Anda di halaman 1dari 132

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Permasalahan Dalam rangka pembangunan ekonomi Indonesia, bidang hukum yang minta perhatian serius dalam pembinaan di antaranya adalah bidang hukum jaminan.1 Hukum Jaminan memiliki kaitan yang erat dengan bidang hukum benda dan perbankan. Dibidang perbankan kaitan ini terletak pada fungsi perbankan yakni penghimpun dan penyalur dana bagi masyarakat, yang salah satu usahanya adalah memberikan kredit. Kredit merupakan faktor pendukung bagi pembangunan ekonomi. Ini berarti perkreditan mempunyai arti penting dalam berbagai aspek pembangunan, seperti perdagangan, perindustrian, perumahan, transportasi, dan sebagainya.2 Perkreditan memberikan dukungan kepada ekonomi lemah dan para pengusaha dalam mengembangkan usahanya. Bagi perbankan, setiap kredit yang disalurkan kepada pengusaha selalu mengandung resiko. Oleh karena itu, perlu unsur pengamanan, yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam pemberian kredit di samping unsur keseimbangan dan keuntungan. Bentuk pengamanan kredit dalam praktek perbankan dilakukan dengan pengikatan jaminan. Salah satu jenis jaminan kebendaan yang dikenal dalam hukum positif adalah jaminan fidusia, sebagai lembaga jaminan atas benda bergerak, jaminan fidusia banyak dipergunakan oleh masyarakat bisnis. Pada awalnya fidusia didasarkan kepada yurisprudensi, sekarang jaminan fidusia sudah diatur dalam undang-undang tersendiri.3
1 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan, Bina Usaha: Yogyakarta, 1980, hal. 1. 2 H. Tan Kamelo, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Alumni: Bandung, 2004, hal. 1 3 Jaminan Fidusia diatur dalam UU No. 42 Tahun 1999, sebelumnya diatur dalam UU No. 16 Tahun 1985 dan UU No. 4 Tahun 1992.

2 Istilah Fidusia barasal dari bahasa Belanda, yaitu fiducie dan dalam bahasa Inggris disebut fiduciary transfer of ownership, yang artinya kepercayaan. Dalam berbagai literatur, fidusia lazim disebut dengan istilah Fiduciare eigendom overdract (FEO) yaitu penyerahan hak milik berdasarkan kepercayaan. Dalam Bahasa Belanda disebut juga dengan Zekerheids eigendom artinya hak milik sebagai kepercayaan. Fidusia, menurut asal katanya berasal dari kata fides yang berarti kepercayaan. Sesuai dengan arti kata, maka hubungan hukum antara debitur (pemberi fidusia) dan kreditur (penerima fidusia) merupakan hubungan hukum yang berdasarkan kepercayaan. Pemberi fidusia percaya bahwa penerima fidusia mau mengembalikan hak milik barang yang telah diserahkan, setelah dilunasi utangnya. Sebaliknya penerima fidusia percaya bahwa pemberi fidusia tidak akan menyalahgunakan barang jaminan yang berada dalam kekuasaannya. Menurut Mahadi fidusia berasal dari bahasa latin yang artinya kepercayaan tehadap seseorang atau sesuatu, pengharapan yang besar. Juga ada kata fido yang merupakan kata kerja yang berarti mempercayai seseorang atau sesuatu.4 Subekti menjelaskan arti kata fiduciair adalah kepercayaan yang diberikan secara bertimbal balik oleh satu pihak kepada yang lain, bahwa apa yang keluar ditampakkan sebagai pemindahan milik, hanya suatu jaminan saja untuk suatu utang.5 Fidusia adalah suatu istilah yang berasal dari hukum Romawi, yang memiliki dua pengertian yakni sebagai kata kerja dan kata sifat. Sebagai kata benda, istilah fidusia mempunyai arti seorang yang diberi amanah untuk mengurus
4 Mahadi, Hak Milik dalam Hukum Perdata Nasional, Proyek BPHN: 1981, hal. 61. 5 R. Subekti, Jaminan-Jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia, Alumni: Bandung, 1982, hal. 76.

3 kepentingan pihak ketiga dengan itikad baik, penuh ketelitian, bersikap hati-hati dan berterus terang. Orang yang diberi kepercayaan dibebani kewajiban melakukan perbuatan untuk kemanfaatan orang lain. Sebagai kata sifat istilah fidusia menunjukkan pengertian tentang hal yang berhubungan dengan kepercayaan (trust). Di dalam Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dijumpai, pengertian fidusia yaitu: Pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda. Pengertian pengalihan hak kepemilikan adalah pemindahan hak

kepemilikan dari pemberi fidusia kepada penerima fidusia atas dasar kepercayaan, dengan syarat bahwa benda yang menjadi objeknya tetap berada di tangan pemberi fidusia. Jadi fidusia itu merupakan suatu cara pemindahan hak milik dari (debitur) berdasarkan adanya perjanjian pokok (perjanjian utang piutang) kepada kreditur, tetapi yang diserahkan hanya haknya saja secara yuridis levering dan hanya dimiliki oleh kreditur secara kepercayaan saja (sebagai jaminan utang debitur), barangnya tetap dikuasai oleh debitur. Bentuk rincian dari constitutum Prossesorium (penyerahan kepemilikan benda tanpa penyerahan fisik benda sama sekali), fidusia ini pada prinsipnya dilakukan melalui proses tiga fase yaitu: Fase I: Fase perjanjian obligatoir (obligatoir overeenskomst) Yaitu berupa perjanjian pinjam uang dengan jaminan fidusia antara pihak pemberi fidusia dengan pihak penerima fidusia. Fase II: Fase perjanjian kebendaan (zakelijke overeenskomst) Yaitu perjanjian berupa penyerahan hak milik dari debitur kepada kreditur, dalam hal ini dilakukan dengan penyerahan hak milik tanpa penyerahan fisik benda (constitutum prossessorium).

Fase III: Fase perjanjian pinjam pakai Dalam hal ini benda objek fidusia yang hak miliknya sudah berpindah kepada pihak kreditur dipinjampakaikan kepada pihak debitur, sehingga praktis benda tersebut, setelah diikat dengan jaminan fidusia tetap saja dikuasai secara fisik oleh pihak debitur.6 Perkembangan fidusia dapat dilihat dari sejak lahirnya fidusia, pengakuan

fidusia dalam yurisprudensi sampai diaturnya jaminan fidusia dalam undang-undang. Pada awalnya, lembaga fidusia dikenal dalam hukum Romawi dengan nama Fidusia Cum Creditore dengan nama lengkapnya adalah Fiducia Cum Creditore Contracta yang berarti janji kepercayaan yang dibuat dengan kreditur, dikatakan bahwa debitur akan mengalihkan kepemilikan atas suatu benda kepada kreditur sebagai jaminan atas utangnya dengan kesepakatan bahwa kreditur akan mengalihkan kembali kepemilikan tersebut kepada debitur apabila utangnya sudah dibayar lunas. Dengan fiducia cum creditore ini maka kewenangan yang dimiliki oleh kreditur akan lebih besar yaitu sebagai pemilik atas barang yang diserahkan sebagai jaminan. Debitur percaya bahwa kreditur tidak akan menyalahgunakan wewenang yang diberikan itu. Kekuatannya hanya terbatas pada kepercayaan secara moral saja dan bukan kekuatan hukum yang pasti. Debitur tidak akan dapat berbuat apa-apa jika kreditur tidak mau mengembalikan hak milik atas barang yang diserahkan sebagai jaminan. Pada putusan Hooge Raad (HR) dalam perkara Aw de Haan V. Heinken Bierbrouwerij Maafschappij tanggal 25 Januari 1929 fidusia telah diakui sebagai lembaga jaminan dengan objek benda berupa inventaris perusahaan. Putusan Hooge Raad tersebut merupakan awal bagi perkembangan hukum fidusia di Belanda. Fidusia ini adalah lembaga jaminan yang lahir dari hasil penemuan hukum oleh hakim (recthvinding), sebagai akibat dari sempitnya pengaturan gadai
6 Munir Fuady, Jaminan Fidusia, Citra Aditya Bakti: Bandung, 2003, hal. 5-6.

5 (pand) dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.7 Menurut Sri Soedewi latar belakang timbulnya jaminan fidusia adalah Karena ketentuan undang-undang yang mengatur tentang lembaga gadai (pand) mengandung banyak kekurangan, tidak memenuhi kebutuhan masyarakat dan tidak dapat mengikuti perkembangan masyarakat.8 Dan Menurut Salim HS gadai mempunyai beberapa hambatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang meliputi: 1. Adanya asas inbezitstelling Asas ini mensyaratkan bahwa kekuasaan atas bendanya harus pindah/berada pada pemegang gadai, sebagaimana yang diatur dalam pasal 1152 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Ini merupakan hambatan yang berat bagi gadai atas benda-benda bergerak berujud, karena pemberi gadai tidak dapat menggunakan benda-benda tersebut untuk keperluannya. 2. Gadai atas surat-surat piutang Kelemahan dalam pelaksanaan gadai atas surat-surat piutang ini karena: 1. Tidak adanya ketentuan tentang cara penarikan dari piutang-piutang oleh si pemegang gadai. 2. Tidak adanya ketentuan mengenai bentuk tertentu bagaimana gadai itu harus dilaksanakan, misalnya mengenai cara pemberitahuan tentang adanya gadai piutang-piutang tersebut kepada si debitur surat utang. 3. Ketiadaan kepastian berkedudukan sebagai kreditur terkuat, sebagaimana tampak dalam hal membagi hasil eksekusi, kreditur lain, yaitu pemegang hak privilege dapat berkedudukan lebih tinggi dari pada pemegang gadai.9 Menurut Munir Fuady ada beberapa hal yang mendasari lahirnya jaminan fidusia, antara lain: 1. Dalam praktek terdapat kasus dimana benda yang menjadi objek jaminan utang adalah tergolong benda bergerak tetapi pihak debitur enggan menyerahkan kekuasaan atas benda tersebut kepada kreditur, sementara kreditur tidak mempunyai kepentingan bahkan kerepotan jika benda
7 Menurut Pasal 1512 KUHPerdata, Dalam Perjanjian Gadai, Objek Gadai Harus Berada Dalam Kekuasaan Kreditur. 8 Sri Soedewi Mascjhoen Sofwan, Beberapa Masalah Pelaksanaan Lembaga Jaminan Khususnya Fidusia di Dalam Praktek dan Pelaksanaannya di Indonesia, Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, Yogyakarta: 1977, hal. 115-116. 9 Salim HS, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta: 2004, hal. 57-58.

6 tersebut diserahkan kepadanya. Karena itu dibutuhkan suatu bentuk jaminan utang yang objeknya benda bergerak tetapi tanpa menyerahkan kekuasaan atas benda itu kepada kreditur. Inilah yang disebut dengan jaminan fidusia. Adanya hak atas tanah tertentu yang tidak dapat dijaminkan dengan hak tanggungan, misalnya hak pakai atas tanah. Sehingga hak pakai atas tanah tersebut diikat dengan jaminan fidusia. Ada benda-benda yang sebenarnya termasuk benda-benda bergerak tetapi mempunyai sifat-sifat seperti benda tidak bergerak sehingga pengikatannya dengan gadai dirasa tidak cukup, terutama karena adanya kewajiban menyerahkan kekuasaan dari jaminan tersebut. Karena itu jaminan fidusia menjadi pilihan. Perkembangan kepemilikan atas benda-benda tertentu tidak selamanya dapat diikuti oleh perkembangan hukum jaminan, sehingga ada hak-hak atas benda yang sebenarnya tidak bergerak tetapi tidak dapat diikatkan dengan hipotik. Adakalanya pihak kreditur dan debitur tidak keberatan agar diikatkan jaminan utang berupa gadai, tetapi benda yang dijaminkan karena sesuatu hal tidak dapat diserahkan kepemilikannya kepada kreditur, misalnya saham yang belum dicetak sertifikatnya. Karena itu timbul fidusia saham.10

2. 3.

4.

5.

Dengan adanya berbagai kelemahan di atas, dalam praktik timbul lembaga baru yaitu fidusia. Selain fakta di atas yang melatar belakangi lahirnya UU No. 42 Tahun 1999 tentang Fidusia berdasarkan keadaan sekarang, tercantum dalam konsiderannya yaitu: 1. Kebutuhan yang sangat besar dan terus mengikat bagi dunia usaha atas tersedianya dana, perlu diimbangi dengan adanya ketentuan hukum yang jelas dan lengkap yang mengatur mengenai lembaga jaminan. 2. Pengaturan lembaga jaminan fidusia masih didasarkan pada yurisprudensi. 3. Dalam rangka memberi kepastian hukum dan perlindungan hukum bagi pihak yang berkepentingan Di Indonesia, kasus jaminan fidusia untuk pertama kali diputus oleh Mahkamah Agung (MA) dalam perkara Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) v. Pedro Clignett tanggal 18 Agustus 1932 dengan objek fidusia adalah
10 Munir Fuady, op. cit., hal. 2-3.

7 benda bergerak/mobil. Hooggerechtschof dengan arrestnya tanggal 16 Februari 1933 menetapkan bahwa hak grant (grant recht) dapat dijadikan objek jaminan fidusia. Dalam bidang perundang-undangan, perkembangan objek fidusia dapat dilihat setelah berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria. Menurut Undang-Undang Pokok Agraria, hak-hak atas tanah yang dapat dijadikan objek jaminan dengan hak tanggungan adalah hak milik, hak guna bangunan dan hak guna usaha.11 Dalam surat Direktur Jenderal Agraria No.D1133/73/3/73 tanggal 26 Maret 1973 dikatakan bahwa hak pakai tidak dapat dibebankan dengan hipotik (sekararang hak tanggungan). Sebagai jalan keluarnya dipergunakan lembaga fidusia. Demikian juga fidusia dapat dibebankan atas bangunan di atas tanah hak sewa.12 Menurut Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 Tentang Undang-Undang Rumah Susun, objek fidusia adalah rumah susun atau satuan rumah susun yang didirikan diatas tanah hak pakai atau tanah negara.13 Dalam UU No. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Pemukiman, objek fidusia adalah rumah, tidak diatur secara rinci apakah rumah itu didirikan di atas suatu jenis hak atas tanah tertentu.14 Berbeda halnya dengan Undang-Undang Rumah Susun yang menegaskan objek jaminan fidusia dengan melihat hak atas tanah, dalam Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman No. 4 Tahun 1992 yang diutamakan sebagai jaminan utang adalah rumah terlepas dari hak atas tanah. Sejak keluarnya UU No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan, ketentuan fidusia dalam Undang-Undang Rumah
11 Lihat Pasal 25, 39, dan Pasal 33 UU No. 5 Tahun 1960. 12 Sumardi Mangunkusumo, Fidusia Bangunan-Bangunan Di Atas Tanah Hak Sewa, (1972) Hukum dan Keadilan No. 3 Tahun ke III, Juni: hal. 2. 13 Lihat Pasal 12 dan 13 UU No. 16 Tahun 1985. 14 Lihat Pasal 15 dan Penjelasannya UU No. 4 Tahun 1992.

8 Susun dicabut dan diganti dengan lembaga hak tanggungan, sedangkan fidusia dalam Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman masih berlaku.15 Selanjutnya dalam Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia, tidak dinyatakan secara tegas benda-benda apa saja yang dapat dijadikan jaminan utang dengan pembebanan fidusia. Hanya saja diberlakukan ruang lingkup berlakunya Undang-Undang Jaminan Fidusia.16 Berdasarkan Pasal 1 angka (2) Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dinyatakan bahwa: Jaminan fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak, khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang nomor 4 tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan, yang tetap berada dalam penguasaan pemberi fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditur lainnya. Jadi dapat diketahui bahwa benda-benda yang dapat dijadikan jaminan utang dengan pembebanan fidusia meliputi benda bergerak dan benda tidak bergerak. Benda tidak bergerak yang dimaksudkan ialah bangunan yang tidak dapat dibebani dengan hak tanggungan yaitu bangunan di atas tanah hak milik orang lain. Sebelum berlakunya UU Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia, yang menjadi objek jaminan fidusia adalah benda bergerak yang terdiri dari benda dalam persediaan (inventory), benda dagangan, piutang, peralatan mesin dan kenderaan bermotor. Dengan berlakunya Undang-Undang Jaminan Fidusia, maka objek jaminan fidusia diberikan pengertian yang luas, yang antara lain terdapat dalam ketentuan Pasal 1 angka 4, Pasal 9, Pasal 10 dan Pasal 20. Benda-benda
15 Lihat Pasal 27 UU No. 4 Tahun 1992. 16 Lihat Pasal 2 dan 3 UU No. 42 Tahun 1999, Bandingkan dengan Pengaturan Objek Hak Tanggungan dalam Pasal 4 UU No. 4 Tahun 1992.

9 yang menjadi objek jaminan fidusia adalah: 1. Benda itu harus dapat dimiliki dan dialihkan secara hukum 2. Benda berwujud dan benda tidak berwujud, termasuk piutang 3. Benda bergerak dan tidak bergerak yang tidak dapat diikat dengan hak tanggungan 4. Benda tidak bergerak yang tidak dapat diikat dengan hipotik 5. Dapat atas satu satuan atau jenis benda dan lebih dari satu jenis atau satuan benda 6. Termasuk hasil dari benda yang telah menjadi objek fidusia dan juga hasil klaim asuransi objek jaminan fidusia tersebut. 7. Benda persediaan (inventory). Hukum benda adalah sub sistem dari sistim hukum perdata nasional di satu sisi dan di sisi lain hukum adat adalah salah satu komponen dalam penyusunan hukum perdata nasional. Oleh karena itu penyusunan hukum benda harus memperhatikan prinsip-prinsip hukum adat. Hal ini penting mengingat penjelasan Pasal 3 UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia yang isinya adalah: Bangunan di atas tanah milik orang lain yang tidak dapat dibebani dengan hak tanggungan berdasarkan UU No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan, dapat dijadikan objek jaminan fidusia dan Pasal 1 angka (4) UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia yang isinya: Benda adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki dan dialihkan, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, yang terdaftar maupun yang tidak terdaftar, yang bergerak maupun yang tak bergerak yang tidak dapat dibebani hak tanggungan atau hipotik. Fidusia memiliki arti penting dalam memenuhi kebutuhan kredit bagi masyarakat, khususnya perusahaan kecil dan menengah sangat membantu usaha

10 debitur. Oleh karena itu, kehadirannya dapat memberikan manfaat ganda. Debitur masih dapat menguasai barang jaminan untuk keperluan usaha sehari-hari, pihak perbankan lebih praktis mempergunakan prosedur pengikatan fidusia. Bank tidak perlu menyediakan tempat khusus barang jaminan seperti pada lembaga gadai (pand).17 Dalam perjanjian gadai, barang jaminan harus diserahkan kepada kreditur sesuai dengan pasal 1150 ayat 2 Kitab Undang Undang Hukum Perdata yang isinya: Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang bergerak yang diserahkan kepadanya oleh seorang berutang atau oleh seorang lain atas namanya . Dengan syarat gadai tersebut barang jaminan tidak dapat lagi menunjang usaha debitur. Dan Bagi bank dapat menimbulkan masalah mengenai tempat penyimpanan, khususnya bank-bank di kota besar, karena tidak adanya gudang-gudang yang cukup luas yang mereka miliki.18 Akibat pengaturan gadai yang terlalu sempit, fidusia lahir untuk mengisi kekosongan hukum jaminan melalui putusan pengadilan atas desakan kebutuhan masyarakat. Dalam UU No. 10 Tahun 1998 (UU Tentang Perubahan atas UU No. 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan) Pasal 8 dan penjelasannya dinyatakan bahwa pemberian kredit selalu mengandung resiko. Salah satu cara mengatasi resiko adalah menetapkan jaminan (collateral) dalam analisis pemberian kredit. Jaminan yang diminta bank dapat berupa jaminan pokok berupa barang proyek (tanah dan bangunan, mesin-mesin, persediaan, piutang dagang/hak tagih, dan lain-lain) sedangkan jaminan tambahan adalah harta kekayaan debitur. Agunan tambahan adalah agunan yang tidak termasuk di dalam batasan agunan
17 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, op. cit., hal. 75. 18 J. Satrio, Hukum Jaminan, Hak-Hak Jaminan Kebendaan, Citra Aditya Bakti: Bandung, 2002, hal. 149.

11 pokok tersebut di atas. Sebagai contoh: aktiva tetap diluar proyek yang dibiayai, surat berharga, garansi risiko, jaminan pemerintah, lembaga penjamin dan lain-lain. Hukum jaminan yang bersumber dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mengandung prinsip bahwa harta kekayaan debitur menjadi jaminan utang untuk segala perikatan yang dibuat19. Untuk menutupi kelemahan itu, perlu diperjanjikan secara khusus benda-benda tertentu dari debitur yang diikat sebagai jaminan utang. Secara teoritis, jika seorang pemberi fidusia wanprestasi, objek jaminan fidusia dapat dieksekusi, kalau harga jual melebihi utang debitur, kreditur fidusia wajib mengembalikan kelebihan uang sisa penjualan kepada debiturnya. Sebaliknya apabila hasil eksekusi tidak mencukupi untuk membayar utang, debitur tetap bertanggungjawab atas sisa utang tersebut.20 Menurut pihak bank, apabila ternyata objek jaminan fidusia tidak mencukupi untuk membayar utang, bank dapat menyita barang-barang lain milik debitur. Selain jaminan fidusia bank meminta jaminan lainnya yang diikat dengan surat kuasa memasang hak tanggungan atau surat kuasa menjual atas hak tanggungan, hak milik atau jaminan yang bersifat perorangan. Tidak logis bahwa benda jaminan fidusia tidak mencukupi untuk menutupi pembayaran utang debitur karena pada saat perjanjian kredit dengan pengikatan jaminan fidusia, pihak bank telah melakukan analisis faktor agunan terhadap debitur. Nilai agunan lebih besar dari pinjaman kredit yang diberikan yaitu sebesar 50%. Oleh karena itu tidak sepantasnya kreditur meminta penyitaan atas benda-benda lainnya milik debitur. Namun asas hukum jaminan dan doktrin hukum perdata menyatakan bahwa semua harta debitur memikul beban untuk
19 Prinsip Hukum Jaminan tercantum dalam Pasal 1131 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. 20 Lihat Pasal 34 UU No. 42 Tahun 1999.

12 melunasi utangnya kepada kreditur, sampai terpenuhi semua utangnya. Dalam kasus jaminan PT Bank BRI (Persero) Tbk dengan nasabahnya pada pengadilan negeri padangsidimpuan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, hakim telah membatalkan eksekusi jaminan yang tidak disebutkan dalam perjanjian pokok dan juga disebabkan penjualan benda jaminan yang tidak sesuai dengan harga pasar pada saat itu. Hakim berpendapat bahwa walaupun debitur dinyatakan wanprestasi, sita dibatalkan dengan alasan tidak sah dan melawan hukum. Pendapat lain menyatakan seharusnya yang boleh diminta

pertanggugjawaban hanya sebatas benda jaminan yang disebutkan dalam perjanjian pokok dengan alasan bahwa ketika membuat perjanjian kredit, pihak bank sudah menaksir bahwa benda agunan lebih tinggi nilainya dari jumlah pinjaman yang diberikan Secara teori jaminan tambahan lebih dahulu dieksekusi, jika belum cukup untuk membayar utang sidebitur dapatlah dilakukan eksekusi terhadap jaminan pokok, dalam proses eksekusi penjualan dilakukan sesuai dengan harga pasar yang wajar, sehingga debitur tidak dirugikan. Perjanjian jaminan fidusia adalah perjanjian yang muncul karena adanya perjanjian kredit bank (perjanjian pokok). Apabila debitur wanprestasi, bank dapat mengambil pelunasan utang dari hasil penjualan barang jaminan. Dalam praktik ada kecendrungan bahwa objek jaminan fidusia akan dikuasai oleh bank, jika debitur terbukti melakukan wanprestasi. Jika terjadi kepailitan pada debitur, bagaimana status barang jaminan fidusia?, apakah kreditur diakui sebagai kreditur separatis murni seperti yang dimaksud dalam pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Jaminan Fidusia dan bagaimana dengan asas-asas hukum yang dipakai sehingga tidak tumpang tindih

13 dengan asas hukum kebendaan lainnya. Berdasarkan uraian diatas masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia dan perlindungan hukum bagi debitur pemberi fidusia dan kreditur penerima fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mengadakan penelitian yang akan ditulis dalam sebuah tesis dengan judul: Pelaksanaan Perjanjian Jaminan Fidusia Pada PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan. B. Rumusan Permasalahan Berdasarkan latar belakang diatas, permasalahan yang menjadi kajian penulis dalam melakukan penelitian ini adalah: a. Bagaimana pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan? b. Bagaimana perlindungan hukum terhadap debitur pemberi fidusia dan kreditur penerima fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Teoritis Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah di atas maka penelitian ini bertujuan: a. Untuk mengetahui pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan. b. Untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap debitur pemberi fidusia dan kreditur penerima fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang

14 Padangsidimpuan. 2. Tujuan Praktis Untuk memahami pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia dan perlindungan hukum bagi debitur pemberi fidusia dan kreditur penerima fidusia yang berlangsung pada lingkungan PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang

Padangsidimpuan. D. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1. Manfaat secara teoritis, yang diharapkan dari penelitian ini adalah: a. Merupakan sumbangan pemikiran dan informasi bagi akademis serta bahan perbandingan bagi para peneliti lainnya yang hendak melaksanakan penelitian lanjutan, terhadap pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia. b. Merupakan sumbangan pemikiran dalam rangka pembahasan hukum, agar para pembuat undang-undang tidak saja memperhatikan hal-hal yang idiil dalam pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia tetapi juga kendala-kendala yang dihadapi di lapangan. 2. Manfaat secara praktis a. Merupakan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu pengetahuan hukum perdata, khususnya dalam bidang hukum jaminan fidusia. b. Disamping itu penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan masukan bagi pembentuk undang-undang dan juga kepada pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk dalam melaksanakan bisnisnya sehingga benar-benar sesuai dengan hukum yang berlaku dan memenuhi tuntutan masyarakat.

15

E. Kerangka Teoritis dan Konseptual. 1. Kerangka Teoritis Teori yang dipakai adalah perubahan masyarakat harus diikuti oleh perubahan hukum.21 Hukum berkembang sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat. Perubahan masyarakat dibidang hukum jaminan harus berlangsung secara teratur dan diikuti dengan pembentukan hukum jaminan fidusia berjalan dari kebiasaan kemudian diakui dalam yurisprudensi dan akhirnya ditetapkan dalam undang-undang tersendiri. Teori yang tepat dipakai sebagai pendukung teori perubahan masyarakat adalah teori sistem. Menurut Lawrerence M. Friedmann, Suatu sistem hukum terdiri dari 3 unsur yaitu: Struktur (structure), substansi (substance), dan budaya hukum (legal Culture).22 Suatu sistem adalah kumpulan asas-asas yang terpadu, yang merupakan landasan, di atas mana dibangun tertib hukum.23 Berdasarkan teori sistim ini, dapat dirumuskan bahwa sistem hukum jaminan kebendaan adalah kumpulan asas-asas hukum yang merupakan landasan, tempat berpijak di atas mana tertib hukum jaminan kebendaan itu dibangun. Jadi dengan ikatan asas-asas hukum tersebut, berarti hukum jaminan kebendaan merupakan suatu sistem. Mariam Darus Badrulzaman dalam Workshop Hukum Jaminan Tahun 1993 di Medan yang dikutip oleh Tan Kamelo, mengemukakan sejumlah asas-asas hukum jaminan yang objeknya benda sebagai berikut: Pertama, asas hak kebendaan (real right). Sifat hak kebendaan adalah
21 Satjipto Rahardjo, Hukum dan Masyarakat, Angkasa: Bandung, 1984, hal. 102. 22 Lawrence M. Friedmann, American Law, W.W Norton dan Company: New York London, 1984, hal. 5-6. 23 Mariam Darus Badrulzaman, Mencari Sistem Hukum Benda Nasional, Alumni: Bandung, 1983, hal. 15.

