Anda di halaman 1dari 137
Unit 1
Unit 1

PENGERTIAN DAN PENDEKATAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN

Pendahuluan

EDDY TUKIDJAN

U nit I (satu) ini akan mengajak Anda mengkaji tentang pengertian sosiologi pendidikan, pendidikan dan persepektif budaya. Materi unit ini akan membawa

Anda untuk memperluas wawasan, pemahaman, sebagai landasan untuk berinteraksi dengan teman sejawat, dosen, birokrasi sekolah, keluarga dan masyarakat dalam

kegiatan sehari-hari baik di sekolah maupun masyarakat. Setelah mempelajari materi unit ini, Anda diharapkan dapat:

1. Menjelaskan pengertian sosiologi pendidikan.

2. Menjelaskan pendekatan sosiologi pendidikan.

3. Menjelaskan faktor-faktor pendekatan individual

4. Mendeskripsikan faktor biologis pada tingkah laku manusia.

5. Mendeskripsikan faktor psikologis pada tingkah laku manusia.

6. Mendeskripsikan pendekatan sosial.

7. Mendeskripsikan 4 proses pendekatan sosial.

8. Mendeskripsikan pendekatan interaksi.

9. Mendeskripsikan 3 jenis interaksi dengan lingkungan.

10. Menjelaskan pengertian kebudayaan menurut beberapa ahli.

11. Menjelaskan pendidikan merupakan bagian integral dari kebudayaan.

12. Mendeskripsikan pendidikan di sekolah dapat menjadi pusat kebudayaan apabila memenuhi 4 ciri khusus.

13. Menjelaskan pendidikan (sekolah) merupakan sarana untuk pembudayaan.

14. Mendeskripsikan peranan sekolah dalam hal kebudayaan.

Materi ini diberikan pada semester awal merupakan bahan yang harus dikuasai untuk dilanjutkan pada unit-unit berikutnya. Agar kajian berikutnya tidak mengalami kesulitan, maka Anda diharapkan dapat menguasai dan memahami materi ini secara tuntas. Agar dapat menguasai tujuan pembelajaran di atas, Anda diharapkan mengikuti langkah-langkah yang ada dalam materi unit ini, disiplin yang tinggi, baik dalam waktu belajar maupun dalam mengikuti semua petunjuk akan sangat menentukan keberhasilan Anda. Tidak ada yang sukar dalam materi ini, agar dapat memperjelas dan memperdalam pemahaman, maka Anda dapat mengkaji bahan- bahan dari media lain antara lain seperti website. Anda pasti berhasil. Selamat belajar.

Subunit 1

Pengertian Dan Pendekatan Sosiologi Pendidikan

engertian sosiologi pendidikan, pendekatan sosiologi pendidikan merupakan materi yang harus dikuasai terlebih dahulu, agar Anda dapat mengkaji dan

memahami materi berikutnya secara baik. Materi belajar yang pertama ini mencakup:

Pengertian Sosiologi Pendidikan Pendekatan Sosiologi Pendidikan Bacalah dan kaji dengan cermat bahan cetak ini, pahami secara tuntas, kerjakan soal latihan dan soal tes formatif serta bacalah umpan balik dan tindak lanjut.

P

Uraian

A. Pengertian Sosiologi Pendidikan Apakah sosiologi pendidikan itu? Untuk menjawab pertanyaan ini ada

beberapa hal yang perlu dicermati, diantaranya sebagai berikut: Sosiologi pendidikan berasal dari kata sosiologi dan pendidikan, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya (Pidarta, 2000:145), Jadi sosiologi dapat ditafsirkan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana manusia itu berhubungan satu dengan yang lain dalam kelompoknya dan bagaimana susunan unit-unit masyarakat atau sosial di suatu wilayah serta kaitannya satu dengan yang lain. Menurut Mayor Polak dalam Gunawan (2000:3) disebutkan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakni hubungan antar manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formal maupun material, baik statis maupun dinamis. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi dalam Gunawan (2000:3) sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial

7

dan proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial. Menurut H.P. Fairchild dalam Ahmadi (2000:1) Sosiologi Pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental. Secara etimologi sosiologi pendidikan terdiri

sosiologi dan pendidikan, yang berarti aspek-aspek sosiologi dikaitkan dengan masalah-masalah pendidikan. Menurut Charles A. Ellwood dalam Ahmadi (2000:7) Sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari/menuju untuk melahirkan maksud hubungan-hubungan antara semua pokok-pokok masalah antara proses pendidikan dan proses sosial. Menurut Wuraji dalam Pidarta (2000:146) sosiologi pendidikan adalah ilmu yang membahas sosiologi yang terdapat pada pendidikan. Dari uraian tersebut di atas maka dapat ditafsirkan bahwa sosiologi pendidikan adalah aspek-aspek sosiologi yang diterapkan pada masalah-masalah pendidikan yang fundamental. Kaitan antara sosiologi pendidikan dengan sosiologi, ilmu pendidikan dan kelompok ilmu sosial dapat terlihat jelas dalam gambar di bawah ini.

ilmu sosial dapat terlihat jelas dalam gambar di bawah ini. Sosiologi Sosiologi Pendidikan Ilmu Pendidikan Gambar
Sosiologi Sosiologi Pendidikan Ilmu Pendidikan Gambar 1 Sosiologi Pendidikan dalam kelompok ilmu-ilmu sosial (Dirujuk
Sosiologi
Sosiologi
Pendidikan
Ilmu Pendidikan
Gambar 1 Sosiologi Pendidikan dalam kelompok ilmu-ilmu sosial (Dirujuk dari
Ravik Karsidi, 2005:2)

Mengapa dalam pendidikan terdapat aspek-aspek sosiologis sebab situasi pendidikan adalah situasi hubungan dan pergaulan sosial. Hubungan dan pergaulan sosial yang ada dalam pendidikan (sekolah) antara lain terjadi antara pendidik dengan pendidik, pendidik dan anak didik, anak didik dengan anak didik, pendidik dengan pegawai, pegawai dengan pegawai, anak didik dengan pegawai. Mengapa guru dan calon guru perlu memahami hal-hal yang berkaitan dengan sosiologi? Hal ini disebabkan antara lain:

1. Bahwa masyarakat mengalami perubahan sangat cepat, progresif. Perubahan yang cepat menimbulkan adanya cultural lag (ketinggalan kebudayaan akibat adanya hambatan-hambatan). Cultural lag ini merupakan paham sesuatu yang menimbulkan masalah-masalah sosial di masyarakat. Masalah yang timbul

tidak dapat diatasi oleh lembaga-lembaga pendidikan. Untuk itu para ahli sosiologi diharapkan dapat mengembangkan pemikirannya untuk ikut memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental. 2. Guru selain sebagai administrator, informatory dan pemimpin, maka harus berkelakuan menurut harapan masyarakatnya. Kepribadian guru dapat mempengaruhi suasana kelas/sekolah, baik kebebasan yang dinikmati anak dalam mengeluarkan pendapatnya dan mengembangkan kreatifitasnya ataupun pengekangan dan keterbatasan yang dialami dan pengembanga kepribadiannya. Kebebasan guru juga dibatasi oleh atasannya (kepala sekolah, pemilik, kepala Dinas sangsi menteri), keseluruhannya dipengaruhi, dibatasi, serta diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah dipengaruhi berbagai faktor antara ;ain menyangkut usaha murid, guru, orang tua, interaksi antara murid dengan murid serta lingkungan sosialnya baik yang dihadapi di dalam maupun di luar sekolah.

Anak memiliki perbedaan antara satu dengan lainnya menyangkut bakat, kemampuan pembawaannya, karena dipengaruhi lingkungan sosial yang berlainan. Untuk itu sudah sewajarnya bila seorang guru harus berusaha menganalisis pendidikan dari segi sosiologi, hubungan manusia dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Bagaimana perkembangan sosiologi pendidikan? Untuk menjawab permasalahan ini kita kaji bersama hal-hal sebagai berikut. Perkembangan sosiologi pendidikan di mulai oleh Jhon Dewey yang menerbitkan buku “School and society” tahun 1899. selanjutnya pada tahun 1920, F. R. Clow David Inedden, Ross Finney, C.C. Petrus, C.L. Robbius, E. R. Groves dan lain-lain meneruskan jalan pikiran tersebut di atas dan menekankan pentingnya nilai sosial pendidikan. Sosiologi pendidikan dikuliahkan pertama kali oleh Henry Awazalo tahun 1910 di Teaher College, Universitas Columbia. Pada tahun 1916 di Universitas New York dan Columbia didirikan jurusan sosiologi pendidikan. Himpunan untuk studi sosiologi pendidikan dibentuk pada konggres himpunan sosiologi Amerika pada tahun 1923. Sejak tahun 1928 terbitlah The Jurnal of educational Sociology di bawah pimpinan E. George Payne. Majalah social education mulai terbit tahun 1936. Sejak tahun 1940 dalam Review of Educational research dimuat artikel-artikel yang mempunyai hubungan dengan sosiologi pendidikan. Pada tahun 1967 sosiologi pendidikan diberikan pertama kali di IKIP Negeri Yogyakarta jurusan Didaktik kurikulum.

B. Pendekatan Sosiologi Pendidikan Pendekatan sosiologi pendidikan menggunakan beberapa pendekatan yaitu pendekatan individu, pendekatan sosial dan pendekatan interaksi.

1. Pendekatan individu Individu merupakan bagian dari kelompok atau masyarakat dengan kata lain bahwa individu merupakan pembentuk kelompok. Apabila kita dapat memahami tingkah laku individu satu persatu bagaimana cara berpikirnya, perasaannya, kemauannya, perbuatannya, mentalitasnya dan seterusnya, maka akhirnya dapat dimengerti bagaimana kelompok, bagaimana mentalita kelompok. Individu dipengaruhi oleh faktor intern meliputi faktor-faktor biologis dan psikologis, sedangkan faktor ekstern mencakup faktor-faktor lingkungan fisik dan lingkungan sosial (Ahmadi, 2000:27).

Pada bagian ini yaitu individu dibahas tentang faktor biologis pada tingkah laku manusia dan faktor psikologis pada tingkah laku manusia.

a. Faktor biologis pada tingkah laku manusia Menyangkut keadaan biologis manusia dapat mempengaruhi tingkah laku manusia, dapat ditemukan antara lain:

Penyelewengan nasionalisme yang ekstrim seperti yang dianut Hitler, bahwa ras Arya dari Jerman sebagai ras yang super, melebihi ras-ras yang lain. Ras kulit putih menganggap bahwa ras kulit hitam memiliki intelegensi yang rendah. Tetapi dalam penyelidikan-penyelidikan membuktikan bahwa tinggi rendahnya Intelegensi tidak tergantung pada asal ras, tetapi dipengaruhi faktor milieu fisik dan kultural pada masyarakat. Bangsa kulit berwarna belum maju karena berkaitan dengan kebebasan, fasilitas ekonomi, kemajuan kebudayaan, hubungan sosial yang luas dan keagamaan. Hal yang lain misalnya menyangkut makanan yang berkaitan dengan protein, jaringan otak dan saraf-sarafnya berasal dari protein, orang yang jaringan otaknya tumbuh secara baik karena protein, maka perkembangan Intelegensinya juga baik.

b. Faktor psikologis pada tingkah laku manusia Unsur kejiwaan atau psikologis dapat mempengaruhi tingkah laku manusia. Hal ini dipertegas sesuai pendapat Ahmadi (2000:36) yang menyatakan bahwa:

“Faktor-faktor hereditair, misalnya pembawaan, bakat dan sebagainya, yang harus kita akui sebagai kekuatan potensial, kekuatan yang latent,

kekuatan-kekuatan potensial mana baru dapat diaktuilkan, baru dapat dimanifestasikan kalau faktor-faktor milieu, faktor-faktor lingkungan sekitar mengijinkan, memberi kesempatan dan fasilitas yang mencukupi adanya”. Dari pendapat tersebut dapat memperjelas bahwa aktualitas seseorang yang berwujud tingkah laku dipengaruhi adanya unsur kejiwaan berupa hereditas dan juga faktor lingkungan (milieu).

2. Pendekatan Sosial Pendekatan sosial menekankan pada masyarakat dan pengaruh geografi. Di masyarakat terjadi individu berhubungan dengan individu dan juga menyesuaikan diri dengan lingkungan. Proses sosial dimulai dari interaksi sosial. Sedangkan interaksi dan proses sosial didasari oleh fakta-fakta sebagai berikut: 1) imitasi; 2) sugesti; 3) identifikasi; simpati (Pidarta, 2000:147). Imitasi adalah peniruan, misalnya anak meniru gurunya yang berpakaian rapi. Tetapi anak tidak meniru orang lain yang gemar minum- minuman keras. Meniru guru yang berpakaian rapi merupakan imitasi terhadap hal yang positif. Kalau anak ikut-ikutan minum-minuman keras terhadap temannya maka itu merupakan imitasi yang negatif. Sugesti adalah jika anak menerima atau tertarik pada pandangan atau sikap orang lain, ini dilakukan tanpa adanya kritik atau pertimbangan yang rasional. Identifikasi adalah keinginan untuk menggunakan dirinya kepada orang lain yang dianggap memiliki keistimewaan atau kelebihan. Simpati yaitu tertariknya orang satu terhadap orang lain. Timbulnya simpati karena berdasarkan penilaian perasaan.

3. Pendekatan Interaksi Dalam proses sosial terdapat interaksi sosial, yaitu suatu hubungan sosial antara individu dengan individu, antara individu dengan masyarakat dan sebaliknya. Interaksi sosial dapat terjadi apabila memenuhi syarat: 1) kontak sosial, 2) komunikasi (Pidarta, 2000:149).

Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk yaitu:

1. Kontak antar individu, misalnya antara anak dengan ibu di rumah, anak dengan anak, anak dengan guru di sekolah.

2. Kontak antara individu dengan kelompok atau sebaliknya, contohnya antara anak dengan kelompok remaja masjid atau gereja.

3.

Kontak antar kelompok, contohnya antara kelompok orang tua murid

dengan guru-guru. Komunikasi adalah proses penyampaian pikiran dan perasaan seseorang kepada orang lain atau sekelompok orang. Adapun alat-alat komunikasi antara lain : melalui pembicaraan, melalui mimik dengan lambang-lambang misalnya mengacungkan ibu jari, melalui alat-alat misalnya melalui media cetak dan elektronik. Sampai di sini Anda telah mempelajari dan menyelesaikan kegiatan belajar sub unit I (satu). Tentu Anda telah menguasai uraian di atas. Untuk mengetahui pemahaman Anda, kita kerjakan latihan berikut ini:

Latihan

1. Jelaskan apa yang dimaksud sosiologi!

2. Jelaskan mengapa dalam pendidikan terdapat aspek-aspek sosiologis!

3. Jelaskan mengapa unsur individu penting dalam pendekatan sosiologi pendidikan!

Rambu-rambu jawaban latihan

1. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia itu berhubungan satu dengan yang lain dalam kelompoknya dan bagaimana susunan unit-unit masyarakat atau sosial di suatu wilayah serta kaitannya satu dengan yang lain.

2. Sebab situasi pendidikan adalah situasi berhubungan dan pergaulan sosial.

3. Sebab individu merupakan bagian dari kelompok atau masyarakat, apabila dapat memahami tingkah laku individu, satu persatu bagaimana cara berpikirnya, perasaannya, kemauannya, perbuatannya, mentalitasnya maka akhirnya dapat dimengerti bagaimana kelompok, bagaimana mentalita kelompok.

Rangkuman

Sosiologi pendidikan adalah ilmu yang membahas sosiologi yang terdapat pada pendidikan, dapat disebut juga aspek-aspek sosiologi yang diterapkan pada masalah-masalah pendidikan yang fundamental. Pendekatan sosiologi pendidikan yaitu pendekatan individu, pendekatan sosial dan pendekatan interaksi individu dipengaruhi faktor intern dan ekstern, faktor intern meliputi faktor biologis dan psikologis. Faktor ekstern mencakup faktor-faktor lingkungan fisik dan lingkungan sosial.

Tes Formatif I

Kerjakan soal-soal berikut dengan cara memilih abjad di depan pilihan yang paling tepat untuk melengkapi pernyataan atau menjawab pertanyaan.

yang

mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan

1. Pendapat yang

menyatakan

bahwa

sosiologi

adalah

ilmu

struktur sosialnya merupakan pendapat dari….

A. H.P. Fairchild

B. H. Abu Ahmadi

C. Made Pidarta

D. Charles A. Ellwood

2. Dalam bidang pendidikan terdapat aspek-aspek sosiologi disebabkan ….

A. bidang pendidikan berkaitan dengan masalah fakta

B. bidang pendidikan berhubungan dengan masa depan

C. bidang pendidikan mempunyai andil peningkatan sumber daya

manusia

D. Bidang pendidikan menyangkut hubungan dan pergaulan sosial

3. Pendekatan individu meliputi beberapa faktor yaitu ….

A. faktor intern

B. faktor ekstern

C. faktor lingkungan

D. faktor intern dan ekstern

4. Berkaitan dengan faktor biologis, Intelegensi di pengaruhi oleh ….

A. ras kulit putih

B. ras kulit hitam

C. milieu dan kultural

D. kultural

5. Faktor-faktor yang termasuk hereditair adalah….

A. milieu

B. kultural

C. bakat

D. rasa sosial

6. Interaksi sosial dan proses sosial menurut Pidarta didasari hal-hal berikut,

kecuali….

A. imitasi

B. identifikasi

C.

partisipasi

D. sugesti

7. Jika anak tertarik menerima pandangan sikap orang lain disebut….

A. sugesti

B. emosi

C. identifikasi

D. adaptasi

8. Apabila guru berpakaian rapi, penuh kebajikan, berwibawa, berkata

benar, maka murid-muridnya meniru disebut….

