P. 1
BAB I - V

BAB I - V

|Views: 1,376|Likes:
Dipublikasikan oleh z4k412i4

More info:

Published by: z4k412i4 on Aug 02, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/12/2013

pdf

text

original

Penanganan rinosinusitis kronis dapat dilakukan dengan cara konservatif dan

operatif dengan tujuan untuk membebaskan obstruksi, mengurangi viskositas

sekret, dan mengeradikasi kuman. Jika telah ditemukan faktor predisposisinya,

maka dapat dilakukan tata laksana yang sesuai yaitu dengan penanganan

konservatif, dengan pemberian antibiotika yang sesuai untuk mengatasi infeksinya

serta obat-obatan simptomatis lainnya seperti analgetik berupa aspirin atau

preparat codein, dan kompres hangat pada wajah juga dapat membantu untuk

menghilangkan rasa sakit tersebut. Dekongestan, misalnya pseudoefedrin, dan

tetes hidung poten seperti fenilefrin dan oksimetazolin cukup bermanfaat untuk

mengurangi udem sehingga dapat terjadi drainase sinus. Terapi pendukung

lainnya seperti mukolitik, antipiretik dan antihistamin (Piccirillo, 2004).

Adapun antibiotika yang dapat dipilih pada terapi rinosinusitis, diantaranya

dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

24

Agen Antibiotika

Dosis

SINUSITIS AKUT
Lini pertama

Amoksisilin

Anak: 20-40mg/kg/hari terbagi dalam 3
dosis
Dewasa: 3 x 500 mg

Kotrimoxazol

Anak: 6 - 12 mg TMP/ 30 – 60 mg
SMX/ kg/hari terbagi dlm 2 dosis
Dewasa: 2 x 2 tab dewasa

Eritromisin

Anak: 30-50mg/kg/hari terbagi setiap 6
jam
Dewasa: 4 x 250-500mg

Doksisiklin

Dewasa: 2 x 100 mg

Lini kedua

Amoksi-clavulanat

Anak: 25-45mg/kg/hari terbagi dlm 2
dosis
Dewasa: 2 x 875 mg

Cefuroksim

2 x 500 mg

Klaritromisin

Anak: 15 mg/kg/hari terbagi dlm 2 dosis
Dewasa: 2 x 250 mg

Azitromisin

1 x 500 mg, kemudian 1x250 mg selama
4 hari berikutnya.

Levofloxacin

Dewasa: 1 x 250-500 mg

SINUSITIS KRONIK

Amoksi-clavulanat

Anak: 25-45mg/kg/hari terbagi dlm 2
dosis
Dewasa: 2 x 875 mg

Azitromisin

Anak: 10 mg/kg pada hari 1 diikuti
5mg/kg selama 4 hari berikutnya
Dewasa: 1 x 500 mg, kemudian 1 x
250mg selama 4 hari

Levofloxacin

Dewasa: 1 x 250-500mg

Tabel 2.2. Antibiotika yang dapat dipilih pada terapi rinosinusitis (Piccirillo,
2004)

Selain itu, dapat juga dibantu dengan diatermi gelombang pendek (Ultra

Short Wave Diathermy) selama 10 hari di daerah sinus yang sakit. Tindakan ini

membantu memperbaiki drenase dan pembersihan sekret dari sinus yang sakit.

Untuk sinusitis maksila dilakukan pungsi dan irigasi sinus, sedangkan untuk

25

sinusitis etmoid, frontal atau sfenoid dilakukan pencucian Proetz. Irigasi dan

pencucian sinus dilakukan 2 kali dalam seminggu. Bila setelah 5 – 6 kali tidak ada

perbaikan dan klinis masih tetap banyak sekret purulen, berarti mukosa sinus

sudah tidak dapat kembali normal (perubahan irreversible), maka dapat dilakukan

operasi radikal untuk menghindari komplikasi lanjutan. Untuk mengetahui

perubahan mukosa masih reversible atau tidak, dapat juga dilakukan dengan

pemeriksaan sinoskopi untuk melihat antrum (sinus maksila) secara langsung

dengan menggunakan endoskop (Mangunkusumo dan Rifki, 2003).

Bila penanganan konservatif gagal, maka dilakukan terapi operatif yaitu

dengan cara mengangkat mukosa sinus yang patologik dan membuat drenase dari

sinus yang terkena. Untuk sinus maksila dilakukan operasi Caldwell-Luc,

sedangkan untuk sinus etmoid dilakukan etmoidektomi yang biasa dilakukan dari

dalam hidung (intranasal) atau dari luar (ekstranasal) (Mangunkusumo dan Rifki,

2003).

Namun, akhir-akhir ini dikembangkan metode operasi sinus paranasal dengan

menggunakan endoskop dengan pencahayaan yang sangat terang sehingga saat

operasi kta dapat melihat lebih jelas dan rinci adanya kelainan patologi pada

rongga-rongga sinus. Jaringan patologik dapat diangkat tanpa melukai jaringan

normal dan ostium sinus yang tersumbat diperlebar, inilah yang disebut dengan

Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF). Prinsipnya adalah membuka dan

membersihkan daerah kompleks ostio-meatal yang menjadi sumber penyumbatan

dan infeksi, sehingga ventilasi dan drenase sinus dapat lancar kembali melalui

26

osteum alami. Dengan demikian sinus akan kembali normal (Mangunkusumo dan

Rifki, 2003).

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->