Judul AKU MELAWAN TERORIS Penulis : Abdul Aziz alias Imam Samudra alias Qudama Editor : Bambang Sukirno

Tataletak : Studio 619 Desain Cover : Rahmat Rudianto Penerbit : Jazeera PO Box 174 Solo, Tel. 0271 – 702 7661 E-mail : jazeera@telkom.net SIUP No. : 229/11.35/PK/VI/2004 Website : www.akumelawanteroris.or.id Cetakan I : September 2004

HALAMAN PERSEMBAHAN Bingkisan buat: Ayah dan bunda tercinta yang telah sekian lama tak bersua, dan kedua orang mertua yang soya hormati, semoga dirahmati Allah. Bidadariku dan sekalian cahaya mataku yang kucintai dan kukasihi semoga Allah merahmati kalian... Seluruh ikhwan Mujahidin senasib seperjuangan yang telah dan sedang diuji di bawah siksaan, tekanan dan kini kuliah di ‘Kampus Teroris’ –semoga lulus dan istiqamah. Seluruh ‘partner’ diskusi di alam maya, yang akan segera paham manhaj salafushshaleh bukan ‘salafushshaleh’ (dalam tanda petik). Keluarga syuhada Jihad Bom Bali dan bom lainnya, semoga diberi kesabaran oleh Allah dan turut mendapat syafa’at di akhirat kelak...

TERIMA KASIH, MUSUHKU ..!! Syaikh Salman Fahd Audah Terima kasih, musuh...! Engkau mengajariku bagaimana mendengar kritik yang pedas tanpa harus merasa galau. Engkau mengajariku bagaimana harus terus melangkah di jalan yang telah kutempuh tanpa ragu, meski kadang aku harus mendengar kata-kata yang kurang pantas atau tidak layak. Sungguh, ini adalah pelajaran yang sangat berharga. Pelajaran yang tidak bisa didapatkan secara teori, bahkan oleh seseorang yang telah berupaya dan berupaya. Sampai kemudian Allah mendatangkan orang lain sebagai pelatih, yang memaksa meneguk pil pahit untuk pertama kalinya, agar terbiasa untuk selanjutnya. Terima kasih, musuh...! Engkaulah penyebab lahirnya pendisiplinan diri; agar diri tidak hanyut oleh pujian para pemuji. Sungguh, Allah menjadikanmu sebagai penyeimbang. Agar, seseorang tidak tertipu oleh pujian, atau sanjungan orang yang berlebihan, atau ujub yang tidak pada tempatnya, dari para pengagum yang hanya melihat kebaikan dan kebaikan belaka. Berbeda dengan engkau! Engkau tidak melihat kecuali dari sisi lain. Atau, engkau sejatinya melihat kebaikan tapi engkau buat ia menjadi buruk. Terima kasih, musuh...! Engkau telah mencela lisan-lisan pembela kebenaran, menyerangnya, juga menentangnya, yang karenanya mengobarkan sikap pembelaan yang hebat. Jika bukan karena nyala api yang membakarnya Aroma harum kayu gaharu takkan ada yang tahu Terima kasih, terima kasih! Engkau mempunyai kelebihan –sekalipun tidak engkau inginkan– dalam menciptakan iklim keseimbangan, juga obyektifitas sebuah pemikiran. Kadang, manusia meletakkan al-haq melampaui kadarnya. Dan engkau, menjadi penyebab ditegakkannya keseimbangan. Penyebab adanya evaluasi dan perbaikan. Maka, janganlah engkau diperbudak kemarahan atas sebab penolakanmu. Sebab seseorang, jika kepentingan telah masuk, tak dapat lagi melihat dan berpikir jernih. Yang tersisa hanya menolak dan menentang. Tak ada lagi ketenangan dan kehati-hatiaan dalam dirinya. Tak ada lagi kecermatan dalam memandang pendapat orang yang berbeda dengannya. Padahal, boleh jadi yang berbeda itu benar, meski hanya sedikit. Terima kasih, musuh...! Sungguh, Engkau telah mengasah semangat, menciptakan tantangan, membuka arena, dan menggelar kompetisi. Hingga setiap orang benar-benar terobsesi memenangkan dirinya, berambisi meningkatkan dirinya, tuk meraih kedudukan yang tinggi nan utama. Ya, berlomba adalah sunnah syar’iyah, adalah ketentuan Rabbani. Bukankah Allah

aku sadar betul bahwa sebagian dari kata-kata ini membuatmu tidak berkenan.. Engkau adalah saudaraku seagama... buah dari bersikap memaafkan.. Tapi. Tetapi.! Ya. Terima kasih. ia buah dari kesabaran.. buah dari ridha atas ketentuan-Nya.. kemuliaan sebuah perlombaan. Kalau saja kita mau melihat titik persamaan. Sejujurnya saya katakan. Musuhku. serta rongga yang bersih. tujuan yang benar. "Maka.! Engkaulah yang menempa kami untuk berlatih bersabar. sungguh saya tidak bermaksud membuatmu begitu. buah dari bersikap baik. atau bahkan terasa menyesakkan hati. berlatih tabah dalam menghadapi cobaan.. dan berlatih membalas keburukan dengan kebaikan sekaligus penolakan. musuh. media yang sehat. kadang bukan buah dari amal shalih yang ia lakukan..berfirman. pada yang demikian itu hendaklah manusia mau berlomba. engkau adalah teman sejati. cukup banyak yang bisa kita temukan. didasarkan pada tata-cara yang mulia. sekalipun terdapat perbedaan pendapat di antara kita. Terima kasih. musuh.. . timbangan kebaikan seseorang kelak." Tentu.

Sejak saya menjadi pengacaranya bersama rekan Tim Pengacara Muslim lainnya. sebagai catatan kecil pelengkap. ada tergambar kerinduan pada seorang anak manusia. gemar menyerukan asma Allah dan Takbir. mengutamakan memohon perlindungan ke hadirat Allah Rabbul Jalil merupakan keharusan dan kewajiban setiap insan. kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi yang sekuleris. Tidak banyak yang dapat dijadikan pengantar buku ini. Namun. amat memegang prinsip aqidah (istiqamah). akibat ulah tentara-tentara Amerika di Afghanistan dan di Irak. yang mendampingi saat penyidikan di tingkat Kepolisian RI. Dengan membaca torehan catatan hariannya. khususnya dalam kasus tuduhan/dakwaan terlibat peristiwa bom 12 Oktober 2002 di Legian Bali. dan aktivitasnya berjihad di jalan Allah. kehilangan orang tua. kami berharap itu semua akan membantu mengubah putusan Hakim yang sebelumnya berat menjadi lebih ringan. pemuda yang menggentarkan dunia. sebagai pengacara. ia memilih berjihad di jalan Allah untuk meraih surga. akan terungkap bahwa sesungguhnya ia adalah seorang hamba lemah lembut. dan karenanya ia beristighfar. Hanya salju. Dengan membaca “Basmallah”. Imam Samudra. Torehan catatan harian Abdul Azis. bahkan sadis. Sesekali. pembentukan jiwa dan semangat hidup. kehilangan masa depan. Sampai saat ini. adalah sosok pemuda yang tegar. Terusik sikapnya memerangi penzhalim tersebut. ia habiskan untuk berjihad nun jauh di seberang lautan. hingga kami memenangkan perkara uji materiil Undang-Undang no. 15 dan 16 tentang Pemberantasan Terorisme. hanya karena keyakinan. Masa remajanya. sebagai suatu jawaban. sebuah nostalgia yang ia nilai sebagai kesalahan dan dosa. ketika ia dihadapkan pada kejadian-kejadian memilukan di dunia. yang ia tinggalkan demi meraih keindahan keislaman dalam berjihad. tegas. penuh humor. ia merasa harus melakukan sesuatu. yang jauh dari keramaian kota metropolitan idaman setiap pemuda modern. tercermin dalam tindakan dan sikapnya. berdarah dingin. seperti bayibayi kecil tanpa dosa yang telah kehilangan anggota tubuh. juga ulah Israel di Tanah Palestina. yang penuh pergulatan semangat keimanan dan keislaman. memiliki hati nurani yang dalam. keji. Banyak orang menilai dan menuduh bahwa ia tidak memiliki hati nurani. suaranya lantang. kadang menghiasi kesejukan hatinya di antara desingan peluru dan mortir. ia tidak memiliki rasa takut dan sedih. persidangan di Gedung Wanita Nari Graha Denpasar Bali. berisikan kisah perjalanan masa kanak-kanak dan remaja.PENGANTAR TPM Sebagai hamba Allah yang amat dha’if lagi banyak kesalahan. kecintaan. tentu. Ia harus melawan kezhaliman dan diskriminasi yang dilakukan Amerika dan sekutunya terhadap umat Islam. kami meragukan bahwa musibah Bom Legian dilakukan oleh . pelimpahan berkas perkara di Kejaksaan. di padang tandus di Puncak Khost Afghan. saya turut menghadirkan pengantar atas torehan catatan harian Imam Samudra yang berjudul: “Aku Melawan Teroris”.

khususnya bagi para mujahid. pembuktian terhadap pelakunya relatif minim. Jakarta. Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Hanya Allah yang Maha Tahu atas segalanya. Hal ini bukan tanpa alasan. secara profesional. kami pengacara. bermanfaat buat para pembaca dan kita semua. Kita serahkan segalanya ke hadapan-Nya. jauh dari pembuktian aspek pelaku tindak pidananya. Sementara. buku ini terbit. Semoga Allah membalasnya sebagai amal ibadah. mengucapakan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Penyunting serta Penerbit. Tak lupa. Jumadil Akhir 1425 H. melainkan hanya terbatas pada pengungkapan banyaknya jumlah korban dan kerugian materiil semata. Mudah-mudahan. kita semua mendapatkan pertolongan-Nya. Akhir kata. pengungkapan fakta persidangan perkara di atas. dengan izin-Nya pula. Wallahu A’lam bish-shawab. kecuali oleh suatu sebab sebuah pengakuan yang hanya dilandasi oleh semangat berjihad dan rasa militansi yang tinggi. Achmad Michdan Tim Pengacara Muslim . Semoga buku ini memiliki hikmah yang dalam.kelompoknya. Wabillahi taufiq wal-hidayah. wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pertanyaannnya. jelas kita semua melihat fakta itu. ikatan umat Islam yang tersisa. (mungkin Pak Z. bukankah. siapa yang "membuat" konflik di daerah-daerah tersebut. Ada yang konsen pada pendidikan. para pelaku Bom Bali sering menyatakan dalam mass-media. Itulah sebabnya. komunikasi antar kelompok baru bersifat wacana. diskusi kecil itu. para pelaku itu. Ia menjelma menjadi aktifitas-aktifitas "parsial" yang kadang antara yang satu dengan yang lain tidak saling berhubungan. dan sekadar assesoris belaka. "Saya hanya memiliki jaringan Iman"). Adapun intervensi tidak langsung. meski caranya terbilang kontroversi. Repotnya. Akhirnya. Padahal aspek pemikiran (al-haq) sebagai ikatan yang tersisa. Masing-masing memiliki konsentrasi program tersendiri. fungsi kekhilafahan. ketika saya diminta menyunting buku "Catatan Harian" Imam Samudra. politik. “Apakah Anda percaya ada intervensi asing dalam aksi Amrozi c.s. pembinaan akhlak. justru di dalamnya terbuka . terkait dengan prioritas dan kemudahan yang Allah berikan. Menurut saya. bahwa aksi mereka lebih sebagai “pembalasan” atas aksi teror Amerika dan sekutunya terhadap umat Islam selama ini? Juga. dan jihad. Atau istilah lainnya. Sementara lembaga semisal OKI dinilai ompong. Demikian. dan Poso. Begitu luas dan berat tugas dan fungsi kekhilafahan. dakwah. menemukan kembali "kekuatan tim" saat berkonsentrasi membela saudara-saudara mereka yang tertindas di Ambon. kalau kita cermati “perjalanan hidup” para pelaku Bom Bali yang secara terpisah banyak dimuat oleh mass-media.PENGANTAR EDITOR B eberapa saat setelah penangkapan saudara Amrozi. tidak representatif. Abu Bakar Ba'asyir saat ditanya hubungannya dengan Usamah bin Laden. hingga tak satu jamaah pun sanggup memerankan sendirian. siapa yang mengumpulkan dan membangunkan "macan-macan" itu? Sampai sekarang. saya pernah ditanya dalam sebuah forum kecil di Solokuro. dan kemudian melahirkan aksi-aksi seperti di Bali. berita seperti penyelundupan senjata melalui kapal asing di laut Maluku. Maulani dan Tim Investigasi MUI bisa menjelaskan lebih baik). lebih banyak diperankan oleh jama'ah-jama'ah kecil yang tersebar di jagad raya. pemurnian tauhid. Sebuah forum dadakan yang dihadiri teman-teman komunitas Muhammadiyah.?” Saya menjawab. mereka. Tak ada loyalitas politik tunggal pada sebuah institusi yang merepresentasikan sikap dan aksi umat Islam itu sendiri. Semenjak Islam tidak memiliki institusi politik tunggal oleh sebab runtuhnya Khilafah Utsmaniyah di Turki. judul itu lebih mencerminkan isi buku dan niat aksi yang mereka lakukan. Saya belum memiliki data untuk menyatakan ada intervensi asing secara langsung dalam aksi tersebut. Halmahera. saya mengusulkan judul "Aku Melawan Teroris". Terlepas kita setuju apa tidak. belum pernah diungkap secara transparan. A. hingga para "alumnus" Afghan itu berduyun-duyun datang. Pertanyaannya. dan mengalami eskalasi "kemarahan" yang membuncah luar biasa. lebih kepada aspek pemikiran (meminjam istilah Ust.

