1

A. JUDUL PROGRAM OPTIMALISASI EKSTRAKSI ENZIM PROTEASE DARI RIMPANG JAHE (ZINGIBER OFFICINALE) SEBAGAI BAHAN PENGEMPUK PADA DAGING ITIK. B. LATAR BELAKANG Itik merupakan salah satu potensi ternak unggas yang belum tergali, terbukti populasi ternak itik di Indonesia pada tahun 2006 mencapai 34.612.057 ekor. Data tersebut menunjukkan peningkatan pertumbuhan populasi sebesar 6,81% dari tahun sebelumnya hanya mencapai 32.405.428 ekor. Peningkatan pertumbuhan populasi memang terus terjadi setiap tahunnya, namun angka tersebut masih terlalu rendah jika dibandingkan dengan populasi ayam ras (pedaging) ataupun ayam buras yang memiliki populasi lebih dari 972 juta ekor dan 298 juta ekor (Direktorat Jenderal Peternakan, 2006). Rendahnya jumlah populasi ternak itik ini tentu saja berkaitan dengan rendahnya minat konsumen terhadap daging itik. Jumlah konsumsi daging itik dibandingkan dengan daging ayam ras (pedaging) menurut Direktorat Jenderal Peternakan (2006) yaitu sekitar 0,05 (kg/kapita) dan 2,30 (kg/kapita). Dilihat dari jumlah populasinya, diketahui bahwa permintaan masyarakat terhadap daging ayam lebih tinggi daripada daging itik. Padahal daging itik memiliki kandungan gizi yang paling baik daripada daging unggas lainnya. Kandungan gizinya antara lain kadar protein 21,4%; kadar lemak 8,2%; dan sumber energi 159 kkal. Beberapa faktor penyebab rendahnyanya permintaan terhadap daging itik disebabkan daging itik lebih alot dan berbau anyir (amis). Sifat dari daging itik lebih alot dibandingkan daging ayam (Lukman, 1998) maupun daging enthok (Hustiany, 2001) karena serabut-serabut ototnya lebih besar sehingga pada umumnya daging itik kurang diminati dan bila dibandingkan dengan daging ayam, rasa dan baunya lebih amis, lebih alot walaupun masih muda dan warnanya lebih merah. Penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni (2000) menunjukkan bahwa diameter serabut daging itik lebih besar dibandingkan dengan daging entok dan perbedaannya mulai nyata pada umur 8 minggu.

Bau amis pada daging itik disebabkan terjadinya oksidasi asam-asam lemak pada daging itik. Asam-asam lemak sebagai penyusun utama lemak terdiri dari asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Asam lemak jenuh memiliki ikatan tunggal diantara atom-atom karbon penyusunnya sehingga lebih stabil dibanding asam lemak tidak jenuh yang memiliki sedikitnya satu ikatan rangkap yang lebih mudah bereaksi dengan oksigen (oksidasi) (Anonymous, 2006). Hasil reaksi tersebut dapat menghasilkan senyawa-senyawa baru yang merupakan turunan dari asam lemak yang memiliki bau dan flavor yang menyimpang (Ross and Smith, 2006). Daging yang empuk dapat diusahakan dengan berbagai cara, diantaranya dengan melakukan pemuliaan ternak dan meningkatkan manajemen pakan ternak dengan cara pemberian pakan ternak yang baik. Selain itu, pengempukan daging juga dapat dilakukan dengan menggunakan protease (enzim pemecah protein) kasar maupun murni. Enzim ini mempunyai kemampuan mengempukan daging khususnya pada suhu pemasakan, sehingga dalam bentuk segar yaitu suhu kamar, proses pengempukannya belum terjadi. Dari berbagai bahan pangan, ternyata protease jahe memiliki kadar tertinggi yang mencapai 2,3% Thompson et al., (1973). Hasil isolasi protease jahe dengan pelarut aseton mampu menghasilkan redemen lebih banyak yaitu 2,54% (Swacita,2005). Nilai ini lebih tinggi dibandingkan temuan Thompson et al., (1973) dan Kapti (1932) yang hanya mencapai 0,013%. Penggunaan jahe juga dapat bermanfaat mengurangi aroma amis pada daging itik. Sejauh ini penggunaan ekstrak protease jahe masih diterapkan sebagai bahan pengempuk daging sapi. Untuk itu perlu pengembangan pemanfaatan protease jahe melalui proses ekstraksi alternatif bahan pengempuk pada daging itik.

3

C. RUMUSAN MASALAH Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimanan cara memperoleh ekstrak protease jahe cair dengan hasil yang optimal? 2. Berapa konsentrasi dan waktu efektif penggunaan ekstrak jahe pada daging itik? 3. Berapa konsentrasi, suhu dan waktu efektif penggunaan jahe parut segar pada daging itik? 4. Bagaimana pengaruh penggunaan jahe parut segar pada daging itik ditinjau dari keempukan, kualitas kimia, dan organoeptik. D. TUJUAN PROGRAM Tujuan yang akan dicapai melalui penelitian ini dalam pelaksanaannya dilakukan adalah: 1) Memperoleh ekstrak protease jahe cair; (2) memperoleh metode pengempukan (konsentrasi) dengan ekstrak protease jahe efektif pada medium daging itik; (3) memperoleh metode pengempukan (konsentrasi, suhu dan waktu) dengan jahe parut segar pada medium daging itik; (4) Memperoleh mutu olahan dengan nutrisi optimal (nutrisi jenis protein dan lemak), mutu organoleptik) dan aman dari hasil penerapan teknik pengolahan (teknik panas basah, panas minyak, dan panas kering) pada daging itik. E. LUARAN YANG DIHARAPKAN Penelitian ini dapat memberikan informasi tentang potensi dan pengaruh penggunaan ekstrak protease jahe dan jahe parut segar pada daging itik serta kajian ilmiah tentang protease jahe sebagai salah satu alternatif dalam produk pangan untuk pengempukan daging F. KEGUNAAN PROGRAM Kegunaan program ini adalah : 1. Sebagai bahan informasi bagi mahasiswa dan semua pihak yang tertarik terhadap potensi dan pengaruh penggunaan ekstrak protease jahe dan jahe parut segar dalam meningkatkan karakteristik daging itik. 2. Sebagai bahan masukan bagi perusahaan industri pangan yang berkaitan dengan daging itik.

6 4.8 73.4 68. 2) itik penghasil telur (ducks for egg production).2 14. Di Indonesia terdapat tiga jenis itik lokal yang dapat digolongkan sebagai multi-purpose breeds. famili Anatidae. menyatakan bahwa daging itik memiliki kandungan zat-zat makanan berupa protein dan lemak yang tidak jauh berbeda jumlahnya dengan kandungan daging ayam bahkan daging itik memilki kandungan lemak yang lebih tinggi. . Itik termasuk dalam kelas Aves. 3) itik penghasil daging dan telur (multi-purpose breeds). dan 4) itik sebagai hiasan atau investasi (ducks for herding). dan Itik Alabio (Syukur.8%.6% dan lemaknya berkisar antara 2.8 Sumber: Srigandono (1986) Jun. dan genus Anas (Srigandano.7-6. 2000).1 18.8 52. tribus Anatini.7 17.3 63.1 0. contohnya adalah itik Pekin yang dapat dipanen pada umur 7 minggu. ordo Anseriformes.9 0.8 32. Rock and Jin (1996) melaporkan bahwa daging itik mengandung kadar protein berkisar antara 18.0 Nilai energi/100g (kkal) 159 126 153 228 268 247 Air 68.4 8. yaitu : 1) itik penghasil daging (meat type breeds). sub famili Anatinae.0 59. Komposisi daging itik dan ternak yang lain dapat dilihat pada Tabel 1 Tabel 1.8 0. 1986).1 1.8 22. KOMPOSISI KIMIA DAGING ITIK Srigandono (1986).0 14. Daging itik apabila dibandingkan jenis ternak lain (sapi.8 32. domba dan babi) mengandung protein dengan persentase yang lebih tinggi (21. TINJAUAN PUSTAKA ITIK Itik merupakan salah satu dari golongan unggas yang termasuk unggas air (waterfowls).G. 2006).2 1. Itik Mojosari. contohnya adalah itik (khaki campbel).6-19. sehingga nilai energinya lebih tinggi.4 %).2 20.0 Abu 1. Komposisi daging itik dan ternak lain Jenis Ternak Itik Ayam Angsa Sapi Domba Babi Kadar (%) Protein Lemak 21. contohnya adalah itik Maya dari China (Dean and Sandhu. yaitu Itik Tegal.3 7. Itik dapat digolongkan menjadi empat tipe. contohnya itik Aylesbury.

