Anda di halaman 1dari 3

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Telur Ikan

Hubungan antara karakteristik induk, jumlah telur yang dihasilkan dan jumlah benih yang dihasilkannya merupakan dasar untuk penelitian jumlah induk yang diperlukan. Kelangsungan hidup benih bergantung kepada beberapa faktor. Sebagai contoh, selama awal ontogeni, embrio atau kantong kuning telur larva bisa saja mati karena masalah fisiologi dan perkembangan, yang dalam kasus yang sama dapat menghasilkan kerugian yang signifikan disamping adanya pemangsaan pada telur dan larva (Thorsen et al., 2003). Kualitas telur yang dihubungkan dengan kelangsungan hidup benih, merupakan hal yang sangat menarik untuk diteliti. Kualitas telur dipengaruhi oleh karakteristik induk betina, baik secara genetik, stres, kondisi, ukuran tubuh, masa bereproduksi dan dengan pengecualian pada faktor genetik, karakter-karakter ini berkaitan dengan variasi musiman. Ukuran telur, merupakan hal yang paling sederhana dan umum digunakan untuk menentukan kualitas telur. Data yang ada menunjukkan adanya korelasi positif antara ukuran telur dan kelangsungan hidup larva. Pengetahuan tentang proses yang mempengaruhi fekunditas dan kualitas telur sangatlah penting untuk dapat memahami jumlah induk yang akan digunakan dalam kegiatan budidaya (Amstrong et al., 2001 dalam Thorsen et al., 2003). Potensi fekunditas pada beberapa spesies ikan dapat diduga dengan cara menghitung jumlah telur yang matang di dalam ovari sebelum memijah. Namun demikian, oosit dapat pula mengalami kerusakan karena folikel sel mengalami atresia dan diserap kembali. Sedikitnya perbedaan antara ukuran oosit yang tidak matang dan yang matang dapat menyebabkan sulitnya pendugaan potensi fekunditas pada beberapa spesies. Jumlah oosit yang matang dan dikeluarkan oleh induk selama pemijahan merupakan fekunditas riil. Untuk mendapatkan informasi ini, beberapa peneliti melakukan percobaannya di laboratorium yang memungkinkan dilakukannya monitoring produksi telur tiap individu. Untuk tujuan ini, maka diperlukan deskripsi dan evaluasi beberapa prosedur penelitian. Jika induk yang akan diteliti berasal dari alam, aspek-aspek berikut akan membantu lancarnya penelitian. Namun demikian, penulis sengaja memasukkannya dalam tulisan ini karena sebagian besar dari dari isinya memiliki kesamaan manfaat terhadap induk hasil budidaya. Aspek-aspek tersebut antara lain (i) domestikasi ikan liar, (ii) fasilitas lab/hatchery dan penanganan, (iii) pakan induk, (iv) pe-labelan (tagging) ikan, (v) monitoring kematangan, (vi) pemberian makan selama pemijahan, (vii) kondisi pemijahan, (viii) teknik koleksi telur, (ix) pemijahan ikan dan stres, (x) pembuahan buatan, (xi) analisis sample telur awal, dan (xii) kualitas telur dan larva dan mortalitas.

