Anda di halaman 1dari 121

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA Jalan Lingkar Barat, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta 55183 Telp. 0274-387656 (Hunting) Fax.

0274-381656

VCC VCC POWER R1 1 2 J1 C R2 4K7 D3 1 470 LED D0 2 S1 RESET C3 10u RST 9 1 2 3 4 5 6 7 8 P0 P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 VCC 31 U4 EA/VPP RST P0.0/AD0 P0.1/AD1 P0.2/AD2 P0.3/AD3 P0.4/AD4 P0.5/AD5 P0.6/AD6 P0.7/AD7 39 38 37 36 35 34 33 32 DATA0 DATA1 DATA2 DATA3 DATA4 DATA5 DATA6 DATA7

P1

SERIAL COM

PELATIHAN MIKROKONTROLER ATMEGA8535


1N4002 HEADER 5 1 2 3 4 5 P1.0 P1.1 P1.2 P1.3 P1.4 P1.5 P1.6 P1.7 A GND INT0 INT1 TIM0 TIM1 12 13 14 15 11 10 19 18 1 6 2 7 3 8 4 9 5 U6 RX1 TX1 8 13 7 14 R2IN R1IN T2OUT T1OUT C+ JP4 T1IN R1OUT T2IN R2OUT C2+ P3.2/INTO P3.3/INT1 P3.4/TO P3.5/T1 P3.1/TXD P3.0/RXD XTAL1 XTAL2 P2.0/A8 P2.1/A9 P2.2/A10 P2.3/A11 P2.4/A12 P2.5/A13 P2.6/A14 P2.7/A15 21 22 23 24 25 26 27 28 ADD8 ADD9 ADD10 ADD11 ADD12 ADD13 ADD14 ADD15 ALE PSEN RD WR 11 12 10 9 T1 R1 X1 1uF 16V 1 4 1uF 16V + C5 ALE/PROG PSEN P3.7/RD P3.6/WR 30 29 17 16 + C4 12MHz AT89C51 3 2 C1V+ MAX232 C25 1uF 16V + C8 V6 1uF 16V C9 + 30p C6 30p C7

www.umy.ac.id

www.iswantodosen.blogspot.com

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PENGENALAN BAHASA C
1. PENDAHULUAN
Bahasa C pertama kali digunakan di komputer Digital Equipment Corporation PDP-11 yang menggunakan sistem opersi UNIX C adalah bahasa yang standar, artinya suatu program yang ditulis dengan bahasa C tertentu akan dapat dikonversi dengan bahasa C yang lain dengan sedikit modifikasi. Standar bahasa C yang asli adalah standar dari UNIX. Patokan dari standar UNIX ini diambil dari buku yang ditulis oleh Brian Kerningan dan Dennis Ritchie berjudul The C Programming Language, diterbitkan oleh Prentice-Hall tahun 1978. Deskripsi C dari Kerninghan dan Ritchie ini kemudian kemudian dikenal secara umum sebagai K dan R C

2.

PENULISAN PROGRAM BAHASA C


Program Bahasa C tidak mengenal aturan penulisan di kolom tertentu, jadi bisa

dimulai dari kolom manapun. Namun demikian, untuk mempermudah pembacaan program dan untuk keperluan dokumentasi, sebaiknya penulisan bahasa C diatur sedemikian rupa sehingga mudah dan enak dibaca. Berikut contoh penulisan Program Bahasa C: #include <mega8535.h> #include <delay.h> main () { }

-1-

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Program dalam bahasa C selalu berbentuk fungsi seperti ditunjukkan dalam main

(). Program yang dijalankan berada di dalam tubuh program yang dimulai dengan tanda kurung buka { dan diakhiri dengan tanda kurung tutup }. Semua yang tertulis di dalam tubuh program ini disebut dengan blok. Tanda () digunakan untuk mengapit argumen suatu fungsi. Argumen adalah suatu nilai yang akan digunakan dalam fungsi tersebut. Dalam fungsi main diatas tidak ada argumen, sehingga tak ada data dalam (). Dalam tubuh fungsi antara tanda { dan tanda } ada sejumlah pernyataan yang merupakan perintah yang harus dikerjakan oleh prosesor. Setiap pernyataan diakhiri dengan tanda titik koma ; Baris pertama #include <> bukanlah pernyataan, sehingga tak diakhiri

dengan tanda titik koma (;). Baris tersebut meminta kompiler untuk menyertakan file yang namanya ada di antara tanda <> dalam proses kompilasi. File-file ini (berekstensi .h) berisi deklarasi fungsi ataupun variable. File ini disebut header. File ini digunakan semacam perpustakaan bagi pernyataan yang ada di tubuh program. #include merupakan salah satu jenis pengarah praprosesor (preprocessor directive). Pengarah praprosesor ini dipakai untuk membaca file yang di antaranya berisi deklarasi fungsi dan definisi konstanta. Beberapa file judul disediakan dalam C. File-file ini mempunyai ciri yaitu namanya diakhiri dengan ekstensi .h. Misalnya pada program #include <stdio.h> menyatakan pada kompiler agar membaca file bernama stdio.h saat pelaksanaan kompilasi.Bentuk umum #include: #include namafile Bentuk pertama (#include <namafile>) mengisyaratkan bahwa pencarian file dilakukan pada direktori khusus, yaitu direktori file include. Sedangkan bentuk kedua (#include namafile) menyatakan bahwa pencarian file dilakukan pertama kali pada

-2-

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

direktori aktif tempat program sumber dan seandainya tidak ditemukan pencarian akan dilanjutkan pada direktori lainnya yang sesuai dengan perintah pada sistem operasi.

3.

TIPE DATA
Tipe data merupakan bagian program yang paling penting karena tipe data

mempengaruhi setiap instruksi yang akan dilaksanakan oleh computer. Misalnya saja 5 dibagi 2 bisa saja menghasilkan hasil yang berbeda tergantung tipe datanya. Jika 5 dan 2 bertipe integer maka akan menghasilkan nilai 2, namun jika keduanya bertipe float maka akan menghasilkan nilai 2.5000000. Pemilihan tipe data yang tepat akan membuat proses operasi data menjadi lebih efisien dan efektif. Tabel 2.1 Bentuk Tipe data: No Tipe Data 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Char Int Unsigned int Long Int Unsigned Long int Float Double Long Double Char Unsigned char Ukuran 1 byte 2 byte 2 byte 4 byte 4 byte 4 byte 8 byte 10 byte 1 byte 1 byte Range (Jangkauan) -128 s/d 127 -32768 s/d 32767 0 s/d 65535 -2147483648 s/d 2147483648 0 s/d 4294967296 -3.4E-38 s/d 3.4E+38 1.7E-308 s/d 1.7E+308 3.4E-4932 s/d 1.1E+4932 -128 s/d 127 0 s/d 255

4.

KONSTANTA
Konstanta merupakan suatu nilai yang tidak dapat diubah selama proses program

berlangsung. Konstanta nilainya selalu tetap. Konstanta harus didefinisikan terlebih dahulu di awal program. Konstanta dapat bernilai integer, pecahan, karakter dan string. Contoh konstanta : 50; 13; 3.14; 4.50005; A; Bahasa C.

-3-

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

5.

VARIABLE
Variabel adalah suatu pengenal (identifier) yang digunakan untuk mewakili suatu

nilai tertentu di dalam proses program. Berbeda dengan konstanta yang nilainya selalu tetap, nilai dari suatu variable bisa diubah-ubah sesuai kebutuhan. Nama dari suatu variable dapat ditentukan sendiri oleh pemrogram dengan aturan sebagai berikut : Terdiri dari gabungan huruf dan angka dengan karakter pertama harus berupa huruf. Bahasa C bersifat case-sensitive artinya huruf besar dan kecil dianggap berbeda. Tidak boleh mengandung spasi. Tidak boleh mengandung symbol-simbol khusus, kecuali garis bawah (underscore). Yang termasuk symbol khusus yang tidak diperbolehkan antara lain : $, ?, %, #, !, &, *, (, ), -, +, = dsb Panjangnya bebas, tetapi hanya 32 karakter pertama yang terpakai.

6.

DEKLARASI

Deklarasi diperlukan bila kita akan menggunakan pengenal (identifier) dalam program. Identifier dapat berupa variable, konstanta dan fungsi.

6.1. DEKLARASI VARIABEL


Bentuk umum pendeklarasian suatu variable adalah : Nama_tipe nama_variabel; Contoh : int x; // Deklarasi x bertipe integer

6.2. DEKLARASI KONSTANTA


Dalam bahasa C konstanta dideklarasikan menggunakan preprocessor #define. Contohnya : #define PHI 3.14 #define nim 0111500382

-4-

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

6.3. DEKLARASI FUNGSI


Fungsi merupakan bagian yang terpisah dari program dan dapat diaktifkan atau dipanggil di manapun di dalam program. Fungsi dalam bahasa C ada yang sudah disediakan sebagai fungsi pustaka seperti printf(), scanf(), getch() dan untuk menggunakannya tidak perlu dideklarasikan. Fungsi yang perlu dideklarasikan terlebih dahulu adalah fungsi yang dibuat oleh programmer. Bentuk umum deklarasi sebuah fungsi adalah : Tipe_fungsi nama_fungsi(parameter_fungsi); Contohnya : float luas_lingkaran(int jari); void tampil(); int tambah(int x, int y);

7.

OPERATOR

7.1. OPERATOR PENUGASAN


Operator penugasan (Assignment operator) dalam bahasa C berupa tanda sama dengan (=).

7.2. OPERATOR ARITMATIKA


Bahasa C menyediakan lima operator aritmatika, yaitu : .* : untuk perkalian / : untuk pembagian % : untuk sisa pembagian (modulus) + : untuk penjumlahan - : untuk pengurangan

-5-

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

7.2.1.

PERKALIAN

#include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { int bil1; int bil2; DDRB=0xFF; PORTB=0xFF; bil1=4; bil2=2; PORTB=bil1*bil2; }

7.2.2.

PEMBAGIAN

#include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { int bil1; int bil2; DDRB=0xFF; PORTB=0xFF; bil1=10; bil2=2; PORTB=bil1/bil2; }

7.2.3.

MODULUS

#include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { int bil1; int bil2; DDRB=0xFF; PORTB=0xFF; bil1=13;

-6-

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

bil2=2; PORTB=bil1%bil2; }

7.2.4.

PENJUMLAHAN

#include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { int bil1; int bil2; DDRB=0xFF; PORTB=0xFF; bil1=0x30; bil2=0x20; PORTB=bil1+bil2; }

7.2.5.

PENGURANGAN

#include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { int bil1; int bil2; DDRB=0xFF; PORTB=0xFF; bil1=0x30; bil2=0x20; PORTB=bil1-bil2; }

7.3. OPERATOR HUBUNGAN (PERBANDINGAN)


Operator hubungan digunakan untuk membandingkan hubungan antara dua buah operand /sebuah nilai atau variable. Operasi majemuk seperti pada tabel dibawah ini:

-7-

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Tabel 2.2 Operator Hubungan Operator Arti < <= > >= == != Kurang dari Kurang dari sama dengan Lebih dari Lebih dari sama dengan Sama dengan Tidak sama dengan Contoh X<Y X<=Y X>Y X==Y X==Y X!= Y Apakah X kurang dari Y Apakah X Kurang dari sama dengan Y Apakah X Lebih dari Y Apakah X Lebih dari sama dengan Y Apakah X Sama dengan Y Apakah X Tidak sama dengan Y

7.4. OPERATOR LOGIKA


Jika operator hubungan membandingkan hubungan antara dua buah operand, maka operator logika digunakan untuk membandingkan logika hasil dari operatoroperator hubungan. Operator logika ada tiga macam, yaitu : && : Logika AND (DAN) || : Logika OR (ATAU) ! : Logika NOT (INGKARAN) Operasi AND akan bernilai benar jika dua ekspresi bernilai benar. Operasi OR akan bernilai benar jika dan hanya jika salah satu ekspresinya bernilai benar. Sedangkan operasi NOT menghasilkan nilai benar jika ekspresinya bernilai salah, dan akan bernilai salah jika ekspresinya bernilai benar. #include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { char in1; char in2; DDRB=0xFF; PORTB=0xFF; in1=0xf0;

-8-

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

in2=0x40; if((in1==0xf0) && (in2==0x40)) {PORTB = 0x2A;}

7.5. OPERATOR BITWISE (MANIPULASI PER BIT)


Operator bitwise digunakan untuk memanipulasi bit-bit dari nilai data yang ada di memori. Operator bitwise dalam bahasa C di SDCC adalah sebagai berikut : << : Pergeseran bit ke kiri >> : Pergeseran bit ke kanan & : Bitwise AND ^ : Bitwise XOR (exclusive OR) | : Bitwise OR ~ : Bitwise NOT Pertukaran Nibble dan Byte Mengambil Bit yang paling Berbobot

7.5.1.

OPERASI GESER KIRI (<<)


Operasi geser kiri merupakan operasi yang akan menggeser bit-bit kekiri

sehingga bit 0 akan berpindah ke bit 1 kemudian bit 1 akan berpindah ke bit 2 dan seterusnya. Operasi geser kiri membutuhkan dua buah operan disebelah kiri tanda << merupakan nilai yang akan digeser sedangkan disebelah kanannya merupakan jumlah bit penggerseran. Contohnya : Datanya = 0x03 << 2 ; // 0x03 digeser kekiri 2 bit hasilnya ditampung di datanya a << = 1 // Isi variabel A digeser ke kiri 1 bit hasilnya // kembali disimpan di A

-9-

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

#include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { char a, led; DDRB=0xFF; PORTB=0xFF; led=0x01; for (a=0;a<8;a++) { PORTB=led; led=led <<1; } }

7.5.2.

OPERASI GESER KANAN(>>)


Operasi geser kiri merupakan operasi yang akan menggeser bit-bit kekanan

sehingga bit 7 akan berpindah ke bit 6 kemudian bit 6 akan berpindah ke bit 5 dan seterusnya. Operasi geser kanan membutuhkan dua buah operan disebelah kiri tanda << merupakan nilai yang akan digeser sedangkan disebelah kanannya merupakan jumlah bit penggerseran. Contohnya : Datanya = 0x03 >> 2 ; // 0x03 digeser kekiri 2 bit hasilnya ditampung di datanya a >> = 1 // Isi variabel A digeser ke kiri 1 bit hasilnya // kembali disimpan di A #include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { char a, led; DDRB=0xFF; PORTB=0xFF; led=0x01; for (a=0;a<8;a++) { PORTB=led; led=led <<1; } }

- 10 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

7.5.3.

OPERASI BITWISE AND ( & )

Operasi bitwise AND akan melakukan operasi AND pada masing-masing bit, sehingga bit 0 akan dioperasikan dengan bit 0 dan bit 1 dan seterusnya. Contohnya : Hasil = 0x03 & 0x31; Operasinya Hasil #include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { char a=0x03; char b=0x31; DDRB=0xFF; PORTB=0xFF; PORTB= a & b ; } 0x03 = 00000011 0x31 = 00110001
__________________________________________

0x01 = 00000001

7.5.4.

OPERASI BITWISE OR ( | )

Operasi bitwise OR akan melakukan operasi OR pada masing-masing bit, sehingga bit 0 akan dioperasikan dengan bit 0 dan bit 1 dan seterusnya. Contohnya : Hasil = 0x05 | 0x31; Operasinya Hasil #include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { char a=0x03; char b=0x31; DDRB=0xFF; PORTB=0xFF; PORTB= a | b ; } 0x01 = 00000001 0x31 = 00110001
__________________________________________

0x01 = 00110001

- 11 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

7.5.5.

OPERASI BITWISE XOR( ^ )

Operasi bitwise XOR akan melakukan operasi XOR pada masing-masing bit, sehingga bit 0 akan dioperasikan dengan bit 0 dan bit 1 dan seterusnya. Contohnya : Hasil = 0x02 ^ 0xFA; Operasinya Hasil #include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { char a=0x02; char b=0xFA; DDRB=0xFF; PORTB=0xFF; PORTB=a ^ b ; } 0x02 = 00000010 0xFA = 11111010
__________________________________________

0x01 = 11111000

7.5.6.

OPERASI BITWISE NOT( ~ )

Operasi bitwise XOR akan melakukan operasi XOR pada masing-masing bit, sehingga bit 0 akan dioperasikan dengan bit 0 dan bit 1 dan seterusnya. Contohnya : Hasil = ~ 0x31; #include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { char a= 0x31; DDRB=0xFF; PORTB=0xFF; PORTB= ~a; } 0x31 = 00110001 Hasil ~0x31 = 11001110

- 12 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

7.5.7.

PERTUKARAN NIBBLE DAN BYTE


Pertukaran nibble dalam bahasa C dikenali SDCC dengan bentuk pernyataan

sebagai berikut ini: volatile unsigned char i: i = (( i << 4) | ( i >> 4)); //pertukaran nibble

Dan pernyataan sebagai berikut ini sebagai pertukaran byte: volatile unsigned char j: j = (( j << 8) | ( j >> 8)); //pertukaran byte

#include <mega8535.h> #include <delay.h> union kint { unsigned char a[2]; unsigned int b; }; void main() { union kint tmp; volatile unsigned char i=0x37; volatile unsigned int j=0x9973; DDRA=0xFF; DDRB=0xFF; DDRD=0xFF; PORTA=i; tmp.b=j; PORTD= tmp.a[1]; PORTB=tmp.a[0]; i= ((i<<4) | (i>>4)); //pertukaran nibble j= ((j<<8) | (j>>8)); //pertukaran byte PORTA=i; //I dikeluarkan ke Port 1 tmp.b=j; PORTB=tmp.a[0]; PORTD=tmp.a[1]; }

7.5.8.

