Anda di halaman 1dari 23

NURSING MOUTH CARIES (NMC)

1. Definisi Nursing Mouth Caries (NMC) Nursing mouth caries (NMC) pertama kali diamati pada awal tahun 1862. NMC dikenal juga dengan nama Nursing Caries, Bottle Mouth Caries, Nursing Bottle Caries, dan Babby Bottle Tooth Decay. NMC merupakan suatu penyakit yang timbul karena kebiasaan pemberian air susu yang tidak tepat baik air susu ibu (ASI) ataupun susu botol, kebiasaan menggunakan botol yang berisi cairan manis seperti susu dan jus buah pada saat tidur atau sepanjang hari dan saat tidur siang dan malam hari akan menyebabkan kerusakan yang sangat cepat pada gigi sulung. NMC adalah suatu bentuk karies rampan yang agresif yang biasnya dihubungkan dengan pemberian susu yang tidak tepat bukan hanya melalui botol yang mengandung cairan manis tetapi juga melalui pemberian air susu ibu (ASI) dalam jangka waktu yang lama. Istilah NMC sering dipakai untuk menunjukkan kerusakan karies yang sangat luas pada bayi dan anak-anak. Kondisi ini dikenal sebagai karies gigi sulung yang umum terjadi setelah beberapa bulan erupsi yang mengenai gigi anterior rahang atas dan molar sulung rahang atas dan rahang bawah serta gigi kaninus rahang bawah, namun jarang mengenai gigi insisif rahang bawah karena posisinya yang terlindung oleh lidah. NMC umumnya terjadi pada anak usia 0-3 tahun. Teori terdahulu menyatakan bahwa faktor penyebab terjadinya karies ini adalah kebiasaan minum susu atau cairan manis lainnya dari botol, oleh karena itu karies ini sering dikenal juga dengan Nursing Bottle Caries. Saat ini, selain faktor tersebut diyakini pemberian air susu ibu (ASI) yang tidak benar pun dapat menyebabkan terjadinya NMC. Bayi yang dibiarkan tertidur sambil menyusu pada ibunya sepanjang malam mempunyai risiko yang tinggi untuk terkena NMC, bahkan NMC detemukan pada bayi yang mendapat ASI secara eksklusif tanpa pernah diberi susu melalui botol. Selain karena minum susu melalui botol, karies yang mengenai gigi sulung anterior beberapa bulan setelah erupsi dan cepat menyebar pada gigi sulung lain

ini biasanya disebabkan karena perpindahan Streptococcus mutans dari ibu ke bayinya. Kerusakan ini juga bersumber dari pemberian susu botol menjelang tidur yang dipengaruhi oleh Streptococcus mutans. NMC dapat dicegah dengan mulai menghatikan kebiasaan minum botol atau air susu ibu (ASI) sampai anak tertidur. Selain itu, cara memelihara kesehatan gigi dan mulut anak sejak dini seperti cara pemberian susu, frekuensi, dan waktu menyikat gigi yang benarakan mengurangi risiko terjadinya NMC. 2. Etiologi dan Patogenesis Nursing Mouth Caries Pemberian susu melalui botol bukan satu-satunya faktor penyebab NMC dan kemungkinan juga pemberian susu malalui botol dan ASI berkepanjangan hany6a faktor predisposisi saja. Menurut Schurss sebab-sebab karies ini antara lain : 1) Minum susu botol dalam jangka watu yang lama (sampai umur lebih dari satu tahun). 2) Minum susu atau cairan manis lainnya melalu botol pada waktu menjalang tidur dan setiap waktu anak menginginkannya. 3) Minum ASI dalam waktu lama dan selama tertidur selama tertidur puting ibu masih didalam mulut anak. Ketika bayi aktif menyusu ia akan menempatkan puting susu pada batas antara palatum keras dan palatum lunak dengan lidah memenuhi rongga mulut, dan tanpa disadari walaupun air susu telah ditelan namun masih terdapat air susu yang tersisa dalam jumlah sedikit. Jika ibu ikut tidur dan bayi tidak melepaskan puting susu dari mulutnya maka sisa susu akan menggenang dalam mulut bayi dan berkontak dengan permukaan palatal dari gigi insisif atas, air susu menggenangi permukaan oklusal dan lingual gigi posterior. Terjadinya penumpukan air susu di leher gigi anterior akan menyebabkan fermantasi laktosa serta gula yang terdapat pada susu tersebut, sehingga mempercepat proses terjadinya karies. Bakteri yang terdapat di dalam rongga mulut akan mengubah gula menjadi asam, asam inilah yang akan mengahancurakan email dan dentin. Lesi ini berjalan simetris dari rahnag atas dan rahang bawah baik bagian kiri maupun bagian kanan. Ketika tidur terjadi

