Anda di halaman 1dari 11

Bab.

Spesifikasi Perencanaan, Masalah formulasi, pelaporan hasil (BT, 1973:341-364) Penyusunaan rendik komprehensif memerlukan perumusan masalah yang jelas. Hal ini terkait dengan perbedaaan pendapat para perencana, sehingga menimbulkan ketidak pastian, mendesaknya persoalan social seperti kemiskinan, kekacauan/ krisis social, kehidupan yang stagnan, disamping perbedaan paham mengenai peran pendidikan dan arah perubahan social. Para perencana butuh rumusan singkat, padat, tepat mengenai tugas pendidikan, masalah dan cara pemecahannya melalui perencanaan pendidikan. Masyarakat sekarang dengan budaya urbannya, merupakan hasil interaksi secara dinamik dan berkelanjutan antara fisik kota, baik yang sifatnya natural maupun man-made, pengaruh system social, budaya, ekonomi, dan manusianya, khususnya manakala terjadi pertentangan, langsung atau tidak langsung, karena bidang kehidupan dan kepentingan yang berbeda dan kemudian melahirkan pertentangan budaya. Pertentangan tersebut dapat berlangsung antar komunitas, masyarakat lokal, regional, ataupun global. Dalam pada itu, teknologi baru akan sangat membantu proses perencanaan. Prosedur pembuatan definisi masalah, analisis ke bagian-bagian dan sistesis menjadi katagori solusi tentative, evaluasi solusi alternative berdasar sudut pandang estetika, ekonomi, skala, dan fungsi, semuanya merupakan standar operasional pembuatan perencanaan secara procedural (proses yang diulangulang setiap pembuatan perencanaan). Solusi alternative, harus terus menerus dievaluasi, dimodifikasi, dan disesuaikan dengan definisi permasalahan. Hal ini penting digarisbawahi sebab teknologi yang distandarisasi, cenderung mengurangi kapasitas individu pembuat keputusan, terlebih manakala lingkungan bersifat tiruan (artificial). Sisi lainnya malah kegiatan kehidupan pun bersifat monoton dan rutin. Dalam kaitan inilah untuk tidak dilupakan bahwa pada hakikatnya teknologi itu berupa alat bantu perencana pendidikan membuat lingkungan sesuai yang direncanakan. Dengan kesadaran akan perlunya interaksi individu dengan lingkunganlah, maka perencanaan pendidikaan akan efisien dan efektif. Pendidikan dalam kaitan ini bertugas untuk menyadarkan anak didik sadar lingkungan. Langkahlangkahnya adalah sebagai berikut. a. penguatan partisipasi masyarakat yang akan dilayani pendidikan sehingga ikut bertanggung jawab untuk menyumbangkan ide-ide kreatifnya bagi perencanaan; b. Diprioritaskan orientasi nilai dalam perencanaan, sebab pada ujungnya antara individu murid dengan lingkungan saling terkait. c. Libatkan sumber daya masyarakat, sebab memberikan manfaat ganda. Logikanya bila pendidikan menghendaki siswa memahami lingkungan, maka semakin mereka terlibat akan semakin faham tentang pentingnya lingkungan. Karena itu sumber daya seni, rekreasi, udaya, dan sumber daya ekonomi harus betul-betul terpadu. A. Jenis-jenis Perencanaan Pendidikan Pada hakikatnya perencanaan pendidikan merupakan persiapan penyusunan tata ruang untuk penyusunan hal-hal yang bersifat phisik, disamping merupakan persiapan menyusun waktu tindakan, blue print pengembangan masa depan. Jenis-jenis perencaan pendidikan dapat dikemukakan sebagai berikut. 1. Perencanaan Pendidikan Adaptif. Ini adalah kegiatan perencanaan yang menampung usulan atau tanggapan dari pihak luar. Karena itu berpeluang untuk mudah dan cepat dipahami pihak luar. Keseimbangan organisasipun akan terjaga karenannya.

