Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I PENDAHULUAN

Perawatan konservasi gigi adalah suatu tindakan perbaikan yang dilakukan pada gigi untuk mengembalikan bentuk struktur gigi. Perawatan konservasi gigi tersebut terdiri atas perawatan operative dentistry dan perawatan endodontik. Dalam melakukan perawatan operative dentistry dan endodontik, seorang dokter gigi harus bisa mempertahankan daerah kerja karena banyak sekali masalah masalah yang ditemukan oleh dokter gigi. Gigi yang dibasahi oleh saliva, lidah yang menggangu penglihatan, bahan kimia dan instrumen yang tertelan, gingiva dan mukosa yang berdarah, tuntutan hukum yang terjadi di berbagai daerah, akibat tindakan dokter gigi yang kurang berhati - hati merupakan beberapa masalah yang sering dihadapi dokter gigi dan harus diatasi, sebelum melakukan perawatan dengan teliti dan tepat. Agar diperoleh daerah kerja yang bersih dan kering serta memberikan banyak keuntungan bagi pasien yang dirawat, dokter gigi dan memperkecil kerugian yang dapat terjadi pada waktu dokter gigi bekerja (Baum, Lund & Philips, 1997 ; Pace, 2006 ; Torabinedjad & Walton, 1997). Salah satu metode modern dapat dipergunakan oleh dokter gigi untuk mengisolasi daerah kerja antara lain, mempergunakan rubber dam atau nama lain isolator karet ( bendungan karet ). Alat ini diperkenalkan oleh Standford Christie Barnum, seorang dokter gigi di New York pada abad kesembilan belas tahun 1863. Penemuan tersebut kepada didukung teman oleh Dr. satu C. E. profesinya Francis untuk dengan belajar

memberitahukan

sejawat

menggunakan rubber dam Barnum (Cohen & Hargreaves, 2006 ; Scheller, 2006 ; Widyawati, 2009). Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui informasi yang lebih luas dari rubber dam sebagai alat isolasi daerah kerja, cara aplikasinya dan kegagalan apa saja yang dapat terjadi pada waktu digunakan untuk mengisolasi daerah kerja pada perawatan operative dentistry dan endodontik serta bagaimana cara mengatasi kegagalan tersebut. Tujuan lainnya, memberikan informasi dan memperkenalkan kepada mahasiswa kedokteran gigi agar dapat menambah pengetahuan penulis dan mahasiswa kedokteran gigi tentang isolasi rubber dam guna meningkatkan hasil perawatan yang lebih baik.

BAB II ISOLATOR RUBBER DAM

Pengunaaan rubber dam ini memberikan isolasi yang absolut pada gigi yang akan dirawat karena belum ada alat lain yang dapat menggantikan fungsi kerjanya untuk prosedur - prosedur operatif (Baum, Lund & Philips, 1997 ; Widyawati, 2009). 2.1 Definisi, Keuntungan dan Kerugian Isolator Rubber Dam Isolasi adalah proses penempatan isolator dengan tepat pada gigi yang akan dirawat sehingga memberikan perlindungan dari daerah sekitarnya. Rubber dam merupakan isolator berbahan dasar karet dan silikon tipis yang digunakan untuk mengisolasi gigi selama melakukan perawatan (Pace, 2006 ; Qualtrough & Satterhwaite, 2005). Keuntungan keuntungan penggunaan isolator rubber dam, pada saat mengisolasi daerah kerja antara lain : (Cohen & Hargreaves, 2006 ; Kidd & Smith, 2000 ; Pitt Ford, 2004 ; Scheller, 2006 ; Tarigan, 2004)

1. 2.

Memberikan isolasi gigi yang sempurna dari saliva dan darah. Rubber dam dapat mencegah aspirasi atau tertelannya instrumen dan larutan irigasi oleh pasien.

3.

Memberikan perlindungan pada gingiva dan mukosa mulut dari cedera instrumen rotatif dan instrumen gengam.

4.

Meminimalkan resiko semprotan aerosol dari handpiece yang bersifat toksik serta dapat membahayakan pasien.

5. 6. 7.