dan warna Dr. mampu memadukan dua kecenderungan tersebut dalam ijtihad-ijtihad fiqihnya. Dalam batas-batas tertentu. sekoci Hasan At Turaby. Ada sekoci Usamah bin Ladin. ketika sisa ikatan umat umat adalah pemikiran (visi. Yang perlu dipersoalkan ketika perbedaan lahir dari pelanggaran atas sebuah kode etik ijtihad. demikian sebaliknya.. Yusuf Qardhawy. dan antara pandangan yang satu dengan yang lain bisa berposisi "antagonis" (tadhod). Prof. Semestinya keduanya tidak perlu dipertentangkan. Perbedaan melahirkan langgam dan intensitas perlawanan yang berbeda. sekoci Dr. sepanjang telah melalui kode etik ikhtilaf yang dicanangkan ulama-ulama ahli fiqh. Ia kini terreduksi dalam "sekoci-sekoci" kecil dan bukan "kapal induk". Ini seperti terjadi dalam kasus tanah rampasan perang pada era Umar bin Khattab. Dalam gerakan sebesar Ikhwanul Muslimin. Yusuf Qardhawy. Tokoh Muhammadiyah dinilai kurang otoritatif di kalangan NU. ada yang bersifat muhkam (jelas. karena ulama seperti Imam Syafi'i. Sementara teks-teks nash. tegas) dan ada yang mutasyabih (multi tafsir). Secara umum. perbedaan juga bisa muncul pada aktualisasi sebuah nash ke dalam realitas (tahqiqul manath). "Kesepakatan pemikiran" selama ini lebih bersifat diktum global. secara normatif hal ini diselesaikan lewat mekanisme keputusan keamiran. mendapatkan satu pahala. Abu Bakar Ba'ayir kurang otoritatif di kalangan laskar jihad. Dan tentu. sebagian orang atau kelompok menilai sebagai telah mampu berjihad. saya melihat rekaman tradisi fiqh Islam kembali berputar. mencatat ada warna Sayyid Qutb. yang salah satu bentuknya. sekoci Al-Maududy dan seterusnya. Harus diakui. Karena pemikiran didasarkan pada teks-teks nash. beragam pandangan bisa muncul. Situasi Ipoleksosbud yang dihadapi masing-masing orang atau kelompok berbedabeda. sosiolog Mesir. iman). Masing-masing memiliki grand strategi sendiri-sendiri. orang yang berijtihad salah. maka perbedaan adalah sebuah keniscayaan. memilih satu pendapat yang bertentangan untuk sebuah kebijakan makro. penegakan syariat. sebagian ulama malah menilai perbedaan sebagai keluasan. dakwah kepada tauhid. Karena salah satu fungsi amir adalah raf’ul khilaf (mengatasi sengketa). Padahal mereka dalam perahu yang sama. atau tidak selamanya tercela. Bahkan. Karenanya. Misalnya. Keamiran tunggal dalam Islam telah punah sejak 1924 M. misi juga bisa mempertemukan gerakangerakan yang beragam). Selain itu. Ada perbedaan menentukan "parameter mampu" di sini. Huwaidi. misalnya. sementara orang lain belum. Sa'id Hawwa di satu sisi. iqamatud-din. dan seterusnya. . Dr. Dan di sinilah letak krusial persoalannya. Ketika perbedaan menyangkut kepentingan publik atau menyangkut hal strategis. Keduanya memiliki tempat. Al Ghazaly di sisi yang lain. Dalam kasus aksi Bali dan yang semisal. jihad itu wajib. Giliran bagaimananya. Pada wilayah nash yang mutasyabihat inilah memungkinkan lahirnya multi interpretasi.. "keamiran lokal" semacam itu mengandung krisis otoritas. bahwa tradisi fiqh Islam lekat dengan dikhotomi antara ahlul atsar (mainstream nash) dan ahlur ra'yi (mainstream akal). karena ulah Kamal At-Taturk. perbedaan tidaklah tercela..wilayah untuk tidak saling bertemu (disamping. demikian seterusnya. Keterpenjaraan seseorang juga berbeda-beda.

bersimpati. Ini sepenuhnya subyektifitas saya. karenanya ia buruburu membuat hantu jamaah islamiyah. Dan karenanya. Sebagai catatan akhir. Inilah yang membuat gamang Amerika. telah ada perut dan seterusnya. Meski demikian. dan oleh Amerika disematkan pada gerakan-gerakan Islam militan yang menjamur. Jumat 13/12/2002). Solo. sebuah istilah generik yang menurut KH. dan kadang saling "berhadap-hadapan". Jika unsur-unsur itu bersinergi justru saling melengkapi (istilah Dr. 3 Agustus 2004 Bambang Sukirno Editor . menurut keterangan salah seorang keluarganya. menolak. adalah sebuah pemaksaan (untuk tidak menyebut tekanan) menghubung-hubungkan kasus Bom Bali dengan Abu Bakar Ba'asyir. terutama saat menerangkan "Jihad antara Defensif dan Ofensif' juga soal "Kronologi Syari'at Jihad dalam Al Qur'an". yufidut-takamul). sekarang telah ada tangan. sebenarnya adalah kekayaan. potongan gambar besar itu menjelma pada aktifitas harakah yang beragam. kecenderungan semacam itu populer dengan istilah ahlul mabadi' (kelompok tekstual) versus ahlul mashalih (kelompok yang mengedepankan parameter maslahat). Shalah Shawy. harus diterima bahwa dua arus utama itu tetap lestari. tegas bahwa Imam Samudra mengikuti madzhab jihad ofensif. tetap ada. inilah Imam Samudra apa adanya. alias defensif (Sydney Morning Herald. netral. atau bahkan menertawakan.Z bermakna "organisasi Islam". Akhirnya. Ini jelas berbeda dengan pandangan ustadz Abu Bakar Ba'asyir yang sering menyatakan bahwa jihad diperbolehkan ketika Islam ditindas. Dari sini. jika kita cermati argumentasi Imam Samudra dalam buku ini. Dalam dunia harakah modern. Zainuddin M. Fenomena ini semestinya membuat umat Islam rajin berdialog untuk lebih mencari titik persamaan. Persoalan besarnya. secara 'filosofis' ada perbedaan pandangan yang cukup mendasar antara Ustadz Ba'asyir dengan Imam Samudra. selanjutnya terserah pembaca dalam menyikapinya. Ba'asyir memandang jihad ofensif (thalab) hanya berlaku ketika ada kekhilafahan Islam. Wallahu a'lam. telah ada ada kaki. apakah ketika organ tubuh itu disatukan otomatis akan menjadi tubuh? Siapa sistim syarafnya? Siapa nafasnya? Inilah PR umat Islam. seorang hamba yang penuh kenaifan. Ibarat tubuh. atau. Karena ragam amal. Ibarat puzzle. sebagai sebuah kenyataan sejarah. dan bukan klaim otoritas.seperti kecenderungan kelompok tertentu untuk berijtihad dengan mencampakkan otoritas masa silam dan cenderung liberal.

kekumuhan. berusahalah untuk menjadi preacher (ustadz/ da'i). Di sisi lain. adalah sama-sama harus dikuasai atau minimal dimengerti. Ia ditulis di tempat 'uzlah' dan khalwat kepada-Nya. kita punya kewajiban mematahkan street judgment yang selalu menyeret para mujahidin –dengan serangkaian aksi jihad mereka– ke dalam satu posisi yang amat sangat terpojok. di atas segalanya. Betapa naifnya seorang muslim yang dikaruniai Allah kemampuan beramal jihad. Inilah yang saya maksud dengan 'biografi setengah hati'. sementara pada akhir kehidupannya terdapat pernik-pernik sum'ah (popularitas) dalam hatinya. bomber dan fighter atau killer! Demi Izzul Islam wal Muslimin. atau Syaikh Maulawi Mullah Umar. kemasyhuran adalah suatu perkara yang wajib dicurigai. sebenarnya ingin kusampaikan pesan terutama generasi muda islam bahwa ilmu hacking dan membaca Kitab Kuning –yang selama ini dipahami secara antagonis–. Ia mati dengan membawa syirik kecil. Maka. dengan perantaraan Pak Qadar. Maka berpadulah antara keengganan menulis autobiografi dan kewajiban memberikan penjelasan dalail (dalil-dalil) syar'i operasi jihad semisal Jihad Bom Bali kepada kaum Muslimin. Akan semakin bagus jika memahami ilmu bombing atau jurus-jurus fighting dan killing yang digunakan untuk jihad fie-sabilillah. Al-faqir wal-haqir Ilallah. bahkan 'kesesatan' dalam memahami dienul islam. ketidaktahuan. Bukan tinta dan kertas milik polisi atau negara. Ada pula faktor-faktor lain yang tidak perlu kuceritakan disini. karena memang tidak layak. Serangkaian aksi jihad mereka selama ini dianggap terjadi karena faktor kemiskinan. hal yang bagi saya cukup penting dan bermakna ialah bahwa naskah asli buku ini ditulis dengan tinta yang halal. ketertutupan (eksklusif). Dengan segala kekurangan dan keterbatasan. dalam pertempuran akhir zaman yang sudah di ambang pintu ini. di atas kertas yang halal pula. Wallaahu A'lam bish-Shawab.KHUTBATUL HAJAH Dengan takdir dan rahmat Allah semata buku ini terbit. biografi yang tak utuh. keterpinggiran. Orang menyebutnya sebagai penjara. kebodohan. La Hawla wala Quwwata illa Billah. Sedari awal telah kukatakan kepada segenap Tim Pengacara Muslim (TPM) bahwa. –naudzu billahi min dzalik–. Pak Michdan dan saudara-saudara se-islam di TPM. Hal lain. Allaahummaj'alna minhum. Imam Samudra . Alhamdulillah. hacker. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ketertinggalan. yang diiringi oleh kekhawatiran akan hari pertanggungjawaban kelak. keterbelakangan. dan tokoh-tokoh mujahidin lainnya –hafizhahumullah– itulah yang patut ditulis dan dikenang biografi mereka. tidaklah layak aku menulis autobiografi. Orang-orang yang ditakdirkan telah ditinggikan dan diharumkan namanya oleh Allah semisal Syaikh Usamah bin Ladin.

