Anda di halaman 1dari 14

Komunikasi Publik Rokok, Remaja dan Dosa Orang Dewasa

Friday, November 30, 2007 By susuwongi Oleh Risang Rimbatmaja Global Youth Tobacco Survey atau GYTS Indonesia menyebutkan 24,5 persen remaja laki-laki Indonesia adalah perokok (Kompas, 9/11/2007). Situasi ini sungguh memprihatinkan, apalagi merokok merupakan pintu ke arah perilaku yang lebih berisiko, termasuk penyalahgunaan narkoba. Namun, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah kita sudah memberi solusi yang efektif?MoreSalah satu pendekatan yang umum ditawarkan untuk mencegah remaja mulai merokok atau menjadi pencandu serius adalah melalui komunikasi publik, seperti melalui penyebaran pesan-pesan tentang bahaya merokok atau kegiatan-kegiatan penyuluhan di sekolah. Pendekatan yang sifatnya lebih enforcement atau penerapan peraturan yang disertai sanksi sejauh ini menghadapi banyak kendala, di antaranya adalah kapasitas dan integritas sekolah untuk mengawasi seluruh gerak-gerik siswa dan tidak adanya panutan dari kelompok guru. Seperti diketahui luas, guru perokok bukanlah hal yang aneh di sekolah. Padahal, seperti kata pepatah lama, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Sementara, di lingkungan luar sekolah kita juga menyaksikan implementasi peraturan yang (sudah diprediksikan) mandul, seperti Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan dan yang lebih baru, Perda DKI Jakarta No 2/2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Meski peraturan yang disebut terakhir berisi sanksi yang tegas, kenyataannya masih banyak ditemui warga yang dengan santai merokok di kendaraan umum atau tempat-tempat umum lainnya tanpa khawatir akan sangsi sampai Rp 50 juta seperti tertulis dalam perda. Ego orang dewasa Komunikasi publik kemudian menjadi andalan perubahan perilaku remaja, tetapi pendekatan itu rasanya belum banyak membuahkan hasil. Secara jujur harus diakui bahwa penyebab utama ketidakberhasilan komunikasi publik adalah justru paradigma kelompok orang dewasa sendiri yang cenderung egosentris dan menempatkan remaja sebagai obyek atau bahkan pesakitan. Remaja selalu dianggap sebagai obyek yang dianggap tidak tahu atau tidak sadar akan bahaya rokok. Karena itu, mereka dipandang sebagai khalayak yang perlu diberi tahu. Di lain pihak, para penggiat kampanye antirokok, orang dewasa, diposisikan lebih tinggi, yakni sebagai mereka yang lebih tahu, ahli, berpengalaman, dan lain-lain. Padahal, para remaja perokok mungkin jauh lebih tahu tentang bahaya merokok daripada yang diperkirakan. Bukankah mereka lebih sering membaca peringatan pemerintah tentang bahaya merokok? Diungkap dalam buku Erica Weinstraub Austin berjudul Reaching Young Audiences (1995), kesalahan umum dalam desain kampanye (bagi kelompok remaja) adalah mengasumsikan bahwa dengan mengangkat sebuah perilaku sebagai suatu yang buruk atau tidak sehat (di dalam pesan-pesan kampanye), maka remaja akan menolak perilaku itu. Tipikal pesan kampanye antirokok adalah merokok merupakan perilaku yang sangat berbahaya bagi kesehatan karena itu jangan merokok. Dipaparkan bahwa merokok dapat menyebabkan impotensi, gangguan kehamilan, kanker, dan lain-lain. Namun, para remaja, seperti halnya orang dewasa, tentu tidak selalu memaknainya sesuai pesan yang tertulis.

Ketika para ahli kesehatan memandang merokok sebagai perilaku yang merusak kesehatan, banyak remaja (dengan bantuan komunikasi komersial industri rokok) mengartikannya secara positif, sebagai citra kekuatan, perilaku risk-taking yang jantan, dan sebagainya. Mengutip McGuire (1989), dalam konteks remaja kita gagal mengenali sebagian daya tarik perilaku (buruk) yang justru bisa terletak pada pelarangannya. Paradigma yang egosentris itu sebetulnya bersumber dari ketidakmauan dan atau ketidakmampuan orang dewasa mendengarkan suara remaja dan menganggap diri mereka lebih hebat. Nilai semacam ini sebetulnya banyak dijumpai dalam komunikasi kesehatan di medical era yang di banyak negara sudah ditinggalkan satu generasi lalu (Strategic Planning for Participatory Social and Behavior Change Communication in Public Health, JHU-CCP 2007). Model komunikasi yang diandalkan dalam medical era adalah model linear SMR (sender medium receiver) di mana perubahan perilaku dipercaya merupakan hasil niscaya dari pengiriman pesan melalui medium tertentu yang sifatnya monolog (satu arah), semisal penyebaran poster atau kegiatan-kegiatan penyuluhan. Beberapa dekade lalu model komunikasi perubahan perilaku berkembang menjadi lebih dialogis (field-era) di mana umpan balik khalayak dipercaya sebagai komponen penting untuk mengembangkan program yang efektif. Di sini, khalayak tidak lagi dianggap sebagai sasaran seperti benda mati yang tinggal ditembak oleh peluru ajaib. Khalayak menjadi lebih sebagai responden yang perlu diketahui dan diakomodasi reaksinya. Partisipasi remaja Namun, pengalaman implementasi program-program komunikasi akhirnya menyimpulkan bahwa dialog saja tidak cukup. Di dekade terakhir, model komunikasi yang terlihat membawa hasil yang lebih berkelanjutan adalah model yang lebih strategik-partisipa tif. Tidak ada lagi batas yang tegas antara khalayak dengan pemrogram. Yang dipentingkan adalah kolaborasi yang egaliter. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Di sini, remaja menjadi warga yang memiliki posisi yang sama dengan orang dewasa penggiat antirokok. Mereka bersuara, mendapat hak untuk bersama-sama berpikir, bergerak mencegah ataupun mengubah perilaku merokok, dan juga menilai hasilnya. Memahami suara remaja akan menghasilkan program dengan pendekatan yang berbeda. Contoh yang klasik dalam kampanye antirokok adalah Program Truth yang difasilitasi oleh The American Legacy Foundation (Sly, Heald & Ray 2001 di dalam Panduan Lapangan Merancang Strategi Komunikasi Kesehatan, JHU/CCP 2003). Alih-alih mengeksploitasi dampak rokok terhadap kesehatan remaja, Program Truth menguatkan identitas remaja sebagai pemberontak, pengambil risiko, atau orang yang mandiri yang tengah berkembang dalam diri remaja. Dalam kampanye Truth, perusahaan tembakau dikuliti dan diperlihatkan sebagai penjahat yang menjual produk yang mereka sendiri sudah tahu bahayanya. Dengan mengungkap kebenaran tentang perusahaan rokok, kampanye memberi alasan yang kuat bagi orang muda yang tengah memiliki hasrat memberontak yang kuat untuk melakukan pemberontakan terhadap perusahaan rokok raksasa yang berusaha keras mencelakakan mereka. Sly, Heald dan Ray (2001) melaporkan bahwa pendekatan Truth membawa hasil yang cukup menggembirakan. Negara Bagian Florida melaporkan bahwa kampanye ini menghasilkan angka kesadaran yang tinggi, perubahan signifikan dalam sikap atau kepercayaan dan menurunkan angka merokok di kalangan remaja. Perubahan positif semacam itu tentu dibutuhkan Indonesia. Namun, kita harus mengembangkan sendiri program terbaik untuk menanggulangi masalah remaja dan merokok.
PENGERTIAN KOMUNIKASI KELOMPOK Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok kecil

seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu umtuk mencapai tujuan kelompok. Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berintera satu sama lain untuk ksi mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Deddy Mulyana, 2005). Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Dalam komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok. Klasifikasi kelompok dan karakteristik komunikasinya. Telah banyak klasifikasi kelompok yang dilahirkan oleh para ilmuwan sosiologi, namun dalam kesempatan ini kita sampaikan hanya tiga klasifikasi kelompok. Kelompok primer dan sekunder. Charles Horton Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaludin Rakhmat, 1994) mengatakan bahwa kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja sama. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota -anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita. Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik komunikasinya, sebagai berikut: 1. Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, menyingkap unsur-unsur backstage (perilaku yang kita tampakkan dalam suasana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas. 2. Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal. 3. Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok primer adalah sebaliknya. 4. Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental. 5. Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal. Kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan. Theodore Newcomb (1930) melahirkan istilah kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference group). Kelompok keanggotaan adalah kelompok yang anggota -anggotanya secara administratif dan fisik menjadi anggota kelompok itu. Sedangkan kelompok rujukan adalah kelompok y digunakan sebagai alat ukur ang (standard) untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap. Menurut teori, kelompok rujukan mempunyai tiga fungsi: fungsi komparatif, fungsi normatif, dan fungsi perspektif. Saya menjadikan Islam sebagai kelompok rujukan saya, untuk mengukur dan menilai keadaan dan status saya sekarang (fungsi komparatif. Islam juga memberikan kepada saya norma-norma dan sejumlah sikap yang harus saya miliki-kerangka rujukan untuk membimbing perilaku saya, sekaligus menunjukkan apa yan harus saya capai (fungsi g normatif). Selain itu, Islam juga memberikan kepada saya cara memandang dunia ini-cara mendefinisikan situasi, mengorganisasikan pengalaman, dan memberikan makna pada berbagai objek, peristiwa, dan orang yang saya temui (fungsi perspektif). Namun Islam bukan satu-satunya kelompok rujukan saya. Dalam bidang ilmu, Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) adalah kelompok rujukan saya, di samping menjadi kelompok keanggotaan saya. Apapun kelompok rujukan itu, perilaku saya sangat dipengaruhi, termasuk perilaku saya dalam berkomunikasi.

