Anda di halaman 1dari 64

Pengantar

Edisi Juli 2011 ini istimewa karena Profesor Suwardjono (FEB UGM) menyumbangkan tulisan yang berjudul Peran dan Martabat Bahasa Indonesia dalam Pengembangan Ilmu. Artikel ini menarik terutama karena keengganan banyak orang untuk mempercangih atau memajukan kemampuan berbahasanya terkait pengembangan ilmu. Padahal, kemajuan suatu ilmu justru terlihat dari seberapa banyak jargon (istilah spesifik bidang tertentu) yang muncul. Selain itu, mulai edisi ini Profesor Suwardjono juga mengisi pojok Ejaan SWD. Ejaan SWD akan membahas aspek bahasa yang terdapat dalam suatu kata. Di sini, terutama sekali diharapkan bahwa kita dapat meneladani kegiatan bernalar dalam memutuskan sesuatu yang digunakan dalam hal-hal yang sifatnya ilmiah.

arie rahayu

Penasihat Prof. Dr. Zaki Baridwan, MSc.; Prof. Dr. Suwardjono, MSc. Redaksi: Arie Rahayu, Arif Perdana, Hesty Wulandari, Yeni Januarsi Blog: E-mail: http://akuntanmuda.wordpress.com/ akuntanmuda@yahoo.com atau akuntan.muda@gmail.com

Foto diambil dari website Microsoft Office: http://office.microsoft.com/en-us/

Akuntan Muda

Halaman 1

Daftar Isi

1 3 6 12 21 47 58 63

Pengantar Pelaporan Keuangan berbasis Web/Internet (Kolom) Tanya Uni Hesty: Penyusutan/Depreciation Belajar IFRS: Metode Penilaian Sediaan dengan Net Realizable Value (NRV) berdasarkan PSAK No.14 (Revisi 2008) Peran dan Martabat Bahasa Indonesia dalam Pengembangan Ilmu Menjelajah SSRN Kecurangan (Fraud) dalam Akuntansi dan Tanggung Jawab Auditor dalam Mendeteksinya Ejaan SWD: Abstrak atau Abstraksi?

Akuntan Muda

Halaman 2

Pelaporan Keuangan Berbasis Web/Internet


Ketiadaan batas antara negara di era informasi saat ini menyebabkan penyajian informasi keuangan secara tradisional dirasakan tidak efektif, efisien dan ekonomis. Biaya yang dikeluarkan dapat berasal dari biaya pencetakan maupun distribusi. Investor-investor pada suatu perusahaan, kini tidak hanya berada dalam satu wilayah geografis. Keberadaan mereka terpecah di berbagai wilayah. Demikian pula dengan investorinvestor potensial yang dapat digarap oleh perusahaan untuk menanamkan modalnya. Informasi utama yang diperlukan oleh investor adalah berkaitan dengan keuangan. Jika perusahaan modern masih menggunakan cara tradisional dalam penyajian dan pendistribusian informasi bisnis dan keuangannya, kompetitifitas perusahaan tersebut akan sangat rendah Akuntan Muda Halaman 3 dibandingkan dengan perusahaan lain yang telah menggunakan saluran teknologi informasi dalam pelaporan keuangannya. Internet memberikan kemudahan dalam menjangkau wilayah geografis yang lebih luas, dengan biaya yang lebih murah namun aksesibilitas yang cepat dan akurat. Penyajian informasi bisnis dan keuangan berbasis internet juga dapat dilakukan dengan lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna untuk mendukung keputusan bisnis mereka. Penggunaan sarana web/internet dalam penyajian laporan keuangan dari waktu ke waktu semakin berkembang, mulai dari yang sifatnya hanya sebagai saluran distribusi laporan keuangan tercetak yang didigitasikan hingga yang sifatnya

interaktif dan memberikan kemungkinan bagi pengguna untuk melakukan kustomasi sesuai kebutuhannya. Secara lebih lengkap, IASC (1999) membagi penggunaan internet sebagai saluran penyajian dan pendistribusian laporan keuangan pada tiga tahapan, yaitu: 1. Perusahaan menggunakan internet hanya sebagai saluran untuk laporan telah dicetak

mengkustomasi

sendiri

informasi-

informasi yang ada dalam laporan keuangan tersebut, sehingga lebih bermanfaat bagi mereka tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan dan bahkan pengguna informasi pun

dapat mengkonversinya dalam format file atau cetakan untuk yang mereka

perlukan keputusan.

pengambilan

Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam pelaporan keuangan dengan menggunakan web yaitu isi (content) dan cara penyampaiannya (presentation). Penyampaian laporan keuangan dengan hanya mendigitasi dokumen tercetak tidak memberikan banyak manfaat kepada pengguna. Hal ini dikarenakan hanya sekedar mengubah format, tidak ada nilai lebih yang diperoleh dari pengguna laporan keuangan terkecuali kecepatan dan kemudahan dalam aksesibilitas data. Isi atau konten dapat saja disajikan baik dalam format tercetak (paper-based) ataupun format digital. Isi meliputi pengungkapan informasi bisnis dan keuangan dari suatu perusahaan, baik yang bersifat partial atau interim maupun tahunan. Perhatian serius perlu diberikan oleh perusahaan dalam cara penyajian (presentasi) informasi keuangan dan

mendistribusikan keuangannya yang

dalam format digital seperti file dengan format pengolah kata atau portable data file (PDF). 2. Perusahaan menggunakan internet untuk menyajikan laporan keuangan mereka dalam format web, yang memungkinkan mengindeks mesin data-data pencari tersebut,

sehingga mesin pencari dan pengguna dapat dengan mudah menemukan informasi tersebut. 3. Perusahaan menggunakan internet tidak hanya sebagai saluran distribusi laporan keuangan, cara tetapi yang juga lebih

menyediakan

interaktif sehingga pengguna tidak hanya dapat melihat laporan

keuangan baku yang dikeluarkan oleh perusahaan, tetapi mereka juga dapat

Akuntan Muda

Halaman 4

bisnis tersebut. Setiap pengguna memiliki kebutuhan yang beragam, tidak semua elemen-elemen dan informasi yang tersaji di dalam laporan keuangan yang dipublikasikan melalui web memiliki manfaat yang sama bagi setiap pengguna. Dalam konteks seperti ini, perusahaan harus dapat memanfaatkan TI untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Teknologi informasi memungkinkan perusahaan untuk menyajikan cara yang lebih interaktif kepada pengguna dalam mengakses laporan keuanngan mereka. Kustomasi dan personalisasi elemenelemen laporan keuangan dapat dilakukan dengan mudah oleh setiap pengguna. Di samping itu, TI juga seharusnya menjadi intermediasi yang baik antara perusahaan

dan pengguna sehingga pengguna dapat memperoleh informasi yang tepat, akurat, bernilai, dan dalam format yang berbedabeda dan biasa digunakan oleh mereka. Berkaitan dengan pelaporan keuangan internet, faktor yang menjadi penentu utama adalah cara laporan keuangan disajikan kepada pengguna. Pengguna informasi keuangan internet akan terpicu menggunakannya ketika model penyajiannya bersifat interaktif dan memungkinkan pengguna untuk memperoleh informasi yang berbeda dengan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan berbasis kertas (paperbased financial statement).

(Oleh: Arif Perdana)

Referensi:
Debreceny, R., G. L. Gray & A. Rahman. 2002. The Determinants of Internet Financial Reporting. Journal of Accounting and Public Policy, Vol. 21, pp. 371394. IASC. 1999. Business Reporting on the Internet. International Accounting Standards Committee, London.

Akuntan Muda

Halaman 5

Tanya Uni Hesty


Uni Hesty saat ini mengajar di jurusan akuntansi Politeknik Caltex di kota bertuah Pekanbaru dan akan segera mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negri Sutan Syarif Kasim Pekanbaru. Uni menamatkan S1 di Universitas Andalas, Padang. Setelah berkutat dengan kuliah selama 5,5 tahun dengan nilai ala kadarnya, meneruskan kuliah profesi akuntan dan menamatkan studi S2 di kampus biru UGM, tempat yang kemudian mengubahnya menjadi pencinta pembelajaran. Silakan kirim pertanyaan apa saja seputaran akuntansi kepada Uni Hesty melalui e-mail di : wulandari_712@yahoo.com

Penyusutan/Depreciation
Apa itu Penyusutan?
Kita pasti pernah memiliki barang-barang yang bisa dipakai dalam jangka waktu yang cukup panjang. Waktu yang cukup panjang adalah hal yang ukurannya relatif, namun untuk ukuran masa pakai ini yang menjadi ukuran adalah lebih dari 1 tahun; jadi bisa saja 2 tahun, 5 tahun atau mungkin 10 tahun. Sebagai contoh kita bisa menggunakan barang elektronik. Laptop yang saya punya dibeli pada tahun 2006 dengan harga Rp. 6.000.000. Setelah dipakai terus menerus selama 5 tahun. Maka jika dinilai kembali, bisa dipastikan nilai yang tersisa dari laptop saya hanya sepersekian dari nilai pada saat awal saya membelinya dulu. Mengapa bisa begitu?. Hal ini terjadi karena laptop saya mengalami penurunan kemampuan untuk terus bisa digunakan dengan kata lain, laptop saya mengalami penurunan kemampuan untuk tetap bisa saya manfaatkan semaksimal mungkin. Jika pada tahun awal saya membeli laptop saya bisa menggunakan berbagai macam aplikasi sekaligus pada saat ia dinyalakan, maka diakhir tahun kelima ini saya hanya bisa menjalankan dua aplikasi saja. Penurunan kemampuan tersebut bisa diartikan sebagai penyusutan atau depresiasi. Akuntan Muda Halaman 6

Tidak hanya laptop atau barang elektronik saja yang mengalami penurunan kemampuan untuk terus digunakan. Barang-barang tak bergerak yang dimiliki perusahaan yang dipakai berulang-ulang dalam kegiatan operasional (biasa disebut sebagai aktiva tetap) seperti bangunan, mobil, peralatan kantor dan mesin-mesin juga mengalami hal yang sama. Secara bertahap, masing-masing akan mengalami penurunan kemampuan untuk bisa digunakan ataupun bisa memberikan manfaat pemiliknya hingga pada akhirnya akan menjadi barang rongsokan yang tidak bisa digunakan lagi. Pada saat memperoleh sebuah barang, kita biasanya akan mengeluarkan sejumlah biaya, mulai dari harga yang kita bayar, biaya administrasi, biaya pemasangan serta biaya-biaya lain yang menjadi biaya total pada awal pembelian. Selama masa manfaat atau masa pakainya, maka biaya-biaya atas barang tersebut harus dipindahkan secara berkala menjadi beban. Perpindahan semua biaya atas barang-barang tersebut menjadi beban berkala itu juga dinamakan dengan penyusutan. Hanya saja, berbeda dengan penyusutan diatas, penyusutan dengan defenisi ini digunakan dalam pengertian akuntansi. Namun berbeda dengan beban-beban yang lainnya, dalam depresiasi tidak ada kas yang dilibatkan sehingga meskipun berkarakteristik sebagai beban, penyusutan tidak akan menyebabkan uang dikeluarkan atau diterima.

Menentukan Jumlah Penyusutan yang Tepat


Untuk memperkirakan berapa jumlah yang harus dialokasikan setiap periodenya sebagai beban penyusutan, setidaknya kita harus memiliki tiga komponen penting pendukung penyusutan itu sendiri. Ketiga komponen itu adalah : 1. Besarnya biaya awal yang dikeluarkan untuk mendapatkan barang-barang ini. 2. Lamanya barang tersebut bisa memberikan manfaat (umur manfaat). 3. Nilai yang diperkirakan masih akan tersisa pada akhir masa manfaat (nilai residu). Dari ketiga komponen tersebut diatas, masa manfaat dan nilai residu merupakan komponen yang harus dikira-kira atau diestimasi sejak dari awal barang-barang tersebut akan digunakan karena memang jumlah atau angka yang dihasilkan merupakan perkiraan. Dan untuk membantu perusahaan menghitung besarnya penyusutan yang harus dilakukan, ada beberapa metode penyusutan yang paling umum digunakan; metode garis lurus, metode saldo menurun serta metode unit produksi

Akuntan Muda

Halaman 7

1. Metode Garis Lurus


Metode ini membagi rata jumlah biaya yang telah dikurangkan dengan nilai residu yang telah diestimasi dengan perkiraan masa manfaat yang diperkirakan sehingga jumlah alokasian setiap periode akan selalu sama. Contoh 1 Sebuah mobil yang memiliki biaya awal 10.000.000 diperkirakan akan memiliki masa manfaat paling lama 5 tahun. Pada akhir periode, diperkirakan nilai yang tersisa dari mobil tersebut hanya sekitar 1.000.000. Berapakah jumlah penyusutan yang harus dialokasikan setiap bulannya? Besarnya penyusutan tahunan yang akan dikeluarkan adalah : Rp.10.000.0000 (biaya awal mobil) Rp 1.000.000 (nilai residu) -----------------------------------------------------------------------------5 tahun ( masa manfaat) = 1.800.000 Untuk mengetahui lebih jelas tentang alokasi penyusutan mobil setiap bulan bisa dilihat pada tabel 1 halaman berikut. Tabel 1. Perhitungan Alokasi Penyusutan dengan Menggunakan Metode Garis Lurus Tahun 0 1 2 3 4 5 6 Nilai Buku 10.000.000 10.000.000 8.200.000 6.400.000 4.600.000 2.800.000 1.000.000 Penyusutan 0 1.800.000 1.800.000 1.800.000 1.800.000 1.800.000 0

Akuntan Muda

Halaman 8

2. Metode Saldo Menurun Berganda


Berbeda dengan metode garis lurus yang memiliki nilai alokasi yang sama setiap tahun hingga periode penyusutan selesai, metode saldo menurun berganda akan menghasilkan beban yang besar dibagian awal dan terus mengecil saat periode penyusutan akan mulai berakhir. Untuk mendapatkan besarnya jumlah yang harus dialokasi, kita bisa mengkonversikan biaya yang dikeluarkan untuk barang tersebut dalam bentuk persentase (100%) dan membaginya dengan masa manfaat yang diperkirakan yang kemudian dikali dua. Jumlah persentase itulah yang akan dikalikan dengan biaya yang sebenarnya tadi. Metode saldo menurun akan mengabaikan nilai residu namun tidak boleh dibawah nilai estimasi residu yang diperkirakan Contoh 2 Sebuah mobil yang memiliki biaya awal 10.000.000 diperkirakan akan memiliki masa manfaat paling lama 5 tahun. Dengan nilai residu yang diestimasi sebesar 1.000.000 maka, berapakah jumlah penyusutan yang harus dialokasikan setiap bulannya jika menggunakan metode saldo menurun berganda?

