 1. Asabri.6 1.9 9.1 85.7 5.0 5. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat 237 .3 10.1 81.4 12.3 15.7 78. Jamsostek.8 8.3 5.9 9.2 74.5 9.4 Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.3 6.6 87.7 2.6 15.4 5. Riskesdas 2007 Sumber pembiayaan Askes/ Askeskin/ Dana Jamsostek 6.5 5.3 5.2 5.9 9.9 2.5 Lain-Lain 5.1 1.9 6.0 78.5 11.4 3.2 0.0 9.4 4.3 0.6 0.5 75.5 3.6 12.1 60.1 2. Askes swasta.0 80.1 80.8 2.1 9.1 8.2 4.5 6.2 16.8 4.1 1.1 13.6 4.8 77.3 13.3 3.7 66.0 71.1 33.5 PROVINSI NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA Keterangan : Sendiri/ Keluarga 58.2 3.7 8.3 9.8 5.2 86.4 15.0 10.9 1.4 17.

8 6.9 Lain-Lain 5.6 4.6 7.171 Persentase Responden Rawat Jalan Menurut Sumber Biaya dan Karakteristik Rumah Tangga.Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas Sumber biaya rawat jalan menurut tipe daerah (Tabel 3.7 12.4 8.8 14.5 8. tidak tampak berbeda antara daerah perkotaan dan perdesaan. Delapan domain ketanggapan untuk rawat inap terdiri dari: • • Lama waktu menunggu untuk mendapat pelayanan kesehatan Keramahan petugas dalam menyapa dan berbicara 238 .6 5.5 2.3 Kuintil 5 75. 3. Askes swasta.8%).8 2.8 1.171).3 Ketanggapan Pelayanan Kesehatan Persepsi masyarakat pengguna pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan non-medis dapat digunakan sebagai salah satu indikator ketanggapan terhadap pelayanan kesehatan.3 Sehat 1.0 14.1 Kuintil 3 75.3 4. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe Daerah Perkotaan Perdesaan Sendiri/ Keluarga 73. Tabel 3.0 Kuintil 2 74. berdasarkan pengalamannya waktu memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan untuk rawat inap dan rawat jalan. Pembiayaan dari Askes/Jamsostek tampak lebih banyak dimanfaatkan di perkotaan (13. JPK Pemda Askeskin = pembayaran dengan dana Askeskin atau menggunakan SKTM Dana Sehat = Dana sehat/JPKM dan Kartu Sehat Lain-lain = diganti perusahaan dan pembayaran oleh pihak lain di luar tersebut di atas Gambaran sumber biaya rawat jalan dikaitkan dengan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin banyak yang memanfaatkan Askes/Jamsostek dan Askeskin/SKTM untuk pembiayaan rawat jalan.7 Sumber pembiayaan Askes/ Askeskin/ Dana Jamsostek 13.0 6. sebaliknya pembiayaan dari Askeskin/ SKTM lebih banyak ditemukan di perdesaan (12.5 2.8. Tampaknya Askeskin/SKTM belum sepenuhnya diperuntukkan bagi masyarakat tidak/kurang mampu.6 SKTM 7. Penilaian untuk masing-masing domain ditanyakan kepada responden.6%).8 3.1 10.8 3.5 7.9 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 72.1 74.3 Kuintil 4 76.5 2. Ada 8 (delapan) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat inap dan 7 (tujuh) domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan.8 4.0 Keterangan : Sendiri = pembiayaan dibayar pasien atau keluarganya Askes/Jamsostek = meliputi askes PNS.9 7. Pembiayaan dari Dana Sehat semakin sedikit dimanfaatkan responden dengan tingkat pengeluaran yang makin tinggi. terbanyak dari biaya sendiri/keluarga.1 4. Jamsostek. Asabri.5 10.

Penyajian hasil analisis/tabel selanjutnya hanya mencantumkan persentase yang ’baik’ saja. Penduduk diminta untuk menilai setiap aspek ketanggapan terhadap pelayanan kesehatan di luar medis selama menjalani rawat inap dalam 5 (lima) tahun terakhir dan atau rawat jalan dalam 1 (satu) tahun terakhir. Menurut provinsi. kecuali domain ke delapan (kemudahan dikunjungi keluarga/teman). Persentase terendah adalah aspek ‘kebersihan ruangan’ (82. dan kebebasan memilih sarana pelayanan. Sedangkan Provinsi Sulawesi Utara mempunyai persentase tertinggi untuk aspek-aspek: kejelasan informasi.5%) dan ‘keramahan petugas’ (87. Secara nasional penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ dengan persentase tinggi adalah aspek ‘mudah dikunjungi’ (87.• • • • Kejelasan petugas dalam menerangkan segala sesuatu terkait dengan keluhan kesehatan yang diderita Kesempatan yang diberikan petugas untuk mengikutsertakan klien dalam pengambilan keputusan untuk memilih jenis perawatan yang diinginkan Dapat berbicara secara pribadi dengan petugas kesehatan dan terjamin kerahasiaan informasi tentang kondisi kesehatan klien Kebebasan klien untuk memilih tempat dan petugas kesehatan yang melayaninya Kebersihan ruang rawat/pelayanan termasuk kamar mandi Kemudahan dikunjungi keluarga atau teman. tidak terlihat adanya variasi yang tidak terlampau tajam dari setiap aspek ketanggapan. sangat buruk. baik.172 menggambarkan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap aspek ketanggapan menurut provinsi. Untuk memudahkan penilaian aspek ketanggapan rawat jalan dan rawat inap pada sistem pelayanan kesehatan tersebut. Provinsi Jambi mempunyai presentasi terendah untuk semua aspek ketanggapan kecuali aspek waktu tunggu. cukup. 239 . Masing-masing domain ketanggapan dinilai dalam 5 (lima) skala yaitu: sangat baik. • • Tujuh domain ketanggapan untuk pelayanan rawat jalan sama dengan domain rawat inap.9%). WHO membagi menjadi dua bagian besar yaitu ‘baik’ (sangat baik dan baik) dan ‘kurang baik’ (cukup. turut serta dalam pengambilan keputusan memilih jenis pelayanan yang dikehendaki. buruk dan sangat buruk). buruk. kerahasiaan informasi.0%). Tabel 3.

5 83.8 86.9 77.2 89.5 94.4 86.1 81.1 87.1 86.7 94.2 86.6 74.9 84.8 78.7 80.1 Kebebasan pilih sarana 81.9 68.0 82.5 81.7 87.2 89.7 80.6 82.1 72.3 84.3 82.9 85.6 84.8 85.7 87.0 85.5 93.6 69.2 90.7 84.7 92.7 91.6 88.5 91.2 91.0 72.9 80.8 74.5 PROVINSI Waktu tunggu 84.9 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua INDONESIA 240 .1 87.0 83.5 86.4 91.2 82.6 85.6 78.1 90.8 87.6 84.0 81.4 93.9 86.4 84.0 78.9 92.7 85.3 82.8 79.2 85.7 85.4 79.4 81.6 83.2 72.1 88.4 88.8 84.1 92.0 80.7 78.9 84.4 92.6 87.1 86.6 79.9 88.8 70.7 89.1 84.9 92.Tabel 3.5 87.2 85.3 89.8 80.1 81.6 89.1 84.8 82.6 88.7 88.2 95.1 81.2 76.0 81.2 86.4 84.6 84.5 91.4 67.5 93.2 72.8 85.3 82.0 90.8 82.6 86.4 86.3 88.5 88.6 85.9 90.5 81.0 82.6 78.2 87.2 95.2 83.8 80.0 79.4 82.8 85.2 82.3 83.0 85.0 84.2 79.6 92.9 91.4 86.2 87.7 92.2 79.5 92.1 86.2 88.7 84.2 94.0 83.3 91.1 85.7 81.7 83.0 81.7 84.2 71.4 77.4 87.8 89.0 83.0 85.0 82.1 84.4 82.2 94.6 80.5 80.0 83.172 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Provinsi.4 91.1 87.6 87.1 89.0 75.0 86.4 82.6 78.9 90.0 86.2 81.4 81.4 87.4 86.8 84.0 84.2 76.2 78.7 88.6 91.0 90.9 79.0 88.8 77.8 Keramah an 86.0 Kejelasan informasi 81.2 84.0 68.8 77.4 92.5 86.4 Ikut ambil keputusan 81.6 73.5 93.4 81.2 82.0 81.8 83.6 85.0 89.9 84.9 91.8 88.5 Kebersihan ruangan 78.2 79.6 88.4 92.8 83.9 84.5 80.7 92.5 83.8 87.1 83.8 88.7 87.1 90.0 93.4 88.9 85.6 87.2 84.4 83.0 80.7 92.4 77.7 87.5 84.5 84.7 87.0 79.0 72.1 79.8 Kerahasiaan 82.2 84.4 82. Riskesdas 2007 Muda h dikunjungi 83.6 81.7 94.1 81.7 82.0 76.9 72.3 84.5 85.8 91.1 69.5 85.8 86.8 78.8 86.4 90.7 84.7 85.4 84.1 88.9 89.8 85.9 74.5 80.6 72.9 84.6 88.4 80.6 78.1 89.5 86.8 92.4 90.0 93.

keramahan petugas.7 87.174 menunjukkan secara nasional aspek ketanggapan terhadap pelayanan rawat jalan dengan persentase nilai ‘baik’ tertinggi adalah keramahan petugas (90.8 87.0 86. kebebasan memilih fasiltas pelayanan.8 88.0 86.7 88.6 84. Provinsi Banten mempunyai persentase terendah untuk semua aspek ketanggapan rawat jalan.9 82.4 83.7 86.0 85.175).6 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 84. turut serta dalam p[engambilan keputusan memilih jenis perawatan.5 84.0 87.8 84.2 85.5 84.6 86. Menurut tipe daerah.7 84.7 83. tidak terdapat perbedaan mencolok persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap seluruh aspek ketanggapan antara di perkotaan dan perdesaan.4 86.5 86.1 86.5 87.9 87.173 menyajikan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ terhadap aspek ketanggapan menurut karakteristik rumah tangga.6 84. dan kebersihan ruangan. Menurut tipe daerah (tabel 3.7 Tabel 3.2 85.4 84.4 Kuintil 2 83. tidak menunjukkan adanya variasi yang terlampau tajam.4 86. semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga. Tabel 3. Riskesdas 2007 Kebebasan pilih sarana Kebersihan ruangan Muda h dikunjungi Karakteristik Reponden Waktu tunggu Keramahan Kejelasan informasi Ikut ambil keputusan Kerahasiaan Tipe Daerah Perkotaan 84. semakin banyak yang menyatakan keanggapan pelayanan kesehatan ‘baik’ pada aspek: kebersihan ruangan pelayanan.0 Kuintil 5 85. kerahasiaan informasi.6 84.5 86.1 85. semakin banyak yang memberikan penilaian ‘baik’ pada semua aspek ketanggapan palayanan rawat jalan. 3. nampak ada kecenderungan semakin tinggi tinggkat pengeluaran rumah tangga. persentase penduduk dengan penilaian ‘baik’ tinggi pada aspek waktu tunggu dan keramahan petugas. dan kemudahan dikunjungi keluarga/teman.2 83.1 82. dan kebersihan ruangan. sedangkan persentase terendah adalah aspek kebersihan ruangan (85. kejelasan informasi. Sedangkan di daerah perdesaan.7 84.8 83.6 82. dan kebebasan memilih sarana pelayanan.7 84.6 86. kebebasan memilih fasilitas pelayanan.173 Persentase Penduduk Rawat Inap Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga. Sedangkan Provinsi Gorontalo mempunyai persentase tertinggi untuk aspek lama waktu menunggu. Sedangkan Provinsi Sulawesi Utara mempunyai persentase tertinggi untuk aspekaspek: turut serta dalam pengambilan keputusan memilih jenis pelayanan yang dikehendaki.7 85.2 85.1%). Menurut provinsi.3 Kuintil 3 84. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.3 81.5 Perdesaan 85. 241 . Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita menunjukkan adanya kecenderungan.6 86.5 Kuintil 4 84.6 83.5 82.4%).Tabel.9 86.2 86. kerahasian informasi.2 83.2 85. Di daerah perkotaan aspek ketanggapan ‘baik’ yang persentasenya tinggi adalah kejelasan informasi. terdapat perbedaan persentase penduduk yang memberikan penilaian ‘baik’ dalam beberapa aspek ketanggapan terhadap pelayanan rawat jalan antara perkotaan dan perdesaan.4 87.

4 86.3 70.0 96.8 91.3 79.4 92.4 80.9 71.2 91.1 91.8 83.5 84.6 84.1 96.3 84.2 92.4 81.6 93.4 93.0 95.0 87.0 88.6 93.1 82.1 97.5 85.9 93.8 98.3 88.0 88.3 94.9 94.2 85.9 82.6 93.2 93.1 86.5 83.6 91.0 87. Riskesdas 2007 Wakt PROVINSI u tungg u NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 87.7 92.9 93.8 87.8 92.7 80.5 86.3 84.5 82.3 86.8 96.5 83.7 85.2 83.8 93.1 78.3 87.4 84.5 78.5 86.6 82.1 84.4 88.3 77.6 94.4 90.0 88.8 89.2 93.4 83.2 79.2 84.5 83.6 86.1 65.4 87.4 87.8 85.0 88.7 92.0 95.3 86.0 85.3 85.1 73.7 78.1 87.5 86.0 85.3 86.5 90.9 83.8 78.0 94.1 86.0 85.2 83.5 81.7 INDONESIA 86.9 65.4 84.6 88.2 82.4 94.9 90.0 86.7 92.8 95.3 80.4 Kebersihan ruangan 79.9 80.0 88.4 83.0 87.4 88.9 90.2 84.1 92.8 84.8 81.3 Kerahasiaa n Kebebasa n pilih sarana 83.1 92.174 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Provinsi.8 92.9 87.6 84.1 91.9 91.0 86.3 95.7 93.7 87.9 79.2 84.0 85.8 90.8 88.5 84.6 91.7 68.2 83.9 83.2 85.3 94.1 88.7 77.2 81.4 87.9 82.6 95.1 93.1 242 .2 86.2 84.3 Ikut ambil keputusa n 84.5 90.3 90.2 86.2 78.8 92.9 80.5 85.2 95.3 93.8 93.4 89.3 83.1 84.6 93.4 95.9 83.6 86.2 Kejelasa Kerama h-an n informas i 84.7 86.0 67.6 89.3 68.9 65.1 83.8 89.0 85.1 88.8 91.6 82.9 86.4 89.4 83.8 87.5 85.3 91.1 94.6 81.3 85.2 92.6 92.9 82.8 65.6 86.8 85.7 90.Tabel 3.1 91.7 67.6 93.2 94.5 83.2 84.5 88.2 82.4 96.5 93.0 92.7 88.7 84.5 93.0 70.0 86.3 84.2 95.1 87.1 93.3 81.5 83.7 95.0 95.0 93.8 76.1 89.8 94.2 88.5 86.8 90.7 87.6 83.8 89.8 77.6 91.9 77.7 84.5 97.0 91.