Kelompok deskriptif dan kelompok preskriptif John F. Cragan dan David W. Wright (1980) membagi kelompok menjadi dua: deskriptif dan peskriptif. Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi, kelompok deskriptif dibedakan menjadi tiga: a. kelompok tugas; b. kelompok pertemuan; dan c. kelompok penyadar. Kelompok tugas bertujuan memecahkan masalah misalnya transplantasi , jantung, atau merancang kampanye politik. Kelompok pertemuan adalah kelompok orang yang menjadikan diri mereka sebagai acara pokok. Melalui diskusi, setiap anggota berusaha belajar lebih banyak tentang dirinya. Kelompok terapi di rumah sakit jiwa adalah contoh kelompok pertemuan. Kelompok penyadar mempunyai tugas utama menciptakan identitas sosial politik yang baru. Kelompok revolusioner radikal; (di AS) pada tahun 1960-an menggunakan proses ini dengan cukup banyak. Kelompok preskriptif, mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Cragan dan Wright mengkategorikan enam format kelompok preskriptif, yaitu: diskusi meja bundar, simposium, diskusi panel, forum, kolokium, dan prosedur parlementer. Pengaruh kelompok pada perilaku komunikasi Konformitas. Konformitas adalah perubahan perilaku atau kepercayaan menuju (norma) kelompok sebagai akibat tekanan kelompok-yang real atau dibayangkan. Bila sejumlah orang dalam kelompok mengata atau melakukan sesuatu, kan ada kecenderungan para anggota untuk mengatakan dan melakukan hal yang sama. Jadi, kalau anda merencanakan untuk menjadi ketua kelompok,aturlah rekan-rekan anda untuk menyebar dalam kelompok. Ketika anda meminta persetujuan anggota, usahakan rekan-rekan anda secara persetujuan mereka. Tumbuhkan seakan -akan seluruh anggota kelompok sudah setuju. Besar kemungkinan anggota-anggota berikutnya untuk setuju juga. Fasilitasi sosial. Fasilitasi (dari kata Prancis facile, artinya mudah) menunjukkan kelancaran atau peningkatan kualitas kerja karena ditonton kelompok. Kelompok mempengaruhi pekerjaan sehingga menjadi lebih mudah. Robert Zajonz (1965) menjelaskan bahwa kehadiran orang lain-dianggap-menimbulkan efek pembangkit energi pada perilaku individu. Efek ini terjadi pada berbagai situasi sosial, bukan hanya didepan orang yang menggairahkan kita. Energi yang meningkat akan mempertingi kemungkinan dikeluarkannya respon yang dominan. Respon dominan adalah perilaku yang kita kuasai. Bila respon yang dominan itu adalah yang benar, terjadi peningkatan prestasi. Bila respon dominan itu adalah yang salah, terjadi penurunan prestasi. Untuk pekerjaan yang mudah, respon yang dominan adalah respon yang banar; karena itu, peneliti-peneliti melihat melihat kelompok mempertinggi kualitas kerja individu. Polarisasi. Polarisasi adalah kecenderungan ke arah posisi yang ekstrem. Bila sebelum diskusi kelompok para anggota mempunyai sikap agak mendukung tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan lebi kuat lagi mendukung h tindakan itu. Sebaliknya, bila sebelum diskusi para anggota kelompok agak menentang tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan menentang lebih keras. Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok Anggota-anggota kelompok bekerja sama untuk mencapai dua tujuan: a. melaksanakan tugas kelompok, dan b. memelihara moral anggota-anggotanya. Tujuan pertama diukur dari hasil kerja kelompok-disebut prestasi (performance) tujuan kedua diketahui dari tingkat kepuasan (satisfacation). Jadi, bila kelompok dimaksudkan untuk saling berbagi informasi (misalnya kelompok belajar), maka keefektifannya dapat dilihat dari beberapa banyak informasi yang diperoleh anggota kelompok dan sejauh mana anggota dapat memuaskan kebutuhannya dalam

kegiatan kelompok. Untuk itu faktor-faktor keefektifan kelompok dapat dilacak pada karakteristik kelompok, yaitu: 1. ukuran kelompok. 2. jaringan komunikasi. 3. kohesi kelompok. 4. kepemimpinan (Jalaluddin Rakhmat, 1994). Daftar pustaka Anwar Arifin, 1984, Strategi Komunikasi: Suatu Pengantar Ringkas, Bandung: Armico Deddy Mulyana, 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya. Jalaludin Rakhmat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya. Littlejohn, 1999, Theories of Human Communication, Belmont, California: Wadsworth Publishing Company. Wiryanto, 2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Sumber : http://massofa.wordpress.com SISTEM KOMUNIKASI KELOMPOK Klasifikasi Kelompok dan Pengaruh Kelompok pada Perilaku Komunikasi Kelompok dapat diklasifikasikan dalam empat dikotomi, yaitu: primer, sekunder, ingroup-outgroup rujukankeanggotaan, dan deskriptif-prespektif. Kelompok mempengaruhi perilaku komunikasi dalam 3 hal, yaitu: konformitas, fasilitas sosial, dan polarisasi. Penelitian menunjukkan bahwa kelompok berkembang melalui beberapa tahap. Tahap -tahap tersebut adalah: orientasi, konflik, kemunculan (emergence), dan penguatan (reinforcement). Adanya kelompok juga menyebabkan terbentuknya budaya kelompok. Budaya kelompok ini berfungsi untuk: (1) membentuk identitas kelompok, dan (2) memberikan rasa kebersamaan dalam kelompok. Penelitian menunjukkan bahwa kelompok berkembang melalui beberapa tahap. Tahap -tahap tersebut adalah: orientasi, konflik, kemunculan (emergence), dan penguatan (reinforcement). Adanya kelompok juga menyebabkan terbentuknya budaya kelompok. Budaya kelompok ini berfungsi untuk: (1) membentuk identitas kelompok, dan (2) memberikan rasa kebersamaan dalam kelompok Efektivitas, Pengambilan Keputusan dan Konflik dalam Kelompok Efektivitas kelompok dipengaruhi oleh dua factor, yaitu: factor situasional (karateristik kelompok dan factor personal (karateristik para anggota kelompok). Faktor situasional meliputi: a. ukuran kelompok, b. jaringan komunikasi, c. kohesi kelompok, d. dan kepemimpinan. Sedangkan factor personal meliputi: a. kebutuhan interpersonal, b. tindak komunikasi, c. peranan.