2. Perencanaan Pendidikan Kontingensi, adalah perencanaan untuk menghindari pengaruh suatu kondisi dengan biaya atau kerugian minimal. 3. Perencanaan Pendidikan Kompulsif, yakni memerinci sesuatu yang seharusnya dan yang diharapkan. Instrumennya carrot and stick, hadiah bila berhasil dan hukuman bila gagal. 4. Perencanaan Pendidikan Manipulatif, yakni pemanfaatan instrument kesepakatan, pertukaran, dan pengaruh untuk mendapatkan suatu keuntungan. 5. Perencanaan Pendidikan Indikatif, yakni perencanaan deengan penyebaran isyaratisyarat bagi terbentuknya tindakan yang tepat. 6. Perencanaan Pendidikan Bertahap, yakni perencanaan yang langsung mengoreksi kesalahan saat pelaksanaan. Dengan demikian terjadi adaptabilitas yang secara kumulatif memperlihatkan pendekatan yang komprehansif untuk nperencanaan yang komprehensif. 7. Perencanaan Pendidikan Otonomi, yakni perencanaan untuk diri sendiri tanpa jadi bagian dari yang lain. 8. Perencanaan Pendidikan Perbaikan (Amelioratif), yakni perencanaan dengan tujuan menjaga status quo atau mengembalikan kepada suasana semula. 9. Perencanaan Pendidikan Normatif, yakni perencanaan bersifat jangka panjang, 25 atau 40 tahun. Dengan karakteristik sifat umum-nya, model ini berfungsi sebagai pedoman bagi kegiatan perencanaan waktu yang lebih pendek. Bersifat menyelruh fokusnya juga menyeluruh. 10. Perencanaan Pendidikan Fungsional, yakni bersifat sektoral, aspek tertentu, segmentatif, namun tetap berfungsi sebagai pelengkap dari upaya perencanaan total. 11. Pemrograman Pendidikan, yakni penentuan pencapaian target, memenuhi kebutuhan program dan sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. B. Pelaporan Hasil Penyajian laporan berupa peyajian statistic, pemetaan data penggunaan tapak, dengan spesifikasinya beranjak dari klasifikasi umum berupa wilayah pemukiman (padat, sedang, jarang), wilayah perdagangan, jenis transportasi lokal/regional/ nasional, listrik, telepon, dan air, system komunikasi, dan kelompok industri. Untuk itu digunakan bermacam ragam peta yang menunjukkan beragam macam sarana dan prasarana fisik, infrastruktur dan suprastruktur. 1. Kontribusi Perencanaan Penggunaan Tanah. Perencanaan ini memakai pedoman standar perkembangan wilayah perkotaan. Disitu ada karakteristik dasar lingkungan perkotaan, direktori tentang pola pergerakan lalu lintas, sistem aktivitas beberapa bagian kota, katagorisasi wilayah seperti pemjkiman, bisnis, hiburan, dsb.nya sebagai hasil foto udara, peta, topografi, atau sketsa-sketsa. 2. Kemungkinan skema klasifikasi. Skema klasifikasi tanah di perkotaan sangat penting, sebab selain memahami status tanah saat ini, juga memahami gabungan factor-faktor penggunaan tanah. Pikiran dalam penggunaan tanah biasanya bersifat ambigu, terlebih rebutan antara wilayah industry dengan wilayah perdagangan, kantor pusat bisnis dengan kantor cabangcabangnya, system pergerakan organisasi perdagangan dan organisasi social, dan akrena itu harus dikaji hati-hati supaya mendapatkan tempat tepat bagi tempat pendidikan. 3. Pendidikan, Aktivitas, dan Format Perencanaan. Berbagai pertimbangan format kependudukan, harus memasukkan ke dalamnya pertimbangan tentang budaya dn aktivitas manusia yang akan digunakan bagi mendisain tata ruang. Perencana harus mempadukan bahan dasar lingkungan fisik dan kebutuhan dan sistem aktivitas manusia.

Memformat system merupakan metode untuk menunjukkan interaksi antar aktivitas, keterlibatan orang, dan bentuk lingkungan. Dalam hal ini diperlukan dua klasifikasi system yakni system blok dan system kode. Sistem Blok, menggambarkan 3 komponen utama, yakni aktivitas, partisipan, dan lingkungan. Adapun prinsip-prinsipnya, adalah sebagai berikut. 1. Cukup luas utk jenis-jenis aktivitas, tipe dan jumlah partisipan, dan faktor lingkungan; 2. Didefinisikan jelas dan tegas batas2nya; dan 3. Tiap Block dan datanya mudah dianalisa. Ketiga item ini menjawab masalah : apa dan bagaimana karakter aktivitas, siapa partisipannya, dan apa bentuk lingkungan yang tepat saat aktivitas dilakukan. Empat hal harus dpertimbangkan, yakni 1. Adanya ruang ekstra utk interaksi; 2. Perlu diketahui bahwa sifat interaksi itu ada yang bebas, dan ada yang berkesinambungan, 3. Skalanya harus dibuat dari yang lambat sampai pada yang sangat cepat; 4. Lokasi aktivitas tertentu dengan persyaratan tertentu bagi effektifitas kinerjanya. Katagorisasi pastisipan aktivitas social. 1. Individu (umur, kemampuan fisik, kemampuan emosional, kemampuan mental, pengalaman, minat, dan bakat) 2. Masyarakat (bahasa, karakteristik etnik, tingkat pendidikan) 3. Ekonomi (tingkat pendapatan, pola kepemilikan) 4. Pekerjaan (terlatih, tdk terlatih, semi terlatih, pegawai kasar, pegawai kantoran, profesional, semi profesional). 5. Kepentingan Pengembangan (pencapaian masa lalu, kejadian saat ini, tujuan atau sasaran yang dikehendaki).