6 86.3 Kuint l i3 86. sarana pembuangan kotoran manusia.1 86.2 90.9 87.7 91. Data tersebut bersifat fisik dalam rumah tangga.9 85.1 86. Rerata pemakaian air bersih individu adalah rerata jumlah pemakaian air bersih rumah tangga dalam sehari dibagi dengan jumlah anggota rumah tangga. dan perumahan. ’20-49.1 Kuint l i2 86. 243 . ‘5-19.1 90. dan ‘akses optimal’.8 90.1 87. Riskesdas 2007 Kejelasa Waktu tunggu Kerama h-an n informas i 85. ‘akses dasar’. ’50-99.3 84.9 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuint l i1 86. Rerata pemakaian individu ini kemudian dikelompokkan menjadi ‘<5 liter/orang/hari’.8 86.9 85.3 86.6 86. yaitu Riskesdas 2007 dan Kor Susenas 2007.9 liter/orang/hari’.0 87. pembuangan sampah. Dengan demikian dalam penyajian beberapa tabel kesehatan lingkungan merupakan gabungan data Riskesdas dan Kor Susenas.9 Kuint l i4 87. kategori tersebut dinyatakan sebagai ‘tidak akses’.7 Kerahasiaa n Kebebasa n pilih sarana Kebersiha n ruangan 88. jumlah pemakaian air bersih rumah tangga per kapita sangat terkait dengan risiko kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan higiene.4 84. ‘akses menengah’.6 85. 3.9 86.9 85.4 88.0 89.5 86.5 87. Risiko kesehatan masyarakat pada kelompok yang akses terhadap air bersih rendah (‘tidak akses’ dan ‘akses kurang’) dikategorikan sebagai mempunyai risiko tinggi.4 86.7 85.9 liter/orang/hari’.7 n 87. sehingga pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara terhadap kepala rumah tangga dan pengamatan.1 89.8 86.9 liter/orang/hari’ dan ‘≥100 liter/orang/hari’. sarana pembuangan air limbah (SPAL). ‘akses kurang’. Data yang dikumpulkan dalam survei ini meliputi data air bersih keperluan rumah tangga.1 Air Keperluan Rumah Tangga Menurut WHO.5 87.8 Kuint l i5 87.7 3.9.6 90.0 84.9 89. Kepada kepala rumah tangga ditanyakan berapa rerata jumlah pemakaian air untuk seluruh kebutuhan rumah tangga dalam sehari semalam.7 84.8 84.Tabel 3.2 85.1 87.1 85.6 84.5 86.175 Persentase Penduduk Rawat Jalan Menurut Aspek Ketanggapan dan Karakteristik Rumah Tangga.7 Karakteristi k rumah tangga Tipe daerah Perkotaan Perdesaa Ikut ambil keputusa n 86. Berdasarkan tingkat pelayanan.9 Kesehatan Lingkungan Data kesehatan lingkungan diambil dari dua sumber data.6 87.

8 43.1 12.4 2.7 32.6 23.1 12.0 11.7 22.2 4.6 10.2 19.0 30.6 20.0 21.8 0.3 31.6 0.2 13.8 10.5 22.4 32.5 17.3 0.8 9.0 9.1 10. berarti mempunyai risiko tinggi untuk mengalami gangguan kesehatan/penyakit.9 31.8 26.9 23.9 14.5 31. terdapat 16.4 32.2 21.2 Indonesia 5.0 25.7 10.176 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air Bersih Per Orang Per Hari dan Provinsi.0 22.2 1.1 15.9 15.9 13.3 2.9 15.0 4.9 7.3 30.5 6.1 8.6 1.6 42.1 41.1 29.5 27.0 23.2 44.9 21.0 22. Riskesdas 2007 Rerata pemakaian air bersih Provinsi <5 NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 13.6 34.9 0.3 0.2 6.9 27.7 19.2 9.6 17.1 0.0 8.4 37.5 23.9 20-49.7 28.4 33.0 per orang per hari (dalam liter) 5-19.7 1.0 5.4 30.4 4.9 31.3 16.4 0.5 41.3 28.1 9.6 13.5 17.4 0.176 menunjukkan secara nasional.7 11.6 32.3 11.5 42.7 8.8 26.9 20.2 2.4 29.7 8.2 13.7 13.8 ≥100 32.9 63.2 17.0 3.2% rumah tangga yang pemakaian air bersihnya masih rendah (5.7 39.3 0.9 25.0 0.9 31.8 26.9 8.5 29.9 50-99.7 24.1 47.7 37.6 11.1 55.3 0.0 24.6 29.4% tidak akses dan 10.8 34.2 30.7 2.3 31.4 13.Tabel 3.1 41.1 43.2 31.3 0.0 23.6 21.1 17.7 42.7 28.4 10.6 16.7 31.6 50.8% akses kurang).6 11.5 3.6 0.1 28.5 36.9 19.6 36.1 26.5 36.2 14.5 4.0 7.2 6.6 1.7 17.7 24.5 17.2 24.3 21.6 21.1 4.2 7.2 27.6 1. Sebesar 244 .7 40.5 14.4 19.5 33.6 35.0 40.2 41.7 32.6 Tabel 3.3 1.6 6.6 27.

4 25. NTT.3 Proporsi rumah tangga yang aksesnya rendah terhadap air bersih lebih tinggi di perdesaan (19.0 25. Maluku. Hasil tersaji pada Tabel 3. Dilihat dari karakteristik rumah tangga (Tabel 3. Riskesdas 2007 245 .2 12. dan 31.178 Tabel 3.0 31.6 28.0 29. dan bagaimana kemudahan dalam memperoleh air bersih.6 Kuintil-1 5. Sulawesi Tenggara. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga semakin tinggi akses terhadap air bersih optimal.26.9 10. Kepada kepala rumah tangga ditanyakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjangkau sumber air bersih pulang pergi.8 11. atau mengalami penurunan dibandingkan data tahun 2004 sebesar 88. berapa jarak antara rumah dengan sumber air.3 26. DI Yogyakarta. Kepulauan Riau. Papua.177).2 Perkotaan 6.6% akses optimal.8 7. Tabel 3. maka secara nasional akses terhadap air bersih menurut jumlah pemakaian air per orang per hari adalah 83.7%.%).1 Kuintil-4 Kuintil-5 4.1 39.6 38. Sedangkan provinsi yang proporsi akses air bersih optimalnya tinggi adalah DKI Jakarta.5 13.3 10. Riau.3% akses menengah. di mana batasan minimal akses untuk konsumsi air bersih adalah 20 liter/orang/hari. baik menurut tipe daerah maupun menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. NAD.5%) dibandingkan dengan di perkotaan (11.4 26.8%.5 25.6 8. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Sulawesi Barat. Sulawesi Utara. 25.6 25.177 Persentase Rumah Tangga menurut Rerata Pemakaian Air Bersih Per Orang Per Hari dan Karakteristik Rumah Tangga.9 Kuintil-3 4. Banten. ditanyakan juga tentang jarak dan waktu tempuh ke sumber air.2 Tipe daerah 3.9% rumah tangga mempunyai akses dasar (minimal). rerata pemakaian air bersih per orang per hari menunjukkan perbedaan. Bila mengacu pada kriteria Joint Monitoring Program WHO-Unicef.9 ≥100 23. Riskesdas 2007 Karakteristik tangga <5 rumah Rerata pemakaian air bersih per orang per hari (dalam liter) 5-19.9 20-49. dan Jambi.3 29.2%) berturutturut adalah Gorontalo.9 26. Di samping jumlah pemakaian air bersih untuk keperluan rumah tangga. Ketersediaan Air Bersih dan Provinsi.9 50-99.0 23.7 26.6 Kuintil-2 5. serta persepsi tentang ketersediaan sumber air.5 24.9 25. dan NTB. Sumatera Barat.8 26.0 33.6 29.178 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke Sumber Air. Jawa Barat. Provinsi-provinsi yang akses terhadap air bersih masih rendah (di atas 16.0 Perdesaan Tingkat pengeluaran Rumah tangga per kapita 6.

3 0.2 7.5 2.4 10.2 93.4 0.5 52.0 10.4 3.0 9.2 2.8 0.2 5.8 98.6 97.6 87.6 2.0 14.7 0.2 0.3 88.7 2.2 1.6 29.1 4.7 97.1 14.1%.8 5.8 1.7 85.1 4.9 95.0 10.4 0.6 2.9 32.6 92.5%).4 97.4 73.0 5.8 89.9 0.0 94.4 0.6 7.3 95.5 72.2 10.1 1.6 6.3 97.6 99.6 28.3 0.0 32.6 16.8 0. Dilihat dari jarak.0 1.0 1.9 0.4 1.1 95.2 68.4 90.2 Tabel di atas menunjukkan secara nasional sebanyak 3.6 30.8 14.2 1.7 50.8 97. Provinsi dengan proporsi jarak ke sumber air lebih dari satu kilometer terbesar adalah Provinsi Riau (18.5 96.2 98.1 82.8 97.9 39.4 77.1 99.7 93.3%) dan Sulawesi Tenggara (14.8 18.9%).6 94.4 5.2 2.8 2.8 89. disusul oleh NTT (10.5 15. Terdapat 16 provinsi dengan persentase di atas 3. tertinggi Provinsi Kepulauan Riau (14.4 2.4 7.6 92.5 97.4 1.6 95.Lama waktu dan jarak Provinsi menjangkau sumber air Waktu (mnt) Jarak (km) >30 ≤30 >1 ≤1 Ketersediaaan Sulit Sulit sepansepanpada jang jang musim Mudah tahun NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 2.3 kemarau 21.4 53.5 1.6 99.9 98.0 25.5 93.8 94.6 tahun 1.4 14.7%).8 98.4 31.7 3.8 97.5 87.8 35.1 96.9 85.3 0.0 71.3 2.4 2.3 66.5%).6 98.8 98.5 0.5 94.8 25.5 4.9 4.0 90.3 44.8 38.6 93.3 89.4 42.8 26.7 68.3 1.5 69.6 0. secara nasional terdapat 5.4 89.7 93.9 78.6 96.6 9.5 3.0 13.5 85.4 92.2 10.3 2.3 1.7 97. 246 .4 48.0 89.3 20.2 12.7 1.3 2.5 6.2 3.9 25.2 3.3 40.1 72.4 4.9 96.2 1.1 3.2 94.6 2.2 97.3 2.8 67.7 95.8 59.6 97.9 5.0 30.8 95.5 74.9 24.7 99.7 72.9 57.7 11.9 99. dan Riau (10.8 1.0 89.5% rumah tangga yang jarak tempuh ke sumber airnya lebih dari satu kilometer.8 1.9 1.7 98.3 4.5 5.1 2.4 97.1 16.2 4.0 19.5 98.3 1.2 0.6 79.3 6.8 26.3 12.7 0.6 94.8 87.4 8.6 83.1% rumah tangga memerlukan rerata waktu tempuh ke sumber air lebih dari 30 menit.3 66.2 85.8 96.4 5.6 94.4 5.2 81.8 68.3 2.5 95.6 0.1 2.5 26.3 6.7 5.5 94.6 10.6 85. disusul oleh Kepulauan Riau (16.7 11.5 70.5 0.4 59.6 29.8 70.4 64.9 83.4 6.1 Indonesia 3.4%).7 1.7 97.7 84.3 96.4 1.8 6.9 0.

4 Kuintil-3 2. Tabel 3.3%) dan NTT (4.1 0.5 96. Ketersediaan Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia. Begitu pula proporsi rumah tangga yang ketersediaan airnya mudah sepanjang tahun lebih tinggi di perkotaan (82. Kepulauan Riau (6.4 Sulit sepanjang tahun 0.8 Proporsi rumah tangga yang waktu tempuh ke sumber airnya lebih dari 30 menit lebih tinggi di perdesaan (3.9%) merupakan dua provinsi yang paling tinggi proporsi rumah tangga dengan ketersediaan air bersih sulit sepanjang tahun.5 24.8 95. ada kecenderungan proporsi jarak tempuh mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0%).4 97.1 5. ada kecenderungan proporsi waktu tempuh mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.8% rumah tangga yang air bersihnya tersedia sepanjang waktu. Riskesdas 2007 Lama waktu dan jarak menjangkau sumber air Karakteristik rumah Waktu (mnt) Jarak (km) tangga >30 ≤30 >1 ≤1 Mudah sepanjang tahun Tipe daerah 2.8%).6 94.7 30.1 94. secara nasional terdapat 72.0 70.4 1. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5 Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 3. (Tabel 3.4 1. ada kecenderungan proporsi rumah tangga yang ketersediaan airnya mudah sepanjang waktu mengalami peningkatan sesuai dengan peningkatan pengeluaran rumah tangga per kapita.179 Persentase Rumah Tangga menurut Waktu dan Jarak ke Sumber Air.9 1.0 78.4 72.9 5.4 66. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.179) Tabel 3. Terdapat 18 provinsi dengan proporsi ketersediaan air bersih sepanjang tahun lebih kecil dari 72.4%).4 4.0 Perkotaan 3. Proporsi rumah tangga yang jarak tempuh ke sumber airnya lebih dari satu kilometer lebih tinggi di perdesaan (6.8%.8 31.2 Kuintil-1 3.9 97.Dilihat dari ketersediaan air bersih dalam satu tahun.3 75.6 4.6 97.0 93.2 1.4 28.180 Persentase Rumah Tangga menurut Individu yang Biasa Mengambil Air Dalam Rumah Tangga dan Provinsi di Indonesia.0 97.0 20.1 96.8 68.8 94.4 96. Akses air bersih menurut waktu.2 Kuintil-4 Kuintil-5 2. Riskesdas 2007 247 .6 6.6 96.4 82.2 26. jarak dan ketersediaan air bersih bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5 93.7 1.4%) dibandingkan dengan di perkotaan (2.9 Kuintil-2 3.7 Ketersediaaan Sulit pada musim kemarau 16.5 6.5%) dibandingkan dengan di perkotaan (4.4%) dibandingkan dengan di perdesaan (66.0 5.

2 2. Aspek gender dalam pengambilan air bersih dapat dilihat pada Tabel 3.5 46.0 63.1 48.7 3.5 44.0 Dalam rangka memperoleh air untuk keperluan rumah tangga bila sumbernya berada di luar pekarangan.4 4.6 51.9 2.0 64.8 5.2 3.1 6. sebagai upaya untuk melihat aspek gender dan perlindungan anak.4 2.8 52.7 41.2 1.4 1.7 0.2 57.9 46.7 55.0% anak laki-laki).0 2.9 43.4 25.7 0.6 3.3 2.7 34.7 2.3 3.7 46.7 44.1 51.4 47.3 54.4 50.0 2.4 10.4 51.7 4.5 2.0 1.2 54.5 1.9 48.5 Laki-laki Dewasa Anak-anak (<12 thn) 23. Kepulauan Riau dan Sumatera Utara.Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Perempuan Dewasa Anak-anak (<12 thn) 65.3 38.0 4.1 1.5 5.3 52.9 19.2% rumah tangga yang anakanaknya mempunyai beban untuk mengambil air keperluan rumah tangga (3.3 42.2 49.9 61.9 33.2 36. secara nasional terdapat 7.7 53.4 3.5 47.4 0.6 3. Sedangkan provinsi-provinsi yang pengambilan airnya banyak dilakukan 248 .3 1.0 23.3 3.0 5.2 67. Provinsi-provinsi di mana anak-anak ikut berperan dalam pengambilan air untuk kebutuhan rumah tangga adalah Papua.9 32.4 60.1 5.7 49. Maluku. NAD.4 1.9 2.9 16.4 5.6 4.3 48.9 1.1 2.9 41.6 41.8 55.4 2.2 4.180 Tabel di atas menunjukkan.8 29.1 2.6 1.8 7.8 4.7 4.0 54.5 48.4 38.1 6.3 2.3 2.4 6.9 28. ditanyakan siapa yang biasanya mengambil air dalam rumah tangga tersebut.1 1.2% wanita dan 4.7 3.2 43.3 40.1 49.4 2.7 65.6 2.7 44.6 38.5 7.8 48. NTT.9 4.9 1.7 34.4 23.8 3.7 29.2 0.5 2.4 Indonesia 49.6 7.5 1.8 60.0 2.0 5.5 59.0 4.8 1.0 2.3 72. Persentase perempuan yang bertanggung jawab dalam pengambilan air di rumah tangga lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.4 7.6 77.9 27.6 72.3 47.