A. partisipasi

B. identifikasi

C. sosialisasi

D. interaksi

9. Proses penyampaian pikiran dan perasaan dari seseorang kepada orang

lain disebut….

A. proses sosial

B. komunikasi

C. imitasi

D. partisipasi

10. Hubungan antara kelompok guru-guru dengan orang tua murid disebut….

A. kontak

B. kontak antar kelompok

C. kontak antar individu dengan kelompok

D. kontak antar individu

Selamat Anda telah berhasil menyelesaikan kegiatan sub unit I (satu). Sesuai tujuan pembelajaran sub unit I (satu) mudah-mudahan Anda dapat memahami dan menerapkan teori-teori tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Untuk mempermudah mengingat kembali materi yang telah dipelajari, Anda sebaiknya dapat membaca ulang rangkuman, mengerjakan soal latihan dan mengerjakan tes formatif dari setiap kegiatan belajar. Apabila Anda ingin mengetahui hasil tes formatif carilah kunci tes formatif pada bagian akhir modul ini dan mencocokkan jawaban Anda, kemudian hitung keberhasilan Anda dengan menggunakan rumus.

Rumus:

Tingkat penguasaan materi:

Jumlah jawaban Anda yang benar

Jumlah soal

Arti penguasaan yang Anda capai :

90

% - 100 % = baik sekali

80

% - 89 %

= baik

70

% - 79 %

= cukup

< 70 % = kurang

x 100 %

Apabila tingkat keberhasilan Anda telah mencapai 80 % atau lebih, berarti Anda sudah berhasil dan dapat meneruskan ke kegiatan belajar 2 (sub unit 2). Jikalau keberhasilan Anda kurang dari 80 %, bacalah kembali kegiatan belajar 1 (sub unit 1), sebelum melanjutkan ke kegiatan belajar 2 (sub unit 2).

Sosiologi Pendidikan

1-

Subunit 2

Pendidikan Dan Perspektif Budaya

Bagian modul ini membahas tentang

1. Pengertian kebudayaan

2. Pendidikan merupakan bagian integral dari kebudayaan

3. 4 ciri khusus agar pendidikan menjadi pusat kebudayaan

4. Pendidikan di sekolah merupakan sarana untuk pembudayaan

5. Peranan sekolah dalam hal kebudayaan

Setelah mempelajari materi ini. Anda diharapkan dapat:

1. Menjelaskan pengertian kebudayaan menurut berbagai ahli

2. Menjelaskan pendidikan merupakan bagian integral dari kebudayaan

3. Mendiskripsikan 4 ciri khusus agar pendidikan menjadi pusat kebudayaan

4. Menjelaskan pendidikan di sekolah merupakan sarana untuk pembudayaan.

5. Mendiskripsikan peranan sekolah dalam hal kebudayaan

Uraian

A. Pengertian Kebudayaan

Apakah kebudayaan itu? Untuk menjawab pertanyaan ini kita kaji uraian berikut ini. Kebudayaan berasal dari kata cultuur (bahasa Belanda) Culture (bahasa Inggris), colere (bahasa latin) yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan. Kebudayaan juga berasal dari buddhayah (bahasa sansekerta), yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Sedangkan pendapat yang lain menyatakan budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk = budi daya, yang berarti daya dari budi yang berupa cipta, rasa dan karsa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta , rasa, karsa.

Lebih lanjut kehidupan dapat diartikan hasil usaha untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya (Ahmadi 2004:58). Menurut E.B. Tylor dalam Ahmadi (2004:172) kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang

didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dari definisi tersebut, kebudayaan mencakup kesemuanya yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif, artinya mencakup segala cara- caracara atau pola-pola berpikir, merasakan dan bertindak. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi dalam Ahmadi (2004:173) kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material culture) yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat. Dari beberapa pendapat tersebut kebudayaan dapat ditafsirkan sebagai hasil cipta rasa dan karya manusia yang dijunjung tinggi.

B. Pendidikan Merupakan Bagian Integral Dari Kebudayaan

Berkaitan dengan pendidikan bahwa kebudayaan sebagai suatu pola dan hasil tingkah laku yang dipelajari oleh semua anggota masyarakat tertentu. Sebagai suatu hasil kebudayaan juga ditransmisikan dari generasi tua kepada generasi muda. Selain kebudayaan yang ada, ditransmisikan melalui pendidikan tetapi juga ada perubahan-perubahan sesuai dengan kondisi baru, sehingga terbentuklah pola tingkah laku baru, nilai-nilai dan norma-norma baru yang sesuai dengan tuntutan perkembangan masyarakat (Wardani, 1999:4.5). Menurut uraian di atas dapat ditafsirkan bahwa dengan pendidikan kebudayaan dapat diwariskan dan dengan pendidikan kebudayaan dapat diperbarui sesuai dengan kemajuan dan tuntutan masyarakat. Lebih lanjut secara jelas disebutkan bahwa pendidikan itu merupakan bagian dari kebudayaan (Wardani, 1999:4.2). Pendidikan itu merupakan bagian integral dari kebudayaan (Wardani, 1999:4.9). Menurut UU Nomor 4 tahun 1950 juncto nomor 12 tahun 1954 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan pengajaran di sekolah pada bab III pasal 4 dari pendidikan dan pengajaran adalah asas-asas yang termaktub dalam Pancasila dan UUD negara Republik Indonesia dan atas kebudayaan kebangsaan Indonesia. Demikian juga menurut UU nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Indonesia dijelaskan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945.

Sosiologi Pendidikan

1-

Dari uraian di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa pendidikan nasional Indonesia berkaitan erat dengan kebudayaan Indonesia sebab pendidikan nasional Indonesia berakar pada kebudayaan Indonesia.

C. Ciri Khusus Agar Pendidikan Menjadi Pusat Kebudayaan

Ciri khusus agar pendidikan menjadi pusat kebudayaan adalah : (1) dapat meningkatkan mutu, (2) dapat menciptakan masyarakat belajar, (3) dapat menjadi teladan masyarakat sekitarnya, (4) dapat membentuk manusia seutuhnya (Parsono dkk, 1990:4.16)

1. Peningkatan mutu pendidikan Agar peningkatan mutu pendidikan dapat tercapai secara optimal maka perlu diperhatikan antara lain :

a. Tujuan, Tujuan pendidikan harus dirumuskan secara jelas baik tujuan institusional, tujuan kurikulum, tujuan institusional maupun tujuan instruksional. Semua tujuan harus dirumuskan secara jelas, tepat dan berdasarkan kompetensi.

b. Materi pelajaran, materi pelajaran yang berbentuk pengetahuan, sikap dan ketrampilan hendaknya sesuai dengan kebutuhan dalam rangka mencapai tujuan kompetensi, isi materi pelajaran harus disusun sedemikian rupa untuk menemukan sesuatu. Organisasi materi harus dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk menganalisis, menyimpulkan, berbuat sesuatu dan mengerjakan sesuatu.

c. Metode pengajaran harus bervariasi, dapat meningkatkan siswa untuk berdiskusi, berlatih, berpikir ilmiah, dapat menemukan sesuatu sendiri, belajar bekerja sama.

d. Kemampuan yang telah dimiliki siswa (entry behavior) diperhatikan.

Metode dan materi pengajaran disesuaikan kemampuan siswa.

e. Fasilitas dan perlengkapan yang memadai sehingga dapat mendukung terjadinya proses belajar mengajar yang optimal.

2. Menciptakan Masyarakat Belajar Pendidikan hendaknya dapat menciptakan siswa agar ada upaya untuk selalu ingin tahu dan juga agar tercipta keinginan belajar sepanjang hayat.

3. Sekolah dapat menjadi teladan dari masyarakat Jika sekolah dapat menjadi teladan bagi masyarakat sekitarnya, maka sekolah dapat menjadi pusat kebudayaan.

4. Membentuk manusia Indonesia seutuhnya

Menurut UU No. 2 tahun 1989 bab II pasal 4 ciri-ciri seutuhnya adalah : (1) manusia yang beriman, (2) memiliki pengetahuan dan ketrampilan, (3) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (4) kepribadian yang mantap dan mandiri, (5) serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Parsono dkk, 1990:4.7).

D. Pendidikan Merupakan Sarana Untuk Pembudayaan

Melalui pendidikan merupakan sarana untuk membudayakan anak. Hal ini tercermin dari fungsi sekolah adalah mentransformasikan nilai budaya dari satu generasi ke generasi lainnya. Lebih lanjut hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan hubungan transformatif. Artinya sekolah memiliki kewajiban untuk mensosialisasikan nilai-nilai atau norma-norma yang ada di masyarakat kepada anak didik dengan berbagai perubahan-perubahan sebagai hasil perbaikan dari kekurangan yang ada. Dalam arti positif pendidikan dapat dipandang sebagai kegiatan inovasi (Sunaryo dan Nyoman Dantes,

1996/1997:40).

Dari uraian tersebut di atas dimaksudkan melalui pendidikan di sekolah, pendidikan dalam rumah tangga maupun pendidikan di luar sekolah dapat dipakai sebagai sarana untuk pembentukan kebudayaan. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan sarana untuk pembudayaan.

E. Peranan Sekolah Dalam Hal Kebudayaan

1. Peranan Sekolah Sebagai Pewaris Kebudayaan seperti telah dibahas terdahulu, yaitu hasil cipta, karsa dan karya manusia berupa norma-norma, nilai-nilai, kepercayaan dan tingkah laku yang dipelajari dan dimiliki semua anggota masyarakat tertentu dan dijunjung tinggi. Hasil cipta, karsa dan karya manusia yang memiliki nilai dan dijunjung tinggi tidak dengan sendirinya dimiliki oleh anak didik tanpa diajarkan (ditransmisikan) kepada anak atau dipelajari oleh anak tersebut.

2. Peranan Sekolah Sebagai Pemelihara Nilai-nilai budaya yang tinggi dan pantas untuk dilestarikan, maka sekolah perlu memelihara, sedangkan budaya yang tidak perlu seperti egosentris (mementingkan diri sendiri) lambat laun harus dikurangi.

3. Peranan Sekolah Sebagai Pembaru Kebudayaan Selain peranan sekolah sebagai pemelihara dan pewaris nilai-nilai budaya, juga sebagai pembaru (inovatif). Budaya yang sudah tidak sesuai dengan keinginan atau kehendak masyarakat dihilangkan, sedangkan yang

Sosiologi Pendidikan

1-

sesuai dengan kehendak masyarakat dijaga dan dikembangkan, sehingga timbul budaya-budaya baru di kemudian hari.

Sampai di sini Anda telah mempelajari dan menyelesaikan kegiatan belajar sub unit 2 (dua) tentu Anda telah menguasai uraian di atas, untuk mengetahui pemahaman Anda kita kerjakan latihan berikut ini.

Latihan

1. Jelaskan pengertian dari budaya menurut Ahmadi !

2. Jelaskan jenis budaya yang bagaimana yang perlu dilestarikan!

3. Jelaskan hal-hal apakah yang perlu diperhatikan dalam hal peningkatan mutu pendidikan!

Rambu-Rambu Jawaban Latihan

1. Budaya adalah daya dan budi pekerti yang berupa cipta, rasa dan karsa.

2. Yang dilestarikan adalah budaya yang masih diinginkan dari masyarakat.

3. Harus diperhatikan adanya tujuan pendidikan harus dirumuskan secara jelas, materi pelajaran harus sesuai dengan tujuan pendidikan, metode harus bervariasi dan sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.

RANGKUMAN

Kebudayaan berasal dari kata cultuur (bahasa Belanda), culture (bahasa Inggris), colere (Latin) yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan. Pendidikan merupakan bagian integral dari kebudayaan. Ciri khusus agar pendidikan menjadi pusat kebudayaan adalah peningkatan mutu pendidikan, menciptakan masyarakat belajar, sekolah sebagai teladan bagi masyarakatnya dan sekolah membentuk manusia Indonesia seutuhnya.

Tes Formatif 2

Kerjakan soal-soal berikut ini dengan cara memilih abjad di depan pilihan yang paling tepat untuk melengkapi pernyataan atau menjawab pertanyaan.

1. Kebudayaan berasal dari kata culture yaitu berasal dari bahasa…

A. Belanda

B. Inggris

C. Latin

D. Sansekerta

2. Kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat merupakan pendapat dari…

A. Selo Soemardjan

B. Soelaeman Soemardi

C. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi

D. E.B. Taylor

3. Melalui pendidikan maka kebudayaan dapat, kecuali….

A. diperbaharui

B. dimiliki

C. diwariskan

D. dirumuskan

4. Pembentukan kebudayaan dapat dilaksanakan, kecuali….

A. pendidikan di sekolah

B. pendidikan pramuka

C. teman sejawat

D. pendidikan pada keluarga

5. Membentuk keinginan untuk belajar sepanjang hayat dapat dibentuk melalui….

A. membentuk manusia Indonesia seutuhnya

B. menciptakan masyarakat belajar

C. sekolah sebagai teladan

D. metode penyampaian bervariasi

6. Pengertian dari pembudayaan berarti kebudayaan dapat ….

A. dibentuk

B. dipaksakan

C. diambil

D. dibuat

7. Peranan guru di sekolah dalam kebudayaan, kecuali….

A. sosialisasikan

B. transmisikan

Sosiologi Pendidikan

1-

C.

pewarisan

D. perekrutan

8. Dalam hal pembentukan kebudayaan guru dan murid mempunyai hubungan

yang….

A. sederajat

B. horizontal

C. vertikal

D. timbal balik

9. Bahwa

pendidikan

itu

merupakan

bagian

integral

dari

kebudayaan

adalah

pendapat dari ….

 

A. I.G.A.K Wardani

 

B. E.B. Taylor

 

C. Selo Soemardjan

D. H. Abu Ahmadi

10. Agar

pendidikan

menjadi

pusat

kebudayaan

apabila

memenuhi

kriteria,

kecuali….

A. peningkatan mutu pendidikan

B. menciptakan masyarakat belajar

C. pendidikannya mahal

D. membentuk manusia Indonesia seutuhnya.

Selamat Anda telah berhasil menyelesaikan kegiatan sub unit 2 (dua) sesuai tujuan pembelajaran sub unit 2 (dua), mudah-mudahan Anda dapat memahami dan menerapkan teori-teori tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Untuk mempermudah mengingat kembali materi yang telah dipelajari, Anda sebaiknya dapat membaca ulang rangkuman, mengerjakan soal latihan dan mengerjakan tes formatif dari setiap kegiatan belajar. Apabila Anda ingin mengetahui hasil tes formatif cari kunci tes formatif pada bagian akhir modul ini dan memecahkan jawaban Anda. Kemudian hitung keberhasilan Anda dengan menggunakan rumus :

Rumus:

Tingkat penguasaan materi:

Jumlah jawaban Anda yang benar

Jumlah soal

Arti penguasaan yang Anda capai :

90

% - 100 % = baik sekali

80

% - 89 %

= baik

70

% - 79 %

= cukup

< 70 % = kurang

x 100 %

Apabila tingkat keberhasilan Anda telah mencapai 80 % atau lebih, berarti Anda telah berhasil dan dapat meneruskan ke modul berikutnya. Jikalau keberhasilan Anda kurang dari 80 %, bacalah kembali kegiatan belajar 2 (dua), sebelum melanjutkan ke modul selanjutnya.

Sosiologi Pendidikan

1-

Kunci Jawaban Tes Formatif

 

Tes Formatif I

1.

C

2.

D

3.

D

4.

C

5.

C

6.

C

7.

A

8.

B

9.

B

10.

B

 

Tes formatif 2

1.

B

2.

C

3.

D

4.

C

5.

B

6.

A

7.

D

8.

C

9.

A

10.

C

Glosarium

Biologis

:

sifat jasmaniah seseorang

Karsa

:

kehendak

Sosiologi Pendidikan

1-

Daftar Pustaka

H.

Abu Ahmadi. 2004. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

H.

Aswandi Bahar. 1989. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta : Dirjen Dikti.

Made Pidarta. 2000. Landasan Kependidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

Mohammad

Ansyar.

Depdikbud.

1989.

Dasar-Dasar

Pengembangan

Kurikulum.

Jakarta:

Parsono dkk. 1990. Landasan Kependidikan. Jakarta : Depdikbud UT.

Redja Mudyahardjo. 1992. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta : Depdikbud.

Ravik Karsidi. 2007. Sosiologi Pendidikan. Solo : Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UNS dan UPT Penerbitan dan Percetakan UNS (UNS Press)

Soerjono Soekanto. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT. Raja Grasindo Persada.

Sunaryo Kartadimata. 1996/1997. Landasan-Landasan Pendidikan Sekolah Dasar. Jakarta: Dirjen Dikti.

Sutan Zanti Arbi dan Syakmiar Syahrun. 1991/1992. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta : Depdikbud UT.

Wardani,

I.G.A.K.

1999.

Universitas Terbuka.

Dasar-Dasar

Pendidikan

Sekolah

Dasar.