Memperjelas gigi yang akan dirawat dari daerah sekitarnya. Mencegah berkabutnya kaca mulut. Menghilangkan sifat psikis pasien sehingga kepercayaan pasien terhadap dokter gigi meningkat.

8.

Menghindarkan dokter gigi dari tuntutan hukum akibat terjadinya kesalahan iatrogenik selama perawatan.

9.

Melindungi dokter gigi dari penyebaran penyakit yang ditularkan oleh pasien. Namun isolator rubber dam hanya membantu karena

pengunaannya tidak memberikan proteksi total, upaya pencegahan lainnya masih dibutuhkan.

10. Mempercepat kerja dokter gigi selama melakukan perawatan setelah


aplikasi isolator rubber dam.

11. Memperkecil kesalahan yang dilakukan dokter gigi. 12. Isolator rubber dam juga dapat menghambat bau mulut pasien yang
mengganggu dokter gigi pada waktu bekerja. Kerugian - kerugian yang dapat terjadi pada waktu menggunakan rubber dam antara lain: (Kidd & Smith, 2000 ; Torabinedjad & Walton, 1997)

1.

Pasien masih merasakan sensitif atau rasa nyeri setelah pemakaian rubber dam.

2. 3. 4.

Membutuhkan biaya perawatan yang besar. Membutuhkan waktu aplikasi yang lama. Isolator rubber dam tidak dapat digunakan pada gigi yang sangat malposisi, pasien asma yang mengalami kesulitan bernapas melalui

hidung serta pada pasien yang mengalami peradangan jaringan periodontal. 2.2 Peralatan dan Material Rubber Dam Seorang dokter gigi membutuhkan alat - alat khusus untuk penempatan yang cepat dan efisien dalam pemasangan dan pelepasan rubber dam. Peralatan yang diperlukan terdiri atas : 2.2.1 Material isolator karet Material karet berbentuk lembaran lembaran tipis, tahan robekan, melekat erat di permukaan gigi serta meretraksi jaringan gingiva dengan baik. Terdiri dari warna terang dan gelap seperti, warna hijau, warna biru, warna putih, warna kuning, warna ungu, warna merah muda dan warna hitam. Dari berbagai warna tersebut, dokter gigi lebih menyukai warna gelap karena lebih kontras terhadap gigi, jika ada fragmen fragmen yang robek dan tercecer di mulut dapat terlihat dan langsung dibuang dengan mudah (Castellucci, 2004 ; Cohen & Hargreaves, 2006 ; Torabinedjad & Walton, 2009). Bahan material karet tersedia dalam kotak, berukuran 6 cm x 6 cm untuk isolasi gigi posterior dan 5 cm x 5 cm untuk isolasi gigi anterior ( lihat gambar 1 ). Material karet tersedia dengan berbagai ketebalan antara lain ukuran tipis (0,12 mm 0,17 mm), ukuran sedang (0,17 mm 0,22 mm), ukuran tebal (0,22 mm 0,27 mm), ukuran extra tebal (0,27 mm 0,33 mm), serta ukuran spesial tebal (0,33 mm 0,38 mm). Pada umumnya, dokter gigi menggunakan ukuran tebal atau extra tebal karena mempunyai ketepatan yang lebih kuat di sekitar servikal gigi, sehingga menghasilkan lapisan yang hermetis tanpa menggunakan kawat

pengikat. Bahan yang tebal juga tidak mudah robek dan dapat melindungi jaringan lunak di bawahnya secara efektif (Cohen & Hargreaves, 2006 ; Kidd & Smith, 2000 ; Pace, 2006 ; Robinson, 2007).

Gambar 1 Material rubber dam ( Castellucci.


A., 2004. Tooth Isolation; In Endodontics, Arnaldo Castellucci. Jilid 1. Tridente. Hal. 227. )

2.2.2 Rubber dam punch Dam punch berfungsi untuk membuat lubang pada material karet dan menentukan ukuran lubang pada gigi. Terdiri - dari dua tipe yaitu dam punch Ainsworth dan dam punch Ivory ( lihat gambar 2 ). Syarat penggunaanya, alat harus tajam agar mendapatkan hasil lubang yang bersih dan permukaan halus. Jika tidak demikian, akan timbul titik lemah di tepi lubang dan material karet menjadi robek (Torabinedjad & Walton, 1997). Beberapa dam punch memiliki diameter lubang yang berbeda beda. Lubang yang besar dapat memudahkan masuknya material karet ke gigi dan lubang yang kecil, memberikan regangan yang kuat di servikal gigi (Kidd & Smith, 2000).