Perbedaan macam serabut ini akan mempengaruhi komposisi daging.61% dan asam lemak tidak jenuh jamak sebesar 17.12 3.41 13. Otot ini dipilih karena cukup besar dengan arah serabut yang cukup jelas. 1993). Komposisi asam lemak yang terdapat pada daging itik dapat dilihat pada Tabel 2. Fletcher.20 32. Cantor. rasa dan baunya lebih amis.5 Kandungan lemak daging itik khususnya bagian dada.91 Tidak jenuh tunggal Tidak jenuh jamak Daging itik lebih alot dibandingkan daging ayam (Lukman. Kelompok asam lemak Jenuh Asam lemak Asam palmitat Asam stearat Asam laurat Asam miristat Asam palmitoleat Asam oleat Asam linoleat Asam arakhidonat Kadar (%) 28.51 2. Blanchard and Straw.03%. Buhr and Bayer. Otot pectoralis mayor adalah otot unggas yang terbesar dan terdapat pada bagian superfisialis atau permukaan dada . lebih alot walaupun masih muda dan warnanya lebih merah. serabut merah sebanyak 84% dan serabut serabut putih sebanyak 16% (Smith et al. 1998) maupun daging enthok (Hustiany.72 1.46%. Bagian otot daging itik yang sering digunakan untuk pengujian kualitas daging adalah otot pectoralis dan biceps femoris. Daging yang sebagian besar terdiri dari serabut merah mempunyai kadar protein yang lebih rendah dan kadar lemak yang lebih tinggi dibandingkan dengan daging yang sebagian besar terdiri dari serabut putih (Soeparno. Tabel 2. asam lemak tidak jenuh tunggal sebesar 34.01 1. 1998). 1993). Pescatore. Pada bagian dada itik. Serabut daging itik sebagian besar mengandung serabut merah dan sebagian kecil mengandung serabut putih. Penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni (2000) menunjukkan bahwa diameter serabut daging itik lebih besar dibandingkan dengan daging entok dan perbedaannya mulai nyata pada umur 8 minggu. sifat biokimia dan karakteristik sensori (Xiong. sebagaian besar terdiri dari asam lemak jenuh sebesar 45. 1993). 2001) karena serabut-serabut ototnya lebih besar sehingga pada umumnya daging itik kurang diminati dan bila dibandingkan dengan daging ayam. Komposisi asam lemak yang terdapat pada daging itik (Smith.23 14.

Kandungan lainnya adalah senyawa nonvolatile yang merupakan turunan senyawa phenylpropanoid yang menghasilkan rasa pedas pada jahe terutama senyawa gingerol dan shogaol. (Pitojo & Zumiati. Didalamnya terkandung senyawa kimia sesquiteerpenoid yang utamanya terdiri dari zingiberin dan sejumlah kecil senyawa β-sesquiphellandrene. Menurut Thompson et al. cineol dan citral. Tabel 2.3% atau 176 kali lebih banyak dari papain. Kadar enzim protease dalam jahe berbeda-beda bergantung dari berbagai faktor ketika enzim protease di ekstrasikan. Bahkan hasil isolasi protease jahe dengan pelarut aseton yang telah dilakukan Swacita (2005) mampu menghasilkan rendemen lebih banyak yaitu 2. 2003). enzim protease terdapat dalam rimpang jahe dengan rendemen 2. JAHE (Zingiber officinale rosc.dengan berat sekitar 8% dan berat tubuh (Soeparno. farnesene dan fraksi senyawa monoterpenoid berupa β-phelldrene. (1973). Nilai ini lebih tinggi dibandingkan hasil temuan penelitian Thompson et al.) Spesifikasi Tanaman Jahe (Zingiber officinale) termasuk salah satu komoditas pertanian berupa tanaman rempah yang mempunyai nilai sosial dan ekonomi cukup tinggi.013%. Nutrisi dalam Jahe Segar per 100 gram . Tanaman jahe termasuk tanaman rimpang berbentuk jemari yang menggembung di ruas tengah. Diantara berbagai zat terkandung dalam jahe terdapat pula enzim protease sebanyak 2. Kedua senyawa tersebut akan terbentuk pada jahe yang mengalami proses pemasakan atau pengeringan. Kandungan nutrisi pada jahe dapat dilihat pada table 2.26%. Kandungan Nutrisi Rimpang jahe mengandung minyak atsiri (3%) yaitu senyawa yang memberikan aroma burnbu khas.54%. bisabolene. Pada tahapan lebih lanjut Gingerol akan membentuk senyawa Zingerone yang menimbulkan cita rasa cukup pedas dan aroma bumbu yang manis. (1973) dan Kapti (1982) yang hanya mencapai 0. 1998).

peluruh haid.025 mg 0.7 Komponen Nutrisi Satuan Karbohidrat Lemak Protein Vitamin B1 (Thiamin) Vitamin B2 (Ribovlavin) Vitamin B3 (Niacin) Vitamin B5 Vitamin B6 Vitamin B9 (Folat) Vitamin C Kalsium Zat Besi Magnesium Phospor Potassium Seng Sumber : USDA Nutrient Database Jumlah Persen (%) 50 % 2.203 mg 0. penambah nafsu makan. peluruh keringat.6 mg 43 mg 64 mg 415 mg 0. .16 mg 11µ 5 mg 16 mg 0. peluruh kentut.34 mg Peranan Jahe Rimpang jahe semula hanya termasuk dalam bahan pangan yang berfungsi sebagai bumbu dapur dengan aroma khas disertai rasa pedas. dan penurunan tekanan darah.75 mg 0. pencegah mual.82 g 0. Beberapa manfaat yang diperoleh dari rimpang jahe adalah berkhasiat untuk peluruh dahak. Adanya nutrisi lain yang terkandung di dalam jahe seperti pada table 2 justru menambah peranannya sebagai obat bagi kesehatan manusia.75 g 1. obat batuk.034 mg 0.77 g 0.26 % 9% 2% 2% 5% 4% 12 % 3% 8% 2% 5% 12 % 5% 9% 3% 17.