Jakarta:

Unit 2
Unit 2

INDIVIDU DAN MASYARAKAT, FUNGSI DAN PERANAN PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT

U nit 2 (dua) ini akan mengajak Anda mengkaji tentang Individu dan Masyarakat, fungsi dan peranan pendidikan dalam masyarakat. Materi ini akan membawa

Anda untuk memperluas wawasan berkaitan dengan individu, masyarakat, fungsi dan peranan pendidikan dalam masyarakat. Hal-hal tersebut berkaitan erat dengan tugas- tugas yang berhubungan dengan guru dengan siswa maupun kaitannya dengan masyarakat. Setelah mempelajari materi unit ini, Anda diharapkan dapat:

1. Mendeskripsikan pengertian individu

2. Mendeskripsikan fakta-fakta yang mempengaruhi adanya tingkah laku manusia.

3. Menjelaskan pengertian dari masyarakat.

4. Menjelaskan hubungan antar individu dengan masyarakat.

5. Mendeskripsikan perwujudan dari interaksi sosial.

6. Mendeskripsikan akibat interaksi sosial yang harmonis.

7. Mendeskripsikan fungsi pendidikan dalam masyarakat.

8. Mendeskripsikan kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan.

9. Mendeskripsikan hubungan antara pendidikan (sekolah) dengan masyarakat.

10. Mendeskripsikan pendidikan dalam perkembangan teknologi dan pengetahuan untuk kehidupan masyarakat.

Materi ini merupakan kelanjutan dari bahan unit 1 (satu) dan harus dikuasai sebelum melanjutkan unit-unit berikutnya. Agar kajian berikut tidak mengalami

kesulitan, maka Anda diharapkan dapat menguasai dan memahami materi ini secara tuntas.

Agar dapat menguasai tujuan pembelajaran di atas, Anda diharapkan mengikuti langkah-langkah yang ada dalam materi ini, agar dapat memperjelas dan memperdalam pemahaman, maka Anda diharapkan mengkaji bahan-bahan dari media lain antara lain seperti website, video. Anda pasti berhasil. Selamat belajar.

Subunit 1

Individu Dan Masyarakat

Bagian sub unit 1 (satu) ini membahas tentang :

1. Individu

2. Masyarakat

Setelah mempelajari materi ini, anda diharapkan dapat :

1. Mendeskripsikan pengertian individu.

2. Mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku individu.

3. Menjelaskan pengertian masyarakat.

4. Menjelaskan hubungan antara individu dengan masyarakat.

5. Mendeskripsikan perwujudan dari interaksi sosial.

6. Mendeskripsikan akibat interaksi sosial yang harmonis.

Uraian

A. Individu

A pakah individu itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita kaji bahan

sebagai berikut:

Individu merupakan bagian dari masyarakat, individu itu dianggap satu sel satu atom, dan kumpulan sel-sel itu merupakan struktur, merupakan suatu organisasi, ialah organisme (Ahmadi, 2004:26).

Dari uraian tersebut menunjukkan bahwa individu bagian yang terkecil dari masyarakat, disebutkan bahwa individu merupakan satu sel atau satu atom dari masyarakat. Lebih lanjut disebutkan :” untuk dapat mengerti tata kehidupan masyarakat (kelompok) perlu dibahas tata kehidupan individu yang menjadi pembentuk masyarakat itu” (Ahmadi, 2004:26). Menurut uraian tersebut dapat dikatakan tata kehidupan masyarakat dipengaruhi oleh tata kehidupan individu. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku individu adalah

faktor intern dan ekstern. Faktor intern meliputi faktor-faktor biologis dan

psikologis, sedangkan faktor ekstern mencakup faktor-faktor lingkungan fisik dan lingkungan sosial (Ahmadi, 2004:27).

4

Faktor biologis adalah faktor yang ada hubungannya dengan jasmaniah seseorang, sedangkan faktor psikologis berkaitan dengan rohaniah. Lingkungan fisik yaitu berkaitan dengan lingkungan dimana individu berada, adapun lingkungan sosial adalah menyangkut lingkungan dimana ia berhubungan sosial, berhubungan dengan masyarakat sekelilingnya.

B. Masyarakat

1. Pengertian Masyarakat Apakah masyarakat? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita kaji uraian berikut ini. Masyarakat menurut Arbi dan Syahrun (1991/1992:67) kelompok individu yang berintegrasi secara terorganisasi yang mengikuti suatu cara hidup tertentu. Sedangkan masyarakat menurut Ansyar (1989:49) merupakan suatu kumpulan para individu yang menyatakan diri mereka menjadi satu kelompok. Dari beberapa pendapat tersebut dapat ditafsirkan bahwa masyarakat adalah sekumpulan individu yang sudah terintegrasi dan terorganisasi yang mengikuti cara/pola hidup tertentu. Jadi dalam masyarakat bukan hanya sekelompok orang, melainkan juga terintegrasi dan terorganisasi dan juga mempunyai pola hidup tertentu.

2. Hubungan antara individu dengan masyarakat Antara individu dengan masyarakat mempunyai hubungan satu dengan yang lain, saling pengaruh mempengaruhi, individu mempengaruhi adanya masyarakat, sebaliknya masyarakat mempengaruhi individu. Keadaan masyarakat yang semakin maju dan kompleks mempengaruhi individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang semakin meningkat. Demikian juga adanya kebutuhan/keinginan individu mempengaruhi keberadaan masyarakat. Individu-individu semakin maju maka masyarakatnya juga semakin maju. Ditinjau dari kegiatannya hubungan antara individu dengan masyarakat dipengaruhi adanya pengaruh luar atau pengaruh dari individu yang bersangkutan, seperti norma-norma, kebudayaan, situasi, kepribadian individu, dan sebagainya (Yoesoef dan Santoso, 1986:2.2). Menurut pendapat tersebut faktor-faktor yang berasal dari luar dan dari dalam yaitu berupa norma-norma, kebudayaan, situasi, dan kepribadian individu.

3. Perwujudan dari interaksi sosial Syarat adanya interaksi sosial adalah : 1) adanya kontak sosial, 2) adanya komunikasi (Soekanto, 2006:64). Jadi agar terjadi interaksi sosial diperlukan syarat adanya kontak sosial dan adanya komunikasi. Adapun perwujudan interaksi sosial dapat berbentuk: 1) kerjasama, 2)

akomodasi, 3) asimilasi atau akulturasi, 4) persaingan, 5) pertikaian (Pirdarta,

2000:150-151).

Dari uraian tersebut dapat ditafsirkan sebagai berikut:

a. Kerjasama adalah suatu bentuk adanya bekerja bersama-sama, misalnya :

antara siswa dengan siswa, guru dengan murid antara guru dengan guru.

b. Akomodasi ialah usaha meredakan pertentangan, mencari kestabilan. Misalnya masyarakat tidak setuju adanya peraturan pemerintah nomor 37 (tentang Pemberian kenaikan tunjangan kepada anggota DPR), akhirnya pemerintah berusaha merevisi.

c. Asimilasi dan akulturasi ialah upaya mengurangi perbedaan pendapat antara anggota serta usaha meningkatkan persatuan dan kesatuan pikiran, sikap dan tindakan dengan memperhatikan tujuan-tujuan bersama. Hal- hal yang mempermudah akulturasi yaitu : 1) toleransi, 2) menghargai kebudayaan orang lain, 3) sikap terbuka, 4) demokrasi dalam banyak hal, dan 5) adanya kepentingan bersama.

d. Persaingan ialah bentuk kompetisi antara satu orang dengan orang lain atau bisa dari satu kelompok dengan kelompok lain. Persaingan ada yang berakibat baik ada juga yang berakibat buruk, berakibat baik misalnya persaingan harga suatu produk, maka akibatnya barang di pasaran menjadi murah, persaingan di kelas untuk mencapai prestasi yang tinggi maka memacu anak untuk giat belajar agar memperoleh nilai yang baik. Berakibat buruk misalnya saling menyalahkan atau menjelekkan antara satu dengan yang lain.

e. Pertikaian adalah pertentangan atau konflik. Hal-hal juga menimbulkan konflik antara lain perbedaan kepentingan, kebudayaan dan pendapat.

4. Interaksi yang harmonis Interaksi sosial yang harmonis dapat menghasilkan hal-hal yang bermanfaat bagi individu maupun masyarakat. Hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan seperti :”Adanya kerjasama, pemberian bantuan, solidaritas, bersatu dan sebagainya (Yoesoef dan Santoso, 1986:2.1).

Dengan kerjasama mengandung makna yang positif sebab kerjasama dalam hal positif dapat menghasilkan hasil yang bermanfaat bagi semua orang. Bangsa Indonesia memiliki salah satu keajaiban dunia yaitu Borobudur. Bangunan Borobudur tidak akan pernah terwujud apabila antara warga pada saat itu tidak bekerja sama. Jadi dengan kerjasama maka dapat mewujudkan hal-hal yang bermanfaat bagi warga negara. Bahkan sampai saat ini Borobudur merupakan tempat wisata yang terkenal bukan untuk warga negara Indonesia, tetapi juga warga bangsa-bangsa di dunia. Pemberian bantuan adalah bentuk dari toleransi atau solidaritas. Pada saat Indonesia terjadi bencana yang bertubi-tubi, kita semua sadar bahwa ada yang menerima bantuan ada yang memberi bantuan. Dengan adanya bentuk bantuan maka dapat meringankan beban bagi yang mengalami musibah, contoh : Tsunami di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta, kelaparan di Yakohimo, dan masih banyak lagi. Solidaritas adalah rasa sosial. Dengan solidaritas yang baik maka warga masyarakat yang mengalami penderitaan akan menjadi lebih ringan, karena ada solidaritas atau kesetiakawanan dari warga yang lain, yang kebetulan tidak mengalami penderitaan. Rasanya yang mengalami musibah atau menjadi diringankan dengan adanya solidaritas dari warga masyarakat yang lain. Bersatu adalah bentuk dari interaksi sosial yang positif. Dengan bersatu kita telah menikmati hasilnya. Contoh karena kita bersatu maka dapat merdeka dari penjajahan bangsa Belanda yang berlangsung selama ± 350 tahun. Dengan bersatu kita dapat membangun negara mulai dari Sabang sampai Merauke.

Latihan

1. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku individu!

2. Hubungan antara individu dengan masyarakat dipengaruhi faktor dari dalam dan faktor dari luar, sebutkan faktor-faktor tersebut!

3. Jelaskan apa yang dimaksud akomodasi!

Rambu-rambu jawaban soal

1. Faktor ekstern dan faktor intern

2. Faktor-faktor tersebut berupa norma-norma, kebudayaan, situasi, kepribadian individu.

3. Akomodasi adalah usaha meredakan pertentangan, mencari kestabilan.

Rangkuman

Individu adalah merupakan bagian yang terkecil dari masyarakat. Tata kehidupan masyarakat dipengaruhi oleh tata kehidupan individu. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku individu meliputi faktor intern dan faktor ekstern. Perwujudan adanya interaksi sosial berupa : kerjasama, akomodasi, asimilasi atau akulturasi, persaingan dan konflik. Akibat interaksi sosial yang harmonis yaitu antara lain kerjasama, pemberian bantuan, solidaritas dan bersatu.

Tes Formatif 1

Kerjakan soal-soal berikut ini dengan cara memilih abjad di depan pilihan yang paling tepat untuk melengkapi pernyataan atau menjawab pertanyaan.

1. Tingkah laku individu dipengaruhi adanya faktor intern dan ekstern yang termasuk faktor intern, kecuali….

A. perbedaan biologis

B. psikologis

C. lingkungan phisik

D. pembawaan

2. Pendapat yang menyatakan

masyarakat adalah kelompok individu yang

cara hidup tertentu

berintegrasi secara terorganisasi merupakan pendapat dari….

A. H. Abu Ahmadi

B. Sutan Zanti Arbi

C. Syahmiar Syahrun

D. Sutan Zanti Arbi dan Syahmiar Syahrun

yang

mengikuti

suatu

3. Hal-hal yang mempermudah akulturasi, kecuali….

A. toleransi

B. demokrasi

C. sikap terbuka

D. kompetisi

4. Pendapat yang menyatakan bahwa syarat interaksi sosial adalah kontak sosial dan

komunikasi yaitu pendapat dari….

A. Made Pidarta

B. Sorjono Soekanto

C. Soelaiman Yoesoef

D. Slamet Iman Santoso

5.

Pada saat ini ada beberapa daerah yang menginginkan adanya pemekaran,

pemerintah

menyetujui sebagian keinginan tersebut, hal ini digolongkan

tindakan….

A. asimilasi

B. kompetisi

C. akomodasi

D. persuasi

6. Dalam interaksi sosial dipengaruhi oleh beberapa hal, kecuali….

A. kebudayaan

B. norma

C. pembawaan

D. kepribadian individu

7. Pada saat bangsa Indonesia telah merdeka, tetapi ada keinginan daerah Aceh

memisahkan diri tersebut dapat diatasi dengan,

ingin

merdeka,

keinginan

kecuali….

A. kerjasama

B. akomodasi

C. persaingan

D. asimilasi

8. Seorang guru memberikan hadiah kepada murid yang berprestasi, tindakan

tersebut merupakan bentuk menumbuhkan….

A. persaingan sehat

B. asimilasi

C. akulturasi

D. kerjasama

9. Pada

berusaha

mengawinkan anggota keluarga raja yang satu dengan anggota keluarga yang

lain, maka tindakan itu merupakan tindakan…

A. asimilasi dan akulturasi

B. persaingan

C. akomodasi

D. kerjasama

saat

kita

belum

merdeka,

yang

berkuasa

raja-raja

dahulu

10. Akibat interaksi sosial yang tidak dikehendaki dan merugikan apabila timbul…

A. persaingan

B. pertikaian

C. perpecahan

D. akomodasi

PENUTUP

Selamat Anda telah berhasil menyelesaikan kegiatan sub unit 1 (satu). Sesuai dengan pembelajaran sub unit 1 (satu), mudah-mudahan Anda dapat memahami dan juga dapat menerapkan teori-teori tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Untuk mempermudah mengingat kembali materi yang telah dipelajari. Anda sebaiknya dapat membaca ulang rangkuman, mengerjakan soal latihan dan mengerjakan tes formatif dari setiap kegiatan belajar sub unit. Apabila Anda ingin mengetahui hasil tes formatif carilah kunci tes formatif pada bagian akhir modul ini dan mencocokkan jawaban Anda, kemudian hitung keberhasilan Anda dengan menggunakan rumus.

Rumus:

Tingkat penguasaan materi:

Jumlah jawaban Anda yang benar

Jumlah soal

Arti penguasaan yang Anda capai :

90

% - 100 % = baik sekali

80

% - 89 %

= baik

70

% - 79 %

= cukup

< 70 % = kurang

x 100 %

Apabila tingkat keberhasilan Anda telah mencapai 80 % atau lebih, berarti Anda sudah berhasil dan dapat meneruskan ke kegiatan belajar 2 (sub unit 2). Jikalau keberhasilan Anda kurang dari 80 %, bacalah kembali kegiatan belajar 1 (sub unit 1), sebelum melanjutkan ke kegiatan belajar 2 (sub unit 2).

Subunit 2

Fungsi Dan Peranan Pendidikan Dalam Masyarakat

Pengantar

Bagian sub unit 2 (dua) ini membahas tentang :

1. Fungsi pendidikan dalam masyarakat.

2. Peranan pendidikan dalam masyarakat.

Setelah mempelajari materi ini, Anda diharapkan dapat:

1. Mendeskripsikan fungsi pendidikan dalam masyarakat

2. Mendeskripsikan kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan.

3. Mendeskripsikan hubungan antara pendidikan (sekolah) dengan masyarakat.

4. Mendeskripsikan pendidikan dalam perkembangan teknologi dan pengetahuan untuk kehidupan masyarakat.

Uraian

A. Fungsi Pendidikan Dalam Masyarakat

A pa sebenarnya fungsi pendidikan bagi masyarakat? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita kaji uraian berikut ini.

Secara lebih luas, yaitu kepastiannya masyarakat dalam lingkup negara disebutkan menurut UU No. 20 Tahun 2003 pasal 2, bahwa: “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Jadi menurut uraian di atas fungsi pendidikan untuk masyarakat dalam lingkup negara antara lain mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Di masyarakat anak berinteraksi dengan seluruh anggota masyarakat yang beraneka ragam kepribadiannya, dan juga berinteraksi dengan benda-benda serta peristiwa-peristiwa. Pada masyarakat anak juga dapat memperoleh pendidikan non formal berupa kursus-kursus. Kepribadian dipengaruhi oleh gejala sosial, kebudayaan yang ada di lingkungannya. Sebagai contoh anak yang hidup dalam lingkungan orang-orang berpendidikan cenderung suka belajar, anak yang hidup di lingkungan bisnis, cenderung berjiwa ekonomis (pertimbangan untung rugi). Anak yang bergaul dalam kehidupan keras dan penuh tekanan, anak menjadi patuh atau penurut, juga mungkin suka memberontak. Untuk itu sebagai orang tua atau pemimpin, kita dapat memilih lingkungan hidup, menciptakan lingkungan hidup yang menguntungkan perkembangan kepribadian anak. Sedangkan fungsi pendidikan menurut Broom dalam Pidarta (2000:171) adalah (1) transmisi budaya, (2) meningkatkan integrasi sosial atau masyarakat, (3) mengadakan seleksi dan alokasi tenaga kerja melalui pendidikan itu sendiri, dan (4) mengembangkan kepribadian. Dari pendapat Broom maka dapat diuraikan sebagai berikut:

Sebagai transisi kebudayaan maksudnya dari budaya yang sudah ada maka dapat dipindahkan kepada masyarakat berikutnya atau dari suatu masyarakat tertentu kepada masyarakat yang lainnya. Meningkatkan integrasi sosial atau masyarakat artinya dengan pendidikan dapat dibentuk dan ditingkatkan integrasi sosial; mempersatukan masyarakat. Mengadakan seleksi dan alokasi tenaga kerja dimaksudkan melalui pendidikan dapat diadakan pemilihan bidang pekerjaan dan juga penempatan serta penyediaan tenaga kerja. Mengembangkan kepribadian mengandung makna, melalui pendidikan dapat dikembangkan adanya pribadi-pribadi yang unggul sesuai dengan harapan masyarakat, bangsa dan negara.

