Anda di halaman 1dari 64

BAB I PENDAHULUAN

A. LatarBelakang Kesehatan lingkungan di Indonesia saat ini mengalami beban ganda (double burden). Hal ini terjadi karena permasalahan lingkungan yang bersifat tradisional seperti penyakit menular yang disebabkan oleh lingkungan yang buruk (diare, malaria, typhus, dsb) masih belum tuntas diselesaikan, muncul lagi beban kedua yaitu permasalahan lingkungan modern akibat timbulnya hazard yang sifatnya tidak menular, seperti: air minum yang tercemar limbah industri, pertanian, seperti pestisida, herbisida , logam berat, dll Pembangunan berbagai macam industri dewasa ini yang selalu mengalami peningkatan sebenarnya merupakan sebuah tahap perkembangan peradaban masyarakat. Namun sayangnya, di berbagai wilayah, pembangunan industri tidak disertai dengan pembangunan infrastruktur untuk melestarikan lingkungan akibat keberadaan industri tersebut. Terutama di negara yang sedang berkembang, seperti di Indonesia. Laju pelestarian lingkungan tidak mampu mengimbangi laju pertumbuhan industri. Hal ini 1

semakin diperburuk dengan sikap pemerintah yang terlalu mudah memberikan ijin atas pendirian industri meskipun industri tersebut belum memiliki AMDAL yang jelas, termasuk sistem pengelolaan limbah yang baik dan sebagainya. Seperti yang terjadi di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa. Di desa tersebut telah berdiri sebuah industri pengolahan makanan bertaraf nasional, namun masih belum memilik sistem pengelolaan air limbah. Akibatnya limbah yang dihasilkan dari residu produksi di industri tersebut langsung dibuang begitu saja ke lingkungan. Kemudian letak industri yang berada di tengah-tengah pemukiman warga semakin memperburuk kondisi kesehatan lingkungan di desa tersebut. Keberadaan industri yang belum memiliki sistem pengelolaan limbah tersebut sangat meresahkan masyarakat setempat. Betapa tidak, sistem drainase pemukiman yang masih buruk diperparah dengan kontaminasi air limbah industri, menyebabkan sumber air minum masyarakat menjadi turun kualitasnya. Hal ini menjadi ironi sebab letak geografis desa tersebut berada di daerah dataran tinggi yang sebelumnya tersedia sumber air minum yang layak. Sebagian besar penduduk di desa tersebut menggunakan air sumur sebagai sumber air bersih dan air minum utama dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun, terdapatnya berbagai bahan pencemar (hazard) dari lingkungan dan limbah industri memungkinkan terjadinya pencemaran pada air sumur di desa tersebut.

Salah satu bahan pencemar yang ditengarai dapat memberikan dampak buruk pada air sumur di desa tersebut adalah khorin. Kadar khlorin bebas (Cl2) yang jumlahnya melebihi ambang batas merupakan polutan yang bersifat toksik dan dapat mengakibatkan kematian (lethal) maupun bukan kematian (sub-lethal), seperti tergangguya pertumbuhan, tingkah laku, dan karakteristik morfologi berbagai organisme akuatik. Terdapatnya kandungan klorin pada lingkungan dapat bersumber dari limbah buangan industri, terutama industri pengolahan makanan yang umumnya melakukan proses chlorinasi sebagai tindakan desinfeksi terhadap bahan baku dan peralatan industri yang digunakannya. Proses desinfeksi ini dapat menggunakan bahan-bahan kimia seperti khlorin, iodine dan senyawa amonium kuartener (quats). Namun, yang paling umum dilakukan adalah dengan menggunakan khlor, yakni dengan memberikan klorin dengan dosis 0,2 0,5 ppm yang bertujuan untuk membunuh mikroba vegetatif yang dapat mengganggu kualitas pangan yang diproduksi. Residu dari penggunaan khlor ini dibuang sebagai limbah industri. Selain khlorin, zat berbahaya lain yang dapat mencemari air sumur di Desa Pakkatto adalah Mangan. Keberadaan mangan (Mn) dalam air yang melebihi kadar yang diperbolehkan merupakan salah satu hal yang cukup banyak terjadi di lingkungan, sehingga menuai banyak perhatian oleh berbagai institusi kesehatan. Dinas Kesehatan Kota Tangerang pada tahun 2006 melakukan penelitian terhadap

kandungan Mangan pada air sumur penduduk di Desa Rawakucing, yakni desa yang berada di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawakucing. Pengambilan sampel dilakukan terhadap seluruh sumur penduduk di sekitar TPA Rawakucing. Dari hasil pemeriksaan parameter kimia, seluruh sumur menunjukkan konsentrasi mangan berada di atas kadar maksimum yang diperbolehkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesi No. 416/MENKES/SK/IX/1990 tentang Persyaratan Kualitas Air Bersih yaitu 0,5 mg/l. Konsentrasi mangan terendah adalah 1,61 mg/l dan konsentrasi mangan tertinggi 13,95 mg/l. Masyarakat di kawasan TPA Rawakucig kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Propinsi Banten sangat rentan mengalami gangguan kesehatan akibat konsentrasi mangan pada air sumur mereka yang jauh melebihi kadar maksimum yang diperbolehkan. Suatu studi epidemiologi yang dilakukan di Yunani (Kondakis et al, 1989) menunjukkan bahwa konsumsi air minum yang secara alami mengandung konsentrasi mangan yang cukup tinggi seumur hidup, beresiko menimbulkan gejala-gejala neurologi dan peningkatan retensi mangan. Hal tersebut ditandai oleh konsentrasi mangan yang tinggi dalam rambut penduduk berusia di atas 50 tahun. Kemudian, bahan lain yang kemungkinan mencemari air sumur di desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa adalah Sulfat (SO4). Sulfat merupakan senyawa organik yang dapat mencemari air tanah bila kandungannya

melebihi ambang batas. Umumnya sulfat berasal dari sumber-sumber pencemaran domestik (limbah rumah tangga, dsb), limbah organik dari pengolahan makanan, limbah pertanian, dsb. Air sumur di Desa Pakkatto sangat berpotensi tercemari oleh sulfat, sebab berdasarkan observasi yang penulis lakukan di desa tersebut, beberapa sumber cemaran sulfat yang disebutkan di atas banyak terdapat di desa tersebut. Yakni drainase lingkungan yang buruk, ditandai dengan saluran pembuangan limbah rumah tangga yang tidak baik, banyaknya selokan-selokan yang buntu, kondisi septic tank yang tidak memenuhi syarat; dsb. Selain itu, di sekitar desa tersebut terdapat areal persawahan yang memungkinkan menghasilkan cemaran sulfat, serta keberadaan industri pengolahan makanan yang membuang limbahnya langsung ke lingkungan. Kasus pencemaran air oleh sulfat dan logam berat banyak terjadi di lingkungan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Suganda et al (2002) dalam meneliti pencemaran limbah industri tekstil Jawa Barat terhadap sawah di sekitar aliran Sungai Cikijing Kabupaten Bandung yang menunjukkan bahwa pembuangan limbah ke dalam Sungai Cikijing dapat menurunkan produktivitas lahan sawah dan kualitas hasil tanaman karena mengandung unsur-unsur logam berat dan senyawa sulfat dengan kadar sulfat air sungai yang melampaui nilai ambang batas, yaitu 980 mg/l.

Kandungan sulfat yang melampaui ambang batas dapat mempengaruhi kesehatan jika dalam jumlah besar sulfat (SO4) bereaksi dengan ion natrium atau magnesium dalam air dan membentuk garam sehingga dapat menimbulkan iritasi dan gastro-intestinal (Achmadi, 2001). Selain itu, kadar sulfat yang melebihi 500 mg/l dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pada sistem pencernaan (Effendi, 2003) Berdasarkan pembahasan di atas, maka penulis merasa perlu untuk mengadakan penelitian terhadap kadar logam mangan (Mn) dan kadar zat kimia organik (Sulfat dan Chlorin bebas) pada air sumur di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya maka dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu apakah kadar Mangan (Mn), Sulfat (SO4) dan Chlorin bebas (Cl2) yang terdapat pada air sumur di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa beresiko terhadap kesehatan masyarakat di wilayah tersebut? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui kadar Mangan (Mn), Sulfat (SO4) dan Chlorin bebas

(Cl2) yang terdapat pada air sumur di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa pada tahun 2011 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui kadar Mangan (Mn) yang terdapat pada air sumur di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa pada tahun 2011 b. Untuk mengetahui kadar Sulfat (SO4) yang terdapat pada air sumur di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa pada tahun 2011 c. Untuk mengetahui kadar Chlorin bebas (Cl2) yang terdapat pada air sumur di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa pada tahun 2011 D. Manfaat Penelitian 1. Sebagai masukan kepada pelaksana industri di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa agar memperbaiki sistem pengelolaan limbahnya 2. Sebagai masukan kepada instansi pemerintah agar meningkatkan pengawasan terhadap pembuangan limbah industri 3. Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi ilmiah dibidang kesehatan lingkungan dan memberikan masukan bagi peneliti selanjutnya.

