Anda di halaman 1dari 20

1

JERRUCA JULCARIS PADA KULIT


Shinta Dwi Marlina, S.Ked
Pembimbing: Dr. dr. Yulia Farida Yahya, SpKK (K)
Bagian / Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwiiaya
Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad Hoesin

Pendahuluan
Jerruca vulgaris sering dikenal sebagai common wart adalah proliIerasi iinak
dari kulit dan mukosa yang disebabkan inIeksi human papillomavirus (HPV). Kutil
tidak bersiIat kanker, namun memiliki kemungkinan menular dari orang ke orang,
dan dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lain pada orang yang sama.
1
Insidensi
common wart di Eropa diperkirakan 7-10, dan di Amerika sebanyak 1,
2
sedangkan dari usia pasien lebih sering teriadi pada anak dan dewasa muda dengan
insidensi sebanyak 10
3,4
terutama antara usia 5 - 20 tahun dan hanya 15 teriadi
setelah usia 35 tahun.
5


Pertumbuhan iinak ini disebabkan human papiloma virus, ini teriadi di
berbagai permukaan kulit yang dilapisi epitel.
6
HPV-1, -2, -4, -27, -57, dan -63
menyebabkan common wart.
1,3,6,7
Jerucca vulgaris dengan klinis lesi hiperkeratotik,
eksopitik dan berbentuk kubah, papula atau nodul terutama terletak pada iari, tangan,
lutut, siku atau lainnya pada situs trauma. Pemeriksaan histopatologi menuniukkan
adanya hiperplasia dari semua lapisan epidermis. Perubahan seluler yang disebut
koilocvtosis, merupakan karakteristik inIeksi HPV.
1,8
Penatalaksanaan verucca vulgaris terdiri dari penatalaksanaan umum dan
khusus. Penatalaksanaan umum yaitu menielaskan kepada pasien mengenai penyakit
pasien dan pengelolaannya. Penatalaksanaan khusus meliputi tindakan non bedah dan
tindakan bedah. Terapi non bedah dapat berupa pengolesan asam salisilat,
Iormaldehida, atau iritan kulit lain dapat merangsang reaksi imun terhadap kutil.
Nitrogen cair, bedah beku, atau laser dapat digunakan untuk mengangkat kutil.
Common wart tunggal dapat bertahan dan tidak berubah selama berbulan-bulan
2

hingga tahun, bahkan besar mungkin berkembang dengan cepat sesuai dengan
interval waktu.
3,8,9
Tingkat penyembuhan secara spontan dilaporkan dalam anak-anak
23 pada 2 bulan, 30 di 3 bulan, 65 sampai 78 pada 2 tahun, dan 90 selama 5
tahun.
3,8,9

ReIerat ini akan membahas deIinisi verucca vulgaris, epidemiologi,
etiopatogenesis, gambaran klinis, diagnosis banding, pemeriksaan penuniang
(histopatologi), penatalaksanaan, dan prognosis.

Definisi
Jerruca vulgaris adalah proliIerasi iinak dari kulit dan mukosa yang
disebabkan oleh inIeksi human papillomavirus (HPV). Kutil tidak bersiIat kanker,
namun sedikit dapat menular dari orang ke orang, dan dari bagian ke bagian tubuh
lain pada orang yang sama. Mereka dapat muncul di mana saia pada kulit, tetapi
seringkali muncul pada iari, tangan dan lengan.
1,3,8
Common wart merupakan masalah
penting yang meniadi perhatian dan rasa Irustrasi pada sebagian pasien dan dokter
seiak awal zaman Yunani dan Romawi.
9
Kutil ini sangat mempengaruhi kualitas
hidup pasien dengan menyebabkan malu, takut penilaian negatiI oleh orang lain dan
Irustrasi disebabkan oleh kutil yang menetap dan kekambuhan yang teriadi.
1,3,8,9

Untuk ketidaknyamanan tingkat sedang sampai ekstrim dilaporkan dalam 51,7 dari
pasien, dan kegiatan sosial yang dapat terpengaruh dalam tingkat sedang sampai
ekstrim (38,8) .
10

5idemiologi
Mayoritas pasien dengan verruca vulgaris berusia antara anak sampai dengan
dewasa muda insidensi sebanyak 10
1,4
terutama antara usia 5 - 20 tahun dan hanya
15 teriadi setelah usia 35 tahun.
3
Pada comparative studv retrospektiI tahun 1982
dari 35 pasien common wart, umur pasien antara 18-32 tahun dan 61 diantaranya
adalah laki-laki.
11
3