Bagian - bagian dam punch, antara lain : (Robinson & Bird, 2007; Scheller, 2006) A. Plat lubang Lubang gigi pada dam punch digunakan untuk menentukan ukuran lubang pada material karet, agar dapat mengekspos gigi yang akan diisolasi. Pada plat dam punch atau tang pelubang terdapat lima macam ukuran lubang yang terdiri atas : a) Ukuran 5 merupakan ukuran terbesar, digunakan pada gigi molar satu rahang bawah. b) Ukuran 4 merupakan ukuran berikutnya yang lebih kecil digunakan untuk gigi molar rahang atas dan rahang bawah. c) Ukuran 3 adalah untuk gigi premolar dan kaninus pada rahang atas atau rahang bawah. d) Ukuran 2 adalah untuk gigi insisivus satu dan insisivus dua rahang atas. e) Ukuran 1 adalah ukuran terkecil, digunakan untuk gigi insisivus rahang bawah. B. Handles dam punch. C. Punch stylus.

Gambar 2 Bentuk - bentuk dam punch (Anonim.,http://www.skydentexports.com/dental/ rubber%20dam%20and/rubberdam.htm.Search, 20 Oktober 2010) 2.2.3 Dam Stamp Dam Stamp menghasilkan serangkaian titik pada material karet yang dirancang sesuai bentuk lengkung gigi (lihat gambar 3). Berfungsi untuk menandai posisi lubang pada material karet. Agar sewaktu material karet terpasang, posisinya mencapai suatu titik di bawah hidung dan menutupi rongga mulut ( Kidd & Smith, 2000).

Gambar 3 Dental dam stamp ( Anonim.,


http:// interguidedental.com/Dental-DamStamp-Template-p24408.html. Search , 20 Oktober 2010)

2.2.4 Cengkeram rubber dam Merupakan sebuah alat logam yang terbuat dari kromium atau nikel berlapis baja yang sesuai dengan servikal gigi. Cengkeram rubber dam digunakan untuk menstabilkan dan mengamankan lembaran material karet serta meretraksi gingiva selama prosedur operatif (Kidd & Smith, 2000 ; Scheller, 2006). Bagian - bagian dari cengkeram tersebut terdiri atas ( lihat gambar 4 ): (Baum, Lund & Philips, 1997 ; Torabinedjad & Walton, 1997) 1. Cengkeram lingual dan bukal yaitu untuk tempat paruh dam forcep melekat dan mengikatkan sepotong floss pada ke dua lubang. Terdiri dari central wing dan anterior wing. 2. Bow yaitu busur yang melingkari mahkota gigi. Bentuknya bervariasi dari berbagai cengkeram, bersifat fleksibel sehingga melekat erat pada gigi. 3. Jaw merupakan bagian dari cengkeram yang memegang erat di bagian servikal gigi. Permukaan jaw sebaiknya bergerigi dan halus, untuk memberikan retensi, mencegah terjadinya trauma jaringan, dan melengkung agar sesuai subgingiva. 4. 5. Titik kontak. Notch

10

- bagian cengkeram rubber dam ( Baum, Philli , Lund. 1997. uku Ajar Ilmu Konservasi Gi i. Alih bahasa, Rasinta Tarigan. Edit r, Lilian Yuwono. Ed.3. Jakarta. EGC. Hal.220. )