1 Berbau 4. (tabel 3.2 Perdesaan Tkt pengeluaran rumah tangga per kapita 50.4 49.9 2.6 42.2 3.0 4. tidak berasa.kaum perempuan adalah di Provinsi NTB.1%).6 Kuintil 3 49. rasa. tidak berbau.5 Kuintil 1 50.0 47.2% dan 7. Tabel 3.6%).181 Persentase Rumah Tangga menurut Anggota Rumah Tangga yang Biasa Mengambil Air dan Karakteristik Rumah Tangga.2 9.182 menunjukkan secara nasional.5 1.3 7.6 5.6 7. Kategori kualitas fisik air minum baik bila air tersebut tidak keruh.8 2.3 3.8 3.4 3.2 2.3 90.0 Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Keruh 17. Sumatera Barat.5 9.2 43.9 4.1 Laki-laki Dewasa Anak-anak (<12 thn) 3.182 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum dan Provinsi di Indonesia.5 Kuintil 2 49. meliputi kekeruhan. warna dan busa. Sulawesi Selatan dan NAD.9 1.4 Kuintil 4 Kuintil 5 46.4%) dibandingkan dengan di perkotaan (44.6 3. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin rendah proporsi perempuan dan anak-anak yang bertugas mengambil air bersih untuk keperluan rumah tangga. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Riskesdas 2007 Perempuan Karakteristik rumah tangga Dewasa Anak-anak (<12 thn) Tipe daerah 44.0%.3 Baik*) 75.2 84.8 41.9 249 .3 84. Tabel 3.1 3.3 4. Ada 15 provinsi yang proporsi kualitas fisik air minumnya baik di bawah rerata nasional. Riskesdas 2007 Kualitas fisik air minum Berwarna Berasa 12. terendah adalah Provinsi Kalimantan Tengah (58.8 3.8 Tenaga perempuan dan anak-anak yang mengambil air di rumah tangga lebih tinggi di perdesaan (51. Data kualitas fisik air untuk keperluan minum rumah tangga dikumpulkan dengan cara wawancara dan pengamatan.9 3. tidak berwarna dan tidak berbusa.4 44.9 6. Proporsi individu yang mengambil air bersih di rumah tangga menunjukkan variasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 6. NTT.6 9.8 0.8 3. proporsi rumah tangga dengan air minum berkualitas fisik baik sebesar 86. bau.7 2.3 3.1% dan 6.181).5 Berbusa 1.0 9.1 Perkotaan 51. Tabel 3.3 41.

2 11.4 0.8 1.3 9.4 87.1 1.8 3.3 2.7 7. (Tabel 3.7 1.6 1.4 79. proporsi rumah tangga dengan kualitas fisik air minum baik di perkotaan sedikit lebih tinggi (88.5 0.4 1.183).9 1.8 6.2 5.9 13.0 3.7 6.1 84.9 3.1 2. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan 6.8 1.2 10.7 4. Secara umum.4 3.3 88.5 8.6 79.6 0.2 4.9 89.5 15.5 26.6 0.9 4.4 0.3 2.0 88.5 80.1 4.9 3.0 5.4 15.1 7.1 4.6 6.0 3.2 81.2 1.9 1.6%) dibandingkan dengan di perdesaan (84.9 6.4 1.6 71.7 0.2 9.5 90.9 1.2 6.2 9.3 6.1 1.2 5.7 1.0 1.8 82.5 0.5 84. terutama dalam hal kekeruhan dan warna.8 0.0 6.4 1.3 1.9 1.0 4.8 5.5 4.9 3.0 11.5 10.6 7.5 18.5 95.7 1.7 12.2 10.6 4.3 88.7 0.6 88.5 75.8 15.9 4. tidak berwarna.2 6.1 0.3 3.1 3.0 3.3 11.4 2.4 22.0 0.9 1.4 15.4 6.6 2.5 6.8 93. Tabel 3.8 1.6 2.8 4.8 2.4 2.7 0.0 1.8 2.6 6.7 86.0 92.6 5.6 89.8 Indonesia 9.4 3.4 3.4 3.6 2.7 0.7 6.6 3.6 1.0 7.1 6.4 3.8 1.1 86.2 17.0 * baik = tidak keruh.7 0.8 4.1 5.4 90.0 80.4 7.7 5.5 34.7 4.9 11.0 1.0 3.7 9.9 82.2 3.9 6.6 2. tidak berasa.2 5.7 1.3 0.8 3.8 3.9 3.5 7. Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang kualitas fisik air minumnya baik.3 3.3%).2 0.7 1.5 2.6 8.3 10.8 7.5 0.3 2.6 5.7 92.5 58.6 1. tidak berbusa dan tidak berbau Proporsi kualitas fisik air minum rumah tangga yang baik bervariasi menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.7 3.5 9.9 6.4 10.6 Keruh Berbau Kualitas fisik air minum Berwarna Berasa Berbusa Baik*) 250 .1 2.2 95.183 Persentase Rumah Tangga menurut Kualitas Fisik Air Minum dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.0 91.2 90.8 87.8 4.Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 8.5 2.

5 6.184 Secara nasional masih banyak rumah tangga yang menggunakan air minum dari sumber tidak terlindung (sumur tidak terlindung 12. Bali.3 1.3 2.1 3.5 Kuintil-2 9.3 6.9 3.8% dan lainnya 0.4 5.8%).0%.6 3. Banten. DKI Jakarta. Bila dibandingkan data Susenas 2004.0%. mata air tidak terlindung 5. DKI Jakarta. yaitu dari 2.9 8.5. Riau. tidak berasa.4%.5%). dan Papua Barat.0 Kuintil-4 Kuintil-5 7. Provinsi-provinsi yang proporsi penggunaan air kemasannya tinggi antara lain Kepulauan Riau.6% menjadi 6.8 85.0 0.7 Kuintil-1 10.1 7. dan DI Yogyakarta. Pada tabel 3. penggunaan air kemasan di rumah tangga mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat.0 1.3 3.9 86.4 4.8 6.1 * baik = tidak keruh.9 4. Jambi.1 5.1 1. Provinsi yang banyak menggunakan air hujan sebagai sumber air minum antara lain Kalimantan Barat.0 Perdesaan 3.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 10. Provinsi-provinsi yang cakupan air perpipaannya di atas rerata nasional antara lain Kalimantan Selatan.7 7.1 Kuintil-3 8. dan Papua Barat. 251 . air sungai 3.2 1.7 1. Sementara yang menggunakan air perpipaan/ledeng tidak mengalami peningkatan/tetap (masing-masing 17.5 Data jenis sumber air minum utama yang digunakan rumah tangga diambil dari data Kor Susenas 2007.0 85. Papua.7 88.5 4.3 83.9 84. tidak berwarna. tidak berbusa dan tidak berbau 11.

4 5.2 0.5 7.8 7.3 1.3 0.9 23.2 0.4 3.5 21.3 33.5 11.5 0.7 27.4 4.6 2.7 1.2 6.2 10.7 0.6 0.8 11.2 5.7 2.6 14.3 5.6 0.8 9.4 7.4 1.1 2.4 0.1 0.7 12.8 14.0 0.1 49.2 8.4 0.6 0.3 1.9 34.3 41.5 5.6 3.0 3.1 7.6 18.1 7.8 11.6 0.5 15.2 2.1 10.9 2.1 21.0 1.8 3.8 1.7 1.6 2.7 1.2 24.9 18.0 3.3 1.8 15.4 11.0 43.3 0.8 3.7 7.0 7.2 1.7 4.6 40.1 28.7 13.8 4.9 19.1 2.5 0.0 0.2 9.7 0.7 4.Tabel 3.7 5.5 0.4 Terlindung Pompa Provinsi terlindung terlindung 3.4 0.4 13.6 20.6 7.7 7.7 25.5 11.6 11.3 3.7 29.2 8.7 1.1 8.1 30.2 0.6 47.5 10.2 15.9 10.3 8.0 8.7 10.1 8.7 7.0 3.4 13.5 12.4 0.9 3.8 6.184 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum dan Provinsi di Indonesia.7 3.8 3.4 7.4 5.4 57.0 8.2 14.5 21.6 11.9 7.0 3.9 8.0 9.5 55.1 4.8 10.3 3.0 0.9 0.0 3.8 6.7 0.0 2.6 0.1 25.6 6.9 1.9 22.0 1.9 7.7 0.2 1.4 4.0 2.9 0.6 10.3 5.4 10.3 6.8 33.9 12.1 41.1 1.0 0.3 1.7 3.6 15.1 1.4 0.9 11.9 29.5 3.4 10.1 11.2 2.8 11.5 0.4 9.2 26.1 18.0 21.4 17.2 5.5 0.0 1.6 7.5 5.2 2.9 4.9 3.3 0.3 4.3 3.2 2.1 13.7 5.7 11.6 11.6 7.9 0.3 6.3 3.0 1.9 0.9 14.4 0.2 20.7 14.9 0.4 2.3 9.4 1.6 6.3 1.9 1.3 1.8 0.6 1.8 6.2 8.5 10.7 0.6 5.2 0.9 15.2 15.5 1.3 1.3 10.3 1.2 2.2 0.1 17.1 2.6 5.2 3.0 3.7 1.9 3.4 8.9 1.4 4.9 1.2 0.8 2.1 0.7 0.7 9.8 2.0 0.0 11.2 2.2 7.6 34.8 9.0 9.5 0.9 22.4 .2 4.5 13.7 14.9 5.0 13.4 3. Susenas 2007 Jenis sumber air minum Ledeng meteran Air kemasan Ledeng eceran Air sungai Sumur bor / Sumur tdk Mata air tdk Mata air Air hujan 1.2 35.9 16.2 36.2 5.8 Terlindung NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 7.0 5.6 4.6 11.9 28.1 24.5 5.2 2.7 21.4 13.9 0.3 23.4 34.2 2.1 2.0 0.6 16.4 2.3 1.2 14.1 0.1 43.6 3.3 7.1 7.5 5.1 0.7 0.6 46.3 13.2 1.6 19.4 10.7 19.4 29.8 28.9 3.8 17.2 20.9 12.1 0.2 1.0 252 Lainnya 0.6 1.9 0.7 14.9 18.8 9.1 0.9 11.1 5.1 0.8 19.3 2.0 0.5 4.4 11.1 Sumur .6 25.6 1.9 22.8 8.0 0.1 15.3 1.4 6.5 29.4 6.3 1.2 0.5 0.9 1.0 1.1 2.7 0.8 21.9 2.9 10.0 4.5 7.1 8.3 0.3 0.5 0.8 13.5 0.1 42.2 34.9 5.7 34.5 3.8 0.2 2.3 5.9 0.

air sungai dan air hujan. mata air. Tempat penampungan air di rumah tangga sebagian besar menggunakan wadah tertutup (69.6 4. ledeng meteran.0 31. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang menggunakan air kemasan.4 0.0 14.4 5.0 Sumur bor / Mata air tdk Sumur tdk Mata air Lainnya 0.9 Kuintil-3 6.8 17.9 7.3 10.2 3.0 5.0 7.7 7.8 4.3 2.7 30.9 13.1 4.1 3.5 3.3 10.4 5.0 5.1 12.0 3.9 9.185 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Sumber Air Minum dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.2 30.1 14.Indonesia 6. dan sumur pompa.6 terlindung 0.2 Perkotaan 1. ledeng eceran.6 6.1 8.9 4.7 10.0 28.5 0.6 5. Semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin menurun proporsi rumah tangga yang menggunakan sumber air tidak terlindung.3 13.0 28. Susenas 2007 Jenis sumber air minum Ledeng meteran Ledeng eceran Air kemasan Air sungai Air hujan 2.9 16.2 4.1 11. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga.4 Kuintil-1 3.5 24.5 Tipe daerah 13.9 21.5 0.7 7.5 Sebaran proporsi penggunaan jenis sumber air minum bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.2 3.1 5. sedangkan yang menggunakan wadah terbuka sebesar 12.8 2.1 Kuintil-2 4.8 13.0 6. Tabel 3.4 0.3 12.8 16.8 11.3 4.9 25.6 0.1 8.186 menggambarkan jenis tempat penampungan air untuk keperluan minum yang digunakan rumah tangga dan jenis pengolahan air minum yang dilakukan rumah tangga sebelum air tersebut dikonsumsi.9 Penggunaan air kemasan.4 Sumur Terlindung terlindung Karakteristik rumah tangga Pompa terlindung 2.7 3.9 2.0%) dan tidak menggunakan penampungan (18.5 Kuintil-4 Kuintil-5 12. (Tabel 3.8%. ledeng eceran.7 7.8 5.8 5.185) Tabel 3. Bila melihat sebarannya.7 7.8 5.9 29.4 7.1 14. dan sumur bor lebih tinggi di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.0 0.2 Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 2. Di daerah perdesaan sumber air minum yang menonjol digunakan dibandingkan di perkotaan adalah jenis sumur (terlindung dan tidak terlindung).3 4.4 0. provinsi-provinsi dengan proporsi 253 .9 12.0 3.2 14.1 16.8 0.2%).2 3.3 27.

6 7.1 9.3 8.7 0.3 11.4 3.1 97.2 5.8 0.6 2.9 10.6 70.1 9.2 10.6 0.7 wadah diminum digunakan DiDimaBahan sasak kimia ring 89.1 72.0 16.186 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Tempat Penampungan dan Pengolahan Air Minum Sebelum Digunakan/Diminum dan Provinsi.5 6.5 13.3 7.0 78.7 1.7 5.6 48.3 21.1 17.2 8.7 93.9 0.9 94.4 0.4 5.7 4.6 21.2 5.8 0.9 45.3 4.2 11.1 2.7 12.1 96.8 0.5 0.9 7.0 7.6 84.8 6. NAD.7 Tdk ada 37.0 22.7 94.1 2.6 27.3 11.2 3.1 3.3 15.7 96.1 26.8 81.7 26.4 2.2 11.9 5.2 96.5 18.0 77.8 12.6 64.7 1.0 80.2 4.7 84.2 2.1 0.2 0.6 55.5 14.8 79.1 70.7 5.5 89.3 7.3 7.6 79.8 23.9 14. Sumatera Barat.6 33. Tabel 3.9 7.4 8.9 4.7 5.1 3.3 12.1 97.5 10.1 7.0 6.7 4.0 1.3 69.4 1.3 5.6 5.1 2.3 86.8 10.7 0.3 94.8 19.2 1.8 96.3 92.8 95.6 62.8 86.7 7.8 81.7 6.1 92.1 8.8 93.6 17.0 30.6 4.3 0.8 12.4 93.4 14.8 84.4 17.1 24.5 2.3 7.1 0.4 10.9 11.0 5.6 98.1 14.3 5.4 1.3 5.7 76.0 75.3 6.7 0.2 254 .3 5.3 9.2 28.1 9.1 17.4 13.8 0.7 81.6 0. Papua Barat.5 Wadah tertutup 41.4 2.1 25.4 4.7 Lain nya 4.6 88.4 26.0 4.8 60.0 92.5 4.5 62.4 93.0 12.7 4.4 96. Riskesdas 2007 Pengolahan air minum sebelum Langsung 12.7 95.9 30.1 10.2 16.3 97.5 95.1 12.1 3.8 7.0 0.6 15.9 2.4 1.5 Tempat penampungan Provinsi Wadah terbuka NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara 21.0 12.7 14.6 54.3 2.5 9.9 40.6 24.3 1.4 90.3 12.3 9.9 1.8 11.1 14.6 6.9 2.penampungan air terbuka tinggi antara lain Papua.6 9.6 16.0 5.2 3.5 1.3 72.1 5.2 1.0 78.6 6.5 1.6 7.4 8.8 7.7 54.5 9.8 0.7 94.1 0.4 5.9 34.3 72.2 23.8 1.0 2.8 7.0 5.1 76.9 2.1 56.3 5.4 0.4 56.5 0.4 70.3 8. dan Sumatera Utara.2 0.5 4.5 1.5 0.1 0.0 8.8 12.0 5.