penurunan jumlah produksi saliva sehingga efek pembersihan pada rongga mulut deri susu yang masih tersisa menjadi lambat. Oleh karena itu, apabila aliran saliva berkurang atau hilang maka karies mungkin tidak akan terkendali. 2.1 Nursing Mouth Caries Akibat Susu Botol (Pengganti Air Susu Ibu) Terdapat bermacam-macam istilah untuk makanan pengganti ASI (PASI), misalnya susu formula, formula bayi, susu buatan, susu bayi, makanan bayi, atau makanan buatan untuk bayi. Bahan pokok PASI lazimnya susu sapi, tapi untuk keperluan tertentu dipakai kacang kedelai. Namun untuk pemberiannya terhadap bayi, komposisi nutriennya harus dimodifikasi sesuai untuk kebutuhan bayi. ASI merupakan makanan yang ideal untuk bayi, maka susunan dan kandungan nutrien pada PASI biasanya mengacu pada komposisi ASI. Susu formula biasanya diberi tambahan sukrosa. Sukrosa, glukosa, dan fruktosa merupakan pemanis utama yang sering digunakan dalam industri. Perlu diperhatikan dalam susu formula tidak mengandung sukrosa tinggi karena berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa sukrosa sangat kariogenik. Banyak bayi yang baru lahir diberi makanan dari botol menggunakan dot. Bila kebiasaan tersebut berlanjut, baahkan setelah 20 bulan atau lebih. Sebagai akibatnya tidak saja menyebabkan kecanduan anak untuk menggunakan botol tetapi merupakan risiko potensial pada kebiasaan buruk dan karies. Susu tanpa gula bila berkontak lama dengan gigi menyebabkan karies, dengan ditambahkan gula walaupun berkontak dengan singkat kariogenitasnya meningkat, terutama bila pemberiannya menjelang tidur sehingga dalam keadaan tidur gula dalam makanan tersebut tersimpan lama di dalam mulut. Kemungkinan lain yang dapat terjadi adalah cairan dari botol akan mengalir terlalu cepat, sehingga anak akan mendorong lidahnya ke depan untuk menutup aliran susu sementara menelan untuk mencegah agar tidak tersedak. Keadaan ini jika berlanjut akan menjdai kebuiasaan buruk anak yang selanjutnya mengganggu pertumbuhan dan perkembangan dentofasial seperti mulut yang berkembang atau gigi yang tampak jarang.

2.2 Nursing Mouth Caries Akibat Air Susu Ibu (ASI) Air Susu Ibu (ASI) adalah minuman alamiah untuk semua bayi cukup bulan selama usia bulan-bulan pertama, dan yang paling cocok dari semua susu yang tersedia untuk bayi karena secara unik disesuaikan untuk kebutuhan bayi. Pada bayi sampai umur 6 bulan yang mendapat ASI dari ibu yang sehat tidak terdapat gejala defisiensi elemen lain sehingga dapat dikatakan bahwa di dalam ASI terdapat cukup elemen-elemen untuk tumbuh. Hubungan ASI sebagai faktor penyebab terjadinya NMC masih dipertanyakan. Beberapa ahli menyatakan bahwa ASI tidak dapat dikatakan sebagai salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya karies. Namun kenyataannya, baik ASI maupun susu sapi bersifa kariogenik bila susu dibiarkan menggenang pada gigi. Bahkan NMC ditemukan pada bayi yang mendapat ASI ekslusif tanpa pernah diberi susu melalui botol. Bayi yang tertdur sambil menyusu pada ibunya sepanjang malam diyakini mempunyai risiko yang tinggi untuk terkena NMC. 3. Gambaran Klinis Nursing Mouth Caries Gambaran klinis dari NMC mempunyai pola dan tipe yang khusus. Gambaran pola kariesnya terlihat jelas, dengan lesi terutama pda bagian labial dan insisif atas, dan atau pada palatal molar atas. Tipe kariesnya sejalan dengan lengkung gigi insisif rahang atas. Proses kariesnya cenderung aktif, gigi lainnya akan terpengaruh sejalan dengan erupsinya yaitu akan mengenai molar kesatu rahang atas, kaninus rahang bawah, dan molar kedua namun jarang mengenai insisif rahang bawah, hal ini mungkin terjadi karena posisinya yang terlindung oleh lidah. Proses terjadinya karies pada maksila dan mandibula tergantung dari tiga faktor utama yaitu urutan erupsi, lamanya melakukan kebiasaan, dan pola otot saat bayi menghisap.

Gambar 1. Karies yang terjadi pada molar kesatu rahang atas, kaninus rahang bawah, dan molar kedua namun jarang mengenai insisif rahang bawah Karies ini memiliki manifestasi klinis yang khusus, berdasarkan tahap-tahap yang dapat diprediksi sesuai sengan pla erupsi gigi. Tahap perkembangan karies ini dibagi menjadi empat tahap, yaitu : 1. Tahap awal (initial, reversibel) Pada tahap ini terlihat warna opak, putih seperti susu yang merupakan proses demineralisasi gigi di daerah servikal, kadang-kadang juga terlihat di daerah proksimal gigi anterior atas. 2. Tahap karies (tahap kerusakan gigi) Lesi pada gigi anterior atas meluas ke dentin dan sudah menunjukkan adanya perubahan warna gigi. Gigi yang terkena biasanya anterior atas pada permukaan labial, lingual, dan kadang-kadang di proksimal. Anak mulai mengeluh adanya rasa sakit apabila makan makanan yang sangat dingin seperti es krim. Gigi molar kesatu sudah mulai terkena karies awal. 3. Tahap lesi dalam Pada tahap ini karies pada gigi anterior atas sudah lebih luas dan dalam, tergantung pada waktu kapan erupsi giginya, kariogenitas makanan atau minuman dalam botol, dan frekuensi minum dalam botol, tahap ini tercapai dalam waktu 10 sampai 14 bulan. Pada saai ini gigi molar kesatu atas udah sampai tahap karies sedangkan gigi molar kesatu rahang bawah mula-mula masih tahap karies awal. Biasanya sudah ada keluhan sakit spontan pada gigi insifus rahng atas waktu malam. Seringkali gigi menjadi sedemikian rapuh sehingga gigi insisif mudah patah. Tahap ini merupakan tahap perkembangan karies botol yang sudah lanjut. Kemudian gigi mulai menunjukkan gejala pulpitis, sedangkan gigi insisif atas