MENGAMBIL BIT YANG PALING BERBOBOT

Untuk mendapatkan bit yang paling berbobot (MSB) untuk tipe long, short, int, dan char maka dapat dilakukan dengan pertanyaan berikut:

- 13 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Volatile unsigned char gint; Unsigned char hop; Hop = (gint >> 7) & 1 // mengambil MSB #include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { volatile unsigned char gint=0xaa; volatile unsigned char hob; unsigned a; DDRB=0xFF; for(a=0;a<8;a++) { hob=(gint>>7) &1; PORTB=hob; gint=((gint<<1)|(gint>>7)); } }

7.6. OPERATOR UNARY


Operator Unary merupakan operator yang hanya membutuhkan satu operand saja. Dalam bahasa C terdapat beberapa operator unary, yaitu : Tabel 2.3 Operasi Unary

- 14 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Contohnya : n=0 Jum = 2 * ++n; Jum = 2 * n++; #include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { int a; DDRB=0xFF; for(a=0;a<20;a++) PORTB=a; }

7.7. OPERATOR MAJEMUK


Operator majemuk terdiri dari dua operator yang digunakan untuk menyingkat penulisan. Operasi majemuk seperti pada tabel dibawah ini Tabel Operasi majemuk Operator += -= *= /= %= <<= >>= &= |= ^= ~= Contoh Counter +=1; Counter -=1 Counter *=1 Counter /=1 Counter %=1 Counter <<=1 Counter >>=1 Counter &=1 Counter |=1 Counter ^=1 Counter ~=1 Kependekan dari Counter = counter + 1 Counter = counter - 1 Counter = counter * 1 Counter = counter / 1 Counter = counter % 1 Counter = counter << 1 Counter = counter >> 1 Counter = counter & 1 Counter = counter | 1 Counter = counter ^ 1 Counter = counter ~ 1

8.

KOMENTAR PROGRAM

Komentar program hanya diperlukan untuk memudahkan pembacaan dan pemahaman suatu program (untuk keperluan dokumentasi program). Dengan kata lain, komentar program hanya merupakan keterangan atau penjelasan program. Untuk memberikan

- 15 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

komentar atau penjelasan dalam bahasa C digunakan pembatas /* dan */ atau menggunakan tanda // untuk komentar yang hanya terdiri dari satu baris. Komentar program tidak akan ikut diproses dalam program (akan diabaikan). Contoh pertama : // program ini dibuat oleh . Dibelakang tanda // tak akan diproses dalam kompilasi. Tanda ini hanya untuk satu baris kalimat. Contoh kedua : /* program untuk memutar motor DC atau motor stepper */ Bentuk ini berguna kalau pernyataannya berupa kalimat yang panjang sampai beberapa baris.

9.

PENYELEKSIAN KONDISI
Penyeleksian kondisi digunakan untuk mengarahkan perjalanan suatu proses.

Penyeleksian kondisi dapat diibaratkan sebagai katup atau kran yang mengatur jalannya air. Bila katup terbuka maka air akan mengalir dan sebaliknya bila katup tertutup air tidak akan mengalir atau akan mengalir melalui tempat lain. Fungsi penyeleksian kondisi penting artinya dalam penyusunan bahasa C, terutama untuk program yang kompleks.

9.1. STRUKTUR KONDISI IF.


Struktur if dibentuk dari pernyataan if dan sering digunakan untuk menyeleksi suatu kondisi tunggal. Bila proses yang diseleksi terpenuhi atau bernilai benar, maka pernyataan yang ada di dalam blok if akan diproses dan dikerjakan. Bentuk umum struktur kondisi if adalah :

- 16 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

if(kondisi) pernyataan; #include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { char inp1; DDRA=0xFF; DDRB=0xFF; inp1=PORTB; if(inp1==0x40) {PORTA = 0x20;} }

9.2. STRUKTUR KONDISI IF......ELSE.


Dalam struktur kondisi if.....else minimal terdapat dua pernyataan. Jika kondisi yang diperiksa bernilai benar atau terpenuhi maka pernyataan pertama yang dilaksanakan dan jika kondisi yang diperiksa bernilai salah maka pernyataan yang kedua yang dilaksanakan. Bentuk umumnya adalah sebagai berikut : if(kondisi) pernyataan-1 else pernyataan-2 Contoh IF if (angka = fo) /* bila angka sama dengan fo */ { /*kerjakan berikut ini */ for (k = 0; k<4 ; k++) { i=tabel1(k); PORTA = i; // pernyataan dalam blok ini bisa kosong tunda50(100); // berarti tidak ada yang dikerjakan } } else //bila tidak sama kerjakan berikut ini { for (k = 0; k<4 ; k++) { i=tabel2(k); // pernyataan dalam blok ini bisa kosong

- 17 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PORTA = i; tunda50(100); } } #include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { char inp1; DDRA=0xFF; DDRB=0xFF; inp1=PORTB; if(inp1==0x01) {PORTA = 0x20;} else {PORTA=0x80;} }

// berarti tidak ada yang dikerjakan

9.3. STRUKTUR KONDISI SWITCH...CASE... DEFAULT


Struktur kondisi switch....case....default digunakan untuk penyeleksian kondisi dengan kemungkinan yang terjadi cukup banyak. Struktur ini akan melaksanakan salah satu dari beberapa pernyataan case tergantung nilai kondisi yang ada di dalam switch. Selanjutnya proses diteruskan hingga ditemukan pernyataan break. Jika tidak ada nilai pada case yang sesuai dengan nilai kondisi, maka proses akan diteruskan kepada pernyataan yang ada di bawah default. Bentuk umum dari struktur kondisi ini adalah : switch(kondisi) { case 1 : pernyataan-1; break; case 2 : pernyataan-2; break; ..... case n : pernyataan-n; break; default : pernyataan-m } contoh

- 18 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

SWITCH . CASE switch(fo) { case 1: for (k = 0; k<4 ; k++) { i=tabel1(k); PORTA = i; tunda(100); } break; case 2: for (k = 0; k<4 ; k++) { i=tabel2(k); PORTA = i; tunda(100); } break; #include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { char a; DDRA=0xFF; DDRB=0xFF; a=PORTA; switch(a) { case 0: PORTB=5;break; case 1: PORTB=10;break; case 2: PORTB=15;break; case 3: PORTB=20;break; case 4: PORTB=40;break; case 5: PORTB=60;break; default: PORTB=0;break; } }

10.

PERULANGAN
Dalam bahasa C tersedia suatu fasilitas yang digunakan untuk melakukan proses

yang berulangulang sebanyak keinginan kita. Misalnya saja, bila kita ingin menginput

- 19 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

dan mencetak bilangan dari 1 sampai 100 bahkan 1000, tentunya kita akan merasa kesulitan. Namun dengan struktur perulangan proses, kita tidak perlu menuliskan perintah sampai 100 atau 1000 kali, cukup dengan beberapa perintah saja. Struktur perulangan dalam bahasa C mempunyai bentuk yang bermacam-macam.

10.1.

STRUKTUR PERULANGAN WHILE


Perulangan WHILE banyak digunakan pada program yang terstruktur.

Perulangan ini banyak digunakan bila jumlah perulangannya belum diketahui. Proses perulangan akan terus berlanjut selama kondisinya bernilai benar (true) dan akan berhenti bila kondisinya bernilai salah. Bentuk umum dari struktur kondisi ini adalah: While (ekspresi) { Pernyataan_1 Pernyataan_2 } Contoh Program 1 :
while (!TF0); { TF0 = 0; TR0 = 0; }

#include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { char a=10; DDRA=0xFF; while(a>=0) { PORTA=a; a--; } }

- 20 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

10.2.

STRUKTUR PERULANGAN DO.....WHILE


Pada dasarnya struktur perulangan do....while sama saja dengan struktur while,

hanya saja pada proses perulangan dengan while, seleksi berada di while yang letaknya di atas sementara pada perulangan do....while, seleksi while berada di bawah batas perulangan. Jadi dengan menggunakan struktur dowhile sekurang-kurangnya akan terjadi satu kali perulangan. Bentuk umum dari struktur kondisi ini adalah: Do { Pernyataan_1 Pernyataan_2

} While (ekspresi)

#include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { char a=10; DDRA=0xFF; do { PORTA=a; a--; } while(a>=0); }

10.3.

STRUKTUR PERULANGAN FOR


Struktur perulangan for biasa digunakan untuk mengulang suatu proses yang

telah diketahui jumlah perulangannya. Dari segi penulisannya, struktur perulangan for tampaknya lebih efisien karena susunannya lebih simpel dan sederhana. Bentuk umum perulangan for adalah sebagai berikut : for(inisialisasi; syarat; penambahan) pernyataan;

- 21 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Keterangan: Inisialisasi : pernyataan untuk menyatakan keadaan awal dari variabel kontrol. syarat : ekspresi relasi yang menyatakan kondisi untuk keluar dari perulangan. penambahan : pengatur perubahan nilai variabel kontrol. Contoh for (k = 0; k<4 ; k++) { i=tabel1(k); PORTA = i; tunda50(100); }

#include <mega8535.h> #include <delay.h> void main() { char a; DDRA=0xFF; for(a=10;a>=0;a--) PORTA=a; }

11.

ARAY (LARIK)
Array merupakan kumpulan dari nilai-nilai data yang bertipe sama dalam urutan

tertentu yang menggunakan nama yang sama. Letak atau posisi dari elemen array ditunjukkan oleh suatu index. Dilihat dari dimensinya array dapat dibagi menjadi Array dimensi satu, array dimensi dua dan array multi-dimensi.

11.1.

ARRAY DIMENSI SATU


Setiap elemen array dapat diakses melalui indeks. Indeks array secara default

dimulai dari 0. Deklarasi Array Bentuk umum : Deklarasi array dimensi satu: [Tipe_array][ nama_array][elemen1];

- 22 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

11.2.

ARRAY DIMENSI DUA


Array dua dimensi merupakan array yang terdiri dari m buah baris dan n buah

kolom. Bentuknya dapat berupa matriks atau tabel. Deklarasi array dimensi dua : [Tipe_array][nama_array][elemen1][elemen2];

11.3.

ARRAY MULTI-DIMENSI
Array multi-dimensi merupakan array yang mempunyai ukuran lebih dari dua.

Bentuk pendeklarasian array sama saja dengan array dimensi satu maupun array dimensi dua. Bentuk umumnya yaitu : [tipe_array][nama_array][elemen1][elemen2][elemenN];

12. 12.1.

FUNGSI PENGERTIAN FUNGSI


Fungsi merupakan suatu bagian dari program yang dimaksudkan untuk

mengerjakan suatu tugas tertentu dan letaknya terpisah dari program yang memanggilnya. Fungsi merupakan elemen utama dalam bahasa C karena bahasa C sendiri terbentuk dari kumpulan fungsi-fungsi. Dalam setiap program bahasa C, minimal terdapat satu fungsi yaitu fungsi main(). Fungsi banyak diterapkan dalam program-program C yang terstruktur. Keuntungan penggunaan fungsi dalam program yaitu program akan memiliki struktur yang jelas (mempunyai readability yang tinggi) dan juga akan menghindari penulisan bagian program yang sama.

12.2.

PENDEFISIAN FUNGSI

Sebelum digunakan fungsi harus didefinisikan terlebih dahulu. Bentuk definisi fungsi adalah:

- 23 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Tipe_Nilai_Balik nama_fungsi(argumen1, argumen2) { Pernyataan1; Pernyataan1; return(ekspresi); } Contoh: int jumlah(int bil1,int bil2) //definisi fungsi jumlah { int hasil; hasil = bil1 + bil2 return(hasil); } int jumlah(int bil1,int bil2) 1 Keterangan: 1. tipe data nilai balik fungsi 2. merupakan nama fungsi 3. tipe argumen 4. nama argumen #include <mega8535.h> #include <delay.h> int jumlah(int bil1,int bil2) { return(bil1+bil2); } void main() { DDRA=0xFF; PORTA=jumlah(20,50); } 2 3 4

12.3.

PROTOTYPE FUNGSI

Ketentuan pendefinisian fungsi yang mendahului fungsi pemanggil dapat merepotkan untuk program yang komplek atau besar. Untuk mengatasi hal tersebut maka fungsi dapat dideklarasikan sebelum digunakan, terletak sebelum fungsi main. Deklarasi fungsi

- 24 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

dikenal dengan prototype fungsi. Cara mendeklarasikan fungsi sama dengan header fungsi dan diakhiri tanda titik koma ( ; ) #include <mega8535.h> #include <delay.h> int jumlah(int bil1,int bil2); void main() { DDRA=0xFF; PORTA=jumlah(20,50); } int jumlah(int bil1,int bil2) { return(bil1+bil2); }

12.4.

VARIABEL LOKAL DAN GLOBAL


Variabel lokal adalah variabel yang dideklarasikan di dalam suatu fungsi,

variabel ini hanya dikenal fungsi tersebut. Setelah keluar dari fungsi ini maka variabel ini akan hilang. Variabel global adalah variabel yang dideklarasikan di luar fungsi, sehingga semua fungsi dapat memakainya. #include <mega8535.h> #include <delay.h> int jumlah(int bil1,int bil2); int data1; void main() { int data1; DDRA=0xFF; data1=jumlah(20,50); PORTA = data1; } int jumlah(int bil1,int bil2) { return(bil1+bil2); }

- 25 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

12.5.

KATA KUNCI EXTERN DAN STATIC


Kata kunci extern dan static digunakan untuk menyatakan sifat dari variabel atau

fungsi. Suatu variabel atau fungsi yang didepannya ditambah dengan kata kunci extern maka artinya variabel atau fungsi tersebut didefinisikan di luar file tersebut. Variabel global atau fungsi yang didepannya ditambah kata kunci static mempunyai arti bahwa variabel global atau fungsi tersebut bersifat pivate bagi file tersebut, sehingga tidak dapat diakses dari file yang lain. Kata kunci static yang ditambahkan didepan variabel lokal (variabel di dalam suatu fungsi) artinya variabel tersebut dialokasikan pada memori statik. Nilai yang tersimpan dalam variabel statik tidak hilang walaupun sudah keluar dari fungsi.

12.6.

FUNGSI TANPA NILAI BALIK


Fungsi yang tidak mempunyai nilai balik menggunakan kata kunci void

sedangkan fungsi yang tidak mempunyai argumen, setelah nama fungsi dalam kurung dapat kosong atau dengan menggunakan kata kunci void. Contoh: void tunda(void) { for(i = 0; i < 10 ; i++); } atau void tunda() { for(i=0;i<10;i++); {} } /* fungsi tunda_panjang void tunda_panjang(int n) { int i; for (i=0; i<n;i++) tunda();

*/

- 26 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

12.7.

FUNGSI DENGAN NILAI BALIK (RETURN VALUE)


Nilai balik dinyatakan delam pernyataan return. Tipe nilai balik dapat berupa

char, int, short, long, atau float Contoh: int jumlah(int bil1,int bil2) { return(bil1+bil2); }

12.8.

ARGUMEN/ PARAMETER FUNGSI

Argumen dilewatkan ke dalam fungsi terdiri atas dua macam, yaitu: a. Pelewatan secara nilai Bentuk definisi pelewatan secara nilai adalah: tipe nama_fungsi (tipe argumen1, tipe argumen2, ...) { .................... .................... } #include <mega8535.h> #include <delay.h> void Tambahv(int A) { A=A+1; } void main() { int B; DDRA=0xFF; B=4; Tambahv(B); PORTA=B; }

- 27 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

b. Pelewatan secara pointer Bentuk definisi pelewatan secara pointer adalah: tipe nama_fungsi (tipe *argumen1, tipe *argumen2, ...) { .................... .................... } #include <mega8535.h> #include <delay.h> void Tambahp(int *A) { *A=*A+1; } void main() { int B; DDRA=0xFF; B=4; Tambahp(&B); PORTA=B; }

13.

STRUKTUR
Struktur merupakan sekelompok data (variabel) yang mempunyai tipe yang sama

atau berbeda yang dikemas dalam satu nama.

13.1.

DEKLARASI STRUKTUR

Deklarasi struktur dilakukan dengan format sebagai berikut: Struct nama_struktur { deklarasi variabel; } Contoh: Struct kar_sensor { unsigned char impedan; unsigned char koefi_suhu; unsigned char gain; }

- 28 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

atau typedef struct { deklarasi variabel } nama_struktur; Contoh: Typedef struct { unsigned char impedan; unsigned char koefi_suhu; unsigned char gain; }

13.2.

PENDEFINISIAN VARIABEL STRUKTUR


Pada deklarasi struktur belum ada pengalokasian memori, oleh karena itu agar

dapat digunakan maka perlu dilakukan pendefinisian variabel struktur. Pendefinisian variabel struktur dilakukan dengan format sebagai berikut: Bentuk 1: Struct nama_struktur nama_variabel; Contoh: Struct kar_sensor sem_suhu; Bentuk 2: Nama_struktur nama_variabel Contoh: Kar_sensor sen_suhu;

13.3.

MENGAKSES ANGGOTA STRUKTUR


Untuk mengakses anggota struktur dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: Nama_variabel.anggota = data; //untuk penulisan Tampung = nama_variabel.anggota //untuk pembacaan

Contoh: Sen_suhu.impedansi = 0x5; Sen_suhu.kofi_suhu = 0x01; Sen_suhu.gain = 0x04;

- 29 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

#include <mega8535.h> #include <delay.h> struct kar_sensor { unsigned char impedan; unsigned char koefi_suhu; unsigned char gain; }; void main() { struct kar_sensor sen_suhu; DDRA=0xFF; DDRB=0xFF; DDRD=0xFF; sen_suhu.impedan=0x5; sen_suhu.koefi_suhu=0x01; sen_suhu.gain=0x04; PORTA=sen_suhu.impedan; PORTB=sen_suhu.koefi_suhu; PORTD=sen_suhu.gain; }

13.4.

