Anda di halaman 1dari 19

Askep pada Anak dengan Gangguan Sistem Pernapasan Asma KELOMPOK 2

Di susun Oleh:

Andi Julianto Astri Wulandari Ika Agustina S Naela Fadillah Sindiyani AKPER RSP TNI AU

Pengertian Asma
Asma merupakan penyakit obstruksi jalan napas yang reversible dan kronis,dengan karakteristik adanya mengi. Asma disebabkan oleh adanya spasme saluran bronchial,atau pembengkakan mukosa setelah terpajan berbagai stimulus. Pravalensi morbiditas dan mortalitas asma meningkat yang mungkin akibat dari peningkatan polusi udara. Asma merupakan penyakit kronik yang paling umum terjadi pada masa anak-anak (Murphy dan Kelly,1993).

Gangguan Sistem Pernapasan Asma

Etiologi
Asma biasanya terjadi akibat trakea dan bronkus yang hiperresponsif terhadap iritan. Alergi terhadap iritan dapat mempengaruhi tingkat keparahan asma. Berikut merupakan iritan berdasarkan sumbernya: Faktor ekstrinsik; latihan berlebih atau alergi terhadap binatang berbulu,debu, jamur ,polusi, asap rokok, infeksi virus, asap parfum, jenis makanan tertentu (terutama zat yang ditambahkan ke dalam makanan) dan perubahan cepat suhu ruangan. Faktor instrinsik; sakit,stress, atau fatigue yang juga mentriger, dan temperature yang ekstrim.

Klasifikasi Asma
1. Mild intermittent (ringan intermiten), dimana kondisi klien asma ringan yang sebentar. 2. Mild persistent,dimana kondisi klien dengan asma ringan yang terus menerus atau menetap. 3. Moderate persistent,dimana kondisi klien dengan asma sedang yang terus menerus atau menetap 4. Severe persistent, dimana kondisi klien dengan asma berat yang terus menerus atau menetap.

Manifestasi Klinik
1. Tanda klasik asma yaitu dyspnea, wheezing dan batuk. 2. Peningkatan frekuensi napas. 3. Rasa tidak nyaman atau iritasi dan berkurangnya istirahat. 4. Keluhan sakit kepala,rasa lelah atau perasaan sesak dada. 5. Batuk nonproduktif yang disebabkan edema bronchial. 6. Gejala umum asma: batuk.

Patofisiologi
Dalam keperawatan anak, inflamasi menyebabkan episode kekambuhan wheezing, sesak, kesesakan dada dan batuk, terutama sekali pada malam dan atau pada pagi hari sekali. Pada peristiwa ini biasanya dihubungkan dengan batasan aliran udara yang bervariasi atau obstruksi jalan napas. Keadaan ini juga dapat kembali pulih dengan tiba-tiba atau dengan pengobatan. Inflamasi yang dapat terjadi pada asma juga menyebabkan adanya hubungan peningkatan hiperresponsif pada bronchial terhadap stimuli yang bervariasi (National Heart Lung and Blood Institute,1995). Pengenalan penting terhadap inflamasi yang dapat menggunakan agen anti inflamasi terutama steroid involusi merupakan komponen kunci pengobatan asma.

Komplikasi
1.Pneumotoraks 2.Gagal jantung 3.Infeksi pernapasan 4.Kesulitan emosional 5.Kematian

Pemeriksaan penunjang
Tes fungsi paru. Laboratorium darah lengkap,menunjukan terjadi perubahan sel darah putih selama fase asma akut,perubahan sel darah putih lebih dari 12.000/mm3 atau peningkatan presentasi ikatan sel yang mungkin mengindikasikan terjadi infeksi. X-ray dada. Frontal dan lateral foto x-ray menunjukan infiltrate dan hiperekspansi jalan napas dengan peningkatan usuran diameter anteroposterior dan pemeriksaan fisik,diduga barrel chest.

Penatalaksanaan Medis
Pemberian terapi kortikosteroid Pemberian terapi bronkodilator Pengobatan nebulizer diberikan dengan inhalasi.

