Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM TITRASI PENENTUAN KADAR CUKA PERDAGANGAN

OLEH:

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Aria Jaimini Putri (2) Krisnanda Alif Bagus W. (12) I Wayan Pio Pratama (16) Ni Wayan Wijayanti (29) Ni Wayan Wirani (30) Ni Kadek Wiwik Anggreni (31)

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN GIANYAR SMA NEGERI 1 UBUD TAHUN AJARAN 2010/2011

I.

Tujuan Percobaan: y Menentukan kadar asam cuka perdagangan dengan metode titrasi.

II.

Landasan Teori: Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organic yang dikenal sebagai pemeberi rasa asam dan aroma pada makanan. Asam cuka memiliki rumus kimia yaitu CH3COOH, asam asetat murni (asam asetat glacial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16.7C. Larutan CH3COOH dalam air merupakan asam lemah, artinya hanya terdisosiasi menurut reaksi: CH3COOH H+ + CH3COO-

Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industry yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena terftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam industry makanan asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton/tahun. 1,5 juta ton/tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industry petrokimia maupun dari sumber hayati. Penentuan kadar cuka pada makanan dapat ditentukan dengan menggunakan metode titrasi netralisasi dengan menggunakan indicator fenolftalein (PP). Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai titran dan biasanya diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai titer dan biasanya diletakkan di dalam buret. Baik titer maupun titran biasanya berupa larutan. Titrasi asam basa merupakan analisis kuantitatif untukmenentukan molaritas larutan asam atau basa. Zat yang akan ditentukan molaritasnya

dititrasi oleh larutan yang molaritasnya diketahui (larutan baku atau larutan standar) dengan tepat dan disertai penambahan indikator. Fungsi indikator di sini untuk mengetahui titik akhir titrasi. Jika indikator yang digunakan tepat, maka indikator tersebut akan berubah warnanya pada titik akhir titrasi. Titrasi asam basa merupakan metode penentuan molaritas asam dengan zat penitrasi larutan basa atau penentuan molaritas larutan basa dengan zat penitrasi larutan asam. Titik akhir titrasi atau titik ekuivalen (pada saat indikator berubah warna) diharapkan mendekati titik ekuivalen titrasi, yaitu kondisi pada saat larutan asam tepat bereaksi dengan larutan basa

Pemilihan indikator yang tepat merupakan syarat utama saat titrasi. Jika indikator yang digunakan berubah warna pada saat titik ekuivalen, maka titik akhir titrasi akan sama dengan titik ekuivalen. Akan tetapi, jika perubahan warna indikator terletak pada pH di mana zat penitrasi sedikit berlebih, maka titik akhir titrasi berbeda dengan titik ekuivalen. Indikator yang lebih dianjurkan yaitu fenolftalein (PP) karena

memberikan perubahan warna yang lebih jelas yaitu warna merah muda dari yang tidak berwarna (trayek pH=8,2-10,0).

Pada saat titik ekuivalen proses titrasi dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer maka dapat menghitung kadar titrant.

III.

Alat dan Bahan Alat: No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama alat Buret Statif Erlenmeyer Pipet tetes Pipet ukur Gelas kimia Piler Corong Labu takar Ukuran 50 mL 100 mL 10 mL 100 mL 100 mL Jumlah 1 1 set 3 2 1 2 1 1 1

Bahan: No. 1 2 3 Nama Bahan HCl 0,2 M Asam cuka perdagangan PP 10 mL 5 mL Secukupnya Jumlah

IV. Prosedur Kerja a. Pembuatan larutan sampel asam cuka perdagangan 1. Larutan cuka perdagangan disebut dengan larutan induk. 2. Pipet 10 mL asam cuka perdangan, lalu masukkan ke dalam labu takar 1000 mL (pengenceran 100 kali) dan encerkan dengan aquades sampai tanda batas. Larutan ini disebut larutan sampel. 3. Larutan asam cuka di analisis. b. Titrasi cuka perdagangan 1. Ambil 5 mL larutan asam cuka lalu masukkan ke dalam Erlenmeyer 100 mL dan tetesi dengan PP 3 tetes. 2. Ambillah buret yang telah di isi dengan NaOH, pasang pada statif yang telah disediakan dan masukkan NaOH 0,2 M kedalam buret menggunakan corong. 3. Lakukan titrasi sebanyak 3 kali perulangan. 4. Catat volume NaOH yang digunakan pada setiap perulangan. 5. Hitung kadar asam cuka perdangan.

V.

Hasil dan Pengamatan Titrasi asam cuka perdagangan NO. 1. 2. 3 Sampel 1 2 3 Volume rata-rata Volume asam cuka perdagangan 10 mL 10 mL 10 mL 10 mL Volume NaOH (0,2 M) 5,2 mL 5 mL 5,1 mL 5,1 mL