LARIK STUKTUR

Struktur dapat juag didefinisikan sebagai larik seperti berikut ini: Struct kar_sensor dbase_sensor[4]; Untuk mengakses anggota struktur harus disertakan indeks lariknya. Contoh: Mengakses larik ke 0: Dbase_sensor [0].impedan=0x5; Dbase_sensor [0].koefi_suhu=0x01; Dbase_sensor [0].gain=0x04; Mengakses larik ke 1: Dbase_sensor [1].impedan=0x6; Dbase_sensor [1].koefi_suhu=0x05; Dbase_sensor [1].gain=0x02; #include <mega8535.h> #include <delay.h>

- 30 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

struct kar_sensor { unsigned char impedan; unsigned char koefi_suhu; unsigned char gain; }; void main() { struct kar_sensor sen_suhu[2]; DDRA=0xFF; DDRB=0xFF; DDRD=0xFF; sen_suhu[0].impedan=0x5; sen_suhu[0].koefi_suhu=0x01; sen_suhu[0].gain=0x4; PORTA=sen_suhu[0].impedan; PORTB=sen_suhu[0].koefi_suhu; PORTD=sen_suhu[0].gain; }

13.5.

INISIALISASI STRUKTUR
Anggota struktur dapat diberi nilai ketika pendefinisian variabel struktur seperti

pada berikut ini: Struct kar_sensor sen_suhu = {0x05, 0x09, 0x01}; Contoh: Struct kar_sensor { {0x05, 0x07, {0x02, 0x04, {0x04, 0x01, {0x07, 0x03, } dbase_sensor[4] = 0x09}; 0x01}; 0x03}; 0x04};

#include <mega8535.h> #include <delay.h> struct kar_sensor { unsigned char impedan; unsigned char koefi_suhu; unsigned char gain; }; void main()

- 31 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

{ struct kar_sensor sen_suhu[2]={{0x05,0x01,0x04},{0x7,0x02,0x01}}; DDRA=0xFF; DDRB=0xFF; DDRD=0xFF; PORTA=sen_suhu[0].impedan; PORTB=sen_suhu[0].koefi_suhu; PORTD=sen_suhu[0].gain; }

13.6.

POINTER STRUKTUR

Struktur dapat didefinisikan sebagai pointer seperti berikut ini: Struct kar_sensor * dbase_sensor; Struct kar_sensor base; //variabel //pointer //variabel

Untuk mengakses data anggota dilakukan dengan cara seperti berikut ini: Dbase_sensor = &base; Dbase_sensor > impedan = 0x05; Dbase_sensor > koefi_suhu = 0x02; Dbase_sensor > gain = 0x03; P1 = Dbase_sensor > impedan P2 = Dbase_sensor > koefi_suhu; P3 = Dbase_sensor > gain

13.7.

MELEWATKAN POINTER STRUKTUR KE FUNGSI


Penggunaan pointer struktur untuk melewatkan parameter ke fungsi dapat

mencegah pelewatan data anggota struktur yang banyak, karena hanya parameter tertentu saja yang akan dilewatkan. Melewatkan pointer struktur ke fungsi dapat juga didefinisikan sebagai seperti berikut ini: Struct kar_sensor base * dbase_sensor; Dbase_sensor = &base; Dbase_sensor > impedan = 0x05; Dbase_sensor > koefi_suhu = 0x02; Dbase_sensor > gain = 0x03; Kali_impedan(Struct kar_sensor *Structpointer) { Structpointer > impedan *= 2

- 32 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

} P1 = Dbase_sensor > impedan P2 = Dbase_sensor > koefi_suhu; P3 = Dbase_sensor > gain

14. 14.1.

POINTER PENGERTIAN POINTER


Pointer (variabel penunjuk) adalah suatu variabel yang berisi alamat memori

dari suatu variabel lain. Alamat ini merupakan lokasi dari obyek lain (biasanya variabel lain) di dalam memori. Contoh, jika sebuah variabel berisi alamat dari variabel lain, variabel pertama dikatakan menunjuk ke variabel kedua Operator Pointer ada dua, yaitu : Operator & o Operator & bersifat unary (hanya memerlukan satu operand saja). o Operator & menghasilkan alamat dari operandnya. . Operator * o Operator * bersifat unary (hanya memerlukan satu operand saja). o Operator * menghasilkan nilai yang berada pada sebuah alamat.

14.2.

DEKLARASI POINTER

Seperti halnya variabel yang lain, variabel pointer juga harus dideklarasikan terlebih dahulu sebelum digunakan. Bentuk Umum : Tipe_data *nama_pointer; Tipe data pointer mendefinisikan tipe dari obyek yang ditunjuk oleh pointer. Secara teknis, tipe apapun dari pointer dapat menunjukkan lokasi (dimanapun) dalam memori.

- 33 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Bahkan operasi pointer dapat dilaksanakan relatif terhadap tipe dasar apapun yang ditunjuk. Contoh, ketika kita mendeklarasikan pointer dengan tipe int*, kompiler akan menganggap alamat yang ditunjuk menyimpan nilai integer - walaupun sebenarnya bukan (sebuah pointer int* selalu menganggap bahwa ia menunjuk ke sebuah obyek bertipe integer, tidak peduli isi sebenarnya). Karenanya, sebelum mendeklarasikan sebuah pointer, pastikan tipenya sesuai dengan tipe obyek yang akan ditunjuk. Contoh : char *ptr; data char *ptr; Tabel 2.5 Ukuran Variabel Pointer No 1 2 3 4 5 6 Kelas Memori generik data idata xdata code pdata Lebar Pointer 3 1 1 2 2 1

Sdcc juga mendukung deklarasi pointer yang mengarahkan fisik pointer ke kelas memori tertentu. Contoh: /*secara fisik pointer berada menunjukan ke RAM eksternal*/ xdata unsigned char *data p: /* secara fisik pointer berada menunjukan ke RAM internal*/ data unsigned char *data p: di internal RAM yang

di

eksternal

RAM

yang

/* secara fisik pointer berada di code ROM yang menunjukan ke RAM eksternal*/ /* p harus diinisialisasi ketika dideklarasikan*/ xdata unsigned char *code p = 0x1000: /* secara fisik pointer berada code ROM yang menunjukan ke ROM*/ /* p harus diinisialisasi ketika dideklarasikan*/

- 34 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

code unsigned char *code p = 0x1000: /* secara fisik pointer generic berada di eksternal RAM*/ char *xdata p:

14.3.

INISIALISASI POINTER
Setelah dideklarasikan pointer belum menunjuk ke suatu alamat tertentu, oleh

karena itu perlu untuk diinisialisasi agar pointer menunjuk ke alamat tertentu sesuai dengan kebutuhan.

14.3.1.

MENUNJUKAN ALAMAT VARIABEL

Menunjuk alamat variabel dilakukan dengan cara sebagai berikut: int aku; int *ptr; prt=&aku; atau int aku; int *ptr=&aku; Tanda & di depan variabel menyatakan alamat memori variabel tersebut. // // // // deklarasi variabel deklarasi pointer inisialisasi pointer ptr = alamat variabel aku

14.3.2.

MENUNJUKAN ALAMAT MEMORI ABSOLUT

Disamping diarahkan untuk menunjukan alamat variabel, pointer juga dapat diinisialisasi untuk menunjukan alamat absolut dengan cara sebagai berikut: int *ptrku; ptrku= (int *) 0x8000; atau int *ptrku=(int *) 0x8000;

15.

MENYISIPKAN INSTRUKSI ASSEMBLI

CVAVR juga mendukung penyisipan instruksi dalam bahasa asembli. Instruksi asembli dituliskan diantara kata kunci #asm dan #endasm seperti berikut ini:

- 35 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Void tunda() { #asm

mov r0, #20 00001$: djnz r0, 00001$ #endasm;

} #include <mega8535.h> #include <delay.h> void tunda() { #asm mov r0, #0x0f5 01$: mov r1, #0x0ff 02$: mov r2, #0 djnz r1, 02$ djnz r0, 01$ #endasm; } void main() { char a; char k; DDRA=0xFF; DDRB=0xFF; while(1) { a=0x03; for (k=0;k<9;k++) { PORTB=a; tunda(); a=a<<1; } } }

15.1.

PENGGUNAAN LABEL PADA INSTRUKSI ASSEMBLI


Label pada instruksi assembli berupa anggka nnnnn$ dengan nnnnn berupa

angka di bawah 100. label pada instruksi assembli hanya dikenal oleh instruksi assembli, bahasa C tidak mengenal label pada penyisipan assembli dan juga sebaliknya. Contoh:

- 36 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Void conto() { /*Pernyataan C*/ #asm ; beberapa instruksi asembli ljmp 00003$ #endasm; /*Pernyataan C*/ clabel: /*instruksi assembli tidak mengenal*/ #asm 00003$: ; hanya dapat dikenal oleh assembli #endasm; }

- 37 -

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

BAB I APLIKASI OUTPUT


1.1. RANGKAIAN LAMPU LED
Rangkaian minimum untuk menghidupkan 8 LED melalui Port B ditunjukan pada Gambar 3.1. yang perlu diperhatikan adalah konfigurasi rangkaian LED yaitu Common Anode (CA) artinya untuk menghidupkan LED pada Port B, port B harus dikirim atau diberi logika 0.
U1 VCC 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 PA0(ADC0) PB0(XCK/T0) PA1(ADC1) PB1(T1) PB2(INT2/AIN0) PA2(ADC2) PB3(OC0/AIN1) PA3(ADC3) PB4(SS) PA4(ADC4) PB5(MOSI) PA5(ADC5) PB6[MISO) PA6(ADC6) PB7[SCK) PA7(ADC7) RESET AREF AGND VCC AVCC GND PC7(TOSC2) XTAL2 PC6(TOSC1) XTAL1 PD0(RXD) PC5 PD1(TXD) PC4 PC3 PD2(INT0) PC2 PD3(INT1) PC1(SDA) PD4(OC1B) PC0(SCL) PD5(OC1A) PD6(ICP) PD7(OC2) ATMEGA8535 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21

R1

C1 22pF C3 100nF

RST VCC

VCC VCC PC0 PC1 PC2 PC3 PC4 PC5 PC6 PC7 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1

SW1 X1 2 C2 22pF

Gambar 1.1. Hasil pemasangan komponen rangkaian lampu led

1.2. PEMROGRAMAN MENYALAKAN LED


Setelah rangkaian LED dibuat dan dihubungkan dengan port pararel mikrokontroller, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk menghidupkan LED tersebut. Program sebagai berikut ini //------------------------------------------------------//Program LED Menyala //------------------------------------------------------#include <mega8535.h>

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

#include <delay.h> void main(void) { char a; a=0x000; DDRC=0xFF; while(1) { PORTC = a; } } Cara kerja program: Pada program Program LED Menyala, di perlukan deklarasi register dan delay untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan masuk ke dalam program utama. Di dalam program utama, terdapat variabel karakter yang berfungsi untuk menyimpan data angka 0x000. Data 0x00 digunakan untuk menyalakan LED karena LED di pasang common anoda Data tersebut akan di keluarkan oleh mikrokontroller dengan menggunakan PORTC. Data tersebut di simpan dalam variabel a yang dideklarasikan sebagai char. Data tersebut dikeluarkan dengan menggunakan PORTC sehingga harus dideklarasikan PORTC sebagai output dengan DDRC=0xFF. Instruksi while merupakan instruksi perulangan, sehingga

mikrokontroller akan mengeluarkan data yang di simpan oleh variabel karakter secara terus menerus.

1.3. PEMROGRAMAN LED BERKEDIP


Setelah membuat dan menjalankan program menyalakan lampu LED, maka sekarang saatnya Anda membuat program kedua yang digunakan untuk menghidupkan LED berkedip.

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Program sebagai berikut ini //------------------------------------------------------//Program Bab 3.2. LED Berkedip //------------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> void main(void) { char a; char b; a=0x000; b=0x0FF; DDRB=0xFF; while(1) { PORTB= a; delay_ms(500); PORTB= b; delay_ms(500); } } Cara kerja program: Pada program Program LED Berkedip, terlihat menggunakan mikrokontroller ATMEGA8535, sehingga di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Di dalam program utama, terdapat variabel karakter yang berfungsi untuk menyimpan data 00 dan FF. Data tersebut akan di keluarkan oleh mikrokontroller dengan menggunakan port 0. Instruksi while merupakan instruksi perulangan.

1.4. PEMROGRAMAN LED FLIP FLOP


Setelah membuat dan menjalankan program menyalakan lampu LED berkedip, maka sekarang saatnya Anda membuat program ketiga yang digunakan untuk menghidupkan LED flip-flop 1. Program sebagai berikut ini //------------------------------------------------------//Program Bab 3.3. LED Flip-Flop

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

//------------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> void main(void) { char a; char b; a=0x00f; b=0x0f0; DDRB=0xFF; while(1) { PORTB= a; delay_ms(500); PORTB= b; delay_ms(500); } } Cara kerja program: Pada program LED Flip-Flop di perlukan deklarasi register untuk

mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan mendeklarasikan waktu 1 sekon. Waktu tersebut berfungsi untuk waktu tunda. Kemudian mikrokontroller akan mengeksekusi program utama. Di dalam program utama, terdapat variabel karakter yang berfungsi untuk menyimpan data 0x00F dan 0x0F0. Data tersebut akan di keluarkan oleh mikrokontroller dengan menggunakan port B.

1.5. PEMROGRAMAN LED BERJALAN KEKANAN


Setelah membuat dan menjalankan program menyalakan lampu LED flip-flop, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk menghidupkan LED berjalan kanan. Program LED berjalan kekanan ini dijalankan pada hardware nyala led berlogika tinggi atau logika 1. jika menggunakan logika rendah maka LED bukan menyala tetapi akan mati. Program LED berjalan kekanan menggunakan operasi

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

geser kanan. Operasi geser kiri akan menggeser bit-bit kekanan sehingga bit 0 akan berpindah ke bit 1 dan bit 1 akan berpindah ke bit 2 dan seterusnya. Program sebagai berikut ini //-----------------------------------------------------//Program Bab 3.4. LED Berjalan Kekanan //-----------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> void main(void) { volatile unsigned char a=0x01; DDRB=0xFF; while(1) { a=((a>>7) | (a<<1)); delay_ms(1000); PORTB=a; } } Cara kerja program: Pada program Program LED berjalan Kekanan di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan mendeklarasikan waktu kurang lebih 1 sekon. Kemudian mikrokontroller akan mengeksekusi program utama. Di dalam program utama, terdapat variabel karakter yang berfungsi untuk menyimpan data 0x01. Data tersebut akan di keluarkan oleh mikrokontroller dengan menggunakan port 0. kemudian mikrokontroller menjalankan operasi geser kanan. Diantara operasi geser kiri dan mengeluarkan data di PORTB tersebut terdapat waktu tunda kurang lebih 1 sekon. Didalam program utama terdapat pernyataan while(1). Pernyataan itu berfungsi untuk melakukan Looping secara terus menerus.

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

1.6. PEMROGRAMAN LED BERJALAN KEKIRI


Setelah membuat dan menjalankan program menyalakan lampu LED berjalan kekanan, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk menghidupkan LED berjalan kekiri. Program LED berjalan kekanan menggunakan operasi geser kiri. Operasi geser kiri akan menggeser bit-bit kekanan sehingga bit 7 akan berpindah ke bit 6 dan bit 6 akan berpindah ke bit 5 dan seterusnya. Program sebagai berikut ini //-----------------------------------------------------//Program Bab 3.5. LED berjalan ke kiri //-----------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> void main(void) { volatile unsigned char a=0x01; DDRB=0xFF; while(1) { a=((a<<7) | (a>>1)); delay_ms(500); PORTB=a; } } Cara kerja program: Pada program Program LED berjalan ke kiri di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan mendeklarasikan waktu kurang lebih 1 sekon. Kemudian mikrokontroller akan mengeksekusi program utama. Di dalam program utama, terdapat variabel karakter yang berfungsi untuk menyimpan data 0x01. Data tersebut akan di keluarkan oleh mikrokontroller dengan menggunakan port 0. kemudian mikrokontroller menjalankan operasi geser kekiri. Diantara operasi geser kiri

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

dan mengeluarkan data di PORTB tersebut terdapat waktu tunda kurang lebih 1 sekon. Didalam program utama terdapat pernyataan while(1). Pernyataan itu berfungsi untuk melakukan Looping secara terus menerus.

1.7. PEMROGRAMAN LED BERJALAN BOLAK-BALIK


Setelah membuat dan menjalankan program menyalakan lampu LED berjalan menyala kekiri, maka sekarang saatnya Anda membuat program ketuga yang digunakan untuk menghidupkan LED bolak balik. Program LED bolak balik menggunakan operasi pernyataan geser kanan dan geser kiri. Program sebagai berikut ini //-----------------------------------------------------//Program Bab 3.6. LED ping-pong //-----------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> void jalankiri(unsigned int n) { unsigned char i=0, a=0x01; DDRB=0xFF; PORTB = 0; while(n) { for(i=0;i<7;i++) { a=((a>>7) | (a<<1)); delay_ms(100); PORTB=a; } n--; } } void jalankanan(unsigned int n) { unsigned char i=0, a=0x80; DDRB=0xFF; PORTB = 0; while(n) {

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

for(i=0;i<7;i++) { a=((a<<7) | (a>>1)); delay_ms(100); PORTB=a; } n--; } } void main(void) { while(1) { iswanto: jalankiri(1); jalankanan(1); goto iswanto; } } Cara kerja program: Pada program menyalakan LED dari kiri ke kanan di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan mendeklarasikan waktu kurang lebih 1 sekon. Waktu tersebut berfungsi untuk waktu tunda. Waktu tunda itu tidak tidak akurat. Kemudian mikrokontroller akan mengeksekusi program utama. Di dalam program utama, terdapat variabel karakter yang berfungsi untuk menyimpan data 0x01. Data tersebut akan di keluarkan oleh mikrokontroller dengan menggunakan port 0. kemudian mikrokontroller menjalankan operasi geser kanan. Diantara operasi geser kiri dan mengeluarkan data di port 0 tersebut terdapat waktu tunda kurang lebih 1 sekon. Didalam program utama terdapat pernyataan while(1). Pernyataan itu berfungsi untuk melakukan Looping secara terus menerus.