Dalam penelitian ini akan dikembangkan kemampuan pengempukan enzim-protease jahe pada daging itik. Jenis-Jenis Jahe Tanaman jahe dibedakan menjadi 3 jenis (klon) yang dibedakan atas dasar ukuran. Kang dan Warner.013%. Biasanya jahe ini dipanen setelah tua. Hasil penelitian ini secara tidak langsung menambah keragaman pemanfaatan enzim proteolitik berasal dari tumbuhan yang selama ini telah digunakan. Swacita.Peranan jahe semakin bertambah lagi oleh keberadaan enzim proteolitik dalam bentuk protease. Kandungan minyak atsirinya lebih banyak daripada jahe gajah. dan warna rimpangnya (Rukmana. rimpang jahe merupakan sumber protease yang memiliki rendemen 2. 1977.. 1982. 2005). berwarna putih kekuningan. berserat kasar. sehingga rasanya lebih pedas. Jenis jahe ini memiliki rimpang yang cukup besar dengan ruas kecil berbentuk agak pipih sampai agak menggembung. Kebermanfaatan enzim protease sejauh ini diketahui telah digunakan sebagai media proteolitik pada protein daging sapi.1974. Kadar seratnya tinggi. Jenis jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua.3% atau 176 kali lebih banyak dari papain yang hanya mencapai 0. beserat lembut.obatan. Beberapa penelitian sudah cukup membuktikan kemampuan pengempukan enzim protease jahe pada daging sapi (Thompson et a1.2001). yaitu papain dan bromelin. dan beraroma tajam. berasa sangat pedas. bentuk.1973. dan beraroma tajam. Menurut Thompson et al. Dalam jenis jahe ini juga terkandung minyak atsiri sehingga dapat digunakan sebagai ramuan obat . (1973). Jahe putih kecil Jahe ini disebut juga jahe emprit. Rattrie dan Regenstein Rattrie dan Regenstein. Ketiga jenis jahe tersebut adalah sebagai berikut: Jahe merah Jenis jahe ini mempunyai rimpang berukuran lebih kecil dari jahe putih dan berwarna kuning kemerah-merahan. Ketajaman aroma jahe yang tertinggal pada jaringan otot bebek justru bermanfaat untuk mengurangi aroma amis yang dominan dan cenderung tidak disukai. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan atau untuk diekstrak oleoresin dan minyak . Kapti.

Kelompok protein sulfhidril lebih banyak ditemukan dalam sel . Dalam golongan hidrolase mencakup semua enzim yang melibatkan air pada pembentukan produknya Menurut deMan (1997). protease sulfhidril dan protease yang mengandung logam. Cita rasa dan aromanya kurang tajam. Menurut Commission of Enzymes of the International Union of Biochemistry. Ada berbagai macam enzim yang berasal dari sel yang berbeda. Liase. Jenis jahe ini biasa dikonsumsi pada saat berumur muda dan tua baik sebagai jahe segar maupun olahan. enzim berdasarkan reaksi kimianya dikelompokkkan menjadi enam golongan. enzim protease pada jahe adalah jenis enzim yang termasuk dalam kelompok protein sulfhidril. yaitu protease asam. Pada umumnya semua enzim yang telah dikenal berupa protein dan disintesis dalam sel. Enzim ini termasuk dalam golongan enzim hidrolase. jenis enzim ini terbagi lagi menjadi empat golongan. Setelah sel mati sebagian besar dari enzim ini meneruskan keaktifannya di dalam berbagai reaksi kimia asalkan tidak diinaktifkan dengan pemanasan atau reaksi kimia atau perlakuan lain. yaitu Oksidoreduktase. Ruas rimpangnya lebih menggembung.9 atsirinya. Hidrolase. 1997). Transferase. ENZIM PROTEASE Pengertian Enzim adalah substansi yang dihasilkan oleh sel-sel hidup dan berperan sebagai katalisator pada reaksi kimia yang berlangsung dalam organisme namun katalisator itu sendiri tidak mengalami perubahan (deMan. Enzim pada umumnya diberi nama dengan menambahkan akhiran ase pada kata yang menunjukkan senyawa asalnya yang diubah oleh enzim atau pada nama jenis reaksi kimia yang dikatalis enzim. Ligase. Jahe putih besar Jahe ini disebut juga jahe badak atau jahe gajah. protease serin. dan Insomerase (Sakidja. Diantara keempat golongan enzim ini. Jenis jahe ini memiliki rimpang yang lebih besar dan gemuk daripada jahe merah dan jahe putih kecil. 1989) Protease adalah salah satu enzim proteolitik yang mengkatalis hidrolisis ikatan peptida protein.

Beberapa diantaranya adalah papain. Beberapa diantara substansi yang berfungsi sebagai ko-enzim adalalah vitamin B. . Untuk enzim hewan suhu optimal antara 350C dan 400C. Pada suhu sangat rendah akan mempengaruhi aktivitasnya menjadi semakin lambat. 1) Spesifisitas Sifat ini berkaitan dengan aktititas enznyme sangat spesifik. Pada umumnya pH optimal yang diperlukan enzim dalam melakukan reaksinya adalah pH netral (7). suhu. yaitu spesifisitas.tanaman dan telah banyak digunakan dalam industri makanan. Sebagai contoh. Pada umumnya enzim tertentu hanya akan mengkatalisis satu reaksi. enzim memiliki empat sifat dalam melakukan reaksi katalisnya. lactase menghidrolisis gula laktosa tetapi tidak berpengaruh terhadap disakarida yang lain. diperlukan oleh dalam mengaktifkan enzim tertentu. ion kalsium dan ion klorida. 4) Ko-enzim (Aktivator) Ko-enzim adalah substansi bukan protein yang kadang-kadang. bromelain dan fisin yang selama ini telah dimanfaatkan secara komersial sebagai bahan pengempuk pada daging. Sifat-Sifat Menurut Gaman dan Sherrington (1994). 3) pH Aktifitas enzim dalam melakukan reaksi atas zat yang dikatalisis akan terjadi pada suhu tertentu. Meskipun ada beberapa enzim yang bereaksi pada pH asam yaitu pepsin. 2) Suhu Aktifitas enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. pH dan Ko-enzim. enzim secara bertahap menjadi inaktif karena protein terdenaturasi dan akan mengalami kerusakan pada suhu 1000C. Reaksi yang terjadi di atas atau di bawahnya maka akan terjadi inaktivasi. Pada suhu di atas 500C maka.

1998). seperti air. 1997). 1977). 4) kemampuan etanol sebagai pelarut dapat . Pada penelitian ini dipilih jenis pelarut air dan etanol. Terhidrolisisnya kolagen dan myofibril menyebabkan hilangnya ikatan antar selat dan juga pemecahan serat menjadi fragmen yang lebih pendek. Air digunakan sebagai pelarut didasarkan atas: 1) nilai polaritas (e) 0. asam amino dan glikosida (Houghton dan Rahman. Proteolisis myofibril menghasilkan fragmen protein dengan rantai peptida yang lebih pendek. 3) kemampuannya melarutkan komponen dari golongan gula. Ekstraksi Enzim Protease Ekstraksi dimaksudkan untuk memisahkan substansi pada bahan yang akan diuji. etanol. 68.30 C. Etanol digunakan sebagai pelarut didasarkan atas : 1) memiliki nilai polaritas (e) 0. maka semakin banyak protein terlarut dalam larutan garam encer (Olson dan Parrish. 1979). 1995). 4) jahe tergolong ke dalam enzim hidrolase yang melibatkan air pada pembentukan produknya (deMan. 1982). Proses ekstraksi diawali dengan kegiatan pengeringan bahan untuk selanjutnya digiling hingga menjadi serbuk halus yang memiliki granular homogen (Markham.11 Peranan Enzim Peranan enzim protease sebagai bahan pengempuk terjadi karena proteolisis pada berbagai fraksi protein daging oleh enzim. dll memiliki nilai polaritas. Masing-masing jenis pelarut. Proteolisis kolagen menjadi hidroksiprolin mengakibatkan shear force kolagen berkurang sehingga keempukan daging meningkat (Fogle et al. Pemilihan pelarut organik yang digunakan dalam ekstraksi komponen-komponen bioaktif dari tanaman merupakan faktor penting dan menentukan untuk mencapai tujuan dan sasaran ektraksi komponen. menjadikan sifat serat otot lebih mudah terpisah sehingga daging semakin empuk.90. 2) titik didihnya 78. Bahan serbuk selanjutnya diekstraksi dengan pelarut. Semakin banyak terjadi proteolisis pada myofibril.1988). titik didih dan kemampuan melarutkan jenis komponen yang berbeda (Moyler. 2) titik didihnya 1000C. 3) kelarutan etanol dalam air 100% (Snyder dan Kirkland.