Sekarang dapat dijumpai berbagai bentuk desain cengkeram yang berguna pada situasi gigi yang sukar. Salah satu pabrik mengeluarkan 50 macam cengkeram yang beraneka ragam. Sebagian besar tidak diperlukan dan tidak diinginkan untuk isolasi. Pilihan yang lengkap bisa meliputi (lihat gambar 5): (Kidd & Smith, 2000 ; Torabinedjad & Walton, 1997) a. b. Untuk gigi anterior : SSW 221 atau vory 6, 9, 15, 90, 212S, atau Ash 9. Untuk gigi premolar : SSW 20, SSW 27, SSW 221, vory 0, vory 1, vory 2, vory 2A, vory 9, dan vory 1A. c. Untuk gigi Molar : SSW 18, vory 14, vory 14A, vory 7A, vory 56, dan Ash 8. d. Desain cengkeram universal : desain kupu - kupu SSW 21 ( vory 9) dan vory 56, cocok bagi sebagian besar isolasi. Desain kupu -kupu no 211 atau no 9, memberikan isolasi yang lebih baik terutama pada situasi ,

Gambar 4 B i

11

yang sukar karena mampunyai paruh berukuran kecil sehingga dapat diletakan lebih jauh ke arah akar gigi.

Gambar 5 Berbagai macam cengkeram rubber dam ( Castellucci. A,. 2004. Tooth Isolation; In Endodontics, Arnaldo Castellucci. Jilid 1. Tridente. Hal.229. )

2.2.5 Dam forcep Merupakan suatu instrumen untuk meletakkan, mengatur dan melepaskan cengkeram. Desain dam forcep yang dipakai salah satunya mempunyai paruh memanjang. Bertujuan untuk mengontrol pemasangan cengkeram dengan baik, memberikan tekanan yang lebih besar ke arah akar gigi pada sulkus gingiva saat meletakkan cengkeram, menyediakan lebih banyak kebebasan gerak dalam meletakkan bagian depan atau belakang cengkeram. Handle dam forcep, berguna untuk menjepit, membuka dan melonggarkan cengkeram. Bentuk dari dam forcep antara lain forcep Ash dan forcep Ivory (Harty, 1992 ; Kidd & Smith, 2000 ; Pace, 2006 ; Torabinedjad & Walton, 1997). ( lihat gambar 6 )

12

Gambar 6 Bentuk bentuk dam forcep


(Anonim.,http://www.skydentexports.com/dental /rubber%20dam%20and/rubberdam.htm. Search, 20 Oktober 2010)

2.2.6 Pel mas rubber dam Pelumas yang digunakan berupa gel, berbahan dasar air. Penggunaannya dapat memudahkan aplikasi isolator rubber dam dan dapat digunakan untuk mencegah iritasi di sudut mulut . Caranya pelumas dioleskan di sekeliling lubang pada karet sebelum dipasangkan pada gigi ( lihat gambar 7 ). (Kidd & Smith, 2000 ; Tarigan, 2004)

Gambar 7 Cara penggunaan pelumas rubber dam ( S GMA DENTAL SYSTEM., http://www. skydentexports.com/dental/rubber%20dam%20a nd/rubber_dam.htm. Search, 22 Pebruari 2011)

13

2.2.7 Dental floss atau benang gigi Dental floss dilapisi dental wax, dipakai untuk melewatkan karet pada permukaan interproksimal, dengan cara diflossing. Bertujuan untuk mendapatkan ruangan pada bagian interdental yang rapat (Kidd & Smith, 2000 ; Tarigan, 2004; Torabinedjad & Walton, 1997). 2.2.8 Dam frame Frame rubber dam terbuat dari bahan logam dan plastik dengan berbagai ukuran, berguna untuk menahan dan meregangkan material karet. Cara kerjanya dam frame memegang ujung karet yang bebas pada permukaan frame yang bergerigi, untuk mencegahnya jatuh ke dalam mulut atau kembali ke arah muka pasien. Dam frame yang digunakan sebaiknya ringan, memberikan kenyamanan di mulut pasien, bersifat radiolusen dan tidak memerlukan pelepasan ketika mengambil radiografi (Kidd & Smith, 2000 ; Tarigan, 2004 ; Torabinedjad & Walton,1997). Pada saat sekarang, ada tiga jenis dam frame yang dapat digunakan, yaitu: (Kidd & Smith, 2000 ; Torabinedjad & Walton, 1997) a) Dam frame Young adalah rangka dari logam yang bersifat radiopak dan harus dibuka ketika membuat radiograf (lihat gambar 8). b) c) Dam frame Nygaard Ostby Starlite Visi frame adalah rangka yang radiolusen dan tak perlu dibuka ketika membuat radiograf.

