Anda di halaman 1dari 23

BAB II ISI 1. Tinjauan Pustaka A. Batasan Penyakit Gondok a.

Definisi Penyakit Gondok Gondok merupakan pembengkakan atau benjolan besar pada leher sebelah depan (pada tenggorokan) dan terjadi akibat pertumbuhan kelenjar gondok yang tidak normal. Penyakit kelenjar gondok (PKG) bisa akibat dari kurangnya produksi hormon (hipotiroid) atau berlebihnya produksi hormon (hipertiroid) (1).

Gambar 1. Penderita Gondok b. Penyebab Penyakit Gondok Penyebab utama penyakit gondok adalah gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY). Selain itu, dapat juga disebabkan oleh beberapa hal, misalnya untuk penyebab hipotiroid, yaitu (2) : 1. Kehilangan jaringan tiroid akibat operasi atau rusak akibat radiasi.

2. Antibodi Antitiroid: bisa terjadi pada penderita diabetes atau Lupus, rheumatoid arthritis, Hepatitis kronik atau Sjogren sindrom. 3. Bawaan lahir 4. Gangguan produksi: Hashimoto tiroiditis 5. Obat-obatan: beberapa obat bisa menyebabkan hipotiroid misalnya lithium (Eskalith, Lithobid). Penyebab dari hipertiroid, yaitu (2) : 1. Grave's disease: suatu kelainan tiroid yang bersifat autoimun, artinya ada zat tertentu dalam darah yang merangsang tiroid sehingga membesar dan menghasilkan hormon yang berlebihan. 2. Peradangan kelenjar tiroid (tiroiditis): misalnya Quervain tiroiditis atau Hashimoto tiroiditis. c. Gejala Penyakit Gondok Gejala hipotiroid pada orang dewasa (2,3) : 1. Mudah capek dan kelelahan 2. Tidak tahan dingin 3. Konstipasi 4. Nyeri di lengan (Carpal tunnel syndrome) 5. Kurang nafsu makan 6. Penambahan berat badan (BB) 7. Kulit kering 8. Rambut rontok 9. Penurunan intelektual 10.Suara serak 11.Depresi 12.Gangguan haid atau haid menjadi kurang (pada wanita) Gejala-gejala hipotiroid pada anak-anak (2,3) : 1. Mirip gejala pada orang dewasa

2. Lelah 3. Gangguan pertumbuhan 4. Kecerdasan menurun Hipotiroid juga dapat terjadi pada bayi dengan gejala-gejala (2,3): 1. Konstipasi (susah Buang Air Besar) 2. Susah makan 3. Gangguan pertumbuhan 4. Kelelahan yg berat Gejala hipertiroid pada orang dewasa (2,3) : 1. Susah tidur (Insomnia) 2. Tremor (Gemetaran) 3. Gugup (Nervous) 4. Merasa kepanasan pada suhu normal atau dingin 5. Gerakan usus meningkat 6. Penurunan berat badan 7. Keringat berlebihan 8. Gangguan haid (terhenti) 9. Nyeri sendi 10.Susah konsentrasi 11.Mata kelihatan melotot. Gejala hipertiroid pada anak-anak (2,3) : 1. Mirip gejala orang dewasa 2. Kepandaian menurun 3. Gangguan tingkah laku. d. Tahapan Klasifikasi Penyakit Gondok Tingkat keparahan gondok endemik menurut yang disebabkan defisiensi yodium diklasifikasikan menurut ekskresi yodium dalam urin (mg/gr kreatinin). Tahapan dari keparahan tersebut adalah (4) :

1. Tahap 1: gondok endemik dengan rata-rata lebih dari 50 mg/gr

kreatinin di dalam urin. Pada keadaan ini suplai hormon tiroid cukup untuk perkembangan fisik dan mental yang cukup.
2. Tahap 2: gondok endemik dengan ekskresi yodium dalam urin rata-

rata 25-50 mg/gr kreatinin pada kondisi ini sekresi hormon tiroid boleh jadi tidak cukup sehingga menanggung risiko hipotiroidisme tetapi tidak sampai kreatinisme.
3. Tahap 3: gondok endemik dengan rata-rata ekskresi yodium dalam

urin kurang dari 25 mg/gr kreatinin. Pada kondisi ini populasi memiliki risiko menderita kreatinisme. Gondok juga dapat diklasifikasikan menurut pembesaran kelenjar gondok (5) :
1.

G0: kelenjar gondok normal.

