Anda di halaman 1dari 7

Perencanaan Pendidikan Tinggi Ada tiga faktor terjadinya perencanaan pendidikan tinggi.

Pertama, pendidikan tinggi mewarisi apa yang terjadi pada pendidikan sebelumnya; kedua, pendidikan tinggi bersifat sukarela, maksudnya warganegara atau penduduk di berbagai Negara diberi kebebasan untuk memasuki atau tdak memasuki perguruan tinggi, sesuatu yang sangat berbeda manakala dibandingkan dengan pendidikan dasar dan menengah; ketiga, pendidikan tinggi lebih banyak terkait dengan pasaran kerja dibanding level pendidikan lainnya, sebab keluaran perguruan tinggi dilihat dari sisi usia dan tanggung jawab sosial, adalah orang-orang yang seharusnya memiliki penghasilan untuk membiayai kehidupannya. Dalam kaitan ini, maka perencana pendidikan tinggi harus dapat merencanakan pendidikan dalam batasan-batasan tersebut. A. Bentuk Lapangan Perencanaan pendidikan tinggi berkembang sesuai dengan perubahan yang terjadi pada fungsi pendidikan tinggi, disamping sebagai konsekuensi dari perluasan peran perencanaan. Usaha sistimatik pertama perubahan perencanaan pendidikan tinggi dibuat Uni Soviet dengan mengorganisasi staf universitas pada tahun 1920. Pada tahun 1930 mereka meramalkan kebutuhan tenaga kerja untuk lima tahun ke depannya. Perencanaan pendidikan tinggi dilakukan negara Barat pada bidang hukum tahun 1944 sebagai respon institusi pendidikan tinggi di AS terhadap kebutuhan pendaftar yang tiba-tiba melonjak. Perancis, Swedia, dan Inggeris merupakan para inovator dalam integrasi perencanaan pendidikan tinggi dengan perencanaan nasional. Di Inggeris, Laporan Robbins (1963), merupakan blueprint penggantian dari pendekatan SDM ke pendekatan social demand (Burgerss 1972). Dalam pada itu di negaranegara miskin Eropa perencanaan pendidikan tinggi dibuat berdasarkaan ramalan kebutuhan SDM. Hal ini sebagai respon dari kekurangan buruh yang sangat banyak dalam pengembangan negeri, disamping kepercayaan bahwa perencanaan merupakan prasyarat kemajuan ekonomi. Dalam pada itu usaha mngenalkan perencanaan pendidikan tinggi-pun diperkuat oleh agen-agen internasional. Sementara pendidikan tinggi meluas ke berbagai negara, bidang, sifat, dan lapangan penerapan perencanaan-pun menjadi semakin meluas. 1) Sifat Perencanaan. Disini terdapat jarak antara perencanaan kuantitatif (pendaftar, staf, pengeluaran) dengan perencanaan kualitatif (bidang, kurikulum, dan pengajaran). Pada hakikatnya kedua bidang tersebut kadangkala tumpang tindih. 2) Konteks Perencanaan. Perencanaan pendidikan tinggi memiliki keragaman tujuan ideal dengan perbedaan perencanaan yang bercirikan hal-hal berkenaan dengan ekonomi. Contoh, perencanaan ekonomi secara terpusat dengan perencanaan normatif, atau ekonomi pasar dengan perencanaan indikatif; keterlibatan pembiayaan negara bagian pada pendidikan tinggi; dan perbedaan perkembangaan ekonomi. 3) Tingkat kesatuan. Hal ini dapat pada perencanaan tingkat provinsi atau negara kesatuan, atau perencanaan kelembagaan, yang doipraktekkan oleh lembaga-lembaga pendidikan individual. 4) Phase Perencanaan. Jarak utamanya antara pengenalan perencanaan (ramalan, prediksi, dan permodelan) dengan implementasi (penguatan atau kebijakan untuk mencapai target). 5) Masa Perencanaan. Dapat berbentuk long term plan yakni 10 atau 15 tahun sebagai pembimbing umum tingkat nasional, short term plans dalam rangka bimbingan yang lebih rinci, atau medium term plans untuk perencanaan yang bersifat penyesuaian dan putaran.

A.

