Hukum adat “Ngangus” Dayak Iban Jalai Lintang

T

udingan miring sebagai peladang liar, pembakar hutan, penyebab bencana kabut asap yang dialamatkan kepada masyarakat adat oleh pemerintah dan pihak lain,

mungkin akan sedikit berkurang jika para pihak ini mau belajar banyak mengenai kearifan lokal masyarakat adat mengelola alam. Bertolak belakang dengan tuduhan sebagai pembakar hutan yang kerap ditujukan kepada masyarakat adat, nun jauh di perhuluan sungai Kapuas tepatnya di Kecamatan Embaloh Hulu, kabupaten Kapuas Hulu. Masyarakat adat dayak Iban Jalai Lintang membuktikan kepada semua pihak bahwa, hingga saat ini komunitas ini masih tetap berpegang teguh kepada aturan adat dalam mengelola alamnya. Iban Jalai Lintang adalah sebutan yang lazim disematkan kepada 7 buah perkampungan Dayak Iban yang bermukim di jalur Lintas Utara yaitu; Lauk Rugun, Mungguk, Sungai Utik, Kulan, Apan, Ungak dan Sungai Tebelian. Ketika berbicara mengenai membakar lahan, orang Iban Jalai Lintang sejak nenek moyang mereka telah mengenal cara-cara yang arif menjaga hutan agar tidak terbakar saat membakar ladang atau lahan lainnya. Lebih lanjut kearifan itu di kawal dengan aturan-aturan adat mengenai segala hal berhubungan dengan pembakaran (Ngangus). Oleh sebab itu, dalam melakukan proses pembakaran lahan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan api, orang Iban selalu berhati-hati. Karena jika tidak, yang melanggar tentu akan mendapatkan sanksi adat sesuai dengan kesalahan dan perbuatan yang dilakukannya. Sebagai contoh, jika seseorang terbukti bersalah membakar lahan, kebun buah-buahan, tembawang atau Tapang (tempat sarang lebah madu) milik orang lain maka yang bersangkutan akan dijatuhi hukum adat “Ngangus ke Pesaka Urang”. yang bersangkutan akan membayar hukuman adat berupa uang Rp.100,000,- dan mengganti rugi semua kerugian yang ditimbulkan serta membayar “Penti Pemali”atau pengeras semangat yang wajib disertakan dalam hampir setiap hukum adat berupa ; Jane siko, Manok siko Duko site, Pinggae sesingkap, Karong kerubong mungkol 10 (@Rp. 10.000). Jika seseorang yang membakar lahan atau dengan sengaja membakar Pendam (Kuburan), maka yang bersangkutan akan terkena hukum adat ”Ngangus ke Pendam”. Hukuman bagi pembakar Pendam adalah membayar Rp.600.000,- ditambah Penti Pemali. Karena itu, jika hendak membakar lahan atau ladang, orang masyarakat adat Iban Jalai Lintang selalu membuat jalur penghambat api (Ngeladek) yakni jalur yang mengelilingi ladang seluas 1-3 Meter, sehingga api tidak dengan mudah menjalar dan membakar hutan. Hukuman adat Ngangus yang paling berat dijatuhkan menurut hukum adat Iban Jalai Lintang adalah, apa bila seseorang terbukti bersalah membakar rumah (Nunu Rumah) yang bersangkutan akan dikenakan sanksi adat sebesar Rp.25 Juta rupiah. Bercermin dari kearifan lokal serta adanya hukum adat yang selalu menjaga perilaku masyarakat adat Dayak Iban Jalai Lintang ini, setidaknya menjadi pelajaran bagi semua pihak yang selama ini terus menuding masyarakat adat selaku pembakar hutan dan liar. Hukum adat Ngangus yang masih dipraktekan hingga kini pada masyarakat Iban Jalai Lintang sesungguhnya juga dipraktekan pada masyarakat adat dayak lainnya. Sesuai dengan salah satu peribahasa Dayak Iban, Bejalai betungkat ka’ adat, tindok bepanggal ke pengingat, yang artinya; berjalan bertongkatkan adat, tidur beralaskan sejarah, sudah barang tentu ini merupakan cerminan tegas bahwa hukum adat sampai kapanpun akan terus menjadi norma yang terus mengawal perikehidupan masyarakat adat, khususnya masyarakat adat Dayak Iban Jalai Lintang.Semoga.....

Suku Dayak
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sukubangsa Dayak

Jumlah populasi

kurang lebih 16 juta. Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan Suku Bukit, Kalsel:35.838(2000). Suku Bakumpai, Kalsel : 20.609(2000). Suku Bakumpai, Kalteng:?(2000).

Suku Ngaju, Kalteng:?(2000). Suku Iban, Kalbar:?(2000). Suku Kenyah, Kaltim: ?(2000). Suku Paser, Kaltim:?(2000). Suku Benuaq, Kaltim:?(2000). Malaysia: ?. Daerah Istimewa Yogyakarta: 4. Sumatera Utara: 2. Bahasa Dayak, Ngaju, Indonesia, Melayu, dan lain-lain. Agama Katolik (81%), Kristen (5%), Protestan (3%),Ortodoks (1%), Lutheran (0.5%), Kaharingan(7%), Islam (2%), Ateisme (0.5%). Kelompok etnis terdekat Madagaskar, Melayu, Banjar, Tidung

Dayak atau Daya adalah suku-suku asli yang mendiami Pulau Kalimantan, lebih tepat lagi adalah yang memiliki budaya terestrial (daratan, bukan budaya maritim). Sebutan ini adalah sebutan umum karena orang Daya terdiri dari beragam budaya dan bahasa. DiMalaysia Timur, dalam arti sempit, Dayak hanya mengacu kepada Dayak Darat sedangkan di Indonesia mengacu kepada suku Ngaju di Kalimantan Tengah, sedangkan arti yang luas suku Dayak terdiri atas 6 rumpun suku. Suku Bukit di Kalimantan Selatan dan Rumpun Iban diperkirakan merupakan suku Dayak yang menyeberang dari pulau Sumatera. Sedangkan suku Maloh di Kalimantan Baratperkirakan merupakan suku Dayak yang datang dari pulau Sulawesi. Penduduk Madagaskar menggunakan bahasa yang mirip denganbahasa Maanyan, salah satu bahasa Dayak (Bahasa Barito).
Daftar isi
[sembunyikan]

1 Asal mula 2 Pembagian sub-sub etnis 3 Dayak pada masa kini 4 Senjata Sukubangsa Dayak 5 Totok Bakakak (kode) yang umum dimengerti Sukubangsa Dayak 6 Tradisi Penguburan

o o
7 Referensi

6.1 Penguburan sekunder 6.2 Prosesi penguburan sekunder

8 Macam Suku Dayak 9 Tokoh-tokoh Dayak 10 Lihat pula 11 Referensi

12 Pranala luar

[sunting]Asal

mula

Tentang asal mula suku bangsa Dayak, banyak teori yang diterima adalah teori imigrasi bangsa China dari Provinsi Yunnan di Cina Selatan. Penduduk Yunan berimigrasi besar-besaran (dalam kelompok kecil) di perkirakan pada tahun 3000-1500 SM (sebelum masehi). Sebagian dari mereka mengembara ke Tumasik dan semenanjung Melayu, sebelum ke wilayah Indonesia. Sebagian lainnya melewatiHainan, Taiwan dan Filipina.