mungkin sudah non vital. Gigi molar kesatu bawah mencapai tahap karies botol yang kedua, dan gigi kaninus atas dan bawah serat gigi molar kedua atas dan bawah juga mungkin masuk pada tahap kedua. 4. Tahap karies terhenti Semua tahap akan terhenti apabila penyebab karies telah dihilangkan. Selama masa remineralisasi sebagian atau seluruh lesi karies terlihat berwarna cokelat tua kehitam-hitaman. 4. Pencegahan Nursing Mouth Caries Cara mencegah tejadinya NMC tidak berbeda dengan pencegahan terhadap karies pada umumnya. Tindakan pencegahan yang dilakukan dokter gigi adalah melalui diagnosa dini dan perawatan yang tepat. 4.1 Melakukan Kunjungan ke Dokter Gigi NMC dapat dicegah dengan penyuluhan yang diberikan terhadap orang tua mengenai alasan pentingnya anak memperoleh pemeriksaan gigi oleh dokter gigi untuk pertama kalinya pada usia 6 sampai dengan 12 bulan. Orang tua akan mendapat tuntunan bagaimana cara membersihkan gigi anak dan pola makan yang baik untuk anak agar gigi tidak berlubang. Gigi anak sangat rentan terhadap karies karenanya orang tua harus sangat memperhatikan setiap makanan yag diberikan kepada ana. Pencegahan karies yang dapat dilakukan pertama kali pada anak adalah membersihkan giginya sejak erupsi pertama. Agar terhindar dari NMC maka setelah anak selesai menyusu bersihkanlah gigi anak dan gusinya dengan menggunakan kapas atau kain lap yang bersih untuk menghilangkan sisa-sisa susu yang masih melekat pada gigi. Peran orang tua sangat penting dalam menjaga kesehatan gigi anaknya, terutama dalam memotivasi anaknya untuk menggosok gigi secara teratur. Menggosok gigi dua kali sehari setelah sarapan dan sebelum tidur dengan menggunakan sikat gigi dengan kepala sikat yang kecil dan pegangan yang besar serta dengan pasta gigi dengan kadar flour yang rendah.

4.2 Imunisasi Banyak penyait infeksi didalam tubuh yang bisa dicegah melalui imunisasi. Demikian juga dengan karies gigi, kemungkinan dapat dicegah dengan imunisasi karena salah satu faktor yang terlibatadalah bakteri kariogenik yaitu Streptococcus mutans serotipe c sehingga dapat dikatakan bahwa karies gigi merupakan penyakit infeksi. Secara imunologis, imunisasi bertujuan untuk merangsang pembentukan antibodi di dalam tubuh dengan antigen. Antibodi yang berperan dalam melindungi gigi adalah imunoglobulin A sekretori (IgAs) yang terdapat dalam saliva. Oleh karena itu, antibodi yang harus ditingkatkan produksinya adalah IgAs saliva yang mempunyai efek protektif terhadap antigen penyebab karies. 4.3 Menghentikan Kebiasaaan Kebiasaan minum susu melalui botol yang terlalu lama akan mempengaruhi kebersihan mulut anak. Hindari menggunakan botol pada saat tidur, baik siang maupun malam hari. Ketika anak menyusu sebaiknya botol dipegang oleh orang tua. Jangan biarkan botol dipegang oleh anak karena hal ini akan menyebabkan kesulitan untuk disapih. Hentikan juga pemberian air susu ibu yang terlalu lama pada malam hari, jangan biarkan anak menyusu sepanjang malam dan segera lepaskan bayi dari puting susu ibu ketika selesai menyusu. Hindari penggunaan botol setelah anak mencapai usia 1 tahun, sebaiknya anak segera diberi minum melalui gelas. Kebanyakan anak sudah bisa memegang dan belajar untuk minum melalui gelas pada usia tersebut. 4.4 Kontrol Diet Hubungan antara diet dan karies telah ditegaskan dalam beberapa penelitian. Makanan mengandung karbohidrat yang dapat difermentasikan akan meningkatkan risiko terjadinya karies, bakteri plak akan mengubahnya menjadi asam. Semua karbohidrat dapat diubah menjadi asam, hal ini menunjukkan bahwa hampir semua produk makanan terutama makanan manis akan meningkatkan

risiko terjadinya karies. Oleh karena itu, dokter gigi harus dapat memberi penyuluhan mengenai konsumsi makanan yang mengandung produk kariogenik. 4.5 Pemberian Flour Flour sangat efektif untuk mencegah terjadinya karies karena mempunyai manfaat utama yaitu untuk meningkatkan proses remineralisasi pada email dan menurunkan produksi asam pada plak. Flour diberikan secara sistemik, topikal, ataupun keduanya akan memberi kekuatan pada gigi dari kemungkinan terjadinya karies. Tujuan ini dapat dicapai tergantung pada usia saat mendapat perawatan, konsentrasi, frekuensi pemberian flour, dan alat bantu yang digunakan saat dilakukannya perawatan. Tabel 1. Pemberian Flour Sistemik Air minum Tablet garam Susu Tablet flour Tetes flour Topikal Pasta gigi Obat kumur Varnis Gel Tablet hisap Permen karet 4.6 Pit dan Fissure Sealant Pit dan fissure sealant digunakan dengan pemikiran bahwa selama orifis dan fissure yang dalam tetap tertutup, proses karies tidak akan terjadi. Pemakaian sealant adalah salah satu cara untuk mencegah terjadinya hal ini dan telah dianjurkan untuk permukaan olkusal gigi anak-anak dan remaja. Pit dan fissure sealant adalah perawatan preventif yang ideal untuk gigi molar tetap kesatu dan kedua. Diberikan pada gigi molar tetap pertama diantara usia 6 sampai dengan 8 tahun sedangkan untuk molar tetap kedua diantara usia 11 sampai dengan 12 tahun. Dapat juga diindikasikan untuk molar sulung pada anak yang berisiko tinggi terkena karies. Fissure sealant harus selalu dilakukan sebagai bagian perawatan prevebtif yang menyeluruh, yang meliputi penyuluhan diet, instruksi kebersihan mulut dan pemberian flour.

