Anda di halaman 1dari 23

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TELAAH PUSTAKA 1.

Remaja Pengertian adolescence atau remaja berasal dari kata Latin adolescere (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Pengertian ini mencakup arti yang lebih luas, yaitu kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik. Menurut Piaget, secara psikologis, masa remaja adalah periode di mana berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia di mana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. WHO (2004) membagi masa remaja menjadi tiga subfase berdasarkan pertumbuhan dan perkembangan, yaitu; 1) remaja awal (early adolescence), yaitu pada usia 10-13 tahun; 2) remaja pertengahan (middle adolescence), yaitu pada usia 14-16 tahun; 3) remaja akhir (late adolescence), yaitu pada usia 17-20 tahun. Pada masa remaja ditandai dengan pubertas yaitu suatu tahap dimana terjadi proses kematangan, hormonal, maupun pertumbuhan organ-organ reproduksi yang mulai berfungsi serta munculnya karakteristik sekunder. Proses ini dibagi menjadi tiga tahap yaitu a) prapubertas, adalah waktu sekitar dua tahun sebelumnya terjadinya pubertas saat pertama kali mengalami perubahan fisik yang menandakan kematanngan seksual; b) pubertas terjadi ketika pada remaja wanita mengalami menstruasi pertama kali; c) pasca pubertas, yaitu waktu sekitar 1-2

tahun setelah terjadi pubertas yang ditandai dengan pertumbuhan tulang lengkap dan organ reproduksi sudah dapat berfungsi dengan cukup baik. Remaja mempunyai ciri-ciri khusus yang dapat membedakan dengan periode sebelumnya atau peride sesudahnya.ciri-ciri tersebut meliputi: 1) periode remaja sebagai masa yang penting karena pada periode ini terdapat pertumbuhan dan perkembangan fisik serta mental yang cepat. hal ini mengakibatkan perlunya adaptasi terhadap perubahan tersebut dan

membentuk sikap, nilai serta minat baru; 2) periode remaja sebagai masa peralihan dari anak-anak menuju ke tahap dewasa; 3) periode remaja sebagai masa perubahan meliputi meningginya emosi; perubahan tubuh, minat, dan peran yang diharapkan oleh lingkungan sosial; perubahan pola perilaku serta nilai-nilai; dan sebagian remaja bersikap ambivalen terhadap perubahan yang terjadi; 4) masa remaja sebagai periode pencarian identitas dimana remaja mencari identitas serta perannya dalam masyarakat maupun kehidupan sosialnya; 5) masa remaja sebagai ambang masa dewasa yaitu remaja memfokuskan pada perilaku yang dikaitkan dengan status dewasa seperti merokok,minum-minuman keras, dan terlibat dalam aktivitas seksual.sumber pustaka?? Remaja tetap mempunyai tugas dalam perkembangannya yaitu beradaptasi dengan sikap dan perilaku dari anak-anak menuju sikap dan perilaku dewasa, mempersiapkan pendidikan dan karir untuk masa depan, menerima perubahan fisik dan memanfaatkan secara efektif, mengembangkan

perilaku sosial dalam masyarakat, serta dapat bersikap dan berperilaku yang sesuai nilai-nilai yang selaras dengan masyarakat dan sosial. 2. Kesehatan Reproduksi Pada Remaja Situasi kesehatan reproduksi remaja di Indonesia menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan remaja di Indonesia tentang kesehatan reproduksi masih rendah, khususnya dalam hal cara-cara memelihara diri terhadap risiko kesehatan reproduksi. Hasil Survei Kesehatan Reproduksi Remaja (SKRRI) tahun 2002-2003 yang dilakukan oleh BPS menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dasar penduduk usia 15-24 tahun tentang ciri-ciri pubertas sudah cukup baik, akan tetapi dalam hal pengetahuan tentang masa subur, risiko kehamilan, dan anemia relatif masih rendah. Demikian pula pengetahuan remaja tentang IMS dan HIV dan AIDS masih sangat rendah. Kondisi kesehatan reproduksi sangat penting dalam pembangunan nasional karena remaja adalah aset dan generasi penerus bangsa. Kesepakatan International Conference on Population and Development (ICPD) pada tahun 1994 tentang apa??telah ditandatangani hampir semua negara namun dalam kenyataan tidak banyak yang melaksanakannya secara konsisten. Hal ini yang menyebabkan masalah-masalah kesehatan reproduksi tidak dapat segera dapat di atasi. Selain hal ini maka diperlukan campurtangan banyak pihak baik keluarga, masyarakat, pendidik, maupun kebijakan pemerintah. 3. Organ reproduksi atau genitalia (perhatikan kata2 asing, spasi ya)