Insidensi common wart di Eropa diperkirakan 7-10, dan di Amerika
sebanyak 1,
2
Sedangkan dari usia, pasien lebih sering teriadi pada anak dan dewasa
muda dengan insidensi sebanyak 10
1,4
Common wart merupakan penyakit inIeksi
kulit terbanyak kedua pada anak usia sekolah di Taiwan, common wart menempati
urutan kedua (5,1).
12
Insiden meningkat selama usia sekolah untuk mencapai puncaknya pada masa
remaia dan dewasa awal.
8,13
Dalam berbagai studi, telah diperkirakan bahwa 3-20
dari anak usia sekolah memiliki kutil. Dari 1000 anak di bawah 16 tahun dengan kutil
diruiuk ke klinik rumah sakit di Cambridge, Inggris pada 1950 tahun, 70 memiliki
common wart, plantar wart 24, 3,5 plane wart, 2,0 IiliIorm wart dan 0,5
anogenital wart.
14
Faktor yang mempengaruhi peningkatan insidensi ini belum
diketahui dengan ielas.
8
Di negara-negara dengan layanan medis yang sangat maiu, tingkat ruiukan
kutil ke klinik dermatologi telah sangat meningkat dalam 50 tahun terakhir. Namun,
untuk common wart, belum ada data yang cukup untuk menilai apakah ini
mencerminkan peningkatan seiati dalam angka keiadian atau peningkatan permintaan
untuk pengobatan saia.
3

9io5a9ogenesis
Etiologi
Kutil adalah pertumbuhan iinak yang disebabkan human papiloma virus
(HPV), ini teriadi di berbagai permukaan kulit yang dilapisi epitel.
6
Semua genom
HPV tersusun dari 8000 pasang basa nukleotida, yang ditampilkan sebagai suatu sekuens
linear tetapi sebenarnya merupakan lingkaran tertutup dari DNA untai ganda. Kotak-kotak
tersebut menggambarkan gen-gen virus, masing-masingnya mengkode suatu protein. Regio
regulasinya ialah segmen DNA yang tidak mengkode protein, tetapi berpartisipasi dalam
meregulasi ekspresi gen virus dan replikasi dari DNA virus.
1
4


Gambar 1. uman Papilomavirus
9,15

Lecet pada kulit dan inIeksi diakibatkan oleh maserasi epitel yang paling
sering digunakan sebagai saluran untuk HPV ke basal keratinosit yang merupakan
target utama untuk HPV inIection.
16,17
Berbagai strain dan varian HPV yang berbeda
telah diidentiIikasi berdasarkan studi DNA dan serologis untuk mendeteksi ienis
antibodi spesiIik terhadap kapsid antigen HPV.
HPV-1, -2, -4, -27, -57, dan -63 menyebabkan common wart.
1,3,6,7
Aktivasi
virus mungkin tergantung pada kekebalan imunitas dan respon dari individual yang
terinIeksi. Proses serokonversi setelah inIeksi alami relatiI lambat dan tergantung
pada viral load atau inIeksi yang menetap.
18
Kambuh setelah kesembuhan klinis
sering disebabkan virus laten dibandingkan reinIection.
9
Keberadaan DNA HPV pada
bentuk subklinis atau laten dapat dideteksi oleh polvmerase chain reaction dan
hvbridization.
9


Faktor Resiko
Tukang pemotong daging (tukang iagal), tukang ikan, dan pekeria potong
hewan lain memiliki insiden tinggi common wart dari tangan. Prevalensi mencapai
50 pada mereka yang sering kontak langsung dengan daging. Kutil pada mereka
disebabkan HPV-2 dan -4 dan sampai 27 Band wart pada butchen karena HPV-7.
HPV-7 sangat iarang ditemukan kutil di masyarakat biasa (0,3), dan pada butchen
kutil hanya ditemukan pada tangan mana yang ada kontak langsung dengan daging.
Sumber HPV-7 diketahui, tetapi HPV-7 bukan bovine papilloma virus dan tidak
5

berasal dari menyembelih hewan. HPV-57 telah dilaporkan menyebabkan distroIi
dari semua 10 kuku iari dengan ditandai dengan subungual hiperkeratosis dan
hancurnya kuku tanpa disertai periungual.
1,3,19


Penyebaran Penyakit
Tidak ada inIormasi yang dapat dipercaya tentang inIektivitas dari common
wart dan plantar wart, tetapi pengalaman secara substansial tidak mendukung. Risiko
penularan dari ibu ke anak dengan perkembangan penyakit selaniutnya pada anak
telah diperkirakan antara 1 dalam 80 sampai 1 dalam 1500.
8
Cara transmisi kutil
menyebar dengan kontak langsung atau tidak langsung. Penurunan Iungsi penghalang
epitel, oleh trauma (termasuk lecet ringan), maserasi atau keduanya, sebagai
predisposisi untuk inokulasi virus, dan umumnya diasumsikan sebagai cara masuknya
inIeksi paling tidak pada lapisan keratin kulit
20
, seperti dalam contoh berikut;
1. Common wart di tangan mungkin menyebar luas bulat di kuku pada mereka yang
menggigit kuku atau kulit periungual, lebih pada anak yang sering mengisap iari
dan dapat ke bibir dan kulit di sekitarnya dalam satu kasus.
2. Tukang daging, tukang ikan dan unggas memiliki insiden tinggi kutil pada
tangan, dikaitkan dengan cedera kulit dan kontak lama dengan daging basah dan
air.
8,21