Aktivitas penting lainnya di dalam kelompok adalah pengambilan keputusan. Pengam bilan dapat dilakukan dengan cara: consensus, kompromi, pengambilan suara mayoritas, keputusan oleh pemimpin, dan orbitrasi. Konflik dalam kelompok tidak dapat dihindari. Ada dua dimensi penting dalam konflik, yaitu: ketegasan dan kerja sama. Jika dikombinasikan maka kedua dimensi tersebut menghasilkan lima gaya sikap. Sumber : http://kuliah.dagdigdug.com PRINSIP DASAR KOMUNIKASI DALAM KELOMPOK Sebagaimana telah diuraikan pada bagian pendahuluan, bahwa kelompok merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kita sehari-hari. Kelompok baik yang bersifat primer maupun sekunder, merupakan wahana bagi setiap orang untuk dapat mewujudkan harapan dan keinginannya berbagi informasi dalam hamper semua aspek kehidupan. Ia bias merupakan media untuk mengungkapkan persoalan-persoalan pribadi (keluarga sebagai kelompok primer), ia dapat merupakan sarana meningkatkan pengethuan para anggotanya (kelompok belajar) dan ia bias pula merupakan alat untuk memecahkan persoalan bersama yang dihadapi seluruh anggot (kelompok a pemecahan manaslah). Jadi, banyak manfaat yang dapat kita petik bila kita ikut terlibat dalam seuatu kelompok yang sesuai dengan rasa ketertarikan (interest) kita. Orang yang memisahkan atau mengisolasi dirinya dengan orang lain adalah orang yang penyendiri, orang yang benci kepada orang lain (misanthrope) atau dapat dikatakan sebagai orang yang antisocial. Bahasan dalam modul ini mencakup tiga hal, yaitu pengertian mngenai kemonikasi kelompok, karakteristik dari komunikasi kelompok dan kajian tentang fungsi dari komunikasi kelompok. Pengertian Komunikasi Kelompok Michael Burgoon dan Michael Ruffner dalam bukunya Human Communiation, A Revisian of Approaching Speech/Comumunication, memberi batasan komunikasi kelompok sebagai interaksi tatap mukadari tiga atau lebih individu guna memperoleh maksud atau tujuan yang dikehendaki seperti berbagai informasi, pemeliharaan diri atau pemecahan masalah sehingga semua anggota kelompok dapat menumbuhkan karateristik pribadi anggota lainnya dengan akurat (the face-to-face interaction of three or more individuals, for a recognized purpose such as information sharing, self-maintenance, or problem solving, such that the members are able to recall personal characteristics of other members accurately). Ada empat elemen yang tercakup dalam definisi di atas, yaitu : 1. interaksi tatap muka, jumlah partisipan yang terlibat dalam interaksi, maksud atau tujuan yang dikehendaki dan kemampuan anggota untuk dapat menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lainnya. Kita men coba membahaas keempat elemen dari batasan tersebut dengan lebih rinci. 2. Terminologi tatap muka (face-toface) mengandung makna bahwa setiap anggota kelompok harus dapat melihat dan mendengar anggota lainnya dan juga harus dapat mengatur umpan balik seca verbal maupun nonverbal dari ra setiap anggotanya. Batasan ini tidak berlaku atau meniadakan kumpulan individu yang sedang melihat proses pembangunan gedung/bangunan baru. Dengan demikian, makna tatap muka tersebut berkait erat dengan adanya interaksi di antara semua anggota kelompok. Jumlah partisipan dalam komunikasi kelompok berkisar antara 3 sampai 20 orang. Pertimbangannya, jika jumlah partisipan melebihi 20 orang, kurang memungkinkan berlangsungnya suatu interaksi di mana setiap anggota kelompok mampu melihat dan mendengar anggota lainnya. Dan karenannya kurang tepat untuk dikatakan sebagai komunikasi kelompok. 3. Maksud atau tujuan yang dikehendaki sebagai elemen ketiga dari definisi di atas, bermakna bahwa maksud atau tujuan tersebut akan memberikan beberapa tipe identitas kelompok. Kalau tujuan kelompok tersebut adalah berbagi informasi, maka komunikasi yang dilakukan dimaksudkan untuk menanamkan pengetahun (to impart knowledge). Sementara kelompok yang memiliki tujuan pemeliharaan diri (self-maintenance), biasanya memusatkan

perhatiannya pada anggota kelompok atau struktur dari kelompok itu sendiri. Tindak komunikasi yang dihasilkan adalah kepuasan kebutuhan pribadi, kepuasan kebutuhan kolektif/kelompok bahkan kelangsungan hidup dari kelompok itu sendiri. Dan apabila tujuan kelompok adalah upaya pemecahan masalah, maka kelompok tersebut biasanya melibatkan beberapa tipe pembuatan keputusan untuk mengurangi kesulitan -kesulitan yang dihadapi. 4. Elemen terakhir adalah kemampuan anggota kelompok untuk menumbuhkan karateristik personal anggota lainnya secara akurat. Ini mengandung arti bahwa setiap anggota kelompok secara tidak langsung berhubungan dengan satu sama lain dan maksud/tujuan kelompok telah terdefinisikan dengan jelas, di samping itu identifikasi setiap anggota dengan kelompoknya relatif stabil dan permanen. Batasan lain mengenai komunikasi kelompok dikemukakan oleh Ronald Adler dan George Rodman dalam bukunya Understanding Human Communication. Mereka mengatakan bahwa kelompok atau group merup akan sekumpulan kecil orang yang saling berinteraksi, biasanya tatap muka dalam waktu yang lama guna mencapai tujuan tertentu (a small collection of people who interct with each other, usually face to face, over time order to reach goals). Ada empat elemen yang muncul dari definisi yang dikemukakan oleh Adler dan Rodman tersebut, yaitu : 1. elemen pertama adalah interaksi dalam komunikasi kelompok merupakan faktor yang penting, karena melalui interaksi inilah, kita dapat melihat perbedaan antara kelompok dengan istilah yang disebut dengan coact. Coact adalah sekumpulan orang yang secara serentak terkait dalam aktivitas yang sama namun tanpa komunikasi satu sama lain. Misalnya, mahasiswa yang hanya secara pasif mendengarkan suatu perkuliahan, secara teknis b elum dapat disebut sebagai kelompok. Mereka dapat dikatakan sebagai kelompok apabila sudah mulai mempertukarkan pesan dengan dosen atau rekan mahasiswa yang lain. 2. elemen yang kedua adalah waktu. Sekumpulan orang yang berinteraksi untuk jangka waktu yan singkat, tidak g dapat digolongkan sebagai kelompok. Kelompok mempersyaratkan interaksi dalam jangka waktu yang panjang, karena dengan interaksi ini akan dimiliki karakteristik atau ciri yang tidak dipunyai oleh kumpulan yang bersifat sementara. 3. elemen yang ketiga adalah ukuran atau jumlah partisipan dalam komunikasi kelompk. Tidak ada ukuran yang pasti mengenai jumlah anggota dalam suatu kelompok. Ada yang memberi batas 3-8 orang, 3-15 orang dan 3-20 orang. Untuk mengatasi perbedaan jumlah anggota tersebut, muncul konsep yang dikenal dengan smallness, yaitu kemampuan setiap anggota kelompk untuk dapat mengenal dan memberi reaksi terhadap anggota kelompok lainnya. Dengan smallness ini, kuantitas tidak dipersoalkan sepanjang setiap anggota mampu mengenaldan memberi rekasi pada anggota lain atau setiap anggota mampu melihat dan mendengar anggota yang lain/seperti yang dikemukakan dalam definisi pertama. 4. elemen terakhir adalah tujuan yang mengandung pengertian bahwa keanggotaan dalam suatu kelompok akan membantu individu yang menjadi anggota kelompok tersebut dapat mewujudkan satu atau lebih tujuannya. Karakteristik Komunikasi Kelompok Apapun fungsi yang disandangnya, baik primer maupun sekunder dalam keberadaannya memiliki karakteristik tertentu. Karenanya, memahami karakteristik yang ada merupakan langkah pertama untuk bertindak lebih efektif dalam suatu kelompok di mana kita ikut terlibat didalamnya. Ada dua karakteristik yang melekat pada suatu kelompok, yaitu norma dan peran. Kita akan membahas kedua karakteristik tersbut denga lebih rinci satu persatu. Norma adalah persetujuan atau perjanjian tentang bagaimana orang-orang dalam suatu kelompok berperilaku satu dengan lainnya. Kadang-kadang norma oelh para sosiolog disebut juga dengan hukum (law) ataupun aturan (rule), yaitu perilaku-perilaku apa saja yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan dalam suatu kelompok. Ada tiga kategori norma kelompok, yaitu norma sosial, prosedural dan tugas. Norma sosial mengatur hubungan di antara para nggota kelompok. Sedangkan norma prosedural menguraikan dengan lebih rinci bagaimana kelompok harus