Sistem reproduktif wanita dibagi menjadi dua struktur yaitu struktur luar (genitalia eksternal) dan struktur luar (genitalia interna).

a. Genitalia eksterna Genitalia eksterna (vulva) tersusun dari a) labia mayora (bibir luar kemaluan) merupakan lipatan kulit luar vagina yang berambut, bagian ini berfungsi untuk menutupi bagian-bagian genitalia di dalamnya serta memelihara kelembabab vagina bagian luar; b) labia minora (bibir dalam kemaluan) merupakan lipatan kulit dalam vagina, tidak berambut serta area ini sensitif karena terdiri dari berbagai sistem saraf sensorik, bagian ini berfungsi untuk menutupi organ di dalamnya; c) klitoris terletak di tengah labia minora dan dibungkus sebuah lipatan kulit yang dinamakan preputium, pada area ini juga sensitif karena terdapat serabut saraf; d) lubang vagina merupakan rongga yang menghubungkan antara rahim dengan dunia luar, bagian ini terletak diantara lubang saluran kencing dan anus, jika terdapat rangsangan dari saluran kecildi samping lubang vagina maka akan keluar cairan atau lendir yang dihasilkan oleh kelenjar bartolin; e) hymen(selaput dara) merupakan jaringan tipis yang berbentuk cincin yang terletak pada mulut lubang vagina; f) pubic hair/rambut kemaluan berupa rambut yang tumbuh pada kulit yang menyelimuti tulang kemaluan, bagian ini berfungsi untuk menjaga kelembaban di sekitar vagina dan untuk menjaga kesehatan alat kelamin. (daftar pustaka) b. Genitalia interna

Organ reproduksi atau genitalia eksterna tersusun dari vagina, uterus, ovarium, tuba uterus atau fallopii. Vagina adalah suatu saluran yang dilapisi membran mukosa, berbentuk silinder dengan diameter dinding depan kurang lebih 6,5 cm dan dinding belakang sekitar 9 cm,dan bersifat sangat elastis. Fungsinya sebagai saluran menstruasi serta jalan lahir bayi. organ reproduksi selanjutnya adalah serviks atau leher rahim terletak di puncak vagina. Fungsi organ ini untuk mencegah atau menghalangi masuknya bakteri kecuali selama masa menstruasi dan selama masa ovulasi (pelepasan sel telur). Saluran serviks dilapisi kelenjar penghasil lendir. Lendir ini tebal dan tidak dapat ditembus oleh sperma kecuali sesaat sebelum ovulasi. Pada bagian ini konsistensi lendir dapat berubah ketika ovulasi sehingga sperma dapat menembus dan dapat

terjadi ovulasi. Saluran ini juga dapat menyimpan sperma hidup selama 23 hari saat terjadi ovulasi. Sehingga hubungan seksual yang terjadi sekitar periode ovulasi maka dapat terjadi kehamilan.(pustaka)..apa tdk

