Anda di halaman 1dari 8

Selain dari itu, radio juga bisa didengarkan

sembari

melakukan berbagai aktivitas lainnya. Hal itulah yang membuat radio begitu khas bagi masyarakat. Berdasarkan pengamatan peneliti dilapangan khususnya terhadap program acara Derap Perempuan di Radio SP FM Makassar, diketahui bahwa pendengar terbagi menjadi dua yakni pendengar aktif dan pendengar pasif. Pendengar aktif disini diartikan sebagai pendengar yang berani dalam bertanya dan berkonsultasi secara langsung saat acara on air, baik itu melalui pertanyaan terbuka di telepon dalam arti pendengar yang lain dapat mendengarkan suara penelpon maupun melalui via sms. Sedangkan pendengar pasif adalah penden gar yang tidak secara terbuka bertanya saat acara sedang berlagsung namun bertanya secara tatap muka kepada penyiar maupun

narasumber. Hal ini dikarenakan oleh sebagian perempuan masih merasa canggung mengungkapkan permasalahan

tersebut di depan umum dan menganggap kasus kekerasan dalam rumah tangga yang di alaminya merupakan privasinya yang hanya orang-orang tertentu saja yang boleh

mengetahuinya.

1. Dampak Media

Seluruh studi tentang komunikasi massa didasarkan pada premis bahwa media mempunyai dampak. (McQuail; 1996, halaman 227). Dampak-dampak media terdiri dari berbagai jenis, yakni media dapat (McQuail; 1996, halaman 231): 1. Menyebabkan perubahan yang diinginkan (Konversi) 2. Menyebabkan perubahan yang tidak diinginkan 3. Menyebabkan perubahan kecil (bentuk ata u intensitas) 4. Memperlancar perubahan (diinginkan atau tidak) 5. Memperkuat apa yang ada (tidak ada perubahan) 6. Mencegah perubahan

Berdasarkan jenis-jenis dampak diatas, penulis ingin mengetahui dampak apa yang terjadi kepada pendengar setelah mendengarkan program acara Derap Perempuan di Radio SP FM Makassar. Oleh karena itu, penulis menggunakan model S-R guna mengetahui tanggapan rangsangan khalayak atas rangsangan yang diterima, hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Pesan tunggal

Perbedaan Individu

Reaksi

1. Pesan tunggal di sini adalah perbincangan di radio antara penyiar dan narasumber tentang kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga di program acara Derap Perempuan radio SP FM Makassar 2. Perbedaan Individu adalah setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda seperti kepribadian, sikap, kecerdasan, minat, pekerjaan, usia, dan lain sebagainya. 3. Reaksi di sini diartikan tanggapan yang di berikan oleh pendengar diakibat oleh stimuli yang diberikan oleh penyiar dan narasumber. Rea ksi bisa berupa menelepon langsung atau mengirimkan pesan singkat saat acara berlangsung (reaksi aktif) dan bisa juga dengan reaksi pasif yakni pendengar memberikan tanggapannya kepada penyiar dan narasumber secara langsung (tatap muka) saat program

acara sudah tidak berlangsung. Hal ini dikarenakan masih ada kalangan perempuan yang merasa malubertanya sebab takut suaranya di dengar dan identitasnya diketahui oleh pendengar lain.

A. TEORI PENDUKUNG 1. Teori Uses and Gratification

Lima asumsi dasar teori Uses and Gratidication menurut pencetusnya (Katz, Blumler & Gurevitch) dalam (West dan Tuner: 2008, halaman 104): 1. Khalayakaktifdanpenggunaanmedianyaberorientasipadatujua n 2. Inisiatifdalammenghubungkankepuasankebutuhanpadapilihan media tertentuterdapatpadaanggotak halayak 3. Media berkompetisidengansumberlainnyauntukkepuasankebutuhan 4. Orang media mempunyaicukupkesadarandiriakanpenggunaan mereka, minat, dan motif yang

sehinggadapatmemberikansebuahgambaran akuratmengenaikegunaantersebutkepadaparapeneliti 5. Penilaianmengenainilaiisi hanyadapatdinilaiolehkhalayak.

media

Oleh karena itu, menurut teori ini, bahwa khalayak (dalam hal ini pendengar program acara radio SP FM Makassar) sadar betul dalam menggunakan radio sebab dengan asumsi bahwa jika khalayak tidak menyukai suatu program acara tertentu tentunya mereka bisa mengganti saluran tersebut ke radio lainnya.