Secara lebih rinci manfaat pendidikan untuk masyarakat menurut Pidarta (2000:172) adalah sebagai berikut:

1. Pendidikan sebagai transmisi dan pelestari budaya.

2. Sekolah sebagai pusat budaya bagi masyarakat sekitarnya.

3. Sekolah mengembangkan kepribadian anak disamping oleh keluarga anak itu sendiri.

4. Pendidikan membuat orang menjadi warga negara yang baik, tahu akan kewajiban dan haknya.

5. Pendidikan meningkatkan integrasi sosial atau kemampuan bermasyarakat.

6. Pendidikan meningkatkan kemampuan menganalisis secara kritis, melalui pelajaran ilmu, teknologi, dan kesenian.

7. Sekolah meningkatkan alat kontrol sosial dengan memberi pendidikan agama dan budi pekerti.

8. Sekolah membantu memecahkan masalah-masalah sosial.

9. Pendidikan adalah sebagai perubah sosial melalui kebudayaan-kebudayaan yang baru.

10. Pendidikan berfungsi sebagai seleksi dan alokasi tenaga kerja.

11. Pendidikan dapat memodifikasi hierarki ekonomi masyarakat.

Agar mendapatkan gambaran yang lebih jelas, Anda dapat mengkaji pendapat Pidarta sebagai berikut:

Pendidikan sebagai transmisi dan pelestarian budaya berarti selain berfungsi memindahkan juga diharapkan dapat melestarikan budaya yang sudah ada. Kita sebagai bangsa Indonesia memiliki kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional. Kebudayaan daerah yang beraneka ragam tersebut harus dapat dilestarikan atau dipelihara keberadaannya. Demikian pula dengan adanya kebudayaan nasional bangsa Indonesia, sebagai warga negara wajib melestarikannya. Sekolah sebagai pusat budaya bagi masyarakat sekitarnya mempunyai makna bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan selain berusaha melestarikan budaya yang sudah ada, juga berperan sebagai tempat untuk mengadakan pembaruan budaya ke arah yang lebih maju, ke arah yang lebih unggul pada masyarakat dimana lembaga tersebut berada. Sekolah mengembangkan kepribadian anak disamping oleh keluarga anak itu sendiri. Tempat pengembangan kepribadian selain di dalam keluarga, juga berada di lembaga sekolah. Potensi-potensi yang dimiliki anak, oleh sekolah diusahakan untuk dikembangkan ke arah yang positif, potensi-potensi yang negatif dikendalikan. Dengan upaya-upaya tersebut maka sekolah dapat dikatakan tetapi tempat pengembangan kepribadian anak. Pendidikan membuat orang menjadi warga negara yang baik, tahu akan kewajiban dan haknya. Pada lembaga pendidikan selain diberikan pendidikan budi pekerti, sopan santun, pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan. Melalui pendidikan kewarganegaraan anak dididik agar menjadi warga negara yang baik, tahu tentang hak dan kewajibannya. Ada sebagian warga masyarakat berusaha menuntut hak tetapi lupa akan kewajibannya. Pendidikan sekolah berusaha menyeimbangkan antara hak dan kewajiban.

Pendidikan meningkatkan integrasi sosial atau kemampuan bermasyarakat. Pada lembaga sekolah merupakan pencerminan sebagai masyarakat kecil, demikian juga dalam kelas. Anak bergaul dengan anak lain yang beraneka ragam latar belakangnya. Dengan demikian anak mulai mengenal berbagai keadaan anak lain. Melalui masyarakat kecil tersebut, dapat terbentuk suatu kondisi masyarakat walaupun dalam lingkungan terbatas, dengan dasar pembentukan masyarakat secara terbatas kemudian dapat berkembang terbentuknya persatuan sosial, selanjutnya anak memiliki kemampuan untuk hidup bermasyarakat. Pendidikan meningkatkan kemampuan menganalisis secara kritis melalui pelajaran ilmu, teknologi, dan kesenian. Hal ini mengandung arti bahwa dengan pendidikan maka anak didik dapat meningkatkan kemampuan menganalisis secara kritis, melalui pelajaran ilmu yang diajarkan, teknologi maupun kesenian. Sekolah meningkatkan alat kontrol sosial dengan pendidikan agama dan budi pekerti. Jadi melalui pendidikan agama, budi pekerti maka anak dapat meningkatkan kemampuan untuk memiliki alat kontrol sosial. Sekolah membantu memecahkan masalah-masalah sosial. Hal ini maksudnya dengan memperoleh pelajaran ilmu-ilmu di sekolah, kemudian dari anak diharapkan dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Pendidikan adalah sebagai perubah sosial melalui kebudayaan- kebudayaan yang baru. Pada dasarnya pendidikan selain sebagai pelestari budaya yang sudah ada, tetapi juga berperan sebagai pembaru. Dengan demikian pendidikan berfungsi sebagai perubah sosial, maksudnya sistem sosial yang sudah ada dengan adanya pembaru budaya, akan berubah sesuai dengan perkembangan yang ada. Pendidikan berfungsi sebagai seleksi dan alokasi tenaga kerja melalui pendidikan maka dipersiapkan angkatan kerja sesuai bidang yang dikembangkan oleh lembaga pendidikan tersebut. Masing-masing bidang pendidikan mempersiapkan angkatan kerja, sehingga dari hasil pendidikan tersebut diperoleh angkatan kerja yang beraneka ragam jenisnya. Angkatan kerja tersebut telah disesuaikan dengan bakat dan minat serta kemampuannya. Dari fungsi ini dapat dikatakan telah ada seleksi tenaga kerja sesuai bidangnya masing-masing. Bagi anak didik yang tidak memiliki kemampuan, maka dalam proses pendidikannya telah terseleksi dengan sendirinya, sebab dalam prosesnya ada yang berhasil (lulus) dan tidak berhasil (tidak lulus). Pendidikan dapat memodifikasi hierarki ekonomi masyarakat. Dari waktu ke waktu diharapkan out put dari pendidikan semakin tinggi. Dengan perubahan

tingkat kelulusan maka diharapkan ekonomi masyarakat semakin baik. semakin tinggi pendidikannya semakin tinggi pula tingkat pendapatannya. Jadi dengan upaya pendidikan dapat menghasilkan lulusan yang semakin tinggi, sebagai dampaknya masyarakat yang berpenghasilan tinggi semakin banyak.

B. Kebutuhan Masyarakat Terhadap Pendidikan

Masyarakat dalam arti yang lebih luas yaitu masyarakat dari bangsa Indonesia telah merumuskan adanya harapan dari pendidikan tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 yaitu bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dari uraian tersebut harapan masyarakat bangsa Indonesia dalam hal pendidikan adalah : 1) beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, 2) berahlak mulia, 3) sehat, 4) berilmu, 5) cakap, 6) kreatif, 7) mandiri, dan 8) menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Secara umum kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan dirumuskan Mochlon dalam Suryansyah (2005:23) menyatakan school public relation adalah kegiatan yang dilakukan sekolah atau lembaga pendidikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Lebih lanjut kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan secara umum disebutkan : masyarakat (lebih khusus orang tua murid) mengirimkan anak- anaknya ke sekolah agar mereka dapat menjadi manusia dewasa yang bermanfaat bagi kehidupannya dan bagi masyarakat secara umum. Secara praktis sering kita dengar para orang tua menginginkan anaknya dapat berprestasi di sekolah (khususnya NEM), ini berarti kebutuhan masyarakat terhadap sekolah adalah penyelenggaraan dan pelayanan proses belajar mengajar yang berkualitas dengan output yang berkualitas pula. (Suryansyah, 2005:23).

C. Hubungan Antara Pendidikan (Sekolah) Dengan Masyarakat

Hubungan antara pendidikan (sekolah) dengan masyarakat seperti yang diungkapkan oleh Bernays dalam Suryansyah (2005:24) adalah :

a. Information given to the public (memberikan informasi secara jelas dan lengkap kepada masyarakat. Misalnya adanya penemuan JBS (jam belajar masyarakat) yaitu saatnya masyarakat memberikan kesempatan kepada anak- anak sekolah untuk belajar di rumah agar tidak mendapat gangguan. Pada saat anak belajar orang tua murid tidak diperkenankan menghidupkan antara

lain, televisi, radio, tape recorder. Hal ini dilakukan pada jam-jam tertentu yang telah disepakati bersama antara anak, orang tua serta masyarakat pada umumnya.

b. Persuasion directed at the public, to modify attitude and action (melakukan persuasi kepada masyarakat dalam rangka merubah sikap dan tindakan yang perlu mereka lakukan terhadap sekolah). Sebagai contoh anggapan dari sebagian orang tua siswa; apabila telah menyekolahkan anaknya maka pengawasan belajar menjadi tanggung jawab guru sepenuhnya. Padahal kenyataan anak belajar di sekolah waktunya terbatas, di rumah anak juga perlu mendapatkan pengawasan belajar dari pihak orang tua. Hal ini menjadi topik penyesuaian antara sekolah dengan orang tua murid atau wali murid.

c. Effort to integrated attitudes and action of institution with its public and of

public with the institution (suatu upaya untuk menyatakan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh sekolah dengan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat secara timbal balik, yaitu dari sekolah ke masyarakat dan dari masyarakat ke sekolah. Contoh adanya dengan dibentuknya komite sekolah. Dengan lembaga komite sekolah, maka antara sekolah dan masyarakat dapat menjalin suatu kerjasama secara timbal balik antara sekolah dan masyarakat, sekolah membantu masyarakat, sebaliknya masyarakat berusaha membantu sekolah. Pendapat di atas memberikan gambaran kepada kita apa sebenarnya hubungan sekolah dan masyarakat. Hal yang penting bahwa adanya informasi yang diberikan kepada masyarakat yang dampaknya dapat merubah sikap dan tindakan masyarakat terhadap pendidikan serta masyarakat memberikan sesuatu untuk perbaikan pendidikan. Dari pengertian tersebut dapat diambil maknanya apabila ada hubungan yang baik antara pendidikan (sekolah) dengan masyarakat maka dapat memberikan pengaruh positif baik dari pihak pendidikan (sekolah) maupun dari pihak masyarakat. Secara sederhana paling tidak dapat terbina saling pengertian dan akibat berikutnya (dampak pengiring) terjadinya saling menunjang program, keinginan mewujudkan misi dan visi masing-masing.

D. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Pendidikan untuk Kehidupan masyarakat

Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju dan mengalami perkembangan. Berkaitan dengan dunia pendidikan perkembangan pengetahuan dan teknologi terus berlangsung. Dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut dipergunakan untuk kemajuan kehidupan masyarakat. Kaitan antara pendidikan (sekolah) dengan masyarakat dapat dikaji berdasarkan pendapat-pendapat sebagai berikut:

Menurut Popenoe dalam Ahmadi (2004:182) fungsi pendidikan untuk masyarakat adalah : 1) transmisi kebudayaan masyarakat, 2) menolong individu memilih dan melakukan peranan sosial, 3) menjamin integrasi sosial, 4) sebagai sumber inovasi sosial. Sedangkan menurut Broom dan Selznick dalam Ahmadi (2004:182) fungsi pendidikan adalah untuk : 1) transmisi kebudayaan, 2) integrasi sosial, 3) inovasi, 4) seleksi dan alokasi, 5) mengembangkan kepribadian anak. Dari kedua pendapat ahli tersebut di atas ada unsur-unsur yang hampir sama, dan pendapat dari Broom dan Selznick ada sedikit perbedaan karena menambah unsur yang kelima yaitu mengembangkan kepribadian anak. Berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang pendidikan, dari beberapa unsur yang ada, memiliki kaitan erat yaitu menyangkut inovasi (pembaruan). Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pendidikan membawa pembaruan dalam bidang kehidupan masyarakat. Sebagai contoh pengaruh yang positif, dengan ditemukannnya energi nuklir maka dapat dipakai untuk pembangkit tenaga listrik. Walaupun ada pihak yang kontra yaitu adanya dampak negatif misalnya pembuangan limbah nuklir, seandainya ada kecelakaan pembangkit listrik seperti kasus Kernobil. Contoh yang lain dengan pengembangan energi yang dapat diperbarukan seperti minyak jarak; pengembangan tenaga-tenaga panas bumi, pemanfaatan sinar matahari. Hal tersebut dapat mengurangi ketergantungan manusia terhadap minyak bumi yang saat ini cadangannya semakin berkurang. Dari uraian tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang pendidikan maka dapat bermanfaat untuk pembaruan kehidupan masyarakat.

Latihan

1. Dalam lingkup masyarakat yang kapasitasnya negara sebutkan fungsi pendidikan!

2. Jelaskan pendapat Made Pidarta tentang sarana perubah sosial!

3. Berilah contoh di bidang energi nuklir untuk pembaruan kehidupan masyarakat!

Rambu-rambu jawaban soal.

1. Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban kehidupan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

2. Perubah sosial menurut Made Pidarta adalah dengan kebudayaan-kebudayaan baru yang diciptakan.

3. Contohnya dengan ditemukannya energi nuklir dapat dipakai dalam pembangkit

listrik.

Rangkuman

Fungsi pendidikan menurut Broom adalah : 1) transmisi budaya; 2) meningkatkan integrasi sosial atau bermasyarakat; 3) mengadakan seleksi dan alokasi melalui pendidikan; 4) mengembangkan kepribadian. Kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pendidikan dipergunakan untuk kemajuan kehidupan masyarakat.

Tes Formatif 2

Kerjakan soal-soal berikut dengan memilih huruf di depan jawaban yang paling tepat untuk melengkapi pernyataan atau menjawab pertanyaan.

1. Dalam lingkup masyarakat luas (negara) fungsi pendidikan, kecuali….

A. mengembangkan kemampuan

B. membentuk watak

C. mencerdaskan kehidupan bangsa

D. membentuk potensi

2. Sedangkan tujuan dari pendidikan untuk masyarakat, kecuali….

A. berahlak mulia

B. berwatak sosial

C. cakap

D. kreatif

3.

Sedangkan fungsi pendidikan menurut Broom, kecuali….

A. meningkatkan integrasi sosial

B. mengadakan seleksi dan alokasi tenaga kerja

C. mengembangkan ilmu pengetahuan

D. mengembangkan kepribadian.

4. Antara pendapat Broom dan Selznick dengan sosial Popenoe ada perbedaan

dalam….

A. inovasi

B. mengembangkan kepribadian anak

C. seleksi

D. transmisi kebudayaan

5. Keuntungan adanya hubungan pendidikan (sekolah) dengan masyarakat yaitu….

A. mencerdaskan kehidupan bangsa

B. membentuk peradaban

C. saling menunjang program

D. saling melengkapi peran

6. Dalam bidang pendidikan (Sekolah), dengan ditemukannya hal-hal yang baru dan bermanfaat, identik dengan adanya…

A. seleksi

B. inovasi sosial

C. alokasi

D. transmisi

7. Dengan adanya pendidikan (sekolah) maka dapat diketahui kemampuan untuk

bekerja di kemudian hari, ini sejalan dengan …

A. transmisi

B. informasi

C. seleksi dan alokasi

D. ketrampilan

8. Dengan adanya perubahan ketentuan saat ini setiap lembaga sekolah memiliki

komite sekolah, hal tersebut sebagai sarana….

A. mencari bantuan

B. menjalin kerjasama dengan murid

C. kerjasama dengan orang tua murid

D. kerjasama dengan masyarakat

9. Harapan masyarakat terhadap pendidikan, kecuali….

A. pembentukan iman dan takwa

B. berilmu

C.

sehat

D. mencetak pemimpin daerah

10. Dalam peranan information given to the public seharusnya…

A. sekolah menjalin kerjasama

B. sekolah memberikan informasi kepada masyarakat

C. menyatukan sikap

D. menyatukan pendapat.

Selamat Anda telah berhasil menyelesaikan kegiatan sub unit 2 (dua) sesuai tujuan pembelajaran sub unit 2 (dua), mudah-mudahan Anda dapat memahami dan menerapkan teori-teori tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Untuk mempermudah mengingat kembali materi yang telah dipelajari, Anda sebaiknya dapat membaca ulang rangkuman, mengerjakan soal latihan dan mengerjakan tes formatif dari setiap kegiatan belajar. Apabila Anda ingin mengetahui hasil tes formatif cari kunci tes formatif pada bagian akhir modul ini dan memecahkan jawaban Anda. Kemudian hitung keberhasilan Anda dengan menggunakan rumus :

Rumus:

Tingkat penguasaan materi:

Jumlah jawaban Anda yang benar

Jumlah soal

Arti penguasaan yang Anda capai :

90

% - 100 % = baik sekali

80

% - 89 %

= baik

70

% - 79 %

= cukup

< 70 % = kurang

x 100 %

Apabila tingkat keberhasilan Anda telah mencapai 80 % atau lebih, berarti Anda telah berhasil dan dapat meneruskan ke modul berikutnya. Jikalau keberhasilan Anda kurang dari 80 %, bacalah kembali kegiatan belajar 2 (dua), sebelum melanjutkan ke modul selanjutnya.

Kunci Jawaban Tes Formatif

 

Tes Formatif I

1.

C

2.

D

3.

D

4.

B

5.

C

6.

C

7.

C

8.

A

9.

A

10.

B

 

Tes Formatif 2

1.

D

2.

B

3.

C

4.

B

5.

C

6.

B

7.

C

8.

D

9.

D

10.

B

Glosarium

Berahlak mulia :

Hierarki : Berjenjang Menunjang : Mendukung

Berkelakuan amat baik

Daftar Pustaka

Ahmad Suryansyah. 2005. Landasan Pendidikan Peranan Persekolahan dalam Pendidikan. Jakarta:Pustekom.

