Anda di halaman 1dari 18

DNA MITOKONDRIA

LORONG MENUJU PENGUNGKAPAN ASAL-USUL MANUSIA


Penelusuran asal-usul manusia seperti mendapatkan darah baru, setelah selama puluhan tahun para ilmuwan berkutat menghubung-hubungkan riwayat fosil yang didapatkan di berbagai belahan bumi. Darah baru itu adalah penerapan teknologi genetika dengan menggunakan DNA mitokondria (mtDNA) untuk mencari tahu hubungan kekerabatan antarpopulasi. Terobosan itu membuka pintu gerbang menuju pengungkapan cikal-bakal manusia modern atas dasar persamaan genetik.

Roots adalah buku yang sangat terkenal di Amerika. Buku ini mengisahkan perjuangan seorang keturunan budak asal Afrika yang berhasil mendapatkan jejak nenek moyangnya di tanah kelahirannya. Dari kisahnya kita tahu, manusia punya naluri dasar untuk menelusuri asal-usulnya. Dalam skala yang lebih luas pencarian asal-usul manusia modern dalam konteks evolusi, masih belum tuntas hingga kini. Para ahli arkeologi dan paleontologi tak kenal lelah menelusuri jejak nenek moyang manusia dengan memelototi Wuryantari di Lab. Eijkman. Penelitian mtDNA jejak, alat-alat, dan fosil-fosil yang ditemukan. Demikian pula pada akhirnya bisa dipakai sebagai dasar konseling genetik. (Yan) para pakar kebudayaan berusaha menyisir pertalian antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain. Namun, bukti-bukti yang didapat umumnya masih kurang memuaskan, karena sebagian masih berdasarkan dugaan. Homo dan Australopithecus Kendati begitu para pakar paleoantropologi sudah selangkah maju pada tahap penggambaran global asal-usul manusia dalam suatu pohon keturunan. Itu pun dengan satu catatan, penyederhanaan dan asumsi-asumsi yang tidak disepakati semua ilmuwan. Satu hal yang mereka akur adalah adanya dua kelompok besar (genera) yang diperkirakan muncul pada sekitar 4 juta tahun silam. Salah satu dari dua kelompok itu adalah genus Homo atau manusia. Genus ini muncul dalam kurun waktu 2 juta - 0,5 juta tahun lalu. Anggota dari genus ini paling kurang terdiri atas tiga spesies: Homo habilis, Homo erectus, dan Homo sapiens. Sampai titik ini para pakar yang bergelut dengan fosil kembali berbeda pemikiran ihwal bagaimana genus Homo menggantikan genus Australopithecus. Genus yang muncul lebih awal mendiami sebagian besar kawasan Afrika pada sekitar 4 juta tahun lalu. Berbeda dengan Homo yang lebih modern, secara fisik Australopithecines, salah satu anggota dari genus ini, mempunyai bentuk badan seperti kera dengan volume otak yang lebih kecil dibandingkan dengan Homo. Tetapi mereka sudah amat piawai menggunakan dua kaki, ciri khas yang persis sama dengan manusia. Pada tahun 1925, ahli anatomi Raymond Dart adalah orang pertama yang menggambarkan fosil Australopithecines. Fosil itu ditemukan di gua batu kapur Taung, Afrika Selatan. Salah satunya berupa tengkorak berumur sekitar 2,5 juta tahun yang diduga dari kepala seorang bocah. Dart mencatat bahwa lubang tempat sumsum tulang belakang keluar dari otak berada di dasar tengkorak. Bagi Dart ini menunjukkan, bocah itu berdiri tegak dan berjalan dengan menggunakan

dua kaki. Dart memberi nama spesies baru ini Australopithecus africanus, yang berarti kera asal selatan Afrika. Australopithecines yang berumur lebih tua juga ditemukan, sementara tujuh spesies lain berhasil diidentifikasi. Beberapa spesies ini dinamai Robust australopithecines, lantaran menunjukkan roman muka dan rahang yang berat. Lucy merupakan salah satu spesies yang paling pas untuk menggambarkan spesies ini. Ia berumur 3,18 juta tahun dan merupakan bagian dari Australopithecus afarensis. Lucy ditemukan oleh ahli paleoantropologi asal Amerika Donald Johanson tahun 1974 di Ethiopia. Fosilnya dianggap Serpihan tulang yang menjadi objek penelitian bisa menggambarkan manusia paling tua dan lengkap. Wuryantari. Atas: Plawangan, Bawah: Gilimanuk Bahkan para ilmuwan ketika itu sudah menganggapnya (Dok. Wuryantari) sebagai ibu dari umat manusia. Namun, bukti ilmiah mengindikasikan, Lucy bukanlah nenek moyang manusia modern. Secara genetis, ia berbeda dengan manusia masa kini. Para ahli paleoantropologi punya hipotesis, asal muasal manusia modern adalah "Hawa". Ia bukanlah manusia pertama yang diceritakan dalam kisah penciptaan di kitab suci. Hawa dalam pandangan para paleoantropolog adalah wanita yang hidup di Afrika antara 100.000 - 300.000 tahun lalu. Ia membawa salah satu tipe DNA mitokondria (Deoxyribonucleic acid di dalam mitokondria "pabrik energi" di dalam sel yang memasok sekitar 90% energi agar sel, jaringan, organ, dan sistem tubuh dapat berfungsi), bagian dari sejumlah kromosom yang berfungsi meneruskan faktor keturunan dari sel induk kepada sel turunan. Dalam hal ini, mtDNA hanya diturunkan kepada wanita. Setelah mengkaji variasi genetik di dalam mtDNA dalam berbagai populasi, para ilmuwan menyimpulkan, kita semua merupakan turunan dari satu nenek moyang, wanita "Hawa" di atas. Kesimpulan itu membuka cakrawala baru bahwa manusia modern kemungkinan bukanlah keturunan dari manusia purba semacam Homo sapiens yang hidup 500.000 tahun lalu. Atau bahkan, spesies yang lebih tua seperti Homo habilis (2,5 - 1,6 juta tahun lalu), Homo ergaster (1,8 - 1,4 juta tahun lalu), dan Homo erectus (1,5 juta tahun lalu). Soalnya secara fisik Homo sapiens tampak sangat berbeda dengan manusia modern. Lebih tegap dengan wajah lebih lebar, dan kening mata menonjol. Max Ingman, doktor genetik asal Amerika Serikat dalam tulisan bertajuk Mitochondrial DNA Clarifies Human Evolution mengungkapkan hal senada dengan pendapat para paleoantropolog bahwa manusia modern berevolusi dari salah satu tempat di Afrika antara kurun waktu 100 - 200 ribu tahun lalu. Dari situ moyang manusia masa kini itu lantas menyebar dan mendiami tempattempat di luar Afrika. Gen manusia modern ini tidak bercampur dengan gen spesies manusia kuno. Teori penyebaran manusia ini dikenal dengan hipotesis Out of Africa dan disokong oleh bukti-bukti genetik yang telah ditemukan. Nenek moyang Jawa-Bali Di Indonesia mtDNA dipakai untuk melacak jejak gen manusia purba. Hal itulah yang dikerjakan oleh Wuryantari, lulusan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1990. Ia melakukan penelitian untuk menjawab pertanyaan apakah manusia dari situs Plawangan (Jawa Tengah) yang hidup sekitar 2.400 - 3.500 tahun lalu dan Gilimanuk (Bali) sekitar 2.320 - 1.215 tahun lalu merupakan nenek moyang populasi orang Jawa dan Bali masa kini. Setelah bergelut selama 22 bulan di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta, Juni 2001 Wuryantari dalam disertasi berjudul Haplotipe DNA Mitokondria Manusia Prasejarah Jawa dan Bali: Sejarah Populasi dan Kekerabatannya menyimpulkan, manusia purba yang hidup di Plawangan dan Gilimanuk mempunyai kekerabatan dekat dan mirip dengan manusia Jawa dan Bali yang sekarang ada. Juga, ternyata, manusia prasejarah dari dua situs itu merupakan keturunan ras Asia atau Mongoloid dengan ciri Polinesia.