Tarif penyusutan

= (100%/5 tahun) 2 = (20%) 2 = 40%

Alokasi penyusutan pertahun dapat dilihat pada tabel di halaman berikut ini.

Akuntan Muda

Halaman 9

Tabel 2 Alokasi Penyusutan dengan Menggunakan Saldo Menurun Berganda Penyusutan Tahun Biaya Awal Tahun 1 2 3 4 5 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 Nilai Buku Penyusutan Awal Tahun 0 10.000.000 4.000.000 6.400.000 7.880.000 9.176.000 6.000.000 3.600.000 2.160.000 1.296.000 40% 40% 40% 40% 4.000.000 2.400.000 1.440.000 864.000 Tarif Tahunan Tahun 6.000.000 3.600.000 2.160.000 1.296.000 Akhir Nilai Buku

296.000* 1.000.000*

* angka 1.000.000 merupakan nilai residu yang diestimasi * angka 296.000 merupakan hasil dari nilai buku awal tahun kelima-nilai estimasi residu

3. Metode Unit Produksi


Adakalanya suatu barang akan menurun kemampuannya karena jumlah unit yang telah ia hasilkan. Untuk barang-barang atau mesin seperti ini, jumlah produksi akan

menggambarkan tingkat pemanfaatan yang berbeda setiap tahunnya sehingga sebaiknya metode penyusutan yang dipilih adalah yang bisa memberikan nilai yang sama untuk setiap unit yang diproduksi atau setiap jam pemakaian. Contoh 3 Sebuah mesin fotokopi diperoleh dengan biaya 15.000.000. Mesin ini diperkirakan akan memiliki nilai residu 3.000.000. Masa manfaat mesin diperkirakan mencapai 480.000 lembar fotokopi. Jika dalam tahun berjalan jumlah lembar kertas yang difotokopi mencapai 1000 lembar. Maka, berapakah nilai penyusutan yang harus dialokasikan jika metode yang digunakan adalah metode unit produksi?

Akuntan Muda

Halaman 10

Jawab : Nilai penyusutan per jam = Rp. 15.000.000 (biaya mesin) Rp. 3.000.000 (nilai residu) ------------------------------------------------------------------480.000 (jumlah estimasi produksi) = Rp 25/ lembar Alokasi penyusutan pada tahun berjalan = Rp 25 x 1.000 = Rp. 25.000

Apakah Amortisasi dan Depresiasi itu Sama?


Secara defenisi, kata amortisasi dan depresiasi memiliki pengertian yang sama, yaitu penurunan kemampuan dari suatu barang untuk menghasilkan manfaat bagi pemiliknya. Perbedaannya dari kedua istilah itu ada pada objek yang mengalami penurunan manfaat tersebut. Pada depresiasi, objek yang mengalami penurunan manfaat adalah barang-barang berwujud yang tak bergerak serta dipakai berulang-ulang, seperti bangunan, mobil, mesin, perlengkapan kantor dan lainnya. Sedangkan yang menjadi objek pada amortisasi adalah hal-hal yang tidak berwujud yang juga memberikan manfaat berulang-ulang bagi pemiliknya, seperti hak cipta, hak paten, merek dagang dan nama baik.

Pada depresiasi, kita bisa memilih salah satu dari beberapa metode yang ada untuk memudahkan penghitungan alokasi depresiasi, baik itu garis lurus, saldo menurun berganda ataupun unit produksi, metode garis lurus saja. sedangkan pada amortisasi metode yang digunakan hanyalah

Sumber: Niswonger, et al. 1999. Prinsip Prinsip Akuntansi. Edisi 19. Erlangga. Jakarta

Akuntan Muda

Halaman 11

BELAJAR IFRS

METODE PENILAIAN SEDIAAN DENGAN NET REALIZABLE VALUE (NRV) BERDASARKAN PSAK NO.14 (REVISI 2008)

PENDAHULUAN
Tingkat sediaan sangat menentukan parusahaan dalam menjamin keberhasilan proses produksi dan memenuhi permintaan pelanggan. Selain itu jenis aset mempengaruhi kelancaran usaha pengecer. Dibanyak perusahaan, sediaan merupakan bagian yang signifikan dari aset lancar, karena biasanya jumlah sediaan menyumbangkan persentase yang cukup tinggi dari total aset lancar. Yang tidak kalah pentingnya, sediaan juga dapat mempengaruhi besarnya laba. Sebagai contoh adalah kasus yang terjadi pada PT. Indofarma Tbk. Pada kasus ini nilai yang disajikan dalam laporan keuangan PT Indofarma pada 2001 lebih tinggi dari nilai yang seharusnya dilaporkan (press release yang dikeluarkan oleh Bapepam pada 8 November 2004). Penyajian nilai lebih tersebut terdeteksi dari overstated penyajian nilai barang dalam proses yang tercantum dalam laporan keuangan 2001 yang mencapai Rp28 miliar. Akibat kelebihan penyajian tersebut, nilai harga pokok produksi menjadi lebih rendah dari nilai yang seharusnya dilaporkan (understated). Karena harga pokok produksi rendah, maka berakibat pada penyajian laba yang lebih tinggi dari seharusnya untuk jumlah yang sama. Mengacu pada kerangka dasar penyajian laporan keuangan, penyajian laba yang lebih tinggi Akuntan Muda Halaman 12

berdampak pada penyajian informasi yang menyesatkan dan tidak andal sehingga merugikan pengambil keputusan. Dari contoh kasus tersebut, dapat kita lihat pentingnya menentukan nilai sediaan yang benar. Pada edisi ini, akan kita bahas bagaimana penilaian sediaan berdasar PSAK 14 (revisi 2008). Isu khusus dalam pembahasan ini adalah bagaimana penentuan jumlah biaya yang diakui sebagai aset dan perlakuan akuntansi selanjutnya atas aset tersebut sampai pendapatan terkait diakui.

SEDIAAN : TINJAUAN UMUM


Sediaan dapat terdiri dari barbagai macam jenis tergantung sifat bisnis perusahaan. Tanah ataupun mesin produksi dapat dikatagorikan sebagai sediaan bukan aset tetap. Jika perusahaan bergerak dalam bidang pengembangan perumahan/Real estate (developer) maka tanah dapat dikatagorikan sebagai jenis sediaan dalam bidang bisnis ini. Dilain pihak, bagi perusahaan yang memproduksi mesin-mesin berat untuk berproduksi, maka mesinmesin yang dihasilkan dapat dikatagorikan sebagai sediaan, bukan aktifa tetap. Dengan demikian klasifikasi utama sediaan tergantung dari operasi bisnis. Menurut PSAK No. 14 paragraf 05 (Revisi 2008) menyatakan bahwa sediaan adalah : aset yang (1) tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, (2) dalam proses produksi untuk penjualan tersebut, (3) dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. Dari definisi tersebut, maka sediaan meliputi : 1. Barang yang dibeli dan disimpan untuk dijual kembali (barang dagang) 2. barang jadi yang telah diproduksi 3. barang dalam penyelesaian yang sedang diproduksi 4. bahan baku yang digunakan dalam proses produksi.

Dalam hal pencatatan sediaan, maka akuntansi mengenal 2 sistem pencatatan sediaan yaitu: 1. Metode Perpetual (metode buku)

Akuntan Muda

Halaman 13

Metode ini menyediakan catatan yang berkelanjutan tentang saldo akun sediaan dan akan harga pokok penjualan sehingga pada akhir periode, nilai sediaan dapat langsung ditentukan tanpa harus melakukan perhitungan fisik sediaan dan harga pokok penjulan juga langsung dapat ditentukan.

2. Metode Periodik (metode fisik) Dalam metode ini, sediaan barang pada akhir periode ditentukan dengan menghitung secara fisik sediaan yang ada kerena pada saat pembelian sediaan, dicatat dalam rekening pembelian bukan sediaan . Harga pokok penjualan ditentukan dengan mengurangkan biaya tersedia untuk dijual dengan sediaan akhir

ISU POKOK DALAM AKUNTANSI UNTUK SEDIAAN


Sediaan dapat terdiri dari barbagai macam jenis tergantung sifat bisnis perusahaan. Tanah ataupun mesin produksi dapat dikatagorikan sebagai sediaan bukan aset tetap. Jika perusahaan bergerak dalam bidang pengembangan perumahan/ Real estate (developer) maka tanah dapat dikatagorikan sebagai jenis sediaan dalam bidang bisnis ini. Dilain pihak, bagi perusahaan yang memproduksi mesin-mesin berat untuk berproduksi, maka mesinmesin yang dihasilkan dapat dikatagorikan sebagai sediaan, bukan aktifa tetap. Dengan demikian klasifikasi utama sediaan tergantung dari operasi bisnis. Masalah yang difokuskan dalam akuntansi sediaan adalah : 1. bagaimanakah menentukan harga pokok penjualan yang dilaporkan dalam laporan laba rugi komprehensif, dan 2. bagaimanakah menentukan nilai sediaan yang akan dilaporkan dalam Laporan posisi keuangan.1 Dalam kaitannya dengan isu yang ke-2, untuk menentukan total nilai sediaan, maka dipengaruhi oleh 2 keadaan yaitu : (1) jumlah fisik sediaan dan (2) nilai sediaan per unit sediaan sehingga :

Nilai Sediaan = Unit Fisik x Nilai Sediaan Per Unit

Penilaian persedian diartikan sebagai penentuan nilai sediaan yang akan diantumkan pada laporan posisi keuangan

Akuntan Muda

Halaman 14

Dalam penentuan nilai sediaan per unit, maka nilainya didasarkan pada prinsip biaya (Cost basis). Nilai sediaan yang ditentukan berdasarkan cost basis disebut dengan metode harga pokok (cost method). Metode ini dapat digunakan dalam keadaan dimana tidak terjadi penyimpangan (karena perubahan tingkat harga, atau keusangan, atau kerusakan) terhadap prinsip biaya historis atau nilai sediaan tidak menurun dibawah biaya awalnya (kos awal). Dengan kata lain Prinsip Biaya Historis Tidak Dapat Diterapkan Apabila Kemampuan Untuk Menghasilkan manfaat (pendapatan) Masa Depan Tidak Lagi Sebesar Biaya Awalnya. PSAK 14 (revisi 2008) paragraf 23 menyatakan Biaya persediaan, kecuali yang disebut dalam paragraf 21,2 harus dihitung dengan menggunakan rumus biaya masuk pertama keluar pertama (MPKP) atau rata-rata tertimbang. Entitas harus menggunakan rumus biaya yang sama terhadap semua persediaan yang memiliki sifat dan kegunaan yang sama. Untuk persediaan yang memiliki sifat dan kegunaan yang berbeda, rumusan biayayang berbeda diperkenankan.

Metode kos dapat digunakan ketika tidak ada penyimpangan (karena perubahan tingkat harga, atau keusangan) terhadap prinsip biaya historis atau nilai sediaan tidak menurun dibawah biaya awalnya (cost awal).

Paragraf 23 tersebut menunjukkan bahwa untuk menghitung kos sediaan, metode kos yang dapat diperkenankan adalah menggunakan metode FIFO dan WEIGHTED-AVERAGE COST. Namun, dari dua metode tersebut, entitas harus konsisiten dalam menerapkan metode yang dipilih pada jenis sediaan yang memiliki sifat dan kegunaan yang sama. Untuk sediaan yang memiliki sifat dan kegunaan yang berbeda maka metode kos yang digunakan dapat juga berbeda. Paragraf ini juga menegaskan bahwa LIFO sudah tidak diperkenankan lagi. 3

Paragraf 21 menyatakan Biaya persediaan untuk item yang biasanya tidak dapat diganti dengan barang lain (not ordinary interchangeable) dan barang atau jasa yang dihasilkan dan dipisahkan untuk proyek tertentu harus diperhitungkan berdasarkan identifikasi spesifik terhadap biayanya masing masing. Salah satu penyebabnya adalah metode FIFO tidak mewakili secara tepat aliran sediaan.

Akuntan Muda

Halaman 15

Metode kos dengan menggunakan FIFO dan WEIGHTED-AVERAGE COST biasanya digunakan untuk menentukan nilai sediaan apabila pada akhir periode akuntansi nilai sediaan tidak mengalami perubahan atau sama dengan cost awal. tetapi, apabila nilai sediaan yang ada ditangan mengalami penurunan atau kenaikan (berubah) atau tidak sama dengan kost awal maka nilai sediaan yang akan dilaporkan pada laporan posisi keuangan tidak dapat lagi ditentukan dengan menggunakan dasar kos. Dalam kondisi tersebut diatas maka sediaan harus diukur dengan menggunakan Nilai terendah antara kos dan net realizable value (the lower of cost and net realizable value). Hal ini sesuai dengan apa yang tertera pada PSAK No. 14 paragraf 8 (revisi 2008), yang menyatakan bahwa: Sediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah. PSAK no.14 ini mengadadopsi IAS no.2 yang menyatakan bahwa Nilai terendah antara kos dan net realizable value (selanjutnya akan disebut NRV) harus digunakan sebagai basis dalam penilaian sediaan.

Sebelum diadopsinya PSAK 14 (revisi 2008), standar akuntansi keuangan Indonesia mengharuskan menilai sediaan dengan menggunakan metode Lower cost or market (LCM) sehingga jika kita liat maka perbedaan penilaian sediaan antara PSAK 14 lama dengan PSAK 14 (revisi 2008) terletak pada nilai pasar (berdasarkan PASK 14 sebelum revisi 2008) dan nilai realisasi bersih (berdasar PSAK 14 revisi Metode kos (FIFO dan WEIGHTEDAVERAGE COST ) TIDAK dapat digunakan lagi ketika nilai sediaan yang ada ditangan mengalami penurunan atau kenaikan (berubah) atau tidak sama dengan kost awal. Perubahan tersebut bisa disebabkan karena rusak, seluruh atau sebagian sediaan telah usang, persediaan tidak dalam keadaan normal untuk dijual atau harga jualnya mengalami penurunan.

Akuntan Muda

Halaman 16

2008). Sebelum kita kaji lebih dalam bagaimana teknis penentuan nilai sediaan, perlu dibedakan antara nilai pasar (market value) dengan NRV. Dalam PSAK paragraf 5 dinyatakan bahwa NRV adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan (Paragraf 05). NRV mengacu kepada jumlah neto yang entitas berharap untuk direalisasi dari penjualan persediaan dalam kegiatan usaha biasa. 4 Sedangkan nilai pasar (market) mengacu pada kos untuk mengganti item sediaan dengan cara membeli atau dengan cara produksi. Dalam penentuan nilai pasar melibatkan batas atas (upper limit) dan batas bawah (lower limit). Upper limit mengacu pada nilai NRV sedangkan lower limit mengacu pada nilai NRV dikurangi dengan margin profit normal.

