Anda di halaman 1dari 11

Tags: akad rahn, akad syariah, Gadai Syariah, rahn emas

Akad Rahn
Posted on 28 October 2010

Pada pembahasan yang lalu sudah dijelaskan mengenai pengertian dan jenis-jenis Rahn. Dalam prakteknya, untuk pengikatan gadai (Rahn) secara umum pada dasarnya dapat dilakukan secara lisan saja. Namun, dalam konsep syariah, sesuai dengan hadist nabi Muhamaad S.A.W. karena gadai (rahn) biasanya menggunakan jangka waktu yang agak panjang, maka sebaiknya dibuat secara tertulis yaitu dalam bentuk Akad Rahn. Pada dasarnya, sistematika akad Rahn terdiri dari: 1. Tanggal dan Nomor akad Jika dibuat secara di bawah tangan antara para pihak, maka Nomor akad adalah Nomor yang diberikan oleh Bank Syariah, sedangkan jika dibuat secara notaril, maka Nomor tersebut adalah nomor akta notaries yang bersangkutan. 2. Para pihak atau subjek akad, yang terdiri dari: -Pihak yang mengadaikan (Rahn atau Rahin) -Pihak yang menerima gadai (Murtahin/Bank Syariah) Sedangkan objek atau barang yang digadaikan disebut juga Marhun/Rahn. 3. Isi Perjanjian. a. Kesepakatan para pihak Kesepakatan tersebut harus dinyatakan, yaitu pihak Rahin setuju untuk memberikan pembiayaan dengan jumlah tertentu dan Rahin menerima pembiayaan tersebut. Sebagai jaminan pengembalian hutang tersebut, maka Rahin menggadaikan suatu barang tertentu yang menjadi objek akad, dan sebaliknya pihak Murtahin bersedia menerima gadai atas objek akad tersebut, untuk jangka waktu tertentu. Uraian barang yang digadaikan harus

jelas, termasuk jika barang tersebut memiliki sertifikat atau surat bukti kepemilikan, surat-

surat tersebut harus dijelaskan dalam uraian objek akad. b. pihak murtahin menerima barang yang digadaikan tersebut dengan memberikan sejumlah dana tertentu dan Rahin berkewajiban untuk membayar biaya sewa tempat penitipan dan asuransi atas barang yang digadaikan tersebut. Jumlahnya harus ditetapkan apakah dihitung perhari atau per minggu atau per bulan termasuk cara pembayarannya. c. Jaminan dari pihak Rahin, bahwa objek yang digadaikan adalah benar-benar miliknya, tidak tersangkut dalam suatu perkara atau sengketa, termasuk bebas dari sitaan. Jika barang yang digadaikan berupa emas, maka harus ada jaminan bahwa emas tersebut adalah asli, dan melepaskan pihak murtahin dari segala tuntutan dari pihak ketiga mengenai kepemilikan atas objek yang digadaikan tersebut. d. kuasa untuk melakukan debet rekening Rahin, jika pembayaran dilakukan oleh Rahin melalui suatu rekening tertentu (tidak langsung). e. Kuasa untuk menjual atau melelang barang yang digadaikan, apabila sampai tiba jangka waktunya, Rahin tidak dapat mengembalikan dana yang diterimanya dari murtahin. 4. Penutup Perjanjian dibuat dimana dan diakhiri dengan tanda-tangan yang merupakan kesepakatan dari para pihak. Walaupun pengertian Rahn hampir sama dengan pengertian gadai dalam hukum positif, namun Gadai Rahn bukan diperuntukkan sebagai jaminan atas suatu pelunasan utang tertentu. Pihak pemilik barang tidak membayar bunga dari pinjaman yang diterimanya, melainkan membayar biaya penitipan. Biaya tersebut digunakan sebagai sewa tempat penitipan dan asuransi barang yang digadaikan. Karena itu, dalam pelaksanaan akadnya, Rahn ini menggunakan gabungan akad qardh dan ijarah. Sebagai catatan, untuk jaminan pelaksanaan kewajiban nasabah berdasarkan suatu akad pembiayaan tertentu dimana nasabah menyerahkan jaminan berupa barang bergerak (seperti saham atau deposito), maka dalam istilah perbankan syariahnya menggunakan pengikatan jaminan berupa Gadai Saham atau Gadai Deposito berdasarkan hukum positif. *****
Did you like this? Share it:

Kategori : Perbankan Syariah, PerjanjianKomentar (0)

Tags: gadai, gadai tanah, Pembiayaan Syariah, Rahn, rahn hiyasi, rahn i'qar

Jenis-Jenis Rahn
Posted on 24 October 2010

Dalam prinsip syariah, gadai dikenal dengan istilah RAHN. Rahn yang diatur menurut Prinsip Syariah, dibedakan atas 2 macam, yaitu: 1. Rahn Iqar/Rasmi (rahn Takmini/Rahn Tasjily) Merupakan bentuk gadai, dimana barang yang digadaikan hanya dipindahkan kepemilikannya, namun barangnya sendiri masih tetap dikuasai dan dipergunakan oleh pemberi gadai. Maksudnya bagaimana ya? Jadi begini: Tenriagi memiliki hutang kepada Elda sebesar Rp. 10jt. Sebagai jaminan atas pelunasan hutang tersebut, Tenriagi menyerahkan BPKB Mobilnya kepada Elda secara Rahn Iqar. Walaupun surat-surat kepemilikan atas Mobil tersebut diserahkan kepada Elda, namun mobil tersebut tetap berada di tangan Tenriagi dan dipergunakan olehnya untuk keperluannya sehari-hari. Jadi, yang berpindah hanyalah kepemilikan atas mobil di maksud. Konsep ini dalam hukum positif lebih mirip kepada konsep Pemberian Jaminan Secara Fidusia atau penyerahan hak milik secara kepercayaan atas suatu benda. Dalam konsep Fidusia tersebut, dimana yang diserahkan hanyalah kepemilikan atas benda tersebut, sedangkan fisiknya masih tetap dikuasai oleh pemberi fidusia dan masih dapat dipergunakan untuk keperluan sehari-hari. 2. Rahn Hiyazi Bentuk Rahn Hiyazi inilah yang sangat mirip dengan konsep Gadai baik dalam hukum adat maupun dalam hukum positif. Jadi berbeda dengan Rahn Iqar yang hanya menyerahkan hak kepemilikan atas barang, maka pada Rahn Hiyazi tersebut, barangnya pun dikuasai oleh Kreditur. Jika dilihat dalam contoh pada point 1 di atas, jika akad yang digunakan adalah Rahn Hiyazi, maka Mobil milik Tenriagi tersebut diserahkan kepada Elda sebagai jaminan pelunasan hutangnya. Dalam hal hutang Tenriagi kepada Elda sudah lunas, maka Tenriagi bisa mengambil kembali mobil tersebut. Sebagaimana halnya dengan gadai berdasarkan hukum positif, barang yang digadaikan bisa berbagai macam jenisnya, baik bergerak maupun tidak bergerak. Dalam hal yang digadaikan