2. G1: kelenjar gondok tidak tampak membesar dari jauh. Pembesaran

kelenjar tampak dari dekat dengan penderita menengadah dan diraba dengan jari. 3. G2: pembesaran kelenjar gondok tampak jelas dari jarak agak jauh.
4. G3: pembesaran kelenjar gondok dapat dilihat jelas dari jauh.

Permukaan tidak bertekstur baik pada penglihatan maupun pada rabaan. 5. G4: pembesaran kelenjar gondok tampak dengan jelas dari jauh. Permukaan bertekstur baik pada penglihatan maupun pada rabaan dengan jari. e. Kriteria Diagnostik Penyakit Gondok Indikator atau kriteria diagnostik menurut WHO, yaitu (2) :
1)

Kadar yodium dalam urin (EYU = Eksresi Yodium Urin),

yaitu proporsi EYU dibawah 100 g/L harus kurang dari 50% dan proporsi EYU dibawah 50 g/L harus kurang dari 20%.

2) Konsumsi garam beryodium oleh rumah tangga, yaitu 90% rumah

tangga menggunakan garam mengandung cukup yodium. f. Pengobatan Penyakit Gondok Pengobatan gondok dapat menggunakan garam yodium. Semua orang yang tinggal di daerah endemis (daerah yang banyak penderita penyakit gondok) harus menggunakan garam beryodium. Dengan demikian, penyakit gondok dapat dicegah dan benjolan gondoknya bisa disembuhkan. Usahakan untuk memakai garam beryodium, karena ini jauh lebih aman dan baik dalam hasil. Sedangkan dengan pengobatan tradisional dapat dijadikan pilihan dengan cara memakan kepiting atau makanan laut yang dicampur dengan sedikit ganggang dan garam beryodium. Memang hasilnya tidak sebagus menggunakan garam beryodium (2). Pengobatan farmakologis dibagi berdasarkan hipertiroid dan hipotiroid. Obat-obatan untuk hipertiroid yaitu Beta Blockers yakni dengan mengurangi tremor, gugup dan agitasi, juga menurunkan frekuensi detak jantung. Obat Propylthiouracil (PTU) memblok pembentukan hormon tiroid. Membutuhkan waktu beberapa bulan untuk memperoleh efek terapi yang sempurna. Methimazole (Tapazole) kerjanya juga memblok pembentukan hormon tiroid. Iodide (Larutan Lugol) bekerja dengan menghambat lepasnya hormon dari kelenjar yang produksi berlebihan (2). Obat-obatan untuk hipotiroid yaitu L-thyroxine (Synthroid, Levoxyl, Levothroid, Unithroid) merupakan terapi sulih hormon tiroid yang berupa bentuk sintetik dari thyroxine. L-triiodothyronine jarang dipakai karena efeknya tidak sebagus L-thyroxine. Tiroid ekstrak kurang dianjurkan karena T3 nya lebih banyak serta kadarnya bervariasi (2).

B. Faktor Risiko Penyakit Gondok a. Aspek Epidemiologi Kelompok masyarakat yang sangat rawan terhadap masalah dampak defisiensi yodium adalah Wanita Usia Subur (WUS), hamil , anak balita, dan anak usia sekolah. Faktor risiko yang mempengaruhi kejadian gondok antara lain (6): 1) Faktor Geografis dan Non Geografis GAKY sangat erat hubungannya dengan letak geografis suatu daerah, karena pada umumnya masalah ini sering dijumpai di daerah pegunungan seperti pegunungan Himalaya, Alpen, Andes dan di Indonesia gondok sering dijumpai di pegunungan seperti Bukit Barisan Di Sumatera dan pegunungan Kapur Selatan. Kekurangan yodium dalam tubuh manusia disebabkan karena keadaan tanah, air, dan bahan pangan kurang mengandung yodium. Suatu wilayah menjadi kekurangan yodium disebabkan lapisan humus tanah sebagai tempat menetapnya yodium sudah tidak ada, karena erosi tanah secara terus menerus dan sering terjadi pembakaran hutan yang mengakibatkan yodium dalam tanah hilang. Daerah yang biasanya mendapat suplai makanannya dari daerah lain sebagai penghasil pangan, seperti daerah pegunungan yang notabenenya merupakan daerah yang miskin kadar yodium dalam air dan tanahnya. Dalam jangka waktu yang lama namun pasti daerah tersebut akan mengalami defisiensi iodium atau daerah endemik yodium. 2) Pengaruh Pendidikan dan Pendapatan Peningkatan di bidang pendidikan akan mempunyai dampak yang positif terhadap derajat kesehatan masyarakat. Dengan meningkatnya tingkat pendidikan diharapkan bahwa kemampuan masyarakat dalam pembangunan kesehatan juga akan meningkat.

