P. 1
Perda No 2 Th 2001 Ttg Retribusi IMB

Perda No 2 Th 2001 Ttg Retribusi IMB

|Views: 355|Likes:
Dipublikasikan oleh McPEKEY

More info:

Published by: McPEKEY on Aug 08, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/21/2013

pdf

text

original

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK

TAHUN 2001 NOMOR 33 PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 2 TAHUN 2001 TENTANG RETRIBUSI IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALI KOTA DEPOK

Menimbang

: a.

bahwa

dengan

pesatnya

pembangunan

fisik,

menumbuhkan konsekwensi bagi Pemerintah Kota untuk mengendalikan, menata dan mengembangkan secara tertib, terarah dan terpadu. b. bahwa untuk pengendalian, yang penataan, demikian penertiban pesat dan

pendirian

bangunan

berkembang perlu adanya ketentuan yang mengatur sehingga perkembangan pembangunan diwilayah Kota sejalan dengan nilai–nilai keindahan dan ketertiban sekaligus akan menunjang peningkatan Pendapatan Asli Daerah. c. bahwa untuk meningkatkan penerimaan Daerah guna menunjang pelaksanaan Pembangunan,

Penyelenggaraan Pemerintahan, dan Pelayanan kepada masyarakat, maka setiap permohonan Izin Mendirikan Bangunan dikenakan Retribusi. d. bahwa sebagaimana dimaksud dalam huruf a b dan c , perlu ditetapkan Peraturan Daerah Kota Depok tentang Retribusi Izin Mendirikan Bangunan.

Mengingat

: 1.

Undang – Undang Nomor 11 Tahun 1974

tentang

Pengairan (Lembaran Negara tahun 1974 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3046). 2. Undang – undang Nomor 13 Tahun 1980 tentang Jalan (Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 83). 3. Undang – undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang

Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209). 4. Undang – undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang

Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 34, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). 5. Undang – undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 41. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685). 6. Undang – undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). 7. Undang – undang Nomor 15 Tahun 1999 tentang Pembentukkan Kotamadya Daerah Tingkat II Depok

dan Kotamadya Daerah Tingkat II Cilegon (lembaran negara Tahun 1999 Nomor 49. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3828). 8. Undang – undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). 9. Undang – undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 72. tambahan Lembaran Negara Nomor 3858). 10. Undang – undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 75. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3851). 11. Undang – undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang – Undang No. 18 Tahun 1998 tentang Pajak Daerah (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4048). 12. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab undang – Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 36. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3258). 13. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1990 tentang Jalan Tol (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3405).

18. 15. 54. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisa Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84. . Rancangan Peraturan Pemerintah dan Rancangan Keputusan Tambahan Lembaran Negara Nomor Presiden (Lembaran Negara Nomor 70). Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang – Undangan dan Bentuk Rancangan Undang – Undang. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1997 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 55. 20. 17. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3692). 19. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 No. Peraturan Daerah Kota Depok Nomor 27 Tahun 2000 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 27).14. Tambahan Lembaran Negara 3538). 21. Peraturan Daerah Kota Depok Nomor 48 Tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Daerah Kota Depok Tahun 2000 Nomor 3). Peraturan Daerah Kota Depok Nomor 46 Tahun 2000 tentang Kewenangan (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 1). Peraturan Daerah Kota Depok Nomor 47 Tahun 2000 tentang Pembentukan Perangkat Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 2). 3952). 16.

2. Dinas adalah Dinas Bangunan Kota Depok. Retribusi IMB adalah pungutan daerah atas pemberian Izin Mendirikan Bangunan dari Pemerintah Kota kepada orang pribadi dan atau badan. Pemerintah Kota adalah Pemerintah Kota Depok. Retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian Izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah Kota untuk kepentingan orang pribadi atau badan. . Walikota adalah Walikota Depok. 3. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kota Depok. DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakya Daerah Kota Depok. 4.Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA DEPOK MEMUTUSKAN Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK TENTANG RETRIBUSI IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. 7. Kota adalah Kota Depok. 5. 8. 6.

Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang – undangan Retribusi Daerah diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi. Badan adalah suatu Badan Usaha yang meliputi Perseroan Terbatas. adalah Izin yang diberikan untuk rencana pelaksanaan pekerjaan fisik bangunan. Yayasan atau Organisasi yang sejenis. 11. Kas daerah adalah Bank Pemerintah yang ditunjuk untuk memegang kas daerah. Perkumpulan Firma. bentuk usaha tetap serta Badan Usaha Lainnya. Lembaga. 16. Surat Tagihan Retribusi Daerah yang selanjutnya di singkat STRD atau dokumen yang dipersamakan adalah surat untuk melakukan tagihan Retribusi dan atau sanksi administrasi berupa bunga atau denda. Surat Ketetapan Retribusi Daerah untuk selanjutnya disingkat SKRD atau dokuman yang dipersamakan adalah Surat Keputusan yang menentukan besarnya jumlah Retribusi yang terutang. 17. 10. Perseroan lainnya. Izin Mendirikan Berjangka adalah Izin Mendirikan Bangunan yang diberikan dalam jangka waktu tertentu. Kongsi. 13. Perseroan Komanditer. Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan bentuk apapun. Pejabat adalah pegawai yang ditunjuk dan diberi tugas tertentu di bidang Retribusi daerah sesuai peraturan perundang – undangan yang berlaku. Dana Pensiun. Koperasi. 15. 14. 12.9. Izin Mendirikan Bangunan selanjutnya di sebut IMB. . Persekutuan. Pemutihan Izin Mendirikan Bangunan adalah izin yang diberikan terhadap bangunan yang memenuhi persyaratan administrasi dan persyaratan teknis dan telah terbangun sebelum diberlakukan Peraturan Daerah ini.

Bangunan Semi Permanen. c. f.18. Bangunan adalah perwujudan fisik konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan atau bertumpu dengan susunan tertentu dalam suatu lingkungan secara tetap sebagian atau seluruhnya di atas dan di b awah permukaan tanah dan atau perairan yang berupa bangunan gedung dan atau bukan gedung dengan klasifikasi Konstruksi Bangunan terdiri dari : a. . b. dan mengolah data dan atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban Retribusi Daerah. d. Bangunan Permanen. Bangun bangunan adalah Perwujudan fisik konstruksi teknis yang dibangun sebagai sarana penunjang bangunan gedung dan atau bukan gedung sebagai sarana penunjang kegiatan manusia. mengumpulkan. 23. Fungsi sosial. 21. Fungsi usaha / komersial. Pemutihan Izin Mendirikan Bangunan Bersyarat adalah Izin Mendirikan Bangunan yang diberikan dengan syarat – syarat tertentu sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Fungsi hunian / rumah tinggal. b. 19. e. Fungsi khusus. Mendirikan Bangunan adalah pelaksanaan pekerjaan fisik bangunan : a. 20. terdiri dari : a. Fungsi umum. campuran. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari. b. Bangunan Permanen. Bangunan Permanen dan Semi Permanen mempunyai beberapa fungsi. Fungsi pendidikan. 22. Memperbaiki dan memperluas.

25. Penyidikan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut penyidik. .24. untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang Retribusi Daerah yang terjadi serta menemukan tersangkanya. OBJEK DAN SUBJEK RETRIBUSI Pasal 2 Dengan nama Retribusi Izin Mendirikan Bangunan di pungut retribusi sebagai pembayaran atas pemberian Izin Mendirikan Bangunan kepada orang atau badan. Penyidik Pegawai Negeri Sipil selanjutnya diseingkat PPNS adalah Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Kota Depok yang diberi wewenang khusus oleh Undang – undang untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran Peraturan Daerah Kota Depok yang memuat ketentuan Pidana. BAB II NAMA. Pasal 4 Subyek Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang mendapat Izin Mendirikan Bangunan. Pasal 3 Objek Retribusi adalah pelayanan pemberian Izin Mendirikan Bangunan.

