Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN A.

ANATOMI DAN FISIOLOGI PERITONIUM Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. Ruang yang terdapat diantara dualpisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum. Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum, di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan atau kantong. Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat disebelah depan lambung. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati, kurvaturan minor, dna lambung berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus. Fungsi peritoneum : 1. Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis 2. Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan 3. Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen 4. Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi. B. PENGERTIAN PERITONITIS Peritonitis adalah inflamasi peritoneum- lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans muscular, dan tanda-tanda umum inflamasi. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut, penyakit ringan dan terbatas, atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis spontan), sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral), atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis, perforasi ulkus peptikum dan duodenum, perforasi kolon akibat diverdikulitis, volvulus dan kanker, dan strangulasi kolon asendens. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas, saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. Sesudah operasi, abdomen efektif untuk etiologi noninfeksi, insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya kurang dari 2%. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis, divetikulitis, kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan adanya kterlibatan duodenum, pancreas perforasi kolon, kontaminasi peritoneal, syok perioperatif, dan transfuse yang pasif. C. ETIOLOGI Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen, tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehinggan menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium, kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. Semakin rendah kadar protein cairan asites, semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. Ini

Analegesik diberikan untuk mengatasi nyeri antiemetik dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn). E.terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. PENATALAKSANAAN Penggantian cairan. trauma atau perforasi tumor. Klebsiella pneumoniae 7%. pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. misalnya cairan empedu. PATOFISIOLOGI Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi dari organ abdomen ke dalam rongga bdomen sebagai akibat dari inflamasi. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. pascatransplantasi. ensefalopati toksik. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. bukan berasal dari kelainan organ. dehidrasi hingga menjadi hipotensi. TANDA DAN GEJALA KLINIS Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal). infeksi. D. barium. dan golongan Staphylococcus 3%. debris seluler dan darah. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. atau penggunaan analgesic). jenis Streptococcus lain 15%. terapi hemodinamik untuk paru dan . penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial. peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia. Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%. Tetapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotic. tatikardi. atau HIV). sel darah putih. iskemia. KOMPLIKASI ® Eviserasi Luka ® Pembentukan abses H. terjadinya edema jaringan dan dalam waktu singkat terjadi eksudasi cairan. tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan. Pemeriksaan-pemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat. PEMERIKSAAN DIAGNOSITIK ü Drainase panduan CT-Scan dan USG ü Pembedahan G. spesies Pseudomonas. penderita dnegan paraplegia dan penderita geriatric. diikuti oleh ileus paralitik disertai akumulasi udara dan cairan dalam usus. Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. Coli 40%. koloid dan elektroli adalah focus utama. Selain itu juga terdapat peritonitis TB. Terjadinya proliferasi bacterial. Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat. F. penggunaan steroid. Respons segera dari saluran usus adalah hipermotilitas. syok sepsis. selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. Cairan dalam rongga peritoneal menjadi keruh dengan peningkatan jumlah protein. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi.

I. terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan. Bagaimanapun. perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan. Prolaps visera. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makanan.ginjal. Bila luka menembus peritoniummaka tindakan laparotomi diperlukan. Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini. terdaat darah dalam lambung. Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kelemahan secara menyeluruh 7. buli-buli dan rectum. hilangnya bising usus. diagnosa keperawatan. BAB II . Pada beberapa contoh. syok. pasien harus diobservasi selama 24-48 jam. 2. intervensi dan evaluasi diuraikan. aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat ruang operasi. aktivitas keperawatan terbatas hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan. 3. Hipertermi berhubungan dengan medikasi atau anastesia. tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpatanda-tanda sepsis dengan hemodinamik stabil. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi. Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau dipindah kebagian atau keruang pemulihan. focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. tanda-tanda peritonitis. Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang mencakup tiga fase yaitu : 1. Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV). proses keperawatan pengkajian. bertindak dalam peranannya sebagai perawat scub. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparotomi. atau membantu dalam mengatur posisi pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsipprinsip dasar kesejajaran tubuh. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan 6. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasi 8. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah. menjalani wawancaran praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. Bila tidak ada. Lingkup keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. Kapan berkaitan dan memungkinkan. melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan kliniik atau dirumah. Nyeri akut berhuungan dengan agen cidera kimia pasca operasi 4. Pada fase pascaoperatif langsung. DIAGNOSA YANG MUNCUL 1. memberikan medikasi intravena. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif 3. 5. adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi. Infeksi risiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan 2.