Biarpun Terluka di Mata Sejarah… 97 03. Pengetian Jihad… 108 04. Jihadkah?… 107 a. Rindu pun Menjelma… 41 B. Mengapa Mesti di Bali… 120 08. Bolehkah Memerangi Sipil Warga Bangsa-bangsa Penjajah?… 111 a. Mengapa Harus Salafusshaleh?… 59 02. Biografi Setengah Hati… 21 a. Samudra dan Paham Ke-Islam-an… 55 01. Beberapa Keterangan Hukum Bom Bali… 123 a. Tahap IV: Kewajiban Memerangi Seluruh Kaum Kafir/Musyrik… 129 09. Luka yang Membesar… 89 02. Tahap III: Diwajibkan Memerangi Secara Terbatas… 127 d. Tahap II: Diijinkan Berperang… 126 c. Childhood… 22 b. Dajjal… 83 C. Jihad Bom Bali Membunuh Sipil?… 135 a. SD vs Ibtida’iyyah… 24 c. Saat Salju Tiba. Bolehkah Membunuh Wanita Kafir?… 145 . Bom Bali. “Sipil” Bangsa-bangsa Penjajah jadi Sasaran?… 109 06. Aku Melawan Teroris… 87 01. Memerangi Sipil Bangsa-bangsa “Penjajah” Sebagai Tindakan Setimpal dan Adil… 116 07. Ketika Gajah jadi Kipas… 73 04. Tahap I: Menahan Diri… 125 b.DAFTAR ISI Persembahan… 3 Terimakasih Musuhku… 4 Pengantar TPM… 6 Pengantar Editor… 9 Khutbatul Hajah… 14 Daftar Isi… 16 A. Teenager… 29 02. Fatwa Maut dari Garis Depan… 67 03. Bom Bali = Jihad Fi Sabilillah… 109 05. Mengenal Pribadi Imam Samudra… 19 01. Hukum Dasar Membunuh atau Memerangi Sipil adalah Haram… 115 b. Ajaran Sesat? Waduh… 57 a.

Antara Defensif dan Ofensif… 159 11. Islam Ditegakkan dengan Pedang?… 233 04. Menentukan Target… 262 c. Panah versus Bom… 179 d. Remote… 272 c. Keterlibatan Wanita Zionis dan Salibis dalam Peperangan… 147 c. Bom Syahid Bali. Mengapa Mesti Terjadi?… 188 h. Sabar itu Pilihan… 207 03. CC dan CVV / CVV2… 264 07. Tombak. Dikira Mudah?… 225 a. Darimana Mulai… 260 b. Dampak Jihad Bom Bali… 151 e. Kerusakan Ekonomi… 155 10. Bom Syahid Tidak Sama dengan Bom Bunuh Diri… 181 e. Ahluts Tsughur dan Mujahidin Internasional… 173 b. Escape…241 05. Roti dan Mentega… 276 . Hukuman Mati… 191 i. Adakah dalam Islam?… 150 d. Matahari… 205 02. Perbedaan Istisyhad dengan Bunuh Diri… 183 f.b. Siapa Lelaki Berjenggot itu?… 267 b. Adakah dalam Islam?… 171 a. Mengapa Tidak?… 259 a. Bom. Al-Qaeda dan Istisyhad Global… 184 g. Yang Menyejukkan Hati… 267 a. Penjara… 203 01. Pedang. Penyesalan… 193 j. Ujian itu Pasti. Jihad Bom Bali. Bom Syahid. Jibaku Syahid dalam Sejarah Islam… 175 c. Hacking. Hacking. Ketika Monyet Jadi Maskot… 255 06. Grasi… 197 D. Darimana Datangnya Air?… 273 d. Surga.

A) MENGENAL PRIBADI IMAM SAMUDERA MENGENAL PRIBADI IMAM SAMUDERA .

Apalagi setelah aku mengerti arti sebuah perjuangan menegakkan kalimah Allah yang menuntut betapa pentingnya menjaga sebuah rahasia. Siapapun yang ditakdirkan Allah membaca biografi ini. c. Biography Setengah Hati 1. Teenager Biografi Setengah Hati Menulis biografi adalah pekerjaan yang sangat aku tidak suka. kata mutiara. Seandainya tidak kuingat ayat di atas. Childhood Dengan takdir Allah. sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang lelaki dan seorang wanita. dalam penulisan biografi setengah hati ini. jalan Sema’un Bakri 201. di sebuah kota kecil ibukota kabupaten Serang. dan sejenisnya. menjaga niat itu bukanlah perkara yang mudah. yang disengaja ataupun tidak.1. . itu karena drakula bin monster Amerika dan sekutunya terlanjur mengetahui nama kecil dan sebagian masa laluku. Apalagi setelah aku dewasa. Tetapi sungguh. Kampung Lopang RT O4/ RW 01. akan tetap kuhindari hal-hal yang kukhawatirkan akan membatalkan pahala di sisi Allah kelak –naudzu billahi mindzalik. Biografi Setengah Hati 1. b. “Wahai manusia. Memang. La hawla wala quwwata illa billah. Ketika SD aku paling tidak suka mengisi buku diary yang biasanya meminta semacam biodata. dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Maka bografi adalah salah satu perkara yang sangat aku hindari. niscaya tak akan kutuliskan biografi setengah hati ini. “Sesungguhnya mereka hanya mengetahui setitik aib dan secuil lautan dosa-dosa yang telah kuperuat. Akhmad Syihabuddin bin Nakha’i itu nama ayahku. Meski demikian. Jika kini aku menulis biografi.” (Al Hujurat:13). segala amal itu tergantung pada niat. Semoga Allah Yang Maha Mengampuni menghapuskan segala dosa-dosaku. a. Dan hanya aku dan Allah yang tahu. yang nampak dan yang tak nampak. Kepada mereka yang sempat bertemu denganku dan mengetahui aib dan atau dosadosaku. Childhood 1. kukatakan. ia tidak akanmendapati apa-apa selain ketidakpuasan atau malah kebosanan. Wallahu a’lam.” Amien. dan demi kepentingan pertanggungjawaban seluruh tulisan dalam buku ini. pada 14 Januari 1970/1971 aku dilahirkan. desa Lopang Gede. Karena menyebut-nyebut kebaikan sendiri di hadapan manusia hanya akan membatalkan pahala. Sedangkan ibuku bernama Embay Badriyah binti Sam’un. SD vs Ibtida’iyyah 1. Kecamatan Serang (sekarang provinsi Banten).

kakekku (M. Sejarah lengkapnya aku kurang begitu menguasai. Artinya. Yang kumaksud adalah Ki (Kyai) Wasyid. Pada Senin.Kedua orangtuaku –Allahummaghfirlie wa-liwalidayya war-hamhuma kama rabbayanie shaghira– memberiku nama Abdul Aziz.” Terakhir kali aku hidup bersama kakek pada sekitar kelas dua SD sepulang sekolah. Ulama' sekaligus mujahid. ternyata aku termasuk dalam urutan cicit ke-3 dari Ki Wasyid –rahimahullah. Sejarahwan barangkali menyebutnya sebagai "Pahlawan Nasional". Allah Yarham. “Empat tahun. Inna lillahi wa-inna ilayhi Raji'un. beliau ditangkap Belanda karena adanya pengkhianatan dari kalangan dalam sendiri. karena ketika dalam perjalanan menuju masjid. terjadi peristiwa bersejarah yang amat terkenal di Banten. di tengah kota Serang. beliau ketika itu sebagai sosok tukang ngaji dan tukang adzan. dengan segala kekurangannya. Alonumen jihad beliau diabadikan berupa patung lelaki berjubah lengkap dengan senjatanya. hamba Allah Yang Mulia. Itu kuketahui. sekaligus Ulama'. Alhamdulillah. Ust. sekalipun tidak rutin lima waktu. atau peci hitam. Suruji. Tetapi yang jelas. Jihad fi sablillah melawan penjajah ini dipimpin langsung oleh Ki Wasyid. Ayah. Masyarakat setempat menyebutnya peristiwa “Geger Cilegon”. “Berapa umur cucunya ini?” lalu kudengar beliau menjawab. tetapi aku menyebutnya sebagai Ulama Mujahid Fi Sabilillah. salah seorang tokoh perlawanan masyarakat muslim Banten melawan penjajah Belanda yang beragama Kristen. nama perusahaan milik Kakek. Imam masjid Ust. Dari garis ayah. Nakha’i) adalah seorang juragan besar pada zamannya. nama itu sama dengan nama Raja Saudi Arabia waktu itu: Abdul Aziz bin Faishal. ibukota provinsi Banten sekarang. Pertama kali beliau mengajakku ke masjid ketika umurku empat tahun. Sehingga aku tidak terlalu sungkan untuk datang sendiri ke masjid setelah kakek meninggal. Ust. Ia selalu mengenakan topi haji. jika dirunut. Asrul. 9Juli 1888. Dalam beberapa masa kemudian. Alhamdulillah. ibuku. kakek yang mengenakan jas dan sarung berikat pinggang serta terompah kulit dan membawa tongkat seperti Bung Karno itu. Alhamdulillah. Kedua orangtuaku asli Banten. Beliau seorang yang ta’at beribadah. Semoga Allah menerima amal shaleh beliau • . Cicit ke-3 dari seorang Ulama’ Mujahid Fi Sabilillah Dari garis ibu. Waktu itu aku mengenakan T-Shirt Argentina 78. ditanya oleh beberapa orang yang berpapasan. Masa itu uwak Safiyuddin. Kyai Mahmud. Turmudzi. Kalau tidak salah. masih terbilang saudara dari garis nenek dan kakek. dan sanak keluarga lainnya pergi ke rumah sakit Serang dengan mengendarai mobil colt bertulis NASIA (Nakha’i dan Asiah). nama yang bagus. aku masih kecipratan turunan darah mujahid. Aku ingat persis nenekku (Asiah) dan seluruh perempuan termasuk Ibu dan Bibi serta Uwak menangis begitu tahu Kakek meninggal dunia.