4 17.4 37.7 2.0% dengan membubuhkan bahan kimia.7 3.8 17.5 15.1 1.6 31.3%). Data konsumsi air dan jarak ke sumber air berasal dari Riskesdas 2007.0 31.3 12. Tabel 3.187 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Tempat Penampungan dan Pengolahan Air Minum Sebelum Digunakan/Diminum dan Karakteristik Rumah Tangga.5 12.0 18.2 2.0 16. Proporsi penggunaan tempat penampungan air dan pengolahan air sebelum dikonsumsi bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.2 Secara nasional pengolahan air minum yang dilakukan rumah tangga sebelum digunakan sebagian besar dengan cara dimasak (91.6 6.7 Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 13. tetapi semakin meningkat yang tidak menggunakan tempat penampungan air.6 18.7 Indonesia 12.1 69.5 15.3 92.9 2.6 14.8 7.2 92.9 4. Terdapat 12. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin kecil proporsi yang menggunakan wadah terbuka.3 3. (Tabel 3.3 2.1 69. Kalimantan Selatan.0 41.7 9.0 5.0 2.8 7.9 0.7 0.1 12.187). sedangkan data jenis 255 .4 5.9 8.3 2.0 4.9 68. Menurut Joint Monitoring Program WHO/Unicef.2 8. Maluku dan Jawa Timur. sedangkan yang tidak menggunakan penampungan lebih banyak di perkotaan dibandingkan dengan di perdesaan.6 12. sedangkan yang langsung diminum (tanpa pengolahan) lebih tinggi di perkotaan. sarana sumber air yang digunakan improved.7 terbuka tertutup Tipe daerah Perkotaan 9.8 3. Dalam hal pengolahan air sebelum dikonsumsi.3% yang melakukan pengolahan dengan cara penyaringan dan 2.9 69.1 91.9 13.9 20.4 89. Riskesdas 2007 Pengolahan air minum sebelum digunakan Langsung Dimasak 88.8 69.8 92.9 1.6 68.Papua Barat Papua 20.0 69.3 69.1 wadah diminum 22.9 7. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.4 12.1 12.2 10.3 94. tampak cara memasak dan disaring sedikit lebih tinggi di perdesaan.4 67.1 2. akses terhadap air bersih ‘baik’ apabila pemakaian air minimal 20 liter per orang per hari. dan Kalimantan Timur.8 12.0 10.4 12.9 92.2 68.4 Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 14. Provinsi dengan proporsi penyaringan tinggi adalah NTT.9 Lain nya 7.2 7.5 7.3 Karakteristik rumah tangga Tempat penampungan Wadah Wadah Tdk ada Disaring 10. dan sarana sumber air berada dalam radius 1 kilometer dari rumah. sedangkan provinsi dengan proporsi pembubuhan bahan kimia tinggi adalah Kalimantan Tengah.0 91.4 Bahan kimia 1.3 Proporsi yang menggunakan wadah terbuka lebih banyak di perdesaan dibandingkan dengan di perkotaan.1 12.

6 50. 2007).8 37.4 40.7 38. Sarana sumber air yang improved menurut WHO/Unicef adalah sumber air jenis perpipaan/ledeng.2 68.2 65.7 46.3 61.2 44.6 37.5 46. dan air hujan.0 31.5 63.7 48.9 73.2 65. mata air terlindung.9 76.2 62.1 26.8 35.4 62.0 38. selain dari itu dikategorikan not improved. dari sumber terlindung (Susenas.8 31.7 39.7 Indonesia 42.7 38.9 39.3 51.9 64.7 *) 20 ltr/org/hari (Riskesdas.9 56.3 57. sumur bor/pompa.1 74.8 33. 2007) Berdasarkan kriteria tersebut. Tabel 3.0 61.2 67.5 53.2 62.8 37. sumur terlindung.9 25. 2007).1 23.5 22.0 68. Provinsi dengan proporsi akses baik 256 .sarana air minum berasal dari Kor Susenas 2007.5 36.4 49.6 68.3 53. tabel 3.9 63.5 46.1 43.5 53.7 51.1 35. Susenas dan Riskesdas 2007 Akses air bersih Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang 51.6 37. dan sarananya dalam radius 1 km (Riskesdas.188 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih dan Provinsi.5 77.3 48.3 61.3 Baik*) 48.4 62.188 menunjukkan secara nasional terdapat 57.4 31.1 60.8 34.1 36.8 55.3 60.6 59.7% yang mempunyai akses baik terhadap air bersih.8 55.2 44.

2 Fasilitas Buang Air Besar Data fasilitas buang air besar meliputi penggunaan atau pemilikan fasilitas buang air besar dan jenis jamban yang digunakan.9%) dibandingkan dengan di perdesaan (51. Susenas dan Riskesdas 2007 Akses air bersih Karakteristik rumah tangga Kurang Baik*) Tipe daerah Perkotaan 32.7 60.3 Kuintil-5 38.1 67. Data ini diambil dari data rumah tangga Kor Susenas 2007.189 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Air Bersih dan Karakteristik Rumah Tangga. Proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap air bersih bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. disusul oleh Riau (31.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 47.5 61. terendah Papua (26.7 51.4 Kuintil-4 39.0 Kuintil-2 43.9 Perdesaan 48. 3.0 53.4 56. dan sarananya dalam radius 1 km (Riskesdas. Tabel 3.9.6 Kuintil-3 41.7%).5 CATATAN : *) 20 ltr/org/hari (Riskesdas. semakin tinggi tingkat pengeluaran cenderung semakin besar proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap air bersih.4%).terhadap air bersih di bawah rerata nasional sebanyak 18 provinsi.3%) dan Kepulauan Riau (31. 257 . Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. dari sumber terlindung (Susenas.3%). 2007). 2007) Tabel di atas menunjukkan di perkotaan akses baik terhadap air bersih lebih tinggi (67. 2007).6 58.

6 2. 258 .5 64.1 28.0 7.Tabel 3.5% (tahun 2004 sebesar 60.8 2.8%).1 19.8 59.9 51.1 18.8 32.2 7.3 6.0 7.4 3.0 2.9 11.5 36.2 19.7 13.8 2.4 42.2 Tidak ada 32.5 16.9%.2 71.0%).1 5.1 4.7 8.8 20.6 11.7 1.2 9.4 8.3 2.8 49.6%) dan Maluku Utara (36.8 43.2 25.9 12.2 23.1 11.5 36.5 32.0 .2 49.3 1.4 20.1 18.0 46.1 7.7 4.8 15.6 3.3 8.1 60.7 3.2 6.3 12.0 0.5 16.4 58.7 65.2 26.1 6.1 1.7 12.8 Tabel 3.3 Indonesia 58.1 59.190 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia.8 72.2 3.0 4.6 60. NTB (35.2 17.9 38.4 4.2 24. dibandingkan dengan hasil Susenas 2004 mengalami penurunan sebesar 1.8 6.3 65.8 63.5 35.9 25.9 Bersama 8.1 53.1 45.1 12.4 9.6 7.0 42.8 58.9 27.3 59.8 57.9 16.2 8.0 1.4%).4 25.3 76.1 9.8 7.1 25.0 5.7 77.4 31.5 3.5 8.8 27.2 42.4 64.5 9.7 1.4 8.7 31.3 47.6 8.0 12.6 61.3 9.0 32.1 4.6 Umum 8.1 12.4 57.7 16. Beberapa provinsi dengan proporsi penggunaan jamban sendiri rendah antara lain Gorontalo (31.2 47.5 0.0 13.9 23.8 12.4 1. Susenas 2007 Jenis penggunaan Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Sendiri 51.9 36.0 20.5 13.190 menunjukkan rumah tangga yang menggunakan/memiliki jamban sendiri sebesar 58.0 14.4 31.4 57.1 79.6 14.

Banten (87.9 Tingkat pengeluaran rumah tanggaper kapita 43. Provinsi dengan cakupan penggunaan jamban saniter tinggi antara lain Bali (95.6 12. (Tabel 3.4%) dan Papua (11.2 Perdesaan 49.3 Kuintil 2 58. Secara nasional rumah tangga yang menggunakan jamban jenis leher angsa sebesar 68.2%). Provinsi dengan proporsi rumah tangga tidak pakai jamban tinggi antara lain Kalimantan Tengah (14.2%).0 12. Gorontalo (87.2%). Dibandingkan dengan data tahun 2004 sebesar 49. Sulawesi Utara (85. Susenas 2007 Jenis penggunaan Karakteristik rumah tangga Tipe daerah Perkotaan 73.2 19.3%.7%). penggunaan jamban saniter ini mengalami peningkatan yang signifikan. Tabel 3.8%).9%). ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi proporsi yang menggunakan jamban sendiri.2 3.3%).9%.5 2.191 Persentase Rumah Tangga menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar dan Karakteristik Rumah Tangga.8 11.9 4.3 10.5 37.7%).1 30. 259 .3%).192 menggambarkan berbagai jenis sarana pembuangan kotoran. Maluku Utara (84.2%) dibandingkan dengan di perdesaan (49.191) Tabel 3.6 Kuintil 1 52.8 6.2 34. Kalimantan Selatan (13.0 14.3 4.1%). Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1 25.2 4.7 13. dan DI Yogyakarta (83.0 3.0 Kuintil 4 Kuintil 5 75.8 11.Cakupan penggunaan jamban sendiri menunjukkan variasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.2 11.6 Sendiri Bersama Umum Tidak ada Persentase rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri di perkotaan lebih tinggi (73. DKI Jakarta (86. Jenis sarana pembuangan kotoran dianggap ‘saniter’ bila menggunakan jenis leher angsa.5 Kuintil 3 65.4 9.

5 Proporsi penggunaan tempat buang air besar bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita (Tabel 3.8 8.3 7.6 2.4 4.7 0.3 5.5 29.9 76.7 3.2 31.7 0.0 68.8 68.9 14.8 6.0 6.6 2.3 11.1 75.2 25.8 1.6 11.6 84.4 2.8 22.7 2.6 9.1 87.4 0.6 13.5 18.9 4.1 19.7 87.7 8.7 26.8 69.4 25.2 53.0 7.5 6.6 21.5 6.5 85.2 75.0 30.9 4.0 24.2 86.5 70.2 2.0 8.5 63.3 7.0 1.5 7.8 4.7 5.192 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar dan Provinsi.2 13.Tabel 3.6 4.5 4.6 2.2 Indonesia 68.0 7.9 17.9 18.5 62.1 49.4 3.5 5.3 13.8 15.7 79.8 15.5 9.8 12.8 4.3 1.8 24.4 60.4 1.9 9.0 4.1 8.7 9.9 2.193) 260 .2 83.8 14.9 6.2 Cemplung/ cubluk 24.7 0.8 6.2 9.1 15. Susenas 2007 Jenis tempat buang air besar Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Leher angsa 59.6 67.0 Plengsengan 8.8 11.2 5.8 11.0 78.3 16.7 95.0 17.8 6.7 59.9 0.0 18.9 66.6 1.5 66.1 1.1 9.0 43.3 12.4 3.2 75.6 6.6 4.9 72.7 16.4 7.4 39.3 13.3 58.7 5.6 Tidak pakai 7.8 60.0 16.4 10.2 7.8 5.4 14.3 67.6 14.3 24.

terendah adalah Papua (17.0 10.1%).5 13.8 Perdesaan 56.8 1. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 8.3 3.6 2. Menurut Joint Monitoring Program WHO/Unicef.0%.9 8.9 Kuintil-4 73. Berdasarkan kriteria tersebut.7 5.0 7.6 9.8 26. 261 .0%).2 Kuintil-5 82.5%) dan Maluku Utara (31.4 22.6 4. Susenas 2007 Jenis tempat buang air besar Karakteristik rumah tangga Leher angsa Plengsengan Cemplung/ cubluk Tidak pakai Tipe daerah Perkotaan 83.2 5.5 11. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi yang menggunakan jamban jenis leher angsa.5 7.1 Proporsi rumah tangga yang menggunakan jamban jenis leher angsa lebih tinggi di perkotaan (83. pada tabel 3.9%) dibandingkan dengan di perdesaan (56. Terdapat 18 provinsi dengan akses baik terhadap sanitasi di bawah rerata nasional.5 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 53.9%).3 9. akses sanitasi disebut ‘baik’ bila rumah tangga menggunakan sarana pembuangan kotoran sendiri dengan jenis sarana jamban leher angsa.Tabel 3. disusul oleh Papua Barat (25.1 17.6 7.5 Kuintil-3 68.8 10.193 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar dan Provinsi di Indonesia.194 dapat dilihat secara nasional rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi sebesar 43.5 27.4 Kuintil-2 61.

0 74. Proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.0 33.9 41.7 35.4 48.6 51.1 40.5 58.8 39. jenis latrin (Susenas.8 53. di perkotaan lebih tinggi dua kali lipat (63.5 77.9 49.7 42.0 50.3 44.3 49.0 34.6 69.6 70.0 *) menggunakan jamban sendiri.2 68.0 49.0 58. Tabel 3.1 50.3%) dibandingkan dengan di perdesaan (30.9 42.1 57.4 58.0 66.195 menunjukkan proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi.4 31.3%).5 73.6 41.2 63.5 22. 2007).5 55.7 44.8 31.Tabel 3.4 55. Susenas 2007 Akses sanitasi Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Kurang 66.7 50.5 17.5 44.1 55.9 Indonesia 57.9 46.5 41.8 36.1 53.5 82.5 27.1 46.9 60.1 58.4 29.194 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi dan Provinsi.7 55.2 46.2 60.0 41.0 25.0 70.3 55.0 30.0 65.3 57. 262 . Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin tinggi proporsi rumah tangga dengan akses baik terhadap sanitasi.0 43.6 45.1 Baik*) 33.9 54.9 44.3 64.