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

BAB II APLIKASI INPUT


2.1. PENDAHULUAN
Agar tombol tersebut dapat memberi input pada mikrokontroller, maka terlebih dahulu tombol ini harus disusun dalam sebuah rangkaian di mana terdapat perbedaan kondisi pada pin-pinnya antara kondisi tidak ada penekanan tombol, penekanan tombol 1, 2, 3 dan seterusnya. Kondisi tidak adanya penekanan tombol diatur dengan adanya kondisi logika high. Pada saat tombol tidak ditekan, maka arus akan mengalir dari VCC melalui resistor menuju ke port seperti tampak pada gambar berikut.
PORT

Gambar 2.1. Rangkaian saklar

Sedangkan saat tombol ditekan, maka baris dan kolom akan terhubung ke ground sehingga kondisi pada baris dan kolom tersebut akan menjadi low.

2.2. RANGKAIAN PEMBACAAN 8 TOMBOL


Rangkaian pembacaan 8 buah tombol adalah rangkaian untuk membaca penekanan tombol yang terhubung pada port keluaran mikrokontroller yang hasilnya tertampil pada led .

10

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

VCC U4 VCC 1 2 3 4 5 6 7 8 9 VCC 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 PB0(XCK/T0) PA0(ADC0) PA1(ADC1) PB1(T1) PB2(INT2/AIN0) PA2(ADC2) PB3(OC0/AIN1) PA3(ADC3) PB4(SS) PA4(ADC4) PB5(MOSI) PA5(ADC5) PB6[MISO) PA6(ADC6) PB7[SCK) PA7(ADC7) AREF RESET VCC AGND GND AVCC PC7(TOSC2) XTAL2 PC6(TOSC1) XTAL1 PC5 PD0(RXD) PC4 PD1(TXD) PC3 PD2(INT0) PC2 PD3(INT1) PC1(SDA) PD4(OC1B) PC0(SCL) PD5(OC1A) PD6(ICP) PD7(OC2) ATMEGA8535 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1

R1

C1 22pF C3 100nF1

VCC

SW2 X1 2 C2 22pF

Gambar 2.2. Rangkaian aplikasi pembacaan 8 buah tombol

2.3. PEMROGRAMAN PEMBACAAN 8 BUAH TOMBOL


Setelah rangkaian tombol dibuat dan dihubungkan dengan port pararel mikrokontroller, maka sekarang saatnya Anda membuat program pembacaan tombol. Program sebagai berikut ini //------------------------------------------------------//Program Program pembacaan 8 buah tombol //------------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> void main(void) { DDRC=0x00; DDRB=0xFF; while(1) { PORTB = PINC; } } Cara kerja program: Pada program pembacaan 8 buah tombol, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan masuk ke dalam program utama. Di dalam program utama, mikrokontroller akan

11

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

membaca PORT C. Data dari PORT C akan dimasukan ke dalam variabel, Kemudian data yang ada di variabel tersebut akan dikeluarakan pada PORT B oleh

mikrokontroller. Didalam program utama terdapat pernyataan while(1). Pernyataan itu berfungsi untuk melakukan Looping secara terus menerus.

2.4. PEMROGRAMAN PEMBACAAN TOMBOL


Setelah rangkaian tombol dibuat dan dihubungkan dengan port pararel mikrokontroller, maka sekarang saatnya Anda membuat program Program pembacaan tombol tunggal. Program sebagai berikut ini //------------------------------------------------------//Program membaca 1 tombol //------------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> void jalankiri() { char i; volatile unsigned char dataLED=0x80; DDRB=0xFF; PORTB = 0; for(i=0; i<8;i++) { dataLED= ((dataLED<<1) | (dataLED >>7)); PORTB=dataLED; delay_ms(100); } } void jalankanan() { char i; volatile unsigned char dataLED=0x01; DDRB=0xFF; PORTB = 0; for(i=0; i<8;i++) { dataLED= ((dataLED<<7) | (dataLED >>1)); PORTB=dataLED;

12

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

} } void main(void) { DDRC=0x00; while(1) { if (PINC.0==1) { jalankanan(); } else { jalankiri(); } } } Cara kerja program:

delay_ms(100);

Pada program satu tombol, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan masuk ke dalam program utama. Di dalam program utama, mikrokontroller akan membaca PORT C.0. Kemudian data tersebut akan dibandingkan untuk mengeluarakan data pada PORT B oleh mikrokontroller. Jika PORT C.0 berlogika rendah maka led pada PORT B akan bergeser ke kiri, jika port PORT C.0 berlogika rendah maka led pada PORT B akan bergeser ke kanan. Kemudian memanggil tunda 1 sekon Didalam program utama terdapat pernyataan while(1). Pernyataan itu berfungsi untuk melakukan Looping secara terus menerus.

13

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

BAB III TIMER DAN COUNTER


3.1. PENDAHULUAN
Timer dan Counter merupakan sarana input yang kurang dapat perhatian pemakai mikrokontroler, dengan sarana input ini mikrokontroler dengan mudah bisa dipakai untuk mengukur lebar pulsa, membangkitkan pulsa dengan lebar yang pasti. AVR ATMEGA8535 memiliki tiga buah timer, yaitu Timer/Counter0 (8 bit), Timer/Counter1 (16 bit), dan Timer/Counter3 (16 bit).

3.2. RANGKAIAN MENCACAH COUNTER TIMER T0


Rangkaian minimum untuk counter melalui Port B.0 ditunjukan pada Gambar 3.1. Rangkaian tersebut menggunakan penampil led. Konfigurasi rangkaian LED yaitu Common Anode (CA) artinya untuk menghidupkan LED pada Port D, port D harus dikirim atau diberi logika 0.
HEADER 5 VCC 1 2 3 4 5 JISP VCC P5 P6 P7 RST GND U4 P0 P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 PB0(XCK/T0) PA0(ADC0) PB1(T1) PA1(ADC1) PB2(INT2/AIN0) PA2(ADC2) PB3(OC0/AIN1) PA3(ADC3) PB4(SS) PA4(ADC4) PB5(MOSI) PA5(ADC5) PB6[MISO) PA6(ADC6) PB7[SCK) PA7(ADC7) RESET AREF AGND VCC AVCC GND XTAL2 PC7(TOSC2) XTAL1 PC6(TOSC1) PD0(RXD) PC5 PD1(TXD) PC4 PD2(INT0) PC3 PD3(INT1) PC2 PD4(OC1B) PC1(SDA) PD5(OC1A) PC0(SCL) PD6(ICP) PD7(OC2) ATMEGA16 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21

R1 RST 1 C1 22pF C3 100nF1 SW2 X1 2 C2 22pF 1 1 1 1 1 1 1 1 VCC L1 2 2 2 2 2 2 2 2

VCC

Gambar 3.1. Hasil pemasangan komponen-komponen mencacah counter T0

10

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

3.3. PEMROGRAMAN MENCACAH COUNTER T0


Setelah rangkaian dibuat dan dihubungkan dengan port mikrokontroller, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk mencacah. Program cacah menggunakan port B.0 pada mikrokontroller. Program sebagai berikut ini //-----------------------------------------------------// Program MENCACAH COUNTER TIMER 0 //-----------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> #include <stdio.h> unsigned char led,a; void InisialisasiTIMER (); void main (void) { DDRD = 0xff; led=0x00; InisialisasiTIMER(); while(1) { a = TCNT0; if (a == 0x06) { led = PIND; PORTD=~led; TCNT0=0x00; } } } void InisialisasiTIMER () { TCNT0=0x00; TCCR0=0x07; }

Cara kerja program: Program mencacah counter T0 merupakan program untuk menghidupkan dan mematikan led dengan menekan satu tombol sebanyak 6x. Program ini, di perlukan

11

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan mendeklasrasikan timer sebagai counter. Untuk mendeklarasikan timer sebagai counter maka register TCCR0 diisi dengan nilai 0x07. Tcnt0 = 0.Untuk menghapus isi dari register timer 0 maka register TCNT0 di beri nilai 0x00 Di dalam program utama, mikrokontroller akan membaca cacahan melalui PORTB.0. Cacahan tersebut akan di masukan kedalam register TCNT0, kemudian di masukan kedalam variabel. Nilai cacahan yang terdapat di dalam variabel tersebut akan dibandingkan, pada saat nilai cacahan = 6 maka led akan menyala dan jika tombol di tekan lagi sebanyak 6x maka led akan mati. Didalam program utama terdapat pernyataan while(1). Pernyataan itu berfungsi untuk melakukan Looping secara terus menerus.

3.4. PEMROGRAMAN MENCACAH TIMER T0


Setelah rangkaian dibuat dan dihubungkan dengan port mikrokontroller, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk mencacah. Program cacah menggunakan timer pada mikrokontroller. Program sebagai berikut ini //-----------------------------------------------------// Program MENCACAH TIMER T0 //-----------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> #include <stdio.h> unsigned char led=0; char a; void InisialisasiTIMER (); void main (void) { DDRB=0x00;

12

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

DDRD=0xFF; PORTD=led; InisialisasiTIMER(); led = 0x01; while(1) { if (led == 0x80) { led = 0x01; } a = TCNT0; if (a == 0xFE) { PORTD=led; TCNT0=0x00; led=led <<1; } } } void InisialisasiTIMER () { TCNT0=0x00; TCCR0=0x05; } Cara kerja program: Pada Program mencacah Timer T0, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan mendeklasrasikan timer sebagai counter. Program utama ini digunakan untuk menghitung banyaknya cacahan timer. Nilai dari cacahan tersebut akan di simpan di register TCNT0. Saat TCNT0 sama dengan 0xFE maka led yang di pasang pada PORT D akan bergeser satu digit. Dan sampai pada digit ke 8 maka data led akan dikembalikan ke posisi awal.

13

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

3.5. RANGKAIAN MENCACAH COUNTER TIMER T1


Rangkaian minimum untuk counter melalui Port B.1 ditunjukan pada Gambar 4.2. Rangkaian tersebut menggunakan penampil led. Konfigurasi rangkaian LED yaitu Common Anode (CA) artinya untuk menghidupkan LED pada Port D, port D harus dikirim atau diberi logika 0.
HEADER 5 1 2 3 4 5 JISP VCC P5 P6 P7 RST GND U4 P0 P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 PB0(XCK/T0) PA0(ADC0) PA1(ADC1) PB1(T1) PB2(INT2/AIN0) PA2(ADC2) PB3(OC0/AIN1) PA3(ADC3) PB4(SS) PA4(ADC4) PB5(MOSI) PA5(ADC5) PB6[MISO) PA6(ADC6) PB7[SCK) PA7(ADC7) AREF RESET AGND VCC AVCC GND PC7(TOSC2) XTAL2 PC6(TOSC1) XTAL1 PC5 PD0(RXD) PC4 PD1(TXD) PC3 PD2(INT0) PC2 PD3(INT1) PC1(SDA) PD4(OC1B) PC0(SCL) PD5(OC1A) PD6(ICP) PD7(OC2) ATMEGA16 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21

VCC

R1 RST 1 C1 22pF C3 100nF1 SW2 X1 2 C2 22pF 1 1 1 1 1 1 1 1 VCC L1 2 2 2 2 2 2 2 2

VCC

Gambar 3.2. Hasil pemasangan komponen-komponen mencacah counter T1

3.6. PEMROGRAMAN MENCACAH COUNTER T1


Setelah rangkaian dibuat dan dihubungkan dengan port mikrokontroller, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk mencacah. Program cacah menggunakan port B.1 pada mikrokontroller. Program sebagai berikut ini //-----------------------------------------------------// Program MENCACAH COUNTER TIMER 1 //-----------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> #include <stdio.h>

14

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

unsigned char led,a; void InisialisasiTIMER (); void main (void) { DDRD = 0xff; led=0x00; InisialisasiTIMER(); while(1) { a = TCNT1L + TCNT1H; if (a == 0x06) { led = PIND; PORTD=~led; TCNT1L=0x00; TCNT1H=0x00; } } } void InisialisasiTIMER () { TCNT1L=0x00; TCNT1H=0x00; TCCR1A=0x00; TCCR1B=0x07; }

Cara kerja program: Program mencacah counter T1 merupakan program untuk menghidupkan dan mematikan led dengan menekan satu tombol sebanyak 6x. Program ini, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan mendeklasrasikan timer sebagai counter. Untuk mendeklarasikan timer sebagai counter maka register TCCR1 diisi dengan nilai 0x07. Tcnt1 = 0.Untuk menghapus isi dari register timer 0 maka register TCNT1 di beri nilai 0x00 Di dalam program utama, mikrokontroller akan membaca cacahan melalui PORTB.1. Cacahan tersebut akan di masukan kedalam register TCNT1, kemudian di

15

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

masukan kedalam variabel. Nilai cacahan yang terdapat di dalam variabel tersebut akan dibandingkan, pada saat nilai cacahan = 6 maka led akan menyala dan jika tombol di tekan lagi sebanyak 6x maka led akan mati. Didalam program utama terdapat pernyataan while(1). Pernyataan itu berfungsi untuk melakukan Looping secara terus menerus.

3.7. PEMROGRAMAN MENCACAH TIMER T1


Setelah rangkaian dibuat dan dihubungkan dengan port mikrokontroller, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk mencacah. Program cacah menggunakan timer pada mikrokontroller. Program sebagai berikut ini //-----------------------------------------------------// Program MENCACAH TIMER T0 //-----------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> #include <stdio.h> unsigned char led=0; char a; void InisialisasiTIMER (); void main (void) { DDRB=0x00; DDRD=0xFF; PORTD=led; InisialisasiTIMER(); led = 0x01; while(1) { if (led == 0x80) { led = 0x01; } a = TCNT1L + TCNT1H; if (a == 0xFE) { PORTD=led;

16

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

} }

TCNT1L=0x00; TCNT1H=0x00; led=led <<1;

} void InisialisasiTIMER () { TCNT1L=0x00; TCNT1H=0x00; TCCR1A=0x00; TCCR1B=0x05; } Cara kerja program: Pada Program mencacah Timer T1, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan mendeklasrasikan timer sebagai counter. Program utama ini digunakan untuk menghitung banyaknya cacahan timer. Nilai dari cacahan tersebut akan di simpan di register TCNT1L dan TCNT1H.. Saat TCNT1L + TCNT1H sama dengan 0xFE maka led yang di pasang pada PORT D akan bergeser satu digit. Dan sampai pada digit ke 8 maka data led akan dikembalikan ke posisi awal.

17

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

BAB IV PORT SERIAL


4.1. SERIAL PADA ATMEGA8535
Universal synchronous dan asynchronous pemancar dan penerima serial adalah suatu alat komunikasi serial sangat fleksibel. Jenis yang utama adalah : Operasi full duplex ( register penerima dan pengirim serial dapat berdiri sendiri ) Operasi Asychronous atau synchronous Master atau slave mendapat clock dengan operasi synchronous Pembangkit boud rate dengan resolusi tinggi Dukung frames serial dengan 5, 6, 7, 8 atau 9 Data bit dan 1 atau 2 Stop bit Tahap odd atau even parity dan parity check didukung oleh hardware Pendeteksian data overrun Pendeteksi framing error Pemfilteran gangguan ( noise ) meliputi pendeteksian bit false start dan pendeteksian low pass filter digital Tiga interrupt terdiri dari TX complete, TX data register empty dan RX complete. Mode komunikasi multi-processor Mode komunikasi double speed asynchronous

4.2. INISIALISASI USART


USART harus diinisialisasi sebelum komunikasi manapun dapat berlansung. Proses inisialisasi normalnyaterdiri daripengesetan boud rate, penyetingan frame

31

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

format dan pengaktifan pengirim atau penerimatergantung pada pemakaian. Untuk interrupt menjalankan operasi USART , global interrupt flag ( penanda ) sebaiknya dibersihkan ( dan interrupt global disable ) ketika inisialisasi dilakukan. Sebelum melakukan inisialisasi ulang dengan mengubah boud rate atau frame format, untuk meyakinkan bahwa tidak ada transmisi berkelanjutan sepanjang peiode register yang diubah. Flag TXC dapat digunakan untuk mengecek bahwa pemancar telah melengkapi semua pengiriman, dan flag RXC dapat digunakan untuk mengecek bahwa tidak ada data yang tidak terbaca pada buffer penerima. Tercatat bahwa flag TXC harus dibersihkan sebelum tiap transmisi ( sebelum UDR ditulisi ) jika itu semua digunakan untuk tujuan tersebut. USART sederhana inisialisasi kode contoh berikut menunjukan fungsi satu assembly dan satu C itu mempunyai kesamaan dalam kemampuan. Pada contoh tersebit mengasumsikan bahwa operasi asinkron menggunakan metode poling ( tidak ada interrupt enable ) frame format yang tetap. Boud rate diberikan sebagai fungsi parameter. Untuk kode assembly, parameter boud rate diasumsikan untuk di simpan pada register r16, r17. Ketika menulis fungsi pada register UCSRC, bit URSEL (MSB) harus diset dalam kaitan dengan pembagian penempatan I/O oleh UBRRH dan UCSRC. Lebih mengedepankan inisialisasi rutin dapat dibuat seperti itu meliputi frame format sebagai parameter, disable interrupt dan lain-lain. Bagai manapun juga banyak aplikasi menggunakan seting tetap boud dan register control, dan untuk aplikasi jenis ini dapat ditempatkan secara langsung pada keseluruhan routine, atau dikombinasikan dengan inisialisasi kode untuk modul I/O yang lain.

32

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

4.3. MENGIRIM DATA MELALUI PORT SERIAL


Proses pengiriman data serial dilakukan per byte data dengan menunggu register UDR yang merupakan tempat data serial akan disimpan menjadi kosong sehingga siap ditulis dengan data yang baru. Proses ini menggunakan bit yang ada pada register UCSRA, yaitu bit UDRE (USART Data Register Empty). Bit UDRE merupakan indikator kondisi register UDR. Jika UDRE bernilai 1 maka register UDR telah kosong.

4.4. MENERIMA DATA MELALUI PORT SERIAL


Proses penerimaan data serial diakukan dengan mengecek nilai bit RXC (USART Receive Complete) pada register UCSRA. RXC akan bernilai satu jika ada data yang siap dibaca di buffer penerima, dan bernilai nol jika tidak ada data pada buffer penerima. Jika penerima USART dinonaktifkan maka bit ini akan selalu bernilai nol.