berupa benda yang dapat diambil manfaatnya, maka penerima gadai dapat mengambil manfaat tersebut dengan menanggung biaya perawatan dan pemeliharaannya. Dalam praktik, yang biasanya diserahkan secara Rahn adalah benda-benda bergerak, khususnya emas dan kendaraan bermotor. Rahn dalam Bank syariah juga biasanya diberikan sebagai jaminan atas Qardh atau pembiayaan yang diberikan oleh Bank Syariah kepada Nasabah. Rahn juga dapat diperuntukkan bagi pembiayaan yang bersifat konsumtif seperti pembayaran uang sekolah, modal usaha dalam jangka pendek, untuk biaya pulang kampung pada waktu lebaran dan lain sebagainya. Jangka waktu yang pendek (biasanya 2 bulan) dan dapat diperpanjang atas permintaan nasabah. Sebagai contoh: Putri sudah merencanakan untuk memasukkan anaknya ke Universitas yang bermutu pada tahun ajaran baru ini. Namun demikian, ternyata anaknya hanya bisa diterima melalui jalur khusus. Uang pangkal untuk masuk ke jurusan favorit anaknya adalah sebesar Rp. 30 juta, sedangkan Putri hanya memiliki uang tunai sebesar Rp. 20 juta. Untuk mengatasi masalah tersebut, Putri mencari alternative dengan cara menggadaikan perhiasan emasnya ke Bank Syariah terdekat. Emasnya sebesar 50gram dan untuk itu, Putri berhak untuk mendapatkan pembiayaan sebesar Rp. 15juta. Karena Putri merasa hanya membutuhkan uang sebesar Rp. 10juta, maka Putri juga bisa hanya mengambil dana tunai sebesar Rp. 10 juta saja. Oleh Bank Syariah, dibuatkan Akad Qardh untuk memberikan uang tunai kepada Putri, dan selanjutnya dibuatkan akad Rahn untuk menjamin pembayaran kembali dana yang dierima oleh Putri. Sebagai uang sewa tempat untuk menyimpan emas tersebut pada tempat penitipan di Bank sekaligus biaya asuransi kehilangan emas dimaksud, Bank berhak untuk meminta Ujrah (uang jasa), yang besarnya ditetapkan berdasarkan pertimbangan Bank. Misalnya Rp. 3.500, per hari. Dengan demikian, jika Putri baru bisa mengembalikan uang tunai yang diterimanya pada hari ke 30 (1 bulan), maka uang sewa sekaligus asuransi yang harus dibayar oleh Putri adalah sebesar: Rp. 3.500, X 30 hari = Rp. 105.000,

Jadi, pada saat pengembalian dana yang diterima olehnya, Niken harus membayar uang sebesar: Rp. 10 jt + Rp. 105.000, = Rp. 10.105.000, Bagaimana kalau ternyata dalam waktu 2 bulan Putri belum bisa mengembalikan dana tersebut? Jika demikian, maka Putri dapat mengajukan perpanjangan jangka waktu gadai tersebut kepada Bank yang berkenaan. Perpanjangan tersebut dapat dilakukan secara lisan, dengan mengajukan pemberitahuan kepada Bank tersebut. Begitu pula sebaliknya, jika baru 1 minggu Putri sudah bisa mengembalikan dana yang diterimanya, maka Putri tinggal menghubungi Bank dimaksud, dan membayar biaya sewa tempat sekaligus asuransi tersebut selama 1 minggu saja. Jadi, prinsip pokok dari Rahn adalah: 1. Kepemilikan atas barang yang digadaikan tidak beralih selama masa gadai

2. Kepemilikan baru beralih pada saat terjadinya wanprestasi pengembalian dana yang diterima oleh pemilik barang. Pada saat itu, penerima gadai berhak untuk menjual barang yang digadaikan berdasarkan kuasa yang sebelumnya pernah diberikan oleh pemilik barang. 3. Penerima gadai tidak boleh mengambil manfaat dari barang yang digadaikan, kecuali atas seijin dari pemilik barang. Dalam hal demikian, maka penerima gadai berkewajiban menanggung biaya penitipan/penyimpanan dan biaya pemeliharaan atas barang yang digadaikan tersebut. (Bersambung ke: Akad Rahn)
Did you like this? Share it:

Kategori : Perbankan Syariah, Perjanjian, Perjanjian / KontrakKomentar (0)