16 absolute, artinya hak ini dapat dipertahankan pada setiap orang. Pemegang hak benda berhak menuntut setiap orang yang mengganggu haknya. Sifat lain dari hak kebendaan adalah droit de suite, artinya hak kebendaan mengikuti bendanya dalam tangan siapapun ia berada. Di dalam karakter ini terkandung asas hak yang tua didahulukan dari hak yang muda (droit de preference). Jika beberapa kebendaan diletakkan di atas suatu benda, berarti kekuasaan hak itu ditentukan oleh urutan waktunya. Selain itu, sifat hak kebendaan adalah memberikan wewenang yang kuat kepada pemiliknya, hak itu dapat dinikmati dialihkan, dijaminkan, disewakan. Kedua, asas assesoir artinya hak jaminan ini bukan merupakan hak yang berdiri sendiri (zelfstandingrecht), tetapi ada dan hapusnya bergantung (accssotium) kepada perjanjian pokok. Ketiga, hak yang didahulukan artinya hak jaminan merupakan hak yang didahulukan pemenuhannya dari piutang lain. Keempat asas asesi yaitu perlekatan antara benda yang ada diatas tanah dengan tapak tanahnya. Kelima, asas pemisahan horizontal yaitu dapat dipisahkan benda yang ada di atas tanah dengan tanah yang merupakan tapaknya. Keenam, asas terbuka artinya ada publikasi sebagai pengumuman agar masyarakat mengetahui adanya beban yang diletakkan di atas suatu benda. Ketujuh, asas spesifikasi/pertelaan dari benda jaminan. Kedelapan, asas mudah dieksekusi.24 Dengan demikian, Undang-Undang Jaminan Fidusia sebagai sub sistem hukum jaminan kebendaan tidak boleh bertentangan satu sama lainnya, kesatuan jaminan fidusia sebagai sub sistem hukum jaminan kebendaan harus diterapkan terhadap kumpulan unsur-unsur yuridis seperti peraturan hukum jaminan fidusia, asas hukum dan pengertian hukumnya. .

Pemberian jaminan fidusia merupakan penyediaan bagian harta pemberi fidusia untuk jaminan pemenuhan kewajibannya, artinya pemberi fidusia melepaskan hak pemilikan secara yuridis untuk sementara. Penyerahan secara yuridis artinya benda jaminan masih dapat dipergunakan oleh pemberi fidusia agar bisnisnya tetap berjalan. Jadi dengan demikian dalam perjanjian jaminan fidusia, konstruksi yang terjadi adalah pemberian jaminan fidusia bertindak sebagai pemilik manfaat, sedangkan penerima fidusia sebagai pemilik yuridis.25
24 H. Tan Kamelo, op. cit., hal. 19-20. 25 Ibid., hal. 22.

17 Berbeda halnya dengan objek fidusia (Pasal 1 angka 2 Undang-Undang No. 42 Tahun 1999), benda jaminan dalam hak tanggungan adalah hak atas tanah berupa hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan dan hak pakai atas tanah negara. Pembedaan hak tanggungan dapat juga dilakukan terhadap hak atas tanah berikut bangunan, tanaman dan hasil karya yang merupakan satu kesatuan dengan tanah dan milik pemegang hak atas tanah tersebut.26 Secara konseptual hak tanggungan hanya dibebankan atas tanah saja, dan benda-benda yang ada di atasnya memiliki hukum sendiri, ini berarti Undang-Undang Hak Tanggungan menganut asas pemisahan horizontal. Pengecualian asas ini hanya dimungkinkan apabila bangunan/rumah yang ada di atas tanah tersebut adalah kepunyaan dari pemilik hak atas tanah. Pengecualian semacam ini dibenarkan dalam teori hukum. Dalam Undang-Undang Pokok Agraria, antara tanah dan bangunan/rumah yang ada di atasnya adalah terpisah dan ini sesuai dengan asas pemisahan horizontal yang dianut dalam hukum adat. Seiring dengan perkembangan hukum, pembedaan pada benda tidak didasarkan pada benda bergerak dan benda tidak bergerak lagi, seperti yang terdapat dalam hukum perdata tetapi didasarkan pada benda terdaftar dan tidak terdaftar dalam hukum jaminan. Pendaftaran benda diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 10 Tahun 1961 yang diubah dengan PP No. 24 Tahun 1997, pendaftaran kenderaan bermotor, pendaftaran kapal laut, pendaftaran pesawat terbang dan lain sebagainya. Dalam jaminan hipotik yang menjadi objek adalah kapal yang beratnya paling sedikit 20 m3 dan telah terdaftar (Pasal 314 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang). Hipotik juga dapat dibebankan atas pesawat udara dan helikopter yang telah memiliki tanda pendaftaran dan kebangsaan Indonesia. Penekanan objek
26 Lihat Pasal 4 jo Penjelasan Umum angka (6) UU No. 4 Tahun 1996.

18 hipotik terletak pada aspek pendaftaran dari kapal, pesawat udara dan helikopter. Ini menunjukkan bahwa pendaftaran memberikan fungsi yuridis untuk menetapkan benda tersebut dianggap sebagai benda tidak bergerak yang menjadi objek hipotik. Sebagai konsekuensinya jika pesawat udara, helikopter itu tidak terdaftar tentunya tidak dapat dibebani dengan jaminan hipotik dan alternatif yang dapat diterapkan adalah lembaga gadai (pand) dan jaminan fidusia. Dengan menggunakan lembaga gadai atas kapal, pesawat dan helikopter tentunya barang jaminan harus diserahkan kepada kreditur pemegang gadai (Pasal 1152 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata), dan ini sangat merugikan debitur, alternatif jaminan yang lebih menguntungkan untuk kapal, pesawat udara dan helikopter yang tidak terdaftar adalah jaminan fidusia (Pasal 31 UU No. 42 Tahun 1999). Fidusia sebagai salah satu jaminan adalah unsur pengaman kredit bank, yang dilahirkan dengan didahului oleh perjanjian kredit bank. Ini Menunjukkan jaminan fidusia memiliki karakter assessoir (tambahan). Sebagai hak kebendaan, jaminan fidusia mempunyai hak didahulukan terhadap kreditur lain (droit de preferent) untuk mengambil pelunasan piutangnya atas hasil eksekusi benda jaminan fidusia. Hak untuk mengambil pelunasan ini mendahului kreditur-kreditur lain. Bahkan sekalipun pemberi fidusia dinyatakan pailit atau dilikuidasi (Pasal 27 UU No. 42 Tahun 1999), hak didahulukan dari penerima fidusia tidak hapus karena benda yang menjadi objek jaminan fidusia tidak termasuk dalam harta pailit pemberi fidusia. Dengan demikian penerima fidusia tergolong dalam kelompok kreditur separatis. Dalam Pasal 33 Undang-Undang Jaminan Fidusia dinyatakan bahwa setiap janji yang memberi kewenangan kepada penerima fidusia untuk memiliki benda

19 yang menjadi objek jaminan fidusia apabila debitur cidera janji, batal demi hukum. Dengan demikian objek jaminan fidusia tidak menjadi bagian harta pailit penerima fidusia oleh karena hak kepemilikan atas objek jaminan fidusia tersebut diperolehnya semata-mata sebagai jaminan Hak kebendaan jaminan fidusia baru lahir pada tanggal dicatatnya jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia dan sekaligus untuk memenuhi asas publisitas. Karena itu konsekuensi yuridis adalah kalau jaminan fidusia tidak dicatatkan dalam buku daftar fidusia berarti hak jaminan fidusia bukan merupakan hak kebendaan yang memiliki sifat kebendaan tetapi memiliki karakter perorangan akibatnya kreditur fidusia tidak dapat dilindungi dengan asas droit de suite dan berkedudukan sebagai kreditur konkuren bukan kreditur preferen. Proses pembuatan jaminan fidusia harus dilakukan secara sempurna mulai dari tahap perjanjian kredit, pembuatan akta jaminan fidusia oleh notaris dan diikuti dengan pendaftaran akta jaminan fidusia pada kantor pendaftaran fidusia. Tahapan proses perjanjian fidusia tersebut memiliki arti yang berbeda sehingga memberi karakter tersendiri dengan segala akibat hukumnya. 2. Kerangka Konseptual Dalam rangka penelitian ini, perlu dirumuskan serangkaian defenisi operasional sebagai berikut: a. Pelaksanaan adalah: perihal (perbuatan, usaha dan sebagainya)

melaksanakan (rancangan dan sebagainya)27 b. Perjanjian adalah: suatu hubungan hukum antara pemberi fidusia dengan penerima fidusia yang terjadi di lingkungan perbankan dan notaris dalam
27 Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminto, Balai Pustaka, Jakarta, 1988. hal. 553.

20 bentuk tertulis. c. Jaminan adalah: setiap yang diberikan oleh debitur kepada kreditur guna menjamin dipenuhinya utang. d. Fidusia adalah: Pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar

kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda.28 Jadi yang dimaksud dengan Pelaksanaan Perjanjian Jaminan Fidusia Pada PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan adalah analisa terhadap pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia serta perlindungan hukum terhadap pemberi dan penerima fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan F. Methode Penelitian 1. Pendekatan Penelitian Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian dengan metode penelitian hukum empiris (socio legal research),29. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan data primer berkenaan dengan hal yang terjadi sesungguhnya dilapangan dan dihubungkan dengan data sekunder yang diperoleh dari kasus jaminan pada pengadilan negeri Padangsidimpuan dan data yang diperoleh dari Bank BRI cabang Padangsidimpuan.. Penelitian ini bersifat deskriptif (descriptive research),30 yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk melukiskan tentang sesuatu hal di tempat/daerah tertentu dan pada saat tertentu. Penelitian yang bertujuan membuat deskripsi atau
28 Lihat Pasal 1 angka (1) UU No. 42 Tahun 1999. 29 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta: 2003, hal. 43. 30 Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, Sinar Grafika, Jakarta: 2002, hal. 8-9.

21 menggambarkan secara sistematis mengenai fakta yang ada di lapangan yang berhubungan dengan objek penelitian yaitu pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia. 2. Metode Pengambilan Sampel atau Teknik Sampling Sampel adalah sebahagian dari anggota populasi yang diamati guna mewakili keadaan populasi. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah purpossive sampling yakni diambil dengan sengaja sesuai dengan kebutuhan. Teknik purpossive sampling ditujukan terhadap pegawai PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan yang menangani kredit, hakim yang pernah menangani fidusia, dan notaris yang pernah menangani fidusia mitra PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan, dengan cara melakukan wawancara secara langsung dengan informan untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya informasi yang ingin diperoleh dalam penelitian ini. 3. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini adalah merupakan penelitian empiris. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan informan yaitu kepala bagian administari, bagian marketing, dan anggota bagian administrasi pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan, notaris M dan notaris L mitra kerja PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan, dan hakim pengadilan negeri Padangsidimpuan yang pernah menangani fidusia untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang masalah yang akan diteliti. Alat yang digunakan dalam pengumpulan data adalah pedoman wawancara (interview guide) yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.

22 Data sekunder merupakan data yang diperoleh melalui literatur atau pustaka dan dokumen-dokumen yaitu berupa kasus jaminan fidusia yang telah diputus oleh pengadilan negeri Padangsidimpuan tahun 1992 yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, Surat Edaran BRI 2004, perjanjian membuka kredit dan perjanjian penyerahan hak milik secara kepercayaan (fidusia barang) menurut format PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan. 4. Teknik Analisis Data Data yang didapat di lapangan berupa data primer dianalisis secara kualitatif, dengan melakukan penafsiran terhadap data tersebut. Selanjutnya menyederhanakan data menjadi informasi yang dapat digunakan dalam menjelaskan permasalahan. Kemudian dikelompokkan sesuai dengan masalah, ditunjang dengan data sekunder dan ditafsirkan dengan menghubungkan konsepkonsep dan pendapat pakar yang dianut dalam kerangka teoritis. Akhirnya ditarik kesimpulan guna menjawab masalah penelitian 5. Jalannya Penelitian Penelitian di lapangan menemui banyak kesulitan terutama dalam mendapatkan data dari PT Bank BRI (Persero) Tbk, menurut pegawai PT Bank BRI (Persero) Tbk banyak data yang sifatnya rahasia sehingga tidak dapat diperoleh, terutama data nasabah yang mengambil kredit pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan.

23 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Jaminan Istilah Jaminan merupakan terjemahan dari bahasa Belanda, yaitu Zekerheid atau cautie. Zekerheid atau cautie mencakup secara umum cara-cara kreditur menjamin dipenuhi tagihannya, di samping tanggung jawab umum debitur terhadap barang-barangnya. Istilah jaminan juga dikenal dengan agunan, yang dapat dijumpai dalam Pasal 1 angka 23 Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan, defenisi agunan adalah: Jaminan tambahan diserahkan nasabah debitur kepada bank dalam rangka mendapatkan fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah. Agunan dalam konstruksi ini merupakan jaminan tambahan (accessoir). Tujuan agunan adalah untuk mendapatkan fasilitas dari bank, yang diserahkan oleh debitur kepada bank. Dalam Seminar Badan Pembinaan Hukum Nasional yang diselenggerakan di Yogyakarta, disimpulkan pengertian jaminan adalah: Menjamin dipenuhinya kewajiban yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan hukum.31 Defenisi di atas hampir sama dengan defenisi yang dikemukakan oleh M. Bahsan yang berpendapat bahwa jaminan adalah: Segala sesuatu yang diterima kreditur dan diserahkan debitur untuk menjamin suatu utang piutang dalam masyarakat.32

31 Mariam Darus Badrulzaman, Bab-bab Tentang Creditverban, Gadai, dan Fiducia, Cet. IV, Alumni: Bandung, 1987, hal. 227. 32 M. Bahsan, Penilaian Jaminan Kredit Perbankan Indonesia, Rejeki Agung: Jakarta, 2002, hal. 148. 24

24 B. Jenis Jaminan 4 Jaminan pada dasarnya dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu: 1. Jaminan perorangan (personal/coorporate guarantee) diatur dalam pasal 1820-1864 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. 2. Jaminan Kebendaan Dalam Seminar Badan Pembinaan Hukum Nasional yang diselenggarakan di Yogyakarta dihasilkan suatu rumusan bahwa jaminan kebendaan mempunyai ciri-ciri kebendaan dalam arti memberikan hak mendahului di atas benda-benda tertentu dan mempunyai sifat melekat dan mengikuti benda yang bersangkutan. Sedangkan jaminan perorangan tidak memberikan hak mendahului atas bendabenda tertentu, tetapi hanya dijamin oleh harta kekayaan seseorang lewat orang yang menjamin pemenuhan perikatan yang bersangkutan. Seperti ditegaskan dalam Pasal 1820 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu: Penanggungan adalah suatu persetujuan dengan mana seorang pihak ketiga guna kepentingan si kreditur mengikatkan diri untuk memenuhi perikatannya si debitur manakala orang itu sendiri tidak memenuhinya. Sri Soedewi Masjhoen memberikan pengertian jaminan kebendaan yaitu: Jaminan yang berupa hak mutlak atas suatu benda, dengan ciri-ciri mempunyai hubungan langsung atas benda tertentu, dapat dipertahankan terhadap siapapun, selalu mengikuti bendanya dan dapat dialihkan. Sedangkan jaminan perorangan adalah jaminan yang menimbulkan hubungan langsung pada perorangan tertentu, hanya dapat dipertahankan terhadap debitur tertentu, terhadap harta kekayaan debitur umumnya.33 Jaminan kebendaan dapat digolongkan menjadi 4 macam, yaitu: 1. Gadai (pand), yang diatur di dalam Bab 20 Buku II Kitab UndangUndang Hukum Perdata.
33Sri Soedewi Masjhoen, Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok Hukum dan Jaminan Perorangan, op. cit., hal. 46-47.

25 2. Hak tanggungan, diatur di dalam UU Nomor 4 Tahun 1996. 3. Jaminan Fidusia, diatur dalam UU Nomor 42 Tahun 1999. 4. Jaminan hipotik atas kapal laut dan pesawat udara. Menurut Soebekti jaminan perorangan (immateril) adalah: Suatu perjanjian antara seorang berpiutang (kreditur) dengan seorang ketiga, yang menjamin dipenuhinya kewajiban si berutang (debitur).34 Yang termasuk jaminan perorangan adalah: 1. Penanggung (borg) adalah orang lain yang dapat ditagih. 2. Tanggung menanggung, yang serupa dengan tanggung renteng. 3. Akibat hak dari tanggung renteng pasif, hubungan hak bersifat ekstren, hubungan hak antara para debitur dengan pihak lain (debitur). Hubungan hak bersifat intern, hubungan hak antara sesama debitur itu satu dengan yang lainnya. 4. Perjanjian garansi Pasal 1316 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yaitu bertanggung jawab guna kepentingan pihak ketiga. Fungsi jaminan perorangan ini adalah sebagai jaminan/agunan tambahan seperti dimaksud dalam penjelasan Pasal 8 UU Perbankan No. 7 Tahun 1992. Pihak ketiga sebagai penjamin adalah: 1. Pengurus yang sekaligus menjadi pemegang saham atau

pengendali perusahaan debitur. 2. Perusahaan yang menjadi pemegang saham atau pengendali perusahaan debitur. Cara pengikatan jaminannya dibuat dengan akta notariil. Dalam Jaminan perorangan ini pengurus yang menjadi penjamin
34 R. Soebekti, op. cit., hal. 17.

26 disyaratkan, misalnya untuk menyerahkan agunan berupa tanah/rumah tinggal yang dimilikinya baik untuk pemberian kredit baru dan tambahan, atau untuk kredit yang berjalan. Dalam hal penjamin adalah perusahaan maka dimintakan Company Guarantee yang harus dilampiri dengan rincian harta kekayaan perusahaan sebagaimana tertuang dalam laporan keuangan perusahaan. Secara yuridis penjamin tidak dapat dipaksa untuk menyerahkan daftar harta kekayaannya. Meskipun penjamin menyerahkan daftar harta kekayaannya, hak bank atas harta kekayaan penjamin tetap hanya terbatas pada jumlah dan syarat tertentu. Sebaiknya kewajiban untuk menyerahkan daftar harta kekayaan penjamin dilakukan secara kasuistis. Di luar negeri lembaga jaminan dibagi menjadi 2 macam yaitu: 1. Lembaga jaminan dengan menguasai bendanya (possessorium security) 2. Lembaga jaminan tanpa menguasai bendanya Lembaga jaminan dengan menguasai bendanya adalah suatu lembaga jaminan, yang benda jaminannya berada pada penerima jaminan. Lembaga jaminan ini dibagi menjadi enam macam: 1. Pledge or pawn, yaitu benda yang dijaminkan berada di tangan pemegang gadai 2. Lien, yaitu hak untuk menguasi bendanya sampai utang yang berkaitan dengan benda tersebut dibayar lunas 3. Mortgage with possession, yaitu pembebanan jaminan (hipotek) atas benda bergerak. Lembaga ini belum dikenal di Indonesia 4. Hire Purchase, yaitu perjanjian antara penjual sewa dan pembeli sewa, dan hak milik atas barang tersebut baru beralih setelah pelunasan yang terakhir 5. Conditional sale (pembelian bersyarat), yaitu perjanjian jual beli dengan syarat bahwa pemindahan hak atas barang baru terjadi setelah syarat dipenuhi, misalnya jika harga dibayar lunas 6. Credit sale, ialah jual beli di mana peralihan hak telah terjadi pada saat penyerahan meskipun harga belum dibayar lunas.35 Lembaga jaminan dengan tidak menguasai bendanya adalah suatu lembaga
35 Salim HS, op. cit., hal. 26.

27 jaminan, dimana benda yang menjadi objek jaminan tidak berada atau tidak dikuasai oleh penerima jaminan. Yang termasuk lembaga jaminan ini adalah: 1. Mortage, yaitu pembebanan atas benda tak bergerak atau sama dengan hipotik. 2. Chattel Moetgage, yaitu mortgage atas benda-benda bergerak. Umumnya ialah mortgage atas kapal laut dan kapal terbang dengan tanpa menguasai bendanya. 3. Fiduciary transfer of ownership, yaitu perpindahan hak milik atas kepercayaan yang dipakai sebagai jaminan utang. 4. Leasing, yaitu suatu perjanjian dimana si peminjam (leassee) menyewa barang modal untuk usaha tertentu dan jaminan angsuran tertentu.36 Penggolongan ini bertujuan memudahkan debitur untuk membebani hakhak yang digunakan dalam pemasangan jaminan, dengan opsi jenis jaminan yang berlaku untuk mendapatkan fasilitas kredit pada lembaga perbankan atau pegadaian. C. Sifat Perjanjian Jaminan Pada dasarnya perjanjian kebendaan dibedakan menjadi 2 macam, yaitu perjanjian pokok dan perjanjian tambahan (accesoir). Perjanjian pokok merupakan perjanjian untuk mendapatkan fasilitas kredit dari lembaga perbankan atau lembaga keungan non bank (perjanjian utang piutang). J. Satrio dengan mengutip pendapat Rotten mengemukakan bahwa: perjanjian pokok adalah perjanjian-perjanjian, yang untuk adanya mempunyai dasar yang mandiri.37 Perjanjian pokok ini dijumpai dalam perjanjian kedit bank. Dalam Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan dijumpai pengertian kredit yaitu: Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan
36 Ibid., hal. 27. 37 J. Satrio, op. cit., hal. 54.

28 pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Munir Fuady memberikan pengertian perjanjian accessoir adalah perjanjian yang tidak mungkin berdiri sendiri, tetapi mengikuti/membuntuti perjanjian lainnya yang merupakan perjanjian pokok.38 Menurut Gunawan Widjaya dan Ahmad Yani perjanjian assesoir adalah suatu bentuk perjanjian atau/perikatan bersyarat, yang pelaksanaannya atau kebatalannya digantungkan pada pemenuhan atau ketiadaan pemenuhan dari suatu syarat, kondisi atau keadaan dalam perjanjian dasar yang menjadi dasar dari pembentukannya.39 Perjanjian assesoir tidak dapat dan tidak mungkin berdiri sendiri. Meskipun tidak sepenuhnya benar, dalam berbagai hal, pengalihan hak atas prestasi dalam perjanjian dasar dari pihak kreditur kepada pihak ketiga membawa serta akibat hukum beralihnya perjanjian assesoir kepada pihak ketiga yang menerima pengalihan hak berdasarkan perjanjian dasar tersebut.40 Perjanjian accessoir adalah perjanjian yang bersifat tambahan dan dikaitkan dengan perjanjian pokok. Perjanjian accessoir ini dijumpai dalam perjanjian dengan pembebanan jaminan, seperti perjanjian gadai, perjanjian hak tanggungan, perjanjian fidusia, perjanjian hipotik, perjanjian jaminan pribadi, dan perjanjian jaminan perusahaan. D. Pengakuan Fidusia Dalam Undang-Undang Untuk Kepastian Hukum Secara umum diterima prinsip bahwa segala peristiwa hukum yang belum

38 Munir Fuady, op. cit., hal. 19. 39 Gunawan Widjaya dan Ahmad Yani, Jaminan Fidusia, Raja Grafindo Persada: Jakarta, 2000, hal. 48. 40 Ibid., hal. 49.

29 mendapat pengaturan dalam undang-undang belum memiliki kepastian hukum. Sebaliknya apabila peristiwa hukum itu telah mendapat pengukuhan dalam undang-undang sudah dianggap memiliki kepastian hukum. Secara logika kepastian hukum itu tidak cukup hanya demi undang-undang atau sampai pada tahap pelaksanaan undang-undang saja, tetapi tidak dipungkiri bahwa awal dari kepastian hukum itu dimulai dengan pembentukan undang-undang dan juga pelaksanaannya dalam praktek di lapangan. Pemerintah telah banyak membentuk perundang-undangan yang baru untuk dapat mendukung pembangunan yang sesuai dengan perkembangan masyarakat, baik yang bersifat publik maupun yang privat. Undang-undang dibuat untuk memberikan perlindungan kepada manusia dan memelihara ketertiban dalam masyarakat. Namun dalam perkembangannya, terjadi kontraversial antara materi hukum yang menunjukkan adanya peningkatan. Tetapi tidak diimbangi dengan adanya kepastian hukum dalam pelaksanaanya. Undang-undang merupakan kumpulan norma-norma hukum yang

dilandasi oleh prinsip-prinsip hukum. Agar norma hukum itu dapat melindungi kepentingan manusia dan menciptakan ketertiban dalam masyarakat maka undang-undang itu harus dilaksanakan. Melalui pelaksanaan itu undang-undang dapat ditegakkan, walaupun dalam penegakannya mengalami hambatan. Salah satu tujuan dari penegakan hukum adalah menciptakan kepastian hukum. Dengan kepastian hukum kepentingan manusia akan terlindungi dan ketertiban akan dapat terwujud dalam masyarakat. Apakah kepastian hukum itu dapat terwujud? Dalam suatu undang-undang, kepastian hukum meliputi dua hal yakni:

30 1. Kepastian perumusan norma dan prinsip hukum yang tidak bertentangan satu dengan lainnya baik dengan pasa-pasal dalam undang-undang itu maupun dengan pasal-pasal di luar undang-undang itu. 2. Kepastian dalam melaksanakan norma-norma dan prinsip hukum undangundang tersebut.41 Jika perumusan norma dan prinsip hukum itu sudah memiliki kepastian hukum tetapi hanya berlaku secara yuridis saja, kepastian hukum itu tidak pernah menyentuh kepada masyarakat. Meskipun suatu undang-undang sudah

mempunyai kepastian hukum belum menjamin, bahwa dalam pelaksanaan tidak ada masalah. Apakah kepastian hukum yang sudah tercipta dalam undang-undang itu akan efektif ketika undang-undang dilaksanakan?. Menurut teori hukum, berlakunya suatu kaidah hukum itu dapat dilihat dari tiga aspek yakni aspek yuridis, sosiologis dan filosofis.42 Pelaksanaan suatu undang-undang dapat dipaksakan oleh negara, tetapi dapat pula diterima dan diakui oleh masyarakat. Jadi, secara sosiologis, keefektifan suatu kepastian hukum yang tercantum dalam undang-undang apabila undang-undang tersebut sudah dilaksanakan dan diterima oleh masyarakat. Apabila norma hukum dalam undang-undang itu belum pernah dilaksanakan atau dalam pelaksanaannya mengalami hambatan, tidak dapat dikatakan bahwa kepastian hukum telah berjalan secara sempurna. Dengan demikian, persoalan kepastian hukum merupakan suatu hal yang terletak pada substansi undangundangnya, aparatur pelaksana hukum, warga masyarakat dan fasilitas yang tersedia untuk pelaksanaan undang-undang tersebut.
41 H. Tan Kamelo, op. cit., hal. 117. 42 Soerjona Soekanto dan Mustafa Abdullah, Sosiologi Hukum dalam Masyarakat, Rajawali:: Jakarta, 1987, hal. 13.

31 Salah satu gejala tersebut dapat dilihat dari pengaturan fidusia dalam perundang-undangan. Lembaga fidusia merupakan suatu gejala hukum yang memberikan keuntungan bagi pemakainya khususnya untuk melancarkan pengembalian kredit dan juga tidak melemahkan potensi penerima kredit. Di Indonesia, perkembangan fidusia cukup menggembirakan para pemakainya, karena pada mulanya diatur dalam yurisprudensi kemudian mendapat pengakuan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 Tentang Rumah Susun. Pengaturan lembaga fidusia dalam Undang-Undang Rumah Susun tersebut masih bersifat sumir, tetapi cukup memberikan kepastian hukum khususnya tentang pengertian dan objek fidusia. Dalam Undang-Undang Rumah Susun, fidusia diartikan sebagai hak jaminan yang berupa penyerahan hak atas benda berdasarkan kepercayaan yang disepakati sebagai jaminan bagi pelunasan piutang kreditur.43 Dalam rumusan ini tidak dijelaskan kedudukan kreditur sebagai kreditur pereferents, juga tidak jelas tentang sifat penyerahan yang menjadi ciri khas dari fidusia yakni benda yang dialihkan tetap berada pada pemberi fidusia. Dan juga tidak dijelaskan tentang apa yang dialihkan kepada pemegang fidusia karena itu juga merupakan hal yang penting yakni kepemilikan yang berupa hak bukan bendanya. Tidak dijelaskan apakah hak jaminan fidusia yang diatur dalam UndangUndang Rumah Susun objeknya hanya berlaku pada hak pakai atas tanah negara khusus rumah susun dan hak milik satuan rumah susun.44 Atau juga berlaku atas bangunan bertingkat/flat di luar rumah susun.
43 Pasal 1 angka 8 UU No. 16 Tahun 1985. 44 A.P Parlindungan, Konsep Rancangan Undang-Undang Hak Tanggungan dan Gadai, Seminar Nasional Agraria ke-3: Medan, 1990.