aktifitas proteolik dan aktifitas protein terlarut. Utamanya. Hasilnya disaring sehingga dihasilkan filtrate dan residunya. Adapun alat yang paling efektif dengan menggunakan kertas saring Whatman no. dilakukan dengan memanfaatkan kemampuan enzim proteolitik dalam memecah protein dalam daging. Campuran ini selanjutnya dilakukan proses maserasi dengan menggunakan shaker 250 rpm selama 24 jam. Dari proses penyaringan akan dihasilkan filtrate dan residu. Beberapa penelitian sudah cukup .melarutkan komponen dari golongan glikosida dan sedikit minyak atsiri. 5) berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan ternyata etanol cukup efektif digunakan untuk ekstraksi papain. 1985). Menurut Thompson et al. dan dapat menyebabkan daging berubah rasa (Kapti. 1973). 42 atau yang setara.013% (Thompson et al.. Campuran berupa bubur ini dipanasi pada suhu sesuai dengan titik didih dari jenis pelarutnya. Proses ekstraksi dilakukan dengan cara melarutkan bahan dalam bentuk serbuk dengan jenis pelarut yang digunakan. 1986). 1982). HASIL PENELITIAN EKSTRAK PROTEASE Penelitian perbaikan kualitas daging yang kenyal (liat) melalui proses pengempukan (tenderizing) secara kimiawi telah banyak dilakukan. Residu selanjutnya dilakukan pengekstrakan ulang dengan menambahkan pelarutnya. rimpang jahe merupakan sumber protease yang memiliki rendemen 2.013%.3% atau 176 kali lebih banyak dari papain yang hanya mencapai 0. Filtrat utama dan filtrate dari residu diekstraksikan ulang untuk kemudian dilakukan uji aktifitas enzim protease yang meliputi rendemen. (1973). Hasilnya disaring dengan maksud untuk memisahkan ekstrak dari bahan tumbuhannya. Jenis enzim yang sudah banyak digunakan dalam pengempukan daging adalah papain dan bromelin. Namun enzim ini memiliki redemen rendah yaitu 0. Enzim protease lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengempuk pada daging adalah berasal dari rimpang jahe. Pemanfaatan protease pada rimpang jahe sejauh ini diketahui telah digunakan sebagai media proteolitik pada daging sapi. Banyak peneliti yang telah membuktikan bahwa enzim papain yang berasal dari pepaya muda cukup efektif mengempukkan daging (Haryati. (Anonim. Enzim yang dimaksud adalah protease.

7. 2005).54%. 8. 9.013%. 1977 . (1973) dan Kapti (1982) yang hanya mencapai 0. Swacita. Kapti.075% mampu mengempukkan daging sapi dalam kurun waktu 30 menit. 10. Bahkan hasil isolasi protease jahe dengan pelarut aseton yang telah dilakukan Swacita (2005) mampu menghasilkan rendemen lebih banyak yaitu 2. 1982. Pelaksanaan dari bulan Februari 2010 sampai dengan bulan Juni 2010 MATERI PENELITIAN Bahan-bahan Bahan penelitian dapat dilihat pada Tabel 3 Tabel 3. 1973. 5. Hasil temuan Swacita (2005) menuunjukkan bahwa ekstrak jahe dengan kadar 0. METODOLOGI PELAKSANAAN PENILITIAN LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian akan dilaksanakan di Laboratorium Program Studi Teknologi Hasil Ternak (Milk Pilot Plan) dan Laboratorium Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya serta Laboratorium Daging Jurusan Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. 4.13 membuktikan kemampuan pengempukan enzim protease jahe pada daging sapi (Thompson et al. Kang dan Warner. 6. Fakultas Peternakan. l974. 1. Institut Pertanian Bogor (IPB). untuk penentuan protein terlarut .. 3. Rattrie dan Regenstein. Nama Bahan Jahe gajah Jahe putih Itik Buffer Fosfat Tricloro acetic acid (TCA) Standar Tirosin untuk pengujian aktivitas proteolitik Pereaksi Bradford Bovin serum albumin (BSA). Kebutuhan Bahan Pada Kegiatan Penelitian Kebutuhan Bahan No. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan hasil temuan penelitian Thompson et al. 2.

15. 11. 13 14. 12. 5. 3. 6. 4.Natrium Chlorida (3%) Alat-alat Peralatan dapat dilihat pada Tabel 4 Tabel 4. 42 Spektrofotometer Erlenmeyer Gelas ukur Pipet tetes Tabung reaksi Pipet volume Corong kaca pH meter Vortex Water bath Sentrifus Panci Pisau . 10. 1. 7. 8. 9. 2. Nama Alat Kertas saring Whatman No. Kebutuhan Peralatan Pada Kegiatan Penelitian Kebutuhan Peralatan No.

Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental. E2=0. Tahap Ketiga. Tahap Pertama Pada tahap I. dicobakan beberapa konsentrasi enzim (E). aktivitas proteolitik dan total protein terlarut. Tahap Kedua Pada tahap II. Penelitian optimalisasi ekstraksi enzim protease dari rimpang jahe (Zingiber officinale) sebagai bahan pengempuk pada daging itik dilakukan dalam tiga tahap. yaitu (A) = air dan (E) = etanol. Faktor II adalah jenis jahe yang digunakan. Setelah diperoleh data mengenai jenis pelarut dan jenis jahe yang menghasilkan aktivitas enzim protease yang terbaik selanjutnya enzim protease yang terbaik diterapkan dalam mengempukkan daging itik. Pada tahap III. yaitu E1=0.1% dan E3=0. Faktor pertama yaitu perbedaan jenis bahan pelarut untuk ekstraksi enzim protease rimpang jahe. yaitu: 1. variable yang diteliti terdiri dari dua faktor. Masing-masing kombinasi perlakuan tersebut diulang tiga kali. 3. 2. yaitu jahe gajah (G) dan jahe putih (P). Penentuan konsentrasi ini didasarkan atas hasil penelitian yang telah dilakukan Swacita (2005) bahwa hasil penelitian pengempukan jahe yang diterapkan pada daging sapi menunjukkan bahwa sampel daging yang disuntik ekstrak protease 0. akan diteliti proses pengempukan pada daging itik dengan .075% pada suhu kamar dapat mengempukkan daging sapi dan meningkatkan protein daging terlarut paling cepat dalam waktu 30 menit. Parameter yang diukur dari ekstraksi rimpang jahe adalah rendemen ekstrak. METODE PENELITIAN.075%. 1993).125%. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali dan dilakukan pada suhu kamar.15 Kompor portable tahan bakar gas H. Eksperimental adalah suatu cara untuk mengetahui sebab akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengurangi atau menyisihkan faktor-faktor lain yang mengganggu (Arikunto.