kepanjangan paragrafnya? Uterus merupakan organ muskular yang berbentuk seperti buah alpukat, namun sedikit gepeng dan memiliki berat 30-50 gram, dengan panjang 7,5 cm dan lebar 5 cm pada bagian atasnya. Serta mempunyai dinding yang tebalnya sekitar 1,25 cm. uterus diikat oleh 6 ligamen. Bagian ini sendiri dibagi menjadi dua badian yaitu serviks dan korpus. Genitalia interna selanjutnya adalah ovarium atau sering disebut indung telur adalah badan oval yang mempunyai panjang 3 cm, bagian ini

terletak di belakang ligamentum latum, di belakang dan bawah tuba fallopii. Fungsi organ ini adalah mengeluarkan sel telur (ovum). ovarium bagian kanan dan kiri melepaskan sel telur secara bergantian dalam waktu sebulan sekali. Sel telur yang dikeluakan merupakan sel telur yang siap untuk dibuahi dan telah matang. Akan tetapi, jika sel telur tersebut tidak dibuahi maka sel telur tersebut akan dikeluarkan bersama menstruasi. Fimbria atau sering disebut juga sebagai umbai-umbai mempunyai bentuk yang mirip dengan jari tangan dan berfungsi untuk menangkap sel telur atau ovum yang dikeluarkan oleh indung telur. Pada genitalia interna juga terdapat ligamentum yang berfungsi untuk mengikat atau menahan organ-organ reproduksi wanita agar terfiksasi dengan baik pada posisinya, tidak bergerak, dan terikat dengan organ sekitarnya.(pustaka?? Tuba fallopii atau sering disebut saluran telur merupakan saluran yang terletak di sebelah kanan dan kiri rahim, organ ini membentang dari tepi atas rahim hingga ke arah ovarium sepanjang 5-7,6 cm. Fungsinya adalah sebagai saluran sel telur matang yang dilepaskan indung telur atau ovarium. pada ujung-ujung tuba fallopii terdapat corong-corong sehingga memiliki lubang yang lebih besar. lubang tersebut berfungsi untuk menangkap sel telur yang jatuh atau dilepaskan dari ovarium. Lubang tersebut dinamakan fimbria. (Daftar pustaka)..paragfraf2 diatas..buat yg lebih efektif yg terkait dgn tema penelitian

4. Kebersihan organ genitalia wanita Genitalia merupakan salah satu organ yang penting dan membutuhkan perawatan khusus. Sehingga kebersihan merupakan aktivitas yang sangat penting untuk mencegah terjadi infeksi dan tetap hidup sehat khususnya untuk perempuan. Pada bayi perempuan yang baru saja dilahirkan, vagina merupakan organ yang steril namun beberapa waktu kemudian area tersebut diserang atau diserbu beberapa micrococci, enterococci, dan diptheroid dalam waktu kurang lebih 24 jam. Menurut Doderlin (1982), apa ada dftar pustaka yg terbaru??terdapat tiga tingkatan dalam membersihkan vagina yaitu pada tingkat I

mengindikasikan membersihkan vagina dengan predominan lactobacilli, tingkat III mengindikasikan terdapatnya flora patologis dimana terdapat pengeluaran atau discharge dari vagina. Biasa keputihan tersebut berair, dan orang yang menderita hal tersebut bakteri vaginosis atau trikhomoniasis.

berbentuk purulen,

dicurigai mengalami infeksi

Sedangkan pada grade II mengindikasikan dalam keadaan antara tingkat I dan III dan berhubungan dengan flora yang terganggu termasuk hanya dibandingkan dengan tingkat I. Kebersihan sosioekonomi yang rendah dan kondisi yang

terdapat sedikit lactobacilli genitalia yang kurang, status

abnormal misalnya pada orang diabetes melitus merupakan faktor resiko yang penting dimana pada wanita. berkontribusi terhadap terjadinya infeksi genitalia