14

Gambar 8 Dam Frames Young ( Anonim.,


http://www.promed.ie/shop/catalog/productgrou ps.aspx?parentid=1174&serverid=dental. Search, 20 Oktober 2010. )

15

BAB III APLIKASI DAN PELEPASAN ISOLATOR RUBBER DAM

Aplikasi isolator rubber dam, membutuhkan kemahiran dan pengetahuan dokter gigi agar mendapatkan hasil yang maksimal dan mempersingkat waktu pekerjaan (Torabinedjad & Walton, 1997). 3.1 Aplikasi Isolator Rubber Dam Sebelum penempatan rubber dam, diawali dengan menjelaskan kepada pasien tentang apa yang akan dilakukan. Setelah itu, gigi - geligi pasien dibersihkan dari plak, debris, sisa makanan ataupun kalkulus. Titik kontak

interproksimal diperiksa dengan melewatkan dental flos untuk mendeteksi sudut sudut tajam, jika ditemukan maka permukaanya dihaluskan, sehingga tidak menggangu pada waktu penggunaan rubber dam dan perawatan (Castellucci,2004 ; Torabinedjad & Walton,1997). 3.1.1 Penempatan dan pembuatan lubang Lubang - lubang dibuat sesuai lengkung gigi, bertujuan untuk mempertegas lengkung geligi. Pada pembuatan lubang di material karet, perlu diperhatikan batas - batas setelah dipasang. Tanda utama yang harus diketahui, antara lain : (Baum, Lund & Philips, 1997 ; Torabinedjad & Walton, 1997) a) Pada pemasangan rahang atas, gigi insisivus harus terletak 1 inci dari batas atas dan rahang bawah, lubang yang paling posterior sedikit ke kanan atau ke kiri dari titik pusat karet dan di letakkan lebih ke depan untuk menghindari penutupan hidung.

16

b) Jarak antar lubang harus sesuai dengan ruang di antaratiap gigi. c) Keliling dari rahang juga menentukan lokasi lubang. Bertujuan menjarakkan lubang agar material karet dengan mudah menempati tiap gigi tanpa terlipat. Bila lubang dibuat terlalu rapat atau tidak tepat, gigi bisa dimasukkan dalam lubang tapi karet akan ditarik ke samping, sehingga memungkinkan saliva keluar dikarenakan tidak simetris. Lubang yang terlalu berjauhan juga tidak bagus karena adanya bagian yang terlipat di antara gigi disebabkan oleh terdapatnya karet berlebih (Baum, Lund & Philips, 1997). ( Lihat gambar 9 )

Gambar 9 Posisi lubang di dalam batas batas karet ( Baum. Phillips. Lund., 1997, Buku ajar lmu Konservasi Gigi. ed.3. Jakarta; EGC. Hal.226. ) Lubang diletakan sedemikian rupa sehingga karet menutupi seluruh mulut dan memanjang kehidung, untuk mengurangi inhalasi partikel aerosol dan bau yang tidak dikehendaki yang timbul selama perawatan. Cara sederhana dalam pembuatan lubang yaitu : (Torabinedjad & Walton, 1997) a) Pasang material karet pada dam frame.

17

b) Letakan material karet yang sudah ditandai dengan dam stamp di atas ukuran lubang dam punch. c) Angkat karet dan lakukan proses pelubangan dengan merapatkan kedua handle dam punch. Dokter gigi yang sudah berpengalaman, penempatan posisi lubang kemungkinan penggunaan dam frame tidak diperlukan (Torabinedjad & Walton, 1997). 3.1.2 Pemilihan cengkeram isolator rubber dam Cengkeram yang dipilih mempunyai titik kontak yang baik di interdental dan terletak pada posisi yang stabil. Untuk mencegah tertelan atau teraspirasinya cengkeram saat terlepas maka ikatkan benang gigi ke busur cengkeram untuk menambah retensi pada gigi (Torabinedjad & Walton, 1997). 3.1.3 Teknik aplikasi isolator rubber dam Pemasangan rubber dam hanyalah pada gigi yang akan dirawat, meskipun terkadang gigi gigi lain juga diiisolasi agar aksesnya menjadi lebih baik. Teknik pemasangan rubber dam ada tiga metode, antara lain : A. Metode pertama : pemasangan isolator sebagai satu unit Merupakan teknik pemasangan material karet beserta dam cengkeram dan frame menjadi satu kesatuan. Teknik ini lebih disenangi dari pada teknik lainnya, disebabkan teknik ini paling efisien pada sebagian besar kasus karena rubber dam dapat terletak di atas titik kontak gigi yang cendrung mengungkit cengkeram (Harty, 1992 ; Kidd & Smith, 2000 ; Pitt Ford, 2004).