32 Hak milik atas satuan rumah susun dapat dijaminkan melalui hipotik apabila dibangun di atas tanah hak milik atau hak guna bangunan, dan dijaminkan melalui lembaga jaminan fidusia apabila dibangun di atas tanah hak pakai atas tanah negara. 45 Hal ini membuktikan bahwa Undang-Undang No. 16 Tahun 1985 Tentang Rumah Susun pada prinsipnya menganut asas pemisahan horizontal sebagai implementasi dari asas yang dianut dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 yaitu Undang-Undang Pokok Agraria. Pengecualian dari asas pemisahan horizontal dalam Undang-Undang Rumah Susun adalah dengan menunjuk lembaga jaminan hipotik atas tanah beserta rumah susun di atasnya. Menurut pembentuk Undang-Undang No. 16 Tahun 1985 Tentang Rumah Susun, penggunaan fidusia terhadap hak pakai atas tanah negara adalah untuk menampung kebutuhan masyarakat, mengingat fidusia merupakan lembaga jaminan yang hidup dan dalam kenyataannya diperlukan oleh masyarakat, oleh karena itu fungsinya adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan demikian dapat ditafsirkan objek fidusia terhadap hak pakai atas tanah negara dalam Undang-Undang No. 16 Tahun 1985 itu hanya bersifat temporer. Menurut Maria Sumardjono yang dikutip oleh Tan Kamelo, penjaminan dengan fidusia tidak dijumpai dengan pembebanan rumah susun atau hak milik satuan rumah susun.46 Jadi dapat disimpulkan bahwa kepastian hukum jaminan fidusia dalam UndangUndang Rumah Susun secara empiris belum terwujud. Pengakuan fidusia dalam UU No. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Pemukiman (UUPP) dijumpai pada Pasal 15, dinyatakan bahwa pemilikan rumah dapat dijadikan jaminan utang dengan jaminan fidusia. Pembebanan fidusia atas

45 Lihat Pasal 13 UU No. 16 Tahun 1985. 46 H. Tan Kamelo, op. cit., hal. 123.

33 rumah dalam Pasal 15 Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman ada dua cara: 1. Pemilik rumah bukan pemilik hak atas tanah dengan izin pemilik hak atas tanah. 2. Pemilik rumah oleh pemilik hak atas tanah. Objek fidusia adalah rumah bukan hak atas tanah. Dalam undang-undang ini tidak dijelaskan bagaimana status hak atas tanah. Hal ini menunjukkan bahwa Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman menganut asas pemisahan horizontal. Prinsip horizontal semakin jelas dengan adanya pernyataan dalam Pasal 1 Undang-Undang No. 4 Tahun 1992 yang memberikan perumusan pengertian rumah tanpa mengaitkan dengan hak atas tanah, dan dalam Pasal 6 Undang-Undang No. 4 Tahun 1992 diatur tentang pembangunan rumah di atas tanah milik orang lain. Setelah keluarnya Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan (UUHT), ketentuan hak jaminan yang diatur dalam Undang-Undang Rumah Susun dinyatakan tidak berlaku lagi.47 Tetapi tidak dinyatakan berlaku juga pada Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman. Hal ini dapat dipahami sebab Undang-Undang Hak Tanggungan bertitik tolak dari hak atas tanah, sedangkan Undang-Undang Perumahan dan Pemukiman menekankan hak jaminan atas rumah/bangunan. Jadi jelas bahwa objeknya berbeda. Persoalan objek fidusia mengenai tanah belum terdaftar telah diatur dalam Undang-Undang Hak Tanggungan yakni dengan menggunakan Surat Kuasa Memasang Hak tanggungan (SKMHT), yang diikuti dengan pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) selambat-lambatnya tiga bulan setelah

47 Lihat Pasal 27 UU No. 4 Tahun 1996.

34 diberikan.48 Pengaturan fidusia secara parsial tidak memberikan kepastian hukum sehingga perlu diatur secara unifikasi dalam bentuk undang-undang tersendiri. Upaya tersebut terwujud dalam UU No. 42 Tahun 1999 dengan nama Jaminan Fidusia. 1. Perjanjian Fidusia Dalam perjanjian pinjam meminjam atau utang piutang kita menghendaki agar barang agunan dijadikan jaminan fidusia, maka caranya adalah dengan membuat perjanjian fidusia terlebih dahulu. Bentuk perjanjian fidusia wajib dibuat dengan akta otentik, yang dibuat dihadapan notaris.49 Berdasarkan Pasal 2 Undang-Undang Jaminan Fidusia, suatu perjanjian yang dapat menggunakan fidusia sebagai bentuk jaminannya adalah semua perjanjian yang berkaitan dengan suatu benda yang dapat dibebani dengan jaminan fidusia. Perjanjian dengan jaminan fidusia merupakan perjanjian yang bersifat assesoir (perjanjian ikutan/tambahan). Dari suatu perjanjian pokok (perjanjian utang piutang), yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi yang berupa memberikan sesuatu, berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu yang dapat dinilai dengan uang. Konsekuensi dari perjanjian assesoir ini adalah apabila perjanjian pokok tidak sah atau tidak berlaku secara hukum, perjanjian fidusia sebagai perjanjian assesoir juga ikut menjadi batal dan apabila perjanjian pokok yaitu utang piutang telah lunas dengan sendirinya perjanjian tambahan tersebut hapus. 2. Pembebanan Fidusia dan Fidusia Ulang Pembebanan fidusia diatur dalam Pasal 4 sampai Pasal 10 Undang-Undang
48 Lihat Pasal 15 Ayat 4 UU NO. 4 Tahun 1996. 49 Lihat pasal 5 ayat 1 UU No. 42 Tahun 1999.

35 jaminan Fidusia No. 42 tahun 1999, yang dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen yang disebut dengan Akta Jaminan Fidusia. Akta jaminan fidusia ini dibuat dalam bentuk akta otentik, yang dibuat dihadapan notaris dengan menggunakan bahasa Indonesia. Menurut pasal 6 Undang-Undang Jaminan Fidusia, akta ini antara lain harus berisikan hal-hal: a. Identitas pihak pemberi dan penerima fidusia b. Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia c. Uraian mengenai benda yang menjadi objek jaminan fidusia d. Nilai penjaminan dan e. Nilai benda yang menjadi objek jaminan fidusia Utang yang pelunasannya dijaminkan dengan jaminan fidusia adalah: 1. Utang yang telah ada 2. Utang yang akan ada dikemudian hari (kontinjen), tetapi telah diperjanjikan dan jumlahnya sudah tertentu. Misalnya utang yang timbul dari pembayaran yang dilakukan oleh kreditur untuk kepentingan debitur dalam rangka pelaksanaan garansi bank. 3. Utang yang dapat ditentukan jumlahnya pada saat eksekusi berdasarkan suatu perjanjian pokok yang menimbulkan

kewajiban untuk dipenuhi, misalnya utang bunga atas perjanjian pokok yang jumlahnya akan ditentukan kemudian. Yang dimaksud dengan fidusia ulang adalah atas benda yang sama yang telah dibebankan fidusia, dibebankan fidusia sekali lagi. Walaupun dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia ini terlihat, ada beberapa pasal yang seolah-olah saling bertentangan namun mengenai fidusia ulang ini dapat disimpulkan bahwa pada prinsipnya tidak dapat dibenarkan. Hal ini secara tegas diatur dalam Pasal 17

36 Undang-Undang Jaminan Fidusia yang isinya adalah Pemberi fidusia dilarang melakukan fidusia ulang terhadap benda yang menjadi objek jaminan fidusia yang sudah didaftar. Karena Undang-Undang Jaminan Fidusia masih menganut prinsip fidusia sebagai peralihan hak milik (secara kepercayaan) bukan hanya sebagai jaminan utang. Fidusia ulang oleh pemberi fidusia, baik debitur maupun penjamin pihak ketiga, tidak dimungkinkan atas benda yang menjadi objek jaminan fidusia karena hak kepemilikan atas benda tersebut telah beralih kepada penerima fidusia. Ada satu kemungkinan fidusia dapat diberikan kepada lebih dari satu pihak adalah kemungkinan yang diberikan berdasarkan Pasal 8 Undang-Undang Jaminan Fidusia yang isinya adalah: Jaminan fidusia dapat diberikan kepada lebih dari satu penerima fidusia atau kepada kuasa atau wakil dari penerima fidusia tersebut. Dari penjelasan Pasal 8 Undang-Undang Jaminan Fidusia tersirat bahwa yang dimaksud adalah pemberian fidusia kepada lebih dari satu kreditur dalam bentuk pemberian kredit konsorsium atau sindikasi. Maksudnya fidusia diberikan secara bersama-sama pada waktu yang bersamaan dan semua kreditur saling mengetahui adanya dua atau lebih kreditur tersebut.

3. Pendaftaran Fidusia Pendaftaran jaminan fidusia diatur dalam Pasal 11 sampai dengan Pasal 18 Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dan Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pendaftarana Jmaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia. Peraturan Pemerintah ini

37 terdiri dari atas 4 bab dan 14 Pasal. Hal-hal yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini meliputi pendaftaran fidusia, tata cara perbaikan sertifikat, perubahan sertifikat, pencoretan pendaftaran, dan penggantian sertifikat. Dalam Pasal 11 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia ditentukan bahwa benda, baik yang berada di dalam wilayah negara Republik Indonesia maupun benda yang berada di luar wilayah negara Republik Indonesia yang dibebani jaminan fidusia wajib didaftarkan. Untuk pertama kalinya kantor pendaftaran fidusia didirikan di Jakarta dengan wilayah kerja mencakup seluruh wilayah Republik Indonesia. Kantor Pendaftaran Fidusia berada dalam lingkup tugas Departemen Kehakiman dan Hak Azasi manusia. Tujuan pendaftaran fidusia adalah: 1. Untuk memberikan kepastian hukum kepada para pihak yang berkepentingan. 2. Memberikan hak yang didahulukan (preferen) kepada penerima fidusia terhadap kreditur lain. Ini disebabkan jaminan fidusia memberikan hak kepada pemberi fidusia untuk tetap menguasai objek jaminan fidusia berdasarkan kepercayaan.50 Pendaftaran fidusia dilakukan terhadap hal-hal: 1. Benda objek jaminan fidusia yang berada di dalam negeri (pasal 11 ayat 1 Undang-Undang No. 42 Tahun 1999). 2. Benda objek jaminan fidusia yang berada di luar negeri (pasal 11 ayat 2 Undang-Undang No. 42 tahun 1999). Terhadap perubahan isi Sertifikat Jaminan Fidusia (pasal 16 ayat 1 Undang-Undang No. 42 tahun 1999). Pada pokoknya pendaftaran jaminan fidusia adalah sebagai berikut: a. Pendaftaran jaminan fidusia dilakukan di Kantor Pendaftaran Fidusia dengan wilayah kerja mencakup seluruh wilayah negara Republik Indonesia dan
50 Salim HS, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, Raja Grafindo Persada: Jakarta, 2004, hal. 82.

38 berada di lingkup tugas Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia; b. Permohonan pendaftaran jaminan fidusia dilakukan secara tertulis dan dalam Bahasa Indonesia oleh penerima fidusia, kuasa atau wakilnya dengan melampirkan pernyataan pendaftaran jaminan fidusia: c. Pernyataan pendaftaran jaminan fidusia memuat: 1) Identitas pemberi dan penerima fidusia 2) Tanggal, nomor akta jaminan fidusia, nama, dan tempat kedudukan notaris yang membuat akta jaminan fidusia; 3) Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia; 4) Uraian mengenai benda yang menjadi objek jamnan fidusia; 5) Nilai jaminan; 6) Nilai benda yang menjadi objek jaminan fidusia. Pasal 2 ayat 4 PP No. 86 Tahun 2000, permohonan pendaftaran jaminan fidusia dilengkapi dengan: a. Salinan akta notaris tentang pembebanan jaminan fidusia; b. Surat kuasa atau surat pendelegasian wewenang untuk melakukan pendaftaran jaminan fidusia; c. Bukti pembayaran biaya pendaftaran jaminan fidusia. Kantor pendaftaran fidusia akan mencatat jaminan fidusia dalam Buku Daftar Fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran dan kemudian menerbitkan dan menyerahkan kepada penerima fidusia, sertifikat jaminan fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran. Ketika mencatat dalam buku daftar fidusia, petugas pendaftaran hanya berwenang melakukan pengecekan data dan tidak

39 berwenang melakukan penilaian terhadap kebenaran data yang dicantumkan dalam pernyatan pendaftaran jaminan fidusia. Dengan dikelurkannya Keputusan Presiden nomor 139 Tahun 2000 tanggal 30 September 2000, di setiap wilayah ibukota propinsi dibentuk Kantor Pendaftaran Fidusia, yang terletak dalam lingkup Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Judul Sertifikat Jaminan Fidusia dicantumkan kata-kata DEMI

KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. Makna dari pencantuman kata-kata tersebut adalah bahwa Sertifikat Jaminan Fidusia mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Sehingga apabila debitur wanprestasi, maka penerima fidusia mempunyai hak untuk menjual benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaannya sendiri (pasal 15 ayat 2 dan 3 UU Jaminan Fidusia). Jaminan fidusia lahir pada tanggal yang sama dengan tanggal dicatatnya jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia. Jika terjadi kekeliruan penulisan dalam sertfikat jaminan fidusia yang telah diterima pemohon, dalam waktu 60 hari setelah menerima sertifikat itu, pemohon memberitahukan kepada Kantor Pendaftaran Fidusia untuk diterbitkan sertifikat perbaikan. Sertifikat perbaikan memuat tanggal yang sama dengan tanggal sertifikat semula.51 Sertifikat jaminan fidusia dapat saja mengalami

perubahan terhadap substansi, antara lain perubahan objek jaminan fidusia, perubahan penerima fidusia, perubahan perjanjian pokok dan perubahan nilai jaminan. Adanya kewajiban melakukan pendaftaran jaminan fidusia merupakan
51 Lihat Pasal 5 ayat (1) PP No. 86 Tahun 2000.

40 suatu perwujutan dari asas publisitas. Dengan adanya publikasi terhadap jaminan utang, kreditur maupun khalayak ramai mempunyai akses untuk mengetahui berbagai informasi yang berhubungan dengan jaminan utang tersebut. Dengan adanya pendaftaran fidusia, diharapkan agar pihak debitur terutama debitur yang tidak beritikat baik, tidak dapat lagi membohongi/menipu kreditur atau calon debitur dengan memfidusiakan sekali lagi atau bahkan menjual benda objek jaminan tanpa sepengetahuan kreditur. Asas publisitas secara tersirat tercantum pada pasal 18 UU Jaminan Fidusia, yaitu: Segala keterangan mengenai benda fidusia yang menjadi objek jaminan fidusia yang ada pada Kantor Pendaftaran Fidusia terbuka untuk umum. E. Asas-Asas Hukum Jaminan Fidusia Salah satu unsur yuridis dalam sistem hukum jaminan adalah asas hukum. Ini menunjukkan pentingnya asas hukum dalam suatu perundang-undangan. Istilah asas merupakan terjemahan dari bahasa Latin principium, bahasa Inggris principle dan bahasa Belanda beginsel, yang artinya dasar yaitu sesuatu yang menjadi tumpuan berpikir atau berpendapat. Asas hukum bukan suatu perintah hukum yang konkrit yang dapat dipergunakan terhadap peristiwa hukum yang konkrit dan tidak memiliki sanksi yang tegas. Dalam peraturan-peraturan (pasalpasal) dapat ditemukan aturan yang mendasar berupa asas hukum yang merupakan cita-cita dari pembentuknya. Undang-Undang Jaminan Fidusia tidak mencantumkan dengan tegas asas-asas jaminan fidusia yang menjadi asas fundamen dari pembentukan norma hukumnya. Tan Kamelo melalui proses analitis mengemukakan asas-asas hukum jaminan fidusia yang terdapat dalam UndangUndang Jaminan fidusia adalah:

41 Pertama, asas bahwa kreditur penerima fidusia berkedudukan sebagai kreditur preferens. Kedua, Asas bahwa jaminan fidusia tetap mengikuti benda yang menjadi objek jaminan fidusia dalam tangan siapapun benda tersebut berada (droit de suite atau zaakgevolg).Ketiga, asas bahwa jaminan fidusia merupakan perjanjian ikutan yang lazim disebut asas asesoritas, keberadaan jaminan fidusia ditentukan oleh perjanjian utama atau principal. Keempat, asas bahwa jaminan fidusia dapat diletakkan atas utang yang baru akan ada (kontinjen). Kelima, asas bahwa jaminan fidusia dapat dibebankan terhadap benda yang akan ada. Keenam, asas bahwa jaminan fidusia dapat dibebankan terhadap bangunan/rumah yang terdapat di atas tanah milik orang lain (asas pemisahan horizontal).Ketujuh, asas bahwa jaminan fidusia berisikan uraian secara detail terhadap subjek dan objek jaminan fidusia. Kedelapan, asas bahwa pemberi jaminan fidusia harus orang yang memilki kewenangan hukum atas objek jaminan fidusia. Kesembilan, asas bahwa jaminan fidusia harus didaftar ke kantor pendaftaran fidusia (asas publikasi). Kesepuluh, asas bahwa benda yang dijadikan objek jaminan fidusia tidak dapat dimiliki oleh kreditur penerima jaminan fidusia sekalipun hal itu diperjanjikan (asas pendakuan).Kesebelas, asas bahwa jaminan fidusia memberikan hak prioritas kepada kreditur penerima jaminan fidusia yang terlebih dahulu mendaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia dari kreditur yang mendaftar kemudian. Keduabelas, asas bahwa yang tetap menguasai benda jaminan harus mempunyai itikad baik. Ketigabelas, asas bahwa jaminan fidusia mudah dieksekusi.52 Asas preferens ini dapat dilihat dari pasal 1 angka 2 dan Pasal 27 UU Jaminan Fidusia. Dalam Pasal 27 ini dijelaskan bahwa hak yang didahulukan adalah hak penerima fidusia untuk mengambil pelunasan piutangnya atas hasil eksekusi benda yang menjadi objek jaminan fidusia. Berbeda halnya dengan gadai yang tidak tegas menyatakan kreditur yang

diutamakan dari kreditur lainnya. Akan tetapi hak untuk diutamakan yang dimiliki oleh penerima fidusia tidak mengurangi kedudukan untuk

didahulukan terhadap piutang-piutang negara menurut ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku sama
52 H. Tan Kamelo, op. cit., hal. 169-170.

42 halnya dengan ketentuan yang berlaku kepada hak tanggungan. Asas droit de suite atau zaakgevolg, pengakuan asas ini menunjukkan bahwa jaminan fidusia merupakan hak kebendaan dan bukan hak perorangan, dengan begitu hak jaminan fidusia dapat dipertahankan terhadap siapapun juga dan barhak untuk menuntut siapa saja yang mengganggu hak tersebut. Dalam asas droit de suite terdapat prinsip yang tua didahulukan dari yang muda berdasarkan urutan waktunya. Hal ini perlu dalam memberikan kepastian hukum bagi kreditur pemegang fidusia untuk memperoleh pelunasan utang dari hasil penjualan objek jaminan fidusia apabila debitur pemberi fidusia melakukan

wanprestasi. Bahkan ketika benda jaminan fidusia berada pada pihak ketiga. Hak kebendaan jaminan fidusia baru lahir pada tanggal dicatatnya jaminan fidusia dalam buku daftar jaminan fidusia. Karena itu, konsekwensi yuridis adalah pemberlakuan asas droit de suite baru diakui sejak tanggal pencatatan jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia. Maksud penegasan ini adalah kalau jaminan fidusia ini tidak dicatatkan dalam buku daftar fidusia berarti hak jaminan fidusia bukan merupakan hak kebendaan melainkan memilki karakter hak perorangan. Akibatnya, bagi pihak ketiga adalah tidak dihormatinya hak jaminan fidusia dari kreditur pemegang jaminan fidusia. Apabila terjadi peralihan benda jaminan fidusia, kreditur pemegang

43 jaminan fidusia hanya berkedudukan sebagai kreditur konkuren tidak dapat dilindungi berdasarkan asas droit de suite (tidak didahulukan dari kreditur lain) Asas droit de suite ini tidak berlaku pada semua objek jaminan fidusia, ada pengecualian yaitu terhadap objek jaminan fidusia berupa benda persediaan. Tetapi Undang-Undang Jaminan Fidusia tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan benda persediaan tetapi hanya dijelaskan apa yang tidak termasuk benda persediaan yaitu: mesin produksi, mobil pribadi, atau rumah pribadi yang menjadi objek jaminan fidusia.53 Dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia dijelaskan bahwa sebelum Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 Tahun 1999 dibentuk benda yang menjadi objek jaminan fidusia adalah benda bergerak yang terdiri dari benda dalam persediaan (inventory), benda dagangan, piutang, peralatan mesin, dan kendraan bermotor.54 Jadi belum ada kejelasan tentang benda persediaan yang dimaksud oleh Undang-Undang Jaminan Fidusia. Menurut Tan kamelo benda persediaan adalah benda yang diuraikan dalam suatu daftar secara detail, spesifik baik mengenai jumlah maupun jenisnya.55 Debitur pemberi jaminan fidusia dapat mengalihkan benda persediaan sesuai dengan cara dan prosedur yang lazim dalam dunia perdagangan. Misalnya, dengan cara menjual kepada pihak ketiga, peralihan ini adalah sah dan pembeli adalah pemilik yang sempurna. Pada prinsipnya, pemberi jaminan fidusia dilarang untuk mengalihkan, menggadaikan, atau menyewakan kepada pihak lain objek jaminan fidusia, kecuali terhadap objek jaminan fidusia yang berupa benda persediaan. Asas assesoir, asas ini mempunyai arti bahwa keberadaan

53 Penjelasan Pasal 23 ayat (2) UU No. 42 Tahun 1999. 54 Penjelasan Umum angka 3 UU No. 42 Tahun 1999. 55 H.Tan Kamelo, log. cit.

44 jaminan fidusia ditentukan oleh perjanjian pokok yaitu perjanjian utang piutang yang melahirkan utang yang dijamin dengan jaminan fidusia. Dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia , asas assesoir ini secara tegas dinyatakan dalam Pasal 4 Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 Tahun 1999 yang isinya adalah: Jaminan Fidusia merupakan perjanjian ikutan dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi. Sesuai dengan asas assesoir ini hapusnya jaminan fidusia ini juga ditentukan oleh hapusnya utang atau karena pelepasan hak atas jaminan fidusia oleh penerima jaminan fidusia dan musnahnya benda yang menjadi objek jaminan fidusia.56 Jadi Jaminan Fidusia ini merupakan perjanjian yang lahir dari perjanjian pokok yaitu perjanjian utang piutang. Asas ini juga dianut dalam perjanjian hak tanggungan. Pencantuman asas ini adalah untuk menghilangkan keragu-raguan mengenai karakter jaminan fidusia yang bersifat assesoir dan bukan perjanjian yang berdiri sendiri. Sebelum lahirnya Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 Tahun 1999 hal ini sempat meragukan bagi dunia bisnis. Asas ini membawa konsekuensi hukum terhadap pengalihan hak atas piutang dari pemegang jaminan fidusia lama kepada pemegang jaminan fidusia yang baru. Hal ini berarti terjadi pemindahan hak dan kewajiban dari pemegang fidusia yang lama kepada pemegang fidusia yang baru, dengan syarat bahwa pemegang fidusia yang baru mendaftarkan perbuatan hukum (cessie) tersebut ke
56 Pasal 25 UU No. 42 Tahun 1999.

45 kantor pendaftaran fidusia.57 Asas bahwa jaminan fidusia dapat diletakkan atas utang yang baru akan ada (kontinjen). Artinya pada saat dibuatnya akta jaminan fidusia, utang tersebut belum ada, tetapi sudah diperjanjikan sebelumnya dalam jumlah tertentu. Asas ini adalah untuk menampung aspirasi hukum dalam dunia bisnis perbankan, misalnya hutang yang timbul dari pembayaran yang dilakukan oleh kreditur untuk kepentingan debitur dalam rangka pelaksanaan garansi bank.58 Asas bahwa jaminan fidusia dapat dibebankan terhadap benda yang akan ada. Asas ini telah diakui setelah keluarnya UndangUndang No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia yang intinya adalah jaminan fidusia dapat dibebankan atas benda yang akan ada.59 Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 tidak hanya menetapkan objek jaminan terhadap benda yang akan ada, bahkan memberikan aturan terhadap piutang yang akan ada juga dapat dibebani dengan jaminan fidusia yang sebenarnya mengandung pengertian yang sama sebab piutang yang akan ada juga benda yaitu benda tidak berwujud untuk itu sebenarnya pengaturan piutang yang ada ini tidak perlu lagi. Perbedaan yang perlu ditegaskan adalah mengenai objek jaminan pada barang perniagaan dengan barang yang akan ada. Barang perniagaan objek jaminan fidusia sering terjadi sedangkan barang yang akan ada pergantian itu
57 Pasal 19 UU No. 42 Tahun 1999. 58 Lihat Penjelasan Pasal 7 huruf b UU No. 42 Tahun 1999. 59 Lihat Pasal 9 UU No. 42 Tahun 1999.

46 tidak terjadi dengan cepat seperti: taksi-taksi sebagai objek jaminan fidusia. Pengaturan asas ini adalah untuk mengantisipasi perkembangan dunia bisnis dan sekaligus dapat menjamin kelenturan objek jaminan fidusia yang tidak hanya terpaku pada benda yang sudah ada. Perwujutan asas ini merupakan penuangan cita-cita masyarakat dalam bidang hukum jaminan. Asas bahwa jaminan fidusia dapat dibebankan terhadap bangunan/rumah yang terdapat di atas tanah milik orang lain. Dalam ilmu hukum asas ini disebut dengan asas pemisahan horizontal. Dalam pemberian kredit bank, dapat menampung pihak pencari kredit khususnya pelaku usaha yang tidak memiliki tanah tetapi memiliki hak atas bangunan/rumah. Biasanya hubungan hukum antara pemilik tanah dan pemilik bangunan adalah perjanjian sewa. Asas bahwa jaminan fidusia berisikan uraian secara detail terhadap subjek dan objek jaminan fidusia. Subjek fidusia yang dimaksudkan adalah identitas para pihak yakni pemberi dan penerima jaminan fidusia, sedangkan objek jaminan yang dimaksud adalah data perjanjian pokok yang dijamin dengan fidusia, uraian mengenai benda jaminan fidusia, nilai penjaminan dan nilai benda yang menjadi objek jaminan. Dalam hukum disebut asas spesialitas atau pertelaan.60 Asas bahwa pemberi jaminan fidusia harus orang yang memiliki kewenangan hukum atas objek jaminan fidusia. Kewenangan hukum tersebut harus sudah ada pada saat
60 Lihat Pasal 6 UU No. 42 tahun 1999.

47 jaminan fidusia didaftarkan ke kantor fidusia. Asas ini sekaligus menegaskan bahwa pemberi jaminan fidusia

bukanlah orang berwenang berbuat. Dalam Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 asas ini tidak secara tegas diatur, berbeda dengan pengaturan dalam hak tanggungan yang mengatur secara tegas dalam Pasal 8 Undang-Undang Hak tanggungan. Asas bahwa jaminan fidusia harus didaftar ke kantor pendaftaran fidusia. Dalam ilmu hukum disebut dengan asas publikasi.61 Dengan dilakukannya pendaftaran akta jaminan fidusia, berarti perjanjian fidusia lahir dan momentum tersebut menunjukkan perjanjian jaminan fidusia adalah perjanjian kebendaan. Asas publikasi ini melahirkan kepastian hukum bagi kreditur. Asas bahwa benda yang dijadikan objek jaminan fidusia tidak dapat dimiliki oleh kreditur penerima jaminan fidusia meskipun hal itu diperjanjikan.62 Asas ini disebut asas pendakuan. Asas bahwa jaminan fidusia memberikan hak prioritas kepada kreditur penerima fidusia yang terlebih dahulu mendaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia daripada kreditur mendaftarkan kemudian Asas bahwa pemberi jaminan fidusia yang tetap menguasai benda jaminan harus mempunyai itikat baik. Dengan asas ini diharapkan bahwa pemberi jaminan fidusia wajib memelihara benda jaminan, tidak mengalihkan, menyewakan dan yang

61 Lihat pasal 12 UU No. 42 Tahun 1999. 62 Lihat Pasal 1 ayat (3) dan Pasal 33 UU No. 42 Tahun1999.

48 menggadaikannya kepada pihak lain. Asas bahwa jaminan fidusia mudah dieksekusi.63 Kemudahan pelaksanaan eksekusi dilakukan dengan mencantumkan irahirah Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa pada sertifikat jaminan fidusia. Dengan titel eksekutorial ini menimbulkan konsekuensi yuridis bahwa jaminan fidusia mempunyai kekuatan yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap. Dalam penjualan benda jaminan fidusia, selain melalui titel

eksekutorial, dapat juga dilakukan dengan cara melelang secara umum dan dibawah tangan. F. Jaminan Fidusia sebagai Jaminan Kebendaan merupakan sub Sistem Hukum Jaminan Pengertian sistem secara umum, sistem hukum dan sistem hukum jaminan sangat diperlukan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. Istilah sistem dalam bahasa Yunani systema, Belanda systeem, Inggris system. yang artinya keseluruhan yang terdiri dari pada macam-macam bagian, Menurut Tan Kamelo, kata sistem secara garis besar dapat dikelompokkan dalam dua hal yaitu: 1. Pengertian sistem sebagai entitas, sesuatu wujud benda (abstrak maupun konkrit termasuk konseptual) 2. Penegertian sistem sebagagi suatu methode atau tata cara.64

63 Lihat Pasal 15 UU No. 42 Tahun 1999. 64 H. Tan Kamelo, op. cit., hal. 145.

49 Pengertian sistem yang menjadi acuan dalam kerangka analisis jaminan fidusia adalah sistem dalam arti entitas, memiliki tatanan tertentu yang menunjukkan suatu struktur yang tersususn atas komponen-komponen atau bagianbagian yang berkaitan satu dengan lainnya untuk mencapai tujuan. Secara sederhana sistem diartikan sekumpulan unsur, seperti manusia, benda-benda, konsep-konsep, yang berhubungan untuk mencapai tujuan bersama. Dan secara etimologi sistem adalah seperangkat unsur yang berkaitan yang bekerjasama untuk membentuk suatu kesatuan. Para ahli hukum merumuskan pengertian sistem sebagai berikut: Suatu sistem adalah suatu susunan atau tatanan yang teratur, suatu keseluruhan yang terdiri atas bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain, tersusun menurut suatu rencana atau pola, hasil dari pemikiran, untuk mencapai tujuan.65 Suatu sistem adalah suatu kesatuan yang bersifat kompleks, yang terdiri dari bagian-bagian yang berhubungan satu sama lain yang bekerja bersama secara aktif untuk mencapai tujuan pokok dari kesatuan tersebut.66 Dari dua pengertian sistem diatas dapat dipahami bahwa penekanan arti sistem terletak pada keterkaitan antara unsur-unsur atau bagian-bagian dan kerjasama dari unsurunsur/bagian-bagian untuk mencapai tujuan. Teori sistem ini adalah aliran yang paling penting dalam positivisme hukum, yang intinya bahwa hukum adalah suatu stelsel dari aturan yang berkaitan satu sama lain secara organis, secara piramida dari norma-norma yang terbentuk secara hirarkhi. Setelah makna sistem, perlu juga dijelaskan pengertian sistem hukum
65 Subekti, Perbandingan Hukum Perdata, Pradya Paramita: Jakarta, 1983, hal. 99. 66 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Alumni: Bandung, 1986, hal. 88.

50 yakni kumpulan asas-asas hukum yang terpadu, yang merupakan landasan, di atas mana dibangun tertib hukum.67 Menurut Sudikno sistem hukum adalah: suatu kesatuan yang terdiri unsur-unsur yang mempunyai interaksi satu sama lain dan berinteraksi sama lain dan bekerjasama untuk mencapai tujuan kesatuan hakiki terbagi-bagi dalam bagian-bagian, di dalam mana setiap masalah persoalan menemukan jawaban atau penyelesaiannya.68 dari satu dan atau

Pengertian sistem hukum di atas dapat dianalisa bahwa sistem hukum adalah peraturan hukum, asas-asas hukum yang menjadi fundamental dan pengertian-pengertian hukum. Unsur sistem hukum dibangun di atas tertib hukum, sehingga terdapat kehamonisan dan dapat dihindarkan tumpang tindih antara masing-masing sistem tersebut. Kalau ada konflik antar unsur-unsur sistem hukum, penyelesaiannya ada dalam sistem hukum itu sendiri. Rumusan sistem hukum di atas hanya dilihat dari segi komponen substansi hukum saja. Padahal komponen sistem hukum (element of legal system) meliputi tiga hal yakni: structur (sturucture), substansi (substance), dan budaya hukum (legal culture).69 Tan Kamelo menjelaskan bahwa yang dimaksud oleh Fiedmann dengan ketiga unsur tersebut adalah: 1. Struktur hukum adalah jumlah dan ukuran pengadilan, jurisdiksi dan cara-cara banding dari satu pengadilan kepada pengadilan lainnya. Struktur juga dapat berarti bagaimana badan pembuat undang-undang diatur dan sebagainya. 2. Substansi hukum diartikan sebagai aturan-aturan yang berlaku, normanorma, dan pola-pola prilaku manusia di dalam sistem. 3 Budaya hukum adalah sikap masyarakat terhadap hukum dan sistem hukum kepercayaan-kepercayaan, nilai-nilai, pandangan-pandangan pikiran-pikiran, harapan-harapan, hal ini adalah merupakan bagian dari budaya umum yang berkenaan dengan sistem
67 Mariam Darus Badrulzaman, loc. cit. 68 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum, Liberty: Yogyakarta, 1988, hal. 102. 69 Lawrence M. Friedmann, log. cit.

51 hukum. Budaya hukum dengan perkataan lain adalah iklim dari pikiran sosial dan kekuatan sosial yang menentukan bagaimana hukum digunakan, dihindarkan atau disalahgunakan. Tanpa budaya hukum, sistem hukum adalah tidak berdaya-ibarat ikan mati yang terletak dalam sebuah keranjang, bukan ikan yang hidup berenang di laut.70 Jadi dalam perkembangannya, hukum sebagai sistem mempunyai tiga aspek. Ketiga aspek tersebut adalah sebagai berikut yakni: 1. Substansi hukum adalah peraturan-peraturan yang dipakai oleh para pelaku hukum pada waktu melakukan perbuatan-perbuatan serta hubunganhubungan hukum. 2. Struktur hukum adalah pola yang memperlihatkan tentang bagaimana hukum itu dijalankan menurut ketentuan formalnya yakni memperlihatkan bagaimana pengadilan, pembuat hukum dan lainlain badan serta proses hukum itu berjalan dan dijalankan. 3. Kultur hukum adalah unsur yang terpenting dalam sistem hukum yakni tuntutan dan permintaan. Tuntutan datangnya dari rakyat atatu para pemakai jasa hukum. Di belakang tuntutan itu, kecuali didorong oleh kepentingan, terlihat juga faktor-faktor seperti ide, sikap, keyakinan, harapan dan pendapat mengenai hukum. Kultur hukum mengandung potensi untuk dipakai sebagai sumber informasi guna menjelaskan sistem hukum.71 Berdasarkan pendapat teori sistem di atas, yang sangat menentukan berjalan atau tidaknya suatu peraturan hukum adalah budaya hukum masyarakatnya. Budaya hukum masyarakat bergantung kepada budaya hukum anggota-anggotanya yang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan,

lingkungan, posisi dan kedudukan, bahkan kepentingan-kepetingannya. Karena masyarakat hukum itu berubah-ubah dari waktu ke waktu, konsep budaya hukum substantive memerlukan unsur yang dinamis. Jadi jelas bahwa hukum tidak dapat
70 H. Tan Kamelo, op. cit., hal. 150-151. 71 Satjipto Rahardjo, op. cit., hal. 166-167.

52 dilihat semata-mata sebagai perwujudan atau pencerminan dari konsep-konsep dan peraturan hukum. Hukum dalam realitas pernyataannya harus dilihat sebagai perwujudan atau pencerminan dari stuktur masyarakat. Pembangunan sistem hukum yang ideal adalah menetapkan prosedur yang jelas kepada para penegak hukum dalam rangka menerapkan atau menjalankan hukum dengan menyediakan sarana dan prasarana yang cukup, juga meliputi penataan aturan hukum yang pasti adil dan benar. Sistem hukum juga harus dibangun untuk mendidik dan mengarahkan perilaku masyarakat agar mematuhi hukum sesuai dengan cita-cita hukum yang diharapkan. Dengan perubahan paradigma sistem hukum, dapat dikatakan pembangunan hukum berarti pembaharuan tata hukum yang mencakup tiga koponen yakni komponen substansi hukum disebut juga tata hukum eksternal yang terdari dari (perundang-undangan, hukum tidak tertulis termasuk hukum adat dan yurisprudensi) serta tatanan hukum internal (asas-asas hukum) yang mengutuhkannya, komponen kelembagaan hukum yang terdiri atas berbagai organisasi publik dengan para pejabatnya (legislatif, eksekutif, yudikatif), dan komponen budaya hukum yang mencakup sikap prilaku para pejabat dan warga masyarakat berkenaan dengan komponen-komponen lainnya dengan proses-proses penyelenggaraan kehidupan masyarakat berhukum.72 Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat dijelaskan bahwa sistem hukum jaminan merupakan sub sistem dari sistem hukum benda, sedangkan sistem hukum benda adalah sub sistem dari sistem hukum perdata. Demikian pula sistem hukum perdata merupakan sub sistem hukum nasional. Dengan pendekatan sistem hukum yang demikian, dapat dikatakan sistem hukum jaminan yang akan dibentuk harus memperhatikan aspek-aspek sistem hukum nasional yaitu substansi, struktur, sarana dan prasarana serta budaya hukum tersebut, peranan sistem hukum jaminan dalam pembangunan hukum dapat diwujudkan.

72B. Arief Sidharta, Peranan Praktisi Hukum dalam Perkembangan Hukum di Indonesia, Jurnal Hukum No. 1: 1999, Pusat Penelitian Perkembangan Hukum Lembaga Penelitian Universitas Padjajaran Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hal. 14.

53

54 BAB III HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS A. Keadaan Umum Tempat Penelitian Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan pada tanggal 16 Desember 1895 oleh seorang Patih Banyumas bernama Raden Bei Aria Wirjaatmadja, dengan nama Hulp Spaarbank der Inlandssche Besturrs Ambtenaren (Bank Bantuan dan Simpanan Milik Pegawai Pangreh Praja Berkebangsaan Pribumi) yang merupakan bank perkreditan rakyat yang pertama di Indonesia. Dalam perjalanan 53 sejarah bank ini telah mengalami beberapa kali perubahan nama, yaitu berdasarkan Surat Keputusan Ratu Belanda No. 118 tanggal 10 Juli 1912, Staatsbld 1912 No. 392, berubah nama menjadi Centrale Kas Voor het Volscredietwezen. Selanjutnya berdasarkan Staatbld No. 82 dengan ordonansi tanggal 19 Februari 1934 tentang Bepalingen Betreffende de Algemeene Volkscredietbank, terjadi perubahan menjadi Algemeene Volkscredietbank atau AVB.73 Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia antara tahun 1942-1945, Pemerintah Jepang menutup semua bank termasuk AVB. Namun pada tanggal 3 Oktober 1942, AVB dengan cabangnya di Jawa dan Madura kembali dibuka dengan nama Syomin Gink (Syomin = Rakyat, Ginko = Bank). Syomin Ginko secara resmi menjadi Bank Rakyat Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 Tanggal 22 Februari 1946 dengan wilayah kerja di seluru Indonesia. Dengan dikeluarkannya PP ini maka BRI menjadi bank pemerintah pertama di Indonesia.74 Berdasarkan ketentuan Undang-Undang No. 41 Tahun 1960 dalam Lembaran Negara No. 28/1960 tanggal 26 Oktober 1960, tiga buah bank yaitu BRI, Bank Tani dan Nelayan (BTN) serta Nederlansche Handels Maatschappij
73 BRI 2006, Laporan Tahunan BRI Tahun 2005, Bank Rakyat Indonesia: Jakarta, 2006, hal. 1. 74 Ibid.

55 (NHM) dilebur menjadi sebuah lembaga perbankan baru bernama Bank Koperasi Tani dan nelayan (BKTN). Bank ini bertujuan untuk membentuk usaha koperasi, pertanian dan perikanan dalam arti luas.75 Pada tahun 1965 terjadi perubahan struktur kelembagaan pada bank-bank milik pemerintah. Berdasarkan Peraturan Presiden No. 8 Tahun 1965, BKTN diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (BI-UKTN). Selanjutnya berdasarkan Peraturan Presiden No. 17 tanggal 27 Juli 1965 dibentuk bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia (BNI) dan BI-UKTN dilebur kedalamnya dengan nama BNI

Unit II bidang rural. Berdasarkan UU No. 14 Tahun 1967 Tentang Pokok Perbankan, BNI unit II bidang rural diubah menjadi Bank Rakyat Indonesia.76 Berdasarkan UU No. 7 Tahun 1992 Tentang UU Perbankan dan Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1992, telah terjadi perubahan kepemilikan BRI yang semula bank pemerintah diubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Bank BRI Perubahan ini dimaksudkan agar Bank BRI menjadi lebih professional untuk mengantisipasi persaingan perbankan yang semakin ketat. Sejak bulan Oktober 2003 BRI melakukan go public, sehingga menjadi perusahaan public dengan nama PT Bank BRI (Persero) Tbk.77 1. Visi Misi dan tujuan Perusahaan Sesuai dengan Corporate Plan 2003-2007, visi PT Bank BRI Tbk yaitu untuk menjadi bank komersial terkemuka yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah. Misi PT Bank BRI (Persero) Tbk adalah sebagai berikut: 1. Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan
75 Ibid. 76 Ibid. 77 Ibid.

56 pelayanan kepada usaha mikro, kecil dan menengah untuk menunjang peningkatan usaha masyarakat. 2. Memeberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan kerja yang tersebar luas dan diukung oleh sumber daya manusia yang professional dengan melaksanakan praktek good corporate govermance. 3. Memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada stakenholders.78 Bertitik tolak dari visi dan misi PT Bank BRI (Persero) Tbk, dibidang perkerditan jelas arahnya menjadi bank komersial dengan menitikberatkan pada sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Hal ini terlihat dari komposisi pembiayaan yang diberikan kepada sektor usaha UMKM di atas 80% dari fortopolio Kredit PT Bank BRI (Persero) Tbk. Di bidang pendanaan PT Bank BRI (Persero) Tbk berusaha untuk tetap peduli dan mengutamakan kepuasan nasabah dengan memberikan pelayanan secara prima dengan terus berusaha

mengembangkan dukungan teknologi perbankan yang canggih. Berdasarkan visi misi tersebut, PT Bank BRI (Persero) Tbk menetapkan tujuan perusahaan yang diselaraskan dengan kepentingan stokeholders, baik public maupun pemerintah, yaitu sebagai berikut: a. Pemegang saham, Memberikan hasil yang wajar (optimal) bagi pemegang saham tanpa harus meninggalkan tanggung jawab sosial. b. Nasabah, Memberikan pelayanan dengan kualitas terbaik dengan nilai tambah yang wajar (maksimal) demi terpeliharanya hubungan kemitraan dengan nasabah. c. Karyawan, Menjadikan karyawan sebagai asset utama perusahaan dengan menciptakan lingkungan dan suasana kerja yang memuaskan, memberikan kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai dengan prestasi serta mengembangkan budaya perusahaan (Corporate Cultural) yang berlandaskan suatu tekad untuk mejadi bankir entrepreneur yang piawai dan mandiri d. Pemerintah, Menjadi persero yang sehat dengan mematuhi segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dan berperan serta dalam meningkatkan mutu industri perbankan Indonesia. e. Masyarakat memberikan kontribusi kepada masyarakat untuk membangun ekonomi maupun sosial dengan menyisihkan sebagian
78 BRI 2003, Corporate Plan Bank BRI 2003-2007, Tidak dipublikasikan, BRI: Jakarta, 2003, hal. 8.

57 laba usaha yang diperoleh.79 2. Perkembangan Usaha PT Bank BRI (Persero) Tbk Perkembangan usaha PT Bank BRI (Persero) Tbk berjalan seiring dengan situasi dan kondisi perekonomian di Indonesia. Pada saat krisis moneter 1997 kondisi penyaluran kredit PT Bank BRI (Persero) Tbk menjadi tidak maksimal karena sektor riil belum dapat menyerap dana perbankan secara baik. Keuntungan perbankan juga masih mengandalkan bunga obligasi rekap dan bunga SBI yang mempunyai tingkat resiko relatif kecil walaupun margin yang diperoleh tidak maksimal. Di lain pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk juga harus memenuhi peraturan dan ketentuan bank sentral yang semakin ketat dalam hal ketentuan Capital Adequacy Ratio (CAR) minimal 8% dan Non Performing Loan (NPL) maksimal 5%. Di samping itu dengan diberlakukannya Asian Free Trade Agreement (AFTA) maka perbankan asing akan semakin mudah masuk ke Indonesia sehingga PT Bank BRI (Persero) Tbk juga harus sanggup memenuhi ketentuan perbankan internasional berdasarkan Bank for International Settlement (BIS). PT Bank BRI (Persero) Tbk sebagai bank public dan merupakan salah satu bank yang menerima dana rekapitulasi dari pemerintah, dari tahun ke tahun menunjukkan kinerja yang semakin baik. Dana rekap yang diterima dari pemerintah sebesar 29,2 triliun meningkat CAR menjadi 8%. Setelah go public pada tahun 2003 permodalan PT Bank BRI (Persero) Tbk telah mencapai 12%. 3. Organisasi dan Jaringan Kerja PT Bank BRI (Persero) Tbk PT Bank BRI (Persero) Tbk dipimpin oleh seorang Direktur Utama yang dibantu oleh 6 orang Direktur yang membidangi bisnis. Masing-masing Direktur
79 BRI 2006, op. cit., hal. 10.

58 membawahi Bidang Bisnis Mikro dan Ritel, Bidang Bisnis Menengah, Bidang Pengendalian Kredit, Bidang Keuangan dan Internasional, Bidang Operasional dan Bidang Kepatuhan. Secara structural Direksi membawahi para Kepala Divisi di Kantor Pusat dan Pemimpin Wilayah Pt Bank BRI (Persero) Tbk. Unit kerja di kantor pusat PT Bank BRI (Persero) Tbk meliputi berbagai bidang bisnis, operasional dan penunjang yang masing-masing dipimpin oleh para Kepala Divisi dibantu Wakil Kepala Divisi yang membawahi para Kepala Bagian dan Staf. Unit Kerja di tingkat wilayah PT Bank BRI (Persero) Tbk dipimpin oleh Pemimpin Wilayah yang dibantu oleh Wakil Pemimpin Wilayah yang membawahi Kepala Bagian dan Pemimpin Cabang yang ada di wilayah tersebut. Unit kerja di tingkat Kantor Cabang PT Bank BRI (Persero) Tbk dipimpin oleh Pemimpin Cabang yang membawahi para Officer, Kepala Bagian dan Kepala Seksi serta seluruh PT Bank BRI (Persero) Tbk unit yang ada di wilayah kantor Cabang tersebut. Jaringan kerja PT Bank BRI (Persero) Tbk meliputi wilayah yang sangat luas dan tersebar di seluruh pelosok Indonesia di samping beberapa kantor cabang dan perwakilan di luar negeri. Saat ini jaringan kerja PT Bank BRI (Persero) Tbk terdiri dari satu (1) buah Kantor Pusat, tiga belas (13) Kantor Wilayah, dua belas (12) Kantor Inspeksi, satu (1) buah Kantor Cabang Khusus, tiga ratus dua puluh empat (324) Kantor Cabang, delapan (8) Kantor Cabang Syariah, seratur enam puluh tiga (163) Kantor Cabang Pembantu, satu (1) Kantor Cabang Luar Negeri, dua (2) Kantor Perwakilan Luar Nageri, enam (6) buah Kas Mobil, seratus empat puluh tiga (143) Payment Point, empat ribu sembilan puluh enam (4096) Kantor PT Bank BRI (Persero) Tbk Unit, seratus enam puluh (160) Pos Pelayanan Desa

59 dan seratus enam belas (116) Tim Pelayanan Desa. 4. Bidang Usaha PT Bank BRI (Persero) Tbk PT Bank BRI (Persero) Tbk memilki berbagai jenis usaha yang secara garis besar dapat di bagi dalam bidang usaha simpanan, pinjaman dan jasa bank lainnya. 1. Usaha simpanan meliputi Girobri dan depobri dalam mata uang rupiah maupun US dollar, sertifikat PT Bank BRI (Persero) Tbk (Sertibri), Tabungan Britama, Tabungan Simpedes dan Tabungan Haji. 2. Usaha pinjaman meliputi kredit Prioritas atau Kredit Program, Kredit Non Prioritas atau Kredit Komersial, Kredit Pemilikan Rumah, Kredit Kendraan Bermotor, Kredit Profesi, Kredit Ekspress, Kupedes, Kredit Golongan Berpenghasilan Tetap dan Pensiun dan Credit Cash Collateral. 3. Usaha jasa bank meliputi transper, inkaso, wesel, Safe Deposit Box, Wali Amanat, ATM, Cek Perjalanan PT Bank BRI (Persero) Tbk (Cepebri), Kliring dan jual beli Bank Notes. 4. Jasa bank lainnya meliputi biaya penyelenggaraan ibadah haji, penerimaan SSB, STNK, SIM, BPKP, penerimaan setoran denda tilang, penerimaan setoran tagihan telepon dan listrik, pembayaran uang pensiun PT Taspen, pembayaran pajak bea cukai KPKN, pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB), subsidi pembangunan inpres (P2KP), pelayanan setoran PT Pusri, pelayanan pembayaran Pertamina dan pelayanan setoran pegadaian. B. Gambaran Umum Kantor Cabang Padangsidimpuan Kantor Cabang (Kanca) PT Bank BRI (Persero) Tbk Padangsidimpuan

60 merupakan salah satu dari 17 kantor cabang PT Bank BRI (Persero) Tbk yang terdapat di Kantor Wilayah Medan. Kanca PT Bank BRI (Persero) Tbk Padangsidimpuan dipimpin oleh Pemimpin Cabang (Pinca) yang membawahi kegiatan pelayanan kepada sektor mikro dan ritel. Dalam kegiatannya Pinca dibantu oleh tiga orang Asisten Manajer di bawah ini: 1. Seorang Asisten Manajer Operasional (AMO) yang bertanggung jawab terhadap kelancaran seluruh proses operasional kanca. AMO membawahi bagian pelayanan dan bagian kas Kanca. 2. Dua orang Asisten Manajer Bisnis Mikro (AMBM), betanggung jawab terhadap bisnis baik kredit maupun dana dan operasional mikro di Bank BRI unit. AMBM dibantu oleh lima orang penilik Bank BRI unit. AMBM juga membawahi bagian Supervisi Administrasi Unit yang terdiri dari petugas Administrasi dan Petugas Rekonsiliasi Unit. Jumlah unit usaha yang menjadi supervisi Kanca PT Bank BRI (Persero) Tbk Padangsidimpuan terdiri dari 15 PT Bank BRI (Persero) Tbk Unit yang tersebar di berbagai kecamatan yang ada di Kota Padangsidimpuan, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Mandailing Natal, serta sebuah Kantor Cabang Pembantu (KCP) yaitu KCP Panyabungan yang terletak di Kabupaten Mandailing Natal. Kantor Cabang PT Bank BRI (Persero) Tbk Padangsidimpuan mempunyai segmen pelayanan perbankan di bidang bisnis ritel, sedangkan 15 PT Bank BRI (Persero) Tbk Unit yang ada di Kanca PT Bank BRI (Persero) Tbk Padangsidimpuan bergerak dalam pelayanan perbankan untuk sektor mikro.

61

C. Gambaran Umum Jaminan Fidusia Yang Ada Pada PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan. 1. Objek Jaminan Fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk PT Bank BRI (Persero) Tbk merupakan salah satu bank yang cukup tangguh di Kota Padangsidimpuan, telah memiliki banyak nasabah dengan berbagai opsi pelayanan jasa perbankan yang disediakan oleh PT Bank BRI (Persero) Tbk. Dalam Surat Edaran BRI 11 Mei 2004 Obyek jaminan fidusia adalah: a. Benda bergerak (berwujud maupun tidak berwujud), misalnya persediaan/stok dagang/usaha b. Benda tidak bergerak, khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam UU No. 4/1996, misalnya hak pakai atas tanah hak milik. c. Jika tidak diperjanjikan lain, maka jaminan fidusia meliputi hasil dari benda yang menjadi obyek jaminan fidusia, juga klaim asuransi dalam hal benda yang menjadi obyek jaminan fidusia diasuransikan. Khusus mengenai jaminan fidusia dari pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk diperoleh data bahwa perjanjian jaminan yang diikat dengan jaminan fidusia dari tahun 2000 sampai 2007 berjumlah 4 buah, dan semua statusnya hanya sebagai jaminan tambahan dan jaminan pokoknya adalah jaminan dalam bentuk hak tanggungan. Jaminan tambahan berupa benda bergerak yaitu sepeda motor, truk, mesin padi, mobil/taxi. Menurut Pak Riza bagian marketing PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan telah dibuka model kredit kendraan barang, mesin, kendaraan bermotor, piutang

62 bermotor dengan jaminan secara fidusia, tetapi karena lembaga-lembaga leasing memberikan persyaratan yang lebih mudah dibandingkan dengan syarat yang harus dipenuhi debitur jika berhubungan dengan bank menyebabkan perjanjian jaminan fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan sangat sedikit jumlahnya. Pada dasarnya pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang

Padangsidimpuan merasa lebih aman dengan menggunakan jaminan hak tanggungan, jaminan fidusia hanya akan digunakan apabila setelah dianalisis ternyata jaminan pokok yang berupa hak tanggungan dinilai masih kurang mencukupi dengan besarnya nilai kredit yang akan disalurkan. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Pangsidimpuan tegas menyatakan tidak mau mengikat kredit dengan jaminan fidusia sebagai jaminan pokok.80 Praktek perbankan yang terjadi pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan, jaminan fidusia hanya berkedudukan sebagai jaminan sekunder sebagai pelengkap dari hak tanggungan dan bukan sebagai jaminan primer. Dan objek jaminan fidusia yang telah diikat semuanya adalah benda bergerak. Mengenai objek jaminan fidusia atas benda tidak bergerak seperti bangunan di atas tanah orang lain, hak sewa atau hak pakai dan rumah susun belum ada nasabah yang mengajukan pinjaman. Dengan tegas pihak Bank BRI mengatakan tidak bersedia untuk memberikan pinjaman terhadap agunan dalam bentuk bangunan di atas tanah orang lain, hak pakai, hak sewa, dan tanah yang tidak bersertifikat dengan alasan terlalu beresiko dan kurang bahkan tidak memberikan kepastian hukum. Keterangan bagian marketing ini cukup beralasan dan sejalan dengan
80 Wawancara dengan Pak Riza bagian Marketing PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan tanggal 29 Desember 2006

63 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 4/248/UPPK/PK tanggal 6 Maret 1972 (sebelum keluarnya UU No. 42 Tahun 1992 Tentang Jaminan Fidusia) menegaskan bahwa fidusia hanya diperlakukan terhadap barang bergerak. Selanjutnya bank-bank dianjurkan agar tidak secara mudah menggunakan fidusia tanpa terlebih dahulu menyelidiki keadaan moral maupun financial standing dari calon debitur, mengingat barang bergerak itu tetap dikuasai debitur, berhasil atau gagalnya bentuk jaminan fidusia semata-mata bergantung kepada bonafiditas dan itikad baik debitur. Landasan operasional Bank BRI adalah surat edaran yang terbaru yaitu Nose: S. 8 DIR/ADK/05/2004 tentang agunan kredit, secara yuridis hal ini dibenarkan oleh hukum berdasarkan hirarkhi perundang-undangan yang dianut di Indonesia, selama tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi dalam hukum jaminan fidusia adalah Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 Tahun 1999. Dalam Surat edaran ini ditegaskan bahwa objek jaminan fidusia adalah benda bergerak dan benda tidak bergerak dapat atas bangunan yang berdiri di atas tanah orang lain termasuk rumah susun, hak pakai dan hak sewa dan ini sesuai dengan Undang-Undang Jaminan Fidusia No.42 Tahun 1999 tetapi dalam praktek jelas mereka menyatakan menolak untuk memberikan kredit terhadap nasabah yang memberikan agunan dengan objek jaminan seperti bangunan di atas tanah hak milik orang lain, hak sewa, dan hak pakai. Secara yuridis Bank BRI tidak melakukan pelanggaran hukum/peraturan perundang-undangan, karena tidak bersedia memberikan kredit terhadap agunan hak sewa, hak pakai dan bangunan yang ada di atas tanah orang lain, juga tanah yang tidak memiliki sertifikat, hal ini dapat dikaitkan dengan asas konsensualitas dan kebebasan berkontra, artinya apa yang diinginkan oleh pihak yang satu

64 dikehendaki juga oleh pihak yang lain. Konsensualitas dalam perjanjian tersimpul dalam pasal 1320 yang mengatur syarat sahnya suatu perjanjian dan salah satu syarat tersebut adalah sepakat mereka yang mengikatkan dirinya, artinya para pihak bebas untuk melakukan perjanjian apa saja selama tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan, dan ketertiban umum. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan tidak sepakat dengan nasabah yang mempunyai agunan berupa bangunan diatas tanah orang lain, hak pakai dan hak sewa, meskipun undang-undang Jaminan Fidusia mengatur tentang hal ini tetapi PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan sebagai kreditur boleh menyimpangi peraturan ini di dasarkan oleh suatu prinsip bahwa jaminan fidusia lahir karena diperjanjikan bukan karena undang-undang. Selayaknya PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan dapat mengikuti perkembangan hukum jaminan yang sudah jauh lebih maju dengan objek jaminan yang lebih luas seperti yang telah diatur dalam ruang lingkup jaminan fidusia yang diatur dalam Pasal 2 dan 3 UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia. Jumlah perjajian kredit dengan pembebanan secara fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan sangat sedikit, hal ini disebabkan oleh antara lain: 1. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan tidak memenerima agunan berupa bangunan di atas tanah hak milik orang lain. 2. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan tidak menerima agunan berupa hak pakai dan hak sewa. 3. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan juga tidak menerima

65 agunan tanah yang tidak bersertifikat 4. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan tidak menerima agunan benda bergerak sebagai agunan pokok. 2. Kasus Jaminan Fidusia ke Pengadilan Hasil wawancara dengan pihak yang berkompoten dengan bagian kredit pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padandsidimpuan sampai dengan hari terakhir penelitian belum/ tidak ada kasus tentang jaminan fidusia yang sampai ke pengadilan baik jaminan fidusia berkedudukan sebagai jaminan primer maupun jaminan sekunder sebagai pelengkap dari jaminan hak tanggungan. Mungkin ini berkaitan dengan rahasia bank. Setelah menghubungi bagian perdata di Pengadilan Negeri Padangsidimpuan diperoleh data bahwa ada satu kasus debitur yang melakukan wanprestasi pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan sebelum keluarnya UndangUndang Jaminan Fidusia yaitu kasus dengan register No. 13/PDT.