Bangsa Tionghoa diperkirakan mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Chang Ho. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen. salah seorang Sultan Kesultanan Banjar yang terkenal adalah Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum). .Pada migrasi gelombang pertama yang oleh beberapa ahli disebut proto-melayu. Benua Asia dan pulau Kalimantan merupakan bagian nusantara yang masih menyatu. Sedangkan gelombang kedua. Labuan Amas dan Watang Balangan. Masing-masing sub suku Dayak di pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip. dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407. mereka makin lama makin mundur ke dalam. Manila dan Solok. Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Tidak hanya dari nusantara. Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang sejati. yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasal dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1608). Pada tahun 1750. barang pecah belah seperti piring.[2] Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar. Dalam tradisi lisan Dayak. 1975). sering disebut ”Nansarunai Usak Jawa”. Lontaan. setelah sebelumnya singgah ke Jawa. bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Dari manuskrip berhuruf kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Fisher. tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Akibatnya. Para migran Melayu Deutero kemudian menghuni wilayah pantai Kalimantan dan disebut suku Melayu.[1] Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. terbagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub (menurut J. bermukim di daerahdaerah Kayu Tangi. sutera. Kelompok Suku Dayak. Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena langsung karena mereka hanya berdagang. Proto-melayu dan Melayu Deutero sebenarnya berasal dari negeri yang sama. dalam jumlah yang lebih besar di sebut Melayu Deutero. Menurut H. Margasari. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai. Kalimantan. Kunjungan tersebut pada masa Sultan Hidayatullah I dan Sultan Mustain Billah. terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Amuntai. Sebagian besar suku Dayak memeluk Islam dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak. Makassar. merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbedaan adat istiadat. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu. Namun setelah orangorang Melayu dari Sumatera dan Semenanjung Malaka datang. Watang Amandit. Sebagain lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin. belanga (guci) dan peralatan keramik. Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah. sebagian masuk daerah pedalaman.[3] [sunting]Pembagian sub-sub etnis Dikarenakan arus migrasi yang kuat dari para pendatang. Suku Dayak menjadi terpencar-pencar dan menjadi sub-sub etnis tersendiri. mangkok dan guci.TH. budaya. Suku ini terdiri atas beberapa suku yang masing-masing memiliki sifat dan perilaku berbeda. mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Belum lagi kedatangan orang-orang Bugis. Suku Dayak hidup terpencar-pencar di seluruh wilayah Kalimantan dalam rentang waktu yang lama. yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389. migrasi dari asia terjadi pada fase pertama zaman Tretier. cangkir. dan Jawa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Suku Dayak semakin terdesak dan akhirnya memilih masuk ke pedalaman hutan. Malaka. datanglah kelompok negroid dan weddid. U. yang memungkinkan ras Mongoloid dari Asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan “Muller-Schwaner”.

secara rasial.tetapi di daerah perkampungan suku-suku Melayu tidak ada sistem kepemimpinan adat kecuali raja-raja lokal. yang menyebar di seluruh Kalimantan. Mandau dibuat dari batu gunung. Disebelah dalam dijumpai tempat pegangan. Meskipun terbagi dalam ratusan sub-rumpun. mendiami daerah pesisir pantai dan sungai-sungai di tiap-tiap pemukiman mereka. Ukuran panjang 1 – 2 meter dengan lebar 30 – 50 cm. Lambut dari Universitas Lambung Mangkurat.[Murut]. ditatah. 2.hasil budaya material seperti tembikar. Masa lalu masyarakat yang kini disebut suku Dayak.sumpit. Di kecamatan-kecamatan di Kalimantan yang merupakan wilayah adat Dayak dipimpin seorang Kepala Adat yang memimpin satu atau dua suku Dayak yang berbeda. Sebelah luar diberi ukiran atau lukisan dan mempunyai makna tertentu. Ciri-ciri tersebut menjadi faktor penentu apakah suatu subsuku di Kalimantan dapat dimasukkan ke dalam kelompok Dayak. Mandau mempunyai nama asli yang disebut “Mandau Ambang Birang Bitang Pono Ajun .[Klemantan] dan [Punan]. Ujung atas ada tombak yang terbuat dari batu gunung yang diikat dengan rotan dan telah di anyam.maupun bahasa yang khas.sedangkan perkampungan kelompok suku-suku Melayu disebut:[benua]/[banua]. Sipet / Sumpitan. Etnis Dayak Kalimantan menurut seorang antropologi J. Mandau. Bentuknya bulat dan berdiameter 2-3 cm. Merupakan senjata utama dan merupakan senjata turun temurun yang dianggap keramat. Telawang / Perisai. Lonjo / Tombak.pandangan terhadap alam.5 meter.5 . Lontaan. Merupakan senjata utama suku dayak. Dibuat dari besi dan dipasang atau diikat dengan anyaman rotan dan bertangkai dari bambu atau kayu keras. kelompok suku Dayak memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas. tetapi liat. diukir dengan emas/perak/tembaga dan dihiasi dengan bulu burung atau rambut manusia. 4. panjang 1. manusia Dayak dapat dikelompokkan menjadi :     Dayak [Mongoloid] Dayak [Melayu|Malayunoid] Dayak [Australoid|Autrolo-Melanosoid] Dayak [Heteronoid] [sunting]Senjata Sukubangsa Dayak 1.[Iban]. Ciriciri tersebut adalah rumah panjang.[Ot Danum].U. Bentuknya panjang dan selalu ada tanda ukiran baik dalam bentuk tatahan maupun hanya ukiran biasa. Menurut Prof. yakni:[Kenyah-Kayan-Bahau].[mandau]. Perkampungan Dayak biasanya disebut:[lewu]/[lebu].dan seni tari.mata pencaharian(sistem perladangan).[4] [sunting]Dayak pada masa kini Tradisi suku Dayak Kanayatn Dewasa ini suku bangsa Dayak terbagi dalam enam rumpun besar. ditengah-tengahnya berlubang dengan diameter lubang ¼ . Terbuat dari kayu ringan. 3.beliong(kampak Dayak). 1975 dalam Bukunya Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat. dan telep adalah tempat anak sumpitan. Anak sumpit disebut damek. Keenam rumpun itu terbagi lagi dalam kurang lebih 405 sub-rumpun.¾ cm yang digunakan untuk memasukan anak sumpitan (Damek). terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil.2.

Perkembangan terakhir. Batu Mujat atau batu Tengger. Mengirim air dalam seruas bambu berarti ada keluarga yang telah mati tenggelam. penguburan di dalam peti batu (dolmen) penguburan dengan wadah kayu. Mengirim Abu. kampung dalam bahaya. dengan posisi kerangka dilipat. 8. tempayan tajau. 5. Mengirim telor ayam. 5. Pada umumnya terdapat dua tahapan penguburan: 1. [sunting]Tradisi Penguburan Tradisi penguburan dan upacara adat kematian pada suku bangsa Dayak diatur tegas dalam hukum adat. 6. Di hulu sungai Bahau dan cabang-cabangnya di Kecamatan Pujungan. 2. 3. Basir. hal ini menunjukan bahwa dilarang naik/memasuki rumah tersebut karena adanya pantangan adat. Hulunya terbuat dari tanduk dan sarungnya dari kayu. Batu-batuan yang sering dipakai sebagai bahan dasar pembuatan Mandau dimasa yang telah lalu yaitu: Batu Sanaman Mantikei. Bila ada sanak keluarga yang meninggal karena tenggelam. Mengirim sirih dan pinang berarti si pengirim hendak melamar salah seorang gadis yang ada dalam rumah yang dikirimi sirih dan pinang. atau anyaman tikar. berarti dilarang mengambil atau memetik buah yang ada dipohon itu. Senjata ini hanya boleh dipakai oleh kepala-kepala suku. didekat batangnya ditemukan seligi dan digaris dengan kapur. karena dirawat dengan baik oleh pemiliknya. 2. 7. pada saat mengabarkan berita duka kepada sanak keluarga. Mengirim seligi (salugi) berarti mohon bantuan. Senjata ini semacam keris tetapi lebih besar dan tajam sebelah menyebelah. Kaltim. harap lekas datang. [sunting]Penguburan sekunder Penguburan sekunder tidak lagi dilakukan di goa. Batu Montalat. Sistem penguburan beragam sejalan dengan sejarah panjang kedatangan manusia di Kalimantan. 10. artinya ada orang datang dari jauh untuk menjual belanga. dsb. . penguburan tahap pertama (primer) penguburan tahap kedua (sekunder). Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang. Mengirim tombak yang telah di ikat rotan merah (telah dijernang) berarti menyatakan perang. rambutan. Bila ditemukan pohon buah-buahan seperti misalnya langsat. Dohong. Mengirim tombak bunu (tombak yang mata tombaknya diberi kapur) berarti mohon bantuan sebesar mungkin karena bila tidak. seluruh suku akan mendapat bahaya. Dalam sejarahnya terdapat tiga budaya penguburan di Kalimantan :    penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal. [sunting]Totok Bakakak (kode) yang umum dimengerti Sukubangsa Dayak 1.Kajau”. Demang. banyak dijumpai kuburan tempayan-dolmen yang merupakan peninggalan megalitik. Malinau. anyaman bambu. Daun sawang/jenjuang yang digaris (Cacak Burung) dan digantung di depan rumah. penguburan dengan menggunakan peti mati (lungun) yang ditempatkan di atas tiang atau dalam bangunan kecil dengan posisi ke arah matahari terbit. 4. merupakan barang yang mempunyai nilai religius. berarti ada rumah terbakar. nama korban tidak disebutkan. Mengirim cawat yang dibakar ujungnya berarti salah seorang anggota keluarga yang telah tua meninggal dunia. 9. dalam bahasa Dayak Ngaju "Asang".