APLIKASI PENENTUAN NILAI SEDIAAN BERDASAR METODE NRV Vs LCM.


Untuk mengaplikasi NRV, perlu diingat bahwa kos adalah nilai akuisisi sediaan yang dihitung dengan menggunakan salah satu dasar kos historis, yaitu FIFO atau waighted-average cost. Sedangkan NRV adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan. Untuk mengilutrasikan aplikasi perbandingan penentuan nilai sediaan dengan menggunakan ke-dua metode, maka dimisalkan Sedato Company memiliki data berikut terkait sediannya (yang dinilai dengan menggunakan basis individu) . Replacement Item Kos* cost A B C Rp2 4 6 Rp 1,8 1,6 6.6 jual Rp2,50 4,00 10,00 Rp 0,50 0,80 1,00 Estimasi harga Biaya penyelesaian margin 24% 24% 18% Normal profit

Dalam paragraf 6 juga dinyatakan bahwa nilai wajar mencerminkan suatu jumlah di mana persediaan yang sama dapat dipertukarkan

antara pembeli dan penjual yang berpengetahuan dan berkeinginan di pasar. Nilai realisasi neto adalah nilai khusus entitas4 sedangkan nilai wajar tidak tergantung pada nilai khusus entitas. Nilai realisasi neto untuk persediaan bisa tidak sama dengan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual (Paragraf 6).

Akuntan Muda

Halaman 17

D E

5 1

4,75 1.05

6,00 1,20

2,00 0,25

20% 12,5%

Keterangan * = nilai kos ini merupakan nilai sediaan Akhir yang ditentukan nilainya terlebih dahulu dengan menggunakan metyode FIFO atau waighted-average

Dari data tersebut perhitungan nilai sediaan akhir dengan menggunakan metode the lower of cost and net realizable value adalah sebagai berikut:

Item A B C D E Total

Kos Rp2 4 6 5 1 Rp 18

Estimasi harga jual (A) Rp2,50 4,00 10,00 6,00 1,20

Biaya penyelesaian (B) Rp 0,50 0,80 1,00 2,00 0,25

NRV (A-B) Rp 2,00 3,20 9,00 4,00 0,95

Lower Rp2,00 3,20 6,00 4,00 0,95 Rp15,95

Selisih kos dan nilai NRV= 2,05

Dengan menggunakan metode LCNRV maka jurnal penyesuaian yang dibutuhkan untuk mengakui danya penurunan nilai dari kos ke NRV (dengan menggunakan metode cadangan) adalah :

Loss Due to Decline of Inventory to Net realizable Value ............Rp 2,05 Allowance to reduce Inventory to Net realizable Value ........... Rp 2,05 Rekening Allowance To Reduce Inventory To NRV akan disajikan pada Neraca sebagai faktor pengurang sediaan (inventory) yang tampak sebagai berikut : Inventory (at Cost) .................... Rp 18 Allowance To Reduce Inventory To NRV ................ 2,05 Inventory value (at NRV) .................. Rp 15,95

Jika data tersebut digunakan untuk menghitung nilai sediaan dengan menggunakan metode Lower cost or market (LCM), maka perhitungannnya adalah:

Akuntan Muda

Halaman 18

Estimasi Item Kos harga jual (A) A B C D E Total Rp2 4 6 5 1 Rp 18 Rp2,50 4,00 10,00 6,00 1,20

Biaya penyelesaian (B) Rp 0,50 0,80 1,00 2,00 0,25

NRV (A-B)

Batas bawah

Replacement cost

Market

LCM

Rp 2,00 Rp1,40 3,20 9,00 4,00 0,95 2,24 7,20 2,80 0,80

Rp 1,8 Rp 1,80 1,6 6.6 4,75 1.05 2,24 7,20 4,00 0,95

Rp 1,80 2,24 6,00 4,00 0,95 Rp14,99

Selisih kos dengan pasar= 3,01

Dengan menggunakan metode LCM maka jurnal penyesuaian yang dibutuhkan untuk mengakui danya penurunan nilai dari kos ke nilai pasar (dengan menggunakan metode cadangan) adalah : Loss Due to Decline of Inventory to market ......... Rp 3,01 Allowance to reduce Inventory to market ................ Rp 3,01 Rekening Allowance To Reduce Inventory To NRV akan disajikan pada Neraca sebagai faktor pengurang sediaan (inventory) yang tampak sebagai berikut : Inventory (at Cost) .................... Rp 18 Allowance To Reduce Inventory To market ................ 3,01 Inventory value (at market) .................. Rp 14,99 Jika kita bandingkan antara metode the lower of cost and net realizable value dengan metode Lower cost or market (LCM) maka nilai sediaan akhir memiliki nilai yang lebih kecil jika menggunakan metode LCM, sehingga cadangan kerugian (jika menggunakan metode cadangan) dan kerugian akibat penurunan nilai sediaan yang diakui akan menjadi lebih besar yaitu sebesar Rp3,01 jika dibandingkan dengan mengunakan metode NRV. Jadi dapat dikatakan bahwa metode penilaian sediaan berdasar US GAAP lebih konservatif daripada IFRS. Satu catatan penting yang harus kita cermati adalah nilai sediaan berdasar IFRS (atau berdasar PSAK No.14 revisis 2008) dan berdasar US GAAP akan memberikan nilai yang SAMA jika replacement cost (kos pengganti) LEBIH BESAR daripada NRV. Penasaran?

Akuntan Muda

Halaman 19

Cobalah mengaplikasikannya dengan menggunakan angka yang teman-teman buat sendiri. .Selamat mencoba!

SIMPULAN
Sediaan dicatat pada kos-nya, namun jika nilai sediaan mengalami penurinan nilai dibawah kos awal, maka terjadi pergeseran yang cukup besar dari prinsip kos historis. Apapun alasan terjadinya penurunan nilai (keusangan, kadaluarsa, rusak, perubahan level harga) perusahaan harus mengakui adanya penurunan nilai sediaan ke net ralizable value (NRV). Hal ini berarti bahwa perusahaan harus meninggalkan prinsip historical kos ketika nilai guna utilitas (kemampuan menghasilkan revenue) dari aset mengalami penuunan dibawah kos awal.

REFERENSI
Kieso, Weygandt, dan Warfield. 2010. Intremediate Accounting. Wiley. New York Standar Akuntansiu Keuangan. 2009. Ikatan Akuntan Indonesia. Salemba Empat, jakarta. Fay, et al. 2009. Incorporating International Financial Reporting Standards (IFRS) into Intermediate Accounting. Virginia Tech.

Akuntan Muda

Halaman 20

Peran dan Martabat Bahasa Indonesia dalam Pengembangan Ilmu5

Suwardjono Fakultas Ekonomika dan Busines Universitas Gadjah Mada

Pengantar
Makalah ini membahas masalah yang lebih sempit daripada topik yang luas yaitu Peran Bahasa dalam Pendidikan Anak Bangsa menuju Insan Indonesia Cerdas Kompetitif sebagai tema Kongres IX Bahasa Indonesa. Penulis merasa mendapat kehormatan karena diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasan tentang bahasa Indonesia yang menjadi perhatian penulis cukup lama sebagai dosen yang harus menggunakan bahasa Indonesia dalam kegiatan pembelajaran. Perhatian timbul setelah penulis mempelajari, menggunakan, merasakan, dan membandingkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris selama menjalankan tugas sebagai staf pengajar di perguruan tinggi yang sebagian besar sumbernya berbahasa Inggris. Penulis mendapatkan pemahaman dan keyakinan bahwa bahasa Indonesia cukup kaya dan mempunyai potensi yang besar untuk menjadi bahasa pengantar ilmu pengetahun dan teknologi pada tingkat yang sepadan dengan bahasa Inggris. Penulis berkeyakinan bahwa bahasa Indonesia yang baku dan pada aras (level) yang memadai harus dikuasai oleh ilmuwan dan pembelajar dalam bidang ilmu yang menjadi minatnya. Hal ini menuntut sikap dan pandangan baru terhadap bahasa Indonesia di tengah-tengah persaingan antara bahasa Indonesia dengan bahasa asing terutama bahasa Inggris. Makalah ini lebih

Makalah ini didasarkan pada dua artikel penulis yang selalu penulis kembangkan dan revisi. Dua artikel tersebut adalah Suwardjono (1991a dan 1991b).

Akuntan Muda

Halaman 21

memfokuskan pada pembahasan masalah dan kendala pengembangan bahasa Indonesia daripada solusi untuk menjadikan bahasa Indonesia sama martabatnya dengan bahasa Inggris. Sarana utama dalam pengembangan dan penyebaran ilmu adalah bahasa. Bahasa mempunyai ragam dan tingkat sesuai dengan tujuan dalam mencapai keefektifan komunikasi. Untuk tujuan pengembangan ilmu, bahasa menjadi sarana komunikasi oleh sesama ilmuwan atau pakar dalam bentuk buku atau karya tulis lainnya. Karya tulis akademik dan ilmiah menuntut kecermatan bahasa karena karya tersebut harus disebarluaskan kepada pihak yang tidak secara langsung berhadapan dengan penulis baik pada saat tulisan diterbitkan maupun pada beberapa tahun sesudah itu. Kecermatan bahasa menjamin bahwa makna yang ingin disampaikan penulis akan sama persis seperti makna yang ditangkap pembaca tanpa terikat oleh waktu. Kesamaan interpretasi terhadap makna akan tercapai kalau penulis dan pembaca mempunyai pemahaman yang sama terhadap kaidah kebahasaan yang digunakan. Lebih dari itu, komunikasi ilmiah juga akan menjadi lebih efektif kalau kedua pihak mempunyai kekayaan yang sama dalam hal kosa kata, gramatika, idiom, dan sarana kebahasaan lainnya. Ciri ragam bahasa keilmuan adalah kemampuan bahasa tersebut untuk mengungkapkan gagasan dan pikiran yang kompleks dan abstrak secara cermat. Kecermatan gagasan dan buah pikiran hanya dapat dilakukan kalau struktur bahasa (termasuk kaidah pembentukan istilah) sudah canggih dan mantap. Arti penting kemampuan berbahasa untuk tujuan ilmiah dan penyerapan ilmu dinyatakan Suriasumantri (1999) seperti berikut:6 Kemampuan berbahasa yang baik dan benar merupakan persyaratan mutlak untuk melakukan kegiatan ilmiah sebab bahasa merupakan sarana komunikasi ilmiah yang pokok. Tanpa penguasaan tata bahasa dan kosa kata yang baik akan sukar bagi seorang ilmuwan untuk mengkomunikasikan gagasannya kepada pihak lain. Dengan bahasa selaku alat komunikasi, kita bukan saja menyampaikan informasi tetapi juga argumentasi, di mana kejelasan kosa kata dan logika tata bahasa merupakan persyaratan utama (hlm. 14).

Penebalan oleh penulis. Kata di mana seharusnya diganti yang di dalamnya.

Akuntan Muda

Halaman 22

Suriasumantri selanjutnya mengemukakan bahwa bahasa merupakan sarana untuk mengungkapkan perasaan, sikap, dan pikiran. Aspek pikiran dan penalaran merupakan aspek yang membedakan bahasa manusia dan makluk lainnya. Selanjutnya disimpulkan bahwa aspek penalaran bahasa Indonesia belum berkembang sepesat aspek kultural. Demikian juga, kemampuan berbahasa Indonesia untuk komunikasi ilmiah dirasakan sangat kurang apalagi dalam komunikasi tulisan. Hal ini disebabkan oleh proses pendidikan yang kurang memperlihatkan aspek penalaran dalam pengajaran bahasa. Tulisan ini membahas dua masalah kebahasaan Indonesia yaitu masalah strategi kebahasaan nasional dan peran lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi sebagai agen pengembangan dan perubahan bahasa untuk tujuan keilmuan. Masalah pertama berkaitan dengan kebijakan penegasan kedudukan dan pengembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa keilmuan beserta masalah dan kendalanya. Masalah kedua menyangkut peran lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi dalam mengembangkan dan menanamkan arti penting bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar keilmuan tersebut. Bahasa keilmuan merupakan salah satu ragam bahasa yang harus dikuasai oleh mereka yang berkecimpung dalam dunia keilmuan dan akademik. Poedjosoedarmo (2001) menjelaskan bahwa martabat bahasa adalah tinggi atau rendahnya derajat bahasa di mata pemakainya atau orang asing. Kemampuan bahasa untuk memenuhi berbagai keperluan komunikasi menentukan derajat bahasa. Semakin besar kemampuan bahasa untuk menyampaikan segala macam cipta, rasa, dan karsa dalam suatu masyarakat, semakin tinggi derajat bahasa itu. Agar mampu dan bermartabat tinggi bahasa itu harus kaya dalam hal perbendaharaan kata, idiom, struktur kalimat, dan register khusus untuk menyampaikan berbagai pesan dalam segala aspek kehidupan. Bahasa dapat dikatakan berkemampuan dan bermartabat tinggi kalau bahasa itu digunakan dalam bidang agama, kesusasteraan, ilmu pengetahuan, politik, hukum, dan kenegaraan. Berdasarkan pemahaman penulis terhadap sarana kebahasaan yang tersedia, penulis berkeyakinan bahwa bahasa Indonesia mempunyai martabat dan kemampuan yang memadai untuk menjadi bahasa pengantar ilmu sampai pada tingkat yang tinggi seperti bahasa asing terutama bahasa Inggris. Bahasa Indonesia dapat dikembangkan menuju ke arah itu, khususnya untuk tujuan pengungkapan segala macam ilmu pada tingkat yang

Akuntan Muda

Halaman 23

tinggi. Ragam bahasa keilmuan pada dasarnya merupakan ragam bahasa baku yang memenuhi kaidah kebahasaan.