Organ reproduksi itu membutuh perawatan agar tidak

menimbulkan

masalah. Beberapa penyakit ginekologi dan gangguan kesehatan reproduksi perempuan merupakan suatu masalah serius dalam masyarakat. Jika dulu hanya mengenal masalah kemandulan, keputihan, dan anker leher rahim, kini permasalahan seputar kesehatan reproduksi wanita bertambah pelik. Semakin banyak jenis kanker yang menyerang organ reproduksi wanita. tidak hanya kanker, berbagai macam infeksi yang dapat menyebabkan kemandulan juga kian bertambah. Jadi sebelum semua terlambat maka lakukan perawatan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kebersihan organ genitalia adalah: a. Manfaat perawatan organ genitalia. Manfaat perawatan organ reproduksi memiliki beberapa

manfaat,antara lain: a. Dibuat kalimat menjadikan vagina dalam keadaan bersih dan nyaman; b. dapat mencegah munculnya keputihan, gatal-gatal, keputihan dan bau tidak sedap; c.dapat menjaga Ph vagina dalam kondisi normal (3,5 4,5). (Perhatiakan penulisan kalimat) b. Cara melakukan perawatan vagina wanita Menurut Dita (2010) cara perawatan kebersihan organ genitalia adalah sebagai berikut: a) lakukan pencegahan khusus, manfaat melakukan pencegahan khusus adalah untuk menemukan atau mendeteksi beberapa kelainan, hal ini juga bermanfaat untuk menekan biaya pengobatan bila terjadi infeksi, kemandulan atau biaya operasi maupun kemoterapi jika terjadi kanker. Hal ini dikarenakan beberapa penyakit saluran reproduksi

tidak dapat dihidari hanya dengan memelihara kebersihan saja; b) jaga daerah kemaluan dan selangkangan agar tetap kering. Suasana yang lembab akan menarik datangnya jamur, yang dapat menimbulkan gangguan pada sistem reproduksi. Terlebih lagi jika tergolong wanita dengan berat badan berlebih, maka harus benar-benar menjaga agar daerah tersebut tetap dalam keadaan kering; c) pencucian vagina. Jaga vagina agar tetap bersih. Lakukan pencucian dengan air bersih secukupnya. Pencucian dengan larutan khusus hanya diperlukan jika ada infeksi didaerah kemaluan. Lakukan pencucian, terutama setelah buang air kecil maupun besar dengan air dan sabun. Siram bagian kewanitaan dari arah depan kebelakang, bukan sebaliknya. Ini dilakukan untuk mencegah masuknya kuman dari anus ke vagina; d) jaga kebersihan kepakaian dalam sebaiknya mengganri pakaian dalam 2 (dua) kali dalam sehari. Selain itu, pilih pakaian dari bahan yang dapat dengan mudah menyerapa keringat (katun). Hal tersebut dapat mencegah menempelnya jamur pada alat kelamin. Hindari tukar menukar pakaian dalam dengan orang lain meskipun dengan anggota keluarga. Ini disebabkan setiap orang memiliki kondisi kelamin yang berbeda-beda; e) lakukan perawatan terhadap rambut yang tumbuh. Hindari membersihkan rambaut yang tumbuh didaerah kemaluan dengan cara mencabut, karena akan menimbulkan lubang bekas bulu kemaluan tersebut. Lubang tersebut dapat menjadi bersarangnya bakteri, kuman dan jamur yang selanjutnya dapat menyebabkan iritasi dan penyakit kulit. Untuk perawatan rambut tersebut, disarankan hanya merapikannya saja

dengan memendekkan (memotongnya) menggunakan gunting; f) rajin mengganti pembalut saat menstruasi. Pada saat menstruasi, kuman-kuman lebih mudah masuk kedalam organ reproduksi. Pembalut yang banyak mengandung gumpalan darah merupakan tempat yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan jamur atau bakteri. Oleh karena itu,

sebaiknya pada saat menstruasi mengganti pembalut 4 (empat) jam sekali atau 2-3 kali sehari. Atau setiap saat jika merasa sudah tidak nyaman.