Tingkat pendidikan ibu rumah tangga memegang peranan penting dalam membantu perkembangan anak, bila didukung dengan pendidikan formal dan informal. Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu maka akan mudah dalam menyerap pengetahuan yang ada, misalnya dalam menyerap informasi akan gizi keluarga (3). Tanpa adanya pengetahuan gizi, akan sulit untuk menerapkan informasi yang telah didapat dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan mengenai garam beryodium yang kurang, dapat mempengaruhi dalam memahami arti penting yodium dalam tubuh. Sampai saat ini urusan rumah tangga, terutama yang berhubungan dengan cara mengurus anak dan menyiapkan makanan masih dipandang menjadi urusan wanita. Oleh karena itu dapat dilihat bahwa ibu sangat berperan penting dalam pengadaan pangan keluarga. Sehingga perilaku konsumsi pangan dalam keluarga sangat ditentukan oleh pengetahuan, sikap, dan ketrampilan ibu dalam menyediakan makanan dalam keluarga. Pengetahuan dan ketrampilan dapat diperoleh dari pengalaman yang dimiliki ibu. Dengan demikian pengetahuan akan garam beryodium oleh ibu sengatlah penting, karena akan menentukan kesehatan gizi keluarga (3). WHO menganjurkan penggunaan kehilangan yodium pada waktu memasak sebesar 20%. Penelitian lain menunjukkan kehilangan yodium pada waktu memasak tergantung dari bahan dan cara memasak yang berkisar antara 20-30%. Faktor yang mempengaruhi pendapatan adalah pekerjaan, pendidikan, masa kerja serta jumlah anggota keluarga. Tingkat pendapatan keluarga dapat diketahui dengan menghitung jumlah keseluruhan pendapatan yang diperolah dalam satu bulan dibagi dengan jumlah anggota keluarga yang tinggal dalam satu keluarga. Dengan meningkatnya pendapatan, maka terjadilah perubahan dalam susunan makanan. Tingkat

pendapatan akan mempengaruhi pola konsumsi makanan anggota keluarga. Pendapatan yang terbatas akan membatasi peluang untuk memilih jenis dan jumlah makanan yang bergizi (3). Keadaan ekonomi keluarga relatif mudah diukur dan berpengaruh besar pada konsumsi pangan, terutama pada golongan miskin. Hal ini disebabkan karena penduduk golongan miskin menggunakan sebagian besar pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan makanan. Dari sini terlihat bahwa pendapatan mempunyai peran yang penting dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Bila pendapatan keluarga tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, maka pemenuhan akan gizi yang baik akan kurang (3). b. Aspek Gizi Faktor risiko gondok dari aspek gizi antara lain (12) : 1. Kadar yodium dalam garam sehari-hari Kadar yodium dalam garam sehari adalah sekitar 25 g/hari. Kekurangan yodium timbul ketika konsumsi jauh di bawah standar yang diperlukan tubuh sehingga kelenjar tiroid tidak mampu mensekresi hormon tiroid yang cukup. 2. Konsumsi makanan yang mengandung zat goitrogen Zat goitrogenik berpengaruh terhadap penyerapan yodium apabila dikonsumsi dengan jumlah yang besar. C. Distribusi dan Frekuensi Penyakit Gondok Angka gondok nasional pada tahun 2009 masih mencapai 9,8%, jauh di atas standar WHO yang menentukan angka gondok di bawah 5%. Pada beberapa daerah seperti Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera Barat, angka gondok mencapai 30%. Saat ini terdapat 1.779 kecamatan di Indonesia yang menderita epidemik gondok dengan derajat yang bervariasi (4).