Akhirnya. Walhasil tidak naik kelas. tak sampai 10 orang yang belajar di ibtida’iyyah. Di sana. aku dipertemukan dengan seorang yang kemudian kukenal sebagai Pak Matori. Mulai dari bangku. Kemudian beliau menunjuk kursi kayu coklat bertuliskan SD IX warna putih. Pada tahun yang sama.00 WIB itu. kamu belum cukup umur. Secara umum.00 WIB. Mereka tidak marah. Dan yang sampai kini aku belum mengerti cara menggunakannya ialah benda terdiri dari ‘roda-roda’ kecil terbuat dari kayu keras yang disebut ijiran cina. Senin. Sepertinya. Aku benar-benar merengek ingin sekolah. aku telah duduk di kelas dua Madrasah Ibtida’iyyah Al Khairiyyah Serang. 1978. memang peraturannya tidak terlalu ketat. bah.00 hingga 17.00 WIB. alias blank. Suasananya memang agak membosankan. Dua hari setelah itu. Ketika disuruh membaca. “Bon Kontan” –yang agak unik bentuknya ialah kertas mirip uang bertuliskan “Saham Obligasi”. Kadang-kadang beliau gunakan juga untuk menggelitik badanku yang agak kurus.” Lalu aku ngotot kalau aku sudah bisa baca. beberapa hari kemudian. Apalagi asatidz (para pengajar)nya adalah saudara dan tetanggaku sendiri. dengan cepat aku menyebut. Tetapi yang paling kuat pengaruhnya ialah karena aku sering duduk di sebelah kakek yang acap kali membawa tumpukan surat bertuliskan “Toko Setudju”. Kontan beliau tergelak begitu juga ayahku. aku agak susah membedakan antara amco dan maco. Memprihatinkan memang. Begitu aku menginjak kelas dua SD. kursi. aku full belajar. “Pak Matori bilang. Pergaulanku dengan teman-teman SD berpengaruh besar pada pendidikan ibtida’iyyahku. Dari sekitar 40 murid. daripada tidak. aku sempat bertanya. sekolah saya. dipotong shalat Dzuhur hingga 14.00 hingga 17. ayah membawaku ke sebuah sekolah yang waktu itu disebut SD IX. disiplin yang amburadul sampai pengajar yang terkesan memanfaatkan ‘sisa umur’ dan ‘tenaga sisa’ setelah bekerja di pagi hari.SD vs Ibtida’iyyah S ebelum sekolah. Setelah ditanya. Alat ini biasa dipakai kakek untuk menghitung. Otomatis sejak pukul 07. aku mulai ‘ngadat’ malas ke madrasah. Yah. Aku lebih suka nonton TV di rumah kawan baru atau jalan-jalan ke alun-alun Serang tanpa sepengetahuan orang tua. Sejak saat itu. buku absensi yang lusuh. Kepala Sekolah SD tersebut.00 WIB aku sudah di madrasah. Kebiasaan nonton tv 14” hitam putih di rumah kakek bersama kakak sepupu. Jika sebelumnya pukul 14. sehingga akhirnya raport ibtida’iyyahku berangka merah. Bad habitual itu terus berjalan selama setahun. aku resmi jadi murid kelas I SDN 9 Serang. aku diminta melingkarkan tangan kananku di atas kepala dan menyentuh telinga kiri. mereka yang di madrasah baru kelas . Es De -iX (iks)!”. orangtuaku memahami keadaanku. membantuku dapat membaca sebelum sekolah. maka kebiasaan baik itu kemudian berubah. jadi nggak?” Aku benar-benar kecewa saat kudengar. Dia akan terbahak saat aku kegelian. Sekolah Agama yang dimulai pukul 14. terutama ibuku memberi warning dan nasihat agar kembali masuk madrasah. Menjelang Zhuhur. dan meja tua yang telah dimakan rayap. “Gimana.

kamu harus seperti mereka. maka di sekolah luar telah menginjak kelas dua ke atas. Dan.. jika tiba giliran pelajaran membaca. ada di antara kawanku yang telah duduk di kelas III SMP. sehingga sanggup menggusur pendidikan dien (agama). Nilai itu merupakan . Bahkan saat itu. kuanggap sebagai pelengkap saja. sampai kabupaten. saat upacara Senin pagi. Sejak kelas IV aktivitas SD-ku makin meningkat. Aku cuma membatin. wali kelasku mengumumkan di depan murid-murid dan guru bahwa aku berhasil menjadi pemenang dengan meraih angka 8 (delapan) untuk studi matematika. Saat kutanya bagaimana caranya jadi bintang pelajar dan mendapatkan hadiah itu. biasa-biasa saja.” Aku begitu tertarik saat ibu menceritakan bahwa kakakku sering menerima hadiah buku tulis dan perlengkapan sekolah dari sekolahnya. atau ujian kenaikan kelas. selalu dapat juara kelas. Kelas V SD lebih seru lagi. Melihat kenyataan ini. Kadang-kadang kami disuruh ke perpustakaan. surat kabar. Saingannya paling juga anak pak Penilik Sekolah yang berkantor di Depdikbud. dan majalah. *** “Buldozer” pendidikan sekuler memang terlalu kuat. nilai yang didapat tetap sama. lomba mengarang. Sekolah enjoy. Kali ini aku mewakili sekolah untuk mengikuti pemilihan pelajar teladan mulai tingkat kecamatan. itu bukan. “Kakakkakakmu bintang pelajar. Waktu itu aku belum mengerti apa itu rangking. Hanya yang tidak pernah kulupakan sampai saat ini. Ia sering mendapat rangking satu. Toh saat ulangan harian. kedua orangtuaku tak berkutik. ibuku hanya bilang. lomba puisi. dan macam-macam lomba lain yang memerlukan waktu ekstra di luar jam sekolah SD. Rasanya tidak ada bedanya mengulang kembali pelajaran di rumah ataupun tidak. aku dan dua orang teman sekelasku disuruh keluar dan diberi buku bacaan tersendiri..satu.” Sebenarnya. akhirnya ibtida’iyyah tergusur. “Rajin-rajin belajar. lomba catur.” Berulang-ulang. Waktu itu aku belum mengerti bahwa sebenarnya hal itu merupakan musibah. Rupanya Bu Guru tahu kalau aku ‘bosan’ membaca dan menulis “Ini Budi. siapa sih yang tak senang diajak jalan-jalan keluar sekolah oleh Pak Guru untuk ikut perlombaan? Apalagi dikasih makan nasi Padang dan kalau pulang dapat uang saku. Alhamdulillah. aku membaca 80% buku-buku perpustakaan sekolah. Kelas I-II SD kujalani. Kejadian yang terus berulang itu akhirnya kusampaikan pada ibuku. Kalau boleh kubilang. Aku harus ikut lomba matematika. tidak ada bedanya bagiku rajin belajar atau pun tidak. Waktu itulah pertama kali aku mendengar ibu berkata. yang paling kugemari adalah matematika dan IPA. Aku berhenti. aku memahami rajin belajar sebatas rajin sekolah.. Selebihnya. Ada rasa kebanggaan tersendiri. apa itu angka merah. Anak kecil seusia itu. Sedangkan buku-buku pelajaran hanya 20%. Di antara pelajaran (bidang studi) yang diajarkan. Beliau nampak tersenyum senang. Bahkan pada saat aku kelas empat ibtida’iyyah. “Apakah ini yang dimaksud ibu sebagai bintang pelajar?” Seperti kubilang tadi.

Adalah karunia Allah yang sangat-sangat-sangat besar jika sejak empat tahun aku dikenalkan masjid –Alhamdulillah– sehingga dalam kesibukan sekolah seperti apapun aku tidak bisa meninggalkan shalat. jadi mendingan tidur dulu deh. dua kali bahasa Arab dan dua kali hadits. Tak disangka. aku dikirim mewakili sekolah untuk lomba baca puisi.. he he he. Baru pada pertemuan berikutnya.). SD 2 Serang memang musuh bebuyutan dengan SD kami. untuk putra. Di tingkat kabupaten kami tumbang. Tapi yang jelas predikat SD teladan. dalam sebulan mengajar empat kali.. musuh dalam segala perlombaan. bahkan tidak tertarik sama sekali. Seperti biasa. mungkin sekarang aku jadi pengacaranya Edi Tansil.. Aku harus duduk di kelas IV ibtida’iyyah. terus tingkat provinsi.angka tertinggi. beliau menuliskan hadits sekaligus menerjemahkan. Minggu pertama. dan yang jadi tersangka pasti TPM… Lagi-lagi. atau Sofyan Wanandi. aku . *** Rupanya pemenang putri itu dari sekolah ‘musuh’-ku. Yang terpilih sebagai pemenang putri malah dari sekolah lain. terus nasional.. sudah disapu oleh sekolahku. Beliau yang juga tetanggaku dan masih saudara jauh. Seluruh murid wajib menulis tulisannya. Bayangkan kalau menang sampai tingkat kabupaten. Untuk mata pelajaran lainnya tak aneh mendapat nilai di atas itu. Murid-murid mendengarkan. Kemudian beliau menerangkan kandungannya. Kebiasaan Pak Ustadz yang kuhafal itu rupanya memancing kebiasaan burukku. tak aneh kalau aku dan Tim Sekolah memenangkan cerdas-cermat P4 tingkat kecamatan (lumayan…). Aku memang memiliki kebiasaan kurang bagus waktu itu. Di sini aku mulai menyukai pelajaran bahasa Arab dan hadits. Beliau membacakan bahasa Arab kemudian menerjemahkan.. Sepertinya. Inilah barangkali yang akhirnya memanggil nuraniku untuk kembali ke ibtida’iyyah. Bisa juga menjadi Hakim Ketua yang memvonis ‘hukum mati’ untuk Theo Syafi’i. setiap murid disuruh membaca dan menerjemahkan. Cepat bosan mendengarkan keterangan pelajaran secara formal. bahasa Arab teori. Siapa dia? (berhubung sudah 23. Aku sangat senang saat ustadz Asma’i menyuruhku membaca sekaligus menterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Sebagai pelajar SD ‘ultranasionalis’ (Ciyaa. Murid yang sudah setor hafalan pada pertemuan itu. Waktu itu seingatku utusan putri dari sekolahku kalah tipis. Ia dari SD 2 Serang. tidak punya kewajiban untuk hafalan pada pertemuan berikutnya. atau malahan menjadi hakim ketua untuk sidang kasus bom Bali. Alhamdulillah. Kelak ‘sang Putri’ ini bertemu di eS-eM-Pe. Minggu ketiga. Alhamdulillah. Minggu berikutnya beliau khususkan untuk hafalan hadits yang minggu ini beliau tuliskan minggu sebelumnya.15 WITA dan aku sudah mengantuk. aku ditakdirkan menang tingkat kecamatan sehingga kemudian maju ke tingkat Kabupaten.

Selama enam tahun belajar Al-Qur’an. Mengamati kesibukan para kuli panggul. tidak juga gagal. Sedangkan di SD cukup banyak ‘kompor’ yang membuatku sangat termotivasi.lebih suka membaca sendiri daripada mendengar guru menerangkan pelajaran. Asal lulus. Hadiahnya songkok hitam tanpa cap. angka tertinggi saat itu adalah 49. dikalahkan oleh tuan rumah Madrasah Nurul Huda. Tetapi anehnya. kemudian naik ke tingkat kecamatan. pertemuan kedua dan ketiga. aku tidak mendapat teguran sama sekali dari orangtua dan para ustadzku. paham benar kebiasaan bolosku. Mulai dari teman sekelas sampai wali kelas yang memberikan semacam expectation. Ustadz Asrul (Almarhum). itu karena aku manjalankan kewajiban seorang murid untuk menghormati ustadz dan guru. nilai ijazahku amburadul. Kabar angin yang kudengar. Dan itu akan mendapat pahala di sisi Allah. Bimur (Almarhum). seterusnya aku lebih sering menghadiri dua kali pertemuan saja. Alhamdulillah tak terlalu berhasil.Ma’arif Bandung. sudah pasti aku nongkrong di taman bacaan terjauh dari rumah dan sekolah. Di kota lain. Toh hasilnya sama. Tadi di Kabupatenku –kata Pak Guruku– angka yang kuperoleh cukup lumayan. Makin aneh lagi setelah aku dipilih mewakili kelas untuk mengikuti cerdas-cermat tingkat sekolah. malam hari setelah maghrib sampai Isya’. Ustadz Surudji. Pertemuan pertama dan keempat kugunakan untuk ‘minggat’ ke Pelabuhan Merak. Nyai Ncah. makhraj huruf sampai langgam qira’at. Sedangkan aku cuma dapet 47 dari enam mata pelajaran. angka seperti itu mungkin terhitung kecil atau dianggap kecil. cerita tentang Jannah (surga) dan Nar (neraka) sangat berpengaruh . aku tetap mengikuti pengajian Al-Qur’an secara khusus. *** Di luar pendidikan formal versi sekuler. terhitung dari mulai alif bengkok. aku baru belajar pada enam guru ngaji. Hal itu juga melatih seseorang untuk tidak sombong alias takabur. agar aku meraih NEM terbesar se Kabupaten Serang. hilir mudik di kapal ferry sekaligus menikmati birunya selat Sunda. Sekolah kami. Teenager Disadari atau tidak. Alhamdulillah. belajar di Ibtida’iyyah lebih terkesan asal-asalan dengan berbagai faktor penyebab. Kalaupun aku mendengar dan memperhatikan Sang Guru di depan kelas. tajwid. Kalau tidak. Dari empat pertemuan dengan ustadz Asma’i. Teman seangkatan madrasahku. Ustadz Turmudzi. Sehingga sampai lulus ibtida’iyyah. Para ustadz –semoga Allah membalas kebaikan mereka semua dengan kebaikan setimpal– yang sangat berjasa itu antara lain: Kyai Mahmud. dan Al Quranul Karim cetakan Al. serta Mang Min. Kelapa Dua Serang. kabupaten lain atau provinsi lain. Harus aku sesali dan aku akui. Nilai rata-rata enam lebih dikit. waktu itu hanya menduduki juara kedua. mulai dari turutan (Juz ‘Amma) yang menggunakan metode Baghdad (Al-Qa’idah Al-Baghdadiyyah) sampai khatam AlQur’an. Kyai Hasan.

