Anda di halaman 1dari 8

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Oleh didikz888 2 Komentar Kategori: Karyaku dan KULIAH Tags: Kajian Kurikulum, KULIAH,

Kurikulum Barbasis Kompetensi, Makalah, Pengerti an Kompetensi, Pengertian Kurikulum, Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi, T ugas KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. berbangs a, dan bernegara di dalam negeri dan isu-isu mutakhir dari luar negeri yang dapa t mempengaruhi kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia merupakan hal-hal yang harus segera ditanggapi dan dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum baru pada setiap jenjang pendidikan. Beberapa hal yang melatarbelakangi penyusunan kurikulum baru antara lain: Adanya peraturan penundang-undangan yang baru telah membawa implikasi terhadap paradigma pengembangan kurikulum pendidikan dasar dan menengah antara lain pemba haruan dan divensifikasi kurikulum, serta pembagian kewenangan pengembangan kuri kulum. Perkembangan dan perubahan global dalam berbagai aspek kehidupan yang datang be gitu cepat telah menjadi tantangan nasional dan menuntut perhatian segera dan se rius. Kondisi masa sekarang dan kecenderungan di masa yang akan datang perlu dipersia pkan generasi muda termasuk peserta didik yang memiliki kompetensi yang multidim ensional. Pengembangan kurikulum harus dapat mengantisipasi persoalan-persoal-an yang mem punyai kemungkinan besar sudah dan/atau akan terjadi. Kurikulum yang dibutuhkan di masa depan adalah kurikulum yang mampu memberikan keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan, pertentangan, ketidakm enentuan, ketidakpastian, dan kesulitan dalam kehidupan. Oleh karena itu kurikul um secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional. Penyempurnaan kurikulum dilakukan secara responsif terhadap penerapan hak asasi manusia, kehidupan demokratis, persatuan dan kesatuan, kepastian hukum , kehidupan beragama dan ketahanan budaya, pembangunan daerah, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi, serta pengelolaan lingkungan. Kurikukulum Berbasis Kompetensi ini sebenarnya memiliki justifikasi didaktis pe dagogis yang kuat untuk menggantikan Kurikulum 1994, karena pendidikan dengan ku rikulum 1994 ternyata tidak melahirkan unjuk kerja siswa secara bermakna. Siswa banyak tahu informasi, tetapi tidak bermakna bagi kehidupannya. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas tentang kurikulum berbasis kompetensi, muncu lah beberapa permasalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu: 1. Apakah yang dimaksud dengan kurikulum berbasis kompetensi? 2. Apa bedanya dengan kurikulum sebelumnya? 3. Apakah kelebihan dan kekurangan KBK? C. Tujuan 1.Mengetahui apa yang dimaksud dengan Kerikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2. Mengetahui beda antara KBK dengan kurikulum sebelumnya. 3. Mengetahui kelebihan daqn kekurangan KBK BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Kurikulum Hilda Taba (1962) mengemukakan bahwa:

A curriculum usually contains a statement of aims and of specific objectives; it indicates some selection and organization of content; it either implies or mani fests certain patterns of learning and teaching, whether because the objectives demand them or because the content organization requires them. Finally, it inclu des a program of evaluation of the outcomes Pengertian kurikulum menurut Hilda Taba di atas menekankan pada tujuan suatu sta temen, tujuan-tujuan khusus, memilih dan mengorganisir suatu isi, implikasi dala m pola pembelajaran dan adanya evaluasi. Sementara Unruh dan Unruh (1984) mengemukakan bahwa curriculum is defined as a p lan for achieving intended learning outcomes: a plan concerned with purposes, wi th what is to be learned, and with the