Anda di halaman 1dari 12

1.

Teori Modernisasi Teori modernisasi lahir sebagai tanggapan ilmuwan sosial Barat terhadap apa yang terjadi di Dunia Ketiga setelah Perang Dunia II. Teori ini muncul sebagai upaya Amerika untuk memenangkan perang ideologi melawan sosialisme yang pada waktu itu sedang populer. Bersamaan dengan itu, lahirnya negara-negara merdeka baru di Asia, Afrika, dan Amerika Latin bekas jajahan Eropa melatarbelakangi perkembangan teori ini. Negara adidaya melihat hal ini sebagai peluang untuk membantu Negara Dunia Ketiga sebagai upaya stabilitas ekonomi dan politik. Pengaruh ideologi developmentalis yang mencoba mengkaji bagaimana Negara Dunia Ketiga dapat membangun seperti Negara Dunia Pertama tanpa mengacu pada komunisme juga mendasari teori ini. Di awal perumusannya tahun 1950-an, aliran modernisasi mencari bentuk teori dan mewarisi pemikiran-pemikiran dari teori evolusi dan fungsionalisme. Teori evolusi dan fungsionalisme pada waktu itu dianggap mampu menjelaskan proses peralihan masyarakat tradisional menuju masyarakat modern di Eropa Barat, selain juga didukung oleh para pakar yang terdidik dalam alam pemikiran struktural-fungsionalisme. Teori evolusi menggambarkan perkembangan masyarakat sebagai gerakan searah seperti garis lurus. Kita dapat melihatnya dalam karya-karya Spencer dan Comte. Teori fungsionalisme dari Talcott Parsons beranggapan bahwa masyarakat tidak ubahnya seperti organ tubuh manusia yang memiliki berbagai bagian yang saling bergantung. Selain itu, teori modernisasi pun didukung oleh tokoh-tokoh seperti Neil Smelser dengan teori diferensiasi strukturalnya. Smelser beranggapan dengan proses modernisasi, ketidakteraturan struktur masyarakat yang menjalankan berbagai berbagai fungsi sekaligus akan dibagi dalam substruktur untuk menjalankan satu fungsi yang lebih khusus. Pun dengan Rostow yang menyatakan bahwa ada lima tahapan pembangunan ekonomi. Ia merumuskannya ke dalam teori tahapan pertumbuhan ekonomi, yaitu tahap masyarakat tradisional, prakondisi lepas landas, lepas landas, bergerak ke kedewasaan, dan berakhir dengan tahap konsumsi massal yang tinggi. Di samping itu, ada beberapa varian teori modernisasi lain seperti Coleman dengan diferensiasi dan modernisasi politik-nya, Harrod-Domar yang menekankan penyediaan modal untuk investasi pembangunan, McClelland dengan teori need for Achievement (n-Ach)-nya, Weber dengan Etika Protestan-nya, Hoselitz yang membahas faktor-faktor nonekonomi yang ditinggalkan Rostow yang disebut faktor kondisi lingkungan, dan Inkeles yang mengemukakan ciri-ciri manusia modern. Satu hal yang menonjol dari teori ini adalah modernisasi seolah-olah tidak memberikan celah terhadap unsur luar yang dianggap modern sebagai sumber kegagalan, namun lebih menekankan sebagai akibat dari dalam masyarakat itu sendiri. Alhasil faktor eksternal menjadi terabaikan. Teori modernisasi memberikan solusi, bahwa untuk membantu Dunia Ketiga termasuk kemiskinan, tidak saja diperlukan bantuan modal dari negara-negara maju, tetapi negara itu disarankan untuk meninggalkan dan mengganti nilai-nilai tradisional dan kemudian melembagakan demokrasi politik (Garna, 1999: 9). Karena berpatokan dengan perkembangan di Barat, modernisasi diidentikkan dengan westernisasi. Teori ini pun kurang mampu menjawab kegagalan penerapannya di Amerika Latin, tidak memperhatikan kondisi obyektif masyarakat, sejarah dan tradisi lama yang masih berkembang di Negara Dunia Ketiga. Untuk menjawabnya, muncullah teori modernisasi baru. Bila dalam teori modernisasi klasik, tradisi dianggap sebagai penghalang pembangunan, dalam teori modernisasi baru, tradisi dipandang sebagai faktor positif pembangunan. Namun, tetap saja baik teori modernisasi klasik, maupun baru, melihat permasalahan pembangunan lebih banyak dari sudut kepentingan Amerika Serikat dan negara maju lainnya. Teori-teori ini menjelaskan bahwa kemiskinan ini terutama disebabkan oleh faktor-faktor internal atau faktor-faktor yang terdapat di dalam negara- negara yang bersangkutan untuk menerima modernisasi. Teori modernisasi memberikan jawaban bahwa penyebab kesalahannya terletak pada negara-negara yang terbelakang tersebut. Keterbelakangan dan kemiskinan adalah akibat dari keterlambatan negara-negara tersebut melakukan modernisasi negaranya. Hubungan internasional dalam arti kontak dengan dunia luar dianggap membantu negara-negara ini, khususnya dalam pengenalan nilai-nilai modern yang rasioal, pemberian modal, pendidikan dan transfer teknologi ataupun lembaga-lembaga modern seperti perbankan yang mampu menopang

dan menyokong proses pembangunan. Negara-negara ini belum mampu meyerap nilai-nilai tersebut sehingga tidak mampu menopang proses pembangunan. Dengan maksud ini negarnegara maju bisa membantu dalam hal ini. a. Pengertian dan Asumsi-asumsi Menurut Widjojo Nitisastro, modernisasi adalah suatu transformasi total dari kehidupan bersama yang tradisional atau pramodern dalam arti teknologi serta organisasi sosial ke arah pola-pola ekonomis dan politis. Soerjono Soekanto mengartikan modernisasi adalah suatu bentuk dari perubahan sosial yang terarah yang didasarkan pada suatu perencanaan yang biasanya dinamakan social planning. Wilbert Moore mendefinisikan modernisasi sebagai transformasi total masyarakat tradisional atau pra-modern ke tipe masyarakat teknologi dan organisasi sosial yang menyerupai kemajuan dunia barat yang ekonominya makmur dan situasi politiknya stabil. Teori modernisasi memiliki asumsi-asumsi dasar seperti: 1) Modernisasi merupakan proses bertahap. Resep pembangunan yang ditawarkannya bisa berlaku untuk siapa, kapan, dan dimana saja. 2) Modernisasi juga merupakan proses homogenisasi. Homogenitas melalui pengembangan sektor ekonomi itu terkesan dipaksakan dari kondisi yang heterogen, hal itu kemudian menjadikan pula ketimpangan pembangunan antardaerah dan antarsektor. 3) Dalam wujudnya, modernisasi terkadang dianggap sebagai proses Eropanisasi atau Amerikanisasi, atau yang lebih populer westernisasi (modernisasi sama dengan dunia Barat). 4) Modernisasi dilihat sebagai proses yang tidak bergerak mundur. 5) Modernisasi merupakan perubahan yang diinginkan dan dibutuhkan (progresif) serta terus-menerus (immanent). 6) Modernisasi memerlukan waktu panjang. 7) Perkembangan masyarakat dapat dilakukan dengan menciptakan proses diferensiasi struktural. 8) Diciptakan lapangan kerja dan struktur-struktur baru dalam masyarakat. 9) Perbedaan kemajuan masyarakat terjadi karena perbedaan kondisi internal. 