18

Langkah kerjanya terdiri atas: (Sturdevant & Wilder, 2001 ; Pitt Ford,2004) a. Pasang material karet pada dam frame sehingga material karet teregang dengan bagian tengah sedikit longgar. b. Lekatkan sayap cengkeram pada material karet yang sudah dilubangi. c. Pasang karet, dam frame dan cengkeramnya yang telah menjadi satu pada gigi yang akan diisolasi. Gunakan dam forcep untuk memegang dan menempatkan cengkeram pada posisinya ( lihat gambar 10.a ). d. Rapikan posisi material karet melalui sayap cengkeram agar material karet menutup rapat di servikal gigi. Pada bagian interproksimal gunakan dental floss dengan panjang 45 cm untuk menekan material karet ke arah servikal. Caranya, dental floss dilingkarkan di sekitar lengkungan cengkeram berbentuk simpul, dan di lewatkan melalui lubang di sisi yang belawanan diikuti dengan pembentukan simpul kembali ( lihat gambar 10.b ). e. Sesuaikan material karet pada dam frame agar memperoleh isolasi yang baik dan kenyamanan pada pasien ( lihat gambar 10.c ). f. Atur posisi material karet sedemikian rupa sehingga mulut seluruhnya tertutup dan sesuaikan tegangannya untuk meminimalkan bagian yang terlipat agar jaringan lunak dapat diretraksi tanpa melepaskan cengkeram ( lihat gambar 10.d ).

19

(a)

(b)

(c)

(d)

Gambar 10 Langkah langkah pengaplikasian rubber dam metode satu


unit (a) pemasangan material karet, dam frame serta cengkeram menggunakan dam forcep, (b) bentuk posisi cengkeram pada gigi, (c) merapikan permukaan material karet menggunakan dental floss pada interdental, (d) mengatur tegangan karet sedemikian rupa ( Castellucci. A., 2004.Tooth solation; n ndodontics, Arnaldo Castelluci. Jilid 1. Tridente. Hal.232 )

B. Metode kedua : pemasangan isolator unit terpisah Merupakan teknik pemasangan cengkeram, material karet, dan dam frame secara berurutan. Metode ini bermanfaat pada pasien yang struktur giginya banyak yang hilang. (Torabinedjad & Walton, 1997) Langkah kerjanya, antara lain : (Torabinedjad & Walton, 1997) a. Pasang cengkeram pada gigi yang akan diisolasi menggunakan dam forcep seperti metode sebelumnya ( lihat gambar 11.a ).

20

b. Pasang material karet di atas cengkeram, sambil berhati - hati agar cengkeram yang telah terpasang tidak terganggu ( lihat gambar 11.b ). c. Sesuaikan posisi material karet agar melekat erat di gigi. Atur sedemikan rupa sehingga tidak terdapat kebocoran saliva ( lihat gambar 11.c ). d. Pasangkan dam frame, untuk menahan material, agar memberikan kenyamanan pada pasien ( lihat gambar 11.d ). C. Metode ketiga: pemasangan cengkeram dan material karet diikuti dam frame. Metode ini selain digunakan pada kasus yang sama dengan kasus metode kedua juga pada kasus ketika mengalami kesulitan pada penempatan material karet di atas cengkeram setelah cengkeram dipasang. Langkah kerjanya, antara lain : (Castellucci, 2004 ; Torabinedjad & Walton, 1997) a. Lekatkan sayap cengkeram pada material karet yang sudah dilubangi ( lihat gambar 12.a ). b. Pasangkan cengkeram pada gigi yang akan diisolasi menggunakan dam forcep ( lihat gambar 12.b). c. Atur posisi cengkeram dan material karet pada gigi sedemikian rupa agar melekat erat di gigi, gunakan dental floss untuk merapikan bagian inter dental ( lihat gambar 12.c ). d. Pasang dam frame untuk menahan material karet, agar memberikan kenyamanan pada pasien serta rapikan bagian interdental dengan dental floss ( lihat gambar 12.d ).