i. c. .). Perkerasan halaman / rabat. d. (4) Klasifikasi konstruksi bangunan terdiri dari permanen dan semi permanen.BAB III TATA CARA MEMPEROLEH SURAT IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN Bagian Pertama Perizinan Pasal 5 (1) Setiap bangunan yang didirikan oleh orang pribadi atau badan wajib memiliki Surat Izin Mendirikan Bangunan (SIMB) dari Walikota atau Pejabat yang ditunjuk. IPAL (Instalasi Pengolah Air Limbah). k. e. (2) Bangunan yang didirikan sebagaimana ayat (1) Pasal ini harus sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Surat Izin Mendirikan Bangunan. Menara. Jembatan. SPBU (Stasiun Perbekalan Bahan Bakar Umum). Pagar . b. h. (5) Jenis bangun bangunan antara lain : a. f. Turap (tembok penahan tanah. g. Bangunan reklame. IPA (Instalasi Pengolah Air). Lapangan olahraga terbuka. Kolam renang. j. (3) Jenis bangunan terdiri dari dan bangun bangunan.

Reservoar. Jalan. ditandatangani oleh . (4) Penandatanganan Izin Mendirikan Bangunan Walikota atau Pejabat yang ditunjuk. Kabel udara. Pengurugan lahan bangunan. n. p. Gorong – gorong. Bangun – bangunan Reklame. Bagian Kedua Permohonan Pasal 6 (1) Untuk memperoleh IMB pemohon wajib mengajukan permoho nan secara tertulis kepada Walikota atau Pejabat yang ditunjuk. o. Septictank. Saluran. m. r. s. Galian penanaman instalasi. (2) Permohonan sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini diajukan dengan mengisi formulir yang disediakan dan ditandatangani di atas materai cukup.l. v. q. (3) Syarat – syarat permohonan izin ditetapkan lebih lanjut dalam Keputusan Walikota. Mezanine. u. Gardu gantung. Penyangga mesin. t. w.

b. Bertentangan dengan peraturan yang ada. b.Bagian Ketiga Pemberian IMB Pasal 7 Atas dasar penelitian persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) Walikota at au Pejabat yang ditunjuk dapat menerima atau menolak atas permohonan IMB yang diajukan. Lokasi lahan yang dimohon termasuk kawasan khusus yang perlu dilestarikan kecuali bangunan sebagai penunjang kawasan tersebut. Bertentangan dengan hak pihak ketiga atau pihak lain. c. Bagian Keempat Penolakan IMB Pasal 8 (1) Permohonan IMB dapat ditolak dalam hal : a. (2) Permohonan IMB yang memenuhi persyaratan teknis dan administrasi sebagaimana pasal 7 dapat ditolak apabila : a. Bagian Kelima IMB Berjangka Pasal 9 (1) IMB Berjangka diberikan kepada pemohon yang : . Pemerintah Kota sedang mengadakan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah untuk lokasi yang di mohon. Tidak memenuhi persyaratan administrasi dan teknis.

Bagian Keenam Pemutihan IMB Pasal 10 (1) Setiap bangunan yang sudah didirikan sebelum berlakunya Peraturan Daerah ini dan belum memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan secara teknis memenuhi persyaratan ketentuan – ketentuan bangunan wajib melaksanakan pemutihan IMB. Rencana pendirian bangunannya berbeda dalam daerah yang peruntukannya tidak sesuai dengan peruntukan tata ruang. (2) Pemutihan Izin Mendirikan Bangunan sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini. b. . Sedangkan bangunan yang usianya kurang dari 5 (lima) tahun izinnya disamakan dengan permohonan Izin Mendirikan Bangunan baru. diberikan setelah bangunan dimaksud dihitung secara teknis dan minimal telah berusia 5 (lima) tahun pada saat permohonan diajukan. Rencana pendirian bangunannya termasuk dalam rencana perluasan atau pelebaran jalan yang telah direncanakan. (2) IMB berjangka diberikan dalam waktu selama – lamanya 2 (dua) tahun. (3) IMB berjangka dapat diperpanjang apabila masa berlakunya habis dengan ketentuan memenuhi persyaratan ketentuan perundang – undangan yang berlaku. (3) Pemutihan Izin Mendirikan Bangunan meliputi juga Pemutihan IMB bersyarat. untuk sewa – menyewa atau kontrak tetap diberikan IMB baru.a. (4) Syarat – syarat pemutihan Izin Mendirikan Bangunan ditetapkan lebih lanjut dalam Keputusan Walikota.