4.5. RANGKAIAN SERIAL MIKROKONTROLLER


Rangkaian berikut digunakan untuk interfacing Led dengan port serial. Rangkaian tersebut, sebagai konverter dari serial ke pararel. Berikut adalah rangkaian serial led driver yang akan kita hubungkan pada port serial. Rangkaian Led Driver Serial menggunakan Microcontroller ATMEGA8535 yang dihubungkan ke port serial dengan menggunakan IC RS232 Rangkaian Serial LED Driver ini akan mendeteksi setiap pengiriman data karakter dari port serial computer.

33

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

HEADER 5 VCC 1 2 3 4 5 RST VCC 1 C1 22pF C3 100nF1 SW2 X1 2 C2 22pF PD0 PD1 PD2 PD3 PD4 PD5 PD6 P5 P6 P7 RST GND P0 P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

U4 PB0(XCK/T0) PA0(ADC0) PB1(T1) PA1(ADC1) PB2(INT2/AIN0) PA2(ADC2) PB3(OC0/AIN1) PA3(ADC3) PB4(SS) PA4(ADC4) PB5(MOSI) PA5(ADC5) PB6[MISO) PA6(ADC6) PB7[SCK) PA7(ADC7) AREF RESET VCC AGND GND AVCC PC7(TOSC2) XTAL2 PC6(TOSC1) XTAL1 PC5 PD0(RXD) PC4 PD1(TXD) PC3 PD2(INT0) PC2 PD3(INT1) PC1(SDA) PD4(OC1B) PC0(SCL) PD5(OC1A) PD6(ICP) PD7(OC2) ATMEGA16 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21 DATA0 DATA1 DATA2 DATA3 DATA4 DATA5 DATA6 DATA7 2 2 2 2 2 2 2 2

L1

VCC 1 1 1 1 1 1 1 1

R1 JISP

ADD8 ADD9 ADD10 ADD11 ADD12 ADD13 ADD14 ADD15 PD7

VCC

HEADER 3 1 2 3 JSerial1 RX1 TX1 8 13 7 14 1uF 16V 1 + C4 3 1uF 16V + C8 2

U6 R2IN R1IN T2OUT T1OUT C+ T1IN R1OUT T2IN R2OUT C2+ 11 12 10 9 4 1uF 16V + C5 C1V+ MAX232 + C2V5 6 1uF 16V C9

Gambar 4.1. Hasil pemasangan komponen rangkaian serial mikrokontroller

4.6. PEMROGRAMAN MENGIRIM DATA


Setelah membuat rangkaian serial mikrokontroller dan menghubungkan ke komputer, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk mengirim data serial. Program sebagai berikut ini //------------------------------------------------------//Program MENGIRIM DATA SERIAL PORT //------------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> #include <stdio.h> unsigned char data_terima = 0x00; const long int osilator = 12000000; unsigned long int UBRR; void InisialisasiUSART (unsigned long int baud_rate); void main(void)

34

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

} void InisialisasiUSART (unsigned long int baud_rate) { UBRR = (osilator/(16*baud_rate))-1; UBRRL = UBRR; UBRRH = UBRR>>8; UCSRB = 0x18; UCSRC = 0x86; }

DDRC = 0xFF; PORTC = 0x00; InisialisasiUSART(9600); putsf("Selamat Datang Mas Iswanto"); putchar(13);

Cara kerja program: Pada program mengirim data serial, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenisATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan menginisialisasi port serial mikrokontroller dan boudrate. Kemudian program akan masuk ke program utama. Di dalam program utama, mikrokontroller akan mengeluarkan data Selamat Datang Mas Iswanto. Data tersebut akan di keluarkan oleh mikrokontroller dengan menggunakan port serial dan akan di terima oleh komputer

4.7. PEMROGRAMAN MENGIRIM DAN MENERIMA DATA


Setelah membuat dan menjalankan program mengirim data serial, maka sekarang saatnya Anda membuat program kedua yang digunakan untuk program mengirim dan menerima data serial. Program sebagai berikut ini //------------------------------------------------------//Program MENGIRIM DAN MENERIMA DATA //------------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h>

35

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

#include <stdio.h> unsigned char data_terima = 0x00; const long int osilator = 12000000; unsigned long int UBRR; void InisialisasiUSART (unsigned long int baud_rate); void main(void) { DDRC = 0xFF; PORTC = 0x00; InisialisasiUSART(9600); putsf("Selamat Datang Mas Iswanto"); putchar(13); while(1) { putsf("Tekan sembarang tombol"); putchar(13); data_terima = getchar(); delay_ms(100); putsf("Anda menekan tombol "); putchar(data_terima);; putchar(13); } } void InisialisasiUSART (unsigned long int baud_rate) { UBRR = (osilator/(16*baud_rate))-1; UBRRL = UBRR; UBRRH = UBRR>>8; UCSRB = 0x18; UCSRC = 0x86; } Cara kerja program: Pada program mengirim dan menerima data serial, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan menginisialisasi port serial mikrokontroller. Selain itu diperlukan fungsi untuk mengirim karakter dan menerima karakter. Kemudian program akan masuk ke program utama. Di dalam program utama, program ini akan mengirimkan teks Selamat Datang Mas Iswanto dan mengirim karakter enter dengan kode karakter 13 ke port serial kemuidan membaca penekanan tombol keyboard dan

36

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

mengirimkan data penekanan tombol tersebut ke port serial dengan kecepatan transfer kirim 9600 bps.

4.8. PEMROGRAMAN MENJALANKAN LED DENGAN PC


Setelah membuat dan menjalankan program program mengirim dan menerima data serial, maka sekarang saatnya Anda membuat program ketiga yang digunakan untuk mengeser LED dengan terminal komputer. Program sebagai berikut ini //------------------------------------------------------//Program MENJALANKAN LED DENGAN KOMPUTER //------------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> #include <stdio.h> unsigned char data_terima = 0x00; const long int osilator = 12000000; unsigned long int UBRR; char a,b; void InisialisasiUSART (unsigned long int baud_rate); void geser_kiri(); void geser_kanan(); void kedip(); void main(void) { DDRB = 0xFF; PORTB = 0x00; InisialisasiUSART(9600); putsf("Selamat Datang Mas Iswanto"); putchar(13); while(1) { putsf("Pilih Tombol Berikut ini"); putchar(13); putsf("1. Geser Kiri Led"); putchar(13); putsf("2. Geser Kanan Led"); putchar(13); putsf("3. Led Berkedip"); putchar(13); data_terima = getchar(); if(data_terima=='1') { geser_kiri(); } if(data_terima=='2')

37

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

{ geser_kanan(); } if(data_terima=='3') { kedip(); }

} void InisialisasiUSART (unsigned long int baud_rate) { UBRR = (osilator/(16*baud_rate))-1; UBRRL = UBRR; UBRRH = UBRR>>8; UCSRB = 0x18; UCSRC = 0x86; } void geser_kiri() { volatile unsigned char a=0x01; putsf("1. Geser Kiri Led"); putchar(13); for(b=0;b<=7;b++) { a=((a>>7) | (a<<1)); delay_ms(100); PORTB=a; } PORTB= 0x00; } void geser_kanan() { volatile unsigned char a=0x01; putsf("2. Geser Kanan Led"); putchar(13); for(b=0;b<=7;b++) { a=((a<<7) | (a>>1)); delay_ms(100); PORTB=a; } PORTB= 0x00; } void kedip() { putsf("3. Led Berkedip"); putchar(13); for(b=0;b<=7;b++) { PORTB= 0x00; delay_ms(50); PORTB= 0xFF;

38

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

delay_ms(50); } PORTB= 0x00;

Cara kerja program: Pada program mengirim dan menerima data serial, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan menginisialisasi port serial mikrokontroller. Selain itu diperlukan fungsi untuk mengirim karakter dan menerima karakter. Kemudian program akan masuk ke program utama. Di dalam program utama, program ini akan mengirimkan teks Selamat Datang Mas Iswanto dan mengirim karakter enter dengan kode karakter 13 ke port serial. Kemudian mikro akan mengeluarkan teks untuk penekanan tombol. Jika data angka 1 maka led brgeser ke kiri, jika data angka 2 maka led brgeser ke kanan, jika data angka 3 maka led berkedip.

39

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

BAB V INTERUPSI MIKROKONTROLLER


5.1. PENDAHULUAN
Interupsi adalah suatu kejadian atau peristiwa yang menyebabkan mikrokontroler berhenti sejenak untuk melayani interupsi tersebut. Program yang dijalankan pada saat melayani interupsi disebut Interrupt Service Routine. Pada sistem mikrokontroler yang sedang menjalankan programnya, saat terjadi interupsi , program akan berhenti sesaat, melayani interupsi tersebut dengan

menjalankan program yang berada pada alamat yang ditunjuk oleh vektor dari interupsi yang terjadi hingga selesai dan kembali meneruskan program yang terhenti oleh interupsi tadi. Pengetahuan mengenai interupsi tidak cukup hanya dibahas secara teori saja, diperlukan contoh program yang konkrit untuk memahami. ATMEGA8535 memiliki 21 buah sumber interupsi. Interupsi tersebut bekerja jika bit I pada Register status atau Status Register (SREG) dan bit pada masing-masing register bernilai 1.

5.2. RANGKAIAN INTERUPSI EKTERNAL


Rangkaian berikut digunakan untuk interupsi ekternal mikrokontroller.

Rangkaian tersebut menggunakan interupsi eksternal 0, 1, dan 2 yang menggunakan tampilan LED yang dihubungkan pada Port A.

40

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

VCC

VCC

VCC

INT2

R1 RST 1 C1 22pF C3 100nF1 SW2 X1 2 C2 22pF VCC

P0 P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7

U4 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 PA0(ADC0) PB0(XCK/T0) PA1(ADC1) PB1(T1) PB2(INT2/AIN0) PA2(ADC2) PB3(OC0/AIN1) PA3(ADC3) PB4(SS) PA4(ADC4) PB5(MOSI) PA5(ADC5) PB6[MISO) PA6(ADC6) PB7[SCK) PA7(ADC7) RESET AREF AGND VCC AVCC GND PC7(TOSC2) XTAL2 PC6(TOSC1) XTAL1 PD0(RXD) PC5 PD1(TXD) PC4 PC3 PD2(INT0) PC2 PD3(INT1) PC1(SDA) PD4(OC1B) PC0(SCL) PD5(OC1A) PD6(ICP) PD7(OC2) ATMEGA16 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21 2 2 2 2 2 2 2 2

L1 1 1 1 1 1 1 1 1

VCC

VCC

VCC HEADER 5 1 2 3 4 5 JISP P5 P6 P7 RST GND

INT1

INT0

Gambar 6.1. Rangkaian interupsi ekternal mikrokontroller

5.2.1. PEMROGRAMAN INTERUPSI EKTERNAL INT0


Setelah membuat rangkaian interupsi ekternal untuk menghidupkan LED, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk menghidupkan LED dengan menggunakan interupsi external 0. Program sebagai berikut ini //-----------------------------------------------------//Program rutin interupsi eksternal 0 //-----------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> #include <stdio.h> unsigned char dt=0x01; void InisialisasiINT0(); void main (void) { DDRA=0xff; InisialisasiINT0(); #asm ("sei"); while(1)

41

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PORTA=dt; delay_ms(100); dt=dt<<1; if (dt==0) {dt=0x01;}

} interrupt [EXT_INT0] void ext_int0_isr(void) { unsigned char rr=0; while (rr<5) { PORTA=0x0f; delay_ms(5); PORTA=0xf0; delay_ms(5); ++rr; } } void InisialisasiINT0 () { GICR|=0x80; MCUCR=0x0C; MCUCSR=0x00; GIFR=0x80; } Cara kerja program: Pada program rutin interupsi eksternal 0, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan masuk ke dalam program utama. Program ini akan menginisialisasi interupsi ekternal 0 dan akan mengaktifkan interupsi ekternal 0. Sebelum terjadi interupsi eksternal mikrokontroller mengeluarkan data 0x01 pada port A. Kemudian data tersebut di geser ke kiri, sehingga led akan bergeser ke kanan. Saat terjadi interupsi maka mikrokontroller akan mengeluarkan data flip-flop pada port A

42

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

5.2.2. PEMROGRAMAN INTERUPSI EKTERNAL INT1


Setelah membuat rangkaian interupsi ekternal int 1, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk menghidupkan LED dengan menggunakan interupsi external int1 Program sebagai berikut ini //-----------------------------------------------------//Program rutin interupsi eksternal 1 //-----------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> #include <stdio.h> unsigned char dt=0x01; void InisialisasiINT1(); void main (void) { DDRA=0xff; InisialisasiINT1(); #asm ("sei"); while(1) { PORTA=dt; delay_ms(100); dt=dt<<1; if (dt==0) {dt=0x01;} }; } interrupt [EXT_INT1] void ext_int1_isr(void) { unsigned char rr=0; while (rr<5) { PORTA=0x0f; delay_ms(5); PORTA=0xf0; delay_ms(5); ++rr; } } void InisialisasiINT1() { GICR|=0x80; MCUCR=0x0C; MCUCSR=0x00; GIFR=0x80; }

43

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Cara kerja program: Pada program rutin interupsi eksternal 1, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan masuk ke dalam program utama. Program ini akan menginisialisasi interupsi ekternal 1 dan akan mengaktifkan interupsi ekternal 1. Sebelum terjadi interupsi eksternal mikrokontroller mengeluarkan data 0x01 pada port A. Kemudian data tersebut di geser ke kiri, sehingga led akan bergeser ke kanan. Saat terjadi interupsi maka mikrokontroller akan mengeluarkan data flip-flop pada port A

5.3. RANGKAIAN INTERUPSI TIMER MIKROKONTROLLER


Rangkaian berikut digunakan untuk interupsi ekternal mikrokontroller.

Rangkaian tersebut menggunakan interupsi timer 0 dan 1 yang menggunakan tampilan LED yang dihubungkan pada Port D.
HEADER 5 VCC 1 2 3 4 5 RST 1 C1 22pF C3 100nF1 SW2 X1 2 C2 22pF 1 1 1 1 1 1 1 1 JISP VCC L1 2 2 2 2 2 2 2 2 P5 P6 P7 RST GND P0 P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 U4 PB0(XCK/T0) PA0(ADC0) PB1(T1) PA1(ADC1) PB2(INT2/AIN0) PA2(ADC2) PB3(OC0/AIN1) PA3(ADC3) PB4(SS) PA4(ADC4) PB5(MOSI) PA5(ADC5) PB6[MISO) PA6(ADC6) PA7(ADC7) PB7[SCK) AREF RESET VCC AGND GND AVCC XTAL2 PC7(TOSC2) XTAL1 PC6(TOSC1) PD0(RXD) PC5 PD1(TXD) PC4 PD2(INT0) PC3 PD3(INT1) PC2 PD4(OC1B) PC1(SDA) PD5(OC1A) PC0(SCL) PD6(ICP) PD7(OC2) ATMEGA16 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21

R1

VCC

Gambar 6.2. Rangkaian interupsi timer mikrokontroller

44

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

5.3.1. PEMROGRAMAN INTERUPSI TIMER 0


Setelah membuat rangkaian interupsi timer untuk menghidupkan LED, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk menghidupkan LED dengan menggunakan interupsi timer 0. Program sebagai berikut ini //-----------------------------------------------------// Program INTERUPSI TIMER 0 //-----------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> #include <stdio.h> unsigned char led=0xfe; void InisialisasiTIMER0(); void main (void) { DDRD=0xff; InisialisasiTIMER0(); #asm ("sei"); while(1); } interrupt [TIM0_OVF] void timer0_overflow(void) { TCNT0=0x00; led<<=1; led|=1; if (led==0xff) led=0xfe; PORTD=led; } void InisialisasiTIMER0() { TCNT0=0x00; TCCR0=0x05; TIMSK=0x01; TIFR=0x01; } Cara kerja program: Pada program rutin interupsi timer 0, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan masuk ke dalam program utama. Program ini akan menginisialisasi interupsi timer 0 dan akan mengaktifkan interupsi timer 0. sebelum interupsi mikrokontroller akan menyalakan led, setelah interupsi led geser kanan.

45

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

5.3.2. PEMROGRAMAN INTERUPSI TIMER 1


Setelah membuat rangkaian interupsi timer untuk menghidupkan LED, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk menghidupkan LED dengan menggunakan interupsi timer 1. Program sebagai berikut ini //-----------------------------------------------------// Program INTERUPSI TIMER 1 //-----------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> #include <stdio.h> unsigned char led=0xfe; void InisialisasiTIMER1(); void main (void) { DDRD=0xff; InisialisasiTIMER1(); #asm ("sei"); while(1); } interrupt [TIM1_OVF] void timer1_ovf_isr(void) { TCNT1L=0x00; TCNT1H=0x00; led<<=1; led|=1; delay_ms(100); if (led==0xff) led=0xfe; PORTD=led; } void InisialisasiTIMER1() { TCNT1L=0x00; TCNT1H=0x00; TCCR1A=0x00; TCCR1B=0x01; TIMSK=0x04; TIFR=0x04; } Cara kerja program: Pada program rutin interupsi timer 1, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan masuk ke dalam program utama. Program ini akan menginisialisasi interupsi timer

46

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

1 dan akan mengaktifkan interupsi timer 1. sebelum interupsi mikrokontroller akan menyalakan led, setelah interupsi led geser kanan.

5.3.3. PEMROGRAMAN INTERUPSI TIMER 2


Setelah membuat rangkaian interupsi timer untuk menghidupkan LED, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk menghidupkan LED dengan menggunakan interupsi timer 2. Program sebagai berikut ini //-----------------------------------------------------// Program INTERUPSI TIMER 2 //-----------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> #include <stdio.h> unsigned char led=0xfe; void InisialisasiTIMER2(); void main (void) { DDRD=0xff; InisialisasiTIMER2(); #asm ("sei"); while(1); } interrupt [TIM2_OVF] void timer2_ovf_isr(void) { TCNT2=0x00; led<<=1; led|=1; delay_ms(100); if (led==0xff) led=0xfe; PORTD=led; } void InisialisasiTIMER2() { TCCR2=0x05; TCNT2=0x00; TIMSK=0x40; TIFR=0x40; }

Cara kerja program: Pada program rutin interupsi timer 2, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan masuk ke dalam program utama. Program ini akan menginisialisasi interupsi timer

47

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2 dan akan mengaktifkan interupsi timer 2. sebelum interupsi mikrokontroller akan menyalakan led, setelah interupsi led geser kanan.