21

e. Rapikan posisi material karet sedemikian rupa sehingga memberikan kenyamanan pada pasien ( lihat gambar 12.e dan 12.f ).

(a)

(b)

(c)

(d)

Gambar 11 Langkah langkah pengaplikasian isolator rubber dam dengan


teknik pemasangan unit terpisah (a) pemasanagan cengkeram pada gigi, (b) pemasangan material karet melewati cengkeram, (c) rapikan permukaan interdental dengan dental floss, (d) rapikan tegangan material karet sedemikian rupa ( Castellucci. A., 2004.Tooth Isolation; In Endodontics, Arnaldo Castelluci. Jilid 1. Tridente. Hal.23 7 )

22

(a)

(b)

(c)

(d)

(e)

(f)

Gambar 12 Langkah langkah pengaplikasian isolator rubber dam


dengan teknik pemasangan cengkeram dan material karet kemudian diikuti dam frame (a) pemasangan cengkeram pada material karet, (b) Pasang cengkeram pada gigi menggunakan dam forceps, (c) Atur posisi cengkeram pada gigi sedemikian rupa, (d) pasang dam frame, (e) rapikan posisi material karet, (f) gunakan dental floss untuk merapikan bagian interdental ( Castellucci. A., 2004.Tooth Isolation; In Endodontics, Arnaldo Castelluci. Jilid 1. Tridente. Hal.236 )

23

Secara umum, prosedur aplikasinya yaitu (Castellucci, 2004) : 1. Pasien didudukan dan dibaringkan diatas dental unit. 2. Tempatkan dan sesuaikan posisi pasien dengan posisi dokter gigi untuk memperoleh akses yang lebih mudah. 3. Pasangkan material karet, dam frame, serta cengkeram rubber dam sesuai dengan metode yang diiinginkan dokter gigi. 4. Rapikan posisi material karet dan atur sedemikian rupa sehingga memberikan kenyamanan pada pasien. 5. Bersihkan gigi yang akan dirawat dari kotoran yang menempel setelah aplikasi. Setelah itu, dokter gigi dapat melakukan perawatan selanjutnya. 3.2 Pelepasan Isolator Rubber Dam Setelah perawatan pada gigi selesai, material karet, cengkeram dan dam frame dibuka dan dilepaskan. Pelepasannya mempunyai tahap tahap sebagai berikut : (Kidd & Smith, 2000 ; Sturdevant & Wilder, 2001 ; Torabinedjad & Walton, 1997) 1. Terlebih dahulu, lepaskan stabilisator yang digunakan untuk stabilisasi material karet pada interdental agar melekat kuat pada gigi. Jika menggunakan saliva ejector maka keluarkan dari rongga mulut pasien. 2. Potong material karet menggunakan gunting dari lubang bagian anterior sampai lubang posterior sehingga terbentuk potongan yang panjang sambil dilakukan penarikan material karet dari arah lingual untuk membebaskan karet pada daerah interproksimal.

24

3. Gunakan dam forcep dengan menempatkan paruh dam forcep ke dalam lubang cengkeram. Diikuti gerakan membuka dengan menekan handle dam forcep. 4. Lepaskan material karet dan dam frame secara bersamaan. 5. Gunakan kapas steril untuk membersihkan mulut pasien dan bibir dari kelembaban. 6. Periksa sisa material karet, apakah semua sisa sisa material karet telah terlepaskan. Gunakan dental floss untuk membersihkan bagian

interproksimal dengan gerakan flossing.