Bahasa Indonesia di Persimpangan Jalan


Bahasa merupakan salah satu faktor pendukung kemajuan suatu bangsa karena bahasa merupakan sarana untuk membuka wawasan bangsa (khususnya pelajar dan mahasiswa) terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. Dengan kata lain, tia7 merupakan sarana untuk menyerap dan mengembangkan pengetahuan. Pada umumnya, negara maju mempunyai struktur bahasa yang sudah modern dan mantap. Moeliono (1989) menegaskan bahwa untuk dapat memodernkan bangsa dan masyarakat, pemodernan bahasa merupakan suatu hal yang sangat penting. Beliau mencotohkan apa yang dialami Jepang. Usaha pemodernan bahasa Jepang yang dirintis sejak Restorasi Meiji telah mampu menjadi katalisator perkembangan ilmu dan teknologi di Jepang. Hal itu dapat dicapai karena semua sumber ilmu pengetahuan dan teknologi Barat dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dengan cermat sehingga wawasan berpikir bangsa Jepang dapat dikembangkan secara intensif lewat usaha penerjemahan secara menyeluruh dan besar-besaran. Hal ini menciptakan insan yang cerdas dan kompetitif tanpa harus menunggu kefasihan berbahasa asing. Gagasan tersebut telah mendorong usaha untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang bermartabat untuk tujuan keilmuan. Usaha ini telah ditandai dengan dibentuknya Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang Pusat Bahasa) dan diterbitkannya buku Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.8 Walaupun publikasi tersebut belum secara tuntas menggambarkan aspek kebahasaan yang diharapkan, publikasi tersebut memberi isyarat bahwa untuk memantapkan kedudukan

Kata tia merupakan kata ganti untuk kata bahasa yang disebut sebelumnya. Kata tia digunakan untuk kata ganti nomina (kata benda) tunggal sebagai pasangan ia atau dia yang merupakan kata ganti personal (untuk orang). Untuk kata ganti nomina jamak, penulis mengusulkan dan menggunakan kata meretia sebagai pasangan mereka dalam beberapa tulisan penulis. 8 Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1988); Depdikbud, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Jakarta: Perum Balai Pustaka, 1988). Buku pertama telah mengalami revisi dua kali tahun 1998 dan 2000.

Akuntan Muda

Halaman 24

bahasa Indonesia perlu ada suatu pembakuan baik dalam bidang ejaan maupun tata bahasa. Pembakuan ini merupakan suatu prasyarat untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa keilmuan. Publikasi itu merupakan salah satu sarana untuk menuju ke status tersebut. Keefektifan usaha di atas dipengaruhi oleh sikap dan tanggapan masyarakat (khususnya ilmuwan dan akademisi) terhadap bahasa Indonesia. Komunikasi ilmiah dan profesional dalam bahasa Indonesia belum sepenuhnya mencapai titik kesepakatan yang tinggi dalam hal kesamaan pemahaman terhadap kaidah bahasa termasuk kosa kata. Sebagian ilmuwan dan akademisi masih memandang rendah kemampuan dan martabat bahasa Indonesia sehingga tidak mempunyai minat untuk mengembangkannya. Bahasa baku sering malahan menjadi bahan ejekan. Beberapa kenyataan atau faktor mungkin menjelaskan keadaan ini dan menjadi kendala pengembangan bahasa keilmuan. Pertama, kebanyakan orang dalam dunia akademik belajar berbahasa Indonesia secara alamiah (bila tidak dapat dikatakan secara monkey see monkey do). Artinya orang belajar dari apa yang nyatanya digunakan tanpa memikirkan apakah bentuk bahasa tersebut secara kaidah benar atau tidak. Lebih dari itu, akademisi kadangkala lebih menekankan selera bahasa daripada penalaran bahasa. Akibatnya, masalah kebahasaan Indonesia dianggap hal yang remeh atau sepele dan dalam menghadapi masalah bahasa orang lebih banyak menggunakan argumen yang penting tahu maksudnya. Orang lupa bahwa tahu maksudnya juga harus dicapai pada tingkat dan keakuratan yang tinggi khususnya untuk tujuan ilmiah. Lihat pembahasan lebih lanjut mengenai hal ini dalam subbahasan Tugas Siapa di bagian lain tulisan ini. Kedua, bahasa Indonesia harus bersaing dengan bahasa asing (terutama Inggris). Kenyataan ini tidak hanya terjadi pada tingkat penggunaan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat umum tetapi juga dalam kehidupan akademik. Cendekiawan dan orang yang berpengaruh biasanya mempunyai kosa kata asing yang lebih luas daripada kosa kata Indonesianya (sebagian karena tuntutan untuk belajar bahasa asing ketika belajar di luar negeri) dan melupakan bahasa Indonesia. Akibatnya, mereka merasa lebih asing dengan bahasa Indonesia. Selanjutnya, mereka lebih nyaman menggunakan bahasa (istilah) asing untuk komunikasi ilmiah tanpa ada upaya sedikit pun untuk memikirkan pengembangan

Akuntan Muda

Halaman 25

bahasa Indonesia. Media massa juga memperparah masalah terutama televisi. Nama acara berbahasa Inggris tetapi isinya berbahasa Indonesia. Apakah bahasa Indonesia ataukah penyelenggara acara yang miskin kosa kata? Kalau tidak, apakah menggunakan bahasa Indonesia kurang bergengsi, kurang mampu, dan kurang bermartabat? Ketiga, dalam dunia pendidikan (khususnya perguruan tinggi) sebagian buku referensi atau buku ajar yang memadai dan lengkap biasanya berbahasa asing (terutama Inggris) karena memang banyak ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang di luar negeri. Sementara itu, kemampuan bahasa asing rata-rata pelajar dan mahasiswa dewasa ini belum dapat dikatakan memadai untuk mampu menyerap pengetahuan yang luas dan dalam yang terkandung dalam buku tersebut. Kenyataan tersebut sebenarnya merupakan implikasi dari suatu keputusan strategik implisit yang didasarkan pada asumsi bahwa setiap pelajar harus sudah fasih berbahasa Inggris setamatnya dari sekolah sehingga bahasa Inggris mempunyai kedudukan istimewa dalam kurikulum sekolah. Selain itu, digunakannya buku teks berbahasa Inggris didasarkan pada gagasan bahwa jaman sekarang telah mengalami globalisasi dan banyak orang berpikir bahwa globalisasi harus diikuti dengan penginggrisan bangsa dan masyarakat. Strategi ini tidak hanya merasuki pikiran pengambil keputusan di bidang pendidikan di tingkat institusional tetapi juga di tingkat individual guru atau dosen. Pikiran semacam ini sebenarnya merupakan suatu kecohan penalaran (reasoning fallacy). Di Jepang, globalisasi dimaknai sebagai pengglo balan bangsa atau negara bukan pengglobalan individual. Di Indonesia, globalisasi tampaknya dimaknai sebagai penginggrisan masyarakat Indonesia sampai pada lapisan masyarakat dan tingkat pendidikan yang paling bawah (taman bermain dan taman kanak-kanak). Kalau globalisasi dimaknai dengan penginggrisan masyarakat, yang sebenarnya terjadi adalah gombalisasi (penggombalan) masyarakat. Keempat, kalangan akademik sering telah merasa mampu berbahasa Indonesia sehingga tidak merasa perlu untuk belajar bahasa Indonesia atau membuka kamus bahasa Indonesia (misalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia). Akibatnya, orang sering merasa lebih asing mendengar kata bahasa sendiri daripada mendengar kata bahasa asing. Anehnya, kalau orang menjumpai kata asing (Inggris) yang masih asing bagi dirinya, mereka dengan sadar dan penuh motivasi berusaha untuk mengetahui artinya dan mencarinya di dalam kamus dan tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa kata itu aneh. Akan tetapi, kalau mereka mendengar kata bahasa Indonesia yang masih asing bagi dirinya, dia merasa itu Akuntan Muda Halaman 26

bukan bahasanya dan akan bereaksi dengan mengatakan Apa artinya ini, kok aneh-aneh? dan berusaha untuk tidak pernah tahu apalagi membuka kamus dan menggunakannya secara tepat. Dalam Kontak Pembaca (Tempo, 2 Mei 1992), Sofia Mansoor-Niksolihin mengemukakan hal berikut ini.9 Sebetulnya, kata-kata itu bisa dicari sendiri dalam kamus karena memang itulah itulah salah satu fungsi kamus. Tapi, biasanya, kamus hanya dibuka jika kita mengalami kesulitan untuk memahami kata bahasa asing. Bila menjumpai kata Indonesia yang tidak kita kenal, kita bukannya membuka kamus, melainkan pada umumnya menggerutu dan merasa terganggu. Rupanya, bukan hanya film nasional yang sulit menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bahasa nasional pun ternyata sering kita anak tirikan. Menurut hemat saya, kamus perlu dibuka setiap kali kita menjumpai kata yang tidak kita kenal, baik itu kata asing maupun kata Indonesia. Kita terpaksa mengakui bahwa kita ini sebenarnya miskin kosa kata bahasa sendiri. Hanya sebagian kecil yang kaya, misalnya para penulis TEMPO. Jadi, agar dapat memahami tulisan si kaya, kitalah yang harus memperkaya diri. Caranya? Tidak serumit menjadi konglomerat. Cukup dengan memiliki kamus, sedikitnya KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Sikap seperti ini sebenarnya menunjukkan bahwa seseorang sudah merasa cukup dan puas dengan bahasa awam atau alamiahnya. Dapat juga sikap semacam itu timbul karena mentalitas rendah diri yang akut (inferiority complex) atau mental terjajah. Akademisi yang bersikap demikian lupa bahwa kemampuan menyerap gagasan dan pengetahuan yang kompleks dan konseptual memerlukan kemampuan berbahasa dan penguasaan kosa kata pada tingkat yang memadai. Pada waktu belajar di luar negeri, penulis bertemu dengan mahasiswa Amerika (teman baik penulis) yang pada waktu itu membawa kamus The American Heritage Dictionary yang cukup tebal. Penulis menanyakan kepadanya mengapa dia masih membawa kamus segala toh dia sudah bisa berbahasa Inggris. Dengan nada yang cukup tinggi (mungkin dia berpikir bahwa penulis menanyakan stupid question dan ingin memberi pelajaran kepada penulis) dia menjawab yang kira-kira artinya demikian: Apa kamu kira saya ini tahu semua kata bahasa Inggris? Pelajaran yang dapat dipetik dari pengalaman ini adalah bahwa seseorang

Dalam kutipan ini, kata-kata itu adalah sentana, menyura, menyoal, legah-leguh, dan nafsi-nafsi yang terdapat di majalah TEMPO yang dikeluhkan oleh seorang pembaca melalui Kontak Pembaca. Kutipan tersebut merupakan sebagian dari tanggapan terhadap keluhan tersebut.

Akuntan Muda

Halaman 27

(khususnya dosen dan mahasiswa) harus belajar bahasa sendiri (Indonesia) lebih dari apa yang diperolehnya secara alamiah. Kelima, beberapa kalangan masyarakat termasuk profesional (karena ketidaktahuannya) sering menunjukkan sikap sinis terhadap usaha-usaha pengembangan bahasa. Lebih dari itu, menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar belum merupakan suatu kebanggaan atau gengsi bagi penuturnya. Suatu struktur bahasa yang baik dan benar justru sering menjadi olok-olok sebagaimana ditunjukkan seorang penulis di sebuah majalah terkenal yang menganjurkan untuk mengganti Pusat Pembinaan Bahasa dengan Pusat Pembinasaan Bahasa.10 Penulis tersebut tampaknya tidak dapat membedakan antara bahasa baku dan ragam bahasa.

Kebijakan Nasional
Sampai saat ini tampaknya belum ada suatu kesamaan persepsi dan kebijakan yang tegas (di tingkat nasional, institusi, dan individual dosen) mengenai masalah kebahasaan untuk kepentingan pengembangan ilmu dan teknologi. Atas dasar beberapa dilema atau kendala kebahasaan Indonesia di atas, ada suatu pertanyaan yang sangat mendasar yang dapat dijadikan haluan suatu kebijakan strategik nasional yang penting. Manakah kebijakan nasional yang paling efektif untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa datang: (1) mengajarkan bahasa asing (Inggris) kepada pelajar/mahasiswa sehingga mereka dapat membaca buku-buku asing tetapi tetap menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar, (2) menerjemahkan buku asing itu ke dalam bahasa Indonesia sehingga ilmu pengetahuan asing itu dapat dipelajari oleh pelajar/mahasiswa Indonesia yang tidak atau belum paham atau fasih bahasa asing pada tingkat yang memadai, atau (3) menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi di perguruan tinggi (buku teks dan bahasa pengantar kuliah).

10

Remy Sylado, Pusat Pembinaan Bahasa Apa Pusat Pembinasaan Bahasa, Jakarta, Jakarta No. 173 (Oktober 1989), hlm. 84-85. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa sekarang disebut Pusat Bahasa saja.

Akuntan Muda

Halaman 28

Dapatkah dicapai suatu keadaan yang memungkinkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi dapat segera dikuasai dan karya seni tinggi dapat segera dinikmati para pelajar dan mahasiswa tanpa mereka harus belajar bahasa asing dulu? Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Masing-masing pilihan akan membawa implikasi yang sangat luas baik dalam kehidupan masyarakat umum maupun akademik. Yang jelas, kebijakan manapun yang dipilih akan mempunyai implikasi dalam membangun insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Apa yang terjadi di Indonesia dewasa ini juga merupakan refleksi dari keputusan strategik yang sekarang dianut baik secara sadar ataupun tidak. Implikasi keputusan strategik mengenai hal ini di Jepang dapat dijadikan contoh dan pertimbangan. Di negara tersebut, pelajar pada tingkat pendidikan menegah dan atas tidak harus menunggu fasih berbahasa Inggris untuk dapat menikmati karya-karya ilmiah dan karya-karya seni tinggi asing. Akibatnya, inovasi tumbuh dengan subur dan dapat disaksikan bahwa bangsa Jepang telah menikmati hasil keputusan strategik tersebut. Memang hasil seperti itu tidak dapat diraih dalam waktu pendek (dan juga tidak hanya faktor bahasa yang menentukan). Akan tetapi, tidak adakah usaha dalam diri kita untuk menuju ke sana? Tidak adakah paradigma dan sikap baru dalam menghadapi masalah kebahasaan kita bila memang benar bahwa kemantapan bahasa merupakan katalisator kemajuan dan penguasaan ilmu pengetahuan?