5.4. RANGKAIAN INTERUPSI SERIAL


Rangkaian berikut digunakan untuk interupsi serial mikrokontroller. Rangkaian tersebut menggunakan interupsi serial yang menggunakan tampilan LED yang dihubungkan pada Port A.
HEADER 5 VCC 1 2 3 4 5 RST VCC 1 C1 22pF C3 100nF1 SW2 X1 2 C2 22pF PD0 PD1 PD2 PD3 PD4 PD5 PD6 P5 P6 P7 RST GND P0 P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 U4 PB0(XCK/T0) PA0(ADC0) PB1(T1) PA1(ADC1) PB2(INT2/AIN0) PA2(ADC2) PB3(OC0/AIN1) PA3(ADC3) PA4(ADC4) PB4(SS) PB5(MOSI) PA5(ADC5) PB6[MISO) PA6(ADC6) PB7[SCK) PA7(ADC7) RESET AREF AGND VCC AVCC GND XTAL2 PC7(TOSC2) XTAL1 PC6(TOSC1) PD0(RXD) PC5 PD1(TXD) PC4 PD2(INT0) PC3 PD3(INT1) PC2 PD4(OC1B) PC1(SDA) PD5(OC1A) PC0(SCL) PD6(ICP) PD7(OC2) ATMEGA16 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21 DATA0 DATA1 DATA2 DATA3 DATA4 DATA5 DATA6 DATA7 2 2 2 2 2 2 2 2 L1 VCC 1 1 1 1 1 1 1 1

R1 JISP

ADD8 ADD9 ADD10 ADD11 ADD12 ADD13 ADD14 ADD15 PD7

VCC

HEADER 3 1 2 3 JSerial1 RX1 TX1 8 13 7 14 1uF 16V 1 + C4 3 1uF 16V + C8 2

U6 R2IN R1IN T2OUT T1OUT C+ T1IN R1OUT T2IN R2OUT C2+ 11 12 10 9 4 1uF 16V + C5 C1V+ MAX232 C2V5 6 1uF 16V C9 +

Gambar 6.3. Rangkaian interupsi serial mikrokontroller

5.4.1. PEMROGRAMAN INTERUPSI SERIAL


Setelah membuat rangkaian interupsi serial untuk menghidupkan LED, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk menghidupkan LED dengan menggunakan interupsi serial.

48

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Program sebagai berikut ini //-----------------------------------------------------// Program INTERUPSI SERIAL //-----------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> #include <stdio.h> #define RXC 7 #define FE 4 #define UPE 2 #define OVR 3 #define FRAMING_ERROR (1<<FE) #define PARITY_ERROR (1<<UPE) #define DATA_OVERRUN (1<<OVR) #define RX_BUFFER_SIZE 8 char rx_buffer[RX_BUFFER_SIZE]; unsigned char led=0xfe; const long int osilator = 12000000; unsigned long int UBRR; #if RX_BUFFER_SIZE<256 unsigned char rx_wr_index,rx_rd_index,rx_counter; #else unsigned int rx_wr_index,rx_rd_index,rx_counter; #endif bit rx_buffer_overflow; interrupt [USART_RXC] void usart_rx_isr(void) { char status,data; status=UCSRA; data=UDR; if ((status & (FRAMING_ERROR | PARITY_ERROR | DATA_OVERRUN))==0) { rx_buffer[rx_wr_index]=data; if (++rx_wr_index == RX_BUFFER_SIZE) rx_wr_index=0; if (++rx_counter == RX_BUFFER_SIZE) { rx_counter=0; rx_buffer_overflow=1; }; }; PORTA = data; } void InisialisasiUSART (unsigned long int baud_rate); void main(void) { DDRA = 0xFF; PORTA = 0x00;

49

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

InisialisasiUSART(9600); putsf("Selamat Datang Mas Iswanto"); #asm("sei") while (1) { led<<=1; led|=1; delay_ms(100); if (led==0xff) led=0xfe; PORTA=led; }; } void InisialisasiUSART (unsigned long int baud_rate) { UBRR = (osilator/(16*baud_rate))-1; UBRRL = UBRR; UBRRH = UBRR>>8; UCSRA=0x00; UCSRB=0x98; UCSRC=0x86; }

Cara kerja program: Pada program rutin interupsi serial, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan masuk ke dalam program utama. Program ini akan menginisialisasi interupsi serial dan akan mengaktifkan serial. Sebelum interupsi mikrokontroller maka program akan mengerjakanprogram geser led ke kanan. Dan jika terjadi interupsi maka PORT A akan mengeluarkan data karakter dari serial transmisi.

50

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

BAB VI LCD
6.1. PENDAHULUAN
Kemampuan dari LCD untuk menampilkan tidak hanya angka-angka, tetapi juga huruf-huruf, kata-kata dan semua sarana simbol, lebih bagus dan serbaguna daripada penampil-penampil menggunakan 7-segment LED (Light Emiting Diode) yang sudah umum. Modul LCD mempunyai basic interface yang cukup baik, yang mana sesuai dengan minimum system 8031. Sesuai juga dengan keluarga mikrokontroler yang lain. Bentuk dan ukuran modul-modul berbasis karakter banyak ragamnya, salah satu variasi bentuk dan ukuran yang tersedia dan dipergunakan pada peralatan ini adalah 16x 2 karakter (panjang 16, baris 2, karakter 32) dan 16 pin.

6.2. M1632 MODULE LCD 16 X 2 BARIS (M1632)


M1632 adalah merupakan modul LCD dengan tampilan 16 x 2 baris dengan konsumsi daya yang rendah. Modul ini dilengkapi dengan mikrokontroler yang didisain khusus untuk mengendalikan LCD. Mikrokontroler HD44780 buatan Hitachi yang berfungsi sebagai pengendali LCD ini mempunyai CGROM (Character Generator Read Only Memory), CGRAM (Character Generator Random Access Memory) dan DDRAM (Display Data Random Access Memory).

51

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

6.3. FUNGSI PIN-PIN MODUL LCD


Modul LCD berukuran 16 karakter x 2 baris dengan fasilitas back lighting memiliki 16 pin yang terdiri dari 8 jalur data, 3 jalur kontrol dan jalur-jalur catu daya:

Gambar 6.1. Pin-pin modul LCD

1. Pin 1 dan 2 Merupakan sambungan catu daya, Vss, dan Vdd. Pin Vdd dihubungkan dengan tegangan positif catu daya, dan Vss pada 0 volt atau ground. 2. Pin 3 Merupakan pin kontrol Vcc yang digunakan untuk mengatur kontras display. 3. Pin 4 Merupakan register select (RS), masukan yang pertama dari tiga command control input. Dengan membuat RS menjadi high, data karakter dapat ditransfer dari dan menuju modulnya.

52

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

4. Pin 5 Read/Write (R/W). Untuk memfungsikan sebagai perintah Write maka R/W low atau menulis karakter ke modul. 5. Pin 6 Enable (E), input ini digunakan untuk transfer aktual dari perintahperintah atau karakter antara modul dengan hubungan data. 6. Pin 7 sampai 14 Pin 7 sampai 14 adalah delapan jalur data (D0 D7) dimana data dapat ditransfer ke dan dari display. 7. Pin 15 dan 16 Pin 15 atau A (+) mempunyai level DC +5 V berfungsi sebagai LED backlight + sedangkan pin 16 yaitu K (-) memiliki level 0 V

6.4. RANGKAIAN LCD


Rangkaian LCD adalah rangkaian untuk menghubungkan LCD secara langsung dari port keluaran mikrokontroller dengan input LCD.
VCC J5 1 2 3 4 5 Rreset HEADER 5 C1 22pF C3 100nF SW1 X1 2 C2 22pF pinb.5 pinb.6 pinb.7 RST 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 J16.

U1 1 2 3 4 5 pinb.5 6 pinb.6 7 pinb.7 8 9 RST VCC 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 PA0(ADC0) PB0(XCK/T0) PA1(ADC1) PB1(T1) PB2(INT2/AIN0) PA2(ADC2) PB3(OC0/AIN1) PA3(ADC3) PB4(SS) PA4(ADC4) PB5(MOSI) PA5(ADC5) PB6[MISO) PA6(ADC6) PB7[SCK) PA7(ADC7) RESET AREF AGND VCC AVCC GND PC7(TOSC2) XTAL2 PC6(TOSC1) XTAL1 PD0(RXD) PC5 PD1(TXD) PC4 PC3 PD2(INT0) PC2 PD3(INT1) PC1(SDA) PD4(OC1B) PC0(SCL) PD5(OC1A) PD6(ICP) PD7(OC2) ATMEGA16 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21 RS_LCD E_LCD ADC4 ADC5 ADC6 ADC7

VCC 5k R9 RS_LCD E_LCD

VCC

VCC

ADC4 ADC5 ADC6 ADC7

C D3 HEADER 16 1N4002 VCC A

Gambar 6.2. Rangkaian LCD mikrokontroller

53

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

6.4.1.

PEMROGRAMAN LCD

Setelah membuat rangkaian LCD, maka sekarang saatnya Anda membuat program LCD. Program sebagai berikut ini //------------------------------------------------------//Program LCD //------------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> #include <stdio.h> #asm .equ __lcd_port=0x18;PORTB #endasm #include <lcd.h> void main(void) { lcd_init(16); lcd_gotoxy(0,0); lcd_putsf("Halo Iswanto"); delay_ms(100); lcd_gotoxy(0,1); lcd_putsf("T.ELEKTRO"); delay_ms(100); lcd_gotoxy(5,0); lcd_putsf("UMY "); delay_ms(100); while (1); }

Cara kerja program: Pada program LCD, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan masuk ke dalam program utama. Program ini akan menginisialisasi LCD dan akan menampilkan karakter dan tulisan di LCD. Tulisan pertama adalah Halo Iswanto yang akan ditampilkan pada baris pertama, dan akan ditampilkan di baris kedua berupa tulisan D3

54

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

T.Elektro. Kemudian pada baris ke satu kolom ke lima tulisan iswanto akan diganti tulisan UGM

55

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

BAB VII APLIKASI SEVEN SEGMEN


7.1. PENDAHULUAN
Peralatan keluaran yang sering digunakan dalam menampilkan bilangan adalah penampil seven segmen yang ditunjukkan pada gambar 4.1 (a). tujuh segmen tersebut dilabelkan dengan huruf a sampai g.

a f g b

e d (a)

(b)

Gambar 7.1. (a) Tampilan Fisik LED, (b) Skema dalam LED

Peraga seven segmen dapat dibuat dalam berbagai cara. Tiap tujuh segmen tersebut dapat berupa filamen tipis yang berpijar. Jenis peraga ini disebut peraga pijar (meandescent display), dan sama dengan bola lampu biasa. Peraga jenis lain adalah LCD (liquid crystal display), peraga cairan, yang ,menghasilkan angka angka berwarna kelabu atau puth perak. Dioda pemancar cahaya (LED, Light Emiting Dioda) menghasilkan cahaya kemerah merahan. Pada peraga LED, LED membutuhkan arus khusus sebesar 20 mA. Karena berupa dioda, LED sensitif terhadap polaritas. Katoda

51

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

(K) harus dihubung ke negatif (GND) dari catu daya dan Anoda (A) dihubung ke positif dari catu daya. Seven segmen ini mempunyai 2 tipe yaitu common anoda dan common katoda. Gambar 4.1(b) memperlihatkan catu daya yang dihubungkan ke seven segmen common anoda.

7.2. RANGKAIAN SEVEN SEGMENT TUNGGAL 1


Rangkaian seven segment tunggal adalah rangkaian untuk menggerakkan penampil 7 segment secara langsung dari port keluaran mikrokontroller. Penampil seven segment yang digunakan common anoda. Data yang digunakan untuk menghasilkan angka atau huruf tertentu didapatkan dengan cara seperti pada Tabel 4.1
U4 VCC P0 P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 RST 1 C1 22pF C3 100nF1 SW2 X1 2 C2 22pF PD0 PD1 PD2 PD3 PD4 PD5 PD6 1 2 3 4 5 6 7 8 9 VCC 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 PB0(XCK/T0) PA0(ADC0) PB1(T1) PA1(ADC1) PB2(INT2/AIN0) PA2(ADC2) PB3(OC0/AIN1) PA3(ADC3) PB4(SS) PA4(ADC4) PB5(MOSI) PA5(ADC5) PB6[MISO) PA6(ADC6) PB7[SCK) PA7(ADC7) AREF RESET VCC AGND GND AVCC XTAL2 PC7(TOSC2) XTAL1 PC6(TOSC1) PD0(RXD) PC5 PD1(TXD) PC4 PD2(INT0) PC3 PD3(INT1) PC2 PD4(OC1B) PC1(SDA) PD5(OC1A) PC0(SCL) PD6(ICP) PD7(OC2) ATMEGA16 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21

R1

VCC

VCC

PD7

1 2 3 4 5 JISP

P5 P6 P7 RST GND

PD0 PD1 PD2 PD3 PD4 PD5 PD6 PD7

Gambar 7.2. Rangkaian aplikasi penggerak seven segmen tunggal

52

1 2 3 4 5 8 9 10

HEADER 5

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Tabel 7.1 Data Karakter Angka Pada 7 Segment b7 dp 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 b6 b5 g 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 f 0 1 1 1 0 0 0 1 0 0 b4 e 0 1 0 1 1 1 0 1 0 1 b3 d 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 b2 c 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 b1 b 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 b0 a 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 HEX DATA COH F9H A4H BOH 99H 92H 82H F8H 80H 90H

7.2.1. PEMROGRAMAN SEVENT SEGMENT TUNGGAL 1


Setelah rangkaian seven segment dibuat dan dihubungkan dengan port pararel mikrokontroller, maka sekarang saatnya anda membuat program Program Seven Segment 1. Program ini digunakan untuk menampilkan data 3 dan 2 secara bergantian. Program sebagai berikut ini //------------------------------------------------------// Program Sevent Segmen Tunggal //------------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> void bin7seg(unsigned char data1) { switch(data1) { case 0 : PORTD = 0xc0; break; case 1 : PORTD = 0xf9; break;

53

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

case 2 : PORTD = break; case 3 : PORTD = break; case 4 : PORTD = break; case 5 : PORTD = break; case 6 : PORTD = break; case 7 : PORTD = break; case 8 : PORTD = break; case 9 : PORTD = break; } } void main(void) { DDRD=0xFF; while(1) { bin7seg(0); bin7seg(2); } } Cara kerja program:

0xa4; 0xb0; 0x99; 0x92; 0x82; 0xf8; 0x80; 0x90;

delay_ms(100); delay_ms(100);

Pada program Sevent Segmen Tunggal, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan masuk ke dalam program utama. Di dalam program utama, mikrokontroller akan mengeluarkan data angka 0. Data tesebut di konversi BCD ke karakter 7-segment dan akan di keluarkan oleh mikrokontroller dengan menggunakan PORT D. Kemudian

54

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

memanggil tunda 100 mili sekon dan memangil data angka 2

Instruksi while

merupakan instruksi perulangan, sehingga mikrokontroller akan mengeluarkan data secara terus menerus.

7.3. APLIKASI SEVEN SEGMENT TERMULTIPLEKS


Rangkaian seven segment termultipleks Seven Segment adalah rangkaian untuk menggerakkan 4 buah penampil 7 segment secara langsung dari port keluaran mikrokontroller dengan data input Seven Segment. 7-segment ini dikendalikan oleh transistor bc337.
U4 VCC DATA0 DATA1 DATA2 DATA3 R1 RST 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 VCC 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 PA0(ADC0) PB0(XCK/T0) PA1(ADC1) PB1(T1) PB2(INT2/AIN0) PA2(ADC2) PB3(OC0/AIN1) PA3(ADC3) PB4(SS) PA4(ADC4) PB5(MOSI) PA5(ADC5) PB6[MISO) PA6(ADC6) PB7[SCK) PA7(ADC7) RESET AREF AGND VCC AVCC GND PC7(TOSC2) XTAL2 PC6(TOSC1) XTAL1 PC5 PD0(RXD) PC4 PD1(TXD) PC3 PD2(INT0) PC2 PD3(INT1) PC1(SDA) PD4(OC1B) PC0(SCL) PD5(OC1A) PD6(ICP) PD7(OC2) ATMEGA32 VCC DATA0 RT1 330 VCC DATA1 RT2 330 VCC 1 3 2 1 Q2 BC337 3 2 1 Q1 BC337 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21 P0 P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7

VCC

C3 100nF1 SW2

DATA2 RT3 330

10 9 7 6 4 2 1

10 9 7 6 4 2 1

10 9 7 6 4 2 1

VCC DATA3 RT4 330 2 1 Q4 BC337

P0 P1 P2 P3 P4 P5 P6

P0

P0

Gambar 7.3. Rangkaian aplikasi penggerak seven segmen termultipleks

55

10 9 7 6 4 2 1

Q3 BC337

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

7.4. PEMROGRAMAN SEVENT SEGMENT TERMULTIPLEKS


Setelah rangkaian sevent segment dibuat dan dihubungkan dengan port pararel mikrokontroller, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk menampilkan data 1512 dan 4123 pada seven segment. Program sebagai berikut ini //------------------------------------------------------//Program Sevent Segment Termultipleks //------------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <delay.h> unsigned char data1; void bin7seg() { switch(data1) { case 0 : PORTD = 0xc0; break; case 1 : PORTD = 0xf9; break; case 2 : PORTD = 0xa4; break; case 3 : PORTD = 0xb0; break; case 4 : PORTD = 0x99; break; case 5 : PORTD = 0x92; break; case 6 : PORTD = 0x82; break; case 7 : PORTD = 0xf8; break; case 8 : PORTD = 0x80; break; case 9 :

56

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PORTD = 0x90; break; } void display(unsigned int x) { int digit1; int digit2; int digit3; int digit4; digit4=x/1000; digit3=(x-digit4*1000)/100; digit2=(x-digit4*1000-digit3*100)/10; digit1=(x-digit4*1000-digit3*100-digit2*10); PORTD=0x00; data1=digit4; bin7seg(); PORTD=0x10; data1=digit4; bin7seg(); PORTD=0x30; data1=digit4; bin7seg(); PORTD=0x70; data1=digit4; bin7seg(); } void main(void) { DDRD=0xFF; while(1) { display(1512); delay_ms(500); display(4123); delay_ms(500); } } Cara kerja program: Pada program Program 7-segment 2. Sevent Segmen Termultiplek, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis AT89x51. Setelah mendeklarasi register, maka program akan masuk ke dalam program utama. Di dalam program utama, mikrokontroller akan mengeluarkan data angka 1512.. Data tersebut akan masuk kedalam prosedure display untuk mengeluarakan data pada port 3 oleh mikrokontroller. }

57

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Kemudian memanggil tunda 1 sekon dan memangil data angka 4123 Instruksi while merupakan instruksi perulangan, sehingga mikrokontroller akan mengeluarkan data secara terus menerus.