25

BAB IV KEGAGALAN ISOLASI RUBBER DAM SERTA PENATALAKSANAANYA

Aplikasi yang kurang hati - hati akan terdapat beberapa kegagalan pada pengaplikasian dan pelepasan rubber dam. 4.1 Etiologi Kegagagalan Isolasi Rubber Dam Kegagalan isolasi rubber dam dapat disebabkan oleh dokter gigi dan keadaan struktur gigi, dikarenakan oleh : (Torabinedjad & Walton, 1997) 1. Operator kurang memahami penggunaan isolator rubber dam. 2. Pembuatan lubang pada material karet yang salah dan aplikasi yang kurang berhati hati. 3. Isolasi rubber dam sukar diaplikasikan karena struktur gigi sisa tinggal sedikit sehingga sulit dalam penempatan cengkeram isolator. 4.2 Efek Kegagalan Isolasi yang Ditimbulkan Kegagalan isolasi merupakan terjadinya kebocoran saliva pada daerah kerja. Hal ini menimbulkan kontaminasi bakteri yang banyak dan persisten pada ruang pulpa akibatnya memperlambat kerja dokter gigi, menyebabkan frustasi pada dokter gigi dan pasien serta meningkatnya rasa takut pasien karena merasa tidak nyaman akibat mengalirnya larutan ke dalam mulut (Torabinedjad & Walton, 1997).

26

4.3 Penatalaksanaan Kegagalan Isolasi Rubber Dam Kegagalan isolasi rubber dam dapat diatasi dengan berbagai cara antara lain : (Torabinedjad & Walton, 1997) 1. Cara mengatasi kebocoran isolator. a. Kebocoran pada servikal gigi dapat dikurangi dengan pemilihan cengkeram yang benar dan lakukan penutupan akhir dengan menggunakan dental floss yang diikatkan pada servikal gigi. b. Setelah upaya yang sebelumnya dikerjakan jika masih terjadi perembesan saliva, dapat dilakukan penggunaan bahan cavit. Caranya, menambalkan bahan cavit pada servikal gigi lalu padatkan dengan gulungan kapas basah yang sedikit besar. Kerugian dari cara ini yaitu selama prosedur, cavit dapat pecah dan bocor sehingga perlu diulangi kembali karena tidak bersifat lama. c. Gunakan bahan penutup khusus yang diaplikasikan secara topikal setelah material karet terpasang atau diaplikasikan di bawah permukaan material karet sebelum pemasangan. d. Gunakan bahan karet yang bersifat adhesif dengan cara

mengoleskannya pada material karet di daerah yang mengalami perembesan. e. Kombinasikan penggunaannya dengan saliva ejector guna menyerap cairan saliva, darah, serta larutan irigasi. 2. Lakukan penggantian material karet dengan yang baru atau rujuk pada dokter gigi yang lebih mengetahui atau spesialis konservasi.

27

BAB V KESIMPULAN

Dokter gigi sebaiknya menggunakan rubber dam baik di klinik maupun di praktek pribadi, guna meningkatkan keberhasilan setiap perawatan yang dilakukan. Isolator rubber dam merupakan salah satu alat yang dapat memberikan isolasi daerah kerja yang maksimal, bersifat absolut sehingga memberikan perlindungan yang tidak hanya pada pasien tapi juga pada dokter gigi, sewaktu melakukan perawatan operative dentistry dan endodontik. Penggunaannya membutuhkan alat alat dan material khusus untuk penempatan yang cepat dan efisien dalam pemasangan dan pelepasan rubber dam seperti material karet, dam Punch, dam Frame, dam cengkeram, dental floss, pelumas rubber dam serta dam stamp yang mempunyai fungsi khusus dari masing - masing alat dan material tersebut agar dapat digunakan dengan sangat mudah. Sewaktu aplikasi rubber dam sangat dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan dokter gigi agar mendapatkan hasil yang maksimal. Aplikasinya, ada beberapa metode yang dapat digunakan antara lain, metode satu unit, metode unit terpisah, serta metode dengan pemasangan cengkeram dan material karet diikuti dam frame yang sangat mudah untuk dipahami dan dikerjakan bagi dokter gigi. Jika terjadi kegagalan pada isolasi, dapat dilakukan prosedur prosedur perbaikan untuk memperbaiki kegagalan tersebut agar tidak berpengaruh terhadap hasil perawatan.