Anda di halaman 1dari 3

Wahabi Kepergok Makan Sirih, Perempuan tua pun Disembelih Kekejaman, kebuasan, kebengisan, kebrutalan, dan keserakahan badui-badui

Salafi Wahabi yang dipamerkan di Karbala, Thaif, Makkah, dan Madinah yang menumpahkan darah umat Islam, ternyata menarik minta tiga orang jamaah haji asal Sumatera Barat, yaitu Haji Miskin dari dusun Pandai Sikat, Haji Sumanik dari VIII Koto, dan Haji Piabang dari Tanah Datar. Dengan meyakini bahwa gerakan Wahabi adalah gerakan pemurnian Islam, ketiga orang haji itu mulai melancarkan kritik dan kecaman terhadap praktek-praktek TBC (takhayul - bidah Churafat) yang dijalankan oleh penduduk kampungnya. Di dusun Pandai Sikat terdapat sebuah balai, dua belas ruang panjangnya, tonggaknya dari batang cempedak, atap ijuknya ditatah dengan ukiran timah. Balai itu dianggap perhiasan kampung dan sangat dimuliakan oleh penghulu-penghulu dan anak negeri. Haji Miskin satu malam, membakar balai yang dianggapnya tempat musyrik itu. Penduduk marah. Ia dikejar akan dibunuh. Ia lari dan sembunyi di surau Tuanku mensiangan. Dan Tuanku Mensiangan, ternyata terpengaruh ajakan Haji Miskin untuk mengikuti faham Wahabi. Oleh karena penduduk masih mengancam nyawanya, Haji Miskin lari ke Bukit Kamang meminta perlindungan kepada Tuanku Nan Rinceh. Seperti Tuanku Mensiangan, Tuanku nan Rinceh terpengaruh oleh ajakan Haji Miskin untuk menganut Wahabi. Segera setelah memeluk Wahabi, Tuanku nan Rinceh menggalang kekuatan dengan tujuh orang tuanku seperti Tuanku Lubuk Aur dari Candung, Tuanku Berapi dari Bukit, Tuanku Ladang Lawas dari Banuhampu, Tuanku Padang Luar, Tuanku Galung dari Sungai Puar, Tuanku Biaro, Tuanku Kapau, dan Tuanku Nan Rinceh sendiri dari Kamang. Kedelapan orang kepala yang sudah menganut Wahabi itu melakukan berbagai tindak kekerasan dan kekejaman terhadap penduduk yang menolak ajakan menganut Wahabi, sehingga mereka dikenal dengan sebutan Harimau Nan Delapan. Usaha keras, bahkan dilakukan juga terhadap guru Tuanku Nan Rinceh, yaitu Tuanku Kota Tua, seorang ulama Ahlussunnah dan pengamal tasawuf , menolak ajakan muridnya yang keras itu, terutama setelah mendengar ucapan muridnya,Orang yang tidak shalat dan tidak menurut perintah Al-Quran sebagaimana mestinya, boleh dirampas jiwa dan hartanya, demikian hukum fikih. Mendengar Sufi tua membaca buku tua dengan suara dikeraskan, Dullah yang penasaran bertanya,Sampean membaca buku apa pakde? Aku baca tulisan Muhammad Radjab yang berjudul Perang Paderi di Sumatera Barat 1803-1836, terbitan Perpustakaan Perguruan Kementerian P.P. dan K tahun 1954, kata Sufi tua sambil menunjukkan setumpuk fotokopian buku-buku dan dokumen lawas seperti tulisan Ijzerman berjudul Dwars door Sumatra, tulisan J. Bastin berjudul The British in West Sumatra, tulisan van Hart berjudul Mededeelingen omtrent de Padri Oorlog na 1830, tulisan van Ronkel berjudul Indische Getuigenissen Aangaande de Padrie Oorlog, tulisan Steyn Parve berjudul De Secte der Padaries, dan majalah-majalah lawas Indisch Magazijn (1844) dan Indische Militaire Tijdschrift (1887). Apakah Wahabi di Sumatera Barat juga melakukan kekerasan kok sampai pecah perang paderi? tanya Dullah ingin tahu.