. ngaji. sedekah.. ada diantara siswa yang protes.!” Lalu kubalas. Dari perkenalan demi perkenalan itu.. tidak sedekah dan selalu berbuat keburukan akhirnya masuk neraka. Simple. aku hanya memperkenalkan nama dan asal sekolahku. Wali Kelas meminta masing-masing siswa memperkenalkan diri. Sang Putri yang menjadi juara I baca puisi pelajar SD se-Kabupaten Serang. Aku pun ngloyor ke arahnya. kalau tidak terpaksa –barangkali– para siswa tidak membelinya. yang akhirnya jadi sejarah hidup dan kenangan manis. Rasanya memang kurang enak.. Aih! Ketika masuk kelas pada Senin harinya. dia pelajar teladan tuh Pak!!!” Hotman Simatupang. Upacara bubar.. sekaligus mengganjal perut bagi yang lapar. “Selamat siang dong. adalah... Ketika lulus SD aku berniat mendaftar ke SMPN 4 Serang dan MTS Insaniyah. “Bagi-bagi rejeki. *** Ada satu peristiwa “nggak lucu”. Alternatifnya. Sedangkan si Karma yang tidak shalat. Siswa berebut ke kantin demi membasahi kerongkongan masing-masing. tidak ngaji. Otomatis hal ini menimbulkan keinginanku untuk meneruskan pendidikan negeri (sekuler). Kantin penuh. Aku malas berebut. curang.. Serang. manusia Pancasilais yang wajib bertoleransi dengan kebathilan dari penjuru manapun. tiba-tiba ‘pembaca protokol’ itu berdiri di depanku. Begitu aku akan kembali duduk. guru matematika yang kebetulan waktu itu memimpin perkenalan kami menahanku agar tidak duduk dulu.” pikirku. yang jadi protokol waktu itu adalah. tokoh Sholeh dengan amalnya yang sholeh seperti shalat. “Nggak lucu!” Sambil berlari kecil membawa bungkusan es sirup warna orange. aku segera mengucapkan.. "Hi. adalah. hanya terpisah oleh gerobak kecil tempat menata botol-botol sirup sekitar satu meter. Saat tiba giliranku.. Dia hanya menjawab. SMP favorit –yang ketika test aku ditakdirkan Allah mendapat ranking ke-4 dari 240 siswa yang diterima– itu ternyata kekurangan lokal.!” Judul puisi wajib bagi seluruh peserta lomba baca puisi yang sama-sama kami ikuti sebelumnya. Waktu itu uang Rp 50 masih bisa mendapatkan segelas es. Dalam satu upacara penutupan penataran P4 murid baru. terpaksa sambil nyengir kuda kuceritakan juga sedikit pengalaman . “Selamat pagi…” Si Dia malah bilang. aku jadi tahu kalau ‘satu A’ terdiri dari para ‘Veteran’ berbagai perlombaan di masing-masing SD dulu.. Rupanya kita sama-sama duduk di kelas satu ‘A’.. orang yang bilang “nggak lucu” itu ketemu lagi. SMP Negeri untuk urusan dunia dan Tsanawiyah untuk akhirat.. hormat pada orangtua dan kebaikan lainnya akhirnya masuk surga. Sehingga untuk murid kelas I harus menjalani kegiatan belajar pada sore harinya. Hari pertama kita masuk. Apalagi jika membaca komik berjudul Surga dan Neraka dengan peran utama bernama Sholeh dan Karma.pada diriku. aku cari tukang es yang lagi ‘manyun’. Dengan begitu berarti saat itu aku ‘siap diproses’ menjadi manusia Sekuler.. Waktu itu aku berfikiran. Ia memintaku untuk melengkapi introduction. Kenyataan berbicara lain. Belum lagi air itu kuminum. Yah.ya itu. Rupanya Si Dia juga kehausan dan punya selera yang sama.. Dalam komik bergambar itu.. “Selamat Pagi Indonesia… karya Supardi Djoko Damono. Di hari yang terik itu.

Dengan modal hanya ‘tidak meninggalkan sholat’. bahwa kelas ‘satu A’ sedang berjalan menuju kerusakan. Bahkan kuanggap sebagai ‘keharusan’ dunia remaja. Shalat Asharnya kapan? Alhamdulillah. hanya Dia. Dia tidak membiarkan masa remajaku ‘terbakar’ begitu saja oleh gelombang . Perkenalan selesai. Maha Tahu. Maghrib 17. tidak ada pelajaran lain yang aneh. bagaimana pula pergaulan di kota lain? Pergaulan yang –jika dilihat dari kacamata Islam– termasuk amburadul itu. Adalah hal yang sangat biasa jika siswa dan siswi belajar bersama. entah jadi apa.eS-De. Sarung Cap Manggis dan peci hitam cap 555-ku kerap kami pakai bergantian. Setidaknya dalam nuraniku yang masih sangat ingusan waktu itu. Tidak ada teguran sekalipun aku telah bergaul dengan bukan mahram. makan bareng-bareng.. Ha ha ha. kelas V SD aku sempat sedikit berguru pada abang kandungku –yang sampai detik buku ini kutulis tidak pernah bertemu lagi (semoga Allah memberikan hidayah). tertanam perasaan atau semacam ‘intuisi’. Naskah pidato yang kutulis sendiri pada waktu itu tak lain dari memory recall pelajaran Tarikh Nabi sewaktu di ibtida’iyyah.30 WIB. Alhamdulillah. selesai 17. sebagian besar siswa telah merobohkan tiang agama. Di eS-De udah bosan jadi Ketua Kelas. naik angkot nengok teman sakit bareng-bareng. Aku juga. Disebut masjid Den-Bek. itu karena Pak Ma’ruf kulihat rajin shalat. Protokol “ngga’ lucu” itu akhirnya resmi jadi Ketua Kelas satu A. dengan takdir Allah tidak menghalangiku untuk meraih juara I pidato se-SMP 4. empat atau lima orang. Sedangkan aku lupa.00 WIB.benar! Alhamdulillah. Kalau di kota yang terkenal religius saja sudah seperti itu. Itu semua –pada saat itu– kuanggap tidak apa-apa. hadiah dari Bunda tercinta. siswa dan siswi. membantuku tidak terlalu terseret arus kerusakan remaja awal. Soal vocab. Hadiyah Salim. Maha Pengasih.45 WIB. kemah bersama. Belajar mulai jam 13. Mereka meninggalkan shalat.. aku sangat bangga dan bersemangat saat menceritakan kepada Ayah-Bunda bahwa aku dan teman-teman. Dialah. habis nonton film bareng.. Pemberi hidayah. Aku buru-buru konsentrasi doa moga-moga bukan aku yang terpilih jadi Ketua Kelas. Satu dua pesan guru Ibtida’iyyahku. Selain pelajaran PSPB (Pendidikan Sejarah Pembohongan Bangsa) yang mencetakku menjadi Pancasilais dan Nasionalis. Acara berikutnya pemilihan Ketua Kelas. aku tak terpilih. atau gara-gara sama-sama baca puisi. Apa karena garagara beli es sirup di tempat yang sama. juga ketua regu “Rajawali”. Betapa tidak. Kalaupun saat itu aku cukup menyukai subject Bahasa Inggris. aku dan tiga orang teman sekelas memanfaatkan waktu istirahat yang sangat singkat itu untuk shalat Ashar di luar sekolah seberang jalan. Orang yang kemarin lusa bilang “Ngga’ lucu!” itu terpilih menjadi kandidat. *** Heterogenitas dunia eS-eM-Pe di jantung kota itu memang sangat mengasyikkan. Anugerah. Allah Maha Penyayang. ditambah dengan sedikit dari “Sejarah 25 Nabi dan Rasul” Ny. aku tak tahu.

lalu kemudian kami tertawa riang bersama khas remaja tanpa merasa berdosa sedikit pun. Bebas bersalaman dengan mereka tanpa merasa berdosa. Di antara beberapa organisasi Islam. ditambah keikhlasan para asatidz dan panitia. Kurasa. Uraian beliau membuatku benar-benar kaget. bahwa dalam berjalan. Aku mengerti bahwa masa-laluku adalah salah. Di situlah aku mengerti apa itu bid’ah. seluruh sekolah libur selama dua pekan. atau buruk sangka. Di situ aku mengerti bahwa hanya Islamlah satu-satunya jalan menuju kemuliaan hidup di dunia dan akhirat. Penjelasan masalah pergaulan. Bagaimana tidak. betapa sempurnanya Islam. lagian di depan banyak orang. Beliau kemudian memberikan dalil dari Al-Qur’an dan Hadits yang menjadi dasar hukum keterangannya. Astaghfirullah!!! *** . Setelah suasana reda. pada saat ustadzah di Pesantren Ramadhan memancing para peserta tentang bagaimana cara berjalan lelaki dan perempuan ketika bersama-sama? Secara spontan dan sangat ‘pe-de’ aku menjawab persis seperti yang diterangkan guru agamaku di SMP. Musibah! Bagiku. Itulah starting point yang membuatku mengerti betapa indahnya Islam. Allah menggerakkan hatiku untuk mengikutinya selama sepekan. baik sepasang maupun beberapa pasang. Saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. ada beberapa siswi yang dengan sukarela memakaikan dasi kupu-kupu di leherku. Masih segar dalam ingatanku keterangan guru agama di SMP. Muhammadiyah dan Persis bergabung mengadakan acara Pesantren Ramadhan. Nah. apa itu sunnah. betapa hebatnya Islam. Aku mulai paham dan merasakan sebuah kekhusyu’an. fair dan bersahaja. membuatku benar-benar tertusuk. Dengan dorongan kedua orangtuaku. segera kami beranggapan bahwa dia cemburu. ustadzah kemudian menjelaskan bahwa berjalan beriringan lelaki dan wanita yang bukan mahram adalah haram. Ada juga peserta yang menjawab kebalikannya. kakak serta abang.sekularisme dan materialisme bin Pancasila. menjadikan aku benar-benar tertarik. Penjelasan dan pengajaran yang ilmiah. tetapi kebanyakan idem dengan jawabanku. Bahkan setiap kali aku kebagian giliran tugas baca do’a dalam upacara bendera. ya kami jalan terus. atau ketinggalan zaman. apa arti ibadah. sedih dan sejuta perasaan lain. Jika ada yang tidak suka dengan gaya kami. dilarang dalam Islam. Baik si laki-laki di sebelah kanan atau di sebelah kiri. aku telah terbiasa bergaul dan bermain dengan siswi-siswi yang tak menutup aurat. Satu ketika seusai EBAS (Evaluasi Belajar Akhir Semester) dua. Sejak saat itu aku mulai mengerti apa arti hidup. toh kami nggak ngapangapain. ada yang memakaikan topi. itulah konflik batin pertama yang kualami. Pekan Ramadhan saat itu benar-benar penuh hidayah dan rahmat. sejak aku mengenal sekolah. Ini karena perempuan di Indonesia aturannya memang berjalan di sebelah kiri. apa itu syirik dan apa itu Islam. siswi harus di sebelah kiri dan siswa di sebelah kanan. Jadi. Padahal sebelumnya aku hanya mengerti bahwa Islam itu sekedar ritual.