Patogenensis
InIeksi HPV teriadi melalui inokulasi virus pada epidermis yang viabel
melalui deIek pada epitel. Maserasi kulit mungkin merupakan Iaktor predisposisi
yang penting, seperti yang dituniukkan dengan meningkatnya insidens kutil plantar
pada perenang yang sering menggunakan kolam renang umum. Meskipun reseptor
seluler untuk HPV belum diidentiIikasi, permukaan sel heparan sulIat, yang dikode
oleh proteoglikan dan berikatan dengan partikel HPV dengan aIinitas tinggi,
dibutuhkan sebagai ialan masuknya. Untuk mendapat inIeksi yang persisten, mungkin
penting untuk memasuki sel basal epidermis yang iuga sel punca (sel stem) atau
diubah oleh virus meniadi sesuatu dengan properti (kemampuan/ karakter) seperti sel
6

punca. Dipercayai bahwa single copv atau sebagian besar sedikit copv genom virus
dipertahankan sebagai suatu plasmid ekstrakromosom dalam sel basal epitel yang
terinIeksi. Ketika sel-sel ini membelah, genom virus iuga bereplikasi dan berpartisi
meniadi tiap sel progeni, kemudian ditransportasikan dalam sel yang bereplikasi saat
mereka bermigrasi ke atas untuk membentuk lapisan yang berdiIIerensiasi.
1
Setelah eksperimen inokulasi HPV, veruka biasanya muncul dalam 2 sampai
9 bulan. Observasi ini mengimplikasikan bahwa periode inIeksi subklinis yang relatiI
paniang dan dapat merupakan sumber yang tidak terlihat dari virus inIeksius.
Permukaan yang kasar dari kutil dapat merusak kulit yang berdekatan dan
memungkinkan inokulasi virus ke lokasi yang berdekatan, dengan perkembangan
kutil yang baru dalam periode minggu sampai bulan. Tiap lesi yang baru diakibatkan
paparan insial atau penyebaran dari kutil yang lain. Tidak ada bukti yang meyakinkan
untuk disseminasi melalui darah. Autoinokulasi virus pada kulit yang berlawanan
seringkali terlihat pada iari-iari yang berdekatan dan di regio anogenital.
1
Ekspresi virus (transkripsi) sangat rendah sampai lapisan Malpigi bagian atas,
persis sebelum lapisan granulosum, dimana sintesis DNA virus menghasilkan ratusan
kopi genom virus tiap sel. Protein kapsid virus disintesis meniadi virion di sel
nukleus. DNA virus yang baru disintesis ini dikemas meniadi virion dalam nukleus
dari sel-sel Malpigi yang berdiIIerensiasi ini. Protein virus yang dikenal dengan E1-
E4 (produk RNA yang membelah dari gen-gen E1 dan E4) dapat menginduksi
teriadinya kolaps dari iaring-iaring Iilamen keratin sitoplasma ini. Hal ini
dipostulasikan untuk memIasilitasi pelepasan virion dari sitoskeleton yang saling
berikatan silang dari keratinosit sehingga virus dapat diinokulasikan ke lokasi lain
atau berdeskuamasi ke lingkungan.
1
HPV tidak bertunas dari nukleus atau membran plasma, seperti halnya banyak
virus seperti virus herpes simpleks atau human immnodeficiencv virus (HIV). Oleh
karena itu, mereka tidak memiliki selubung lipoprotein yang menyebabkan
kerentanan terhadap inaktivasi yang cepat oleh kondisi lingkungan seperti
pembekuan, pemanasan, atau dehidrasi dengan alkohol. Berlainan dengan itu, virion
7

HPV resisten terhadap desikasi dan deterien nonoksinol-9, meskipun paparan virion
dengan Iormalin, deterien yang kuat seperti sodium dodesil sulIat, atau temperatur
tinggi berkepaniangan mengurangi inIektivitasnya. HPV dapat tetap inIeksius selama
bertahun-tahun ketika disimpan di gliserol dalam temperatur ruangan. Memang,
bentuk L1 dan L2 membentuk kapsid protein yang sangat stabil dan terbungkus
rapat.
1
Karena replikasi virus teriadi pada tingkatan yang lebih tinggi dari epitel dan
yang terdiri dari keratinosit yang tidak bereplikasi, HPV harus memblok diIIerensiasi
akhir dan menstimulasi pembelahan sel untuk memungkinkan enzim-enzim dan
koIaktor yang penting untuk replikasi DNA virus.
1


Gambar 2. Mekanisme keratinosit dalam mengeluarkan sitokin sekunder
setelah distimulasi oleh IFN-v dan TNF-u
15


Gambaran Klinis
Jerucca vulgaris terutama terdapat pada anak, tetapi iuga terdapat pada
dewasa dan orang tua. Tempat predileksinya terutama di ekstremitas bagian ekstensor
8

seperti iari, tangan, lutut, siku atau lainnya pada situs trauma. Walaupun demikian
penyebaran dapat ke bagian yang lain dari tubuh termasuk mukosa mulut dan hidung.
Lesi dimulai dari papul kecil yang kemudian membesar, dan meniadi bentuk
verrucous kemudian dengan diameter beberapa milimeter sampai sentimeter. Kutil ini
berbentuk bulat berwarna abu-abu, besarnya lentikular atau kalau berkonIluensi
berbentuk plakat, permukaan kasar (verukosa). Dengan goresan dapat timbul
autoinokulasi sepaniang goresan (Ienomena kbner). Common wart sebagian besar
asimtomatik dan memiliki maniIestasi klinis yang spesiIik.
3,9