5. Perawatan Nursing Mouth Caries Banyaknya macam karies yang mengenai gigi maka perawatan yang dibutuhkan berbeda-beda untuk tiap jenis karies, bergantung pada letak karies dan peradangan pulpanya. Agar anak dapat terbebas dari rasa sakit yang disebabkan oleh karies, maka perlu dipilih bahan dan teknik perawatan secara tepat perlu
dipertimbangkan sejak awal.

Sebelum dilakukan perawatan gigi sulung perlu diketahui keadaan kerusakan gigi akibat karies tersebut. Proses karies gigi sulung , akibat kerusakannya, dan penyebarannya dapat diketahui karena memberikan tanda-tanda atau karakteristikkarakteristik tertentu. Pada gigi dengan karies yang telah mengenai saluran akar hendaknya dilakukan perawatan endodontik terlebih dahulu sebelum dilakukan penambalan, sedangkan pada gigi dengan karies yang belum mengenai pulpa dapat langsung dilakukan penambalan.

5.1 Perawatan Endodontik Perawatan endodontik adalah pembuangan seluruh jaringan pulpa yang terinfeksi kemudian mengisinya kembali dengan bahan yang dapat diresorpsi secara fisiologis. Perawatan endodontik pada gigi sulung adalah teknik perawatan gigi pada pulpa yang telah terbuka oleh karies, kecelakaan pada waktu preparasi kavitas, trauma, atau fraktur gigi. Prinsip utama perawatan endodontik adalah mencegah penyebaran karies gigi yang lebih luas dan merestorasi gigi yang telah rusak sehingga dapat berfungsi dengan normal. Perawatan endodontik diharapkan dapat mempertahankan gigi sulung pada lengkung rahang dalam keadaan tidak patologis, sehingga tetap berfungsi dengan baik sampai digantikan oleh gigi tetapnya. Tujuan dasar dari perawatan endodontik pada anak mirip dengan pasien dewasa, yaitu untuk meringankan rasa sakit dan mengontrol sepsis dari pulpa dan jaringan periapikal sekitarnya serta mengembalikan keadaan gigi yang sakit agar dapat diterima secara biologis oleh jaringan sekitarnya. Ini berarti bahwa tidak

terdapat lagi simtom, dapat berfungsi dengan baik dan tidak ada tanda-tanda patologis yang lain. Faktor pertimbangan khusus diperlukan pada saat memutuskan rencana perawatan yang sesuai untuk gigi geligi sulung yaitu untuk mempertahankan panjang lengkung rahang.

5.1.1 Pulp Capping Pulp capping didefinisikan sebagai aplikasi dari salah satu atau beberapa lapis bahan pelindung di atas pulpa vital yang terbuka. Bahan yang biasa digunakan untuk pulp capping ini adalah kalsium hidroksida karena dapat merangsang pembentukan dentin sekunder secara efektif dibandingkan bahan lain. Tujuan pulp capping adalah untuk menghilangkan iritasi ke jaringan pulpa dan melindungi pulpa sehingga jaringan pulpa dapat memperhatikan vitalitasnya. Teknik pulp capping ini ada dua cara yaitu indirect pupl capping dan direct pulp capping. Indirect Pulp Capping Istilah ini digunakan untuk menunjukan penempatan bahan adhesif di atas sisa dentin karies. Tekniknya meliputi pembuangan semua jaringan karies dari tepi kavitas dengan bor bundar kecepatan rendah. Lalu lakukan ekskavasi sampai dasar pulpa, hilangkan dentin lunak sebanyak mungkin tanpa membuka kamar pulpa. Basis pelindung pulpa yang biasa dipakai yaitu zinc okside eugenol atau dapat juga dipakai kalsium hidroksida yang diletakan di dasar kavitas. Apabila pulpa tidak lagi mendapat iritasi dari lesi karies diharapkan jaringan pulpa akan bereaksi secara fisiologis terhadap lapisan pelindung dengan membentuk dentin sekunder. Agar perawatan iniberhasil jaringan pulpa harus vital dan bebas dari inflamasi. Biasanya atap kamar pulpa akan terbuka saat dilakukan ekskavasi. Apabila hal ini terjadi maka tindakan selanjutnya adalah dilakukan direct pulp capping atau tindakan yang lebih radikal lagi yaitu amputasi pulpa (pulpotomi).

Direct Pulp Capping Direct Pulp Capping menunjukkan bahwa bahan diaplikasikan langsung ke jaringan pulpa. Daerah yang terbuka tidak boleh terkontaminasi oleh saliva, kalsium hidroksida dapat ditempatkan di dekat pulpa dan selapis semen zinc okside eugenol dapat diletakkan di atas seluruh lantai pulpa dan biarkan mengeras untuk menghindari tekanan pada daerah perforasi bila gigi di restorasi. Pulpa diharapkan tetap bebas dari gejala patologis dan akan lebih baik jika membentuk dentin sekunder. Agar perawatan ini berhasil maka pulpa di sekitar daerah terbuka tersebut harus vital dan dapat terjadi proses perbaikan. Langkah-langkah Pulp Capping : 1. Siapkan peralatan dan bahan. Gunakan kapas, bor, dan peralatan lain yang steril. 2. Isolasi gigi. Selain menggunakan rubber dam, isolasi gigi juga dapat menggunakan kapas dan saliva ejector, jaga posisinya selama perawatan. 3. Preparasi kavitas. Tembus permukaan oklusal pada tempat karies sampai kedalaman 1,5 mm (yaitu kira-kira 0,5 mm ke dalam dentin. Pertahankan bor pada kedalaman kavitas dan dengan hentakan intermitten gerakan bor melalui fisur pada permukaan oklusal. 4. Ekskavasi karies yang dalam Dengan perlahan-lahan buang karies dengan ekskavator, mula-mula dengan menghilangkan karies tepi kemudian berlanjut ke arah pulpa. Jika pulpa vital dan bagian yang terbuka tidak lebih besar diameternya dari ujung jarum maka dapat dilakukan pulp capping. 5. Berikan kalsium hidroksida. Keringkan kavitas dengan cotton pellet lalu tutup bagian kavitas yang dalam termasuk pulpa yang terbuka dengan pasta kalsium hidroksida.