Susenas dan Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Akses sanitasi Kurang Baik*) Tipe daerah Perkotaan 36. Jambi. jenis latrin (Susenas.3 Perdesaan 69.0%) dan Bali (76.6 Kuintil-3 57.7 63. Susenas 2007 263 .7 30.196 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja dan Provinsi. Bengkulu. Sulawesi Barat. Kalimantan Tengah. Kalimantan Selatan.3 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 74. (Tabel 3.4 34. lobang tanah. data diambil dari Kor Susenas 2007. 2007).5%).9 25.Tabel 3. sisanya dibuang ke sungai/laut. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin tinggi proporsi yang menggunakan tangki/SPAL. Proporsi rumah tangga dengan penggunaan tempat pembuangan akhir tinjanya jenis tangki/SPAL (saniter) bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5 63.6%) dibandingkan dengan di perdesaan (30. Proporsi rumah tangga yang menggunakan tangki/SPAL sebagai tempat pembuangan akhir tinja dua kali lebih tinggi di perkotaan (71. Lampung.3%.7 42.(Tabel 3. Sumatera Barat. Papua Barat.5 50.5 Kuintil-5 36. Sulawesi Tenggara.1 Kuintil-2 65. kolam/sawah.3 Kuintil-4 49. Tempat pembuangan akhir tinja dikategorikan saniter adalah bila menggunakan jenis tangki/sarana pembuangan air limbah (SPAL). Secara nasional. proporsi rumah tangga dengan tempat pembuangan akhir tinja menggunakan tangki/SPAL (saniter) sebesar 46. dan pantai/tanah.195 Persentase Rumah Tangga menurut Akses Terhadap Sanitasi dan Karakteristik Rumah Tangga. Maluku.197) Tabel 3. Kalimantan Barat. Untuk pembuangan akhir tinja. Provinsi-provinsi yang proporsi pembuangan akhir tinja saniternya di bawah rerata nasional adalah NTT. Papua.3%). NTB.5 *) menggunakan jamban sendiri. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.196) Proporsi penggunaan sarana pembuangan akhir tinja saniter tertinggi ditemukan di Provinsi DKI Jakarta (86. dan Gorontalo. Sulawesi tengah. NAD.

0 2.6 6.0 25.4 36.7 2.3 34.6 2.4 54.6 1.7 1.1 21.6 20.4 1.6 40.4 33.4 21.2 48.7 15.0 1.8 47.6 7.7 22.3 30.4 5.2 5.4 26.0 0.1 6.8 32.8 21.2 18.3 1.3 8.0 4.8 4.2 29.9 22.6 0.5 tanah 22.0 1.0 1.7 14.4 2.6 24.9 3.5 1.0 0.5 34.7 3.9 12.1 28.9 7.1 20.3 1.0 25.3 43.7 53.2 /laut 22.7 12.4 3.2 14.8 1.1 4.7 69.1 15.1 11.4 35.1 7.6 1.0 20.7 Indonesia 46.2 20.3 2.9 3.6 0.3 23.0 49.7 38.2 Lainnya 3.9 0.1 0.4 0.2 6.3 16.6 21.5 11.1 46.3 55.2 55.0 14.0 21.1 12.Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Tangki/ SPAL 36.1 42.3 14.2 4.9 22.5 1.9 22.1 2.5 31.9 1.1 0.4 18.7 tanah 12.5 1.3 15.0 0.4 11.7 39.0 1.4 8.2 2.1 7.3 41.7 7.2 4.0 Tabel 3.6 4. Susenas 2007 264 .4 0.1 50.4 0.7 31.5 38.3 0.1 21.8 2.6 0.3 2.6 35.7 1.2 31.5 49.197 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pembuangan Akhir Tinja dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.0 53.9 15.9 86.4 42.6 18.9 46.2 1.7 22.5 2.3 17.5 11.8 16.6 21.8 8.3 33.0 26.6 0.1 0.1 5.3 3.3 0.0 0.1 1.0 14.4 0.2 5.1 25.9 2.7 14.8 61.9 21.7 0.7 69.1 1.1 4.8 9.1 2.6 0.0 24.9 0.8 2.3 32.1 22.7 11.0 1.2 1.1 57.7 6.1 30.4 1.6 1.6 1.4 1.4 76.8 24.8 1.2 11.6 2.7 26.2 13.6 16.5 3.9 2.4 30.2 22.6 2.9 45.3 33.3 1.1 3.0 0.7 Tempat pembuangan akhir tinja Kolam/ Sungai Lobang Pantai/ sawah 63.

6 23.9 Perkotaan 30.4 24. Di daerah perdesaan.198 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Saluran Pembuangan Air Limbah dan Provinsi.6 1. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.7%) dan Kalimantan Tengah (65. Secara nasional.8% menjadi 32.7 1. Proporsi rumah tangga yang tidak menggunakan SPAL bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.1 10.3 3.198) Terdapat 16 provinsi dengan proporsi rumah tangga tidak memiliki SPAL lebih tinggi dari rerata nasional.(Tabel 3.4 Kuintil 3 52.3 Sarana pembuangan air limbah Data penggunaan saluran pembuangan air limbah (SPAL) rumah tangga didapatkan dengan cara wawancara dan pengamatan. tertinggi adalah NTT (77.3 16.2 16.5 19.2 2.9 2. Riskesdas 2007 265 .7 11.9%). semakin tinggi tingkat pengeluaran semakin rendah proporsi rumah tangga yang tidak memiliki SPAL.7% rumah tangga yang menggunakan SPAL di rumahnya.8 Kuintil 2 45. terdapat 67.2 3.1 22.3 Kuintil 1 38.5 4.9%).9 6.2 11.199) Tabel 3.3 23.9.Karakteristik rumah tangga Tangki/ SPAL Tempat pembuangan akhir tinja Kolam/ Sungai Lobang Pantai/ sawah /laut tanah tanah Lainnya Tipe daerah 71.8 12.0 4.3 Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 30.3 3.8 1.5 21.5% (Tabel 3.0 11.5 9.7 7.8 20.2 2. baik SPAL jenis tertutup maupun terbuka.5 26.6 27.6 3.0 Kuintil 4 Kuintil 5 65.5 2.6 3. yaitu dari 25. proporsi rumah tangga yang tidak menggunakan SPAL hampir tiga kali lipat (42.2 2. disusul oleh Kalimantan Selatan (75. terdapat peningkatan rumah tangga yang tidak memiliki SPAL. Dibandingkan dengan data Susenas tahun 2004.8 2.9%) dibandingkan dengan di perkotaan (15.7%).1 1.

4 17.8 42.0 49.7 12.4 48.3 25.9 10.1 52.1 57.5 23.0 38.7 27.2 17.5 41.1 37.0 48.5 55.5 22.1 43.9 41.199 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Saluran Pembuangan Air Limbah dan Karakteristik Rumah Tangga di Indonesia.9 75.3 16.7 31.3 77.6 37.1 25.3 11.7 44.1 14.2 34. Riskesdas 2007 266 .7 20.6 46.7 33.2 71.4 69.6 25.3 38.7 4.0 17.2 5.7 Tdk ada 26.5 34.7 13.6 53.7 46.8 10.6 30.9 44.0 27.7 23.5 69.8 21.5 25.7 52.4 8.3 25.3 18.1 24.5 47.9 47.9 8.3 52.4 30.Saluran pembuangan air limbah Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Terbuka 56.2 Indonesia 42.9 43.3 4.1 Tertutup 17.0 11.1 43.3 40.2 32.0 46.5 46.6 51.2 10.8 14.3 60.6 26.6 37.7 16.6 39.8 6.0 27.1 20.7 11.2 48.1 17.2 21.5 Tabel 3.0 16.9 34.0 50.4 9.4 42.6 65.5 33.4 47.3 24.1 27.

200 menunjukkan secara nasional terdapat 26. Tabel 3.3 35. Provinsi dengan persentase rumah tangga tidak memiliki tempat sampah tertinggi adalah Gorontalo (dalam rumah) dan Kalimantan Selatan (luar rumah). Tabel 3.9.Karakteristik rumah tangga Saluran pembuangan air limbah Terbuka Tertutup 42. baik di dalam maupun di luar rumah.0 Kuintil-4 Kuintil-5 41.5 Kuintil-1 42.6% rumah tangga yang memiliki tempat sampah di dalam rumah dan 45.200 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Provinsi.9 42. terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin banyak yang memiliki tempat sampah.201 menunjukkan di perkotaan proporsi rumah tangga yang memiliki tempat sampah lebih tinggi (36. Riskesdas 2008 267 .3% dalam rumah dan 56.0 Kuintil-3 42.1 36.2% di luar rumah) dibandingkan dengan di perdesaan (20.8 Kuintil-2 43.9% di luar rumah).4 20.2 14.2 29.5 17.5 Tipe daerah 41.4 33.7 22.5% dalam rumah dan 38.9 Perkotaan 42.6 Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 42.4 Pembuangan sampah Data pembuangan sampah meliputi ketersediaan tempat penampungan/ pembuangan sampah di dalam dan di luar rumah.8 28. Proporsi rumah tangga yang memiliki tempat sampah bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5% rumah tangga memiliki tempat sampah di luar rumah.8 23. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.9 40. Tabel 3.9 Tdk ada 15.6 3.

2 15.5 10.0 42.9 69.3 49.5 17.2 10.0 55.9 35.2 17.8 Terbuka 25.1 34.9 5.1 Tertutup 9.6 77.0 8.1 83.0 80.4 Penampungan sampah di luar rumah Tidak ada 65.7 8.8 6.0 17.6 56.0 11.5 37.4 Tidak ada 77.1 75.4 14.0 11.Penampungan sampah dalam Provinsi Tertutup NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan 5.7 54.4 5.3 268 .3 65.1 8.0 16.9 rumah Terbuka 17.

2 5.7 5.6 23.9 24.3 13.2 12.2 37.0 33.5 14.8 5.9 17.3 16.9 23.3 7.5 18.6 3.3 4.9 3.3 73.5 12.2 6.6 68.0 10.2 54.3 54.8 7.3 63.3 3.0 Tidak ada 43.4 34.8 5.9 8.3 17.5 81.2 5.1 28.1 44.7 26.4 15.3 21.4 18.3 65.8 74.0 29.5 3.5 15.8 18.5 9.0 27.3 30.7 79.8 61.6 56.2 60.0 76.5 16.8 83.9 81.8 5.3 63.0 21.8 36.1 58.2 6.1 57.0 7.0 51.9 62.5 4.9 35.2 21.0 63.4 6.4 66.1 58.3 80.4 3.4 11.3 60.6 73.5 27.8 6.1 34.5 8.1 26.2 Perdesaan Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita 4.1 10.5 Tabel 3.2 66.5 55.0 Kuintil-2 269 .7 7.7 Penampungan sampah di luar rumah Tertutup 15.3 72.9 42.7 13.3 7.3 14.1 6.0 29.3 30.9 10.1 23.8 58.6 2.0 85.4 3.2 54.7 14.4 86.1 36.9 72.1 60.5 37.1 66.1 34.2 28.9 31.4 Terbuka 40.9 5.0 23.4 35.8 23.5 65.0 2.0 29.8 15.8 24.1 73.2 3.1 41.7 34.7 76.8 36.7 76.6 85.7 19.0 39.7 13.4 80.0 Perkotaan 4.5 59.3 24.6 80.0 9.4 47.1 4.1 32.5 61.0 33.Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 5.8 5.2 31.6 3.4 79.9 56.1 64.0 11. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Penampungan sampah dalam rumah Tertutup Terbuka Tidak ada 63.2 16.8 22.1 8.6 65.5 7.9 53.8 6.4 28.5 7.6 Tipe daerah 15.2 77.5 8.9 64.201 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Penampungan Sampah di Dalam dan Luar Rumah dan Karakteristik Rumah Tangga.0 65.0 7.8 4.8 73.5 74.5 Kuintil-1 6.7 71.9 61.4 8.9 11.4 3.2 77.6 18.0 Indonesia 8.9 15.5 6.3 13.3 48.5 3.0 3.1 72.4 36.

2 19.7 46.3 86. Papua Barat (40.0%) dibandingkan dengan di perkotaan (5.8 16.7 13.6 Bukan tanah 86.9 20.5 19.5 80.6% rumah tangga dengan jenis lantai rumah tanah dan 17.5 38.7 94.5% dengan tingkat hunian padat. yaitu memenuhi syarat bila ≥8m2/kapita (tidak padat) dan tidak memenuhi syarat bila <8m2/kapita (padat).9 23. sedangkan proporsi rumah dengan kepadatan hunian tinggi tidak menunjukkan perbedaan antara di perkotaan dan perdesaan.1 79.202 menunjukkan secara nasional masih terdapat 12. Dilihat dari provinsi.5 37.7 96.9.3 4.3 17.1 76.0 71.1 10. luas lantai rumah dan jumlah anggota rumah tangga diambil dari Kor Susenas 2007.0 18. Tabel 3.4%).7 90. Menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. terdapat delapan provinsi dengan proporsi jenis lantai rumah tanah lebih dari rerata nasional.0%).2 83. Kepadatan Hunian dan Provinsi.8%). kepadatan hunian.4 270 .0 20.0 14. Tabel 3.0 3. dan DKI Jakarta (37. ada kecenderungan semakin meningkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin menurun proporsi rumah tangga yang lantai rumahnya tanah dan tingkat huniannya padat.5%).203 memperlihatkan proporsi rumah tangga dengan jenis lantai tanah di perdesaan lebih tinggi (17. Susenas 2007 Jenis lantai Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Kepadatan hunian >= 8 m2/ kapita 13.4%) dan Papua (27.Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 7. Tabel 3.5 96.9 13.1 65.7%).1 7.9 74. Proporsi rumah tangga dengan jenis lantai rumah tanah dan tingkat hunian padat bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita.5 55.3 5.5 Perumahan Data perumahan yang dikumpulkan dan menjadi bagian dari persyaratan rumah sehat adalah jenis lantai rumah.202 Persentase Rumah Tangga menurut Jenis Lantai Rumah. tertinggi NTT (44. Sedangkan provinsi dengan proporsi hunian padat lebih tinggi dari rerata nasional antara lain Papua (51.7 82.2 52.0 5. Hasil perhitungan dikategorikan sesuai kriteria Permenkes tentang rumah sehat. disusul oleh Jawa Tengah (28. dan keberadaan hewan ternak dalam rumah. Data jenis lantai.5 3.0 94.9 89.8 10.8 79.3 8.9%).3 9.2 Tanah < 8 m2 / kapita 20. sedangkan data pemeliharaan ternak diambil dari Riskesdas 2007.4 40. Kepadatan hunian diperoleh dengan cara membagi luas lantai rumah dalam meter persegi dengan jumlah anggota rumah tangga.

3 4.2 84.9 Kuintil 5 93.6 88.0 30.6 21.0 10.9 84.9 19.1 89.4 4.7 21.4 12.1 97.3 14.6 65.9 17.6 11.0 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil 1 80.6 89.7 17.7 15.6 72.9 33.6 22.4 96.3 97.4 3.4 27.4 59.7 87.3 82.4 55.6 80.8 72.3 16.5 Perdesaan 83.7 Kuintil 3 87.8 28.9 89.4 79.1 78.4 78.6 44.9 92.3 18.6 271 .2 6.4 19.4 78.1 78.9 21. Susenas 2007 Jenis lantai Karakteristik rumah tangga Bukan tanah Tanah Kepadatan hunian >= 8 m2/ kapita 82.7 94.6 82.2 71.9 21.1 19.0 Indonesia 87.1 15.5 17.1 84.5 26.3 78.4 11.0 69.4 10.8 91.8 51.5 20.4 Kuintil 4 90.6 96.2 8.6 12.5 6.8 62.1 82.7 4.3 11.5 93.4 6.9 89.0 17.9 2.9 10.1 7.7 83.2 5.2 25.1 66.1 9.2 37.4 36.2 2.1 10.3 12.5 5.5 Tabel 3.1 Kuintil 2 85.3 84.9 8.6 40.6 20.3 96.2 82.7 6.2 49.7 88.5 79.4 34.203 Persentase Rumah Tangga Menurut Jenis Lantai Rumah Dan Kepadatan Hunian Dan Karakteristik Rumah Tangga.7 2.2 90.3 93.8 15.7 95.6 63.8 17.7 81.8 7.8 97.0 11.Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua 80.5 Tipe daerah Perkotaan 94.4 88.8 74.8 94.5 73.6 95.8 9.2 92.9 15.0 88.1 91.8 93.5 < 8 m2 / kapita 17.6 3.2 27.3 5.