Bab . Implementasi Perencanaan ( Program persiapan, Pengesahan Program, mengorganisasi bagian opersional (BT, 1973: 365-384). Mengimplementasikan perencanaan perlu memahami secara urut mengenai Persiapan Program, Legalitas Program, dan Pengorganisasian Unit2 Operasional. A. Persiapan Program. Implementasi atau Pelaksanaan program merupakan fase paling sukar dalam proses perencanaan pendidikan. Penyebabnya adalah : (a) distribusi data belum terpecahkan dengan tepat; (b) kebijakan pemerintah tdk pernah distudi atau diformulasi secara sistematik; (c)dukungan kelompok akademik, penentu kebijakan politik, dan praktisi pendidikan lebih bersifat esoteric (elitis, dipahami orang-orang tertentu saja) daripada upaya kerjasama bagi effektivitas program aksi karena kurang sosialisasi. Norm yang perlu mendaat perhatian Perencanaan pendidikan harus dibuat integral dari proses manajemen keseluruhan dari pembuatan dan implementasi keputusan, bila menginginkan hasil yang positif, karena rendik biasanya dibuat dalam kondisi politik tertentu. Di Indonesia hal ini ditandai oleh mekanisme pembuatan undang-undang, peraturan pemerintah, sampai kepada aturan menteri, dirjen dan kakanwil, ada dalam suatu koordinasi yang solid. Namun demikian perlu dibedakan rinsi antara perencanaan kebijakan dan perencanaan program. Perencanaan Kebijakan Pendidikan terkait dengan pengembangan outline umum secara luas untu kegiatan pekerja terpilih. Salah satu

contohnya adalah apakah ada atau tidak ada implementasi perencanaan pendidikan yang menyeluruh, kalau ada, untuk tujuan apa?. Dalam pada itu Perencanaan Program Pendidikan, terkait dengan persiapan perencanaan spesifik, dengan prosedur untuk diterapkan oleh karyawan administrasi (ketata-usahaan)dalam kerangka kerja sistem pendidikan yang ada. Tiga syarat karyawan (the agency) dalam hal ini, adalah : Pertama, karyawan (the agency) harus memperoleh dukungan pembuat kebijakan; Kedua, karyawan (the agency) harus membolehkan pemimpinan pembuat kebijakan untuk berpartisipasi dalam mengembangkan perencanaan pendidikan; dan Ketiga, karyawan dan pembuat kebijakan harus mengawasi pelaksanaan keputusan yang penting (crusial). Pertimbangan dalam Persiapan Program Aksi 1. Mobilitas social penduduk memiliki relevansi dengan proses pendidikan. Tekanan kegiatan penduduk pada pemerintah dalam penggunaan sumber daya, dan sikap kebanyakan penduduk yang respek terhadap sumber daya, jelas mempengaruhi program aksi; 2. Ekspressi kebutuhan penduduk merupakan dilemma para pendidik. Artikulasi kebutuhan pendidikan untuk mencapai tujuan dan sasaran merupakan bagian sukses kecil dalam perencanaan pendidikan bagi para penduduk; 3. Beberapa pendapat menyatakan bahwa solusi masalah pendidikan hanya dibuat oleh pusatpusat kekuasaan yang memiliki sedikit pengetahuan tentang politik pendididkan; 4. Penentuan prioritas pendidikan tidak selalu didasarkan pada analisis yang sistimatik. Dalam hal ini penguatan frekuensi program, hanya terjadi manakala tekanan menyeret pembuat keputusan pendidikan; 5. Peran lembaga pendidikan dalam implementasi program aksi telah dianalisis secara kritis; Pertanyaannya adalah bagaimana alokasi sumber, strategi dan taktik pendidikan, Siapa yang mendapat dan tidak mendapat keuntungan? Bagaimana kebutuhan pendidikan diekspressikan oleh minoritas pemerintah? Sejauhmana effektivitas pembuat keputusan dalam merekrut orang terbaik? Dst.nya. 6. Upaya perluasan pendidikan pada masyarakat pinggiran untuk program aksi, menghadapi kerumitan dalam implementasi. Proses artikulasi, formulasi, dan ekspressi kebutuhan telah dapat membebaskan keterlibatan politik masyarakat pinggiran. 7. Akibat dan hasil program aksi umumnya merupakan hasil simulasi dari luar lembaga pendidikan.Apa yang terjadi adalah bahwa sumber-sumber sekolah lokal mendapat tantangan dan tekanan yang lebih besar dan lebih meluas. Perlu diingat bahwa program aksi kebanyakan dibatasi oleh politik pendidikan. Dalam kaitan ini perencana pendidikan harus lebih banyak belajar tentang proses pembuatan keputusan dan ilmu politik. Kesulitan yang Mungkin Terjadi Program aksi pendidikan komprehensif seharusnya terkait ke berbagai hal tidak hanya kepada satu atau dua aspek saja, sebab dengan demikian program akan jadi terisolasi. Sebagai contoh pembangunan gedung sekolah, tidak hanya terkait kepada jenis bahan dan bentuk bangunan, pemeliharaan dan fasilitas pemeliharaan, sambil tidak peduli terhadap referensi atau pelayanan masyarakat atau perencanaan pendidikan yang baik untuk belajar. Sebuah program pendidikan harus mempertimbangkan produktifitas dilihat dari sisi ekonomi. Demikian juga para guru atau dosen harus merupakan investasi yang menguntungkan baik untuk