Asuhan Keperawatan Anak dengan Asma

Pengkajian
1. Pemeriksaan fisik. a. Kardiovaskuler - Takikardi b. Respirasi - Napas pendek. - Retraksi intercostalis. - Takipnea - Ronchi - Pergerakan cuping hidung - Wheezing saat ekspirasi yang lama. c. Persyarafan - Gelisah - Ansietas - Kesulitan tidur d. Muskuloskeletal - Intoleransi aktifitas. e. Integumen - Sianosis - Pucat

Lanjutan pengkajian
2. Riwayat waktu sebelum asma,dan factor presipitasi. 3. Tes diagnostic,tes pungsi paru dan uji kulit. 4. Aktifitas dan konsep diri klien. 5. Persepsi anak dan keluarga terhadap tingkat keparahan penyakit. 6. Dukungan social pada keluarga, cultural atau keyakinan etnik yang mungkin mempengaruhi aktifitas manajemen diri dan pendekatan edukasi keluarga.

Diagnosa Keperawatan
1. Tidak efektifnya bersihan jalan napas berhubungan dengan respon alergi dan inflamasi pada pohon bronchial. 2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan konstriksi bronchial. 3. Resiko terjadi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kesulitan intake cairan,kehilangan cairan dan diaphoresis. 4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi cara perawatan dirumah.

Rencana Tindakan
1. Tidak efektifnya bersihan jalan napas berhubungan dengan respon alergi dan inflamasi pada pohon bronchial.

Tujuan: Jalan napas kembali efektif. Kriteria hasil: Anak mudah bernapas tanpa dypnea. Kemampuan beraktifitas meningkat

Intervensi Mandiri: Batasi aktifitas fisik anak,dan berikan aktifitas yang diperlukan saja. Gunakan teknik bermain untuk latihan pernapasan pada anak yang muda. Kolaborasi: Berikan terapi oksigen sesuai indikasi

Rencana Tindakan
2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan konstriksi bronchial.

Tujuan: Pertukaran gas meningkat Kriteria hasil: Wheezing dan retraksi berkurang. Batuk menurun. Pengisian kapiler 3-5 detik

Intervensi Mandiri: Kaji kecepatan respirasi anak dan auskultasi suara napas. Atur posisi anak dengan posisi yang diberikan fowler tinggi atau duduk dengan dada ke depan Lakukan fisioterapi dada 3 atau 4 kali setiap hari. Kolaborasi: Berikan bronkodilator seperti albuterol dan steroid

Rencana Tindakan
3. Resiko terjadi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kesulitan intake cairan,kehilangan cairan dan diaphoresis Tujuan: Tidak terjadi kekurangan volume cairan. Kriteria hasil: Kondisi menunjukan hidrasi yang adekuat,turgor kulit baik,produksi urin 1-2ml/kg/jam. Laboratorium elektrolit dalam batas normal.

Intervensi
Mandiri: Kaji tugor kulit anak dan monitor output urin setiap 4 jam. Gunakan teknik bermain untuk memenuhi kebutuhan cairan anak sesuai usia. Berikan intake cairan peroral bila dapat ditoleransi tubuh,dan hindari minuman yang dingin. Kolaborasi: Pertahankan terapi parenteral bila diindikasikan dan monitor kelebihan cairan.

Rencana Tindakan
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi cara perawatan dirumah.

Intervensi
Mandiri: Jelaskan pada orangtua tentang fisiologi penyakit anak. Ajarkan orangtua tentang tanda dan gejala infeksi respirasi termasuk deman, distress respirasi, wheezing dan takipnea. Ajarkan factor-faktor yang mungkin menunjukkan adanya serangan asma,seperti allergen ,infeksi ,latihan,perubahan cuaca dan stress.

Tujuan: Pemahaman orangtua terhadap pengetahuan bertambah. Kriteria hasil: Orangtua mengungkapkan pemahaman tentang cara perawatan anak dirumah. Orangtua malakukan cara perawatan anak.

Arigatou Gozaimashou Ja matta ne

Sekian dan Terima Kasih