10) Kapasitas masyarakat lebih maju dari masyarakat lain karena semata-mata faktor internal dan yang utama adalah cultural deficiency. b. Implikasi Teori modernisasi melihat hubungan antara Negara Dunia Pertama (Amerika Serikat dan negaranegara maju lainnya) dengan Negara Dunia Ketiga layaknya hubungan antara masyarakat modern dengan tradisional. Hubungan ini mencerminkan kuatnya pengaruh Barat sebagai rolemodel terhadap Timur. Hal ini membuat negara berkembang harus selalu berkaca kepada Barat untuk melakukan modernisasimembuat Barat dengan mudah menanamkan nilai-nilainya kepada mereka. Negara Dunia Ketiga dengan sendirinya harus menolak paham komunis sebagaimana Negara Dunia Pertama menolaknya. Termasuk menerima dominasi asing yang kini dilembagakan dalam hukum formal. Bantuan asing berupa modal dan investasi bertebaran di negara-negara berkembang seperti padi di sawah. Dari penjelasan di atas, teori modernisasi pun memberikan implikasi akan adanya perubahan/transformasi yang direncanakan pemerintah (topdown). teori ketergantungan sebagai antitesis teori modernisasi menekankan pada aspek keterbelakangan sebagai produk dari pola hubungan ketergantungan. Kedua kubu tersebutmendominasi 'proyek besar' pembangunan hingga akhir tahun 1980-an, ketika studi pembangunan mencapai jalan buntu. Kedua kubu teoretis tersebut dianggap gagal. Di satu sisi,realitas yang ada di negara-negara dunia ketiga sebagai obyek pembangunan tetap ditandai oleh berbagai indikator keterbelakangan, di sisi lain muncul fenomena negara-negara industri barusebagai kisah sukses.Kebuntuan dalam studi pembangunan ini mendorong perkembangan kritik terhadap teori-teori pembangunan yang dominan. Kritik terhadap teori-teori pembangunan ini bukan hanyamenekankan pada kritik terhadap strategi-strategi pembangunanyang dominan, tetapi jugaterhadap studi pembangunan dan bahkan konsep pembangunan itu sendiri. Dalam

artian yangterakhir, teori pembangunan telah bergeser dari teori tentang kebijakan ke arah wacana tentang pembangunan (Apter, 1998). Teori ketergantungan. Teori ini pada mulanya adalah teori struktural yang menelaah jawaban yang diberikan oleh teorimodernisasi.Teori struktural berpendapat bahwa kemiskinan yang terjadi di negara dunia ketiga yangmengkhusukan diri pada produksi pertanian adalah akibat dari struktur pertanian adalah akibatdari struktur perekonomian dunia yang eksploitatif dimana yang kuat mengeksploitasi yanglemah.Teori ini berpangkal pada filsafat materialisme yang dikembangkan Karl Marx. Salah satukelompok teori yang tergolong teori struktiral ini adalah teori ketergantungan yang lahir dari 2induk, yakni seorang ahli pemikiran liberal Raul Prebiesch dan teori-teori Marx tentangimperialisme dan kolonialisme serta seorang pemikir marxis yang merevisi pandangan marxistentang cara produksi Asia yaitu, Paul Baran.1.Raul Prebisch : industri substitusi import. Menurutnya negara-negara terbelakang harusmelakukan industrialisasi yang dimulai dari industri substitusi impor. 2.Perdebatan tentang imperialisme dan kolonialisme. Hal ini muncul untuk menjawab pertanyaantentang alasan apa bangsa-bangsa Eropa melakukan ekspansi dan menguasai negara-negara lainsecara politisi dan ekonomis. Ada tiga teori:a.Teori God:adanya misi menyebarkan agama. b.Teori Glory:kehausan akan kekuasaan dan kebesaran.c.Teori Gospel:motivasi demi keuntungan ekonomi.3.Paul Baran: sentuhan yang mematikan dan kretinisme. Baginya perkembangan kapitalisme dinegara-negara pinggiran beda dengan kapitalisme di negara-negara pusat. Di negara pinggiran,system kapitalisme seperti terkena penyakit kretinisme yang membuat orang tetap kerdil.Ada 2 tokoh yang membahas dan menjabarkan pemikirannya sebagai kelanjutan dari tokoh-tokoh di atas, yakni:1.Andre Guner Frank : pembangunan keterbelakangan. Bagi Frank keterbelakangan hanya dapatdiatasi dengan revolusi, yakni revolusi yang melahirkan sistem sosialis.2.Theotonia De Santos : Membantah Frank. Menurutnya ada 3 bentuk ketergantungan, yakni :a.Ketergantungan Kolonial: hubungan antar penjajah dan penduduk setempat bersifateksploitatif. b.Ketergantungan Finansial- Industri: pengendalian dilakukan melalui kekuasaan ekonomi dalam bentuk kekuasaan financialindustri.c.Ketergantungan Teknologis-Industrial: penguasaan terhadap surplus industri dilakukan melaluimonopoli teknologi industri.Ada 6 inti pembahasan teori ketergantungan:1.Pendekatan keseluruhan melalui pendekatan kasus.Gejala ketergantungan dianalisis dengan pendekatan keseluruhan yang memberi tekanan padasisitem dunia. Ketergantungan adalah akibat proses kapitalisme global, dimana negara pinggiran hanya sebagai pelengkap. Keseluruhan dinamika dan mekanisme kapitalis dunia menjadi perhatian pendekatan ini.2.Pakar eksternal melawan internal.Para pengikut teori ketergantungan tidak sependapat dalam penekanan terhadap dua faktor ini,ada yang beranggapan bahwa faktor eksternal lebih ditekankan, seperti Frank Des Santos.Sebaliknya ada yang menekan factor internal yang mempengaruhi/ menyebabkanketergantungan, seperti Cordosa dan Faletto.3.Analisis ekonomi melawan analisi sosiopolitik Raul Plebiech memulainya dengan memakai analisis ekonomi dan penyelesaian yangditawarkanya juga bersifat ekonomi. AG Frank seorang ekonom, dalam analisisnya memakaidisiplin ilmu sosial lainya, terutama sosiologi dan politik. Dengan demikian teori ketergantungandimulai sebagai masalah ekonomi kemudian berkembang menjadi analisis sosial politik dimanaanalisis ekonomi hanya merupakan bagian dan pendekatan yang multi dan interdisipliner analisissosiopolitik menekankan analisa kelas, kelompok sosial dan peran pemerintah di negara pinggiran.4. Salah satu kelompok penganut ketergantungan sangat menekankan analisis tentang hubungannegara-negara pusat dengan pinggiran ini merupakan analisis yang memakai kontradiksiregional. Tokohnya adalah AG Frank. Sedangkan kelompok lainya menekankan analisis klas,seperti Cardoso.5.Keterbelakangan melawan pembangunan. Teori ketergantungan sering disamakan dengan teoritentang keterbelakangan dunia ketiga. Seperti dinyatakan oleh Frank. Para pemikir teoriketergantungan yang lain seperti Dos Santos, Cardoso, Evans menyatakan bahwa ketergantungandan pembangunan bisa berjalan seiring. Yang perlu dijelaskan adalah sebab, sifat danketerbatasan dari pembangunan yang terjadi dalam konteks ketergantungan.6.Voluntarisme melawan determinisme Penganut marxis klasik melihat perkembangan sejarahsebagai suatu yang