c. d. Belum mempunyai surat izin mendirikan bangunan dari pejabat yang berwenang. Mendirikan bangunan di atas tanah Negara / orang lain tanpa persetujuan Pemerintah / pemegang hak atas tanah. a. . IMB diberikan itu ternyata didasarkan atas keterangan – keterangan yang keliru / palsu. Menyimpang dari ketentuan – ketentuan atau persyaratan yang tercantum dalam surat izin mendirikan bangunan. a.Bagian Ketujuh Larangan Mendirikan Bangunan dan Membongkar Bangunan Besejarah Pasal 11 (1) Dilarang mendirikan bangunan apabila. Tidak sesuai dengan rencana umum tata ruang. dan rencana detail tata ruang. BAB IV SANKSI ADMINISTRASI Bagian Pertama Pencabutan / Pembatalan IMB Pasal 12 (1) Surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dapat dicabut kembali apabila salah satu unsur dibawah ini terpenuhi. b. (2) Dilarang membongkar bangunan yang me mpunyai nilai sejarah baik daerah maupun nasional tanpa persetujuan terlebih dahulu dari Pemerintah Kota.

d. dan atau tidak sesuai dengan IMB yang diberikan. (4) Pemohon wajib membayar biaya perpanjangan. yang bersangkutan dapat mengajukan permohonan perpanjangan kepada Walikota. (2) Tata cara pencabutan IMB sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini akan ditetapkan lebih lanjut dalam Keputusan Walikota. Peringatan tertulis berturut – turut maksimal sampai 3 (tiga) kali. Apabila setelah tiga kali peringatan tetap belum diindahkan maka Walikota dapat memerintahkan Kepal Dinas Bangunan atau pejabat yang ditunjuk untuk melakukan pembongkaran dan atau denda sebanyak 4 (empat) kali jumlah biaya Retribusi IMB. .b. (3) Dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sebagaimana ayat (1) huruf “d” Pasal ini Pemegang IMB belum melaksanakan pekerjaan. IMB digunakan tidak sesuai dengan peruntukannya. Pembangunannya tidak sesuai / menyimpang dari rencana yang telah disyahkan. dapat dilakukan tindakan sebagai berikut : a. c. Dalam waktu 6 (enam) bulan setelah IMB diberikan masih belum juga dilakukan permulaan pekerjaan. b. dan jangka waktu setiap teguran lamanya (tujuh) hari. Bagian Kedua Bangunan Tanpa IMB Pasal 13 Terhadap bangunan yang dibangun oleh perorangan atau badan hukum tanpa IMB.

luas bangunan. . Koefisien Lantai Bangunan (KLB). dan Koefisien ketinggian bangunan. Dalam hal perhitungan ketinggian bangunan dari atas permukaan tanah tidak lebih dari 7 (tujuh) meter dianggap 1 lantai. penelitian teknis. survey lapangan. dan seterusnya.BAB V CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN Pasal 14 Tingkat penggunaan jasa Izin mendirikan Bangunan diukur berdasarkan jenis bangunan. pengendalian penggunaan bangunan dan atau kondisi bangunan serta pembinaan. koefisien lantai bangunan. pengendalian bangunan. keterangan rencana kota. perencanaan Koefisien Dasar Bangunan (KDB). rencana tata letak bangunan. BAB VI PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI Pasal 15 (1) Prinsip penetapan tarif retribusi adalah untuk kegiatan administrasi. standar harga bangunan atau rencana anggaran biaya (RAB). (2) Ketinggian ruang pada lantai dasar disesuaikan dengan fungsi ruang arsitektur bangunannya. prosentase guna bangunan.