Konflik Etnis di Sambas. 15/2 (September 1983). 3-10 Keragaman Suku Dayak di Kalimantan. "Kebudayaan Dayak". hlm. hlm. dalam Pieter van de Velde (ed. 5. The Ecology of Indonesian Series Volume III: The Ecology of Kalimantan. dalam Borneo Research Bulletin. 3.J. Institut Dayakologi. [sunting]Prosesi penguburan sekunder Prosesi penguburan sekunder 1. 22/I (Juli-Desember 1992). wara marabia mambatur (Dayak Maanyan) kwangkai (Dayak Benuaq) [sunting]Referensi  Cfr. sebagai simbol pelepasan arwah menuju lewu tatau (alam kelanggengan) yang dilaksanakan setahun atau beberapa tahun setelah penguburan pertama di dalam tanah. 4.Masyarakat Dayak Ngaju mengenal tiga cara penguburan. "The Prehistory of Borneo". Pontianak Edi Petebang. Dayak Sakti. dalam Borneo Research Bulletin. “The Prehistory of Borneo”. Institut Dayakologi Edi Petebang. dalam Kalimantan Review. 2. Jakarta [sunting]Macam Suku Dayak dari sekian ratus sub suku dayak diantaranya ialah       Suku Dayak Abal Suku Dayak Bakumpai Suku Dayak Bentian Suku Dayak Benuaq Suku Dayak Bidayuh Suku Dayak Bukit . 299-322   363 Peter Bellwood. hlm.. 24/9 (1992). 7-13 Kathy MacKinnon. (Singapore: Periplus Editions Ltd.). "The Origin of the Name Dayak". 1984). 118-121 Fridolin Ukur. ISAI. Tom Harrisson. Prehistoric Indonesia a Reader (Dordrecht-Holland: Foris Publications. hlm. yakni :    dikubur dalam tanah diletakkan di pohon besar dikremasi dalam upacara tiwah. Tiwah adalah prosesi penguburan sekunder pada penganut Kaharingan. 6. Belulang dibakar menjadi abu dan ditempatkan dalam satu wadah. Veth. P. 1996). 255-      bdk. Eri Sutrisno. hlm. Ijambe adalah prosesi penguburan sekunder pada Dayak Maanyan.

                                     Suku Dayak Darat:Dayak Mali Suku Dayak Dusun Suku Dayak Dusun Deyah Suku Dayak Dusun Malang Suku Dayak Dusun Witu Suku Dayak Kadazan Suku Dayak Kebahan Suku Dayak Kanayatn Suku Dayak Keninjal Suku Dayak Kenyah Suku Dayak Lawangan Suku Dayak Maanyan Suku Dayak Mali Suku Dayak Mayau Suku Dayak Meratus Suku Dayak Mualang Suku Dayak Ngaju Suku Dayak Ot Danum Suku Dayak Samihim Suku Dayak Sampit Suku Dayak Seberuang Suku Dayak Siang Murung Suku Dayak Tunjung Suku Dayak Wehea Suku Dayak Simpangk Suku Dayak Kualant Suku Dayak Ketungau Suku Dayak Sebaruk Suku Dayak Undau Suku Dayak Desa Suku Dayak Iban Suku Dayak Pesaguan Suku Dayak Lebang Suku Dayak Lundayeh Suku Dayak Kenyah Suku Dayak Berusu Suku Dayak Punan .

penulis S. ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel.Djuweng. Seni Tradisional Dayak Dari Wikipedia bahasa Indonesia. penulis Edi V Petebang. pelopor credit union di Indonesia Palaun Suka. MH. aktivis LSM dll. pahlawan nasional Indonesia Oevang Oeray. Mecer. SH. novelis R. Politisi Pang Suma.. politisi Cornelis. Politisi Christian Mara. tolong hapus pesan ini.politisi GP Djaoeng. Masri Sareb Putra.. .. Pahlawan Nasional Teras Narang.        Suku Dayak Membulu Suku Dayak Kantuk Suku Dayak Orung Daan Suku Dayak Suhaid Suku Dayak Suruk Suku Dayak Taman Suku Dayak Samanakng Suku Dayak Kualatn [sunting]Tokoh-tokoh Dayak               Tjilik Riwut. Politisi AR. Setelah dirapikan.. seniman/musisi Korrie Layun Rampan.

.Artikel ini tidak memiliki paragraf pembuka yang sesuai dengan standar Wikipedia.U. Etnis Dayak Kalimantan menurut seorang antropologi J. U.1 Berdasarkan wilayah penyebaran di Kalimantan Barat 3 Latar belakang Tari Ajat Temuai Datai o [sunting]Sejarah 3. merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbedaan adat istiadat. Malaysia. Tamambaloh. diambil dari nama seorang tokoh yang disegani (Manok Sabung/algojo) di Tampun Juah dan nama tersebut diabadikan menjadi sebuah nama anak sungai Ketungau di daerah Kabupaten Sintang (karena suatu peristiwa) dan kemudian dijadikan nama suku Dayak Mualang. Masing-masing sub suku Dayak di pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip. Dayak Bukit (Kanayatn/Ahe) berasal dari Bukit/gunung Bawang. Masa lalu masyarakat yang kini disebut suku Dayak. nama alam dan sebagainya.. mendiami daerah pesisir pantai dan sungai-sungai di tiap-tiap pemukiman mereka. Benuag. Demikian juga asal usul Dayak Kayan.. terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil. 1975 dalam Bukunya Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat. Suku Mualang.. maupun bahasa yang khas. Kalimantan Tengah ibu kotanya Palangka Raya. Daftar isi [sembunyikan] 1 Sejarah o 1.. Nama "Dayak" atau "Daya" adalah nama eksonim (nama yang bukan diberikan oleh mayarakat itu sendiri) dan bukan nama endonim (nama yang diberikan oleh masyarakat itu sendiri). Kelompok Suku Dayak. yang menyebar di seluruh Kalimantan. daerah perbatasan Kalimantan Barat dengan Serawak. Kalimantan Selatan dengan ibu kotanya Banjarmasin. Tolong bantu Wikipedia untuk mengembangkannya dengan menulis bagian atau paragraf pembuka yang informatif sehingga pembaca awam mengerti apa yang dimaksud dengan "Seni Tradisional Dayak". Lontaan. Mereka menyebut dirinya dengan kelompok yang berasal dari suatu daerah berdasarkan nama sungai. Kata Dayak berasal dari kata Daya” yang artinya hulu. Artikel ini harus didahului dengan kalimat pembuka: Seni Tradisional Dayak adalah . dan Kalimantan Barat ibu kotanya Pontianak. Lontaan.seperti melayu menyebabkan mereka menyingkir semakin jauh ke pedalaman dan perbukitan di seluruh daerah Kalimantan.1 Asal Usul 2 Pembagian Ciri Tari Dayak o 2. Pulau kalimantan terbagi berdasarkan wilayah Administratif yang mengatur wilayahnya masing-masing terdiri dari: Kalimantan Timur ibu kotanya Samarinda. Kantuk.1 Latar belakang [sunting]Asal Usul Dayak merupakan sebutan bagi penduduk asli pulau Kalimantan. Misalnya suku Iban asal katanya dari ivan (dalam bahasa kayan. Kenyah. (walaupun kini banyak masyarakat Dayak yang telah bermukim di kota kabupaten dan propinsi) yang mempunyai kemiripan adat istiadat dan budaya dan masih memegang teguh tradisinya. terbagi lagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub (menurut J. Kuatnya arus urbanisasi yang membawa pengaruh dari luar. karena berasal dari sungai Batang Lupar. . budaya. 1975). yang mempunyai latar belakang sejarah sendiri-sendiri. ivan = pengembara) demikian juga menurut sumber yang lainnya bahwa mereka menyebut dirinya dengan nama suku Batang Lupar.. Ngaju dan lain-lain. nama pahlawan. Namun ada juga suku Dayak yang tidak mengetahui lagi asal usul nama sukunya.. untuk menyebutkan masyarakat yang tinggal di pedalaman atau perhuluan Kalimantan umumnya dan Kalimantan Barat khususnya.