Bahasa Menunjukkan Bangsa


Kita memaklumi bahwa bahasa Inggris yang kita kenal sekarang memang dapat dikata kan mempunyai ejaan dan struktur bahasa yang baku yang menjadi bagian penting dari martabat dan kemampuan bahasa. Oleh karena itu, bahasa tersebut telah mencapai status untuk digunakan sebagai bahasa keilmuan. Tentu saja kedudukan semacam itu tidak terjadi begitu saja. Bahasa tersebut telah mengalami pengembangan dan perluasan dalam waktu hampir tiga abad untuk mencapai statusnya seperti sekarang. Status yang demikian akhirnya juga menjadi sikap mental bagi pemakai dan penuturnya. Artinya, kesalahan dalam penggunaan bahasa baik tata bahasa maupun ejaan (spelling) merupakan suatu kesalahan yang dianggap tercela dan memalukan apalagi di kalangan akademik. Sudah menjadi kebiasaan umum dalam penilaian pekerjaan tulis pelajar dan mahasiswa di Amerika bahwa

Akuntan Muda

Halaman 29

salah eja akan mengurangi skor pekerjaan tulis tersebut. Hal seperti itu dapat terjadi karena pemilihan ejaan didasarkan pada kaidah yang baku dan bukan didasarkan atas selera pemakai. Bandingkan dengan keadaan di Indonesia khususnya di kalangan profesional dan akademik. Kesadaran akan adanya pedoman yang baku mencerminkan bahwa masyarakat mempunyai mentalitas untuk mengikuti apa yang menjadi ketentuan atau kesepakatan bersama. Memang dalam setiap ketentuan yang baku selalu ada penyimpangan. Akan tetapi, penyimpangan tentu saja diharapkan sangat minimal. Bila penyimpangan lebih banyak daripada ketentuan yang baku berarti ketentuan baku tersebut praktis tidak ada manfa atnya sama sekali. Dalam kehidupan sehari-hari, bila kebijaksanaan lebih banyak dari ketentuan yang telah digariskan, dapat dibayangkan apa yang akan terjadi. Bila dalam kehidupan bermasyarakat lebih banyak kebijaksanaan (yang berarti penyimpangan) daripada ketentuan hukum yang berlaku maka kepercayaan masyarakat terhadap hukum menjadi berkurang dan akhirnya masyarakat lebih mempercayai atau menganut jalan simpang. Oleh karena itu, semboyan bahasa menunjukkan bangsa sebenarnya bukan sekadar ungkapan klise melainkan semboyan yang mempunyai makna filosofis yang sangat dalam. Sikap masyarakat terhadap bahasa barangkali dapat dijadikan indikator mengenai sikap masyarakat dalam hidup bernegara. Mungkinkah perilaku dalam penggunaan bahasa Indonesia dewasa ini merupakan refleksi sikap mental kita yang selalu mengharapkan kebijaksanaan (baca: hak istimewa, prioritas, penyimpangan, atau pengecualian terhadap hukum) daripada mengikuti ketentuan yang berlaku?

Arti Penting Bahasa Asing


Mungkin sekali banyak orang menjadi khawatir bahwa kalau bahasa Indonesia menjadi maju dan semua buku sudah ditulis dalam bahasa Indonesia maka kemampuan pelajar dan mahasiswa berbahasa asing menjadi berkurang sehingga tidak mampu bersaing. Sekali lagi bersaing secara global hendaknya tidak diartikan sebagai bersaing secara individual tetapi secara nasional. Mengembangkan dan memodernkan bahasa Indonesia di masa mendatang tidak berarti mematikan bahasa asing. Yang sebenarnya harus dicapai adalah membuka cakrawala pelajar dan mahasiswa terhadap pengetahuan dan teknologi sejak dini tanpa

Akuntan Muda

Halaman 30

harus menunggu fasih berbahasa asing. Hal inilah yang perlu dipertimbangkan secara serius sebagai kebijakan nasional. Sebagai individual, kalau kita ingin lebih melebarkan cakrawala pengetahuan, bahasa asing jelas merupakan hal yang tidak dapat ditinggalkan. Masih langkanya buku-buku keilmuan berbahasa Indonesia dewasa ini mengharuskan kita (kalangan busines, akademik, dan ilmiah) menguasai bahasa asing (khususnya bahasa Inggris). Jadi, belajar bahasa asing harus merupakan dorongan indi- vidual yang kuat bukan kebijakan nasional. Hal yang perlu dicatat adalah bahwa seseorang dapat menguasai bahasa asing (termasuk membaca buku teks) dengan baik kalau dia juga menguasai bahasa sendiri Indonesia) dengan baik pula. Bagaimana mungkin seseorang dapat belajar bahasa Inggris yang mempunyai struktur yang baku dan canggih kalau dia sendiri tidak menguasai bahasa Indonesia yang baku (dan sebenarnya juga canggih dan bermartabat) sebagai pembandingnya? Telah disebutkan di muka, banyak orang mengeluh dan merasa sulit belajar bahasa Inggris tetapi mereka lupa bahwa kesulitan tersebut sebenarnya disebabkan oleh struktur bahasa Indonesianya yang masih belum memadai.

Bahasa Indonesia dalam Karya Ilmiah


Karya tulis ilmiah atau akademik menuntut kecermatan dalam penalaran dan bahasa. Dalam hal bahasa, karya tulis semacam itu (termasuk laporan penelitian) harus memenuhi ragam bahasa standar (formal) atau terpelajar dan bukan bahasa informal atau pergaulan. Sugono (1997) membagi ragam bahasa atas dasar media/sarana, penutur, dan pokok persoalan. Atas dasar media, ragam bahasa terdiri atas ragam bahasa lisan dan tulis. Atas dasar penuturnya, terdapat beberapa ragam yaitu dialek, terpelajar, resmi, dan takresmi. Dari segi pokok persoalan, ada berbagai ragam antara lain ilmu, hukum, niaga, jurnalistik, dan sastra. Ragam bahasa karya tulis ilmiah/akademik hendaknya mengikuti ragam bahasa yang penuturnya adalah terpelajar dalam bidang ilmu tertentu. Ragam bahasa ini mengikuti kaidah bahasa baku untuk menghindari ketaksaan atau ambiguitas makna karena karya tulis ilmiah tidak terikat oleh waktu. Dengan demikian, ragam bahasa karya tulis ilmiah sedapat-dapatnya tidak mengandung bahasa yang sifatnya kontekstual seperti ragam Akuntan Muda Halaman 31

bahasa jurnalistik. Tujuannya adalah agar karya tersebut dapat tetap dipahami oleh pembaca yang tidak berada dalam situasi atau konteks saat karya tersebut diterbitkan. Masalah ilmiah biasanya menyangkut hal yang sifatnya abstrak atau konseptual yang sulit dicari alat peraga atau analoginya dengan keadaan nyata. Untuk mengungkapkan hal semacam itu, diperlukan struktur bahasa dan kosa kata yang canggih. Ciri-ciri bahasa keilmuan adalah kemampuannya untuk membedakan gagasan atau pengertian yang memang berbeda dan strukturnya yang baku dan cermat. Dengan karakteristik ini, suatu gagasan dapat terungkap dengan cermat tanpa kesalahan makna bagi penerimanya. Suharsono (2001) menyebutkan beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam karya tulis ilmiah berupa penelitian yaitu: Bermakna isinya Jelas uraiannya Berkesatuan yang bulat Singkat dan padat Memenuhi kaidah kebahasaan Memenuhi kaidah penulisan dan format karya ilmiah Komunikasi secara ilmiah Aspek komunikatif (keefektifan) hendaknya dicapai pada tingkat kecanggihan yang diharapkan dalam komunikasi ilmiah. Oleh karena itu, karya ilmiah tidak selayaknya membatasi diri untuk menggunakan bahasa (struktur kalimat dan istilah) popular khususnya untuk komunikasi antarilmuwan. Karena makna simbol bahasa harus diartikan atas dasar kaidah baku, karya ilmiah tidak harus mengikuti apa yang nyatanya digunakan atau popular dengan mengorbankan makna yang seharusnya. Bahasa keilmuan tidak selayaknya mengikuti kesalahkaprahan. Dalam kaitannya dengan hal ini, Sterling (1979) menegaskan pendekatan penggunaan istilah akuntansi sebagai berikut: The danger in continuing to use a nonscientific language is that we will not even understand the questions of science, much less seek answers to those questions. If we begin to use the language of science, we may begin to ask the right kinds of ques tions. Asking the right kinds of questions is a long way of obtaining answers, but it is a prerequisite.

Akuntan Muda

Halaman 32

Another advantage of adopting the language of science is that the scientific community has had a considerable experience in making their communication more precise. The major contributor toward precise communication is the adoption of technical terms by each scientific subspecialty. We accountants seem to have a negative attitude toward technical terms. On the one hand, this attitude is well founded since we need to communicate with nonaccountants via our financial reports. On the other hand, the absence of technical terms inhibits communication among accountants. The language that we currently use in trying to communicate with each other is most imprecise. It would be wholly beneficial if we adopted technical terms to communicate with each other and then translated those terms into plain English when we communicate with nonaccountants (hlm. 36). Pemenuhan kaidah kebahasaan merupakan ciri utama dari bahasa keilmuan. Oleh karena itu, aspek kebahasaan dalam karya ilmiah sebenarnya adalah memanfaatkan kaidah kebahasaan untuk mengungkapkan gagasan secara cermat. Kaidah ini menyangkut struktur kalimat, diksi, perangkat peristilahan, ejaan, dan tanda baca. Apa yang dikatakan Sterling di atas mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak harus takut menciptakan istilah baru hanya karena kita khawatir masyarakat akan bingung atau tidak tahu. Dalam menciptakan istilah baru, masyarakat yang diacu hendaknya adalah masyarakat profesional, ilmiah, atau akademik yang mempunyai kebersediaan (willingness) dan ketekunan (diligence) untuk belajar bukan orang awam dalam pergaulan umum atau pasar. Itulah sebabnya badan penyusun standar di Amerika, Financial Accounting Standards Board (FASB), tidak takut menciptakan istilah baru karena mereka menetapkan standar keilmiahan atau profesionalisma minimal masyarakat yang dituju. Hal ini dinyatakan FASB sebagai berikut:11 Financial reporting should provide information that is useful to present and potential investors and creditors and other users in making rational investment, credit, and similar decisions. The information should be comprehensible to those who have a reasonable understanding of business and economic activities and are willing to study the information with reasonable diligence. Kaidah kebahasaan Indonesia di perguruan tinggi menjadi masalah karena kenyataan bahwa sebagian besar buku ilmu pengetahuan dan teknologi berbahasa Inggris sementara proses belajar menggunakan bahasa Indonesia. Lebih dari itu, peran dosen dalam memahamkan pengetahuan masih sangat dominan sehingga dosen sangat diharapkan mampu berbahasa Inggris. Jadi, dosen harus mampu menyerap pengetahuan dalam bahasa
11

FASB (1991), Statement of Financial Accounting Concepts No. 1, paragraf 40. Penebalan oleh penulis.

Akuntan Muda

Halaman 33

Inggris dan menyampaikannya dalam bahasa Indonesia. Fungsi semacam ini akan melibatkan penerjemahan dan pembentukan istilah oleh dosen. Masalah yang paling pelik adalah pembentukan istilah. Sayangnya, para dosen tidak berusaha sama sekali untuk mengembangkan istilah baru karena mengira bahwa bahasa Indonesia tidak cukup kaya dan mampu. Alih-alih mengapresiasi dan mempelajari penjabaran istilah, mereka lebih suka menggerutu atau malah mengolok-olok pengenalan istilah baru. Akibatnya, istilah baru tidak dibahas di kelas tetapi disembunyikan. Dalam membahas istilah di kelas, dosen tidak harus selalu setuju dengan istilah baru tetapi harus mengajukan alasan atau penalarannya. Tugas dosen adalah menyampaikan gagasan dengan baik bukan memaksakan seleranya. Tidak mengenalkan dan membahas istilah baru sama saja dengan memasangi kaca mata kuda pada mahasiswa dan menutup perbaikan potensial. Oleh karena itu, dosen perlu memahami kaidah yang berkaitan dengan pembentukan istilah. Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI) yang dikeluarkan oleh Pusat Bahasa merupakan sumber yang cukup baik dan memadai sebagai pedoman. Walaupun tidak berkaitan dengan pembentukan istilah, tanda baca juga merupakan bagian penting dalam pemaparan karya ilmiah. Pedoman penggunaan tanda baca dimuat secara lengkap dalam Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Dalam kenyataannya, pedoman ini belum dimanfaatkan sepenuhnya karena kurangnya apresiasi dan perhatian masyarakat akademik dan profesional terhadapnya.

Level Bahasa
Mahasiswa sering mengeluh bahwa mereka sukar memahami suatu buku yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Ada berbagai alasan yang dapat menerangkan hal tersebut. Pertama, buku yang dibacanya membahas masalah konkret dan sederhana tetapi ditulis dengan bahasa yang kurang memadai sehingga sulit dipahami apalagi kalau pembaca hanya menggunakan struktur bahasa alamiahnya sehingga pembaca tidak tahu bahwa struktur bahasa dalam buku tersebut keliru dan menjadi tidak mudah dipahami maksudnya. Kedua, mahasiswa membaca buku yang memerlukan pemikiran mendalam tetapi membacanya seperti membaca berita di koran sehingga pemahaman tidak diperoleh. Ketiga, ini yang justru sering terjadi, buku tersebut memang ingin mengungkapkan sesuatu yang kompleks

Akuntan Muda

Halaman 34

dan konseptual yang memerlukan struktur bahasa dan kosa kata yang canggih dan ditulis dalam bahasa yang sangat memadai dan baku pada tingkatnya tetapi mahasiswa menggunakan struktur bahasa alamiahnya untuk memahami. Buku dengan tingkat bahasa yang tinggi dibaca dengan kemampuan bahasa pada tingkat rendah. Buku dengan tingkat bahasa standar yang tinggi dibaca dengan tingkat bahasa pergaulan umum. Sayangnya, banyak orang yang menuduh bahwa suatu buku sulit dipahami padahal sebenarnya orang tidak mempunyai kemampuan bahasa dan daya nalar yang memadai untuk memahami. Alih-alih belajar bahasa, mahasiswa menuntut agar bahasa buku teks membumi. Bahasa memang mempunyai aras (level) ditinjau dari luasnya kosa kata khusus (specialized vocabulary) dan ragam bahasa. Buku bacaan asing (berbahasa Inggris) sering diberi keterangan mengenai aras atau level bahasa yang digunakan atas dasar kosa kata khusus dan kekompleksan struktur bahasa. Gambar 1 melukiskan level bahasa yang digunakan untuk menandai level beberapa bacaan berbahasa Inggris.