G/1992/PN.PSP. Menurut Pak Afandi hakim yang ditunjuk oleh Pengadilan Negeri Padangsidimpuan untuk membantu dalam penelitian ini, tidak banyak kasus menyangkut fidusia yang sampai ke Pengadilan karena debitur melakukan wanprestasi atau hal lain, disebabkan oleh kesadaran hukum masyarakat kota Padangsidimpuan khususnya nasabah PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan cukup tinggi artinya debitur melakukan kewajiban-

kewajibannya dengan baik, disamping agunan yang dapat diikat dengan jaminan fidusia sangat terbatas dan hanya sebagai jaminan sekunder saja.81
81 Wawancara dengan Hakim Afandi SH, Hakim pada Pengadilan Negeri Padangsidimpuan tanggal 8 Januari 2007.

66 Ditambah lagi setelah keluarnya UU Jaminan Fidusia No 42 Tahun 1999 telah memberikan peluang yang luas bagi para pihak debitur (nasabah) dengan kreditur (pihak bank) menawarkan beberapa opsi dalam hal eksekusi, apabila terjadi permasalahan dikemudian hari. Untuk melakukan eksekusi terhadap barang objek fidusia dengan kekuasaan sendiri karena sertifikat jaminan fidusia yang telah memuat irah-irah DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. (penjelasan pasal 15 ayat 2). Penjelasan Pak Afandi ini cukup beralasan jika dilihat dari tujuan dibentuknya UU jaminan fidusia itu sendiri yaitu untuk memenuhi kebutuhan hukum yang dapat lebih memacu pembangunan nasional dan untuk menjamin kepastian hukum serta mampu untuk memberikan perlindungan hukum bagi pihak yang berkepentingan. Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 Tahun 1999 juga menawarkan proses eksekusi yang lebih praktis, efisien, murah dan cepat bagi para pihak dalam perjanjian, terutama perjanjian yang dibuat oleh lembaga perbankan dengan

syarat bahwa perjanjian jaminan fidusia tersebut harus dibuat dengan akta notaris dan didaftarkan di Kantor Pendaftaran Fidusia, dibandingkan dengan perjanjian fidusia yang dibuat di bawah tangan hingga proses eksekusinya lewat gugatan biasa, yang melalui proses birokrasi berbelit-belit dan proses peradilan yang sangat lama dan melelahkan. D. Pelaksanaan Jaminan Secara Fidusia 1. Fungsi Juridis Jaminan Fidusia Sebagai Pengaman Kredit Bank

67 PT Bank BRI (Persero) Tbk dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai penyalur dana masyarakat secara aktif memberikan kredit kepada nasabah, dalam menyalurkan kredit didasarkan kepada prinsip kehati-hatian, dan ini terlihat dalam sistim penilaian yang dilakukan berdasarkan prinsip keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi kewajibannya. Untuk memperoleh keyakinan, sebelum memberikan kredit, PT Bank BRI (Persero) Tbk melakukan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan dan prospek usaha dari debitur. Prinsip ini lebih dikenal dengan istilah 5 Cs yakni Character (watak, kepribadian), Capital (modal), Collateral (jaminan, agunan), Capacity (kemampuan), dan Conditions of Economic (kondisi ekonomi).82 Dalam praktek pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang

Padangsidimpuan menentukan kecukupan jaminan, ditentukan oleh hasil analisis terhadap watak, kemampuan, kapital, serta kondisi dan prospek usaha nasabah dan agunan.83 Oleh karena itu, dalam menentukan kecukupan jaminan kredit, setiap pejabat kredit, baik pejabat pemrakarsa maupun pejabat pemutus

mempertimbangkan tiga hal utama, yaitu: a. Kondisi dan Prospek Usaha Debitur Dari hasil analisis yang dilakukan secara mendalam terhadap unsur watak, kemampuan, kapital serta kondisi ekonomi/politik dari seorang debitur atau calon debitur, pejabat kredit (pejabat pemrakarsa dan pemutus) harus mampu mengambil suatu kesimpulan yang mengarah pada keyakinan bahwa pinjaman yang diberikan akan dapat dibayar kembali (sesuai dengan yang diperjanjikan). Tingkat keyakinan pejabat kredit tersebut akan dipakai sebagai bahan
82 Wawancara dengan pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan. di Padangsidimpuan tanggal 29 Desember 2006 83 Surat Edaran BRI Tahun 2004, hal. 2.

68 pertimbangan dalam menentukan kecukupan jaminan suatu kredit yang diberikan. b. Nilai Agunan Pokok dan Tambahan Berdasarkan hasil judgement atas unsurunsur tersebut di atas, pejabat pemrakarsa dan pejabat pemutus, harus mampu mengambil keputusan mengenai macam agunan yang dipersyaratkan, yaitu apakah cukup agunan pokok saja atau perlu diminta agunan tambahan. Agunan kredit dapat hanya berupa agunan pokok tersebut apabila berdasarkan aspek-aspek lain dalam first way out (watak, kemampuan, modal dan prospek), diperoleh keyakinan atas kemampuan debitur untuk mengembalikan utangnya. Apabila menurut judgement pemutus, agunan pokok yang disediakan tidak dapat menutup kecukupan jaminan, yang disebabkan adanya kesulitan dalam pengikatan dan penguasaan agunan pokok, sehingga tidak dapat memberikan hak preference bagi Bank BRI, maka agunan tambahan menjadi wajib dipenuhi. Dalam mempertimbangkan kecukupan nilai agunan kredit, harus didasarkan keyakinan dari Pejabat kredit Lini (pemrakarsa dan pemutus) bahwa nilai agunan tersebut akan dapat meminimalkan tingkat kerugian (loss given default) dan memperbesar recovery rate apabila debitur wanprestasi di kemudian hari. Perlu juga dilakukan kajian untuk menetapkan persyaratan yang diperlukan agar agunan kredit (baik untuk agunan pokok maupun agunan tambahan) tersebut dapat dijamin keamanannya, pengikatan hukumnya, penguasaannya,

efektifitasnya pada saat diperlukan. c. Kecukupan Jaminan Berdasarkan kesimpulan atau judgement atas kualitas nasabah atau calon nasabah (yang diperoleh melalui analisis terhadap watak, kemampuan, modal,

69 serta kondisi dan prospek usaha seperti di atas ), serta nilai agunan yang ada seperti diuraikan. di atas, pejabat pemrakarsa dan pejabat pemutus kredit harus mampu mengambil kesimpulan mengenai kecukupan jaminan untuk mendukung kredit yang diberikan. Penilain watak menyangkut masalah reputasi dari calon debitur dalam mempergunakan kredit sesuai dengan tujuan dan selalu memenuhi kewajibannya membayar kredit tepat pada waktu yang diperjanjikan. Penilaian kemampuan menyangkut kemampuan calon debitur dalam menjalankan dan mengembangkan usahanya sehingga berjalan lancar. Dengan kondisi usaha yang menguntungkan dan kejelasan pertambahan pendapatan nasabah pasti mampu membayar utang pokok dan bunganya. Penilaian modal menyangkut masalah besarnya modal yang dimiliki calon debitur. Semakin besar jumlah modal yang dimiliki oleh debitur akan semakin baik karena keterlibatan debitur terhadap maju dan mundurnya usaha sangat besar. Penilaian jaminan menyangkut tentang harta benda milik debitur atau milik pihak ketiga yang merupakan jaminan tambahan dalam mengamankan penyelesaian kredit. Penilaian kondisi ekonomi menyangkut masalah situasi perekonomian dan politik secara makro (kondisi dan situasi yang memberikan dampak positif bagi prospek usaha debitur). Dari kelima faktor penilaian yang dilakukan oleh PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan, faktor yang berfungsi sebagai pengaman yuridis dari kredit yang disalurkan adalah jaminan kredit. Jaminan kredit dalam arti luas bukan hanya menyangkut agunan yang diberikan oleh debitur tetapi juga meliputi faktor-faktor lain seperti: bonafiditas

70 dan prospek usaha. Dalam arti sempit, jaminan kredit hanya ditujukan kepada benda agunan yang diberikan debitur yang lazim disebut dengan jaminan tambahan berupa harta benda. Wajib dijadikan jaminan adalah yang berkaitan secara langsung dengan objek yang dibiayai, dan meminta jaminan kredit sebagai jaminan tambahan bukan suatu kewajiban bank.84 Pemberian kredit tanpa jaminan tambahan dikenal dengan unsecured loans. PT Bank BRI (Persero) Tbk memberikan kredit model ini jika dalam analisis jaminan, jaminan utama telah memenuhi standar untuk menjamin penyelesaian kredit yang akan disalurkan. Pada umumnya, yang diterima bank adalah tanah yang sudah bersertifikat dengan bentuk perjanjian jaminannya adalah hak tanggungan. Sebelum keluarnya Undang-Undang Hak Tanggungan No. 4 Tahun 1996 pengikatan atas tanah yang belum bersertifikat dilakukan dengan menggunakan surat kuasa jual atau perjanjian penyerahan jaminan dan pemberian kuasa. Artinya pihak bankmau memberikan kredit kepada nasabah yang mempunyai agunan tanah yang belum bersertifikat. Setelah keluarnya UU No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan bank tidak menerima lagi tanah yang belum bersertifikat untuk dijadikan sebagai agunan, dengan alasan bahwa bentuk pengikatan jaminan baik surat kuasa jual maupun perjanjian penyerahan jaminan dan pemberian kuasa bukanlah suatu lembaga jaminan yang memberikan perlindungan hukum yang kuat bagi bank dan konsekuensi yuridisnya bagi bank hanya sebagai kreditur konkuren. Setelah keluarnya UU No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan dinyatakan bahwa tanah yang tidak bersertifikat tidak dapat dijadikan sebagai
84 Lihat Pasal 8 UU No. 10 Tahun 1998.

71 agunan dan sebagai jalan keluarnya dapat diikat dengan fidusia. PT Bank BRI (Persero) Tbk dengan jelas menyatakan bahwa tanah belum bersertifikat tidak dapat dijadikan sebagai agunan baik untuk bentuk jaminan dengan hak tanggungan maupun dalam bentuk jaminan fidusia. Dengan argumen bahwa tanah yang tidak bersertifikat terlalu beresiko bagi bank artinya jika debitur melakukan waprestasi pihak bank berada pada posisi yang sangat lemah dan debitur punya banyak kesempatan untuk berbuat curang85 Dari penelitian ini ditemukan fakta bahwa jaminan fidusia yang dijumpai pada PT Bank BRI (Persero) Tbk adalah jaminan fidusia yang merupakan jaminan pelengkap dari jaminan hak tanggungan. Jika dilihat dari sistim hukum jaminan kebendaan, jaminan fidusia dan hak tanggungan memiliki kekuatan yuridis yang sama, hanya berbeda dalam objeknya. Jaminan fidusia cenderung lebih kecil nilai pinjaman kreditnya jika dibandingkan dengan pinjaman kredit yang diikat dengan hak tanggungan. Jaminan fidusia adalah salah satu sarana perlindungan hukum bagi keamanan bank yakni sebagai suatu kepastian bahwa debitur akan melunasi pinjaman kredit. Perjanjian jaminan fidusia bukan suatu hak jaminan yang lahir karena undang-undang melainkan harus diperjanjikan terlebih dahulu antar bank dengan debitur. Oleh karena itu , fungsi yuridis pengikatan jaminan fidusia lebih bersifat khusus jika dibandingkan dengan jaminan yang lahir berdasarkan Pasal 1131 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Fungsi yuridis pengikatan benda jaminan fidusia dalam akta jaminan fidusia merupakan bagian yang sangat urgen dari perjanjian kredit. Hubungan fungsi yuridis jaminan fidusia sebagai pengaman kredit bank dapat dilihat dari akta jaminan fidusia di bawah ini:
85 Wawancara dengan pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan di Padangsidimpuan pada tanggal 29 Dsember 2006

72 Bahwa untuk lebih menjamin kepastian dan ketertiban pembayaran kembali pinjaman, baik berupa pokok, bunga, denda bunga, dan ongkosongkos serta biaya- biaya lainnya tanpa pengecualian, maka kedua belah pihak sepakat dan setuju untuk mengadakan perjanjian penyerahan Hak Milik Atas Kepercayaan (Fiducia). Selanjutya disebut perjanjian dengan syarat dan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: Sebagai jaminan hutang yang dimaksud dalam Perjanjian Membuka kredit Nomor:tanggal dibuat dihadapan notaris, pihak pertama setuju untuk menyerahkan hak milik atas kepercayaan kepada pihak kedua dan pihak kedua setuju untuk menerima penyerahan tersebut dari pihak pertama, yaitu atas: 1(satu) unit kendraan bermotor Merk Mitsubishi, Type L300, jenis Mobil Penumpang Tahun Perakitan 1996/2477.CC, Nomor Rangka/NIK:..L300DB.215595, Nomor Mesin 4D56-698650, Warna Putih Kombinasi, Buku Pemilik Kendraan Bermotor A Nomor: 4972754B, Nomor Polisi BB.1531-RA, terdatar atas namadengan nilai penjaminan sebesar 86 Fungsi yuridis jaminan fidusia yang dinyatakan dalam akta jaminan fidusia akan lebih menguatkan kedudukan bank sebagai kreditur preferen. Dan juga memperoleh kepastian terhadap pengembalian utang debitur sekaligus mengurangi tingkat resiko bank dalam menjalankan usahanya. 2. Perjanjian Membuka Kredit Pemberi fidusia yang telah memenuhi semua syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam formulir reviw dokumen maka tahap selanjutnya adalah membuat perjanjian membuka kredit dibuat dengan akta notaris yang mengatur tentang: a. Data pemberi kredit/bank dan penerima kredit/nasabah b. Besarnya nilai pinjaman c. Besarnya bunga d. Jangka waktu pinjaman e. Pengakuan utang f. Jaminan pokok berupa usaha/proyek yang dibiayai dan

86 Dikutip dari Akta Penyerahan Hak Milik Atas Kepercayaan Nomor 132 tanggal 30 Juni 2006 yang dibuat Notaris L di Padangsidimpuan. Pihak pemberi kredit adalah PT Bank BRI (Persero) Tbk dan nasabahnya adalah seorang wiraswasta.

73 tanah yang diikat dalam bentuk hak tanggungan g. Jaminan tambahan berupa benda bergerak yaitu: mobil, taxi, mesin padi, truk dan stok barang-barang dagangan yang telah ada sekarang maupun yang akan ada dikemudian hari yang disebut (objek jaminan fidusia), yang diikat dengan jaminan dalam bentuk fidusia. Biaya pembuatan akta perjanjian membuka kredit ini, menurut notaris L menyangkut rahasia notaris.

3. Pengikatan/Pembebanan Jaminan Secara Fidusia Nilai pengikatan agunan merupakan nilai yang menggambarkan minimal besarnya hak Bank BRI atas agunan kredit yang diikat, dan merupakan perkiraan besarnya kewajiban debitur kepada Bank BRI yang dapat ditutup oleh agunan tersebut, apabila di kemudian hari terjadi kegagalan pembayaran kredit. Pemutus harus menentukan besarnya nilai pengikatan agunan dengan pertimbangan utama untuk memaksimalkan recovery rate apabila kredit menjadi bermasalah. Secara umum, Undang-Undang telah memberikan jaminan perlindungan kepada kreditur sebagaimana diatur dalam pasal 1131 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yaitu: segala harta kekayaan debitur, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sekarang ada maupun yang akan ada di kemudian hari menjadi tanggungan/ jaminan atas hutang-hutangnya. Jaminan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1131 tersebut masih dirasakan terlalu umum dan belum sepenuhnya melindungi kreditur apabila debitur wanprestasi. Untuk mengatasi hal tersebut, serta untuk dapat memberikan rasa aman bagi kreditur

74 (bank), maka kreditur dapat meminta benda tertentu dalam bentuk barang, baik bergerak maupun tidak bergerak, sebagai agunan atas kredit yang diberikan. Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu Pasal 4 sampai 10 Undang-Undang jaminan Fidusia No. 42 Tahun 1999. Sifat Jaminan fidusia adalah perjanjian ikutan (accessoir) dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi. pembebanan barang sebagai agunan adalah: o Pembebanan Fidusia 1. Dibuat dengan akta notaris dalam bahasa Indonesia 2. Memuat sekurang-kurangnya : Identitas pihak pemberi dan penerima fidusia, meliputi: nama lengkap, agama, tempat tinggal/ tempat kedudukan, tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, status perkawinan dan pekerjaan. 3. Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia 4. Uraian mengenai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia, antara lain : Mencantumkan benda tersebut dan bukti kepemilikannya, Dalam hal benda yang menjadi obyek jaminan fidusia merupakan benda yang selalu berubah-ubah dan atau tidak tetap seperti stok bahan baku, barang jadi atau portofolio perusahaan efek, maka dalam akta jaminan fidusia dicantumkan uraian mengenai jenis, merek dan kualitas dari benda tersebut. 5. Nilai penjaminan 6. Nilai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia 7. Jaminan fidusia dapat diberikan kepada lebih dari 1 (satu) penerima fidusia dalam hal kredit konsorsium atau kredit sindikasi 8. Jaminan fidusia wajib didaftarkan di Kantor Pendaftaran Fidusia ditempat kedudukan pemberi fidusia dan pendaftarannya mencakup benda baik yang berada di dalam maupun diluar wilayah Negara Republik Indonesia. 9. Pendaftaran jaminan fidusia dimaksud dilakukan oleh penerima fidusia, kuasa atau wakilnya dengan melampirkan pernyataan pendaftaran jaminan fidusia yang memuat : Identitas pihak pemberi dan penerima fidusia Tanggal dan nomor akta jaminan fidusia, nama dan tempat kedudukan notaris yang membuat akta jaminan fidusia Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia Uraian mengenai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia Nilai penjaminan

75 Nilai benda yang menjadi obyek jaminan fidusia 10. Klausula yang perlu diperhatikan atau yang lazimnya terdapat pada akta jaminan fidusia, antara lain : Obyek jaminan fidusia benar-benar milik pemberi jaminan fidusia dan pembebanan jaminan fidusia dilakukan di tempat dimana obyek jaminan fidusia berada. Pembebanan jaminan fidusia menyebabkan obyek jaminan fidusia menjadi milik penerima fidusia/bank, namun obyek jaminan tersebut tetap berada pada dan dalam kekuasaan pemberi fidusia selaku peminjam pakai. Untuk obyek jaminan berupa piutang, pemberi gadai juga bertindak selaku penyelenggara administrasi/tata usaha dari obyek jaminan. Penerima fidusia atau wakilnya yang sah, setiap waktu berhak dan dengan ini telah diberi kuasa dengan hak subtitusi oleh pemberi fidusia untuk memeriksa tentang adanya dan tentang keadaan obyek jaminan fidusia tersebut. Apabila bagian dari obyek jaminan fidusia atau antara obyek jaminan fidusia ada yang tidak dapat digunakan lagi, maka pemberi fidusia berjanji dan karenanya mengikat diri untuk mengganti bagian dari atau obyek jaminan fidusia lainnya yang sejenis, yang nilainya setara dengan yang digantikan serta yang dapat disetujui penerima fidusia, sedang pengganti obyek jaminan fidusia tersebut termasuk dalam jaminan fidusia yang dinyatakan dalam akta ini. Pemberi fidusia tidak berhak untuk melakukan fidusia ulang atas obyek jaminan fidusia. Pemberi fidusia juga tidak dapat membebankan, menggadaikan atau menjual atau mengalihkan dengan apapun obyek jaminan fidusia kepada pihak lain, tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari penerima fidusia. Pemberi fidusia menjamin kepada penerima fidusia bahwa obyek jaminan fidusia tersebut tidak terikat sebagai tanggungan untuk menjamin hutang lain. Obyek jaminan fidusia yang insurable agar diasuransikan berdasarkan judgement dari pemutus kredit.87 4. Pendaftaran Jaminan Fidusia Suatu perubahan yang cukup mendasar dari perkembangan jaminan fidusia adalah mengenai pendaftaran. Sebelum keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia pendaftaran jaminan fidusia belum menjadi suatu kewajiban, tetapi setelah keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 Tahun 1999 pendaftaran jaminan fidusia semakin krusial. Pendaftaran tersebut memiliki arti yuridis

87 Surat Edaran BRI Tahun 2004, hal. 19.

76 sebagai suatu rangkaian yang tidak terpisah dari proses terjadinya perjanjian jaminan fidusia. selain itu, pendaftaran jaminan fidusia merupakan syarat untuk memenuhi asas publisitas dalam memperoleh kepastian hukum. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan setelah keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia, semua perjanjian jaminan yang diikat dengan jaminan fidusia didaftarkan.88 Akibat hukum perjanjian jaminan fidusia yang didaftar di kantor pendaftaran fidusia adalah melahirkan perjanjian kebendaan yang berkarakter kebendaan seperti droit de suite dan hak preferensi melekat pada kreditur penerima jaminan fidusia Yang didaftarkan adalah akta jaminan fidusia dan bendanya. Hal ini dapat dianalisis langsung dari akta jaminan fidusia yang dibuat oleh notaris, ditemukan fakta yuridis bahwa yang didaftarkan adalah akta jaminan fidusia dan benda jaminan fidusia. Contoh pendaftaran jaminan fidusia yang dituangkan dalam akta jaminan fidusia berbunyi sebagai berikut: Penerima fidusia atau kuasanya berwenang untuk melaksanakan pendaftaran jaminan fidusia kepada kantor pendaftaran fidusia untuk keperluan tersebut menghadap dihadapan pejabat atau instansi yang berwenang memberikan keterangan, menandatangani surat/formulir, mendaftarkan jaminan fidusia atau objek jaminan fidusia tersebut dengan melampirkan Pernyataan Pendaftran Jaminan Fidusia, dan mengajukan permohonan perubahan dalam hal terjadi perubahan atas data yang tercantum dalam sertifikat jaminan fidusia, selanjutnya menerima Sertifikat Jaminan Fidusia dan/atau pernyataan perubahan, serta dokumendokumen lain yang bertalian. Untuk keperluan itu membayar semua biaya dan menerima kwitansi segala uang pembayaran serta selanjutnya melakukan segala tindakan yang perlu dan berguna untuk melaksanakan ketentuan dari akta ini.89 Pernyataan bahwa yang didaftar adalah akta jaminan fidusia dan benda/

88Wawancara dengan pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan di Padangsidimpuan tanggal 26 Desember 2006. 89 Dikutip dari Pasal 11 Akta Jaminan Fidusia No. 132 tanggal 30 Juni 2006, Akta Notaris Model PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan.

77 objek jaminan fidusia ini juga didukung oleh keterangan yang diberikan oleh notaris L (notaris mitra Bank BRI Cabang Padangsidimpuan) yang menyebukan bahwa syarat pendaftaran jaminan fidusia ke kantor pendaftaran fidusia salah satunya adalah foto copy surat kemilikan kendraan bermotor yang telah dilegalisasi oleh notaris untuk agunan fidusia yang berbentuk benda bergerak. Pendaftaran jaminan fidusia sangat penting, namun dalam praktik perkreditan di lingkungan bank dan lembaga pembiayaan lainnya di Padangsidimpuan masih ada perjanjian jaminan fidusia yang tidak didaftarkan. Hal ini diungkapkan oleh notaris M yang menyatakan bahwa masih ada perjanjian jaminan fidusia yang dibuat di bawah tangan dan tidak didaftarkan dan ada juga yang dibuat dengan akta notaris tetapi tidak didaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia.90 Tetapi ketika diminta datanya menolak dengan alasan menyangkut rahasia bank. Setiap perjanjian penjaminan pada dasarnya masuk dalam kelompok hukum perikatan walaupun memiliki dimensi hukum kebendaan. Salah satu ciri hukum perikatan, adalah sifatnya yang fakultatif (tidak memaksa). Sesuai azas kebebasan berkontrak masing-masing pihak bebas saling mengikatkan diri selama syarat sahnya perjanjian terpenuhi. Sebaliknya, hukum kebendaan lebih banyak berciri imperatif (memaksa) karena berlaku umum untuk semua pihak. Suatu perjanjian penjaminan hak kebendaan memiliki kedua ciri tersebut. Walaupun para pihak bebas menyusun klausulanya, perjanjian itu wajib memuat beberapa unsur yang ditentukan undang-undang. Hal ini jelas terlihat dalam Undang-Undang No. 42 tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia (Undang-Undang Jaminan Fidusia). Tidak terpenuhinya unsur-unsur wajib/imperatif dalam undang-undang
90 Wawancara dengan Notaris M di Padangsidimpuan tanggal 4 Januari 2007.

78 penjaminan tidak berakibat perjanjian itu sendiri batal. Namun, pihak yang memiliki hak atas perjanjian itu tidak bisa menikmati haknya yang diberikan dalam undang-undang yang bersangkutan. Jaminan fidusia yang tidak memenuhi syarat imperatif dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia Fidusia (misalnya syarat akta jaminan fidusia dalam Pasal 6 Undang-Undang Jaminan Fidusia yaitu tidak dibuat secara notariil) tidak akan dapat didaftarkan pada Kantor Pendaftaran Fidusia. Akibatnya sang kreditur tidak menikmati hak mendahului yang lazimnya didapat dari perjanjian penjaminan sesuai Undang-Undang Jaminan Fidusia. Perjanjian yang disusun dengan konsep fidusia yang lama (fiduciairie eigendom overdracht atau biasa disingkat FEO) tetap sah dan berlaku mengikat pada kedua belah pihak. Namun, perjanjian itu tidak memberikan hak mendahului pada sang kreditur untuk mengambil pelunasan terlebih dahulu dibanding kreditur lainnnya. Kreditur hanya berhak atas pelunasan dari hasil penjualan objek jaminan bersama-sama dengan kreditur konkuren lainnya. Cara meminta eksekusinya pun berbeda. Kreditur tidak bisa menggunakan titel eksekutorial yang lazimnya dinikmati kreditur pemegang fidusia (lihat Pasal 29 UU Fidusia). Ia hanya dapat mengajukan gugatan perdata terhadap debitur. Konsekuensi bagi kreditur yang tidak melakukan pendaftran jaminan fidusia adalah kreditur tidak mendapat perlindungan hukum dari Undang-Undang Jaminan Fidusia. a. Prosedur dalam pendaftaran jaminan fidusia Pasal 11 sampai dengan Pasal 18 Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dan Peraturan Pemerintah No. 86 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia mengatur tentang pendaftaran fidusia adalah sebagai berikut ini. Permohonan pendaftaran fidusia dilakukan oleh penerima fidusia, kuasa,

79 atau wakilnya pada Kantor Pendaftaran fidusia. Permohonan itu diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia. Permohonan pendaftaran melampirkan pernyataan pendaftaran fidusia. Pernyataan itu memuat: Identitas pihak pemberi dan penerima fidusia Tanggal, tempat dan nomor akta jaminan fidusia, nama dan tempat kedudukan notaris yang membuat akta jaminan fidusia Data perjanjian pokok yang dijamin fidusia Uraian mengenai benda yang menjadi objek jaminan fidusia Nilai penjaminan. Nilai benda yang menjadi objek jaminan fidusia o Permohonan itu dilengkapi dengan: Salinan akta notaris tentang pembebanan jaminan fidusia Surat kuasa atau surat pendelegasian wewenang untuk melakukan pendaftaran jaminan fidusia Bukti pembayaran biaya pendaftaran jaminan fidusia (Pasal 2 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2000 Tentang tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia). a. Kantor Pendaftaran Fidusia mencatat jaminan dalam buku daftar fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran. b. Membayar biaya pendaftaran fidusia. Biaya pendaftaran jaminan fidusia diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia. Biaya Pendaftaran fidusia ditentukan secara berjenjang disesuaikan dengan besarnya nilai penjaminannya. Apabila nilai penjaminannya kurang dari Rp. 50.000.000., maka besarnya biaya pendaftarannya paling banyak Rp 50.000 besarnya biaya pendaftaran fidusia ini adalah 1 per mil dari nilai penjaminan (nilai kredit). Berikut ini

80 dicantumkan besarnya biaya pembuatan akta dan baiya pendaftaran.91 No. 1. Nilai Penjaminan < Rp 50.000.000. Besar Biaya Paling banyak Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. 50.000. 100.000. 200.000. 500.000. 1.000.000. 2.000.000. 3.000.000. 5.000.000. 7.500.000.