Ada beberapa ienis verucca vulgaris yang memiliki karakteristik klinis
diagnostik nama sesuai dengan Iitur klinis, ienis virus dan situs yang terkena.
O Plantar wart
Veruka vulgaris teriadi pada telapak kaki. Sebuah bentuk lesi keratotik tanpa
elevasi yang berbeda. Menyerupai tylosis dan clavus, tetapi dapat dibedakan
dengan cara dikorek. Jika permukaan Scraping dari lesi menyebabkan keratotik
petechiae, diagnosis kutil plantar
O vrmecia
Kecil, bentuk kubah berbentuk nodul pada telapak kaki. Hal ini disebabkan
oleh HPV-1 inIeksi dan mungkin menyerupai moluskum kontagiosum. Hal ini
iuga disebut kutil palmoplantar yang dalam. Memiliki penampilan berwarna
merah, dan seperti kawah.
O Pigmented wart
Hal ini disebabkan oleh inIeksi HPV-4 atau HPV-65, atau HPV- 60 dalam kasus
yang iarang. Ini memiliki Iitur klinis veruka vulgaris dan pigmentasi kehitaman,
iuga disebut kutil hitam.
O Punctate wart
Hal ini disebabkan oleh HPV-63 inIeksi. Beberapa, belang-belang, putih lesi
keratotik 2 mm sampai 5 mm teriadi pada tangan dan telapak kaki.

9

O iliform wart
Memiliki penampilan paniang, penoniolan kecil, tipis dengan diameter beberapa
milimeter teriadi pada daerah, kepala waiah atau leher.
1

Gambar 3. Common wart, (a) digiti manus, (b) hand. (a, didapatkan dari Andrew`s Diseases oI The
Skin Clinical Dermatology, b. didapatka dari Addenbrooke`s Hospital, Cambridge, UK





Gambar 4. Jerruca vulgaris: (a) pada daerah yang sering trauma, (b)doughtnut wart
3

A B
A B
10


Gambar 5. Plantar wart
8

Gambar 6. iliform wart on forearm
8

Pemeriksaan Penunjang
Histopatologi
Jerruca terdiri dari epidermis yang akantotik dengan papillomatosis,
hiperkeratosis, dan parakeratosis. Rete ridges yang memaniang seringkali tertuiu
langsung pada pusat kutil. Pembuluh darah kapiler dermis ialah prominen dan
mungkin mengalami trombosis. Sel-sel mononuklear mungkin ada. Keratinosit besar
dengan nukleus piknosis eksentrik dikelilingi oleh halo perinukleus (sel koilositotik
atau koilosit) merupakan karakteristik dari papilloma yang dikaitkan dengan HPV.
Koilosit yang divisualisasikan dengan pengecatan Papanicolaou (Pap)
menggambarkan tanda teriadinya inIeksi HPV. Sel yang terinIeksi PV mungkin
memiliki granul-granul eosinoIilik kecil dan kelompok padat granul-granul
11

keratohialin basoIilik. Granul-granul tersebut dapat terdiri dari protein HPV E4 (E1-
E4) dan tidak menuniukkan banyaknya partikel-partikel virus. Kutil yang datar
kurang memiliki akantosis dan hiperkeratosis dan tidak memiliki parakeratosis atau
papillomastosis. Sel koilositotik biasanya sangat banyak, menuniukkan sumber lesi
virus.
1,3,8


Gambar 6. Gambaran histopatologi verruca vulgaris.
Proses ini adalah salah satu contoh hyperplasia yang ekstensiI,
dan sel hiperplastik mengandung intranuklear dan intracvtoplasmic inclusion bodv.
1

Diagnosis
Gambaran klinis dan riwayat penyakit, papul yang lama kelamaan membesar
biasanya mengarahkan pada diagnosis kutil virus. Pemeriksaan histologi dapat
digunakan untuk mengkonIirmasikan diagnosis tersebut. Antibodi untuk detergent-
disrupted PJ particles yang terpapar dengan antigen L1 dan L2 terdapat pada
sebagian besar HPV. Deteksi imunohistokimia dapat digunakan untuk mendeteksi
kapsid protein ini pada materi-materi klinis, termasuk iaringan yang diIiksasi dengan
Iormalin, akan tetapi tidak sensitiI.
1

Diagnosis Banding
Kutil dapat diidentiIikasi dari adanya perubahan pembuluh darah kapiler yang
biasa meniadi memiliki sumber vaskular sendiri. Ketika kutil sembuh, lapisan kulit
yang normal akan kembali.
16,22
Dilatasi kapiler di kutil akan berdarah setelah
12

dilakukan pencukuran pada permukaan yang hiperkeratotik.
16,17
Adanya kapiler ini
membantu untuk membedakan kutil dari corns atau kalus.
16,23
HPV dapat dianggap
sebagai keratosis seboroik, kalus, corn, lichen planus, nevus epidermal, moluskum
kontagiosum atau carcinoma.
16,23
Sebuah achrocordon yang teriritasi mungkin
menyerupai kutil. Ekstremitas mungkin menuniukkan acrokeratosis verruciformis
atau epidermodvsplasia verruciformis dalam bentuk papula veruka.
16
Ada beberapa ienis kutil memberikan karakteristik klinis diagnostik yang
khas. Kutil dapat dibedakan dari lokasi klinis dan morIologi.
1
Nama kutil sesuai
dengan Iitur klinis, ienis virus dan situs yang terkena. Untuk kutil yang berada di
tangan dan kaki yang sering merupakan maniIestasi dari common wart dapat
memiliki diagnosa banding seperti pada tabel 1.
Tabel 1. Diagnosa Banding Lesi Kutil pada Tangan dan Kaki
1
LOKASI LSI SOLIT# LSI MULTIPL
Tela5ak
9angan dan
9ela5ak
kaki
Pikirkan:
O Verruca vulgaris
O Callus, corn
O Epidermal inclusion cyst
O Pyogenic granuloma
O Milkers nodeles (palms)