Saat itu aku hanya merapatkan kedua telapak tanganku di depan dada sambil berkata. Sejak liburan panjang akhir tahun ajaran 1984/1985 dimulai. Kadang-kadang batinku ‘mengutuk’ mengapa para asatidz di Ibtida’iyyah dulu tidak memberikan pengertian yang benar tentang Islam.” Benar-benar menjengkelkan. Tapi pada siapa? Aku juga cukup jengkel begitu ingat bahwa ke sekolah harus mengenakan celana pendek warna biru di atas lutut. ketika upacara. Dunia yang jauh dari Al-Qur’an dan Sunnah. Sebenarnya. “Dih. So. Maksud pertanyaanku. pengajian oleh guru agama di lapangan basket dimulai. Jadi tidak wajib memakai jilbab. Hati kecilku waktu itu sudah bergumam gundah. kok berubah?” Benar! Ketua regu Garuda. juara kelas I sampai III disuruh berdiri di depan kelas. aku sudah berniat . menyesali masa lalu. Sedangkan di Indonesia alam dan iklimnya lain. Begitu juga guru agamaku di SMP. Para siswa dipersilakan bertanya tentang seluruh masalah agama setelah beliau berceramah sekitar setengah jam. Saat itu aku merasa berada di tengah dunia lain.. barangkali teman-teman putri yang dulu memakaikan topi dan dasi kupu-kupu warna biru. Dunia sekuler. untuk menutupi wajah dari pasir karena Arab terkenal gurun pasirnya. kecilkecil udah pada nyanyi lagu cinta.jauuh! Aku benar-benar menyesal.” Aku sempat mendengar ucapan salah seorang dari mereka. Dunia astung! Raport kenaikan kelas dibagi. aku mempunyai kekuatan dalam hati untuk tidak bersalaman dengan perempuan non-mahram.. dan ‘siswa gaul’ itu. Sejak di gerbang sekolah sampai di kelas. Aku hanya tunduk. Teman putra yang bilang “Selamat pagi” kujawab dengan. Tercengang aku.Senin.. Saat itu aku benar-benar membenci teman-teman wanita di sekolahku. Aneh. Sedangkan Islam mencintai kebersihan. Dunia yang jauh dari Islam. agak terkejut dan tersinggung ketika uluran tangan mereka tak kusambut.” Beberapa menit kemudian. telah berubah. akhirnya aku ke sekolah. Dalam secarik kertas. Apa jawaban beliau? “Jilbab adalah budaya Arab. “Assalamu'alaikum. aku harus kembali ke eS-eM-Pe E.. kali itu aku jalan kaki sambil tak berhenti memikiran dan membandingkan materi-materi di Pekan Ramadhan dan di SMP. Seperti biasa. Biasanya naik angkot. Kupikir beliau akan menerangkan kadungan surat An-Nur ayat 30-31 dan Al-Ahzab ayat 53 tentang kewajiban memakai jilbab. agar guru agama itu menjelaskan kepada seluruh siswi supaya menutup aurat mereka. penjelasannya sama sekali tidak menyentuh hati dan cenderung membosankan. “Alhamdulillah. najis. Tidak seorang pun tahu bahwa hampir sepanjang malam aku menangis. giliran disuruh ngaji pada mlongo. Bosan. “Aku juara sekuler!” Mulai hari itu. meski dengan ogah-ogahan. kutuliskan pertanyaan tentang hukum seorang wanita baligh mengenakan jilbab. Aku juga membenci diri sendiri kenapa masuk sekolah ‘Belanda’ itu? Demi menghormati dan menjaga hati orangtua. Jauuh. tak seorang pun yang kusapa. aku enggan kembali ke sekolah. pembaca doa upacara bendera. Teman putri yang bilang “Selamat pagi” pun tak kujawab. kecewa dan marah. Dunia yang sangat dekat bahkan terkurung oleh Sumber dari segala sumber hukum yang berlaku di Indonesia: adalah Pancasila.

Soalnya kami tak melihat ular.” No comment. Akhirnya peci ‘apek’ kesayanganku itu dikembalikan lagi. cakep tuh!” No time.. aku memilih ke ‘pertapaan’-ku sambil membawa buku. terdapat 3-4 anak-anak sebayaku bermain. Bismillah. tiba-tiba sepupuku mencabut kembali peciku sambil bilang.good bye SMP sekuler. tiba-tiba mata kaki kananku seperti disengat sesuatu. Tiba-tiba ada yang mencabut peci ‘sakti’ cap 555 yang bertengger di kepalaku. Kami ngobrol sebentar.ular. Sambil setengah pincang dan setengah malas. kusapukan lendir itu ke tempat luka. Aku ingin mesantren atau pindah ke sekolah PERSIS (Persatuan Islam). Kulihat agak kebiru-biruan. Orang berjilbab yang ternyata ‘kakak pernah sepupuku’ pelakunya. ukuran kakiku menjadi dua kali lebih gemuk dari kaki kiri. Pada sesi akhir acara Bazar Amal. Jalan terakhir satu-satunya adalah naik ‘kendaraan terakhir’ yang ayah miliki. Sejak SD dan Ibtida’iyyah. keinginanku untuk . Sekitar 20 meter dari tempat yang kutuju. Dia bilang. Aku turun lagi. Tepat di dekat tangga anak panggung yang terlindung dari penglihatan hadirin. Mereka bingung juga. aku terkejut begitu namaku disebut sebagai peserta terbaik Pesantren Ramadhan tahun itu. terima piagam. Saat itu. Satu di antaranya teman sekelasku waktu SD. Ada lubang kecil dan sedikit darah tapi tak mengalir. Kami berdua tak tahu pasti apa penyebab sebenarnya. Temanku tadi ikut mengantar. kamu jangan pakai peci ya! Bagusan tanpa peci. “Nanti kalau dipanggil ke depan. Tempat itu berada di tegalan yang tak terlalu jauh dari kuburan.!” Teman yang tadi mengobrol pun jadi ikut bingung. Hadirin tepuk tangan. Dalam keadaan kaki sakit. rupanya itulah ‘kebersamaan terakhir’ yang aku lampaui bersama kedua orangtuaku. Bosan. naik becak juga dilarang. naik panggung. Akhirnya kami keluarga menghadiri bazar tersebut. “Udah gitu aja.. kukeluarkan peci yang kukantongi tadi dan kukenakan kembali. Belakangan aku baru sadar. tiba-tiba langsung melorot turun. sekitar 100 meter dari rumah. Begitu Maghrib. Kakiku terasa berdenyut-denyut. *** Rasa haru dan kagum timbul saat menyaksikan murid-murid SDI (SD Islam) mementaskan kemampuan mereka menghafal hadits sekaligus terjemahannya. beberapa hari kemudian aku mendapat undangan menghadiri semacam Bazar Amal Pesantren Persatuan Islam. Setengah pincang aku berlari kecil ke rumah. Sejak menyaksikan kemahiran murid-murid Pesantren Islam itu. Berjalan kaki tak mungkin. Luar biasa. Kuambil lendirnya. Segera kumasukkan ibu jariku ke langit-langit mulutku. pikirku. Kejadiannya setelah Ashar. Nyeri. Duaduanya kemudian lari menjauh sambil teriak “Ular. Niat itu sudah kusampaikan kepada kedua orangtuaku. aku punya tempat khusus untuk menyendiri selain taman bacaan. Aku diminta naik panggung. Baru sekitar lima menitan. Dua anak yang sejak aku datang asyik menikmati mangga di atas pohonnya. Barangkali dapat ilham.

tapi sedikit. Mereka kaget dan tidak setuju dengan rencanaku itu. Biasanya aku ada di depan atau baris kedua. Sedangkan seluruh siswa mengenakan celana panjang. Bel upacara telah dipencet pertanda dimulai apel Senin di lapangan basket. yang juga teman sekolah dan tetanggaku. Tepuk tangan riuh rendah. Aku salut dengan solidaritas mereka. jika wanita baik maka negara akan baik. Jadi. mudah berubah. sebab waktu itu aku sudah mengerti apa itu riya’ dan apa itu rendah hati. Sepatu “Arista” strip kuning. sekali pun beliau tidak memaksa. Bekal dari pesantren Ramadhan bagiku menjadi beban moral. Hati manusia begitu tipis. Musibah lagi! *** Ke sekolah lagi. Alhamdulillah. teman-teman yang datang menemuiku lebih banyak lagi. Juara satunya diraih oleh kakak kelas. Pembina OSIS membacakan pengumuman yang bagiku tak surprise lagi. Kepala sekolah menyalami kami setelah memberi hadiah. II-E. Masuk sebentar. Mantap! Tahun ajaran baru 1984/1985 tiba. begitu juga dengan guru-guru. datang utusan dari sekolahku mempertanyakan masalah daftar ulang dan kelanjutan pendidikan. topi pet. apalagi jika berhadapan dengan dunia. Hatiku biasa saja. Di situ aku baru tahu aku duduk di kelas paling bontot. Lewat seminggu. Aku tidak ingin ibuku kecewa. bahwa aku akan pindah sekolah. Satu di antara mereka menyampaikan pesan sekolah bahwa aku mendapat juara umum ke-3 se SMP.pindah sekolah semakin kuat. barangkali aku seperti itu. celana biru pendek. kukatakan kepada mereka. Tidak ada yang menarik dari penjelasan ‘Pembina Upacara’ sekaligus Kepala Sekolah itu. langsung ke bagian Admin bayar daftar ulang. Ruh ke-Islaman kuat terasa. kalau mau pindah sekolah ya nanti saja setelah pengumuman. Tanpa sepengetahuan ayah ibuku. “ballighu ‘anni walau ayah” (sampaikanlah dariku walaupun satu . Namaku dipanggil maju lagi. Didorong oleh hadits. Berdiri dekat tiang bendera menghadap ke arah sekitar 600 bocah lebih siswa dan dewan guru. Kaki kananku yang belum membaik lebih menguatkan alasanku untuk tidak daftar ulang ke sekolah sekuler. anggun dan sopan. dengan teman putra dari kelas berapa pun aku adaptable. Nampaknya ibuku tertarik. yang penting datang dulu. karena memang tubuhku kecil. Tapi setelah ‘nyantri’ aku memaksa berada di barisan belakang. Ada satu topik yang cukup melekat di benakku saat itu bahwa wanita adalah tiang negara. Tak sampai sepekan. Kedatanganku sangat diharapkan dalam upacara Senin sekaligus pengumuman dan pembagian hadiah. Penentuan itu didapatkan dari hasil EBAS plus kegiatan ko dan ekstra kurikuler. kata mereka. Di sekolah itu semua siswi berjilbab. sekedar menyimpan tas di sembarang meja. Kali ini ibuku turut bicara. jika wanita rusak maka negara rusak. Rata-rata mereka menyayangkan prestasiku dan kemampuanku jika harus pindah ke sekolah lain. tas anti karat anyaman daun pandan. padahal aku juga tertarik. dasi kupu-kupu cap “kancing cepret”. Kelas II-E.