4. Sebagai pengalaman berharga bagi peneliti dan dapat menambah wawasan ilmiah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum tentang Air 1. Kegunaan Air dalam Kehidupan Manusia Sebagian dari masyarakat memanfaatkan air sumur untuk segala keperluan konsumsi air di rumahnya. Karena air sumur cenderung lebih ekonomis dan keberadaannya cukup banyak di daerah tropis seperti di Indonesia. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa lebih dari 75 % tubuh manusia terdiri dari air, sehingga manusia hanya bias bertahan tanpa air minum tidak lebih dari empat atau lima hari. Konferensi air yang diselenggarakan PBB tahun 1977 di Mar del Plata, Argentina mengedepankan perlunya suatu ketetapan tentang kebutuhan dasar atau basic need air, dengan pernyataan: All peoples, whatever their stage of development and theirsocial and economic conditions, have the right to have access to drinking water in quantities and a quality equal to their basic needs. PBB (1997) menetapkan jumlah basic water requiments sebagai keperluan dasar akan air diperuntukkan untuk kebutuhan sebagai-berikut:

10

Tabel 2.1 Kebutuhan Dasar Manusia terhadap Air Menurut PBB tahun 1977 No 1 Jenis Kebutuhan Kuantitas Dibutuhkan Air yang

Air minum untuk kelangsungan hidup 2 Air untuk penyiapan makanan 3 Air untuk keperluan sanitasi 4 Air untuk higiene Jumlah total yang disarankan

5 liter /orang/hari 10 liter/orang/hari 20 liter/orang/hari 15 liter/orang/hari 50 liter/orang/hari

Kebutuhan dasar air bersih adalah jumlah air bersih minimal yang perlu disediakan agar manusia dapat hidup secara layak yaitu dapat memperoleh air yang diperlukan untuk melakukan aktivitas dasar sehari-hari (Sunjaya dalam Karsidi, 1999 : 18). Ditinjau dari segi kuantitasnya, kebutuhan air rumah tangga menurut Sunjaya adalah: a. Kebutuhan air untuk minum dan mengolah makanan 5 liter / orang perhari. b. Kebutuhan air untuk higiene yaitu untuk mandi dan membersihkan dirinya 25 30 liter / orang perhari. c. Kebutuhan air untuk mencuci pakaian dan peralatan 25 30 liter / orang perhari. d. Kebutuhan air untuk menunjang pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas sanitasi atau pembuangan kotoran 4 6 liter / orang perhari, Sehingga total pemakaian perorang adalah 60 70 liter / hari di kota.

11

2. Kondisi Air di Indonesia Berdasarkan data dari Kementerian Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat RI mengungkapkan bahwa cakupan air bersih secara nasional mencapai 137 juta jiwa (60%) dan 90 juta jiwa yang tidak layak. Banyak air tanah/air sumur dan air permukaan yang saat ini terkontaminasi dengan logam berat, cemaran organik persisten dan nutrisi. Jumlah cemaran yang dibuang ke dalam air sering jauh melebih kapasitasnya untuk mengasimilasi cemaran. Pencemaran logam berat, terutama dari penambang emas tanpa izin (PETI) dan organik terjadi di banyak sungai di Pulau Jawa, Sumatra, kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dll. Pada masa mendatang potensi sumber daya air makin terancam, menyusul areal hutan untuk pembangunan kota, mengakibatkan potensi sumber air tawar yang dapat dimanfaatkan sepanjang tahun menjadi terus menurun. Kondisi ini semakin parah dengan pencemaran sumber air tersebut, baik oleh limbah industri, limbah rumah tangga maupun oleh bahan-bahan berbahaya lainnya. Dengan meningkatnya pengambilan dan penggunaan air tanah, terutama kotakota besar yang berada di tepi pantai, terjadi instrusi air laut, sehingga semua hal ini akan menurunkan kualitas air sebagai sumber air baku untuk keperluan air minum penduduk.

12

3. Hal-hal yang Mempengaruhi Kualitas dan Karakteristik Air Ditinjau dari segi kualitas (mutu) air, secara langsung atau tidak langsung pencemaran akan berpengaruh terhadap kualitas air. Sesuai dengan dasar

pertimbangan penetapan kualitas air minum, usaha pengelolaan terhadap air yang digunakan oleh manusia sebagai air minum berpedoman pada standar kualitas air terutama dalam penilaian terhadap produk air minum yang dihasilkannya, maupun dalam merencanakan sistem dan proses yang akan dilakukan terhadap sumber daya air (Saiful, 2001:4). Karakteristik air dipengaruhi oleh faktor faktor manusia, sehingga kualitas air sangat beragam dari satu tempat ke tempat lain. Standar standar kualitas air merupakan hargaharga yang ekstrim yang digunakan untuk meningkatkan tingkat tingkat air dimana air menjadi ofensif secara estetik, tidak sesuai secara ekonomik maupun tidak layak secara higienik untuk penggunaan air (Lee, 1988).

a. Air Limbah Sebagai Sumber Pencemar Air Air limbah hasil kegiatan manusia yang dibuang tanpa pengolahan ke dalam badan air merupakan salah satu penyebab utama terjadinya pencemaran air. Chandra (2005) menyatakan bahwa air limbah adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, industri, dan tempat-tempat umum lainnya dan

13

biasanya mengandung bahan-bahan atau zat yang dapat membahayakan kehidupan manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan.

b. Sumber- Sumber Air Limbah Sumber air limbah dapat dikelompokkan menjadi tiga sumber utama, seperti halnya dijelaskan oleh Chandra (2005) antara lain: 1) Rumah Tangga Air limbah rumah tangga (sullage) adalah air limbah yang tidak mengandung ekskreta manusia dan dapat berasal dari buangan kamar mandi, dapur, air cuci pakaian, dan lain-lain yang mungkin mengandung mikroorganisme patogen. Volume air limbah rumah tangga bergantung pada volume pemakaian air penduduk setempat. 2) Perkotaan Air limbah perkotaan banyak berasal dari bangunan-bangunan yang terdapat di daerah perkotaan antara lain perkantoran, aktivitas perdagangan, selokan, kegiatan transportasi, dan dari tempat-tempat umum. 3) Industri Limbah industri (industrial waste) yang berbentuk cair dapat berasal dari pabrik yang banyak menggunakan air pada proses

14

produksinya selain itu dapat juga berasal dari bahan baku yang mengandung air sehingga dalam proses pengolahannya, air harus dibuang. Limbah cair industri biasanya mengandung bahan pencemar yang bersifat racun dan berbahaya yang dikenal dengan sebutan limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya).

15

B. Tinjauan Umum tentang Pencemaran Air 1. Pengertian Pencemaran Air Menurut Peraturan Pemerintah R.I. No. 82 tahun 2001, pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam air dan atau berubahnya tatanan air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukannya. Pencemaran air diakibatkan oleh masuknya bahan pencemar (polutan) yang dapat berupa gas, bahan-bahan terlarut, dan partikulat. Pencemar memasuki badan air dengan berbagai cara, misalnya melalui atmosfer, tanah, limpasan (run off) pertanian, limbah domestik dan perkotaan, pembuangan limbah industri, dan lain-lain (Effendi, 2003).

2. Sumber Pencemaran Air Sumber pencemar (polutan) dapat berupa suatu lokasi tertentu ( point

source) atau tak tentu/ tersebar (non-point/ diffuse source). Sumber pencemar point source misalnya saluran limbah yang berasal dari industri. Pencemar yang berasal dari point source bersifat lokal dan volume yang dihasilkan biasanya relatif tetap. Sumber pencemar non-point diffuse source misalnya limpasan dari

16

daerah pertanian, yang mengandung pestisida dan pupuk, limpasan dari daerah pemukiman (domestik), dan limpasan dari daerah perkotaan (Effendi, 2003).

3. Indikator Pencemaran Air Pembuangan air limbah secara langsung ke lingkungan tanpa pengolahan terlebih dahulu merupakan penyebab utama pencemaran air. Limbah (baik berupa padatan dan cairan) yang masuk ke lingkungan dalam hal ini badan air menyebabkan terjadinya penyimpangan dari keadaan normal air dan ini mengindikasikan terjadinya pencemaran air. Menurut Wardhana (2001), indikator atau tanda bahwa suatu badan air telah mengalami pencemaran adalah adanya perubahan atau tanda yang dapat diamati melalui : a. Adanya perubahan suhu air limbah. b. Adanya perubahan pH atau konsentrasi ion Hidrogen. c. Adanya perubahan warna, bau, dan rasa air. d. Timbulnya endapan, koloidal, dan bahan terlarut. e. Adanya mikroorganisme. f. Meningkatnya radioaktivitas air.

4. Komponen Pencemaran Air

17

Komponen pencemaran air sangat berhubungan erat dengan indikator pencemaran air, sebab komponen pencemaran air ikut menentukan bagaimana indikator pencemaran tersebut terjadi. Adapun komponen pencemaran air seperti halnya dijelaskan oleh Wardhana (2001, hal 78-82) adalah sebagai berikut. a. Bahan Buangan Padat Bahan buangan padat baik yang kasar (butiran besar) maupun yang halus (butiran kecil) apabila dibuang ke dalam badan air maka kemungkinan yang dapat terjadi adalah; pelarutan bahan buangan padat oleh air, pengendapan bahan buangan padat di dasar air, pembentukan koloidal yang melayang di dalam air. b. Bahan Buangan Organik Bahan buangan organik pada umumnya berupa limbah yang dapat membusuk atau terdegradasi oleh mikroorganisme. Bahan-bahan organik antara lain; protein, karbohidrat, lemak dan sebagainya. c. Bahan Buangan Anorganik Bahan buangan anorganik pada umumnya berupa limbah yang sulit didegradasi oleh mikroorganisme, dan apabila bahan ini masuk ke badan air maka akan terjadi peningkatan jumlah ion logam di dalam air. Bahan-bahan anorganik antara lain ; Timbal (Pb), Arsen (As), Kadmium (Cd), Air Raksa (Hg), Nikel (Ni) dan lain-lain.