Singkirkan:
O Amelanotic acrolentiginous
melanoma
O Carcinoma cuniculatum

Pikirkan:
O Arsenical keratosis
O Verruca vulgaris
O Palmoplantar keratoderma
O Psoriasis, reactive arthtritis
O Pits in basal cell nevus
syndrome

Singkirkan:
O Secondary syphilis
Punggung
9angan dan
5unggung
kaki
Perhatikan:
O Verruca vulgaris
O Periungual warts
O Actinic keratosis

Singkirkan:
O Squamous cell carcinoma
O Keratoacanthoma
O Tuberculosis verrucosa cutis
O Fish tank granuloma
Perhatikan:
O Verruca vulgaris
O Verrucae planae
O Actinic keratosis
O Acrokeratosis verruciIormis
O Epidermyolitic hyperkeratosis
O Stucco keratosis
13

Pena9alaksanaan
Umum
Menielaskan kepada pasien bahwa penyakit pasien bukan penyakit keturunan,
dan tidak dicetuskan oleh makanan tertentu. Penyakit ini timbul akibat penyakit
inIeksi menular yang dapat timbul berulang.

Khusus
Common wart seringkali mengalami remisi spontan, sehingga sering disebut
kutil biasa atau doughnut wart. Terapi harus seringan mungkin, dan terapi berpotensi
iaringan parut harus dihindari. Pengobatan yang paling umum digunakan untuk kutil
yakni menghancurkan daerah epidermis yang terinIeksi dengan virus. Pengobatan
tersebut dapat melibatkan penggunaan topikal atau pendekatan bedah. Lain terapi
bertuiuan memodiIikasi pertumbuhan epidermis atau merangsang respon imun
memerlukan baik topikal atau pendekatan sistemik.
8
Terapi non bedah, seperti: asam salisilat, glutaraldehida, Iormalin, 5-
fluorourasil topikal, caustic. retinoic acid. terapi photodvnamic. merupakan pilihan
alternatiI untuk terapi non bedah pada verruca vulgaris.
8
Asam salisilat. EIek keratolitik asam salisilat membantu untuk mengurangi
ketebalan kutil dan dapat merangsang inIlamasi respon. Sebuah persiapan yang
mengandung 12-26 salisilat asam, mungkin dengan tambahan asam laktat, dalam
collodion dasar atau akrilat, pengobatannya pilihan pertama untuk kutil umum dan
plantar. Dalam studi banding penggunaan harian selama 3 bulan mencapai angka
kesembuhan dari 67 untuk kutil tangan, 84 untuk kutil plantar sederhana dan 45
untuk kutil mosaik plantar, membandingkan baik dengan metode lain. Penghapusan
permukaan keratin dan sisa-sisa dari aplikasi sebelumnya dengan menggunakan batu
apung batu, amril papan adalah awal membantu dalam semua kutil dan penting dalam
kutil plantar hiperkeratotik. Namun, abrasi overenthusiastic merupakan kesalahan
yang mungkin meningkatkan penyebaran virus dengan inokulasi ke dalam kulit yang
berdekatan. Setelah kutil kering, deposit keputihan menetap. Penetrasi ke tebal
14

keratin, seperti ditingkatkan oleh oklusi plester perekat, yang menyebabkan maserasi
lapisan keratin dan penurunan Iungsi penghalang. Oklusi dapat meningkatkan tingkat
respon untuk pengobatan dengan asam salisilat. Namun dapat sangat iritasi pada kulit
waiah, meskipun sangat berhati-hati aplikasi atau penggunaan Iormulasi lemah,
seperti asam salisilat 4 di collodion Ileksibel, mungkin bisa berhasil.
1,2,5,8,9

Plester perekat yang mengandung asam salisilat 40 berguna untuk kutil
plantar. Hal ini diterapkan setiap hari, dipotong meniadi bentuk kutil atau kelompok
kutil dan diadakan di tempat oleh perekat polos plester. Penggunaan teratur asam
salisilat pada kutil mungkin perlu dilaniutkan selama minimal 3 bulan.
1,2,5,8,9

Glutaraldehida. SiIat virucidal dari glutaraldehida dapat digunakan dalam
pengobatan kutil. Sediaan dapat mengandung glutaraldehid 10 dalam etanol berair
atau dalam Iormulasi gel. Fakta bahwa glutaraldehida mengering ke dalam kulit tanpa
permukaan deposito (yang mungkin terhapus) berguna aplikasi untuk kutil pada kaki.
Sebuah sediaan Glutaraldehida 20 dalam larutan air menghasilkan 72 angka
kesembuhan untuk berbagai kutil kulit yang berbeda dalam 25 individu. Dermatitis
kontak alergi untuk glutaraldehida yang teriadi sesekali dan nekrosis kulit adalah
komplikasi yang iarang teriadi.
1,2,5,8,9