result of instruction . Ini berarti bahwa k urikulum merupakan suatu rencana untuk keberhasilan pembelajaran yang di dalamny a mencakup rencana yang berhubungan dengan tujuan, dengan apa yang harus dipelaj ari, dan dengan hasil dari pembelajaran. Olivia (1997) mengatakan bahwa we may think of the curriculum as a program, a p lan, content, and learning experiences, whereas we may characterize instruction as methods, the teaching act, implementation, and presentation. Olivia termasuk orang yang setuju dengan pemisahan antara kurikulum dengan pengajaran dan merumu skan kurikulum sebagai a plan or program for all the experiences that the learne r encounters under the direction of the school. Pendapat yang sedikit berbeda tentang kurikulum dikemukakan oleh Marsh (1997), dia mengemukakan bahwa kurikulum merupakan suatu hubungan antara perencanaan-per encanaan dengan pengalaman-pengalaman yang seorang siswa lengkapi di bawah bimbi ngan sekolah. Senada dengan Marsh, Schubert (1986) mengatakan the interpretation that teachers give to subject matter and the classroom atmosphere constitutes t he curriculum that students actually experience. Pengertian di atas menggambarkan definisi kurikulum dalam arti teknis pendidika n. Pengertian tersebut diperlukan ketika proses pengembangan kurikulum sudah men etapkan apa yang ingin dikembangkan, model apa yang seharusnya digunakan dan bag aimana suatu dokumen harus dikembangkan. Kebanyakan dari pengertian itu berorien tasi pada kurikulum sebagai upaya untuk mengembangkan diri peserta didik, pengem bangan disiplin ilmu, atau kurikulum untuk mempersiapkan peserta didik untuk sua tu pekerjaan tertentu Selanjutnya Dool (1993) memperkuat pendapatnya tentang kurikulum yang ada sekar ang dengan mengatakan: Education and curriculum have borrowed some concepts from the stable, nonechange concept for example, children following the pattern of their parents, IQ as dis covering and quantifying an innate potentiality. However, for the most part mode rnist curriculum thought have adopted the closed version, one where trough focus ing knowledge is transmitted, transferred. This is, I believe, what our best con temporary schooling is all about. Transmission frames our teaching-learning proc ess . Dengan transfer dan transmisi maka kurikulum menjadi suatu focus pendidikan yang ingin mengembangkan pada diri peserta didik apa yang sudah terjadi dan berkemba ng di masyarakat. Kurikulum tidak menempatkan peserta didik sebagai subjek yang mempersiapkan dirinya bagi kehidupan masa dating tetapi harus mengikuti berbagai hal yang dianggap berguna berdasarkan apa yang dialami oleh orang tua mereka. Dalam konteks ini maka disiplin ilmu memiliki posisi sentral yang menonjol dala m kurikulum. Kurikulum, dan pendidikan, haruslah mentransfer berbagai disiplin i lmu sehingga peserta didik menjadi warga masyarakat yang dihormati. Sehubungan dengan banyaknya definisi tentang kurikulum, dalam implementasi kuri kulum kiranya perlu melihat definisi kurikulum yang tercantum dalam Undang-undan g No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat (19) yang be rbununyi: kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, i si dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Lebih lanjut p ada pasal 36 ayat (3) disebutkan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang d an jenis pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan mem