10

Telah diadakan penelitian di Indonesia pada anak sekolah dasar antara tahun 1980-1982 di 26 provinsi, didapatkan prevalensi goiter lebih dari 10% pada 68,3% dari 966 kecamatan yang diperiksa, dan di beberapa desa lebih dari 80% penduduknya dengan gondok.Pada tahun 1998 dilakukan pemeriksaan terhadap 46.000 anak sekolah dari 878 kecamatan yang telah diseleksi pada tahun 1980-1982, dibandingkan data terdahulu prevalensi gondok yang terlihat (visible goiter prevalences) menurun sekitar 37,2 sampai 50%. Tahun 1991, dilakukan survei di Indonesia bagian Timur (Maluku, Irian Jaya, NTT, Timor Timur) pada 29.202 anak sekolah dan 1749 ibu hamil, didapatkan gondok pada anak sekolah 12-13% dan ibu hamil 1639%. Kemudian pada tahun 1996, dilakukan survei di 6 propinsi, didapatkan gondok 3,1-5%, di Maluku 33%. Pada tahun 1998, mulai ada Thyro Mobile, yang memproses data ukuran kelenjar gondok dan kadar yodium dalam urin.Berdasarkan data survei pada tahun 1980-1982, diperkirakan 75.000 menderita kretin, 3,5 juta orang dengan gangguan mental, bahkan di beberapa desa 10-15% menderita kretin (4). D. Pemeriksaan Penyakit Gondok Indikator yang umum digunakan menentukan status GAKY yaitu: 1. Pemeriksaan kelenjar tiroid gondok dengan metode palpasi Metode dalam menentukan ukuran tiroid adalah melalui palpasi (perabaan). Pemeriksaan palpasi difokuskan pada anak usia dasar dengan usia 10 sampai 12 tahun. Semakin muda usia seorang anak akan lebih kecil ukuran tiroid sehingga tidak sensitif untuk pemeriksaan dengan metode palpasi (1). Urutan pemeriksaan kelenjar gondok dengan metode palpasi adalah sebagai berikut (4): a. Orang (sampel) yang diperiksa berdiri tegak atau duduk menghadap pemeriksa.

11

b. Pemeriksa melakukan pengamatan di daerah leher depan bagian bawah terutama pada lokasi kelenjar gondoknya. c. Mengamati pembesaran kelenjar gondok jika ada (termasuk tingkat II atau III). d. Jika tidak ditemukan, sampel disuruh menengadah dan menelan ludah. Hal ini bertujuan untuk mengetahui adanya pembesaran gondok atau bukan. Pada gerakan menelan, kelenjar gondok akan ikut terangkat ke atas. e. Pemeriksa berdiri di belakang sampel dan melakukan palpasi. Pemeriksa meletakkan dua jari telunjuk dan dua jari tengahnya pada masingmasing lobus kelenjar gondok. Kemudian melakukan palpasi dengan meraba menggunakan kedua jari telunjuk dan jari tengah tersebut. f. Mendiagnosis seseorang menderita gondok atau tidak. Apabila salah satu atau kedua lobus kelenjar lebih kecil dari ruas terakhir ibu jari orang yang diperiksa berarti orang tersebut normal. Apabila salah satu atau kedua lobus ternyata lebih besar dari ruas terakhir ibu jari orang yang diperiksa maka orang tersebut menderita gondok. 2. Pemeriksaan ekskresi yodium urin (EYU) atau kadar yodium urin dengan metode Ammonium Ferosulfat Asupan yodium yang berasal dari makanan 97% dibuang melalui urin dalam 24 jam paska konsumsi pangan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, metode pemeriksaan EYU digunakan untuk mengukur asupan yodium. EYU merupakan indikator yang paling dini akan terjadinya defisiensi yodium dan paling sensitif menggambarkan kecukupan yodium sehari-hari. Analisis EYU dengan ammonium ferosulfat telah diakui sebagai standar baku internasional (1).
3. Pemeriksaan Tyroid Stimulating Hormone (TSH) Neonatal dengan

pemeriksaan darah

12

TSH adalah cara untuk mengetahui adanya kretin baru pada bayi baru lahir (neonatal) dapat mendeteksi dini hipotiroid. Cara mendeteksinya dengan menggunakan bercak darah pada kertas saring (Blood Spot) (1). E. Kandungan dan Sumber Yodium Yodium di alam terdapat dalam kerak bumi dengan kandungan yang tidak merata di berbagai tempat karena terkikis oleh oleh hujan di permukaan bumi dan dibawa menuju laut oleh sungai. Yodium akan menguap dari air laut dan terkonsentrasi dalam air hujan dan jatuh kembali ke bumi. Air minum mengandung sedikit sekali yodium sehingga bukan merupakan sumber utama yodium bagi manusia (1). Laut merupakan sumber utama yodium. Oleh karena itu makanan laut merupakan sumber yodium yang baik. Kondisi daerah pantai (kandungan air dan tanah) mengandung banyak yodium sehingga tanaman yang tumbuh di daerah pantai mengandung cukup banyak yodium. Semakin jauh tanah itu dari pantai semakin sedikit pula kandungan yodiumnya, sehingga tanaman yang tumbuh di daerah tersebut termasuk rumput yang dimakan hewan sedikit sekali atau tidak mengandung yodium (1). Kadar yodium dalam bahan makanan bervariasi dan dipengaruhi oleh letak geografis, musim, dan cara memasaknya. Bahan makanan laut mengandung kadar yodium lebih banyak. Kadar yodium berbagai bahan makanan antara lain (1):
a. b. c. d.