menyebabkan mereka berkeinginan menetap di daerah baru yang mempunyai potensi dagang yang besar bagi keuntungan mereka. Maanyan.banyak yang lupa akan identitas sebagai suku dayak mulai dari agama barunya dan aturan keterikatan dengan adat istiadatnya.sejalan terjadinya urbanisasi ke kalimantan. Karena Hindu telah meyebar luas di dunia terutama Indonesia dan lebih dikenal luas. Pada umumnya masyarakat Dayak yang pindah agama Islam di Kalimantan Barat dianggap oleh suku dayak sama dengan suku melayu.agama islam lebih identik dengan suku melayu dan agama kristiani atau kepercayaan dinamisme lebih identik dengan suku Dayak.Apet Kuyan'gh(Dayak Mali) dan lain-lain. Dalam hal ini proses tersebut sangat berkaitan erat dengan dua suku terbesar di Kalimantan Barat yaitu Dayak. dsb. dan interaksi cultural. Petara. Ot Danum. yang terbesar suku Dayak Ngaju. Raja Juata (penguasa Air). Karena hubungan yang harmonis terjalin baik. yang mereka sebut: Jubata. kemudian karena seringnya mereka berinteraksi. pendidikan dan agama Islam dari luar Kalimantan. Untuk mengatur daerah tersebut maka tokoh orang melayu yang di percayakan masyarakat setempat diangkat menjadi pemimpin atau diberi gelar Penembahan (istilah yang dibawa pendatang untuk menyebut raja kecil ) penembahan ini hidup mandiri dalam suatu wilayah kekuasaannya berdasarkan komposisi agama yang dianut sekitar pusat pemerintahannya. mereka percaya setiap tempat-tempat tertentu ada penguasanya. Karena sering terjadinya proses transaksi jual beli barang kebutuhan. hingga mereka berusaha menguatkan perbedaan. karena semakin banyak di kunjungi pendatang baik local maupun nusantara lainnya. Setelah penduduk pendatang di pesisir berasimilasi dengan suku Dayak yang pindah(lewat perkawinan dengan suku melayu) ke Agama Islam. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Dayak ketika bersentuhan dengan pendatang yang membawa pengetahuan baru yang asing ke daerahnya. untuk sebutan Tuhan yang tertinggi. hidup dengan tradisi dan budayanya masing-masing. adapun segelintir masyarakat Dayak yang telah masuk agama Islam oleh karena perkawinan lebih banyak meniru gaya hidup pendatang yang dianggap telah mempunyai peradaban maju karena banyak berhubungan dengan dunia luar. yang merupakan agama asli yang lahir dari budaya setempat sebelum bangsa Indonesia mengenal agama pertama yakni Hindu.Kalimantan Tengah mempunyai problem etnisitas yang sangat berbeda di banding Kalimantan Barat. maka Agama Kaharingan dikategorikan ke cabang agama Hindu.Jobata. masyarakat Dayak masih memegang teguh kepercayaan dinamismenya. mereka memisahkan diri masuk semakin jauh kepedalaman. bolak-balik mengambil dan mengantar barang-barang dagangan dari dan ke Selat Malaka (merupakan sentral dagang di masa lalu). di kunjungi masyarakat lokal (Dayak) dan pedagang Arab Melayu dari Selat Malaka. Bagi mereka yang masih memegang teguh kepercayaan dinamisme nya dan budaya aslinya nya. Di masa itu system religi masyarakat Dayak mulai terpengaruh dan dipengaruhi oleh para pedagang Melayu yang telah mengenal pengetahuan. dan cenderung mempertahankan wilayah tersebut. Propinsi Kalimantan Barat mempunyai keunikan tersendiri terhadap proses alkurturasi cultural atau perpindahan suatu culture religius bagi masyarakat setempat. ada yang menaruh simpati kepada pedagang Gujarat tersebut yang lambat laun terpengaruh. (Dan sesuai perkembangannya maka masuklah para misionaris dan misi kristiani/nasrani ke pedalaman). kemudian mereka masih mempunyai penguasa lain dibawah kekuasaan Tuhan tertingginya: misalnya: Puyang Gana ( Dayak mualang) adalah penguasa tanah . maka agama Islam diterima dan dikenal pada tahun 1550 M di Kerajaan Tanjung Pura pada penerintahan Giri Kusuma yang merupakan kerajan melayu dan lambat laun mulai menyebar di Kalimantan Barat. Sedangkan agama yang mereka anut sangat variatif. Suku Dayak yang masih asli (memegang teguh kepercayaan nenek moyang) di masa lalu. menyebabkan pesisir Kalimantan Barat menjadi ramai. tetap mempertahankan ethnisnya Dayak. kemudian datanglah pedagang dari gujarab beragama Islam (Arab Melayu) dengan tujuan jual-beli barang-barang dari dan kepada masyarakat Dayak. jika dibandingkan dengan agama suku Dayak. Agama asli suku Dayak di Kalimantan Tengah adalah Kaharingan. maka masyarakat lokal atau Dayak. menyebabkan pesisir Kalimantan Barat menjadi ramai. demikian juga bagi Dayak yang masuk agama Kristen. Mayoritas ethnis yang mendiami Kalimantan Tengah adalah ethnis Dayak. Kama”Baba (penguasa Darat). Dayak yang beragama Islam di Kalimantan Tengah. suku dayak yang masuk Islam(karena Perkawinan dengan suku Melayu) memperlihatkan diri sebagai suku melayu. Namun ada kalanya penembahan tersebut menyatakan tunduk terhadap kerajaan dari daerah asalnya. . Dusun. Ala Taala. demi keamanan ataupun perluasan kekuasaan. Penompa dan lain-lain. Pada mulanya Bangsa Dayak mendiami pesisir Kalimantan Barat.Melayu dan Tiongkok.

maris dll)dayak Kebahan (antara lain desa:poring. Mualang.nanga raya dll). Iban / Ibanic : Dayak Iban dan sub-sub kecil lainnya. 3.dayak Ot Danum ( masuk kelompok kal-teng). Kemudian Kabupaten Melawi. Aur kuning. mempunyai ciri gerak pinggul yang dominan. Misalnya Dayak Mali / ayek-ayek. Wilayah penyebarannya di Kabupaten Sambas (perbatasan). daerah Kayong.Masyarakat Dayak yang pindah ke agama Islam ataupun yang telah menikah dengan pendatang Melayu disebut dengan Senganan. ulakmuid. Lintang. Banyur. atau masuk senganan/masuk Laut. mahikam dll). Leboyan. Banyuke. Hulu) Kabupaten Sintang. Tamambaloh dan sub nya. ketapang. masih banyak lagi yang belum teridentifikasikan gerak tarinya.dayak limai (antara lain desa tanjung beringin. Wilayah penyebarannya di Kabupaten Pontianak. Ribunic / Jangkang Grop/ Bidoih / Bidayuh : Dayak Ribun. dayak punan. dayak undau. Belangin. Kabupaten Sanggau / malenggang dan sekitarnya (perbatasan) Kabupaten Sekadau (Belitang Hilir. yaitu: dayak Keninjal(mayoritas tanah pinoh. dayak Linoh (antara lain desa:Nanga taum. dayak pangen (Jongkong. Seberuang. tidak kasar dan halus. Benawas. Kalis. Banuaka" Grop : Taman. Bakati” dll. Tabun. Simpakng. Berdasarkan Ethno Linguistik dan cirri cultural gerak tari Dayak di Kalimantan Barat menjadi 4 kelompok besar. ribang semalan. Daerah Manjau dsb.sebagian ulak muid. Tengah. daerah Krio. Serawak. Kabupaten Landak. Sebaruk. daerah Persaguan. yang tidak dapat diartikan secara langsung. Jawan. Wilayah penyebarannya di Kabupaten Sanggau Kapuas.nyanggai. rompam. sebagian desa balaiagas dll). Kabupaten Kapuas Hulu. Pangkodatn. Wilayah penyebarannya di Kabupaten Kapuas Hulu. bertujuan untuk penyambutan tamu yang datang atau tamu agung (diagungkan). 2. Jangkang. Kayu Bunga.nusa kenyikap. kemudian Dayak Kabupaten Ketapang. piawas dll). Sungkung daerah Sambas dan Kabupaten Bengkayang dan sebagainya. punan. tetapi sedikit lebih halus. Tetapi maksudnya adalah Tari menyambut tamu. 4. menukung. Darit. dayak ranokh/anokh (antara lain sebagian di desa batu buil. Sabah dan Brunai Darusalam.ciri gerak mirif kelompok ibanic.antara lain desa ribang rabing.tain. dan sebagainya. Selain terbagi menurut ethno linguistik yang terdata menurut jumlah besar groupnya. [sunting]Latar belakang Tari Ajat Temuai Datai belakang [sunting]Latar "Ajat Temuai Datai" diangkat dari bahasa Dayak Mualang (Ibanic Group).Daerah simpakng seperti Dayak Samanakng dan Dayak Kualan. keras. dll yang memiliki tari alu dan tari belonok kelenang yang hampir punah). terdapat dialur jalan tayan kearah kab. sebagai pemimpin kampungnya atau pemimpin wilayah yang mereka segani. tidak keras dan tidak terlalu halus. 5. Kayaanik. bukat dll. dan sebagainya. ela dll).mempunyai gerak tari. Kabupaten Bengkayang. dayak sebruang (antara lain didesa tanjung rimba. Kemudian Dayak daerah Kabupaten Sambas. karena menyebar dan berpencar dan terbagi menjadi suku yang kecil-kecil. Bugau. enerjik. karna terdapat kejanggalan jika di diartikan kata per kata. Kendayan / Kanayatn Grop : Dayak Bukit (ahe). Kemudian daerah Kabupaten Sekadau kearah Nanga Mahap dan Nanga Taman. Pompakng. dan kini mereka mengklaim dirinya dengan sebutan Melayu. Kantuk. Kembayan. Kematu dan lain-lain. dan sekitarnya. yaitu Dameo / Damea. sungai raya dll). Kendawangan. . Sandai. [sunting]Pembagian Ciri Tari Dayak wilayah penyebaran di Kalimantan Barat [sunting]Berdasarkan Bangsa Dayak di Kalimantan Barat terbagi berdasarkan sub-sub ethnik yang tersebar diseluruh kabupaten di Kalimantan Barat. Mereka mengangkat salah satu tokoh yang mereka segani baik dari ethnisnya maupun pendatang yang seagama dan mempunyai karismatik di kalangannya. Lara. Saribas. Ketungau. 1 kelompok kecil yakni: 1. Jawai. stakato. madya raya. dayak kubing (antara lain desa sungai bakah/sungai mangat. Pandu. Undup. dll. Desa. mempunyai ciri gerak tangan membuka.