Menurut Prof. dr. Sangkot Marzuki, MSc., PhD., Direktur Lembaga Eijkman, penelitian terhadap DNA mitokondria sebenarnya sudah cukup lama dilakukan di luar negeri. Di Indonesia, penelitian serupa mulai dikerjakan di Eijkman, Jakarta, tahun 1993, mengenai keanekaragaman genom manusia di Indonesia. "Sasarannya untuk melihat kedekatan kekerabatan di antara sejumlah etnik di Indonesia," jelas Prof. Sangkot. Menurut Wuryantari, sebagai negara kepulauan, Indonesia didiami oleh lebih dari 438 kelompok etnik (populasi) yang tersebar di 17.500 pulau. Masing-masing populasi itu memiliki ciri khas, baik morfologi, bahasa (dialek), maupun budaya. Berdasarkan ciri-ciri tersebut, populasi Indonesia dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok yang mendiami Indonesia bagian barat yang mendapatkan pengaruh kuat gen mongoloid (Austronesia), dan kelompok yang mendiami Indonesia bagian timur yang mendapat pengaruh kuat dari gen melanesid (Austroloid). Bagi Tari, panggilan akrab Wuryantari, penggunaan mtDNA sebagai sampel bukanlah tanpa sebab. "Rangkaian informasi genetik yang terkandung dalam DNA mitokondria dapat menggambarkan karakteristik suatu populasi dan sangat mungkin merekonstruksi sejarah evolusi," jelasnya. Tari yang dibimbing oleh dr. Herawati Sudoyo, PhD., Dr. H. Truman Simanjuntak, dan Prof. Sangkot disokong oleh Fosil manusia Plawangan. (Dok. Wuryantari) sejumlah peneliti yang percaya bahwa mtDNA sangat berperan dalam penelusuran asal-usul manusia dari sisi ibu (maternal), karena mtDNA hanya didapat dari dan diturunkan oleh ibu kepada anak perempuannya. Pewarisan sepihak (ayah tidak ikut campur) ini membuat rekombinasi tidak dijumpai pada mtDNA. Demikian juga, dalam penelusuran gen yang membawa berbagai penyakit yang diturunkan, mtDNA telah terbukti terlibat dalam sejumlah pewarisan penyakit tersebut. Kendati begitu, pewarisan sifat genetik tidak selamanya berakibat suatu penyakit. Sejumlah mutasi dan variasi lain di dalam gen ternyata juga dapat terjadi secara alamiah dan tidak membawa akibat buruk kepada si pemilik, kecuali menyebarkan variasi individu yang khas. Sifat ini dikenal sebagai polimorfisme genetik. Dalam penelusuran asal-usul manusia dan pencarian hubungan kekerabatan antarberbagai ras dan suku, sifat polimorfisme inilah yang dipakai untuk menentukan atau membedakan ras yang satu dengan yang lain. Lantaran mtDNA dapat berubah oleh adanya proses mutasi sehingga menghasilkan suatu variasi, dan karena variasi tersebut diwariskan, jauh-dekatnya kekerabatan kelompok etnik dapat dilihat dari persamaan variasi yang dimiliki suatu populasi. Variasi mtDNA di dalam populasi dapat berupa penggantian (substitusi), penyisipan (insersi), atau penghapusan (delesi) basa pada satu atau beberapa nukleotida tanpa menyebabkan suatu kelainan atau penyakit. DNA mitokondria tersusun atas 16.569 unit pasangan basa (nukleotida) dalam setiap lingkarannya. Setiap unit merupakan kombinasi dari basa-basa adenin (A), guanin (G), sitosin (C), dan timin (T). Dengan kecepatan mutasi 5 - 10 kali lebih cepat daripada DNA inti, molekul mtDNA sangat polimorfik alias beragam. Dalam penelitiannya, Wuryantari yang menyelesaikan S1-nya dengan predikat cum laude itu menggunakan beberapa penanda genetik yang lazim digunakan dalam mempelajari populasi. Tujuannya, untuk menentukan karakteristik genetik yang menandai suatu populasi berdasarkan variasi susunan basa di daerah mtDNA dan polimorfisme di bagian lain mtDNA dari sampel fosilfosil itu. Selain itu, penelitian juga untuk menjawab apakah ada hubungan antara manusia prasejarah dari kedua situs itu dengan manusia Jawa dan Bali sekarang. Indikatornya adalah dengan mencari adanya delesi 9-pb pada daerah tertentu dan motif Polinesia pada DNA mitokondria. Sementara untuk membuktikan bahwa fosil tersebut berjenis kelamin wanita, Tari menggunakan penanda gen amilogenin.

Adanya variasi susunan basa di daerah HVR-I pada D-Loop mtDNA pada pasangan basa di urutan ke-16189, 16217, 16261, dan 16519 memberikan gambaran bahwa manusia yang ditemukan di Plawangan dan Gilimanuk tersebut sama-sama merupakan keturunan ras Asia dengan ciri Polinesia. Manusia Plawangan dan Gilimanuk tersebut memiliki haplotipe mtDNA kelompok M-a dan B*. Hal ini menunjukkan, keduanya mendapat pengaruh kuat gen Mongoloid (berbahasa Austronesia). Kode-kode dan istilah-istilah genetika di atas yang dipakai Wuryantari dalam kesimpulannya memang tidak gampang dipahami oleh masyarakat awam. Tetapi deretan kode dan istilah-istilah itu mengungkapkan bahwa jumlah mutasi pada mtDNA merupakan cermin kekerabatan dua kelompok. Semakin besar jumlah variasi yang memisahkan dua kelompok etnik, semakin jauh jarak kekerabatan antara kedua kelompok tersebut. Bahkan kalau ada dua orang yang mtDNAnya persis sama, kekerabatan di antara keduanya sangatlah dekat. Mungkin satu ibu, satu nenek, atau satu nenek moyang. Sementara kalau Joko yang orang Jawa asli dibandingkan dengan Jack yang orang Inggris, kemungkinan perbedaan antara basa-basa mitokondria bisa ada beberapa buah. Tidak mungkin persis sama. Paling tidak, Jack punya polimorfisme atau variasi yang khas bagi orang Inggris. Sementara Joko punya delesi 9-pb yang khas buat orang Asia dan Polinesia. Kemungkinan Jack punya delesi 9-pb sangat kecil, kecuali kalau ia tanpa disadari ternyata punya nenek moyang orang Asia. Atau ia punya mutasi baru yang mirip polimorfisme khas Asia. Gunakan tulang padat Agaknya kesulitan menerjemahkan hasil penelitian bungsu dari sepuluh bersaudara ini bukan hanya monopoli masyarakat awam. Wuryantari sendiri mengaku menemui kesulitan pada tahap mengisolasi DNA yang berukuran mikron itu dan memastikan tidak adanya zat lain atau kontaminasi pada sampel yang diteliti. "Studi ini sangat dimungkinkan mengingat adanya sumber genetik yang dapat bertahan dalam waktu lama, yaitu tulang-belulang yang merupakan salah satu temuan purbakala dari aspek arkeologi," kata wanita kelahiran Kudus ini. Hanya saja, ia mengingatkan, untuk penyempurnaan dan pengembangan penelitian DNA prasejarah penggunaan sampel tulang bukan dari jenis tulang pipih, tetapi tulang padat. Meski begitu langkah Tari merupakan terobosan penelitian manusia purba di Indonesia. Ia merencanakan penelitian lanjutan pada sampel tulang purba yang berumur lebih tua lagi. Di samping itu, akan diteliti fosil manusia purba yang ditemukan di pulau-pulau lain di Indonesia untuk tujuan yang sana, yaitu mengetahui kaitan kekerabatan dan pola migrasinya. (Beatricia Iswari/G. Sujayanto)