5.1.2 Pulpotomi Pulpotomi adalah pembuangan pulpa vital dari kamar pulpa kemudian diikuti oleh penempatan obat di atas orifis yang akan menstimulasikan perbaikan atau memumifikasikan sisa jaringan pulpa vital di akar gigi. Pulpotomi disebut juga pengangkatan jaringan pulpa. Biasanya jaringan di pulpa di bagian koronal yang cedera atau mengalami infeksi dibuang untuk memepertahankan vitalitas jaringan pulpa dalam saluran akar. Pulpotomi dapat dipilih sebagai perawatan pada kasus yang melibatkan kerusakan pulpa yang cukup serius namun belum saatnya gigi tersebut untuk dicabut, pulpotomi juga berguna untuk mempertahankan gigi tanpa menimbulkan simtom-simtom khususnya pada anak-anak. Saat ini para dokter gigi banyak menggunakan formokresol untuk perawatan pulpotomi. Formokresol merupakan salah satu obat pilihan dalam perawatan pulpa gigi sulung dengan karies atau trauma. Beberapa tahun ini penggunaan formokresol sebagai pengganti kalsium hidroksida untuk perawatan pulpotomi pada gigi sulung semakin meningkat. Bahan aktif dari formokresol yaitu 19% formaldehid, 35% trikresol ditambah 15% gliserin dan air. Trikresol merupakan bahan aktif yang kuat dengan waktu kerja pendek dan sebagai bahan antiseptik untuk membunuh mikroorganisme pada pulpa gigi yang mengalami infeksi atau inflamasi sedangkan formaldehid berpotensi untuk memfiksasi jaringan Beberapa studi telah dilakukan untuk membandingkan formokresol dengan kalsium hidroksida dan hasilnya memperlihatkan bahwa perawatan pulpotomi dengan formokresol pada gigi sulung menunjukkan tingkat keberhasilan yang lebih baik daripada penggunaan kalsium hidroksida. Formokresol tidak membentuk jembatan dentin tetapi akan membentuk suatu zona fiksasi dengan kedalaman yang bervariasi yang berkontak dengan jaringan vital. Keuntungan formokresol pada perawatan pulpa gigi sulung yang terkena karies yaitu formokresol akan merembes melalui pulpa dan bergabung dengan protein seluler untuk menguatkan jaringan.

Perawatan pulpotomi formokresol hanya dianjurkan untuk gigi sulung saja, diindikasikan untuk gigi sulung yang pulpanya masih vital, gigi sulung yang pulpanya terbuka karena karies atau trauma pada waktu prosedur perawatan.

Pulpotomi Vital Langkah-langkah perawatan pulpotomi vital formokresol satu kali kunjungan untuk gigi sulung : 1) Siapkan instrumen dan bahan. Pemberian anestesi lokal untuk mengurangi rasa sakit saat perawatan 2) Isolasi gigi. Pasang rubber dam, jika rubber dam tidak bisa digunakan isolasi dengan kapas dan saliva ejector dan jaga keberadaannya selama perawatan. 3) Preparasi kavitas. Perluas bagian oklusal dari kavitas sepanjang seluruh permukaan oklusal untuk memberikan jalan masuk yang mudah ke kamar pulpa. 4) Ekskavasi karies yang dalam. 5) Buang atap pulpa. Dengan menggunakan bor fisur steril dengan handpiece berkecepatan rendah. Masukkan ke dalam bagian yang terbuka dan gerakan ke mesial dan distal seperlunya untuk membuang atap kamar pulpa. 6) Buang pulpa bagian korona. Hilangkan pulpa bagian korona dengan ekskavator besar atau dengan bor bundar kecepatan rendah. 7) Cuci dan keringkan kamar pulpa. Semprot kamar pulpa dengan air atau saline steril, syringe disposible dan jarum steril. Penyemprotan akan mencuci debris dan sisa-sisa pulpa dari kamar pulpa. Keringkan dan kontrol perdarahan dengan kapas steril. 8) Aplikasikan formokresol. Celupkan kapas kecil dalam larutan formokresol, buang kelebihannya dengan menyerapkan pada kapas dan tempatkan dalam kamar pulpa, menutupi pulpa bagian akar selama 4 sampai dengan 5 menit. 9) Berikan bahan antiseptik. Siapkan pasta antiseptik dengan mencampur eugenol dan formokresol dalam bagian yang sama dengan zinc oxide. Keluarkan kapas

yang mengandung formokresol dan berikan pasta secukupnya untuk menutupi pulpa di bagian akar. Serap pasta dengan kapas basah secara perlahan dalam tempatnya. Dressing antiseptik digunakan bila ada sisa-sisa infeksi. 10) Restorasi gigi. Tempatkan semen dasar yang cepat mengeras sebelum

menambal dengan amalgam atau penuhi dengan semen sebelum preparasi gigi untuk mahkota stainless steel. Pulpotomi Non Vital Prinsip dasar perawatan endodontik gigi sulung dengan pulpa non vital adalah untuk mencegah sepsis dengan cara membuang jaringan pulpa non vital, menghilangkan proses infeksi dari pulpa dan jaringan periapikal, memfiksasi bakteri yang tersisa di saluran akar. Perawatan endodontik untuk gigi sulung dengan pulpa non vital yaitu perawatan pulpotomi mortal (pulpotomi devital) . Pulpotomi mortal adalah teknik perawatan endodontik dengan cara mengamputasi pulpa nekrotik di kamar pulpa kemudian dilakukan sterilisasi dan penutupan saluran akar. Langkah-langkah perawatan pulpotomi devital : Kunjungan pertama: 1) Siapkan instrumen dan bahan. 2) Isolasi gigi dengan rubber dam. 3) Preparasi kavitas. 4) Ekskavasi karies yang dalam. 5) Buang atap kamar pulpa dengan bor fisur steril dengan handpiece kecepatan rendah. 6) Buang pulpa di bagian korona dengan ekskavator besar atau dengan bor bundar. 7) Cuci dan keringkan pulpa dengan air atau saline steril, syringe disposible dan jarum steril. 8) Letakkan arsen atau euparal pada bagian terdalam dari kavitas.