H. Abu Ahmadi. 2004. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Mode Pidarta. 2006. Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Mohammad Ansyar. 1989. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Dirjen Dikti.

Sutan Zanti Arbi dan Syahmiar Syharun. 1991/1992. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta. Rineka Cipta.

Soelaiman Yoesoef dan Slamet Iman Santoso. 1986. Dinamika Kelompok. Jakarta:

Karunika.

Soerjono Soekanto. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grasindo Persada.

Unit 3
Unit 3

SEKOLAH SEBAGAI SISTEM SOSIAL

EDDY TUKIDJAN PIET J. MSEN

U nit 3 (tiga) ini akan mengajak Anda mengkaji tentang sekolah sebagai sistem sosial, tujuan sistem sosial, sekolah sebagai suatu birokrasi dan sekolah sebagai

mobilitas sosial. Materi ini akan membawa Anda untuk memperluas wawasan, pemahaman sebagai landasan untuk melaksanakan tugas sebagai guru yang

profesional dan dapat mensosialisasikan pentingnya sekolah bagi peningkatan perubahan status sosial. Setelah mempelajari materi ini, Anda diharapkan dapat :

1. Menjelaskan sekolah sebagai sistem sosial

2. Mendiskripsikan tujuan sistem sosial

3. Mendiskripsikan sekolah sebagai suatu birokrasi

4. Mendiskripsikan sekolah sebagai sarana mobilitas sosial

Materi ini merupakan kelanjutan dari bahan unit 2 (dua) dan harus dikuasai sebelum melanjutkan unit-unit berikutnya. Agar kajian berikut tidak mengalami kesulitan, maka Anda diharapkan dapat menguasai dan memahami materi ini secara tuntas.

Agar dapat menguasai tujuan pembelajaran di atas, Anda diharapkan mengikuti langkah-langkah yang ada dalam materi ini, agar dapat memperjelas dan memperdalam pemahaman, maka Anda diharapkan mengkaji bahan-bahan dari media lain seperti web-site. Anda pasti berhasil. Selamat belajar.

Subunit 1

Sekolah Sebagai Sistem Sosial Dan Tujuan Sistem Sekolah

S ekolah sebagai sistem sosial dan tujuan sistem sekolah merupakan materi yang harus dikuasai agar calon guru memiliki wawasan yang luas untuk membentuk

profesionalisme seorang calon guru, agar Anda dapat mengkaji dan memahami materi berikutnya secara baik. Materi ini mencakup :

Sekolah Sebagai Sistem Sosial Tujuan Sistem Sekolah

Bacalah dan kaji dengan cermat media cetak ini, pahami secara tuntas, kerjakan soal latihan dan soal tes formatif serta bacalah umpan balik dan tindak lanjut.

Uraian

A. Sekolah Sebagai Sistem Sosial

Situasi sekolah tidak jauh berbeda dengan situasi dalam masyarakat. Sekolah memiliki ciri-ciri yang serupa dengan ciri-ciri yang berada di dalam sistem sosial. Institusi sosial yang disebut sekolah itu merupakan suatu masyarakat kecil yang mempunyai kebudayaan tertentu. Kebudayaan sekolah dan interaksi antar individu yang berada di dalamnya akan melahirkan suatu sistem sosial. Pembahasan ini mengkaji aspek sosial dari sekolah sebab pelaksanaan pendidikan pada dasarnya adalah suatu interaksi antara manusia satu dengan lainnya, baik secara individual maupun secara kelompok. Selain itu pembahasan aspek sosial pendidikan adalah sangat perlu sebab sekolah itu sendiri merupakan suatu institusi sosial yang mengemban tujuan tertentu, dengan gaya kepemimpinan yang berbeda-beda serta adanya status sosial yang berbeda-beda pula. Misalnya dari umur guru dan siswa tentu jauh berbeda. Umur siswa satu dengan lainnya berbeda pula. Segala keputusan tidak mungkin diputuskan oleh semua, sebab yang umumnya lebih tua dipercayakan untuk membuat keputusan.

Dilihat dari latar budaya dan agama juga berbeda-beda. Budaya dari suku Jawa tentu berbeda dengan suku Makasar atau suku lainnya. Demikian pula dengan agama ada yang menganut agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan lainnya. Dalam sekolah juga kita dapat menemui siswa-siswa dengan latar ekonomi sosial yang bervariasi. Dari latar ekonomi ditemukan siswa-siswa yang kelas ekonominya tinggi, menengah dan ada pula yang rendah. Ada siswa yang berasal dari keluarga kaya raya dan ada pula dari keluarga yang miskin. Status sosial juga bervariasi ada siswa yang orang tuanya pejabat, pegawai negeri, petani, nelayan, buruh, swasta, pengusaha dan sebagainya. Berdasarkan pendekatan teori fungsi bahwa sistem sekolah itu tersusun dari berbagai sub sistem atau bagian, yang masing-masing bagian mempunyai tujuan. Tujuan-tujuan dalam sub sistem tersebut bergabung, sehingga menjadi satu kesatuan dan atau menjadi satu sistem. Dalam pelaksanaannya masing- masing sub sistem saling bergantung satu sama lain. Kalau ada sub sistem yang tidak berfungsi maka akan mengganggu sub sistem yang lain. Jadi dalam satu sistem masing-masing sub sistem yang ada berfungsi dan difungsikan agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Agar lebih jelas mari kita analisis skema berikut ini.

Sekolah Sebagai Suatu Sistem Sosial

SMP NEGERI
SMP NEGERI

SMP NEGERI

SMP NEGERI
SMP NEGERI
SMP NEGERI
A Kepala Sekolah WK Kepala Sekolah Pegawai Tata Usaha B. Guru dan murid 1 2
A
Kepala Sekolah
WK Kepala Sekolah
Pegawai Tata Usaha
B. Guru dan murid
1
2
3
4
Layanan
BP, Turorial
UKS, Remedial
Sekretaris
C. Pendukung
Pesuruh
Pelayanan
Kesehatan
Tempat Olah Raga
Bus Siswa
Conselor
Program Khusus
Ahli Psikologi
Lainnya
Pustakawan/TU

Direkontruksi dari Jeanne H. Ballantina dalam Bahar (1989:99)

Keterangan:

A. Kita memasuki gerbang sekolah kemudian langsung melewati kantor kepala sekolah, wakil kepala sekolah, tata usaha, seolah-olah para staf (pegawai) bertindak sebagai pencatat dan penjaga sekolah. Setelah lonceng berbunyi gerbang sekolah ditutup.

B. Ruangan kelas adalah merupakan struktur fisik dari sekolah. Guru dan murid adalah anggota utama dalam kelas. Masing-masing kelas mempunyai struktur sosial dan suasana yang berbeda seperti : pengaturan tempat duduk, kelompok kerja siswa, tipe kepemimpinan, tipe siswa, tipe kelas dan sebagainya, yang semuanya akan mewarnai keadaan kelas dan bahkan memberikan ciri-ciri khusus untuk masing-masing kelas.

C. Pendukung, ditujukkan supaya kelas yang ada dapat berfungsi. Tentu saja tidak semua sekolah mempunyai sarana pendukung seperti tersebut di atas. Ada yang memiliki konselor, pustakawan, dalam arti hanya sebahagian saja yang dimilikinya.

Sistem sekolah seperti tersebut di atas ada sub-sub sistem bagian A, B, C. dari unsur yang ada dari A, B, C, memiliki tujuan dari masing-masing bagian. Antara satu dengan yang lain saling mendukung untuk mencapai tujuan dari sistem. Apabila ada sebagian tidak berfungsi maka akan mengganggu sistem secara keseluruhan. Dipandang dari sistem yang lebih luas, sistem sosial sekolah merupakan bagian atau sub sistem. Sebagai sub sistem tidak akan berfungsi untuk mencapai tujuan tanpa adanya bantuan dari luar seperti pemerintah, yayasan, organisasi-organisasi lain, perorangan dan sebagainya (Bahar, 1989:100). Sistem sekolah yang ada di dalamnya (guru, kepala sekolah, pegawai), bangunan, kelas, buku, dan sub sistem yang lain, semua harus berfungsi dalam pencapaian tujuan yang ingin dicapai dari sistem yang lebih besar.

Bagi tingkat sekolah dasar unsur-unsur sistem lebih sederhana dibandingkan dengan lembaga pada tingkat sekolah Menengah Tingkat Pertama. Kondisi struktur organisasi pada tingkat sekolah dasar sangat bervariasi, bagi sekolah dasar yang berada pada daerah perkotaan unsur-unsur sistem lebih lengkap dibandingkan daerah-daerah pedesaan maupun darah terpencil. Hal ini sesuai berita harian (Kompas, 2007:12) disebutkan : ”di sekolah ini anak-anak dari kelas I (Satu) hingga kelas VI (enam) hanya diajar oleh seorang guru dengan fasilitas pendidikan dan ruang kelas yang sangat terbatas”. Sesuai berita Kompas tersebut digambarkan bahwa dalam 1 (satu) lembaga sekolah dasar hanya dilayani oleh seorang guru. Sehingga yang ada di sekolah tersebut hanya seorang guru dan sejumlah murid. Guru tersebut selain merangkap kelas dari kelas I (satu) sampai VI (enam), juga merangkap antara lain tugas Kepala Sekolah, petugas administrasi, petugas pesuruh sekolah (pembantu sekolah). Jadi untuk tingkat sekolah dasar sub-sub sistem sangat bervariasi antara satu sekolah dengan sekolah lain, maupun dari satu daerah dengan daerah lain.

B. Tujuan Sistem Sekolah

Sekolah sebagai sistem mempunyai tujuan. Sebelum membahas tujuan sistem sekolah perlu dipahami dahulu apa itu sistem. Sistem adalah suatu kesatuan yang saling terkait, tidak dapat dipisahkan dan bertujuan. Menurut Sutjipto dan Mukti (1991/1992) sistem adalah keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian. Kesemua bagian itu mempunyai fungsi sendiri-sendiri, tetapi tetap dalam hubungannya dengan bagian lain. Dalam kegiatannya, bagian- bagian itu memberikan sumbangannya masing-masing terhadap tercapainya tujuan.

Sesuai pendapat tersebut menyangkut sistem sekolah yang lebih laus ada tiga komponen atau bagian, pertama adalah masukan (input), kedua proses dan ketiga adalah keluaran (output). Tujuan organisasi sekolah tentu saja sangat berbeda dari tujuan organisasi yang bersifat komersial yang bertujuan untuk menghasilkan suatu produksi, atau yang dalam prosesnya adalah memproses barang mentah sebagai inputnya menjadi barang jadi sebagai outputnya. Input sekolah adalah anak-anak yang memiliki berbagai macam tingkah laku dan inilah yang diproses. Tentu hasil output sekolah lebih kompleks sebab inputnya bukan barang jadi. Sekolah sering diperhadapkan pada tuntutan yang beraneka ragam dari berbagai sumber seperti murid-murid, guru-guru, para orang tua, pendapat dari masyarakat umum. Tujuan sistem formal sekolah adalah melayani beberapa tujuan sistem

sosial. Bagaimanapun juga tidak akan selalu terdapat kesepakatan tentang tujuan utama yang harus dicapai pada masing-masing sekolah dan bagaimana cara untuk mencapainya. Ada sekolah yang menekankan pada ketrampilan, ada yang menekankan pada seni, ada yang menekankan pada olah raga, ada yang menekankan pada pengembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan, dan ada yang menekankan pada pendidikan moral bahkan ada yang menitik beratkan pada pendidikan agama. Selanjutnya dapat dilihat tujuan sekolah dari beberapa sudut pandang antara lain:

a. Tujuan masyarakat Suatu masyarakat mempunyai tujuan khusus mengenai sistem pendidikan yang akan dilaksanakan di sekolah. Setiap masyarakat pada setiap bangsa mempunyai tujuan sistem pendidikannya. Pada masyarakat yang homogen biasanya konsensus mengetahui tujuan utama (key goals) yang akan dicapai. Sedangkan pada masyarakat yang heterogen biasanya mempunyai banyak pilihan tentang tujuan yang akan dicapai yang berkenaan dengan

pendidikan. Tujuan masyarakat ini tidak terlepas dari tujuan umum yang telah dirumuskan dalam Undang-Undang Dasar Negara RI tahun 1945. Bahwa pendidikan ini sangat luas dimana setiap warga negara dijamin untuk menikmati pendidikan itu, agar dapat trampil untuk mengembangkan dirinya menjadi manusia yang bertanggung jawab atas dirinya dan orang lain. Mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang: 1) beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, 2) memiliki pengetahuan dan ketrampilan, 3) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, 4) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Secara umum masyarakat mempunyai harapan agar pendidikan di sekolah dapat memberikan bekal ilmu pengetahuan dan ketrampilan untuk membekali peserta didik agar dapat berkembang di masyarakat.

b. Tujuan sekolah Masing-masing sekolah mempunyai tujuan sesuai jenis dan tingkat

sekolah itu. Dalam kurikulum setiap sekolah sudah tercantum tujuan sekolah itu. Tujuan sekolah dapat dicapai dengan cara menjabarkan materi-materi yang tercantum dalam kurikulum ke dalam kegiatan yang diterapkan dalam proses pembelajaran. Suatu hal yang patut diingatkan bahwa tujuan sekolah tidak berbeda atau bertentangan dengan dasar negara. Tujuan suatu sekolah selalu mendukung pencapaian tujuan umum sebagaimana diuraikan sebelumnya. Tujuan yang ingin dicapai setiap jenis lembaga sekolah disebut tujuan institusional. Tujuan pendidikan sekolah tidak hanya menguasai bahan pelajaran, tetapi dapat menggunakan apa yang telah dipelajari itu untuk mampu belajar sendiri dan membina diri kapanpun dan dimanapun juga dalam rangka mencapai tujuan pendidikan seumur hidup (PSH) yaitu mencapai kualitas hidup pribadi, sosial dan profesional seoptimal mungkin. Pendidikan sekolah hendaknya bertujuan agar siswanya:

1) Menyadari perlunya belajar seumur hidup dalam usaha mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya dalam masyarakat.

2)

Meningkatkan kemampuan belajar atau educability

3)

Memperluas daerah belajar

4)

Memadukan pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman belajar di luar sekolah

c. Tujuan individu Sekolah sebagai suatu organisasi di mana setiap anggotanya sebagai individu yang berada di dalamnya mempunyai tujuan tersendiri. Secara umum sekolah sebagai lembaga mempunyai tujuan kelembagaan (tujuan institusional); tetapi siswa-siswa sebagai individu tentu bervariasi. Apabila tujuan siswa-siswa tidak disingkronkan dengan tujuan kelembagaan mustahil hasil yang diharapkan tercapai. Bagaimanapun pihak sekolah merencanakan dan meningkatkan kualitas proses belajar pembelajaran agar mutu pendidikan di sekolahnya tinggi, tetapi tanpa dibarengi dengan tujuan individu-individu hasil yang diharapkan menjadi sirna. Jadi dengan sendirinya dapat kita katakan bahwa tujuan individu akan mempengaruhi pelaksanaan sekolah sebagai suatu organisasi. Untuk itu, pemerintah harus memperbaiki mutu sekolah dengan memberikan arahan dan perbaikan kegiatan belajar mengajar yang didukung oleh tenaga kependidikan yang kompeten dan dapat memahami tujuan individu yang sedang belajar. Konsep kurikulum berbasis kompetensi sesungguhnya dapat menjawab permasalahan ini, sebab dengan pemahaman yang mendalam terhadap kompetensi siswa akan membantu pemahaman tujuan individu. Kompetensi yang diharapkan adalah menyangkut cognitif dan affective (B. Bloom) serta Psychomotor (E. Simpson) (W.S. Winkel, 1991:149).

Sampai di sini Anda telah mempelajari dan menyelesaikan kegiatan belajar sub unit 1 (satu). Tentu Anda telah menguasai uraian di atas. Untuk mengetahui pemahaman Anda, kita kerjakan soal latihan berikut:

Latihan

1. Sebutkan 3 sub sistem sosial menurut Jeanne H. Ballantina!

2. Sebutkan apa yang dimaksud sistem menurut Sutjipto dan Basori Mukti!

3. Jelaskan bagaimana cara mengetahui tujuan dari sekolah!

Rambu-rambu jawaban latihan

1. Sub sistem kesatu kepala sekolah, wakil kepala sekolah, kedua guru dan murid, layanan BP, tutorial, UKS, remedial. Ketiga pendukung terdiri sekretaris, konselor, ahli psikologi, pustakawan/pustakawati; pesuruh, pelayanan kesehatan, tempat olah raga; bus siswa, program khusus lainnya.

2. Sistem adalah keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian dan bagian-bagian itu berinteraksi dalam suatu proses untuk mengubah masukan menjadi keluaran.

3. Cara mengetahui tujuan dari sekolah adalah dengan mengkaji dan mengetahui tujuan dari kurikulum sekolah.

Rangkuman

Situasi sekolah tidak jauh berbeda dengan situasi masyarakat. Institusi sosial yang disebut sekolah itu merupakan masyarakat kecil yang mempunyai kebudayaan tertentu. Kebudayaan sekolah dan interaksi antara individu yang berada di dalamnya akan melahirkan suatu iklim sosial. Berdasarkan pendekatan teori fungsi bahwa sistem sekolah itu tersusun dari berbagai sub sistem atau bahagian, yang masing-masing bahagian mempunyai tujuan. Dalam pelaksanaannya masing-masing sub sistem saling bergantung satu sama lain. Kalau ada sub sistem yang tidak berfungsi maka akan mengganggu sub sistem yang lain. Sistem adalah keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berinteraksi dalam suatu proses, mempunyai suatu tujuan tertentu. Secara umum masyarakat mempunyai harapan agar pendidikan di sekolah dapat memberikan bekal ilmu pengetahuan dan ketrampilan untuk membekali peserta didik agar dapat berkembang di masyarakat. Tujuan sekolah tercantum dalam setiap kurikulum setiap jenis lembaga sekolah memiliki tujuan yang berbeda antara jenis yang satu dengan yang lain, dalam istilah kependidikan lazim disebut tujuan institusional. Tujuan individu saat ini sering disebut kompetensi atau kemampuan. Kemampuan yang ingin dicapai masyarakat afektif, kognitif, dan psikomotor.