Sebagian orang yang pernah mendengar "teori evolusi" atau "Darwinisme" mungkin beranggapan bahwa konsep-konsep tersebut hanya berkaitan dengan bidang studi biologi dan tidak berpengaruh sedikit pun terhadap kehidupan sehari-hari. Anggapan ini sangat keliru sebab teori ini ternyata lebih dari sekadar konsep biologi. Teori evolusi telah menjadi pondasi sebuah filsafat yang menyesatkan sebagian besar manusia. Filsafat tersebut adalah "materialisme", yang mengandung sejumlah pemikiran penuh kepalsuan tentang mengapa dan bagaimana manusia muncul di muka bumi. Materialisme mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun selain materi dan materi adalah esensi dari segala sesuatu, baik yang hidup maupun tak hidup. Berawal dari pemikiran ini, materialisme mengingkari keberadaan Sang Maha Pencipta. Di abad ke-20, teori evolusi telah terbantahkan tidak hanya oleh ilmu biologi molekuler, tapi juga oleh paleontologi, yakni ilmu tentang fosil. Tidak ada sisa fosil yang mendukung evolusi yang pernah ditemukan dalam penggalian yang dilakukan di seluruh penjuru dunia Fosil adalah sisa jasad makhluk hidup yang pernah hidup di masa lampau. Bentuk dan susunan kerangka makhluk hidup, yang tubuhnya segera terlindungi dari sentuhan udara, dapat terawetkan secara utuh. Sisa kerangka ini memberi kita keterangan tentang sejarah kehidupan di bumi. Jadi, catatan fosil lah yang memberikan jawaban ilmiah terhadap pertanyaan seputar asal usul makhluk hidup. PENDAPAT DARWIN Teori evolusi menyatakan bahwa semua makhluk hidup yang beraneka ragam berasal dari satu nenek

moyang yang sama. Menurut teori ini, kemunculan makhluk hidup yang begitu beragam terjadi melalui variasi-variasi kecil dan bertahap dalam rentang waktu yang sangat lama. Teori ini menyatakan bahwa awalnya makhluk hidup bersel satu terbentuk. Selama ratusan juta tahun kemudian, makhluk bersel satu ini berubah menjadi ikan dan hewan invertebrata (tak bertulang belakang) yang hidup di laut. Ikan-ikan ini kemudian diduga muncul ke daratan dan berubah menjadi reptil. Dongeng ini pun terus berlanjut, dan seterusnya sampai pada pernyataan bahwa burung dan mamalia berevolusi dari reptil. Seandainya pendapat ini benar, mestinya terdapat sejumlah besar spesies peralihan (juga disebut sebagai spesies antara, atau spesies mata rantai) yang menghubungkan satu spesies dengan spesies yang lain yang menjadi nenek moyangnya. Misalnya, jika reptil benar-benar telah berevolusi menjadi burung, maka makhluk separuh-burung separuh-reptil dengan jumlah berlimpah mestinya pernah hidup di masa lalu. Di samping itu, makhluk peralihan ini mestinya memiliki organ dengan bentuk yang belum sempurna atau tidak lengkap. Darwin menamakan makhluk dugaan ini sebagai bentuk-bentuk peralihan antara. Skenario evolusi juga mengatakan bahwa ikan, yang berevolusi dari invertebrata, di kemudian hari merubah diri mereka sendiri menjadi amfibi yang dapat hidup di darat. (Amfibi adalah hewan yang dapat hidup di darat dan di air, seperti katak). Tapi, sebagaimana yang ada dalam benak Anda, skenario ini pun tidak memiliki bukti. Tak satu fosil pun yang menunjukkan makhluk separuh ikan separuh amfibi pernah ada. Dia saat mengemukakan teori ini, ia tidak dapat menunjukkan bukti-bukti fosil bentuk peralihan ini. Dengan kata lain, Darwin sekedar menyampaikan dugaan yang tanpa disertai bukti. COELACANTH TERNYATA MASIH HIDUP Hingga 70 tahun yang lalu, evolusionis mempunyai fosil ikan yang mereka yakini sebagai "nenek moyang hewan-hewan darat". Namun, perkembangan ilmu pengetahuan meruntuhkan seluruh pernyataan evolusionis tentang ikan ini. Ketiadaan fosil bentuk peralihan antara ikan dan amfibi adalah fakta yang juga diakui oleh para evolusionis hingga kini. Namun, sampai sekitar 70 tahun yang lalu, fosil ikan yang disebut coelacanth diterima sebagai bentuk peralihan antara ikan dan hewan darat. Evolusionis menyatakan bahwa coelacanth, yang diperkirakan berumur 410 juta tahun, adalah bentuk peralihan yang memiliki paru-paru primitif, otak yang telah berkembang, sistem pencernaan dan peredaran darah yang siap untuk berfungsi di darat, dan bahkan mekanisme berjalan yang primitif. Penafsiran evolusi ini diterima sebagai kebenaran yang tak perlu diperdebatkan lagi di dunia ilmiah hingga akhir tahun 1930-an. Namun, pada tanggal 22 Desember 1938, penemuan yang sangat menarik terjadi di Samudra Hindia. Seekor ikan dari famili coelacanth, yang sebelumnya diajukan sebagai bentuk peralihan yang telah punah 70 juta tahun yang lalu, berhasil ditangkap hidup-hidup! Tak diragukan lagi, penemuan ikan coelacanth "hidup" ini memberikan pukulan hebat bagi para evolusionis. Ahli paleontologi evolusionis, J. L. B. Smith, mengatakan ia tidak akan terkejut lagi jika bertemu dengan seekor dinosaurus yang masih hidup. (JeanJacques Hublin, The Hamlyn Encyclopdia of Prehistoric Animals, New York: The Hamlyn Publishing Group Ltd., 1984, hal. 120). Pada tahun-tahun berikutnya, 200 ekor coelacanth berhasil ditangkap di berbagai tempat berbeda di seluruh dunia.

BERAKHIRNYA SEBUAH MITOS Coelacanth ternyata masih hidup! Tim yang menangkap coelacanth hidup pertama di Samudra Hindia pada tanggal 22 Desember 1938 terlihat di sini bersama ikan tersebut

Keberadaan coelacanth yang masih hidup mengungkapkan sejauh mana evolusionis dapat mengarang skenario khayalan mereka. Bertentangan dengan pernyataan mereka, coelacanth ternyata tidak memiliki paru-paru primitif dan tidak pula otak yang besar. Organ yang dianggap oleh peneliti evolusionis sebagai paru-paru primitif ternyata hanyalah kantung lemak. (Jacques Millot, "The Coelacanth", Scientific American, Vol 193, December 1955, hal. 39). Terlebih lagi, coelacanth, yang dikatakan sebagai "calon reptil yang sedang bersiap meninggalkan lautan untuk menuju daratan", pada kenyataannya adalah ikan yang hidup di dasar samudra dan tidak pernah mendekati rentang kedalaman 180 meter dari permukaan laut. (Bilim ve Teknik (Science and Technology), November 1998, No. 372, hal. 21). MANUSIA BERAHANG KERA Tengkorak Manusia Piltdown dikemukakan kepada dunia selama lebih dari 40 tahun sebagai bukti terpenting terjadinya "evolusi manusia". Akan tetapi, tengkorak ini ternyata hanyalah sebuah kebohongan ilmiah terbesar dalam sejarah.