Sebelum mengganti pembalut maka bersihkan vagina terlebih dahulu; g) konsultasi ke dokterApabila muncul keluhan-keluhan yang tidak wajar dengan organ reproduksi, sebaiknya segera konsultasi kedokter. Dengan demikian dapat mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan pada sistem reproduksi. Perlu diketahui bahwa infeksi jamur yang berulang pada organ kelamin bisa merupakan tanda adanya masalah kesehatan lainnya, seperti kencing manis, HIV, atau infeksi lainnya; h) bagi penderita infeksi jamur, celana dalam harus dicuci dengan tepat. Karena jamur hanya bisa dimatikan dengan menggunakan panas tinggi; i) meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi nutrisi yang baik. Selain itu, tidak merokok, mengkonsumsi makanan yang bergizi serta memberikan tubuh asupan multivitamin; j) memelihara kebersihan diri dan dalam berhubungan seksual. Dikarenakan untuk mencegah masuknya kuman melalui saluran reproduksi. (paragraf terlalu panjang!!), sumber pustaka

3. Dalam perawatan sistem reproduksi, ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari. Hal-hal tersebut antara lain : (pustaka) 1) Memakai celana jeans atau celana dalam yang terlalu ketat. Hal ini akan mengakibatkan kulit pada organ kelamin dan daerah selangkangan menjadi sulit bernafas. Sehingga daerah tersebut menjadi lebih banyak berkeringat. Hal tersebut menyebabka, sumber pun area genetalia menjadi lembab sehingga menyebabkan area genetalia mudah terkena infeksi dan iritasi. 2) Pemakaian panty liners. Menggunakan panty liners seakan sudah menjadi tren masa kini dan bagian kehidupan dari wanita. Pemakaiannya yang praktis daripada harus membawa ganti celana dalam untuk menjaga kebersihan area genetalia. Sebaiknya lebih baik membawa celana dalam ganti dibandingkan dengan memakai panty liner. 3) Hindari penggunaan atau menyemprotkan minyak wangi ke daerah area genitalia. 4. Efek perawatan yang salah Perawatan pada organ reproduksi wanita harus dilakukan sesuai dengan kesehatan dan benar. Apabila melakukan perawatan dan menjaga kebersihan genitalia tidak benar maka akan menyebabkan berbagai masalah dalam kesehatan reproduksi. Efek perawatan kebersihan genitalia yang salah dapat menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem atau terganggunya flora normal di daerah genitalia. Selain itu, juga dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada daerah genitalia. (pustaka?)

d) Tanda dan gejala infeksi sistem reproduksi (khususnya organ genitalia) Kebersihan genitalia merupakan suatu kegiatan atau praktek yang umumnya dilakukan di berbagai populasi di dunia. Namun pada kenyataannya masih banyak perilaku yang salah dalam pelaksanaan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Menurut Reed et al (2001) dalam hasil penelitiannya di Bali ditemukan fakta apabila wanita merasa bahwa area genitalianya tidak bersih. Sehingga (paduan kata kurang pas)wanita menggunakan produk-produk

pembersih area genitalia supaya area genitalianya lebih bersih. Selain hal tersebut, para wanita menggunakan produk tersebut untuk mencegah infeksi. Pada hasil penelitian ini dilaporkan bahwa lebih dari 5% wanita menggunakan produk

tersebut untuk menangani adanya bau di area genitalianya dan menbuat area genitalianya lebih kering. WHO tahun??menyatakan bahwa terdapat 333 juta kasus baru infeksi vulva vagina per tahunnya. Penelitian yang dilakukan di India menunjukkan prevelensi terjadinya infeksi saluran reproduksi jumlahnya 37% berdasarkan dari tanda dan gejala serta 36,7% dengan tes laboraturium, termasuk 31% Candidiasis, 3% gonorrhea, 2% Trichomoniasis dan 45% bakteri vaginosis. (penelitin sp?/) Menurut Sharmilla et al (2009), terdapat beberapa tanda dan gejala adanya infeksi pada area vulva vagina yaitu adanya rasa gatal yang intensif di area tersebut, maserasi, bau yang menyengat dari area tersebut, sensasi terbakar atau