Tes Formatif I

Kerjakan soal-soal berikut dengan cara memilih abjad di depan pilihan yang paling tepat untuk melengkapi pernyataan atau menjawab pertanyaan.

1. Tergolong unsur-unsur pengertian sistem, kecuali….

A. keseluruhan

B. sub sistem

C. saling terkait

D. berkebudayaan

2.

Merupakan bagian dari sistem sekolah, kecuali….

A. guru

B. murid

C. kepala dinas pendidikan

D. pustakawan

3. Suatu iklim sosial sekolah dipengaruhi oleh….

A. intelektual anak

B. interaksi antara individu

C. kondisi phisik anak

D. output sekolah

4. Merupakan sub sistem sosial sekolah menurut Jeanne H. Ballantina, kecuali….

A. input atau masukan

B. UKS

C. pustakawan

D. murid

5. Tujuan sistem lembaga sekolah yang ingin dicapai disebut tujuan….

A. khusus

B. institusional

C. umum

D. nasional

6. Keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian dan bagian-bagian itu berinteraksi dalam suatu proses untuk mengubah masukan menjadi keluaran, pendapat dari….

A. H. Aswandi Bahar

B. Sutjipto dan Basori Mukti

C. Jeanne

D. Ballantina

7. Sekolah sebagai tempat pendidikan, juga sebagai tempat, kecuali….

A. latihan bekerja

B. belajar patuh peraturan

C. mencari nafkah

D. berlatih mengerjakan tugas

8. Komponen pendidikan yang mempunyai fungsi sebagai alat dalam pelaksanaan pendidikan yaitu….

A. tujuan pendidikan

B. peserta didik

C. bahan pelajaran

D. biaya pendidikan

9.

Tujuan akhir dari sistem hendaknya….

A. dibiayai

B. dicapai secara bersama dari sub sistem

C. difungsikan

D. difasilitasi

10. Kompetensi yang ingin dicapai oleh setiap individu siswa, kecuali….

A. pendidikan

B. afektif

C. kognitif

D. psikomotor

Selamat Anda telah berhasil menyelesaikan kegiatan sub unit 1 (satu). Sesuai dengan pembelajaran sub unit 1 (satu), mudah-mudahan Anda dapat memahami dan juga dapat menerapkan teori-teori tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Untuk mempermudah mengingat kembali materi yang telah dipelajari. Anda

sebaiknya

mengerjakan tes formatif dari setiap kegiatan belajar sub unit. Apabila Anda ingin mengetahui hasil tes formatif carilah kunci tes formatif pada bagian akhir modul ini dan mencocokkan jawaban Anda, kemudian hitung keberhasilan Anda dengan menggunakan rumus. Rumus:

membaca ulang rangkuman, mengerjakan soal latihan dan

dapat

Tingkat penguasaan materi:

Jumlah jawaban Anda yang benar

Jumlah soal

Arti penguasaan yang Anda capai :

90

% - 100 % = baik sekali

80

% - 89 %

= baik

70

% - 79 %

= cukup

< 70 % = kurang

x 100 %

Apabila tingkat keberhasilan Anda telah mencapai 80 % atau lebih, berarti Anda sudah berhasil dan dapat meneruskan ke kegiatan belajar 2 (sub unit 2). Jikalau keberhasilan Anda kurang dari 80 %, bacalah kembali kegiatan belajar 1 (sub unit 1), sebelum melanjutkan ke kegiatan belajar 2 (sub unit 2).

Subunit 2

Sekolah Sebagai Suatu Birokrasi Dan Sarana Mobilitas Sosial

S ekolah sebagai suatu birokrasi dan sarana mobilitas sosial merupakan bagian

dari unit 3 (tiga), materi ini harus dikuasai agar calon guru atau guru memiliki

wawasan yang luas untuk membentuk guru yang profesional. Selain itu agar Anda dapat mengkaji dan memahami materi berikutnya. Materi ini mencakup:

Sekolah sebagai suatu birokrasi Sekolah sebagai sarana mobilitas sosial

Bacalah dan kaji dengan cermat media cetak ini, pahami secara tuntas, kerjakan soal latihan dan tes formatif serta bacalah umpan balik dan tindak lanjut.

Uraian

A. Sekolah Sebagai Suatu Birokrasi

Apa sebenarnya birokrasi itu? Untuk menjawab pertanyaan ini lebih dahulu kita pahami bersama arti birokrasi. Birokrasi adalah merupakan rasional efisiensi organisasi yang setiap anggotanya hanya bertanggung jawab pada tugas yang dipegangnya dan dia mampu (kompeten) untuk melakukannya (Bahar, 1989:103). Di sekolah adalah merupakan organisasi yang memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai dalam rangka proses pencapaian tujuan melibatkan semua anggota yang berada dalam unit sekolah tersebut, berkaitan dengan anggota- anggota yang ada diharapkan semua mampu melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawabnya, sebab di dalam suatu organisasi adalah masing-masing anggota telah memiliki tugas dan wewenang sesuai dengan bidangnya masing- masing, misalnya antara guru dan kepala sekolah bertugas memandu organisasi sekolah, pustakawan mengelola perpustakaan, tata usaha bertanggung jawab tentang ketatausahaan.

Menurut Ronald B. Covin dalam Bahar (1989:103) disebutkan bahwa birokrasi itu merupakan istilah yang pegorative (tidak disukai atau buruk) dan terlintas kesan sebagai suatu yang tidak efisien atau organisasi yang tidak praktis.

16

Hal ini diperkuat oleh Jeanne H. Ballantina dalam Bahar (1989:103) antara lain bahwa : 1) tidak responsif terhadap perubahan yang cepat, 2) tidak menimbulkan kreativitas, dan 3) hanya terpusat pada kekuasaan sosial yang dipegangnya dan sering berada/dilakukan oleh pemimpin yang zalim.

Dari kedua pendapat tersebut di atas, memberikan gambaran bahwa birokrasi merupakan hal yang negatif, sebab dengan birokrasi maka pelayanan organisasi tidak cepat, harus mengikuti ketentuan yang baku dan kepemimpinannya terpusat atau dikendalikan oleh seorang pemimpin. Hal-hal tersebut tidak seluruhnya benar sebab dengan birokrasi maka kepemimpinan terkontrol, dan apabila ada kesalahan menjadi tanggung jawab seorang pemimpin.

Menurut Rodman B. Webb dalam Bahar (1989:104) ciri-ciri birokrasi sebagai berikut:

1. Separate organization, artinya secara struktural birokrasi itu merupakan suatu organisasi yang terpisah dan mempunyai banyak staf yang bekerja full time. Pola kehidupan organisasi staf terpisah dari kehidupan pribadi.

2. Orderly and Stable Hierarchies, artinya bahwa ciri dasar birokrasi itu adalah lingkaran organisasi yang teratur dan rapi (orderly hierarchical organization) baik dari segi bentuk maupun dari segi pembagian kerjanya.

3. Fix Yurisdiction, artinya bahwa birokrasi itu mempunyai peraturan yang mengatur tata cara pelaksanaan birokrasi tersebut baik ke dalam maupun ke luar.

4. Status Competence, artinya bahwa status individu terdapat dalam birokrasi, umpamanya para anggota (pegawai) birokrasi harus memahami dan melaksanakan peraturan atau cara kerja birokrasi, menjaga rahasia birokrasi dan lain-lain

5. Formal Communication, artinya bahwa birokrasi mempunyai jalur komunikasi formal baik ke dalam maupun ke luar.

6. Objectivity and Rationality, artinya bahwa birokrasi itu diharapkan membuat prosedur yang tertulis, Otoritas yang jelas, peraturan yang terpola. Idealnya birokrasi itu adalah lambang dari rasional organisasi sosial.

memperhatikan ciri-ciri Webb tersebut

birokrasi adalah melayani fungsi yang vital (pokok) kebutuhan masyarakat.

Dengan

menunjukkan bahwa

Mengapa kita membicarakan sekolah sebagai suatu birokrasi? Sebab sekolah merupakan organisasi yang unik. Hal ini seperti pendapat Cristopher J. Hurn dalam Bahar (1989:104) disebutkan :”Schools are distinctive because they expected to transmit values, ideals, and shared knowledge; faster cognitive and emotional growth; and sort and select students into groups by grades or

performance on examination”. Dari pendapat tersebut ditafsirkan oleh Jeanne H. Ballantina dalam Bahar (1989:104-105) bahwa sekolah itu adalah istimewa atau mempunyai kekhususan sebab dia diharapkan untuk dapat mentransmisikan nilai- nilai, ide-ide, dan menyebarluaskan pengetahuan dengan cara membantu pertumbuhan atau perkembangan kognitif dan emosi, mengelompokkan atau menyeleksi siswa-siswa pada beberapa kategori antara lain bidang studi, jabatan, kepintaran dan sebagainya, dengan konsekuensi masa depan yang cerah. Secara organisasi, sekolah terdiri atas periode-periode, dan murid-murid dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan tingkatan dan prestasi.

Tentu saja birokrasi lain mempunyai struktur dan tujuan yang berbeda. Birokrasi yang berbentuk organisasi menjadi terkenal di Eropa Barat dan Amerika Serikat pada saat revolusi industri, karena organisasi efisien dan rasional lengkap dengan tujuan dengan hasil yang efektif.

Menurut Max Weber dalam Bahar (1989:105-108) ciri organisasi dengan tipe ideal yaitu:

1. Devision of Labort Securitment, and promotion policies

Guru maupun petugas administrasi mempunyai tugas masing-masing baik di sekolah maupun di rumah, karena masing-masing telah mengerjakan secara rutin pekerjaannya, maka dia ahli dalam bidangnya. Di membuat jadwal dan pekerjaannya dengan rapi dan padat. Seandainya konsekuen dan bertanggung jawab dengan tugas yang dilakukan tentu mendatangkan hasil yang baik. Guru-guru akan memegang kelas yang telah ditentukan kepala sekolah dia akan bertanggung jawab mengenai pengajaran, kemajuan dan disiplin kelas dia memberikan tugas kepada murid selama jam pelajaran, memberikan bimbingan, menghadiri rapat dan masih ada tugas-tugas lainnya. Dengan memberikan gambaran tugas tersebut menunjukkan bahwa penempatan seseorang pada jabatan/pekerjaan harus jelas tentang tugas yang

harus diembannya dan sebelum melaksanakan tugas perlu diadakan penataran (pra-jabatan) baik mengenai ketrampilan maupun sikapnya. Sikap akan mempengaruhi keefektivan pekerjaan guru walaupun melakukan tugas di kelas, namun persyaratan sikap haruslah cocok dengan peraturan dan ketentuan negara.

2. Hierarchical System of Autority

Jenjang atau tingkatan kepemimpinan sekolah dapat digambarkan sebagai berikut:

Dewan Penasehat/ Penyantun Pengawas Kepala Sekolah Guru Murid/Siswa Bagan : Jenjang Kepemimpinan Sekolah
Dewan Penasehat/
Penyantun
Pengawas
Kepala Sekolah
Guru
Murid/Siswa
Bagan : Jenjang Kepemimpinan Sekolah

Masing-masing tingkatan ini mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berbeda, dengan sendirinya mempunyai jalur komunikasi yang berbeda pula. Contoh guru di kelas ada yang menggunakan komunikasi dua arah, ada yang menggunakan satu arah seperti direktur dan bawahannya. Sebagian tanggung jawab seseorang dalam jenjang kepemimpinan mempunyai hubungan timbal balik. Guru dalam memanggil murid dengan nama panggilan sehari-hari misalnya; Alek, Ronald atau Pur, itu berbeda kalau memanggil dengan kata ganti kamu, anda, engkau. Dengan menggunakan nama panggilan maka anak akan merasa lebih dekat dengan guru, apabila

anak merasa asing maka mempengaruhi kelancaran komunikasi dengan demikian hirarkhi kepemimpinan tidak berjalan dengan lancar.

3. Ruler, Regulation, and Procedures

Setiap sekolah mempunyai peraturan tersendiri, seperti siswa yang terlambat harus melapor kepada guru piket dan menandatangani kartu terlambat, memakai pakaian seragam sekolah, rambut pria tidak boleh panjang (gondrong). Ketentuan-ketentuan tersebut harus disosialisasikan dengan peraturan. Peraturan ini dicetak sedemikian rupa dan ditempelkan pada papan pengumuman sehingga dapat dibaca setiap saat, dan bahkan guru menempelkan pada buku pegangan guru supaya dapat mengingatkan siswa yang melanggar peraturan. Demikian pula ada lembaga sekolah yang menanamkan kedisiplinan melalui kehadiran. Semua siswa dan guru tidak bola terlambat datang di sekolah, apabila terlambat datang maka tidak boleh masuk sekolah sebab pagar sekolah (pintu pagar) sudah ditutup. Ketentuan ini berlaku bagi siswa maupun guru tanpa pandang bulu (tanpa terkecuali). Apabila kebijakan ini menjadi ketentuan maka dalam pembuatan ketentuan harus dirumuskan (ditetapkan) bersama antara guru dan murid. Apabila sudah menjadi ketentuan maka perlu ada ketentuan tertulis, ketentuan itu disosialisasikan dengan cara-cara yang lazim dipakai, misalnya ketentuan ditempelkan di papan pengumuman bahkan kalau mungkin pada tiap-tiap kelas. Dengan cara demikian maka dalam pelaksanaannya tidak mendapat hambatan antara lain baik dari pihak murid, orang tua murid, guru, pegawai.

4. Formalized and Effectively Neutral Role Relationship

Apabila seseorang memegang posisi tertentu dalam organisasi birokrasi. Jikalau terjadi pengabaian terhadap satu peranan maka akan menimbulkan masalah dalam suatu organisasi. Lain halnya di sekolah organisasi sekolah terdiri dari beberapa unsur yang formal manusia (bukan benda), maka kelakuan yang formal (terlihat pada prosedur tertentu) akan sulit mencapai hasil. Oleh karenanya hubungan yang terjadi di sekolah harus netral, artinya terjadinya saling pengertian antara guru dan murid, saling

memahami, berinteraksi dan lain-lain.

5.

Relatioality of the Total Organization

Kecenderungan administrasi organisasi adalah untuk mencoba dan mencari alat yang paling efisien dalam rangka menghasilkan suatu fungsi. Begitu juga halnya dengan sekolah yaitu berusaha untuk mencapai tingkat efisiensi yang sedemikian rupa.

6. Position Belong Organization

Ada kepala sekolah yang akan pensiun, dia seorang kepala sekolah yang dikenal atau populer. Teman-teman dan murid menyenanginya, sebentar lagi akan diganti dengan yang lebih muda, tentu kepala yang baru akan membawa suasana pula. Apakah kepala sekolah yang baru ini akan menjadi populer? Tentu belum tentu karena masing-masing orang mempunyai keunikan tersendiri dalam memimpin. Hal ini dipengaruhi seseorang dalam suatu organisasi.

B. Sekolah Sebagai Sarana Mobilitas Sosial

Mobilitas sosial ada hubungannya dengan perubahan suatu masyarakat. Perubahan itu dapat berarti perkembangan maju atau mundur suatu masyarakat. Secara umum mobiltias itu perputaran dari positif menjadi negatif atau sebaliknya. Menurut Robert G. Burgess dalam Bahar (1989:36) mobilitas sosial itu mengacu pada turun naiknya perkembangan kelas sosial seseorang. Mobilitas menurut Ivan Reid dalam Bahar (1989:36) ada 3 (tiga) macam

yaitu:

1.

Horizontal social mobility

Perubahan yang terjadi hanyalah waktu dan tempat. Akan tetapi jenis pekerjaannya sama dengan sebelumnya. Seperti pindah kerja ke tempat yang lain dengan jenis pekerjaan yang sama.

2.

Intragenerational social mobility

Perubahan yang dramatis yaitu perubahan yang terjadi secara dramatis,

mungkin karier seseorang itu menanjak atau mungkin saja jatuh.

3.

Intergenerirational social mobility

Perubahan yang terjadi karena sesuatu seperti karier seseorang anak meningkat karena orang tuanya memegang tampuk pimpinan di dalamnya. Ada hubungan antara pendidikan dengan mobilitas sosial. Hal ini seperti pendapat Robert G. Burgess dalam Bahar (1989:37) bahwa sistem pendidikanlah

yang menjadi mekanisme mobilitas sosial. Pendapat Ivan Reid dalam Bahar (1989:37) menyatakan bahwa pendidikan itu memainkan peranan yang penting dalam mobilitas sosial sekalipun tidak tertuju pada penempatan pekerjaan tertentu. Berkaitan dengan peranan pendidikan dalam mobilitas sosial, kita mengakui bahwa kualifikasi pendidikan harus dihubungkan secara langsung dengan jenis pekerjaan. Dengan demikian pendidikan ikut menentukan status sosial.