Rekonstruksi tengkorak manusia Piltdown yang pernah diperlihatkan di berbagai museum Pada tahun 1912, seorang dokter terkenal yang juga ilmuwan paleoantropologi amatir, Charles Dawson, menyatakan dirinya telah menemukan satu tulang rahang dan satu fragmen tengkorak dalam sebuah lubang di Piltdown, Inggris. Meskipun tulang rahangnya lebih menyerupai kera, gigi dan tengkoraknya menyerupai manusia. Spesimen ini diberi nama "Manusia Piltdwon". Fosil ini diyakini berumur 500.000 tahun, dan dipamerkan di berbagai museum sebagai bukti nyata evolusi manusia. Selama lebih dari 40 tahun, banyak artikel ilmiah telah ditulis tentang "Manusia Piltdown", sejumlah besar penafsiran dan gambar telah dibuat, dan fosil ini diperlihatkan sebagai bukti penting evolusi manusia. Tidak kurang dari 500 tesis doktoral telah ditulis tentang masalah ini. (Malcolm Muggeridge, The End of Christendom, Grand Rapids, Eerdmans, 1980, hal. 59.) Pada tahun 1949, Kenneth Oakley dari departemen paleontologi British Museum mencoba melakukan "uji fluorin", sebuah cara uji baru untuk menentukan umur sejumlah fosil kuno. Pengujian dilakukan pada fosil Manusia Piltdown. Hasilnya sungguh mengejutkan. Selama pengujian, diketahui ternyata tulang rahang Manusia Piltdown tidak mengandung fluorin sedikit pun. Ini menunjukkan tulang tersebut telah terkubur tak lebih dari beberapa tahun yang lalu. Sedangkan tengkoraknya, yang mengandung sejumlah kecil fluorin, menunjukkan umurnya hanya beberapa ribu tahun. Penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa Manusia Piltdown merupakan penipuan ilmiah terbesar dalam sejarah. Ini adalah tengkorak buatan; tempurungnya berasal dari seorang lelaki yang hidup 500 tahun yang lalu, dan tulang rahangnya adalah milik seekor kera yang belum lama mati! Kemudian gigi-giginya disusun dengan rapi dan ditambahkan pada rahang tersebut, dan persendi-annya diisi agar menyerupai pada manusia. Kemudian seluruh bagian ini diwarnai dengan potasium dikromat untuk memberinya penampakan kuno. Le Gros Clark, salah seorang anggota tim yang mengungkap pemalsuan ini, tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya dan mengatakan: "bukti-bukti abrasi tiruan segera tampak di depan mata. Ini terlihat sangat jelas sehingga perlu dipertanyakan - bagaimana hal ini dapat luput dari penglihatan sebelumnya?" (Stephen

Jay Gould, "Smith Woodward's Folly", New Scientist, 5 April 1979, hal. 44) Ketika kenyataan ini terungkap, "Manusia Piltdown" dengan segera dikeluarkan dari British Museum yang telah memamerkannya selama lebih dari 40 tahun.

Manusia Piltdown merupakan pemalsuan yang dilakukan dengan merekatkan rahang kera pada tengkorak manusia
Skandal Piltdown dengan jelas memperlihat-kan bahwa tidak ada yang dapat menghentikan para evolusionis dalam rangka membuktikan teori-teori mereka. Bahkan, skandal ini menunjukkan para evolusionis tidak memiliki penemuan apa pun yang mendukung teori mereka. Karena mereka tidak memiliki bukti apa pun, mereka memilih untuk membuatnya sendiri. KEKELIRUAN PEMIKIRAN TENTANG REKAPITULASI Teori Haeckel ini menganggap bahwa embrio hidup mengalami ulangan proses evolusi seperti yang dialami moyang-palsunya. Haeckel berteori bahwa selama perkembangan di dalam rahim ibunya, embrio manusia kali pertama memperlihatkan sifat-sifat seekor ikan, lalu reptil, dan akhirnya manusia. Sejak itu telah dibuktikan bahwa teori ini sepenuhnya omong kosong. Kini telah diketahui bahwa insanginsang yang disangka muncul pada tahap-tahap awal embrio manusia ternyata adalah taraf-taraf awal saluran telinga dalam, kelenjar paratiroid, dan kelenjar gondok. Bagian embrio yang diserupakan dengan kantung kuning telur ternyata kantung yang menghasilkan darah bagi si janin. Bagian yang dikenali sebagai ekor oleh Haeckel dan para pengikutnya sebenarnya tulang belakang, yang mirip ekor hanya karena tumbuh mendahului kaki. Inilah fakta-fakta yang diterima luas di dunia lmiah, dan bahkan telah diterima oleh para evolusionis sendiri. Dua pemimpin neo-Darwinis, George Gaylord Simpson dan W. Beck telah mengakui: Haeckel keliru menyatakan azas evolusi yang terlibat. Kini telah benar-benar diyakini bahwa ontogeni tidak mengulangi filogeni

Segi menarik lain dari rekapitulasi adalah Ernst Haeckel sendiri, seorang pemalsu yang mereka-reka gambar-gambar demi mendukung teori yang diajukannya. Pemalsuan Haeckel bermaksud menunjukkan bahwa embrio-embrio ikan dan manusia mirip satu sama lain.

Pada terbitan 5 September 1997 majalah ilmiah Science, sebuah artikel diterbitkan yang mengungkapkan bahwa gambar-gambar embrio Haeckel adalah karya penipuan. Artikel berjudul Haeckels Embryos: Fraud Rediscovered (Embrio-embrio Haeckel: Mengungkap Ulang Sebuah Penipuan) ini mengatakan: Kesan yang dipancarkan [gambar-gambar Haeckel] itu, bahwa embrio-embrio persis serupa, adalah keliru, kata Michael Richardson, seorang ahli embriologi pada St. Georges Hospital Medical School di London Maka, ia dan para sejawatnya melakukan penelitian perbandingan, memeriksa kembali dan memfoto embrio-embrio yang secara kasar sepadan spesies dan umurnya dengan yang dilukis Haeckel. Sim salabim dan perhatikan! Embrio-embrio sering dengan mengejutkan tampak berbeda, lapor Richardson dalam Anatomy and Embryology terbitan Agustus [1997].

Pada terbitan 5 September 1997, majalah terkemuka Science menyajikan sebuah artikel yang menyingkapkan bahwa gambar-gambar embrio milik Haeckel telah dipalsukan. Artikel ini menggambarkan bagaimana embrio-embrio sebenarnya sangat berbeda satu sama lain...

Penelitian di tahun-tahun terakhir telah menunjukkan bahwa embrio-embrio dari spesies yang berbeda tidak saling mirip, seperti yang ditunjukkan Haeckel. Perbedaan besar di antara embrio-embrio mamalia, reptil, dan kelelawar di atas adalah contoh nyata hal ini
Science menjelaskan bahwa, demi menunjukkan bahwa embrio-embrio memiliki kemiripan, Haeckel sengaja menghilangkan beberapa organ dari gambar-gambarnya atau menambahkan organ-organ khayalan. Belakangan, di dalam artikel yang sama, informasi berikut ini diungkapkan:

Bukan hanya menambahkan atau mengurangi ciri-ciri, lapor Richardson dan para sejawatnya, namun Haeckel juga mengubah-ubah ukuran untuk membesar-besarkan kemiripan di antara spesies-spesies, bahkan ketika ada perbedaan 10 kali dalam ukuran. Haeckel mengaburkan perbedaan lebih jauh dengan lalai menamai spesies dalam banyak kesempatan, seakan satu wakil sudah cermat bagi keseluruhan kelompok hewan. Dalam kenyataannya, Richardson dan para sejawatnya mencatat, bahkan embrio-embrio hewan yang berkerabat dekat seperti ikan cukup beragam dalam penampakan dan urutan perkembangannya. Artikel Science membahas bagaimana pengakuan-pengakuan Haeckel atas masalah ini ditutup-tutupi sejak awal abad ke-20, dan bagaimana gambar-gambar palsu ini mulai disajikan sebagai fakta ilmiah di dalam buku-buku acuan: Pengakuan Haeckel lenyap setelah gambar-gambarnya kemudian digunakan dalam sebuah buku tahun 1901 berjudul Darwin and After Darwin (Darwin dan Sesudahnya) dan dicetak ulang secara luas di dalam buku-buku acuan biologi berbahasa Inggris.