Proporsi rumah tangga yang memelihara ternak di perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan di perdesaan. anjing atau kelinci. baik jenis unggas. domba. Pada Tabel 3. ternak besar (sapi. Sedangkan menurut tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita. Bila di rumah tangga memelihara ternak. Proporsi rumah tangga yang memelihara ternak bervariasi menurut tipe daerah dan tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita (Tabel 3. kucing dan kelinci.9% memelihara binatang jenis anjing. Bali dan Papua.8% memelihara ternak besar dan 16. ternak sedang. Dari rumah tangga yang memelihara ternak sekitar 10%-20% memeliharanya di dalam rumah. ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita semakin sedikit memelihara ternak. Provinsi-provinsi dengan proporsi rumah tangga yang memelihara ternak tinggi antara lain Provinsi NTT. 8. maupun binatang kucing.204 tampak secara nasional terdapat 41. data dikumpulkan dengan menanyakan kepada seluruh kepala rumah tangga apakah memelihara binatang jenis unggas. babi. kuda. 12. kerbau. ternak sedang (kambing. dll). ternak besar. dll) atau binatang peliharaan seperti anjing.Dalam hal pemeliharaan ternak.3% memelihara ternak sedang. kucing atau kelinci. 272 .7% rumah tangga yang memelihara unggas.205). kemudian ditanyakan dan diamati apakah dipelihara di dalam rumah.

8 8.1 69.5 87.4 7.5 58.1 61.2 1.1 0.5 12.0 91.7 0.2 69.0 51.6 46.9 14.9 85.0 6.9 92.2 80.4 57.6 99.9 66.3 16.8 0.9 3.0 3.8 5.1 0.8 10.8 29.6 7.3 6.0 18.5 5.8 45.1 5.6 0.2 4.5 83.0 82.4 34.8 94.0 95.6 85.1 0.5 1.6 1.6 0.7 94.3 26.9 97.6 15.9 2.3 63.4 0.2 0.2 Tdk dipelihara 44.4 62.3 17.6 5.6 11.4 49.3 98.7 3.3 0.1 93.7 69.8 0.0 89.4 16.0 93.1 4.8 33.7 4.8 8.8 6.4 0.5 83.1 0.5 96.Tabel 3.3 8.0 0.8 31.4 78.3 94.9 2.0 0.9 97.0 0.7 0.4 11.7 6.7 77.1 5.4 95.3 90.2 99.4 5.0 0.0 273 .8 19.1 11.4 4.6 0.3 44.9 14.2 25.3 9.9 32.0 90.1 91.7 16.4 2.0 65.9 7.5 1.6 52.7 6.2 0.6 2.5 71.8 2.3 29.7 0.3 5.0 33.7 6.9 99.7 9.2 0.8 36.3 0.8 0.5 27.3 6.3 13.7 0.9 91.9 0.4 84.5 96.3 96.204 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan Ternak/Hewan Peliharaan dan Provinsi.0 12.5 78.1 6.2 30.8 2.7 66.5 6.6 3.0 90.9 2.9 Luar rmh 3.1 2.6 2.1 Anjing/kucing/kelinci Dlm rmh 9.6 0.7 94.4 3.8 0.0 3.0 0.2 4.6 69.0 0.4 3.1 2.2 25.4 Ternak Sedang (kambing/domba/babi dll) Dlm Luar Tdk rmh rmh dipelihara 1.1 2.6 79.0 9.7 0.7 63.9 17.3 83.3 67.9 80.6 1.1 73.3 98.1 0.6 57.9 0.8 47.7 14.8 50.6 64.3 92.4 2.6 0.0 1.3 83.3 12.8 45.1 83.3 48.7 26.7 99.8 1.6 2.8 2.7 1.2 2.0 11.6 91.9 4.8 95.0 0.1 66.6 86.2 0.8 3.9 8.9 0.8 23.8 88.3 11.2 35.8 6.3 99.4 9.7 0.5 2.9 1.4 10.6 90.8 52.0 0.7 83.7 67.4 9.3 98.2 26.1 4.3 40.8 3.1 10.3 12.3 8.5 95.1 35.2 4.2 5.1 99.9 13.4 8.7 0.9 3.8 54.8 91.6 7.4 84.4 3.1 7.1 90.7 0.0 13.1 21.5 16.0 14.5 3.7 93.7 94.8 29.1 70.0 7.9 22.7 15.8 93.8 96.9 4.4 17.7 40.1 1.8 89.4 0.6 10.7 76.1 71.1 47.4 64.7 0.1 75.9 88.3 29.8 5.1 94.7 31.3 10.7 2.8 66.0 2.4 10.6 8.6 85.2 6.3 4.3 0.8 1.2 7.5 Luar rmh 51.1 2.6 87.1 91.1 12.7 39.6 94.1 4.9 56.9 94.9 3.2 95.9 68.7 Ternak Besar (sapi/kerbau/kuda dll) Dlm Luar Tdk rmh rmh dipelihara 0.9 9.9 2.5 27.3 0.3 65.5 0.8 17.2 5.5 3.8 62.2 94.1 54.2 2.2 2.1 83.6 26.2 3.1 27.1 3.9 59.4 0.0 Tdk dipelihara 86.8 0.2 96.0 0.3 1.5 1.3 84.0 70.2 18.0 2.9 0.7 1.0 0.7 95.4 4.4 15.0 89.3 8.1 7.6 4.5 0.2 5.0 87.3 57.3 97.8 25.1 1.0 0.1 36.9 82.2 6.1 31.8 92.5 11.1 97.3 1.4 11.3 5.0 6.4 77.5 42.6 93.0 50.1 0.7 3. Riskesdas 2007 Ternak Unggas Provinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat Maluku Maluku Utara Papua Barat Papua Indonesia Dlm rmh 3.5 33.7 81.8 18.4 4.3 56.1 3.0 0.1 2.6 92.3 23.5 2.8 26.2 6.2 13.4 8.9 13.6 0.1 0.8 48.7 4.9 82.3 40.8 85.2 95.9 88.0 0.6 3.

6 12 4.3 1.8 12.7 39 38. Riskesdas 2007 Karakteristik rumah tangga Ternak Unggas Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Ternak Sedang (kambing/domba/babi dll) Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Ternak Besar (sapi/kerbau/kuda dll) Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Anjing/kucing/kelinci Dlm rmh Luar rmh Tdk plihara Tipe daerah Perkotaan Perdesaan 4.8 6.3 1.7 10.9 59.6 13.7 83.5 0.6 1.3 9.6 82.6 7.Tabel 3.5 86 87.3 47.6 85.4 1.7 96 82.0 4.8 7.0 94.8 0.1 27.5 10.2 0.4 97.9 67.4 36.8 89.5 11.2 6.5 10.1 6.7 7.3 9.5 2.6 15.8 7.0 6.1 11.2 8.4 1.2 0.0 89.8 89.7 1.3 274 .2 4.4 89.0 81.5 1.4 7.4 56.3 7.3 7.7 6.1 82.4 92.2 79.8 53.3 1.0 84.8 8.8 3.5 9.0 0.2 8.3 34.5 90.6 87.4 45 76.205 Persentase Rumah Tangga menurut Tempat Pemeliharaan Ternak/Hewan Peliharaan dan Karakteristik Rumah Tangga.6 92.2 54.2 Tingkat pengeluaran rumah tangga per kapita Kuintil-1 Kuintil-2 Kuintil-3 Kuintil-4 Kuintil-5 7.3 1.6 9.8 19.

0 5.1 20.4 2.5 Total n 354 103 76 137 178 250 511 632 776 922 % 9. Data mortalitas satu tahun yang terkumpul dari 33 provinsi dalam kurun waktu tersebut sebanyak 4. Tabel 3.5 rata-rata jumlah ART).3.6 18. termasuk di dalamnya 75 kasus lahir mati. dan proporsi kematian umur 15 tahun ke atas semakin meningkat.2 persen). hanya 4.488 RT yang berhasil diwawancarai x 4.0 4.5 2.5 6.9 3.2 7.552 kejadian kematian.2 12. 275 .0 2. yaitu 4.552 per 1.10.7 21. Proporsi kematian pada umur 45-74 tahun pada laki-laki lebih besar daripada perempuan.206 Distribusi Kasus Kematian Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin.6 1. Riskesdas 2007 Kelompok umur Di bawah 1 tahun 1-4 tahun 5-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75 tahun ke atas Laki-Laki n % 210 55 49 89 89 120 298 381 460 468 9.014 kasus (88.4 26. 3. Dengan demikian angka kematian kasar adalah 4 per 1000.4 Distribusi kematian menurut umur dan jenis kelamin pada tabel 3. proporsi kematian di perdesaan lebih besar daripada di perkotaan.1 Distribusi Kasus Kematian Diantara 4.2 4.4 2. Tabel 3.206 menunjukkan bahwa proporsi kematian pada umur di bawah 1 tahun adalah 9. Pada kelompok umur muda (di bawah 15 tahun).0 16.0 Perempuan n % 144 48 27 48 89 124 213 251 316 454 8.8 5.0%.7 23. sedangkan pada umur 75 tahun ke atas lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki. yang anggota keluarganya berhasil diwawancarai secara lengkap.0 19.5 4.196 (=258.4 17. sedangkan pada kelompok umur 45-74 tahun di perkotaan lebih besar daripada di perdesaan.8 1.207 membandingkan proporsi kematian menurut tipe daerah.10 Mortalitas Pewawancara menanyakan kejadian kematian selama kurun waktu tiga (3) tahun sebelum pelaksanaan pengumpulan data. proporsi kematian pada umur 5-14 tahun terendah.6 2.7 13.4 14. Kematian yang terjadi dalam kurun waktu 1 tahun sebelum survei (terletak pada rentang waktu 1 Juli 2006-31 Januari 2008) ditindaklanjuti dengan wawancara kepada anggota keluarga almarhum/ah menggunakan kuesioner AV.3 13.163.552 kasus kematian di atas.

Penyakit menular didominasi oleh TB penyakit hati (termasuk hepatitis kronik).3 1.1 5.0 2.8 22.6 5.Tabel 3.4 3. Proporsi kematian karena penyakit tidak menular semakin meningkat.9 1. Tabel 3. Bila dibandingkan dengan hasil SKRT 1995 dan SKRT 2001.1 2. Kondisi maternal/perinatal dalam kurun waktu tujuh (7) tahun tidak berubah dan kematian karena cedera tidak mengalami perubahan. Riskesdas 2007 Kelompok umur n Di bawah 1 tahun 1-4 tahun 5-14 tahun 15-24 tahun 25-34 tahun 35-44 tahun 45-54 tahun 55-64 tahun 65-74 tahun 75 tahun ke atas 104 31 23 59 84 97 252 295 327 378 Perkotaan % 6. Proses ini diprediksi akan berjalan terus. tampak bahwa selama 12 tahun (1995-2007) telah terjadi transisi epidemiologi yang diikuti dengan transisisi demografi. walaupun dalam enam (6) tahun terakhir penurunan hanya sedikit.3 17.6 23. sehingga membutuhkan perhatian khusus dalam menanganinya.0 19. sedangkan penyakit tidak menular didominasi oleh strok.4 3.3 14. diabetes mellitus.1 6.5%).10.1 memperlihatkan bahwa proporsi penyakit menular di Indonesia dalam 12 tahun telah menurun sepertiganya dari 44 persen menjadi 28 persen.4 4.4 276 . Pola penyebab kematian semua umur.209 menunjukkan urutan penyakit menular dan tidak menular pada semua umur.7 19. Proporsi gangguan maternal/perinatal dalam 6 tahun terakhir tidak mengalami penurunan. dan proporsi penyakit tidak menular mengalami peningkatan cukup tinggi dari 42 persen menjadi 60 persen.9 n 250 72 53 78 94 153 259 336 449 544 Perdesaan % 11.6 1. yang disusul oleh TB (7.0 16.7 11.7 23.9 15.207 Distribusi Kasus Kematian menurut Kelompok Umur dan Tipe Daerah.8%) dan Cedera (6.9 3.208 memperlihatkan bahwa penyebab kematian utama untuk semua umur adalah strok (15.9 19.3 3. menurut empat (4) kelompok penyebab kematian.0 3.8 n 354 103 76 137 178 250 511 631 776 922 Total % 9.3 13. hipertensi.208. Hipertensi (6. dan tumor ganas.5%). Di lain pihak. proporsi penyakit menular telah menurun. pnemonia. Riskesdas 2007 Penyebab kematian Strok Proporsi kematian (%) 15.2 Kematian Semua Umur Tabel 3. Grafik 3.5 4.5 6. Pada tabel 3.4%). dan diare.

5 0. SKRT 1995-2001 dan Riskesdas 2007 Tabel 3.7 5.5 1.1 5.3 0.TB Hipertensi Cedera Perinatal Diabetes Mellitus Tumor ganas Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit sal nafas bawah Penyakit jantung Pnemonia Diare Ulkus lambung dan usus 12 jari Tifoid Malaria Meningitis Ensefalitis Malformasi kongenital Dengue Tetanus Septikemi Malnutrisi 7.1 Distribusi Kematian pada Semua Umur menurut Kelompok Penyakit. Grafik 3.7 1.6 0. Riskesdas 2007 No Penyakit menular % Penyakit tidak menular % 277 .0 5.6 1.2 .209.3 0.1 5.7 5.6 3. Proporsi Penyakit menular dan Tidak Menular pada Semua Umur.5 6.8 0.1 4.5 0.8 6.8 3.5 6.

10.285) Strok Penyakit Hipertensi Diabetes mellitus Tumor ganas Penyakit jantung Iskemik Penyakit saluran nafas kronik Penyakit jantung lain Ulkus lambung dan usus 12 hari Malformasi congenital Malnutrisi 26. Penyakit yang banyak dialami ibu hamil pada bayi yang lahir marti secara berturut-turut adalah hipertensi maternal (24%).3 10.9 12.(n=1. Dengan mengetahui penyakit/gangguan kesehatan ibu ketika hamil.6% (75 kematian) dari seluruh kematian perinatal.0 4.080) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 TB Penyakit hati Pnemonia Diare Tifoid Malaria Meningitis/ ensefalitis Demam berdarah Dengue Tetanus Septikemia 27.8% ibu dari bayi perinatal terganggu kesehatannya ketika hamil. Sisanya. Proporsi lahir mati cukup tinggi yaitu 34.6 3. komplikasi ketika bersalin (partus macet) sebesar 17. kematian bayi neonatal dini (0-6 hari) adalah sebesar 78. tercatat 181 kasus kematian. yaitu kematian bayi 0-28 hari.211). Sedangkan gangguan kesehatan ibu hamil dari bayi meninggal berumur 0-6 hari adalah ketuban pecah dini (23%).5 3. Kematian Berumur 0-28 hari (Neonatal) Jumlah kematian perinatal di 33 provinsi.0 0. yaitu lahir mati ditambah kematian bayi umur 0-6 hari tercatat sebesar 217 kasus kematian.8 19.2 (n=2. pewawancara menanyakan apakah ibu bayi tersebut mengalami gangguan kesehatan ketika mengandung bayi tersebut.4%) menunjukkan bahwa penanganan bayi prematur belum memuaskan. Proporsi bayi prematur yang meninggal cukup tinggi (32. seperti terlambat membawa atau terlambat menerima pelayanan kesehatan.5%. Penanganan bayi baru lahir harus terfokus pada peningkatan kemampuan bidan desa untuk menangani asfiksia pada bayi baru lahir. dan hipertensi maternal (22%) (Table 3.4 3. Bayi yang dilahirkan dengan lahir mati/still birth atau yang mengalami kematian neonatal dini (umur 0-6 hari). faktor kesehatan ibu ketika ia hamil dan bersalin kemungkinan berkontribusi terhadap kondisi kesehatan bayi yang dikandungnya.2 10. jumlah kematian neonatal.210 Proporsi Penyebab Kematian Kelompok Umur 0-6 hari dan 7-28 hari No 0-6 hari (n=142) % 7-28 hari (n=39) % 278 . yaitu kematian bayi umur 0-6 hari (disebut juga kematian bayi neonatal dini). 96.4 13. Bila dibandingkan dengan seluruh kematian neonatal ini. atau karena alasan lainnya. Terbanyak karena sepsis (20%) (Tabel 3.2). Tabel 3. Untuk kematian perinatal. sebesar 142 kasus kematian. Kematian bayi neonatal lanjut (7-28 hari) tercatat 39 kasus.3 Kematian Menurut Kelompok Umur a. Dari sejumlah 217 kasus kematian perinatal.9 1.2 6.3 9. selanjutnya urutan ke 2 dan 3 disebabkan oleh prematuritas dan sepsis (Tabel 5.2 9.2 7. Poporsi terbesar disebabkan karena gangguan/kelainan pernafasan (respiratory disorders).4 1.5%.1 14. Di lain pihak. maka tindakan pencegahan maupun pengobatan harus ditujukan terhadap ibu ketika hamil.2 2.1 1.210).