pemerintah maupun kalangan swasta. Harus ada kserasian antara public sector program dg private sector activities yg menguntungkn keduanya. Kelayakan impelementasi harus menjadi pertimbangan yang sungguh-sungguh, sebab tanpa studi kelaakan yang serius, yang terjadi alau tidak jatuh pada radikalisme program, alternative lainnya adalah utopia. Sungguh suatu kesulitan yang tidak tampak secara material namun dipastikan akan terjadi. B. Legalitas Perencanaan Perencanaan pendidikan komprehensif harus memiliki legalitas hokum yang formal. Hal ini terkait dengan realitas bahwa perencanaan yang komprehensif akan mempengaruhi berbagai lapisan kepentingan masyarakat. Rendik merupakan dokumen negara yang dijadikan sandaran oleh sekolah-sekolah lokal pemerintah. Pada saat yang sama juga akan mengarahkan proses pembuatan keputusan, penyediaan alat-alat, dan program yang dibutuhkan, untuk kemudian jad pedoman masyarakat dalam pengembangan pendidikan 20 atau 30 tahun ke depan. B.1. Dasar Legislasi Rendik. Langkah pertamanya berupa studi tentang kemampuan Negara membuat undang-undang. Negara punya kewenangan membuat aturan yang bijaksana. Tiga kekuasaan Negara yang dibutuhkan dalam hal ini. 1. Kekuasaan Menarik Pajak. Negara sesungguhnya memiliki kekuasaan untuk menarik pajak bagi keperluaan pendidikan. Kekuasaan dapat dlimpahkan kepada pemerintah daerah. Sebagai produk hokum, maka pajak harus seragam, namun tetap adil melalui klasifikasi sasaran sesuai kelas social ekonomi yang berbeda. Untuk keadilan, dan tidak ada kesewenang-wenangan pemerintah, maka pengadilan harus merumuskan teori pendidikan berdasarkan kebijakan publik, sehingga tidak digunakan untuk menarik keuntungan individual, tetapi untuk memenuhi kewajiban pemerintah memelihara masyarakat madani. Pajak pemerinah untuk pendidikan haus digunakan seefisien dan seefektif mungkin, dan karenanya perlu perencanaan pendidikan. 2. Penggunaan Hak-hak Kekuasaan Pemerintah Setiap tindakan bagi kepentingan umum harus memiliki kekuatan hokum. Secara konstitusi, tanah warga negara dapat digunakan pemerintah manakala untuk kepentingan umum, seperti sekolah, area brmain, lapangan olahraga/senam. Namun demikian, pemerintah tetapp harus mengganti kompensasi dengan harga layak, kalau tidak akan dianggapsebagai melanggar konstitusi. 3. Kekuatan Keamanan, yakni pada hakikatnya setiap hukum produk pemetrintah bertujuan menjaga kesejahteraan setiap warganegara, baik dengan cara memberikan kebebasan memiliki ataupun pembatasan hak individu untuk kepentingan kelompok masyarakat dari segi kesehatan, keamanan, kesejahteraan, dan moral masyarakat. B.2. Konstitusi tdk permanen, adalah evaluasi terhadap prosedur rendik komprehensif yang sudah disepakati, namun masih berada pada pemerintah lokal, masih ada kesempatan perbaikan supaya menghasilkan keuntungan besar, berdasarkan penelaahan terhadap prinsip-prinsip dasar pendidikan. Namun demikian, penyusunannya tidak terjadi secara kebetulan. Rendik harus mengembang ke seluruh fungsi. Pendidik tidak boleh merencakan sekolah, murid, guru, dan sumber2 tanpa pertimbangan bagaimana hubungan satu dengan yang