Filtrat diambil sebagian untuk dihitung rendemen akstrak. PELAKSANAAN PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut: a. Selanjutnya potongan jahe dikeringkan dalam oven pada suhu 50oC hingga kadar air menjadi 8-10% (selama ± 20 jam). Suharyono. Ekstraksi bahan dengan air dan etanol Bubuk rimpang jahe diekstraksi secara terpisah menggunakan akuades dan etanol 1:2 (b/v). E=30%. E=40%. Rimpang jahe digiling sampai mencapai ukuran bubuk yang homogen. sehingga dihasilkan filtrat dan residu (2a). Proses inkubasi dilakukan dengan membedakan suhu inkubasinya. Filtrat 5 ml dihilangkan pelarutnya dengan dipanaskan dalam oven 70-80oC sampai berat konstan. 24 jam). b. Ekstraksi menggunakan etanol diawali dengan soxhlet (3x8 jam). Residu 1a diekstraksi lagi dengan akuades secara maseri diatas shaker 250 rpm selama 24 jam. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. lalu disaring sehingga dihasilkan filtrat dan residu (1b). Selanjutnya residu 2a diekstrak lagi dengan etanol (materi diatas shaker 250 rpm. 42 sehingga dihasilkan filtrat dan residu (1a). Perbandingan ini didasarkan pada hasil penelitian Zuhud. Pelaksanaan ekstraksi menggunakan cara yang dilakukan oleh Murhadi. Persiapan bahan uji Rimpang jahe dibersihkan dan dipotong setebal 1-2 mm.menggunakan jahe segar dari jenis berbeda (jahe gajah dan jahe putih) dibalurkan pada medium itik dengan kadar konsentrasi E=20%. Ekstraksi menggunakan akuades diawali dengan perebusan rimpang jahe dalam penangas air (70oC) selama 2 jam lalu disaring dengan kertas Whatman no. disaringn sehingga dihasilkan filtrate dan residu 2b. et al (2001) yang menyebutkan bahwa pada ekstraksi tanaman kedawung perbandingan bahan dan pelarut (air) paling baik adalah 1:2 (b/v). dibandingkan dengan 1:1 dan 1:3 (b/v). Rahayu. 120 menit dan 150 menit. dan Susilowati (2007). Wijaya. yaitu suhu kamar dan suhu dingin dengan lama inkubasi 90 menit. Filtrat 2a dan 2b digabung dan dihilangkan sebagian .

c.5% dengan 0. dapat dihitungn dengan rumus berikut : dimana.5% dalam buffer fosfat pH 7. Supernatan diambil 1 ml dan diencerkan sampai 6 ml lalu diukur absorpsinya pada panjang gelombang maksimum tirosin.5 ml larutan buffer fosfat pH 7.0. Pengujian Aktivitas Enzim Protease Rimpang Jahe a. (μg/ml) Aktivitas dengan enzim menggunakan dinyatakan kurva dalam standar μmol tirosin/ml/menit. Larutan ditambahkan sselanjutnya disentrifus dengan kecepatan 3000 rpm selama 5 menit untuk pemisah supernatan dan endapan yang terbentuk. (2000)). Uji aktivitas Proteolitik (Leewit dan Pornsukawang. v = volume total sample percobaan tiap tabung reaksi (ml) .1 pada panjang gelombang maksimum tirosin dan sebanding dengan 15μg tirosin per ml. tetapi enzim telah diinaktivitas terlebih dulu pada suhu 100oC selama 10 menit. Aktivitas enzim ditentukan setelah inkubasi dilakukan pada suhu 37oC selama 10 menit. Satu unit aktifitas enzim dinyatakan sebagai μmol tirosin yang dibebaskan atau dihidrolis enzim dilakukan dengan mengkonversi nilai serapan menjadi konsentrasi tirosinn tirosin.v Aktivitas Proteolitik = konsentrasi tirosin X----------X fp (p x q) 17 pelarutnya (oven 60oC) sampai berat konstan (ekstrak 2). Blanko dibuat dengan prosedur yang sama dengan penentuan aktivitas aktivitas enzim.0 dan 1 ml enzim lalu didiamkan selama 10 menit pada suhu 37oC di atas penangas air. (1988) dalam Yunita. Unit aktivitas proteolitik ditentukan berdasarkan jumlah enzim yang dihasilkan hidrolisat tirosin terlarut dalam 5%TCA (trichloro asetic acid) yang dibebaskan dari 2 ml substrat kasein 0. Satuan unit aktivitas proteolitik tersebut setara dengan absorbsi 0. Nilai aktivitas enzim diukur dari kadar tirosin yang diperoleh dari hasil plot terhadap kurva standar tirosin. Aktivitas proteolitik seperti di atas dilakukan melalui tahapan berikut: dicampur 2 ml larutan kasein 0.

1 N dan tembaga sulfat 0.5ml peraksi Folim-Ciocaltean. Proses inkubasi dilakukan dengan membedakan suhu inkubasinya. Menurut Swacita. Kemudian dilakukan penambahan 0. E=0. Medium potongan itik diiinjeksi bahan pengempuk dengan kadar konsentrasi E=0. Proses inkubasi dilakukan pada suhu kamar dengan waktu 30 menit. E=30%.5 ml pereaksi berupa campuran larutan natrium karbonat 2% dalam larutan NaOH 0.p = jumlah enzim (ml) q = waktu inkubasi (menit) fp = faktor pengenceran b. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali.75%.125. yang masing-masing diulang tiga kali. Pengukuran Kempukan daging menggunakan ekstrak protease jahe yang terbaik adalah konsentrasi 0.5% dalam laruta Na-K tartarat 1% (50:1). 120 menit dan 150 menit. Kurva standar dibuat menggunakan larutan bovin serum albumin (BSA) (Apriantono et al.05-2 ml ditambah dengan 5. diaduk dan dibiarkan selama 10-15 menit pada suhu kamar. Sample sebanyak 0.075% pada suhu kamar dengan lama inkubasi 30 menit. . Penerapan Ekstrak Protease Pada Medium Tahap 1 Menerapkan hasil ekstrak jahe yang dihasilkan dari jenis pelarut berbeda sebagai bahan pengempuk pada medium itik. Penggunaan jumlah konsentrasi ekstraksi didasarkan pada hasil penelitian yag telah dilakukan Swacita (2005). E=40%. E=0. dikocok dan dibiarkan selama 30 menit sampai warna biru terbentuk. hasil penelitian pengempukan daging sapi yang Tahap 2 Menerapkan jahe parut segar dari jenis berbeda (jahe gajah dan jahe putih) sebagai bahan pengempuk yang dibalurkan pada medium itik dengan kadar konsentrasi E=20%. Penentuan Protein Terlarut Analisa total protein terlarut dilakukan dengan metode Lowry.1%. d. yaitu suhu kamar dan suhu dingin dengan lama inkubasi 90 menit. 1989). c.