4 Sepsis Malformasi kongenital Pnemonia Sindrom gawat pernafasan (RDS) Prematuritas Kuning Cedera lahir Tetanus Defisiensi nitrisi Sindrom kematian bayi mendadak (Sudden infant death) 20.8 1-4 tahun (n=103) Diare Pnemonia Necroticans Entero Collitis (NEC) Meningitis/ensefalitis Demam berdarah dengue % 25.4 12.6 2.7 3.211 Proporsi Faktor Utama Ibu terhadap Lahir Mati dan Kematian Bayi 0-6 hari.8 9.9 5. dan pnemonia.5 18.0 10.3 1. Proporsi penyakit penyebab kematian pada bayi postneonatal (29 hari-11 bulan) dan anak balita (14 tahun) untuk tiga penyakit terbesar mempunyai pola yang sama yaitu diare.3 6.2 15. tenggelam 5%.212 Proporsi penyebab kematian pada umur 29 hari-4 tahun.8 6. TB 4% (Tabel 3. sedangkan untuk anak balita penyebab kematian yang perlu diperhatikan adalah karena campak 6%.9 5.4 2.5 Tabel 3.8 1. Untuk bayi postneonatal penyebab kematian yang juga perlu diperhatikan adalah kelainan kongenital jantung dan hidrocefallus (6%).0 21.3 5.1 b. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 29 hari-11 bulan (n=173) Diare Pnemonia Meningitis/ensefalitis Kelainan saluran pencernaan Kelainan jantung congenital % 31.4 12.1 15.8 16.6 2.6 3.8 0-6 hari (n=142) Ketuban pecah dini Hipertensi maternal Komplikasi kehamilan dan kelahiran Kelainan nutrisi maternal Multiple pregnancy Perdarahan antepartum Persalinan sungsang Infeksi intrapartum Lilitan tali pusat Kelainan letak lain selama kehamilan dan kelahiran % 23.3 6.1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Gangguan/kelainan pernafasan Prematuritas Sepsis Hipotermi Kelainan perdarahan dan kuning Postmatur Malformasi kongenitas 35.8 12.6 2.7 10.0 6.6 1. Tabel 3. Kematian Berumur 29 hari-4 tahun Kematian bayi postneonatal dan anak balita didominasi oleh penyakit menular.6 2.6 3.6 17. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Lahir mati (n=75) Hipertensi maternal Komplikasi kehamilan dan kelahiran Ketuban pecah dini Perdarahan antepartum Cedera maternal Persalinan sungsang Kehamilan ganda Infeksi intrapartum Kelainan letak lain selama kehamilan dan kelahiran Lilitan tali pusat % 23.5 3.6 2.4 23.9 32.5 10.7 8.212).4 5.8 dan 279 .9 6.5 12.7 12.8 2.

Kematian Berumur 5 Tahun ke atas Proporsi penyebab kematian tiga terbesar pada kelompok umur lima (5) tahun ke atas di perkotaan adalah penyakit tidak menular yaitu: stroke. Tabel 3. hypertensive diseases.8 4.0 8. 214 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 5-14 tahun menurut Tipe Daerah. diabetes mellitus.5 7. yaitu sebesar 16% dan 9% (Tabel 3.4 7. Di perdesaan. Tabel 3.966) Strok TB Hipertensi Penyakit saluran % 16.5 5.8 280 .7 Perdesaan (n=1.1 4. Kematian karena kecelakaan lalu lintas di perdesaan 2 kali lebih besar daripada di perkotaan.213). Selain itu.0 5.3 6.515) Strok Diabetes mellitus Hipertensi TB Penyakit jantung iskemik Tumor ganas Penyakit hati NEC Penyakit jantung lain Penyakit saluran nafas bawah kronik % 19.9 2.4 9.9 2.3 Perdesaan (n=53) Diare Pnemonia Malaria Kecelakaan lalu lintas Penyakit hati Jatuh Tenggelam NEC Tifoid % 11.9 2. sedangkan di perdesaan adalah diare dan pnemonia (masing-masing 11%).4 13.214).4 4.3 11.5 7.3 4. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Perkotaan (n=1.1 6.3 5.5 7.5 7.1 2.4 nafas bawah kronik Tumor ganas Penyakit hati Penyakit jantung iskemik NEC Penyakit jantung lain Diabetes mellitus Proporsi kematian pada kelompok umur 5-14 tahun di daerah perkotaan berbeda dengan di perdesaan.3 9.3 1.2 Campak Tenggelam TB Malaria Leukemia 5.3 4.2 1.8 5.1 8.9 3.0 13.5 3.7 7.9 c.4 9.6 7 8 9 10 hidrosefalus Sepsis Tetanus Malnutrisi TB Campak 4. masingmasing sebesar 8% (Tabel 3.6 5. Di perkotaan proporsi kematian yang terbesar adalah demam berdarah dengue (30%).5 5. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Perkotaan (n=23) Demam berdarah dengue Tifoid Meningitis Pnemonia Jatuh Tumor ganas Kecelakaan lalu lintas Campak Infeksi lain dan penyakit parasit % 30.7 8.6 6.213 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 5 tahun ke Atas menurut Tipe Daerah.1 9.strok dan TB menempati urutan pertama dan kedua. Proporsi kematian karena TB menempati urutan ke empat di perkotaan. di perdesaan banyak kematian akibat jatuh dan tenggelam.0 13.7 4.3 7.6 4.

Proporsi TB sebagai penyebab kematian hamper sama di perkotaan maupun di perdesaan (Tabel 3.9 9.4 5. leher rahim. 8% pada perempuan). Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Perkotaan (n=240) Kecelakaan lalu lintas TB Penyakit hati Kematian karena penyebab obstetrik Tumor ganas (payudara.4 10.3 2.10 Gagal ginjal 3. hati.0 4. Tabel 3.9 4. rahim.1 9.8 5. Tabel 3. rahim) Diabetes mellitus Strok Ulkus lambung dan usus 12 jari Hipertensi Penyakit jantung lain % 13.3 4.6 7.7 5.0 6. Pada perempuan.6 2.216 Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun menurut jenis kelamin.7 7.2 3.7 7.1 rahim.3 3.4 3. proporsi kematian karena other direct obstetric deaths di urutan ke tiga sebesar 8% (Tabel 3.0 2.7 3.0 5. Di perdesaan proporsi penyakit infeksi sebagai penyebab kematian sama dengan di perkotaan (19%).3 4. Pada kelompok umur tersebut.7 11.215 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok umur 15-44 Tahun menurut Tipe Daerah.215) Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun pada laki-laki maupun perempuan karena tuberculosis masih tinggi (11% pada laki-laki.9 Perdesaan (n=325) Penyakit hati Kecelakaan lalu lintas TB Malaria Tumor ganas (leher % 9.5 4.4 4. penyakit hati dan TB. proporsi penyakit tidak menular seperti strok. hati) Penyakit jantung iskemik Ulkus lambung dan usus 12 jari Strok Tifoid Penyakit saluran nafas bawah kronik Di perkotaan.3 4.9 9.8 Proporsi penyakit penyebab kematian pada kelompok umur 15-44 tahun menurut tipe daerah menunjukkan bahwa perkotaan dan perdesaan mempunyai pola yang sama yaitu tempat teratas diduduki oleh kecelakaan lalu lintas.2 4.0 5.5 281 . proporsi kematian karena penyebab obstetrik lebih tinggi dibandingkan di perdesaan.2 4.2 3.216).6 4. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Laki-Laki (n=298) Kecelakaan lalu lintas TB Penyakit hati Malaria Strok Penyakit jantung iskemik Tifoid Penyakit jantung lain Diabetes mellitus Jatuh % 16.0 3.6 Perempuan (n=261) Penyakit hati TB Penyebab obstetrik lain Tumor ganas leher rahim dan payudara Ulkus lambung dan usus 12 jari Kecelakaan lalu lintas Malaria Diabetes mellitus Hipertensi Tifoid % 9.5 8. payudara. paru-paru.2 4. Proporsi yang terbesar pada laki-laki adalah kecelakaan lalu lintas. penyakit jantung iskemik sudah cukup tinggi sebagai penyebab kematian di perkotaan dan perdesaan.2 4.

220). penyakit jantung iskemik) mendominasi sebagai penyebab kematian.3 5. diabetes mellitus. sedangkan pada laki-laki terbesar adalah strok (16%). pada laki-laki proposinya sama dengan perempuan. proporsi TB lebih besar di perdesaan. Pada perempuan penyakit tidak menular yang terbanyak menimbulkan kematian adalah diabetes mellitus (16 persen). leher payudara.9 7.2 3. sedangkan proporsi penyakit tidak menular lebih besar di perkotaan (62%) dibandingkan di perdesaan (48%).7 8.8 3.4 4.8 hati. proporsi penyebab kematian karena penyakit infeksi pada kelompok umur 45-54 tahun lebih tinggi di perdesaan (25%) dibandingkan di perkotaan (14%).218).9 14. hipertensi.1 6. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Perkotaan (n=252) Strok Diabetes mellitus Penyakit jantung iskemik TB Hipertensi Penyakit jantung lain diseases Penyakit hati Kecelakaan lalu lintas Tumor ganas (payudara.7 Perempuan (n=213) Diabetes mellitus % 16.217 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun menurut Tipe Daerah. (Tabel 3.5 9. Proporsi tumor ganas pada perempuan secara mencolok lebih besar dari laki-laki (Tabel 3. % 12. keduanya didominasi oleh penyakit tidak menular.7 7. Penyakit menular yang masih banyak menyebabkan kematian adalah TB.3 11.217).2 Perdesaan (n=259) TB Strok Hipertensi Penyakit jantung iskemik Penyakit hati Diabetes mellitus Tumor ganas (paru-paru.2 8.218 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 45-54 tahun menurut Jenis Kelamin. Pada kelompok umur 55-64 tahun. Tabel 3. rahim. Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 55-64 tahun menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa pada laki-laki maupun perempuan penyakit tidak menular (strok.8 4. Pada kelompok umur 45-54 tahun pada laki-laki maupun perempuan proporsi penyakit tidak menular lebih tinggi secara mencolok dibandingkan penyakit menular. rahim) Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Tabel 3. Proporsi penyakit TB pada kelompok umur 45-54 tahun pada laki-laki lebih besar (11%) dari pada pada perempuan (9%). Riskesdas 2007 No 1 Strok Laki-Laki (n=298) % 15. pola penyakit penyebab kematian di perkotaan dan perdesaan tidak berbeda.5 5.(Tabel 3. Untuk penyakit menular.3 282 .2 4. % 15.8 8.2 4. Di perkotaan kecelakaan lalau lintas termasuk dalam 10 penyakit penyebab kematian (Table 3.219).1 7. prostat) Ulkus lambung Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Tifoid rahim.Menurut tipe daerah.

1 4.1 7.6 8.8 8.6 9.1 4.6 Perempuan (n=251) Strok Diabetes mellitus Hipertensi TB Penyakit hati Tumor ganas (hati.3 bawah kronik Tumor ganas (hati.5 10.0 283 .4 11.4 10.0 9.1 5.7 12.7 Perdesaan (n=337) Strok Hipertensi TB Penyakit hati Penyakit lain Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain Penyakit saluran pernafasan % 17. rahim.1 8.0 11.0 5.9 3. paru-paru.4 3. 11.8 3. rahim.7 3. paru-paru. leher rahim.0 8. rahim) % 20.2 8.3 3.1 6.2 6. paru-paru.8 5. leher rahim.7 8. leher rahim. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Perkotaan (n=295) Strok Hipertensi TB Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Penyakit jantung lain NEC Tumor ganas (hati.7 3. prostat) NEC Tabel 3.3 3.0 9.7 Strok Penyakit jantung iskemik Hipertensi TB Tumor ganas (paru-paru. payudara.7 5.219 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun menurut Tipe Daerah.2 2.0 6.4 6.1 7.0 4.6 8. payudara. leher rahim. prostate) Penyakit lain % 26.4 6.6 7. rahim) Penyakit jantung lain Penyakit hati hati.5 8.8 Pnemonia Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Tabel 3.2 5.2 3 4 5 6 7 8 9 10 TB Penyakit hati Penyakit jantung iskemik Hipertensi Diabetes mellitus Kecelakaan lalu lintas Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Tifoid Ulkus lambung 11.8 3. payudara. payudara.0 2.1 6. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 Laki-Laki (n=381) Strok Diabetes mellitus TB Hipertensi Penyakit hati Penyakit jantung iskemik % 22.5 9.220 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 55-64 tahun menurut Jenis Kelamin.

2 9.0 5. Proporsi kematian karena penyakit tidak menular lebih tinggi pada perempuan daripada laki-laki (Tabel 3.8 4.9 Perempuan (n=770) Strok Hipertensi NEC Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Diabetes mellitus Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain % 24.2 9.6 3. Pola penyakit sama dibandingkan kelompok umur yang lebih muda.6 6.4 2.0 3. Proporsi penyakit infeksi di perkotaan yang menyebabkan kematian adalah penyakit sistem pernafasan seperti TB. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Strok NEC Hipertensi Penyakit jantung iskemik Diabetes mellitus Penyakit saluran pernafasan bawah kronik TB Penyakit jantung lain Penyakit hati Pnemonia Perkotaan (n=705) % 23. dan pnemonia.8 7.9 284 . Tabel 3.0 Proporsi penyebab kematian pada umur 65 tahun ke atas pada laki-laki maupun perempuan sebagian besar disebabkan oleh penyakit tidak menular.3 6.6 6.9 7. Riskesdas 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 Strok Penyakit kronik TB Hipertensi NEC Penyakit jantung iskemik Penyakit jantung lain Laki-Laki (n=928) saluran pernafasan bawah % 20.222 Proporsi Penyebab Kematian pada Umur 65 Tahun ke atas menurut Jenis Kelamin. prostat.6 6. paru-paru.5 6.1 7.2 9.7 3.3 Penyakit saluran pernafasan bawah 5.0 6. Tabel 3.8 10.6 2.4 4.221).9 5.5 3.5%) dari pada di perdesaan (57%).5 8.5 8.5 4.222).3 5.0 7.221 Proporsi Penyebab Kematian pada Kelompok Umur 65 Tahun ke atas menurut Tipe Daerah.7 7.7 8 9 10 Penyakit jantung lain Penyakit saluran pernafasan bawah kronik NEC Tumor ganas (hati.8 kronik Penyakit jantung lain NEC Penyakit jantung iskemik Proporsi kematian pada umur 65 tahun ke atas karena penyakit tidak menular sedikit lebih tinggi di perkotaan (59.6 3.3 Perdesaan (n=993) Strok Penyakit saluran pernafasan bawah kronik Hipertensi TB NEC Penyakit jantung lain Penyakit jantung iskemik Diabetes mellitus Pnemonia Penyakit hati % 21. penyakit hati.4 11.0 3.9 10.5 9. Proporsi penyakit infeksi di perkotaan tidak jauh berbeda dengan di perdesaan (Tabel 3.3 5.0 6. otak) 5.