18

d. Bahan Buangan Olahan Bahan Makanan Bahan buangan makanan jika masuk ke dalam badan air dapat menimbulkan bau busuk yang menyengat hidung, hal ini terjadi akibat adanya penguraian oleh mikroorganisme terhadap bahan buangan ini. Selain itu, badan air yang mengandung bahan olahan makanan akan mengandung banyak mikroorganisme, termasuk di dalamnya bakteri patogen. e. Bahan Buangan Cairan Berminyak Minyak tidak dapat larut dalam air, melainkan akan mengapung di atas permukaan air dan menutupi permukaan air. Lapisan minyak dipermukaan air akan akan mengganggu kehidupan organisme dalam air. Hal ini disebabkan karena lapisan minyak pada permukan air akan menghalangi difusi oksigen dari udara ke dalam air sehingga jumlah oksigen terlarut dalam air menjadi berkurang. f. Bahan Buangan Zat Kimia Bahan buangan zat kimia banyak ragamnya, akan tetapi yang termasuk dalam kelompok ini adalah bahan pencemar air yang berupa; sabun (deterjen, sampo, dan bahan pembersih lainnya), bahan pemberantas hama (insektisida), dan zat warna kimia.

5. Dampak Pencemaran Air

19

Dampak pencemaran air dapat dikelompokkan kedalam empat kategori sebagai berikut: a. Dampak Terhadap Kehidupan Biota Air Banyaknya zat pencemar yang ada di dalam air limbah menyebabkan penurunan kadar DO dalam badan air. Hal ini akan mengganggu kehidupan biota air yang membutuhkan oksigen untuk respirasi. Selain itu adanya zat-zat beracun dalam air limbah mengakibatkan kematian ikan-ikan, kerusakan pada tanaman/ tumbuhan air, dampak lainnya adalah akibat matinya bakteribakteri, maka proses penjernihan air secara alamiah yang seharusnya terjadi akan terhambat. Dengan demikian air limbah menjadi sulit teruraikan. b. Dampak Terhadap Kualitas Air Tanah Kontaminasi dan pencemaran yang terjadi pada badan-badan air oleh air limbah yang mengandung logam-logam berat maupun mikroorganisme patogen dapat merembes ke dalam air tanah yang sering digunakan oleh manusia. Hal ini mengakibatkan kualitas air tanah menurun karena mengandung berbagai macam zat pencemar. c. Dampak Terhadap Kesehatan Kualitas air berpengaruh terhadap kesehatan baik secara langsung maupun tidak langsung, mengingat sifat air yang mudah sekali terkontaminasi oleh berbagai mikroorganisme dan mudah melarutkan berbagai materi.

20

Dengan demikian air mudah sekali berfungsi sebagai media penyalur ataupun penyebar penyakit. Adanya kontaminasi logam berat pada badan air juga dapat menimbulkan beberapa penyakit non-infeksi seperti keracunan

kadmium(Cd) yang mengakibatkan gagal jantung dan kerusakan ginjal (Daud, 2004) Selain itu, air yang tercemar oleh mikrooganisme dapat menyebabkan berbagai macam penyakit infeksi, diantaranya; hepatitis A oleh virus Hepatitis A, penyakit Cholera oleh V. Cholera, penyakit diare pada anak oleh Rotavirus dan penyakit dysentrie oleh E. Coli. d. Dampak Terhadap Estetika Lingkungan Semakin banyak limbah yang masuk ke dalam badan air akan menyebabkan beban lingkungan untuk melakukan degradasi secara alami akan semakin berat. Apabila kemampuan daya dukung lingkungan dalam menerima limbah sudah terlampaui, maka akan mengakibatkan pencemaran dan akumulasi materi di lingkungan bersangkutan. Penumpukan materi yang tidak terkendali menimbulkan berbagai dampak seperti bau yang menyengat, pemandangan yang kotor, serta menimbulkan masalah estetika lain yang tidak diharapkan.

21

C. Tinjauan Umum Tentang Sumur 1. Pengertian dan Jenis-Jenis Sumur Air sumur adalah air yang bersumber dari air tanah yakni air yang berada di bawah permukaan tanah didalam zone jenuh dimana tekanan hidrostatiknya sama atau lebih besar dari tekanan atmosfer. (Suyono,1993 :1) Air sumur merupakan salah satu sumber air yang sangat banyak digunakan di negara tropis seperti di Indonesia, adapun Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu wilayah yang menjadikan sumur sebagai sebuah sumber air bersih yang penting untuk keberlangsungan hidup penduduknya. Berdasarkan hasil survei nasional dan ekonomi nasional (SENSUS) tahun 2003, provinsi Sulawesi Selatan menggunakan air minum ledeng mencapai 1.598.371 jiwa (22,66%) dan air sumur atau mata air mencapai 5.508.699 jiwa (74,65%) (Dinkes Sulsel 2004) Dari sisi kualitas air sumur tanpa pengolahan, air sumur dapat dibedakan atas 3 jenis. Yaitu sebagai berikut: 1. Air sumur dangkal dataran rendah Yang dikatakan dataran rendah umumnya adalah wilayah pemukiman kota-kota besar di pinggir pantai. Air sumur dangkal adalah air yang diambil dari air tanah dangkal yakni pada kedalaman kurang dari 15,0 meter.

22

Air sumur dangkal dataran rendah ini termasuk air sumur dengan kualitas paling rendah. Dimana air sumur ini hanya ada dua kemungkinan, yaitu kemungkinan pertama air dari mata air di pegunungan yang mengalir lewat bawah tanah, dan di sepanjang perjalanannya telah membawa zat-zat cemaran yang cukup banyak karena memang di sepanjang perjalanannya bisa membawa zat apa saja yang dilewatinya. Terlebih bila air tersebut melewati daerah resapan cemaran, seperti daerah industri, daerah pemotongan hewan, daerah pembuangan sampah, dsb. Atau kemungkinan kedua berasal dari air resapan dari permukaan, karena sifatnya yang dangkal, proses penyaringan oleh lapisan tanah tidak begitu banyak. Kedua kemungkinan ini tetap menghasilkan kualitas air yang biasanya tidak begitu baik, apalagi bila berada di pemukiman yang cukup banyak terdapat industi di sekitarnya. Pada kondisi yang paling baik pun, air sumur ini yang walaupun kelihatannya jernih, hampir bisa dipastikan memiliki kadar logam terutama besi dan manganyang sangat tinggi. Bisa dilihat bila air sumur ini ditampung dalam bak, maka dalam beberapa hari dinding bak akan terlihat

23

menguning kecoklat-coklatan, sebagai tanda besi yang mengalami proses korosi. 2. air sumur dalam dataran rendah air sumur dalam adalah air sumur pada kedalaman lebih dari 40 meter. Bahkan air sumur dalam dengan kualitas terbaik rata-rata ada pada sungai bawah tanah pada lapisan antara 120-150 meter di bawah permukaan tanah. Air sumur ini biasanya akan jauh lebih baik daripada kualitas air sumur dangkal terutama pada kondisi kedalaman lapisan terbaiknya. Kualitas air ini sebelum dimasak, biasanya mengandung

mikroorganisme yang kurang lebih sama dengan kondisi air pada sumur dangkal. Hal ini bisa terjadi karena sumber air tanah yang cukup jauh dari jangkauan cemaran dari permukaan tanah. Kekurangan dari sumur ini adalah biaya pembuatan dan biaya operasionalnya yang relatif lebih mahal daripada biaya air sumur dangkal. Sebab untuk mengambil air sumur tanah dalam ini dibutuhkan pompa atau bor. 3. air sumur dataran tinggi Dataran tinggi yang dimaksudkan adalah daerah perbukitan atau daerah pegunuingan. Air sumur di daerah ini bisa dikatakan sebagai air

24

dengan kualitas paling bagus dibandingkan air tanah dalam maupun air tanah dangkal. Karena sumur ini berada pada posisi tinggi dimana belum tercemari oleh limbah karena kebanyakan industri yang menghasilkan limbah cemaran tidak berada di daerah pegunungan karena alasan ekonomisnya. Dan tentunya limbah cemaran tidak mengalir ke daerah yang berada di atasnya. Namun, air di daerah pegunungan ini mungkin juga sebagian merupakan air dari resapan di daerah dataran rendah yang karena mekanisme kapilaritas menyebabkan air tersebut merembes ke atas. Dan kemungkinan ini pun juga tetap menghasilkan kualitas air yang baik karena proses kapilaritas hanya terjadi pada air sehingga air saja yang naik naik, sementara zat cemaran tertinggal. 2. Air Tanah Sebagai Sumber Air Sumur Berbicara tentang air sumur, maka tidak terlepas dari pembahasan tentang air tanah. Sebab, sumber utama air sumur adalah berasal dari air tanah. Kualitas dan kuantitas air sumur sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas air tanah tempat dimana sumur tersebut dibangun. Berikut ini penjelasan selengkapnya tentang air tanah Air tanah adalah air hujan atau air permukaan yang meresap ke dalam tanah dan bergabung membentuk lapisan air tanah yang disebut aquifer. Air tanah