beroperasi, seperti bagaimana suatu kelompok harus membuat keputusan, apakah melalui suara mayoritas ataukah dilakukan pembicaraan sampai tercapai kesepakatan. Dari norma tugas mmusatkan perhatian pada bagaimana suatu pekerjaan harus dilaksanakan. Berikut kita akan mempelajari norma-norma dalam kelompok dengan mencermati tabel di bawah ini. TABEL NORMA-NORMA YANG DIHARAPKAN DALAM SUATU KELOMPOK SOSIAL PROSEDURAL TUGAS Mendiskusikan persoalan Memperkenalkan para Mengkritik ide Yang tidak kontroversial anggota kelompok bukan orangnya Menceritakan gurauan Membuat agenda Mendukung gagasan Yang lucu pertemuan yang terbaik Menceritakan kebenaran Duduk saling bertatap Memiliki kepedulian Yang tidak dapat dibantah muka untuk pemecahan Persoalan Jangan merokok (kalau Memantapkan tujuan Berbagi beban Dimungkinkan) kelompok pekerjaan Jangan datang terlambat Jangan meninggalkan Jangan memaksakan Pertemuan tanpa sebab gagasan kita dalam Kelompok Tidak hadir tanpa alasan Jangan memonopoli Jangan berkata kasar Yang jelas percakapan jika tidak setuju Jika norma diberi batasan sebagai ukuran kelompok yang dapat diterima, maka peran (role) merupakan pola -pola perilaku yang diharapkan dari setiap anggota kelompok. Ada dua fungsi peran dalam suatu kelompok, yaitu fungsi tugas dan fungsi pemeliharaan. Kita akan menyimak kedua fungsi tersebut dalam tabel. TABEL PERAN FUNGSIONAL DARI ANGGOTA KELOMPOK FUNGSI TUGAS FUNGSI PEMELIHARAAN Pemberi informasi Pendorong partisipasi Pemberi pendapat Penyelaras Pencari informasi Penurun ketegangan Pemberi aturan Penengah persoalan pribadi Fungsi Komunikasi Kelompok Keberadaan suatu kelompok dalam masyarakat dicerminkan oleh adanya fungsi fungsi yang akan dilaksanakannya. Fungsi-fungsi tersebut mencakup fungsi hubungan sosial, pendidikan, persuasi, pemecahan masalah dan pembuatan keputusan dan fungsi terapi. Semua fungsi ini dimanfaatkan untuk pembuatan kepentingan masyarakat, kelompok dan para anggota kelompok itu sendiri. Fungsi pertama dalam kelompok adalah hubungan sosial, dalam arti bagaimana suatu kelompok mampu memelihara dan memantapkan hubungan sosial di antara para anggotanya seperti bagaimana suatu kelompok secara rutin memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk melakukan sktivitas yang informal, santai dan menghibur. Pendidikan adalah fungsi kedua dari kelompok, dalam arti bagaimana sebuah kelompok secara formal maupun informal bekerja unutk mencapai dan mempertukarkan pengetahun. Melalui fungsi pendidikan ini, kebutuhan-kebutuhan dari para anggota kelompok, kelompok itu sendiri bahkan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Namun demikian, fungsi pendidikan dalam kelompok akan sesuai dengan yang diharapkan atau tidak, bergantung pada tiga faktor, yaitu jumlah informasi baru yang dikontribusikan, jumlah