Singkatnya, fakta bahwa gambar-gambar Haeckel dipalsukan telah muncul di tahun 1901, tetapi seluruh dunia ilmu pengetahuan terus diperdaya olehnya selama satu abad. TATKALA MANUSIA MENCARI NENEK MOYANGNYA Walaupun para evolusionis tidak berhasil menemukan bukti ilmiah untuk mendukung teori mereka, mereka sangat berhasil dalam satu hal: propaganda. Unsur paling penting dari propaganda ini adalah gambargambar palsu dan bentuk tiruan yang dikenal dengan "rekonstruksi".

Rekonstruksi dapat diartikan sebagai membuat lukisan atau membangun model makhluk hidup berdasarkan satu potong tulang yang ditemukan dalam penggalian. "Manusia-manusia kera" yang kita lihat di koran, majalah atau film semuanya adalah rekonstruksi. Ketika mereka tidak mampu menemukan makhluk "setengah manusia setengah kera" dalam catatan fosil, mereka memilih membohongi masyarakat dengan membuat gambar-gambar palsu.

Persis seperti pernyataan evolusionis yang lain tentang asal-usul makhluk hidup, pernyataan mereka tentang asal-usul manusia pun tidak memiliki landasan ilmiah. Berbagai penemuan menunjukkan bahwa "evolusi manusia" hanyalah dongeng belaka.

Darwin mengemukakan pernyataannya bahwa manusia dan kera berasal dari satu nenek moyang yang sama dalam bukunya The Descent of Man yang terbit tahun 1971. Sejak saat itu, para pengikut Darwin telah berusaha untuk memperkuat kebenaran pernyataan tersebut. Tetapi, walaupun telah melakukan berbagai penelitian, pernyataan "evolusi manusia" belum pernah dilandasi oleh penemuan ilmiah yang

nyata, khususnya di bidang fosil. Penemuan ini jelas menunjukkan pendapat tentang sifat-sifat perolehan yang terkumpul dari satu keturunan ke turunan berikutnya, sehingga memunculkan spesies baru, tidaklah mungkin. Dengan kata lain, mekanisme seleksi alam rumusan Darwin tidak berkemampuan mendorong terjadinya evolusi. Jadi, teori evolusi Darwin sesungguhnya telah ambruk sejak awal di abad ke-20 dengan ditemukannya ilmu genetika. Segala upaya lain dari para pendukung evolusi di abad ke-20 selalu gagal.

Teori evolusi menyatakan bahwa kelompok makhluk hidup yang berbeda-beda (filum) terbentuk dan berkembang dari satu nenek moyang bersama, dan berubah menjadi bentuk yang semakin berbeda satu sama lain seiring berlalunya waktu. Gambar paling atas menampilkan pernyataan ini, yang dapat digambarkan menyerupai proses percabangan pohon. Namun, fakta catatan fosil malah membuktikan kebalikannya. Sebagaimana diperlihatkan gambar paling bawah, beragam kelompok makhluk hidup muncul serentak dan tiba-tiba dengan ciri tubuh masing-masing yang khas. Sekitar 100 filum mendadak muncul di zaman Kambrium. Setelah itu, jumlah mereka menurun (karena punahnya sejumlah filum) , dan bukannya meningkat.
YANG TERSEMBUNYI DI BALIK PERCOBAAN MILLER

Penelitian yang paling diterima luas tentang asal usul kehidupan adalah percobaan yang dilakukan peneliti Amerika, Stanley Miller, di tahun 1953. (Percobaan ini juga dikenal sebagai percobaan Urey-Miller karena sumbangsih pembimbing Miller di University of Chicago, Harold Urey). Percobaan inilah satu-satunya bukti milik para evolusionis yang digunakan untuk membuktikan pendapat tentang evolusi kimiawi. Mereka mengemukakannya sebagai tahapan awal proses evolusi yang mereka yakini, yang akhirnya memunculkan kehidupan.

Melalui percobaan, Stanley Miller bertujuan membuktikan bahwa di bumi yang tak berkehidupan miliaran tahun lalu, asam amino, satuan molekul pembentuk protein, dapat terbentuk dengan sendirinya secara alamiah tanpa campur tangan sengaja apa pun di luar kekuatan alam. Dalam percobaannya, Miller menggunakan campuran gas yang ia yakini terdapat pada bumi purba (yang kemudian terbukti tidak tepat). Campuran ini terdiri dari gas amonia, metana, hidrogen, dan uap air. Karena gas-gas ini takkan saling bereaksi dalam lingkungan alamiah, ia menambahkan energi ke dalamnya untuk memicu reaksi antar gasgas tersebut. Dengan beranggapan energi ini dapat berasal dari petir pada atmosfer purba, ia menggunakan arus listrik untuk tujuan tersebut.

Atmosfer purba yang Miller coba tiru dalam percobaannya tidaklah sesuai dengan kenyataan. Di tahun 1980-an, para ilmuwan sepakat bahwa seharusnya gas nitrogen dan karbon dioksidalah yang digunakan dalam lingkungan buatan itu dan bukan metana serta amonia.

Ilmuwan Amerika, J. P. Ferris dan C. T. Chen mengulangi percobaan Miller dengan menggunakan lingkungan atmosfer yang berisi karbon dioksida, hidrogen, nitrogen, dan uap air; dan mereka tidak mampu mendapatkan bahkan satu saja molekul asam amino. (J. P. Ferris, C. T. Chen, "Photochemistry of Methane, Nitrogen, and Water Mixture As a Model for the Atmosphere of the Primitive Earth," Journal of American Chemical Society, vol. 97:11, 1975, h. 2964.)

Terdapat sejumlah temuan yang menunjukkan bahwa kadar oksigen di atmosfer kala itu jauh lebih tinggi daripada yang sebelumnya dinyatakan para evolusionis. Berbagai penelitian juga menunjukkan, jumlah radiasi ultraviolet yang kala itu mengenai bumi adalah 10.000 lebih tinggi daripada perkiraan para evolusionis. Radiasi kuat ini dipastikan telah membebaskan oksigen dengan cara menguraikan uap air dan karbon dioksida di atmosfer.

Keadaan ini sama sekali bertentangan dengan percobaan Miller, di mana oksigen sama sekali diabaikan. Jika oksigen digunakan dalam percobaannya, metana akan teruraikan menjadi karbon dioksida dan air, dan amonia akan menjadi nitrogen dan air. Sebaliknya, di lingkungan bebas oksigen, takkan ada pula lapisan ozon; sehingga asam-asam amino akan segera rusak karena terkena sinar ultraviolet yang paling kuat tanpa perlindungan dari lapisan ozon. Dengan kata lain, dengan atau tanpa oksigen di bumi purba, hasilnya adalah lingkungan mematikan yang bersifat merusak bagi asam amino.

Anehnya, mengapa percobaan Miller masih saja dimuat di buku-buku pelajaran dan dianggap sebagai bukti penting asal usul kehidupan secara kimiawi? Ini sekali lagi menunjukkan betapa evolusi bukanlah teori ilmiah, melainkan keyakinan buta yang tetap dipertahankan meskipun bukti menunjukkan hal sebaliknya.

