Anda di halaman 1dari 5

ISLAM MEKAH VERSUS ISLAM MEDINAH

REFORMATION IN ISLAM: ISLAM OF MECCA VERSUS ISLAM OF MEDINA


Oleh: Jacob Thomas - Juni 2006 Situs Kuwait yg relatif baru, Tanwir (artinya Enlightenment -didirikan thn 2002,) adalah sebuah forum yg menawarkan dialog ttg Democracy, HAM, Status Perempuan (isu Gender), Reformasi Agama dan keadaan Kuwait. Dlm sumbangan-sumbangan saya yg terdahulu kpd FaithFreedom.org, saya mengomentari diskusi para pakar Arab ttg Tahdith (modernisasi), Tajdid (pembaharuan) dan Islah (reformasi). Baru-baru ini saya menjumpai artikel dgn judul: Reformasi Religius dlm Islam: Islam Mekah versus Islam Medina. (Al-Islah al-Dini Fil-Islam: Islam Mecca Fi Muwajahat Islam Al-Medina.) Artikel ini dgn terus terang menunjukkan eksistensi konfrontasi

(Muwajahat) antara Islam yg diturunkan di Mekah dan Islam yg kemudian diturunkan di Medinah. Dibawah ini ringkasan artikel tsb, menyusul analisa dan komentar saya. Penulis memulai teorinya ttg eksistensi dua Islam.

udah lama orang Barat mendengarkan adanya dua versi Islam dari dua kelompok Muslim. Yang satu mengatakan bahwa, Islam adalah agama toleransi, damai dan pengampunan. Yang lainnya mengatakan bahwa, Islam adalah agama jihad, pembunuhan, kekerasan dan penekanan terhdp non-Muslim.

Jadi, yang mana Islam yang sebenarnya? Yang mana dari kedua pernyataan kontradiktif ini dapat dipercaya? Salah satu penjelasan adalah bahwa sebenarnya memang ada DUA ISLAM. Yang satu Islamnya Mekah, dan lalu, Islamnya Medinah. Islam yg pertama (Islam Mekah) memang kedengaran damai tanpa embel-embel kekerasan; itu karena Muhamad saat itu masih lemah dan ditekan oleh kepemimpinan suku Quraish. Tetapi ketika ia hijrah ke Medinah, ia menjadi kuat dan akhirnya membentuk Negara islam. Selama era ini (622632,) ia menerima surah-surah yg menyerukan Jihad melawan kafir di Mekah dan juga Yahudi dan Kristen di kawasan Arab. Oleh karena itu, mereka yg mengatakan bahwa Islam adalah agama damai, memang benar tetapi mereka yang mengatakan bahwa islam adalah agama jihad (kekerasan), JUGA BENAR. Jadi, jika kita ingin mencapai reformasi yg nyata, kita harus mengadopsi pandangan baru terhdp teks suci dan meningkatnya fiqh (hermeneutika) baru yg didasarkan kpd nalar/logika (reason) yang sejelas dan seterang ilmu-ilmu baru. Oleh karena itu, para reformis harus berpihak pada Islamnya Mekah, dgn dasar spiritualitas, toleransi dan cinta;