25

bersumber dari air hujan yang masuk ke dalam tanah melalui pori-pori tanah atau air yang tersimpan sejak lama di dalam tanah yang berupa air tanah dangkal, air tanah dalam dan mata air (mata air gravitasi dan mata air artesis) a. Air tanah dangkal Air tanah dangkal adalah bila air hujan atau air permukaan hanya meresap sampai muka air tanah yang berada di atas lapisan rapat air. Air tanah dangkal ini umumnya mempunyai kedalaman kurang dari 50 meter, dan lokasinya seringkali ditemyi berdekatan dengan sumber air permukaan. b. Air tanah dalam Air tanah dalam adalah air tanah yang terletak di antara 2 (dua) lapisan kedap air. Biasanya air tanah ini terletak cukup jauh dibwah permukaan tanah yaitu lebih dari 100 meter. c. Mata Air Mata air adalah air di dalam tanah yang mengalir pada lapisan tanah berpasir dan berkerikil, dan atau mengalir melalui celah diantara dua lapisan batu. Bila aliran air ini terhalang lapisan kedap air (tanah liat, tanah padat, batu atau cadas) maka air ini akan mengalir ke permukaan tanah. Tempat keluarnya air permukaan tanah ini disebut mata air.

Karakteristik Air Tanah

26

a. Kuantitas air tanah Kuantitas air tanah bermacam-macam. Debit air kecil sampai debit besar, karena hal ini sangat tergantung pada tiap lapisan tanah. Khususnya air tanah dangkal dan mata air gravitasi seringkali sangat dipengaruhi oleh musim. b. Kualitas Air Tanah Kualitas air tanah tergantung kepada lapisan tanah yang dilaluinya. Tetapi biasanya air tanah ini cukup jernih dan tidak mengandung zat padat atau tumbuhtumbuhan mati, karena air tersebut telah mengalami proses penyaringan ketika melalui butir-butir tanah, kecuali air tanah dangkal karena proses penyaringannya relative hanya melalui lapisan tanah yang tipis dan mudah terkontaminasi air kotor sekitarnya. Namun kadangkala air tanah ini mengandung gas-gas terlarut seperti CO2 agresif, CH4 dan N2S, begitu juga Fe dan Mn serta kesadahan yang tinggi, sehingga sebelum dipergunakan sebagai air bersih perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Kualitas air tanah/air sumur dipengaruhi beberapa hal antara lain iklim, litologi, waktu dan aktivitas manusia. Seperti diuraikan berikut: 1) Iklim meliputi curah hujan dan temperatur. Perubahan temperatur berpengaruh terhadap pelarutan gas. Semakin rendah temperatur maka gas yang tertinggal sebagai larutan semakin banyak. Curah hujan yang jatuh

27

ke permukaan tanah akan melarutkan unsur unsur kimia antara lain, oksigen, karbon dioksida, nitrogen, dan unsur lainnya. 2) Litologi yaitu jenis tanah dan batuan dimana air akan melarutkan unsur unsur padat dalam batuan tersebut. 3) Waktu yaitu semakin lama air tanah itu tinggal disuatu tempat akan semakin banyak unsur yang terlarut. 4) Aktivitas manusia yaitu kepadatan penduduk berpengaruh negatif terhadap air tanah apabila kegiatannya tidak memperhatikan lingkungan seperti pembuangan sampah dan kotoran manusia (Suparmin, 2000 : 10 11). c. Fluktuasi Debit Sumber Air Pada umumnya, debit air dari sumber-sumber air akan mengalami perubahanperubahan dari satu waktu ke waktu yang lain atau disebut fluktuasi. Beberapa contoh fluktuasi debit sumgber air adalah sebagai berikut.

28

Gambar 2.1 Fluktuasi Debit Sumber Air Tanah Kalau kita perhatikan gambar di atas bahwa pada musim hujan aliran air sungai mungkin akan mencapai bibir dinding sungai tapi pada musim kemarau sama sekali tidak berair. Demikian juga sumur pada musim hujan akan mengandung air yang cukup banyak dan pada waktu musim kemarau yang tidak terlalu panjang mungkin sumur tersebut masih berair, tetapi pada musim kemarau panjang sumur tersebut sama sekali tidak berair. Dan pada musim hujan, debit mata air cukup besar tapi pada musim kemarau debitnya mulai mengecil. Air tanah dangkal memiliki kandungan mineral tinggi tergantung lapisan tanah. Sedangkan memiliki kandungan Fe dan Mn tinggi, serta kesadahan yang tinggi tergantung pada musim dan daerah. Air tanah dalam air tanah dalam terdapat di

29

bawah lapisan tanah kedap air, sebagian besar berasal dari permukaan bumi yang meresap ke bawah dan sebagian kecil berasa dari magma (kerak bumi). Sumber air dalam tanah dapat diperoleh dengan jalan artesis, sumur gali dan pemboran. Menurut Daud (2002), air tanah memiliki kandungan dan unsur-unsur yang penting antara lain: Kesadahan (hardness) : 201 mg/l sebagai CaCO3 Kalsium Magnesium Sodium/Potassium Bikarbonat Khorida Sulfat Nitrat Besi Silika Karbondioksida pH : 142 mg/l sebagai CaCO3 : 59 mg/l sebagai Mg : 20 mg/l sebagai Na : 143 mg/l sebagai CaCO3 : 23 mg/l sebagai Cl : 59 mg/l sebagai SO4 : 0,06 mg/l sebagai N : 0,18 mg/l sebagai Fe : 12 mg/l sebagai SiO2 : 14 mg/l sebagai CO2 : 7,4

3. Pencemaran Air Sumur

30

Menurut Sarudji (2006), pencemaran air dapat terjadi dalam berbagai macam sumur, yakni pada sumur pompa dalam (drilled well), sumur bor (bored well), sumur pantek (driven well), dan pada sumur gali (dug well).

a. Pencemaran pada air sumur pompa dalam (drilled well) Drilled well adalah sumur bor yang cukup dalam bahkan sampai ratusan meter. Sumur ini bias melayani kebutuhan air beberapa keluarga, bahkan dalam satu kompleks perumahan tertentu. Kontaminasi air sumur berasal dari sumber pencemar di sekitarnya dan dari permukaan tanah melalui batang pipa yang ditanam. Untuk menghindari terjadinya pencemaran dari bahan kimia, dianjurkan jarak sumur dengan sumber pencemar sejauh 150 kaki. Menurut percobaan E. G. Wagner dan J. N. La Noix (1958) pencemar kimiawi dapat mencapai jarak sejauh 95 meter ke arah aliran air pada tanah berpasir. Beberapa literatur menyebutkan jarak yang dianjurkan antara sumur dengan sumber pencemar kimiawi adalah 100 meter. Untuk mencegah terjadinya kontaminasi permukaan air tanah melalui batang pompa, maka pada batang pipa sampai kedalaman 10 kaki dari permukaan tanah di sekitar pipa diberikan selubung dari semen (concrete) atau pipa besi atau PVC yang biasa disebut casing. Mengapa dipersyaratlan minimal sedalam 10 kaki, hal

31

ini dilandasi pemahaman bahwa bakteri pathogen tidak ditemukan pada tanah dengan kedalaman 10 kaki. Berarti sampai kedalaman 10 kaki, tanah mampu menyaring bakteri yang kemungkinan ikut bersama resapan air dari permukaan. Salah satu bagian yang rentan terjadinya kontaminasi air sumur dengan tanah permukaan adalah di antara lubang pipa (drill hole) dan selubungnya. Itulah sebabnya mengapa permukaan selubung atau casing tadi harus diteruskan (naik) sampai sekitar 18 inchi di atas lantai sumur. Lantai ini setidak-setidaknya berukuran 6x6 kaki persegi dengan ketebalan 6 inchi. Setelah pembuatan sumur pompa tersebut selesai, maka untuk desinfeksi dimasukkan 1 pon kapur chlor yang dilarutkan dalam 3-5 galon air ke dalam lubang pompa untuk kemudian dipompa keluar sampai bersih. Sebaiknya air sumur sebelum digunakan sebagai sumber air bersih perlu diperiksa kualitasnya di laboratorium.

b. Pencemaran air pada sumur bor (bored well) Sumur bor adalah sumur yang dibangun dengan bantuan alat auger, metode pengeborannya dilakukan secara manual. Setelah proses pengeboran, dinding lubang sumur dilindungi dengan pipa besi atau PVC, sedangkan pipa pompa dimasukkan belakangan setelah ditemukan deposit air yang cukup. Oleh karena

32

itu, sumur ini tidak terlalu dalam. Perlindungan air di dalamnya juga sama dengan sumur pompa dalam. Oleh karena sumur ini tidak begitu dalam, maka perlu juga dipertimbangkan dalam pemilihan letak atau lokasi. Lokasi sumur harus terletak di tempat yang posisinya lebih tinggi dari sumber pencemar, seperti resapan septic tank dan sumber pencemaran lain. Harus pula dipertimbangkan permeabilitas/porositas tanah dan arah aliran air tanah. Pada umumnya aliran air tanah menuju ke arah badan air yang terdekat, yang bisasanya juga terletak searah dengan bagian yang rendah dari permukaan tanah. Jarak antara resapan kakus dengan sumur dianjurkan tidak kurang dari 10 meter.

c. Pencemaran air pada sumur pantek (driven well) Sumur model ini dibuat dengan menggunakan metode memantekkan pipa besi yang ujungnya dibuntu dan diruncingkan (dengan memipihkan) dan di belakang bagian ini diberi lubang-lubang untuk masuknya air tanah. Sumur jenis ini dibangun secara manual dan termasuk sumur pompa dangkal seperti sumur bor. Pipa yang dimasukkan ke dalam tanah sekaligus berperan sebagai bagian bawah (root) dari pompa. Untuk perindungan dari pencemaran diperlakukan sama dengan sumur pompa.

