Anda di halaman 1dari 2

Publikasi Pribadi

August 1, 2011

Saya dan Instrumentasi Meteorologi


Oleh: Zainal Abidin

Saya bernama Zainal Abidin. Saya resmi diterima di program studi Meteorologi, ITB pada bulan Agustus 2004. Saya mengenal instrumentasi pertama kali ketika sedang mengambil mata kuliah wajib semester 4 (thn 2006), yaitu: Metode Observasi Cuaca dan Instrumentasi Meteorologi. Menjelang UAS, dosen pengajar memberikan dua pilihan jenis UAS, yaitu: 1. UAS Tertulis, dengan kemungkinan nilai A, B, C, D dan E. 2. Proyek Inovasi, dengan kemungkinan nilai A dan E. Nilai A jika instrumen yang dibuat dapat berfungsi dan E jika gagal. Setelah berdiskusi dengan teman dekat saya, kami memutuskan untuk memilih proyek inovasi. Kami tertantang untuk mendapatkan pengalaman baru sekaligus memperoleh nilai A. Selama dua minggu mengerjakan instrumen di Laboratorium, saya mulai mengenal mikrokontroler dan sensor. Saat itu saya bersama teman merakit sensor temperatur udara dan sensor kelembaban udara. Kami menggunakan LM35DZ sebagai sensor temperatur udara. Sedangkan sensor kelembaban udara yang kami presentasikan ke dosen adalah hasil modifikasi sensor kelembaban udara dari radiosonde. Keluaran (output) kedua sensor tersebut kami hubungkan (interface) dengan mesin perekam data (data logger) milik dosen. Data logger tersebut sudah terhubung dengan komputer, sehingga data pengukuran dapat disimpan pada memori secara otomatis dalam bentuk file teks. Setelah berhasil mendapatkan nilai A, saya hampir setiap hari nongkrong sambil belajar elektronika dan pemrograman di Laboratorium. Kebiasaan tersebut saya lakukan hampir selama setahun. Saya mendapatkan proyek pertama dari Bpk. Plato ketika berada pada semester 6 (thn 2007). Saya mendapatkan honor sebesar 3.5 juta rupiah yang pembayarannya dilakukan sebanyak 10 kali dalam 10 bulan, sehingga setiap bulannya saya memperoleh uang sebesar 350 ribu rupiah. Perkenalan pertama saya dengan Borland Delphi 7 adalah pada proyek ini. Sebenarnya target dari proyek tersebut adalah memodifikasi software akuisisi data supaya tampilan grafiknya berubah dari horizontal menjadi vertikal. Akan tetapi karena saya adalah seorang pemula dalam pemrograman aplikasi desktop berbasis Delphi, maka saya menghabiskan waktu hingga 7 bulan hanya untuk mempelajari algoritma dan kode program dari software tersebut. Barulah sebulan kemudian saya mendapatkan solusi, itupun dengan bantuan dari Google. Ketika saya berada pada semester 8 (thn 2008), dosen instrumentasi meminta bantuan saya untuk menjadi Koordinator Asisten Instrumentasi Geofisika. Walaupun sebelumnya saya berniat fokus mengerjakan skripsi, tetapi saya tidak sanggup menolaknya karena beliau sudah terlampau baik kepada saya. Sebagai konsekuensinya, tugas akhir saya tidak ada kemajuan sama sekali akibat terlalu sibuk dengan urusan asistensi. Saya akhirnya menambah satu semester lagi untuk mengerjakan skripsi. Pada semester 9 inilah saya mulai memasuki dunia instrumentasi meteorologi yang sesungguhnya. Saya belajar membangun instrumen dari nol, dari tidak ada menjadi ada. Target awalnya adalah membuat AWS (Automatic Weather Station). AWS adalah stasiun cuaca yang dapat dibawa kemana-mana (mobile). Seperti halnya stasiun cuaca yang diam di tempat (stand-alone), AWS dilengkapi dengan berbagai macam sensor cuaca, yaitu: (1) sensor temperatur udara, (2) sensor kelembaban udara, (3) sensor curah hujan, (4) sensor kecepatan angin, (5) sensor arah angin, (6) sensor intensitas matahari dan (7) sensor tekanan udara. Permasalahan utama dari skripsi saya adalah belum mengkaji fenomena meteorologi. Saat itu saya tertarik untuk membahas angin dan melalui googling selama berbulan-bulan akhirnya saya menemukan topik tugas akhir yang mengharuskan pembuatan suatu sistem pengukuran baru, yaitu: turbulensi atmosfer.

Halaman 1 dari 2

Publikasi Pribadi

August 1, 2011

Turbulensi merupakan ketidakteraturan dari kecepatan, temperatur dan konsentrasi partikel dari suatu fluida. Turbulensi memiliki peranan yang sangat penting dalam perancangan perpipaan, desain kapal laut,desain pesawat terbang dan dalam memahami berbagai fenomena meteorologi di dekat permukaan bumi. Di dekat permukaan bumi, turbulensi atmosfer dapat dijumpai dalam bentuk kibaran bendera atau daun, ayunan cabang pepohonan, goyangan rumput, riak dan gelombang pada permukaan air serta gerakan acak dari asap pembakaran sampah. Turbulensi atmosfer di dekat permukaan bumi sangat penting diteliti untuk memahami proses penyebaran polutan udara, penggunaan flare dalam pembuatan hujan rangsangan, penyebaran asap militer, penentuan nilai evaporasi dan hal-hal lain semacam itu. Turbulensi atmosfer adalah permasalahan yang sangat sulit dipecahkan dan sampai saat inipun turbulensi atmosfer belum bisa dirumuskan oleh suatu persamaan matematika. Turbulensi atmosfer baru bisa dipelajari secara empirik, yaitu: dengan menggunakan data-data hasil pengukuran parameter turbulensi dari berbagai lokasi. Walaupun turbulensi atmosfer tidak terlihat, kita dapat mendeteksi kemunculannya dengan menghitung bilangan Richardson (Ri), yaitu: Jika Ri<1, maka tubulensi atmosfer mengalami peningkatan instensitas. Jika Ri1, maka turbulensi atmosfer mengalami penurunan intensitas. Bilangan Richardson ini ditentukan oleh gradien kecepatan angin dan gradien temperatur udara. Oleh karena itu, target akhir dari tugas akhir saya adalah membangun sistem pengukuran turbulensi atmosfer yang saya namakan Automatic Atmospheric Turbulence Monitoring System. BERSAMBUNG . . .

Halaman 2 dari 2