partisipan dalam kelompok serta frekuensi interaksi di antara para anggota kelompok. Fungsi pendidikan ini akan sangat efektif jika setiap anggota kelompk membawa pengetahuan yang berguna bagi k elompoknya. Tanpa pengetahuan baru yang disumbangkan msing-masing anggota, mustahil fungai edukasi ini akan tercapai. Dalam fungsi persuasi, seorang anggota kelompok berupaya mempersuasikan anggota lainnya supaya melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Seseorang yang terlibat usaha-usaha persuasif dalam suatu kelompok, membawa resiko untuk tidak diterima oleh para anggota lainnya. Misalnya, jika usaha-usaha persuasif tersebut terlalu bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok, maka justru orang yang berusaha mempersuasi tersebut akan menciptakan suatu konflik, dengan demikian malah membahayakan kedudukannya dalam kelompok. Fungsi keompok juga dicerminkan dengan kegiatan-kegiatannya untuk memecahkan persoalan dan membuat keputusan-keputusan. Pemecahan masalah (problem solving) berkaitan dengan penemuan alternatif atau solusi yang tidak diketahui sebelumnya; sedangkan pembuatan keputusan (decision making) berhubungan dengan pemilihan antara dua atau lebih solusi. Jadi, pemecahn masalah menghasilkan materi atu bahan untuk pembuatan keputusan. Terapi adalah fungsi kelima dari kelompok. Kelompok terapi memiliki perbedaan dengan kelompok lainnya, karena kelompok terapi tidak memiliki tujuan. Objek dari kelompok terapi adalah membantu setiap individu mencapai perubahan personalnhya. Tentunya, individu tersebut harus berinteraksi dengan anggota kelompok lainnya guna mendapatkan manfaat, namun usaha utamanya adalh membantu dirinya sendiri, bukan membantu kelompok mencapai konsensus. Contoh dari kelompok terapi ini adalah kelompok konsultasi perkawinan, kelompok penderita narkotika, kelompok perokok berat dan sebagainya. Tindak komunikasi dalam kelompok -kelompok terapi dikenal dengan nama pengungkapan ciri (self disclosure). Artinya, dalam suasana yang mendukung, setiap anggota dianjurkan untuk berbicara secara terbuka tentang apa yang menjadi permasalahannya. Jika muncul konflik antar anggota dalam diskusi yang dilakukan, orang yang menjadi pemimpin atau yang memberi terapi yang akan mengaturnya. MEMAHAMI KOMUNIKASI DALAM KELOMPOK Persoalan-persoalan mengenai tipe kelompok, metode pembuatan keputusan yang terjadi dalam suatu kelompok dan kepemimpinan dalam kelompok merupakan materi pelajaran yang akan dibahas dalam kegiatan belajar 2 berikut ini. Dalam wujud nyata yang dapat dita temui sehari-hari, kita nengenal beberapa tipe dari kelompok seperti kelompok belajar, kelompok pemecahan masalah, serta kelompok sosial lainnya. Sementara dalam bahasan mengenai metode pengambilam keputusan dalam kelompok, kita akan mengenal sejumlah metode yang digunakan di mana masingmasing metode yang dipakai bergantung kepada beberapa faktor yang melingkupinya. Dan dalam bahasan mengenai kepemimpinan dalam kelompok, kita diajak untuk memikirkan gaya-gaya kepemimpinan yang terjadi dalam kelompok dan fungsi kepemimpinan dalam kelompok. Kita mencoba membahas ketiga subbahasan dalam kegiatan belajar 2 ini dengan lebih rinci dan mendalam. Tipe Kelompok Ronald B. Adler dan Goerge Rodman dalam bukunya Understanding Human Commu nication membagi kelompok dalam tiga tipe, yaitu kelompok belajar (learning group), kelompok pertumbuhan (growth group), dan kelompok pemecahan masalah (problem-solving group). Masing-masing tipe kelompok memiliki karakteristik dan tujuan yang berbeda. Kelompok Belajar (learning group) Ketika kita mendengar kata belajar atau learning, perhatian dan pikiran kita hampir selalu tertuju pada suatu lembaga pendidikan ataupun sekolah. Meskipun institusi pendidikan tersebut termasuk dalam klasifikasi learning

group, namun ia bukan satu-satunya. Kelompok yang memberi keterampilan berenang ataupun kelompok yang mengkhususkan kegiatannya pada peningkatan kemampuan dalam memberi pertolongan darurat misalnya, dapat digolongkan ke dalam kelompok belajar tersebut. Jadi, apa pun bentuknya, tujuan dari learning group ini adalah meningkatkan pengetahuan atau kemampuan para anggotanya. Satu ciri yang menonjol dari learning group ini adalah adanya pertukaran informasi dua arah, artinya setiap anggota dalam kelompok belajar adalah kontributor atau penyumbang dan penerima pengetahuan. Kelompok Petumbuhan (growth group) Jika learning group para anggotanya terlibat dalam persoalan-persoalan aksternal sebagaimana yang telah siuraikan di atas, maka kelompok pertumbuhan lebih memusatkan perhatiannya kepada permasalah pribadi yang dihadapi para anggotanya. Wujud nyata dari growth group ini adalah kelompok bimbingan perkawinan, kelompok bimbingan psikologi, kelompok terapi sebagaimana yang sudah diuraikan pada kegiatan belajar 1, sert kelompok yang a memusatkan aktivitasnya kepada penumbuhan keyakinan diri, yang biasa disebut dengan consciousnessraising group. Karekateristik yang terlihat dalam tipe kelompok ini adalah growth group tidak mempunyai tujuan kolektif yang nyata, dalam arti bahwa seluruh tujuan kelompok diarahkan kepada usaha untuk membentu para anggotanya mengidentifikasi dan mengarahkan mereka untuk peduli dengan persoalan pribadi yang mereka hadapi. Kelompok Pemecahan Masalah (problem-solving group) Orang -orang yang terlibat dalam kelompok pemecahan masalah, bekerja bersama-sama untuk mengatasi persoalan bersama yang mereka hadapi. Dalam sebuah keluarga misalnya, bagaimana seluruh anggota keluarga memecahkan persoalan tentang cara pembagian kerja yang memungkinkan mereka terlibat dalam pekerjaan rumah tangga, seperti tugas apa yang harus dilakukan seorang suami, apa yang menjadi tanggung jawab istri, dan pekerjaan pekerjaan apa yang dibebankan kepada anak -anaknya. Atau dalam contoh lain, bagaimana cara warga yang bergabung dalam satu rukun tetangga (RT) berusaha mengorganisasikan diri mereka sendiri guna mencegah tindakan pencurian melalui kegiatan sistem keamanan llingkungan atau lebih dikenal dengan siskamling. Problem solving gorup dalam opersionalsasinya, mlibatkan dua aktivitas penting. 1. Pengumpulan informasi (gathering information); bagaimana suatu kelompok sebelum membuat suatu keputusan, berusaha mengumpulkan informasi yang penting dan berguna untuk landasan pengambilan keputusan tersebut. 2. Pembuatan keputusan atau kebijakan itu sendiri yang berdasar pada hasil pengumpulan informasi. Referensi: 1. Sasa Djuarsa S., Teori Komunikasi, Universitas Terbuka, Jakarta. 2003 2. John Fiske, Introduction to Communication Studies, Sage Publications, 1996 3. Stephen W. Littlejohn, Theories of Human Communiation, Wadsworth Publication, New Jersey, 1996. 4. Drs. Ahmad Mulyana, M.Si