Tags: Gadai Emas, Gadai Syariah, Pembiayaan Syariah, Rahn

Gadai (Rahn) Dalam Prinsip Pembiayaan Syariah


Posted on 20 October 2010

Konsep gadai pada skema pembiayaan syariah pada dasarnya hampir sama dengan konsep gadai yang berlaku di masyarakat hukum adat sejak jaman dahulu kala. Dalam gadai, Debitur memperoleh sejumlah uang dari Kreditur. selaku pihak pemilik barang menyerahkan barang miliknya kepada seseorang yang nantinya akan bertindak selaku penerima gadai. Di dalam gadai berdasarkan prinsip hukum positif yang banyak dipengaruhi oleh hukum adat, jenis barang yang digadaikan pun bisa berbagai macam bentuknya, bisa saham, kendaraan bermotor, emas, mesin-mesin dan bahkan tanah pertanian. Gadai tanah dalam hukum adat yang diadopsi dalam Hukum Pertanahan nasional contohnya sebagai berikut: Yenni memiliki kebun sayuran organic yang sangat produktif seluas 1 hektar. Kebun tersebut digadaikannya kepada Syafira selama 7 tahun. Selama jangka waktu gadai tersebut, Syafira berhak untuk mengolah kebun tersebut dan mengambil hasil/panen dari olahannya. Setelah jangka waktu gadai berakhir, kebun tersebut akan kembali Yenni. Namun demikian, selama masa gadai tersebut dan selama Syafira masih mengambil manfaat atas sawah dimaksud, maka Syafira berkewajiban untuk menanggung biaya perawatan, seperti pemupukan, pembibitan, dan biaya-biaya lain yang terkait. Hal ini sesuai dengan FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL Nomor: 25/DSNMUI/III/2002 yang mengutip dari Hadits Nabi riwayat Jamaah, kecuali Muslim dan alNasai, Nabi s.a.w. bersabda:

Tunggangan (kendaraan) yang digadai kan boleh dinaiki dengan menanggung biayanya dan binatang ternak yang digadaikan dapat diperah susunya dengan menanggung biayanya. Orang yang menggunakan kendaraan dan memerah susu tersebut wajib menanggung biaya perawatan dan pemeliharaan. (Bersambung ke: Jenis-Jenis Rahn dan Akad Rahn)
Did you like this? Share it:

Kategori : Perbankan Syariah, PerjanjianKomentar (0)

Tags: kartu kredit

Transaksi Kartu Kredit Syariah


Posted on 11 October 2010

Dewasa ini, beberapa Bank Syariah mulai membuat terobosan dengan menerbitkan Kartu Kredit Syariah. Kartu Kredit tersebut secara umum bentuknya dan penggunaannya hampir sama dengan kartu kredit biasa. Namun sebenarnya ada beberapa hal yang membedakan antara Kartu Kredit biasa dengan Kartu Kredit Syariah. Dalam pembukaan kartu kredit Bank Syariah, biasanya nasabah juga di syaratkan untuk membuka tabungan yang dananya minimal 10% dari limit kartu kredit yang di terima oleh nasabah dimaksud. Dana dari tabungan yang dibuka tersebut, akan diblokir dan digunakan sebagai jaminan pelunasan tagihan dari kartu kredit yang diterima nasabah. Mengapa demikian? Karena hal tersebut ditujukan untuk mengurangi Risiko dari Bank Syariah yang bersangkutan agar tidak dibobol oleh nasabah yang tidak bertanggung jawab. Di satu sisi, ketentuan tersebut baik untuk mengontrol pengeluaran dari nasabah yang bersangkutan, agar tidak melakukan transaksi yang berlebihan (israf). Kemudian, dana yang diblokir oleh bank syariah dimaksud bukan merupakan dana yang idle, karena Bank Syariah akan membuat akad perjanjian dengan system mnudharabah sebagaimana halnya tabungan biasa, dengan akad/perjanjian mudaharabah mutlaqah (lihat pembahasan di depan mengenai system dan cara pembagian mudharabah mutlaqah). Bank akan nmengelola dana tersebut, dan memberikan bagi hasil kepada nasabah dengan nisbah tertentu yang dihitung dari saldo harian nasabah setelah dikurangi dengan pajak-pajak. Jika suatu saat nasabah berkeinginan untuk menutup kartu kreditnya, maka apabila tidak ada tunggakan kewajiban yang harus ditanggung oleh nasabah yang bersangkutan, maka nasabah