b. Tarif Bangunan terdiri : TARIF BANGUNAN = Luas Bangunan x Standar Harga Dasar Per M2 x Koefisien Lantai Bangunan x Prosentase Guna Bangunan Maksimal 2 %. Prosentase Fungsi Bangunan Maksimal 2 % = Angka Prosentase tertinggi yang diperkenankan sebagai angka pengali dalam Komponen perhitungan retribusi IMB. 5. (2) Tindak Pidana sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini adalah Tindak Pidana Pelanggaran.000.BAB IV KETENTUAN PIDANA Pasal 14 (1) Setiap orang atau badan yang melanggar ketentuan Pasal 2 Peraturan Daerah ini diancam Pidana Kurungan selama – lamanya 3 (tiga) bulan atau denda setinggi – tingginya Rp. Retribusi Mendirikan Izin Bangunan terdiri : RIMB = Tarif Bangunan x (Biaya Pendaftaran 1 % + Biaya Pemeriksaan Gambar / Koreksi Gambar meliputi Konstruksi dan Arsitektur Sebesar 6 % + Biaya Pengawasan 10 % + Biaya Sempadan 1 % . BAB VII STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF Pasal 16 (1) Besarnya retribusi Izin Mendirikan Bangunan (IMB) ditetapkan sebagai berikut : a..000.(lima juta rupiah).

236 1.197 1.200 1.00 % 0. (5) Penetapan besarnya tarif Retribusi Bangun – bangunan yang tidak tertuang dalam Keputusan Walikota adalah Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang diajukan Pemohon.50 % ditetapkan dengan (4) Besarnya KeputusanWalikota.50 % 0.030.000 1.00 % 1.00 % 1. .265 Dan seterusnya setiap kenaikan 1 (satu) lantai ditambah sebesar 0.120 1. Campuran Bangunan Sosial Bangunan Khusus Standar Harga Dasar Bangunan KOEFISIEN 2.00 % 2.090 1. (3) Prosentase fungsi bangunan : NO 1 2 3 4 5 6 TINGKAT BANGUNAN Bangunan Usaha Komersial Bangunan Hunian / Rumah Tinggal Bangunan Umum Bangunan Pendidikan.135 1.(2) Penetapan koefisien lantai bangunan terdiri : NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 TINGKAT BANGUNAN Lantai Basement Lantai Dasar Lantai I Lantai II Lantai III Lantai IV Lantai V Lantai VI Lantai VII KOEFISIEN 1.162 1.

(9) Pendapatan sebagaimana dimaksud pada ayat (8). Pasal 18 Bangunan sosial yang tidak dikenakan retribusi. yaitu bangunan sarana Ibadah. dan bangunan Pemerintah yang dibiayai oleh anggaran pemerintah dan sejenisnya. (7) Besarnya tarif Retribusi Perpanjangan Izin Mendirikan Bangunan Berjangka (IMBB) 50 % dari Nilai retribusi Bangunan. (8) Semua pendapatan dari Retribusi disetor ke Kas Daerah. . Majlis Taklim. bangunan asrama Yatim Piatu. (5) Besarnya Tarif retribusi Balik Nama IMB 20 % dari Nilai Retribusi Bangunan. (3) Besarnya tarif retribusi untuk Izin Perubaha Tampak 10 % dari Nilai Retribusi Bangunan.Pasal 17 (1) Besarnya tarif retribusi untuk memperbaiki dan merubah struktur bangunan 50 % dari Nilai Retribusi Bangunan. (2) Besarnya tarif retribusi untuk pengganti IMB yang hilan 10 % dari Nilai Retribusi Bangunan. 5 % digunakan untuk uang perangsang dalam rangka peningkatan pelayanan yang Pengaturannya ditetapkan dengan Keputusan Walikota. (4) Besarnya retribusi Perpanjangan IMB 20 % dari Nilai Retribusi Bangunan. (6) Besarnya tarif retribusi pemutihan IMB m eliputi juga pemutihan IMB bersyarat sebesar 50 % dari Nilai Retribusi Bangunan.