Setelah merasa kuat mendapat dukungan kepala-kepala, kata Sufi tua melanjutkan bacaan bukunya,Tuanku Nan Rinceh mengumpulkan penghulu dan anak negeri di lapangan Bansa. Setelah semua kumpul, Tuanku Nan Rinceh berpidato yang intinya akan meluruskan penyimpangan yang telah dijalankan penduduk dengan kekerasan. Ia memerintahkan semua orang wajib shalat lima waktu, haram merokok dan makan sirih, dilarang mengisap candu dan minum arak, mengadu ayam, main kartu, main dadu. Juga diharamkan lelaki memakai sutera dan emas. Semua laki-laki wajib memakai pakaian putih dan memanjangkan janggut. Perempuan diwajibkan memakai cadar. Laki-laki maupun perempuan kalau mandi tidak boleh telanjang. Perempuan tidak boleh sering memandang ke langit atau menunduk ke bawah tetapi harus memandang lurus ke depan. Dan barang siapa yang melanggar ketentuan itu, akan dijatuhi hukuman mati dan hartanya dirampas sesuai kehendak Nabi. Walah walah, mengatasnamakan Nabi Saw tetapi tidak ada satu pun yang sama dengan yang dicontohkan Nabi Saw, seru Dullah geleng-geleng kepala,Mengharamkan rokok dan makan sirih, apakah ada dalilnya? Menghukum mati orang tidsak shalat lima waktu apakah ada dalilnya? Membunuh dan merampas barang orang laki-laki yang tidak pakai pakaian putih dan tidak memanjangkan janggut apakah ada dalilnya? Itu dusta dan kebohongan yang nyata. Oo Wahabi..Wahabi, tukas Sukiran menimpali,Asal ngomong tanpa dipikir. Paling juga Cuma sekedar mengancam-ngancam, agar orang takut dan ikut agamanya. Tapi semua ancaman hukuman atas pelanggaran peraturan yang ditetapkan itu benarbenar dijalankan oleh Tuanku nan Rinceh,sahut Sufi tua serius. Apa? seru Dullah dan Sukiran serentak,Peraturan jahat tanpa dasar dalil itu benarbenar dijalankan? Ya, korban pertama adalah bibi Tuanku nan Rinceh yang sudah tua, sahut Sufi tua menunjukkan kalimat-kalimat dalam buku tentang nasib malang perempuan tua yang suka makan sirih itu,Tanpa kenal ampun, bibi yang sudah tua dan kepergok makan sirih itu diseret ke tanah lapang. Lalu di hadapan khalayak, perempuan tua itu disembelih. Tuanku Nan Rinceh melarang mayatnya dikubur tetapi harus dilemparkan ke tengah hutan supaya dimakan anjing atau hancur sendiri. Dengan pongah seolah-olah utusan Allah, Tuanku nan Rinceh berpidato setelah menghukum mati bibinya,Karena bibi itu tidak mengenal Tuhan, dan suruhan Tuhan tidak diturutnya seperti seekor binatang liar, maka dia harus diperlakukan seperti binatang liar. Naudzubillah tsumma naudzubillahi minal Wahabi rojiim, sahut Johnson menghembuskan nafas keras-keras,Apakah dalam hadits memang ada dalil larangan makan sirih? Kalau ada apakah ada dalil yang menetapkan hukuman makan sirih adalah disembelih dsan mayatnya dilempar ke hutan seperti binatang? Soal dalil, jangan pernah ditanyakan kepada orang-orang goblok yang otaknya sudah pepat ditutupi kesombongan diri seolah-olah dirinya adalah utusan Tuhan, sahut Dullah dengan suara ditekan tinggi. Pembunuhan terhadap bibi Tuanku nan Rinceh itu baru tahan awal, sahut Sufi tua membaca tulisan dengan suara keras,Kampung Bukit Batabuh di dekat Sungai Puar di lereng Gunung Merapi, yang merupakan tempat penduduk suka menyabung ayam diserang. Puluhan penduduknya tewas terbunuh dan luka. Yang menyerah kalah dipaksa masuk Wahabi. Dengan

pembunuhan atas perempuan tua dan penyerangan terhadap kampung Bukit Batabuh, mulai pecahlah perang antara kaum muslimin dengan Wahabi. Penduduk kampung Kamang Bukit, di mana Tuanku nan Rinceh berasal, menolak untuk memeluk Wahabi. Kampung itu diserang, dirampok dan dibakar. Penduduk yang tak berdaya itu tidak dibunuh tetapi diharuskan membayar upeti dan memeluk Wahabi. Dengan cara penaklukan kampung-kampung, dalam waktu singkat Tuanku nan Rinceh sudah punya pengikut 5000 orang. Dengan kekuatan 5000 orang itu diseranglah distrik Tilalang yang terdiri dari sepuluh kampung. Penduduk yang kalah wajib memeluk Wahabi dan membayar upeti 4000 ringgit. Yang menentang dan tidak mematuhi perintah dibunuh. Setelah itu diseranglah Padang tarab, Matur, Candung dan Ujung Guguk. Perang pecah di mana-mana, karena ada penduduk yang bertahan tidak mau menjadi pemeluk Wahabi seperti kampung Ujung Guguk. Wah kaya sekali Tuanku nan Rinceh dan pengikutnya, sahut Sukiran bertepuk tangan,Soalnya, setiap orang yang tidak dibunuh wajib membayar 4000 ringgit. Jika kampung Kamang Bukit saja ada 5000 orang penduduk, maka sudah terkumpul 20.000.000 ringgit. Bayangkan jika satu distrik ada sepuluh kampung..wah jadi milyarder tanpa modal itu. Cukup dengan mengancam-ngancam sudah dapat setoran 4000 ringgit seorang. Lha itu kan kayak preman? sahut Johnson. Ya beda dong, tukas Dullah,Preman itu cuma pakai ancaman-ancaman untuk dapat duit. Lha Salafi Wahabi pakai dalil agama dan mengklaim seolah-olah mereka itu nabi yang punya hak dan wewenang mengatas-namakan Tuhan dalam membuat peraturan dan menghukum." "Memangnya siapa mereka? Siapa yang memberi mereka hak untuk mengadili dan menghukum orang? sahut Dullah. Itu pelanggaran HAM, sahut Johnson. Bukan, sahut Sukiran,Mereka itu justru memakan makanan yang lebih haram dari HAM.