Formalin. Membasahi atau kompres dari 2-3 Iormalin dalam air (Formalin
sekitar 37 Iormaldehid dalam air) dapat eIektiI untuk kutil plantar, tetapi memakan
waktu dan sulit untuk membatasi untuk kulit yang terkena. Daerah yang terkena
dampak harus direndam dalam larutan untuk harian 15-20 menit, dengan
menggunakan soIt paraIin sebagai aplikasi penghalang untuk melindungi lebih
sensitiI kulit. Formalin ini virucidal tetapi iuga mengering dan mengeras
kulit, memIasilitasi pengupasan.
1,2,5,8,9

5-fluorourasil topikal. Larutan 5 dari 5-fluorouracil (5-FU) hati-hati
diterapkan setiap hari selama sebulan di bawah oklusi adalah lebih eIektiI
dibandingkan plasebo, tetapi iika digunakan periunguallv dapat menyebabkan
onycholysis. Sebuah cat yang mengandung 5 5-FU dan Asam salisilat 10, 50
membersihkan dari kutil tangan pada pekeria unggas, dibandingkan dengan 4
15

dengan asam salisilat sendiri. Salep yang mengandung 5 5-FU eIektiI untuk
verruca plana, meskipun nilainya dibatasi oleh tinggi keiadian hiperpigmentasi serta
eritema dan erosi. Formulasi baru dari 5-FU segera dapat membuat pengeluran
senyawa secara lambat dalam kutil dapat dalam bentuk inieksi intralesi.
1,2,5,8,9

Caustics. onochloracetic, asam trichloracetic, perak nitrat dan bahan kimia
lainnya yang sangat iritan dapat digunakan dengan eIek tetapi dapat menyebabkan
reaksi yang menyakitkan.
1,2,5,8,9

Retinoic acid. Hal ini dapat diterapkan secara topikal pada verruca plana,
meskipun hasil terbaik tidak diklaim untuk lebih tinggi dari biasanya
dan menyebabkan iritasi umum. Dari 25 anak dengan verruca plana diperlakukan
dengan krim tretinoin 0,05, 85 membersihkan kutil mereka dibandingkan dengan
32 dari kontrol.
1,2,5,8,9

Imiquimod. Immunomodulation topikal adalah menianiikan baru pengobatan
untuk kutil. Imiquimod sebagai krim 5 saat ini digunakan tiga kali seminggu selama
16 minggu, tingkat clearance 65 dengan tingkat kekambuhan 20. Kutil kulit iuga
menanggapi pengobatan Imiquimod, meskipun hanya sedikit penetrasi melalui
permukaan keratin sehingga mungkin memerlukan kombinasi dengan oklusi, asam
salisilat atau lebih sering aplikasi untuk mencapai hasil yang bermanIaat.
1,8
Simetidin. Pada orang dewasa, penggunaan simetidin dalam pengobatan kutil
telah memberikan hasil yang bertentangan. Dalam sebuah studi terbuka 18 pasien
yang diobati dengan 30-40 mg/kg setiap hari selama 3 bulan, dua pertiga
menuniukkan resolusi lengkap dari mereka kutil tanpa kekambuhan setelah 1 tahun.
Namun, dalam plasebo-terkontrol dari 54 pasien, tidak ada manIaat yang signiIikan
terapi simetidin diamati, dengan sekitar sepertiga merespon baik pengobatan dan
kelompok plasebo. Simetidin iuga telah digunakan pada anak dengan dosis kecil
untuk mengobati common wart setelah pengobatan gagal dengan sensitisasi kontak
menuniukkan respon berpotensi.
1,8
16

Interferon. InterIeron berbeda (IFNs) telah dikelola oleh rute yang berbeda
untuk pasien dengan reIrakter kutil di berbagai situs. Studi-studi ini iarang
dibandingkan secara langsung dan penggunaan IFNs di kutil masih eksperimental.
1,8

Intralesional bleomvcin. Dosis ini agen sitotoksik diukur dalam unit atau
miligram; 1 mg mengandung 1500-2000 unit. Protokol bervariasi, tetapi biasanya
bleomycin sulIat 0,25-1 mg/mL disuntikkan sampai tiga kali untuk maksimum
dosis total 4 mg; atau 1000 unit/mL sampai dua suntikan dan total dosis maksimum
2000 unit. Seorang yang lebih rendah konsentrasi 500 unit/mL tampak eIektiI.
Suntikan ke dalam kutil itu sendiri, dikonIirmasi oleh mengamati
blanching dalam lesi, volum per lesi disuntikkan berkisar antara 0,2 dan 1,0 mL.
Suntikan sangat menyakitkan dan anestesi lokal sebelumnya atau bersamaan harus
dipertimbangkan, terutama untuk situs-situs sensitiI seperti iari-iari dan telapak.
Sebuah eschar berdarah berkembang 2-3 minggu kemudian; itu dikupas ke bawah
iika belum terlepas secara spontan. Studi ini melaporkan tingkat obat untuk kutil
sebelumnya reIraktori kutil antara 30-100. Komplikasi lokal suntikan kuku
termasuk kehilangan kuku atau distropi periungual, seperti pada Fenomena Raynaud.
Risiko penyerapan sistemik merupakan kontraindikasi untuk bleomycin intralesi
dalam kehamilan.
1,8
Terapi photodvnamic. Sistemik atau topikal aminolaevulinic asam dapat
diambil oleh sel-sel, dimetabolisme untuk protoporfirin dan kemudian photoactivated
untuk menghasilkan merusak eIek pada sel. Penggunaan metode ini untuk mengobati
common wart seiauh ini terbatas namun telah menuniukkan beberapa eIek yang
berguna di tangan dan kaki.
1,2,5,8,9