Metode Perencanaan Pendidikan Tinggi

Model-model perencanaan pendidikan tinggi telah berkembang menyentuh bidang-bidang lain. Namun pada garis besarnya dapat dikatagorisasikan pada dua model yakni outline model nasional dan model institusional. Keduanya digunakan untuk ekonomi pasar dan pendekatan mengikuti perencanaan pemerintah pusat. 1) Pendekatan Kebutuhan Masyarakaat (The Social Demand Approach) Model ini terkait dengan jumlah tuntutan individu pada pelayanan pendidikan tinggi sesuai biaya yang ditentukan. Faktanya, pendekatan ini memprediksi jumlah pendaftar yang akan datang dengan didasari perhitungan terhadap faktor yang menentukan kebutuhan masyarakat. Ada enam faktor yang menentukan yaitu (a) demographic, (b)pendidikan, (c)finansial (pendapatan keluarga dan biaya pendidikan tinggi), (d)budaya dan masyarakat (seperti realitas perbedaan), (e)pelayanan (keadaan dan kualitas layanan), dan (f)pilihan-pilihan individu (harapan pengembalian biaya). Pertimbangan faktro-faktor ini terkait pada pendaftar mahasiswa baru masa yang akan datang, dan para perencana dapat menyerap keadaan yang konservatif atau yang aktif. Kebijakan posisi aktif biasanya untuk mendorong kebutuhan masyarakat dan menciptakan peluang-peluang yang sama. Dengan demikian, perencanaan yang diasarkan pada kebutuhan masyarakat sering terkait dengan kebijakan pemasukan dan rendahnya biaya pengeluaran, bantuan siswa dan program yang menjadi orientasi kelompok minoritas. Tehnik memprediksi pendaftar memiliki beberapa prinsip, seperti metode ratio pendaftar, yang didasarkan pada perhitungan antara pendaftar ke perguruan dengan populasi usia mahasiswa, dan metode cohort (cohort survival method), yang dikaitkan dengan kemungkinan cohort pada tingkat keberhasilan. Keduanya sama-sama memerlukan data mahasiswa mengulang, dropouts, bahkan data tentang faktor penentu kebutuhan masyarakat. Perencanaan pada negara-negara miskin juga perlu memperhitungkan kendala lain yakni kapasitas lembaga.. Manakala tujuan nasional lebih rendah dari jumlah warga yang terdidik, pendekatan model ini kurang diminati. Dan lantaran model ini muncul atas dasar teori ekonomi bagian (particular economic theory) maka model ini menawarkan sekaligus dua hal, yakni implikasi pembiayaan dan konsekuensi SDM dari ramalannya. 2) Pendekatan SDM (Manpower Approach) Ide dasarnya adalah bahwa pertumbuhan ekonomi harus disiapkan dengan tenaga terampil dan karenanya harus direncanakan berdasar kebutuhan masyarakat terhadap buruh. Dalam kerangka pikir ini struktur keterampilan SDM harus diramal dan kemudian hasil ramalan tersebut dirubah pada kemungkinan angka pendaftar di perguruan tinggi. Teori terkuat dari model ini adalah bahwa pasar tidak dapat dirinci lebih ditil, juga kekosongan waktu dan karena itu harus dipantau oleh instrumen perencanaan untuk penyesuaian pada perubahan jumlah harga. Beberapa asumsi terkait dengan ragam metode perencanaan yang berorientasi SDM di perguruan tinggi ini, bahwa ada hubungan pasti antara input kualifiaksi SDM dengan penghasilan ekonomi; bahwa pekerja tidak dapat berreaaksi secara lancar (smoothly) untuk merubah gajih/penghasilan; bahwa elastisitas bagian antara para para pekerja dari pelatihan yang berbeda adalah mendekati nol; dan bahwa suplai SDM yang memenuhi kualifikasi, tidak terikat pada kebutuhan. Metode-metode berikut dapat dibedakan dalam meramal kebutuhan SDM. 2a) Metode Meramal Pekerja. Hasil survei pekerja tentang lowongan kerja masa depan agak meragukan. Terdapat inkonsistensi yang tinggi sebagai hasil dari penurunan respon para