panas di area perineal. Tanda dan gejala ini disebabkan adanya gangguan pada kulit mantel area perineal Kegiatan membersihkan area genitalia dihubungkan dengan mencegah terjadinya infeksi genitalia. Memasukkan sesuatu substansi atau bahan yang asing dapat menyebabkan perubahan pertahanan alami pada area genitalia (baik itu pH, immunologi, maupun bakterial). Beberapa gejala yang dilaporkan setelah menggunakan berbagai produk feminin atau pembersih area genitalia, yaitu terdapat discharge vagina, discharge vagina yang warnanya abnormal, gatal yang berlebih, bau yang berasal dari area genitalia, nyeri pada area genitalia, dan lainlain. Hal ini dikaitkan dengan gejala awal terjadinya infeksi pada sistem genitalia. 2. Teori perilaku Skiner (1938) cit Notoatmodjo (2007) perilaku adalah suatu respons seseorang terhadap rangsangan dari luar. Perilaku manusia ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan lalu organisme tersebut merespons, maka teori Skiner ini disebut teori Stimulus Organisme Respons. Menurut Skiner terdapat dua respons, yaitu : 1. Respondent respons atau reflexive, adalah respons yang diakibatkan oleh stimulus tertentu. Stimulus semacam ini disebut eliciting stimulation yang dapat menimbulkan respons respons yang relatif tetap. 2. Operant respons atau instrumental respons, adalah respons yang timbul dan berkembang lalu diikuti oleh stimulus tertentu. Stimulus ini disebut reinforcing stimulation atau reinforcer, karena dapat memperkuat respons.

Perilaku dapat dibedakan menjadi dua dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus, yaitu: a)Perilaku tertutup ( convert behaviour ) Perilaku tertutup terjadi bila respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (convert). Respons terhadap stimulus ini dapat berupa perhatian, persepsi, pengetahuan / kesadaran, serta sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain. b) Perilaku terbuka ( overt behaviour ) Perilaku terbuka terjadi bila respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus dalam bentuk tindakan atau praktik (pratice), dan dapat diamati secara jelas oleh orang lain. Cara-cara yang digunakan dalam meningkatkan serta membina kesehatan masyarakat dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu; (1) tekanan, adalah upaya supaya masyarakat mengubah perilaku kesehatan dengan cara-cara tekanan, paksaan atau koersi. Dalam bentuk instruksi-instruksi, tekanan fisik maupun non fisik, undang-undang atau peraturan, dan sanksi-sanksi. (2) edukasi atau pendidikan, merupakan suatu cara agar masyarakat berperilaku kesehatan dengan cara persuasi, bujukan, himbauan, ajakan memberikan informasi dan memberikan kesadaran melalui kegiatan yang disebut pendidikan atau penyuluhan kesehatan (Notoatmodjo, 2005) (cit Nesti, 2010). Bukunya kn ada??dicr..ga ush pake cit Menurut Benyamin Bloom (1908) perilaku manusia dibedakan menjadi 3 domain, ranah atau kawasan yakni: a) kognitif (cognitive), b) afektif (affective), c)

psikomotor (psychomotor). Dalam perkembangannya selanjutnya, teori ini digunakan untuk kepentingan hasil pendidikan kesehatan. Teori ini dikembangkan menjadi 3 tingkat domain, yaitu: 1. Pengetahuan Pengetahuan merupakan proses yang berasal dari hasil tahu seseorang setelah melakukan penginderaan objek tertentu melalui indera yang dimilikinya. Pengetahuan ini diperoleh melalui pancaindera manusia berupa mata, hidung, lidah, telinga, dan indera peraba. Namun pancaindera yang sering digunakan adalah indera penglihatan dan indera pendenngaran (Notoatmodjo, 2007). Menurut Notoatmodjo (2005) pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkatan yang secara garis besar dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan, yaitu: (1) tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu; (2) memahami , seseorang tidak sekedar dapat menyebutkan dan tahu namun dapat

menginterprestasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut; (3) aplikasi dapat diartikan apabila orang yang telah memehami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain; (4) analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui; (5) sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimilikinya dan (6) evaluasi berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu (cit Nesti, 2010). Wawancara atau angket dapat digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan seseorang. Dalam wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.

2. Sikap (attitude) Sikap adalah suatu reaksi atau respons yang masih dalam bentuk tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap dapat dikonotasikan dengan adanya kecocokan antara reaksi dengan stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Menurut Newcomb thn brp, sikap adalah kesiapan atau kesediaan untuk berperilaku, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap adalah predisposisi suatu perilaku atau aktifitas, namun belum berupa tindakan atau aktifitas (Notoatmodjo, 2007). Sikap terdiri dari 3 komponen yaitu kognitif, afektif dan konatif. Komponen kognitif terdiri dari keyakinan dan pengetahuan seseorang terhadap suatu objek, semakin positif keyakinan seseorang terhadap objek maka semakin positif pula sikap seseorang terhadap objek tersebut. Komponen afektif merupakan perasaan atau emosi seseorang terhadap objek dan biasanya diungkapan dalam bentuk rasa atau rasa tidak suka. Komponen konatif merupakan tindakan seseorang sebagai wujud dari keyakinan dan perasaan terhadap objek tertentu (Ferrinadewi, 2008) (cit Nesti, 2010).

Sikap ini terdiri dari empat tingkatan, yaitu: 1) menerima (receiving) yaitu saat seseorang mau dan memberikan perhatian pada stimulus yang diberikan oleh objek; 2) merespons (responding) adalah ketika seseorang dapat memberikan respon atau jawaban saat diberikan pertanyaan, tugas, maupun dapat

menyelesaikan tugas; 3) menghargai (valuing) adalah ketika seseorang dapat berdiskusi maupun membahas suatu masalah dengan orang lain; 4) bertanggung jawab (responsible) adalah ketika seseorang dapat mengambil resiko terhadap sikap yang telah dipilih (Notoatmodjo, 2007). Untuk mengetahui tingkat sikap seseorang perlu dilakukan pengukuran baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengukuran secara langsung dapat dilakukan dengan cara menanyakan pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek (Notoatmodjo, 2007). 3. Tindakan atau praktik Suatu sikap belum tentu langsung terwujud dalam suatu perilaku (overt behaviour). Hal ini tergantung pada tingkat sikap seseorang dan kemauan seseorang dalam melakukan suatu perilaku. Menurut Notoatmodjo (2005), tindakan sendiri terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu; a) praktik terpimpin (guided response) adalah ketika seseorang sudah dapat bertindak dalam hal

tertentu namun masih membutuhkan panduan atau tuntutan; b) praktik secara mekanisme (mechanism) adalah ketika seseorang sudah dapat bertindak sesuatu secara otomatis; c) adopsi (adoption) adalah ketika seseorang telah bertindak secara berkembang sehingga yang dilakukan tidak hanya aktifitas rutinitas namun sudah berperilaku yang telah dimodifikasi(cit Nesti, 2010).

Pengukuran tindakan dapat dilakukan dengan cara secara langsung maupun dengan tidak langsung. Pengukuran secara tidak langsung dapat menggunakan cara mengingat kembali (recall) terhadap pertanyaan-pertayaan tentang sesuatu yang telah dilakukan berhubungan dengan objek tertentu. Sedangkan pengukuran secara langsung dapat dilakukan dengan cara ob servasi atau pengamatan, yaitu ketika seseorang mengamati tindakan dari subjek dalam rangka memelihara kesehatannya.