perhatikan: - peningkatan iman dan takwa; - peningkatan akhlak mulia; - peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; - keragaman potensi daerah dan lingkungan; - tuntutan pembangunan daerah dan nasional; - tuntutan dunia kerja; - perkembangan ilmu - pengetahuan, teknologi, dan seni; - agama; - dinamika perkembangan global; dan - persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan Pasal ini jelas menunjukkan berbagai aspek pengembangan kepribadian peserta did ik yang menyeluruh dan pengembangan pembangunan masyarakat dan bangsa, ilmu, keh idupan agama, ekonomi, budaya, seni, teknologi dan tantangan kehidupan global. A rtinya, kurikulum haruslah memperhatikan permasalahan ini dengan serius dan menj awab permasalahan ini dengan menyesuaikan diri pada kualitas manusia yang dihara pkan dihasilkan pada setiap jenjang pendidikan. B. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Kurikulum berbasis kompetensi mulai diterapkan di Indonesia pada tahun pelajara n 2001/2002 dibeberapa sekolah SD, SMP, dan SMA yang ditunjuk oleh pemerintah da n atau atas inisiatif sekolah sendiri yang disebut mini piloting KBK di bawah ko ordinasi direktorat SMP/SMA dan pusat kurikulum. Legalitas formal pelaksanaan KBK pada tingkat pendidikan dasar dan menengah bel um ada karena tidak ada Permendiknas yang mengatur tentang hal itu. Meskipun dem ikian landasan hukum untuk penyelenggaraan KBK bisa mengacu pada: Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Otonomi Daerah bidang pendidikan dan kebudayaan yaitu : pemerintah memiliki wewenang menetapkan: (1) standar kom petensi siswa dan warga belajar serta pengaturan kurikulum nasional dan penilaia n hasil belajar secara nasional serta pedoman pelaksanaannya, dan (2) standar ma teri pelajaran pokok. Undang-undang No. 2 tahun 1989 Sistem Pendidikan Nasional dan kemudian diganti dengan UU RI No. 20 tahun 2003 pada Bab X pasal 36 ayat: (1) Pengembangan kuriku lum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan t ujuan pendidikan nasional, (2) Kurikulum pada semua enjag dan jenis pendidikan d ikembangkan dengan prinsip diversifikasii sesuai dengan satuan pendidikan, poten si daerah, dan peserta didik (3) Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidi kan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dan pada pasal 38 ayat 91) Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan o leh pemerintah. Sebelum membahas lebih jauh tentang KBK terlebih dahulu perlu dijelaskan penger tian dari kompetensi dan kurikulum berbasis kompetensi itu sendiri. 1. Pengertian Kompetensi Surat Keputusan Mendiknas nomor 045/U/2002. tentang Kurikulum Inti Perguruan Ti nggi mengemukakan Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungja wab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu . Association K.U. Leuven mendefinisikan bahwa kompetensi adalah peingintegrasian dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan untuk melaksanakan satu cara efektif. Robert A. Roe (2001) mengemukakan definisi dari kompetensi yaitu: Competence is defined as the ability to adequately perform a task, duty or role . Competence integrates knowledge, skills, personal values and attitudes. Compet ence builds on knowledge and skills and is acquired through work experience and learning by doing Dari definisi di atas kompetensi dapat digambarkan sebagai kemampuan untuk mela ksanakan satu tugas, peran atau tugas, kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, k etrampilan-ketrampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan untuk

membangun pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada pengalaman dan pemb elajaran yang dilakukan. 2. Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi Eve Krakow (2005) mengemukakan bahwa pengajaran berbasis kompetensi adalah kese luruhan tentang pembelajaran aktif (active learning) dimana guru membantu siswa untuk belajar bagaimana belajar dari pada hanya mempelajari isi (learn how to le arn rather than just cover content). Lebih jauh Christine Gilbert sebagai chief inspector Ofsted pada dokumen visi 2 020 dari Ofsted menyebutkan bahwa: Learning how to learn half a dozen times, as it describes the imperatives for de veloping the 21st-century curriculum. In the last decade, it seems that we have established the notion that an appreciation of the how students learn is at least as important as what they learn. The National Strategies at primary and secondary level are promoting learning competencies and the mantra for Every Child Matters includes enjoyment and engagement with learning as a key outcome Pendapat di atas menekankan bahwa pengembangan kurikulum di abad ke-21 lebih dit ekankan pada bagaimana mengembangkan suatu konsep learning how to learning . Pusat kurikulum, Balitbang Depdiknas (2002) mendefinisikan bahwa kurikulum berb asis kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi da n hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Ku rikulum ini berorientasi pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan (2) keberagaman yang dapat diwujudkan sesuai dengan kebutuhannya. Kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang pada tahap perencanaan, teru tama dalam tahap pengembangan ide akan dipengaruhi oleh kemungkinan-kemungkinan pendekatan, kompetensi dapat menjawab tantangan yang muncul. Artinya, pada waktu mengembangkan atau mengadopsi pemikiran kurikulum berbasis kompetensi maka peng embang kurikulum harus mengenal benar landasan filosofi, kekuatan dan kelemahan pendekatan kompetensi dalam menjawab tantangan, serta jangkauan validitas pendek atan tersebut ke masa depan. Harus diingat bahwa kompetensi bersifat terus berke mbang sesuai dengan tuntutan dunia kerja atau dunia profesi maupun dunia ilmu (S uyanto, 2005) Kurikulum berbasis kompetensi memuat standar kompetensi dan kompetensi dasar pa da setiap mata pelajaran. Standar kompetensi diartikan sebagai kebulatan pengeta huan, keterampilari, sikap, dan tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu matapelajaran. Cakupan standar kompetensi standar isi (conten t standard) dan standar penampilan (performance standard). Kompetensi dasar, mer upakan jabaran dari standar kompetensi, adalah pengetahuan, keterampilan dan sik ap minimal yang harus dikuasai dan dapat diperagakan oleh siswa pada masing-masi ng standar kompetensi. Materi pokok atau materi pembelajaran, yaitu pokok suatu bahan kajian yang dapat berupa bidang ajar, isi, proses, keterampilam, serta kon teks keilmuan suatu mata pelajaran. Sedangkan indikator pencapaian dimaksudkan a dalah kemampuan-kemampuan yang lebih spesifik yang dapat dijadikan sebagai ukura n untuk menilai ketuntasan belajar. Dari definisi-definisi di atas kurikulum berbasis kompetensi menekankan pada me ngeksplorasi kemampuan/potensi peserta didik secara optimal, mengkonstruk apa ya ng dipelajari dan mengupayakan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kuri kulum berbasis kompetensi berupaya mengkondisikan setiap peserta didik agar memi liki pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebi asaan berpikir dan bertindak sehingga proses penyampaiannya harus bersifat konte kstual dengan mempertimbangkan faktor kemampuan, lingkungan, sumber daya, norma, integrasi dan aplikasi berbagai kecakapan kinerja, dengan kata lain KBK berorie ntasi pada pendekatan konstruktivisme. Ciri-ciri KBK, yaitu: a. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa, baik secara individual maupun klasikal

b. Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman c. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervar iasi d. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar yang lain yang m emenuhi unsur edukasi e. Penilaian menekankan pada proses dan hasil dalam upaya penguasaan atau penca paian suatu kompetensi. Dengan demikian kurikulum berbasis kompetensi ditujukan untuk menciptakan tamata n yang kompeten dan cerdas dalam membangun identitas budaya dan bangsanya. Kurik ulum ini dapat memberikan dasar-dasar pengetahuan, keterampilan, pengalaman bela jar yang membangun integritas sosial, serta membudayakan dan mewujudkan karakter nasional. Dengan kurikulum yang dernikian dapat memudahkan guru dalam penyajian pengalaman belajar yang sejalan dengan prinsip belajar sepanjang hayat yang men gacu pada empat pilar pendidikan universal, yaitu: belajar mengetahui, belajar m elakukan, belajar menjadi diri sendiri, dan belajar hidup dalam kebersamaan. C.Perbandingan KBK dengan kurikulum 1994 Perbedaan mendasar antara Kurikulum 1994 dengan KBK seperti tertera dalam buku Pengelolaan Kurikulum di Tingkat Sekolah (Anonim, Depdiknas 2003) terletak pada penguasaan kompetensi, yakni merupakan gabungan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak yang dil akukan secara konsisten. Sedangkan kurikulum 1994 meskipun telah menggabungkan k etiga ranah tersebut, tetapi ketiganya belum nampak dilakukan secara bersama-sam a dan menjadi kebiasaan berpikir dan bertindak, apalagi kebiasaan yang dilakukan secara konsisten. Jadi perbedaan utama keduanya adalah penekanan pada kompetens i dan latihan kompetensi yang dilakukan secara terus menerus, serta pembiasaan d alam kehidupan sehari-hari. Berikut ini beberapa persamaan dan perbedaan KBK dan kurikulum 1994 berdasarkan kajian pustaka dan pengalaman di lapangan: Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Kurikulum 1994 PERSAMAAN 1. Pendidikan dasar 9 tahun 2. Penekanan pada kemampuan Membaca, Menulis, dan Berhitung 3. Konsep-konsep dan materi pokok (esensial) pada setiap mata pelajaran untuk me ncapai kompetensi 4. Adanya muatan local 5. Alokasi waktu setiap jam pelajaran tetap 45 menit untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SM K 1. Pendidikan dasar 9 tahun 2. Penekanan pada kemampuan Membaca, Menulis, dan Berhitung 3. Konsep-konsep dan materi pokok (esensial) pada setiap mata pelajaran untuk me ncapai kompetensi 4. Adanya muatan local 5. Alokasi waktu setiap jam pelajaran tetap 45 menit untuk SMP/MTs dan SMA/MA/SM K PERBEDAAN 1. Pemberdayaan sekolah dan daerah 2. Memuat Standar Kompetensi 3. Kegiatan pembiasaan perilaku terintegrasi dan terprogram

4. Pengenalan mata pelajaran TIK 5. Penilaian Berbasis Kelas (PBK) 6. Pendekatan tematik di kelas I dan II SD/MI untuk memperhatikan kelompok usia 7. Kesinambungan pemeringkatan kompetensi bahan kajian dari kelas I sampai kelas XI 8. Silabus disusun oleh daerah dan atau sekolah sesuai dengan kebutuhan dan kem ampuannya 1. Sentralistik 2. Tidak memuat standar kompetensi 3. Tidak ada kegiatan pembiasaan perilaku terintegrasi dan terprogram 4. belum ada mata pelajaran TIK 5. Meskipun sudah disarankan untuk melakukan PBK, kenyataannya masih didominasi penilaian pilihan ganda 6. Pendekatan tematik di kelas I dan II SD/MI hanya disarankan 7. Tidak ada kesinambungan pemeringkatan kompetensi bahan kajian dari kelas I sa mpai kelas XII 8. Memberikan peluang pada guru/sekolah/daerah untuk mengembangkan potensinya D. Komponen Utama Kurikulum Berbasis Kompetensi Kurikulum berbasis kompetensi merupakan kerangka inti yang memiliki empat kompo nen dasar yaitu: Kurikulum dan Hasil Belajar, Penilaian Berbasis Kelas, Kegiatan Belajar Mengajar, dan Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah, secara skematis d apat dilihat dari gambar di bawah ini: 1. Kurikulum dan Hasil Belajar 2. Penilaian Berbasis Kelas 3. Kurikulum Berbasis Kompetensi 4. Kegiatan Belajar Mengajar 5. Peng. Kurikulum Berbasis Sekolah 1. Kurikulum Hasil Belajar (KHB) Memuat perencanaan pengembangan peserta didik yang perlu dicapai secara keselur uhan sejak lahir sampai dengan usia 18 tahun. Kurikulum dan hasil belajar ini me muat kompetensi, hasil belajar, dan indikator dari Taman Kanak-kanak dan Raudhat ul Athfal (TK & RA) sampai dengan kelas XII. KHB membrikan suatu rentang kompete nsi dan hasil belajar siswa yang bermanfaat bagi guru pendidikan pradasar (TK & RA) sampai kelas XII SMA untuk menentukan apa yang harus dipelajari oleh siswa, bagaimana seharusnya mereka dievaluasi, dan bagaimana pembelajaran disusun. KHB dibagi menjadi satu (1) rumpun pengembangan TK dan RA dan 11(sebelas) rumpun pel ajaran yang terdiri dari Pendidikan Asgama, Kewarganegaraan, Bahasa Indoenesia, Matematika, sains, Ilmu Sosial, Bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya, Kesenia n, dan Pendidikan Jasmani. Keterampilan, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi. 2. Penilaian Berbasis Kelas (PBK) Memuat prinsip, sasaran, dan pelaksanaan penilaian berkelanjutan yang lebih aku rat dan konsisten sebagai akuntabilitas publik melalui penilaian terpadu dengan kegiatan belajar mengajar di kelas (berbasis kelas) dengan mengumpulkan kerja si swa (fortofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance ), dan tes tertulis. Penilaian ini mengidentifikasi kompetensi/hasil belajar yan g telah dicapai, dan memuat pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan

telah dicapai serta peta kemajuan belajar siswa dan pelaporan. 3. Kegiatan Belajar Mengajar Memuat gagasan-gagasan pokoktentang pembelajaran dan pengajaran untuk mencapai kompetensi yang ditetapkan serta gagasan-gagasan pedagogis dan andragogis yang m engelola pembelajaran agar tidak mekanistik 4. Pengelolaan Kurikulum Berbasis sekolah Memuat berbagai pola pemberdayaan tenaga kependidikan dan sumber daya lain untu k meningkatkan mutu hasil belajar. Pola ini dilengkapi dengan gagasan pembentuka n jaringan kurikulum, pengembangan perangkat kurikulum (antara lain silabus), pe mbinaan profesional tenaga kependidikan, dan pengembangan sistem infoermasi kuri kulum. E. Kelebihan dan Kelemahan Kurikulum Berbasis Kompetensi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dikembangkan dengan tujuan memperbaiki kele mahan pada Kurikulum 1994. KBK menitikberatkan pada kompetensi yang harus dicapa i siswa. Misalnya, standar kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia berorienta si pada hakikat pembelajaran bahasa, yaitu belajar bahasa pada hakikatnya belaja r berkomunikasi dan belajar menghargai manusia serta nilai-nilai kemanusiaannya. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan pada peningkatan kemam puan berkomunikasi dan menghargai nilai-nilai, bukan pada kemampuan menguasai il mu kebahasaan. Akan tetapi, ilmu bahasa dipelajari untuk mendukung keterampilan berkomunikasi. Kegiatan belajar pun dikembalikan pada konsep bahwa siswa akan be lajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika siswa mengalami apa yang dipelajarinya, bukan hanya mengetahuainya . Pembelaj aran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetis i mengingat , tetapi gagal dalam membekali siswa memecahkan persoalan dalam kehidup an nyata untuk jangka panjang. Berdasarkan kajian teoretik dan pengalaman lapangan, sebenarnya KBK merupakan s alah satu kurikulum yang memberikan konstribusi besar terhadap pengembangan pote nsi peserta didik secara optimal berdasarkan prinsip-prinsip konstruktivisme asa l implementasinya benar. Beberapa kelebihan KBK antara lain: 1. Mengembangkan kompetensi-kompetensi siswa pada setiap aspek mata pelajaran d an bukan pada penekanan penguasaan konten mata pelajaran itu sendiri 2. Mengembangakan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student oriented). Sis wa dapat bergerak aktif secara fisik ketika belajar dengan memanfaatkan indra se optimal mungkin dan membuat seluruh tubuh serta pikiran terlibat dalam proses be lajar. Dengan demikian, siswa dapat belajar dengan bergerak dan berbuat, belajar dengan berbicara dan mendengar, belajar dengan mengamati dan menggambarkan, ser ta belajar dengan memecahkan masalah dan berpikir. Pengalaman-pengalaman itu dap at diperoleh melalui kegiatan mengindra, mengingat, berpikir, merasa, berimajina si, menyimpulkan, dan menguraikan sesuatu. Kegiatan tersebut dijabarkan melalui kegiatan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. 