2 > Rp 50.000.000. s.d. Rp 100.000.000. 3. > Rp 100. 000. 000 s.d Rp. 250. 000.000. 4. > Rp 250.000.0000.s.d. Rp. 500.000.000. 5. > Rp 500.000.000. s.d. Rp 1.000.000.000. 6. > Rp 1.000.000.000. s.d. Rp.2.5 000.000.000. 7. > Rp. 2.500.000.000. s.d. Rp. 5.000.000.000. 8. > Rp. 5.000.000.000. s.d. 10.000.000.000. 9. > Rp. 10.000.000.000. ke atas Tabel biaya Pembuatan Akta 92

Walaupun biaya pembuatan akta jaminan telah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah, namun para notaris juga telah menentukan tarif yang dikenakan pada nasabah. Tarif yang ditentukan oleh notaris sebesar 2% dari nilai jaminan.
93

Menurut notaris L sebagai mitra kerja PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan dalam membuat akta Jaminan untuk setiap pembuatan akta jaminan fidusia untuk PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan dikenakan biaya yang sama yaitu sebesar Rp. 150.000 untuk setiap pembuatan akta fidusia, tanpa melihat besarnya nilai jaminan. Untuk bank lain ada yang Rp. 125.000, biayanya tidak sama untuk setiap bank. Berkas permohonan fidusia terdiri dari: a. Pernyataan pendaftaran jaminan fidusia b. Salinan akta jaminan fidusia (notariil) c. Surat Kuasa atau surat pendelegasian wewenang untuk melakukan pendaftaran jaminan fidusia d. Bukti pembayaran biaya pendaftaran jaminan fidusia94 Menurut Notaris L dalam praktek yang biasa dilakukannya, untuk
91 Salim HS, op. cit., hal 84. 92 PP No. 86 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia Tanggal 30 September 2000. 93 Salim HS, ibid., hal. 85. 94 Surat Edaran BRI Tahun 2004, log. cit.

81 pendaftaran fidusia adalah: a. Membeli blanko formulir seharga Rp. 25.000 dan menyertakan surat pernyataan pendaftaran fidusia yang dibuat di bawah tangan b. Foto copy Bukti Pemilik Kenderaan Bermotor yang telah dilegalisasi oleh notaris. c. Foto copy KTP Pemberi dan Penerima Fidusia d. Surat Kuasa dari bank kepada notaris untuk mendaftarkan fidusia e. Salinan akta fidusia f. Bukti pembayaran biaya pendaftaran jaminan fidusia. Setelah mengisi semua formulir dengan benar kemudian dimasukkan ke loket pendaftaran dengan membayar sebesar Rp. 50.000 sampai Rp.75.000. Setelah selesai, membayar biaya pendaftaran fidusia sebesar 150.000.s/d. Rp. 200.000 untuk nilai penjaminan sebesar Rp. 100.000.000.s/d. Rp. 500.000.000, dan jika Rp. 500.000.000. ke atas dapat dilakukan negosiasi dengan pegawai Kantor Pendaftaran Fidusia. Jadi tidak harga mati, dapat dilakukan tawar menawar, hingga biaya pendaftaran ini berbeda-beda tergantung petugas dan keahlian kita dalam negosiasi. 95 Tentang biaya pendaftaran ini diatur dalam Pasal 2 ayat 3 yang menyatakan bahwa besarnya biaya pendaftaran jaminan fidusia ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah tersendiri mengenai penerimaan negara bukan pajak. Dapat disimpulkan bahwa biaya pembuatan akta jaminan fidusia ini tidak benar-benar mengikuti peraturan yang berlaku yaitu PP No. 86 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia oleh karena itu diharapkan ke depan agar pemerintah lebih memperketat pengawasan serta memberikan sanksi admistrasi yang tegas kepada notaris yang nakal. Diharapkan pemerintah dalam pendaftaran jaminan fidusia ini juga memberikan solusi yang lebih baik artinya biaya pendaftaran jaminan secara fidusia ini dibuat dengan harga/tarif yang seimbang dan sama menurut jumlah yang telah ditetapkan untuk menjamin kepastian hukum dan juga melakukan upaya pengawasan agar pegawai kantor pendafatran fidusia benar-benar melaksanakan peraturan yang berlaku dengan sebaik-baiknya.
95 Wawancara dengan Notaris L di Padangsidimpuan pada tanggal 2 Januari 2007.

82 c. Selanjutnya Kantor Pendaftaran fidusia mencatat jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran. Tujuannya adalah agar kantor pendaftaran fidusia tidak melakukan penilaian terhadap kebenaran yang dicantumkan dalam pernyataan pendaftaran jaminan fidusia, akan tetapi hanya melakukan pengecekan data yang dimuat dalam pernyataan pendaftaran jaminan fidusia. Tanggal pencatatan jaminan fidusia dalam buku daftar fidusia ini dianggap sebagai saat lahirnya jaminan fidusia. Hal ini berlainan dengan FEO dan cessi jaminan yang lahir pada waktu perjanjian dibuat antara debitur dan kreditur. Sebagai bukti bagi kreditur bahwa ia merupakan pemegang jaminan fidusia adalah sertifikat jaminan fidusia yang diterbitkan kantor pendaftran fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran jaminan fidusia. Penyerahan sertifikat ini kepada penerima fidusia juga dilakukan pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran. Dalam judul sertifikat jaminan fidusia dicantumkan kata-kata DEMI

KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. Sertifikat jaminan ini mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap. Apabila debitur cidera janji, penerima fidusia mempunyai hak untuk menjual benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasannya sendiri. Sertifikat jaminan fidusia ini sebenarnya merupakan salinan dari buku daftar fidusia yang memuat catatan tentang hal-hal yang sama dengan data dan keterangan yang ada saat pernyataan pendaftaran.

83 Ketentuan tentang adanya kewajiban pendaftaran ini merupakan hal yang yang sangat urgen dalam jaminan fidusia mengingat bahwa pada umumnya objek jaminan fidusia adalah benda bergerak yang tidak terdaftar sehingga sulit mengetahui siapa pemiliknya mengingat ketentuan dalam Pasal 1977 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu siapa yang menguasi benda bergerak maka ia akan dianggap sebagai pemiliknya (bezit geldt als volkomen titel). 5. Perjanjian Fidusia Merupakan Perjanjian yang Bersifat Assesoir Ketentuan Pasal 1 angka (2) Undang-Undang Jaminan Fidusia menyatakan bahwa jaminan fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak tanggungan yang tetap dalam penguasaan pemberi fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia terhadap kreditur lainnya. Ini berarti Undang-Undang Jaminan Fidusia secara tegas menyatakan jaminan fidusia adalah agunan atas kebendaan atau jaminan kebendaan (Zakelijke zekerheid) yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepdada penerima fidusia, yaitu hak yang didahulukan terhadap kreditur yang lainnya. Hak ini tidak hapus karena adanya kepailitan dan atau likuidasi pemberi fidusia (Pasal 27 ayat 3 Undang-Undang Jaminan Fidusia). Dengan demikian tidak ada alasan untuk menyatakan bahwa jaminan fidusia adalah perjanjian yang bersifat obligatoir (perorangan) bagi kreditur. Setelah keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 Tahun 1999

84 dapat diketahui secara pasti bahwa sifat perjanjian jaminan fidusia adalah assesoir yang sebelumnya masih meragukan bagi para ahli hukum. Pasal 4 Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia secara tegas dinyatakan bahwa jaminan fidusia merupakan perjanjian assesoir dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk

memenuhi suatu prestasi yang berupa memberikan sesuatu, atau tidak berbuat sesuatu, yang dapat dinilai dengan uang. Sebagai suatu perjanjian assesoir, perjanjian jaminan fidusia memiliki sifat sebagai berikut: a. Sifat ketergantungan terhadap perjanjian pokok b. Keabsahannya semata-mata ditentukan oleh sah tidaknya perjanjian pokok c. Sebagai perjanjian bersyarat, maka hanya dapat dilaksanakan jika ketentuan yang disyaratkan dalam perjanjian pokok telah atau tidak dipenuhi.96 Asas-asas Fidusia yang dimuat dalam surat edaran BRI tahun 2004 tertulis bahwa perjanjian jaminan fidusia merupakan perjanjian yang bersifat assesoir. Asas-asas tersebut adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Mengikuti bendanya (asas Droit de Suite) Didaftarkan di Kantor Pendaftaran Tanah (Asas Publisitas) Memberikan hak untuk menjual langsung (Eksekutorial) Obyek yang diikat fidusia adalah tertentu/terinci (Asas Spesialitas) 5. Merupakan Perjanjian ikutan (Assesoir) 97 Perjanjian fidusia merupakan perjanjian yang lahir dan tidak terpisahkan dari perjanjian kredit bank. Artinya perjanjian jaminan fidusia tidak akan ada tanpa didahului oleh suatu perjanjian yang disebut dengan perjanjian pokok/dasar Keterkaitan sifat perjanjian jaminan fidusia dengan perjanjian kredit dapat dilihat dari isi perjanjian jaminan fidusia baik yang dibuat dengan akta notaris
96Gunawan Widjaya dan Ahmad Yani, op. cit., hal. 125. 97 Surat Edaran BRI Tahun 2004, hal. 17.

85 maupun yang dibuat di bawah tangan. Hal ini erat kaitannya dengan asas hukum yang paling urgen yang mendasari sistem hukum perjanjian yakni asas yang menentukan lahirnya perjanjian, asas yang berkenaan dengan isi perjanjian dan asas yang berhubungan dengan pelaksanaan perjanjian. Perjanjian jaminan fidusia selalu dan harus dibuat secara tertulis, oleh karena itu terdapat bermacam-macam model perjanjian jaminan fidusia sesuai dengan keinginan masing-masing bank. Dan setiap bank mempunyai karakteristik tersendiri baik dari segi bentuk maupun dari segi isi perjanjiannya. Hal ini didasarkan kepada asas kebebasan berkontra yang dianut dalam hukum perjanjian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Perjanjian jaminan fidusia adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjanjian kredit sebagai perjanjian induknya. Dalam perjanjian kredit telah ditentukan hal-hal yang telah disepakati oleh debitur dan kreditur, antara lain debitur memberikan jaminan fidusia. Kesepakatan tersebut berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak. Apabila debitur wanprestasi, kreditur dapat melaksanakan haknya sesuai dengan isi perjanjian. Setelah keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 tahun 1999, bentuk perjanjian fidusia secara tegas dinyatakan harus dibuat dengan akta notaris.98 Alasan pembentuk undang-undang menetapkan akta notaris adalah bahwa akta notaris merupakan akta otentik sehingga memiliki kekuatan pembuktian sempurna. Namun menurut Sutan Remy Sjahdeini: tidak jelas alasan harus dibuatnya pembebanan benda dengan jaminan fidusia secara notaril, mengingat selama ini perjanjian fidusia cukup dibuat dengan akta di bawah tangan.99
98 Lihat Pasal 5 ayat 1 UU No. 42 Tahun 1999. 99 Sutan Remy Sjahdeini, Komentar Pasal Demi Pasal UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan

86 Keharusan tersebut dihubungkan dengan kewajiban selanjutnya berupa pendaftaran di Kantor Pendaftaran Fidusia, tentunya juga masih dipertanyakan kemanfaatan pembebanan benda dengan jaminan fidusia secara notaril tersebut dibandingkan dengan pembebanan di bawah tangan, secara ekonomis pembebanan secara notariil akan sangat memberatkan para debitur, terutama debitur pengusaha lemah. Meskipun biaya pembuatan akta telah diatur dengan Peraturan Pemerintah, namun karena tidak ada pilihan lain kecuali memakai jasa notaris yang izin prakteknya di daerah yang bersangkutan, notaris dapat secara sewenang-wenang untuk menetapkan biaya pembuatan akta.100 Lagi pula catatan pada notaris yang berkenaan dengan lahirnya pembebanan fidusia tidak dapat diakses oleh publik. Berbeda dengan catatan pada kantor registrasi yang dinyatakan pada Pasal 18 UU No. 42 Tahun 1999 sebagai terbuka untuk umum yang pada kelanjutannya tidak dapat dimanfaatkan sama sekali oleh publik untuk mengetahui status pembebanan jaminan atas suatu barang. Masih banyak hal-hal yang perlu dikaji lebih jauh sehubungan dengan berlakunya UU No. 42 Tahun 1999, jaminan fidusia ini dapat menjadi amat berguna bagi ekonomi nasional secara makro. Oleh karena itu, perlu kiranya ada suatu komitmen yang kuat dari pihak-pihak terkait, seperti Menteri Kehakiman dan HAM dalam menjalankan administrasi kantor registrasi fidusia. Juga Mahkamah Agung agar memiliki persepsi yang sama atas visi dan misi UndangUndang fidusia ini, sehingga fidusia sebagai suatu instrumen jaminan yang diterima secara luas. Apabila perjanjian jaminan fidusia itu dibuat dibawah tangan maka kreditur tidak memperoleh hak untuk didahulukan (preferen) dan juga tidak dilindungi dengan asas droit de suite. Penegasan bentuk perjanjian jaminan fidusia dengan aka notaris harus diartikan bersifat fakultatif (tidak memaksa) sebab Undang-Undang Jaminan Fidusia tidak menyebutkan sanksi apabila tidak dibuat
Fidusia, Jurnal Hukum Bisnis, Vol. 10, 2000, hal. 43. 100 Ibid.

87 dengan akta notaris dan tidak didaftarkan di Kantor Pendaftaran Fidusia tetapi kreditur hanya tidak akan mendapatkan haknya sebagai kreditur yang pereferen dan tidak dapat dilindungi dengan asas droit de suite. Fenomena yang terjadi dalam masyarakat masih banyak perjanjian jaminan fidusia yang tidak dibuat dengan akta notaris dan tidak didaftarkan, perbuatan dari lembaga pembiayaan bisnis tersebut tidak sesuai dengan tujuan Undang-Undang Jaminan fidusia artinya Undang-Undang Jaminan Fidusia berlaku terhadap setiap perjanjian yang membebani benda dengan jaminan fidusia. Oleh karena itu perjanjian yang dimaksud dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia bukan hanya berlaku terhadap perjanjian jaminan fidusia di lingkungan perbankan saja, tetapi juga meliputi perjanjian kredit di lingkungan lembaga pembiayaan bisnis lainnya yang membuat perjanjian jaminan fidusia. Secara tegas tidak dijelaskan dalam penjelasan umumnya maupun dalam penjelasan pasalnya bahwa Undang-Undang Jaminan Fidusia berlaku bagi lembaga pembiayaan bisnis bukan bank tetapi dari kata-kata setiap perjanjian yang tercantum dalam pasal 2 Undang- Undang Jaminan Fidusia dapat ditafsirkan bahwa Undang-Undang Jaminan Fidusia berlaku juga bagi lembaga pembiayaan bisnis bukan bank. Penafsiran yang membawa makna dubius dapat diselesaikan dengan pendekatan sistem. Melalui pendekatan sistem, Pasal 2 Undang-Undang Jaminan Fidusia yang isinya adalah Undang-Undang ini berlaku terhadap setiap perjanjian yang bertujuan untuk membebani benda dengan jaminan fidusia. Harus diartikan sebagai elemen yang mempunyai makna penting dalam kaitannnya dengan pasalpasal lain dari Undang-Undang Jaminan Fidusia secara keseluruhan. Pasal 2

88 Undang-Undang Jaminan Fidusia tersebut mempunyai makna yang penting jika dikaitkan dengan perbuatan hukum yang berkaitan dengan pembebanan benda sebagai jaminan fidusia. Dapat disimpulkan dengan penelitian ini bahwa sifat perjanjian jaminan fidusia merupakan perjanjian yang bersifat assesoir dan bukan perjanjian yang berdiri sendiri.

6. Perubahan Status Yuridis Atas Kemilikan Benda Jaminan Fidusia Pengertian kemilikan benda dalam hukum jaminan memiliki makna yang luas mencakup hak milik atas benda dan hak penguasaan atas benda. Jika seorang debitur menyerahkan harta benda sebagai jaminan kepada krediturnya berarti sebagian kekuasaan atas kemilikan benda itu beralih kepada kreditur. Jaminan fidusia adalah jaminan kebendaan yang dikenal dalam hukum positif, yang memberikan keuntungan secara ekonomis kepada pelaku usaha bisnis jika dibandingkan dengan lembaga jaminan gadai. Keuntungan ini dilihat dari adanya penguasaan terhadap benda jaminan sehingga usaha tetap berjalan dan pinjaman kredit dapat dikembalikan dengan lancar. Fiducia Eigendom Overdracht (FEO), untuk selanjutnya disebut fidusia, merupakan pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda. Tetapi penyerahan hak milik atas benda jaminan fidusia tidaklah sempurna seperti pengalihan hak milik dalam jual beli, pengalihan hak hanya secara constitutum prossesorium, artinya secara yuridis hanya hak kepemilikannya yang dialihkan sedangkan barangnya berada dalam kekuasaan pemberi fidusia.

89 Pengalihan hak dalam perjanjian jaminan fidusia masih bergantung pada satu syarat yaitu apabila pemberi fidusia melakukan wanprestasi. Ini berarti kreditur penerima fidusia belum sepenuhnya sebagai pemilik benda. Penyerahan yuridis yang sudah terjadi, hak miliknya terbatas sebagai pemilik jaminan. Dalam praktek perkreditan dengan jaminan terdapat dua gejala hukum yang masih meragukan yaitu: 1. Pemberi jaminan fidusia sejak ditandatangi akta perjanjian fidusia berubah kedudukannya sebagai peminjam pakai atau peminjam pengganti dan bukan lagi sebagai pemilik benda.101 Hal ini sejalan dengan surat edaran BRI tahun 2004, bahwa pembebanan jaminan fidusia menyebabkan obyek jaminan fidusia menjadi milik penerima fidusia/bank, namun obyek jaminan tersebut tetap berada pada dan dalam kekuasaan pemberi fidusia selaku peminjam pakai.102 2. Pemberi jaminan fidusia bukan pemilik benda secara yuridis tetapi sebagai pemilik manfaat.103 Dalam hal yang pertama, pengalihan hak milik atas benda jaminan fidusia membawa akibat hukum bahwa debitur pemberi jaminan fidusia semula sebagai pemilik kemudian berubah sebagai peminjam pakai. Sebaliknya dalam hal yang kedua pihak debitur pemberi jaminan fidusia tetap merupakan pemilik benda jaminan yang memanfaatkan barang tersebut sedangkan kreditur penerima jaminan fidusia hanya menerima penyerahan benda sebagai jaminan utang dalam arti yuridis. Kaitannya dengan Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 Tahun 1999,
101 Munir Fuady, loc. cit. 102 Surat Edaran BRI Tahun 2004, log. cit. 103 Wawancara dengan Notaris M tanggal 19 Desember 2006 di Padangsidimpuan, Dan Notaris L tanggal 26 Desember 2006 di Padangsidimpuan.

90 perjanjian jaminan fidusia merupakan perjanjian kebendaan yang murni dan diatur secara tersendiri dalam undang-undang sebagai bagian dari sistem hukum jaminan kebendaan. Dengan karakter kebendaan, status kreditur penerima jaminan fidusia hanya sebagai pemilik benda jaminan. Dilihat dari aspek hukum perikatan, hak kreditur sebagai pemilik benda jaminan baru muncul apabila dipenuhinya syarat tangguh yang tercantum dalam Pasal 1263 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Jadi dengan syarat menangguhkan ini, menyebabkan suatu perikatan belum lagi mempunyai daya kerja perikatan atau pemenuhan perikatan belum dapat dilaksanakan. Lahirnya benda kemilikan bagi kreditur penerima jaminan fidusia adalah pada saat dilakukan pendaftaran di kantor pendaftaran fidusia. Dalam pelaksanaan jaminan secara fidusia setelah jaminan fidusia lahir secara hukum/setelah dilakukan pendaftaran di kantor pendaftaran fidusia secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut: si peminjam harus mengizinkan bank untuk melakukan setiap perbuatan yang diwajibkan oleh bank dari waktu ke waktu guna melaksanakan hak-hak bank di bawah perjanjian. Si peminjam akan segera menyerahkan kepada bank segala surat-surat serta dokumen yang dianggap perlu oleh bank untuk memperoleh manfaat juga hak-hak serta kuasa-kuasa penuh dari perjanjian, tanpa pembatasan setiap dokumen, yang memperpanjang, mengubah, mengganti, atau memindahkan perjanjian ini. Si Pemberi fidusia dengan ini memberikan kuasa yang tidak dapat ditarik kembali kepada bank untuk bertindak dan untuk menandatangani setiap dokumen atau surat atas nama si peminjam. Seandainya si peminjam tidak dapat membayar kepada bank suatu jumlah

91 yang jatuh pembayarannya dan yang wajib dibayar oleh si peminjam di bawah dokumen-dokumen utang dari perjanjian, maka tanpa tuntutan untuk membayar atau pemberitahuan untuk memperoleh keputusan, perintah atau kuasa dari suatu pengadilan, bank dapat menjual atau melepaskan dengan cara lain barang-barang agunan atau sesuatu bagian dari barang-barang itu. Setiap pembayaran atau pelepasan lainnya dapat dilakukan pada setiap waktu dan tempat, umum atau di bawah tangan, dengan atau tanpa iklan atau pemberitahuan mengenai waktu dan tempatnya, dengan harga yang dianggap paling baik oleh bank. Pembeli barang-barang itu memiliki hak mutlak, bebas dari setiap tuntutan atau setiap jenis hak dari si peminjam, termasuk penguasaan kembali, hak-hak itu semuanya dengan ini dilepaskan oleh si peminjam. Dalam melaksanakan setiap hak penjualan di bawah perjanjian ini, tidak akan perlu bagi bank untuk membuktikan jumlah, yang pembayarannya jatuh pada waktu itu dan harus dibayar oleh si peminjam kepada bank di bawah dokumendokumen utang atau perjanjian, bank atau wakilnya berhak menentukan jumlah, pembayarannya pada waktu itu dan harus dibayar oleh si peminjam kepada bank berdasarkan buku-buku serta catatan-catatan bank, tetapi tanpa mengurangi hak si peminjam kemudian untuk membuktikan, bahwa jumlah tersebut adalah kurang dari jumlah yang ditentukan semula oleh bank atau wakilnya, untuk memperoleh selisihnya dari bank, tetapi bank tidak bertanggung jawab kepada si peminjam atas ganti kerugian atau bunga dalam peristiwa tersebut. Apabila perlu bank dapat bertindak atas nama si peminjam selama melaksanakan sesuatu hak di bawah perjanjian, maka si peminjam memberikan kuasa penuh dengan hak substitusi kepada bank atau wakilnya apabila untuk

92 melaksanakan hak-hak yang dianggap perlu yang ada hubungannya dengan pelaksanaan hak-hak tersebut. Surat kuasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perjanjian. Tanpa kuasa dokumen-dokumen utang dan perjanjian tidak akan dibuat. Oleh karena itu surat kuasa tidak akan dapat ditarik kembali dan tidak akan berakhir karena peristiwa dalam Pasal 1813 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang isinya adalah: Pemberian kuasa berakhir: dengan ditariknya kembali surat kuasanya si kuasa, dengan pemberitahuan penghentian kuasanya oleh si kuasa, dengan meninggalnya, pengampuannya, atau pailitnya si pemberi kuasa maupun si kuasa, dengan perkawinannya si perempuan yang memberikan atau menerima kuasa. Setiap hasil penjualan akan dipergunakan oleh bank untuk membayar utang si peminjam dan apabila lebih akan dibayar oleh bank kepada si peminjam tetapi tanpa kewajiban pada pihak bank untuk membayar bunga dan kerugian lainnya. Apabila hasil penjualan barang masih belum mencukupi untuk pembayaran utang, si pemijam harus membayar sisanya kepada bank hingga tanggal pembayarannya. Perjanjian akan mengikat bank dapat dilaksanakan oleh bank serta para pengganti dan penerima hak mereka. E. Perlindungan Hukum Terhadap Pemberi dan Penerima jaminan Fidusia 1. Objek Jaminan Fidusia Tidak Dapat Dimilki oleh Bank Dalam hukum jaminan fidusia, persoalan yang sering menimbulkan masalah yuridis adalah ketika debitur pemberi jaminan fidusia tidak melaksanakan suatu kewajiban yang seharusnya telah diperjanjikan. Kelalaian debitur merupakan bukti adanya wanprestasi.

93 Wanprestasi debitur pada prinsipnya dapat dikategorikan dalam tiga hal yaitu: 1. Apabila debitur tidak membayar jumlah utang kepada bank berdasarkan perjanjian kredit sesuai waktu yang telah ditetapkan. 2. Debitur pemberi fidusia lalai dalam memenuhi kewajibannya untuk membayar utang kepada bank dan cukup dibuktikan dengan lewatnya waktu yang ditentukan dalam perjanjian tanpa adanya surat teguran dari juru sita. 3. Wanprestasi tidak ada diatur sama sekali dalam akta perjanjian jaminan fidusia tetapi cukup diatur dalam perjanjian pokoknya.104 Pada praktek PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan sebelum mengatakan debitur telah melakukan wanprestasi selalu didahului dengan pembinaan dan kunjungan secara kekeluargaan, teguran I, II, III jika masih belum melakukan kewajibannya dapatlah dikatakan telah terjadi wanprestasi pada debitur.105 Menurut Pak Lubis sebagai Supervisor ADK pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan sebelum dilayangkan surat teguran I, II, III pihak BRI sudah mengetahui bahwa pemberi fidusia/debitur mulai goyang dalam arti usahanya tidak stabil, ini diketahui misalnya jika dia seorang pengusaha yang bergerak dibidang angkutan terjadi misalnya longsor atau banjir, otomatis perjalanan akan macet dan tertunda yang akibatnya pendapatan perusahaan akan menurun yang akan berdampak terhadap pembayaran kredit. Dalam hal ini pihak Bank BRI akan mengunjungi nasabah secara kekeluargaan dan berusaha untuk mencari solusi dengan berdiskusi dengan pihak nasabah/pemberi fidusia. Setelah dilayangkan surat teguran I, II, III, pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk juga belum langsung melakukan eksekusi terhadap barang
104 H. Tan Kamelo, op. cit., hal. 198. 105 Wawancara dengan Pak Riza, Bagian Marketing PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan pada tanggal 26 Desember 2006.