30 WIB Oleh : Kelompok 3A Sumber dari : Pasien Metode : Obervasi B. Masuk RS : 3 Desember 2007. Terapi antibiotic 2. terapi nutrisi dan metabolic . 07. ELIMINASI Pasien mengalami penurunan berkemih MAKAN CAIRAN Kehilangan nafsu makan. Identitas Penanggung Jawab Nama : Tn. Dengan pasien : Suami pasien No Registrasi : 11.mual/muntah HYGIENE Kelemahan selama aktivitas perawatan diri NYERI/KENYAMANAN Kulit lecet. perubahan dalam fungsi mental INTERAKSI SOSIAL Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan. kehilangan kekuatan. PEMERIKSAAN LAB Laboratorim : CT-Scan dan USG TERAPI PADA TANGGAL 3 DESEMBER 2007 1. IDENTITAS PASIEN a. Robert Umur : 40 tahun Agama : Islam Pekerjaan : PNS Alamat : Kota Gede Yogyakarta Hub. "T" Umur : 35 tahun Agama : Islam Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia Jenis Kelamin : Perempuan Alamat : Kota Gede Yogyakarta b. kurang tidur.02. Identitas Pasien Nama : Ny.30 WIB melalui poli penyakit dalam KELUHAN UTAMA Pasien peritonitis mengalami nyeri kesakita dibagian perut bagian kanan RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG RIWAYAT KESEHATAN DAHULU RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA POLA KESEHATAN SEHARI-HARI AKTIVITAS ISTIRAHAT Penderita peritonitis mebgalamiletih. PENGKAJIAN Tanggal Pengkajian : 3 Desember 2007 Jam : 07.TINJAUAN KASUS A. nyeri perut dengan aktivitas.1289 Tgl.

Pucat .3.Pasien tampak kesakitan .Nyeri abdomen kanan ats DO : .Gelisah .Gangguan tidur DO : .Ku Cukup .Dehidrasi .Mual / muntah DO : . Pasien mengalami penurunan berkemih 3.Pasien sering salah konsepsi .Nafsu makan menurun . Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.Membrane mukosa kering . Kelemahan selama aktivitas perawatan diri 5.Takikardi .Takikardi DO : . : 11.Periaku tidak sesuai/berlebihan DO : .Mulut terasa pahir .Tekanan darah meningkat .Kelemahan selama aktivitas diri .1289 Umur : 35 tahun Ruang : Poli Penyakit Dalam DATA FOKUS : 1.Penurunan berkemih DO : . Pendrita peritonitis mengalamiletih. Kehilangan nafsu makan.Suhu >37. mual/muntah 4. nyeri perut dengan aktivitas 2.Kulit kering . kurang tidur. Kulitlecet. DO : .KU cukup . Nyeri abdomen kanan atas 6. terapi modulasi respon peradangan. perubahan dalam fungsi mental 7.Terdapat luka biopsy .02.Suhu : 37.KU cukup .Sering pusing .5oC DO : .KU cukup .5oC .Ulserasi berbentuk nodul dengan tepi berwarna kemerahan . BAB III ANALISA DATA Nama : Ny "T" No Reg. kehilangan kekuatan.

DO : .Kulit kering Trauma jaringan Agen cidera kimia pasca operasi Kehilangan volume cairan aktif Tidak mampu dalam mencerna makanan Perubahan status kesehatan Salah interpretasi infomasi Kelemahan menyeluruh Medikasi/anestesi Medikasi Infeksi resiko tinggi Nyeri akut Kekurangan volume cairan Ketidak seimbangan nutrisi Ansietas Kurang pengetahuan Intoleransi aktifitas Hipertermi Risiko kerusakan integritas kulit .Kulit lecet .