Sumber: http://apadefinisinya.blogspot.com Komunikasi Kelompok Kecil (Small Group Communication) A. Bentuk Komunikasi - Komunikasi Personal [Personal Communication] - Komunikasi intrapersonal [intrapersonal communication] - Komunikasi antarpersonal [interpersonal communication] - Komunikasi Kelompok [Group Communication] - Komunikasi kelompok kecil [small group communication] Ceramah [lecture], diskusi panel [panel discussion],

simposium [symposium], forum, seminar, curah saran [brain storming], komunikasi antara manager dengan sekelompok karyawan, - Komunikasi kelompok besar [large group communication] Public speaking, Rhetorika - Komunikasi Massa [Mass Communications] Z Pers cetak [koran, majalah, tabloid] Z Pers elektronik [radio, tv, film] Z Pers digital [internet : www.detik.com, www.koridor.com, www.berpolitik.com] - Komunikasi media [Medioa communication] Z Surat, telepon, e-mail, pamflet, poster, brosur, spanduk, dll. B. Sifat komunikasi - Tatap muka [face to face] - Bermedia [mediated] - Verbal [verbal] - Lisan [oral] - Tulisan/ cetak [written/ printed] - Nonverbal [non-verbal] - kial/ isyarat badaniah [gestural] - bergambar [pictorial] , facial expressions, spatial relationship Sementara itu, kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan yang relatif kecil yang masing -masing dihubungkan oleh beberapa tujuan yang sama dan mempunyai derajat organisasi tertentu di antara mereka. Karakteristik kelompok kecil adalah sebagai berikut : Pertama, kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan, jumahnya cukup kecil sehingga semua anggota bisa berkomunikasi dengan mudah sebagai pengirim maupun penerima. Yang penting untuk diingat adalah bahwa setiap anggota harus berfungsi sebagai sumber maupun penerima dengan relatif mudah. Kedua, para anggota kelompok harus dihubungkan satu sama lain dengan beberapa cara. Orang -orang di dalam gedung bioskop bukan merupakan kelompok, karena di antara mereka tidak ada hubun satu sama lain. gan Ketiga, di antara anggota kelompok harus ada beberapa tujuan yang sama. Hal ini tidak berarti bahwa semua anggota harus mempunyai tujuan yang persis sama untuk menjadi anggota kelompok. Keempat, para anggota kelompok harus dihubungk oleh beberapa aturan dan struktur yang terorganisasi. Pada an strukturnya ketat maka kelompok akan berfungsi menurut prosedur tertentu di mana setiap komentar harus mengikuti aturan yang tertulis. Seiring dengan perkembangan usia dan intelektual kita maka kehidupan sosial kita semakin kompleks, kita mulai masuk menjadi anggota kelompok sekunder; sekolah, lembaga keagamaan, tempat pekerjaan dan kelompok kelompok sekunder yang sesuai dengan minat dan keterikatan kita. Komunikasi kelompok digunakan untuk sali g n bertukar informasi, menambah pengetahuan, memperteguh atau mengubah sikap dan perilaku. Kelompok menjadi kerangka rujukan (frame of reference) kita dalam berkomunikasi. Agar dapat disebut kelompok ketika anggota-anggotanya memiliki kesadaran akan ikatan yang sama yang mempersatukan mereka. Jadi ada sense of belonging yang tidak dimiliki orang yang bukan anggota. Nasib anggota-anggota kelompok juga saling bergantung satu sama lain. Identifikasikan kelompok dimana sekarang anda menjadi anggotanya, dan an alisis bagaimana kelompok tersebut mempengaruhi perilaku komunikasi anda ). Bagaimana komunikasi dalam kelompok mempengaruhi cara pengambilan keputusan. Ada dua aliran besar didalam

melihat teori komunikasi kelompok (Liitlejohn, 1999:284-294): 1. The input process output model Input = sesuatu yang mempengaruhi kelompok Proses = sesuatu yang terjadi dalam kelompok Output = sesuatu yang dihasilkan kelompok 2. The structurational perspective Ada tiga teori komunikasi kelompok yang diperkenalkan dalam aliran input-process output model : a. A general organizing model Menekankan pada bagaimana kelompok memiliki energi yang digunakan untuk aktivitas pengambilan keputusan b. The functional tradition Menekankan pada kualitas komunikasi kelompok, membahas ke salahankesalahan yang dibuat oleh kelompok pada waktu pengambilan keputusan. c. The interactioanl tradition Menekankan pada aspek komunikasi yang terjadi di dalam kelompok. Bahwa output kelompok sangat ditentukan oleh interaksi yang terjadi di dalam kelompok. Kelompok kecil melaksanakan kegiatannya dengan berbagai format. Format yang paling populer adalah panel discussion, seminar, simposium, dan simposium-forum. Panel Discussion. Dalam format panel atau meja bundar, anggota kelompok mengatur diri mereka sendiri dalam pola melingkar atau semi-melingkar. ereka berbagi informasi atau memecahkan permasalahan tanpa pengaturan siapa dan kapan mereka berbicara. Anggota akan memberikan kontribusinya jika mereka sendiri merasakan merasakan layak itu.