Kalangan masyarakat awam adalah yang umumnya tidak mengetahui kenyataan ini, dan menganggap pernyataan evolusi manusia didukung oleh berbagai bukti kuat. Anggapan yang salah tersebut terjadi karena masalah ini seringkali dibahas di media masa dan disampaikan sebagai fakta yang telah terbukti. Tetapi mereka yang benar-benar ahli di bidang ini mengetahui bahwa kisah "evolusi manusia" tidak memiliki dasar ilmiah.

Meskipun berakar dari Yunani kuno, teori evolusi pertama kali dimunculkan dan menjadi perhatian dunia ilmiah pada abad ke-19. Pandangan tentang evolusi yang paling luas dikaji dikemukakan oleh ahli biologi Prancis Jean Baptiste Lamarck, dalam bukunya Zoological Philosophy [Filsafat Ilmu Hewan] (1809). Lamarck berpendapat bahwa semua makhluk hidup dilengkapi dengan kekuatan mendasar yang mendorong mereka untuk berevolusi atau mengalami perubahan ke arah yang lebih kompleks [a]. Dia juga berpendapat bahwa suatu organisme dapat menurunkan sifat-sifat yang diperoleh selama masa hidupnya kepada keturunannya. Sebagai contoh dari jalan pemikiran ini, Lamarck berpendapat bahwa leher panjang jerapah berevolusi ketika nenek moyang yang berleher pendek memilih untuk meraih dan memakan daundaun pepohonan daripada rerumputan. Pandangan evolusi cetusan Lamarck ini digugurkan oleh penemuan hukum penurunan sifat genetik. Pada pertengahan abad ke-20, penemuan struktur DNA mengungkap bahwa inti dari sel makhluk hidup memiliki informasi genetik yang sangat istimewa, dan bahwa informasi genetik ini tidak dapat diubah oleh "sifat dapatan". Dengan kata lain, selama hidupnya, meskipun jerapah berhasil menjadikan lehernya beberapa sentimeter lebih panjang dengan menjulurkan lehernya ke dahan-dahan yang lebih tinggi, sifat ini tidak akan diturunkan ke anak-anaknya. Singkatnya, pandangan Lamarck secara sederhana telah terbantahkan oleh temuan ilmiah, dan tenggelam dalam sejarah sebagai sebuah pendapat yang keliru. Meskipun demikian, teori evolusi yang dirumuskan oleh seorang ilmuwan alam yang hidup beberapa generasi setelah Lamarck terbukti lebih berpengaruh. Ilmuwan alam ini adalah Charles Robert Darwin, dan teori yang ia rumuskan dikenal sebagai "Darwinisme".

KELAHIRAN DARWINISME
Charles Darwin mendasarkan teorinya pada berbagai pengamatan yang ia lakukan sebagai seorang naturalis [b] muda di atas kapal H.M.S Beagle, yang berlayar pada akhir 1831 dalam perjalanan resmi lima tahun keliling dunia. Darwin muda sangat terpengaruh oleh keanekaragaman jenis makhluk hidup yang dia amati, terutama berbagai burung finch [burung kutilang Darwin] di kepulauan Galapagos. Perbedaan pada paruh burung-burung ini, menurut Darwin, adalah sebagai hasil dari penyesuaian diri terhadap lingkungan mereka yang berbeda. Setelah pelayaran ini, Darwin mulai mengunjungi pasar-pasar hewan di Inggris. Dia mengamati bahwa orang-orang yang bekerja memuliakan sapi menghasilkan suatu keturunan sapi baru dengan mengawinkan sapi-sapi yang memiliki perbedaan sifat. Pengalaman ini, bersama dengan keanekaragaman jenis burung kutilang yang diamatinya di kepulauan Galapagos, memberi andil dalam perumusan teorinya. Di tahun 1859, ia menerbitkan pandangan-pandangannya dalam bukunya The Origin of Species [Asal Usul Spesies]. Dalam buku ini dia berpendapat bahwa semua spesies berasal dari satu nenek moyang, yang berevolusi dari satu jenis ke jenis lain sejalan dengan waktu melalui perubahan-perubahan kecil. Yang membuat Teori Darwin berbeda dari Lamarck adalah penekanannya pada "seleksi alam". Darwin berteori bahwa terdapat persaingan untuk mempertahankan kelangsungan hidup di alam, dan bahwa seleksi alam adalah bertahan hidupnya spesies kuat, yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Darwin mengambil alur berpikir sebagai berikut:

Di dalam satu spesies tertentu, terdapat variasi [keragaman] alamiah dan yang bersifat kebetulan. Sebagai contoh sejumlah sapi lebih besar daripada yang lain, sementara sebagian sapi memiliki warna lebih gelap. Seleksi alam memilih sifat-sifat yang menguntungkan. Jadi, proses seleksi alam menyebabkan peningkatan gen-gen yang menguntungkan dalam satu populasi [c], yang menjadikan sifat-sifat populasi itu lebih sesuai untuk lingkungan di sekitarnya. Seiring dengan waktu perubahan-perubahan ini mungkin cukup berarti untuk menyebabkan munculnya spesies baru.

Charles Darwin mengembangkan teorinya di masa ketika ilmu pengetahuan masih terbelakang. Di bawah mikroskop yang masih sederhana seperti ini, makhluk hidup terlihat memiliki bentuk dan rancang bangun yang sangat sederhana. Pemahaman keliru inilah yang menjadi dasar pijakan Darwinisme.

Namun demikian, "teori evolusi melalui seleksi alam" ini memunculkan keraguan sejak awalnya: 1- Apakah "variasi [keragaman] alamiah dan yang bersifat kebetulan" yang dimaksud Darwin? Memang benar bahwa sejumlah sapi berukuran lebih besar daripada yang lain, sementara sebagian memiliki warna lebih gelap, tetapi bagaimana variasi [keragaman] ini dapat memberikan penjelasan bagi keanekaragaman spesies hewan dan tumbuhan? 2- Darwin menegaskan bahwa "Makhluk hidup berevolusi sedikit demi sedikit secara bertahap". Jika demikian, seharusnya sudah pernah ada jutaan makhluk hidup "bentuk peralihan". [d] Namun tidak terdapat bekas dari makhluk teoritis ini dalam catatan fosil. Darwin berpikir keras pada masalah ini, dan akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa "penelitian lebih lanjut akan menyediakan bukti fosil-fosil ini". 3- Bagaimana seleksi alam mampu menjelaskan organ-organ rumit, seperti mata, telinga atau sayap? Bagaimana dapat dipercaya bahwa organ-organ ini berkembang tahap demi tahap, sementara harus diingat bahwa organ-organ tersebut akan gagal berfungsi jika satu bagiannya saja hilang? 4- Sebelum memikirkan pertanyaan-pertanyaan ini, simaklah hal berikut ini: Bagaimana organisme pertama, yang disebut Darwin sebagai nenek moyang dari semua spesies, muncul menjadi ada? Mampukah proses alamiah memberikan kehidupan kepada sesuatu yang asalnya benda mati? Darwin setidaknya sadar akan beberapa pertanyaan ini, sebagaimana dapat dilihat dalam bab yang berjudul "Difficulties of The Theory" [Ganjalan-Ganjalan Teori Ini]. Namun, jawaban yang ia kemukakan tidak memiliki keabsahan ilmiah. H.S. Lipson, ahli fisika Inggris, membuat catatan tentang "ganjalan" Darwin ini sebagai berikut: Saat membaca The Origin of Species [Asal Usul Spesies], saya menemukan bahwa Darwin sendiri merasa sangat kurang yakin daripada yang seringkali digambarkan orang; bab yang berjudul "Difficulties of The Theory" [Ganjalan-Ganjalan Teori Ini] misalnya, menunjukkan keraguan diri yang nyata. Sebagai seorang ahli fisika, saya amat terganggu terutama terhadap pernyataannya tentang bagaimana mata bisa terbentuk. 1 Darwin menggantungkan semua harapannya pada penelitian ilmiah yang lebih maju, yang diharapnya mampu menghapuskan "ganjalan-ganjalan teori ini". Akan tetapi, berkebalikan dengan harapannya, temuan-temuan ilmiah baru yang lebih banyak malahan semakin memperbesar ganjalan-ganjalan ini.