diantara kelompok-kelompok suku Dayak. Jika hanya sekali berarti para pahlawan tidak mendapatkan apa-apa dan tidak diadakan penyambutan khusus. merupakan tamu yang agung serta dianggap sebagai seorang yang mampu menjadi pahlawan bagi kelompoknya. Masyarakat Dayak percaya bahwa pada kepala seseorang menyimpan suatu semangat ataupun kekuatan jiwa yang dapat melindungi si empunya dan sukunya. Pada masyarakat Dayak Mualang dimasa lampau para pahlawan yang pulang dari pengayauan dan menang dan membawa bukti perang berupa kepala manusia. Proses penyambutan ini. ada empat tujuan dalam mengayau yakni: untuk melindungi pertanian. Kemudian kepala suku mengunsai beras kuning (menghamburkan beras yang dicampur kunir / beras kuning) dan membacakan pesan atau mantera sebagai syarat mengundang Senggalang burong (burung keramat / burung petuah penyampai pesan kepada Petara atau Tuhannya). tetapi dengan cara memberikan tanda dalam bahasa Dayak Mualang disebut Nyelaing (teriakan khas Dayak) yang berbunyi Heeih !. U. Setelah mendapatkan hasil dari mengayau. TRADISI NGAYAU BAGI SUKU DAYAK DI KALIMANTAN Oleh: TumanggungArga Sandipa BatanggaAmas (Admin Grup FB: Komunitas Pemerhati Adat dan Budaya Suku Bangsa Indonesia) .Awal lahirnya kesenian ini yakni dari masa pengayauan / masa lampau. para pengayau mengirimkan utusan untuk menemui pimpinan ataupun kepala sukunya agar mempersiapkan acara penyambutan. Babak yang ketiga adalah Nijak batu (menginjakkan tumitnya menyentuh sebuah batu yang direndam didalam air yang telah dipersiapkan). Babak yang kedua yakni mancung buloh (menebaskan mandau atau parang guna memutuskan bambu). melalui tiga babak yakni: Ngiring Temuai (mengiringi tamu ataupun memandu tamu) sampai kedepan Rumah Panjai (rumah panggung yang panjang) proses ngiring temuai ini dilakukan dengan cara menari dan tarian ini dinamakan tari Ajat (penyambutan). Babak keempat yakni Tama’ Bilik (memasuki rumah panjai). setelah melalui prosesi babak diatas. Menurut J. Jika teriakan tersebut hanya tiga kali berarti para pahlawan menang dalam berperang atau mengayau tetapi jatuh korban dipihaknya. untuk balas dendam. yang berarti musuh (bahasa Dayak Iban). Air pada rendaman batu tersebut diteteskan pada kepala tamu itu sebagai simbol keras dan kuatnya semangat dari batu itu diteladani oleh pahlawan atau tamu yang disambut. Setelah memberikan tanda nyelaing. maka tamu diijinkan naik ke rumah panjang dengan maksud menyucikan diri dalam upacara yang disebut Mulai Burung (mengembalikan semangat perang / mengusir roh jahat). berarti bambu sengaja dibentangkan menutupi jalan masuk ke rumah panjai dan para tamu harus menebaskan mandaunya untuk memutuskan bambu tersebut sebagai simbol bebas dari rintangan yang menghalangi perjalanan tamu itu. untuk mendapatkan tambahan daya jiwa. sebanyak tujuh kali yang berarti pahlawan pulang dan menang dalam pengayauan dan memperoleh kepala lawan yang masih segar. Mengayau. dan sebagai daya tahan berdirinya suatu bangunan. berasal dari kata me – ngayau. Tetapi jika mengayau mengandung pengertian khusus yakni suatu tindakan yang mencari kelompok lainnya (musuh) dengan cara menyerang dan memenggal kepala lawannya. Oleh sebab itu diadakanlah upacara “Ajat Temuai Datai”. para pahlawan tidak boleh memasuki wilayah kampungnya. sebagai simbol kuatnya tekad dan tinginya martabat tamu itu sebagai seorang pahlawan yang disegani. Lontaan (Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat 1974).