9) Tutup kavitas dengan tambalan sementara. Bila memakai arsen instruksikan pasien untuk kembali 1 sampai dengan 3 hari, sedangkan jika memakai euparal instruksikan pasien untuk kembali setelah 1 minggu. Kunjungan kedua : 1) Isolasi gigi dengan rubber dam. 2) Buang tambalan sementara. Lihat apakah pulpa masih vital atau sudah non vital. Bila masih vital lakukan lagi perawatan seperti pada kunjungan pertama, bila pulpa sudah non vital lakukan perawatan selanjutnya. 3) Berikan bahan antiseptik. Tekan pasta antiseptik dengan kuat ke dalam saluran akar dengan cotton pellet. 4) Aplikasi semen zinc oxide eugenol. 5) Restorasi gigi dengan tambalan permanen.

5.1.3 Pulpektomi Pulpektomi adalah pengangkatan seluruh jaringan pulpa. Pulpektomi merupakan perawatan untuk jaringan pulpa yang telah mengalami kerusakan yang bersifat irreversibel atau untuk gigi dengan kerusakan jaringan keras yang luas. Meskipun perawatan ini memakan waktu yang lama dan lebih sukar daripada pulp capping atau pulpotomi namun lebih disukai karena hasil perawatannya dapat diprediksi dengan baik. Jika seluruh jaringan pulpa dan kotoran diangkat serta saluran akar diisi dengan baik akan diperoleh hasil. Indikasi perawatan pulpektomi pada anak adalah gigi yang dapat direstorasi, anak dengan keadaan trauma pada gigi insisif sulung dengan kondisi patologis pada anak usia 4-4,5 tahun, tidak ada gambaran patologis dengan resorpsi akar tidak lebih dari dua pertiga atau tiga perempat. Pulpektomi Vital Langkah-langkah perawatan pulpektomi vital satu kali kunjungan :

1) Pembuatan foto Rontgen. Untuk mengetahui panjang dan jumlah saluran akar serta keadaan jaringan sekitar gigi yang akan dirawat. 2) Pemberian anestesi lokal untuk menghilangkan rasa sakit pada saat perawatan. 3) Daerah operasi diisolasi dengan rubber dam untuk menghindari kontaminasi bakteri dan saliva. 4) Jaringan karies dibuang dengan bor fisur steril. Atap kamar pulpa dibuang dengan menggunakan bor bundar steril kemudian diperluas dengan bor fisur steril. 5) Jaringan pulpa di kamar pulpa dibuang dengan menggunakan ekskavatar atau bor bundar kecepatan rendah. 6) Perdarahan yang terjadi setelah pembuangan jaringan pulpa dikendalikan dengan menekankan cotton pellet steril yang telah dibasahi larutan saline atau akuades selama 3 sampai dengan 5 menit. 7) Kamar pulpa dibersihkan dari sisa-sisa jaringan pulpa yang telah terlepas kemudian diirigasi dan dikeringkan dengan cotton pellet steril. Jaringan pulpa di saluran akar dikeluarkan dengan menggunakan jarum ekstirpasi dan headstrom file. 8) Saluran akar diirigasi dengan akuades steril untuk menghilangkan kotoran dan darah kemudian dikeringkan dengan menggunakan paper point steril yang telah dibasahi dengan formokresol kemudian diaplikasikan ke dalam saluran akar selama 5 menit. 9) Saluran akar diisi dengan pasta mulai dari apeks hingga batas koronal dengan menggunakan jarum lentulo. 10) 11) Lakukan lagi foto rontgen untuk melihat ketepatan pengisian . Kamar pulpa ditutup dengan semen, misalnya dengan semen seng oksida

eugenol atau seng fosfat. 12) Selanjutnya gigi di restorasi dengan restorasi permanen.

Pulpektomi Non Vital

Perawatan endodontik untuk gigi sulung dengan pulpa non vital adalah pulpektomi mortal (pulpektomi devital). Pulpektomi mortal adalah pengambilan semua jaringan pulpanekrotik dari kamar pulpa dan saluran akar gigi yang non vital, kemudian mengisinya dengan bahan pengisi. Walaupun anatomi akar gigi sulung pada beberapa kasus menyulitkan untuk dilakukan prosedur pulpektomi, namun perawatan ini merupakan salah satu cara yang baik untuk mempertahankan gigi sulung dalam lengkung rahang. Langkah-langkah perawatan pulpektomi non vital : Kunjungan pertama : 1) Lakukan foto rontgen. 2) Isolasi gigi dengan rubber dam. 3) Buang semua jaringan karies dengan ekskavator, selesaikan preparasi dan desinfeksi kavitas. 4) Buka atap kamar pulpa selebar mungkin. 5) Jaringan pulpa dibuang dengan ekskavator sampai muara saluran akar terlihat. 6) Irigasi kamar pulpa dengan air hangat untuk melarutkan dan membersihkan debris. 7) Letakkan cotton pellet yang dibasahi trikresol formalin pada kamar pulpa. 8) Tutup kavitas dengan tambalan sementara. 9) Instruksikan pasien untuk kembali 2 hari kemudian. Kunjungan kedua : 1) Isolasi gigi dengan rubber dam. 2) Buang tambalan sementara. 3) Jaringan pulpa dari saluran akar di ekstirpasi, lakukan reaming, filling, dan irigasi. 4) Berikan Beechwood creosote. Celupkan cotton pellet dalam beechwood creosote, buang kelebihannya, lalu letakkan dalam kamar pulpa. 5) Tutup kavitas dengan tambalan sementara. 6) Instruksikan pasien untuk kembali 3 sampai dengan 4 hari kemudian. Kunjungan ketiga :