Ikan tawar (basah) Ikan tawar (kering) Ikan laut (basah) Ikan laut (kering) Cumi-cumi (kering) Daging (basah) Susu

: 30 g/kg : 116 g/kg : 812 g/kg : 3.725 g/kg : 3.866 g/kg : 50 g/kg : 47 g/kg

e. f. g.

13

h. i.

Sayur Sereal

: 29 g/kg : 47,7 g/kg

Proses pemasakan berpengaruh terhadap kadar yodium. Kadar yodium dalam makanan akan berkurang tergantung cara memasaknya. Misalnya dalam pemasakan ikan, yaitu (1) : a. Kadar yodium ikan yang digoreng akan berkurang 25% b. Kadar yodium ikan yang dibakar akan berkurang 2,5% c. Kadar yodium ikan yang direbus (tanpa ditutupi) berkurang hingga 5-6% F. Goitrogenik Goitrogenik adalah zat yang dapat menghambat pengambilan yodium oleh kelenjar gondok, sehingga konsentrasi yodium dalam kelenjar gondok menjadi rendah. Goitrogenik dapat menghambat perubahan yodium dari bentuk anorganik ke bentuk organik. Goitrogen alami ada dalam jenis pangan yang dapat dibedakan keberadaan dari zat goitrogenik yang bersifat membahayakan. Misalnya skor 15 berbahaya dan skor 10 berbahaya jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan (7).

14

Tabel 1. Zat Goitrogenik pada Beberapa Bahan Pangan Nama Bahan Pangan Singkong Gaplek Gadung Daun Singkong Kol dan Sawi Lamtoro Daun Pepaya Rebung Daun Ketela Kecipir Terung Petai Jengkol Bawang Asam Jeruk Nipis Belimbing Wuluh Cuka Sumber: Evinaria, 2004 Zat Goitrogenik Sianida Sianida Sianida Sianida Sianida Mimosin Isothiosianat Sianida Sianida Sianida Sianida Belum Diketahui Belum Diketahui Alipatik Zat Asam Zat Asam Asam Zat Asam Skor 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 10 10 10 10 10

G. Program Pemerintah Terkait Permasalahan Gondok di Indonesia


1. Program Imunisasi Nasional menyediakan vaksin campak, gondok, dan

rubela secara gratis bagi anak yang berusia 12 bulan dan 4 tahun. Vaksin ini melindungi anak kecil terhadap ketiga penyakit ini dan diberikan pada usia 12 bulan. Dosis kedua vaksin ini diberikan pada usia 4 tahun. Semua orang yang lahir antara tahun 1966 sampai 1980 harus memeriksa status imunisasinya untuk memastikan agar pernah menerima vaksin campak. Jika orang dalam kelompok usia ini tidak mempunyai dokumentasi (catatan imunisasi pribadi) untuk 2 vaksin yang berisi campak, sebaiknya membicarakan dijalani vaksinasi campak, gondok dan rubela (MMR) dengan penyedia imunisasi. Perempuan yang sudah cukup umur, terutama

15

yang sedang mempertimbangkan kehamilan, harus berjumpa dengan dokter dan menjalani tes darah untuk rubela. Tes darah akan menunjukkan apakah diperlukan imunisasi MMR tambahan. Jika memerlukan imunisasi MMR tambahan, tes darah lebih lanjut harus dilakukan setelah imunisasi untuk memastikan agar vaksin telah memberi perlindungan. Perempuan tidak harus menerima vaksin ini jika telah hamil atau mungkin hamil dalam waktu sebulan. Penting agar perempuan menjalani tes darah untuk rubela sebelum setiap kehamilan untuk memastikan agar tingkat perlindungan masih mencukupi (8).
2. Pemenuhan Kebutuhan kapsul minyak beryodium di daerah endemik