pekerja, sebab kurangnya definisi yang sama dari kualifikasi, dan sebab ketidaksamaan pasaran kerja. 2b) Metode Perbandingan. Metode ini menghitung ramalan persyaratan masa depan SDM melalui observasi hubungan antara struktur pekerjaan dan struktur pendidikan pada negaranegara terpilih yang secara ekonomi ada di barisan terdepan negara. Berdasarkan pada hipotesis penyimpangan universal dari pertumbuhan, metode ini kesimpulannya bersifat kasar. 2c) Metode ratio pekerjaan. Tulang punggung metode ini adalah membagi secara adil jenis-jenis SDM kepada parameter populasi : tenaga kerja/buruh, segmen lain dari buruh terampil, pendaftar pendidikan tinggi, keperluan jenis pelayanan. Rationya diproyeksikan kepada perkiraan persyaratan masa depan. 2d) Metode fixed coeffcient. Metode ini berdasarkan kepada struktur ramalan pekerjaan, produktivitas buruh, output tiap industri, dan melalui kesamaan pekerjaan dan kualifikasi pendidikan tinggi. Ramalan sektor kebutuhan spesialis dan pendaftar dibuat sebagai dasar hubungan pasti. 2e) Ramalan persyaratan SDM untuk spesialis sebagian penduduk. Ratio output buruh, matrik input-output, coefficient staf, dan ratio pekerjaan dikombinasi untuk mengestimasi jumlah spesialis yang akan dilatih untuk pekerjaan khusus seperti dokter atau guru. 3) Cost-Benefit Methods Tidak seperti perencanaan berorientasi SDM, metode ini sangat berorientasi pasar dan isarat-isarat pasar. Untuk mendukung metode ini pendidikan tinggi merupakan investasi biaya yang pada perhitungan waktu tertentu akan memberi tambahan penghasilan. Analisis pada metode ini mengkombinasikan informasi tentang biaya pendidikan tinggi yang berlaku (biaya kontan dan penghasilan yang sedang berlaku) dan informasi tentang value pasaran buruh. Hal ini terkait dengan orang-orang yang jadi figur llulusan. Beberapa masalah yang mengganggu perhitungan penghasilan adalah : Pertama, proporsi tambahan pendapatan dapat menjadikan pendidikan tinggi sebagai alat yang tidak dapat diperkirakan. Kedua, perkiraan keuntungan non moneter dari hasil pendidikan sukar untuk dipahami. Bagaimanapun analisis cost-benefit didasarkan kepada observasi lintas sektor, mengabaikan kondisi supply-demand masa depan, yang merupakan kondisi krusial dalam perencanaan. Konsekuensinya, metode effektivitas biaya (cost-effectiveness methods) dipergunakan sebagai cara perbandingan antara perkembangan ekonomi dengan kegiatan pelatihan. Walaupun kedua pendekatan (metode SDM dan metode cost-benefit) ini dianggap memiliki perbedaan yang tajam, namun keduanya tidak sama-sama eksklusif. Keduanya memberikan sumbangan yang lebih baik terhadap sumber daya pendidikan tinggi. Kedua pendekatan inipun dapat diintegrasikan kepada metode social-demand. 4) Perencanaan Institusional Munculnya biaya-biaya dan naiknya tekanan untuk pertanggung-jawaban yang lebih besar dan lebih terbuka, telah memperkuat para perencana universitas untuk menyusun tujuan keluaran yang jelas dan untuk mencoba menghubungkan biaya input pada output. Dasar Perencanaan dan Sistem Manajemen (PSM) universitas adalah pengembangan dari suara mahasiswa-model alur melalui departemen dan tingkatan, adalah sebagai bentuk masa depan kebijakan izin masuk. Tugas selanjutnya dari PSM adalah menghitung biaya aktivitas utama dari lembaga. Penggunaan konsep aktivitas sebagai unit opersional telah membimbing perbandingan yang lebih baik dari biaya dan kemanjurannya. Analisis yang sensitif kemudian dihubungkan pada pelatihan, untuk mencapai angka pembiayaan umum dari program studi dan departemen.Sejumlah model