lainnya dan bagaimana hal-hal tsb berhubungan dg aktivitas seperti pajak, komunikasi, asuransi, dan fsilitas sosial. Pengorganisasian Unit Operasional Walaupun terdapat banyak masalah dalam implementasi rendik, sehingga dapat dikatakan tidak ada jaminan bagi efektivitas pelaksanaannya, namun beberapa tehnik dalam menjalankan dan mengorganisasikan rencana operasional telah dibuat dengan baik. Tehnik ini difokuskan pada unit-unit operasional dan implementasi rencananya. Pembahasan ditujukan pada 1. Cara mengorganisasi unit-unit operasional, 2. kerjasama dalam menghasilkan rendik, 3. koordinasi implementasi rendik, dan 4. kontrol rendik. 1. Pengorganisasiaan Unit-Unit Operasional Tiga bentuk penampilan unit operasional. Pertama, kepala eksekutif yang kuat, pada umumnya dapat menerima bila harus memiliki lembaga (agency) atau unit perencanaan pada departemennya. Kedua, lembaga independen namun eksekutifnya lemah. Kemudian proposal perencanaan mengandung berbagai kelemahan, maka organisasi sering tidak jadi factor utama dalam menjamin effektivitas lembaga. Ketiga, gabungan keduanya yakni eksekutif kuat namun lembaga perencanaanya bersifat mandiri, maka yang terjadi adalah pertenangan antara proses politik dan proses perencanaan. Perencanaan pendidikan yang komprehensif, merupakan system politik sementara rendik-nya sendiri merupakan kekuatan politik. Karena itu manakala terjadi gabungan dan serasi maka akan lahir kekuatan perencanaan dan kekuatan politk yang dengan demikian dimungkinkan rencana terimplementasikan dan pendidikanpun mencapai keberhasilan yang signifikan. Untuk itu diperlukan strategi meminimalisasi konflik, supaya rendik betul-betul dipandu nilai, criteria, dan informasi yang akurat, tanpa terjebak oleh kepentingan-kepentingan sempit organisasi. Keterampilan yng diperlukan untuk mengorganisasikan unit-unit operasonal adalah 1. Penguasaan metodologis, sehingga mampu menjangkau seluruh lapisan kepentingan dengan kriteria objektif rasional, 2.melakukan kompromi-kompromi sehingga isu-isu yang dilahirkan betul-betul untuk kepentingan pendidikan, 3.strateginya memiliki validitas tinggi, sehingga peluang suksesnya terbuka. Dalam pada itu untuk kesepakatan strategi yang digunakan diperlukan 1. Isi rencana, 2.metode yang dihasilkan, atau cara mengorganisasi unit-unit opersional, dan 4.cara mengkomunikasikan rencana. Bab Monitoring pelaksanaan perencanaan, mengevaluasi perencanaan, dan menyesuaikan mengubah dan redisain perencanaan Latar belakang kegiatan monitoring Monitoring adalah kontrol pada seluruh proses pelaksanaan. Monitoring dimaksudkan supaya output sesuai dengan prediksi perencanaan, atau signifikan dengan yang direncanakan. Dalam monitoring, terdapat dua pilihan, yaitu menggunakan kegiatan monitoring untuk mengembalikan system pada jalurnya, atau membiarkan penyimpangan untuk kemudian diperbaiki dari awal kembali. Pilihan manapun semuanya akan terkait dengan penjadwalan. Penjadwalan berarti memberikan gambaran realistik tentang waktu, uang, dan SDM yang tersedia. Semuanya harus dihitung dan semuanya harus dipersiapkan. C.

