Anda di halaman 1dari 22

Case Report

DERMATITIS SEBOROIK

Oleh: Benor Amri Mustaqim Sulyaprilawati B. S. 0518011037 0518011071

Preseptor : dr. M. Syafei Hamzah, Sp.KK

SMF PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH H. ABDOEL MOELOEK OKTOBER 2010

I.

IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Pekerjaan Suku Agama Status : Tn. Rusdi Effendi : 31 thn : Laki-laki : Jl. Mirah Batin, Natar, Lampung Selatan : Agen Mobil : Lampung : Islam : Belum Menikah

II.

ANAMNESA Keluhan Utama Keluhan Tambahan : Rasa gatal yang hebat pada daerah leher, tangan kanan dan kedua kaki : -

Riwayat Perjalanan Penyakit Os datang ke poli kulit dan kelamin RSAM pada tanggal 16 Oktober 2010, dengan keluhan merasa gatal pada daerah leher, tangan dan kaki. Rasa gatal ini sudah dirasakan pasien sejak 1 bulan sebelum datang ke RSAM. Os mengaku pada awalnya hanya timbul bercak kemerahan pada bagian leher dan terasa gatal yang sangat hebat terutama bila timbul keringat. Rasa gatal terasa berkurang bila digaruk dan biasanya mengeluarkan air dan sedikit berminyak. Seminggu kemudian bercak kemerahan dan rasa gatal bertambah dan menyebar di daerah tangan kanan dan kedua kaki. Os mengaku suka menggaruk secara kasar pada bagian kulit yang gatal sehingga menyebabkan luka pada bagian kulit tersebut. Oleh adiknya, Os disarankan memakai salep menthol (lupa namanya) berwarna biru secara tipis pada semua daerah yang gatal.

Tetapi Os tidak mematuhinya dan mengoleskan salep tersebut secara tebal. Akibatnya, kulit Os ini berubah menjadi hitam seperti terbakar. Os mengaku keluhan ini hanya ia yang mengalami di keluarganya. Os bekerja sebagai agen mobil, tetapi terkadang Os jarang membawa uang kepada keluarganya. Os tinggal bersama ibu, keluarga kakak dan adiknya. Os mengaku memiliki penyakit asma. Karena rasa gatal yang sangat hebat dan penyakitnya tidak semuh-sembuh, Os yang ditemani keluarganya datang ke RSAM. Riwayat penyakit dahulu Os mengaku tidak pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya. Pasien mengaku memiliki riwayat penyakit asma, tetapi Os menyangkal memiliki riwayat penyakit hipertensi dan diabetes mellitus. Riwayat penyakit keluarga Os mengaku tidak ada anggota keluarga yang mengalami penyakit seperti ini. Kelauarga Os tidak memiliki riwayat penyakit hipertensi dan diabetes mellitus. III. STATUS GENERALIS Keadaan Umum Kesadaran Satus gizi Vital Sign TD Nadi RR Suhu Berat Badan : 120/90 mmHg : 72x/menit : 20x/menit : 36,5 C : 70 kg : Tampak sakit ringan : Compos mentis : Baik

Tinggi Badan Bentuk Badan Thorax Abdomen KGB

: 166 cm : gemuk : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal

IV.

STATUS DERMATOLOGIS/ VENEROLOGIS Lokasi : Regio coli posterior

Lokasi

: Regio dorsum pedis sinistra

Lokasi

: Regio dorsum pedis dextra

Lokasi

: Regio anterior antebrachii dextra

Lokasi Inspeksi

: Regio coli posterior, regio dorsum pedis dextra et sinistra, regio anterior antebrachii et manus : Makula eritematosa yang ditutupi oleh papul milier multiple diskrit berbatas tak tegas disertai skuama halus dan berminyak.

Ukuran Lesi milier

Konfigurasi

Ef. Primer Makula erithem, hiperpigmentasi

Multiple Unilateral

Ef. Sekunder Skuama Erosi Eksoriasi

V.

LABORATORIUM -

VI.