Selama penelitian di laboratorium atau di hatchery; kondisi lingkungan, nutrisi, dan kebiasaan ikan akan berbeda dengan di lingkungan alami. Hal ini dapat menurunkan validitas data hasil ekstrapolasi yang diperoleh pada ikan budidaya dibandingkan dengan popuasi alami. Sebagai contoh, Atlantic cod yang dipelihara dalam kondisi budidaya; tahapan perkembangan telurnya biasanya akan lebih cepat, matang kelamin lebih muda dan berukuran lebih kecil dibandingkan dengan ikan liar. Meskipun seringkali tidak efektif, adalah umum untuk mengatur pemberian makan dan modifikasi kondisi bak untuk mengurangi efek domestikasi. Efek domestikasi dapat pula diminimalkan dengan cara memelihara ikan liar tersebut hanya selama masa penelitian. Walaupun, penangkapan dan pemindahan ikan liar ke laboratorium tetap saja menyebabkan stres. Ikan koleksi tersebut membutuhkan waktu untuk dapat beraklimatisasi dengan wadah budidaya, dan pada akhirnya untuk mampu makan secara normal sebelum penelitian dimulai. Protokol penelitian untuk penelitian yang berbede menunjukkan bahwa aklimatisasi ikan cod Atlantic alam, haddock (Melanogrammus aeglefinus), flatfish dan herring (Clupea harengus) terhadap wadah budidaya umumnya memerlukan waktu 1-4 bulan. Ikan memiliki beberapa kebutuhan seperti volume wadah, kualitas air dan intensitas cahaya. Volume bak dan kepadatan ikan yang direkomendasikan tergantung kepada bentuk bak dan debit air. Adalah suatu hal yang penting jika memberikan ikan tersebut lingkungan yang sesuai dengan kebiasaan awalnya seperti di alam. Umumnya, bak yang digunakan untuk akuakultur berbentuk bulat dengan posisi pembuangan di tengah dan air masuk dari pinggir bak. Karamba jaring apung dengan bahan utama berupa jaring dengan ukuran mata jaring yang sesuai juga dapat digunakan sebagai wadah. Intinya adalah bahwa wadah budidaya yang akan digunakan dalam penelitian disesuaikan dengan jenis dan kebiasaan ikan tersebut selama di alam bebas, termasuk salinitas, jenis palagis atau demersal atau pun periode pencahayaan. Beberapa penelitian reproduksi memerlukan monitoring ukuran tubuh selama penelitian. Seringnya penanganan, acapkali menyebabkan stres atau luka-luka pada ikan. Untuk tujuan ini, dapat digunakan penanda/tagging. Pengukuran tubuh dan tagging dilakukan setelah sebelumnya membius ikan dengan bahan anestesi. Laju pertumbuhan ikan dan kondisinya berdampak besar terhadap produksi telur. Untuk tujuan memproduksi induk dengan faktor kondisi yang representatif untuk ikan dari alam, adalah penting untuk mengatur jumlah pakan dan kualitasnya. Pada ikan budidaya, yang seringkali terjadi adalah terjadinya penurunan kualitas telur. Dan acapkali pula dialamatkan bahwa penyebabnya adalah karena penurunan kualitas genetik. Padahal boleh jadi, penyebabnya adalah karena rendahnya kualitas pakan yang diberikan. Kualitas pakan juga berpengaruh terhadap pertumbuhan, kematangan ovari dan kualitas telur. Hal ini telah dilaporkan oleh Doroshov and Van Eenennaam (2000) pada ikan sturgeon.

Kualitas pakan juga berdampak pada komposisi telur. Penelitian Palacios et al. (2002) pada udang pasific putih tentang komposisi lemak dan asam lemak dalam telur menunjukkan bahwa keduanya berhubungan erat dengan kelangsungan hidup larva. Secara lugas penelitian ini menjelaskan bahwa komposisi fosfolipid spesefic pada telur peneid dapat digunakan (berpotensi) sebagai indikator kualitas larva. Suhu air seringkali digunakan sebagai parameter kualitas air yang berpengaruh terhadap kecepatan perkembangan telur. Pada kisaran yang ambien, peningkatan suhu air dapat juga digunakan untuk mengurangi tumbuhnya jamur. Geffen et al. (2006) melakukan penelitian untuk mengamati hubungan antara suhu air dan kelangsungan hidup larva pada ikan Irish Sea cod, Gadus morhua. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa peningkatan suhu air selama masa penetasan dapat meningkatkan mortalitas telur. Walaupun penelitian tersebut juga masih memiliki kelemahan, karena tidak dilakukannya pengujian kualitas telur terhadap tiap individu ikan peneltian. PUSTAKA Doroshov, S.I., and Van Eenennaam, J.P. 2000. White sturgeon domestic broodstock management. Reporting Period No. 4/01/99-3/31/00. Geffen, A.J., Fox, C.J., and Nash, R.D.M. 2006. Temperature-dependent development rates of cod, Gadus morhua eggs. Journal of Fish Biology: 69, 1060-1080. Available online at http://www.blackwell-synergy.com. Palacios, E., Racotta, I.S., Heras, H., Marty, Y., Moal, J., and Samain, J-F. 2002. Relation between lipid and fatty acid composition of eggs and larval survival in white pacific shrimp (Penaeus vannamei, Boone, 1931). Aquaculture International. November 2002; 9(6): 531-543. Thorsen, A., Trippel, E.A., and Lambert, Y. 2003. Experimental methods to monitor the production and quality of eggs of captive marine fish. J. Northw. Atl. Fish. Sci., Vol. 33: 55-70.