Ngayau merupakan tradisi Suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan. malah masih boleh dipersoalkan. Bagi suku Dayak Ngaju di KalTeng. serta dikaitkan dengan hal-hal sakti. Di masa lalu Suku Dayak Kenyah dilaporkan sebagai pemburu kepala yang paling terkenal di Kalimantan. perburuan kepala penting dalam hubungannya dengan Mamat. Bagi Suku Dayak Iban di KalBar. “ngayau” juga berperanan untuk menaikan taraf sosial seseorang maupun kelompoknya. 1972 : 184). . Sebenarnya kenyataan itu tidak 100% tepat. suku Dayak Iban juga melakukan upacara perburuan kepala yang disebut Gawai. 1993:23). Orang yang pernah memperolehi kepala dalam aktivitis “ngayau” yang disertainya akan digelar sebagai “Bujang Berani”. calon pria dengan batas waktu yang ditentukan oleh pihak keluarga perempuan diharuskan untuk berburu kepala. kepala-kepala itu digantung di beranda rumah panjang. tetapi juga melibatkan pesta besar-besaran dengan minum-minuman dan bersenang-senang (Lebar. Ngayau adalah orang yang mencari kepala. Hal ini dikarenakan menurut cerita lisan masyarakat Iban di rumahrumah panjang. Suhan. Seperti halnya suku Dayak Kenyah. Oleh karena itu aktivitas ngayau bukan saja untuk kepentingan pribadi melainkan untuk kepentingan suatu kelompok. yang artinya mencari. dan sebuah tato dengan desain khusus. untuk para prajurit perang. Mengayau artinya mencari kepala. Menurut Lebar (1972 : 171). berhadapan dengan ruang-ruang tengah yang menjadi tempat tinggal ketua rumah panjang.Serangan-serangan para pemburu kepala dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari sepuluh hingga dua puluh orang laki-laki yang bergerak secara diam-diam dan tiba-tiba. Mereka sangat memperhatikan pertanda-pertanda. baik Dayak yang tinggal di Kalimantan Barat maupun Kalimantan lainnya. yaitu upacara sakral terbesar suku Dayak Ngaju untuk mengantarkan jiwa atau roh manusia yang telah meninggal dunia menuju langit ke tujuh (Riwut. selain orang Bujang ada juga individu yang telah berkeluarga menyertai aktivitas memburu kepala. Pemburu-pemburu kepala yang berhasil berhak memakai gigi macan kumbang di telinganya. Pada tradisi Ngayau yang sesungguhnya. The Head Hunters of Borneo yang diterbitkan di Inggris pada tahun 1881 banyak menyumbang terhadap terciptanya citra Dayak sebagai “orang-orang pemburu kepala” (Saunders. Iban dan Kenyah adalah dua dari suku Dayak yang memiliki adat Ngayau. aktivitas “Ngayau” dijalankan adalah untuk mendapat penghormatan pada mata masyarakat. dikalangan masyarakat Kenyah. Ngayau tidak lepas dari korban kepala manusia dari pihak musuh. baik dari kalangan “penjelajah” maupun kalangan akademisi. Sebelum pinangannya diterima oleh pihak keluarga perempuan. Citra yang paling populer tentang Kalimantan selama ini adalah yang berkaitan dengan berburu kepala (Ngayau). khususnya burung-burung. Bujang Berani Kempang (keling merupakan orang yang gagah berani). Hal ini merupakan suatu jaminan dan kepercayaan bahwa si pria tersebut akan mampu menjaga keselamatan wanita yang dikawininya. Praktik berburu kepala adalah salah satu bentuk kompleks perilaku sosial dan sudah memancing munculnya beragam penjelasan dari berbagai penulis. Ngayau merupakan tradisi pada masa dahulu yang melambangkan keperkasaan seorang lelaki Iban. Bagi lelaki Iban yang berhasil memperoleh banyak kepala dalam suatu perburuan kepala akan menjadi rebutan atau kegilaan para wanita Iban. Tradisi ini juga berlaku sebagai suatu proses persetujuan melawar/meminang seorang perempuan Dayak. hiasan kepala dari bulu burung enggang. mengayau dari kata “kayau” atau “kayo’. paling tepat kalau dikatakan bahwa. Dalam tradisi orang Dayak Lamandau dan Delang di Kalimantan Tengah. Upacara ini tidak hanya bersifat religius. Tradisi Ngayau pertama kali urang Libau Lendau Dibiau Takang Isang (kayangan) yang saat itu sebagai tuai rumah (kepala kampung) yang bernama Keling. Setelah digunakan dalam upacara-upacara Mamad. Karya Bock. yang mengakhiri masa perkabungan dan menyertai upacara inisiasi untuk memasuki sistem status bertingkat. tradisi mengayau untuk kepentingan upacara Tiwah. yaitu pesta pemotongan kepala.. Dalam arti kata lain. Gelar tersebut diberikan oleh seseorang tetua Iban yang bernama Merdan Tuai Iban yang saat itu tinggal di Tatai Bandam (masuk dalam wilayah Lubuk Antu Sarawak Malaysia). Bila dalam batas waktu tersebut si pria berhasil membawa kepala maka pinangannya diterima. 2003 : 203). Berkat keberaniannya dan kegagahannya dia diberi gelar Keling Gerasi Nading.

Kalau ternyata tak cukup kuat. 2008 . Karena dianggap telah menimbulkan perselisihan di antara suku Dayak. Mc Kinley berpendapat (1976 : 124). dalam tradisi Ngayau tersebut mengapa harus kepala dan bukan bagian-bagian tubuh yang lain yang diambil. yang dengan cara serupa dengan nilai sosial tentang nama-nama personal. selain itu ia juga bertugas menyebarkan agama Kristen di sana. Freeman mengatakan (1979 : 234). tengkorak kepala manusia yang sudah dikeringkan adalah sihir yang paling kuat di dunia. Lang melakukan ritual ini (sesuatu yang melambangkan pemenggalan kepala musuh yang sesungguhnya) dengan satu tebasan pedang (mandau) yang dilakukannya dengan sangat cepat. dalam musyawarah tsb segala perselisihan dikubur dan pelakunya didenda sesuai dengan hukum adat Dayak. Meskipun hingga kini tidak ada satupun analisa yang dapat menjelaskan secara pasti dan tepat makna yang tersembunyi dari tradisi Ngayau tersebut karena ritual ini sedemikian kompleks dan sedemikian misteriusnya. Paralelparalel antara kepala manusia dan kesuburan merupakan sesuatu yang sentral dalam pembahasan tentang praktik berburu kepala. Salah satu pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan komunitas Dayak adalah semasa pemerintahan kolonial Belanda berlangsung yaitu ketika pada tahun 1874 Damang Batu (Kepala Suku Dayak Kahayan) mengumpulkan sub-sub Suku Dayak untuk mengadakan Musyawarah Damai Tumbang Anoi.Miller yang seorang penjelajah. puncak dari alegori luar biasa yang menjadi hal yang sentral dalam upacara perburuan kepala yang dilakukan oleh orang-orang Iban yang ketika sudah disenandungkan oleh dukun-dukun pembaca mantra. namun dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa tradisi Ngayau sangat penting bagi penggambaran citra kelompok Dayak yang merupakan salah satu simbol suatu identitas kesukuan. seorang perwira Zei dari tentara Napoleon I bernama George Muller yang masuk dalam Pamongpraja Hindia Belanda mendapat tugas melakukan hubungan dengan pihak raja-raja di pesisir Borneo. Konon perwira ini tewas karena Ngayau oleh suku Dayak di sana tepatnya di Jeram Bakang-Sungai Bungan sekitar Nopember 1825. yang kemudian namanya di abadikan menjadi nama sebuah pegunungan yang membatasi Kalimantan Barat. Pada masa kolonial Belanda. dan dari kepala yang dibelahnya itu mengalir benih-benih yang bila ditaurkan akan timbul menjadi sesosok tubuh manusia. Jati diri sendiri ini pada gilirannya adalah atribut paling manusiawi milik si musuh dan karenanya menjadi atribut yang harus diklaim oleh komunitas orang itu sendiri. dan mengusir roh-roh jahat. Kalimantan Tengah. merupakan simbol yang paling konkret dari jati diri sosial (social personhood). dalam mana orang-orang yang dulunya adalah musuh menjadi sahabat dengan cara memadukan mereka ke dalam dunia keseharian. itu karena kekuatannya sudah mulai pudar dan diperlukan sebuah tengkorak yang baru. Sebuah kepala yang sudah dibubuhi ramu-ramuan bila dimanipulasi dengan tepat cukup kuat untuk menghasilkan hujan. meningkatkan hasil panen padi. kepala dipilih sebagai simbol yang pas untuk ritual-ritual ini karena kepala mengandung unsur wajah. adalah sebuah ritual yang dikenal dengan nama Ngelampang yang secara harfiah berarti mencincang atau memotong menjadi bagian-bagian kecil. Bagi orang Dayak. Dalam musyawarah yang konon berlangsung berbulan-bulan lamanya itu. Sementara itu Mc Kinley menggambarkan ritual perburuan kepala itu sebagai sebuah proses transisi. misalnya menulis dalam Black Borneo-nya (1946 : 121). yaitu Pegunungan Muller. Musyawrah tsb dikenal dengan PERJANJIAN TUMBANG ANOI. dan Kalimantan Timur. Dalam kajiannya tentang suku Dayak Iban. Di dalam bagian alegori ini dipaparkan sebuah deskripsi grafis mengenai ritual membelah kepala tiruan atau antu pala oleh seorang Lang Singalang Burong yaitu dewa perang suku Iban. Freeman mengatakan bahwa berburu kepala semata simbolik berkaitan dengan kesuburan. Akhirnya. dilakukan oleh calon-calon pemburu kepala. Sebuah kepala yang baru dipenggal cukup kuat untuk menyelamatkan seantero kampung dari wabah penyakit. Sudewi2000′s Weblog September 30. menyatakan bahwa praktik memburu kepala bisa dijelaskan dalam kerangka kekuatan supernatural yang oleh orang-orang Dayak diyakini ada di kepala manusia. Mungkin ada sebuah pertanyaan. masyarakat Dayak di seluruh Kalimantan mencapai kesepakatan untuk menghindari dan menghilangkan tradisi mengayau.