Ceramah (lecture) Dalam seminar, anggota kelompok adalah para pakar dan berpartisipasi dalam format panel atau meja bundar. Perbedaannya adalah dalam seminar terdapat peserta yang anggotanya diminta untuk berkontribusi. Mereka ini bisa diminta untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan beberapa umpan balik. Modifikasi lain dari seminar adalah format seminar dua-panel, yang terdiri dari panel pakar dan panel awam. Panel awam mendiskusikan topik, tetapi jika mereka memerlukan informasi teknis, tambahan data, atau pengarahan, mereka akan meminta bantuan kepada anggota panel pakar untuk memberikan informasi yang diperlukan. Symposium Dalam simposium, setiap anggota menyajikan presentasi yang telah disiapkan, seperti halnya pidato di depan umum. Semua pembicara menilik dari aspek yang berbeda mengenai suatu topik. Dalam simposium, pemimpin atau moderator akan memperkenalkan para pembicara, mengatur alur dari satu pembicara ke pembicara lain, dan bisa juga menyampaikan ringkasannya secara berkala. Brain Storming. Simposium-forum terdiri dari dua bagian: simposium, dengan pembicara yang sudah disiapkan, dan forum, yang mempersilakan para hadirin untuk mengajukan pertanyaan dan dijawab oleh pembicara selain itu juga forum yang berbentuk curah pendapat, tukar pikiran. Pimpinan akan memperkenalkan para pembicara dan menjadi moderator dalam acara tanya jawab.

MODEL-MODEL KOMUNIKASI MASSA

Apa itu model? Model secara sederhana adalah gambaran yang dirancang untuk mewakili kenyataan. Model juga didefinisikan sebagai a reflica of the phenomena it attempts to explain (Runyon, 1977:57). Jadi model adalah tirun gejala yang akan diteliti; model juga menggamb arkan hubungan antar variabel atau sifat-sifat.

Dalam komunikasi massa, dikenal sebuah model komunikasi bernama Jarum Hipodermik. Sebenarnya ada beberapa model komunikasi massa lainnya seperti Model Uses and Gratifications, Model Agenda Setting, dan Model Difusi Informasi. Namun saat ini kita akan mempelajari dulu tentang model jarum hipodermik.

Model ini muncul setelah perang dunia pertama. Model ini berasumsi, bahwa komponen komponen komunikasi (komunikator, pesan, media) amat perkasa (kuat) dalam m empengaruhi komunikan. Disebut model jarum hipodermik karena dalam model komunikasi massa ini dikesankan seakan-akan komunikasi disuntikkan langsung ke dalam jiwa komunikan. Model jarum hipodermik juga sering disebut bullet theory, hal ini karena komun ikan dianggap sebagai penerima pesan-pesan pasif.

Model Jarum Hipodermik

Model jarum hipodermik merupakan model komunikasi massa yang bersifat linier dan satu arah. Bila kita menggunakan komunikator yang tepat, pesan yang baik atau media yang benar, komunikan dapat diarahkan sekehendak hati kita.

Variabel Komunikator
y

Kredibilitas Kredibilitas terdiri dari 2 unsur yakni: keahlian dan kejujuran. Keahlian diukur dari sejauh mana komunikan menganggap komunikator dalat memberikan jabaran yang benar. Sedangkan kejujuran diartikan sejauhmana komunikan menganggap komunikator tidak memihak dalam penyampaian pesannya.

y y

Daya Tarik, diukur dengan kesamaan, familiaritas dan kesukaan. Kekuasaan, dioperasionalisasikan dengan tanggapan komunikan tentang kemampuan komunikator untuk menghukum atau memberi ganjaran.

Variabel Pesan

Struktur, ditunjukkan dengan pola penyimpulan (tersurat atau tersurat), pola urutan argumentasi (mana yang lebih dulu, argumentasi yang disenangi atau yang tidak disenangi), pola objektivitas (satu sisi atau dua sisi). Gaya, menunjukkan variasi linguistik dalam peny ampaian pesan (perulangan, mudah dimengerti, perbendahaaran kata). Appeals, mengacu pada motif-motif psikologis yang dikandung pesan (rasional -emosional, fear appeals, reward appeals).

Variabel Media Ditunjukkan dengan penggunaan media massa (elektronik/cetak/online) atau saluran interpersonal (ceramah, diskusi, dll).

Variabel Antara Variabel Antara ditunjukkan dengan perhatian dan penerimaan serta penerimaan oleh komunikan. Perhatian diukur sejauhmana komunikan menyadari adanya pesan; Pengertian diukur dengan sejauh mana komunikan memahami pesan; Penerimaan dibatasi pada sejauh mana komunikan menyetujui gagasan yang dikemukakan.

Variabel Efek
y

y y

Kognitif: Setelah mendapatkan pesan dari komunikator, komunikan akan mengalami perubahan pendapat, penambahan pengetahuan, perubahan kepercayaan. Afektif: Komunikan akan mengalami perubahan sikap, perasaan, dan kesukaan. Behavioral: Komunikan akan mengalami perubahan prilaku atau kecenderungan prilaku.

Contoh-contoh kasus pada Model Komunikasi Massa Jarum Hipodermik

1. Kampanye Calon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Televisi 2. Iklan Televisi tentang Produk Wanita 3. Iklan Layanan Masyarakat