GAKY. Secara nasional telah disepakati bahwa untuk daerah-daerah endemik GAKY berat dan sedang diberikan kapsul minyak beryodium sekali setiap tahun kepada ibu hamil, ibu menyusui, wanita usia subur (WUS), dan anak usia sekolah. Data cakupan distribusi kapsul minyak beryodium pada WUS tahun 1997 sampai dengan tahun 2002 masih kurang lengkap karena tidak semua propinsi melapor. Menurut Evaluasi Proyek IP-GAKY tahun 2003, dari sejumlah sampel WUS di daerah endemik berat dan sedang, menunjukkan bahwa cakupan distribusi kapsul minyak beryodium hanya sebesar 33%. Hal ini disebabkan karena masalah pasokan kapsul minyak beryodium yang sangat terbatas, aspek monitoring dan evaluasi yang masih lemah sehingga data tersebut tidak dilaporkan (8).
3. Pemantauan kualitas garam beryodium untuk konsumsi. Tujuan upaya ini

untuk melaksanakan sistem pemantauan kualitas garam beryodium terintegrasi di tingkat produksi, distribusi, dan konsumsi. Kegiatan yang dilakukan, yaitu (8):
a. Mensosialisasikan sistem pemantauan mutu garam beryodium dalam era

otonomi daerah secara terintegrasi antara pemantauan produksi dan distribusi garam rakyat, pengadaan, dan distribusi garam impor,

16

produksi, dan distribusi garam beryodium, pengadaan dan distribusi KIO3 dan pemantauan mutu garam di tingkat distribusi.
b. Melakukan pemantauan mutu garam di tingkat produksi, distribusi, dan

konsumsi.
c. Mengkoordinasikan hasil pemantauan secara periodik di tingkat

produksi, distribusi, dan konsumsi serta melaksanakan tindak lanjut pembinaan, pengawasan, pengumuman kepada masyarakat dan tindakan hukum bila diperlukan.
d. Melaksanakan pemantauan distribusi garam rakyat dan garam impor,

serta pengadaan dan distribusi KIO3. e. Menstandarisasi dan mensosialisasikan metode uji kadar yodium dengan cepat.
f. Mengadakan dan mendistribusikan peralatan dan bahan uji mutu garam

ke kabupaten/kota, masyarakat, dan pengusaha. 2. Perancanaan dan Evaluasi Program Pendidikan Kesehatan A. Mengenal dan Menetapkan Masalah a. Data Gondok 1) Data Umum Menurut Survei Konsumsi Garam Beryodium rumah tangga tahun 2000, 33.7% dari rumah tangga mengkonsumsi garam tetapi hanya 63.4% rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kadar garam yodium cukup (9). 2) Data Kesehatan Angka gondok nasional pada tahun 2009 masih mencapai 9,8%, jauh di atas standar WHO yang menentukan angka gondok di bawah 5%. Pada beberapa daerah seperti Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera Barat, angka gondok mencapai 30%. Saat ini

17

terdapat 1.779 kecamatan di Indonesia yang menderita epidemik gondok dengan derajat yang bervariasi (2).
B. Analisa Masalah Secara Edukatif a. Penyebab Langsung Gondok

Penyakit Gondok disebabkan oleh membesarnya kelenjar tiroid pada leher yang diperoleh dari hipotiroid ataupun hipertiroid. Akan tetapi faktor utama penyakit Gondok adalah kekurangan yodium baik dalam makanan maupun minuman (10).
b. Perilaku Sebagai Penyebab Tidak Langsung Gondok

1) Perilaku perorangan dan masyarakat yang membantu timbulnya penyakit Gondok a) Masyarakat lebih menyukai membeli garam tidak beryodium dengan alasan lebih murah b) Masyarakat tidak mengetahui cara penyimpanan dan cara memasak dengan baik sehingga kandungan yodium dalam makanan menjadi kurang
c) Kecendrungan masyarakat yang tidak membawa ke pusat pelayanan

kesehatan jika terdapat kasus gondok 2) Kelompok masyarakat yang berperilaku seperti di atas Kelompok masyarakat yang berperilaku di atas adalah ibu rumah tangga dan penduduk dewasa (9). 3) Latar belakang perilaku yang membantu timbulnya masalah Gondok a) Pengetahuan masyarakat terkait penyakit Gondok masih rendah b) Pengetahuan masyarakat di tingkat rumah tangga mengenai cara menyiapkan masakan yang benar masih minim c) Tingkat ekonomi masyarakat yang tergolong rendah sehingga memungkinkan beryodium masyarakat untuk membeli garam tanpa