Menurut Bahar (1989:37) ada beberapa hal dalam melihat hubungan antara sekolah dengan mobilitas sosial yaitu: 1. kesempatan pendidikan. Kesempatan pendidikan ini banyak ditentukan oleh faktor-faktor tertentu antara lain kedudukan atau status sosial masyarakat. Kalangan masyarakat bawah menginginkan terjadinya perubahan atau mobilitas sosial melalui pendidikan, 2. mendapatkan pekerjaan, kualifikasi pendidikan ada hubungannya dengan jenis pekerjaan, akan tetapi tidak semua orang yang berkualifikasi tinggi dalam pendidikan mendapatkan yang cocok dengan pekerjaannya. Sebab dalam kenyataan ada rintangan misalnya ketersediaan lapangan pekerjaan. Kesempatan pekerjaan antara satu daerah dengan daerah lain berbeda-beda karena mobiltias sosial dipengaruhi adanya pendidikan, maka pendidikan menghasilkan kualifikasi yang lebih banyak, paling tidak sesuai dengan lapangan pekerjaan. Jadi secara singkat hubungan dengan mobilitas sosial dipengaruhi kesempatan memperoleh pendidikan dan kesempatan memperoleh pekerjaan sesuai dengan kualifikasi pendidikannya. Sehingga apabila ingin mobilitas sosial semakin baik atau maju maka kesempatan memperoleh pendidikan semakin baik, dan hasil pendidikan sesuai dengan kebutuhan lapangan pekerjaan.

Sampai di sini Anda telah mempelajari dan menyelesaikan kegiatan belajar sub unit 2 (dua), tentu Anda telah menguasai uraian di atas, untuk mengetahui pemahaman Anda kita kerjakan latihan berikut ini.

Latihan

1. Sebutkan pengertian birokrasi menurut Bahar!

2. Jelaskan mengapa birokrasi mempunyai kesan buruk dan tidak disukai!

3. Jelaskan mengapa pendidikan yang baik mengakibatkan mobilitas sosial yang baik!

Rambu-rambu jawaban latihan

1. Birokrasi adalah rasional efisiensi organisasi yang setiap anggotanya hanya bertanggung jawab pada tugas yang dipegangnya dan dia mampu untuk melakukannya.

2. Sebab birokrasi tidak responsif terhadap perubahan yang cepat, tidak menimbulkan kreativitas dan hanya terpusat pada kekuasaan sosial pemimpin.

3. Pendidikan yang baik dapat memungkinkan orang mendapatkan kualifikasi pendidikan baik, dengan demikian memungkinkan orang untuk mendapatkan pekerjaan yang baik pula dan kemudian orang yang mendapatkan pekerjaan yang baik dapat meningkatkan taraf sosialnya.

Rangkuman

Birokrasi adalah rasional efisiensi organisasi yang setiap anggotanya hanya bertanggung jawab pada tugas yang dipegangnya dan dia mampu untuk melakukannya. Ciri-ciri birokrasi :

1. Organisasi yang terpisah dan mempunyai banyak staf.

2. Tingkatan organisasi yang teratur dan tersusun rapi baik dari bentuk maupun pembagian kerjanya.

3. Ada peraturan yang mengatur tata cara pelaksanaan birokrasi baik ke dalam maupun ke luar.

4. Status individu terdapat dalam birokrasi misalnya harus memahami dan melaksanakan peraturan atau cara kerja birokrasi.

5. Mempunyai jalur komunikasi formal baik ke dalam maupun ke luar.

Mobilitas sosial adalah turun naiknya perkembangan kelas sosial seseorang. Mobilitas sosial menurut Ivan Reid ada 3 macam yaitu:

1. Horizontal social mobility yaitu perubahan sosial hanyalah waktu dan tempat akan tetapi jenis pekerjaannya sesuai dengan sebelumnya.

2. Intragenerational social mobility yaitu perubahan yang terjadi secara dramatis misalnya menanjak atau jatuh.

3. Intergenerirational social mobility yaitu perubahan yang terjadi karena sebab lain

misalnya karier seseorang meningkat sebab orang tuanya memegang tampuk pimpinan di dalamnya. Hubungan antara sekolah dengan mobilitas sosial adalah kesempatan memperoleh pendidikan dan mendapatkan pekerjaan sesuai kualifikasi pendidikannya. Menurut P.A. Sorokin dalam Gunawan (2000:44) yang menjadi saluran mobilitas sosial yaitu : 1) angkatan bersenjata, 2) lembaga keagamaan, 3) lembaga pendidikan 4) organisasi politik, 5) ekonomi 6) keahlian.

Tes Formatif 2

Kerjakan soal-soal berikut ini dengan cara memilih abjad di depan pilihan yang paling tetap untuk melengkapi pernyataan atau menjawab pertanyaan.

1. Pengertian birokrasi ada kaitan dengan, kecuali….

A. organisasi

B. tanggung jawab

C. kejujuran melaksanakan tugas

D. kompeten untuk melakukannya

2. Termasuk ada kaitan dengan birokrasi di sekolah, kecuali….

A. Kepala sekolah

B. Guru

C. Badan Pertimbangan Pendidikan

D. Pustakawan

3. Birokrasi mempunyai kesan yang tidak disukai atau buruk disebut….

A. negatif

B. pegorative

C. prerogatif

D. proaktif

4. Secara struktural birokrasi itu merupakan suatu organisasi yang terpisah dan

mempunyai banyak staf yang bekerja secara full time disebut juga….

A. integrated organization

B. correlated organization

C. status competence

D. separate organization

5. Birokrasi mempunyai jalur komunikasi formal baik ke dalam maupun ke luar disebut juga ….

A. formal communication

B. formal competence

C. formal organization

D. formal hierarchies

6. Setiap sekolah mempunyai peraturan yang disosialisasikan, misalnya apabila terlambat harus melapor kepada guru piket tergolong dalam….

A. procedural

B. rules, regulation

C. rules, procedures

D. rules, regulation and procedures

7. Mobilitas sosial secara dramatis, dengan adanya karier seseorang itu menanjak atau jatuh, tergolong dalam….

A. intragenerational social mobility

B. intergenerational social mobility

C. horizontal mobility

D. vertical social mobility

8. Ada hubungan antara pendidikan dan mobilitas sosial merupakan pendapat

dari….

A. Ivan Reid

B. Robert G. Burgess

C. Max Webber

D. Webb

9. Dalam hubungan mobilitas sosial dengan pendidikan ada beberapa hal yang perlu

diperhatikan, kecuali….

A. kesempatan memperoleh pendidikan

B. mendapatkan pekerjaan

C. mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan

D. dana yang disediakan oleh pemerintah

10. Mobilitas sosial ke arah yang lebih baik disebabkan….

A. kurikulum

B. pendidikan sekolah yang baik

C. pendidikan pada umumnya

D. fasilitas yang baik

Selamat Anda telah berhasil menyelesaikan kegiatan sub unit 2 (dua) sesuai tujuan pembelajaran sub unit 2 (dua), mudah-mudahan Anda dapat memahami dan menerapkan teori-teori tersebut dalam kegiatan sehari-hari. Untuk mempermudah mengingat kembali materi yang telah dipelajari, Anda sebaiknya dapat membaca ulang rangkuman, mengerjakan soal latihan dan mengerjakan tes formatif dari setiap kegiatan belajar. Apabila Anda ingin mengetahui hasil tes formatif cari kunci tes formatif pada bagian akhir modul ini dan memecahkan jawaban Anda. Kemudian hitung keberhasilan Anda dengan menggunakan rumus :

Rumus:

Tingkat penguasaan materi :

Jumlah jawaban Anda yang benar

Jumlah soal

Arti penguasaan yang Anda capai :

90

% - 100 % = baik sekali

80

% - 89 %

= baik

70

% - 79 %

= cukup

< 70 % = kurang

x 100 %

Apabila tingkat keberhasilan Anda telah mencapai 80 % atau lebih, berarti Anda telah berhasil dan dapat meneruskan ke modul berikutnya. Jikalau keberhasilan Anda kurang dari 80 %, bacalah kembali kegiatan belajar unit 2 (dua), sebelum melanjutkan ke modul selanjutnya.

Kunci Jawaban Tes Formatif

 

Tes Formatif 1

Tes Formatif 2

1. D

1.

C

2. C

2.

C

3. B

3.

B

4. A

4.

D

5. B

5.

A

6. B

6.

D

7. C

7.

A

8. C

8.

B

9. B

9.

D

10. A

10.

B

Glosarium

Birokrasi : Merupakan rasional efisiensi organisasi yang setiap

anggotanya hanya bertanggung jawab pada tugas yang dipegangnya dan dia mampu (kompeten) untuk melakukannya. Mobilitas sosial : Mengacu pada turun naiknya perkembangan kelas sosial seseorang.

Langkah-langkah yang harus dilalui

Sistem : Keseluruhan yang terdiri dari bagian- bagian. Kesemua

bagian itu mempunyai fungsi sendiri-sendiri, tetapi tetap dalam hubungannya dengan bagian-bagian, dalam kegiatannya, bagian-bagian itu memberikan sumbangannya masing-masing terhadap tercapainya tujuan. Tujuan yang ingin dicapai dari setiap lembaga pendidikan

Tujuan Institusional

Prosedur

:

:

Daftar Pustaka

Ary H. Gunawan. 2000. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

H. Aswandi Bahar. 1989. Dasar-Dasar Kependidikan. Jakarta: Dirjen Dikti.

Kompas, 28 Agustus 2007. Suasana Belajar di D Inpres Poepe Merauke. Hlm, 12.

Sutjipto dan Basori Mukti. 1991/1992. Administrasi Pendidikan. Jakarta: Dirjen Dikti.

W.S. Winkel. 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Grasindo.

Unit 4
Unit 4

SEKOLAH DAN DUNIA KERJA

U nit 4 (empat) ini mengajak Anda mengkaji tentang sekolah dan dunia kerja. Materi ini akan membawa Anda untuk memperluas wawasan, pemahaman

sebagai landasan untuk melaksanakan tugas sebagai guru yang profesional dan dapat mensosialisasikan tentang pentingnya sekolah berkaitan dengan dunia kerja.

Setelah mempelajari materi ini, Anda diharapkan dapat :

1. Menjelaskan bahwa pendidikan mengakibatkan perbedaan status

2. Mendeskripsikan peningkatan taraf hidup melalui pendidikan

3. Mendeskripsikan dimensi psikologis orang bekerja

4. Mendeskripsikan sekolah dan hasil yang dicapai

Materi ini merupakan kelanjutan dari bahan unit 3 (tiga) dan harus dikuasai sebelum melanjutkan unit-unit berikutnya. Agar kajian berikut tidak mengalami kesulitan, maka Anda diharapkan dapat menguasai dan memahami materi ini secara tuntas.

Agar Anda dapat menguasai tujuan pembelajaran di atas, Anda diharapkan mengikuti langkah-langkah yang ada dalam materi ini, agar dapat memperjelas dan memperdalam pemahaman, maka Anda diharapkan mengkaji bahan-bahan dari media lain antara lain seperti web-site. Anda pasti berhasil. Selamat belajar.

Sekolah Dan Dunia Kerja

Pengantar

S ekolah dan dunia kerja merupakan materi yang harus dikuasai agar calon guru/guru memiliki wawasan yang luas untuk membentuk profesionalisme

seorang guru, agar Anda dapat mengkaji dan memahami materi berikutnya secara baik.

Materi ini mencakup:

Pendidikan mengakibatkan perbedaan status Peningkatan taraf hidup melalui pendidikan Dimensi psikologis orang bekerja Sekolah dan hasil yang dicapai

Bacalah dan kaji dengan cermat media cetak ini, pahami secara tuntas, kerjakan soal latihan dan soal tes formatif serta bacalah umpan balik dan tindak lanjut.

Uraian

A. Pendidikan Mengakibatkan Perbedaan Status

Apakah perbedaan status itu? Untuk menjawab hal ini perlu lebih dahulu mengetahui tentang apa yang dimaksud status. Menurut Roucek Weren dalam Ary H. Gunawan, (2000:40) bahwa status sebagai berikut : 1) status ialah posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial; 2) status sosial ialah posisi seseorang dalam masyarakat. Dari uraian tersebut menggambarkan status sosial antara satu orang dengan orang lain berbeda-beda. Perbedaan ada dalam suatu kelompok sosial tertentu dan perbedaan dalam masyarakat. Menurut Karsidi (2007:185) disebutkan bahwa: “makin tinggi sekolahnya makin tinggi tingkat penguasaan ilmunya sehingga dipandang memiliki status yang tinggi di masyarakat”. Memperjelas pendapat tersebut juga disebutkan bahwa pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting. Jenis pekerjaan yang kasar yang berpenghasilan bailk sukar diperoleh tanpa seseorang mampu membaca petunjuk dan mengerjakan soal hitungan yang sederhana. Pada prinsipnya pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan status seseorang.

Dari 3 (tiga) jalur pendidikan mulai dari informal, formal dan non formal, yang lebih menjanjikan adalah, jalur non formal dan formal. Hal ini ditandai dengan adanya orang mendapatkan pekerjaan selain keahlian juga secara formal memiliki ijasah/sertifikat tertentu. Untuk memperoleh status sosial menurut Ralph Linton dalam Gunawan (2000:42) ada dua macam yaitu : 1) ascribed status, ialah status yang diperoleh dengan sendirinya oleh seorang anggota masyarakat. Misalnya dalam sistem kasta seorang anak sudra, langsung saja sejak lahir ia berstatus kasta sudra. Seorang anak raja langsung menjadi bangsawan; 2) achieved status, ialah kedudukan yang dicapai seseorang dengan usaha yang disengaja, seperti sarjana untuk lulusan S1, magister lulusan S2, dan doktor untuk lulusan S3 dan seterusnya. Menurut pendapat Ralph Linton untuk butir kesatu yaitu ascribed status, bahwa status dapat diperoleh dengan adanya kelahiran seseorang atau dengan sendirinya tergantung dari status orang tua. Sedangkan achieved status dapat diperoleh melalui usaha yaitu dengan menempuh pendidikan tertentu. Lebih lanjut menurut Mayor Polak dalam Gunawan, (2000:42) selain status yang diutarakan Ralph Linton masih ditambah dengan Assigned status yaitu status diberikan kepada seseorang karena jasanya. Misalnya dapat status “putra mahkota” karena berjasa menyembuhkan penyakit sang raja atau seorang yang berjasa karena dapat menghalau dan mengamankan negeri dari kejahatan yang mengancam kesejahteraan negara. Berkaitan dengan masalah pendidikan yang mengakibatkan perubahan status, maka dari pendapat di atas yang paling cocok adalah achieved status jadi melalui pendidikan seseorang akan mengakibatkan perbedaan status. Apabila pendidikannya tinggi maka statusnya akan tinggi sebaliknya apabila pendidikannya rendah maka statusnya juga akan rendah. Dampak pendidikan memang besar dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan statusnya. Memperhatikan salah satu fungsi pendidikan adalah proses seleksi terjadi di segala bidang kehidupan baik di sekolah maupun di tempat-tempat kerja. Untuk masuk sekolah terjadi seleksi antara semua calon. Maksud seleksi tentu untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Dalam mencari pekerjaan atau untuk memangku suatu jabatan diperlukan juga seleksi tujuannya untuk memperoleh penghargaan dan dapat meningkatkan tenaga kerja yang cakap dan trampil sesuai dengan jabatan yang akan dipangkunya.

Sekolah juga sebagai lembaga yang berfungsi melatih dan mengembangkan tenaga kerja. Sekolah mengajarkan bagaimana bertanggung

jawab terhadap tugas, disiplin sesuai aturan-aturan yang telah ditetapkan. Melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan dan mengembangkan dirinya sehingga status sosialnya berubah. Menurut Syuhada (1988:126-131) Kebutuhan masyarakat akan pendidikan sangat penting sehingga dalam mengembangkan pendidikan perlu diperhatikan hal-hal berikut:

1. Relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat Dewasa ini semakin dirasakan bahwa pendidikan belum menjawab kebutuhan masyarakat, sebab upaya-upaya pendidikan belum terkait secara nyata dengan lapangan kerja dalam masyarakat. Para pelajar, mahasiswa memasuki sekolah dan perguruan tinggi tanpa pemahaman yang jelas. Kebanyakan karena ikut-ikutan teman juga keinginan orang tua. Dampak negatif dari kesenjangan itu, banyak/tidak sedikit tamatan sekolah dan perguruan tinggi yang terpaksa menganggur atau memasuki lapangan pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Seharusnya diusahakan pendidikan itu dikembangkan ke arah pemenuhan kebutuhan masyarakat. Barangkali pernah mendengar konsep link and match yang dikembangkan dalam sekolah-sekolah kejuruan di mana diharapkan para lulusannya dapat langsung diserap dalam dunia kerja. Sebenarnya ide ini didasarkan kepada pentingnya pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

2. Panduan pendidikan dan latihan Sebagian masyarakat telah menyadari kekurangan dari pendidikan formal di sekolah, di mana masih terdapat kekurangan-kekurangan. Untuk melengkapi kekurangan-kekurangan tersebut perlu ada kegiatan pendidikan dan latihan di masyarakat. Sekarang ini memang sudah banyak pusat-pusat pendidikan dan latihan akan tetapi out-putnya juga mengalami kondisi seperti dalam pendidikan formal. Mengapa keadaan seperti ini terjadi? Hal tersebut terjadi sebab peserta pendidikan dan latihan tidak memahami kegiatan- kegiatan yang diikuti. Akibatnya begitu selesai mengikuti kegiatan tidak bisa bekerja. Kondisi seperti ini menimbulkan kekecewaan dalam masyarakat. Kekecewaan seperti itu dapat dihindari sekurang-kurangnya apabila pihak yang berkompeten baik pemerintah maupun swasta secara terbuka memberikan informasi yang jelas tentang lembaga-lembaga pendidikan dan latihan yang diselenggarakan kepada masyarakat luas baik lewat media massa maupun lembaga-lembaga pendidikan di bawahnya.