Miri. Traveling. bisa terlihat deretan bukit tinggi batu kapur membentang. misal seorang ibu yang sedang menyusui anak. Traveling — Tags: Community Empowerment.Beberapa kali masih terlihat rumah-rumah panjang khas Dayak. Tidak terlihat buangan kertas atau sampah lainnya. Dibuat permanen dan tidak lagi bertangga tinggi. Sayang karena waktu yang terbatas. Tradition. suku Dayak Iban. Wanamina — sudewi2000 @ 1:31 pm 14 November 2006 Dayak Iban Sarawak: Mempertahankan Tradisi di Tengah Modernitas (Foto: Swary Utami Dewi) Selama 5 hari. Tradisi. Masyarakat Adat. Di sepanjang jalan tidak banyak ditemui rumah penduduk. Regional Network for Indigenous Peoples. Tidaklah mengherankan karena penduduk Sarawak saja jumlahnya tidak banyak: sekitar 200 ribu. Tilapia. Kiri kanan jalan rapi. Sarawak. Ini membuktikan rapinya infrastruktur Miri. kami sempat melewati jalan menuju Taman Negara Niah. Pemberdayaan Masyarakat. tapi masih tetap panjang dan memiliki banyak pintu sesuai dengan jumlah keluarga yang menghuni. Perjalanan hampir 2 jam menuju Suai tidak terasa melelahkan karena mulus dan licinnya jalan. Training yang diorganisir oleh Regional Network for Indigenous Peoples in Southeast Asia (RNIP) diikuti peserta Indonesia dan Malaysia.KOLAM IKAN TILAPIA DAYAK IBAN DI SUAI. Dayak. SARAWAK Filed under: Community Empowerment Stories. Taman Negara sama artinya dengan Taman Nasional. Malaysia. Seorang teman Malaysia mengatakan Niah terkenal karena di dalamnya terlindungi peninggalan Dayak Iban berupa lukisan timbul di dinding gua.Customary Community. Malaysia. melihat kegiatan wanamina yang sedang dicobakan oleh seorang petani lokal. Swary Utami Dewi. Lukisan ini menggambarkan manusia dengan segala aktivitasnya. penulis berkempatan menjadi salah satu narasumber training Agroforestry di Miri. Pemandangan yang cukup menarik di sepanjang jalan membuat mata terasa teduh. kami tidak punya waktu menjenguk kebanggaan Miri tersebut. Salah satu kunjungan dilakukan ke Suai. Rumah Panjang Semi-Modern Dayak Iban Sarawak (Foto: Swary Utami Dewi) Yang menarik. RNIP. apalagi kampung. . beberapa rumah panjang telah disulap menjadi lebih modern. Perjalanan. Uniknya. Dayak Iban. Sarawak. Dari jauh.

seorang Dayak Iban Sarawak yang berusaha sebagai penyedia protein bagi komunitas sekitar. ”Kasian yang lain tak dapat nanti. tanpa ragu-ragu ia menawarkan orang-orang untuk mencicipi. istilah Malaysia untuk pemerintah. the free encyclopedia Iban . Meski nila Timboo sudah cukup terkenal. asal jumlah yang dibeli dianggap wajar. Namun. Hutan-hutan masih terlihat lebat. pria yang secara rutin masih mendatangi rumah panjangnya ini. Paling tidak dalam sebulan. Hasilnya. Talipia merah dan hitam dijual 10 ringgit per kg. Air ke kolam. daging nilai Timboo terkenal lebih segar dan manis. Sesekali rombongan juga melewati kebun-kebun campuran buah dan sayur. hampir tidak ada yang mau membeli nila hasil budidaya bapak berusia 61 tahun.Semakin jauh mendekati Suai. ia mengutamakan menjual nilai kepada para tetangga dan anggota rumah panjang yang sekarang tidak dihuninya lagi. pendapatan ini sudah memadai. Para peserta sempat merubung melihat bambu berisi nila kukus matang. Timboo. sang kepala keluarga. garam dan bumbu lain ditambah untuk membuat rasa ikan lebih lezat. diambil dari Sungai Suai dan disalurkan melalui pipa. Timboo tidak akan menolak. Beritapun cepat tersebar dari mulut ke mulut: Timboo memiliki nila yang lezat. Saat pertama panen. Jika ada yang datang dari jauh dan sengaja mampir membeli. Timboo sempat berjalan kaki menjual ikan.” jelas Timboo. kepala rumah panjang Suai. diselingi tanaman pisang. Makan siang cukup istimewa. Timboo tidak perlu lagi keluar rumah menjajakan nila. tibalah rombongan di Suai. Artinya. tepi hutan sepanjang jalan semakin banyak dilalui. Demikianlah kisah Timboo. Air. Keluarga besar Timboo sudah menanti di rumah modern permanen mereka. Sekarang. Rombongan berjumlah lebih dari 20 orang ini memang terlihat lapar mengingat waktu sampai sudah menjelang pukul 2. Hal pertama yang dilakukan: makan. ”Ikan ini jika sudah matang dan airnya dibuang bisa bertahan sampai 2-3 hari. Tuan rumah menyajikan tilapia (nila) yang terlebih dahulu dilulun (dikukus). Dari sini mengalirlah cerita usaha kolam tilapia Timboo yang telah dilakukan 4 tahun terakhir. yang sekarang berjumlah enam buah. Sesudah menempuh perjalanan hampir 2 jam dari pusat kota Miri ke arah Bintulu. akan menolak jika ada pihak yang ingin memborong habis nilanya. memulai usaha kolam ikan nila menggunakan bibit yang diberikan secara gratis oleh kerajaan. Dengan cara inilah mereka bisa tahu kelebihan nila Timboo. Jadilah budidaya nila menjadi pilihan utama penyangga hidup Timboo sekeluarga. ia tetap menjalankan prinsip menyediakan untuk sekitar. Iban people From Wikipedia. Supaya masyarakat sekitar tahu kelezatan tilapia-nya. Masakan tradisional ini dibuat dengan memasukkan potongan-potongan ikan ke dalam buluh (bambu). lelaki yang memiliki penghasilan lain dari berkebun ini bisa menjual 280 kg tilapia. Ada pula deretan kebun sawit yang tidak terlalu panjang. Paling tidak ia bisa mendirikan satu rumah permanen bertingkat dua bagi keluarganya.” kata Timboo. Timboo menolak order khusus sebuah restoran terkenal di Miri yang ingin mendapatkan ratusan kg tilapia per bulan. Jadilah kolam milik bapak asal Sri Aman ini selalu mendapat suplai air segar penyedia oksigen. Pembelilah yang datang. bertahun lalu. Bagi Timboo.

They live in longhouses calledrumah panjai or rumah panjang [1]. and in the West Kalimantan region of Indonesia. Ibans were renowned for practising headhunting and tribal/territorial expansion.Sarawak Total population 600. Contents [hide] 1 Iban History 2 Religion. They speak the Iban language. Semberuang.000 (Sarawak only) Regions with significant populations Sarawak. In Malaysia. The Ibans today are becoming increasingly urbanised while retaining most of their traditional heritage and culture. Brunei. telephone lines and the internet. In ancient times the Ibans were a strong and successful warring tribe in Borneo. most Ibans are located in Sarawak.Iban girls dressed in full Iban (women) attire during Gawai festivals in Debak. Most of the Iban longhouses are equipped with modern facilities such as electricity and water supply and other facilities such as (tar sealed) roads. Brunei & West Kalimantan Language Iban Religion Christianity Related Ethnic Groups Kantu. The Iban population is concentrated in Sarawak. the days of headhunting and piracy are long gone and in has come the modern era of globalization and technology for the Ibans. Mualang. Today. They were formerly known during the colonial period by the British as Sea Dayaks. a small portion in Sabah and some in west Malaysia. Culture and Festivals 3 Musical & Dancing . Bugau & Sebaru' The Ibans are a branch of the Dayak peoples of Borneo. Betong region. Younger Ibans are mostly found in urban areas and visit their hometowns during the holidays.