tersebut juga bisa menutup tabungan yang dananya di blokir tersebut dan mengambil seluruh sisa dana yang tersimpan. Hal ini juga membedakan karakteristik antara kartu kredit konvensional dengan kartu kredit syariah. PERBEDAAN ANTARA KARTU KREDIT SYARIAH DENGAN KONVENSIONAL 1. Kartu kredit syariah tidak dapat digunakan untuk transaksi yang tidak sesuai dengan syariah 2. Tidak mendorong pengeluaran yang berlebihan (israf). 3. Pemegang kartu kredit syariah harus memiliki kemampuan financial untuk melunasi pada waktunya. AKAD YANG DIGUNAKAN: Bank Syariah yang menerbitkan Kartu Kredit Syariah menggunakan beberapa skema akad dalam transaksi kartu kredit tersebut. Akad-akad tersebut adalah: 1. Akad Kafalah Dalam akad kafalah ini, Bank Syariah sebagai penerbit kartu kredit akan bertindak selaku penjamin bagi nasabahnya, terhadap merchant yang melakukan transaksi dengan nasabah tersebut. Bank Syariah akan menjamin semua kewajiban pembayaran dari nasabahnya yang membeli barang atau menerima jasa dari merchant dimaksud. Karena Bank Syariah telah bertindak selaku penjamin, maka Bank Syariah berhak menagih iuran bulanan (membership fee). Maksudnya begini: Tenriagi merupakan nasabah kartu kredit pada Bank Syariah. Suatu hari Tenriagi membeli tas merk Gucci pada sebuah Boutique di Orchard Singapore dengan menggunakan kartu kredit tersebut. Pada saat itu, Tenriagi tidak membayar harga tas dengan tunai, melainkan dengan kartu kredit atau dengan cara hutang. Jadi seolah-olah Tenriagi berhutang kepada Boutique tersebut. Boutique tersebut bisa mempercayai Tenriagi, karena adanya jaminan dari Bank Syariah penerbit kartu kredit. Sehingga Bank Syariah tersebut bertindak selaku Kafil (penjamin) dan Tenriagi selaku Makful (pihak yang dijamin). 2. Akad Qardh Bank Syariah selaku pemberi pinjaman kepada nasabahnya atas seluruh transaksi penarikan tunai yang menggunakan kartu kredit yang diterbitkan oleh Bank Syariah dimaksud. Jadi maksudnya begini: Dalam suatu transaksi kartu kredit, terkadang Nasabah diberikan fasilitas untuk menarik dana secara tunai dengan menggunakan kartu kredit tersebut; walaupun nasabah tidak memiliki simpanan dalama bentuk uang tunai dalam rekening kartu kredit dimaksud. Namun, Bank Syariah memberikan dana talangan kepada nasabah, yang nantinya harus dikembalikan lagi oleh nasabah tersebut. Atas pelayanan qardh, maka bank berhak mengenakan biaya

administrasi yang besarnya tidak boleh di dasarkan atas jumlah pinjaman, tetapi biaya riil yang dikeluarkan bank. 3. Akad Ijarah Bank Syariah selaku penyedia jasa system pembayaran dan pelayanan terhadap pemegang Kartu Kredit. Atas Ijarah tersebut, nasabah dari Bank Syariah yang bersangkutan dikenakan iuran tahunan (annual membership fee). Disamping ketiga akad tersebut, dalam transaksi kartu kredit, dapat pula digunakan akadakad lainnya, yaitu: 1. Akad Wakalah Atau pemberian kuasa. Jadi begini: pada saat terjadi akad antara pemegang kartu dan penerbit kartu (Bank), nasabah pemegang kartu sudah memberikan memberikan kuasa (mewakilkan) kepada Bank untuk melunasi hutang yang timbul sebagai akibat dari pengeluaran Nasabah dengan menggunakan kartu kredit kredit tersebut. 2. Akad Hiwalah (pengalihan pembayaran hutang) Seperti halnya pada konsep Hiwalah (Hawalah), Nasabah pada dasarnya memiliki hutang kepada merchant (dengan membeli suatu barang atau jasa tertentu misalnya), dan kemudian merchant tersebut menagih kepada Bank. Dalam ini, antara merchant dengan Bank tidak ada hubungan khusus. Namun, karena adanya wakalah yang ditindak lanjuti dengan Hawalah, maka Bank berkewajiban untuk membayarkan tagihan hutang dari Merchant tersebut atas nama Nasabah. 3. Baybi Ajal Baybi ajal biasanya terjadi antara 2 pihak, dimana hubungannya langsung antara nasabah selaku pemegang kartu kredit dengan merchant. Nasabah membeli produk secara cicilan kepada merchant, pembayarannya dilakukan secara mencicil (taqsith). Sebagai catatan pribadi saya, walaupun sudah ada Bank Syariah yang menerbitkan Kartu Kredit Syariah, namun dalam prakteknya beberapa Bank Syariah lainnya masih bersikap skeptic mengenai konsep akad yang digunakan pada transaksi kartu kredit dimaksud. Salah satu legal corporate Bank Syariah yang saya mintai pendapat menjelaskan bahwa salah satu alasannya adalah karena dalam syariah sendiri tidak ada istilah kredit melainkan pembiayaan. Karena Bank Syariah bertindak bukan sebagai kreditur melainkan mitra dari Nasabah. *******
Did you like this? Share it:

Kategori : ARTIKEL, Perbankan SyariahKomentar (0)

Tags: dokumen impor, kredit export import, LC, LC impor

Mekanisme L/C Impor Syariah


Posted on 03 October 2010

Dalam transaksi L/C Impor Syariah, ada syarat yang harus dipenuhi yaitu: 1. Syarat objek yang dijamin pembayarannya oleh L/C Syariah. Objek yang dijamin oleh L/C Impor Syariah harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. Transaksi tersebut merupakan kewajiban dari Importir sendiri. Jadi L/C Impor tidak boleh diterbitkan untuk hal-hal yang bukan merupakan kewajiban Importir, seperti: untuk kegiatan konsumtif atau untuk kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan penerbitan L/C Impor tersebut. b. Jelas nilai dan spesifikasinya, antara lain mata uang yang digunakan dan waktu pembayaran. c. Objek yang dijamin tidak bertentangan dengan syariah (tidak diharamkan). 2. Penetapan imbalan jasa (ujroh) Bank. Dalam menetapkan besarnya imbalan yang harus diterima oleh Bank tidak boleh dalam bentuk presentase, melainkan harus dalam jumlah nominal yang tetap dan jumlah tersebut harus dinyatakan pada awal akad. Jadi, dalam kasus di atas, pada saat ditanda-tanganinya akad antara PT. Priyatama Perkasa dengan Bank, harus dilangsung ditentukan bahwa pada setiap pembukaan L/C Impor, Bank Syariah akan mendapat fee (ujrah) sebesar Rp. 2jt misalnya. Tidak boleh disebutkan bahwa fee tersebut merupakan sekian persen dari nilai L/C Impor yang diterbitkan. Hal inilah salah satu yang membedakan antara konsep syariah dengan konsep konvensional. 3. Nasabah harus memberikan dana yang sama dengan jumlah tagihan, atau jika nasabah tidak memiliki dana, maka bank dapat memberikan Qardh ataupun pembiayaan mudharabah dengan system pengembalian baik secara mencicil maupun secara tunai. Risiko Dalam SkemaJasa Penerbitan L/C Impor syariah: 1. Risiko pembiayaan (credit risk) yang disebabkan oleh ketidak mampuan importir membayar tagihan penyelesaian L/C. Untuk mengantisipasi Risiko gagal bayar tersebut, Bank Syariah bisa meminta kepada Importir (nasabah) untuk memberikan jaminan tertentu yang dapat dieksekusi menurut hukum posisitf. Antara lain: Hak Tanggungan atas tanah dan

bangunan, fidusia atas tagihan penjualan ikan hias tadi kepada end user, gadai deposito, atau jaminan perorangan (personnal guarantee) dari pemegang saham PT. Priyatama Perkasa. 2. Risiko Pasar, yang disebabkan kesulitan Bank memperoleh valuta asing yang diperlukan pada waktu pembayaran. 3. Risiko reputasi yang disebabkan oleh ketidak mampuan Bank Syariah memenuhi komitmen yang di janjikan. 4. Risiko operasional yang disebabkan oleh ketidak handalan manajemen teknologi informasi. *****
Did you like this? Share it:

Kategori : Perbankan Syariah, Perjanjian / Kontrak, Perseroan terbatasKomentar (0)