Dalam melaksanakan suatu proyek, langkah pertama adalah menseleksi berbagai alternatif dari berbagai strategi solusi. Kegiatannya dapat diklasifikasikan pada dua katagori. Pertama katagori rencana kerja/operasi (renop), dan kedua, katagori penganggaran. Dalam renop dideskripsikan tentang (1) siapa :organ yang ada pada struktur atau organisasi baru; bgaimana bentuk organ tersebut, bagaimana cara membentuknya; (2) sumber : SDM, sumber material, bangunan, fasilitas, perlengkapan, dst.nya; berapa jumlahnya, bagaimana kualitasnya, bagaimana menetapkan harganya, berapa plafonnya; (3) kapan : dalam urutan kerja yang bagaimana dilaksanakan, berapa lama waktunya, kapan tiap kegiatan dim ulai, bagaimana tahapannya sehingga tetap efisien dan efektif; (4)dimana dikerjakannya : dimana tempatnya, bagaimana mengkoordinasikannya bila tempat-tempat itu tersebar, bagaimana peluang pengawasannya? Dalam penganggaran perlu dideskripsikan jumlah sumber, jenis pelayanan sumber, dan jenis materialnya. Dalam Renop terdapat model-model seperti Riset Operasional, Operational Gaming, Diangram Gannt, Diagram Milestone, Teknik Delphi, PERT(Program Ealuaton and Review Technique), CPM (Critical Path Method). Dalam Penganggaran terdapat model-model Program Budget, PPBS, Performance Budgeting ( BT, 357-441; Kaufman:130-137; Diknas: 38-52). Riset Operasional (operations research) merupakan upaya mencari solusi optimal terhadap masalah yang saling berhubungan, untuk mengetahui keeffektifan kriteria evaluasi, disamping menyimpulkan kemungkinan-kemungkinan dalam bentuk model matematik. Dari bentuk ini lahir kriteria maksimal-minimal effektivitas evaluasi. Dapat dikatakan bahwa riset operasional ini memiliki kegunaan yang signifikan, karena tidak ada kegunaan yang langsung untuk impelementasi pendidikan sebelum ditentukan tujuan, sasaran, dan persyaratan kelengkapan pendidikan, yang kesemuanya itu dapat didefinisikan melalui riset operasional. Operational Gaming Model ini merupakan varian dari simulasi, dengan cara memerankan manusia dalam kontek(context) dan situasi tertentu. Contohnya saat menghadapi pertemuan dengan Dewan Sekolah untuk mencari beberapa metode penambahan biaya. Dalam diskusi sebagian peserta difungsikan (role-play) sebagai orang yang memainkan peran dan berbagai karakternya sebagai Dewan Sekolah. Diprediksikan pada kejadian yang sebenarnya. Diagram Gannt Cara ini disebut juga diagram Balok (Bar Chart) merupakan gambaran aktivitas bersegi banyak (multiple activities) dengan memerinci (a) daftar kegiatan, (b)waktu mulai kegiatan, dan (c) lamanya kegiatan. Henry Gannt sebagai penemu diagram ini pada th.1900, membagi renop pada dua sumbu yakni sumbu ordinat untuk memerinci tugas, dan sumbu absis yang menunjukkan waktu memulai kerja dan lamanya waktu kerja. Dari sisi ini terdapat kemungkinan kegiatan yang waktunya bersifat serial dan kegiatan yang waktunya tumpang tindih. Diantara kelemahan diagram Gannt ini adalah (1) tidak ada gambaran hubungan antar kegiatan, (2) kegiatan kritis yakni kegiatan yang mempengaruhi lancar tidaknya kegiatan lain, tidak dapat diidentifikasi, (3) Terpaksa diagram harus diganti seluruhnya, manakala ada updating informasi. Walau demikian, pengaruh perubahan pada kegiatan proyek sukar diidentifikasi. Diagram Milestone Disebut juga sebagai diagram struktur. Rincian kerja menggambarkan unsur fungsional dan hubungannya. Struktur diurai pada struktur yang lebih kecil dan urutan hirarkisnya, sepanjang elemen struktur tersebut dapat dikelola (manageable).

Teknik Delphi, Delphi Technique, adalah peramalan masa depan tanpa di intervensi lebih dahulu peruntukan perencanaan. Dilakukan oleh kelompok ahli melalui tujuh langkah sebagai berikut. (a) Presentasi latar belakang permasalahan dan informasi lain terkait permasalahan, (b) Partisipan membuat atau memilih ramalan melalui kuesioner yang telah disiapkan panitya, (c) Pengumpulan dan pentabulasian hasil kuesioner. Hasilnya diinformasikan pada partisipan, (d) Kuesioner dibagikan lagi pada partisipan, (e) Kuesioner yang telah diisi ditabulasikan lagi disertai argument tentang jawaban-jawaban tersebut, (f) Kuesioner dibagi untuk ketiga kalinya, (g) Hasil kuesioner ditabulasikan lagi dan diolah secara statistic. Proses ini memberi peluang luas bagi kelompok ahli untuk merubah pendapat tanpa merasa segan kepada kolega partisipan lain. PERT (Program Evaluation and Review Technique). PERT berupa diagram kegiatan, yang bersifat (a) sekuensial, (b) mengurai rinci kegiatan secara sistimatik (apa mendahului apa), apa yang harus diselesaikan sebelum yang lain dimulai, (c) rincian apa hambatan kepada apa. PERT dapat digunakan pada segala kegiatan, mulai formulasi rencana sampai pada pelaksanaan suatu rencana. Simbol-simbol dalam gambar PERT berupa lingkaran dan panah. Lingkaran merepresentasikan peristiwa sedangkan panah merepresentasikan kegiatan. Selain peristiwa pertama dan terakhir, maka setiap peristiwa berfungsi ganda yakni sebagai pendahulu (predecessor) dan peristiwa yang mengikuti (successor). Dua hal yang harus dhindari yaitu keadaan menggantung ( a dangle) dan keadaan melingkar (a loop). A Dangle adalah peristiwa yang tidak memiliki successor. Sedangkan a loop adalah bila terjadi kegiatan urutan berikutnya (successor) menjadi peristiwa pendahulu (predecessor), sesuatu yang mustahil mestinya. 3 1 4 2 5 Gmbar ttg dangle no.5 2 3 keadaan melingkar 6 1