BAB X SAAT RETRIBUSI Pasal 21 (1) Saat Retribusi terutang adalah pada saat diterbitkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan. isi serta tata cara penerbitan dan penyampaian SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini ditetapkan oleh Walikota. . (2) Bentuk. BAB IX MASA RETRIBUSI Pasal 20 Masa Retribusi adalah jangka waktu tertentu yang merupakan batas bagi wajib Retribusi untuk mendapatkan jasa dari Pemerintah Kota.BAB VIII WILAYAH PUNGUTAN Pasal 19 Retribusi yang terutang dipungut di wilayah Kota tempat pelayanan penyediaan fasilitas diberikan.

atau SKRDKBT.BAB XI TATA CARA PEMUNGUTAN Pasal 22 (1) Pemungutan Retribusi tidak dapat diborongkan (2) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan. BAB XIII TATA CARA PENAGIHAN Pasal 24 (1) Surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan Retribusi dikeluarkan 7 (tujuh) hari sejak jatuh tempo pembayaran. . (3) Tata cara pembayaran. (2) Retribusi yang terutang dilunasi selambat – lambatnya 15 (lima belas) hari sejak diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan SKRDKBT dan STRD. BAB XII TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 23 (1) Pembayaran Retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus. penyetoran tempat pembayaran Retribusi diatur dengan Keputusan Walikota.

(2) Keputusan Walikota diberikan atas kelebihan pembayaran Retribusi yang diajukan dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan. Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan pengembalian kepada Walikota. kelebihan pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang Retribusi tersebut.(2) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis. (4) Apabila wajib Retribusi mempunyai utang Retribusi lainnya. Walikota memberikan imbalan SKRDLB diterbitkan dalam . (5) Pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKRDLB. (3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pasal ini telah dilampaui tidak mendapat keputusan atas kelebihan pembayaran yang diajukan dianggap dikabulkan dan jangka waktu yang lama 1 (satu) bulan. BAB XIV PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN Pasal 25 (1) Atas kelebihan pembayaran Retribusi. wajib Retribusi harus melunasi Retribusi yang terutang. surat peringatan atau surat lain yang sejenis sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini dikeluarkan oleh Pejabat yang ditunjuk. (6) Apabila pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi dilakukan setelah lewat bayar jangka waktu 2 (dua) bulan. (3) Surat teguran.

bunga sebesar 2 % (dua persen) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan Retribusi. (2) Apabila kelebihan pembayaran Retribusi diperhitungkan dengan utang Retribusi lainnya. Masa retribusi. Sebagaimana dimaksud pada pasal 21 ayat (4) Peraturan Daerah ini pembayaran dilakukan dengan cara pemindah bukuan dan bukti pemindah bukuan juga berlaku sebagai bukti pembayaran. b. Alasan yang singkat dan jelas. c. Pasal 22 (1) Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi diajukan secara tertulis kepada Walikota melalui Kepala Dinas dengan sekurang – kurangnya menyebutkan : a. Nama dan alamat wajib retribusi. Besarnya kelebihan pembayaran. . (2) Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi disampaikan secara langsung atau melalui pos tercatat. (3) Bukti penerimaan oleh Pejabat Pemerintah Kota atau bukti pengiriman pos tercatat merupakan bukti saat permohonan diterima oleh Walikota. Pasal 27 (1) Pengembalian kelebihan Retribusi dilakukan dengan menerbitkan surat pembayaran kelebihan Retribusi. d.

keringanan dan pembebasan Retribusi ditetapkan oleh Walikota. BAB XVII KADALUWARSA PENAGIHAN Pasal 29 (1) Penagihan Retribusi kadaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terhutangnya Retribusi. keringanan dan pembebasan besarnya Retribusi. (3) Tata cara pengurangan.BAB XV PENGURANGAN. KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI Pasal 28 (1) Walikota dapat memberikan pengurangan. Ada pengakuan utang Retribusi dari wajib Retribusi baik langsung maupun tidak langsung. . atau b. (2) Pemberian pengurangan. (2) Kadaluwarsa penagihan Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini tertangguh apabila : a. kecuali apabila wajib Retribusi melakukan tindak pidana dibidang Retribusi. Diterbitkan surat teguran. keringanan dan pembebasan Retribusi sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini dengan memperhatikan kemampuan wajib retribusi antara lain untuk mengangsur karena bencana alam dan kerusuhan.