deterministic. Masyarakat akan berkembang sesuai tahapan dari feodalisme ke kapitalisme dan akan kepada sosialisme. Penganut Neo Marxis seperti Frank kemudianmengubahnya melalui teori ketergantungan. Menurutnya kapitalisme negara-negara pusat berbeda dengan kapitalisme negara pinggiran. Kapitalisme negara pinggiran adalahketerbelakangan karena itu perlu di ubah menjadi negara sosialis melalui sebuah revolusi. Dalamhal ini Frank adalah penganut teori voluntaristik. [C 2002) Teori dependensi merupakan analisis tandingan terhadap teori modernisasi. Teori ini didasarifakta lambatnya pembangunan dan adanya ketergantungan dari negara dunia ketiga, khususnyadi Amerika Latin. Teori dependensi memiliki saran yang radikal, karena teori ini berada dalam paradigma neo-Marxis. Sikap radikal ini analog dengan perkiraan Marx tentang akan adanya pemberontakan kaum buruh terhadap kaum majikan dalam industri yang bersistem kapitalisme.Analisis Marxis terhadap teori dependensi ini secara umum tampak hanya mengangkatanalisanya dari permasalahan tataran individual majikan-buruh ke tingkat antar negara. Sehingganegara pusat dapat dianggap kelas majikan, dan negara dunia ketiga sebagai buruhnya.Sebagaimana buruh, ia juga menyarankan, negara pinggiran mestinya menuntut hubungan yangseimbang dengan negara maju yang selama ini telah memperoleh surplus lebih banyak (konsepsosialisme). Analisis Neo-Marxis yang digunakannya memiliki sudut pandang dari negara pinggiran. Marx mengungkapkan kegagalan kapitalisme dalam membawa kesejahteraan bagi masyarakatnamun sebaliknya membawa kesengsaraan. Penyebab kegagalan kapitalisme adalah penguasaanakses terhadap sumberdaya dan faktor produksi menyebabkan eksploitas terhadap kaum buruhyang tidak memiliki akses. Eksploitasi ini harus dihentikan melalui proses kesadaran kelas dan perjuangan merebut akses sumberdaya dan faktor produksi untuk menuju tatanan masyarakattanpa kelas. Pendekatan Historis Struktural Perspektif dependensi muncul setelah perspektif modernisasi diterapkan di banyak negaraterbelakang. Pengamatan yang dilakukan oleh ahli sejarah telah memberikan gambaran sertadukungan bukti empirik terhadap kegagalan modernisasi. Sebagai sebuah kritik, dependensi harus dapat menguraikan kelemahan-kelemahan dari modernisasi dan mengeluarkan pendapat baru yang mampu menutup kelemahan tersebut. Penggunaan metode hidtoris struktural telah memberikan bukti empirik yang sangatcukup untuk memberikan kritik terhadap modernisasi. Sebagai sebuah proses perubahan sosialyang memakan waktu sangat lama, pembangunan erat kaitannya dengan sejarah perkembangansuatu negara. Oleh karena itu tidak salah apabila Frank menyatakan bahwa perkembanganekonomi negara saat ini tidak lepas dari begaimana keadaan sejarah ekonomi, politik dansosialnya di masa lalu. Asumsi serta Tesis dari Frank dan Santos Asumsi dasar teori ketergantungan ini menganggap ketergantungan sebagai gejala yangsangat umum ditemui pada negara-negara dunia ketiga, disebabkan faktor eksternal, lebihsebagai masalah ekonomi dan polarisasi regional ekonomi global (Barat dan Non Barat, atauindustri dan negara ketiga), dan kondisi ketergantungan adalah anti pembangunan atau tak akan pernah melahirkan pembangunan. Terbelakang adalah label untuk negara dengan kondisiteknologi dan ekonomi yang rendah diukur dari sistem kapitalis. Terdapat beberapa asumsi dasar dalam perspektif dependensi yang disampaikan oleh beberapa ahli. Frank menyatakan bahwa pemahaman terhadap sejarah ekonomi, sosial dan politik menjadi suatu hal yang penting dalam menentukan kebijakan pembangunan pada suatunegara. Karakteristik suatu negara yang khas dapat dikaji dari perspektif historis. Pendekatan pembangunan yang dilakukan oleh negara terbelakang saat ini sebenarnya merupakan hasil pengalaman sejarah negara maju yang kapitalis seperti negara-negara Eropa dan Amerika Utara.Terdapat perbedaan sejarah yang sangat mendasar antara negara maju dan negara bekas koloniatau daerah jajahan sehingga menyebabkan struktur sosial masyarakatnya berbeda. Frank juga menganggap adanya kegagalan penelitian sejarah dalam menganalisis hubungan ekonomi yangterjadi antara negara penjajah dan negara jajahannya selama masa perdagangan danimperialisme. Pembangunan ekonomi merupakan sebuah perjalanan menuju sistem

ekonomikapitalisme yang terdiri dari beberapa tahap. Saat ini negara terbelakang masih berada pada awaltahapan tersebut. Frank menyajikan lima tesis tentang dependensi, yaitu : 1. Terdapat kesenjangan pembangunan antara negara pusat dan satelitnya, pembangunan padanegara satelit dibatasi oleh status negara satelit tersebut. 2. Kemampuan negara satelit dalam pembangunan ekonomi terutama pembangunan industrikapitalis meningkat pada saat ikatan terhadap negara pusat sedang melemah. Pendapat inimerupakan antitesis dari modernisasi yang menyatakan bahwa kemajuan negara dunia ketigahanya dapat dilakukan dengan hubungan dan difusi dengan negara maju. Tesis ini dapatdijelaskan dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu isolasi temporer yang disebabkan olehkrisis perang atau melemahnya ekonomi dan politik negara pusat. Frank megajukan buktiempirik untuk mendukung tesisnya ini yaitu pada saat Spanyol mengalami kemunduran ekonomi pada abad 17, perang Napoleon, perang dunia pertama, kemunduran ekonomi pada tahun 1930dan perang dunia kedua telah menyebabkan pembangunan industri yang pesat di Argentina,Meksiko, Brasil dan Chili. Pengertian isolasi yang kedua adalah isolasi secara geografis danekonomi yang menyebabkan ikatan antara pusatsatelit menjadi melemah dan kurang dapatmenyatukan diri pada sistem perdagangan dan ekonomi kapitalis. 3. Negara yang terbelakang dan terlihat feodal saat ini merupakan negara yang memilikikedekatan ikatan dengan negara pusat pada masa lalu. Frank menjelaskan bahwa pada negara satelit yang memiliki hubungan sangat erat telah menjadi sapi perah bagi negara pusat. Negarasatelit tersebut hanya sebatas sebagai penghasil produk primer yang sangat dibutuhkan sebagaimodal dalam sebuah industri kapitalis di negara pusat. 4. Kemunculan perkebunan besar di negara satelit sebagai usaha pemenuhan kebutuhan dan peningkatan keuntungan ekonomi negara pusat. Perkebunan yang dirintis oleh negara pusat inimenjadi cikal bakal munculnya industri kapitalis yang sangat besar yang berdampak padaeksploitasi lahan, sumberdaya alam dan tenaga kerja negara satelit. 