Gambar 1. Level Bahasa Level 30.000 kata ke atas 20.000 kata 10.000 kata 5.000 kata 4.000 kata 2.000 kata 1.000 kata 500 kata Contoh Penggunaan Buku Shakespeare, filsafat Sastra tinggi, beberapa buku klasik, filosofi Buku teks ilmu sosial Buku teks ilmu alam atau pasti Majalah popular, koran, bacaan popular lainnya Buku cerita sederhanaan (simplified) Buku teks dan cerita sekolah dasar Belanja di swalayan, papan nama, iklan layanan masyarakat Bahasa simbol atau isyarat

Oxford Advanced Learners Dictionary, 7th Edition memuat daftar kata yang masuk dalam Oxford 3000TM Vocabulary Trainer (hlm. R100-R113). Kalau ditinjau dari lingkup pemakaian, daftar kata ini dapat digunakan sebagai pengukur level bahasa. Kalau kita sudah tahu hampir semua arti kata dan penggunaannya, berarti kita sudah berada paling tidak pada

Akuntan Muda

Halaman 35

level 3000 kata. Akan tetapi, kalau kita tidak tahu lebih dari 150 kata (5%), kita mungkin berada pada level di bawah 3000 kata. Kita akan mengalami hambatan untuk memahami materi dengan level bahasa di atas level yang kita kuasai. Oleh karena itu, kalau mahasiswa ingin menikmati dunia pengetahuan yang luas dan tinggi, mahasiswa harus memperbaiki kemampuan bahasanya (baik Indonesia maupun Inggris). Mahasiswa harus mempunyai kemampuan berbahasa pada tingkat yang memadai untuk mampu menyerap gagasan dan pengetahuan yang kompleks dan konseptual. Bahasa mahasiswa harus melangit. Mahasiswa harus meningkatkan level bahasanya. Kalau hanya keterampilan teknis dan komunikasi umum yang menjadi tujuan, bahasa alamiah memang sudah cukup. Gambar 2 melukiskan arti penting penguasaan bahasa (Indonesia dan Inggris) kalau kita ingin berkomunikasi dan belajar dalam dua bahasa itu sama baiknya pada level yang tinggi. Yang jelas kita akan mampu menjelajahi medan pengetahuan asing sepenuhnya kalau kita mempunyai kemampuan bahasa pada level yang sama dengan yang digunakan dalam bahasa sumber dan sasaran. Persoalannya adalah berapa lama diperlukan untuk mencapai level bahasa Inggris yang tinggi? Haruskah pembelajar Indonesia belajar bahasa Inggris (dan asing lainnya) sampai level yang tinggi untuk menjelajahi medan pengetahuan yang dapat dijelajahi oleh orang asing? Hal ini merupakan masalah yang harus dipertimbangan dengan saksama dalam menetapkan kebijakan nasional dalam pengembangan bahasa Indonesia yang pada gilirannya mempunyai implikasi terhadap pengembangan ilmu dan teknologi pada tingkat yang tinggi. Apakah mahasiswa perlu mampu berbahasa asing (Inggris)? Kalau mahasiswa ingin lebih melebarkan cakrawala pengetahuannya, bahasa asing jelas merupakan hal yang tidak dapat ditinggalkan. Masih langkanya buku-buku keilmuan berbahasa Indonesia dewasa ini mengharuskan mahasiswa menguasai bahasa asing (khususnya bahasa Inggris). Mata kuliah dan pengetahuan lain di perguruan tinggi (yang bukan mata kuliah bahasa Inggris tetapi menggunakan buku teks asing), walaupun membantu, bukan merupakan sarana untuk belajar bahasa Inggris. Bahasa Inggris harus dipelajari secara khusus dan serius melalui pelajaran dan pelatihan secara khusus. Hal yang perlu dicatat adalah bahwa seseorang dapat menguasai bahasa asing (termasuk membaca buku teks) dengan baik kalau dia juga menguasai bahasa sendiri (Indonesia) dengan baik pula. Ini berlaku untuk mereka yang selama hidup belum pernah hidup di masyarakat yang berbahasa Inggris secara penuh. Akuntan Muda Halaman 36

Bagaimana mungkin seseorang dapat belajar bahasa Inggris yang mempunyai struktur yang baku dan canggih kalau dia sendiri tidak menguasai bahasa Indonesia yang baku (dan sebenarnya juga canggih) sebagai pembandingnya? Banyak orang mengeluh dan merasa sulit belajar bahasa Inggris tetapi mereka lupa bahwa kesulitan tersebut sebenarnya disebabkan oleh penguasaan struktur bahasa Indonesianya sendiri yang masih belum memadai. Gambar 2. Arti Penting Kemampuan Bahasa

Kalau hanya keterampilan teknis yang menjadi tujuan, bahasa alamiah memang sudah cukup. Apakah ketidakpedulian kalangan akademik terhadap pengembangan bahasa Indonesia justru disebabkan oleh kenyataan bahwa yang dipelajari di perguruan tinggi sebenarnya hanyalah hal-hal yang sangat teknis (diketahui-hitung-hitungan) dan bukan halhal yang bersifat konseptual dan filosofis?12

12

Hal ini pernah penulis kemukakan dalam artikel Perilaku Belajar di Perguruan Tinggi, Jurnal Akuntansi & Manajemen STIE-YKPN, Maret 1991.

Akuntan Muda

Halaman 37

Masalah Pembentukan Istilah


Pembentukan istilah yang konsisten dan berkaidah akan memudahkan pengartian makna atau gagasan yang terkandung dalam simbol berupa rangkaian kata. Pembentukan istilah yang cermat ini akan sangat terasa manfaatnya dalam bahasa keilmuan yang mensyaratkan kecermatan ekspresi. Acapkali orang menciptakan istilah bukan dengan penalaran dan kaidah bahasa melainkan dengan perasaan atau pengalaman saja atau bahkan dengan dasar pendengaran. Istilah hendaknya tidak diciptakan atas dasar telinga saja tetapi yang lebih penting adalah atas dasar apa yang ada di balik telinga. Pembentukan istilah atas dasar telinga dapat saja dilakukan tetapi hasilnya sering tidak mengena atau bahkan menyesatkan. Pengembangan pengetahuan dan bahasa keilmuan sering menjadi terhambat karena orang mempertahankan apa yang sudah kaprah tetapi secara kaidah dan makna bahasa keliru sehingga penangkapan dan pemahaman suatu konsep dalam pengetahuan tertentu juga ikut keliru (walaupun tidak disadari). Kemajuan bahasa Indonesia dewasa ini sebenarnya cukup menggembirakan dan menjanjikan. Kata-kata baru (yang mula-mula dianggap asing) mulai muncul dan beberapa kata menjadi berterima di masyarakat. Semua kata-kata baru tersebut telah dikembangkan oleh Pusat Bahasa, ahli bahasa, dan pemakai bahasa yang mempunyai kesadaran bahasa atas dasar perekayasaan bahasa (language engineering). Perekayasaan bahasa adalah proses penalaran yang digunakan dalam pengembangan istilah dan kosa kata. Dengan perekayasaan tersebut, bentuk bahasa sedapat-dapatnya memanfaatkan sarana morfologi bahasa Indonesia. Moeliono (1986) menjelaskan bahwa pada awal pemakaiannya seakan-akan kata-kata baru akan menjadi lebih asing dari bentuk asingnya. Akan tetapi, dalam jangka panjang usaha ini akan sangat menunjang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi karena memberi sarana untuk meneruskan gagasan atau ilmu pengetahuan kepada mereka yang belum mengenal bahasa asing secukupnya. Usaha perekayasaan bahasa di bidang keilmuan bertujuan agar setiap makna istilah, baik yang berupa kata maupun yang berupa ungkapan, dapat dijabarkan dari strukturnya. Hal ini juga akan mempunyai pengaruh terhadap kelancaran dan ketepatan penerjemahan antarbahasa.

Akuntan Muda

Halaman 38

Perekayasaan bahasa telah mampu dan berhasil menciptakan istilah dan kata baru yang sifatnya menambah kosa kata dan menambah medan makna yang dapat diungkapkan dalam bahasa Indonesia sehingga suatu pengalaman atau gagasan dapat diungkapkan dengan simbol kata yang tepat. Kata-kata baru tersebut banyak yang sudah berterima baik di kalangan akademik maupun masyarakat umum. Misalnya, kata pelatihan (sebagai padanan training) mulai berterima dan banyak digunakan untuk membedakannya dengan latihan yang merupakan padanan exercise. Kata pelaporan mulai digunakan di samping laporan untuk membedakan makna reporting (sebagai proses) dan reports (sebagai hasil proses). Kata rerangka perlu diciptakan untuk padanan framework untuk membedakannya dengan kerangka yang digunakan sebagai padan kata skeleton. Di bidang ejaan, perekayasaan bahasa menganjurkan kata praktik untuk mengganti praktek agar pembentukan istilah turunan (praktis, praktisi dan praktikum) dapat mengikuti morfologi bahasa secara taat asas. Keberterimaan beberapa kata atau istilah baru dalam masyarakat dewasa ini menunjukkan bahwa masyarakat (baik awam maupun akademik/profesional) sebenarnya cukup lentur dan adaptif dalam menerima gagasan baru. Masyarakat umum dapat memahami bahwa memenangkan harus diganti dengan memenangi, membawahi dengan membawahkan, dan komoditi dengan komoditas. Oleh karena itu, dalam pengembangan istilah kita tidak harus terbelenggu oleh apa yang nyatanya digunakan tetapi selalu berupaya untuk menggunakan apa yang seharusnya digunakan. Penyimpangan atau anomali memang selalu ada tetapi penyimpangan hendaknya tidak terlalu banyak. Terlalu banyak penyimpangan sama saja artinya dengan tidak ada kaidah.

Perangkat Kata Peristilahan


PUPI mengartikan perangkat kata peristilahan sebagai kumpulan istilah yang dijabarkan dari bentuk yang sama, baik dengan proses penambahan dan pengurangan maupun dengan proses penurunan kata. Berikut ini adalah contoh seperangkat kata peristilahan yang diberikan dalam PUPI (butir 1.9):

Akuntan Muda

Halaman 39

Absorb Absorbate Absorbent (nomina) Absorbent (adjektiva) Absorber Absorptivity Absortive Absorbency Absorbable Absorbability Absorption

Serap Zat terserap, absorbat Zat penyerap, absorben Berdaya serap Penyerap Kedayaserapan, daya serap Absortif Daya serap, absorbensi Terserapkan Keterserapan, absorbabilitas Penyerapan, absorpsi

Perangkat kata peristilahan seperti di atas sangat penting artinya untuk kepentingan ilmiah dan akademik yang menuntut kecermatan. Bahasa Indonesia sebenarnya mampu dan mempunyai sarana untuk mengembangkan perangkat kata peristilahan seperti itu. Namun demikian, karena para pakar atau ilmuwan atau akademisi sering merendahkan bahasa Indonesia atau tidak bersedia mempelajari kemampuan bahasa Indonesia yang sebenarnya, perangkat seperti itu belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk kepentingan ilmiah. Dengan perangkat peristilahan semacam itu, pelajar dan mahasiswa yang belum fasih berbahasa Inggris akan mampu menjelajahi medan makna atau dunia abstrak yang dapat dibayangkan oleh penulis buku asing (berbahasa Inggris). Hal inilah yang menjadi peran bahasa Indonesia dalam mencerdaskan bangsanya yang mempunyai daya saing secara global. Kamus bahasa Indonesia juga akan berkembang. Pada gilirannya, pelajar dan mahasiswa Indonesia akan dengan mudah belajar bahasa asing (Inggris).

Haruskah Diubah
Masalah yang timbul adalah apakah istilah yang sudah telanjur popular tapi salah kaprah harus diganti? Untuk tujuan jangka panjang (kepentingan masa depan) dan untuk kemudahan belajar bahasa asing, penggantian merupakan keharusan. Alasan nostalgik atau sentimental tidak dapat menjadi basis untuk mempertahankan istilah yang menyimpang khususnya untuk tujuan keilmuan atau profesional. Dalam hal ini, orang sering mengutip ungkapan Shakespeare, Whats in a name? (Apalah arti sebuah nama?).13 Apakah kalau

13

Ungkapan tersebut terdapat dalam drama Romeo and Juliet sebagai berikut (penebalan oleh penulis):

Akuntan Muda

Halaman 40

bunga mawar diberi nama lain lalu tia tidak harum. Nama atau istilah hanyalah sebuah kesepakatan. Yang penting adalah objek yang diberi nama. Akan tetapi, dalam dunia akademik dan profesional yang menuntut kecermatan, sentimen atau argumen semacam itu jelas tidak berlaku karena nama atau istilah membawa perilaku. Perilaku, sikap, dan persepsi dapat diubah menjadi lebih baik atau lebih memenuhi harapan dengan memberi nama sesuai dengan maknanya. Itulah sebabnya, agar sikap masyarakat terhadap pajak berubah, Kantor Inspeksi Pajak (KIP) harus diganti dengan Kantor Pelayanan Pajak (KPP). Dengan penalaran yang sama dan dilandasi oleh kemauan politik yang tinggi, pemerintah secara menawan telah mengubah bait lagu Tujuh Belas Agustus dari Satu tujuh dlapan tahun empat lima menjadi Tujuh belas Agustus tahun empat lima tanpa mengurangi jasa baik penggubahnya. Demikian juga, karena penanaman wawasan nusantara bagi bangsa Indonesia, lagu Dari Barat Sampai ke Timur harus diubah menjadi Dari Sabang Sampai Merauke. Dapat dibayangkan betapa ngerinya orang-orang India, Sri Langka, Pakistan, Papua Nugini, Malaysia, dan Australia mendengar lagu tersebut dinyanyikan anak-anak dan pelajar Indonesia bila syair aslinya tidak diubah. Masih ada satu lagu yang perlu diperbaiki salah satu baitnya yaitu lagu perjuangan Sepasang Mata Bola. Bait yang berbunyi lindungi daku pahlawan daripada si angkara murka harus diubah menjadi lindungi daku pahlawan dari para angkara murka. Bila tidak diubah, anak-anak atau pelajar yang menyajikan lagu tersebut akan mempunyai kesan yang keliru tentang situasi perjuangan pada waktu itu.

Jul. Oh Romeo, Romeo! Wherefore art thou Romeo? Deny thy father and refuse thy name; Or, if thou wilt not, be but sworn my love, And Ill no longer be a Capulet. Rom. [Aside]. Shall I hear more, or shall I speak at this? Jul. Tis but thy name that is my enemy; Thou art thyself, though not a Montague. Whats Montague? it is nor hand, nor foot, Nor arm, nor face, nor any other part Belonging to a man. O, be some other name! Whats in a name? that which we call a rose By any other name would smell as sweet; So Romeo would, were he not Romeo calld Retain that dear perfection which he owes Without that title. Romeo, doff thy name, And for that name, which is no part of thee, Take all myself. Rom. [Aloud]. I take at thy word; Call me but Love, and Ill be new babtizd; Henceforth I never will be Romeo. Bait-bait di atas dikutip seperti apa adanya dari A. J. J. Ratcliff (editor), Shakespeares Romeo and Juliet (London: Thomas Nelson & Sons, Ltd., tanpa tahun), hlm. 52-53.