1) Isolasi gigi dengan rubber dam. 2) Buang tambalan sementara. 3) Keringkan kamar pulpa, dengan cotton pellet yang berfungsi sebagai stopper masukkan pasta sambil ditekan dari saluran akar sampai apeks. 4) Letakkan semen zinc fosfat. 5) Restorasi gigi dengan tambalan permanen.

5.2 Pembuatan Restorasi Alat restorasi yang dapat digunakan untuk perawatan NMC adalah semen glass ionomer, composit resin strip crown, dan mahkota stainless steel. Anak-anak dengan keadaan seperti ini adalah mungkin untuk dilakukan preparasi kavitas kelas III dan kelas IV. Semen glass ionomer dan resin komposit dapat digunakan untuk restorasi lesi-lesi kelas III pada gigi sulung anterior, gabungan resin komposit dan glass ionomer (compomer/compoglass) juga dapat digunakan untuk lesi kelas IV. Sedangkan mahkota stainless steel digunakan untuk lesi karies pada gigi posterior . 5.2.1 Penumpatan Semen Glass Ionomer Semen glass ionomer terbentuk karena reaksi antara bubuk kaca alumino silikat yang khusus dibuat dengan asam poliakrilat. Setelah tercampur pasta semen ini ditumpatkan ke dalam kavitas pada saat bahan ini belum mengeras. Semen glass ionomer yang berisi logam perak dalam bubuknya telah dikembangkan serta dikenal dengan nama generiknya yaitu cermet. Semen semacam ini mempunyai ketahanan terhadap abrasi dan bersifat radiopak. Semen glass ionomer sebaiknya tidak digunakan sebagai alat restorasi untuk kerusakan gigi yang luas karena kurang kuat menerima daya kunyah yang berlebih. Langkah-langkah pembuatan restorasi Semen Glass Ionomer :

1) Isolasi gigi dengan menggunakan rubber dam. 2) Pembuatan outline kavitas untuk lesi yang luas, namun tidak dilakukan extention for prevention. 3) Hilangkan semua jaringan karies menggunakan bor bundar kecepatan rendah atau dengan instrumen tangan . 4) Oleskan asam poliakrilat selama 10 detik, lalu bilas dengan air dan keringkan. 5) Semen glass ionomer yang telah dikemas dalam kapsul, tekan kapsul terlebih dahulu selama 3 detik untuk memudahkan pencampuran cairan dan bubuk yang terdapat didalamnya. Lalu diaduk dengan amalgamator selama 10 detik. Ambil 3 sampai dengan 4 mm adonan yang telah tercampur tersebut lalu masukkan ke dalam kavitas. 6) Setelah semen glass ionomer berada dalam kavitas tekan-tekan dengan menggunakan burnisher. Beri selapis tipis semen resin modified glass ionomer. 7) Biarkan tambalan beberapa saat agar terhindar dari kontaminasi. Hal ini bisa dicapai apabila pada kavitas diberi selapis tipis vernis atau bonding di atas permukaan semen. 8) Lihat kembali permukaan oklusal setelah rubber dam dilepas. Gabungan Resin Komposit dan Glass Ionomer Resin komposit diindikasikan untuk kavitas kelas I atau kelas II pada gigi anak yang kooperatif, untuk lesi interproksimal kelas III pada gigi anterior, lesi kelas V pada permukaan fasial gigi anterior, hilangnya sudut insisal gigi, fraktur gigi anterior, lesi oklusal dan interproksimal gigi posterior kelas I dan II. Pasien dengan insidensi karies dan kebersihan mulut yang kurang baik merupakan kontraindikasi restorasi resin komposit. Langkah-langkah pembuatan restorasi gabungan resin komposit dan glass ionomer :

1) Pilih bor yang sesuai. Gunakan bor bundar diamond no. 520 dan bor bundar tungsten carbide no.1 untuk handpiece kecepatan tinggi sedangkan untuk handpiece kecepatan rendah, gunakan round steel no.0,5 atau no.1. 2) Membuka jalan masuk. Jika kavitas besar, masuk melalui permukaan yang paling rusak karena karies. Tembus email sedekat mungkin dengan interdental space tanpa menyebabkan resiko kerusakan pada gigi sebelahnya. 3) Preparasi outline. Setelah bor masuk ke dalam kavitas ganti dengan bor fisur pada handpiece kecepatan rendah dan perbesar kavitas dari insisal ke gusi, membentuk dinding lingual sehingga bentuk outline menjadi hampir setengah bulatan. 4) Buang setiap sisa-sisa karies. Gunakan ekskavator atau bor bundar pada handpiece kecepatan rendah untuk menghilangkan sisa karies dari dasar atau dinding kavitas. 5) Cuci, keringkan dan siapkan preparasi kavitas. Cuci kavitas dengan air dan keringkan dengan tiupan udara. Dengan menggunakan sonde pastikan bahwa semua karies telah dibuang dan sudah terdapat retensi yang cukup untuk tumpatan. 6) Beri lining pada kavitas. Berikan sedikit semen kalsium hidroksida quick setting, untuk melapisi dasar kavitas. 7) Oleskan single bond (Xeno-III, Futurabond, dll) pada kavitas, kemudian semprot dengan angina, dan lakukan penyinaran. 8) Pasang matriks. Gunakan matriks strip selulosa asetat. Periksa kerapatan sekitar kavitas, khususnya kerapatan pada tepi servikal. 9) Masukkan bahan tambalan gabungan resin komposit dan glass ionomer (filled resin) ke dalam kavitas yang telah di etsa. Biarkan resin berpolimerisasi atau polimerisasi dengan light cured. 10) Setelah bahan terpolimerisasi, lepas matriks, buang kelebihan bahan dan

poles restorasi.