94 agunan tapi masih memberikan tenggang waktu 60 hari lagi untuk melakukan pembinaan/restrukturisasi/penyelesaian jika upaya ini juga tidak memberikan hasil maka PT Bank BRI (Persero) Tbk akan menetapkan debitur pemberi fidusia telah melakukan wanprestasi. Dengan fakta yuridis tersebut, wanprestasi menimbulkan akibat hukum bagi kreditur penerima fidusia yaitu melahirkan hak untuk melakukan eksekusi terhadap barang jaminan. Tapi bukan berarti memberikan hak kepada kreditur untuk langsung dapat memiliki benda jaminan. Tetapi dalam praktek bank selalu menguasai benda jaminan kalau debiturnya macet, padahal secara normatif hal ini tidak dibenarkan oleh undang-undang. Secara yuridis perlakuan kreditur untuk melakukan eksekusi, apabila debitur melakukan wanprestasi adalah sah, hal ini terkait dengan hal-hal yang telah disepakati oleh para pihak pada awal perjanjian dan dinyatakan dalam substansi perjanjian harus dilaksanakan dan mengikat bagi para pihak sebagai undang-udang.106 Dalam penelitian yang dilakukan pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan tidak ditemukan kasus jaminan fidusia yang sampai ke

pengadilan yang disebabkan oleh debitur melakukan wanprestasi (mungkin ini menyangkut rahasia bank) tetapi dapat dianalisa dari pengikatan agunan PT Bank BRI (Persero) Tbk dalam surat edaran tahun 2004 menegaskan bahwa bila suatu saat debitur melakukan wanprestasi PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsididmpuan telah melakukan antisipasi, yaitu dengan menyatakan hak untuk menjual langsung benda jaminan fidusia yang dijumpai dalam asas-asas jaminan fidusia yang menjadi landasan operasional PT Bank BRI (Persero) Tbk
106 Lihat Pasal 1320 jo 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

95 cabang Padangsidimpuan. Menurut Keterangan dari Notaris L ada juga bank yang melakukan antisipasi apabila debitur melakukan wanprestasi dengan terlebih dahulu meminta tanda tangan dalam sebuah kwitansi. Dan ini biasanya model perjanjian dilakukan dibawah tangan sebab kreditur tidak mendapatkkan hak preferen yang dijanjikan oleh Undang-Undang No. 42 Tahun 1992.107 Dalam penelitian yang dilakukan di Pengadilan Negeri Padangsidimpuan ditemukan kasus dengan register No.13/PDT.G/1992/PN.PSP. Dalam perkara antara Tuan Hakim Pandapotan, Ny. Sioe Pie Tju sebagai penggugat melawan Tn Matheuis Sahertiam (tergugat I), Kantor Lelang Negara (tergugat II), Pemerintah RI,Cq. Menteri Keuangan RI di Jakarta, Cq. Panitia Urusan Piutang negara Cabang Medan (tergugat III), BRI Pusat Jakarta, Cq. BRI Cabang

Padangsidimpuan (tergugat IV). Bahwa penggugat I dan II dalah suami isteri dan mempunyai harta bersama sebidang tanah hak milik dengan sertifikat hak milik No. 31 Tahun 1982 beserta bangunan rumah toko di atasnya yang terletak di jalan Thamrin No. 68 Padangsidimpuan. Berdasarkan suatu persetujuan dengan Viktor Harahap seorang partikulir yang tinggal di Jl. Mesjid Raya Baru No. 19 Padangsidimpuan melakukan bersama ikatan akta credit Verband No. 489/Des/Psp Timur/1987 Tanggal 17 Desember 1987 dengan tergugat IV yaitu Bank Rakyat Indonesia Cabang Padangsidimpuan sebesar Rp 35.000.000.(tiga puluh lima juta) dengan agunan tanah hak milik Viktor Harahap dengan sertifikat hak milik No. 1 tanggal 14 Mei 1974 seluas 14.000 m2 terletak di Desa Batunadua Jae Kec. Padangsidimpuan. Bahwa tanah hak milik penggugat I dan II dengan sertifikat hak milik no.
107 Hasil wawancara dengan Notaris L, pada tanggal 9 Desember 2006.

96 31 tahun 1982 tidak diikutsertakan sebagai agunan pada akte kredit verband tertanggal 17 Desember 1987 tersebut. Karena Viktor Harahap tidak membayar credit beserta bunganya kepada tergugat IV, maka atas permintaan tergugat IV, maka tergugat II dan Tergugat III melakukan pelelangan atas barang agunan tanah hak milik sertifikat No. 1 Tahun 1974 bersama tanah hak milik sertifikat no.31 tahun 1982 beserta bangunan rumah toko di atasnya. Terutama menyangkut sertifikat hak milik No. 31 tahun 1982 beserta rumah toko di atasnya adalah harta para penggugat yang tidak turut diagunkan kepada tergugat IV ternyata telah turut dilelang oleh tergugat II dan III dan tergugat I sebagai pembeli lelang pada tanggal 16 Januari 1992 No. 35/1991-1992. Seharusnya bank tidak meletakkan sita jaminan terhadap barang miliknya yang lain sebab tidak disebutkan dalam substansi perjanjian pokok, yang seharusnya benda-benda bergerak milik debitur yang lain terlebih dahulu diekekusi seperti benda bergerak yang dijadikan sebagai jaminan tambahan dalam bentuk fidusia yaitu berupa barang dagangan yang dinilai pada penelitian terahir sejumlah Rp 8.625.000. Berdasarkan fakta di atas penggugat I dan II mengajukan gugatan ini karena tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku dan merugikan para penggugat. Ditambah lagi pada tanggal 25 Februari 1992 dengan surat No. 3/PdtEks/1992/PN.Psp. Pengadilan negeri Padangsidimpuan telah memperingatkan para penggugat untuk mengosongkan tanah dan rumah toko kepunyaan para penggugat yang terletak di Jalam Thamrin No. 68 Padangsidimpuan. Selain alasan yang dikemukakan di atas Penggugat I pada tanggal 14 Januari 1992 juga telah membayar kepada tergugat III uang sebesar Rp. 4.090.910. (empat juta sembilan puluh ribu sembilan ratus sepuluh rupiah) sebagai angsuran utang kepada tergugat IV oleh karena itu tidak pantas tergugat III dan

97 tergugat IV melakukan secara sepihak lelang eksekusi atas tanah dan rumah toko yang berada di atasnya di Jl. Thamrin No. 68 dengan sertifikat hak milik No. 31 Tahun 1982. Demikian juga dengan lelang terhadap tanah dengan sertifikat hak milik No. 1 Tahun 1974 atas nama Viktor Harahap yang berlangsung pada tanggal 16 Januari 1992 No. 35/1991-1992 oleh tergugat-tergugat, ternyata hanya dengan harga lelang sebesar Rp. 3000000. (tiga juta rupiah) padahal dengan harga sedikit dibawah harga pasaran yang berlaku pada saat itu, tanah tersebut dapat dijual dengan nilai sebesar Rp. 30.000.0000.(tiga puluh juta rupiah) dengan demikian

oleh para penggugat tindakan para tergugat-tergugat adalah tindakan sekongkol yang dengan sengaja handak merugikan para penggugat oleh karena itu para penggugat cukup punya alasan untuk menggugat dan memohon pembatalan lelang eksekusi atas tanah dengan sertifikat No. 1 Tahun 1974 karena jelas bertentangan dengan kepatutan, keadilan, berdasarkan hukum yang berlaku. Debitur mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri

Padangsidimpuan. Dengan alasan keberatan antara lain adalah debitur/penggugat memohon pembatalan lelang eksekusi atas tanah dengan sertifikat No. 1 Tahun 1974 tersebut dan mengangkat sita jaminan terhadap harta debitur yang tidak disebutkan dalam perjanjian pokok berupa tanah dan rumah toko dengan sertifikat No. 31 Tahun 1982. Pengadilan Negeri Padangsidimpuan telah memutuskan bahwa lelang terhadap agunan dengan sertifikat tanah No. 1 Tahun 1974 tersebut adalah tidak sah dan melawan hukum serta membatalkan jual beli lelang tersebut. Dan juga menyatakan sita jaminan yang telah dilaksanakan oleh Jurusita Pengadilan Negeri

98 Padangsidimpuan atas tanah dan rumah toko yang ada di atasnya dengan sertifikat hak milik No. 31 Tahun 1982 yaitu sita tanggal 25 April 1992 No. 13/Pdt.G/1992/PN.Psp, tidak berharga dan diangkat. BRI sebagai pihak yang kalah dalam perkara ini mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Medan, di sini hakim mengukuhkan keputusan Pengadilan negeri Padangsidimpuan, selanjutnya BRI melakukan kasasi ke Mahkamah Agung dan Mahkamah Agung juga mengukuhkan keputusan Pengadilan Tinggi Medan. Dalam kasus ini jaminan fidusia (jaminan tambahan) yang diletakkan atas barangbarang dagangan tidak diproses seharusnya kreditur lebih dahulu mengambil pelunasan dari barang-barang bergerak milik debitur. Dalam kasus di atas BRI cabang Padangsidimpuan tidak bertindak langsung sebagai pemilik agunan, tetapi masih melalui proses lelang secara umum terhadap agunan tetapi nilai penjualannya tidak sesuai dengan harga pasaran pada saat itu, hingga mengakibatkan debitur merasa dirugikan. Dapat disimpulkan bahwa hakim memutuskan batal terhadap lelang tersebut adalah disebabkan harga barang agunan jauh dibawah harga pasaran, walaupun dalam klausul perjanjian telah diatur tentang substansi perjanjian jika bertentangan dengan kepatutan dan keadilan, debitur dapat melakukan gugatan perdata ke pengadilan/meminta pembatalan kepada hakim.108 2. Terjadinya Overmacht Terhadap Objek Jaminan Fidusia Dalam perjanjian jaminan fidusia, pada pokonya ditentukan bahwa debitur pemberi fidusia memiliki kewajiban dan tanggung jawab atas keadaan dari setiap kehilangan, kemunduran, kehancuran, kemusnahan, pengurangan kualitas atau nilai dan kerusakan barang-barang yang dijadikan objek jaminan fidusia. Oleh karena itu debitur pemberi fidusia harus melakukan pemeliharaan agar benda
108 Materi Kuliah Hukum Bisnis Bu Yulfasni pada Tanggal 4 Januari 2007.

99 jaminan fidusia dalam keadaan baik. Debitur pemberi fidusia wajib mengganti benda jaminan fidusia apabila benda tersebut rusak atau hilang atau tidak dapat lagi dipakai. Kreditur penerima fidusia memiliki hak atas benda jaminan fidusia dalam kaitannya dengan penjaminan utang debitur. Dan realisasi ini terjadi apabila debitur melakukan wanprestasi yaitu tidak melakukan kewajiban membayar utang. Pertanggungjawaban utang tersebut adalah dengan meletakkan sita jaminan atas barang/benda yang menjadi agunan yang kemudian akan dijual menurut ketentuan hukum jaminan. Apabila agunan jaminan fidusia dalam keadaan rusak, dan debitur fidusia tidak dapat melunasi utangnya, penyitaan benda jaminan, atas permintaan kreditur fidusia tidak harus menunggu memperbaiki benda tersebut seperti dalam keadaan semula seperti pada saat debitur fidusia menyerahkan benda jaminan itu. Kelalaian atas kewajiban merawat benda jaminan fidusia adalah tanggung jawab debitur fidusia. Bagaiman jika terjadi keadaan memaksa artinya rusak, musnah, dan hilangnya benda jaminan diluar kekuasaan debitur ?. Keadaan memaksa adalah suatu keadaan dimana debitur tidak dapat melakukan prestasinya kepada kreditur, yang disebabkan adanya kejadian yang berada di luar kekuasaannya, seperti karena adanya gempa bumi, banjir, lahar, kebakaran dan lain-lain. Ketentuan tentang overmacht (keadaan memaksa) diatur dalam pasal 1244 dan 1245 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Pasal 1244 Kitab UndangUndang Hukum Perdata isinya adalah :Debitur harus dihukum untuk mengganti biaya, kerugian dan bunga, bila tak dapat membuktikan bahwa tidak dilaksanakannya perikatan itu atau tidak tepatnya waktu dalam melaksanakan

100 perikatan itu disebabkan oleh suatu hal yang tidak terduga, yang tak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya, walaupun tidak ada itikad buruk padanya. Pasal 1245 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata isinya adalah: Tidak ada penggantian biaya, kerugian, dan bunga, bila karena keadaan memaksa atau karena hal yang tejadi karena kebetulan, debitur terhalang untuk memberikan atau berbuat sesuatu yang diwajibkan, atau melakukan sesuatu perbuatan yang terhalang olehnya. Dari isi Pasal 1244 dan Pasal 1245 dapat dipahami bahwa undang-undang memberikan kelonggaran kepada debitur untuk tidak mengganti biaya, kerugian dan bunga kepada kreditur oleh karena keadaan memaksa diluar kekuasaan debitur, tetapi keadaan memaksa itu harus dapat dibuktikan oleh debitur. Keadaan memaksa ini dibagi menjadi dua macam, yaitu: a. Keadaan memaksa absolut b. Keadaan memaksa relatif Keadaan memaksa absolut adalah suatu keadaan dimana debitur sama sekali tidak dapat memenuhi utangnya kepada kreditur, oleh karena adanya gempa bumi, banjir bandang, kebakaran dan adanya lahar. Keadaan memaksa relatif adalah suatu keadaan yang menyebabkan debitur masih mungkin untuk melaksanakan prestasinya, tetapi pelaksanaan prestasi itu haru dilakukan dengan memberikan korban yang besar, yang tidak seimbang, atau menggunakan kekuatan jiwa yang berada di luar kemampuan manusia, atau kemungkinan tertimpa bahaya kerugian yang sangat besar. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa keadaan memaksa absolut, debitur tidak diwajibkan untuk mengganti biaya kerugian dan bunga sedangkan keadaan memaksa relatif debitur

101 masih dimungkinkan untuk melakukan prestasinya meskipun dengan menunda waktu pembayaran. Dalam Praktek PT Bank BRI (Persero) Tbk mengatur tentang overmacht ini dalam Surat Edaran BRI yang isinya adalah hapusnya jaminan fidusia karena hapusnya hutang, pelepasan hak atas jaminan fidusia oleh penerima fidusia dan musnahnya benda yang menjadi obyek jaminan fidusia. Maksud kalimat di atas bila dianalisa dengan cermat dapat dipahami bahwa apabila benda agunan musnah di luar kekuatan manusia maka jaminan fidusia dianggap hapus. Tetapi Menurut keterangan Pak Lubis sebagai kepala bagian admistrasi kredit, menyatakan bahwa: objek jaminan fidusia yang musnah itu telah diasuransikan (pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk selalu mewajibkan pemberi fidusia untuk mengasuransikan barang-barang agunan Pasal 3 bagian e dalam perjanjian hak milik atas kepercayaan/fidusia barang menurut format PT Bank BRI (Persero) Tbk terlebih dahulu dan musnahnya disebabkan oleh faktor yang sama dengan jenis asuransi yang dipilih oleh pemberi fidusia berdasarkan kesepakatan dengan PT Bank BRI (Persero) Tbk, misalnya asuransi kebakaran untuk kenderaan bermotor maka apabila terjadi kebakaran maka pemberi fidusia tidak berkewajiban lagi untuk membayar ganti rugi. Dan akan dikurangkan dengan jumlah utang yang dinilai sesuai dengan penjaminan yang telah diperjanjikan dengan pihak bank sejak awal atas kenderaan tersebut, apabila ternyata uang pengganti dari perusahaan asuransi tersebut tidak mencukupi

pemberi fidusia wajib membayar sisanya, dan bila lebih kreditur akan mengembalikan kepada pemberi fidusia dengan tidak ada kewajiban untuk membayar bunga atau ganti kerugian berupa apapun. Konsekuensinya apabila musnahnya barang tidak sesuai dengan jenis

102 asuransi yang dipilih, pemberi fidusia tetap harus mengganti sesuai dengan kewajiban pemberi fidusia seperti telah ditetapkan dalam dokumen perjanjian berdasarkan kepercayaan yang dibuat oleh PT Bank BRI (Persero) Tbk: Mengganti dengan barang-barang yang sama atau sekurangkurangnya sama nilainya apabila barang-barang dimaksud rusak atau tidak dapat dipergunakan sama sekali.109 3. Proses Eksekusi Jaminan Fidusia Salah satu ciri dari jaminan utang kebendaan yang baik adalah jika hak tanggungan itu dapat dieksekusi secara cepat dengan proses yang sangat sederhana, efisien dan memberikan kepastian hukum. Seperti di Amerika, kreditur boleh mengambil sendiri barang agunan tetapi dengan syarat dapat menghindari perkelahian. Jaminan fidusia juga memiliki unsur cepat, murah dan pasti yang diatur dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 Tahun 1999. Tetapi sebelum keluarnya UU No. 42 Tahun 1999 ketentuan tentang proses eksekusi ini sangat tidak jelas. Sehingga banyak kalangan yang menafsirkan bahwa proses eksekusi ini harus melalui gugatan biasa lewat pengadilan yang panjang, mahal dan memakan waktu yang sangat lama. Dalam Undang-Undang Rumah Susun No 16 tahun 1985 diatur dengan eksekusi di bawah tangan, tetapi ini hanya berlaku terhadap objek bangunan atas rumah susun. Undang-Undang Jaminan Fidusia mengambil pola eksekusi hak

tanggungan yang mengatur eksekusi fidusia secara bervariasi, sehingga para pihak dapat memilih model eksekusi yang diinginkan. Model-model eksekusi jaminan

109 Pasal 3 bagian c Akta Perjnjian Penyerahan Hak Milik Atas Kepercayaan (Fiducia Barang No. 132 Format PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan.

103 fidusia menurut Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 tahun 1999 adaalah sebagai berikut: A. Secara fiat eksekusi (dengan memakai titel eksekutorial), yakni lewat suatu penetapan pengadilan. B. Secara parate eksekusi, yakni dengan menjual (tanpa perlu penetapan pengadilan) di depan pelelangan umum. C. Dijual di bawah tangan oleh pihak kreditur sendiri D. Lewat gugatan biasa (meskipun tidak secara tegas diatur dalam UU No. 42 Tahun 1999) 1. Eksekusi Fidusia Dengan Titel Eksekutorial Dalam proses pengikatan jaminan fidusia dinyatakan bahwa jaminan fidusia harus dibuat dengan akta notaris dan didaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia untuk mendapatkan kepastian hukum bagi kreditur. Dalam akta fidusia yang dibuat oleh notaris ini selalu terdapat irah-irah yang berbunyi DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA irah-irah inilah yang memberikan titel eksekutorial, yakni titel yang mensejajarkan kekuatan akta tersebut dengan putusan pengadilan. Dengan demikian akta tersebut dapat langsung dieksekusi (tanpa perlu lagi suatu putusan pengadilan). Dengan demikian fiat eksekusi adalah seperti mengeksekusi suatu putusan pengadilan yang telah berkekuatan pasti. Yakni dengan cara meminta fiat dari ketua pengadilan yaitu memohon penetapan dari ketua pengadilan untuk melakukan eksekusi dan ketua pengadilan yang akan memimpin eksekusi. Menurut Hakim afandi kreditur yang minta penetapan pengadilan ini tidak

104 pernah terjadi lagi setelah keluarnya UU No. 42 tahun 1999 sebab para pihak kreditur dan debitur telah mempunyai opsi eksekusi yang jelas diakui sah secara hukum yang prosesnya jauh lebih cepat, mudah dan praktis serta lebih menguntungkan bagi para pihak. 2. Eksekusi Fidusia Secara Parate Eksekusi Lewat Pelelangan Umum Eksekusi jaminan fidusia dapat juga dilakukan lewat lembaga pelelangan umum (kantor lelang), dan hasil pelelangan tersebut diambil untuk melunasi pembayaran piutang debitur. Parate eksekusi ini dapat dilakukan tanpa melibatkan pengadilan yang diatur dalam pasal 29 ayat (1) huruf b yang isinya adalah: Penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaan penerima fidusia sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan. 3. Eksekusi Fidusia Secara Parate Eksekusi Dengan Penjualan di Bawah Tangan Jaminan fidusia dapat juga dieksekusi secara parate eksekusi

(mengeksekusi tanpa lewat pengadilan) dengan cara menjual benda objek fidusia tersebut dibawah tangan, dengan memenuhi syarat yang telah diatur dalam UU No.42 Tahun 1999 Pasal 29 yang isinya adalah: Dilakukan berdasarkan kesepakatan antara pemberi dan penerima fidusia. Jika dengan cara penjualan di bawah tangan tersebut dicapai harga tertinggi yang menguntungkan para pihak. Diberitahukan secara tertulis oleh pemberi/penerima fidusia kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Diumumkan dalam sedikit-dikitnya dalam dua surat kabar

105 yang beredar di daerah yang bersangkutan. Pelaksanaan penjualan dilakukan setelah lewat waktu satu bulan sejak diberitahukan secara tertulis. 5. Eksekusi Fidusia Secara Mendaku Eksekusi fidusia secara mendaku adalah eksekusi fidusia dengan cara mengambil barang fidusia untuk menjadi milik kreditur secara langsung tanpa lewat transaksi apapun. UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia secara tegas melarang eksekusi secara mendaku ini. Diatur dalam Pasal 33 UU No. 42 Tahun 1999 yang isinya adalah: Setiap janji yang memberikan kewenangan kepada penerima fidusia untuk memiliki benda yang menjadi jaminan fidusia apabila debitur cidera janji akan batal demi hukum. Ketentuan yang melarang eksekusi secara mendaku menunjukkan bahwa UU No. 42 Tahun 1999 ini kurang konsekuen sebab hukum jaminan fidusia dianggap sebagai penyerahan hak milik secara kepercayaan maksudnya benda objek fidusia tersebut sudah berpindah kepemilikannya kepada pihak kreditur, sementara pihak kreditur menyerahkan penguasaan benda tersebut kepada pihak debitur secara kepercayaan. Jika hendak konsekuen berlakunya sistem penyerahan hak milik secara kepercayaan ini, maka benda tersebut sudah menjadi milik pihak kreditur, mestinya larangan eksekusi mendaku ini tidak perlu ada.Tetapi secara logika bila dianalisa secara mendalam maksud dari pembentuk Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 dengan larangan eksekusi secara mendaku ini adalah untuk memberikan perlindungan kepada debitur pemberi fidusia apabila debitur cidera janji, artinya agar kreditur melakukan eksekusi yang fair dan transparan sehingga

106 debitur tidak merasa dirugikan sebab eksekusi melalui badan pelelangan negara secara umum saja dapat menyebabkan harga barang jaminan sangat tidak seimbang dengan harga pasar (kasus yang diperoleh dari pengadilan negeri Padangsidimpuan Register No.13/PDT.G/1992/PN. PSP.) apalagi eksekusi secara mendaku otomatis kreditur penerima fidusia akan sangat berkuasa. 6. Eksekusi Fidusia Lewat Gugatan Biasa Dalam Pasal 29 UU No. 42 tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia dijelaskan model-model eksekusi jaminan fidusia dan di sana tidak disebutkan bahwa pihak kreditur dapat menempuh prosedur eksekusi lewat gugatan biasa ke pengadilan. Secara logika model-model eksekusi khusus tidak untuk meniadakan hukum acara yang umum, tetapi untuk menambah ketentuan yang ada dalam hukum acara umum. Tujuan model-model eksekusi khusus yang diatur dalam Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia adalah untuk mempermudah dan membantu pihak kreditur menagih utangnya dengan jalan mengeksekusi barang jaminan tersebut, disebabkan eksekusi fidusia lewat gugatan biasa memakan waktu yang lama dan prosedur yang berbelit-belit, tidak praktis dan sangat tidak efisien. Dalam praktek PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan dalam hal eksekusi ini Pak Riza memberikan penjelasan sebenarnya belum ada kasus tentang wanprestasi debitur yang berakibat lahirnya hak kreditur untuk melakukan eksekusi setelah keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 tahun 1999, tetapi pada saat ini kalaupun misalnya ada debitur yang melakukan wanprestasi pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan belum

107 dapat berbuat apa-apa karena sedang menunggu peraturan baru yang mengatur tentang eksekusi terhadap agunan bank pemerintah. Tetapi selama ini jika ada kredit macet/debitur yang melakukan wanprestasi penagihannya diserahkan kepada Panitia Urusan Piutang Negara.110 Penyelesaian kredit macet pada bank-bank swasta diselesaikan melalui jalur pengadilan. Sedangkan khusus terhadap kredit macet pada bank-bank pemerintah, selama ini proses penagihannya dilakukan lewat Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN), yang dibentuk dengan Undang-Undang No.49/Prp/1960, dan Badan Usaha Piutang dan Lelang Negara (BUPLN), yang dibentuk dengan Keputusan Presiden No.21 Tahun 1991. Pasal 2 dari Keppres No. 21 tahun 1991 menentukan bahwa BUPN mempunyai tugas menyelenggarakan pengurusan piutang negara dan lelang baik yang berasal dari penyelenggaraan pelaksanaan tugas PUPN maupun lainnya ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Dalam hal tertentu, kredit macet pada bank pemerintah, atau bank swasta yang ada dana pemerintah dapat dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi. Contohnya tentang tuduhan korupsi ini adalah heboh kredit macet di BAPINDO diawal tahun 1994.111 PUPN bertugas menyelesaikan piutang negara yang telah diserahkan padanya oleh instansi pemerintah atau badan-badan negara. Dengan demikian bagi bank milik negara menyelesaikan kredit macetnya harus dilakukan melalui Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN), dimana dengan adanya penyerahan piutang macet kepada badan tersebut secara hukum wewenang penguasaan atas hak tagih dialihkan kepadanya.

110 Hasil wawancara dengan Pak Riza, Bagian Marketing Bank BRI Cabang Padangsidimpuan pada tanggal 26 Desember 2006. 111 Frans Hendra Winarta, Teknisi Penyelesaian Kredit Bermasalah Melalui Pendekatan Hukum, 2003, www hukumonline.com (terakhir dikunjungi pada bulan Februari 2007).

108 4. Kewenangan Pemberi Fidusia Terhadap Barang Jaminan Kewenangan hukum dalam perjanjian jaminan fidusia sangat perlu. Jaminan perkreditan selalu keliru dengan istilah berwenang untuk bertindak dan berwenang untuk menguasai. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dianut ajaran bahwa untuk sahnya suatu penyerahan mempunyai syarat antara lain adalah: harus dilakukan oleh orang yang berwenang menguasai bendanya. Biasanya orang tersebut adalah pemilik benda. Jadi yang dimaksud oleh Kitab Undang-Undang Hukum Perdata adalah orang yang wenang menguasai dan bukan orang yang wenang bertindak. Realisasi dari ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ini dapat dirujuk kepada hukum jaminan fidusia, sehingga jaminan fidusia hanya dapat diberikan oleh pemilik yang mempunyai kewenangan menguasai benda jaminan fidusia. secara yuridis, prinsip ini akan membawa konsekuensi bahwa apabila debitur pemberi jaminan fidusia bukan orang yang mempunyai kewenangan menguasai terhadap harta benda jaminan fidusia, berarti jaminan fidusia yang dilahirkan adalah cacat hukum. Sebab syarat bagi sahnya jaminan fidusia adalah bahwa pemberi fidusia mempunyai hak kepemilikan atas benda yang menjadi objek jaminan fidusia pada waktu menyerahkan jaminan fidusia. Secara yuridis jika salah satu syarat sahnya perjanjian tidak dipenuhi menyebabkan perjanjian itu cacat hukum dan dapat dimintakan pembatalan dari hakim. Oleh karena itu sebelum mengikat perjanjian jaminan fidusia, harus diselidiki terlebih dahulu apakah pihak pemberi jaminan fidusia adalah pemilik yang wenang menguasai bendanya atau hanya sebagai pemegang saja. Dan hal ini harus secara tegas dimuat dalam akta jaminan fidusia.