perencanaan institusional telah mempengaruhi negara-negara maju dan negara-negara berkembang. Model-model CAMPUS (Comprehensive Analytical Methods of Planning in University System), RRPM (Resource Requirement Prediction Models), CSM (Cost simulation Model), di Amerika Serikat, HIS (Hochschul Information System) di Republik Federal Jerman dan Organization for Economic Cooperation and Development sponsored Institutional Management in Higher Education Program telah menjadi pioner di lapangan. Pada 1976 sekiatr 400 Akademi di AS dihubungkan dengan type model CAMPUS. Walaupun tidak selalu berhasil , perencanaan pada tingkat universitas telah berusaha memfasilitasi secara rational alokasi sumber-sumber pada lembaga pendidikan tinggi. 5) Perencanaan pendidikan Tinggi dalam Perencanaan Ekonomi Terpusat Walaupun tehnik perencanaan pendidikan di negara-negara sosialis sangat terkait dengan konteks nasional, garis besar tehnik ini tetap dapat disketsakan. Pendidikan tinggi memiliki tiga fungsi, yakni memerankan pelatihan spesialis yang dibutuhkan oleh semua cabang ekonomi; peran sosiopolitik; dan peran merespon kepentingan individu untuk meningkatkan pendidikan. Sebagai konsekuensi peran pertamanya, perencanaan pendidikan di negara sosialis selalu terintegrasi dengan perencanaan menyeluruh dari masyarakat sebagai kesatuan besar. (a) Manpower Methods. Metode untuk memprediksi kebutuhan spesialis, mengklasifikasi tugas-tugas sesuai dengan survei tahunan pekerja, serta mengurai lowongan kerja masa depan berdasar jenis kegiatannya. Data dicocokkan dengan membagi secara adil jumlah spesialis pada satu cabang kegiatan kepada kekuatan buruh secara keseluruhan. Perhitungan kebutuhan SDM diperoleh dengan bermacam-macam metode yang jenuh dikombinasi dengan data pada struktur pekerjaan dari perusahaan terdepan dan dengan asumsi pengembangan tehnik, kenaikan produktivitas buruh, dan yang lainnya. Revisi tahunan dan alatalat koreksi digunakan untuk tujuan yang fleksibel dan penyesuaian. (b) Pendaftar. Sekali kebutuhan SDM dirancang untuk satu kekhususan, mereka sudah diterjemahkan pada pendaftar dalam berbagai disiplin dari pendidikan tinggi. Penerjemahan ditangani oleh tehnik yang beragam yang memasukkan secara tepat antara jenis pekerjaan dengan spesialisasi akademik. Secara bersamaan tantangan institusi dimasukkan pada perencanaan pendidikan tinggi melalui penggunaan tanda-tanda dan formula. (c) Perencanaan karir. Fungsinya termasuk perencanaan bagi tenaga kerja muda berpendidikan. Kombinasi dari prosedur selektifitas dan perencanaan karier, akan memasukkan pekerja lulusan universitas yang punya kualifikasi. B. Rancangan Perencanaan Pendidikan Tinggi Persoalan yang muncul dari meledaknya perencanaan perguruan tinggi dan perluasan krisis perguruan tinggi adalah hilangnya tujuan. Hal ini bisa dilihat berdasarkan ciri-ciri beberapa sinyal perubahan: 1) Sifat campuran dari fungsi dan output pendidikan menjadi lebih meluas. Sejak itu, batasan antara metode perencanaan menjadi kabur. Integrasi metodologi merupakan proses yang terus menerus. 2) Perbedaan antara metode yang digunakan dalam perencanaan ekonomi secara terpusat dan penerapan dalam ekonomi pasar ternyata mengalami kehancuran, dalam kasus yang pertama, peran tuntutan sosial jadi menguat, dan akhirnya banyak penekanan terhadap persyaratan pasar buruh.