3. Guru diberi kewenangan untuk menyusun silabus yang disesuaikan dengan situas i dan kondisi di sekolah/daerah masing-masing 4. Bentuk pelaporan hasil belajar yang memaparkan setiap aspek dari suatu mata pelajaran memudahkan evaluasi dan perbaikan terhadap kekurangan peserta didik. 5. Penilaian yang menekankan pada proses memungkinkan siswa untuk mengeksploras i kemampuannya secara optimal, dibandingkan dengan penilaian yang terfokus pada konten. Disamping kelebihan, kurikulum berbasis kompetensi juga terdapat kelemahan. Kel emahan yang ada lebih banyak pada penerapan KBK di setiap jenjang pendidikan, ha l ini disebabkan beberapa permasalahan antara lain: 1. Paradigma guru dalam pembelajaran KBK masih seperti kurikulum-kurikulum sebe lumnya yang lebih pada teacher oriented 2. Kualitas guru, hal ini didasarkan pada statistik, 60% guru SD, 40% guru SLTP , 43% SMA, 34% SMK dianggap belum layak untuk mengajar di jenjang masing-masing. Selain itu 17,2% guru atau setara dengan 69.477 guru mengajar bukan bidang stud inya. Kualitas SDM kita adalah urutan 109 dari 179 negara berdasarkan Human Deve

lopment Index. 3. Sarana dan pra sarana pendukung pembelajaran yang belum merata di setiap sek olah, sehingga KBK tidak bisa diimplementasikan secara komprehensif. 4. Kebijakan pemerintah yang setengah hati, karena KBK dilaksanakan dengan uji coba di beberapa sekolah mulai tahun pelajaran 2001/2002 tetapi tidak ada payung hukum tentang pelaksanaan tersebut. Di samping kelemahan dalam kebijakan dan implementasi KBK juga memiliki kelamah an dari sisi isi kurikulum, antara lain: 1. Dalam kurikulum dan hasil belajar indikator sudah disusun, padahal indikator sebaiknya disusun oleh guru, karena guru yang paling mengetahui tentang kondisi peserta didik dan lingkungan 2. Konsep KBK sering mengalami perubahan termasuk pada urutan standar kompetens i dan kompetensi dasar sehingga menyulitkan guru untuk merancang pembelajaran se cara berkelanjutan. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Perubahan kurikulum 1994 ke Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sebenarnya bert ujuan perbaikan mutu pendidikan di Indoensia, mengingat dalam KBK berorientasi p ada pemberian keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan, pertenta ngan, ketidakmenentuan, ketidakpastian, dan kesulitan dalam kehidupan dengan kat a lain bagaimana aplikasi materi pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari pesert a didik. Penekanan pembelajaran yang berpusat pada siswa memungkinkan dapat mengeksplora si potensi siswa secara optimal sehingga tujuan pendidikan nasional yang tercant um dalam undang-undang Sisdiknas dapat terelaisasi. Namun demikian dalam impleme ntasi KBK di lapangan masih banyak kendala/kelemahan sehingga KBK yang dimulai t ahun 2001 dan diterapkan secara meluas tahun 2004 (sehingga dikenal dengan kurik ulum 2004) berhenti di tengah jalan dan diganti dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Secara umum KBK mengandung empat komponen dasar yaitu Kurikulum Hasil Belajar, Penilaian Berbasis Kelas, Kegiatan Belajar Mengajar, dan Pengelolaan Kurikulum B erbasis Sekolah mempunyai dimensi yang sangat strategis dalam proses pembelajar yang berorientasi pada konstruktivisme. B. Saran Karena pendapat dari masing-masing individu berfariasi maka penulis berharap sa ran memngenai pembahasan Kurikulum Berbasi Kompetensi ini demi kesempurnaan pemb ahsan KBK ini.