Kegunaan panduan pendidikan dan latihan itu antara lain:

a. Sebagai sumber informasi bagi keluarga-keluarga yang diantara anggota keluarganya akan atau sedang memasuki suatu jenjang pendidikan dan latihan, guna memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada yang bersangkutan.

b. Sebagai sumber informasi bagi para guru dan pembimbing di sekolah- sekolah untuk mengarahkan siswanya memilih pendidikan dan latihan yang sesuai.

c. Sebagai sumber informasi bagi guru dan pembimbing di sekolah-sekolah dalam rangka pemilihan studi lanjut yang sesuai dengan keadaan pribadi siswa.

d. Sebagai sumber informasi bagi para perencana pendidikan dan latihan dalam mengembangkan program-program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

e. Sebagai sumber informasi bagi para pemilik lapangan pekerjaan dalam merekrut tenaga yang tersedia.

Berkaitan dengan lapangan pekerjaan perlu adanya upaya antara lain :

1)

Informasi lapangan kerja Dewasa ini sebagian besar masyarakat, terutama pencari kerja

hanyalah memperoleh informasi melalui mereka yang telah bekerja. Informasi yang diperoleh tidak memadai, sebab sumber informasinya terbatas. Bahkan tidak jarang tertipu oleh para calo pencari lapangan kerja yang tidak bertanggung jawab. Keadaan seperti diuraikan di atas dapat diatasi atau dikurangi apabila informasi lapangan kerja disampaikan kepada masyarakat secara serius dan transparan. Data-data tentang lapangan pekerjaan disosialisasikan melalui instansi pemerintah yang terkait, sehingga tidak menyesatkan masyarakat pencari kerja. Upaya memasyarakatkan lapangan pekerjaan itu dapat disampaikan melalui sekolah-sekolah, dan lembaga-lembaga kursus, Departemen Tenaga Kerja, Departemen Pendidikan. Informasi tentang lapangan pekerjaan itu diperlukan oleh masyarakat luas, bukan hanya pencari kerja, hal ini disebabkan informasi tentang lapangan pekerjaan penting dalam :

a. Rujukan perencanaan pendidikan dan latihan

b. Rujukan bagi lembaga-lembaga penempatan kerja

c. Rujukan bagi lembaga-lembaga bimbingan karier

d. Pengembangan dan perencanaan berbagai bidang sosial ekonomi.

2)

Layanan kesehatan mental masyarakat

Masyarakat

Indonesia

sedang

mengalami

masa transisi dari

masyarakat

tradisional

ke

masyarakat modern. Di dalam proses

transisi itu nilai-nilai lama mulai ditinggalkan sedang nilai-nilai baru

belum

gangguan kesehatan mental. Gejala-gejala gangguan mental itu antara lain:

masyarakat mengalami

dikuasai.

Dampaknya

sebagian

a. Produktivitas kerja rendah

b. Disiplin merosot

c. Penyalahgunaan jabatan meningkat

d. Penggunaan obat-obatan, Narkoba meningkat

e. Angka perceraian meningkat

f. Angka putus sekolah meningkat

g. Angka kriminalitas meningkat

Pemerintah perlu mengembangkan program rehabilitasi kesehatan mental secara nasional untuk memperbaiki mental masyarakat yang sudah terganggu itu. Apabila mentalitas yang terganggu ini direhabilitasi baru dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Karena peranan pendidikan dapat meningkatkan status seseorang maka program pendidikan perlu direncanakan atau didesain sehingga dapat menjawab kebutuhan dari masyarakat, baik ditinjau dari lingkungan masyarakat yang sempit maupun masyarakat secara luas. Dalam menyelenggarakan pendidikan (sekolah) banyak kendala yang dihadapi antara lian dana terbatas, sarana kurang memadai dan adanya drop out (DO). Drop out adalah dimana anak didik tidak mampu menyelesaikan suatu jenjang pendidikan, sehingga tidak dapat melanjutkan studinya ke jenjang berikutnya. Contoh anak tidak dapat menyelesaikan jenjang sekolah dasar karena pada kelas IV (empat) terpaksa keluar karena sesuatu hal misalnya menyangkut biaya sekolah walaupun sebenarnya di jenjang sekolah dasar bebas SPP (uang sekolah). Masalah putus sekolah khususnya pada jenjang pendidikan rendah, kemudian tidak bekerja atau berpenghasilan tetap, merupakan beban masyarakat. Bahkan sering menjadi pengganggu ketentraman masyarakat. Hal ini diakibatkan

kurangnya pendidikan atau pengalaman intelektual, serta kurangnya ketrampilan yang dapat menopang kehidupan sehari-hari. Lebih-lebih bila mengalami frustasi dan rendah diri, bisa menimbulkan gangguan-gangguan masyarakat berupa perbuatan kenakalan yang tertentangan dengan norma-norma sosial yang positif. Putus sekolah bisa menimbulkan akibat negatif dalam masyarakat, untuk itu penanganannya menjadi tugas peran pendidik pada umumnya. Ada beberapa langkah penanganannya menurut Gunawan (2000:72) ada 3 (tiga) langkah yang dapat didahulukan yaitu:

a. Langkah preventif, membekali para peserta didik dengan ketrampilan- ketrampilan praktis yang bermanfaat sejak dini, agar kelak bisa diperlukan dapat merespon tantangan-tantangan hidup dalam masyarakat secara positif, sehingga dapat mandiri dan tidak menjadi beban masyarakat atau parasit masyarakat. Misalnya antar lain ketrampilan kerajinan, jasa, perbengkelan, elektronika, fotografi, batik, menjahit.

b. Langkah pembinaan : memberikan pengetahuan-pengetahuan praktis yang mengikuti perkembangan/pembaharuan, melalui bimbingan dan latihan- latihan dalam lembaga pendidikan luar sekolah misalnya antara lain kelompok Capi, karang taruna, LKMD.

c. Langkah tindak lanjut : memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada mereka untuk fasilitas-fasilitas penunjang sesuai kemampuan masyarakat, termasuk membina hasrat pribadi untuk berkehidupan yang lebih baik dalam masyarakat. Misalnya melalui koperasi dengan berbagai kredit (kredit condak kulak/KCK).

Dengan keragaman anak yang sudah terlanjur Drop out dapat memberikan jalan keluar kepada anak menyangkut bekal pendidikan, agar dapat mandiri, tidak menimbulkan masalah di masyarakat dan selanjutnya status sosialnya tidak rendah.

B. Peningkatan Taraf Hidup Melalui Pendidikan

Menurut Clark dalam Karsidi (2007:185) disebutkan buku yang berjudul An Investment in People, dinyatakan experiment in low-income communities show cleary that education can be used to help people obtain a higher standard of living through their own efforts”. Dari pernyataan itu menunjukkan bahwa pendidikan dapat dipergunakan untuk membantu penduduk dalam meningkatkan taraf hidupnya ke tingkat yang lebih tinggi melalui usaha mereka sendiri. Penegasan ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap masyarakat yang berpenghasilan rendah. Hal ini mudah dipahami sebab dengan modal pengetahuan yang mantap dan terlebih lagi cara sengaja materi yang berhubungan dengan masalah ekonomi mendapat tekanan yang lebih berat, maka out put dari pendidikan dapat berusaha lebih baik dalam menghadapi segala persoalan tentang kesejahteraannya. Sebaliknya perkembangan ekonomi juga dapat membantu peran

pendidikan, dengan meningkatnya ekonomi baik masyarakat sekitar maupun nasional berarti kekuatan untuk memikul biaya pendidikan semakin besar. Hal ini bisa dilakukan melalui pajak yang diperoleh maupun bantuan langsung dari masyarakat baik secara lingkup sempit ataupun lingkup secara luas. Keterkaitan antara tingkat pendidikan dengan tingkat ekonomi atau hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat sosial ekonomi seseorang digambarkan oleh Clark (1944) dalam Karsidi (2007:186) sebagai berikut:

1. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin tinggi penghasilannya (tamatan sekolah dasar maksimal antara empat dan lima ribu dolar setahun; tingkat sekolah menengah atas maksimal antara lima dan enam ribu dolar setahun dan tingkat perguruan tinggi maksimal antara depalan dan sembilan ribu dolar setahun).

2. Tamatan sekolah dasar (atau sekolah menengah pertama) akan mendapat penghasilan maksimal pada usia sekitar 25-34 tahun; tamatan sekolah menengah atas akan mendapatkan penghasilan maksimal pada usia sekitar 35-44 tahun dan tamatan perguruan tinggi akan mendapat hasil maksimal pada usia sekitar 45-54 tahun.

3. Tamatan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama pada usia tua mendapat hasil lebih rendah dari hasil ketika mereka mulai bekerja. Tamatan sekolah menengah atas pada usia mendapat hasil yang seimbang dengan hasil ketika mereka mulai bekerja. Tamatan perguruan tinggi pada usia tua mendapat hasil yang lebih besar ketika mereka mulai bekerja.

Dari rumusan Clark (1944) tersebut menurut Ravik dinyatakan tidak terjadi secara mutlak, penyimpangan tentu ada dalam masalah sosial. Berkaitan dengan masalah ekonomi dan pendidikan sebelumnya telah disadari sebagian penduduk Indonesia, ini terbukti adanya sebagian warga Jakarta yang melakukan demonstrasi di Istana Presiden dan Departemen Pendidikan Nasional dari yang menyebut Serikat Rakyat Miskin Kota (SRMK); Posko Perjuangan Rakyat Miskin; Jaringan nasional Perempuan Mahardita; Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia; Liga Mahasiswa Nasional untuk demokrasi; dan Serikat Buruh Transportasi Perjuangan Indonesia; Rabu 28 Agustus menuntut akses pendidikan murah tetapi berkualitas dengan tuntutan pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) (Kompas, 2007:12). Mereka beranggapan apabila anggaran pendidikan tidak memadai maka rakyat miskin tidak dapat keluar dari kemiskinan. Sesuai pendapat tersebut di atas dan kejadian pada 28 Agustus di Istana Presiden dan Departemen Pendidikan Nasional memberikan gambaran yang jelas keterkaitan antara masalah pendidikan dengan sosial ekonomi baik lingkup kecil (keluarga) maupun lingkup luas (masyarakat serta negara).

C.

Dimensi Psikologis Orang Bekerja

Apabila ada orang bertanya apa yang mendasari orang bekerja? Tentu argumentasi masing-masing orang berbeda-beda. Tetapi suatu alasan yang dapat diterima secara umum bahwa orang bekerja adalah untuk hidup. Pada zaman sekarang ini di mana tingkat teknologi telah berkembang sedemikian rupa dapat dikatakan bahwa bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup yang mendasar. Pendapat St Paul dalam Bahar (1989:49) yang berbunyi : “anyone who would not work should not eat” artinya orang-orang yang tidak mau bekerja jangan makan. Pendapat ini mengingatkan bahwa bekerja merupakan suatu kewajiban yang patut dilakukan oleh individu agar terpenuhi kebutuhan hidupnya. Bagi masyarakat yang sudah kehidupan ekonominya sudah mapan orientasi bekerjanya sudah berbeda. Orang bekerja bukan hanya untuk memenuhi kemauan dan kebutuhan hidup seperti makanan, pakaian, perumahan, mobil dan lainnya untuk dirinya tetapi ada hal yang ingin ia lakukan kepada orang lain yaitu a sense of social service”, rasa ingin menolong orang lain. Di sini orang yang bekerja merasa puas sebab dapat menolong orang lain dalam kariernya. Kondisi ini akhirnya melahirkan dampak negatif bagi orang yang bekerja di mana ada kecenderungan bekerja terus tanpa rileks. Apabila orang itu tidak bekerja dia akan merasa bersalah dan gelisah. Para ahli psikologi menyebut orang-orang yang gelisah karena tidak bekerja ini dengan “Sunday Neurosis”. Tipe orang ini adalah tipe orang yang selalu bekerja gigih dan telah menjadi kebiasaan atau bekerja telah menjadi bahagian dari hidupnya. Tipe orang-orang yang selalu bekerja gigih dengan semangat kerja yang tinggi disebut “workaholic”, (Bahar,

1989:62).

Hakekat bekerja dewasa ini dalam masyarakat ekonomi industri bahwa bekerja itu diukur dengan uang atau dianggap sebagai mesin, maka sulit bagi pekerja dalam memenuhi kebutuhan psikologis mereka. Kebutuhan psikologi yang perlu dipenuhi oleh orang yang bekerja adalah kepuasan. Biasanya orang akan merasa puas atas kerja yang telah atau sedang ia jalankan, apabila ada yang ia kerjakan itu dianggapnya telah memenuhi harapannya, sesuai dengan tujuan ia bekerja. Bagi sementara orang, kerja merupakan sarana untuk menuju ke arah terpenuhinya kepuasan pribadi dengan jalan memperoleh kekuasaan dan menggunakan kekuasaan itu terhadap orang lain. Pada pokoknya, kerja itu merupakan aktivitas yang memungkinkan terwujudnya kehidupan sosial dan persahabatan (Bahar, 1989:62).

Semakin banyak aspek-aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu tersebut, maka semakin tinggi tingkat kepuasan yang

dirasakannya. Kepuasan kerja merupakan suatu sikap yang positif yang menyangkut penyesuaian diri yang sehat dari para karyawan terhadap kondisi dan situasi kerja, termasuk di dalamnya masalah upah, kondisi sosial, kondisi fisik dan kondisi psikologis. Berkaitan dengan prinsip orang bekerja menurut Bahar (1989:50) orang Arab mengungkapkan : “Bekerjalah engkau sedemikian rupa seolah-olah engkau akan hidup selamanya dan beramalah (beribadatlah) dengan khusuknya seolah- olah engkau akan meninggal esok harinya”. Orang Amerika memiliki etik kerja :

Who trough hard work and dedication had achieved fame and fortune, siapa yang selalu bekerja keras dan penuh dedikasi dia akan mencapai nasib baik dan keberuntungan”. Dari uraian tersebut di atas menggambarkan bahwa orang Arab hendaknya bekerja keras seolah-olah akan hidup selamanya dan berbuat baiklah atau beramal baik seolah-olah besok hari akan meninggal. Jadi selain bekerja keras juga berbuat baik atau beramal baik untuk bekal apabila meninggal. Sedangkan orang Amerika menghendaki orang bekerja keras dan berdedikasi (pengabdian) agar orang akan mencapai nasib baik dan memperoleh keberuntungan. Sedangkan pendapat Miller dan Form dalam Anoraga (2001:14) bahwa:

“motivasi untuk bekerja tidak dapat dikaitkan hanya pada kebutuhan-kebutuhan ekonomis belaka, sebab orang tetap akan bekerja walaupun mereka sudah tidak membutuhkan hal-hal yang bersifat materiil”. Jadi walaupun keadaan sosial ekonomis sudah mapan, tetap orang melakukan kegiatan kerja. Pandangan mengenai kerja menurut Anoraga (2001:14-15) bahwa:

1. Kerja merupakan bagian paling mendasar/esensial dari kehidupan manusia. Sebagai bagian paling dasar, dia akan memberi status dari masyarakat yang ada di lingkungan juga bisa mengikat individu lain baik yang bekerja atau tidak, sehingga kerja akan memberi isi dan makna dari kehidupan manusia yang bersangkutan.

2. Baik pria maupun wanita menyukai pekerjaan, kalaupun orang tersebut akhirnya tidak menyukai pekerjaan, hal ini biasanya disebabkan kondisi psikologis dan sosial dari pekerjaan itu.

3. Moral dari pekerja tidak mempunyai hubungan langsung dengan kondisi material yang menyangkut pekerjaan tersebut.

4. Inisiatif dari kerja banyak bentuk dan tidak selalu tergantung pada uang. Insentif ini adalah hal-hal yang mendorong tenaga kerja untuk bekerja lebih giat!

Biasanya orang akan merasa puas atas kerja yang telah atau ia jalankan apabila apa yang ia kerjakan itu dianggapnya telah memenuhi harapannya, sesuai dengan tujuan bekerja.

D. Sekolah Dan Hasil Yang Dicapai di Indonesia

Tujuan didirikannya sekolah menurut Fajar dalam H. R. Syaukani (2002:80) minimal untuk memenuhi tiga hal. Pertama, sebagai sarana implementasi kebijakan pendidikan yang dikembangkan melalui sistem yang berlaku secara nasional; kedua, memenuhi dan mewujudkan pendidikan nasional yang mumpuni secara akademik (bermutu dan bertaraf), dan ketiga, untuk mengembangkan visi dan misi menuju kehidupan modern. Visi pendidikan nasional tercakup dalam alinea keempat pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “mencerdaskan kehidupan bangsa”; sedangkan misi pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Apakah sekolah telah mencapai hasil sesuai harapan-harapan di atas? Mutu pendidikan dipermasalahkan apabila hasil pendidikan belum mencapai taraf seperti yang diharapkan. Mutu pendidikan pada akhirnya dilihat pada kualitas keluarannya. Apakah keluaran (output) mewujudkan diri sebagai manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan membangun lingkungannya. Padahal hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar tidak optimal sangat sulit diharapkan terjadinya hasil belajar yang bermutu. Selalu diperdebatkan apakah ada hubungan antara lama bersekolah dengan hasil belajar yang diperoleh nanti di masyarakat? Jawabannya bahwa ada, sebab bagaimanapun juga orang dapat maju dan berkembang karena adanya pendidikan di sekolah. Banyak orang melihat pendidikan itu sebagai investasi jangka panjang. Bertambah orang bersekolah bertambah banyak dia menanamkan modal. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan tingkat pendidikan dan golongan pegawai yang baru diangkat mereka yang berijasah:

Sekolah Dasar

diangkat pada golongan

I a

SMTP

diangkat pada golongan