5. Eksploitasi yang menjadi ciri khas kapitalisme menyebabkan menurunnya kemampuan berproduksi pertanian di negara satelit. Ciri pertanian subsisten pada negara terbelakang menjadihilang dan diganti menjadi pertanian yang kapitalis. Pendapat yang disampaikan Frank sangat kental dengan nuansa pemikiran Marx tentangkapitalisme dan eksploitasi. Frank memperkuat semua pendapatnya dengan menggunakan bukti- bukti empirik dan menggunakan metode historis struktural. Bukti empirik yang dikumpulkanFrank merupakan hasil penelitian sejarah perkembangan sosial dan ekonomi negara-negaraAmerika Latin. Santos mengamsusikan bahwa bentuk dasar ekonomi dunia memiliki aturan-aturan perkembangannya sendiri, tipe hubungan ekonomi yang dominan di negara pusat adalahkapitalisme sehingga menyebabkan timbulnya saha melakukan ekspansi keluar dan tipehubungan ekonomi pada negara periferi merupakan bentuk ketergantungan yang dihasilkan olehekspansi kapitalisme oleh negara pusat. Santos menjelaskan bagaimana timbulnya kapitalismeyang dapat menguasai sistem ekonomi dunia. Keterbatasan sumber daya pada negara majumendorong mereka untuk melakukan ekspansi besar-besaran pada negara miskin. Pola yang dilakukan memberikan dampak negatif berupa adanya ketergantungan yang dialami oleh negaramiskin. Negara miskin akan selalu menjadi negara yang terbelakang dalam pembangunan karenatidak dapat mandiri serta selalu tergantung dengan negara maju. Negara maju identik menjadinegara pusat, sedangkan negara miskin menjadi satelitnya. Konsep ini lebih dikenal denganistilah pusat - periferi. Tesis yang diajukan oleh santos adalah pembagian ketergantungan menjadi tiga jenis yaituketergantungan kolonial, ketergantungan industri keuangan dan ketergantungan teknologiindustri. Ketergantungan kolonial merupakan bentuk ketergantungan yang dialami oleh negara jajahan. Ketergantungan kolonial merupakan bentuk ketergantungan yang paling awal danhingga kini telah dihapuskan. Pada ketergantungan kolonial, negara dominan, yang bekerja samadengan elit negara tergantung, memonopoli pemilikan tanah, pertambangan, tenaga kerja, sertaekspor barang galian dan hasil bumi dari negara jajahan. Sementara itu, jenis ketergantungan industri keuangan yang lahir pada akhir abad 19, makaekonomi negara tergantung lebih terpusat pada ekspor bahan mentah dan produk pertanian.Ekspor bahan mentah menyebabkan terkurasnya sumber daya negara, sementara nilai tambahyang diperoleh kecil. Sumbangan pemikiran Santos terhadap teori dependensi sebenarnya berada pada bentuk ketergantungan teknologi industri. Dampak dari ketergantungan

ini terhadap duniaketiga adalah ketimpangan pembangunan, ketimpangan kekayaan, eksploitasi tenaga kerja, sertaterbatasnya perkembangan pasar domestik negara dunia ketiga itu sendiri. Sumbangan Cardoso, Galtung, Frank dan Roxbourgh Roxborough sebagai tokoh dependensi, menjelaskan bahwa pengaruh kapitalismeterhadap perubahan struktur sosial pedesaan akan lebih baik bila menggunakan analisa kelas. Eksistensi kapitalisme sangat terkait dengan peran kelas. Penjelasan Lenin tentang dua jalur penetrasi kapitalisme tersebut memberi hasil yang hampir sama, yaitu diferensiasi yang menjuruske arah polarisasi pemilikan lahan dan ekonomi. Struktur ketergantungan secara bertingkat mulai dari negara pusat sampai periferidisampaikan oleh Galtung. Imprealisme ditandai satu jalur kuat antara pusat di pusat dengan pusat di periferi (CC-CP). Ditambahkan Frank, bahwa daerah desa yang terbelakang akanmenjadi penghalang untuk maju bagi negara bersangkutan. Struktur kapitalisme juga dapatdikaitkan dengan Cardoso tentang dependensi ekonomi. Ketergantungan ekonomi terjadi melalui perbedaan produk dan kebijakan hutang yang menyebabkan eksploitasi finansial. Imperialisme dan Ketergantungan Modernisasi yang disampaikan oleh negara dunia pertama tak ubahnya sepertiimperialisme yang mereka lakukan pada waktu lampau. Menurut Roxborough, teori imprealismememberikan perhatian utama pada ekspansi dan dominasi kekuatan imperealis. Imperealis yangada pada abad 20 pertama-tama melakukan ekspansi cara produksi kapitalis ke dalam cara produksi kapitalis. Tujuan ekspansi tersebut ke negara ketiga pada mulanya hanyalah untuk meluaskan pasar produknya yang sudah jenuh dalam negeri sendiri, serta untuk pemenuhan bahan baku. Namun, pada pekembangan lebih jauh, ekspansi kapitalis ini adalah berupa cara-cara produksi, sampai pada struktur ekonomi, dan bahkan idelologi. eori Dependensi1. Sejarah Perkembangan Teori Dependensi. Pendekatan teori dependensi pertama kali muncul di Amerika Latin. Pada awal kelahirannya,teori ini lebih merupakan jawaban atas kegagalan program yang telah dijalankan oleh KomisiEkonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Amerika Latin. (United Nation EconomicCommission for Latin Amerika)ECLA?KEPBBAL) pada masa awal tahun 1960-an. Pada tahun1950-an banyak pemerintahan di Amerika Latin, yang dikenal cukup populis, mencoba untuk menerapkan strategi pembangunan dari KEPBBAL yang menitik beratkan pada prosesindustrialisasi melalui program industrialisasi subsitusi impor (ISI). Dari padanya diharapkanakan memberikan keberhasilanyang berkelanjutan untuk pertumbuhan ekonomi sekaligus pemerataan hasil pembangunan, peningkatan kesejahtaraan rakyat, dan pada akhirnya akanmemberikan suasana yang mendorong pembangunan politik yang lebih demokratis. Yang terjadiadalah sebaliknya, ekspansi ekonomi amat singkat, dan segera berubah menjadi stagnasiekonomi.Disamping itu, lahirnya teori dependensi ini juga dipengaruhi dan merupakan jawaban atas krisisteori Marxis ortodoks di Amerika Latin. Menurut pandangan Marxis ortodoks, Amerika Latinharus mempunyai tahapan revolusi industri borjuis sebelum melampaui revolusi sosialis proletar. Namun demikian Revolusi Repuplik Rakyat Cina (RRC) tahun 1949 dan revolusi Kuba pada akhir tahun 1950-an mengajarkan pada kaum cendikiawan, bahwa negara dunia ketiga tidak harus mengikuti tahapan-tahapan perkembangan tersebut. Tertarik pada model pembanguanRRC dan Kuba, banyak intelektual radikal di Amerika Latin berpendapat, bahwa negara-negaraAmerika Latin dapat saja langsung menuju dan berada pada tahapan revolusi sosialis. 2. Asumsi dasar teori dependensi klasik. v Keadaan ketergantungan dilihat dari satu gejala yang sangat umum, berlaku bagi seluruhnegara dunia ketiga. Teori dependensi berusaha menggambarkan watak-watak umumkeadaan ketergantungan di Dunia Ketiga sepanjang perkembangan kapitalisme dariAbad ke-16 sampai sekarang. v Ketergantungan dilihat sebagai kondisi yang diakibatkan oleh faktor luar, sebabterpenting yang menghambat pembangunan karenanya tidak terletak pada persoalankekurangan modal atau kekurangan tenaga dan semangat wiraswasta, melainkan terletak pada diluar jangkauan politik ekonomi dalam negeri suatu negara. Warisan sejarahkolonial dan pembagian kerja internasional yang timpang bertanggung jawab terhadapkemandekan pembangunan negara