33

d. Pencemaran air pada sumur gali (dug well) Sumur gali dibuat dengan menggali tanah sampai kedalaman tertentu, umumnya tidak terlalu dalam sehingga hanya mencapai air tanah di lapisan atas. Oleh karenanya, air yang diperolehsering susut pada musim kemarau, sehingga secara kuantitatif sulit untuk menjamin kontinuitasnya. Untuk menghindari kontaminasi dari permukaan maka dibuat pengaman yang disebut bibir sumur yang kedap air setinggi 2-3 kaki di atas permukaan lantai (slab). Sampai kedalaman 10 kaki dari permukaan tanah, dinding sumur dibuat kedap air, yang berperan sebagai penahan agar air permukaan yang mungkin meresap ke dalam sumur telah melewati lapisan tanag sedalam 10 kaki, sehingga mikroba yang mungkin ada di dalamnya telag tersaring dengan baik. Kontaminasi akan jauh dapat ditekan lagi dari sumber pencemar seperti debu, serangga, binatang-binatang kecil, burung, air hujan dan kontaminasi karena pengambilan air dengan timba, yaitu dengan menutupi sumur dengan concrete dan melengkapinya dengan pompa.

D. Hal Hal yang Mempengaruhi Pencemaran pada Air Tanah/Air Sumur Menurut Herman Bauer dalam Widia (1994) tentang pencemaran dalam tanah, bahwa besarnya tergantung pada banyak faktor, termasuk jenis bahan pencemar. Tanah dan akuifer yang berjaringan halus lebih efektif dalam menahan

34

cemaran jika dibandingkan dengan kerikil, batu, celah, atau bahan lain yang berpori besar. Faktor-faktor yang mempengaruhi pencemaran air sumur antara lain adalah: arah aliran air tanah, jarak terhadap sumber pencemar, struktur tanah, konstruksi sumur

1. Arah aliran air tanah Pencemaran terhadap air sumur, baik itu sumur gali maupun pompa terjadi akibat adanya perembesan ke dalam air sumur. Sehubungan dengan hal tersebut, Harry O. Buckman dan Nyle C. Brady (terjemahan Soegiman) mengatakan bahwa bila sejumlah air permukaan tanah karena penyesuaian tegangan dibantu oleh gaya gravitasi mengalir melalui pori-pori besar akan membasahi seluruh profil tanah kecuali jika ada lapisan yang kedap air menghalanginya. Setelah air yang tercemar ini mencapai air tanah, maka air tersebut cenderung untuk bergerak mengikuti aliran air tanah. Bila air yang tercemar menjalani sumber pencemaran, konsentrasi cemaran akan menurun karena terjadinya peristiwa lain yang terjadi dalam tanah (Herman Bauer dalam Widia, 1994)

35

Pernyataan tersebut juga berkaitan dengan pola pencemaran kimiawi yang dikemukaan oleh Wagner dan Lonnix, bahwa pencemaran kimia dalam tanah melebar sampai 25 meter kemudian menyempit pada jarak 70 meter, bahwa pencemaran tersebut menyebar secara horizontal searah dengan aliran air tanah dan vertikal dengan perembesan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa polutan kimia dalam tanah dapat menyebar sejauh 95 meter dari sumbernya dan searah dengan aliran air tanah. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Udin Djatun dalam Pedoman Pembuangan Tinja dan Air Limbah (Djatun, et.al. 1991). Untuk lebih jelasnya, pola pencemaran dalam tanah dideskripsikan dalam skema berikut: Gambar 2.2 Pola Pencemaran Bakteri dan Kimia dalam Tanah (Chemical Soil Pollution Pattern)

36

2. Jarak terhadap sumber pencemar Yang dimaksud dengan jarak disini adalah jarak antara tempat sumber pencemar ataupun sumber lainnya terhadap sumur gali di sekitarnya. Pada jarak yang lebih dekat dengan symber pencemar akan terjadi proses oksidasi enzimatik tahap I. konsentrasi zat pencemar lebih tinggi di daerah ini dibandingkan dengan daerah yang letaknya jauh, sedang pada jarak yang lebih jauh konsentrasi zat pencemar akan menurun. Proses enzimatik tahap II juga berlangsung pada jarak dekat dengan sumber pencemar, namun jauhnya lebih sedikit dibandingkan dengan tahap I. 3. Struktur tanah Aliran air tanah dipengaruhi oleh jenis tanah, porositas tanah dan daya saring tanah. Daya kandung air suatu tanah disebut porositas, yaitu perbandungan antara sela-sela tanah dengan volume tanah juga mempengaruhi pencemaran terhadap sumber air, seperti struktur tanah yang kasar atau pori-pori besar mempunyai daya hambat yang kecil terhadap masuknya bahan pencemar. Demikian pula sebaliknya, jika struktur tanah yang halus atau pori-pori kecil mempunyai kemampuan untuk menahan pencemar lebih baik. 4. Konstruksi sumur gali Konstruksi sumur gali sangat menentukan kualitas air, karena bila konstruksi sumur gali kurang baik, maka berbagai sumber pencemar yang mengandung sumber

37

organic dapat masuk ke dalamnya sehingga perlu dan harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. Dinding sumur dibuat sampai lapisan tanah yang mengandung air untuk menjaga air tanah agar tidak kotor b. Dinding sumur dibuat kedap air sekurang-kurangnya sedalam 3 meter dari permukaan air tanah c. Bibir sumur dibuat kedap air sekurang-kurangnya sedalam 70 cm dari permukaan tanah dan mempunyai lantai yang kedap air. Sumur harus dilengkapi dengan saluran pembuangan air limbah

38

E. Tinjauan Umum Tentang Variabel Yang Diteliti Banyaknya aktifitas manusia baik yang berasal dari rumah tangga maupun industri yang dapat menghasilkan limbah akan menyebabkan pencemaran bagi badanbadan air jika limbah tersebut dibuang ke dalam air tanpa pengolahan terlebih dahulu. Dalam menentukan kualitas air tanah, sangat dipengaruhi oleh kadar bahan pencemar yang terkandung di dalam air tersebut. Parameter yang digunakan untuk mengukur kadar bahan pencemar air tanah di antaranya adalah Mangan (Mn), Sulfat (SO4) dan Chlorin Bebas (Cl2) 1. Mangan (Mn) Mangan adalah kimia logam aktif, abu-abu merah muda yang di tunjukkan pada symbol Mn dan nomor atom 25. Mangan merupakan dua belas unsur paling berlimpah di kerak bumi (sekitar 0,1%) yang terjadi secara alamiah. Mangan merupakan logam keras dan sangat rapuh. Sulit untuk meleleh, tetapi mudah teroksidasi. Mangan bersifat reaktif ketika murni, dan sebagai bubuk itu akan terbakar dalam oksigen, bereaksi dengan air dan larut dalam asam encer. Menyerupai besi tapi lebih keras dan lebih rapuh. Aplikasi dan Manfaat Mangan sangat penting untuk produksi besi dan baja. Mangan digunakan dalam paduan baja untuk meningkatkan karakteristik yang menguntungkan seperti

39

kekuatan, kekerasan dan ketahanan. Mangan digunakan untuk membuat agar kaca tdk berwarna dan membuat kaca berwarna ungu. Mangan dioksida digunakan sebagai katalis. Selain itu Mangan digunakan dalam industri elektronik, yang digunakan sebagai komponen alam setiap pesawat televisi. Mangan merupakan salah satu mineral yang digunakan oleh beberapa orang untuk membantu mencegah keropos tulang dan mengurangi gejala yang mengganggu terkait dengan sindrom pramenstruasi (PMS). Methylcyclopentadienyl mangan tricarbonyl digunakan sebagai aditif dalam bensin bebas timbel bensin untuk meningkatkan oktan dan mengurangi ketukan mesin. Mangan di lingkungan Mangan adalah salah satu logam yang paling berlimpah di tanah, di mana terjadi sebagai oksida dan hidroksida. Mangan adalah unsur penting untuk semua spesies. Beberapa organisme, seperti diatom, moluska dan spons, mengumpulkan mangan. Ikan dapat memiliki hingga 5 ppm dan mamalia hingga 3 ppm dalam jaringan mereka, meskipun biasanya mereka memiliki sekitar 1 ppm. Daerah pertambangan utama untuk Bijih mangan adalah Afrika Selatan, Rusia, Ukraina, Georgia, Gabon dan Australia. Efek Mangan terhadap Kesehatan