Cara Membuat Gambar PERT Pertama, memikirkan dan menuliskan semua peristiwa yang ada dalam suatu pelaksanaan proyek perencanaan. Peristiwa kecil boleh digabung-gaungkan sedangkan peristiwa besar bias saja diuraikan jadi beberaoa peristiwa. Kedua, setiap peristiwa beri nomor berurut sesuai urutan kejadian peristiwa. Ketiga, daftar peristiwa dibuat serial dengan memulai dari peristiwa terakhir. Keempat, urutkan nomor satu peristwa dengan nomor peristiwa lain yang terdekat. Contoh (bagi mahasiswa sudah berkeluarga) No Peristiwa 5 Peristiwa Mengikut perkuliahan Nomor peristiwa pendahulu 4

4 3 2 1

Registrasi masuk S2 Pemenuhan persyaratan Persiapan dana kuliah Kesepkatan keluarga

3,2 2, 1

Perhitungan waktu dibuat antar dua peristiwa yang bersambungan. Dari peristiwa satu ke peristiwa dua umpamanya dua minggu. Perkiraan waktu ini ada tiga macam, yakni tercepat, terlama, dan longgar. Dibarengi dengan pembuatan jadwal penyelesaian, keduanya merupakan manfaat dari PERT yang sangat penting bagi kebijakan manajemen. Waktu Perkiraan ini diperoleh dengan membagi tiga bentuk waktu perkiraan (optimis/sesuai rencana/KO, pessimis/perkiraan bila terdapat kekeliruan/KP, dan normal/perkiraan sangat mungkin selesai/KM) kemudian dibagi enam Rumusnya (KO+4KM+KP):6=WK. Pengetahuan waktu longgar untuk manajemen penting serta bermanfaat bagi (1) penundaan pinjaman uang ke bank, (2) mengurangi waktu tunggu manusia atau mesin, (3) menggunakan sumber-sumber berlebih pada kegiatan yang memerlukan. CPM (Critical Path Method). Manakala waktu longgar nol, maka manajer tidak punya waktu untuk menunda kegiatan. Penundaan berarti terganggu pelaksanaan proyek. Garis tanpa waktu longgar tersebut disebut alur kritis (Critical Path). Jalur kerja pada alur kritis harus mendapat perhatian penuh manajemen. Monitoring, supervisi harus betul-betul ketat pada alur ini. PPBS atau SP4 (Kaufman:132) PPBS adalah kerangka kerja dalam perencanaan melalui pengorganisaian informasi, analisis sistimatika, melalui pendekatan penganggaran. PPBS memperlihatkan untung rugi setiap alternative yang dipilih, dilihat dari tujuan yang ingin dicapai, baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Biaya, keuntungan, dan kelayakan harus dideskripsikan secara lengkap, supaya pemimpin kebijakan tahu betul program yang paling menguntungkan. Dalam PPBS, perencanaan jangka panjang merupakan sesatu yang rutin; revisi rencana dan program dapat dilakukan setiap saat; klasifikasi kegiatan berdasarkan program dan hasilnya, bukan struktru jabatan-jabatan, menggalakkan koordinasi, ntuk keterpaduan perencanaan antar unit/departemen, kemajuan diukur berdasarkan tahapan kerja, penilaian terhadap program berdasarkan tolok ukur kerecapaian tujuan yang holistic. Anggapan yang penggunaan konsep PPBS adalah sumber yang diperlukan terbatas, serta orientasi kuat terhadap efisiensi dan efektivitas program. Ciri lainnya adalah sebagai berikut. 1. Penetapan tujuan secara nasional, hal in berarti bersifat top down, 2. Menghubungkan tujuan umum dengan tujuan khusus, dan 3. tujuan khusus dengan sumber-sumber yang diperlukan, disamping 4. menghubungan masukan instrumental dengan uang yanag diperlukan. Kebaikan dan Kelemahan PPBS. Menurut Tim Diknas (82/83:44) penggunaan PPBS atau SP4 memberikan keuntungan :