Dunia Ketiga.v Permasalahan ketergantungan lebih dilihatnya sebagai masalah ekonomi, yang terjadiakibat mengalir surplus ekonomi dari negara Dunia Ketiga ke negara maju. Inidiperburuk lagi kerena negara Dunia Ketiga mengalami kemerosotan nilai tukar perdagangan relatifnya.v Situasi ketergantungan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses polarisasiregional ekonomi global. Disatu pihak, mengalirnya surplus ekonomi dari Dunia Ketigamenyebabkan keterbalakangannya, satu faktor yang mendorong lajunya pembangunandinegara maju.v Keadaan ketergantungan dilihatnya sebagai suatu hal yang mutlak bertolak belakangdengan pembangunan. Bagi teori dependensi, pembangunan di negara pinggiranmustahil terlaksana. Sekalipun sedikit perkembangan dapat saja terjadi dinegara pinggiran ketika misalnya sedang terjadi depresi ekonomi dunia atau perang dunia. Teoridependensi berkeyakinan bahwa pembangunan yang otonom dan berkelanjutan hampir dapat dikatakan tidak mungkin dalam situasi yang terus menerus terjadi pemindahansurplus ekonomi ke negara maju. 3. Warisan pemikiran a. KEPBBAL Proses perumusan kerangka teori dari perspektif dependensi, yang pada mulanya merupakan paradigma pembangunan yang khas di Amerika Latin, berkaitan erat dengan KEPBBAL.Dengan apa yang dikenal sebagai Manifesto KEPBBAL, Prebisch ketua KEPBBAL,memberikan kritik tentang keusangan konsep pembagian kerja internasional (international division of labour/IDL). Menurut skema IDL, Amerika Latin akan memperoleh banyak keuntungan apabila di satu pihak, ia lebih memfokuskan pada upaya memproduksi bahan pangan dan bahan mentah yang diperlukan oleh negara-negara industri. Dilain pihak, negara-negara industrri tersebut menyediakan keperluan barang-barang industri yang dibutuhkanAmerika Latin (tentu juga kebutuhan barang industri negara pinggiran yang lain). Pada garis besarnya, Prebisch mengajukan gagasan dasar bahwa pembagian kerja internasional yanghanya menguntungkan negara industri harus dihentikan, dan Amerika Latin harus melakukan pembangunan industri untuk menjamin kebutuhan dalam negeri, disamping tetapmemperhatikan dan menjaga, paling tidak untuk sementara, kemampuan ekspor bahan pangan dan bahan mentahnya.Proses industrialisasi hendaknya dipercepat dengan cara memproduksi sendiri kebutuhan barangbarang dalam negeri untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan sama sekali beban penyediaan devisa negara yang selama ini diperlukan untuk membayar impor barangbarangtersebut. Pada permulaannya, indusrei dala negeri harus dilindungi dan persaingan bebas barang-barang luar negeri dengan penetapan tarif barang impor yang tinggi dengan caralainnya, tetapi jika kemampuannya bersaing telah meningkat dan dianggap sepadan, industridalam negeri harus mampu bersaing tanpa adanya proteksi.Sejak awal garis kebijaksanaan KEPPBBAL ini diterima dengan tidak antusias olehPemerintah Amerika Latin. Keengganan ini merupakan salah satu sebab mengapaKEPBBAL tidak mampu merealisasikan beberapa gagasan lainnya yang lebih radikal,diantaranya termasuk program pembagian tanah. Sayang program KEPBBAL ini tidak berhasil. Stagnasi ekonomi dan represi politik muncul dipermukaan pada tahun 1960an.Dalam hal ini ditunjuk dan dijelaskan berbagai kelemahan dan kebijaksanaan industralisasisubsitusi impor (ISI) yang dijalankan oleh Amerika Latin. Daya beli masyarakat terbatas pada kelas sosial tertentu, pada pasar domestik ternyata tidak menunjukkan gejala ekspansisetelah kebutuhan barang dalam negeri tersedia. Ketergantungan terhadap impor hanyasekedar beralih dari barang-barang konsumsi ke barang-barang modal. Barang-barang ekspor konvensional tidak terperhatikan dalam suasana hiruk pikuk industrialisasi. Akibatnya adalahtimbulnya masalah-masalah yang akut pada neraca pembayaran, yang muncul hampir bersamaan waktunya, disatu negara diikuti segera oleh negar yang lain. Optimisme pertumbuhan berganti depresi yang mendalam. b. Neo-Marxisme Teori dependensi juga memiliki warisan pemikiran dari neo-marxisme. KeberhasilanRevolusi RRC dan Kuba telah membantu tersebarnya perpaduan baru pemikiran-pemikiranMarxisme di universitas-universitas di Amerika Latin, yang kemudian menyebabkan lahirnyagenerasi baru, yang dengan lantang menyebut dirinya sendi dengan Neo-Marxists. Menutur Foster-Carter, neo-marxisme berbeda dengan Marxis ortodoks dalam beberapa hal sebagai berikut: Marxis ortodoks melihat imperialisme dari sudut pandang negara-negara utama (corecountries), sebagai

tahapan lebih lanjut dari perkembangan kapitalisme di Eropa Barat,yakni kapitalisme monopolistic, neo-marxisme melihat imperialisme dari sudut pandangnegara pinggiran, dengan lebih memberikan perhatian pada akibat imperilalisme padanegara-negar dunia ketiga. Marxis ortodoks cenderung berpendapat tentang tetap perlu berlakunya pelaksanaan duatahapan revolusi. Revolusi borjuis harus terjadi lebih dahulu sebelum revolusi sosialis.Marxis ortodoks percaya bahwa borjuis progresif akan terus melaksanakan revolusi borjuis yang tengah sedang berlangsung dinegara Dunia Ketiga dan hal ini merupakankondisi awal yang diperlukan untuk terciptanya revolusi sosialis dikemudian hari. Dalamhal ini neo Marxisme percaya, bahwa negara Dunia Ketiga telah matang untuk melakukan revolusi sosialis.Terakhir, jika revolusi soaialis terjadi, Marxisme ortodoks lebih suka pada pilihan percaya, bahwa revolusi itu dilakukan oleh kaum proletar industri di perkotaan. Dipihak lain,neo-Marxisme lebih tertarik pada arah revolusi Cina dan Kuba. Ia berharap banyak padakekuatan revolusioner dari para petani di pedesaan dan perang gerilya tentara rakyat. 4. Implikasi kebijiaksanaan teori dependensi klasik Secara filosofis, teori dependensi menghendaki untuk meninjau kembali pengertianpembangunan. Pembangunan tidak harus dan tidak tepat untuk diartikan sebagai sekedar proses industrialisasi, peningkatan keluaran (output), dan peningkatan produktivitas. Bagiteori dependensi, pembangunan lebih tepat diartikan sebagai peningkatan standar hidup bagisetiap penduduk dinegara Dunia Ketiga. Dengan kata lain, pembangunan tidak sekedar pelaksanaan program yang melayani kepentingan elite dan penduduk perkotaan, tetapi lebihmerupakan program yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk pedesaan, para pencari kerja, dan sebagian besar kelas sosial lain yang dalam posisimemerlukan bantuan. Setiap program pembangunan yang hanya menguntungkan sebagiankecil masyarakat dan membebani mayoritas masyarakat tidaklah dapat dikatakan sebagai program pembangunan sebenarnya. 