RESUME Pria 31 tahun, belum menikah, datang ke poli kulit dan kelamin RSUAM dengan keluhan gatal yang hebat sejak 1 bulan sebelum datang ke RSAM pada daerah leher, tangan kanan, dan kedua kakinya . Rasa gatal terasa berkurang bila digaruk dan biasanya mengeluarkan air dan sedikit berminyak. Os mengaku suka menggaruk secara kasar pada bagian kulit yang gatal sehingga menyebabkan luka pada bagian kulit tersebut. Oleh adiknya, Os disarankan memakai salep menthol (lupa namanya) berwarna biru secara tipis pada semua daerah yang gatal. Tetapi Os tidak mematuhinya dan mengoleskan salep tersebut secara tebal. Akibatnya, kulit Os ini berubah menjadi hitam seperti terbakar. Os mengaku keluhan ini hanya ia yang mengalami di keluarganya. Os bekerja sebagai agen mobil, tetapi terkadang Os jarang membawa uang kepada keluarganya. Os mengaku memiliki penyakit asma. Karena rasa gatal yang sangat hebat dan penyakitnya tidak semuh-sembuh, Os yang ditemani keluarganya datang ke RSAM. Berdasarkan status dermatologi, lesi berada di lokasi : regio coli posterior, regio dorsum pedis dextra et sinistra, regio anterior antebrachii dextra. Dengan efloresensi makula eritematosa yang ditutupi oleh papul milier multiple diskrit berbatas tak tegas disertai skuama halus dan berminyak. Test laboratorium tidak dilakukan.

VII.

DIAGNOSA BANDING Dermatitis Seboroik Psoriasis

Tinea Kapitis Kandidiasis Neurodermatitis VIII. DIAGNOSA KERJA Dermatitis Seboroik IX. PENATALAKSANAAN Umum :

Menjaga kebersihan diri dan lingkungan (higiene) Istirahat yang cukup (menghindari stress emosional) Diet nutrisi yang cukup (menghindari makanan yang berlemak) Tidak menggaruk pada bagian lesi yang terinfeksi Khusus :

1. Antiinflamasi : Kortikosteroid oral (Methyl Prednisolon 2x500 mg) Kortikosteroid topikal (Benoson 2x10 gr)

2. Antihistamin (Cetryzine 2x10 mg) X. PEMERIKSAAN ANJURAN Pemeriksaan Histopatologi Pemeriksaan KOH 10-20% Pemeriksaan lampu Wood

X.

PROGNOSA Quo ad vitam Quo ad funcionam Quo ad sanationam : ad bonam : ad bonam : ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Istilah dermatitis seboroik (D.S.) dipakai untuk segolongan kelainan kulit yang didasari oleh faktor konstitusi dan bertempat predileksi ditempat-tempat seboroik. Dermatitis seboroik adalah peradangan kulit yang sering terdapat pada daerah tubuh berambut, terutama pada kulit kepala, alis mata dan muka, kronik dan superfisial. Dermatitis seboroik (D.S.) atau seborrhoic eczema merupakan penyakit yang umum, kronik, dan merupakan inflamasi superfisial dari kulit, ditandai oleh pruritus, berminyak, bercak merah dengan berbagai ukuran dan bentuk yang menutup daerah inflamasi pada kulit kepala, muka, dan telinga. Daerah lain yang jarang terkena, seperti daerah presternal dada. Beberapa tahun ini telah didapatkan data bahwa sekurang kurangnya 50% pasien HIV terkena dematitis seboroik. Ketombe berhubungan juga dermatitis seboroik, tetapi tidak separah dermatitis seboroik. Ada juga yang menganggap dermatitis seboroik sama dengan ketombe.

Etiologi
Penyebabnya belum diketahui pasti. Hanya didapati aktivitas kelenjar sebasea berlebihan. Kemungkinan ada pengaruh hormon. Dermatitis seboroik dijumpai pada bayi dan pada usia pubertas. Pada bayi dijumpai hormon transplasenta meninggi beberapa bulan setelah lahir dan penyakitnya akan membaik bila kadar hormon ini menurun. Penyebab lainnya kemungkinan disebabkan oleh jamur Pityrosporum ovale. Penelitian lain menunjukan bahwa pityrosporum ovale (Malassezia ovale), jamur lipofilik, banyak pada penderita