1. Taksonomik,yaitu penggolongan kegiatan berdasarkan tujuan, sehingga kegiatan strategic tidak ada yang dilupakan. 2. Analitik, yaitu perbandingan antara keuntungan dan kerugian alternatif kegiatan. 3. Proyektif, yaitu pemberian arah pada perencanaan jangka panjang. 4. Evaluatif, yaitu memberikan kemudahan untuk menilai keberhasilan program dan efektifitas penggunaan sumber-sumber. Adapun kelemahan kelemahan SP4 adalah sebagai berikut: 1. Kesukaran mendefinisikan tujuan dan menciptakan program untuk mencapai tujuan, maka seringkali perencana keliru melaksakannya. Kekeliruan itu akan mengakibatkan pemborosan sumber-sumber yang telah dipergunakan. 2. Biasanya alternatif yang dihasilkan tidak banyak berbeda satu sama lain. Penciptaan alternatif kadang hanya merupakan pemborosan waktu semata-mata. 3. SP4 cenderung hanya memberikan tekanan pada sasaran yang bersifat kuantitatif dan dapat diukur berdasarkan analisis untung rugi. Oleh karena itu, seringkali mengabaikan tujuan kualitatif yang sukar diukur seperti perkembangan afektif dan emosional. 4. System informasi yang mendukung dilaksanakannya SP4 harus lengkap. Kekurangan data dalam perencanaan dapat mengakibatkan kesalahan penentuan prioritas, alokasi biaya, dan perkiraan waktu penyelesaian program. 5. Suatu program tidak selalu berdiri sendiri (mutually exclusive). Karena itu satu program untuk satu tujuan akan merupakan pemborosan sumber-sumber yang sudah langka. Merencanakan Pekerjaan Persyaratan untuk keberhasilan rendik ini adalah, pertama, komitmen untuk membuat perencanaan yang dibuat oleh seluruh partner pendidikan, dan kedua, komitmen menyiapkan alat perencanaan khususnya terkait dengan mendeskripsikan memperkirakan kebutuhan dan analisis sistem (need assessment and system analysis), serta mencari orang yang tepat mengerjakannya. Tanpa SDM yang mumpuni, maka instrumen tersebut akan muspra. Evaluasi dan Revisi Setelah selesai pembuatan perencanaan, langkah seterusnya kegiatan evaluasi dan revisi, guna mencari setepat-tepatnya relevansi dan respon terhadaap situasi dan kondisi lapangan(K). Dengan dmikian evaluasi merupakan kegiatan akhir dari siklus proses perencanaan (BT). Evaluasi berkaitan dengan persoalan pekerjaan yang belum terpenuhi sedangkan revisi berkaitan dengan solusi apa yang perlu dilakukan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Evalusi ada dua jenis : Evaluasi perkembangan (formative Evaluation) dan evaluasi sumatif (summative Evaluation). Evaluasi perkembangan terkait dengan penentuan tingkat pemanfaatan proses dan prosedur untuk menghasilkan keluaran, sedangkan evaluasi summative terkait dengan keluasan keluaran yang dihasilkan. Dengan evaluasi sumatif, diketahui 1. Sejauhmana capaian memenuhi persyaratan yang didasarkan pada keadaan dunia real, tidak terhenti pada besarnya peluang. 2. Jaminan kelangsungan system dan kriteria evaluasi yang terukur. Evaluasi Lingkungan Pendidikan Lingkungan pendidikan merupakan tempat pelajar menggali, mendalami, menemukan, dan merubah dirinya. Tempat pelajar memahami kebutuhan dan mengembangkan harapan, cita-cita, mengekspressikan dan mencoba, mengkombinasikan informasi, dan menciptakan pengalaman

baru. Skemanya dapat dibuat, umpamanya siswa, rangsangan, pesan, proses pembelajaran, pengaruh, tanggung jawa, dan umpan balik bagi pengembangan atau perbaikan. Semua bagian tersebut dapat dievaluasi. Menjadi ukuran umum dalam mengevaluasi lingkungan ini adalah factor biaya, yang karena krusialnya kadang tanpa memperhatikan nilai yang disumbangkannya bagi perubahan siswa. Dalam kaitan inilah perlu diketahui evaluasi terkait utilitas. Evaluasi Utilitas Utilitas bersifat subjekttif, kecendrungannya memakai preferensi pribadi. Hal ini memperlambat proses investigasi. Antitesisnya memakai pendekatan matematik. Hal ini dimungkinkan karena ada aksioma urutan. Dari sini muncul evaluasi yang berbasiskan pemakaian kuantifikasi. Ada tiga sifat dari konsep utilitas. (1) preferensi pribadi, (2) mencari bandingan dengan alternative-alternatif, dan (3) alokasi sumber daya berdasarkan utilitasnya. Konsep utilitas ini dapat mengatasi kebingungan pembuatan perencanaan dan prosedur, terkait dengan evaluasi suatu program kegiatan. Revisi, merupakan dorongan perubahan melalaui kinerja data yang menunjukkan tempat modifikasi harus dibuat untuk pemenenuhan kebutuhan dan persyaratan-persyaratannya. Hakikat perubahan ditandai oleh adanya revisi. Rrevisi bewrarti modifikasi logika dan perencanaan atau menempatkan kembali fungsi dan tugas kepada posisi yang dirancangkan. Revisi lebih mudah dikerjakan berbarengan dengan perencanaan dibanding berbarengaan dengan pelaksanaan.