Terapi bedah. Eksisi biasanya harus dihindari karena iaringan parut tidak
dapat dihindarkan dan kambuh pada kutil di bekas luka sering teriadi.
1,2,5,8,9

Kauter/ elektrokoagulasi, biasanya dalam kombinasi, dapat digunakan untuk
kutil yang menyakitkan atau resisten, namun membawa risiko iaringan parut.
8
Crvotherapv. Nitrogen cair umum digunakan di praktek rumah sakit.
Instrumen canggih yang tersedia untuk memproduksi aliran tipis cairan yang akan
17

diarahkan pada lesi, dapat iuga dengan aplikasi cotton bud yang dicelupkan ke dalam
cairan. Setiap keratin yang tebal harus dikupas. Hal ini akan meningkatkan
tingkat penyembuhan kutil plantar yang dalam. Permukaan mukosa harus akan kering
untuk menghindari pembentukan es permukaan, maka uiung kuncup tidak harus
emperan permukaan kutil. Dalam pengobatan standar, aplikasi dilaniutkan
sampai tepi iaringan es (mudah dilihat sebagai warna putih) lebar sekitar 1 mm
berkembang dalam posisi kulit normal sekitar kutil. Hal ini dapat merangsang
pengembangan respon imun. Setelah pencairan, kedua siklus beku akan
meningkatkan angka kesembuhan di kutil plantar, meskipun manIaat kurang ditandai
dalam kutil tangan. Respon terhadap pengobatan dengan crvotherapv sebanding
dengan yang dicapai dengan asam salisilat. Pengobatan diulang setiap 3 minggu
memberikan angka kesembuhan 30-70 untuk kutil tangan setelah 3 bulan. Lebih
sering pengobatan dapat meningkatkan respon tetapi akan menyebabkan rasa sakit,
dan interval yang lebih paniang. Jika ini gagal, sebagaimana dapat teriadi selama
toniolan tulang di kaki, lebih lama aplikasi, biasanya sampai 30 detik, mungkin
diulang setelah pencairan, dapat digunakan untuk mencapai eIek destruktiI yang lebih
besar.
8,22
Kerugian utama dari pembekuan adalah nyeri. Hal ini tak terduga dan
mengeiutkan variabel antara pasien, tetapi dalam beberapa kasus, terutama dengan
waktu pembekuan lebih lama, itu bisa berat dan menetap selama beberapa iam atau
bahkan beberapa hari. Aspirin oral dan steroid topikal yang kuat dapat membantu.
Kulit melepuh, kadang-kadang berdarah, mungkin teriadi dalam satu atau dua hari
namun tidak prasyarat untuk resolusi kutil, dan biasanya mengikuti overtreatment.
Setelah waktu pembekuan biasa singkat, reaksi akan cenderung memiliki diselesaikan
dalam waktu 2-3 minggu. Kadang-kadang, kerusakan iaringan di bawahnya bisa
teriadi, misalnya untuk tendon atau matriks kuku, dan berlebihan kali pembekuan
harus dihindari. Depigmentasi mungkin teriadi, dan bisa meniadi kelemahan
kosmetik yang signiIikan dalam pasien dengan kulit gelap berpigmen.
8,22
18

aser. Laser karbon dioksida telah digunakan untuk mengobati berbagai
bentuk yang berbeda dari kutil, baik kulit dan mukosa. Hal ini dapat eIektiI dalam
memberantas beberapa kutil sulit, seperti kutil periungual dan subungual,
yang telah tidak responsiI terhadap pengobatan lainnya. Jarak pada 12 bulan hingga
70 dari kutil individu dilaporkan. Namun, sebagai metode yang merusak, karbon
dioksida terapi laser dapat menyebabkan rasa sakit pasca-operasi yang signiIikan,
iaringan parut dan hilangnya Iungsi sementara.
1,5,8

Koagulator inIramerah. Sebagai metode lain, koagulator inIramerah dapat
digunakan untuk mengobati kutil. Suatu penelitian melaporkan angka kesembuhan
dalam serangkaian dari 44 kutil adalah 70, yang lebih baik dibandingkan dengan
crvotherapv.
1,8

Prognosis

Sekitar 23 dari kutil regresi spontan dalam waktu 2 bulan, 30 dalam
waktu 3 bulan dan 65 -78 dalam 2 tahun. Pasien yang sebelumnya telah terinIeksi
memiliki risiko lebih tinggi untuk pengembangan kutil baru daripada mereka tidak
pernah terinIeksi. Tingkat kesembuhan dipengaruhi oleh Iaktor-Iaktor seperti ienis
virus, status kekebalan tubuh, tingkat dan durasi kutil.
8