dermatitis seboroik. Sehingga pengobatan ketokonazole 2% akan menurunkan jumlah jamur ni dan memyembuhkan penyakit. Selain itu pada dermatitis seboroik perbandingan komposisi lipid dikulit berubah, jumlah kolesterol, trigliserida, parafin meningkat; dan kadar squelen,asam lemak bebas dan wax ester menurun. Faktor-faktor lain yang disangka sebagai penyebab penyakit ini seperti iklim, genetik merupakan kelainan konstitusi berupa stasus seboroik ( seborrhoeic state ) yang rupanya diturunkan, diperkirakan juga dapat mempengaruhi onset dan derajat penyakit. Sering berasosiasi dengan meningginya suseptibilitas terhadap infeksi piogenik, tetapi terbukti mikroorganisme inilah lingkungan, hormon, neurologik. yang menyebabkan dermatitis seboroik,

Epidemiologi
Dermatitis seboroik menyerang 2% - 5% populasi. Dermatitis seboroik dapat menyerang bayi pada tiga bulan pertama kehidupan dan pada dewasa pada umur 30 hingga 60 tahun. Insiden memuncak pada umur 1840 tahun. DS lebih sering terjadi pada pria daripada wanita. Berdasarkan pada suatu survey pada 1.116 anakanak, dari perbandingan usia dan jenis kelamin, didapatkan prevalensi dermatitis seboroik menyerang 10% anak lakilaki dan 9,5% pada anak perempuan. Prevalensi semakin berkurang pada setahun berikutnya dan sedikit menurun apabila umur lebih dari 4 tahun. Kebanyakan pasien (72%) terserang minimal atau dermatitis seboroik ringan. Pada penderita AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), dapat terlihat pada hampir 35% pasien Terdapat peningkatan insiden pada penyakit Parkinson, paralisis fasial, pityriasis versicolor, cedera spinal, depresi dan yang menerima terapi psoralen ditambah ultraviolet A (PUVA). Juga beberapa obatobatan neuroleptik mungkin merupakan faktor, kejadian ini sering terjadi tetapi masih belum dibuktikan. Kondisi kronik lebih

sering terjadi dan sering lebih parah pada musim dingin yang lembab dibandingkan pada musim panas.

Patogenesis
Dermatitis seboroik berhubungan erat dengan keaktifan glandula sebasea. Glandula tersebut aktif pada bayi yang baru lahir, kemudian menjadi tidak aktif selama 9-12 tahun akibat stimulasi hormon androgen dari ibu berhenti. Dermatitis seboroik pada bayi terjadi pada umur bulan-bulan pertama, kemudian jarang pada usia sebelum akil balik dan insidensnya mencapai puncaknya pada umur 18-40 tahun, kadang-kadang pada umur tua. Dermatitis seboroik lebih sering terjadi pada pria daripada wanita. Meskipun kematangan kelenjar sebasea rupanya merupakan faktor timbulnya D.S., tetapi tidak ada hubungan langsung secara kuantitatif antara keaktifan tersebut dangan suseptibilitas untuk memperoleh D.S. pada orang yang telah mempunyai faktor predisposisi, timbulnya D.S. dapat disebabkan faktor kelelahan, stress, emosional atau infeksi.

Predileksi
Pada daerah berambut karena banyak kelenjar sebasea, antara lain pada bayi ada 3 bentuk, yaitu cradle cap, glabrous (daerah lipatan dan tengkuk) dan generalisata (penyakit Leiner) yang terbagi menjadi familial dan non-familial. Sedangkan pada orang dewasa berdasarkan daerah lesinya DS terjadi pada kulit kepala (pitiriasis sika dan inflamasi), wajah (blefaritis marginal, konjungtivitis, pada daerah lipatan/ sulcus nasolabial, area jenggot, dahi, alis), daerah fleksura (aksilla, infra mamma, umbilicus, intergluteal, paha), badan (petaloid,

10

pitiriasiform) dan generalisata (eritroderma, eritroderma eksoliatif), retroaurikula, telinga, dan dibawah buah dada.

Distribusi
Distribusinya biasanya bilateral dan simetris berupa bercak ataupun plakat dengan batas yang tidak tegas, eritem ringan dan sedang, skuama berminyak dan kekuningan. Ruamnya berbeda-beda, sering ditemukan pada kulit yang berminyak. Ruamnya berupa skuama yang berminyak,berwarna kekuningan, dengan batas yang tak jelas dan dasar berwarna merah (eritem).

Gejala klinik
Menurut usia dibagi 2 yaitu pada orang remaja dan dewasa kelainan kulit terdiri atas eritema dan skuama yang berminyak dan agak kekuningan, batas agak kurang tegas. D.S. yang ringan hanya mengenai kulit kepala berupa skuamaskuama yang halus, mulai sebagai bercak kecil yang kemudian mengenai seluruh kulit kepala dengan skuama-skuama yang halus dan kasar. Pitiriasis sika (ketombe, dandruff). Bentuk yang berminyak, pitiriasis steatoides yang dapat disertai eritema dan krusta-krusta yang tebal. Rambut pada tempat tersebut mempunyai kecenderungan rontok, mulai dari bangian verteks dan frontal. Gejala klinik khas pada D.S. ialah skuama yang berminyak dan kekuningan dan berlokasi di tempat-tempat seboroik. Pada dermatitis seboroik ringan, hanya didapati skuama pada kulit kepala. Skuama berwarna putih dan merata tanpa eritema. Dermatitis seboroik berat dapat mengenai alis mata, kening, pangkal hidung, sulkus nasolabialis, belakang telinga, daerah prestenal, dan daerah di

11

antara skapula. Blefaritis ringan sering terjadi. Bentuk yang berat ditandai dengan adanya bercak-bercak yang berskuama dan berminyak disertai eksudasi dan krusta tebal. Sering meluas ke dahi, glabela, telinga posaurikular dan leher. Pada daerah dahi tersebut, batasnya sering cembung. Pada daerah supraorbital skuama-skuama halus dapat terlihat dialis mata, kulit dibawahnya eritematosa dan gatal, disertai bercak-bercak skuama kekuningan, dapat terjadi pula blefaritis, yakni pinggir kelopak mata merah disertai skuama-skuama halus. Pada daerah pipi, hidung, dan dahi kelainan dapat berupa papul-papul. Bila lebih berkembang lagi, lesinya dapat mengenai daerah ketiak, infra mamma, sekitar pusar (umbilikus), daerah anogenital, lipatan gluteus, dan daerah inguinal. Pada bentuk yang lebih berat lagi seluruh kepala tertutup oleh krustakrusta yang kotor, dan berbau tidak sedap. Pada bayi, skuama- skuama yang kekuningan dan kumpulan debris-debris epitel yang leket pada kulit kepala disebut cradie cap. D.S dapat bersama-sama dengan akne yang berat. Jika meluas dapat menjadi eritroderma, pada bayi disebut penyakit Leiner. Pada bayi ada tiga bentuk khas yang terjadi, yaitu secara klinis, cradle cap muncul pada minggu ketiga sampai minggu keempat dua gambarannya berupa eritema dengan skuama seperti lilin pada kulit kepala. Bagian frontal dan parietal berminyak dan sering menjadi krusta yang menebal tanpa eritema. Skuama dengan mudah dapat dihilangkan dengan sering menggunakan sampo yang mengandung sulfur, asam salisil, atau keduanya (misalnya sampo Sebulex atau sampo T-gel). Menurut daerah lesinya, dermatitis seboroik dibagi tiga : 1. Seboroik kepala Pada daerah berambut, dijumpai skuama yang berminyak dengan warna kekuningan sehingga rambut saling melengket; kadang-kadang dijumpai krusta yang disebut Pityriasis Oleasa (pityriasis steatoides). Kadang-

12

kadang skuamanya kering dan berlapis-lapis dan sering lepas sendiri disebut pitiriasis sika (ketombe). Bisa juga jenis seboroik ini menyebabkan rambut rontok sehingga terjadi alopesia dan rasa gatal. Perluasan bisa sampai ke belakang telinga (retro aurikularis). Bila meluas, lesinya dapat sampai ke dahi, disebut korona seboroik. Dermatitis seboroik yang dijumpai pada kepala bayi disebut topi buaian (Cradle Cap).

2. Seboroik Muka Pada daerah mulut, palpebra, sulkus nasolabial, dagu ,dll. Terdapat makula eritem, yang diatasnya dijumpai skuama berminyak kekuning-kuningan. Bila sampai ke palpebra, bisa terjadi blefaritis. Sering pada wanita. Bila didapati didaerah berambut, seperti dagu dan atas bibir, dapat terjadi folikulitis. Hal ini sering dijumpai pada laki-laki yang sering mencukur janggut dan kumisnya. Seboroik muka didaerah jenggot disebut sikosis barbe. 3. Seboroik Badan dan Sela-sela Jenis ini mengenai daerah presternal, interskapula, ketiak, inframamma, umbilikus, krural (lipatan paha,perineum,nates). Dijumpai ruam berbentuk makula eritema yang pada permukaanya ada skuama berminyak kekuningkuningan. Pada daerah badan, lesinya bisa berbentuk seperti lingkaran dengan penyembuhan sentral. Didaerah intertrigo, kadang-kadang bisa timbul fisura sehingga menyebabkan infeksi sekunder.

Pemeriksaan penunjang

13

Pemeriksaan yang dapat dilakukan pada pasien dermatitis seboroik adalah pemeriksaan histopatologi walaupun gambarannya kadang juga ditemukan pada penyakit lain, seperti pada dermatitis atopik atau psoriasis. Gambaran histopatologi tergantung dari stadium penyakit. Pada bagian epidermis. Dijumpai parakeratosis dan akantosis. Pada korium, dijumpai pembuluh darah melebar dan sebukan perivaskuler. Pada DS akut dan subakut, epidermisnya ekonthoik, terdapat infiltrat limfosit dan histiosit dalam jumlah sedikit pada perivaskuler superfisial, spongiosis ringan hingga sedang, hiperplasia psoriasiform ringan, ortokeratosis dan parakeratosis yang menyumbat folikuler, serta adanya skuama dan krusta yang mengandung netrofil pada ostium folikuler. Gambaran ini merupakan gambaran yang khas. Pada dermis bagian atas, dijumpai sebukan ringan limfohistiosit perivaskular. Pada DS kronik, terjadi dilatasi kapiler dan vena pada pleksus superfisial selain dari gambaran yang telah disebutkan di atas yang hampir sama dengan gambaran psoriasis. Pemeriksaan KOH 10-20 %: negatif, tidak ada hifa atau blastokonidia. pemeriksaan lampu wood: fluoresen negatif (warna violet).

Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis. Pada berbagai gejala dari gambaran klinis yang ditemukan pada dermatitis seboroik juga dapat dijumpai pada dermatitis atopik atau psoriasis, sehingga diagnosis sangat sulit untuk ditegakkan oleh karena baik gambaran klinis maupun gambaran histologi dapat serupa. Oleh sebab itu, perlu ketelitian untuk membedakan DS dengan penyakit lain sebagai diferensial diagnosis. Psoriasis misalnya yang juga dapat ditemukan pada kulit kepala, kadang disamakan dengan DS, yang membedakan ialah adanya plak yang mengalami penebalan pada liken simpleks.

Dignosis banding

Psoriasis predileksi didaerah eksentor (lutut, siku dan punggung) dan kulit kepala. Pada psoriasis dijumpai skuama yang lebih tebal, kasar, berlapis-

14

lapis, putih seperti mutiara dan tak berminyak disertai tanda tetesan lilin dan auspitz. Selain itu ada gejala yang khusus untuk psoriasis. Tinea kapitis, dijumpai alopesia, kadang-kadang dijumpai keroin. Pada tinea kapitis dan tinea krusi, eritem lebih menonjol dipinggir dan pinggirnya lebih aktif dibandingkan tengahnya.

Kandidosis menyerupai D.S. pada lipatan paha dan perianal. Perbedaannya kandidosis terdapat eritema berwarna merah cerah berbatas tegas dengan satelit-satelit disekitarnya. Kandidiasis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh Candida albicans. Kandidosis kadang sulit dibedakan dengan D.S. jika mengenai lipatan paha dan perianal. Lesi dapat berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik dan basah. Perbedaannya ialah pada kandidiasis terdapat eritema berwarna merah cerah berbatas tegas dengan satelitsatelit di sekitarnya. Predileksinya juga bukan pada daerah-daerah yang berminyak, tetapi lebih sering pada daerah yang lembab. Selain itu, pada pemeriksaan dengan larutan KOH 10 %, terlihat sel ragi, blastospora atau hifa semu.

Liken simpleks kronikus adalah peradangan kulit kronis yang gatal, sirkumskrip ditandai dengan kulit tebal dan garis kulit tampak lebih menonjol (likenfikasi). Tidak biasa terjadi pada anak tetapi pada usia ke atas, berbeda dengan DS yang sering juga terjadi pada bayi dan anakanak. Timbul sebagai lesi tunggal pada daerah kulit kepala bagian posterior atau sekitar telinga. Tempat predileksi di kulit kepala dan tengkuk, sehingga kadang sukar dibedakan dengan D.S. Yang membedakannya ialah adanya likensifikasi pada penyakit ini.

Penanganan

15

Kasus-kasus yang telah mempunyai faktor konstitusi sukar disembuhkan, meskipun penyakitnya dapat dikontrol. Secara umum, terapi bertujuan untuk menghilangkan sisik dengan keratolitik dan sampo, menghambat pertumbuhan jamur dengan pengobatan anti jamur, mengendalikan infeksi sekunder dan mengurangi eritema dan gatal dengan steroid topikal.

Tindakan Umum Penderita harus diberi tahu bahwa penyakit ini berlangsung kronik dan sering kambuh. Harus hindari faktor pencetus seperti stres emosional, makanan berlemak dan sebagainya. Terapi yang efektif untuk dermatitis seboroik yaitu obat anti inflamasi (immunomodulatory), keratolitik, anti jamur dan pengobatan alternatif. 1. Obat anti inflamasi (immunomodulatory) Terapi konvensional untuk dermatitis seboroik dewasa pada kulit kepala dengan steroid topikal atau inhibitor calcineuron. Terapi tersebut pemberiannya dapat berupa shampo seperti fluocinolon (Synalar), solusio steroid topikal, losio yang dioleskan pada kulit kepala atau krim pada kulit. Kortikosteroid merupakan hormon steroid yang dihasilkan oleh korteks adrenal yang pembuatan bahan sintetik analognya telah berkembang dengan pesat. Efek utama penggunaan kortikosteroid secara topikal pada epidermis dan dermis ialah efek vasokonstriksi, efek anti inflamasi, dan efek antimitosis. Adanya efek vasokonstriksi akan mengakibatkan berkurangnya eritema. Adanya efek anti inflamasi yang terutama terhadap leukosit akan efektif terhadap berbagai dermatoses yang didasari oleh proses inflamasi seperti dermatitis. Sedangkan adanya efek antimitosis terjadi karena kortikosteroid bersifat menghambat sintesis DNA berbagai jenis sel.

16

Terapi dermatitis seboroik pada dewasa umumnya menggunakan steroid topikal satu atau dua kali sehari, sering diberikan sebagai tambahan ke shampo. Steroid topikal potensi rendah efektif untuk terapi dermatitis seboroik pada bayi terletak di daerah lipatan atau dewasa pada persisten recalcitrant seborrheic dermatitis. Topikal azole dapat dikombinasikan dengan regimen desonide (dosis tunggal perhari selama dua minggu). Akan tetapi penggunaan kortikosteroid topikal ini memiliki efek samping pada kulit dimana dapat terjadi atrofi, teleangiectasi dan dermatitis perioral. Topikal inhibitor calcineurin (misalnya oinment tacrolimus (Protopix), krim pimecrolimus (Elidel) memiliki efek fungisidal dan anti inflamasi tanpa resiko atropi kutaneus. Inhibittor calcineurin juga baik untuk terapi dimana wajah dan telinga terlibat, tetapi efeknya baru bisa dilihat setelah pemberian tiap hari selama seminggu. 2.Keratolitik. Terapi lain untuk dermatitis seboroik dengan menggunakan keratolitik. Keratolitik yang secara luas dipakai untuk dermatitis seboroik adalah tar, asam salisiklik dan shampo zinc pyrithion. Zinc pyrithion memliki efek keratolitik non spesifik dan anti fungi, dapat diberikan dua atau tiga kali per minggu. Pasien sebaiknya membiarkan rambutnya dengan shampo tersebut selama lima menit agar shampo mencapai kulit kepala. Pasien dapat menggunakannya juga untuk tempat lain yang terkena seperti wajah. 3. Antifungi Sebagian besar anti jamur menyerang Malassezia yang berkaitan dengan dermatitis seboroik. Dosis satu kali sehari gel ketokonazol (Nizoral) dalam dua minggu, satu kali sehari regimen desonide (Desowan) dapat berguna untuk dermatitis seboroik pada wajah. Shampo yang mengandung selenium sulfide (Selsun) atau azole dapat dipakai. Shampo tersebut dapat diberikan dua sampai tiga kali seminggu. Ketokonazole (krim atau gel foaming) dan terbinfin (Lamisil) oral dapat berguna. Anti jamur topikal lainnya seperti ciclopirox (Loprox) dan flukonazole (Diflucan) mempunyai efek anti inflamasi juga.

17

Anti jamur (selenium sulfide, pytrithion zinc, azola, sodium sulfasetamid dan topical terbinafin) dapat menurunkan kolonisasi oleh ragi lipopilik. 4. Pengobatan Alternatif Terapi alami menjadi semakin popular. Tea tree oil (Melaleuca oil) merupakan minyak essensial dari seak belukar Australia. Terapi ini efektif dan ditoleransi dengan baik jika digunakan setiap hari sebagai shampo 5%.

Prognosis
Dermatitis seboroik dapat sembuh sendiri dan merespon pengobatan topikal dengan baik. Namun pada sebagian kasus yang mempunyai faktor konstitusi, penyakit ini agak sukar untuk disembuhkan, meskipun terkontrol.

Kesimpulan
Dermatitis seboroik adalah dermatosis papuloskuamosa kronik yang bisanya mudah ditemukan. Penyakit ini dapat menyerang anak-anak maupun dewasa. Secara garis besar, gejala klinis DS bisa terjadi pada bayi dan orang dewasa. Pada bayi ada tiga bentuk, yaitu cradle cap, glabrous (daerah lipatan dan tengkuk) dan generalisata (penyakit Leiner). Sedangkan pada orang dewasa berdasarkan daerah lesinya DS terjadi pada kulit kepala, wajah, daerah fleksura, badan dan generalisata. Diagnosis sulit ditegakkan karena banyaknya penyakit lain yang gambaran klinis dan histopatologisnya serupa. Secara umum terapi bertujuan untuk menghilangkan sisik dengan keratolitik dan sampo, menghambat pertumbuhan jamur dengan pengobatan anti jamur, mengendalikan infeksi sekunder dan mengurangi eritema dan gatal dengan steroid topikal. Pasien harus diberitahu bahwa penyakit ini berlangsung kronik dan sering kambuh, harus

18

dihindari faktor pencetus, seperti stress emosional, makanan berlemak, dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Eastern, Joseph. 2009. Herpes Zoster. www.emedicinemedscape.com. diakses pada tanggal 16 Oktober 2010
Fitpatricks, et all. 2008. Dermatology In General Medicine 7th Edition. USA. Juanda, Adhi. 2006. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 4. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Lumbantobing, S.M. 2006. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Siregar, R.S. 2002. Atlas berwarna Saripati Penyakit Kulit Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

19

DISKUSI ANALISIS KASUS

1. Apakah diagnosa penyakit ini sudah tepat? Diagnosa penyakit ini sudah tepat berdasarkan: Hasil anamnesa : Os bekerja sebagai agen mobil, tetapi terkadang dia jarang membawa uang hasil pekerjaannya. Selain itu di usianya yang sekarang ini, Os belum menikah dan masih tinggal bersama ibu, keluarga kakaknya, serta adiknya. Hal ini menyebabkan tekanan tersendiri bagi Os. Pemeriksaan kulit Lokalisasi : Tempat-tempat yang banyak mengandung kelenjar sebasea (regio coli posterior/tengkuk kepala, regio dorsum pedis sinistra et dextra, regio anterior antebrachii dextra) semua sesuai dengan teori yang ada. Efloresensi : Makula eritematosa yang ditutupi oleh papul milier multiple diskrit berbatas tak tegas disertai skuama halus dan berminyak. Pada lesi kadang-kadang ditemukan erosi dengan krusta yang sudah mengering berwarna kekuningan.

20

2. Apakah pengobatan pada penyakit ini sudah tepat? Pengobatan pada pasien ini sudah tepat yaitu : a. Umum : memberikan edukasi (konseling) yang berkaitan dengan : Menjaga kebersihan diri dan lingkungan (higiene) Istirahat yang cukup (menghindari stress emosional) Diet nutrisi yang cukup (menghindari makanan yang berlemak) Tidak menggaruk pada bagian lesi yang terinfeksi

Penderita harus diberi tahu bahwa penyakit ini berlangsung kronik dan sering kambuh. Harus hindari faktor pencetus seperti stres emosional, makanan berlemak dan sebagainya. b. Khusus :

1. Antiinflamasi : Kortikosteroid oral (Methyl Prednisolon 2x500 mg) sampai keadaan membaik, lalu dosis diturunkan secara bertahap Kortikosteroid topikal (Benoson 2x10 gr) 2. Antihistamin (Cetryzine 2x10 mg) untuk menekan rasa gatal 3. Bagaimana edukasi pada pasien tersebut? Edukasi atau pesan yang disampaikan ke pasien tersebut untuk menghindari faktor pencetus dan semua faktor yang dapat memperberat seperti: makanan berlemak, stress emosional, dan sebagainya. Bila terkena didaerah kepala, pasien harus melakukan perawatan rambut dengan cara sering mencuci dan mebersihkan kepala dengan menggunakan shampoo. 4. Bagaimana menyingkirkan diagnosa banding yang ada? Untuk menyingkirkan diagnosa banding dapat dilakukan pemeriksaan kulit:

Psoriasis predileksi didaerah eksentor (lutut, siku dan punggung) dan kulit kepala. Pada psoriasi dijumpai skuama yang lebih tebal, kasar, berlapis-

21

lapis, putih seperti mutiara dan tak berminyak disertai tanda tetesan lilin dan auspitz. Selain itu ada gejala yang khusus untuk psoriasis. Tinea kapitis, dijumpai alopesia, kadang-kadang dijumpai keroin. Pada tinea kapitis dan tinea krusi, eritem lebih menonjol dipinggir dan pinggirnya lebih aktif dibandingkan tengahnya.

Kandidosis menyerupai D.S. pada lipatan paha dan perianal. Perbedaannya kandidosis terdapat eritema berwarna merah cerah berbatas tegas dengan satelit-satelit disekitarnya. Kandidiasis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh Candida albicans. Kandidosis kadang sulit dibedakan dengan D.S. jika mengenai lipatan paha dan perianal. Lesi dapat berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik dan basah. Perbedaannya ialah pada kandidiasis terdapat eritema berwarna merah cerah berbatas tegas dengan satelitsatelit di sekitarnya. Predileksinya juga bukan pada daerah-daerah yang berminyak, tetapi lebih sering pada daerah yang lembab. Selain itu, pada pemeriksaan dengan larutan KOH 10 %, terlihat sel ragi, blastospora atau hifa semu.

Lesi kulit pada neurodermatitis terlihat tebal dan garis kulit tampak lebih menonjol (likenifikasi) menyerupai kulit batang kayu. Lesi awalnya biasanya tunggal, berupa plak eritematosa, sedikit edematosa yang lambat laun akan menhilang, bagian tengah berskuama dan menebal, likenifikasi dan eksoriasi; sekitarnya hiperpigmentasi, batas dengan kulit normal tidak jelas. Gambaran klinis ini dipengaruhi juga oleh lokasi dan lamanya lesi. Sedangakan pada dermatitis seboroik tidak terlihat likenifikasi melainkan skuama yang berlapis-lapis dan berminyak.

22