Tags: bank syariah, dokumen impor, Gadai Syariah, kredit export import, LC impor, Perbankan Syariah, syariah

Letter of Credit (L/C) Impor Syariah


Posted on 01 October 2010

Letter of Credit (L/C) Impor syariah adalah surat pernyataan akan membayar kepada eksportir (beneficiary) yang diterbitkan oleh Bank (issuing bank) atas permintaan Importir dengan pemenuhan persyaratan tertentu (Uniform Customs and Practice for Documentary Credits/UCP). Contohnya begini: PT. Priyatama Perkasa adalah perusahaan importir Ikan Hias. PT Priyatama Perkasa melakukan pemesanan 1 kontainer ikan hias hidup dari Australian Marine Co.Ltd. Pihak Australia baru akan setuju mengirimkan 1 kontainer ikan hias tersebut, apabila PT. Priyatama Perkasa menerbitkan L/C dari Bank yang terpercaya. PT. Priyatama Perkasa kemudian meminta kepada Bank Syariah untuk menerbitkan L/C dengan memberikan jaminan pembayaran berupa tanah milik PT yang terletak di daerah Parung. Dalam kasus tersebut, maka Bank Syariah dapat menggunakan bentuk akad:

1. Wakalah bil Ujrah. Dalam akad tersebut, PT. Priyatama Perkasa memberikan kuasa (wakalah) kepada Bank Syariah untuk bertindak selaku wakil dan memberikan jaminan atas pemenuhan kewajiban pembayaran PT. Priyatama Perkasa terhadap pembayaran pemesanan ikan hias yang dilakukannya kepada Australian Marine Co. Ltd. Karena jasanya dalam tugas tersebut, maka Bank Syariah berhak untuk mendapatkan fee (ujrah) sejumlah tertentu. Dalam hal Bank Syariah hanya semata-mata bertindak selaku wakil dari nasabah (dengan akad wakalah bil ujrah tersebut), maka nasabah harus memiliki dana pada Bank Syariah tersebut, yang jumlahnya sama besar dengan jumlah tagihan yang harus dipenuhinya. Dalam hal Nasabah tidak memiliki dana yang sama besarnya dengan jumlah tagihan yang harus dipenuhinya, maka antara Bank Syariah dengan PT. Priyatama Perkasa dapat dijembatani dengan cara: a. menggunakan skema Qardh, dimana Bank akan memberikan penalangan pembayaran tersebut langsung kepada Australian Marine Co Ltd. atas nama PT. Priyatama Perkasa. Selanjutnya PT. Priyatama Perkasa dapat mengembalikan dana talangan (Qardh) tersebut baik secara tunai maupun secara mencicil, dengan atau tidak ditambahkan fee tertentu. b. menggunakan skema mudharabah, Dalam hal ini Bank Syariah bertindak selaku penyandang dana, yang menyerahkan modal kepada nasabah (importer) sebesar harga barang yang di impor. Akad yang digunakan dalam skema ini adalah akad wakalah bil ujroh yang dilanjutkan dengan akad mudharabah. c. menggunakan skema Hawalah . Dimana Australian Marine Co. Ltd dapat menagih langsung kepada Bank, dan setelah Bank memenuhi tagihan pembayaran tersebut, maka selanjutnya nasabah wajib mengembalikan dana take over tersebut kepada Bank baik sekaligus ataupun dengan cara mencicil. Dalam konsep ini, akad yang digunakan adalah akad wakalah bil ujroh dan akad kfalah. Atau tidak menggunakan ketiga skema di atas, melainkan Bank Syariah semata-mata bertindak selaku Wakil dari Bank, yang menjamin pembayaran dari PT. Priyatama Perkasa tersebut kepada Australian Marine Co. Ltd. 2. Akad Kafalah Dalam akad kafalah tersebut, maka Bank Syariah menjamin pihak Australian Marine Co. Ltd. bahwa PT. Priyatama Perkasa akan memenuhi kewajiban pembayaran sesuai pesanan yang dilakukannya. (bersambung: Mekanisme L/C Impor Syariah)
http://irmadevita.com/category/perbankan-syariah