5.2.2 Mahkota Buatan Compomer Strip Crowns Compomer strip crowns merupakan bahan restorasi pilihan untuk perawatan gigi sulung anterior. Penggunaan strip crowns untuk gigi anterior dengan resin komposit akan menghasilkan suatu restorasi dengan estetik yang baik dan dapat bertahan lama. Langkah-langkah pembuatan restorasi Compomer resin strip crowns : 1) Berikan anestesi lokal dan jika memungkinkan lakukan pemasangan rubber dam. Anestesi umum juga bisa diberikan khususnya pada anak yang kurang kooperatif. 2) Pilih mahkota seluloid yang sesuai dengan ukuran lebar mesio distal gigi. 3) Lakukan pembuangan karies dengan bor bundar kecepatan rendah. Gunakan bor tappered diamond atau bor tungsten carbide pada handpiece kecepatan tinggi untuk mengurangi sudut insisal sekitar 2 mm dan seluruh permukaan gigi. Preparasi diselesaikan pada chamfer di bawah gusi. Buat groove dengan bor bundar kecil pada permukaan labial dekat margin gusi. 4) Lesi yang cukup dalam sebaiknya gunakan kalsium hidroksida. 5) Buat crown-form sehingga benar-benar rapat sekitar margin gingiva. 6) Oleskan single bond (Xeno-III, Futurabond, dll) pada kavitas, kemudian semprot dengan angina, dan lakukan penyinaran. 7) Isi mahkota dengan compomer dan masukkan pada kavitas sedikit demi sedikit dengan dilakukan sedikit penekanan agar kelebihan komposit dapat keluar. 8) Sinari lagi semua bagian (labial, insisal, palatinal) secara merata. 9) Buang semua kelebihan resin yang keluar dari mahkota. Buka mahkota seluloid, sesuaikan bentuknya lalu periksa kembali oklusi gigi setelah rubber dam dilepas.

Mahkota Stainless steel

Mahkota stainless steel merupakan restorasi yang ideal untuk gigi molar sulung yang terserang karies yang luas yang tidak mungkin dilakukan preparasi kavitas untuk penumpatan amalgam. Mahkota stainless steel tersedia dalam berbagai ukuran yang khususnya berguna untuk restorasi gigi-geligi dengan karies yang luas. Mahkota stainless steel diindikasikan untuk gigi anak dengan rampan karies yang melibatkan tiga atau lebih permukaan, gigi molar sulung yang telah dilakukan perawatan pulpa, malformasi gigi seperti hipoplasti email, dan pasien handicapped dengan masalah kebersihan mulut. Langkah-langkah pembuatan restorasi mahkota stainless steel : 1) Hilangkan karies. Berikan anestesi lokal dan idealnya pasang rubber dam khususnya jika kariesnya dalam dan kemungkinan pulpa dapat terbuka. Hilangkan karies dengan menggunakan ekskavator atau bor bundar yang besar dengan kecepatan rendah. Jika kariesnya dalam dan kemungkinan pulpa dapat terbuka lakukan dulu preparasi kavitas yang mempunyai retensi sebelum melanjutkan membuang karies yang dalam . 2) Preparasi gigi. Gunakan handpiece kecepatan tinggi untuk permukaan oklusal. Tembus fisur oklusal dengan straight diamond sampai kedalaman 1 sampai dengan 1,5 mm kemudian kurangi cusp juga sebesar 1 sampai dengan 1,5 mm. Tempatkan tappered diamond pada permukaan aproksimal berkontak dengan gigi di embrasur bukal atau lingual, bersudut 20 derajat vertikal dan ujungnya pada tepi gusi, pengasahan sebanyak 2 mm. Gunakan tappered diamond untuk permukaan bukal dan lingual lalu asah permukaan bukal lingual setinggi tepi gingiva sekitar 1 mm dan bulatkan sudut antara permukaan ini serta permukaan aproksimal. 3) Pemilihan mahkota. Dari 6 ukuran yang tersedia pilih sebuah mahkota dengan ukuran mesiodistal yang sesuai dengan hasil pengukuran. 4) Uji coba pemasangan mahkota. Uji cobakan mahkota yang telah dipilih pada gigi untuk memastikan adaptasinya.

5) Pembentukkan mahkota. Tepi mahkota dikerutkan supaya benar-benar rapat pada gigi. Idealnya mahkota akan terkunci di tempatnya dan tidak mudah dikeluarkan. 6) Pemolesan mahkota. Poles tepi-tepi mahkota dengan stone atau rubber wheel. 7) Penyemenan mahkota. Cuci dan keringkan gigi dan mahkota. Isolasi gigi dengan saliva ejector dan cotton roll. Gunakan semen adhesif (misalnya : polikarboksilat) dicampur sampai konsistensi seperti krim dan oleskan ke dalam dinding-dinding mahkota sampai penuh. Dudukkan mahkota pada gigi dari lingual ke bukal dan tekan dengan kuat ke dalam tempatnya, minta pasien untuk menggigit. Sewaktu semen telah mengeras, buang semua kelebihan khususnya dari sulkus gingiva dan daerah interdental dengan menggunakan sonde dan dental floss.