MASALAH ASAL USUL KEHIDUPAN

Dalam bukunya, Darwin tidak pernah menyebutkan asal usul kehidupan. Pemahaman kuno ilmu pengetahuan pada masanya mendasarkan pada anggapan bahwa makhluk hidup memiliki bentuk dan rancang bangun yang sangat sederhana. Sejak abad pertengahan, spontaneous generation [e] [kemunculan secara kebetulan], yakni teori yang menyatakan bahwa benda-benda tak hidup dapat berpadu untuk membentuk makhluk hidup, telah diterima secara luas. Di masa itu dipercayai bahwa serangga muncul menjadi ada dari sisa-sisa makanan. Lebih jauh lagi diyakini bahwa tikus mewujud dari gandum. Sejumlah percobaan menarik dilakukan untuk membuktikan teori ini. Sejumlah gandum diletakkan di atas potongan kain kotor, dan dipercayai bahwa tikus akan muncul pada saatnya nanti. Demikian juga, kenyataan bahwa belatung muncul dari daging dipercaya sebagai bukti dari spontaneous generation [kemunculan secara kebetulan]. Namun, beberapa waktu kemudian barulah disadari bahwa belatung tidak tiba-tiba muncul dengan sendirinya dari daging, tetapi terbawa oleh lalat dalam bentuk larva [f], yang tak terlihat oleh mata telanjang.

Louis Pasteur meruntuhkan keyakinan bahwa kehidupan dapat dimunculkan dari unsur-unsur benda tak hidup.

Bahkan pada masa ketika The Origin of Species [Asal Usul Spesies] karya Darwin ditulis, keyakinan bahwa bakteri dapat mewujud dari benda mati masih tersebar luas. Namun demikian, lima tahun setelah penerbitan buku Darwin, Louis Pasteur mengumumkan hasil-hasil penelitian dan pecobaan panjangnya, yang membuktikan kekeliruan spontaneous generation [kemunculan secara kebetulan], satu dasar berpijak dari teori Darwin. Dalam kuliah kemenangannya di Sorbonne tahun 1864, Pasteur mengatakan, "Doktrin spontaneous generation [kemunculan secara kebetulan] tidak akan pernah bangkit lagi dari pukulan telak mematikan dari percobaan sederhana ini". 2 Para pendukung teori evolusi tetap menolak mengakui temuan Pasteur untuk waktu lama. Namun, saat kemajuan ilmiah menyingkap bentuk dan rancang bangun rumit dari sel, gagasan bahwa kehidupan dapat dengan sendirinya muncul menjadi ada secara kebetulan tanpa disengaja, menghadapi kebuntuan yang semakin besar. Kita akan mengkaji masalah ini secara lebih rinci dalam buku ini.

MASALAH PENURUNAN SIFAT (GENETIKA)


Hal lain yang menjadi masalah bagi teori Darwin adalah penurunan sifat. Pada masa ketika Darwin mengembangkan teorinya, pertanyaan tentang bagaimana makhluk hidup meneruskan sifat ke keturunannya - yaitu, bagaimana penurunan sifat terjadi - tidaklah dipahami sepenuhnya. Itulah mengapa keyakinan awam bahwa penurunan sifat terjadi melalui perantaraan darah masih diterima luas. Pengetahuan dangkal tentang penurunan sifat membawa Darwin mendasarkan teorinya pada landasan yang sama sekali salah. Darwin beranggapan bahwa seleksi alam merupakan "mekanisme evolusi". [g] Tetapi ada satu pertanyaan yang tetap tak terjawab: Bagaimana "sifat-sifat menguntungkan" ini terpilih dan diteruskan dari satu keturunan ke keturunan berikutnya? Pada titik ini, Darwin menganut teori Lamarck, yaitu "penurunan sifat-sifat dapatan". Dalam bukunya The Great Evolution Mystery [Misteri Besar Evolusi], Gordon R. Taylor, seorang peneliti yang mendukung teori evolusi, menggambarkan pandangannya bahwa Darwin sangat terpengaruh oleh Lamarck: Lamarckisme dikenal sebagai penurunan sifat-sifat dapatan Sebenarnya, Darwin sendiri cenderung mempercayai bahwa penurunan sifat seperti itu bisa terjadi dan menyebutkan laporan kejadian seseorang yang kehilangan jari-jemarinya dan melahirkan anak tanpa jari [Darwin], katanya, tidak mengambil satu pemikiran pun dari Lamarck. Hal ini sangat bertolak belakang, karena Darwin berulang kali memainkan gagasan penurunan sifat dapatan dan, jika gagasan ini begitu buruk, Darwinlah yang seharusnya mendapatkan nama buruk daripada Lamarck Dalam edisi tahun 1859 karyanya, Darwin mengacu pada "perubahan keadaan lingkungan luar" menyebabkan variasi [keragaman] tetapi kemudian keadaan ini dijelaskan sebagai mengarahkan variasi [keragaman] dan bekerjasama dengan seleksi alam dalam mengarahkannya Setiap tahun ia semakin mengacu kepada faktor penggunaan dan penyia-nyiaan Pada tahun 1868 ketika ia menerbitkan Varieties of Animals and Plants under Domestication [Varietas

Hewan dan Tumbuhan dalam Pembudidayaan] segala contoh tentang penurunan sifat menurut Lamarck ia berikan: seperti seorang laki-laki yang terpotong jari kelingkingnya dan semua anaknya terlahir dengan jari kelingking cacat, serta anak laki-laki yang lahir dengan kulit khitan yang pendek sebagai akibat dari budaya berkhitan secara turun temurun. 3 Namun, pernyataan Lamarck, seperti yang telah kita pahami di atas, dimentahkan oleh hukum penurunan sifat genetik yang ditemukan oleh seorang pendeta dan ahli tumbuhan Austria, Gregor Mendel. Karenanya, gagasan tentang "sifat-sifat yang menguntungkan" tidak memperoleh dukungan. Hukum genetik [penurunan sifat] menunjukkan bahwa sifat-sifat dapatan tidak diturunkan, dan bahwa penurunan sifat terjadi berdasarkan hukum tertentu yang tidak berubah. Hukum ini mendukung pandangan bahwa spesies atau jenis makhluk hidup tetap tidak berubah. Tak menjadi soal, seberapa banyak sapi-sapi yang dilihat oleh Darwin di pasar ternak Inggris menghasilkan keturunan, jenisnya sendiri tidak akan pernah berubah: sapi akan tetap menjadi sapi. Gregor Mendel mengumumkan hukum penurunan sifat yang ia temukan sebagai hasil dari percobaan dan pengamatan yang panjang dalam sebuah makalah ilmiah pada tahun 1865. Tetapi makalah ini baru menarik perhatian dunia ilmiah pada akhir abad tersebut. Hingga awal abad ke-20, kebenaran dari hukum ini telah diterima oleh seluruh masyarakat ilmiah. Ini merupakan kebuntuan besar bagi teori Darwin, yang mencoba mendasarkan gagasan "sifat-sifat menguntungkan" pada teori Lamarck.