: (1) Daging seberat 200 gram dengan panjang 7 cm sebelum dimasukkan ke dalam panci perebus dipasang thermometer bimetal dengan ditancapkan sampai menembus bagian dalam daging. ALUR KERJA PENELITIAN Tahap 1. (3) Air dipanaskan sampai thermometer bimetal menunjukkan angka 81oC.27 cm dengan panjang kurang lebih 4-5 cm. (4) Potongan-potongan daging yang diperoleh diukur keempukannya secara objektif dengan menggunakan alat warner Bratzler. (5) Kisaran hasil pengukuran Warner Bratzler Shear terhadap keempukan daging terbagi atas skala. dimasukkan ke dalam panci yang telah diisi air kurang lebih 2 liter. 1975). (2) Daging yang telah dipasang dengan thermometer bimetal.27 cm searah urat daging sehingga diperoleh potongan daging diameter 1. 0.3 berarti empuk dengan skala > 3-6 berarti cukup atau dengan skala > 6-11 berarti alot. yang dinyatakan dalam kg/cm2.19 Daging itik hasil proses inkubasi selanjutnya dilakukan pengukuran keempukan yaitu dengan dengan metode Warner Blatzler Shear (Bouton and Haris. Penentuan Jenis Pelarut dan Jahe yang paling Optimal . kemudian dicetak dengan alat pengebor daging (corer) yang berdiameter bagian dalam 1.

Tahap II. Penerapan Jahe Parut Segar pada Daging Itik . Percobaan Konsentrasi Enzim (Hasil Tahap 1) Tahap III.

JADWAL KEGIATAN PROGRAM Tabel 3.21 ANALISA STATISTIKA I. Nama lengkap : Ariadi Tricahyo 1 2 3 4 5 . Ketua Pelaksana a. Jadwal Kegiatan Penelitian Bulan Kegiatan Persiapan penelitian Pelaksanaan penelitian Pembuatan laporan BIODATA KELOMPOK 1.

Waktu untuk kegiatan PKM : 20 jam/minggu : Syam Prabandarto : 05105400-50 : Peternakan / Teknologi Hasil Ternak : Universitas Brawijaya Malang e. Waktu untuk kegiatan PKM : 20 jam/minggu : Putu Jevi Setiawan : 06105400-47 : Peternakan / Teknologi Hasil Ternak : Universitas Brawijaya Malang e. Billy Rasyad : 07105100. Nama lengkap b. Fakultas/Program Studi d. Nama lengkap b. Nama lengkap b. MS : 19600616 198701 1 001 : Dosen .Lilik Eka Rahadianti. NIM c. Anggota Pelaksana a. Fakultas/Program Studi d. Perguruan Tinggi 5. Anggota Pelaksana a. Fakultas/Program Studi d. NIM c. NIM c. Waktu untuk kegiatan PKM : 20 jam/minggu : Rahmat Basuki Fajarika : 06105400-48 : Peternakan / Teknologi Hasil Ternak : Universitas Brawijaya Malang e. Fakultas/Program Studi d. Nama Lengkap dan Gelar 2. NIM c. Perguruan Tinggi 3. Waktu untuk kegiatan PKM : 20 jam/minggu : Nazhar V. Anggota Pelaksana a. Jabatan Fungsional : Dr. Fakultas/Program Studi d. Perguruan Tinggi : 07105100-48 : Peternakan : Universitas Brawijaya Malang e. NIP 3. Perguruan Tinggi 2. Waktu untuk kegiatan PKM : 20 jam/minggu BIODATA DOSEN PENDAMPING 1.27 : Peternakan : Universitas Brawijaya Malang e. Anggota Pelaksana a. Nama lengkap b.b.Ir. Perguruan Tinggi 4. NIM c.

6. Uji Organoleptik untuk 30 panelis Rp.Rp.. 6.000. 50.000. 2.000.000.Rp. 35.000.000. 50.b.000. Kertas Saring 20 lembar @ Rp. Bahan Habis Pakai :  Jahe Gajah 25 kg x @ Rp. Uji Kadar Protein 5 x @ Rp. 175.i. Rp. Bahan 1.000 Rp.000. Uji Kadar Lemak 5 x @ Rp. Jahe Putih 25 kg x @ Rp.. 1.a.Rp.1.000 1. Rp. 30.- Rp.d.Rp.000 1.000. 600. RENCANA BIAYA 1.000 150. Uji Aktivitas Proteolitik 12 x @ Rp.000 1.Rp.c. 40.Rp. 100. Jabatan Struktural 5.000 . Uji Total Protein Terlarut 12 x @ Rp. 420. 40. Fakultas/Program Studi 6.Rp. 150.000. 480.000 . 5.000..000. 150. Perguruan Tinggi 7.23 4. Waktu untuk Kegiatan PKM : : Peternakan/Teknologi Hasil Ternak : Universitas Brawijaya Malang : Ilmu dan Teknologi : 10 jam/minggu J.Tahap Kedua 12 x @ Rp.e. Uji Keempukan (WBS) . Bidang Keahlian 8.000 1.000. Bahan untuk Ekstraksi  Etanol 20 ltr x @ Rp.h.000 1. 35.f.Tahap Ketiga 72 x @ Rp. 35.520. Uji Rendeman Ekstrak 12 x @ Rp.g.000 Rp.000 200. 100..000 1. 360. 30.000 1. Itik 5 ekor x @ Rp.

Transportasi Malang-Bogor 2 orang x @ Rp. Rogers. http://id. THT Rp..000 3. 1113-1117 Hustiany. T. Pertumbuhan alometri dan Tinjauan Morfologi Serabut Otot Dada Pada Itik dan Entok Lokal. 1985. Kolattukudy. Bogor.305. http://deptan. 47 (6). Back. R. Diakses tgl. Direktorat Jendral Pajak Peternakan.R. P.000 x 5 bulan) Rp. Diakses tgl 30 Januari 2006. R. 20.org. D.J. 2000.org.and Pearsson. 2001..wikipedia..000  Lain-lain Rp.IPB. Tesis. S. 18 November 2008.000 K.000 + Rp. THT (per bulan @ Rp. DAFTAR PUSTAKA Anonymous.000 Biaya sewa Laboratorium  Lab. Populasi Itik Menurut Propinsi. Dokumentasi:  Pembuatan proposal dan penggandaan Rp. Disappearence of Short Chain .000  Lab.F.E. Tesis.. NMT Rp. 1982 Tenderizing of beef effect of enzyme. Bogor. R. 1. Plimpton. Program pascasarjana. Asam Lemak. 2006. Ockerman. 2006.000/pp Rp. Program Pascasarjana. enzyme level and cooking method J Food Sei.Identifikasi Karakteristik Komponen Off-Odor pada Itik.2. Laboratorium Administrasi Laboratorium  Lab. Bohnet. Anggraeni. 800. IPB. 100. 500.000  Pembuatan laporan Rp. 100.. 300. 100. and L. 200.600. Fogle.. 9.O. I.000 4.