58

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

BAB VIII KEYPAD


8.1. PENDAHULUAN
Keypad 4x3 di sini adalah sebuah keypad matrix dengan susunan empat baris dan tiga kolom dengan sebuah common.

Gambar 8.1.

Konstruksi keypad 4x3 dengan common

Seperti terlihat dalam gambar di atas, apabila saklar 1 ditekan, maka baris 1 dan kolom 1 akan terhubung ke common. Apabila saklar 2 ditekan, maka baris 1 dan kolom 2 akan terhubung ke common dan seterusnya.

58

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Gambar 8.2.

Gambar interface keypad 4x3

Agar keypad tersebut dapat memberian input pada B51PEB, maka terlebih dahulu keypad ini harus disusun dalam sebuah rangkaian di mana terdapat perbedaan kondisi pada pin-pinnya antara kondisi tidak ada penekanan tombol, penekanan tombol 1, 2, 3 dan seterusnya. Kondisi tidak adanya penekanan tombol diatur dengan adanya kondisi logika high dengan menghubungkan semua pin keypad (kecuali common) ke VCC melalui resistor pull up. Pada saat tombol tidak ditekan, maka arus akan mengalir dari VCC melalui resistor menuju ke port seperti tampak pada gambar berikut.

Gambar 8.3.

Aliran arus saat tombol tidak ditekan

59

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Sedangkan saat tombol ditekan, maka baris dan kolom akan terhubung ke ground sehingga kondisi pada baris dan kolom tersebut akan menjadi low. Apabila tombol 1 ditekan, maka baris 1 dan kolom 1 akan terhubung ke ground sehingga kondisi baris dan kolom tersebut akan berubah menjadi low, demikian pula pada tombol 2 dan seterusnya sehingga terbentuk tabel berikut. Tabel 8.1. Tabel kombinasi keypad

8.2. RANGKAIAN PEMBACAAN KEYPAD DENGAN LCD


Rangkaian tombol 4x4 adalah rangkaian untuk membaca tombol 4x4 dari port keluaran mikrokontroller. Pada saat penekanan tombol key pad, data dari key pad akan ditampilkan LCD.

60

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

VCC J16. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

J5 1 2 3 4 5 pinb.5 pinb.6 pinb.7 RST 5k R9

VCC pinb.0 pinb.1 pinb.2

HEADER 5 VCC pinb.0 pinb.1 pinb.2 pinb.5 pinb.6 pinb.7 VCC 1 C1 22pF C3 100nF1 SW2 X1 2 C2 22pF PD0 PD1 PD2 PD3 PD4 PD5 PD6 PD7 U4 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 PA0(ADC0) PB0(XCK/T0) PB1(T1) PA1(ADC1) PB2(INT2/AIN0) PA2(ADC2) PB3(OC0/AIN1) PA3(ADC3) PA4(ADC4) PB4(SS) PB5(MOSI) PA5(ADC5) PB6[MISO) PA6(ADC6) PB7[SCK) PA7(ADC7) AREF RESET VCC AGND GND AVCC XTAL2 PC7(TOSC2) XTAL1 PC6(TOSC1) PD0(RXD) PC5 PD1(TXD) PC4 PD2(INT0) PC3 PD3(INT1) PC2 PD4(OC1B) PC1(SDA) PD5(OC1A) PC0(SCL) PD6(ICP) PD7(OC2) ATMEGA16 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21

pinb.4 pinb.5 pinb.6 pinb.7

C D3

R1

HEADER 16 1N4002 VCC

VCC

S4

S8

S12

S16

SW

SW

SW

SW

S5

S9

S13

S17

SW

SW

SW

SW

S6 PD0 PD1 PD2 PD3 PD4 PD5 PD6 PD7

S10

S14

S18

SW

SW

SW

SW

S7

S11

S15

S19

SW

SW

SW

SW

Gambar 8.4.

Rangkaian aplikasi tombol keypad dengan lcd

8.2.1. PEMROGRAMAN PEMBACAAN KEYPAD


Setelah rangkaian tombol 4x4 dibuat dan dihubungkan dengan port pararel mikrokontroller, maka sekarang saatnya Anda membuat program Program pembacaan tombol. 4x4. Program sebagai berikut ini //-----------------------------------------------------//Program KEYPAD LCD //------------------------------------------------------

61

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

#include <lcd.h> #include <stdio.h> #include <mega8535.h> #include <delay.h> #asm .equ __lcd_port=0x18;PORTB #endasm unsigned char dt, dtkey; char buf[33]; void inkey(void); void main() { PORTD = 0XFF; DDRD=0xF0; lcd_init(16); lcd_gotoxy(0,1); lcd_putsf("Hello world"); while(1) { inkey(); lcd_gotoxy(0,1); sprintf(buf,"hex %x ",dtkey); lcd_puts(buf); } } void inkey(void) { PORTD.4 = 0; dt = (~PIND & 0x0F); switch (dt) { case 1:dtkey = 0x01; break; case 2:dtkey = 0x05; break; case 4:dtkey = 0x09; break; case 8:dtkey = 0x13; break; } PORTD.4 = 1;PORTD.5 = 0; dt = (~PIND & 0x0F); switch (dt) { case 1:dtkey = 0x02; break; case 2:dtkey = 0x06; break; case 4:dtkey = 0x10;

62

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

break; case 8:dtkey = 0x14; break; } PORTD.5 = 1;PORTD.6 = 0; dt = (~PIND & 0x0F); switch (dt) { case 1:dtkey = 0x03; break; case 2:dtkey = 0x07; break; case 4:dtkey = 0x11; break; case 8:dtkey = 0x15; break; } PORTD.6 = 1;PORTD.7 = 0; dt = (~PIND & 0x0F); switch (dt) { case 1:dtkey = 0x04; break; case 2:dtkey = 0x08; break; case 4:dtkey = 0x12; break; case 8:dtkey = 0x16; break; } PORTD.7 = 1; }

Cara kerja program: Pada Program Tombol, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan masuk ke dalam program utama. Di dalam program utama, mikrokontroller akan membaca data keypad 4x4 sesuai dengan penekanan tombol. Data keypad akan di tampilkan melalui LCD

63

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

BAB IX ANALOG TO DIGITAL CONVERTER MIKROKONTROLLER


9.1. PENDAHULUAN
Dalam dunia komputer, semua nilai tegangan dijadikan dalam bentuk digital, dan menggunakan sistem bilangan biner. Untuk itu dalam sistem ini, karena output dari sensor suhu berupa tegangan analog, maka diperlukan pengubah tegangan analog ke digital. ADC (Analog to Digital Converter) adalah suatu piranti yang digunakan untuk mengubah isyarat analog ke isyarat digital, rangkaian ini digunakan untuk mengubah isyarat analog dari sensor ke bentuk digital yang nantinya masuk ke komputer.

9.2. ADC ATMEGA8535


ATMEGA8535 merupakan tipe AVR yang dilengkapi dengan 8 saluran ADC internal dengan fidelitas 10 bit. Dalam mode operasinya, ADC ATMEGA8535 dapat dikonfigurasi, baik sebagai single ended input maupun pewaktuan, tegangan referensi, mode operasi, dan kemampuan filter derau yang amat fleksibel sehingga dapat dengan mudah disesuaikan dengan kebutuhan dari ADC itu sendiri.

64

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Gambar 9.1.

Diagram Blok ADC

Proses inisialisasi ADC meliputi proses penentuan clock, tegangan referensi, format output data, dan mode pembacaan. Register yang perlu diset nilainya adalah ADMUX (ADC Multiplexer Selection Register), ADCSRA (ADC Control and Status Register A), dan SFIOR (special Function IO Register). ADMUX merupakan register 8 bit yang berfungsi menentukan tegangan referensi ADC, format data output, dan saluran ADC yang digunakan. Konfigurasi register ADMUX pada Gambar 9.2. REF1 REF0 ADLAR MUX4 MUX3 MUX2 Gambar 9.2. Register ADMUX MUX1 MUX0

65

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Bit penyusunnya sebagai berikut: a. REF[1..0] merupakan bit pengatur tegangan referensi ADC ATMega8535. Memeiliki Nilai Awal 00 sehingga referensi tegangan berasal dari pin AREF. Detail nilai yang lain dapat dilihat pada tabel 9.1. Tabel 9.1. Pemilihan Mode Tegangan Referensi ADC REF1 0 0 1 1 REF0 0 1 0 1 Mode Tegangan Referensi Berasal dari pin AREF Berasal dari pin AVCC Tidak dipergunakan Berasal dari tegangan referensi internal 2,56 V

b. ADLAR merupakan bit pemilih mode data keluaran ADC. Bernilai awal 0, sehingga 2 bit tertinggi data hasil konversinya berada di register ADCH dan 8 bit sisanya berada di register ADCL, seperti dalam tabel 9.3. Apabila bernilai 1, maka hasilnya pada tabel 9.4. ADC9 ADC8 ADCH

ADC7 ADC6 ADC5 ADC4 ADC3 ADC2 ADC1 ADC0 ADCL Gambar 9.3. Format Data ADC dengan ADLAR=0

ADC9 ADC8 ADC7 ADC6 ADC5 ADC4 ADC3 ADC2 ADCH ADC1 ADC0 ADCL

Gambar 9.4.

Format Data ADC dengan ADLAR=1

66

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

c. MUX[4..0] merupakan bit pemilih saluran pembacaan ADC. Bernilai awal 00000. Untuk mode single ended input, MUX[4..0] bernilai dari 00000 hingga 00111, konfigurasinya dalam tabel 9.2. Tabel 9.2. Pemilihan Bit Saluran Pembacaan ADC
MUX4..0 00000 00001 00010 00011 00100 00101 00110 00111 01000 01001 01010 01011 01100 01101 01110 01111 10000 10001 10010 10011 10100 10101 10110 10111 11000 11001 11010 11011 11100 N/A Single Ended Input ADC0 ADC1 ADC2 ADC3 ADC4 ADC5 ADC6 ADC7 ADC0 ADC1 ADC0 ADC1 ADC2 ADC3 ADC2 ADC3 ADC0 ADC1 ADC2 ADC3 ADC4 ADC5 ADC6 ADC7 ADC0 ADC1 ADC2 ADC3 ADC4 ADC0 ADC0 ADC0 ADC0 ADC2 ADC2 ADC2 ADC2 ADC1 ADC1 ADC1 ADC1 ADC1 ADC1 ADC1 ADC1 ADC2 ADC2 ADC2 ADC2 ADC2 10x 10x 200x 200x 10x 10x 200x 200x 1x 1x 1x 1x 1x 1x 1x 1x 1x 1x 1x 1x 1x N/A Pos Differential Input Neg Differential Input Gain

67

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

ADCSRA merupakan register 8 bit yang berfungsi melakukan manajemen sinyal kontrol dan status dari ADC. Memiliki susunan dalam tabel 9.5. ADEN ADSC ADATE ADIF ADIE ADPS2 ADPS1 ADPS0 Gambar 9.5. Register ADCSRA

Bit penyusunnya sebagai berikut: a. ADEN merupakan bit pengatur aktivasi ADC. Bernilai awal 0. Jika bernilai 1, maka ADC aktif. b. ADSC merupakan bit penanda mulainya konversi ADC. Bernilai awal 0 selama konversi ADC akan bernilai 1, sedangkan jika konversi selesai, akan bernilai 0. c. ADATE merupakan bit pengatur aktivasi picu otomatis operasi ADC. Bernilai awal 0, jika bernilai1 maka konversi ADC akan dimulai pada saat transisi positif dari sinyal picu yang diplih. Pemiliha sinyal picu menggunakan bit ADTS pada register SFIOR. d. ADIF merupakan bit penanda akhir suatu konversi ADC. Bernilai awal 0. Jika bernilai 1, maka konversi ADC pada saluran telah selesai dan data siap diakses. e. ADIE merupakan bit pengatur aktivasi interupsi yang berhubungan dengan akhir konversi ADC. Bernilai awal 0. Jika berniali 1 dan jika konversi ADC telah selesai, sebuah interupsi akan dieksekusi. f. ADPS[2..0] merupakan bit pengatur clock ADC. Bernilai awal 000. Detail nilai bit dalam tabel 9.2.

68

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Tabel 9.3. Konfigurasi Prescaler ADC ADPS2 ADPS1 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 ADPS0 0 1 0 1 0 1 0 1 Faktor Pembagi 2 2 4 8 16 32 64 128

SFIOR merupakan register 8 bit pengatur sumber picu konversi ADC, apakah dari picu eksternal atau dari picu internal. Susunannya dalam tabel 9.2.

ADTS2 ADTS1 ADTS0 ACME PUD PSR2 PSR10 SFIOR Gambar 9.6. Register SFIOR

ADTS[2..0]

merupakan bit pengatur picu eksternal operasi ADC. Hanya

berfungsi jika bit ADATE pada register ADCSRA bernilai 1. Bernilai awal 000 sehingga ADC bekerja pada mode free running dan tidak ada interupsi yang akan dihasilkan. Detail nilai ADTS[2..0] dapat dilihat pada tabel 9.3 Untuk Operasi ADC, bit ACME, PUD, PSR2, dan PSR10 tidak diaktifkan. .

69

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Tabel 9.4. Pemilihan Sumber Picu ADC Sumber Picu Mode Free Running Komparator Analog Interrupt External Request 0 Timer/Counter0 Compare Match Timer/Counter0 Overflow Timer/Counter1 Compare Match B Timer/Counter1 Overflow Timer/Counter1 Capture Event

ADTS2 0 0 0 0 1 1 1 1

ADTS1 0 0 1 1 0 0 1 1

ADTS0 0 1 0 1 0 1 0 1

Dalam proses pembacaan hasil konversi ADC, dilakukan pengecekan terhadap bit ADIF (ADC Interupt Flag) pada register ADCSRA. ADIF akan benilai satu jika konversi sebuah saluran ADC telah selesai dilakukan dan data hasil konversi siap untuk diambil, dan demikian sebaliknya. Data disimpan dalam dua buah register, yaitu ADCH dan ADCL.

9.3. RANGKAIAN ADC ATMEGA DENGAN LED


Rangkaian minimum untuk membaca ADC dengan tempilan LED ditunjukan pada Gambar 9.7 yang perlu diperhatikan adalah konfigurasi rangkaian LED yaitu Common Anode (CA) artinya untuk menghidupkan LED pada Port D, port D harus dikirim atau diberi logika 0.

70

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

VCC HEADER 5 1 2 3 4 5 JISP VCC P5 P6 P7 RST GND U4 P0 P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 PB0(XCK/T0) PA0(ADC0) PA1(ADC1) PB1(T1) PB2(INT2/AIN0) PA2(ADC2) PB3(OC0/AIN1) PA3(ADC3) PB4(SS) PA4(ADC4) PB5(MOSI) PA5(ADC5) PB6[MISO) PA6(ADC6) PB7[SCK) PA7(ADC7) AREF RESET VCC AGND GND AVCC PC7(TOSC2) XTAL2 PC6(TOSC1) XTAL1 PC5 PD0(RXD) PC4 PD1(TXD) PC3 PD2(INT0) PC2 PD3(INT1) PC1(SDA) PD4(OC1B) PC0(SCL) PD5(OC1A) PD6(ICP) PD7(OC2) ATMEGA16 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21 1 VCC 3 R2 2 POT

R1 RST 1 C1 22pF C3 100nF1 SW2 X1 2 C2 22pF 1 1 1 1 1 1 1 1 VCC L1 2 2 2 2 2 2 2 2

Gambar 9.7.

Hasil pemasangan komponen ADC LED

9.4. PEMROGRAMAN ADC ATMEGA8535


Setelah rangkaian adc mikrokontroller ATMEGA8535 dibuat, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk membaca ADC ATMEGA8535 dan menampilkan data ADC tersebut dengan menggunakan LED yang terhubung pada PORT D yang konfigurasi rangkaian LED yaitu Common Anode (CA). Program sebagai berikut ini //------------------------------------------------------//Program ADC LED //------------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <stdio.h> #include <delay.h> unsigned int data_adc; int suhu; #define ADC_VREF_TYPE 0x60 unsigned char read_adc(unsigned char adc_input) { ADMUX=adc_input|ADC_VREF_TYPE; ADCSRA|=0x40; while ((ADCSRA & 0x10)==0); ADCSRA|=0x10;

71

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

return ADCH; } void main(void) { DDRD = 0xFF; ADMUX=ADC_VREF_TYPE; ADCSRA=0x87; SFIOR&=0xEF; while (1) { data_adc=read_adc(0); suhu=~data_adc; PORTD = suhu; } }

Cara kerja program: Pada program ADC LCD, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan masuk ke dalam program utama. Program ini akan membaca adc 1 buah ATMEGA8535 yaitu adc 0 yang datanya akan ditampilkan dengan LED yang konfigurasi rangkaian LED yaitu Common Anode (CA). Sintac DDRD mendeklarasikan PORT D sebagai = 0xFF merupakan ungkapan untuk Sintac ini ADCSRA=0x87;

output.