5. Perbandingan teori modernisasi dengan teori dependensi Kedua teori ini berbeda dalam memberikan jalan keluar persoalan keterbalakangan negaraDunia Ketiga. Teori modernisasi menganjurkan untuk lebih memperat keterkaitan negara berkembang dengan negara maju melalui bantuan modal, peralihan teknologi, pertukaran budaya dan lain sebagainya. Dalam hal ini, teori dependensi memberikan anjuran yang samasekali berbeda, yakni berupaya secara terus menerus untuk mengurangi keterkaitannyanegara pinggiran dengan negara sentral, sehingga memungkinkan tercapainya pembangunanyang dinamis dan otonom, sekalipun proses dan pencapaian tujuan ini mungkin memerlukanrevolusi sosialis. Elemen perbandinganTeori modernisasi klasikTeori dependensi klasik 1.Persamaan fokus perhatian (keprihatinan). Pembangunan dunia ketiga.o Sama.2.Metode. Sangat abstrak. Perumusan model-model.o Sama.o Sama.3.Dwi-kutub Tradisional dan modern.o Sentral (metropolis). struktur ekonomi. (maju).o Pinggiran (satelit).4.Perbedaanwarisan teoritis. Teori evolusi. Teori fungsionalisme.o Program KEPBBAL.o Marxis ortodoks.5.Hubungan internasional. Saling menguntungkan.o Merugikan negara duniaketiga.6.Masa depandunia ketiga. Optimis. o Pesimis.7.Kebijaksanaan pembangunan(pemecahan masalah). Lebih mendekatkanketerkaitan negara maju.o Mengurangi keterkaitandengan negara sentralrevolusi sosialis. 6. Hasil kajian teori dependensi klasik. a. Tenaga teori depandensi klasik Ketergantungan dan keterbelakangan Indonesia mencerminkan kerakteristik yang khas teoridependensi dalam usahanya menguji persoalan pembangunan Dunia Ketiga. Dari padanyadiharapkan dapat dilihat secara lebih jelas dan karena itu dapat dicari kekuatan teoridependensi dalam mengarahkan pola pikir peneliti, para perencana kebijaksanaan, dan pengambil keputusan untuk mengikuti tesis-tesis yang diajukan. Dalam hal ini teoridependensi dibanding dengan dua pendekatan pokok yang lain. Namun lebih ditujukan untuk menggali sejauh mana tenaga yang dimiliki teori dependensi dalam mempengaruhi peta pemikiran persoalan pembangunan. Nampaknya ketiga hasil kajian tersebut memiliki asumsi yang sama, yakni ketergantungan pembangunan yang terjagi di negara-negara tersebut disebabkan oleh faktor luar, yang tidak berada didalam jangkauan pengendaliannya, yang pada akhirnya posisi ketergantungan iniakan membawa akibat jauh berupa keterbelakangan

pembangunan ekonomi. b. Ketergantungan dan faktor luar. Tenaga inti yang dimiliki oleh teori dependensi klasik dapat diketahui dari kemampuannyauntuk mengarahkan peneliti dan pengambil keputusan untuk menguji sejauh mana dominasiasing telah secara signifikan mempengaruhi roda pembangunan nasional.c. Ketergantungan ekonomi.Dengan merumuskan ketergantungan sebagai akibat dari adanya ketimpangan nilai tukar barang dalam transaksi ekonomi, teori dependensi telah mampu mengarahkan para pengikutnya untuk lebih memperhatikan dimensi ekonomi dari situasi ketergantungan.Dalam hal ini, sekalipun teori dependensi sama sekali tidak mengesampingkan dimensi politik dan budaya, persoalan ini hanya dilihat sebagai akibat lanjutan dari dimensi ekonomi.d. Ketergantungan dan pembangunan.Teori dependensi klasik hampir secara sempurna menguraikan akibat negatif yang harusdialami negara Dunia Ketiga sebagai akibat situasi ketergantungannya. Bahkan terkadangtarasa agak berlebihan, ketika teori dependensi menyebutkan bahwa hanya denganmenghilangkan sama sekali situasi ketergantungan, negara Dunia Ketiga baru akan mampumencapai pembangunan ekonomi.e. Kritik terhadap teori dependensi.Sejak tahun 1970an, teori dependensi klasik telah demikian banyak menerima kritik. Padadasarnya kritik yang mereka ajukan mendasarkan diri pada ketidakpuasan mereka terhadapmetode kajian, konsep, dan sekaligus implikasi kebijaksanaan yang selama ini dimiliki olehteori dependensi klasik.f. Metode pengkajian.Teori dependensi menuduh ajaran teori modernisasi tidak hanya sekedar pola pikir yangmemberikan pembenaran ilmiah dari ideologi negara-negara barat untuk mengeksploitasinegara dunia ketiga. Dalam menanggapai kritik ini, teori modernisasi membalas dengan tidak kalah garangnya, dengan menunjuk bahwa teori dependensi hanya merupakan alat propaganda politik dari ideologi revolusioner Marxisme. Baginya, teori dependensi bukanmerupakan karya ilmiah, melainkan lebih merupakan pamflet politik g. Kategori teoritis.Teori dependensi menyatakan, bahwa situasi ketergantungan yang terjadi di Dunia Ketigalahir sebagai akibat desakan faktor eksternal. Disinilah para penganut pola pikir neoMarxisme mengarahkan kritiknya. Mereka menuduh, bahwa teori dependensi secara berlebihan menekankan pentingnya pengaruh faktor eksternal, dengan hampir melupakansama sekali dinamika internal, seperti misalnya peranan kelas sosial dan negara.h. Implikasi kebijaksanaan.Sejak dari awal penjelasannya, teori dependensi telah secara tegas dan detail menguraikanakibat buruk dari kolonialisme dan pembagian kerja internasional. Teori ini berpendapat,selama hubungan pertukaran yang tidak berimbang ini tetap bertahan sebagai landasanhubungan internasional, maka ketergantungan negara dunia ketiga tetap tak terselesaikan.Oleh karena itu, teori dependensi mengajukan usulan yang radikal untuk mengubah situasiketimpangan ini, yakni dengan revolusi sosialis. Teori dependensi baru a. Fase ketergantungan dinamis.Pada masa krisis moneter dan krisis kepercayaan melanda bumi Indonesia tercinta banyak sekali permasalahan yang timbul akibat dari hal ini. Dampaknya dalam kehidupansehari-hari masyarakat adalah makin meningkatnya jumlah angka kemiskinan yangseharusnya turun dengan adanya priogram-program yang dilaksanakan pemerintah bukanmenjadi semakin terpuruk.Hal itupun dirasakan oleh pemerintah Indonesia sebagai masalah baru yang harusdiselesaikan secepatnya. Jika tidak kondisi atau keadaan akan semakin terpuruk dan akanmenimbulkan kekacauan, konflik, tIndak kriminal, dan lain sebagainya. Pada awal-awal terjadinya krisis moneter pemerintah Indonesia sangat bergantungsekali dengan pihak luar. Karena pemerintah harus membangun negara ini dari tahap yangterkecil hingga tahap yang terbesar. Kebijakan pemerintah pada saat itu adaLah denganmenerima bantuan dana dari IMF (International Monetary Foundation) berupa bantuan pinjaman dana yang harus dikembalikan pada waktu yang telah ditentukan sesuai dengankesepakatan yang telah dibuat.Setelah krisis moneter telah berlalu yang ditandai dengan membaiknya kondisiekonomi dan segala aspek kegiatan di segala bidang serta hutang bantuan dana yang telahdilunasi, negara ini tetap masih mengantungkan perputaran roda pemerintahan ini kepadanegara-negara luar. Hal ini dapat dilihat dengan masih banyaknya investor asing yangmenduduki peringkat atas dalam pemegang kekuasaan di industri-industri. Saham-sahamyang dimiliki indonesia pun ada sebagian dijual kepiha asing misalnya, Indosat, HMSampoerna, dan lain-lainnya. Hal ini, dapat