3) Kasus kegagalan perencanaan kadang ditemukan pada ketiadaan efisiensi dalam implementasi. Phase krusialnya berimplikasi pada tiga hal. Pertama, pengembangan koleksi data, kedua, pelatihan yang tepat para perencana, dan ketiga, keterlibatan staf secara mendalam. 4) Bidang yang menyeluruh untuk dikembangkan adalah perencanaan kuantitatif. Seperti memakai tongkat ajaib, harapan terbesar ditempatkan melalui diagnosa rancangan pendidikan dan pada strategi belajar mengajar yang direformasi sejauh mungkin. 5) Para ahli ekonomi dan hukum pada perencanaan pendidikan tinggi kadangkala dipertanyakan; apa yang menjadi pokok utama pembuatan keputusan. Kritikpun keluar dari orang awam dan spesialis, dosen dan staf administrasi, serta unit-unit pembuat keputusan mikro dan pusat. Hasil kontroversi ini adalah politisasi perencanaan pendidikan tinggi. 6) Perencanaan pada negara-negara berkembang kadangkala alokasinya salah, dan investasi berlebihan dalam program biaya pendidikan ttinggi, bersama dengan sistem pendidikan kejuruan dan teknik yang berlebihan. 7) Penambahan pengalaman dalam perencanaan dan akumulasi dari perencanaan nasional dan institusional mendorong adanya evaluasi keuntungan real dari aktivitas perencanaan masa lalu sedemikian rupa seperti kenaikan penggunaan perencanaan masa depan. Kecenderungan dan issu hendaklah diperjelas untuk menurunkan prioritas pendidikan tinggi, meninjau sumber-sumber, dan membanyak keraguan terhadap ketepatan perencanaan yang dimaksakan. Pada saat yang sama, pendidikan tinggi lebih tertantang oleh dua faktor yang saling bertentangan. Pertama, oleh perluasan klien baru (khususnya pada negara maju) untuk pelayanan pendidikan seumur hidup, dan kedua, oleh pengakuan (khususnya pada negara sedang berkembang) terhadap kekuatan pelatihan informal pada pendidikan tinggi. Hal-hal inilah yang menjadikan perencanaan pada perguruan tinggi jadi sangat terbuka. Perencanaan Pendidikan Vocational Pendidikan vocational memiliki beberapa sebutan. Di Inggeris dikenal sebagai pendidikan lanjutan (further education), sedangkan di beberapa negara disebut pendidikan teknik (technical education). Pada umumnya diwadahi oleh lembaga polyteknik. Di AS disebutnya pendidikan vocational (vocational education). Berdasar kan nama-nama tersebut, kita dapat kemukakan tiga karakter pokoknya. (a) program dimaksudkan untuk melayani orang yang mencari/mau masuk dunia kerja di atas tingkat buruh tanpa keterampilan (unskilled labor); (b) tugas-tugas untuk orang yang disiapkan tanpa persyaratan sebagaimana syarat untuk sarjana; (c) porsi latihan ditawarkan dalam bentuk umum belajar (sifat ini membedakan pendidikan vocational dari on the job training yang secara lengkap berada di bawah kontrol para pekerja). Pendidikan vocational ini memiliki dua bentuk. Bentuk perencanaan pertama adalah memasukan sistem pendidikan pada upaya bantuan menemukan kerja bagi buruh terampil. Bentuk perencanaan kedua adalah mencari akses untuk kerja dengan berbagai keuntungan sambil menghilangkan perbedaan jenis kelamin dalam struktur kerja. Yang pertama murni pendekatan ekonomi sedang yang kedua pendekatan sosial.
A. Perencanaan Ekonomi

Tugas pokok adalaha mengestimasi kebutuhan nyata (the net demand) jenis-jenis keterampilan masa depan dan memilih aneka ragam lembaga pelatihan yang dapat menghasilkan sejumlah keterampilan khusus yang cocok dangan keterampilan yang dibutuhkan. Kebutuhaan