2001. and S. D. Buhr and R. 1973. Tabrany. Use of Volatiles as Indicators of Lipid Oxidation inMuscle Foods. 2000. Universitas Gajah Mada. 1998.. Soeparno. R. R. (online). Staddelman. Ellis Horwood Ltd. J Food Sei. Srigandono. Cantor. 26: 989-994. W.J. Ginger rhizome : A new source of proteolytic enzyme. 1986. Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety 5: 18-25. Kimia Pangan dan Gizi. Chichester Syukur. 38 (2). Jakarta Lukman. Yogyakarta. 2000.P..com/topic//gingercat=health Winarno. CE.H. Bayer. V. 1988. Smith. 72: 583-588.250x.htm. . 1998. Smith. Y. J. Pescatore. Universitas Indonesia. Poultry Sci.. Blanchard and M. Wolf.D. Bogor. Poultry Sci. 1993. and D.A. 2002. Jakarta Xiong. W.L.. Peking Duckling and Broiler Chicken Petroralis Mucle Stucture and Composition. 1992.25 Acids from The Preen Gland Wax of Male Mallard Dusks During Eclipse.J. Karakteristik Kualitas Daging. pH and Protein Extractability Among Eight Different Broiler Crosess.A. Egg and Poultry-Meat Processing. 72: 202-208. C. B.. I. 2006. A... L.P. Gadjah Mada University Press. Pasch.F. Yogyakarta. Gramedia Pustaka Utama.A. Ilmu Daging. D. Variations in Muscle Chemical Composite.. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Lampung. D.. Thompson. S. E. http://rudyct. Yogyakarta. 16-11-2005. Ilmu dan Teknologi Daging.Answers. 625-655 USDA Nutrient Database. H. J. And Allen. Beternak Itik. Program Pascasarjana. 1995.Shemwell. Ross.. IPB. Pt.M. Straw. Ilmu dan Teknologi Daging. H.M. D. Press. Lipid Res . Bandar Lampung. karkas dan sifat Olahannya Antara Itik afkir dan Ayam Petelur Afkir. Ilmu Unggas Air. http://www. Universitas Gajah Mada.S. Soeparno. G..com/sem I 012/herman. 1993.. Fletcher. A. l. Olson. Pengaruh Pelayuan Terhadap Keempukan Daging... Lawrie.

net. Veteran 121 Malang Kode Pos. 6. Pendidikan S1 – S3 No. Lilik Eka Radiati. MS : 19600616 198701 1 001 : Probolinggo. tanggal lahir Jenis Kelamin Bidang Keahlian Kantor / Unit Kerja Alamat Kantor : DR. 65145 Telepon : (0341) 553513 Faksimile : (0341) 584727 Email : indicus@malang. 4. Pendidikan . 7. Kode Pos 65139 Telepon : (0341) 715734 Kota Tahun Lulus Bidang Studi 8. 3.L. Nama NIP Tempat. 23 Agustus 1959 : Perempuan : Ilmu Pangan : Fakultas Peternakan : Jl. LAMPIRAN 1 DAFTAR RIWAYAT HIDUP PEMBIMBING 1. 2. Alamat Rumah 9. Ir. 5.wasantara.id : Sawojajar IX-54 Malang.

L. 4. Buletin Peternakan Vol. (10) : 2428 Menulis karya ilmiah hasil penelitian yang dipublikasikan pada 1998 Buletin Peternakan ISSN 0126-4400. 22 (1) : 57-63 Menulis karya ilmiah hasil penelitian yang dipublikasikan pada 1998 Buletin Peternakan ISSN 0126-4400.E. Vol 22 (1) : 121-127. 2002. 1998. Punomo. M. WHC dan Keempukan Otot Biceps Femoris dan Semi Membranous Kambing Peranakan Etawa. 5. 2002. Radiati. H. 3. 1998 Surisdiarto dan L. D. Vol 13 (2) : 81-91. Pengaruh Stimulasi Listrik Terhadap pH. L.E.. 1. Pengalaman Penelitian dan Publikasi No. 1998 Purnomo. cholerae O1. D.. . 22 (3) : 121-127 Menulis karya ilmiah hasil penelitian yang dipublikasikan pada 2002 Jurnal Agritek ISSN 0126-4400. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya.E.D. 13 (2) : 81-91 Menulis karya ilmiah hasil penelitian yang dipublikasikan pada 2002 Jurnal Agritek ISSN 0853-5167.27 1. Buleti petrnakan Vol. Pengaruh Penggunaan starter Yakult Komersial dan Enzim Renin Mucor meihei Terhadap Mutu Keju Cottage.M.E. Radiati. 3. 1998.E. Jurnal Penelitian dan Publikasi Tahun Menulis karya ilmiah hasil penelitian yang dipublikasikan pada 1995 jurnal Ilmi-Ilmu Peternakan Universitas Brawijaya ISSN 08523581. L. Pangaruh Ekstrak Diklorometan dan Sari Jahe terhadap Hidrofibisitas Bakteri E. 1995. Jurnal Agritek. Coli O157:H7. 2002 Radiati. 2002. Panghambatan Baktei Enterophatogen oleh Ekstrak Diklorometan Jahe. 6. Vol. (10) : 24-28. Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan. 2. Pengaruh Ekstra Jahe (Zingiber officinale 2. 2002 Radiati.. 1995 Kusumawati. Vol 10 (4) : 2238-2244. 2002 Radiati. Rosyidi dan Y. Vol 10 (3) : 2238-2244. S. Fapet Unibraw FSP-IPB Bogor FSP_IPB Bogor Malang Bogor Bogor 1984 1990 2002 Teknologi Hasil Ternak Ilmu Pangan Ilmu Pngan 10.E. Jurnal habitat. L. Vol. 10 (4) : 2408-2416 Menulis karya ilmiah hasil penelitian yang dipublikasikan pada 2002 Jurnal Habitat ISSN 0853-5167. Hidrolisis Bungkil Kedelai dengan Menggunakan enzim Papain. Ardhana dan L. Vol 22(1) : 57-63. typhi dan V. Radiati.

2. Nabet. Capioumont.... J. Surjowardjojo. I. Vol 10 (5) :2338-2344. Jurnal Agritek Vol 10 (3) : 2238-2244 Menulis karya ilmiah hasil penelitian yang dipublikasikan pada 2002 Jurnal mitra Akademik ISSN 0853-1765.. Vol XIV (1) : 59-67 8. 2003 Suryo. Sudirman. Vol XIV (1) : 59-67.. L. A. P. No. Frank. 2003.E. Jurnal Teknologi dan Indusri Pangan. 4. air. S. 2003 Menulis karya ilmiah hasil penelitian yang dipublikasikan pada 2003 Jurnal teknologi dan Industri Pangan ISSN 0216-2318. L. P. Effect of Gingger (Zingiber officinale roscoe) Dichlorometan Extract to Inhibition of Cholerae Toxin B-Subunit Conjugated (FITC) Binding to Receptor on Hibridoma and Caco -2 Cells Teknologi Pembuatan Daging Sintesis dengan Menggunakan Kasein dan Whey Susu di sentral Peternakan sapi Perah Jawa Timur. Manab. Kajian Metode Isolasi Protein Susu dalam Bentuk Curd terhadap Rendeman.. 2003 Radiati. Proses Pembuatan Keju Olahan (Preparation of Processed Chesse). Zakaria.E. Pengaruh Ekstrak Diklorometan Jahe (Zingiber officinale roscoe) terhadap Peningkatan Toksin Cholera B-subunit Konjugasi (FITC) pada Reseptor Sel Hibridoma LV dan Caco-2. Jurnal Protein (19) : 1301-1306. 10. Coli O157:H7. Perbaikan Teknologi Industri keju di Kecamatan Wajak Kabupaten Malang untuk Meningkatkan Kualitas Keju. L. Tahun 1995 1999 2000 2002 . Jurnal Agritek. P. 9. Vol 10 (5) : 2338-2344. 2003 Radiati. 2002.. Vol 27 (3) : 141-146 Menulis karya ilmiah hasil penelitian yang dipublikasikan pada 2003 Jurnal Agritek ISSN 0126-4400... kadar Protein. typhi dan V. E dan Hariadi R. 2003. Radiati. Anti Infection of Gingger (Zingiber officinale roscoe) ekstrak to E.. Judul Penelitian tidak dipublikasikan Pembuatan ssus Soda gembira (Susu Karbonasi) suatu Kajian Perubahan Kimia dan Mikrobiologis DPP Fapet Unibraw. 2003. 1.. 3. Asam Amino. 2002 Purwadi. Vol 27 (3) : 141-146. radiati. Fardiaz. D. L.D..roscoe) terhadap Aktivitas Hemolisisdari Hemolisin Bakteri 7. URGE Bath III.E. Patogen. dan Sumiatun. R. cholerae.E. 2003 Menulis karya ilmiah hasil penelitian yang dipublikasikan pada 2003 Jurnal Protein ISSN 1259-1268 (19) : 1301-1306. pH.F.