Akuntan Muda

Halaman 41

Tugas Siapa
Seandainya ada keyakinan bahwa bahasa Indonesia harus ditingkatkan dan dimodernkan sehingga mempunyai kemantapan dan kebermanfaatan yang setingkat dengan bahasa yang sudah modern dan maju, siapakah yang paling bertanggung jawab untuk itu? Tentu saja tugas pengembangan tidak seluruhnya ada di pundak Pusat (Pengembangan) Bahasa atau para ahli bahasa. Semua yang terlibat dalam penggunaan bahasa mempunyai kewajiban untuk itu. Perguruan tinggi sebenarnya merupakan suatu agen pengembangan (agent of development) dan agen perubahan (agent of changes) yang sangat strategik. Oleh karena itu, para partisipan (khususnya dosen dan mahasiswa) dalam proses pendidikan di perguruan tinggi tentunya harus ikut mendukung pengembangan tersebut. Perguruan tinggi tidak harus tunduk pada apa yang nyatanya dipraktikkan tetapi harus dapat mempengaruhi selera penggunaan bahasa oleh masyarakat. Masalahnya adalah apakah sekarang ini para partisipan mempunyai kesadaran dan perhatian (awareness dan concern) mengenai hal ini? Kemampuan berbahasa dan menggunakan bahasa sebagai alat ekspresi buah pikiran bukan merupakan bakat alam (gifted) melainkan keterampilan yang harus dipelajari dengan penuh kesadaran. Sayangnya banyak di antara kita yang sudah merasa dapat berbahasa (bahasa Indonesia khususnya) bukan karena mempelajarinya secara sadar akan tetapi memperolehnya secara alamiah (secara MSMD). Bila kita ingin mencapai dan menikmati pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan ilmiah, maka bahasa yang kita kuasai secara alamiah harus kita tingkatkan menjadi bahasa ilmiah. Untuk percakapan dan penulisan sehari-hari dalam pergaulan umum, bahasa yang diperoleh secara alamiah memang cukup tetapi tingkat kecanggihan bahasa tersebut sebe narnya ada pada tingkat yang paling bawah. Ciri umum bahasa tersebut adalah struktur bahasa yang sederhana (sering tidak lengkap dan mengandung salah kaprah) dan kosa kata yang sangat terbatas. Bahasa tersebut cukup untuk sarana komunikasi umum dalam kehidupan umum sehari-hari. Akan tetapi, bahasa awam atau alamiah tidak mampu dan kurang memadai untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat ilmiah dan abstrak atau konseptual. Untuk mengungkapkan hal ini diperlukan struktur bahasa dan kosa kata yang lebih canggih. Ciri-ciri bahasa keilmuan adalah kemampuannya untuk membedakan gagasan

Akuntan Muda

Halaman 42

atau pengertian yang memang berbeda dan strukturnya yang baku dan cermat. Dengan karakteristik ini, suatu gagasan dapat terekspresi dengan cermat tanpa kesalahan makna bagi penerimanya (untuk masalah ilmiah).

Simpulan
Bahasa dapat mempunyai dampak yang luas dalam penyebaran maupun pemahaman ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahasa Indonesia sedang bersaing dengan bahasa asing dalam menemukan ciri khasnya. Sikap sinis dan apriori terhadap pengembangan bahasa merupakan salah satu faktor yang menghambat pengembangan itu sendiri. Bahasa Indonesia tampaknya masih dipandang sebagai bahasa politis atau sebagai simbol persatuan tetapi belum dikembangkan menjadi sarana komunikasi untuk pengungkapan informasi yang kompleks dalam bidang keilmuan. Atas dasar struktur dan morfologi bahasa Indonesia yang sekarang tersedia, bahasa Indonesia sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi bahasa yang maju dan canggih sebagai bahasa keilmuan sehingga para pelajar dapat menikmati karya-karya sastra, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang tinggi tanpa harus menunggu kefasihan berbahasa asing. Pada gilirannya, kefasihan berbahasa Indonesia akan sangat membantu proses dan pemahaman dalam belajar bahasa asing itu sendiri. Pembentukan istilah yang konsisten dan berkaidah akan memudahkan pengartian makna atau gagasan yang terkandung dalam simbol berupa rangkaian kata. Pembentukan istilah yang cermat ini akan sangat terasa manfaatnya dalam bahasa keilmuan yang mensyaratkan kecermatan ekspresi. Pengembangan pengetahuan dan bahasa sering menjadi terhambat karena orang mempertahankan apa yang sudah kaprah tetapi secara kaidah dan makna bahasa keliru sehingga penangkapan dan pemahaman suatu konsep dalam pengetahuan juga ikut keliru (walaupun tidak disadari). Istilah membawa perilaku. Oleh karena itu, istilah yang keliru dapat mengakibatkan perilaku yang keliru pula dan kalau perilaku yang keliru tersebut dipraktikkan tanpa sadar dalam suatu profesi maka profesi sebenarnya telah melakukan malpraktik/malapraktik (malpractice). Perguruan tinggi merupakan pusat pengembangan ilmu sehingga perguruan tinggi tidak dapat melepaskan diri dari fungsinya sebagai pengembang bahasa Indonesia. PerguAkuntan Muda Halaman 43

ruan tinggi tidak harus tunduk pada apa yang nyatanya dipraktikkan tetapi harus dapat mempengaruhi selera penggunaan bahasa oleh masyarakat. Kalau perguruan tinggi hanya mengajarkan apa yang nyatanya dipraktikkan dalam masyarakat maka hilanglah fungsi perguruan tinggi sebagai agen pengembangan dan perubahan (kemajuan). Perguruan tinggi hanya berfungsi tidak lebih dari sebuah kursus keterampilan. Dalam hal penggunaan bahasa, memang dapat diterima pandangan yang menyatakan bahwa the public has the final taste. Akan tetapi, selera masyarakat dapat diarahkan menuju ke selera bahasa yang tinggi kalau alternatif-alternatif yang berselera tinggi ditawarkan kepada mereka. Apa yang diungkapkan oleh Moeliono (1989) berikut dapat menjadi landasan kita dalam bersikap terhadap pengembangan bahasa.

The language plannersand we mean not only the experts but also the members of other social groupswho wish to see the Indonesian language become more refined, more flexible, more accurate and capable of serving its speakers in all of its purposes, should wholeheartedly try to guide the direction of the public's taste by setting the example that is sensitive to the language's uniformity as well as its multivarious ness. If we want to expand the vocabulary and develop various styles, the problem that arises is whether the Indonesian language has enough means to make this modernization possible? To answer this question its speakers must exercise their creative power; they should not try to escape from difficulties and thereby abandon their ingrained tendency to stick to an accepted usage (hlm. 68-69).

Gagasan Moeliono di atas memberi isyarat bahwa kalau ada istilah yang salah tetapi kaprah, tugas dunia pendidikan dan profesilah untuk memberi alternatif yang lebih baik dan valid sehingga lambat laun kesalahkaprahan atau kerancuan dapat dihilangkan. Gagasangagasan dan alternatif-alternatif baru (termasuk istilah) harus ditawarkan kepada mahasiswa dan bukan malahan diisolasi, disembunyikan, atau dihindarkan dari mahasiswa. Dalam kenyataannya, sikap yang diambil dalam pengajaran di perguruan tinggi acapkali justru memantapkan kesalahkaprahan dengan dalih agar mahasiswa tidak bingung dalam praktik. Berkaitan dengan sikap ini, Hall dan Cannon (1975) mengajukan pertanyaan mendasar sebagai berikut:

Akuntan Muda

Halaman 44

Should a university course be devised to help a student fit into society or to encourage a student to change society? (hlm. 25)

Menurut pendapat penulis, pengajaran di perguruan tinggi harus dapat mengubah praktik atau kehidupan menjadi lebih baik. Justru dalam hal inilah perguruan tinggi harus berbeda dengan lembaga kursus dan pelatihan. Peran badan autoritatif, profesional, dan pendidikan sangat besar dalam pengembangan bahasa Indonesia khususnya istilah yang tepat untuk pengembangan ilmu. Dunia profesi dan pendidikan tidak perlu merasa malu untuk merevisi kesalahan yang mempunyai akibat fatal. Sikap profesional dan intelektual seharusnya lebih banyak dituntun oleh rasa bersalah (guilty feeling) daripada oleh rasa malu (ashame feeling) atau oleh tujuan untuk menutupi rasa malu. Pembentukan istilah untuk tujuan keilmuan atau profesional hendaknya tidak didasarkan pada telinga saja tetapi juga pada apa yang ada di balik telinga. Juga, harus dijauhkan argumen yang penting tahu maksudnya untuk mempertahankan istilah yang salah. Namun, semua itu hanya gagasan. Siapa peduli? Lebih menggigit lagi, siapa berani?

Daftar Bacaan: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1988). __________. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Jakarta: Perum Balai Pustaka, 1988). Financial Accounting Standards Board (FASB), Statement of Financial Accounting Concepts (Homewood, IL: Irwin, 1991). Hall, William C. dan Robert Canon. University Teaching (Adelaide: ACUE, 1975). Ikatan Akuntan Indonesia. Standar Akuntansi Keuangan, per April 2002 (Jakarta: Salemba Empat, 2002). Kridalaksana, Harimurti. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia (Jakarta: PT Gramedia, 1989). Mansoor, Sofia dan Niksolihin. Kontak Pembaca: Soalnya, Malas Membuka Kamus dalam Tempo (2 Mei 1992). Moeliono, Anton M. Beberapa Aspek Masalah Penerjemahan ke Bahasa Indonesia, dalam Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan Tersebar (Jakarta: PT Gramedia, 1989). Moeliono, Anton M. Sikap Bertaat Asas dan Kelentukan Bahasa dalam Santun Bahasa (Jakarta: PT Gramedia, 1986). Moeliono, Anton M. Term and Terminological Language, dalam Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan Tersebar (Jakarta PT Gramedia, 1989).

Akuntan Muda

Halaman 45

Poedjosoedarmo, Soepomo. Filsafat Bahasa (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 2001). Soedjito. Kosa Kata Bahasa Indonesia: Buku Pelengkap Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1992). Sterling, Robert R. Toward a Science of Accounting (Houston, TX: Scholars Book Co., 1979). Sugono, Dendy. Berbahasa Indonesia Dengan Benar (Jakarta: Puspa Swara, 1997). Suharsono. Bahan Kuliah Bahasa Indonesia. Hand-out. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2001. Suriasumantri, Jujun S. Hakikat Dasar Keilmuan, dalam M. Thoyibi (editor), Filsafat Ilmu dan Perkembangannya (Surakarta: Muhammadiyah University Press, 1999). Suwardjono. Perilaku Belajar di Perguruan Tinggi, Jurnal Akuntansi & Manajemen STIEYKPN (Maret 1991a). Suwardjono. Aspek Kebahasaan Dalam Pengembangan Akuntansi di Indonesia, Jurnal Akuntansi & Manajemen STIE-YKPN (November 1991b). Sylado, Remy. Pusat Pembinaan Bahasa Apa Pusat Pembinasaan Bahasa, Jakarta, Jakarta No. 173 (Oktober 1989), hlm. 84-85.

Akuntan Muda

Halaman 46

Menjelajah SSRN
Bagi yang belum pernah mengunjungi SSRN (Social Science Research Network), ijinkan saya mengatakan ini: SSRN merupakan salah satu tempat paling menarik untuk mencari paper di luar database jurnal publikasian. Ada beberapa alasan: 1) Sifatnya bebas/gratis. Kita hanya perlu mendaftar dengan username dan alamat e-mail saja untuk memanfaatkan fitur-fiturnya. 2) Kita bisa memperoleh working paper teranyar yang menggambarkan topik penelitian yang sedang hangat. Suatu artikel bisa perlu waktu 2 tahun agar bisa dipublikasi di jurnal. Ini berarti artikel The Accounting Review 2010 ditulis sekitar periode 2008. Sementara itu, pada tahun 2010 sendiri sudah muncul topik penelitian baru yang sedang hangat dan akan mendominasi jurnal di tahun 2012. Oleh karenanya, bila kita berniat mencari topik penelitian maka carilah di working paper teranyar. 3) Di luar manfaat topik teranyar, SSRN memiliki beberapa fitur menarik lain yang bermanfaat.

Homepage

Akuntan Muda

Halaman 47

Ketika kita mengetik www.ssrn.com maka kita akan menemui tampilan di atas. Homepage ini menampilkan beberapa fitur SSRN seperti: Search Browse Top Papers Top Authors Top Institutions Research Paper Series

1) Search

Fitur search berguna untuk melakukan pencarian umum atas suatu topik ataupun untuk pencarian khusus atas suatu paper tertentu. Fitur ini berbasis kata yang ada di judul, abstrak, maupun kata kunci suatu paper sehingga hasil pencariannya dapat diandalkan. Khusus untuk membantu mencari topik terbaru, kita bisa menggunakan fitur search dengan membatasi hasil hanya pada rentang waktu teranyar. Di bawah ini, misalnya, merupakan hasil pencarian paper audit quality dalam 3 bulan terakhir. Gambar berikut menunjukkan ada 34 paper kualitas audit yang diunggah dalam waktu 3 bulan terakhir.

Akuntan Muda

Halaman 48

2) Browse Journal or topic


Selain dengan mencari paper berdasar topik tertentu, kita juga dapat browse paper yang ada di SSRN berdasar jurnal ataupun topiknya melalui apa yang disebut network/jaringan. Ada beberapa jaringan yang tersedia, antara lain Accounting Research Network, Cognitive Science Network, dan lainnya sebagaimana ditampilkan pada gambar berikut.

Akuntan Muda

Halaman 49

Bila kemudian kita mengklik salah satu jaringan yang tersedia maka akan muncul berbagai konferensi dan pertemuan yang ada dalam jaringan tersebut. Gambar berikut menunjukkan bahwa Accounting Research Network menyediakan working paper dari berbagai konferensi dan pertemuan, antara lain pertemuan-pertemuan yang berada di bawah naungan American Accounting Association (AAA). Kemudian, katakanlah kita tertarik dengan paper yang dipresentasi pada AAA 2006 Financial Accounting & Reporting Section (FARS) Meeting maka kita tinggal mengklik tautan tersebut. Selanjutnya, SSRN akan menampilkan daftar lengkap working paper yang dipresentasi pada pertemuan tersebut.

Akuntan Muda

Halaman 50

JEL topic list


Selain berdasar jurnal dan topik, kita juga bisa browsing berdasar daftar topik JEL seperti tampak pada gambar berikut:

Akuntan Muda

Halaman 51

3) Top Papers
Seksi Top Papers berisi dengan daftar paper dengan skor tertinggi. Skor ini diperoleh melalui pembobotan terhadap jumlah unduhan dan jumlah kutipan. Kelemahan seksi Top Paper ini adalah belum adanya pengkategorian berdasar topik atau bidang ilmu paper terkait.

4) Top Authors
Selain top papers, ada pula seksi top authors yang mendaftar peneliti-peneliti dengan jumlah unduhan dan terkutip (citation) tertinggi. Seksi ini membagi berdasar kategori yaitu umum, hukum, busines, ekonomika, dan keuangan (finance).

Akuntan Muda

Halaman 52

Berikut adalah tampilan daftar top authors di bidang busines.