BAB XVII TATA CARA PENGHAPUSAN PIUTANG RETRIBUSI YANG KEDALUWARSA Pasal 26 (1) Piutang Retribusi yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk melakukan penagihan sudah kedaluwarsa dapat dihapus. BAB XVIII PEMBAYARAN BUNGA Pasal 31 Dalam hal subjek retribusi yang tidak dapat membayar tepat pada waktunya atau kurang bayar dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) setiap bulan dari retribusi yang terhutang yang tidak atau kurang bayar dan ditagih dengan menggunakan STRD atau dokumen lain yang dipersamakan. (2) Walikota menetapkan Keputusan penghapusan piutang Retribusi Daerah yang kedaluwarsa sebagaimana ayat (1) pasal ini. 10 dan 11 Peraturan Daerah ini diancam Pidana Kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda setinggi – tingginya Rp. BAB XIX KETENTUAN PIDANA Pasal 32 (1) Setiap orang atau Badan yang melakukan pelanggaran atau kelalaian terhadap ketentuan Pasal 5.000. 5.000.(lima juta rupiah). ..

Memeriksa buku – buku. b. mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana pelanggaran terhadap Peraturan Daerah. . (2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini adalah : a. Meminta keterangan dan barang bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana pelanggaran terhadap Peraturan Daerah. d. mencari. Menerima. BAB XX PENYIDIKAN Pasal 33 (1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Kota diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana dibidang Retribusi Daerah. (3) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) pasal ini adalah pelanggaran. catatan – catqatan dan dokumen – dokumen serta melakukan penyitaan terhadap barang bukti tersebut. c. mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan b erkenaan dengan tindak pidana dibidang Retribusi Daerah dan agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas.(2) Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan keuangan Daerah diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah Retribusi yang terutang. Meneliti.

Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana pelanggaran terahdap Peraturan Daerah. (3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang – undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. serta melakukan penyitaan terhadap barang bukti tersebut. g. Menyuruh berhenti. j. pencatatan dan dokumen – dokumen lain. h. Memotret seseorang atau yang berkaitan dengan tindak pidana pelanggaran terhadap Peraturan Daerah. k. i. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi. Menghentikan penyidikan. f. .e. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak Pidana dibidang Peraturan Daerah menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf “e”. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan barang bukti pembukuan.

072. 010. memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Depok. DEDI SETIADI NIP. H. Ditetapkan di : Depok Pada Tanggal : 08 Pebruari 2001 WALIKOTA DEPOK.BAB XXI PENUTUP Pasal 34 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. H. BADRUL KAMAL Diundangkan di : Depok Pada Tanggal : 09 Pebruari 2001 SEKRETARIS DAERAH KOTA DEPOK ASISTEN TATA PRAJA Drs.804 LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK TAHUN 2000 NOMOR 33 . Agar setiap orang dapat mengetahuinya.

Hasil Perusahaan Milik Daerah dan hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan dan 4. Sumber pendapatan tersebut diharapkan mampu menjadi sumber pembiayaan penyelenggaraan Pemerintah dan pembangunan Daerah serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Lain – lain Pendapatan Daerah yang sah. b. Pinjaman Daerah. PENJELASAN UMUM Sesuai dengan pasal 79 Undang – undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. maka seluruh ketentuan yang . Berdasarkan Undang – undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Lain – lain pendapatan Asli Daerah yang sah. dan d. yaitu : 1. Hasil Pajak Daerah. Pendapatan Asli Daerah. Hasil Retribusi Daerah 3. 2. Dana Perimbangan c. sumber pendapatan Daerah terdiri dari : a. Oleh karena itu diperlukan ketentuan yang dapat memberi pedoman dan arahan bagi Pemerintah Kota Depok dalam hal pemungutan Retribusi Daerah.PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 2 TAHUN 2001 TENTANG RETRIBUSI IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN I.