8 9 10 Diabetes mellitus Penyakit hati Pnemonia 4.2 285 .9 4.8 TB Pnemonia Penyakit hati 5.0 2.6 3.4 3.

Departemen Kesehatan. 2002.Geneva World Health Organization. R. Dini Latief. Atmarita.2 Maret 2000. http://www.htm. 9. Laporan SKRT 2001: Studi Kesehatan Ibu dan Anak.medem. Bonita. Surveillance Noncommunicable Diseases and Mental Health. Fasli Jalal. 9/20/2002 Hipertensi. 13. Bonita R. Departemen Kesehatan R. Jakarta 29 Februari . Perilaku Hidup Sehat dan Kesehatan Lingkungan. AMA (American Medical Association). The WHO Stepwise Approach to Surveillance (STEPS) of NCD Risk Faktors. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. B.. Past Antihypertensive drugs and Risk of Hypertension : A Rural Indonesia Study. Winkelmann. Jahari. K. Studi Morbiditas dan Disabilitas. Operational Study an Integrated Community-Based Intervention Program on Common Risk Factors of Major Non-communicable Diseases in Depok Indonesia. p. Dwyer T et al. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. de Courten. 2006. Laporan SKRT 2001: Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular. Body Posture. Tahun 2002. Geneva: World Health Organization 16.. 2000 14. Bonita R et al. Tahun 2002 10. Departemen Kesehatan R. Disability And Health – A Common Framework For Describing Health States.com/penyakit/hiperten. Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII.htm. 2001.. Balitbangkes. 4. R.DAFTAR PUSTAKA 1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 8. Depression Linked With Increased Risk of Heart Failure Among Elderly With Hypertension. Basuki. Daily Working Load. 7. ------------------- http://www.I. Summary. M. Idrus Jus'at. 11. The International Classification Of Functioning. Bedirhan Ustun. de Courten M. 3.com/datatopik /hipertensi. 6. 2001 15. Departemen Kesehatan R. Dwyer. 286 .344-348. ORC Macro 2002-2003. Survei Demografi dan Kesehatan 2002-2003. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Laporan Data Susenas 2001: Status Kesehatan Pelayanan Kesehatan. B & Setianto. 12. Status gizi balita di Indonesia sebelum dan selama krisis (Analisis data antropometri Susenas 1989 . Tahun 2002. -----------------Faktor Resiko Terjadinya pria. 5.I. Laporan SKRT 2001: Studi Tindak Lanjut Ibu Hamil. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Age. Badan Pusat Statistik. Geneva: World Health Organization.klinik 2. 2000. 2005 Hipertensi.. The WHO STEPwise Approach to Surveillance (STEPS) of NCD Risk Factors. Abas B.I. Surveillance of risk factors for non-communicable diseases: The WHO STEP wise approach. 2001. Departemen Kesehatan R. Departemen Kesehatan R. Soekirman.1999). Herman Sudiman.I. Sandjaja. Jamrozik. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.medicastore.I. http://www. Laporan SKRT 2001: Studi Morbiditas dan Disabilitas. Depkes RI.com/MedLB/article_ID=ZZZUKQQ9EPC&sub_cat=73 8/24/2002. T.

Khan. 2001. 20. 2002. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Prevalensi Hipertensi pada Karyawan Salah Satu BUMN yang menjalani pemeriksaan kesehatan. S dkk. 1999. 51 (21) : 456. Departemen Kesehatan R. Vital and Health Statistics. Yagi H. Mengamati Penelitian Epidemiologi Hipertensi di Indonesia.World Health Organization. Statistik Penyakit Penyebab Kematian.I.Depkes RI Jakarta. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Gizi Masyarakat.. 2005. Departemen Kesehatan. 51 (20). State – Specific Trend in Self Report 3d Blood Pressure Screening and High Blood Pressure – United States. Tahun 2002 27. 1997 28. Hartono IG. 2003. Departemen Kesehatan RI. Laporan. 22. et al. International Classification Of Functioning. Brotoprawiro. Jakarta. Disampaikan pada seminar hypertensi PERKI . Pemantauan Pertumbuhan Balita. Series 11. Department of Health and Human Services. Imamoto S. 1999. Hashimoto K. S. Tahun 2002 26. 2003. Shibata T. Mohammad Z. Ikewaki K.. Jakarta: Departemen Kesehatan. 35. Non Communicable Disease. Glucose Intolerance is Common in Japanese Patients With Acute CoronarySyndrome Who Were Not Previously Diagnosed With Diabetes. Darmojo. 79/10: 907. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat. Laporan. Disability And Health (ICF).17. Panduan Pengembangan Sistem Surveilans Perilaku Berisiko Terpadu.. Djaja. Panduan Manajemen PHBS Menuju Kabupaten/Kota Sehat. Departemen Kesehatan R. 25. Jadoon. Shah S. Survey Kesehatan Nasional.P.J. Number 246. George Alberty. Dineen B. Nagasawa H. 31. 1991 – 1999. Departemen Kesehatan. State-Specific Mortality from Stroke and Distribution of Place of Death United States. Pusat Promosi Kesehatan. Bulletin WHO 2001. Kelompok Kerja Serebro Vaskular FK UNPAD/RSHS “ . 1995 34. 18. Bagian I. Jakarta: Depkes RI 23. MMWR. 21. Psychiatric morbidity among patients attending the Bangetayu community health centre in Indonesia..I. 2002. MMWR.R. et al. Depkes RI 24. CDC. Disampaikan pada seminar hipertensi PERKI. Depkes. Geneva. 2003. Departemen Kesehatan R. CDC. Mochizuki S.. Prevalence of Blindness and Visual Impairment in Pakistan: 287 . 2000. May 2002 19. Johnson G. Survey Kesehatan Nasional. 29.I. Departemen Kesehatan R. SKRT 1995. Program Imunisasi di Indonesia. CDC Growth Charts for the United State : Methods and Development..A. Departemen Kesehatan R. SKRT 1995 32.I.I. Mohammad A. Direktorat Epim-Kesma. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. Bourne R. Diabetes Care 28: 1182 -1186. 2002. Tomorrow’s pandemic. : 429 . B. Departemen Kesehatan. 2001 36.Depkes RI Jakarta 2004. 30. 33.

Perkeni. Jakarta: Perkeni.physical activity. 44. 2003 55. Faktor-faktor yang berhubungan Dengan Hipertensi Tidak Terkendali Pada Penderita Hipertensi Ringan dan Sedang yang berobat di poli Ginjal Hipertensi.phtml.D. 2007 57. Depkes RI. Geneva: WHO. Petunjuk Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal. Baltimore : Williams and Wilkins Inc. pp 9. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Pewawancara Petugas Pengumpul Data. Kaplan NM. M. Kristanti CM. Mansjoer. The New England Journal of Medicine. Leonard G Gomella. 39. 19-28 May 2003. Vol 356: 213 – 215.D. 17-12 May 2004. Report of WHO. Status Kesehatan Mulut dan Gigi di Indonesia. Mc. Perkeni. 54. Report of WHO. News Health Recource. A.43. Kristanti CM.43. In: Fiftysixth World Health Assembly.surya. Rose Men’s. Dwi Hapsari. 1998.WHO Framework Convention on Tobacco Control. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2006. Obesity and Diabetes in the Developing World — A Growing Challenge 46. http://www. M. Geneva: WHO. 2004 56.D.Geneva. 2007 47. Lippincott :Williams & Wilkins 2002. 2006. pp 9.D. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Resolution WHA57. NY. dan Soemantri S. 1998 : 41-132 40. 2006. Survei Kesehatan Rumah Tangga 41. How To Keep Your Blood Pressure Under Control. Status Kesehatan Mulut dan Gigi di Indonesia. Jan 18. 2004 43. Suhardi. In:Fiftyseventh World Health Assembly. Policy Paper for Directorate General of Public Health. AS. Janet. and Meguid El Nahas. Resolution WHA56.co. M. 8th Ed. 48. International edition. Definition and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Intermediate Hyperglycaemia. Diet Obesitas dan hipertensi. Jakarta: Perkeni. Seri Survei Kesehatan Rumah Tangga. Muchtar & Fenida.. dkk. Grawhill Medical Publishing division.The Pakistan National Blindness and Visual Impairment Survey. Parvez Hossain. World Health Organization. Primary Hypertention Phatogenesis In : Clinical Hypertention.. and health.47:4749-55. 2006.id /31072002 /10a. 2006. 2002. 1999 288 . Jakarta: Badan Litbangkes. 1997. Rencana Strategis Departemen Kesehatan 2005-2009. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di Indonesia 2006. Clinical Hipertension. Analisis Data . Bisher Kawar. World Health Organization. Kaplan NM. 45. 2005 52.Kapita Selekta Kedokteran 1999 :518 – 521.Global Strategy on diet.. 53. Clinicians Pocket Reference.Geneva. 2006.. June 2002 51. Investigative Ophthalmology and Visual Science. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. 2002 38. Hipertensi di Indonesia . 2004 50. 42. 37.1. Definition and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Intermediate Hyperglycaemia. 7 th Ed. Ph.17. 49. Pradono J dan Soemantri S. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007. Steven A Haist.

Nomor 3 – 2003. AIHW Cat.. Pedoman Klinik Diagnosis & Terapy. ISSN 0377-1121 63. Sarimawar Djaja dan S. Soemantri. 61. Sobel. BJ.I. Suradi & Sya’bani. Sri Hartini KS Kariadi. dalam Naskah Lengkap KOPAPDI VI. Jakarta. The WHO STEPwise approach to Surveillance of Noncommunicable Diseases 2003. Cakupan viramin A untuk bayi dan balita di Indonesia. Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran 1993-1996. Koh D. P. Depkes R. Hipertensi Borderline “White Coat” dan sustained “ : Suatu Studi Komperatif terhadap Normotensi para karyawan usia 18 – 42 tahun di RSUP Dr. Perjalanan Transisi Epidemiologi di Indonesia dan Implikasi Penanganannya. No 8. 1984.Jakarta. et al. Trend Pola Penyakit Penyebab Kematian Di Indonesia. Studi Mortalitas Survei Kesehatan Rumah Tangga 2001. 72. Survei Kesehatan Rumah Tangga 1992. Agustina Lubis. S. 289 . 71. No. 1999 : 13 68. 66. Indicators of Health Risk Factors: The AIHW view. Titiek Setyowati. 2002. 20-22 November 2005. The Journal of the Indonesian Medical Association. Sonny P. 69. Cakupan penimbangan balita di Indonesia. Joko Irianto. SK Menkes RI Nomor : 736a/Menkes/XI/1989 tentang Definisi Anemia dan batasan Normal Anemia 67. Widjaja D.3. Syah.H. Causes of low vision and blindness in rural Indonesia.8.58. Jawa Barat. Bandung 9 – 13 April 2000 (SX111-1) 70. Lisa Mulyono.. Pola Penyakit Penyebab Kematian Di Indonesia. 1995. B. Analisis lanjut Data Susenas – Surkesnas 2001. 29 (4). No. ISSN: 0854-7971. Disampaikan pada Konggres Nasional ke 5. Saw S-M. Sudikno. 73. Husain R. Depkes RI. Tan D. Berkala Ilmu Kedokteran Vol. Volume 31. 64. Sandjaja. Pola Sikap Penderita Hipertensi Terhadap Pengobatan Jangka Panjang. & Bakris GL. Sandjaja.. Laju Konversi Toleransi Glukosa Terganggu menjadi Diabetes di Singaparna. Volume 53.ISN = 724 62. PHE 47. British Journal of Ophthalmology 2003. 1997. dkk. 2001 59. Sunyer FX. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.. Sinaga. Prosiding temu Ilmiah dan Kongres XIII Persagi.Soemantri. Gazzard G. Non-communicable Disease Surveillance and Prevention in South-East Asia Region. ISSN: 0125 – 9695 . Canberra: AIHW. Hipertensi. 7-8 Desember 2005. Gambaran Rumah Sehat di Berbagai Provinsi Indonesia Berdasarkan Data SUSENAS 2001. 1993 : 119. Sudikno. SKRT 2001. Sarjito Yogyakarta.1997. Sarimawar Djaja.3. Sarimawar Djaja.T.87:1075-8. 60. STEPS Instrument for NCD Risk Factors (Core and expanded Version 1.. Seri Survei Kesehatan Rumah Tangga DepKes RI. 1999 65.M. Tim survei Depkes RI. Denpasar. 15 Th. Makalah disajikan pada Simposium Nasional Litbang Kesehatan..2. Bulletin of Health Studies. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Medical hazard of obesity.) 75. M. S. The Australian Institute of Health and Welfare 2003. Penerbit UI-PRESS : 1439. Titiek Setyowati. Ann Intern Med.W. 74.

The Risk of Hypertension : Genesis and Detection. 79. WHO-ISH Hypertension Guideline Committee. Geneva. Report of an Inter-country Consultation. 1984 : 44. Diagnosis. 1999 83. Cape town. The World Health Survey Programme. Dalam: Julian Rosenthal.76. U. Geneva: WHO. WHO.15. Department of Haematology. Cape town. 77. World Health Organization: International Classification of Diseases. Auser’s guide to the self reporting questionnaire. 2003. 2005. World Health Organization. Pathogenesis. Surveillance of Risk Factors related to noncommunicable diseases: Current of global data. Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas) 2001. 81. Assessing the iron status of populations: Report of a joint World Health Organization/Centers for Disease Control and Prevention technical consultation on the assessment of iron status at the population level . 1999. World Health Organization. 1999. 1995. Univ. WHO-ISH. 290 . WHO-ISH. Surveillance of Major Non-communicable Diseases in South – East Asia Region. 85. Guidelines of The Management of Hypertension Journal of Hypertension. Guidelines of The Management of Hypertension Journal of Hypertension. 1997. Injuries and Causes of Death. p. 78. Based on The Recommendation of The Ninth Revision Conference 1975 and Adopted by The Twenty Ninth WHA. WHO. Haematology: An Aproach to Diagnosis and Management. Oral Health Care. April 2004 80. 2001. New York Heidelberg Berlin. Depkes RI. WHO/SEARO. 2001. 86. Geneva.Geneva. and Therapy. 82. A Public Health Report. volume 1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta: Badan Litbangkes. Switzerland. Needs of the Community. 2003 84. The Surf Report 1. Laasar. 2003. SpringerVerlag. Arterial Hypertension. WHO-ISH Hypertension Guideline Committee. WHO.1994.

LAMPIRAN 1. Kuesioner 291 . Struktur Organisasi 2. Etik 3.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->