5) Top Institutions
Seksi top institutions menunjukkan sekolah bisnis, departemen ekonomika, organisasi ERPN, dan sekolah hukum terbaik. Berikut adalah tampilan sekolah busines U.S. terbaik.

Akuntan Muda

Halaman 53

Top institutions menunjukkan daftar sekolah/kampus dengan jumlah paper terunduh tertinggi. Umumnya top institution ini selaras dengan kelompok sekolah-sekolah terbaik di dunia. Fitur yang menarik adalah kita dapat melihat daftar peneliti berdasar institusinya. Berikut adalah peneliti yang berdasar dari New York University (NYU).

Akuntan Muda

Halaman 54

6) Research Paper Series


Seksi research paper series terdiri dari berbagai jaringan/network. Salah satunya adalah Accounting Research Network yang terdiri dari working paper beberapa sekolah ternama yaitu Chicago Booth, Harvard Business School, dan London Business School. Tampilan ini bisa kita lihat di halaman berikut

Bila kita memilih Chicago Booth, misalnya, maka kita akan memperoleh daftar working paper mereka.

Akuntan Muda

Halaman 55

7) Author Page
Kita dapat mengakses working paper suatu peneliti tertentu melalui author page di SSRN. Hal ini sangat berguna karena umumnya suatu peneliti mempunyai pemikiran yang relatif mendalam atas suatu topik namun tidak dituangkan ke dalam satu paper khusus. Sehingga, bila kita hendak mendalami suatu topik, ada baiknya membaca paper-paper lain suatu peneliti. Berikut merupakan contoh author page Profesor Ray Ball. Selain itu, author page memuat beberapa informasi lain yang juga berguna, seperti alamat e-mail.

Sementara itu daftar paper Ray Ball tampak sebagaimana tampilan di bawah ini.

Akuntan Muda

Halaman 56

8) Download Page
Ketika akhirnya kita memutuskan untuk mengunduh suatu paper maka kita akan melihat tampilan berikut. Ada beberapa tautan yang bisa membawa kita ke penjelajahan berikutnya antara lain, author page, references, citations, dan paper yang biasa diunduh oleh orang yang mengunduh paper terkait. Selamat menjelajah.

(Oleh: Arie Rahayu)

Akuntan Muda

Halaman 57

Kecurangan (Fraud) dalam Akuntansi dan Tanggung Jawab Auditor dalam Mendeteksinya
Kecurangan didefinisikan sebagai tindakan untuk menyajikan sesuatu secara salah yang mengakibatkan korban mengalami kerugian (Coenen 2008). ISACA mendefinisikan kecurangan secara luas sebagai beberapa tindakan yang melibatkan penggunaan penipuan untuk mendapatkan keuntungan ilegal. Kecurangan terjadi sebagai hasil dari hubungan saling mempengaruhi antara tiga faktor yaitu kesempatan, dorongan atau tekanan, dan sikap atau rasionalisasi. Tiga faktor yang disebutkan diatas dikenal dengan nama segitiga kecurangan, seperti yang ditunjukkan pada gambar berikut :

Motivasi

Kesempatan

Rasionalisasi

Sumber: (Coenen 2008).

Kesempatan terjadi karena lemahnya pengendalian internal yang ada dalam suatu organisasi. Hal ini menyebabkan terjadinya kolusi sehingga pelaku dapat mempengaruhi proses pengendalian yang dilakukan. Kesempatan merupakan faktor yang paling penting diantara ketiga fkator yang ada, karena managemen atau individu yang memiliki niat untuk berbuat curang tidak dapat melakukan kecurangan tanpa adanya kesempatan. Dorongan atau tekanan secara khusus berasal dari lingkungan pribadi seseorang. Adanya tekanan Akuntan Muda Halaman 58

situasional yang dialami individu akan menyebabkan individu tersebut terdorong pada kondisi untuk melakukan kecurangan (fraud). Faktor ketiga yang biasanya muncul ketika kecurangan dilakukan adalah sikap atau rasionalisasi. Ini berarti managemen atau individu menemukan cara untuk secara sadar membenarkan kecurangan yang terjadi (Coenen 2008). Kecurangan seringkali diidentikan dengan akuntansi kreatif (creative accounting). Model seperti ini telah lama dipraktekkan oleh perusahaan-perusahaan yang go public, sehingga bukan merupakan suatu hal yang aneh dan baru. Seperti yang telah dikemukakan diatas, konsep utama dari akuntansi kreatif adalah pada penciptaan angka-angka keuangan yang terlihat baik di mata pada pengguna informasi keuangan. Praktik yang dilakukan dapat bersifat legal maupun ilegal. Mulford & Comiskey (2002) menggunakan istilah akuntansi agressif sebagai praktik-praktik permainan angka-angka dalam informasi akuntansi yang bersifat ilegal. Permainan angka-angka dalam akuntansi yang bersifat ilegal dapat dipicu oleh adanya tekanan bahwa badan usaha merasa harus berada dalam posisi profit untuk menarik investor dan sumber daya. Tekanan yang amat kuat yang memotivasi dan adanya kesempatan untuk melakukan kecurangan cenderung memaksa perusahaan untuk melakukan tindakan yang bersifat ilegal dalam praktik akuntansi.

Tanggung Jawab Auditor dalam Mendeteksi Kecurangan (Fraud)


Salah satu harapan dari pengguna laporan keuangan terhadap auditor laporan keuangan adalah mencari dan mendeteksi adanya salah saji yang baterial, baik yang disengaja maupun tidak disengaja (Boynton et al. 2008). Pedoman profesional yang mengatur tentang peran dan tanggung jawab auditor dalam mendeteksi kecurangan diantaranya dapat ditemukan dalam AICPA Profesional Standard yang mengeluarkan standar audit untuk akuntan publik. Beberapa Standar yang mengatur diantaranya SAS No. 1 yang diamandemen oleh SAS No. 82 dan SAS No. 99 tentang pertimbangan kecurangan dalam laporan keuangan, SAS No. 6 yang diamandemen oleh SAS No. 45 tentang hubungan dengan related party dapat menjadi alat terjadi kecurangan bagi manajemen. SAS No. 1 (seperti diamandemenkan oleh SAS No. 82) menyatakan sebagai berikut:

Akuntan Muda

Halaman 59

Auditor mempunyai tanggung jawab untuk merencanakan dan melakukan audit untuk mendapatkan jaminan yang memadai tentang apakah pernyataan keuangan bebas dari salah saji material apakah disebabkan oleh kesalahan ataukah kecurangan. Karena sifat bukti audit dan karakteristik kecurangan, auditor mampu mendapatkan jaminan yang memadai tetapi tidak absolut bahwa salah saji material telah terdeteksi. Auditor tidak mempunyai tanggung jawab untuk merencanakan dan melakukan audit guna mendapatkan jaminan yang memadai terhadap salah saji tersebut, apakah disebabkan oleh kesalahan ataukah kecurangan, dan tidak material terhadap pernyataan keuangan yang dideteksi.

Kecurangan memiliki definisi hukum yang luas, oleh karena itu SAS No. 82 mengemukakan dua jenis salah saji yang berkaitan dengan kecurangan yaitu, salah saji yang timbul dari kecurangan pada pelaporan keuangan dan salah saji yang timbul dari penyalahgunaan aset. Ada tiga hal yang mendasari kecurangan dalam pelaporan keuangan yaitu (Boynton et al. 2007) 1. Manipulasi, pemalsuan atau pengubahan catatan akuntansi atau dokumen pendukung yang menjadi sumber penyusunan laporan keuangan. 2. Representasi yang salah atau penghapusan yang disengaja atas peristiwa-peristiwa, transaksi-transaksi, atau informasi signifikan lainnya yang ada dalam laporan keuangan. 3. Salah penerapan yang disengaja atas prinsip-prinsip akuntansi yang berkaitan dengan jumlah, klasifikasi, cara penyajian, atau pengungkapan. Penyalahgunaan aset dalam laporan keuangan dapat merujuk pada perbuatan yang menyebabkan laporan keuangan disajikan tidak sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk melakukan hal tersebut diantaranya dengan menggelapkan penerimaan, pencurian aset, dan transaksi fiktif yang menyebabkan entitas membayar barang dan jasa yang tidak diterima (Boynton et al. 2007). SAS No. 45 pada dasarnya mengatur tentang pengungkapan transaksi hubungan istimewa (related party). Transaksi seperti ini sangat rentan memunculkan adanya kecurangan. Pengungkapan yang tidak memadai berkaitan dengan transaksi seperti ini akan mengakibatkan terjadinya laporan keuangan yang misleading. Oleh karena itu auditor harus peduli untuk melakukan identifikasi transaksi yang demikian dalam pekerjaan audit dan evaluasi kecukupan pengungkapan adanya hubungan istimewa (IAPI 2006)

Akuntan Muda

Halaman 60

SAS No. 99 yang merupakan amandemen dari SAS No. 82 meminta auditor menilai resiko salah saji material terkait dengan kecurangan dan mendesain prosedur audit yang tepat. Dalam menilai resiko salah saji material, auditor diminta secara khusus mempertimbangkan faktor-faktor resiko yang dijelaskan dalam standar. Selain itu, auditor diminta untuk mengkaji keputusan profesional ketika mempertimbangkan apakah faktor resiko yang mungkin muncul dan mempertahankan sikap skeptisme profesional. Faktorfaktor resiko ini, dikarakteristikkan dengan menggunakan segitiga kecurangan, dibagi ke dalam faktor-faktor resiko kecurangan laporan keuangan dan faktor-faktor resiko kesalahan dalam penilaian dan pengelompokan aset. SAS No. 99 juga meminta auditor untuk bertanya secara langsung kepada manajemen tentang apakah managemen menyadari terjadinya kecurangan di dalam perusahaan. Dalam pelaksanaan tugasnya, auditor juga harus meminta dokumentasi yang memadai tentang penilaian resiko auditor, pemahaman terhadap kontrol, dan faktor-faktor resiko yang dipertimbangkan dalam melakukan audit. Penilaian resiko auditor dapat mempengaruhi elemen-elemen audit berikut: (IAPI 2006). a. Skeptisme Profesional. Dalam menilai resiko, auditor harus mempertahankan sikap skeptisme profesional. Di sini, auditor harus tidak mengasumsikan manajemen tidak jujur, atau auditor mengasumsikan kejujuran yang tidak perlu dipertanyakan lagi; tetapi auditor harus mengingat bahwa kecurangan selalu memungkinkan dan dia harus melakukan audit dengan hati-hati; b. Penugasan Personal. Penilaian resiko auditor terhadap salah saji material seharusnya mempengaruhi bagaimana perusahaan audit memutuskan staf penugasan audit. lingkungan dan bisnis sangat kompleks membutuhkan auditor sangat terlatih; c. Prinsip-prinsip dan kebijakan akuntansi. Terhadap seberapa besar pilihan kebijakan akuntansi manajemen dapat dipertanyakan, auditor perlu memeriksa lebih lanjut pilihan ini; d. Kontrol. Jika kontrol internal perusahaan tampaknya kurang dan dengan demikian memberikan kontribusi terhadap faktor-faktor yang kemungkinan menimbulkan kecurangan, tentu saja auditor harus mengurangi kepercayaannya terhadap kontrol, atau barangkali tidak mengandalkan pada kontrol tersebut sama sekali dan sebaliknya melakukan pengujian lebih substantif.

Akuntan Muda

Halaman 61

Tanggungjawab auditor untuk mendeteksi kecurangan baik yang disengaja maupun tidak, diwujudkan melalui perencanaan dan pelaksanaan audit untuk mendapatkan keyakinan yang memadai apakah laporan keuangan terbebasa dari salah saji material yang disebabkan oleh kesalahan ataupun kecurangan. Tanggung jawab auditor dalam mengkomunikasikan temuan kecurangan adalah sbb (Boynton et al. 2007). a. Melaporkan kecurangan pada pihak managemen yang berada pada satu tingkat lebih tinggi di mana kecurangan tersebut terjadi; b. Melaporkan kecurangan pada komite audit atau dewan direksi; c. Berkaitan dengan sisi etika dan legal, auditor tidak diperkenankan untuk mengungkapkan kecurangan pada pihak luar entitas, kecuali Sebagai tanggapan dipengadilan; Informasi kepada Badan Pengawas Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAMLK) apabila penyampaian kecurangan secara internal tidak ditanggapi; Informasi kepada auditor pengganti yang mengajukan pertanyaan sesuai standar profesional; Kepada badan pembiayaan atau lembaga lainnya sesuai dengan persyaratan audit bagi entitas yang menerima bantuan keuangan dari pemerintah.

(Oleh: Arif Perdana)

Referensi: Institut Akuntan Publik Indonesia. (2006). Standar Profesional Akuntan Publik Per 1 Januari 2001. Jakarta: Penerbit Salemba Empat. Boynton, W. C., & Johnson, R. N. (2006). Modern Auditing: Assurance Services and The Integrity of Financial Reporting. USA: John Wiley & Sons, Inc. Coenen, Tracy, L. 2008. Essentials of Corporate Fraud. Hoboken, New Jersey: John Wiley & Sons, Inc. Mulford, Charles W. & Eugene E. Comiskey. 2002. The Financial Numbers Game Detecting Creative Accounting Practices. USA: John Wiley & Sons, Inc. http://www.aicpa.org

Akuntan Muda

Halaman 62

Ejaan SWD

Abstrak atau Abstraksi?


(Kebenaran itu pedih. Bersediakah kita menerima kepedihan demi kebenaran?)

Kerancuan ini sering dijumpai dalam skripsi, tesis, bahkan disertasi yaitu digunakannya istilah abstraksi untuk judul bagian tulisan yang dalam bahasa Inggris dinamai abstract. Untuk menjawab pertanyaan di atas sangat mudah. Kalau mau dan berani, bukalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lalu rasakan maknanya: abstrak dan abstraksi. Keduanya berasal dari kata bahasa Inggris: abstract dan abstraction yang maknanya sangat berbeda. Menurut Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI), kata bahasa Inggris berakhiran -ct diserap menjadi kata Indonesia berakhiran -k dan kata berakhiran -tion atau sion diserap menjadi kata Indonesia berakhiran -si. Pedoman ini bermanfaat untuk menciptakan apa yang dalam PUPI disebut kata peristilahan atau tata istilah. Contoh: Inggris abstract abstraction conflict contract contraction extract extraction prediction track traction audition discussion session edition frustration Indonesia abstrak abstraksi konflik kontrak kontraksi ekstrak ekstraksi prediksi trak (baca: trk) traksi audisi diskusi sesi edisi frustrasi (bukan frustasi, lihat KBBI)

Siapa peduli, berani, dan mulai meluruskan kesalahkaprahan?

Akuntan Muda

Halaman 63