18

4) Perilaku perorangan dan masyarakat yang diharapkan mengurangi timbulnya penyebaran masalah a) Memiliki pengetahuan yang benar mengenai penyakit Gondok dan penatalaksanaannya b) Memiliki pengetahuan yang benar dalam pengolahan dan penyiapan masakan dengan menerapkan garam meja
c) Membeli garam yang beryodium yang berasal dari produsen-

produsen garam yang legal 5) Kelompok masyarakat yang diharapkan berperilaku seperti di atas Kelompok masyarakat yang diharapkan berperilaku seperti di atas adalah ibu rumah tangga dan masyarakat lainnya. 6) Hambatan yang dihadapi masyarakat dalam merubah perilaku
a) Tingkat kemampuan ekonomi yang relatif rendah sehingga

masyarakat terbebani membeli garam beryodium yang relatif lebih mahal b) Pengaruh kebiasaan di dalam rumah tangga terkait cara memasak c) Garam dapur di Indonesia sebagian diproduksi oleh rakyat, sedangkan upaya fortifikasi harus dilaksanakan di pabrik karena memerlukan kontrol produksi yang ketat 7) Hal yang mendorong terjadinya perubahan perilaku a) Tenaga promosi kesehatan yang aktif mensosialisasikan garam meja

C. Menentukan Sasaran Penyuluhan a. Sasaran Primer

19

Sasaran primernya adalah kelompok masyarakat luas, baik penderita Gondok maupun keluarga penderita Gondok. b. Sasaran Sekunder Sasaran sekundernya adalah para tokoh masyarakat atau kader desa yang ada di wilayah yang bersangkutan.
c. Sasaran Tersier

Sasaran tersiernya adalah petugas kesehatan atau petugas puskesmas di daerah bersangkutan. D. Menentukan Tujuan Penyuluhan a. Tujuan Instruksional Umum Setelah diberikan penyuluhan sasaran mengetahui penyakit gondok dan penyebabnya serta kaitan kandungan yodium dalam garam mulai produksi sampai dengan saat dikonsumsi. b. Tujuan Instruksional Khusus
1) Sasaran dapat menjelaskan penyebab, gejala, pencegahan, dan

penatalaksanaan penyakit Gondok 2) Sasaran dapat menjelaskan pengaruh garam tidak beryodium terhadap kesehatan mulai produksi sampai dengan saat dikonsumsi (proses pemasakan). E. Menentukan Strategi Penyuluhan Strategi yang diambil adalah melalui dukungan sosial dengan membentuk kader-kader dari tokoh-tokoh masyarakat di daerah setempat, baik tokoh masyarakat formal maupun tokoh masyarakat informal. Tujuan dari kegiatan ini adalah agar kader sebagai jembatan antara sektor kesehatan di daerah yang bersangkutan dengan masyarakat setempat. Kegiatan mencari dukungan sosial melalui kader pada dasarnya adalah mensosialisasikan cara konsumsi garam yang benar dan

20

penatalaksanaan penderita Gondok sehingga dapat diserap dan diterima oleh masyarakat karena penyampaian pesan dengan bahasa yang mudah mereka pahami dan dari tokoh masyarakat yang mereka kenal. F. Menentukan Isi Penyuluhan a. Pengetahuan masyarakat mengenai penyebab, gejala, pencegahan, dan penatalaksanaan penyakit Gondok Penyebab utama gondok memang defisiensi yodium, tetapi sebab lain juga dikenal yaitu: goitrogen, kelebihan yodium, dan status nutrisi pada umumnya. Gejala yang umumnya muncul adalah pembesaran pada kelenjar gondok, penurunan kecerdasan, perubahan tingkah laku, bahkan terjadi kretinisme. Pencegahan dilakukan dengan penyediaan garam dapur yang difortifikasikan dengan yodium yang tersedia umum di pasar disertai dengan proses penyiapan dan pengolahan makanan yang tepat. Apabila ditemukan kerabat atau keluarga yang dicurigai menderita Gondok maka dilakukan penatalaksanaan yang benar yaitu dengan memeriksakan kondisi kesehatan ke pusat pelayanan kesehatan terdekat (2,11). b. Pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan garam dalam rumah tangga Garam dapur yang digunakan seharusnya adalah garam yang telah difortifikasi yodium. Ibu rumah tangga harus pintar dalam membeli produk garam dapur serta dengan pengolahan yang benar. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa adanya penurunan kadar yodium dalam garam yodium di tingkat rumah tangga akibat proses penyimpanan yang tidak tertutup rapat dan dalam menyiapkan masakan yang kurang benar. Hal tersebut dikarenakan sifat labil yodium yang mudah hilang oleh pemanasan dan selama proses pengolahan makanan. Strategi garam meja dirasa efektif untuk menjaga kestabilan yodium di dalam garam (6,9).

21

G. Menentukan Metode dan Tempat Penyuluhan Tempat diadakannya penyuluhan adalah di balai desa dengan pemilihan metode yang tepat berdasarkan 3 tujuan yang diharapkan, yaitu: 1) Perubahan pengetahuan Metode penyuluhan pada masalah Gondok adalah menggunakan metode pendekatan sosial dengan ceramah terhadap kader . Kader yang dimaksud adalah tokoh masyarakat, ibu PKK, ataupun remaja karang taruna wilayah setempat. 2) Perubahan Sikap Setelah pendidikan kesehatan diberikan melalui ceramah, perlu dilakukan intervensi lanjutan melalui perubahan sikap sasaran yang ingin dicapai. Intervensi lanjutan yang bisa mendukung perubahan sikap sasaran yaitu mengadakan diskusi/tanya jawab mengenai Gondok yang disertai dengan pemberian buku panduan mengenai penyakit tersebut. Buku tersebut berisi tentang penyebab masalah, tanda dan gejala, serta penanggulangan/pencegahan masalah. Tanya jawab dilakukan untuk menunjang apakah pengetahuan yang telah diberikan pada ceramah bisa diterima oleh masyarakat secara umum. 3) Perubahan Tindakan Apabila pencapaian pengetahuan serta sikap telah dilakukan, diperlukan perubahan tindakan dari kader melalui demonstrasi oleh penyuluh. Demonstrasi dapat berupa penyimpanan garam beryodium yang benar dan mengetahui garam beryodium melalui kemasan. Dengan perubahan yang diharapkan ini, masyarakat sadar tentang pencegahan Gondok serta kesadaran masyarakat membawa sanak saudara ke puskesmas apabila dicurigai menderita Gondok. H. Menentukan Media Penyuluhan a. Poster Interaktif

22

Poster intraktif adalah alat bantu penyuluhan yang berisi gambar dan tulisan, cara penyampaian pesannya dipandu oleh seorang petugas dan digunakan untuk menyampaikan pesan kepada sekelompok orang. Dikatakan poster interaktif karena dalam proses pemahaman isi pesan terjadi interaksi antara penyampai pesan dengan penerima pesan, selain itu dikatakan juga sebagai poster pembelajaran karena poster berfungsi sebagai media untuk mengajar b. Leaflet Leaflet adalah alat bantu penyuluhan, berupa lembaran kertas yang dilipat, berisi gambar/foto, tabel, grafik dan tulisan, menjelaskan tentang topik tertentu misalnya tentang malaria dan dapat digunakan sebagai media penyuluhan tanpa harus difasilitasi pemandu.

I. Menyusun Rencana Jadwal Pelaksanaan

23

J. Membuat Rencana Penilaian Prinsipnya yang akan dinilai adalah :

24

a) Evaluasi Input Penilaian terahadap strategi penyuluhan yang telah dilakukan, apakah pendekatan yang dilakukan kepada kader dalam memberi promosi kesehatan mengenai Gondok sudah tepat atau belum, dan apakah strategi tesebut sudah dapat merubah perilaku masyarakat atau belum. b) Evaluasi Proses Penilaian terhadap proses promosi kesehatan Gondok yang mengarah kepada media penyuluhan, apakah media penyuluhan tersebut dapat menimbulkan minat baca, membantu sasaran untuk mengerti akan promosi kesehatan tersebut, membantu sasaran untuk mengingat lebih baik akan promosi kesehatan tersebut, dan membantu sasaran dalam mengatasi kesulitan bahasa. c) Evaluasi Out Come penilaian terhadap hasil dari strategi, metode, dan media penyuluhan tentang Gondok, apakah hasil pengetahuan, sikap, dan norma sasaran sudah sesuai dengan tujuan dari penyuluhan, apakah hasil dari promosi kesehatan ini sudah dapat merubah perilaku masyarakat, apakah dari promosi kesehatan ini dapat merubah status kesehatan masyarakat. Selanjutnya disusun perencanaan penilaian terkait promosi kesehatan, yakni : a) Indikator yang dipakai
1) Perubahan pengetahuan dan sikap masyarakat tentang Gondok

2) Pemanfaatan garam beryodium di rumah tangga b) Waktu Penilaian setiap 1 tahun c) Cara Penilaian melalui angket dan pengamatan
d) Penilai dari puskesmas dan kader kesehatan