40

Mangan adalah senyawa yang sangat umum yang dapat ditemukan di manamana di bumi. Mangan adalah salah satu dari tiga elemen penting yang beracun, yang berarti bahwa tidak hanya perlu bagi manusia untuk bertahan hidup, tetapi juga beracun ketika terlalu tinggi konsentrasi hadir dalam tubuh manusia. Pengambilan mangan oleh manusia terutama terjadi melalui makanan, seperti bayam, teh dan rempah-rempah. Bahan makanan yang mengandung konsentrasi tertinggi adalah biji-bijian dan beras, kacang kedelai, telur, kacangkacangan, minyak zaitun, kacang hijau dan tiram. Setelah penyerapan dalam tubuh manusia, mangan akan diangkut melalui darah ke hati, ginjal, pankreas dan kelenjar endokrin. Efek mangan terjadi terutama di saluran pernapasan dan di otak. Gejala keracunan mangan adalah halusinasi, pelupa dan kerusakan saraf. Mangan juga dapat menyebabkan Parkinson, emboli paru-paru dan bronkitis. Ketika orang-orang yang terkena mangan untuk jangka waktu lama mereka menjadi impoten. Suatu sindrom yang disebabkan oleh mangan memiliki gejala seperti skizofrenia, kebodohan, lemah otot, sakit kepala dan insomnia. Karena Mangan merupakan elemen penting bagi kesehatan manusia kekurangan mangan juga dapat menyebabkan efek kesehatan. Dampak Mangan terhadap Lingkungan

41

Senyawa mangan secara alami ada dalam lingkungan sebagai padatan di dalam tanah dan partikel kecil di dalam air. Partikel mangan di udara yang hadir dalam partikel debu. Biasanya ini menetap ke bumi dalam waktu beberapa hari. Manusia meningkatkan konsentrasi mangan di udara oleh kegiatan industri dan melalui pembakaran bahan bakar fosil. Mangan dapat berasal dari sumber manusia melalui penerapan pestisida mangan, sehingga mangan dapat pula memasuki air permukaan, air tanah dan air limbah. Pada tumbuhan, ion mangan diangkut ke daun setelah pengambilan dari tanah. Konsentrasi mangan yang sangat beracun dalam tanah dapat menyebabkan pembengkakan dinding sel pada tumbuhan, daun menjadi layu dan bebercak-bercak cokelat. Kekurangan juga dapat menyebabkan efek tersebut. Mangan dalam konsentrasi yang umum aman jika terdapat dalam air, namun dalam konsentrasi yang tinggi adalah racun bagi manusia. Oleh karena itu, kadarnya dalam air tidak boleh lebih besar dari 0,5 ppm. (Daud dan Rosman, 2002) 2. Sulfat (SO4) Sulfat merupakan sejenis anion poliatom dengan formula empirik SO42dengan molekul 96.06 unit atom. Ion sulfat membawa dua atom negatif dan merupakan konjugat ion hidrogen sulfat (juga bisulfat), HSO4-, yaitu konjugat acid suilfurik H2SO4. Kebanyakan sulfat sangat larut dalam air, terkecuali kalsium

42

sulfat, strontium sulfat dan barium sulfat. Keberadaannya dapat diketahui dengan permukaan yang berwarna putih sehingga barium sulfat menunjukkan kehadiran anion sulfat (Wiki, 2008) Sulfat memiliki potensi menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia, salah satunya adalah gangguan pencernaan. Hal ini disebabkan karena total sulfida (H2S, HS-, dan S2-) dengan aerasi yang cukup teroksidasi pada perairan alami (Effendi, 2003). Ion-ion sulfat yang terdapat dalam air bersih dapat bersenyawa dengan kulukum, membentuk kerak kalsium sulfat. Sulfat bersenyawa dengan magnesium membentuk magnesium sulfat atau eprom salt (MgSO4. 7H2O) yang mempunyai efek laxative (menyebabkan mencret), jumlahnya dalam air tidak boleh lebih dari 600 ppm. Sulfat dalam air bersih umumnya berasal dari bangunan-bangunan industri. (Daud dan Rosman, 2002) 3. Khlorin Bebas (Cl2) Sisa chlor/khlorida adalah senyawa halogen khlor (Cl). Toksisitasnya tergantung pada gugus senyawanya. Misalnya NaCl sangat tidak beracun tetapi karbonil khlorida sangat beracun. Di Indonesia, Chlor digunakan sebagai desinfeksi dalam penyediaan air minum. Chlor berasal dari gas chlor Cl2.Ca(OCl)2, atau larutan HOCl (asam hipoklorit).

43

Cl2 HOCl dan OCl merupakan sisa khlor aktif yang bersifat toksik bagi kuman, keaktifannya tergantung pada pH dan suhu. Chlor memiliki dua bentuk umum yakni chlor sediaan bebas (chlorin bebas) dan chlor sediaan terikat. Yang umum digunakan sebagai desinfeksi adalah khlorin bebas karena sifatnya sebagai chlor yang aktif. Chlor sediaan terikat juga juga mempunyai daya desinfeksi namun tidak seefisien chlor sediaan bebas. Dalam jumlah banyak, Cl akan menimbulkan rasa asin, korosi pada pipa system penyediaan air bersih. Sebagai desinfeksi, residu chlor di dalam penyediaan air sengaja dipelihara, tetapi chlor ini dapat terikat dengan senyawa organik dan membentuk halogen-hodrokarbon (Cl-HC) banyak di antaranya dikenal sebagai senyawa karsinogenik, oleh karena itu, di berbagai negara maju sekarang ini, chlorinasi sebagai proses desinfeksi tidak lagi digunakan (Slamet, 2002 Slamet Juli Soemirat. 2002. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.) Khlorin merupakan bahan kimia penting dalam industri yang digunakan untuk khlorinasi pada proses produksi yang menghasilkan produk organik sintetik, seperti plastik (khususnya Polyvinyl clorida/PVC), insektisida (DDT, Lindan, dan Aldrin) dan herbisida (2,4 dikhloropenoksi asetat) selain itu juga digunakan sebagai pemutih (bleaching agent) dalam pemrosesan selulosa, industri kertas, pabrik pencucian (tekstil) dan desinfektan untuk air minum dan kolam renang.

44

Senyawa khlorin (Cl2) merupakan senyawa total khorin yang berasal dari sejumlah khlorin bebas dan khlorin terikat di perairan sehingga dalam pemeriksaannya lebih banyak digunakan untuk memeriksa khlorin bebas (Cl2) sebagai cara untuk mengetahui kadar khlorin di perairan. Khlorin sering digunakan sebagai desinfektan untuk menghilangkan mikroorganisme yang tidak dibutuhkan, terutama bagi air yang diperuntukkan bagi kepentingan domestik. Namun, khlorin ini dapat juga bersifat berbahaya jika residu dari khlorin ini terdapat dalam kadar yang sangat berlebihan. (Effendi, 2003) Kadar khlorida lebih besar dari 200 ppm baru menimbulkan rasa asin bila air tersebut diminum. Tapi untuk penduduk di daerah pantai pada konsentrasi kurang lebih 400 ppm baru menimbulkan rasa asin (acclimation). Di atas 600 ppm kandungan khlorida suatu air tidak boleh digunakan untuk menyiram halamanhalaman dan tanaman-tanaman. Kehadiran ion Cl yang tinggi secara tiba-tiba dalam air menandakan masuknya air kotor atau sewage (Daud, 2002).

45

BAB III KERANGKA KONSEP

A. Dasar Pemikiran Pencemaran terhadap air tanah merupakan salah satu bentuk pencemaran air yang menyebabkan turunnya kualitas air sampai ke tingkat tertentu sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya akibat masuknya makhluk hidup, zat, energi dan/atau komponen lain. Adanya zat pencemar dalam air tanah sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan masyarakat, terutama bagi mereka yang menggunakan air tanah sebagai sumber air bersih dan air baku untuk air minum. Di wilayah Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa terdapat beberapa industri yang saling berdekatan. Adapun di Desa Pakkatto terdapat industri pengolahan makanan dan minuman dalam kemasan yang cukup besar namun belum memiliki pengelolaan air limbah (Waste Water Treatment Plant) yang memadai. Akibatnya limbah sisa produksi dan residu bahan bakar mesin yang digunakan di industri tersebut dibuang begitu saja ke selokan-selokan kecil di sekitar lokasi industri tersebut.

46

Kondisi seperti itu sangat berpotensi merusak lingkungan terutama merusak kondisi tanah dan kualitas air tanah yang kemudian berpengaruh pada kualitas air sumur yang ada di lokasi tersebut. Beberapa zat pencemar seperti Sulfat dan Khlorin bebas, yang banyak berasal dari sisa-sisa produksi industri pengolahan makanan, bila dibuang begitu saja ke lingkungan tanpa melalui proses pengelolaan dapat masuk ke dalam tanah dan mencemari air tanah sampai kedalaman tertentu. Di samping itu, letak industri yang berada di tengah-tengah pemukiman warga dapat memberikan dampak kesehatan secara langsung terhadap masyarakat setempat. Selain terkontaminasinya air sumur warga, gangguan lainnya dapat pula berupa polusi suara, sebab aktifitas produksi dapat menimbulkan kebisingan yang lama kelamaan dapat mengganggu pendengaran warga. Hal ini telah banyak dikeluhkan oleh warga setempat. Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan terhadap penduduk yang berada di sekitar industri pengolahan dan minuman tersebut didapatkan hasil bahwa sekitar 67 % warga merasakan adanya perubahan terhadap kondisi lingkungan mereka sejak keberadaan industri tersebut. Kondisi air sumur yang mereka gunakan cenderung lebih keruh dan berbau, serta aktifitas produksi kerap kali menimbulkan bau dan asap yang membuat tanaman yang ada di sekitar rumah mereka menjadi kering dan layu.