Common wart memiliki insiden untuk meniadi suatu keganasan, banyak studi
yang menuniukkan DNA HPV terdapat pada actinic keratoses. basal cells
carcinomas dan SCCs, dan psoriasis dalam kadar rendah.
1
Namun etiologi dan
patogenesis dari lesi iinak, pre-malignant, maupun malignant tersebut masih
kontroversial, karena dalam suatu penelitian yang menggunakan PCR dapat
mendeteksi DNA HPV pada kulit normal dan pada Iolikel rambut normal.
1






19

DAFTA# PUSTAKA


1. Androphy, Elliot J., Rowy, Douglas R. art. uman Papiloma Jirus. Common
art edited by Klaus WolII, Lowell A. Goldsmith, etc. in Fitzpatrick`s
Dermatology In General Medicine, 7
th
Ed. McGraw-Hill: New York; 2008,
p.1914-1922.
2. Hengge, UR. Papiloma Jirus Diseases in Hautarzt Journal Vol.55. Pubmed.
Germany; 2004. p.841-851.
3. James, William D., Timothy G. Berger, and Dirk M. Elston. Jiral Disease.
Papovarirus Group in Andrew`s Diseases oI The Skin Clinical Dermatology,
10
th
Ed. Saunders Elsevier Inc. Canada; 2006, p.403-412.
4. Darmstadt GL. Lane A. Cutaneous Jiral Infections in Behrman RE, Kliegman
RM, Arvin AM, eds. Nelson Textbook of Pediatrics 15
th
Ed. WB Saunders Co.
Philadelpia; 1996.p.1901-1903.
5. James, William D., Timothy G. Berger, and Dirk M. Elston. Jiral Disease.
Papovarirus Group in Andrew`s Diseases oI The Skin Clinical Dermatology,
10
th
Ed. Saunders Elsevier Inc. Canada; 2006, p.403-412.
6. Wile, Udo J. Kingery, Lyle B. The Etiologv of Common arts. JAMA.
Singapore; 1919. p.970-973.
7. G, Orth. Characterization oI a new type oI human papillomavirus that causes skin
warts. J. Firol; PubMed. USA; 1977.p.108-120.
8. Sterling, J.C. Jiral Infection. uman Papiloma Jirus. Common art in Rook`s
Textbook oI Dermatology 7
th
Ed. Blackwell Publishing Inc. USA: 2004, p.25.44-
25.43.
9. Leman JA, Benton EC. Jerrucas. Guidelines for management. Am J Clin
Dermatol 2000;1:143-149.
10.Ciconte A, Campbell J, Tabrizi S, Garland S, Marks R. arts are not merelv
blemishes on the skin. A studv on the morbiditv associated with having viral
cutaneous warts. Australas J Dermatol 2003;44:169-173.
11.A.B, Jenson. at all. uman papillomavirus. requencv and distribution in plantar
and common warts. UK PubMed Center. 1982, 47(5):491-7.
12.Wu, Yu-Hung. at all. Survev of Infectious Skin Diseases and Skin Infestations
among Primarv School Students of Taitung Countv. Eastern Taiwan. J Formos
Med assac : Taiwan; 2000. vol.99, p.128-134.
13.Kilkenny M, Marks R. The descriptive epidemiologv of warts in the communitv.
Aust J Dermatol. 1996; 37: 806.
14.Bunney MH. Jiral arts. Their Biologv and Treatment. OxIord: OxIord
University Press. 1982.
15.Sanclemente, G. uman Papilomavirus olecular Biologv and Pathogenesis.
JEADV. Columbia: 2002:16.p.231-240.
20

16.Lipke, Michelle M. An Armamentarium of art Treatments. Clinical Medicine &
Research. 2006:4.4:273-293
17.Kirnbauer R, Lenz P, Okun MM. uman Papillomavirus. In: Bolognia J, Jorizzo
J, Rapini R, eds. Dermatology. 1st ed. London: Mosby; 2003:1217-1233.
18.Goncalves MA, Donadi EA. Immune Cellular Response To PJ. Current
Concepts. Braz J InIect Dis 2004;8:1-9.
19.Ostrow, Ronald. at all. Characterization of Two PJ-3 Related Papilomaviruses
from Common art That are Distinct Clinicallv from lat arts or
Epidermodvsplasia Jerruciformis. Journal oI Investigative Dermatology. USA.
1983:80.p.436-440.
20.Jones SK, Darville JM. Transmission of virus particles bv crvotherapv and multi-
use caustic pencils. a problem to dermatologists?. Br J Dermatol 1989;121:
4816.
21.Goldschmidt H, Kligman AM. Experimental inoculation of humans with
ectodermotropic viruses. J Invest Dermatol 1958; 31: 17582.
22.Van Brederode RL, Engel ED. Combined crvotherapv/70 salicvlic acid
treatment for plantar verrucae. J Foot Ankle Surg 2001;40:36-41.
23.Stulberg DL, Hutchinson AG. olluscum contagiosum and warts. Am Fam
Physician 2003;67:1233-1240.