2. Teori Agenda Setting

Hingga tahun 1990an, hampir setiap artikel tentang teori Agenda Setting, ada semacam mantra yang melekat yakni: the media arent very successful in telling to us what to think, but they are stunningly successful in telling us what to think about. (Griffin; 2006; halaman 401).

Dalam agenda setting, Media Massa memiliki kekuatan untuk mempengaruhi agenda media kepada agenda publik. Dengan demikian, jika media massa menganggap isu itu penting, maka kita juga akan menganggapnya penting. Begitu juga sebaliknya, jika isu tersebut tidak dianggap penting oleh media massa, maka isu tersebut juga menjadi tidak penting bagi bagi kita. Sehubungan dengan hal di atas, Radio SP FM menganggap isu kekerasan dalam rumah tangga itu penting dan patut untuk diangkat ke publik sebab yang sering menjadi korban dalam perilaku kekerasan tersebut adalah perempuan, maka dari itu Radio SP FM membuat dan program acara yang dapat

menginformasikan

mendidik

pendengar

khususnya

perempuan sebab sasaran khalayak dari radio SP FM sendiri adalah perempuan.

B. HASIL PENELITIAN ILMIAH YANG RELEVAN

Penelitian mengenai kasus -kasus kekerasan dalam rumah tangga sebenarnya sudah banyak yang meneliti dan tentu saja relevan dengan studi yang mereka pelajari, seperti dari sudut pandang ilmu hukum dan ilmu antropologi. Akan tetapi, sejauh

yang penulis amati, masih jarang yang meneliti dari sudut pandang ilmu komunikasi, dalam hal ini media. Adapun penelitan terdahulu yang relevan dalam penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Pan MohamadFaiz 1; 2007 dalam penelitian yang berjudul: Perlindungan Terhadap Perempuan Melalui Undang-Undang Kekerasan dalam Rumah Tangga: Analisa Perbandingan antara Indonesia dan India. Dalam hal ini, Pan Mohamad Faiz mengkaji Kasus-kasus Kekerasan dalam rumah

tangga dalam perspektif ilmu hukum. Penelitian lain yang relevan juga dalam penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Nurul Ilmi Idrus 2; 2001 dalam penelitian yang berjudul: Marriage, Sex, and Violence. Dalam hal ini, Nurul Ilmi Idrus mengupas kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga dalam perspektif ilmu antropologi.
1

Pan Mohammad Faz, meraih gelar Bachelor of Law (LL.B.) dari Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, dan meraih beasiswa penuh dari ICCR untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Delhi, India.Dan selanjutnya meraih gelarMaster of Comparative Laws (M.C.L.) tahun 2008, spesialisasi pada perbandingan hukum konstitusi khususnya meyangkut perempuan. Sekarang bekerja sebagai pengacara di Jakarta dan Asisiten Yudisial di Makhamah Konstitusi
2

Nurul Ilmi Idrus, adalah seorang professor antropologi di Universitas Hasanuddin, Makassar. Spesialisasi Antropologi feminis dengan meraih gelar P.hD dalam bidang Anthropoloy, Gender, and Sexuality.

C. KERANGKA PEMIKIRAN

Kasus kekerasan dalam rumah tangga bukanlah fenomena baru, sebab kasus ini sudah terjadi beberapa tahun bahkan ratusan tahun silam, namun pada era sebelum era reformasi, kasus ini sering ditutup-tutupi dikarenakan bersifat urusan pribadi meski orang-orang sekitar mengetahui bahwa korban telah meng alami siksaan secara fisik bahkan menyebabkan cacat fisik.

Media massa (termasuk radio) turut andil dalam mengungkap kasus kekerasan dalam rumah tangga tersebut sehingga kasus kekerasan tersebut yang dulunya sering ditutup -tutupi kini masyarakat bisa mendapatkan informasi mengenai kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga tersebut

Radio SP FM Makassar selaku radio perempuan pertama yang berdiri di Makassar bahkan di kawasan Indonesia Timur sering menginformmasikan seputar perempuan tak terkecuali kasus kekerasan dalam rumah tangga yang kerapkali di alami perempuan (dalam program acara Derap Perempuan)

Menurut Teori Uses and Gratification, Khalayak bersifat aktif, sebab khayak tahu betul mana program siaran yang layak dan tidak layak dia dengar sebab jika khalayak tidak menyukai suatu tayangan tertentu, khalayak bisa mengganti channel atau bahkan meng-turn off kan medianya
6

Pendapat Masyarakat terhadap program siaran Derap Perempuan di Radio SP FM Makassar, khususnya menyangkut kasus kekerasan dalam rumah tangga Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pemikiran Sumber: Olahan Peneliti