membuktikan bahwa perekonomian negara inimasih bergantung dengan negara-negara asing, dalam ini mengenai penanaman dana investor untuk industri-industri di Indonesia, yang berakibat pemerintah Indonesia sangat sulit lepasdari ketergantungan. b. Kekuatan teori dependensi baru Teori dependensi baru telah mengubah berbagai asumsi dasar yang dimilki oleh teoridependensi klasik. Teori ini tidak lagi menganggap situasi ketergantungan sebagai suatukeadaan yang berlaku umum dan memilki karakteristik yang serupa tanpa mengenal batasruang dan waktu. Situasi ketergantungan juga tidak lagi semata disebabkan oleh faktor eksternal, lebih dari itu, teori dependensi baru ini tidak memberlakukan lagi situasiketergantungan sebagai persoalan ekonomi yang akan mengakibatkan adanya polarisasiregional dan keterbelakangan, ketergantungan, menurut teori yang telah diperbaharui ini,lebih dikonsepkan sebagai sesuatu yang memiliki batas ruang dan waktu yang karenanyaselalu memiliki ciri yang unik. Dengan kata lain, situasi ketergantungan merupakan situasiyang memiliki kesejarahan yang spesifik. Lebih dari itu, faktor internal memilki andillahirnya suasana ketergantungan, dan karenanya ketergantungan juga merupakan persoalan politik sosial. Dengan perubahan pendekatan seperti yang telah diuraikan, tidak heran jika teoridependensi baru ini telah melahirkan berbagai ketegori ilmiah baru yang sebelumnya tidak dimiliki oleh teori dependensi klasik seperti misalnya adalah pembangunan yang bergantung, negara birokratik otoriter, aliansi tiga kelompok dan pembangunan yangdinamis. Sebagai akibatnya, pengartian-pengartian baru ini telah mampu membantumembuka jendela untuk melihat persoalan baru, atau paling tidak dengan pisau analisa baru,yang pada gilirannya telah menghasilkan tidak sedikitnya karya penelitian baru yang mengujisecra lebih teliti persoalan pembangunan dan ketergantungan di negara dunia ketiga. Teori dependensi klasikTeori dependensi baru 1.Persamaan pokok perhatian Negara dunia ketigao Sama2.Level analisa Nasional o Sama3.Konsep pokok implikasi Sentral-pinggiran Ketergantungano Sama4.Kebijaksanaan Ketergantungan bertolak- belakang dengan pembangunano Sama5.Perbedaanmetode Abstrak pola umum ketergantungano Historis-struktural situasikonkrit ketergantungan6.Faktor pokok Eksternal kolonialisme danketidakseimbangan nilaitukar o Internal negara dankonflik kelas7.Ciriciri politik ketergantungan Fenomena ekonomiso Fenomena sosial 8.Pembangunan danketergantungan Bertolak-belakang Hanya menuju padaketerbelakangano Koeksistensi:o Pembangunan yang bergantungOktober 8, 2008- Ditulis oleh prari007luck | Uncategorized |asumsi dasar ,ECLA,KEPBBAL, ketergantungan, Neo-Marxisme, prayit,sejarah perkembangan, teori depedensi,teori dependensi bar PERSPEKTIF DEPENDENSIBab IVTeori Dependensi Klasik Sejarah LahirnyaPendekatan dependensi pertama kali muncul di amerika latin. Pada awal kelahirannya, teori inilebih merupakan jawaban atas kegagalan program yang di jalankan oleh komisi ekonomi perserikatan Bangsa-bangasa untuk amerika latin (KEPBBAL). Teori ini lebih menitikberatkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan negara dunia ketiga. Dalam hal ini, dapatdikatakan teori dependensi mewakili suara negara-negara pinggiran untuk menantanghegemoni ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari negara maju.Secara ringkas , teori ini lahir sebagai paradigma baru ntuk memberikan jawaban atas kegagalan program KEPBBAL, krisis teori marxis ortodoks, dan menurunnya kepercayaan terhadap teorimodernisasi di Amerika serikat.Asumsi Dasar Teori Dependensi Klasik Mirip dengan teori modernisasi, teori dependensi juga sangat bervariasi . para pendukung nya berasal dari berbagai disiplin ilmu sosial, mereka mempelajari berbagai negara di ameika latinmaupun negara di belahan benua yang lain.para penganutaliran dependensi cenderung memilikiasumsi dasar sebagai berikut: 1. keadaan ketegantungan dilihat sebagai suatu gejala yang sangat umum, berlaku bagi seluruhnegara Dunia ketiga.2. Ketergantungan dilihat sebagai kondisi yang di akibatkan oleh faktor luar3. permasalahan ketergantungan lebih dilihatnya sebagai masalah ekonomi, yang terjadi akibatmengalirnya surplus ekonomi dari negara dunia ketiga ke negara maju4. situasi ketergantungan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses polarisasi regionalekonomi global5. keadan ketergantungan dilihatnya sebagai suatu hal yang mutlak bertolak belakang

dengan pembangunan.Implikasi kebijaksanaan Teori Dependensi Klasik Secra filosofis, teori dependensimengkehendaki untuk meninjau kembali pengertian pembangunan. Teori dependensimenyadari sepenuhnya , bahwa para penguasa yang telah mapan, pemilik modal besar, petyanikaya dan tuan rumah, para pemimpin organisasi keagamaan, pemimpin informal msayarakat,serta para elit yang lain kemungkinan besar tidak akan menyetujui kebijaksanaan pembangunanyang mencoba untuk memutuskan hubungan dengan negara majuyang selama ini telah terbinadengan baik, sebagai akibat dari telah demikian erat keterkaitan kepentingan politikekonomimereka dengan kepentingan negara maju.Perbandingan Teori Dependensi dan Teori ModernisasiPada bagian akhir bab ini akan dibahas kemungkinan persamaan dan perbedaan antara teoridependensi klasik dengan teori modernisasi klasik. Dua teori ini juga sama-sama memiliki perhatian yang sama yakni memempelajari persoalan-persoalan pembangunan dunia ketiga.Disiamping kemiripanya, kedua teori ini juga memiliki perbedaan-yang bertolak belakang.Teori modernisasi klasik sangat dipengaruhi oleh perkembangan teori evolusi eropa dan teoristruktural-fungsionalisme di amerika, sedangkan teori dependensi lebih dipengaruhi oleh program liberal dan moderat dari KEPBBAL dan teori neo-marxis radikal.Kedua teori ini juga berbeda dalam hal menjelaskan sebab keterbelakangan negara dunia ketiga.Teori modernisasi lebih menekankan pada penjelasan faktor dalam, sedangkan teoridependensi lebih menyebut kan faktor luar.Bab VHasil Kajian Teori dependensi Klasik Dalam bab ini akan disajikan tiga hasil kajian teori dependensi klasik, yaiu: hasil penelitianBaran tentang kolonialisme di india, hasil penelitian Landsbergtentang munculnya imperialisme baru di Asia timur, dan hasil kajian dari Sritua arief dan Adi sasono.Ketiga nya dianggap cukupmewakili pemikiran-pemikiran teori dependensi klasik.Baran: Kolonialisme di indiaMenurutnya, india merupakan salah satu negara maju didunia