Pasien tampak rileks .Tidak mengalami komplikasi yang berhubungan Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama… jam diharapkan tidak terjadi komplikasi dengan kriteria . INTERVENSI/TINDAKAN KEPERAWATAN No/ DX Diagnosa Rencana Rasional Tujuan Tindakan Nyeri akut b/d agen cidera kimia pasca operasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama….PRIORITAS MASALAH Nyeri akut berhubungan dnegan agen cidera kimia pasca operasi hipertermi berhubungan dengan medikasi/anastesi infeksi risiko tinggi berhbungan dengan trauma jaringan risiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasi ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makanan Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.Berikan kompres hangat .Kaji tanda vital dengan sering dan catat warna kulit. catat resiko individu . Diharapkan nyeri berkurang dnegan criteria: Nyeri berkurang TTV normal .Tinggikan dan dukung extremitas atas .Evaluasi keluhan nyeri .KU membaik .Sensasi menjadi normal . suhu dan kelembaban. Kurang pengetahuan berhubungan dengan salah interpretasi informasi.Pantau suhu pasien .Dapat melakukan relaksasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama……. Diharapkan panas menurun dengan criteria : Suhu badan normal .Mampu beraktivitas .Pertahanan mobilsasi dengan yang sakit .TTV normal .

Jam diharapkan pasien mampu mencerna makanan dengan criteria : . catat bunyi tak ada/hiperaktif .Observasi kulit .Mempengaruhi pilihan intervensi . Jam diharapkan luka sembuh dengan criteria .Ubah posisi pasien sesering mungkin .Menghilangkan nyeri .Mengindikasikan adanya obstruktif .Berikan hiperaliemntasi .Observasi drainase pada luka .Memberikan enformasi tentang status infeksi.Pertahankan masukan dan haluan yang akurat .Observasi warna dan karakteri drainase . Risiko kerusakan integritas kulit b/d medikasi Kekurangna volume cairan b/d kehilangan volume cairan aktif .Pasien dapat mencerna makanan dengan baik Pasien tidak mual/muntah .Tingkat penyembuhan luka cepat .Ukur lingkar abdomen .Timbang berat badan dnegan teratur .Membantu mengurangi demam .Observasi kulit/ membrane turgor kulit .Menurunkan nyeri .Memberikan bukti kuantitas perubahan disters gaster .Tambahkan diet sesuai toleransi .Mempengaruhi pilihan pengawasan keefektifan intervensi.Auskultasi bising usus.Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selamam….Muntah diduga terjadi obstruksi usus .Inflamasi dapat menyertai hiperaktivitas usus..Mencegah kerusakan kulit .Tambahkan diet seduai dengan toleransi .Pantau TTV .Sedikit laporan peningkatan/tidak hilangnya nyeri .Meningkatkan penggunaan nutrein dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tak mampu mengasimilasi nutrein dengan normal .Memantau perubahan suhu tubuh pasien . .Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama….Tanda dugaanadanya abses/pembentukan fistula yang memerlukan intervensi medik . penurunan absorbs air .Drainase normal .

Dapat menunjukkan peningkatan dekompesasi peritoneum daripada kelebihan aktivitas . .Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik .Menunjukkan status hidrasi keseluruhan .Tampak sehat . menghemat energi & meningkatkan kemampuan koping Kurang pengetahuan b/d salah satu interpretasi informasi Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama….jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria : .Tampak rileks .Menghindari peningkatan intraabdomen & tegangan otot .Antibiotik dapat dilanjutkan setelah pulang.Anjurkan melakukan aktivitas biasa secara bertahap .Ketakutan menjadi nyeri hebat .Periksa TTV .Memberikan dasar pengetahuan pada pasien yang memungkinkan membuat pilihan berdasarkan informasi .Pasien mengetahui cara mengobati penyakitnya .Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur .pasien memahami sakit yang dialaminya ..Mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan antesias .Kehilangan / peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan lanjut diduga ada deficit nutrisi .Membantu dalam evaluasi derajat toleransi ..Menurunkan resiko kontaminasi .Membatasi kelemahan.Kaji ulang pembahasan aktivitas .Evaluasi peningkatan toleran aktifitas Berikan bantuan dalam aktivitas perwatan diri sesuai indikasi .Mencegah kelemahan.Diskusikan program pengobatan & efek samping .Jaringan edema & adanya gangguab sirkulasi cenderung merusak kulit Intoleransi aktivitas b/d kelemahan secara menyeluruh Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama….Kaji ulang proses penyakit dasar & harapan untuk sembuh .Lakukan penggantian balutan secara aseptic . menambah edema jaringan .Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasien Ansietas b/d perubahan status sosial Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama….Rasa takut menjadi berkurang .Membantu dalam evaluasi derajat deficit cairan / keefektifan penggantian terapi cairan danrespon terhadap pengobatan . tergantung lama perawatan .Kemajuan diet yang hati-hati saat masukan nutrisi dimulai lagi menurunkan resiko iritasi gaster. perpindahan cairan&kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit..Pengenalan dini & pengobatan terjadinya komplikasi dapat mencegah cedera serius . meningkatkan perasaan sehat .Hopovolemia.Evaluasi tingkat ansietas ..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria : .Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan .jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria : .Memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri .

ECG . www. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Dimana makalah ini membahas mengenai pengertian. 3 Desember 2007 (Penulis) . Terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan makalah ini. Yogyakarta.Keperawatan Medikal Bedah 5. 2002. ECG : Jakarta Farmaca Peritonitis. Price. Dalam makalah ini penulis memberi judul PENYAKIT PERITORITIS. 2000. Penulis juga menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 8. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan. T dapat diselesaikan tepat pada waktunya. pedih dan sulit diobati. semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.BAB IV PENUTUP KESIMPULAN Dari tindakan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien diharapkan yang awalnya dalam keadaan buruk dapat menjadi lebih baik sehingga dapat melakukan aktifitas seperti biasa. 2006. Semoga makalah ini dapat berguna bagipara pembaca. ECG. DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddart.com KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah NSP mengenai penyakit PERITONITIS pada klien Ny. penyebab dan cara mengatasi penyakit peritonitis. SARAN Kami sebagai penyusun makalah ini menghaapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata terima kasih penulis ucapkan atas perhatian para pembaca. Majalah-farmacia. dkk. Jakarta Silvia A. Jakarta Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006 Prima Medika : Jakarta Marilynn E Doenges. Makalah ihi merupakan tugas dari praktikum NSP (Nursing Simulation Program) yang diberikan untuk memenuhi tugas NSP.

.............................................................................................. 2 D... PATOFISIOLOGI.........................................................................google......................... 18 DAFTAR PUSTAKA iii @import url(http://www......................css)................... 1 B..... 4 F..... 9 ANALISA DATA.............................DAFTAR PUSTAKA KATA PENGANTAR.................................................................................................................................................................... i DAFTAR ISI..................................................................................... TANDA DAN GEJALA KLINIS............................................................................... ................................................ 4 I............ .................................. 6 BAB II ISI........... 1 A............................................................. ETIOLOGI................... ANATOMI DAN FISIOLOGI PERITONIUM..........com/cse/api/branding...... 9 BAB IV PENUTUP......................... KOMPLIKASI.................................... 4 H....................................................... 1 C.................... 18 SARAN. 4 G.................................................... Top of Form partner-pub-8137 FORID:10 ISO-8859-1 Bottom of Form ................................. 3 E... PENGERTIAN PERITONITIS..................................................................... PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK...................................................................... PENATALAKSAAN........................................................ 7 BAB III ANALISA DATA...................... DIAGNOSA YANG MUNCUL.................................................................................................................. ii BAB I LAPORAN PENDAHULUAN............................ 7 TINJAUAN KASUS. 11 KESIMPULAN........................................

Diposkan oleh Bingar di 09:22 0 komentar Label: Penyakit Peritonitis Beranda Langgan: Entri (Atom) Arsip Blog • ▼ 2008 (1) ○ ▼ Mei (1)  Penyakit Peritonitis Mengenai Saya Bingar Lihat profil lengkapku Top of Form partner-pub-8137 FORID:10 ISO-8859-1 Bottom of Form .