Alhamdulillah. baik putra maupun putri. Pergaulan dengan teman-teman tetap terjaga. Ada yang lucu. Seingatku. ada juga yang menarik tapi sedang dipinjam anggota perpustakaan lain. aku bermaksud pinjam buku untuk dibawa pulang. Alhamdulillah bisa membawa pulang sampai empat buku. Setelah bukubuku agama. Saat aku bicara masalah jilbab. “nggak lucu”. atau yang lainnya aku sama sekali tak tertarik. Aku . Atheist. ensiklopedia bergambar tentang alam semesta benar-benar menarik perhatianku. Aktifitas di OSIS sama sekali tidak mengganggu stabilitas prestasi belajarku. Jika ketika SD aku dibebaskan uang SPP dan BP3. satu-satunya novel yang pernah kubaca adalah. semangat membacaku semakin ‘menggila’. baik sebagai juara kelas maupun juara umum. maka kali ini aku mendapat tabanas selama setahun.999% tidak nyambung. Jadi kita nggak clash. aku berhasil menolak dengan cara yang baik. Waktu itu istilah ‘dengkulmu’ adalah istilah gaul yang sama sekali tidak berarti kasar. tetapi dia menghormati pendirianku. Kalau tak salah.” kataku. Tetapi aku biasanya nego dengan penjaga perpustakaan. Salah Asuh. Bukan main senangnya ketika diberitahu bahwa aku mendapat beasiswa Depdikbud Kabupaten Serang. Malah pergaulanku semakin luas. Salah Didik. Alhamdulillah. Ceritanya. bagaimana coba?” “Sama-sama bengkok. akhirnya aku ajak teman-teman diskusi di kelasku. Tiada hari tanpa perpustakaan. Meski waktu undangan ulang tahun dari siapapun tidak pernah kuhadiri. Tapi ya bagaimana? Mau pakai jilbab di zaman seperti itu sama halnya dengan mengharapkan surat berhenti sekolah. Kami tertawa bersama. Ada yang belum kubaca tapi tak menarik. Dari 24 siswi hanya satu yang nyambung. Meski demikian. Saat aku ajak ngobrol masalah aurat pria tiba-tiba hampir serempak ada beberapa teman nyeletuk. Entah siapa yang mulai. Saat itu. Jadi tak ada judul baru yang bisa kubaca.ayat). Aku juga tidak tertarik dengan Siti Nurbaya yang hanya tahu judulnya saja. Satu ketika aku pernah kecewa terhadap perpustakaan. kebiasaan ‘mustaka’ itu tidak membuatku menjadi ‘kuper’. ternyata buku-buku itu sudah kubaca. *** Suatu ketika aku dipanggil oleh guru elektronika yang juga pembina pramuka. 99. Sedangkan Tengelamnya Kapal Van Der Wijck Hamka. Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Buya Hamka. Satu dua orang ada yang menganggapku fanatik. teman-temanku tiba-tiba menjodoh-jodohkanku dengan ketua OSIS yang juga mantan juara baca puisi SD. “Dengkulmu. Alhamdulillah. Barangkali pendidikan agama di rumahnya cukup bagus. hampir sebagian besar buku di tempat itu pernah kubaca. jatah maksimal buku yang boleh dipinjam dalam satu kali adalah tiga judul. sekaligus pernah bilang. Ia lebih sebagai istilah keakraban. Alhamdulillah. Kami jalan masing-masing. Keragaman judul buku dan ruangan yang cukup luas membuatku sanggup bertahan lama.

*** Intifadhah Palestina dan jihad Afghanistan membuat diriku benar-benar geram dan gundah. Bentuknya mirip peta Kalimantan. Jl Juhdi No. Tapi ya bagaimana.. aku tak pernah berhenti berdoa agar Allah menggabungkanku dengan para mujahidin dan menjadikanku salah seorang syuhada. Dan yang menjadi Kaisar atau Rajanya adalah Imam Samudra. . negeri para penghuni syurga. “Zakiyah siapa yang punya. ada aku gambar peta Afghanistan. gambar itu masih tertempel di sana. sejak saat itu juga aku berhenti nonton TV dan mendengarkan musik. kini menjadi Perdana Menteri di kerajaan tentara dan mata air di surga (nama putraku berarti Tentara Allah. Saat itu juga. Tak bisa kugambarkan perasaanku. Tiga tahun kemudian doaku terkabul. pernah di bangku depan.. Di sebelah lukisan bagus itu ada rumus. tetapi barangkali istriku ingat. tiba-tiba adik-adik kelas dan kakak kelas menyanyi. Tahun 1990. Di bawah rumusrumus itu ada tumpukan buku. Banten. Tapi waktu itu umurku masih 16 tahun. untuk beli perangko kartu lebaran dan buku diary untuk kukirim ke Ketua OSIS-ku saja. aku menjadi semacam introvert. Kodeposnya lupa. waktu itu belum jadi istri) saling pandang secara reflek dan kami sama-sama tersenyum. Abdullah Azzam rahimahullah. Saat aku menikah. Tapi itu hanyalah sebuah lukisan yang sempat terpampang di kamar belajarku. aku harus menjebol tabunganku hasil beasiswa dari Depdikbud waktu itu. Rumus yang mengesankan.. Zakiyah siapa yang punya. Ketua OSIS-ku waktu itu. duduk bersebelahan. Alhamdulillah. Aku ingin segera selesai sekolah dan mencari kerja untuk mendapatkan ongkos ke Afghanistan. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.cukup terkejut saat memasuki aula. Jawa Barat. sebab dia teman sekelasku dulu. SMP Negeri 4 Serang. Aku dan istriku (sorry. Indonesia. Teman setiaku adalah Al-Qur’an dan buku-buku diniyah (agama).. Serang. aku ada membaca surat tulisan tangan dari seorang teman wanita yang kini menjadi ibu bagi anak-anakku juga anak-anaknya. Ayatur Rahman fie Jihadi Afghanistan (Tanda-tanda kekuasaan Allah dalam Jihad di Afghanistan) tulisan Dr. negeri para syuhada. kamar seorang siswa kelas 3A.. Serang. aku lulus MAN (Madrasah Aliyah Negeri) Cikulur. dan selesai membacanya selalu Aku berdoa semoga Allah menyampaikanku ke bumi Afghanistan. dan nama putriku berarti mata air di surga).. Di pintu dalam kamar belajarku. yang punya . Abdul Aziz”. Untuk mempertajam dan memantapkan doaku. dan kemudian melamun. menghayati. baru bisa membayangkan. Sejak mengenal ‘buku ajaib’ itu. Insya Allah akan tergerak hatinya untuk berjihad mengangkat senjata ke Afghanistan. 18. Lebih dari sekali buku itu kubaca. Sesekali.. Terakhir kulihat pada tahun 1995. Mereka yang sempat membaca buku itu. Di antara buku-buku itu ada sebuah buku berjudul. No Induk 8485 1027.

ia nampak interes dan antusias. tapi apa boleh buat. amplop dan sejilid kecil kertas surat berlogo Malaysian Air System. cepetan cari ongkos sekitar Rp 300 ribu. sekalipun mereka melengkapi dengan dokumen resmi dan uang tunjuk (uang jaminan selama tinggal di Malaysia). Sambil mengisi . isteri-isteri. “Maksudnya ke Afghanistan?” Dia hanya menjawab. perjalanan dilanjutkan ke Malaka. beliau memberikan uang yang aku perlukan. Setelah dia (agak) mengorek latar belakangku. *** Di atas udara dalam pesawat.” Ciaoooo!!! Segera aku pamit dan kembali ke rumah. setelah aku nyatakan bahwa aku akan ke luar negeri. Alhamdulillah. Ada perasaan ‘lain’ terhadap mantan Ketua OSIS SMPN-4 angkatan 84/85 Serang. udah dech. Ok! Lupakan itu. pembicaraan saat sampai pada topik jihad. jalan Kramat Raya 45. Insya Allah kalau antum ikhlas. “Dik. Tinggal sehari lebih sedikit di Malaysia. mau ikut nggak?” Untuk memperkuat dugaanku lalu kutanya. seingatku waktu itu. perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya. dia berkata. aku mendengarkan ceramah dari seorang da’i yang kurang aku kenal namanya. dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai. Pada waktu itu rute Dumai-Malaka terkenal sebagai jalur TKI. tepatnya masjid Al Furqan. Saat itu juga aku berjumpa dengan seseorang bernama Jabir (syahid dalam peristiwa bom Antapani Bandung). Ada sedikit sisa tabungan hasil kirim artikel berita ke Panji Masyarakat ditambah pemberian ibunda tercinta. Kuceritakan buku-buku jihad yang pernah kubaca. kaum keluargamu. Jumpa lagi sekitar tiga hari berikutnya dengan Kang Jabir. Keesokan harinya. kami berkenalan.” (At-Taubah : 24). Selangor Darul-Ehsan. kami ke Dumai dan bermalam sehari. Malaysia. Karena barangkali aku tidak memiliki tampang TKI. Aku segera teringat ayat ini: Katakanlah. para kernet udara (stewardest) menawarkan free post card. Jakarta. Keesokan sorenya kami menuju bandara Subang-Jaya. anak-anak. Tidak sedikit mereka yang ditolak oleh imigrasi Malaysia. aku baru merasakan benar-benar berat meninggalkan tanah air. adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya dan Allah tidak memberi petunjuk (hidayah) kepada orang-orang fasiq. Jakarta. Dengan bahasa Indo-Sunda. Allah akan memudahkan urusan antum. saudara-saudara.Di sebuah masjid Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Uang itu hasil usaha menjual jilbab dan busana muslimah yang kadang-kadang kubantu mencarikan bahanbahannya di Tanah Abang. “Jika bapak-bapak. Kemudian entah bagaimana ceritanya. harta kekayaan yang kamu usahakan. Begitu pesawat MAS (Malaysian Air System) take off. Aku tak terlalu enak meminta uang dari ibuku. Setelah mendapatkan paspor Jakarta dalam minggu yang sama. dengan mudah dapat melewati antrian ratusan ‘turis’ Indonesia yang akan ke Malaysia. “Tahun ini ada pemberangkatan.

Sehari semalam. Kehidupan yang betul-betul bersih sekalipun tidak disebut ‘steril’ 100 persen. ledakan mortar. sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah. Perjalanan dilanjutkan ke Peshawar pada awal pagi. *** Sungguh. sampailah kami di sebuah camp sederhana yang terkenal dengan sebutan. ‘Musik’ kami adalah rentetan peluru. kutulis sekeping post card kepada satu-satunya wanita –selain ibu dan saudariku– yang pernah singgah dan akhirnya menetap dalam kehidupanku. paid stamp post card itu akhirnya sampai juga ke tangan Sang Mantan Ketua OSIS. 1995. Sampai saat ini aku tak tahu apa nama daerah itu. kami bermalam di maehmon khana (ruang tamu) sebuah masjid Karachi. Tinggal sehari di situ. Alhamdulillah. Kalau tak salah post card itu ditulisi dengan terjemahan surat AlBaqarah ayat 214: Apakah kamu menyangka bahwa kamu akan masuk syurga. orang akan tahu siapa aku. yang kuketahui beberapa saat menjelang pernikahan kami.waktu 8 jam flight KL-KHI (Kuala Lumpur-Karachi). ‘Nyanyian’ kami adalah nasyid-nasyid (sejenis achapella) pembangkit semangat jihad. Sekali bicara. tidak mengucapkan sepatah kata pun. Melewati gunung-gunung yang indah.(anti air craft gun). satu babak kehidupan baru yang amat membahagiakan. Muaskar Khilafah. sebuah rumah gaya Paki-Afghan yang sangat sesuai dengan syariat Islam. dengan berjalan kaki dari perbatasan Pakistan-Afghanistan selama hampir 4 jam. Sepanjang perjalanan aku yang mengenakan pakaian Afghanis dan menutup seluruh wajahku kecuali mata dengan menggunakan ridah (selimut tipis). Perjalanan sepenuhnya dipimpin oleh Syahid Jabir dan dua orang Arab yang sampai saat ini tak kukenal darimana dan siapa namanya. . padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan. Wanita itu adalah mantan Ketua OSIS yang pada saat itu juga baru lulus SMA. serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan/cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya. menumpang bus dengan penumpang sebagian besarnya berbahasa ‘planet’ yang tidak pernah kukenal sama sekali. dan dentuman zigoyak dan da-scha-ka. Ba’da shubuh esok harinya. Menjelang Ashar. India. Setelah transit dua jam di Bombay. Di situ aku memulai kehidupan yang sama sekali baru dan sangat baru. perjalanan ke negeri impian para lelaki dilanjutkan. MAS yang kami tumpangi selamat landas di Karachi. dengan takdir Allah.