B. Landasan Teori Remaja merupakan periode transisi antara masa anak-anak menuju ke arah dewasa. Pada periode ini terjadi pertumbuhan secara fisik, mental, dan sosial yang cepat. Hal tersebut menyebabkan remaja perlu beradaptasi dengan perubahan-perubahannya. Perubahan fisik yang terlihat menonjol adalah terjadinya proses pubertas. Remaja puteri akan menunjukkan tanda seks primer berupa menstruasi. Masa pubertas menyebabkan munculnya karakteristik seks sekunder dan kematangan organ reproduksi yang ditandai dengan mulai berfungsi baik pada organ tersebut. Perubahan-perubahan yang dialami remaja ini akan mengakibatkan kebingungan bagi remaja puteri behubungan dengan kurangnya informasi dan pendidikan mengenai perubahan tersebut. Hal ini dapat menyebabkan remaja puteri salah atau tidak berperilaku sesuai dengan cara-cara menurut kesehatan.

Perilaku adalah suatu cara orang untuk berespon atau bereaksi terhadap suatu stimulus dari luar.Perilaku dibedakan menjadi dua yaitu perilaku tertutup dapat berupa perhatian, persepsi, sikap, dan pengetahuan dan perilaku terbuka dapat berupa tindakan. Pada perilaku juga dibedakan menjadi tiga domain yaitu pengetahuan, sikap, dan tindakan atau praktik. Dengan demikian perilaku seseorang dapat ditunjukan berupa pengetahuan, sikap, dan tindakan. Pada remaja putri perilaku kebersihan berkaitan dengan higiene genitalia dalam kehidupan sehari-hari. Kebersihan genitalia merupakan aktifitas yang umumnya dilakukan oleh populasi wanita di dunia. Namun hal ini di pengaruhi oleh sosiokultural, pengetahuan serta lingkungan. Kebersihan genitalia yang buruk dapat menjadi masalah khususnya dalam kesehatan reproduksi. Salah satu masalah kesehatan reproduksi yaitu risiko munculnya infeksi pada sistem reproduksi. Infeksi ini dapat ditandai dengan gatal yang berlebihan, adanya bau yang kuat dari area genitalia, rasa panas atau terbakar di area tersebut, dan adanya discharge vagina yang abnormal. Berdasakan landasan teori yang ada, maka jelas bahwa kebersihan organ genitalia remaja putri sangat penting, yang berfungsi untuk meningkatkan status kesehatan reproduksi remaja.

C. KERANGKA TEORI

Pengetahuan remaja putri tentang kebersihan oran genetalia

Sikap remaja putri tentang kebersihan organ genetalia

Perilaku kebersihan organ genetalia remaja putri

Muncul tanda&gejala infeksi sistem reproduksi organ genetalia

Positif (+) Didalam perilaku td kan faktor2 nya byk tdk cm pengetahuann dan sikap mgk bs ditambahkan walaupun tidak kmu teliti..terkait budaya dll

Nega tif (-)

D. KERANGKA KONSEP PENELITIAN

Variabel Bebas Perilaku kebersihan genetalia remaja putri yang diukur melalui Pengetahuan Sikap Tindakan

Variabel Terikat Munculnya tanda dan gejala infeksi

Variabel Luar sumber informasi pengetahuan remaja

E. Hipotesis Penelitian 1. Hipotesis alternatif (Ha) : ada hubungan antara perilaku kebersihan genitalia remaja putri terhadap munculnya tanda dan gejala infeksi sistem reproduksi di Yogyakarta. 2. Hipotesis nol (Ho) : tidak ada hubungan antara perilaku kebersihan genitalia remaja putri terhadap munculnya tanda dan gejala infeksi sistem reproduksi di Yogyakarta.