47

Hal ini seharusnya menjadi bahan evaluasi oleh pemerintah daerah setempat, dinas terkait dan para pemangku kebijakan. Sebab, industri yang belum memiliki sistem pengelolaan limbah yang jelas seharusnya belum diberikan ijin untuk beroperasi. Sementara itu, penulis memperkirakan pula adanya kadar Mangan (Mn) yang tinggi pada air di Desa Pakkatto. Hal ini berdasarkan beberapa pemeriksaan yang dilakukan sebelumnya di sekitar Kecamatan Bontomarannu oleh para praktisi kimia Unhas, ditemukan kadar Mangan dalam jumlah yang tidak memenuhi standar kesehatan pada air sumur di desa tersebut. Karena itu, peneliti ingin mengetahui apakah kadar logam Mangan di wilayah tersebut masih belum memenuhi standar atau tidak. Sebab kandungan Mangan dalam air sumur adalah salah satu faktor penting untuk diketahui sehubungan dengan kondisi kesehatan masyarakat. Keberadaan Mangan (Mn), Sulfat (SO4) dan Chlorin bebas (Cl2) pada air tanah/air sumur yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari dapat beresiko membahayakan kesehatan. Apabila kadar Mangan (Mn), Sulfat (SO4) dan Chlorin bebas (Cl2) dalam air melebihi ambang batas maka dapat berdampak bagi manusia terutama bila mengkonsumsi air tersebut dalam waktu yang lama.

48

Tingkat atau jumlah kadar dalam air tanah dapat diketahui melalui pemeriksaan dan uji laboratorium. Jumlah kadar tersebut kemudian dibandingkan dengan baku mutu yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 Tahun 2010 untuk melihat apakah jumlah kadar logam tersebut dalam air tanah memenuhi syarat atau tidak memenuhi syarat. Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 Tahun 2010 dipakai sebagai baku mutu dalam penelitian ini sebab peraturan tersebut dianggap yang paling baru sebagai referensi dalam mengukur parameter yang baik untuk lingkungan. Parameter bahan pencemar yang diteliti menggunakan baku mutu kelas I (satu) karena pada kelas ini, air diperuntukkan sebagai air baku air minum, dan/atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

B. Pola Pikir Variabel yang Diteliti

Mangan (Mn) Sulfat (SO4) Chlorin bebas (Cl2)

Kualitas Air Sumur

Keterangan: : variabel independen

49

: variabel dependen

C. Defenisi Operasional dan Kriteria Objektif 1. Air Sumur Defenisi Operasional (DO) Air sumur adalah air sumur yang digunakan untuk keperluan bahan baku air minum dan/atau keperluan penyiapan makanan yang terdapat di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa terkait dengan kadar bahan pencemar yang ada pada air sumur tersebut berdasarkan parameter Mangan (Mn), Sulfat (SO4) dan Chlorin bebas (Cl2 ) 2. Mangan (Mn) Defenisi Operasional (DO) Mangan (Mn) adalah kadar logam Mangan dalam bentuk ion Mn2+ pada air sumur di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa yang pengukurannya menggunakan alat spektrofotometer serapan atom (SSA) kemudian hasilnya dibandingkan dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 Tahun 2010. Kriteria Objektif (KO)

50

a. Memenuhi syarat: jika kadar Mangan (Mn2+) hasil pengukuran kurang atau sama dengan 0,4 mg/l berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 Tahun 2010. b. Tidak memenuhi syarat: jika kadar Mangan (Mn2+) hasil pengukuran berada diatas standar kualitas yang ditetapkan.

3. Sulfat (SO4) Defenisi Operasional (DO) Sulfat (SO4) adalah adalah kadar Sulfat dalam bentuk SO42- pada air sumur di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa yang pengukurannya menggunakan spektrofotometric kemudian hasilnya

dibandingkan dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 Tahun 2010. Kriteria Objektif (KO) a. Memenuhi syarat: jika kadar Sulfat (SO42-) dari hasil pengukuran kurang atau sama dengan 250 mg/l Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 Tahun 2010. b. Tidak memenuhi syarat: jika kadar Sulfat (SO42-) dari hasil pengukuran berada diatas standar kualitas yang ditetapkan

51

4. Khlorin Bebas (Cl2) Defenisi Operasional (DO) Khlorin Bebas (Cl2)adalah adalah kadar Khlorin Bebas (Cl2) pada air sumur di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa yang pengukurannya menggunakan proses titrasi kemudian hasilnya dibandingkan dengan Kep. Gubernur Sulawesi Selatan No. 14 Tahun 2003. Kriteria Objektif (KO) a. Memenuhi syarat: jika kadar Khlorin Bebas (Cl2) dari hasil pengukuran kurang atau sama dengan 5 mg/l Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 Tahun 2010. b. Tidak memenuhi syarat: jika kadar Khlorin Bebas (Cl2) dari hasil pengukuran berada diatas standar kualitas yang ditetapkan

52

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah metode observasional dengan pendekatan deskriptif untuk memperoleh data di lapangan dengan cara pengukuran melalui analisis laboratorium di Balai Besar K3 Makassar terhadap kadar Mangan (Mn), Sulfat (SO4) dan Chlorin bebas (Cl2)

B. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pakkatto, Jalan Poros Malino, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa. Desa ini berjarak + 16 km dari ibu kota Gowa, 23 km dari ibu kota propinsi dan 2 km dari ibu kota kecamatan. Luas wilayah + 1.134 hektar dengan batas-batas wilayah desa di sebelah utara berbatasan dengan Desa Timbuseng, di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sokkolia, di sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Bontomanai, di sebelah timur berbatasan dengan Desa Nirannuang. Untuk mempersempit cakupan penelitian, maka penulis memilih lokasi di RT 3 RW 1, Dusun Pakkatto Caddi yang merupakan bagian Desa

53

Pakkatto yang berada tepat di sekitar pembuangan limbah industri pengolahan makanan dan minuman dalam kemasan. Penulis memilih lokasi ini sebab industri ini berada di tengah-tengah pemukiman warga dan aliran limbahnya mengarah ke saluran pembuangan (selokan) penduduk. Akibatnya, air limbah industri yang --berupa senyawa kimia organik-- yang dibuang ke selokan sangat mengganggu aktifitas warga karena menimbulkan bau yang tidak sedap. Kualitas air tanah di lokasi tersebut juga mengalami penurunan sebab air limbah industri bergabung dengan air limbah rumah tangga menyebabkan sedimentasi pada selokan sehingga terjadi pendangkalan selokan yang membuat air limbah tergenang. Hal ini sangat beresiko mendatangkan penyakit-penyakit water bourne desease.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi penelitian adalah semua air sumur yang ada di DesaPakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa. 2. Sampel Adapun sampel dalam penelitian ini adalah air sumur yang ada Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa yang diambil di 5

54

titik, yakni sumur-sumur yang ada sepanjang selokan air limbah, baik sumur gali maupun sumur bor. Sampel tersebut yang akan digunakan untuk pemeriksaan kadar Mangan (Mn), Sulfat (SO4) dan Chlorin bebas (Cl2).

D. Teknik Pengambilan Sampel Pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara purposive sampling atau berdasarkan pertimbangan tertentu menurut karakteristik populasi, yakni melihat sumber polutan/pencemaran yang diduga.

55

Gambar . Titik-Titik Pengambilan Sampel Keterangan: : Titik pengambilan sampel : Rumah penduduk : Arah aliran limbah : Selokan : Outlet pembuangan limbah industri

56

E. Prosedur Pengambilan Sampel Air Sumur Pengambilan sampel air sumur Desa Pakkatto dilakukan melalui langkah-langkah kerja sebagai berikut: 1. Disiapkan botol yang akan digunakan untuk mengambil sampel air sumur. 2. Botol tersebut dibilas sebanyak tiga kali dengan air sumur sebelum mengambil sampel air sumur yang akan diperiksa. 3. Pengambilan air sumur dilakukan pada pagi hari untuk meyakinkan bahwa sampel benar-benar berasal dari air tanah dan belum terkontaminasi oleh aktifitas di sekitar sumur. 4. Untuk sumur gali, sampel diambil pada kedalaman 20 cm di bawah permukaan air dan/atau 20 cm di atas dasar sumur dengan berhati-hati agar tidak tercampur dengan tanah. Untuk sumur bor dengan pompa tangan atau mesin, sampel langsung diambil dari keran atau mulut pompa tempat keluarnya air yang biasa digunakan langsung untuk keperluan sehari-hari 5. Sampel air yang telah diambil pada lima titik langsung dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan kualitas air.

57

F.