109 Pihak PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan dalam klausul perjanjiannnya memuat dengan tegas bahwa obyek jaminan fidusia benar-benar milik pemberi jaminan fidusia. Dalam penelitian ini dokumen perjanjian jaminan fidusia yang dibuat sesudah keluarnya Undang-Undang Jaminan Fidusia No 42 Tahun 1999 yang dibuat dengan akta notaris diperoleh gambaran sebagai berikut : Pihak pemberi fidusia menjamin bahwa barang-barang tersebut adalah miliknya sendiri dan tidak sedang digadaikan atau dijaminkan untuk suatu hutang atau dijaminkan untuk suatu pertanggungan atau dibebani dengan ikatan berupa apapun, bebas dari sitaan dan tidak dalam sengketa. Menyerahkan kepada pihak kedua semua surat bukti kepemilikan atau surat-surat atas barang-barang dimaksud.112

5. Hak Preferensi Dari Penerima Fidusia Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, hak preferen hanya diberikan kepada kreditur yang diistimewakan (privilege), gadai dan hipotik. Gadai dan hipotik lebih tinggi kedudukannya dari hak privilege kecuali undangundang menentukan sebaliknya. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak ada dinyatakan secara tegas bahwa jaminan fidusia memiliki hak preferen tetapi karena jaminan fidusia juga merupakan jaminan kebendaan seperti halnya gadai, secara analogi jaminan fidusia juga mempunyai hak preferen. Setelah keluarnya Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 semakin jelas dan secara eksplisit dinyatakan bahwa jaminan fidusia mempunyai hak preferen. Yang dimaksud dengan hak preferensi adalah: Hak dari kreditur pemegang jaminan tertentu untuk terlebih dahulu diberikan haknya (dibandingkan dengan kreditur lain) atas pelunasan piutangnya yang diambil dari hasil penjualan
112 Dikutip dari Pasal 2 dan 3 Akta Jaminan Fidusia No. 132 tanggal 30 Juni 2006, Akta Notaris Model PT Bank BRI (Persero) Tbk Cabang Padangsidimpuan

110 barang jaminan utang tersebut.113 Hak preferen dalam Undang-Undang No. 42 Tahun1999 diatur dalam Pasal 27 ayat 2 yang menjelaskan bahwa: Hak preferensi adalah hak penerima fidusia untuk mengambil pelunasan piutangnya atas hasil eksekusi benda yang menjadi objek jaminan fidusia. Hak preferensi bagi penerima fidusia diatur dengan tegas di dalam Pasal 27 ayat 1 UU No. 42 Tahun 1999 yaitu: Penerima fidusia memiliki hak yang didahulukan terhadap kreditur lainnya. Dengan demikian hak preferen pemegang fidusia tegas dinyatakan dalam Undang-Undang No 42 Tahun 1999 yang memberikan kedudukan yang sama dengan hak tanggungan, hipotik, dan hak gadai. Hak preferen ini baru didapatkan oleh pemegang fidusia pada saat didaftarkannya fidusia di Kantor Pendaftaran Fidusia hal ini dijelaskan dalam penjelasan pasal 27 Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 ayat (1): Hak yang didahulukan dihitung sejak tanggal pendaftaran benda yang menjadi objek jaminan fidusia pada kantor pendaftaran fidusia. Salah satu karakter perjanjian jaminan kebendaan adalah hak preferen. Jaminan fidusia adalah salah satu hak jaminan kebendaan, maka hak preferen merupakan sifat yang melekat pada jaminan fidusia. Hak preferen bukanlah hak kebendaan melainkan hak terhadap benda dan hak tersebut tidak timbul karena undang-undang tetapi karena diperjanjikan. Dalam Undang-Undang Jaminan Fidusia dikatakan bahwa hak preferen disamakan dengan hak didahulukan.114 Hak preferen ini dapat dilihat dalam konteks:
113 Munir Fuady, op. cit., hal. 41. 114 Lihat Penjelasan Pasal 27 UU No. 42 Tahun 1999.

111 a. Hak preferen ini harus dilihat dalam kaitannya dengan kreditur-kreditur lain. b. Menggambarkan adanya kaitan antara hak dengan objek jaminan fidusia c. Pelaksanaan hak adalah untuk mengambil pelunasan piutang bukan memiliki objek jaminan fidusia. d. Hak preferen lahir pada saat jaminan fidusia didaftarkan.115 Permasalahan yuridis ini dapat dilihat dari kasus yang terungkap dalam Putusan Pengadilan Negeri Medan dalam Perkara Bank Bumi Daya v Kantor Pelayanan Pajak Medan Barat dan P.T Mahogani Indah Industri No. 40/Pdt.Plw/1994 tanggal17 November 1994. Dalam kasus ini, hakim

mempermasalahkan dua kreditur yaitu Bank Bumi Daya sebagai kreditur penerima fidusia atas benda jaminan fidusia dari P.T Mahogani Indah Industri dan Kantor Pelayanan Pajak Medan Barat sebagai kreditur atas pajak debitur. Dalam putusannya pengadilan berpendapat bahwa hak preferen atas benda jaminan fidusia diberikan kepada kreditur Kantor Pelayanan Pajak. Alasan hukum yang diberikan pengadilan adalah bahwa negara mempunyai hak mendahulu atas tagihan pajak di atas segala tagihan lainnya, kecuali atas tagihan ongkos perkara dan hak komisioner. Tagihan jaminan fidusia tidak merupakan kekecualian dari hak mendahulu negara atas tagihan pajak. Bila dianalisa sebenarnya kedua piutang tersebut adalah piutang negara sebab bank tersebut adalah bank pemerintah, hanya bedanya piutang pajak terbit dari undang-undang sedangkan piutang bank adalah piutang yang terbit dari perjanjian jaminan fidusia. Berdasarkan Pasal 1133 dan 1134 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, piutang fiscus merupakan hak privilege yang ditunjuk oleh undang-undang perpajakan untuk didahulukan penagihannya dari piutang jaminan fidusia.
115 H. Tan Kamelo, op. cit., hal. 324.

112 Dari kasus di atas dapat dipahami bahwa undang-undang jaminan fidusia memang tidak selalu sempurna untuk mengatur semua permasalahan yang timbul, oleh karena itu harus selalu dilakukan koreksi dan penyempurnaan hukum jaminan ke depan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. 6. Pengaruh Kepailitan Pemberi Fidusia/Debitur Dan Likuidasi Bank Terhadap Objek Jaminan Fidusia Kreditur penerima fidusia mempunyai hak untuk didahulukan guna mengambil pelunasan piutangnya atas hasil eksekusi benda yang menjadi objek jaminan fidusia. Hak untuk mengambil pelunasan ini mendahului dari kreditur lainnya. Bahkan sekalipun pemberi fidusia dinyatakan pailit atau dilikuidasi. Hak yang didahulukan dari penerima fidusia tidak hapus karena benda yang menjadi objek jaminan fidusia tidak termasuk dalam harta pailit pemberi fidusia.116 Kepailitan adalah sita umum atas semua kekayaan debitur Pailit yang pengurusannya dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator di bawah pengawasan Hakim Pengawas sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.117 Berdasarkan Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan, secara eksplisit diatur tentang kreditur pemegang fidusia sebagai kreditur separatis yaitu dalam Pasal 55 ayat (1) yang isinya antara lain adalah: Setiap kreditor pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan atas kebendaan lainnya, dapat mengeksekusi haknya seolah-olah tidak terjadi kepailitan. Menurut Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan Pasal 56 ayat (1) dinyatakan bahwa Hak eksekusi kreditur sebagaimana dimaksud dalam
116 Gunawan Widjaya dan Ahmad Yani, op. cit., hal.125. 117 Lihat Pasal 1 UU Nomor 37 Tahun 2000 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Membayar Utang.

113 pasal 55 ayat (1) dan hak pihak ketiga untuk menuntut hartanya yang berada dalam penguasaan debitur pailit atau curator, ditangguhkan untuk jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan. Kedudukan separatis bank/kreditur jaminan fidusia ini seharusnya diatur dalam undang-undang jaminan fidusia atau dicantumkan dalam akta jaminan fidusia. Dalam praktek PT Bank BRI (Persero) Tbk pencantuman kedudukan separatis bank dalam akta jaminan fidusia tidak dijumpai. Kreditur penerima fidusia tidak perlu kuatir akan kehilangan agunannya apabila debitur pemberi fidusia dinyatakan pailit sebab benda agunan tidak masuk dalam harta pailit si pemberi fidusia dan menurut Undang-Undang kepailitan kreditur penerima fidusia dapat mengeksekusi benda agunan seperti tidak terjadi kepailitan. Likuidasi bank adalah tindakan pemberesan berupa penyelesaian seluruh hak dan kewajiban bank sebagai akibat pembubaran badan hukum bank.118 Setelah bank dilikuidasi, dalam kaitannya dengan perjanjian jaminan kredit seperti jaminan fidusia, segala piutang bank terhadap nasabah diambil alih oleh tim likuidasi. Hal ini berarti tim likuidasi yang menggantikan kedudukan bank tersebut sebagai pemilik benda jaminan fidusia. Penagihan piutang terhadap nasabah/pemberi fidusia dilakukan sesuai dengan perjanjian yang telah ditentukan dalam perjanjian kreditnya. Tim likuidasi tidak dapat menjual benda jaminan fidusia apabila debitur pemberi fidusia tetap melaksanakan kewajibannya dengan baik. Dalam Pasal 33 Undang-Undang Jaminan Fidusia dinyatakan bahwa setiap janji yang memberi kewenangan kepada penerima fidusia untuk memiliki benda
118 Pasal 17 ayat (1) PP No. 40 Tahun 1997 Tentang Perubahan atas PP No. 68 Tahun 1996 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank.

114 yang menjadi objek jaminan fidusia apabila debitur cidera janji, batal demi hukum. Dengan demikian objek jaminan fidusia tidak menjadi bagian harta pailit penerima fidusia oleh karena hak kepemilikan atas objek jaminan fidusia tersebut diperolehnya semata-mata sebagai jaminan. Dapat disimpulkan bahwa dalam Undang-Undang Tentang Kepailitan ditentukan bahwa benda yang menjadi objek jaminan fidusia berada di luar kepailitan dan atau likuidasi. Penjelasan Pasal 27 ayat 3 UU No. 42 Tahun 1999.

115 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Pelaksanaan Jaminan secara fidusia pada PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan dilakukan melalui penilaian yang 115seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan dan prospek usaha dari debitur dilanjutkan dengan mengisi daftar reviw dokumen, membuat perjanjian membuka kredit dan perjanjian fidusia secara notaril dan mendaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia. 2. Perlindungan bagi pemberi fidusia, sebelum dinyatakan

wanprestasi PT Bank BRI (Persero) Tbk melakukan usaha-usaha berupa restrukturisasi, pembinaan dan berdialog secara

kekeluargaan dalam mencari solusi, hingga debitur ditetapkan melakukan wanprestasi PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan tidak bertindak sebagai kreditur yang langsung menjadi pemilik barang agunan tetapi bentindak untuk menjual langsung barang agunan baik melalui pelelangan umum dan juga penjualan dibawah tangan untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi. 3. Perlindungan hukum bagi kreditur penerima fidusia cukup terjamin dengan adanya fakta bahwa pelaksanaan jaminan secara fidusia telah dilakukan sesuai dengan tata cara yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang Jaminan Fidusia No. 42 Tahun

116 1999. PT Bank BRI (Persero) Tbk cabang Padangsidimpuan mendapat hak preferent, dilindungi dengan asas droit de suite, menjadi kreditur separatis apabila debitur pailit, juga berhak untuk melakukan eksekusi dengan kekuasaan sendiri dan bila timbul gugatan karena kesalahan debitur terhadap penggunaan dan pengalihan benda, pemberi fidusia bertanggung jawab penuh. B. Saran 1. Sebaiknya Semua bank baik bank pemerintah maupun swasta melakukan pendaftaran jaminan fidusia sebab jaminan fidusia lahir pada saat perjanjian fidusia tersebut didaftarkan yang akan melahirkan perjanjian dengan karakter kebendaan. 2. Jaminan fidusia ini memiliki kelemahan karena objek yang dijaminkan berada di tangan debitur sehingga debitur yang tidak mempunyai itikad baik dapat melakukan kecurangan dan sulit untuk dipantau. Oleh karena itu perlu dibuat peraturan lapangan pelaksana dapat agar pelaksanaan dengan di baik

berjalan

sehubungan dengan moralitas dan itikad baik. 3. Penerima fidusia sebaiknya memperoleh kepastian dalam undang-undang untuk

memberikan suatu tanda pada bukti hak milik

117 atas objek fidusia bahwa benda tersebut telah dibebani hak jaminan fidusia seperti yang ada pada hak tanggungan. 4. Undang-Undang sebaiknya juga memberikan solusi yang lebih praktis apabila pemberi fidusia merasa haknya dirugikan selain melakukan gugatan perdata ke pengadilan hukum untuk yang

menciptakan

perlindungan

seimbang bagi pemberi dan penerima fidusia. 5. Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia telah berlaku namun masih banyak hal-hal yang perlu dikaji, sebab hukum jaminan dapat menjadi amat berguna bagi ekonomi nasional secara makro, sebab itu masih perlu suatu komitmen yang kuat dari pihak-pihak terkait seperti menteri kehakiman dan hak azasi manusia dalam menjalankan administrasi kantor registrasi fidusia, juga Mahkamah Agung agar memiliki persepsi yang sama atas visi dan misi Undang-Undang fidusia ini, sehingga fidusia sebagai suatu instrumen jaminan yang diterima secara luas.

118

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI ABSTRAK BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan ...................................... .....................................................................................1 B. Rumusan Permasalahan ................................................ ...................................................................................13

119 C. Tujuan Penelitian .......................................................... ...................................................................................13 D. Manfaat Penelitian ....................................................... ...................................................................................13 E. Kerangka teoritis dan Konseptual................................. ...................................................................................14 F. Metode Penelitian ......................................................... ...................................................................................20 BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG JAMINAN DAN JAMINAN FIDUSIA A. Pengertian Jaminan .......................................................... ......................................................................................23 B. Jenis Jaminan ................................................................... ......................................................................................24 C. Sifat Perjanjian Jaminan .................................................. ......................................................................................27 D. Pengakuan Fidusia dalam Undang-Undang Untuk Kepastian Hukum................................................................... ............................................................................................29 1. Perjanjian Fidusia ............................................................ 34 2. Pembebanan Fidusia dan Fidusia Ulang ........................ 35 3. Pendaftaran Fidusia ......................................................... 37 E. Asas-Asas Jaminan Fidusia .................................................... 40 F. Jaminan Fidusia sebagai Jaminan Kebendaan merupakan sub sistem hukum jaminan .......................................................... 47 BAB III PELAKSANAAN PERJANJIAN JAMINAN FIDUSIA PADA BANK BRI CABANG PADANGSIDIMPUAN

120 A. Keadaan Umum Tempat Penelitian ................................ ......................................................................................53 1. Visi Misi dan Tujuan Perusahaan ... .....................................................54 2. Perkembangan Usaha Bank BRI .... .....................................................56 3. Organisasi dan Jaringan Kerja Bank BRI ........................................ .....................................................56 4. Bidang Usaha Bank BRI ................ .....................................................57 B. Gambaran Umum Kantor Cabang Padangsidimpuan ...... ......................................................................................58 C. Gambaran Umum Jaminan Fidusia yang ada pada Bank BRI Cabang Padangsidimpuan. ............................................. ............................................................................................59 1. Objek Jaminan Fidusia ................... .....................................................59 2. Kasus Jaminan Fidusia ke Pengadilan ...................................... .....................................................63 D. Pelaksanaan Jaminan Secara Fidusia...................................... ............................................................................................65 1. Fungsi Yuridis Jaminan Fidusia Sebagai Pengaman Kredit Bank ..... .....................................................65 2. Perjanjian Membuka Kredit ........... 71..................................................... 3. Pengikatan /Pembebanan Jaminan Fidusia ............................................ .....................................................72 4. Pendaftaran Jaminan Fidusia ..........

121 .....................................................74 5. Perjanjian Fidusia Merupakan Perjanjian Yang Bersifat Assesoir .....................................................82 6. Perubahan Status Yuridis Atas Kemilikan Benda Jaminan Fidusia ............................................................................. ......................................................................................88 E. Perlindungan Hukum Terhadap Pemberi dan Penerima Jaminan Fidusia ..................................................................... ............................................................................................92 1. Objek Jaminan Fidusia Tidak Dapat Dimiliki Oleh Bank .............. .....................................................92 2. Terjadinya Overmach Terhadap Objek Jaminan Fidusia .................................. .....................................................98 3. Proses Eksekusi Barang Jaminan Fidusia ............................................ ...................................................102 4. Kewenangan Pemberi Fidusia Terhadap Barang Jaminan .............. ...................................................108 5. Hak Preferensi Dari Penerima 109 Pemberi Fidusia .............................. 6. Pengaruh Kepailitan

Fidusia/Debitur dan Likuidasi Bank Terhadap Objek Jaminan Fidusia..... ...................................................112 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ...................................................................... ....................................................................................115 B. Saran ................................................................................

122 ....................................................................................116 DAFTAR KEPUSTAKAAN RIWAYAT HIDUP DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMPIRAN Kasus Jaminan Yang Sudah Diputus Pengadilan Negeri Padangsidimpuan Tahun 1992. Perjanjian Membuka Kredit Format Bank BRI Cabang Padangsidimpuan Perjanjian Fidusia Format Bank BRI Cabang Padangsidimpuan Sertifikat Fidusia Surat Edaran Bank BRI Tahun 2004 Cabang Padangsidimpuan Surat Kuasa Di Bawah Tangan Untuk Mendaftarkan Perjanjian Fidusia Format Bank BRI Cabang Padangsidimpuan

123

PELAKSANAAN PERJANJIAN JAMINAN FIDUSIA PADA BANK BRI CABANG PASANGSIDIMPUAN (Dermina Dalimunthe, 05211013, Ilmu Hukum, PPS UNAND, 2007) ABSTRAK
Menurut sistem hukum kita, dan juga hukum dikebanyakan negara-negara Eropa Kontinental, jika yang menjadi objek jaminan utang adalah benda bergerak, maka jaminannya diikat dalam bentuk gadai. Dalam hal ini, objek gadai tersebut harus diserahkan kepada pihak yang menerima gadai (kreditur). Sebaliknya, jika yang menjadi objek jaminan utang adalah benda tidak bergerak, maka jaminan tersebut haruslah berbentuk hipotik (sekarang hak tanggungan dengan keluarnya UU No. 4 Tahun 1996 Tentang hak Tanggungan). Dalam hal ini barang objek jaminan tidak diserahkan kepada kreditur, tetapi tetap dalam kekuasaan debitur. Akan tetapi terdapat kasus-kasus bahwa barang objek jaminan utang masih tergolong barang bergerak, tetapi pihak debitur enggan menyerahkan kekuasaan atas barang tersebut kepada kreditur, sementara pihak kreditur tidak mempunyai kepentingan, bahkan kerepotan jika barang tersebut diserahkan kepadanya, karena itulah dibutuhkan adanya satu bentuk jaminan utang yang objeknya masih tergolong benda bergerak tetapi tanpa menyerahkan kekuasaan atas benda tersebut kepada pihak kreditur. Akhirnya, muncullah bentuk jaminan baru dimana pada awalnya objeknya adalah benda bergerak yang kemudian berkembang kepada benda tidak bergerak yang tidak dapat diikat dengan hak tanggungan, tetapi kekuasaan atas benda tersebut tidak beralih dari debitur kepada kreditur, jaminan ini dikenal dengan nama jaminan fidusia, yang pada awalnya hanya didasarkan kepada yurisprudensi hingga akhirnya diatur dalam suatu Undang-Undang tersendiri yaitu UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia. Masalah dalam penelitian ini adalah 1).Bagaimana pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia pada Bank BRI cabang Padangsidimpuan? 2). Bagaimana perlindungan hukum bagi debitur pemberi fidusia dan kreditur penerima fidusia pada Bank BRI cabang Padangsidimpuan? Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum empiris (socio legal research).Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 1) Pelaksanaan perjanjian jaminan fidusia pada Bank BRI cabang Padangsidimpuan dilakukan melalui penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan dan prospek usaha dari debitur dilanjutkan dengan mengisi dan memenuhi semua syarat pada reviw dokumen kemudian membuat perjanjian membuka kredit dan perjanjian fidusia secara notaril dan mendaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia. 2) Perlindungan hukum bagi debitur pemberi fidusia adalah apabila debitur telah dinyatakan melakukan wanprestasi kreditur tidak langsung menjadi pemilik benda agunan tetapi bertindak untuk menjual langsung benda agunan sesuai dengan proses eksekusi yang telah ditetapkan dalam UU No. 42 Tahun 1999. Perlindungan hukum bagi kreditur penerima fidusia adalah dengan adanya fakta bahwa

124
perjanjian fidusia pada Bank BRI Cabang Padangsidimpuan dibuat dengan akta notaris dan didaftarkan di kantor pendaftaran fidusia, kreditur mendapatkan hak untuk didahulukan/preferen, dilindungi dengan asas droit de suite, berkedudukan sebagai kreditur separatis dan memiliki titel eksekutorial.

DAFTAR PUSTAKA I. Buku Perbankan Indonesia, Rejeki Agung:

Bahsan, M, Penilaian Jaminan Kredit Jakarta, 2002.

Darus Badrulzaman, Mariam, Mencari Sistem Hukum Benda Nasional, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1991. ________________________, Bab-Bab Tentang Creditverban, Gadai, dan Fiducia, Bandung, 1987, Fuady, Munir, Jaminan Fidusia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003. Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminto, Balai Pustaka, Jakarta, 1988 M. Friedmann, Lawrence, American Law ,W.W Norton & Company, New York London, 1984. Mahadi, Filsafat Hukum Suatu Pengantar, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1989. ______, Hak Milik dalam Hukum Perdata Nasional, Proyek BPHN, 1981. Mertokusumo, Sudikno, Mengenal Hukum, Liberty, Yogyakarta, 1988. Mascjoen Sofwan, Sri Soedewi, Beberapa Masalah Pelaksanaan Lembaga Jaminan Khususnya Fidusia di Dalam Praktek dan Pelaksanaannya di Indonesia, Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 1977. ____________________________, Hukum Jaminan Di Indonesia, Pokok-Pokok Hukum Jaminan Dan Jaminan Perorangan, Bina Usaha, Yogyakarta, 1980. Rahardjo, Satjipto, Hukum dan Masyarakat, Angkasa, Bandung, 1984. ______________, Ilmu Hukum, Alumni, Bandung, 1986. Sunggono, Bambang, Metodologi Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada,

125 Jakarta: 2003 Satrio, J, Hukum Jaminan, Hak-Hak Jaminan Kebendaan, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1991. HS, Salim, Perkembangan Hukum Jaminan Di Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004. Subekti, R, Jaminan-Jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia, Alumni, Bandung, 1982. Subekti, Perbandingan Hukum Perdata, Pradya Paramita, Jakarta, 1983. Soekanto, Soejono, Pengantar Penelitian Hukum, UI-Press, Jakarta, 1982 . Soekanto, Soejono, dan Mustafa Abdullah, Sosiologi Hukum dalam Masyarakat, Rajawali, Jakarta, 1987. Tan Kamelo, H, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Alumni, Bandung, 2004. _____________, Hukum Bisnis Masalah Hukum Perbankan, Perkreditan dan Jaminan, Kumpulan kertas Kerja Mariam Darus Badrulzaman (seri I), Fakultas Hukum USU, Medan, 1998. Waluyo, Bambang Penelitian Hukum Dalam Praktek, Sinar Grafika, Jakarta: 2002 Widjaya, Gunawan, dan Ahmad Yani, Jaminan Fidusia, Grafindo Persada, Jakarta, 2000. II. Peraturan Perundang-Undangan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia. UU No. 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan. UU No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan. UU No. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Pemukiman UU No. 16 Tahun 1985 Tentang Rumah Susun. UU No. 5 Tahun 1960 Tentang UU Pokok Agraria. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW) UU Nomor 37 Tahun 2000 Tentang Kepailitan Dan Penundaan Kewajiban Membayar Utang. 9. PP No. 86 Tahun 2000 Tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia 10. PP No. 40 Tahun 1997 Tentang Perubahan atas PP No. 68 Tahun 1996 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank.

126

III. Jurnal Hasil Penelitian dan Makalah M. Kleyn, W, Keputusan dan Ketidakpastian Peralihan Milik Fidusier, Compendium Hukum Belanda, Yayasan Kerjasama Ilmu Hukum Indonesia Belanda, Gravenhage, 1978. Mangunkusumo, Sumardi, Fidusia Bangunan-Bangunan diatas Tanah Hak Sewa, Hukum dan Keadilan No. 3 Tahun III, Mei/Juni 1972. Gautama, Sudargo, Pengakuan Fidusia Dalam Perundang-undangan Di Indonesia, Varia Peradilan, Majalah Hukum No. 30, IKAHI, Jakarta, 1988. Remy Sjahdeini, Sutan, Komentar Pasal Demi Pasal UU No. 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia, Jurnal Hukum Bisnis, Vol. 10, 2000. Hendra Winarta, Frans, Teknisi Penyelesaian Kredit Bermasalah Melalui Pendekatan Hukum, 2003, www hukumonline.com (terakhir dikunjungi pada bulan Februari 2007. P. Parlindungan, A, Konsep Rancangan Undang-Undang Hak Tanggungan dan Gadai, Seminar Nasional Agraria ke-3: Medan, 1990.

127

128 PELAKSANAAN PERJANJIAN JAMINAN FIDUSIA PADA PT Bank BRI (Persero) Tbk CABANG PADANGSIDIMPUAN

TESIS

Oleh :

DERMINA DALIMUNTHE
NO. BP 05211013

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2007
KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan

129 rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini dengan baik. Tesis ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Hukum pada Program Pascasarjana Universitas Andalas Padang. Tesis ini berjudul: PELAKSANAAN PERJANJIAN JAMINAN FIDUSIA PADA PT Bank BRI (Persero) Tbk CABANG PADANGSIDIMPUAN Penyelesaian karya ilmiah berupa tesis ini dapat diselesaikan penulis dengan baik walaupun melalui jalan panjang, dengan ridho Allah swt serta dorongan dan bantuan dari semua pihak. Namun dengan segala keterbatasan serta ilmu pengetahuan yang dimiliki penulis, dalam penulisan tesis ini banyak kekurangan dan kelemahan. Dengan kerendahan hati penulis menerima kritikan dan saran untuk kesempurnaan tesis ini. Dalam penyelesaian tesis ini penulis sadar bahwa banyak pihak yang telah memberikan bantuan kepada penulis, untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada: 1. Yang mulia dan tercinta suami, ibu dan ayah, serta anak-anakku (Irvan Arya, Rosihan Arbi dan Suty Suhaimi) yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materil kepada penulis mudah-mudahan segala pengorbanan yang telah diberikan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda. 2. Bapak Dekan, Pembantu Dekan beserta Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Andalas yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam proses menyelesaikan studi dan tesis ini. 3. Bapak Direktur, Ibu dan Bapak Sekretasis Program Studi Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Andalas, Padang. 4. Ibu Prof. Dr. Yulia Mirwati SH, CN, MH sebagai Ketua Komisi Pembimbing dan Bapak Tasman SH, MH sebagai anggota Komisi

130 Pembimbing yang telah banyak membimbing dan meluangkan waktu untuk penulisan ini. 5. Kepada rekan-rekan seangkatan PPS Universitas Andalas yang telah ikut memberikan motivasi kepada penulis, dan kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga bantuan dan dorongan dari berbagai pihak baik moril maupun materil menjadi amal sholeh di sisi Allah swt, amin. Demikian tesis ini penulis hadapkan atas segala bantuan yang diberikan mudah-mudahan menjadi amal sholeh di sisi Allah swt dan semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi kita semua, amin. Billahitaufiq wal hidayah Alhamdulillah hirobbil alamin

Padang,

Juni 2007

Penulis

131

RIWAYAT HIDUP Nama Lengkap NO. BP Tempat/Tgl Lahir Alamat : DERMINA DALIMUNTHE, SH : 05211013 : Sihepeng, 28 Mei 1971 : Jln. DR. M. Hatta No. 6A RT 11/RW IV Kec. Kuranji Padang 25152 Nama Orang Tua: Ayah Ibu Alamat Jenjang Pendidikan: Tesis Judul : PELAKSANAAN PERJANJIAN JAMINAN FIDUSIA PADA PT Bank BRI (Persero) Tbk CABANG PADANGSIDIMPUAN Pembimbing I Pembimbing II : Prof. Dr. Yulia Mirwati SH, CN, MH : Tasman SH, MH SD Ngeri 16 Padangsidimpuan Th 1978- 1984 SMPN 3 Padangsisimpuan Th 1984- 1987 SMAN 2 Padangsidimpuan Th 1987-1990 Universitas Islam Sumatera Utara Th 1990- 1995 : Zubir Dalimunthe : Nurlena Harahap : Jln. Tano Bato Gn. Setia Kel. Batang Ayumi Jae Padangsidimpuan Sumatera Utara

Durasi Perkuliahan : 2 Tahun Wisuda :

132 Yudicium :

PERNYATAAN KEASLIAN TESIS Dengan ini menyatakan bahwa tesis yang saya tulis dengan judul PELAKSANAAN PERJANJIAN JAMINAN FIDUSIA PADA PT Bank BRI (Persero) Tbk CABANG PADANGSIDIMPUAN adalah hasil kerja atau karya saya sendiri dan bukan jiplakan dari hasil kerja atau karya orang lain, kecuali kutipan yang sumbernya dicantumkan. Jika dikemudian hari pernyataan ini ternyata tidak benar, maka status kelulusan dan gelar yang saya peroleh menjadi batal dengan sendirinya.

Padang, Juni 2007 Yang Membuat Pernyataan

Dermina Dalimunthe Bp 05211013