pada abad ke-18.itu di karenakankondisi ekonomi india secara relatif sudah maju, dan usaha perdagangan, industri dan cara berproduksinya tidak berbeda dengan yang ada di negara lain yang sudah maju.Secara ringkas, Baran berpendaoat bahwa pemindahan surplus ekonomi dari india ke inggris,kebijaksanaan deindustrialisasi india, dan pembanjiran barang produksi inggris ke india, serta pemiskinan massal pedesaan india telah menjadi sebab dan sepenuhnya bertanggung jawabterhadap keterbelakangan india.Lsandberg: Tumbuhnya Imperialisasi Di Asia Timur Dalam mengmati pelaksanaan dan hasil kebijaksanaan indusrialisasi dengan orintasi ekspor (IOE) di korea, taiwan, singapura, dan hongkong, landsberg mengajukan pertanyaan tunggalyakni apakah negara-negara ini akan atau harus dijadikan model pembangunan negara duniaketiga. Secara ringkas, Landsberg menyimpulkan bahwa sekalipun IOE membantu tumbuhnyaundustri dan tersedianya lapangan kerja di dunia ketiga, strategi IOE tidak akan mampumenumbuhkan tejadinya akumulasi modal dan pembangunan ekonomi yang mandiri dantangguh. Sritua Arief dan Adi Sasono: Ketergantungan dan Keterbelakangan IndonesiaSecara ringkas, setelah memperhatikan tolak ukur yang digunakan, Arief dan sasonomenyimpukan bahwa situasi ketergantungan dan keterbeakangan sebagian besar telah telahterbukti dapat menerangkan dan menganalisis proses ekonomi indonesia, sebagai negara bekas jajahan, dan sebagai suatu negara yang mengandung banyak unsur yang tidak Egalitarian Teori DepedensiaTeori ini muncul di Amerika latin, yang menjadi kekuatan reaktif dari suatu kegagalan teorimoderenisasi dalam pembangunan yang sedang dijalankan, dalam konsp berfikir teoriketergantungan, pembagian kerja secara internasional adalah yang menyebabkanketeberlakangan negara-nagera pertanian.Kemudian muncul pertanyaan mengapa pembagiana kerja internasional bila tiap-tiap negaramempunyai sepesialisasi produksi sesuai keuntungan komparatif yang dimilikinya, ternyata tidak menguntungkan semua negara ?Teori moderenisasi menjawab masalah tersebut dengan kesalahan terletak pada negaranegaratersebut yang melakukan moderenisasi dirinya, disini teori depedensi yang berlandaskansterukturalisme berpandapat bahwa kemiskinan yang terdapat dinegara dunia ketiga yangmengkhususkan pada produksi pertanian adalah akibat setruktur perekonomian dunia yang bersifat ekploitatif, dimana yang kuat melakukan ekploitasi terhadap yang lemah. Maka surplusdari negara-negara dunia ketiga berpindah ke negara-negara maju.Yang cukup menarik adalah dalam perkembangannya, teori ketergantungan ini justru menolak teori maxsis klasik yang memuat asusmsi:1. Nagara Dunia ketiga adalah negara yang tidak dinamis, yang memakai cara berproduksi orangasia yang sangat berbeda dengan orang eropa yang mengahasikan modal

kapitalisme.2. Negara-negara duinia ketiga ini setelah berhubungan dengan sitem kapitalisme akan mengikuti jejak negara-negara kapitalis yang telah maju. Di kalangan pemikir teori ketergantungan yang berkembang lebih lanjut, mereka membantah kedua tesis diatas dan mengembangkan inti pemikiran yang lebih maju yaitu:1. Negara-Negara pinggiran (Dunia ke III) yang pra kapitalis sebenarnay memiliki dinamikanyasendiri apabila tidak berhubungan dengan sistem kapitalisme akan berkembang dengansendirinya 2. Justru karena penagruh sistem kapitalisme negara maju, parkembangan negara pinggiran jaditerhambat.Hal tersebut adalah beberapa contoh ditinggakatan makro analisis teori depedensi sedangakan ditingkatan mikro dapat kita lihat bagaimana hal tersebut dapat dibuktikan oleh terori depedensidimana beberapa fenomena hubungan yang bersifat ekploitatif 1. Bagaimana Kerdit yang diberikan kepada rakyat kecil terbentuk (Pedagang kecil dan petani)denga terkesan memberikan kebebasan kepeda mereka untuk berusaha secara alamiah di pasar bebas?. Bagaimana pula campur tangan pihak birokrasi pemerintah dan pihak perbank-kanmemberi pengaruh yang tidak kecil ketika mengucurkan kredit kepada petani. Bagaimana bantuan mereka selalu melalui lingkaran aparat birokrasi pemerintahan sehingga terkesan sangattidak sehat, karena aparat birokrasi ikut mengerogoti besar bantuan tadi dalam bentuk pembinaanyang tidak Fungsional.2. Bagaimana aparat birokrasi pemerintah menciptakan ketergantungan pelayanan kepada pengusaha atau pemodal besar sehingga sehingga memberikan fasilatas kepada mereka dalamkerangka pengembangan usaha mereka di pasar bebas3. Bagaimana Multy National Corporation (MNC) mengembangkan usaha di negara berkembang, dengan menciptakan ketergantunagan pelayanan pada pusat-pusat distribusi yangmereka ciptakan (misal dalam layanan purna jual dll)Saatnya negara-negara berkembang berani mengatakan tidak kepada negara maju dengansejumlah paket kerja ekonomi yang timpang, di indonesia sendiri kita bisa lihat banyak perusahaan Trans Nasional yang mengalai kekayaan alam di Indonesia tapi tidak ada dampak positif untuk masyarakat, yang paling mencolok adalah PT Freeport yang mengambil gunungemas, dengan meninggalkan lubang dalam sisa penggalian, tetapi masyarakat sekitar hanya bisamengigit jari ketika gunung emasnya dibawa pergi, Negara Dunia Ketiga harus menentukannasibnya sendiri untuk emngembalikan kejayaanya.Diposkan oleh Adhitya Johan Rahmadan, Special Region Yogyakarta di03:54 GAMBARAN TEORI DEPENDENSI Teori Dependensi lebih menitik beratkan pada persoalan keterbelakangan dan pembangunan negara Dunia Ketiga. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa teori dependensimewakili suara negara-negara pinggiran untuk menantang hegemoni ekonomi, politik, budayadan intelektual dari negara maju. Munculnya teori dependensi lebih merupakan kritik terhadaparus pemikiran utama persoalan pembangunan yang didominasi oleh teori modernisasi. Teori inimencermati hubungan dan keterkaitan negara Dunia Ketiga dengan negara sentral di Baratsebagai hubungan yang tak berimbang dan karenanya hanya menghasilkan akibat yang akanmerugikan Dunia Ketiga. Negara sentral di Barat selalu dan akan menindas negara Dunia Ketigadengan selalu berusaha menjaga aliran surplus ekonomi dari negara pinggiran ke negara sentral.Bila teori Dependensi Klasik melihat situasi ketergantungan sebagai suatu fenomenaglobal dan memiliki karakteristik serupa tanpa megenal batas ruang dan waktu. TeoriDependensi Baru melihat melihat situasi ketergantungan tidak lagi semata disebabkan faktor eksternal, atau sebagai persoalan ekonomi yang akan mengakibatkan adanya polarisasi regionaldan keterbelakangan. Ketergantungan merupakan situasi yang memiliki kesejarahan spesifik dan juga merupakan persoalan sosial politik