Kedudukan dalam Tim 7. Nama 2. Diversikasi Lemak Ayam untuk Produksi Monoasilgliserol dengan 2002 memenfaatkan Enzim Lipase Dedak Padi. Malang. Alamat 6. Cendana II/107 Kediri : Ketua Pelaksanaan . 6. MS NIP.29 5. 5 Mei 1989 : Laki-laki : Jl. 14 Oktober 2009 DR. 19600616 198701 1 001 LAMPIRAN II DAFTAR RIWAYAT ANGGOTA 1. 7. SD : SD Negeri Pakuden 1 : Ariadi Tricahyo : 07105100-48 : Kediri. Jenis Kelamin 5. Mekenisme Penghambatan Virulensi Enterophatogen oleh Ekstrak 2002 Rimpang Jahe (Zingiber officinale roscoe). Ekstraksi Propolis (Perekat Lebah) dan Potensinya sebagai 2002 Antimikroba. Pendidikan a. NIM 3. Tempat/tanggal lahir 4. Ir. Lilik Eka Radiati.

SMU d. Pendidikan a. SMP c. a. Nama 2. Perguruan tinggi Brawijaya Pengalaman Organisasi : SLTP Negeri 5 Kediri : SMU Negeri 8 Kediri : Progam S1 Fakultas Peternakan. Ariadi Tricahyo LAMPIRAN III DAFTAR RIWAYAT ANGGOTA 1. 14 Oktober 2009 Penulis. Jenis Kelamin 5.27 : Bojonegoro.b. Alamat 6. Billy Rasyad : 07105100. SD : MI Muhammadiyah 19 Gunung Sari : Nazhar V. 18 Maret 1989 : Laki-laki : Jl Raya Gunung Sari Baureno Bojonegoro : Anggota . Universitas : FORDIMAPELAR 2008-2009 Staf enterprener HMIP Fakultas Peternakan 2009-sampai sekarang HIMAFO 2008-2009 Malang. NIM 3. Tempat/tanggal lahir 4. Kedudukan dalam Tim 7.

Jenis Kelamin 5. Nama 2.48 : Malang. Pendidikan a. b.31 b.Sutomo no 27 Banyuwangi : Anggota . Perguruan tinggi Brawijaya Pengalaman Organisasi : SLTP Muhammadiyah 1 Babat Lamogan : SMU Muhammadiyah 1 Babat Lamongan : Program S1 Fakultas Peternakan. Kedudukan dalam Tim 7. c. Tempat/tanggal lahir 4. 14 September 1987 : Laki-laki : Jl DR. d. 14 Oktober 2009 Penulis. SMU d. Alamat 6. Nazhar V. NIM 3. SD : SD Negeri Panderjo 1 Banyuwangi : Rahmat Basuki Fajarika : 06105400 . Universitas : FORDIMAPELAR 2008-2009 Staf enterpreneur HMIP Fakultas Peternakan 2009-sampai sekarang Paskibraka Kota Babat Lamongan Malang. Billy Rasyad LAMPIRAN IV DAFTAR RIWAYAT ANGGOTA 1. SMP c.

Rahmat Basuki Fajarika LAMPIRAN V DAFTAR RIWAYAT ANGGOTA 1. SMU d. NIM 3. Alamat 6. Tempat/tanggal lahir 4. SD : SD Negeri 5 Gadungan Blitar : Putu Jevi Setiawan : 06105400 .b. SMP : SLTP Muhammadiaya 3 Banyuwangi : Madrasah Aliyah Negeri Banyuwangi : Progam S1 Jurusan Teknologi Hasil Ternak (THT) : TAHUN MAN 2003-2006 2004-2005 c. Nama 2. Kedudukan dalam Tim 7. Pendidikan a. Universitas Brawijaya ORGANISASI Gema Blambangan Banyuwangi Pramuka Kota Banyuwangi Malang.47 : Blitar.Pengalaman Organisasi NO 1 2 Marsing Band Fakultas Peternakan. 14 Oktober 2009 Penulis. Jenis Kelamin 5. Sumbersari no 282 Malang : Anggota . 7 Agustus 1988 : Laki-laki : Jl. Perguruan tinggi 8.

Kedudukan dalam Tim 7. Tempat/tanggal lahir 4. 10. SMP : SLTP Negeri 2 Gandusari Blitrar : SMA Negeri 1 Kademangan Blitar : Progam S1 Jurusan Teknologi Hasil Ternak (THT) : TAHUN 2003 c. Pendidikan a.33 b. Jenis Kelamin 5. 14 Oktober 2009 Penulis. Jawa Timur. SMU d. Putu Jevi Setiawan LAMPIRAN VI DAFTAR RIWAYAT ANGGOTA 1.Pengalaman Organisasi NO 1 Fakultas Peternakan. Kab. Perguruan tinggi : Syam Prabandarto : 05105400-50 : Nganjuk. Perguruan tinggi 8. Nama 2. Kertosono. Universitas Brawijaya . SMU d. SD b. : Anggota : SDN Banaran I. 27 Mei 1986 : Laki-laki : Ds. Alamat 6. Kec. Nganjuk. Universitas Brawijaya ORGANISASI Pecinta alam (pasak) SMA Kademangan Blitar Malang. SMP c. NIM 3. Kertosono. : SLTP Negeri I Kertosono : SMU Negeri I Kertosono : Progam S1 Jurusan Teknologi Hasil Ternak (THT) Fakultas Peternakan. Pandantoyo no.

HIMATENA Cup. Dan Royal Jelly Secara Invitro” (Lolos didanai oleh DIKTI) Tahun 2007 : Program Kreativitas Mahasiswa (PKM-P) dengan judul ”Produksi Diasilgliserida (DAG) Dari Lemak Ayam Dan Sapi (Tallow) Dengan Biokatalis Lipase Rhizomucor Miehei Dan Pemanfaatannya Untuk Mencegah Obesitas Pada Rattus Norvegicus” (Lolos didanai oleh DIKTI) Tahun 2008 : Usaha Pemanfaatan Daging Puyuh Afkir sebagai Bahan Baku Nugget dengan menggunakan Teknik Restrukturisasi Daging (restructured meat) Pengalaman Organisasi : 1. dsb) Malang. Pengurus OSIS SMA Negeri I Kertosono. . Beberapa Kepanitiaan-kepanitiaan (Kenal Studi Lapang. Pollen. Periode 2004-2005 3. Pengurus HIMATENA bidang Litbang (2007-2008) 4. Pengurus PMR SMA Negeri I Kertosono. 14 Oktober 2009 Penulis. Periode 2004-2005 2.Pengalaman dalam bidang penulisan : Tahun 2005 : Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) dengan judul ”Strategi Pemberdayaan Peternak Dalam Usaha Konservasi Sapi Bali” Tahun 2006 : Program Kreativitas Mahasiswa (PKM-P) dengan judul Aktivitas Biofungsional Antioksidan Tablet Madu Yang Diperkaya Dengan Propolis.

35 Syam Prabandarto .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful