Anda di halaman 1dari 9

BAB II TINJAUAN TEORITIS

Askep pada pasien Anemia sel bulan sabit 2.1 Pengertian Sel Bulan Sabit Anemia sel sabit adalah sejenis anemia kongenital dimana sel darah merah berbentuk menyerupai sabit, karena adanya hemoglobin abnormal. (Noer Sjaifullah H.M, 1999, hal 535). 2.2 Etiologi Hal-hal yang dapat menjadi penyebab anemia sel sabit adalah : a. Infeksi b. Disfungsi jantung c. Disfungsi paru d. Anastesi umum e. Dataran tinggi f. Menyelam 2.3 Patofisiologi Defeknya adalah satu substitusi asam amino pada rantai beta hemoglobin karena hemoglobin A normal mengandung dua rantai alfa dan dua rantai beta, maka terdapat dua gen untuk sintesa tiap rantai. Trail sel sabit hanya mendapat satu gen normal, sehingga sel darah merah masih mampu mensintesa kedua rantai beta, jadi mereka mempunyai hemoglobin A dan S sehingga mereka tidak menderita anemia dan tampak sehat. Apabila dua orang dengan trait sel sabit sama menikah, beberapa anaknya bila akan membawa dua gen abnormal dan mempunyai rantai hemoglobin S, ada maka anak akan menderita anemia sel sabit. (Smeltzer C Suzanne, 2002, hal : 943 944). Manifestasi klinik 1. Sistem jantung : nafas pendek, dispnea sewaktu kerja berat, gelisah 2. Sistem pernafasan : nyeri dada, batuk, sesak nafas, demam, gelisah 3. Sistem saraf pusat : pusing, kejang, sakit kepala, gangguan BAK dan BAB 4. Sistem genitourinaria : nyeri pinggang, hematuria 5. Sistem gastrointestinal : nyeri perut, hepatomegali, demam 6. Sistem okular : nyeri, perubahan penglihatan, buta 7. Sistem skeletal : nyeri, mobilitas berkurang, nyeri dan bengkak

2.4

pada lengan dan kaki.

2.5

Pemeriksaan diagnostik a) Pemeriksaan darah lengkap . b) Pemeriksaan pewarnaan SDM : menunjukkan sabit sebagian atau lengkap, sel bentuk bulan sabit. c) Tes tabung turbiditas sabit : pemeriksaan rutin yang menentukan adanya hemoglobin S, tetapi tidak membedakan antara anemia sel sabit dan sifat yang diwariskan (trait) d) Elektroforesis hemoglobin : mengidentifikasi adanya tipe hemoglobin abnormal dan membedakan antara anemia sel sabit dan anemia sel trait. e) LED : meningkat f) GDA : dapat menunjukkan penurunan PO2 g) Bilirubin serum : meningkat h) LDH : meningkat i) IVP : mungkin dilakukan untuk mengevaluasi kerusakan ginjal j) Radiografik tulang : mungkin menunjukkan perubahan tulang k) Rontgen : mungkin menunjukkan penipisan tulang Penatalaksanaan medis Sekitar 60 % pasien anemia sel sabit mendapat serangan nyeri yang berat hampir terus-menerus dan terjadinya anemia sel sabit selain dapat disebabkan karena infeksi dapat juga disebabkan oleh beberapa faktor misalnya perubahan suhu yang ekstrim, stress fisis atau emosional lebih sering serangan ini terjadi secara mendadak. Orang dewasa dengan anemia sel sabit sebaiknya diimunisasi terhadap pneumonia yang disebabkan pneumokokus. Tiap infeksi harus diobati dengan antibiotik yang sesuai. Transfusi sel darah merah hanya diberikan bila terjadi anemia berat atau krisis aplastik Pada kehamilan usahakan agar Hb berkisar sekitar 10 12 g/dl pada trimester ketiga. Kadar Hb perlu dinaikkan hingga 12 14 g/dl sebelum operasi. Penyuluhan sebelum memilih teman hidup adalah penting untuk mencegah keturunan yang homozigot dan mengurangi kemungkinan heterozigot. Komplikasi Infeksi sering terjadi dan dapat berlangsung fatal pada masa anak-anak kematian mendadak dapat terjadi karena krisis sekuestrasi dimana terjadi pooling sel darah merah ke RES dan kompartemen vaskular sehingga hematokrit mendadak menurun. Pada orang dewasa menurunnya faal paru dan ginjal dapat berlangsung progresif. Komplikasi lain berupa infark tulang, nekrosis aseptik kaput

2.6

2.7

femoralis, serangan-serangan priapismus dan dapat berakhir dengan impotensi karena kemampuan ereksi. Kelainan ginjal berupa nekrosis papilla karena sickling dan infaris menyebabkan hematuria yang sering berulang-ulang sehingga akhirnya ginjal tidak dapat mengkonsentrasi urine. Kasus-kasus Hb S trait juga dapat mengalami hematuria. 2.8 Pengobatan Sampai saat ini belum diketahui ada pengobatan yang dapat memperbaiki pembentukan sabit, karena itu pengobatan secara primer ditujukan untuk pencegahan dan penunjang. Karena infeksi tampaknya mencetuskan krisis sel sabit, pengobatan ditekankan pada pencegahan infeksi, deteksi dini dan pengobatan segera setiap ada infeksi pengobatan akan mencakup pemberian antibiotik dan hidrasi dengan cepat dan dengan dosis yang besar. Pemberian oksigen hanya dilakukan bila penderita mengalami hipoksia. Nyeri hebat yang terjadi secara sendiri maupun sekunder terhadap adanya infeksi dapat mengenai setiap bagian tubuh. Tranfusi hanya diperlukan selama terjadi krisis aplastik atau hemolitis. Transfusi juga diperlukan selama kehamilan. Penderita seringkali cacat karena adanya nyeri berulang yang kronik karena adanya kejadian-kejadian oklusi pada pembuluh darah. Pada kelompok penderita terdapat insiden yang tinggi terhadap ketergantungan obat, terdapat juga insiden yang tinggi atas sulitnya mengikuti sekolah dan melakukan pekerjaan. Asuhan Keperawatn pada pasien dengan Anemia Sel Bulan Sabit 1. Pengkajian Data yang perlu dikumpulkan pada klien dengan anemia adalah sebagai berikut : a. Identifikasi klien : nama klien, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku / bangsa, pendidikan, pekerjaan, dan alamat. b. Identitas penanggung c. Keluhan utama dan riwayat kesehatan masa lalu Keluhan utama : pada keluhan utama akan nampak semua apa yang dirasakan klien pada saat itu seperti kelemahan, nafsu makan menurun dan pucat. d. Riwayat kesehatan masa lalu : riwayat kesehatan masa lalu akan memberikan informasi kesehatan atau penyakit masa lalu yang pernah diderita,pemerisaan fisik. e. Aktivitas / istirahat Gejala : Keletihan / kelemahan terus-menerus sepanjang hari. Kebutuhan tidur lebih besar dan istirahat. f. Sirkulasi Gejala : Palpitasi atau nyeri. Tanda : Tekanan darah menurun, nadi lemah, pernafasan

2.9

g. h.

i. j. k.

lambat, warna kulit pucat atau sianosis, konjungtiva pucat. Eliminasi Gejala : Sering berkemih, nokturia (berkemih malam hari). Makanan / cairan Gejala : Nafsu makan menurun. Tanda : Penurunan berat badan, turgor kulit buruk dengan bekas gigitan, tampak kulit dan membran mukosa kering. Neurosensori Gejala : Sakit kepala / pusing, gangguan penglihatan. Tanda : Kelemahan otot, penurunan kekuatan otot. Keamanan Gejala : Riwayat transfusi. Tanda : Demam ringan, gangguan penglihatan. Pernafasan Gejala : Dispnea saat bekerja. Tanda : Mengi.

2.

Pemeriksaan penunjang a. Jumlah darah lengkap (JDL) : leukosit dan trombosit menurun. b. Retikulosit : jumlah dapat bervariasi dari 30 % 50 %. c. Pewarnaan SDM : menunjukkan sebagian sabit atau lengkap. d. LED : meningkat e. Eritrosit : menurun f. GDA : dapat menunjukkan penurunan PO2 g. Billirubin serum : meningkat h. LDH : meningkat i. TIBC : normal sampai menurun f. IVP : mungkin dilakukan untuk mengevaluasi kerusakan ginjal g. Radiografik tulang : mungkin menunjukkan perubahan tulang h. Rontgen : mungkin menunjukkan penipisan tulang. Data fokus 1. Data Subyektif a. Keletihan / kelemahan. b. Nokturia c. Nafsu makan menurun d. Nyeri pada punggung. e. Sakit kepala f. Berat badan menurun. g. Gangguan penglihatan 2. Data Obyektif a. Konjungtiva pucat. b. Gelisah. c. Warna kulit pucat. d. Gangguan gaya berjalan.

3.

e. f. g.

Tekanan darah menurun. Demam ringan. Eritrosit menurun, Bilirubin serumen : meningkat,leukosit dan trombosit menurun,LDH meningkat.

4.

Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan diogsigenasi jaringan (Hb menurun). 2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan fungsi / gangguan pada sum-sum tulang. 3. Aktifitas intolerance berhubungan dengan kelemahan otot. 4. Integritas kulit berhubungan dengan menurunnya aliran darah ke jaringan. 5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit. 6. Kecemasan / kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya. Intervensi Keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan dioksigenasi jaringan Tujuan : Tidak merasakan nyeri atau nyeri berkurang. Tindakan keperawatan : a. Kaji tingkat nyeri Rasional : Dengan mengkaji tingkat nyeri dapat mempermudah dalam menentukan intervensi selanjutnya. b. Anjurkan klien teknik nafas dalam Rasional : Dengan menarik nafas dalam memungkinkan sirkulasi O2 ke jaringan terpenuhi. c. Bantu klien dalam posisi yang nyaman Rasional : Mengurangi ketegangan sehingga nyeri berkurang. d. Kolaborasi pemberian penambah darah Rasional : Membantu klien dalam menaikkan tekanan darah dan proses penyembuhan. 2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan fungsi / gangguan pada sum-sum tulang. Tujuan : Perfusi jaringan adekuat Tindakan keperawatan : a. Ukur tanda-tanda vital Rasional : Untuk mengetahui derajat / adekuatnya perfusi jaringan dan menentukan intevensi selanjutnya. b. Tinggikan kepala tempat tidur klien Rasional : Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler. c. Anjurkan klien untuk menghentikan aktivitas bila

5.

3.

terjadi kelemahan. Rasional : Stres kardiopulmonal dapat menyebabkan kompensasi. Aktifitas intolerance berhubungan dengan kelemahan otot. Tujuan : aktifitas toleransi, dengan kriteria : klien bisa melakukan aktivitas sendiri. Tindakan keperawatan: a. Kaji tingkat aktifitas klien Rasional : Untuk mengetahui aktivitas yang dilakukan klien dan untuk menetukan intervensi selanjutnya. b. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien Rasional : Untuk membantu klien dalam memenuhi kebutuhannya. c. Bantu pasien dalam melakukan latihan aktif dan pasif Rasional : Untuk meningkatkan sirkulasi jaringan. d. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan ADLnya Rasional : Dengan bantuan perawat dan keluarga klien dapat memenuhi kebutuhannya. e. Berikan lingkungan tenang Rasional : Meningkatkan istirahat untuk menurunkan regangan jantung dan paru-paru.

4. Integritas kulit berhubungan dengan menurunnya aliran darah ke jaringan. Tujuan : Mempertahankan integritas kulit dengan kriteria : kulit segar, sirkulasi darah lancar Tindakan keperawatan : a. Kaji integritas kulit, catat pada perubahan turgor, gangguan warna Rasional : Kondisi kulit dipengaruhi oleh sirkulasi, nutrisi dan imobilitas. b. Anjurkan permukaan kulit kering dan bersih Rasional : Area lembab, terkontamiansi memberikan media yang sangat baik untuk pertumbuhan organisme patogenik. c. Ubah posisi secara periodik Rasional : Meningkatkan sirkulasi ke semua area kulit membatasi iskemia jaringan / mempengaruhi hipoksia selular. d. Tinggikan ekstremitas bawah bila duduk Rasional : Meningkatkan aliran balik vena menurunkan statis vena / pembentukan edema. 5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit Tujuan : Mencegah / menurunkan resiko infeksi Tindakan keperawatan: a. Berikan perawatan kulit. Rasional : Menurunkan resiko kerusakan kulit / jaringan

6.

dan infeksi. b. Dorong perubahan posisi / ambulasi yang sering Rasional : Meningkatkan ventilasi semua segmen paru dan membantu mobilisasi sekresi. c. Tingkatkan masukan cairan adekuat Rasional : Membantu dalam mengencerkan sekret pernafasan untuk mempermudah pengeluaran dan mencegah statis cairan tubuh. d. Pantau suhu, catat adanya menggigil dan takikardia. Rasional : Adanya proses inflamasi / infeksi membutuhkan evaluasi / pengobatan. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya Tujuan : Memahami tentang penyakitnya, mau menerima keadaan penyakitnya, klien tidak bertanya tentang penyakitnya Tindakan keperawatan: a. Berikan informasi tentang penyakitnya Rasional : Memberikan dasar pengetahuan sehingga pasien dapat membuat pilihan yang tepat, menurunkan ansietas dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program terapi. b. Kaji pengetahuan pasien tentang penyakitnya Rasional : Memberi pengetahuan berdasarkan pola kemampuan klien untuk memilih informasi c. Dorong latihan rentang gerak dan aktivitas fisik teratur dengan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. Rasional : Mencegah demineralisasi tulang dan dapat menurunkan resiko fraktur.

DAFTAR PUSTAKA 1.Doenges, E. M, Mary F.M, Alice C.G, (2002), Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta. 2.Smeltzer C. Suzanne, Bare G. Brendo, (2002), Keperawatan Medikal Bedah, vol. 3, EGC : Jakarta. 3.Price A. S, Wilson M. Lorraine, (1995), Patofisiologi, vol. 2, EGC : Jakarta. 4.Hoffbrand V.A, Pettit E.J, (1996), Kapita Selekta Hematologi, EGC : Jakarta. 5.Hall and Guyton, (1997), Fisiologi Kedokteran, EGC : Jakarta. 6.Noer Sjaifullah H. M, (1999), Ilmu Penyakit Dalam, jilid II, FKUI, Jakarta. 7.http://askep-askeb.cz.cc/2010/01/askep-anemia-selsabit.html#ixzz0iR8SQZ3Q