Metode Pemeriksaan Sampel Metode pemeriksaan kadar Mangan (Mn), Sulfat (SO4) dan Khlorin bebas (Cl2) dalam air merujuk pada SNI (Standar Nasional Indonesia) Metode pengujian kualitas air dan akan diperiksa di laboratorium Balai Pelatihan Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan. 1. Mangan (Mn) Pemeriksaan logam mangan (Mn2+) menggunakan metode Spektrofotometer Serapan Atom merujuk pada SNI 06-6989.5-2004 dengan prosedur sebagai berikut: a. Alat-alat: Spektrofotometer Serapan Atom (SSA atau AAS), hot plate, pipet volumetri 10 ml, kertas saring, pH meter b. Pembuatan larutan standar Mangan (Mn) 100 mg/l Sebanyak 10 ml larutan induk Mn 1000 mg/l dimasukkan dalam labu takar 100 ml lalu diencerkan dengan larutan pengencer sampai garis tanda dan dihomogenkan. c. Pembuatan larutan standar Mn 10 mg/l

58

Sebanyak 10 ml larutan standar mangan 100 mg/l dimasukkan dalam labu takar 100 ml lalu diencerkan dengan larutan pengencer sampai garis tanda dan dihomogenkan. d. Pembuatan larutan standar Mn 1 mg/l Sebanyak 10 ml larutan standar mangan 10 mg/l dimasukkan dalam labu takar 100 ml lalu diencerkan dengan larutan pengencer sampai garis tanda dan dihomogenkan. e. Pembuatan larutan seri standar mangan (Mn) 0,00; 0,05; 0,10; 0,15 dan 0,20 mg/l Sebanyak 0,00; 2,5; 5,00; 7,50; 10,00 ml larutan standar Mangan 1 mg/l dimasukkan dalam labu takar 50 ml lalu diencerkan dengan larutan pengencer sampai garis tanda dan dihomogenkan f. Pembuatan Kurva Standar Logam Mangan (Mn) Larutan seri standar logam Mangan 0,00 mg/l diukur absorbansinya dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom pada
spesifik

279,5

nm. Perlakuan dilakukan sebanyak 3 kali. Dilakukan hal yang sama untuk seri standar Mangan 0,05; -,10; 0,15; dan 0,20 mg/l. g. Preparasi Sampel

59

Sebanyak 100 ml sampel dimasukkan dalam gelas breaker. Ditambahkan 5 ml HNO3 pekat, kemudian diuapkan hingga sampel hampir habis. Setelah itu ditambahkan 50ml akuades dan dimasukkan dalam labu takar 100ml melalui kertas saring. Diencerkan dengan akuades sampai garis tanda dan dihomogenkan. h. Penentuan kadar logam Mangan pada sampel Absorbansi larutan diukur dengan Spektrofotometer Serapan Atom pada pada
spesifik

279,5 nm. Perlakuan dilakukan sebanyak 3 kali untuk setiap

sampel 2. Sulfat (SO4) Pemeriksaan sulfat (SO42-) menggunakan metode spektrofotometrik, merujuk pada SNI 06-6989.20-2004 dengan prosedur sebagai berikut: a. Persiapan benda uji Disediakan contoh uji yang telah diambil sesuai dengan metode pengambilan contoh uji kualitas air. Diukur 150 ml contoh uji secara duplo dan dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 250 ml. Apabila contoh uji keruh, disaring dengan saringan membran berpori 0,45 m dan benda uji siap diuji.

60

b. Persiapan pengujian 1) Pembuatan larutan induk Sulfat (SO4) Dibuat larutan induk 100 mg/l SO4dengan cara dilarutkan 0,1479 g Na2SO4bebas air dengan air suling 100 ml di dalam labu ukur 1000 ml. Ditambahkan air suling sampai tepat pada tanda tera. 2) Pembuatan larutan baku Sulfat (SO4) Dibuat larutan baku Sulfat dengan cara dipipet 0, 10, 20, 30, 40, 50, 60, 10, dan 80 ml larutan induk baku sulfat yang telah dibakukan dan dimasukkan masing-masing ke dalam labu ukur 200 ml. Ditambahkan air suling sampai tepat pada tanda tera sehingga diperoleh kadar sulfat sebesar 0, 5, 10, 20, 25, 30, 35 dan 40 mg/l. 3) Pembuatan kurva kalibrasi Dibuat kurva kalibrasi dengan cara dioptimalkan alat spektrofotometer sesuai petunjuk penggunaan alat untuk pengujian sulfat. Dipipet 100 ml larutan baku secara duplo kemudian dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 250 ml. Ditambahkan 5,0 ml larutan kondisi ke dalam masing-masing larutan baku, diaduk dengan pengaduk magnet. Ditambahkan satu sendok kristal BaCl2.2H2O, teruskan pengaduk

61

selama satu

menit. Dimasukkan ke dalam kuvet

pada alat

spektrofotometer, dibaca dan dicatat serapan-masuknya pada kisaran waktu 0-4 menit setelah pengadukan. Apabila perbedaan hasil pengukuran secara duplo lebih besar dari 2% periksa keadaan alat dan ulangi tahapan 1), apabila perbedaannya lebih kecil atau sama dengan 2%, rata-ratakan hasilnya. Dibuat kurva kalibrasi berdasarkan data tahap 6) di atas atau tentukan persamaan garis lurusnya. c. Cara uji Diuji kadar sulfat dengan cara diukur 100 ml benda uji dan dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 250 ml. ditambahkan 5,0 ml larutan kondisi ke dalam benda uji, diaduk dengan pengaduk magnet dan ditambahkan 1 sendok kristal BaCl2.2H2O. diaduk larutan selama 1 menit setelah penambahan bahan kristal BaCl2.2H2O. dimasukan ke dalam kuvet pada alat spektrofotometer, dibaca dan dicatat serapan-masuknya pada kisaran waktu 0-4 menit setelah pengadukan. d. Perhitungan Dihitung kadar sulfat dalam benda uji dengan menggunakan kurva kalibrasi atau tentukan persamaan garis lurusnya dengan memperhatikan contoh yang tidak berwarna, yakni selisih kadar maksimum yang

62

diperbolehkan antara dua pengukuran duplo adalah 2%, rata-ratakan hasilnya dan apabila hasil perhitungan kadar sulfat lebih besar dari 40 mg/l, diulangi pengujian dengan cara mengencerkan contoh uji. Sedangkan contoh yang berwarna, yakni dikurangkan hasil pembacaan dari kekeruhan benda uji yang ditambah BaCl2.2H2O dengan benda uji tanpa BaCl2.2H2O. Dimasukkan hasil pemeriksaan tersebut ke kurva kalibrasi. Diselisih kadar maksimum yang diperbolehkan antara dua pengukuran duplo adalah 2%, rata-ratakan hasilnya dan bila hasil perhitungan kadar sulfat lebih besar dari 40 mg/l. Diulangi pengujian dengan cara mengencerkan benda uji. 3. Khlorin bebas (Cl2) Pengujian kadar klorin bebas dalam air dengan metode kolorimetrik dengan menggunakan alat Spektrofotometer Sinar Tampak secara dietil fenilindiamin (DFD) berdasarkan SNI 06-4824-1998 a. Persiapan benda uji 1) Sediakan contoh uji yang telah diambil ssuai dengan pengambilan contoh uji kualitas air 2) Contoh uji disimpan di dalam wadah yang tidak terkena cahaya matahari atau sinar yang kuat dan harus langsung diuji

63

3) Contoh uji diukur 500 ml, disaring dengan membrane selulosa asetat berpori 0,45 m dan disimpan ke dalam labu Erlenmeyer, benda uji siap diuji b. Pengujian 1) Diambil 5ml tiap benda uji dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi 2) Ditetesi dengan reagen Cl2-1 ke dalam benda uji masing-masing sebanyak 4 tetes 3) Ditetesi dengan reagen Cl2-2 ke dalam benda uji masing-masing sebanyak 1 tetes 4) Tunggu reaksinya selama beberapa saat 5) Bandingkan hasilnya dengan kartu warna indikasi klorin c. Perhitungan Sesuaikan warna hasil pengujian dengan indikator warna klorin yang tersedia, kemudian buat nilai rata-ratanya.

G. Teknik Pengambilan Data 1. Data Primer Data primer dalam penelitian ini diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan seperti keadaan umum lokasi, jumlah sumur yang digunakan warga pada radius 200-400 meter dari lokasi

64

pembuangan limbah industri. Serta pengukuran di laboratorium terhadap kadar logam kadmium (Cd) dan logam khromium (Cr) pada air sumur di Kelurahan Bontomarannu, Kecamatan Pakkatto Kabupaten Gowa. 2. Data Sekunder Data sekunder diperoleh penelusuran lembaga/instansi yang terkait, yaitu Puskesmas Kelurahan Bontomarannu, Kantor Kelurahan, Dinas Kesehatan Kabupaten Gowa serta buku-buku yang berkaitan dengan penelitian, jurnal dan artikel.

H. Pengolahan dan Analisis Data Data yang diperoleh dari pemeriksaan laboratorium diolah secara elektronik dengan bantuan komputer melalui program microsoft office excel dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Data dapat dianalisis secara deskriptif dan dibandingkan dengan standar normal yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 492 Tahun 2010 selanjutnya ditarik suatu kesimpulan dan saran-saran.