. Yang ada hanyalah hujan air. saat akan memulai rutinitas. Begitulah keadaannya saat pertama kali aku tiba. Saghol (serigala) melolong di tengah malam. apalagi musik-musik jahiliyah. baraan…” Segera Aku longokkan kepalaku keluar tenda. bongkahan itu ternyata benda keras yang terbuat dari air yang membeku sebesar biji nangka. maka saat itu aku salju-saljuan. tiada tangis anak kecil. Daun-daun caparkat dan cactus Afghan telah luruh. Anor (delima) tak lagi berbuah. Segera aku melompat keluar tenda menyambut kapas demi kapas salju yang terjun dari pintu-pintu langit. Khost. benar-benar ‘surga’ bagi para perindu surga kekal di akhirat.. Tiada suara wanita... gunung-gunung di sekitar kami telah berselimut salju.. di negeriku tidak ada salju. Dingin rasanya. saat itu musim gugur telah tiba. Kemudian baru kutahu kalau baraan itu artinya hujan. Mereka yang datang ke tempat ‘aneh’ seperti itu hanyalah mereka yang siap membunuh atau dibunuh kafir. Subhanallah…. “Baraaf. Saudara-saudara Afghan dan Arab hanya cengar-cengir dan cengengesan melihat polahku... begitu juga pepohonan dan bebatuan. Ya. Aku sendiri tak pernah . Subhanallah. Afghanistan menggigil. nama tempat itu. suhu udara mencapai -7 °C (minus tujuh derajat celcius). Kata penghuni lama di camp itu. Tiga hari kemudian sekitar jam enam pagi kudengar lagi teriakan saudara Afghan... Datanglah penggantinya. runtuh sudah daundaunnya. Alhamdulillah. nama benda itu. Jika dulu aku suka hujan-hujanan di kampung halaman. persis seperti bunyi lemparan benda keras. Tidak ada seorang pun bertahan lama di situ kecuali jika ia telah siap bertarung melawan kaum kafir. Di sekeliling kami tanah yang dulu berwarna coklat kini memutih. hanya akan terwujud dengan rahmat dan takdir Allah. siap berjihad demi menegakkan kalimat Allah. Selapis jaket mesti dikenakan. Menjelang delapan pagi.. panggilan setan. Purnama kelima dari saat awal aku tiba telah menjelma. jauh di bawah titik beku.. dan setelah itu lahirlah banjir. “Baraan…. baraaf. Jernih warnanya. Dan… pletak! Sebongkah benda menjitak kepalaku. Saudara-saudara Afghan berteriak. saat aku berbaring di dekat room heater.. Ya.” Penasaran kujengukkan kepala keluar tenda. suara keras bertubu-tubi menimpa atap tendaku.‘Senandung’ kami adalah lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang tak pernah berhenti selama 24 jam saling bergiliran..! Saat itu aku benar-benar menjadi ‘anak kecil’. Salju. tinggallah duri-duri dan kayunya yang kelak dibakar untuk kayu penghangat dan pemasak. Dan kesiapan mental seperti itu. baik komunis asli Uni Soviet ataupun komunis northern sebangsa Dustum –yang kini berkoalisi dengan Si Karzai di bawah ketiak Amerika dan para pengecut sekutunya. Daun-daun zaitun masih kekal bertahan.. Flat ground yang dikelilingi gunung di empat penjuru itu benar-benar menentramkan hati. Musim gugur hilang sudah. Puncaknya begitu indah. salju. Tidak ada seorang pun yang berani datang ke tempat itu kecuali ia benar-benar siap menggadaikan nyawanya di jalan Allah. tapi aku tak peduli. hampir sama dengan gambar iklan Hazeline Snow. Satu ketika sepulang belajar. Es.

Ade pun berkelebat. dan terus ke sebuah negara dengan ibukota bernama Jakarta. Waspada tetap waspada. Tanggal dan harinya lupa sudah. Cassiopia. Beberapa potong daging. The seven brother. lalu aku berwudlu.. Astaghfirullahal ‘Azhiim. ada apa ini? Segera kuambil teko kecil berisi air hangat. orang sekurus aku mengenakan sekitar 5 lapis pakaian. Ajal memang di tangan Allah. menghantar mortar. jalinan bintang berbentuk ‘W’ kubidik sebagai sasaran. Running text. kembali kusebut asma-asma-Nya. subhanallah. atau dengan siapa? Ternyata tidak ada. Satu jam kemudian kan tiba di terminal yang disebut Ciceri. Tapi di Khost dan front-front jihad lain di Afghanistan kematian terasa begitu dekat. Bukan kampus orang-orang Eropa atau Amerika yang mengisi kehidupan mereka dengan segala kemaksiatan dan kemewahan dunia. ternyata di situlah rumah seorang wanita yang tempo hari kukirim postcard. Musuh ada di segala arah. Tetapi yang jelas di malam hari. langit begitu cerah. *** Siaga tetap siaga.. Waktu sahur telah tiba.. Duh. rangkaian rasi yang terdiri dari 7 bintang telah mengambil posisinya. terus terlempar ke Asia Tenggara. Sayang kau tak duduk di sampingku kawan. Maka tibalah di sebuah tempat bernama Cinanggung. ikhwan-ikhwan yang lain segera kubangunkan. dengan atap tenda. lalu terjadilah pertempuran seru.. Di sebelah baratnya ada kota bernama Kalideres. Malam begitu panjang. 4 sobek roti nan dan sambal kentang yang telah kuhangatkan . Ya sudah ‘telan sendiri’ saja. tapi dengan siapa? Dengan saghol-saghol. shalat dua rakaat. Blok F 140. ke sebuah benua bernama Asia.. mata sukar terpejam. dan kadang-kadang 6 lapis jika ditambah jaket wool ala Eropa. Nah…. Maut sewaktu-waktu akan menjemput. Yang jelas.. Laa ilaha illallah. Tetapi ‘indah’ adalah ‘indah’. diteruskan lagi ke arah barat. katanya: Banyak cerita yang mestinya kau saksikan. Khost bukanlah kampus biasa. memuntahkan peluru.mengukur. Refleks goresan jahiliyahku kembali timbul. hanyalah demi kepentingan dunia semata.. tiba-tiba ingatanku jauh ‘terlempar’ ke alam ‘sana’. Masih ada guratan-guratan kenangan lama. Masih ada tersisa rona-rona jahiliyah. Jika mereka kuliah. *** Casio F-44-w di tanganku menunjukkan angka 4 lebih sedikit. Main salju bagiku terlalu indah. berbaring. gemintang begitu indah menantang. ‘indah’ adalah tetap ‘indah’. Seperti telah kubilang. Umurku saat itu baru menjelang dua puluh. musuh bisa menyerang. Khost adalah sekeping tanah di bentangan-bentangan bumi. sedulang nasi minyak Afghanis. kapan saja. ingin aku berbagi cerita.. penggalan syair Ebiet G. Astaghfirullah! Segera kusebut asma-Nya. Berjalan saja ke utara yang sekitar 1000 meter. Ada sebuah rumah. Sewaktu-waktu..

lagi-lagi sisa-sisa jahiliyahku mencuat. Mengadu pada teman sebaya.. Tetapi setelah itu. menghimpun ridha Allah dan syurga-Nya. segera kuingat pesan Umar bin Khattab. Pagi semakin dingin. instrospeksi atas segala apa yang terjadi dan kualami. Pisa yang sempat ngetop di masa aku eS-eM-Pe. Kenapa? Ebiet G.. Pada sorenya. Aku seolah-olah berbicara dengan sang mantan Ketua OSIS-ku itu. diriku dan Allah yang tahu. hampir selalu tak ketemu jawaban. Di musim salju tahun kedua. Saat menghisab diri yang entah untuk kesekian kali. Hanya Allah. dan hanya Allah yang Maha Tahu.. justru kenangan itu timbul di saat-saat aku sibuk. Dalam suasana ukhuwah. di tengah hujan peluru dan bau mesiu. Tetapi aku tidak..” Ya. Allah mengujiku dengan sedikit luka yang menimpa sebagian lengan dan kakiku.. Malam itu memang giliranku sebagai penyaji sahur. Sedangkan udara di luar sana kian menggigit. di tengah gelegar mortar. kujumpa jawabannya. baik dari personal. atau melihat kacamata.segera kusajikan. Dialah tempat mengadu. Ada sedikit aktivitas yang kami jalankan demi menjaga stabilitas iman dan stamina jasad. “Solve Yourself Problem !” Itu mottoku. “Hisablah dirimu sendiri sebelum kamu dihisab di akhirat kelak. Ade pasti tahu jawabannya… Teori umum mengatakan bahwa kenangan atau lamunan. Demi maintenance niat-niat suci mencari syahid.. tak dipaksa? Adakalanya kenangan itu tiba-tiba hadir saat mataku tertumbuk huruf Z. dengan penuh kesyukuran kami santap rezeki Allah itu. Tidak ada faktor pendukung secara lahir. Jumat pagi.. Hari itu. lalu mengalirlah di batinku. kini aku harus menghitung diri. atau konsultasi pada senior? No! aku bukan tipe seperti itu. Suatu hal yang semestinya sangat tidak pantas dialami oleh lelaki yang sedang mengejar bidadari sejati di alam surga nanti. Potongan syair dari lagu Tommy J. Aku sangat mengerti bahwa mengingat wanita yang bukan mahram adalah termasuk zina hati. Kini tubuhku penuh dengan luka. dalam salah satu even. aktivitas lingkungan. Gerangan apa? .. Mungkinkah kau masih mengharapkanku. biasanya timbul saat kita tidak memiliki kesibukan atau ketika waktu senggang. Sungguh aku tak mengerti mengapa hal seperti itu mesti terjadi dan kualami. Akhirnya. Tetap dosakah jika semua nostalgia itu datang secara surprise. Yang sedang mengejar ridha Allah dan surga-Nya. yang dapat memancing kenangan itu hadir kembali. hanya Allah. di saat tanganku menyandang kalashinkov. Aku berharap semoga hal ini kelak akan menjadi saksi di hari akhirat. sinar akhtab (matahari) cukup hangat. Aku diam. Mengenang masa lalu dengan mantan Ketua OSIS adalah juga termasuk dosa-dosa kecil yang akan mengotori hati.

ini ada mesiu Aku rindu Ayah Bunda.... Jika Kau takdirkan peluru menembus ulu hatiku Dan lalu aku menjumpai-Mu Terimalah ke-syahidanku Telah aku bertaubat..“SEBAB AKU ADALAH MANUSIA.” Rabbi. Ini ada peluru. kecuali kerinduan pada-Mu Dalam simpuh dan sujudku Selalu aku mengadu Jangan gugurkan pahalaku Hanya karena secuil rindu yang mengganggu Robbie. atas segala kenangan yang kuingat. Aku berkata pada-Mu Cabutlah segala rinduku. Telah aku berdoa pada-Mu Dalam hampir tiap-tiap waktuku.. Tetapi aku lebih rindu pada-Mu Saat musim salju tiba Maka rindu pun menjelma La hawla wala quwwata illa billah.. aku rindu Si Dia. .