Pasal 1 (Nomor 17 s. . Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1997 tentang Retribusi Daerah yang merupakan peraturan pelaksana dari Undang – undang Nomor 18 Tahun 1997.d. besi atau komposit dan lantainya menggunakan ubin datau papan. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL Pasal 1 ( Nomor 1 s. beton. II.d.mengatur tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Kota Depok perlu mengacu kepada Undang – undang dimaksud. 18) Cukup Jelas Pasal 1 (Nomor 20. Bangunan menjadi salah satu Retribusi Retribusi Izin Pendirian Daerah dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat pemohon izin mendirikan bangunan yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. beton atau besi ataupun dari kayu – kayu persegi yang diisi dengan batu. Pemberian Izin berkaitan dengan : Adanya rencana revisi Tata Ruang. batubata. Rencana Peruntukan Tata Ruang. Huruf a ) Bangunan Permanen adalah bangunan yang menggunakan pondasi batukali / beton yang konstruksi dukungannya dan atau dindingnya dibuat seluruhnya dari batako. 15 ) Cukup Jelas Pasal 1 ( Nomor 6 ) Yang dimaksud dengan Izin Mendirikan Bangunan Berjangka adalah Izin yang diberikan dengan dan atau dalam jangka waktu tertentu.

Dengan sangat selektif dalam proses pemungutan Retribusi. kupon. Huruf b ) Bangunan Semi Permenen adalah bangunan yang dibuat dari bahan sederhana dan tidak tanah lama.d. 21 Cukup Jelas Pasal 22 ayat (1) Yang dimaksud dengan tidak dapat diborongkan adalah bahwa seluruh proses kegiatan pemungutan Retribusi tidak dapat diserahkan kepada pihak ketiga.Pasal 1 (Nomor 20. Pasal 2 s. kapan utang Retribusi tersebut tidak dapat ditagih lagi. Pasal 23 s/d 28 Cukup Jelas Pasal 29 ayat (1) Saat kadaluwarsa penagihan Retribusi ini perlu ditetapkan untuk memberikan kepastian hukum. . Pemerintah Kota dapat mengajak bekerjasama Badan – badan tertentu yang karena profesionalismenya layak dipercaya untuk ikut melaksanakan sebagian tugas pemungutan jenis retribusi secara lebih efisien. Kegiatan pemungutan Retribusi yang tidak dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga adalah kegiatan perhitungan besarnya Retribusi yang terutang. Pasal 22 ayat (2) Yang dimaksud dengan dokumen lain yang dipersamakan antara lain berupa karcis. Namun dalam pengertian ini bukan berarti bahwa Pemerintah Kota Depok tidak boleh bekerja sama dengan pihak ketiga. pengawasan penyetoran Retribusi dan penagihan retribusi. kartu langganan.

Pasal 30 s. Pasal 32 ayat (3) Cukup Jelas . Wajib Retribusi mengajukan permohonan keberatan. Pasal 29 ayat (2) huruf b Yang dimaksud dengan pengakuan utang Retribusi secara langsung adalah wajib Retribusi dengan kesadarannya menyatakan masih mempunyai utang Retribusi dan belum melunasinya kepada Pemerintah Kota. Yang dimaksud dengan pengakuan utang Retribusi secara tidak langsung adalah wajib Retribusi tidak secara nyata – nyata langsung menyatakan bahwa ia mengakui mempunyai utang Retribusi kepada Pemerintah Kota.Pasal 29 ayat (2) huruf a Dalam hal diterbitkan Surat Teguran Kadaluwarsa Penagihan dihitung sejak tanggal penyampaian Surat Teguran Tersebut.d. 31 Cukup Jelas Pasal 32 ayat (1) Cukup Jelas Pasal 32 ayat (2) Pengajuan tuntutan ke pengadilan pidana terhadap wajib Retribusi dilakukan dengan penuh kearifan serta memperhatikan kemampuan wajib Retribusi dan besarnya Retribusi yang terutang yang mengakibatkan kerugian keuangan Daerah. Contoh : • • Wajib Retribusi mengajukan permohonan angsuran / penundaan pembayaran.

Pasal 33 s.d 34 Cukup Jelas TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK TAHUN 2001 NOMOR 33 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->