dan menolak Islam Medinah yg mempromosikan kekerasan dan jihad melawan non-Muslim. Analisa Setelah kematian Muhamad, para kalif memulai jihad utk menguasai seluruh dunia, dan dalam 100 tahun, kekuasaan Islam tersebar dari Spanyol ke India. Baik fakta sejarah, maupun dari surah-surah Medinah dlm Quran menunjukkan bahwa Islam adalah agama yg mendorong kekerasan dan disebarkan lewat ancaman pedang. Muslim tidak lelahnya mengutuk imperialisme Barat, tetapi anehnya, mereka menyukai futuhat (perebutan atau invasi) mereka atas daerah-daerah luas di Asia, Afrika dan Eropa. Quran, bagian surah Medinah mengandung eksistensi perintah ilahi bagi perang dunia melawan kafir yg kemudian menimbulkan konsep Darul Islam (Wawasan Islam,) dan Darul Harb (Wawasan Perang!) Nah, kini Muslims moderat, karena ingin menghindari dimusuhinya Islam oleh seluruh dunia karena kelakuannya yg norak itu, ingin agar agama mereka lebih menampakkan wajah lembut dan mampu hidup berdampingan dgn ke 5 milyar non-muslim. Muslims moderat ini kemudian menyerukan agar diberlakukannya surah-surah Mekah, yaitu surah-surah yg bersifat damai. Komentar Muslim moderat memang boleh bermimpi. Sayangnya, akar Islam tertanam kuat diseluruh tubuh Quran, Hadis dan Sunnah. Tidak ada sedikitpun dlm teks-teks otoritatif ini, ataupun dlm cara-cara Islam disebarkan dlm ke 14 abad terakhir ini, yg membolehkan pembatalan surah-surah tertentu. Doktrin orthodox yg tertanam kuat dlm Quran adalah bahwa teks Quran tidak diciptakan. Pd abad ke 9, Imam Hambali, salah seorang dari keempat aliran

interpretasi Shariah, memilih utk lebih baik dipenjara ketimbang harus mengenyampingkan doktrin ini. Ia akhirnya berhasil dlm kegigihannya menyatakan Quran sbg qadim, yaitu sudah dari sononya eksis di surga. Jadi Muslim tidak bisa seenaknya comot mencomot, pilih memilih antara surah Mekah ataupun Medinah. Dan sayangnya bagi Muslim reforman ini, mereka tidak memiliki tradisi spt tradisi Kristen. Dlm tradisi Kristen, Perjanjian Lama harus ditafsirkan dlm konteks Perjanjian Baru. Jadi, sejak Perjanjian Baru mengajarkan dua kawasan yg sangat berbeda: kawasan Tuhan dan kawasan Caesar, teokrasi di daerah-daerah yg didominasi Kristen bukan tujuan agama mereka. Juga, bagian-bagian Perjanjian Baru yg membahas ttg perebutan Tanah Perjanjian dan aspek-aspek hukum Musa (kecuali the 10 Commandments) dianggap sbg hal-hal yg dihubungkan atau dikontekstualisasikan dgn sebuah waktu khusus dan oleh karena itu tidak normatif bagi masa kini. Kitab Kristen menggambarkan dua tahap, yg pertama adalah tahap temporer dan persiapan, sementara tahap kedua adalah tahap akhir. Memang setelah Kaisar Romawi, Konstantin, memeluk Kristen, garis demarkasi antara Negara dan gereja membaur. Dan setelah jatuhnya kerajaan Romawi, gereja di Barat mencoba mencampuri urusan Negara. Namun, ini bertentangan dgn ajaran Injil. Oleh karena itu juga, para Kristen reforman di abad ke 16 menyerukan bagi dikembalikannya dasar-dasar ajaran Injil (perpisahan agama dari urusan negara). Selama 500 tahun, para pakar Muslim yg memimpikan reformasi ala Protestan semacam yg dilakukan Luther, Calvin dan Knox, sampai sekarang masih hanya dapat bermimpi. Kitab mereka sendiri yg tidak memungkinkan hermeneutika radikal spt yg diserukan penulis pada permulaan artikel ini.

Saya tidak dapat mengatasi dilemma ini. Muslim memang tidak memiliki jalan keluar. Saya juga ingin tahu berapa banyak Muslim reforman yg menyerukan bagi diberlakukannya surah-surah Mekah sbg satu-satunya standar bagi politik Islam!

Sumber: http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=3332 http://www.420megs.com/users/undressing-islam/two-faces-ofquran.htm http://www.faithfr.dreamhosters.com/Articles/AbulKasem50623.htm