SFIOR&=0xEF berfungsi untuk mengisi register ADCSRA dan register SFIOR. data_adc=read_adc(0)merupakan ungkapan untuk mendapatkan nilai adc 0. Sintac suhu=~data_adc merupakan ungkapan untuk membalik data adc, karena adc akan dikeluarkan melalui LED yang konfigurasinya rangkaian LED yaitu Common Anode (CA), sehingga data yang ditampilkan akan sama dengan nyalanya LED.

72

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

9.5. RANGKAIAN ADC ATMEGA DENGAN LCD


Rangkaian minimum untuk membaca ADC dengan tempilan LCD ditunjukan pada Gambar 9.9.
VCC R17 POT 3 3 3 3 3 3 3 R11 2 HEADER 5 1 2 3 4 5 VCC JISP P5 P6 P7 RST GND U1 P0 P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 RST VCC 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 PA0(ADC0) PB0(XCK/T0) PA1(ADC1) PB1(T1) PB2(INT2/AIN0) PA2(ADC2) PB3(OC0/AIN1) PA3(ADC3) PB4(SS) PA4(ADC4) PB5(MOSI) PA5(ADC5) PB6[MISO) PA6(ADC6) PB7[SCK) PA7(ADC7) RESET AREF AGND VCC AVCC GND PC7(TOSC2) XTAL2 PC6(TOSC1) XTAL1 PC5 PD0(RXD) PC4 PD1(TXD) PC3 PD2(INT0) PC2 PD3(INT1) PC1(SDA) PD4(OC1B) PC0(SCL) PD5(OC1A) PD6(ICP) PD7(OC2) ATMEGA8535 PD4 PD5 PD6 PD7 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21 1 1 1 1 1 1 1 1 POT 2 R12 POT 2 R14 POT 2 R13 POT 2 R16 POT 2 R18 POT 2 R15 POT 2 3

R1

C1 22pF C3 100nF

VCC VCC 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 D3 J16.

SW1 X1 2 C2 22pF PD4 PD5 PD6 PD0 PD1 PD2

VCC 5k R9 PD7 PD0 PD1 PD2

C HEADER 16 1N4002 VCC

Gambar 9.8.

Hasil pemasangan komponen ADC LCD

9.6. PEMROGRAMAN ADC ATMEGA8535 DENGAN LCD


Setelah rangkaian adc mikrokontroller ATMEGA8535 dibuat dan dihubungkan dengan LCD, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk membaca ADC ATMEGA8535 dan ditampilkan menggunakan LCD. Program sebagai berikut ini //------------------------------------------------------//Program ADC LCD //------------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <stdio.h> #include <delay.h> #include <math.h>

73

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

#include <stdlib.h> #include <lcd.h> #asm .equ __lcd_port=0x18 ;PORTB #endasm unsigned int data_adc; int suhu,suhu_; char strSuhu[4]; char stra1[4]; #define ADC_VREF_TYPE 0x60 unsigned char read_adc(unsigned char adc_input) { ADMUX=adc_input|ADC_VREF_TYPE; ADCSRA|=0x40; while ((ADCSRA & 0x10)==0); ADCSRA|=0x10; return ADCH; } void main(void) { int a1; ADMUX=ADC_VREF_TYPE; ADCSRA=0x87; SFIOR&=0xEF; lcd_init(16); lcd_gotoxy(0,0);lcd_putsf("**ADC ATMEGA8535**"); lcd_gotoxy(0,1);lcd_putsf("CREATED BY 1512"); delay_ms(1000); while (1) { for(a1=0;a1<8;a1++) { lcd_clear(); lcd_gotoxy(0,0); lcd_putsf("ADC"); lcd_gotoxy(5,0); itoa(a1,stra1); lcd_puts(stra1); data_adc=read_adc(a1); suhu=data_adc; itoa(suhu,strSuhu); lcd_gotoxy(0,1); lcd_puts(strSuhu); delay_ms(500); } } }

74

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Cara kerja program: Pada program ADC LCD, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan masuk ke dalam program utama. Program ini akan membaca adc 8 buah ATMEGA8535 yang datanya akan ditampilkan dengan LCD. Sintac ini ADCSRA=0x87; SFIOR&=0xEF berfungsi untuk mengisi register ADCSRA dan register SFIOR.

data_adc=read_adc(0)merupakan ungkapan untuk mendapatkan nilai adc 0. Sintac suhu=data_adc merupakan ungkapan untuk menyimpan data adc. Kemudian data tersebut di konversi menjadi desimal dengan sintac itoa(suhu,strSuhu). Kemudian data tersebut akan ditampilkan melalui LCD.

75

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

BAB X PWM ATMEGA8535


10.1. PENDAHULUAN
PWM (Pulse Width Modulation) dapat digunakan untuk mengatur kecepatan motor, yaitu dengan cara mengatur lebar pulsa (waktu ON) dari tegangan sumbernya (tegangan DC). Perbandingan antara waktu ON dan waktu OFF disebut duty cycle (siklus kerja). Semakin besar siklus kerjanya, akan semakin besar pula keluaran yang dihasilkan, sehingga kecepatan motor akan semakin besar. Pembangkitan sinyal PWM dengan mikrokontroler memiliki beberapa keuntungan, seperti teknik pemrograman yang sederhana, dan rangkaian listrik menjadi sederhana. Mikrokontroler AVR ATMEGA8535 dapat digunakan sebagai pembangkit gelombang PWM. Mikrokontroler AVR ATMEGA8535 mempunyai PWM yang telah terintegrasi dalam chip. Keluaran dari PWM tersebut terdapat pada pin 15 (OC1). Untuk menjalankan program PWM, diperlukan 3 unit register timer, yaitu: a. Timer/Counter Control Register (TCCR), untuk menentukan mode PWM. b. Timer/Counter Register (TCNT), digunakan untuk menentukan modulasi frekuensinya. c. Output Compare Register (OCR), untuk menentukan nilai siklus kerjanya. Dalam mikrokontroler ATMEGA8535, terdapat beberapa mode PWM. Mode PWM yang akan dibahas adalah mode Fast PWM, karena dalam perancangan sistem robot ini menggunakan mode Fast PWM. Pada mode Fast PWM, semakin besar nilai OCR, maka akan semakin besar pula siklus kerja yang dihasilkan. Keluaran PWM akan berlogika tinggi setelah nilai TOP tercapai sampai nilai OCR tercapai dan kemudian

76

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

akan berlogika rendah sampai nilai TOP tercapai kembali. Prinsip kerja dari Fast PWM dapat dilihat pada Gambar 10.1.
nilai counter nilai OCR TOP

Keluaran

Gambar 10.1. Prinsip Kerja Mode Fast PWM Untuk menghitung siklus kerja digunakan rumus:

D=

OCR x100% ........................................10.1 1 + TOP

Untuk menentukan frekuensi PWM dihitung dengan rumus:


f PWM = f clock ..........................................10.2 N (1 + TOP)

Sedangkan untuk menentukan resolusi PWM digunakan rumus:

RPWM =
keterangan:

log(TOP + 1) .................................10.3 log 2

N adalah faktor prescaler (1, 8, 64, 256, atau 1024), dan TOP adalah nilai tertinggi dari pengaturan counter.

10.2. RANGKAIAN PWM MIKROKONTROLLER


Rangkaian minimum untuk pwm melalui Port D.4 dan Port D.5 ditunjukan pada Gambar 10.2. Rangkaian tersebut menggunakan diver motor dc yaitu transistor. Rangkaian driver tersebut akan di hubungkan dengan pin D.4 dan pin D.5.

77

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

JISP 1 2 3 4 5 RST pinb.7 pinb.6 pinb.5 U1 5V 1 2 3 4 5 pinb.5 6 pinb.6 7 pinb.7 8 9 5V 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 PB0(XCK/T0) PA0(ADC0) PB1(T1) PA1(ADC1) PB2(INT2/AIN0) PA2(ADC2) PB3(OC0/AIN1) PA3(ADC3) PB4(SS) PA4(ADC4) PB5(MOSI) PA5(ADC5) PB6[MISO) PA6(ADC6) PB7[SCK) PA7(ADC7) RESET AREF VCC AGND GND AVCC XTAL2 PC7(TOSC2) XTAL1 PC6(TOSC1) PD0(RXD) PC5 PD1(TXD) PC4 PC3 PD2(INT0) PC2 PD3(INT1) PC1(SDA) PD4(OC1B) PC0(SCL) PD5(OC1A) PD6(ICP) PD7(OC2) ATMEGA8535 12V2 D2 MG2 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21

R1 RST 1 C1 22pF C3 100nF1 SW2 X1 2 C2 22pF

5V

DIODE MOTOR DC TIP9013 470 TIP3055 2 12V2 D1 DIODE MOTOR DC 2 TIP9013 470 TIP3055

1 1

MG2

Gambar 10.2. Hasil pemasangan komponen rangkaian minimum untuk pwm

10.3. PEMROGRAMAN PWM MIKROKONTROLLER


Setelah rangkaian dibuat dan dihubungkan dengan port mikrokontroller, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk mengatur putaran motor dc. Program sebagai berikut ini

78

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

//------------------------------------------------------//Program Bab 10.1. PWM //------------------------------------------------------#include <stdio.h> #include <mega8535.h> #include <delay.h> void InisialisasiPWM(); int data1; int data2; void main (void) { InisialisasiPWM(); while(1) { data1 = 50; data2 = 1024; OCR1A=data1; OCR1B=data2; TIFR=0; } } void InisialisasiPWM() { DDRD=0xff; TCCR1A=0xa3; TCCR1B=0x0b; TCNT1=0x0000; }

Cara kerja program: Pada program ini perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller

jenisATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan masuk ke dalam program utama. Program utama ini digunakan untuk mengendalikan putaran dua buah motor dengan dua PWM. Dengan PWM 50 maka putaran motor tidak terlalu cepat dan dengan PWM 1024 maka putaran motor akan sepat. Jadi untuk mendapatkan putaran motor yang sangat cepat maka PWM yang digunakan sangat tinggi dan untuk mendapatkan putaran sangat pelan maka PWM yang digunakan sangat rendah

79

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

BAB XI KOMPARATOR ATMEGA8535


11.1. PENDAHULUAN
Komparator analog merupakan salah satu fitur pada ATMEGA8535. Fitur ini langsung membandingkan 2 input analog. Karena input analog adalah fungsi altenatif dari PORT B (PORTB.2 dan PORTB.3) maka PORTB.2 dan PORTB.3 harus kita set sebagai input dengan menonaktifkan R-pullup internal. Komparator analog memiliki dua tahap yaitu: Tahap pertama adalah komparator membandingkan input analog 0(AIN0) dan input analog 1 (ANI1) Tahap kedua adalahdari output komparator analog tersebut menuju ke logika flag interupsi (ACL)

Gambar 6.3. Blok diagram komparator analog

80

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

11.2. RANGKAIAN KOMPARATOR


Rangkaian komparator adalah rangkaian untukmembandingkan tegangan input analog. Yang hasil pembadingan akan di keluarkan melalui LED.
VCC 3 R2 POT 2 HEADER 5 1 2 3 4 5 JISP P0 P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 P5 P6 P7 RST GND VCC 3 1

U4 PA0(ADC0) PB0(XCK/T0) PA1(ADC1) PB1(T1) PB2(INT2/AIN0) PA2(ADC2) PB3(OC0/AIN1) PA3(ADC3) PA4(ADC4) PB4(SS) PB5(MOSI) PA5(ADC5) PB6[MISO) PA6(ADC6) PB7[SCK) PA7(ADC7) RESET AREF AGND VCC AVCC GND XTAL2 PC7(TOSC2) XTAL1 PC6(TOSC1) PD0(RXD) PC5 PD1(TXD) PC4 PD2(INT0) PC3 PD3(INT1) PC2 PD4(OC1B) PC1(SDA) PD5(OC1A) PC0(SCL) PD6(ICP) PD7(OC2) ATMEGA16 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21

R11 VCC POT 2

R1

1 RST C1 22pF

VCC L1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2

VCC

C3 100nF1 SW2 X1 2 C2 22pF

Gambar 11.1. Rangkaian komparator analog mikrokontroller

11.3. PEMROGRAMAN KOMPARATOR ANALOG


Setelah membuat rangkaian komparator analog mikrokontroller, maka sekarang saatnya Anda membuat program komparator analog mikrokontroller. Program sebagai berikut ini
//------------------------------------------------------//Program KOMPARATOR //------------------------------------------------------#include <stdio.h> #include <mega8535.h> #include <delay.h> void InisialisasiCOMPARATOR (); void main() { DDRD=0xFF; InisialisasiCOMPARATOR();

81

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

#asm("sei") while(1) { if (ACSR.5==0) {PORTD=0;} else {PORTD=0xff;} } } void InisialisasiCOMPARATOR () { ACSR=0x20; SFIOR=0x00; }

Cara kerja program: Pada program Bab 10.1. komparator analog, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis AT90S2313. Setelah mendeklarasi register, maka program akan mendeklarasi port D sebagai output dan PORTB.0 dan PORTB.1 sebagai komparator. Kemudian program masuk ke dalam program utama. Di dalam Program ini akan membandingkan antara komparator analog 1 dan komparator analog 2. Jika komparator analog 0 lebih besar dari pada komparator 1 maka LED mati dan sebaliknya jika komparator analog 1 lebih besar dari pada analog 0 maka LED menyala.

82

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

BAB XII EEPROM


12.1. PENDAHULUAN
EEPROM (Electrically Eraseble Programmable Read Only Memori) adalah salah satu dari tiga tipe memori pada AVR (dua yang lain adalah memori flash dan SRAM). EEPROM tetap dapat menyimpan data saat tidak di catu daya dan juga dapat diubah saat program berjalan.

12.2. EEPROM ATMEGA8535


Untuk menulis dalam EEPROM, perlu ditentukan terlebih dahulu data apa yang akan ditulis serta alamat untuk menulis data. Alamat yang akan ditulis dimasukan ke dalam EEPROM Address Register (EEAR). Data akan diletakkan dalam EEPROM Data Register (EEDR).

EEAR7

EEAR6

EEAR5

EEAR4

EEAR3

EEAR2

EEAR1

EEAR8 EEAR0

EEARH EEARL

Gambar 12.1. Register EEAR

7 MSB R/W

6 R/W

5 R/W

4 R/W

3 R/W

2 R/W

1 R/W

0 LSB R/W

Gambar 12.2. Register EEDR

7 R/W

6 R/W

5 R/W

4 R/W

3 EERIE R/W

2 EEMWE R/W

1 EEWE R/W

0 EERE R/W

Gambar 12.3. Register EEDR

83

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

EECR (EEPROM Control Register) digunakan untuk mengontrol operasi dari EEPROM. Bit penyusunnya dapat dijelaskan sebagai berikut: Bit 7..4: Bit tidak digunakan Bit 3: EERIE (EEPROM Ready Interrupt Enable) Bit 2: EEMWE (EEPROM Master Write Enable) Bit 1: EEWE (EEPROM Write Eneble) Bit 0: EERE (EEPROM Read Enable)

12.3. RANGKAIAN EEPROM ATMEGA8535


Rangkaian berikut digunakan untuk membaca dan menulis data eeprom ATMEGA8535. Rangkaian tersebut menggunakan port.A sebagai output yang dihubungkan dengan LCD.
HEADER 5 1 2 3 4 5 JISP VCC P0 P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 RST 1 C1 22pF C3 100nF1 SW2 X1 2 C2 22pF VCC 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 P5 P6 P7 RST GND

U4 PB0(XCK/T0) PA0(ADC0) PB1(T1) PA1(ADC1) PB2(INT2/AIN0) PA2(ADC2) PB3(OC0/AIN1) PA3(ADC3) PB4(SS) PA4(ADC4) PB5(MOSI) PA5(ADC5) PB6[MISO) PA6(ADC6) PB7[SCK) PA7(ADC7) AREF RESET VCC AGND GND AVCC XTAL2 PC7(TOSC2) XTAL1 PC6(TOSC1) PD0(RXD) PC5 PD1(TXD) PC4 PD2(INT0) PC3 PD3(INT1) PC2 PD4(OC1B) PC1(SDA) PD5(OC1A) PC0(SCL) PD6(ICP) PD7(OC2) ATMEGA16 40 39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 27 26 25 24 23 22 21

R1

VCC VCC J16. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 D3

VCC 5k R9 PD0 PD1 PD2

PD4 PD5 PD6 PD7

C HEADER 16 1N4002 VCC

Gambar 12.4. Rangkaian membaca dan mengisi eeprom

84

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

12.3.1. PEMROGRAMAN MEMBACA DAN MENGISI EEPROM


Setelah membuat rangkaian compas, maka sekarang saatnya Anda membuat program yang digunakan untuk membaca arah dari compas dan ditampilkan di LCD. Program sebagai berikut ini
//------------------------------------------------------//Program EEPROM //------------------------------------------------------#include <mega8535.h> #include <stdio.h> #include <delay.h> #include <lcd.h> #asm .equ __lcd_port=0x18 ;PORTB #endasm char buf[33]; int alfa; int eeprom *ptr_to_eeprom; void main(void) { int i; lcd_init(16); lcd_gotoxy(0,0); lcd_putsf("Data EEPROM alfa"); lcd_gotoxy(0,1); sprintf(buf,"%x ",alfa); lcd_puts(buf); alfa=0x55; lcd_gotoxy(6,1); sprintf(buf,"%x ",alfa); lcd_puts(buf); i=*ptr_to_eeprom; lcd_gotoxy(12,1); sprintf(buf,"%x ",i); lcd_puts(buf); while (1) { // Place your code here } };

85

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Cara kerja program: Pada program EEPROM, di perlukan deklarasi register untuk mikrokontroller jenis ATMEGA8535. Setelah mendeklarasi register, maka program akan masuk ke dalam program utama. Pada program utama pertama mendeklarasikan LCD. Kemudian program menyimpan data 55 ke eeprom. Fungsi i=*ptr_to_eeprom; berfungsi untuk memanggil data eeprom.

86