Di sini kita harus meluruskan kesalahpahaman umum: Mendel tidak hanya menentang model evolusi Lamarck, tetapi juga Darwin. Sebagaimana tulisan berjudul "Mendels Opposition to Evolution and Darwin" [Penentangan Mendel atas Evolusi dan Darwin], yang diterbitkan dalam Journal of Heredity [Jurnal Hereditas], menjelaskan, "Ia [Mendel] sangat memahami The Origin of Species [Asal Usul Spesies] dan ia menentang teori Darwin; Darwin mendukung munculnya keturunan dengan perubahan melalui seleksi alam, sedangkan Mendel menyokong keyakinan agama tentang penciptaan khusus." 4 Hukum yang ditemukan Mendel menempatkan Darwinisme pada keadaan yang amat sulit. Karena alasan inilah, para ilmuwan yang mendukung Darwinisme berusaha mengembangkan suatu rumusan evolusi lain pada perempat pertama abad ke-20. Maka, lahirlah "neo-Darwinisme" [Darwinisme Baru].

Hukum-hukum genetik [penurunan sifat] yang ditemukan oleh Mendel terbukti berdampak sangat buruk bagi teori evolusi.

UPAYA KERAS NEO-DARWINISME


Sekelompok Ilmuwan yang bersikukuh mempertemukan Darwinisme dengan ilmu genetika, dengan segala cara, berkumpul dalam sebuah pertemuan yang diadakan oleh the Geological Society of America [Perkumpulan Masyarakat Geologi Amerika] pada tahun 1941. Setelah pembicaraan panjang, mereka setuju pada cara untuk membuat penjelasan baru tentang Darwinisme; dan beberapa tahun setelah itu, para ahli menghasilkan sebuah sintesis [rumusan hasil perpaduan] dari berbagai bidang mereka menjadi sebuah teori evolusi yang telah diperbaharui. Para ilmuwan yang berperan serta dalam membangun teori baru ini termasuk ahli genetika G. Ledyard Stebbins dan Theodosius Dobzhansky, ahli ilmu hewan Ernst Mayr dan Julian Huxley, ahli paleontologi George Gaylord Simpson dan Glenn L. Jepsen, dan ahli genetika matematis Sir Ronald A. Fisher dan Sewall Wright. 5 Untuk menyanggah fakta "stabilitas genetik" (genetic homeostasis)[h], kelompok ilmuwan ini menggunakan gagasan "mutasi", yang telah diperkenalkan oleh ahli botani Belanda Hugo de Vries pada awal abad ke-20. Mutasi adalah kerusakan yang terjadi, untuk alasan yang tidak diketahui, dalam mekanisme penurunan sifat pada makhluk hidup. Organisme yang mengalami mutasi memperoleh bentuk yang tidak lazim, yang menyimpang dari informasi genetik yang mereka warisi dari induknya. Konsep "mutasi acak" diharapkan bisa menjawab pertanyaan tentang asal usul variasi [keragaman] menguntungkan yang menyebabkan makhluk hidup berevolusi sesuai dengan teori Darwinsebuah kejadian yang Darwin sendiri tidak bisa menjelaskannya, tetapi hanya mencoba menghindarinya dengan mengacu kepada teori Lamarck. Kelompok The Geological Society of America [Perkumpulan Masyarakat Geologi Amerika] menamai teori baru ini, yang dirumuskan dengan menambahkan gagasan mutasi pada teori seleksi alam

Darwin, sebagai "teori evolusi sintesis" atau "sintesis modern". Dalam waktu singkat, teori ini menjadi dikenal dengan nama "neo-Darwinisme" dan pendukungnya sebagai "neo-Darwinis."

Para perumus Neo-Darwinisme: Theodosius Dobzhansky, Ernst Mayr, dan Julian Huxley.

Namun terdapat sebuah masalah besar: Memang benar bahwa mutasi mengubah informasi genetik makhluk hidup, tetapi perubahan ini selalu terjadi dengan dampak merugikan makhluk hidup bersangkutan. Semua mutasi yang teramati menghasilkan makhluk yang cacat, lemah, atau berpenyakit dan, kadangkala, membawa kematian pada makhluk tersebut. Oleh karena itu, dalam upaya untuk mendapatkan contoh "mutasi-mutasi menguntungkan" yang memperbaiki informasi genetik pada makhluk hidup, neo-Darwinis melakukan banyak percobaan dan pengamatan. Selama puluhan tahun, mereka melakukan percobaan mutasi pada lalat buah dan berbagai spesies lainnya. Namun tak satu pun dari percobaan ini memperlihatkan mutasi yang memperbaiki informasi genetik pada makhluk hidup. Saat ini permasalahan mutasi masih menjadi kebuntuan besar bagi Darwinisme. Meskipun teori seleksi alam menganggap mutasi sebagai satu-satunya sumber dari "perubahan menguntungkan", tidak ada mutasi dalam bentuk apa pun yang teramati yang benar-benar menguntungkan (yaitu, yang memperbaiki informasi genetik). Dalam bab selanjutnya, kita akan mengkaji permasalahan ini secara rinci. Satu kebuntuan lain bagi neo-Darwinis datang dari catatan fosil. Bahkan pada masa Darwin, fosil telah menjadi rintangan yang penting bagi teori ini. Sementara Darwin sendiri mengakui tak adanya fosil "spesies peralihan", dia juga meramalkan bahwa penelitian selanjutnya akan menyediakan bukti atas bentuk peralihan yang hilang ini. Namun, meskipun semua upaya keras para pakar fosil telah dikerahkan, catatan fosil tetap menjadi rintangan besar bagi teori ini. Satu persatu, gagasan semacam "organ peninggalan", "rekapitulasi embriologi" dan "homologi" kehilangan arti pentingnya oleh penemuan-penemuan ilmiah terbaru. Semua permasalahan ini diuraikan dengan lebih lengkap pada bab-bab selanjutnya dari buku ini.

SEBUAH TEORI DALAM KRISIS


Kita baru saja mengupas secara singkat kebuntuan yang ditemui Darwinisme sejak hari pertama teori tersebut dikemukakan. Kini kita akan mulai mengkaji betapa besarnya kebuntuan ini. Dengan melakukan ini, tujuan kami adalah menunjukkan bahwa teori evolusi bukanlah kebenaran ilmiah yang tak terbantahkan, seperti anggapan banyak orang atau sebagaimana yang mereka ajarkan kepada orang lain. Sebaliknya, terdapat pertentangan mencolok ketika teori evolusi dihadapkan dengan penemuan-penemuan ilmiah dalam berbagai bidang seperti asal usul kehidupan, genetika populasi, anatomi perbandingan, ilmu fosil, dan biokimia. Singkatnya, evolusi adalah sebuah teori yang sedang dilanda "krisis." Itulah gambaran yang diberikan oleh Prof. Michael Denton, seorang ahli biokimia Australia dan seorang penyanggah terkenal terhadap Darwinisme. Dalam bukunya Evolution: A Theory in Crisis [Evolusi: Sebuah Teori dalam Krisis] (1985), Denton menguji teori ini ditinjau dari berbagai cabang ilmu, dan menyimpulkan bahwa teori seleksi alam sangatlah jauh dari memberikan penjelasan bagi kehidupan di bumi. 6 Tujuan Denton dalam mengajukan sanggahannya bukanlah untuk menunjukkan kebenaran dari pandangan lain,

Michael Denton

tetapi hanya membandingkan Darwinisme dengan fakta-fakta ilmiah. Selama dua dasawarsa terakhir, banyak ilmuwan lain menerbitkan karya-karya penting yang mempertanyakan keabsahan teori evolusi Darwin. Dalam buku ini, kita akan mengkaji krisis ini. Tak peduli seberapa banyak bukti nyata yang diberikan, sebagian pembaca mungkin tidak bersedia melepaskan keberpihakan mereka, dan akan tetap bertahan dengan teori evolusi. Namun, membaca buku ini masih akan bermanfaat bagi mereka, karena ini akan membantu mereka melihat keadaan sebenarnya dari teori yang mereka yakini tersebut, di hadapan penemuan-penemuan ilmiah.