nyata adalah kebutuhan kseluruhan jumlah tenaga kerja dikurangi sejumlah tenaga kerja yang dilatih di luar system pendidikan vocasional. Objek pokok platihan orang dalam keterampilan kerja adalah latihan dalam tugas kerjanya (on-the-job-training) diorgaanisasi atau tidk diorganisasi. Di Negara Barat pelatihan demikian dijkaitkan dengan sector swasta. Hal ini menjadi masalah tersendiri dalam perencanaan pendidikaan vocasional. Kebutuhan keseluruhan adalah jumlah kebutuhan baru plus kebutuhan penempatan kembali. Kebutuhan baru menampilkan perubahan jumlah pekeerja dengan keterampilan yang sudah tertentu yang akan dikerjakan pada bagiaan akhir dari periode perencanaan dalam tugasyang mempersyaratkan percobaan keterampilan. Hal ini bisa positif bisa negative. Kebutuhan penempatan kembali merujuk pada sejumlah orang yang memenuhi syarat sebagai tenaga kerja dalam keterampilan tertentu selama periode perencanaan, menempati pekerja yang mati, pekerja yang mengundurkan diri, atau pindah pekerjaan. Pengisian kembali kebutuhan tenaga kerja biasanya dapat membawa nilai-nilai positif. Memperkirakan kebutuhan baru untuk tujuan perencanaan pendidikan vocasional merupakan proses yang tidak pasti (uncertain process), khususnya berkenaan dinamika ekonomi yang bertumpu pada perkembangan teknologi. Menghadapi kebutuhan keterampilan tenaga kerja jangka pendek, pekerja dapat memilih beberapa pilihan, seperti menempatkan pekerja dengan alat baru, mengupgrade pekerja terlatih paruh waktu dalam tugasnya, atau mengurai pekerjaan pada bagian-bagian yang lebih sederhana. Pekerja kadangkala merahasiakan cara mereka merespon kekurangan tenaga kerja jangka pendek. Walaupun kebutuhan baru dapat diperkirakan berdasarkan ramalan hubungan sebelumnya antara output industri dengan jumlah pekerja berketerampilan, namun perkiraan kebutuhan baru ini dapat meleset saat estimasi output industri masa depan dikoreksi. Pada beberapa keadaan, mengestimasi kebutuhan tenaga terampil, estimasi jumlah orang yang dilatih di luar system pendidikan vocasional, dapat jadi bagian tugas untuk mendatangkan estimasi kebutuhan nyata untuk produk system itu sendiri. Sebagai catatan, banyak pelatihan demikian dikerjakan pada industri swasta, dan kadang-kadang sangat informal dan tidak terdokumentasikan. Akibatnya kadangkala membuat substitusi berhadapan dengan pekerjapekerja terampil. Karena itu suplai pekerja baru yang berketerampilan (hasil dari pelatihan diluar system pendidikan vocasional) merupakan sesuatu yang sukar untuk diestimasi secara tepat, terlebih hal itu bila merupakan tuntutan baru. Karena itu pendidik vocasional hendaklah extensive menggunakan proyeksi SDM, dalam mengatur besaran tawaran program-program khusus. Hal ini berarti mereka harus betul-betul baik memperkirakan antara pendaftar program tentang keterampilan yang berbeda-beda, dengan keseluruhan kebutuhan nyata dari suatu Negara atau suatu provinsi. Gambaran masalah tentang pendaftar sebagai indicator program yang lengkap dapat menjadi penting untuk menghitung jumlah tempat pelatihan pada institusi yang beerbeda-beda (system quota). Idealnya, setiap institusi hendaklah dikerjakan dengan biaya yang sangat efisien namun tetap efektif. Di AS, tempat kebiasaan membuat keputusan dari pemerintah local begitu kuat, administrator pusat atau provinsi, kurang memiliki kekuatan control pada program vocasional, karena itu attainment of distribusi efektivitas biaya dari pertanggungjawaban pelatihan, kurang disukai. Lebih dari itu, distribusi rational yang kaku dari pertanggung-jawaaban pelatihan dapat berbeda pada distribusi, yang awalnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan social. B. Perencanaan Sosial Perencanaan sosial merupakan gejala yang relatif baru dalam pendidikan vocasional. Peraturan tentang itu ditemukan tahun 1976 di Kongres AS. Sejak itu Negara bagian telah

dituntut untuk melaksanakan pelatihan dan pembimbingan bagi (1) orang yang secara ekonomi dan pendidikan kurang beruntung, (2)orang yang memiliki kekurangan phisik, dan (3) bagi orang-orang yang menjadikan Bahasa Inggeris sebagai bahasa kedua. Negara bagian dan penguasa setempat beralasan, berpikir bukanlah persyaratan bagi perbedaan jenis kelamin dalam pelatihan dan kerja. Peraturan tidak cukup banyak pengaruhnya untuk dicatat, namun ini merupakan ciri awal bentuk keberhasilan pencapaian tujuan-tujuan sosial.