and fought the Bajaus and Illanuns. Headhunting among the Ibans is believed to have started when the lands occupied by the Ibans became over-populated. such as the Seru and Bliun. The Ukitswere also believed to have been nearly wiped out by the Ibans. who arrived in Sarawak around 1838. and gatherers. intruding on lands belonging to other tribes resulted in death. The Ibans were unfortunately branded for being pioneers of headhunting. who were the original inhabitants of Saribas. For more than a century. the Ibans were known as Sea Dayaks to Westerners. called the bandung. The modern-day Iban word for people orman is mensia.Heritage 4 Branches of the Iban People 5 Cultural references 6 Bibliography 7 External links [edit]Iban History Main article: Iban history The origin of the name Iban is a mystery. Like the other Dayak tribes. they were originally farmers. Local leaders were forced to resist the tax collectors of the sultans of Brunei. Tribes like the Bukitan. to the point of ethnic cleansing. One famous Iban legendary figure known as Lebor Menoa from Entanak. In later years. are believed to have been assimilated or wiped out by the Ibans. such as the Melanaus and the Selakos. hunters. These were seafaring tribes who came plundering throughout Borneo. the Ibans feared no tribe. In those days. Not much is known about Iban people before the arrival of the Western expeditions to Asia. It is likely that the Ibans learned seafaring skills from the Bajau and the Illanun. During the British colonial era. The Ibans started moving to areas in what is today's Sarawak around the 15th century. displacing or absorbing the local tribes. The Ibans were the original inhabitants of Borneo Island. coming in galleys from the Philippines. In those days. Malay influence was felt. are believed to have been assimilated or forced northwards as far as Bintulu by the Ibans. This may also be one of the reasons James Brooke. although many theories exist. called the Ibans Sea Dayaks. fought and successfully defeated the Bajaus and Illanuns. a totaly modified Malay loan word of the same meaning (manusia) of Sanskrit Root. Nothing was ever recorded by any voyagers about them. Dayak warfare was brutal and bloody. before the arrival of western civilization. Culture and Festivals . However. Some believe that the word Iban was an ancient original Iban word for people or man. [edit]Religion. After an initial phase of colonising and settling the river valleys. Many extinct tribes. near modern-day Betong. This is evident with the existence of the seldom-used Iban boat with sail. the way of war was the only way that any Dayak tribe could achieve prosperity and fortune. using these skills to plunder other tribes living in coastal areas. the Iban encountered the Bajau and Illanun. and Iban leaders began to be known by Malay titles such as Datu (Datuk). the Ibans were called Sea Dayaks. Nakhoda and Orang Kaya. At the same time. Confrontation was the only way of survival. a phase of internecine warfare began.

some Chrisitian festivals such as Christmas. The recitation of pantun (traditional chants by poets) is a particularly important aspect of the festival. Significant festivals include the rice harvesting festival Gawai Dayak. ginger and corn. Easter. The Ibans believe in helping and having fun together. The Gawai Burong originally honoured warriors. Most Ibans are devout Christians and follow the Christian faith strictly. For the majority of Ibans who are Christians. and other Christian festivals are also celebrated. there are various kinds of tuak. The Gawai Burong (the bird festival) is held in honour of the War God. is a wine used to serve guests. the ngajat. made with rice alternatives such as sugar cane. the Ibans get together to celebrate. particularly during marriages or festivals. although the majority are now Christian. On this day. Singalang Burong. is used to decorate houses.percussion ensembles composed of large hanging. often visiting each other.Other festivals include the bird festivalGawai Burong and the spirit festival Gawai Antu. Despite the difference in faiths. The Iban traditional dance. The name Singalang Burong literally means "Singalang the Bird". Good Friday. to worship the Lord Sempulang Gana. Pua Kumbu. the main festival for the Ibans. the Iban traditional cloth. This festival is initiated by a notable individual from time to time and hosted by individual longhouses. The Iban have a musical heritage consisting of various types of agung ensembles . bossed/knobbed gongs which act as drones without any accompanying melodic instrument. The Gawai Dayak festival is celebrated every year on the 1st of June. at the end of the harvest season. The typical Iban agung . some of them Muslim and many continue to observe both Christian and traditional ceremonies. Nowadays. A Modern Iban Longhouse in Kapit Division [edit]Musical & Dancing Heritage Main article: Agung Iban music is percussion-oriented. is performed accompanied by the taboh and gendang. which is originally made of rice. suspended or held. Ibans of different faiths do help each other during Gawais and Christmas. Differences in faith is never a problem in the Iban community. but during more peaceful times evolved into a healing ceremony. the Ibans' traditional music.An Iban woman prepares cotton for spinning The Ibans were traditionally animist. Tuak.

  Majority of Ibans who live around the Lundu and Samarahan region are called Sebuyaus.[1][2] One example of Iban traditional music is the taboh. Kampung Tanah Mawang & others) are called Remuns. Saratok & parts of Sarikei are called Saribas. Each ngajat is accompanied by the taboh or the body.    Ibans who originated from Sri Aman area are called Balaus. It serves many purposes depending on the occasion. they can be divided into different branches which are named after the geographical areas where they reside. The women's form of ngajat consists of soft. The Lubok Antu Ibans are classed by anthropologists as Ulu Ai Ibans.ensemble will include a set of engkerumungs (small agungs arranged together side by side and played like axylophone). Singalang Burong). The Iban as well as the Kayan also play an instrument resembling the flute called 'Sapek'. Ibans who settled in areas in Serian district (places like Kampung Lebor. graceful movements with very precise body turns. a bendai (which acts as a snare) and also a set of ketebung (a single sided drum/percussion). They may be the earliest Iban group to migrate to Sarawak. a tawak (the so-called 'bass'). The ngajat for men is more aggressive and depicts a man going to war. The ngajat involves a lot of precise body-turning movements. albeit a little slower. The Sapek is the official musical instrument for the Malaysian state of Sarawak. It is played similarly to the way rock guitarists play guitar solos. The Ibans perform a unique dance called the ngajat. it is used to entertain the people who in the olden days enjoy graceful ngajats as a form of entertainment. . or a bird flying (as a respect to the Iban god of war. but not as slow asblues. During Gawais. Iban people of Betong [edit]Branches of the Iban People Although Ibans generally speak a dialect which is mutually intelligible. Iban men and women have different styles of ngajat. Ibans who come from Betong.

Into the Jungle from Anthony Bourdain: No Reservations included the appearance of Itam. an Anglo-Iban girl who falls in love with John Truscott (Hugh Dancy). They can be related to the Iban either by the dialect they speak or their customs." Asian Music Vol 16. [edit]External links . They are the majority group of the Iban people. [edit]Bibliography      Sir Steven Runciman. (Spring-Summer 1985). Mualang & along with many other groups are classed as "Ibanic people" by anthropologists. (1989) Renang Anak Ansali. Semberuang. 2006.  Malaysia's Ethnic Pop Queen. Malaysia. Gawai Burong: The chants and celebrations of the Iban Bird Festival (1977) Greg Verso. pp. "An Introduction to the Major Instruments and Forms of Traditional Malay Music. a former Sarawak Ranger and one of the Iban people's last members with theEntegulun (Iban traditional tattoo design) (hand tattoos) signifying his taking of an enemy’s head. Bintulu and Miri. Sarikei. In West Kalimantan (Indonesia). rituals & their way of life. The White Rajahs: a history of Sarawak from 1841 to 1946 (1960). James Ritchie. Air Tabun. [edit]Cultural references   First Iban Online Radio Iban Online Radio The episode. Bugau. "Traditional Music of the Southern Philippines". 2. Patricia. Ibans living in areas from Sarikei to Miri are called Rajang Ibans. 2. ^ Matusky. New Generation of Iban. Both songs became a fame in Malaysia and neighborhood countries. 121-182. Sebaru' . Retrieved November 21. No.  Ibans from Undup are called Undup Ibans. PnoyAndTheCity: A center for Kulintang . Sibu. Their dialect is somewhat similar to the Ulu Ai dialect. Kapit. ^ Mercurio. Bintangor. Kanowit. They can be found along the Rajang River. Belaga. Philip Dominguez (2006).   The Iban were featured on an episode of Worlds Apart on the National Geographic Channel.A home for Pasikings. Noraniza Idris recorded Ngajat Tampi in 2000 and followed by Tandang Bermadah in 2002 which is based on Ibanese tribe music composition. Their dialect is somewhat a cross between the Ulu Ai dialect & the Balau dialect. (2000) 1. Blackboard in Borneo. The Kantu. The movie The Sleeping Dictionary features Selima (Jessica Alba). Song. Iban people are even more diverse. The Life Story of Temenggong Koh (1999) Benedict Sandin. The movie was filmed primarily in Sarawak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful