Anda di halaman 1dari 40

Ciri-Ciri Khusus Pada Anak Penderita Asperger

By intanpsikologi

Ciri-Ciri Khusus Pada Anak Penderita Asperger Pada satu sisi sering mencari perhatian dengan berbicara keras dan tidak peduli bila orang lain ingin mengalihkan pembicaraan ke topik lain, Pada sisi yang lain menolak untuk bertatapan mata, tidak mampu berkomunikasi nonverbal atau menggunakan bahasa tubuh,tidak memperlihatkan ekspresi wajah dan kalau menggerakkan badannya atau memberi isyarat tubuh selalu tidak lazim, Menunjukkan ketertarikan hanya pada satu atau dua hal saja, misalnya tentang cuaca, binatang atau jadwal perjalanan dan kosa kata yang dipakai tidak berhubungan satu dengan lainnya, Tidak bisa berempati dan tidak peka terhadap perasaan orang lain atau tidak dapat memahami keprihatinan orang lain, Tidak memiliki rasa humor dan tidak mengerti bila orang lain membuat lelucon dan tertawa karenanya, Gaya bicaranya sangat monoton, kaku dan datar serta sangat cepat, tidak seperti pada umumnya, Bahasa tubuh, gerak badannya pada waktu melakukan kegiatan motorik kasar kaku dan agak aneh dibandingkan anak lain, juga kalau sedang berjalan. (Dari berbagai sumber,Dr.D.Pane/TK Pestalozzi,Cibubur,20 Agustus 2008) Sumber : http://www.pestalozzi-indonesia.com/content/view/36/2/
Asperger berbeda dengan Autis ?

09/24/2005
Oleh: Leny Marijani

Akhir-akhir ini semakin banyak yang berpendapat bahwa Asperger tidak sama dengan Autis, padahal dalam standar diagnosa DSM IV, Asperger adalah merupakan salah satu spektrum Autis. Selain ada perbedaan di antara keduanya, sebenarnya ada beberapa ciri dari asperger dan autis klasik yang sama, masing-masing punya ciri-ciri dalam hal ketidakmampuan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Mereka juga sama-sama menunjukkan beberapa perilaku unik/rutinitas, walaupun dalam degree yang berbeda (varying degree), bisa dari mild, moderate, to severe. Tidak seperti anak autis yang bisa didiagnosa di bawah umur 2 - 3 tahun, anak asperger baru bisa terdekteksi, biasanya pada saat berumur di antara 6-11 tahun. Tidak seperti kebanyakan anak autis, anak asperger memang tidak menunjukkan keterlambatan bicara, punya kosa kata yang sangat baik, walaupun agak sulit untuk mengerti bahasa "humor dan ironi". Mereka pun kebanyakan mempunyai intelligence yang cukup baik bahkan di atas rata-rata. Oleh karena itu biasanya secara akademik, biasanya mereka tidak bermasalah, dan mampu

mengikuti pelajaran di sekolah umum dengan baik. Sedangkan penyandang autis klasik, sebagian besar terdiagnosa mempunyai IQ dibawah normal bahkan masuk kategori moderate mental retardasi. Tantangan terbesar bagi penyandang asperger adalah dalam hal bersosialisasi dan berinter -aksi. Pada umumnya, anak asperger suka untuk berteman, walaupun dengan gaya bahasa dan mimik yang formal dan terlihat "aneh". Mereka sulit memulai percakapan dan sulit mengerti makna dari interaksi sosial. Kesulitan anak asperger dalam bersosialisasi dapat/akan membuat mereka menjadi sangat stress di sekolah. Banyak kendala akan ditemukan pada saat anak asperger memasuki masa remaja /akil-balik (SMP/SMU). Untuk menghadapi masalah itu, orang tua disarankan untuk segera mencari ahli yang profesional (care dan knowledgable) dan melakukan intervensi yang diperlukan se -segera mungkin dengan berterus terang kepada guru (pendidik) dan kepala sekolah dengan melihatkan atau membawa referensi dari ahli tsb. Tanpa pemberitahuan dari orang tua, pihak sekolah dan teman-teman anak asperger sulit untuk mengetahui bahwa mereka "berbeda" karena anak asperger tidak mudah dikenali seperti halnya anak autis klasik. Hal inilah biasanya yang dapat menjadi pemicu berbagai masalah serius pada anak asperger. Walaupun sebagian orang menganggap bahwa asperger adalah mild autis (autis ringan), treatment dan intervensi tetap harus dilakukan. Sebagian besar program2 terapi untuk anak asperger biasanya bersifat direct teaching / langsung di dibuat untuk memperbaiki skill yang mereka belum kuasai misalnya di-bidang sosialisasi, mengerjakan/menyelesaikan pekerjaan sekolah dan caramembagi waktu (time management). Anak asperger juga akan sangat terbantu jika banyak dilibatkan dalam kegiatan sosial seperti belajar dalam kelompok kecil (support group), sport club, dimana mereka dapat berlatih, share experience mereka dan saling belajar dari teman mereka. Ada juga satu terapi yang cukup baik untuk anak asperger yaitu terapi RDI (Relationship Development Intervention) didevelop oleh Dr. Steven Gutstein. Demikian sedikit info, semoga bermanfaat. Referensi: 1. Dr. Alan Harchik, Asperger's Syndrome Differs From Autism, From The Republican, Springfield, MA 2. http://puterakembara.org/asindo.shtml - Asperger Syndrome menurut Skala Australia 3. http://puterakembara.org/apaas.shtml - Apakah Asperger Syndrome itu ? http://puterakembara.org/archives3/00000028.shtml

Enam langkah mendiagnosis sindrom asperger | Artikel kesehatan terbaru update


May 29th, 2011admin0 Comments

Riset-riset masa kini mengindikasikan usia rata-rata untuk diagnosis adalah delapan tahun. Namun, rentang usia bervariasi dari anak yang sangat kecil hingga orang dewasa (Eisenmajer, et. al, 1996). Penulis telah spesialisasikan diri dalam diagnosis dan perawatan anak-anak serta orang dewasa pengidap Sindrom Asperger. Tampaknya, ada enam jalur untuk mendiagnosis. Yang pertama, memberi diagnosis awal autisme. Hal ini dilakukan ketika anak berusia kurang dari dua tahun. 1. Diagnosis Autisme pada Anak Usia Dini Salah satu alasan mengapa Lorna Wing mengusulkan dukungan yang lebih luas bagi istilah Sindrom Asperger adalah adanya pengakuan bahwa sejumlah anak yang memiliki sinyal-sinyal klasik autisme di usia prasekolah memperlihatkan perbaikan signifikan dalam komunikasi, dan beragam kecakapan. Anak yang semula menarik diri dan mengalami ketidakmampuan berbahasa yang parah mengembangkan kemampuan bicara yang fasih dan kecakapan yang diperlukan untuk masuk ke kelas biasa. Mereka tidak lagi terkucil atau diam. Perilaku dan kecakapan-kecakapan mereka konsisten dengan diagnosis Sindrom Asperger (Ozonoff, Rogers dan Pennington, 1991). Perbaikan ini dapat berlangsung sangat cepat dan terjadi hanya beberapa saat sebelum menginjak usia lima tahun (Shah, 1988). Kami tidak merasa yakin apakah ini merupakan fenomena alamiah untuk sejumlah anak atau akibat program-program intervensi sebelumnya. Mungkin, kedua-duanya. Walau bagaimana juga, diagnosis awal autisme klasik bersifat akurat ketika anak masih sangat kecil, tetapi anak tersebut telah berkembang sepanjang kontinum autistik hingga mencapai ekspresi yang kami sebut sebagai Sindrom Asperger. Dengan demikian, merupakan hal yang penting bila diagnosis autisme selalu dikaji untuk menguji apakah Sindrom Asperger adalah diagnosis yang lebih akurat sekarang, dan anak seharusnya menerima penanganan yang sesuai. 2. Pemunculan Ciri-ciri Tertentu Ketika Pertama Kali Didaftarkan di Sekolah Perkembangan anak pada usia prasekolah mungkin sangat tidak lazim. Orangtua atau para pakar mungkin tidak pernah dapat menimbang apakah anak memiliki setiap ciri yang mengarah pada autisme. Namun, guru pertama anak biasanya sudah tidak asing dengan rentang perilaku yang normal dan kecakapan pada anakanak kecil serta menjadi lebih peduli ketika anak mulai menghindari permainan kelompok, tidak memahami aturan-aturan ten- tang perilaku sosial di ruang kelas, memiliki sifat yang tidak lazim dalam percakapan dan permainan imajinatif mereka, meng-alami keterpesonaan mendalam pada topik tertentu, dan memiliki kejanggalan ketika menggambar, menulis, atau bermain bola. Anakanak semacam ini juga bisa mengacaukan atau agresif ketika harus berada dekat dengan anak-anak lain atau harus menunggu. Di rumah, anak mungkin menjadi karakter yang nyaris berbeda, bermain dengan saudara sedarah, dan berinteraksi dalam cara yang relatif alamiah dengan orangtua mereka. Namun, dalam kesempatan-kesempatan yang tidak biasa dan dengan rekan-rekan seusianya, tanda-tanda yang ada lebih nyata. Anak-anak ini

memiliki tanda-tanda klasik, namun kerap tidak dipertimbangkan oleh guru sebagai prioritas untuk dirujuk ke alat diagnostik. Mereka dianggap sebagai anak yang aneh, terus dianggap aneh di sekolah, dan meninggalkan kebingungan pada semua guru mereka. Pengujian terbaru di Swedia menggunakan skala nilai yang didesain bagi para guru untuk mengidentifikasi anak-anak, yang kemungkinan mengidap Sindrom Asperger, di kelas mereka. Anakanak semacam itu kemudian mengikuti suatu penilaian diagnostik dengan menggunakan kriteria standar. Sebelumnya, diperkirakan bahwa satu di antara seribu anak yang mengidap Sindrom Aspergersuatu indikasi serupa dengan autisme. Namun, studi ini mengindikasikan bahwa, sesungguhnya, sekitar saw dari 300 anak mengidap Sindrom Asperger (Ehlers dan Gillberg 1991). Maka, mayoritas anak-anak dengan sindrom ini tidak akan memperoleh diagnosis awal autisme. 3. Sebuah Ciri yang Tidak Khas Dari Sindrom Lainnya Perkembangan dan kecakapan-kecakapan awal anak mungkin telah dikenali sebagai sesuatu yang tidak lazim, dan pemeriksaan telah memberi kesan ada kelainan tertentu. Misalnya, anak memiliki catatan medis tentang perkembangan bahasa yang tertunda, mendapatkan pengobatan dan ahli terapi bicara, atau sekadar diasumsikan memiliki kelainan berbahasa. Namun, observasi yang cermat pada kecakapan -kecakapan sosial dan kognitif anak serta bidang yang menjadi minat mereka menampakkan profil yang lebih kompleks, dan Sindrom Asperger merupakan diagnosis yang lebih akurat. Anak mungkin didiagnosis mengidap gangguan lemah perhatian (ADD), dan kondisi yang satu ini diasumsikan dapat menjelaskan seluruh karakteristik anak. Terkadang, kondisi lain dapat dikenali dengan mudah, seperti cerebral palsy atau neurofibrornatosis2. Namun, kendati para ahli klinis memahami bahwa setiap anak memiliki ciri yang tidak khas, tetapi ahli-ahli ini ticlak me-miliki pengetahuan yang memadai mengenai Sindrom Asperger, supaya mereka dapat menganggap hal ini sebagai suatu kemungkinan. Pada akhimya, para ahli klinis memang mengenali tandatandanya, atau orangtua membaca tentang sindrom tersebut, lalu mereka mengontak tim diagnostik yang lebih relevan.Tetapi ketika diagnosis awal dibuat, tidak dimasukkan kcmungkinan kondisi lain, seperti Sindrom Asperger, padahal pengalaman klinis serta penelitian telah mengidentifikasi anak-anak dengan diagnosis ganda. Tetapi, orangtua hams menanti benahun-tahun untuk mendapatkan diagnosis kedua. 3. Diagnosis Adanya Seorang Kerabat yang Mengidap Autisme atau Sindrom Asperger Ketika seorang anak didiagnosis mengidap autisme atau Sindrom Asperger, orangtua mereka akan segera mengetahui banyak hal, dalam berbagai cara, bentuk kondisi ini. informasi semacam itu diperoleh dari literatur dan percakapan dengan para pakar serta orangtua lain yang memiliki pengalaman serupa. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bahwa, mungkin, ada ang,gota keluarga yang mengidap Sindrom Asperger. Ada keluarga yang beberapa anaknyalebih dari satumengidap Sindrom Asperger, atau kejadian tersebut terjach dalam sejumlah generasi. 4. Gangguan Kejiwaan Tambahan Orang yang mengidap Sindrom Asperger kemungkinan berkembang melewati masamasa di sekolah dasar sebagai anak yang eksentrik atau petapa yang mengucilkan diri. Namun, mereka tidak memiliki tanda-tanda yang mengindikasikan rujukan ke

penilaian diagnostik. Kendati dernikian, sebagai remaja, orang itu mungkin akan lebih menyadari kondisi isolasi sosial mereka dan mencoba agar menjadi lebih dapat hersosialisasi. Upaya-upaya mereka untuk bergabung dalam aktivitas-aktivitas sosial dengan sebaya mereka berhadapan dengan ejekan dan pengucilan serta menyebabkan mereka menjadi depresi. Depresi tersebut dapat mengarah pada rujukan untuk mendatangi psikiater anak. Pakar itu dengan segera akan menyadari bahwa kasus yang dihadapinya ini merupakan konsekuensi tambahan dari Sindrom Asperger. Banyak pemuda dewasa yang mengidap Sindrom Asperger melaporkan kecemasan yang mendalam, hingga mencapai tingkat yang memerlukan perawatan tertentu. Orang itu bisa saja mengemhangkan serangan kepanikan atau perilaku kompulsif, seperti mengharuskan diri mencuci tangan berkali-kali karena takut terkontaminasi. Ketika hal ini didiagnosis dan diobati, ahli klinis yang terlibat mungkin adalah orang pertama yang mengenali tandatanda Sindrom Asperger. Selama masa remaja, orang tersebut dapat kembali ke dunia mereka sendiri, berbicara dengan dirinya sendiri, serta kehilangan minat pada kontak sosial dan gizi pribadi. Ada kecurigaan bahwa mereka mengidap skizofrenia, namun penelitian yang cermat akan mengungkapkan bahwa mereka tidak gila, dan hal itu hanyalah reaksi Sindrom Asperger yang dapat clipahami di masa remaja. Kelainan kejiwaan tambahan ini, juga pencegahan dan perawatannya, akan dibahas di Bab 8. Namun, bagi beberapa individu, semua itu merupakan tanda-tanda yang mengarah ke diagnosis sindrom ini. 5. Sisa-sisa Sindrom Asperger pada Seorang Dewasa Kini, setelah kita lebih menyadari karakteristik Sindrom Asperger, rujukan-rujukan tidak hanya ditujukan bagi anak-anak dan remaja. Sejumlah orang dewasa juga merujuk did mereka sendiri untuk penilaian diagnostik. Mungkin, mereka adalah orangtua atau kerabat anak yang telah didiagnosis mengidap Sindrom Asperger, lalu menimbang bahwa sejumlah ciri sindrom juga tampak pada masa kecil mereka. Yang lain telah membaca tentang sindrom ini di majalah atau artikel-artikel koran, dan menimbang bahwa kemungkinan mereka juga memiliki tanda-tanda sindrom ini. Ketika seorang dewasa menjalani pemeriksaan diagnostik untuk Sindrom Asperger, merupakan hal yang penting bagi tim diagnostik untuk mendapatkan informasi yang dapat diandalkan menyangkut ke-cakapan-kecakapan dan perilaku orang itu saat masih anak-anak. Orangtua, kerabat, atau guru dapat mcnjadi sumber pengetahuan yang sangat berharga untuk membantu orang dewasa tersebut mengingat kembali masa kecilnya. Layanan-layanan tentang masalah kejiwaan bagi orang dewasa terkadang juga mengidentifikasi tanda-tanda pada seseorang dengan diagnosis awal skizofrenia yang tidak khas atau alkoholisme. Ratarata penderita skizofrenia di antara orang-orang penderita Sindrom Asperger sebenarnya sama saja dengan rata-rata penderita skizofrenia dalam populasi keseluruhan, namun gejala pada beberapa individu bisa terlihat serupa sehingga dapat mengarah ke diagnosis yang keliru. Terkadang, kecanduan alkohol merupakan suatu tanda depresi atau upaya untuk mengurangi kecemasan dalam kehidupan sosial. Ketika orang tersebut menjalani perawatan untuk alkoholisme, mereka juga didiagnosis mengidap Sindrom Asperger.

Seorang pengidap Sindrom Asperger pada umumnya jarang melakukan Uncial< kriminal kecuali hila herkaitan dengan minat khusus mereka. Misalnya, seorang anak muda terpesona oleh kereta api. Maka, saat berada di sebuah Peron stasiun, ia memutuskan mencuri mesin kereta. Diragukan bahwa ia betul-betul memiliki niat jahat; anak muda itu hanya sangat antusias dan ingin tahu. Maka, layanan tentang masalah kejiwaan yang berhubungan dengan peradilan mungkin akan merujuknya untuk mendapatkan pemeriksaan diagnostik. Akhirnya, sejumlah biro penempatan tenaga kerja milik pemerintah kini menyadari perlunya pekerjaan khusus bagi mereka yang memiliki tanda-tanda sindrom ini dengan cukup parah. Staf pakar biro tersebut dapat menunjuk orang yang akan didiagnosis dan diberi saran mengenai karier serta bantuan pekerjaan. Ringkasnya, ada enam jalan untuk mendiagnosis. Terlepas dan apakah anak atau orang dewasa tersebut sudah mendapat diagnosis yang telah diverifikasi, bab-bab berikut akan menyediakan lebih banyak lagi informasi mengenai karakteristik sindrom dan sejumlah strategi untuk mempelajari sejumlah keterampilan yang bisa diperoleh oleh orang lain dengan mudah, namun harus dipelajari oleh para pengidap Sindrom Asperger.-fkunhas.com Pustaka Sindrom Asperger Oleh Tony Attwood
http://radhityanotes.com/read/2011/05/29/12392/enam -langkah-mendiagnosis-sindrom-aspergerartikel-kesehatan-terbaru-update.html

Psychological and Educational Assessments ( IQ test and school tests )


What is a Psychoeducational assessment? Psychoeducational assessment is a comprehensive individual assessment that involves gathering developmental, family, school, social, emotional, temperament and health histories, administering tests and interpreting results. The goal of this kind of assessment is to learn about a childs abilities, including skills that a child has developed and learned, plus areas that the child may have difficulty. A Psychoeducational assessment is comprised of at least two types of testing; psychological and educational testing. Psychological tests measure cognitive abilities such as:

Attention Memory Auditory and Visual processing Language skills Eye-hand coordination Planning ability Verbal reasoning

Perceptual and Spatial skills

Educational tests measure academic skills such as:

Reading Written expression Spelling Mathematics Academic fluency (speed of reading, writing and calculating) Listening comprehension Oral expressive skills

These assessments help to evaluate your childs strengths and weaknesses. Why is a Psychoeducational assessment necessary? A Psychoeducational assessment will help to clarify your childs educational needs by evaluating their learning aptitudes, academic skills and other factors that may influence their academic success. Psychoeducational assessments are also able to: Educational tests measure academic skills and:

Determine an individual s intellectual functioning Detect learning difficulties Establish giftedness

Who do we assess? Psychoeducational assessments are provided for children and adolescents with:

Attention Deficit Hyperactivity Disorder Autism Spectrum Disorders Asperger s Syndrome Auditory Processing Disorder

Reading and writing difficulties Learning difficulties Behaviour problems Language concerns ;

The term psycho-educational assessment can sound intimidating, however the majority of children and teens describe the tests as challenging but fun. We also provide assessments for adults with attention and learning problems as well as depression, anxie ty and other psychological difficulties. Which tests are used? A psychoeducational assessment uses a range of psychological and educational tests. We use a number of standard tests including those appropriate for funding applications such as the WISC-IV, the WPPSI and the WIAT. Psychoeducational assessments and Autism Spectrum Disorder The Listen And Learn Centre assesses and treats many children with Autism Spectrum Disorders (ASD). Psychoeducational assessments for these children may differ from regular psychoeducational assessments. Psychoeducational assessment for children with an ASD involves the use of the Psychoeducational Profile Revised (PEP-R), Vineland, CARS, ADI-R, ADOS, Aspergers questionnaires and other assessment tools. These assessment tools cover a wide range of developmental areas such as motor skills, cognitive abilities communication and behaviours. These tests can also be used as an educational tool for planning individualized special educational programs.

Untuk Mengatasi Anak Penderita Asperger Harus Dilakukan Langkah-Langkah Sebagai Berikut :
By intanpsikologi

Untuk Mengatasi Anak Penderita Asperger Harus Dilakukan Langkah -Langkah Sebagai Berikut : Harus segera diberikan psiko-terapi secara individual untuk meningkatkan kecerdasan emosinya dan memodifikasi sikap prilakunya, Melatih dan meningkatkan ketrampilan bersosialisasinya dan berkomunikasi dua arah melalui terapi wicara, Mengintervensi dan membimbing pelajaran-pelajaran nya dengan mengaplikasikan metode tertentu menggunakan shadow teacher, Melakukan Terapi Okupasi untuk meningkatkan motorik kasar dan halus, Mengadakan intervensi menggunakan psiko-pharma untuk mengatasi rasa takut/cemas atau rasa marah yang berlebihan dan tidak terkendali. (Dari berbagai sumber,Dr.D.Pane/TK Pestalozzi,Cibubur,20 Agustus 2008) Sumber : http://www.pestalozzi-indonesia.com/content/view/36/2/

http://intanpsikologi.wordpress.com/2010/05/26/untuk-mengatasi-anak-penderita-asperger-harusdilakukan-langkah-langkah-sebagai-berikut/

ETIOLOGI ASPERGER
By yudhakasman

ETIOLOGI Etiologi gangguan Asperger masih menjadi perdebatan(16). Gangguan Asperger merupakan kondisi yang termasuk dalam spektrum autisme, sehingga kepustakaan menyebutkan bahwa etiologinya sama(10). Beberapa kepustakaan mengatakan bahwa etiologinya terkait dengan genetik dan kerusakan otak(17-20). Sedangkan Ciaranello dan Ciaranello (1995) membagi etiologi gangguan Asperger ke dalam dua tipe yaitu genetik dan non genetik(3). Tipe genetik. Etiologi genetik berhubungan dengan kontrol gen pada perkembangan otak(3).Hubungan genetik antara autisme dan gangguan Asperger dapat digambarkan sebagai berikut: anak yang menderita gangguan Asperger seringkali ayahnya me-miliki kesulitan dalam interaksi sosial(1). Terdapat beberapa laporan adanya transmisi keluarga pada gangguan Asperger. Gillberg mengatakan terdapat patologi Asperger Syndrome-like pada anggota keluarga terdekat dari penderita gangguan Asperger(8).De Long & Dwyer menemukan gangguan Asperger pada keluarga dari anak yang menderita gangguan autistik high functioning(11). Faktor genetik menunjukkan adanya hubungan antara autisme dengan gangguan Asperger(21). Sejumlah 9% anak penderita autisme mempunyai ayah sindrom Asperger atau ciri-ciri Asperger(22).Secara genetik peranan kromosom fragile-X untuk ter-jadinya gangguan Asperger sangat bermakna (11,22,23). Studi kembar dua memberi dukungan adanya dasar genetik gangguan ini(3), akan tetapi pada studi kembar tiga tidak. Jikapun dasar etiologinya genetik, faktor lain perlu dipertimbangkan misalnya keadaan prenatal, perinatal dan postnatal(23). Non genetik Ciaranello (1995)mengatakan etiologi nongenetik meliputi infeksi prenatal. Menurut Chess (1997) ada peningkatan insidens setelah pandemi rubella. Infeksi varisela dan toxo-plasmosis prenatal berhubungan dengan terjadinya gangguan ini. Juga berhubungan dengan riwayat ibu, riwayat kehamilan dan persalinan. Hipotiroid pada ibu selama kehamilan berkaitan dengan terjadinya gangguan ini(3). Beberapa penelitian melaporkan hubungan antara gejala gastrointestinal dengan gangguan autistik. Deufemia dkk, mengatakan bahwa terdapat peningkatan permeabilitas usus pada pasien gangguan spektrum autistik. Ini memberi kesan bahwa disfungsi gastrointestinal berhubungan dengan gangguan perkembangan pervasif(19,24). Pemeriksaan beberapa penderita Asperger menunjukkan adanya abnormalitas makroskopis asam amino dengan pe-ningkatan arginin, ornitin, histidin, treonin dan serin. Jadi memperlihatkan adanya aminoasiduria(25).Davis, Fennoy (1992) menyebutkan bahwa penyalahgunaan zat berperan untuk terjadinya gejala spektrum autistik pada anak yang di-lahirkan. Penelitian menemukan bahwa penyalahgunaan kokain dan zat lain dapat berhubungan dengan gangguan ini(3). Adanya hubungan temporal antara vaksinasi

MMR dan gangguan spek-trum autistik masih diperdebatkan(16). Faktor imunitas nampaknya berperan untuk terjadinya gangguan Asperger. Beberapa penderita menunjukkan disfungsi atau abnormalitas sejumlah sel T(20). Proses penyakitnya adalah akibat langsung dari gangguan di susunan saraf pusat(16).Terjadi hipometabolisme glukosa di cingulata anterior dan posterior pada penderita gangguan spektrum autistik. Juga terlihat adanya penyusutan volume girus cingulata anterior kanan, khususnya area Brodmanns 24(21). Wing mengatakan ada riwayat trauma serebral pada pra, peri dan post-natal(23). Gambaran pencitraan otak, memperlihatkan adanya lesi di substansia alba girus temporal medial kanan. Beberapa penelitian menggambarkan adanya disfungsi hemisfer kanan pada gangguan Asperger(8,26). Juga memperlihatkan adanya abnormalitas fasikulus longitudinal inferior, suatu serabut ipsilateral yang menghubungkan lobus oksipitalis dan temporalis serta pola aktivitas abnormal di daerah kortikal temporal ventral(27). Girus temporal medial dan sulkus temporal superior yang berbatasan, berperan pada ekspresi wajah dan kontak mata langsung(10). Disfungsi lobus frontalis memper-lihatkan adanya defisit fungsi eksekutif.(8).Pada gangguan Asperger ditemukan adanya ganglioside yang meningkat bermakna pada cairan serebrospinal(8). Semua abnormalitas yang terjadi, berhubungan dengan gejala klinis dan neuropsikologi(9,28). Bukti neuropatologi yang bervariasi menyebabkan perdebatan tentang lokasi kerusakan(12). Laporan terakhir menyebutkan etiologi penyakit spektrum autistik berhubungan dengan kondisi biomedis(19). SUMBER: - Theresia Kaunang. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10_149_DiagnosadanPenatalaksanaangangguanasperge r.pdf/10_149_DiagnosadanPenatalaksanaangangguanasperger.html
http://yudhakasman.wordpress.com/2010/03/22/etiologi-asperger/

KRITERIA DIAGNOSTIK ASPERGER


By yudhakasman

KRITERIA DIAGNOSTIK Dahulu para peneliti membuat kriteria diagnosis gangguan Asperger sendiri yaitu: kriteria diagnostik Wing (1981), Gillberg and Gillberg (1989), Szatmari dkk (1989), kriteria diagnostik ICD 10 (1990), kriteria diagnostik DSM IV(13,40). Sekarang ICD 10 dan DSM IV digunakan sebagai kriteria diagnosis. Kriteria diagnosis Gangguan Asperger menurut DSM IV: 1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, seperti yang ditunjukkan oleh sekurangnya dua dari berikut : - Ditandai gangguan dalam penggunaan perilaku nonverbal multipel seperti tatapan mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak-gerik untuk mengatur interaksi sosial. - Gagal mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sesuai menurut tingkat perkembangan.

-Gangguan untuk secara spontan membagi kesenangan, perhatian atau prestasi dengan orang lain (seperti kurang memperlihatkan, membawa atau menunjukkan obyek yang menjadi perhatian orang lain). -Tidak adanya timbal balik sosial dan emosional. 2.Pola perilaku, minat dan aktivitas yang terbatas, berulang dan stereotipik, seperti yang ditunjukkan oleh sekurang -kurangnya satu dari berikut : - Preokupasi dengan satu atau lebih pola minat yang stereotipik, dan terbatas, yang abnormal baik dalam intensitas maupun fokusnya. - Ketaatan yang tampaknya tidak fleksibel terhadap rutinitas atau ritual yang spesifik dan nonfungsional. - Manerisme motorik stereotipik dan berulang (men-jentik dan mengepak-ngepak tangan atau jari, atau gerakan kompleks seluruh tubuh). - Preokupasi persisten dengan bagian-bagian obyek. 3. Gangguan ini menyebabkan gangguan yang bermakna secara klinis dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya. 4. Tidak terdapat keterlambatan menyeluruh yang bermakna secara klinis dalam bahasa (misalnya, menggunakan kata tunggal pada usia 2 tahun, frasa komunikatif digunakan pada usia 3 tahun). 5. Tidak terdapat keterlambatan bermakna secara klinis dalam perkembangan kognitif atau dalam perkembangan ketrampilan menolong diri sendiri dan perilaku adaptif yang sesuai dengan usia (selain dalam interaksi sosial), dan keingintahuan tentang lingkungan pada masa kanak-kanak. 6. Tidak memenuhi kriteria untuk gangguan pervasif spesifik atau skizofrenia(6). Klasifikasi gangguan perkembangan pervasif yang ada sekarang ini kurang memuaskan orang tua yang mempunyai anak dengan gangguan ini, klinikus dan peneliti akademik. Karena reliabilitas dan validitas dari data empirik gangguan ini, dianjurkan pendekatan baru untuk klasifikasinya(40). sumber: http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10_149_DiagnosadanPenatalaksanaangangguanasperge r.pdf/10_149_DiagnosadanPenatalaksanaangangguanasperger.html
http://yudhakasman.wordpress.com/2010/03/22/kriteria-diagnostik-asperger/

Asperger berbeda dengan Autis


By yudhakasman

Akhir-akhir ini semakin banyak yang berpendapat bahwa Asperger tidak sama dengan Autis, padahal dalam standar diagnosa DSM IV, Asperger adalah merupakan salah satu spektrum Autis. Selain ada perbedaan di antara keduanya, sebenarnya ada beberapa ciri dari asperger dan autis klasik yang sama, masing-masing punya ciri-ciri dalam hal ketidakmampuan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Mereka juga sama-sama menunjukkan beberapa perilaku unik/rutinitas, walaupun dalam degree yang berbeda (varying degree), bisa dari mild, moderate, to severe. Tidak seperti anak autis yang bisa didiagnosa di bawah umur 2 3 tahun, anak asperger baru bisa terdekteksi, biasanya pada saat berumur di antara 6-11 tahun. Tidak seperti kebanyakan anak autis, anak asperger memang tidak menunjukkan keterlambatan bicara, punya kosa kata yang sangat baik, walaupun agak sulit untuk mengerti bahasa humor dan ironi. Mereka pun kebanyakan mempunyai intelligence yang cukup baik bahkan di atas rata-rata. Oleh karena itu biasanya secara akademik, biasanya mereka tidak bermasalah, dan mampu mengikuti pelajaran di sekolah umum dengan baik. Sedangkan penyandang autis klasik, sebagian besar terdiagnosa mempunyai IQ dibawah normal bahkan masuk kategori moderate mental retardasi. Tantangan terbesar bagi penyandang asperger adalah dalam hal bersosialisasi dan berinteraksi. Pada umumnya, anak asperger suka untuk berteman, walaupun dengan gaya bahasa dan mimik yang formal dan terlihat aneh. Mereka sulit memulai percakapan dan sulit mengerti makna dari interaksi sosial. Kesulitan anak asperger dalam bersosialisasi dapat/akan membuat mereka menjadi sangat stress di sekolah. Banyak kendala akan ditemukan pada saat anak asperger memasuki masa remaja /akil-balik (SMP/SMU). Untuk menghadapi masalah itu, orang tua disarankan untuk segera mencari ahli yang profesional (care dan knowledgable) dan melakukan intervensi yang diperlukan se-segera mungkin dengan berterus terang kepada guru (pendidik) dan kepala sekolah dengan melihatkan atau membawa referensi dari ahli tsb. Tanpa pemberitahuan dari orang tua, pihak sekolah dan teman-teman anak asperger sulit untuk mengetahui bahwa mereka berbeda karena anak asperger tidak mudah dikenali seperti halnya anak autis klasik. Hal inilah biasanya yang dapat menjadi pemicu berbagai masalah serius pada anak asperger. Walaupun sebagian orang menganggap bahwa asperger adalah mild autis (autis ringan), treatment dan intervensi tetap harus dilakukan. Sebagian besar program2 terapi untuk anak

asperger biasanya bersifat direct teaching / langsung di dibuat untuk memperbaiki skill yang mereka belum kuasai misalnya di-bidang sosialisasi, mengerjakan/menyelesaikan pekerjaan sekolah dan cara membagi waktu (time management). Anak asperger juga akan sangat terbantu jika banyak dilibatkan dalam kegiatan sosial seperti belajar dalam kelompok kecil (support group), sport club, dimana mereka dapat berlatih, share experience mereka dan saling belajar dari teman mereka. Ada juga satu terapi yang cukup baik untuk anak asperger yaitu terapi RDI (Relationship Development Intervention) didevelop oleh Dr. Steven Gutstein. sumber: - Marijani Leny. 09/24/2005. Asperger berbeda dengan Autis. http://puterakembara.org/archives3/00000028.shtml.
http://yudhakasman.wordpress.com/2010/03/22/asperger -berbeda-dengan-autis/

DIAGNOSIS BANDING ASPERGER


By yudhakasman

DIAGNOSIS BANDING 1. Autisme infantil Gangguan Asperger berbeda dengan autisme infantil dalam onset usia onset autisme infantil lebih awal(2,41), juga berbeda dalam keparahan penyakit yaitu autisme infantil lebih parah dibandingkan gangguan Asperger(2,42). Pasien autisme infantil menunjukkan penundaan dan penyimpangan kemahiran berbahasa serta adanya gangguan kognitif(2,17).Oral vocabulary test menunjukkan keadaan yang lebih baik pada gangguan Asperger. Defisit sosial dan komunikasi lebih berat pada autisme(17). Selain itu ditemukan adanya manerisme motorik sedangkan pada gangguan Asperger yang menonjol adalah perhatian terbatas dan motorik yang canggung, serta gagal mengerti isyarat nonverbal. Lebih sulit membedakan gangguan Asperger dengan autisme infantil tanpa retardasi mental. Gangguan Asperger biasanya memperlihatkan gambaran IQ yang lebih baik daripada autisme infantil(2), kecuali autisme infantil high functioning(41). Batas antara gangguan Asperger dan high functioning autism untuk gangguan ber-bahasa dan gangguan belajar sangat kabur(8). Gangguan Asperger mempunyai verbal intelligence yang normal sedangkan autisme infantil mempunyai verbal intelligence yang kurang(2). Gangguan Asperger mempunyai empati yang lebih baik dibandingkan dengan autisme infantil, sekalipun keduanya mengalami kesulitan berempati(2,11). 2. Gangguan perkembangan pervasif yang tidak ditentukan Gangguan Asperger lebih berat dalam disfungsi sosial(1,10). 3. Gangguan kepribadian skizoid Gangguan kepribadian skizoid tidak memperlihatkan keparahan dalam gangguan sosial, juga tidak ada kelainan pada pola perkembangan awal seperti yang tampak pada gangguan

Asperger(1,43). Gillberg memberi gambaran anak dengan gangguan Asperger memenuhi kriteria gangguan kepribadian skizoid untuk orang dewasa(44)Wolf dan Cull (1986) mengata-kan bahwa gangguan Asperger merupakan varian dari gangguan kepribadian skizoid(45) dan identik dengan gangguan kepribadian skizoid pada orang dewasa(14).Sementara Tantam (1988,1991) mengatakan bahwa jelas berbeda antara gangguan Asperger dan gangguan kepribadian skizoid(46). 4. Skizofrenia Gangguan Asperger didiagnosis banding dengan skizofrenia onset masa kanak-kanak(8). Kombinasi dari bicara bertele-tele, bicara sendiri, pola pembicaraan inkoheren, gagal mengganti topik pembicaraan dan gagal memberi latar belakang suatu cerita, menyebabkan kekeliruan mendiagnosis Skizofrenia. Gangguan Asperger lebih menunjukkan disfungsi komunikasi daripada gangguan proses pikir(1,10). Ekspresi wajah yang abnormal terdapat pada kedua gangguan ini(18). 5. Gangguan Kepribadian Obsesi Kompulsi. Beberapa gejala gangguan Asperger bertumpang tindih dengan gangguan kepribadian obsesi kompulsi seperti fungsi sosial yang terbatas. Keadaan ini menyebabkan gangguan Asperger didiagnosis banding dengan gangguan Kepribadian Obsesi Kompulsi(8,9). SUMBER: - Theresia Kaunang. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10_149_DiagnosadanPenatalaksanaangangguanasperge r.pdf/10_149_DiagnosadanPenatalaksanaangangguanasperger.html
http://yudhakasman.wordpress.com/2010/03/22/diagnosis -banding-asperger/

PROGNOSIS DAN PERJALANAN PENYAKIT ASPERGER


By yudhakasman

Perbedaan klinik antara gangguan autisme dan gangguan Asperger mempunyai nilai prognosis(21). Gangguan Asperger mempunyai prognosis yang lebih baik(12,22,29). Terdapat perbedaan rentang keparahan dari gangguan Asperger, sehingga beberapa kasus tidak terdiagnosis karena penderitanya hanya tampak aneh dan eksentrik(14). Perempuan mempunyai prog-nosis yang lebih baik(47). Perjalanan penyakit dan akibatnya sangat bervariasi(1)karena IQ dan ketrampilan berbahasanya relatif baik(41).Beberapa anak dapat mengikuti pendidikan secara teratur dengan mendapat dukungan sedangkan yang lain membutuhkan pendidikan khusus. Keadaan ini disebabkan karena gangguan dalam perilaku dan interaksi sosial, bukan karena defisit akademik(1). Prediksi masa depan anak Asperger positif. Beberapa pasien menggunakan talenta khususnya untuk memperoleh pekerjaan yang dapat menunjang kehidupannya sendiri(1). Perilaku buruk seringkali didasari ketidakmampuan meng-komunikasikan frustrasi dan kecemasan(14). Pada saat remaja, mereka tidak menyadari kalau berbeda dengan yang lain dan sering disingkirkan dalam hubungan interpersonal. Pada saat dewasa mereka beradaptasi sangat superfisial, egosentris

dan terisolasi(3). Gangguan bipolar dan gangguan cemas dapat menjadi komorbiditas untuk gangguan Asperger(5,11,48). Frustrasi kronis akibat kegagalan berulang apabila berbicara dengan orang lain dan saat menjalin persahabatan menye- babkan penderita dengan gangguan Asperger dapat menderita juga gangguan mood(1). Beberapa penderita dapat mempunyai gambaran katatonik(8) gangguan obsesi kompulsi(3,5,49)ide bunuh diri, temper dan gangguan menentang(49). Penderita gangguan Asperger mengalami penurunan berat badan dan gangguan makan(50). Pada beberapa populasi penelitian ditemukan adanya komorbiditas gangguan ini dengan gangguan tik(2,5,40)dan sindrom Tourette(3,8,22) Volkmar & Klin,1997 mengatakan adanya komorbiditas antara gangguan Asperger dengan Attention Deficit Hiperactivity Disorder(3). Menurut Tantam (1980), penderita Asperger memperlihatkan perilaku antisosial pada saat dewasa(45).Gangguan Asperger akan berkembang pada kecenderungan paranoid(22). Mawson dan kawan-kawan (1985), menunjukkan adanya hubungan antara gangguan Asperger dengan perilaku kekerasan dan agresif serta membakar rumah(15).Beberapa gangguan medis spesifik yang dapat bersamaan dengan gangguan Asper-ger yaitu tuberous sclerosis,(17,26,39)Marfan-like syndrome, Kleine-Levin syndrome,fragile X syndrome dan sindrom kromosom lain termasuk translokasi kromosom 17-19(8). SUMBER: - Theresia Kaunang. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10_149_DiagnosadanPenatalaksanaangangguanasperge r.pdf/10_149_DiagnosadanPenatalaksanaangangguanasperger.html
http://yudhakasman.wordpress.com/2010/03/22/prognosis -dan-perjalanan-penyakit-asperger/

REFERENSI SUMBER ASPERGER


By yudhakasman

KEPUSTAKAAN 1. Volkmar FR, Klin A. Pervasive developmental disorder. Dalam : Kaplan HI, Sadock BJ. Comprehensive Textbook of Psychiatry, 7 th ed, Baltimore, William & Wilkins;1999:2674-7. 2. Bowman EP. Asperger s syndrome and autism: the case for a connection. Br J Psychiatr. 1988; 152 : 377-82. 3.

Rosen BS. Asperger s syndrome, high functioning autism, and disorder of autistic continuum. http://www.asperggersyndrome.com. Diakses 4 April 2001. 4. Levin K. Pervasive developmental disorder: PDD-NOS, Asperger disorder and autism parent information booklet. http://www.children hospital.org/ici/publications. Diakses 4 April 2001. 5. Bauer S. Asperger syndrome. http://www.asperger.org/articles. Diakses 4 April 2001. 6. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder 4 th ed. American Psychiatric Association.Washington, DC:75-7. 7. Volkmar FR, Klin A, Siegel B, et al. Field trial for autistic disorder in DSM-IV. Am J Psychiatr. 1994;151:1361-7. 8. Gillberg C. Asperger syndrome and high functioning autism, Br J Psychiatr. 1998;172:200-9 9. Kerbeshian J, Burd L. Asperger s syndrome and Tourette syndrome: the case of the Pinball Wizard. Br J Psychiatr. 1986;148:731-6. 10. Volkmar FR, Klin A, Schultz RT et al. Clinical case conference : Asperger s disorder. Am J Psychiatr. 2000;157:262-7. 11. Cox AD. Is Asperger s syndrome a useful diagnosis ?. Arch. Dis. Childhood 1991;66: 259-62. 12.

Kerbeshian J, Burd L, Fisher W. Asperger s syndrome: to be or not to be?. Br J Psychiatr. 1990;156:721-5. 13. Ehlers S, Gillberg C. The epidemiology of Asperger syndrome : A total population study. Cambridge University Press, 1993. 14. Lord R. Asperger syndrome. http: www.asperger.orgarticle. Diakses 4 April 2001. 15. Scragg P, Shah A. Prevalence of Asperger s syndrome in a secure hospital. Br J Psychiatr. 1994;165:679-82 16. Editorial. By one name. J Pediatr. 2000;136:576-7. 17. Szatmari P et al. Two year outcome of preschool children with autism or Asperger s syndrome and high functioning autism. Br J Psychiatr. 1998;172:200-9. 18. Tantam D. Lifelong eccentricity and social isolation II: Asperger s syndrome or schizoid personality disorder?. Br J Psychiatr.1988;153: 783-91. 19. Editorial. Zebras in the livingroom : The changing faces of autism. J Pediatr.1999;135:533-5. 20. Connolly AM et al. Serum autoantibodies to brain in Landau-Kleffner variant, autism, and other neurologic disorder. J Pediatr. 1999;134:60713.

21. Volkmar FR et al. Nosology and genetic aspect of Asperger syndrome. J Autism Dev Disord.1998;28(5):457-63. 22. Gillberg CL. Autism and autistic-like conditions : subclasses among disorder or empathy. Cambridge University Press. 1992. 23. Burguine E, Wing L. Identical triplets with Asperger s syndrome. Br J Psychiatr. 1983; 143:261-5. 24. Horvath K et al. Gastrointestinal abnormalities in children with autistic disorder. J. Pediatr. 1999;135:559-63. 25. Milles, Capelle. Asperger s syndrome and aminoaciduric : a case sample. Br J Psychiatr.1987;150:397-400. 26. Rinehart NJ et al. Atypical interference of local detail on global processing in high -functioning autism and Asperger s disorder.J Child Psychol Psychiatr. 2000; 41 (6) :769-78. 27. Schultz RT, Gaulthier I et al. Abnormal ventral temporal cortical activity during face discrimination among individuals with autism and Asperger syndrome. Arch Gen Psychiatr. 2000;57:331-40. 28. Jones PB, Kerwin RW. Left temporal lobe damage in Asperger s syndrome. Br J Psychiatr.1987; 150:397-400. 29. Klin A, Volkmar FR et al. Validity and neuropsychological characterization of Asperger syndrome: convergence with nonverbal learning disability syndrome. Cambridge University Press.1995. 30. Attwood T. Motor Clumsiness. http://www.Asperger.org/articles. Diakses 4 April 2001. 31. Ringman JM, Jankovic J. Occurrence of tics in Asperger s syndrome and autistic disorder. J Child Neurol. 2000;156:394-400. 32. Grossman JB, Klin A, Carter AS, Volkmar FR. Verbal bias in recognition of facial emotion in children with Aspreger syndrome. J Child Psychol

Psychiatr. 2000;41(3):369-79. 33. Bowler DM, Gardiner JM, Grice S et al. Memory illusions: false recall and recognition in adults with Asperger s syndrome. Abnorm Psychol. 2000;109(4): 663-72. 34. Bowler DM, Gardiner JM, Grice SJ. Episodic memory and remembering in adults with Asperger syndrome. J Autism Dev Disord.2000; 30(4):295-304 35. Miller JN, Ozonoff S. The external validity of Asperger disorder: lack of evidence from the domain of neuropsychiatry. J Abnorm Psychol. 2000;109(2):227-38. 36. Bolton PF et al. Association of tuberous sclerosis of temporal lobes with autism and atypical autism. Lancet.1997;349:392-5. 37. Craig J, Baron-Cohen S. Story-telling ability in children with autism or Asperger syndrome: a window into the imagination. Isr J Psychiatry Relat Sci. 2000;37(1): 64-70. 38. Craig J, Baron-Cohen S. Creativity and imagination in autism and Asperger syndrome. J Autism Dev. Disord.1999;29(4):319-26. 39. Littlejohns CS, Clarke DJ, Corbett JA. Tourette-Like Disorder in Asperger syndrome.Br J Psychiatr.1990;156:430-3. 40. Szatmari P. The classification of autism, Asperger syndrome and pervasive developmental disorder. Can J Psychiatr. 2000;45(8):731-8. 41. Charman T, Skuze DH. Autism. Psychiatr. Medicine Internat. 2000; 3: 54-6. 42. Baron-Cohen S. Is Asperger syndrome/high-functioning autism necessarily a disability?.Dev Psychopathol.2000;12(3):489-500. 43. Prior M, Eisenmajer R, Leeham et al. Are there subgroup within the autistic spectrum?. A cluster analysis of groups of children with autistic spectrum disorder. J Child Psychol Psychiatr. 1998;39(6):893-902.

44. Wolff S. Schizoid personality in childhood and adulthood life. III : the childhood picture. Br J Psychiatr.1991;159:629-35. 45. Everall IA, Lecounter A. Firesetting in an adolescent boy with Asperger syndrome.Br J Psychiatr. 1990;157:284-7. 46. Walker A. Separate realities; a plain narrative of a-posteriori cognition: analogue for comparisons with and between Asperger s syndrome and other autistic spectrum condition. http://www.shifth.mistral.co.uk/autism. Diakses 4 April 2001. 47. Attmood T. Asperger syndrome: Some common question.: http://www.asperger.org/article. Diakses 4 April 2001. 48. Ghaziuddin M et al. Comorbidity of Asperger syndrome : a preliminary report. J Intellect Disabil Res. 1998;42:279-83. 49. Green J et al. Social and psychiatry functioning in adolescent with Asperger syndrome compared with conduct disorder. J Autism Dev Disord.2000;30(4) :27993. 50. Sobanski E. Further evidence for a low body weight in male children and adolescent with Asperger s disorder. Eur Child Adolesc Psy.1999; 8(4):312-4. 51. Grossman R. Behavioral Modification Programme for PDD Children. Child Neurology and Developmental Centre. www.child brain.com. Diakses 8 April 2003 52. Sadock BJ, Kaplan HI, Pervasive Develompental Disorder. Synopsis of Pychiatry, 9 th ed, 2002 :1208-22. 53. Zepf B. Risperidone for aggressive behavior in autistic children. Am. Family Physician 2003:Feb.

54. Mehl-Madrona L.Effective Therapies for Autism and other Developmental Disorder. Autism/Asperger s Digest Magazine, 2000. 55. Susilo RPP. Pengalaman menjalankan diet pada anak Autistic Spectrum Disorder. Konferensi Nasional Autisme I, Jakarta, 2003 :182-9. 56. Utama DK. Terapi sensori integrasi untuk anak-anak dengan gangguan

spektrum autisme. Konferensi Nasional Autisme I, Jakarta, 2003 : 73-9

KRITERIA DIAGNOSTIK ASPERGER


By yudhakasman

KRITERIA DIAGNOSTIK Dahulu para peneliti membuat kriteria diagnosis gangguan Asperger sendiri yaitu: kriteria diagnostik Wing (1981), Gillberg and Gillberg (1989), Szatmari dkk (1989), kriteria diagnostik ICD 10 (1990), kriteria diagnostik DSM IV(13,40). Sekarang ICD 10 dan DSM IV digunakan sebagai kriteria diagnosis. Kriteria diagnosis Gangguan Asperger menurut DSM IV: 1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, seperti yang ditunjukkan oleh sekurangnya dua dari berikut : - Ditandai gangguan dalam penggunaan perilaku nonverbal multipel seperti tatapan mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak-gerik untuk mengatur interaksi sosial. - Gagal mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sesuai menurut tingkat perkembangan. -Gangguan untuk secara spontan membagi kesenangan, perhatian atau prestasi dengan orang lain (seperti kurang memperlihatkan, membawa atau menunjukkan obyek yang menjadi perhatian orang lain). -Tidak adanya timbal balik sosial dan emosional. 2.Pola perilaku, minat dan aktivitas yang terbatas, berulang dan stereotipik, seperti yang ditunjukkan oleh sekurang -kurangnya satu dari berikut : - Preokupasi dengan satu atau lebih pola minat yang stereotipik, dan terbatas, yang abnormal baik dalam intensitas maupun fokusnya. - Ketaatan yang tampaknya tidak fleksibel terhadap rutinitas atau ritual yang spesifik dan nonfungsional.

- Manerisme motorik stereotipik dan berulang (men-jentik dan mengepak-ngepak tangan atau jari, atau gerakan kompleks seluruh tubuh). - Preokupasi persisten dengan bagian-bagian obyek. 3. Gangguan ini menyebabkan gangguan yang bermakna secara klinis dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya. 4. Tidak terdapat keterlambatan menyeluruh yang bermakna secara klinis dalam bahasa (misalnya, menggunakan kata tunggal pada usia 2 tahun, frasa komunikatif digunakan pada usia 3 tahun). 5. Tidak terdapat keterlambatan bermakna secara klinis dalam perkembangan kognitif atau dalam perkembangan ketrampilan menolong diri sendiri dan perilaku adaptif yang sesuai dengan usia (selain dalam interaksi sosial), dan keingintahuan tentang lingkungan pada masa kanak-kanak. 6. Tidak memenuhi kriteria untuk gangguan pervasif spesifik atau skizofrenia(6). Klasifikasi gangguan perkembangan pervasif yang ada sekarang ini kurang memuaskan orang tua yang mempunyai anak dengan gangguan ini, klinikus dan peneliti akademik. Karena reliabilitas dan validitas dari data empirik gangguan ini, dianjurkan pendekatan baru untuk klasifikasinya(40). sumber: http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10_149_DiagnosadanPenatalaksanaangangguanasperge r.pdf/10_149_DiagnosadanPenatalaksanaangangguanasperger.html
http://yudhakasman.wordpress.com/2010/03/22/kriteria-diagnostik-asperger/

Kemampuan Berbahasa Pada Anak Asperger


By yudhakasman

Kemampuan Berbahasa Pada Anak aspergeroleh: Vitriani Sumarlis, PsiKlinik Anakku CinereJuni 2001 Pada salah satu sudut kelas terlihat seorang anak laki-laki berusia kurang lebih 9 tahun, sedang tekun menggambar sementara ibunya sedang berbicara dengan gurunya di depan kelas. Ia terlihat sangat asyik menggambar tanda-tanda (icon) yang terdapat pada program Microsoft Word, dengan tarikan garis yang sangat pas, sangat detil hingga seolaholah kita sedang berhadapan dengan layar komputer dan siap bekerja dengan program Microsoft Word. Ketika salah seorang rekan gurunya datang menghampiri, anak laki-laki tersebut terlihat tidak memperdulikannya namun tiba-tiba dia menyapa dan memulai pembicaraan dengan kata Ini tanda apa! sambil menunjuk simbol W

yang mewakili Microsoft Word. Belum sempat guru tersebut menjawab, ia sudah melanjutkan kata-kata berikutnya berupa penjelasan dari tandatanda yang dibuatnya ;.new.open.save.print. dan seterusnya hingga tanda-tanda yang digambarkannya selesai disebutkan. Intonasi selama pembicaraan terlihat datar dengan wajah tanpa ekspresi. Ia terlihat seolah-olah ingin berkomunikasi dengan guru yang menghampirinya, namun kontak mata hanya sesekali. Percakapan hanya berlangsung satu arah, formal dengan topik pembicaraan terbatas dan berulang hanya pada tanda-tanda Microsoft Word. Gambaran di atas mewakili karakteristik yang ditunjukkan oleh anak dengan sindrom asperger, yaitu gangguan perkembangan yang berada dalam spektrum autis. Kondisi yang dialami mempengaruhi kemampuan mereka dalam melakukan interaksi sosial dua arah, komunikasi verbal dan non verbal yang miskin dan keengganan untuk menerima perubahan. Cara berpikir mereka kurang luwes dan rentang minat sangat terbatas, mendalam pada bidang-bidang tertentu yang menjadi minatnya saja seperti matematika, ilmu pengetahuan, binatang atau komputer. Kecerdasan mereka normal bahkan cenderung di atas rata-rata. Pada anak-anak dengan tingkat gangguan yang sangat ringan seringkali tidak terdiagnosa dan mungkin tampil hanya sebagai anak yang aneh atau eksentrik. Dalam gambaran yang lebih umum, anak-anak dengan sindrom asperger sulit untuk berteman dengan anak-anak seusianya, kurang dapat memahami tanda-tanda sosial yang diperlukan. Penggunaan bahasa terlihat aneh dan mereka cenderung untuk mengartikan apa yang didengar atau dibaca secara literal, hanya berdasarkan arti kata yang sebenarnya. Kepada mereka perlu diajarkan keterampilan sosial dengan menjelaskan situasi sosial dari waktu ke waktu. Salah satu kemampuan yang terganggu pada anak-anak dengan sindrom asperger adalah kemampuan berbahasa, yang pada akhirnya juga mempengaruhi keterampilan mereka dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa hampir 50 % anak-anak dengan sindrom asperger terlambat dalam perkembangan bicara, tetapi mereka biasanya dapat berbicara dengan lancar pada saat berusia 5 tahun (Eisenmajer, dkk dalam Attwood, 1998). Meskipun demikian, cara mereka berbicara sangat aneh, tampak nyata pada saat mereka kurang dapat mengembangkan percakapan yang wajar.Penguasaan fonologi (pengucapan) dan sintaksis (tata kalimat) mengikuti pola yang sama dengan anak-anak yang lain,namun perbedaan utama tampak pada kemampuan pragmatis (penggunaan bahasa pada konteks sosial), semantik (pemahaman suatu kata memiliki beberapa arti) serta prosodi (tinggi rendah, tekanan dan ritme suara).

Berikut ini adalah strategi penanganan yang dapat dilakukan untuk membantu kesulitan berbahasa yang dialami. Kemampuan Pragmatis Lebih umum dikenal sebagai seni dalam berbicara. Anak-anak dengan sindrom asperger seringkali mengalami kesulitan untuk memulai interaksi dengan orang lain karena mereka sulit untuk menempatkan kalimat pembuka pada suatu percakapan sesuai dengan situasi sosial yang sedang dihadapi. Misalnya dalam menghadapi tamu orangtuanya yang datang ke rumah, salah seorang anak dengan sindrom asperger akan berkata Halo, apakah kamu menyukai ikan pari?, ketika tamu tersebut baru memasuki ruang tamu. Kemudian ia akan meneruskan pembicaraan dengan memberikan penjelasan yang lebih detil tentang topik tersebut secara ilmiah hingga selesai. Percakapan akan berlangsung satu arah, meskipun lawan bicaranya terlihat bosan atau menginginkan pembicaraan dihentikan. Atau tiba-tiba saja seorang anak dengan sindrom asperger mengomentari tamu ibunya dengan berkata Tante bertubuh besar, dimana anak tersebut tidak menyadari wajah merah ibunya atau tamu tersebut karena malu atau marah. Yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah: - Mengajarkan mereka berbagai kalimat pembuka percakapan disesuaikan dengan berbagai situasi sosial, yang umum dilakukan orang. - Ajarkan pula mereka untuk meminta penjelasan ketika mengalami kebingungan. Berikan dukungan agar mereka lebih percaya diri untuk mengakui Saya tidak tahu karena umumnya anak-anak dengan sindrom asperger tidak ingin terlihat oleh orang lain bahwa mereka tidak tahu. - Mengajarkan mereka tanda-tanda kapan harus memberikan jawaban balasan, menginterupsi suatu percakapan atau mengubah topik pembicaraan. - Mendampingi dan membisikkan anak apa yang harus dikatakannya pada suatu percakapan yang lebih kompleks. Secara bertahap, anak didukung untuk memulai percakapannya sendiri. - Abaikan anak ketika mereka memberikan komentar-komentar yang tidak relevan dalam suatu percakapan. Cara yang dapat dilakukan untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan tersebut di atas adalah melalui bermain peran atau menggunakan balon bicara tentang cerita sosial seperti percakapan yang terdapat dalam komik. Melalui balon bicara, reaksi emosi yang muncul pada suatu percakapan dapat divisualisasikan melaui gambar atau warna. Kemampuan Semantik Anak-anak dengan sindrom asperger cenderung menginterpretasikan apa yang orang lain katakan secara literal. Mereka kurang dapat memahami berbagai kemungkinan arti dari suatu kata, yang dapat disesuaikan dengan konteks sosialnya. Mereka kurang dapat menyadari arti kata yang tesembunyi, implisit atau bermakna ganda.

Misalnya dalam bekerja sama kita harus saling berpegangan tangan yang mereka artikan berpegangan tangan dalam arti yang sebenarnya. Karena kekurangannya tersebut, anak-anak ini kurang memahami olokan teman, aturan permainan atau humor. Dalam mengatasi permasalahan tersebut sebaiknya orangtua atau guru: - Menyederhanakan pembicaraan, disesuaikan dengan tingkat pemahaman mereka. - Membuatkan buku catatan kecil yang berisi contoh kata-kata kiasan dan alternatif arti yang terkandung di dalamnya. Kemudian cobalah untuk menerapkan kata-kata tersebut dalam cerita sosial, yang dapat dibantu melalui percakapan dalam komik. Prosodi Dalam suatu percakapan, pengubahan intonasi dan besarnya suara dilakukan untuk memberikan penekanan pada katakata kunci atau emosi tertentu. Variasi tersebut tidak ditemukan pada anak-anak dengan sindrom asperger karena pembicaraan mereka cenderung datar, monoton dan tanpa disertai ekspresi wajah yang sesuai. Melalui latihan drama, anak dapat diajarkan untuk memodifikasi tekanan, ritme dan tinggi rendahnya suara. Lebih lanjut, penanganan oleh terapis wicara dapat membantu mengatasi masalah tersebut. Disamping kesulitan-kesulitan berbahasa di atas, pada saat berkomunikasi anak-anak dengan sindrom asperger seringkali menemukan hambatan berkaitan dengan: Kesulitan untuk membedakan dan/gangguan suara Mereka menemukan kesulitan ketika harus memperhatikan suara seseorang diantara suara orang lainnya yang berbicara pada saat bersamaan. Hal ini dapat terjadi misalnya ketika suara guru menerangkan pada kelas yang bersebelahan saling terdengar. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan untuk memahami penjelasan guru atau pun instruksi yang diberikan. Yang dapat dilakukan oleh guru atau orangtua adalah: - Memberikan dukungan kepada anak untuk meminta pengulangan instruksi dengan lebih singkat dan dengan bahasa yang lebih mudah untuk dipahami. - Mintalah anak untuk mengulang kembali intruksi yang telah diberikan untuk mengetahui penerimaannya. - Beri jeda setiap selesai menyampaikan suatu kalimat/instruksi. - Untuk membantu penerimaan anak terhadap penjelasan guru di kelas, berikan tugas pada anak untuk membaca terlebih dahulu materi baru yang akan diajarkan. Kecenderungan untuk berbicara sendiri Anak-anak dengan sindrom asperger seringkali berbicara sendiri ketika sedang bermain sendiri atau sedang bersama orang lain. Mereka menjadi terlihat aneh dan kegiatan yang mereka lakukan mengganggu perhatian orang lain. Tidak jarang mereka menjadi bahan olokan teman-temannya atau instruksi guru menjadi terabaikan. Bila kegiatan tersebut sudah menganggu orang lain, ajarkan mereka untuk berbisik-bisik saja.Kelancaran verbal

Pada saat anak-anak asperger memiliki antusiasme yang sangat tinggi terhadap minat mereka, mereka akan membicarakan minat tersebut secara terus menerus dan seringkali membuat orang lain yang mendengarkannya merasa bosan. Oleh karena itu sebaiknya mereka diajarkan untuk mengenali tanda-tanda kapan dia harus berhenti berbicara. Sebaliknya pada saat anak-anak ini menjadi diam atau kehilangan kata-kata mereka, guru dan orangtua hendaknya mewaspadai kemungkinan mereka sedang memiliki kecemasan yang sangat tinggi sehingga memerlukan penanganan ahli. Pada dasarnya anak-anak dengan sindrom asperger merupakan anak-anak yang cerdas, bahagia dan penuh dengan kasih sayang. Bila kita dapat membantu mereka menembus dunia kecil mereka, kita dapat membantu mengatasi permasalahan mereka untuk menjadi lebih baik dalam masyarakat. sumber: - Joomla. Generated: 22 March, 2010, 07:42. http://www.kesulitanbelajar.org
http://yudhakasman.wordpress.com/2010/03/22/kemampuan -berbahasa-pada-anak-asperger/

Makna, Penyebab dan Penanganan untuk Anak ASPERGER


By yudhakasman

Makna, Penyebab dan Penanganan untuk Anak ASPERGER * Dikutip dari Dr. Reni Akbar- Hawadi, Psikolog dan wawancara dengan DR. Endang Widyorini M.Si Psikolog Sejarah Asperger Lorna Wing adalah tokoh pertama yang menggunakan istilah Sindrom Asperger dalam sebuah makalah yang dipublikasikan pada 1981. Ia menggambarkan sekumpulan anak dan orang dewasa yang memiliki karakteristik kecakapan dan perilaku yang untuk pertama kali dijelaskan oleh seorang pediatrik yang berasal dari Wina, Hans Asperger. Dalam tesis doktoral yang dipublikasikan pada 1944, Hans Asperger menggambarkan empat anak lakilaki yang benar-benar tidak lazim dalam kemampuan berinteraksi, linguistik, dan kognitifnya. Pada tahun 1990-an, Sindrom Asperger dipandang sebagai sebuah varian autisme dan kelainan perkembangan pervasif, yaitu suatu kondisi yang mempengaruhi perkembangan kecakapan dalam rentang yang luas. Kini, Sindrom Asperger dianggap sebagai suatu subkelompok dalam spektrum autistik dan memiliki kriteria diagnostik tersendiri (Attwood, 2002). Para pengidap Sindrom Asperger mempersepsi dunia secara berbeda. Bagi mereka, semua orang sangat aneh dan membingungkan. Cara mereka dalam mempersepsi dunia kerap membawa mereka ke hal yang bertentangan dengan cara-cara berpikir, berperasaan, dan berperilaku yang konvensional (Attwood, 2002).

Kesulitan anak Asperger dalam besosialisasi dapat membuat mereka menjadi sangat stres di sekolah. Banyak kendala yang akan ditemukan pada saat anak Asperger memasuki masa remaja Untuk menghadapi hal tersebut, orang tua disarankan untuk segera mencari ahli profesional untuk melakukan intervensi yang diperlukan sesegera mungkin dengan berterus terang kepada guru atau kepala sekolah dan membawa referensi dari ahli tersebut. Tanpa pemberitahuan dari orang tua, pihak sekolah, dan teman-teman sebaya, anak-anak Asperger sulit untuk mengetahui bahwa mereka berbeda. Hal inilah yang biasanya dapat menjadi pemicu terjadinya masalah serius pada anak Asperger. Mereka membutuhkan bantuan untuk menemukan cara beradaptasi dengan dunia sebagaimana mestinya, sehingga mereka dapat memanfaatkan keterampilan khususnya secara konstruktif, menggunakan keterampilan-keterampilan tertentu tanpa berkonflik dengan orang lain, dan sebisa mungkin mampu mencapai kemandirian pada tingkat tertentu dalam kehidupan orang dewasa serta hubungan sosial yang positif (Attwood, 2002). Apakah Sindrom Asperger (asperger syndrome/AS) berbeda dengan Autism? Menurut Ibu Endang Widyorini dari Pusat Keberbakatan Universitas Soegijapranata Semarang, Sindrom Asperger adalah sindrom yang mempunyai kecenderungan menyerupai pola perilaku para penderita autis di mana mereka susah berkomunikasi dan berinteraksi sosial namun penderita sindrom ini mempunyai intelegensi dan kemampuan verbal yang normal. Artinya, mereka sehat-sehat saja dan tidak mengalami keterbelakangan mental seperti kebanyakan anak-anak autis Penderita sindrom Asperger rata -rata memiliki gramatikal dan vocabulary yang cukup baik pada masa awal pertumbuhannya. Hanya saja mereka tidak bisa menerapkan bahasa secara hara fiah dan kontekstual atau dengan kata lain tidak mempunyai kemampuan mengungkapkan pesan melalui penggunaan bahasa dengan lancar sehingga mereka susah diterima oleh komunitas sosial. Kita tidak bisa mengerti dan memahami apa yang ingin disampaikannya karen a penderita sindrom ini memiliki gangguan sistem saraf sehingga mereka tidak mempunyai koordinasi yang baik untuk berkomunikasi. Dalam kehidupan sehari -hari kita sering menjumpai orang yang tidak bisa berbahasa dengan lancar, terdengar kaku, sangat formal . Tidak jarang dari mereka mempunyai potensi tersembunyi dalam dirinya dan bahkan mungkin lebih jenius ketimbang orang normal .Penyebab Asperger Menurut Attwood (2002), hal-hal yang dapat menyebabkan seseorang memiliki gangguan Asperger, antara lain: Gangguan pada saat kelahiran atau kehamilan

NeurologisSindrom Asperger merupakan suatu gangguan perkembangan yang mengacu pada disfungsi struktur dan sistem dalam otak. Penanganan untuk anak Asperger

Menurut Attwood (2002), ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi gejala-gejala yang dimunculkan oleh seseorang yang mengalami gangguan Asperger, antara lain: 1) Bila ada gangguan perilaku sosial, pelajari cara untuk: - Mengawali, memelihara, dan mengakhiri permainan kelompok - Bersikap fleksibel, kooperatif, dan mau bebagi - Mempertahankan kesendirian tanpa mengganggu orang lain Doronglah seorang teman untuk bermain dengan anak di rumah Daftarkan anak di perkumpulan-perkumpulan atau kelompok-kelompok Ajari anak untuk mengamati anak-anak lain untuk menunjukkan hal yang harus dilakukan Doronglah permainan-permainan yang kompetitif dan kooperatif Doronglah anak untuk menjalin persahabatan yang prospektif Sediakan hiburan di saat-saat istirahat Sediakan guru pendamping

Gunakan kisah-kisah tentang sosial untuk memahami petunjuk-petunjuk dan tindakantindakan bagi situasi-situasi sosial tertentu 2) Bila ada masalah bahasa, bantu anak untuk pelajari : - Komentar-komentar pembuka yang tepat - Cara untuk mencari bimbingan ketika mengalami kebingungan Ajari petunjuk-petunjuk tentang saat untuk membalas, menginterupsi, atau mengubah topik Berbisiklah di telinga anak tentang ucapan yang harus dikatakan kepada orang lain

Gunakan kisah-kisah tentang bermasyarakat dan percakapan dalam bentuk komik sebagai suatu representasi lisan atau piktoral pada tingkat komunikasi yang berbeda Ajarkan bagaimana memodifikasi tekanan, irama, dan nada untuk menekankan kata -kata kunci dan emosi-emosi terkait 3) Pada masalah minat dan rutinitas : Ajari konsep waktu dan jadwal untuk menunjukkan rangkaian aktivitas

Kurangi tingkat kecamasan anak 4) Masalah koordinasi motorik yang kikuk, bantu anak untuk : Memperbaiki keterampilan-keterampilan menangkap dan melempar bola sehingga anak bisa turut bermain bola Menggunakan perangkat permainan di taman bermain dan tempat berolahraga Pengawasan dan dorongan untuk memperlambat tempo gerakan Merujuk pada ahli kesehatan yang relevan 5) Pada masalah kognisi, Bantu anak untuk :

Belajar memahami perspektif dan pikiran-pikiran orang lain dengan menggunakan permainan peran dan instruksi-instruksi Dorong anak untuk berheni memikirkan perasaan orang lain sebelum mereka bertindak atau berbicara Belajar untuk meminta pertolongan, terkadang menggunakan sebuah kode rahasia

Periksa apakah anak menggunakan strategi yang tidak konvensional dalam membaca, menulis, atau berhitung Hindari kritik dan omelan 6) Masalah kepekaan sensoris

Minimalkan bunyi yang ada di sekitar kita, khususnya bila sejumlah orang berbicara pada waktu yang sama Lakukan terapi integrasi sensoris Kurangi sensitivitas pada area tertentu dengan menggunakan pemijatan dan vibrasi Hindari cahaya yang terlalu terang Dorong anak untuk melaporkan rasa sakit yang dialami tubuhnya

sumber: - Gina Al Ilmi, S.Psi. http://www.apsi-himpsi.org/Artikel/Wacana-APSI.php


http://yudhakasman.wordpress.com/2010/03/22/makna -penyebab-dan-penanganan-untuk-anakasperger/

Keistimewaan Anak Asperger


By yudhakasman

Keistimewaan Anak Asperger

Banyak berprestasi, tapi sering dianggap aneh. Memiliki kebiasaan yang tidak lazim serta memiliki minat yang sempit. Ketidaklaziman mereka membuat mereka sering dianggap aneh oleh kawan-kawannya di sekolah. Siapakah mereka dengan Asperger itu? Einstein adalah salah satunya. Tokoh lainnya yang tak kalah menakjubkan adalah Bill Gates. Menurut para ahli,baik Einstein maupun Gates, memiliki ciri yang sama yang juga ditemukan pada anakanak Asperger. Kesamaannya antara lain adalah pada hubungan interpersonal yang tidak biasa (mereka sering sekali penyendiri), dan kebiasaan melakukan gerakan berulang tanpa maksud (Bill Gates sering mengayun-ayunkan kursi duduknya tanpa maksud) Apakah anda mengetahui ada saudara atau mungkin kawan anda yang kemungkinan adalah anak asperger? Bagaimana mereka bisa dibantu? Bagaimana mengeluarkan potensi terbesar mereka? Jawabannya akan coba diterangkan dalam edisi APSInfo kali ini. Asperger pada dasarnya adalah sejenis autisma. Namun, ada perbedaan yang mencolok. Anak a sperger biasanya memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Namun, hanya pada bidang yang mereka anggap menarik saja. Kelebihan ini haruslah bisa dikenali hingga bisa kita bantu untuk dikembangkan. Siapa tahu, anak asperger yang anda kenal sekarang, 10 atau 15 tahun kemudian, akan menjelma menjadi Einstein, atau Bill Gates berikutnya. sumber: - Gina Al Ilmi, S.Psi http://www.apsi-himpsi.org/Artikel/Wacana-APSI.php
http://yudhakasman.wordpress.com/2010/03/22/keistimewaan -anak-asperger/

Tips praktis membantu anak asperger baik di rumah maupun di sekolah :


By yudhakasman

Tips praktis membantu anak baik di rumah maupun di sekolah : 1. Alat bantu visual seperti penjelasan tertulis di papan tulis, gambar-gambar di buku 2. jadwal yang rutin dan konsisten, dengan aturan yang jelas, dia akan merasa nyaman dan lebih optimal. Karena dia sangat suka keteraturan dan agak kaku. Buatkan jadwal harian, saat sekolah maupun hari libur 3. bila akan ada perubahan jadwal, beritahukan 1 hari sebelumnya. Karena ketidaktahuannya akan jadwal akan membuat dia bingung dan juga cemas. Disinilah letak kerentanannya. 4. anak asperger punya masalah sensori, mereka tidak suka tempat yang terlalu ramai/bising. Ketika mereka merasa stimulasi lingkungan berlebihan, mereka melakukan stimulasi diri dengan bicara sendiri atau menggerak-gerakkan tangan atau kakinya. Itu yang membuat dia sering disebut aneh oleh teman-temannya. Padahal tujuannya adalah agar tidak merasa tertekan. Stimulasi diri ini harus dibatasi. Perlu ada ruangan yang dinamakan Save Place, satu ruangan tenang yang bila stresnya terlalu tinggi, ia bisa masuk ke ruangan itu dan menenangkan diri, atau disediakan komputer di kelas atau ia bisa istirahat keluar kelas (di sekolah alam) agar ia bisa melakukan hal yang disukainya

5. biasanya anak asperger punya minat tertentu, karena itu sebaiknya digali minatnya. Dengan kemampuan yang didalaminya, dia bisa dimasukkan ke kelompok minat tersebut. Misalnya klub gambar komik, klub olahraga, 6. anak asperger biasanya bagus di sekolah. Di luar sekolah bisa tidak usah di leskan lagi. Kecuali bila ia benar-benar kurang di bidang pelajaran itu. 7. Ia lebih cenderung diam, walau diikutkan kursus kepribadian. Tidak bisa seperti anak normal. Saat remaja, masalahnya sama seperti anak lain, mengalami perubahan emosional, mudah tersinggung. Motivasi berprestasinya tinggi. Ia bisa dibantu untuk bersosialisasi seperti dianjurkan untuk berpakaian mengikuti mode seperti teman-temannya, agar ia bisa tidak dianggap aneh oleh kawan-kawannya, juga diajari soal musik yang sedang tren, gaya bahasa gaul, dan sebagainya. sumber: - Dr. Adriana S Ginanjar, M.Psi, Psikolog http://www.apsi-himpsi.org/Artikel/PendidikanTerbaik-Ubtuk-Anak-Asperger.php
http://yudhakasman.wordpress.com/2010/03/22/tips-praktis-membantu-anak-asperger-baik-dirumah-maupun-di-sekolah/

Pendidikan Terbaik untuk Anak Asperger


By yudhakasman

Anak Asperger sering dikaitkan dengan autistic. Tapi anak autis memiliki gangguan interaksi sosial dan komunikasi, juga perilaku dan minat yang sempit. Sedangkan anak asperger sering diebut high fuction autis. Mereka memiliki ciri-ciri autis tapi IQnya tinggi hingga bisa masuk ke sekolah umum. Masalah utamanya adalah kesulitan mereka dalam interaksi sosial, diantara teman-temannya sering dianggap aneh. Asperger sering tidak disadari oleh orangtuanya hingga anak masuk usia Sekolah Dasar, saat anak harus interaksi dengan temannya. Mereka tidak memiliki masalah bicara seperti anak autis, namun mereka biasa menggunakan bahasa yang kaku atau formal, bukan bahasa sehari hari. Dari kecil biasanya mereka punya minat yang sangat dalam pada ensiklopedia, kartun jepang, dan sebagainya. Sesudah masuk SD baru dicap aneh karena hanya bisa ngobrol tentang minatnya saja. Aturan sosial sangat pintar, tapi kemampuan sosialnya rendah. Biasanya suka menarik diri, lebih suka sendiri, lebih suka belajar. Dia sebenarnya ingin sekali berteman, tapi karena dia aneh, jadi sering diganggu teman, disuruh apa saja nurut saja. Pada dasarnya kemampuan yang paling terbatasnya pada anak asperger adalah pada segi sosialisasi. Dia susah membaca situasi sosial. Tidak punya insting sosial, kecerdasan emosinya kurang, empatinya kurang, cara berpikirnya berbeda, emosinya meledak-ledak, dan tingkah lakunya tidak sesuai lingkungan. Sebenarnya karena dia pintar, banyak temannya, tapi biasanya temannya hanya meminta bantuan untuk tanya PR, atau mengerjakan tugastugas sekolah

Saat kelihatan dia sulit sosialisasi, orangtua bisa mulai menerangkan tentang aturan-aturan sosial yang sepantasnya, saat sedang berlangsung, misalnya ia menghadiri acara ulangtahun temannya, ia bisa dijelaskan untuk memberi selamat, menyerahkan kado yang dibawanya, dan seterusnya. Selain itu mereka juga bisa diberikan buku social stories, berisi cerpen-cerpen situasi sosial. Bila dibohongi teman tidak langsung berubah karena kurang mengerti. Untuk membantu anak asperger di sekolah, nomor satu saat anak asperger pada satu sesi dia tidak masuk, guru harus memberi penjelasan pada teman-temannya mengenai kondisi aspergernya. Tugas guru untuk mendorong teman-teman agar dia bisa diterima. Kedua, orangtua bisa menghubungi guru, sehingga guru bisa membantu orangtua mengadaptasi anaknya di sekolah. Anak asperger dalam akademik tidak bermasalah, orangtua bisa membantu mereka untuk membuat PR. Bila anak suka, ia akan belajar dengan sendirinya, bila tidak suka pelajarannya atau tidak suka gurunya, orangtua harus bisa memberi pengertian pada anak. sumber: -Dr. Adriana S Ginanjar, M.Psi, Psikolog. http://www.apsi-himpsi.org/Artikel/PendidikanTerbaik-Ubtuk-Anak-Asperger.php

Ciri-Ciri Khusus Pada Anak Penderita Asperger


By intanpsikologi

Ciri-Ciri Khusus Pada Anak Penderita Asperger Pada satu sisi sering mencari perhatian dengan berbicara keras dan tidak peduli bila orang lain ingin mengalihkan pembicaraan ke topik lain, Pada sisi yang lain menolak untuk bertatapan mata, tidak mampu berkomunikasi nonverbal atau menggunakan bahasa tubuh,tidak memperlihatkan ekspresi wajah dan kalau menggerakkan badannya atau memberi isyarat tubuh selalu tidak lazim, Menunjukkan ketertarikan hanya pada satu atau dua hal saja, misalnya tentang cuaca, binatang atau jadwal perjalanan dan kosa kata yang dipakai tidak berhubungan satu dengan lainnya, Tidak bisa berempati dan tidak peka terhadap perasaan orang lain atau tidak dapat memahami keprihatinan orang lain, Tidak memiliki rasa humor dan tidak mengerti bila orang lain membuat lelucon dan tertawa karenanya, Gaya bicaranya sangat monoton, kaku dan datar serta sangat cepat, tidak seperti pada umumnya, Bahasa tubuh, gerak badannya pada waktu melakukan kegiatan motorik kasar kaku dan agak aneh dibandingkan anak lain, juga kalau sedang berjalan. (Dari berbagai sumber,Dr.D.Pane/TK Pestalozzi,Cibubur,20 Agustus 2008) Sumber : http://www.pestalozzi-indonesia.com/content/view/36/2/

http://intanpsikologi.wordpress.com/2010/05/26/ciri-ciri-khusus-pada-anak-penderita-asperger/

Asperger: Gangguan Anak Antisosial December 9th, 2008 by yahdillah

Jakarta, Autisme seakan-akan jadi momok menakutkan bagi banyak orang tua. Tidak heran, karena jumlah angka penderitanya di seluruh dunia terus meningkat, termasuk di Indonesia. Meskipun belum ada angka pasti yang menyebutkan penderita autis di Indonesia. Nyatanya tidak hanya penderitanya saja yang bertambah, kini varian autisme juga semakin banyak diketahui. Sindrom asperger merupakan salah satu varian autisme yang lebih ringan dibandingkan kasus autisme klasik. Gangguan Asperger berasal dari nama Hans Asperger, seorang dokter spesialis anak asal kota Wina, Austria. Pada tahun 1940, Asperger ialah orang pertama yang menggambarkan pola perilaku khusus pada pasien-pasiennya, terutama pasien laki-laki. Asperger memperhatikan, meskipun anak laki-laki tersebut memiliki tingkat intelegensia yang normal serta kemampuan bahasa yang baik, namun mereka memiliki kekurangan dalam kemampuan bersosialisasi. Umumnya mereka tidak mampu berkomunikasi secara efektif serta kemampuan koordinasi yang kurang baik. Sindrom asperger banyak disebut sebagai varian dari autisme yang lebih ringan. Para ahli mengatakan, pada penderita sindrom asperger memiliki kondisi struktural otak secara keseluruhan lebih baik dibandingkan pada penderita autisme. Menurut Clinical Assistant Professor of Pediatrics Jefferson Medical College Philadelphia, Susan B. Stine, MD karakter dari anak-anak yang mengalami sindrom asperger ialah kurangnya kemampuan berinteraksi sosial, pola bicara yang tidak biasa dan tingkah laku khusus lainnya. Kemudian, anak-anak dengan sindrom asperger biasanya sangat sulit untuk menampilkan ekspresi di wajahnya serta sulit untuk membaca bahasa tubuh pada orang lain.

Mereka kemungkinan juga merasa nyaman dengan rutinitas tertentu yang harus dilakukan setiap hari serta sensitif terhadap stimulasi sensori tertentu, misalnya mereka akan tertanggu oleh nyala lampu redup yang mungkin tidak diperhatikan oleh orang lain. Bisa saja mereka menutup kuping agar tidak dapat mendengarkan suara di sekitarnya atau mereka mungkin lebih memilih pakaian dari bahan-bahan tertentu saja, jelas Stine. Selain itu, tambah Stine, ciri dari anak yang mengalami sindrom asperger adalah terlambatnya kemampuan motorik, ceroboh, minat yang terbatas dan perhatian berlebihan terhadap kegiatan tertentu. Hal senada diungkapkan oleh dokter spesialis anak konsultan Neurologi, dr Hardiono D Pusponegoro, Sp.A(K). Dia memaparkan, sindroma asperger adalah gangguan perkembangan dengan gejala berupa gangguan dalam bersosialisasi, sulit menerima perubahan, suka melakukan hal yang sama berulang-ulang, serta terobsesi dan sibuk sendiri dengan aktivitas yang menarik perhatian. Umumnya, tingkat kecerdasan si kecil baik atau bahkan lebih tinggi dari anak normal. Selain itu, biasanya ia tidak mengalami keterlambatan bicara, kata Hardiono. Jika dilihat secara sekilas, lanjutnya, anak tersebut tidak berbeda dengan anak yang pintar dan kreatif. Hanya saja, anak tersebut biasanya memiliki satu minat tertentu saja untuk dikerjakannya. Memang secara keseluruhan anak-anak yang mengalami gangguan sindrom asperger mampu melakukan kegiatan sehari-hari, namun terlihat sebagai pribadi yang kurang bersosialisasi sehingga sering dinilai sebagai pribadi eksentrik oleh orang lain. Menurut Stine, jika penderita sindrom asperger beranjak dewasa, biasanya mereka akan merasa kesulitan untuk mengungkapkan empati kepada orang lain serta tetap kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain. Pada ahli mengatakan bahwa penderita sindrom asperger biasanya akan menetap seumur hidup. Namun, gejala tersebut dapat dikurangi dan diperbaiki dalam kurun waktu tertentu terutama deteksi dini sindrom asperger akan sangat membantu, pungkasnya. Gangguan sindrom asperger pada umumnya akan terus mengikuti perkembangan usia seseorang. Meski tidak membahayakan jiwa, namun gangguan itu bisa membuat anak takut berada di keramaian dan membuat anak depresi. Ciri yang menonjol pada anak asperger adalah mereka tidak bisa membaca kode-kode atau ekspresi wajah seseorang. Karena ketidakmampuannya itu, anak asperger dijauhi temantemannya. Biasanya mereka jadi anak yang antisosial, sulit berinteraksi dengan orang lain, kata Hardiono. Ketika anak asperger tidak mempunyai teman, lalu tidak tahu harus bersikap bagaimana untuk menghadapi sebuah situasi, dia akan merasa putus asa dan akhirnya depresi.

Sesuai engan perkembangan otak, kalau kelainan itu diketahui lebih dini, maka bisa distimulasi atau diberi obat agar berkembang ke arah yang baik. Namun, kalau sudah terlambat deteksinya, yaitu sudah berusia lima atau enamtahun, maka sulit penanganannya karena perkembangan otak sudah berhenti. Pada umur lima tahun, bagian otak yang disebut sinaps-sambungan antar saraf di mana bahan kimia serotonin bekerja-akan berhenti. Kini teknik-teknik terapi sudah jauh lebih maju dan fasilitas sudah banyak. Hardiono menuturkan, salah satu terapi yang bisa dilakukan adalah dengan mengajak si anak bermain. Stimulasi ini diketahui memperbaiki sinaps dan meningkatkan kadar serotonin. Menurut Hardiono, anak asperger masih bisa diterapi, terutama dalam hal kemampuan bersosialisasi. Pasalnya, kemampuan mereka bersosialisasi sangat kurang. Cara terapi yang paling baik adalah mengajarkan anak bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Terapi dalam bentuk peer group akan lebih baik lagi, paparnya. Anak asperger biasanya memiliki kecerdasan yang tinggi, maka orangtua akan dengan mudah mengajarkan emosi sosial. Misalnya, mengajarkan bagaimana harus bersikap jika menghadapi situasi tertentu. R. Kaan Ozbayrak,M , Assistant Professor of Psychiatry Uni ersity of Massachusetts Medical School menambahkan, beberapa hal lain yang dapat dilakukan untuk membantu anak-anak penderita sindrom asperger. Terapi atau pengobatan yang dilakukan juga harus disesuaikan. Secara umum Ozbayrak mengatakan, anak -anak penderita sindrom asperger akan banyak terbantu oleh orangtua yang memahami dan mampu membantunya. Kemudian, mereka juga membutuhkan pendidikan yang diperuntukan khusus bagi kebutuhannya. Selain itu, anak memerlukan latihan kemampuan untuk bersosialisasi serta ter wicara. api Terapi sensori integrasi juga dapat berguna bagi anak -anak yang masih kecil untuk meminimalisir kondisinya yang terlalu sensitif. Sementara itu, untuk anak -anak yang lebih tua dapat mendapatkan terapi kognitif atau psikoterapi, papar Ozbayrak .
http://www.ilmupsikologi.com/?p=231

Asperger, Gangguan Anak Antisosial


JAKARTA-- Autisme seakan-akan jadi momok menakutkan bagi banyak orang tua. Tidak heran, karena jumlah angka penderitanya di seluru dunia terus meningkat, termasuk di h Indonesia. Meskipun belum ada angka pasti yang menyebutkan penderita autis di Indonesia. Nyatanya tidak hanya penderitanya saja yang bertambah, kini varian autisme juga semakin banyak diketahui. Sindrom asperger merupak salah satu varian autisme yang lebih ringan an dibandingkan kasus autisme klasik.

Gangguan Asperger berasal dari nama Hans Asperger, seorang dokter spesialis anak asal kota Wina, Austria. Pada tahun 1940, Asperger ialah orang pertama yang menggambarkan pola perilaku khusus pada pasien-pasiennya, terutama pasien laki-laki. Asperger memperhatikan, meskipun anak laki-laki tersebut memiliki tingkat intelegensia yang normal serta kemampuan bahasa yang baik, namun mereka memiliki kekurangan dalam kemampuan bersosialisasi. Umumnya mereka tidak mampu berkomunikasi secara efektif serta kemampuan koordinasi yang kurang baik. Sindrom asperger banyak disebut sebagai varian dari autisme yang lebih ringan. Para ahli mengatakan, pada penderita sindrom asperger memiliki kondisi struktural otak secara keseluruhan lebih baik dibandingkan pada penderita autisme. Menurut Clinical Assistant Professor of Pediatrics Jefferson Medical College Philadelphia, Susan B. Stine, MD karakter dari anak-anak yang mengalami sindrom asperger ialah kurangnya kemampuan berinteraksi sosial, pola bicara yang tidak biasa dan tingkah laku khusus lainnya. Kemudian, anak-anak dengan sindrom asperger biasanya sangat sulit untuk menampilkan ekspresi di wajahnya serta sulit untuk membaca bahasa tubuh pada orang lain. Mereka kemungkinan juga merasa nyaman dengan rutinitas tertentu yang harus dilakukan setiap hari serta sensitif terhadap stimulasi sensori tertentu, misalnya mereka akan tertanggu oleh nyala lampu redup yang mungkin tidak diperhatikan oleh orang lain. Bisa saja mereka menutup kuping agar tidak dapat mendengarkan suara di sekitarnya atau mereka mungkin lebih memilih pakaian dari bahan-bahan tertentu saja, jelas Stine. Selain itu, tambah Stine, ciri dari anak yang mengalami sindrom asperger adalah terlambatnya kemampuan motorik, ceroboh, minat yang terbatas dan perhatian berlebihan terhadap kegiatan tertentu. Hal senada diungkapkan oleh dokter spesialis anak konsultan Neurologi, dr Hardiono D Pusponegoro, Sp.A(K). Dia memaparkan, sindroma asperger adalah gangguan perkembangan dengan gejala berupa gangguan dalam bersosialisasi, sulit menerima perubahan, suka melakukan hal yang sama berulang-ulang, serta terobsesi dan sibuk sendiri dengan aktivitas yang menarik perhatian. Umumnya, tingkat kecerdasan si kecil baik atau bahkan lebih tinggi dari anak normal. Selain itu, biasanya ia tidak mengalami keterlambatan bicara, kata Hardiono. Jika dilihat secara sekilas, lanjutnya, anak tersebut tidak berbeda dengan anak yang pintar dan kreatif. Hanya saja, anak tersebut biasanya memiliki satu minat tertentu saja untuk dikerjakannya. Memang secara keseluruhan anak-anak yang mengalami gangguan sindrom asperger mampu melakukan kegiatan sehari-hari, namun terlihat sebagai pribadi yang kurang bersosialisasi sehingga sering dinilai sebagai pribadi eksentrik oleh orang lain. Menurut Stine, jika penderita sindrom asperger beranjak dewasa, biasanya mereka akan merasa kesulitan untuk mengungkapkan empati kepada orang lain serta tetap kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain. Pada ahli mengatakan bahwa penderita sindrom asperger biasanya akan menetap seumur hidup. Namun, gejala tersebut dapat dikurangi dan diperbaiki dalam kurun waktu tertentu terutama deteksi dini sindrom asperger akan sangat membantu, pungkasnya.

Gangguan sindrom asperger pada umumnya akan terus mengikuti perkembangan usia seseorang. Meski tidak membahayakan jiwa, namun gangguan itu bisa membuat anak takut berada di keramaian dan membuat anak depresi. Ciri yang menonjol pada anak asperger adalah mereka tidak bisa membaca kode-kode atau ekspresi wajah seseorang. Karena ketidakmampuannya itu, anak asperger dijauhi temantemannya. "Biasanya mereka jadi anak yang antisosial, sulit berinteraksi dengan orang lain," kata Hardiono. Ketika anak asperger tidak mempunyai teman, lalu tidak tahu harus bersikap bagaimana untuk menghadapi sebuah situasi, dia akan merasa putus asa dan akhirnya depresi. Sesuai dengan perkembangan otak, kalau kelainan itu diketahui lebih dini, maka bisa distimulasi atau diberi obat agar berkembang ke arah yang baik. Namun, kalau sudah terlambat deteksinya, yaitu sudah berusia lima atau enam tahun, maka sulit penanganannya karena perkembangan otak sudah berhenti. Pada umur lima tahun, bagian otak yang disebut sinaps-sambungan antar saraf di mana bahan kimia serotonin bekerja-akan berhenti. Kini teknik-teknik terapi sudah jauh lebih maju dan fasilitas sudah banyak. Hardiono menuturkan, salah satu terapi yang bisa dilakukan adalah dengan mengajak si anak bermain. Stimulasi ini diketahui memperbaiki sinaps dan meningkatkan kadar serotonin. Menurut Hardiono, anak asperger masih bisa diterapi, terutama dalam hal kemampuan bersosialisasi. Pasalnya, kemampuan mereka bersosialisasi sangat kurang. "Cara terapi yang paling baik adalah mengajarkan anak bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Terapi dalam bentuk peer group akan lebih baik lagi," paparnya. Anak asperger biasanya memiliki kecerdasan yang tinggi, maka orangtua akan dengan mudah mengajarkan emosi sosial. Misalnya, mengajarkan bagaimana harus bersikap jika menghadapi situasi tertentu. R. Kaan Ozbayrak,MD, Assistant Professor of Psychiatry University of Massachusetts Medical School menambahkan, beberapa hal lain yang dapat dilakukan untuk membantu anak-anak penderita sindrom asperger. Terapi atau pengobatan yang dilakukan juga harus disesuaikan. Secara umum Ozbayrak mengatakan, anak-anak penderita sindrom asperger akan banyak terbantu oleh orangtua yang memahami dan mampu membantunya. Kemudian, mereka juga membutuhkan pendidikan yang diperuntukan khusus bagi kebutuhannya. Selain itu, anak memerlukan latihan kemampuan untuk bersosialisasi serta terapi wicara. "Terapi sensori integrasi juga dapat berguna bagi anak-anak yang masih kecil untuk meminimalisir kondisinya yang terlalu sensitif. Sementara itu, untuk anak-anak yang lebih tua dapat mendapatkan terapi kognitif atau psikoterapi, papar Ozbayrak. (ri) Sumber : www.republika.co.id
http://www.autis.info/index.php/artikel-makalah/artikel/229-asperger-gangguan-anakantisosial?tmpl=component&print=1&page=

Hormon Oxytocin Bantu Tangani Autisme


Penulis : Ikarowina Tarigan OXYTOCIN atau yang dikenal juga dengan hormon cinta, bisa membantu mengembangkan keterampilan dan perilaku sosial penderita autisme pada level hi hf ti i . Hi h-f ti i ti merupakan istilah informal yang merujuk pada orang-orang autis yang dianggap memiliki fungsi yang lebih tinggi di bidang tertentu dibandingkan penderita autisme pada umumnya. Sebuah studi baru menunjukkan bahwa orang -orang dengan gangguan hi h-f ti i ti , seperti ' , yang ditangani dengan x t i merespon lebih kuat terhadap orang lain dan menunjukkan lebih banyak perilaku sosial yang tepat.

Meskipun mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi, orang -orang dengan hi hf ti i ti kurang keahlian sosial untuk bergaul secara tepat dengan orang lain di dalam masyarakat. x t i dinamakan hormon cinta karena dikenal menguatkan hubungan antara ibu dan bayi. Hormon ini juga diyakini terlibat dalam pengaturan emosi dan perila sosial lainnya. ku Penelitian lain telah menemukan bahwa anak -anak autis memiliki kadar x t i yang lebih rendah dibandingkan anak-anak tanpa autisme. i f the Nati al Academy of Sciences ini, Dalam studi yang dipublikasikan di P peneliti memeriksa efek menghirup oxytocin terhadap perilaku sosial pada 13 orang dewasa muda dengan hi h-f nctioning autism dalam dua percobaan terpisah. Selain itu, peneliti juga melibatkan 13 partisipan tanpa autisme sebagai kelompok pembanding. Pada percobaan pertama, peneliti mengamati perilaku sosial partisipan dalam ball-tossing game di komputer. Dalam game ini, pemain diminta memilih mengirim bola kepada karakter yang baik, buruk atau netral. Pada umumnya, orang-orang dengan autisme tidak akan terlalu mempe rhatikan ketiga pilihan tersebut. Tapi dalam percobaan ini, mereka yang menghirupoxytocin lebih banyak terlibat dengan karakter baik dan mengirim lebih banyak bola kepada karakter yang baik dibandingkan yang jahat. Partisipan dengan autisme yang diberikan placebo tidak menunjukkan perbedaan respon terhadap ketiga karakter. Sedang kelompok pembanding tanpa autisme mengirim lebih banyak bola kepada karakter yang baik. Dalam percobaan kedua, peneliti mengukur tingkat perhatian dan respon partisipan terhad ap gambar wajah manusia. Mereka yang ditangani dengan oxytocin lebih memperhatikan tanda-



   

 

SE@G F G 8CH B@ @ A8GE8D E@ DC@ A8 8 I E@ I @ ISE E8C B E@FC8C E D@A8R E ISEBC A GE@C8H DBG P @H F E@ID@A@P G 8C H B@ @ A8 GE8D E @A@ 9 E@SE8T E@ DC@A8 8 I E@ I @ ISE E8C E@G E@ IE@P@ A8DC8C E@I @E8SE8C B E@FC8C E@I@ H D@A8R P@ QI8 H G EBDB@C P@CBA G I @F DBG P H@ @BI I @F A8DC8C 8CH B@ @ A8GE8D B E@FC8C E@B B A8F E D@A8 CBCB @A@ 98
S Manfaat terhadap anak i i t i l i i, ,t t . ii i it il i t j ti l it i ti l t t i i t i it i l : ti , i t ii t , i i ti , i . f lit i i i ii i t , t i t i i t il

"1 5# $" ! 0 " '" " "&" " $'" & " & $ "1 " # '" 5" '! 0 #" " $ &!" "! "(%  $' &# $)0 &0$ ' &) )% " 5"' '#$"%&4 "1 " $# #% $ #" " "5# $ 0""5& )0 $& "%&( " 0%"& ' " "5&0 " '! &#'#! % '# # " $ " " " " " % " #% ' ! "1 "! #'! 0""5& '" " $'"& &" " 0%% '# # "'" #!  "1 # "  $ )
l i i t Vi li i i . i t t l j t i ti li t t i li i t ti . . l j i , t il ti t , i i ii t i , i i, , i t li t ti ti ti i l t l i ti l i j t

) 2 %" " '" " " &" 5 $ ' %"'&% " '" $ 0"& # "  " "'"0 &( &0 $ &  $ &  $#&#! % %" " " 5"' " !  " "'&( " $ ( "7 " $# "!  "#$ $ $"!# "'" & ! % %" " " '&% "#0%"% ' "5 % '# # '" "6'" " "%"! % $ 0"&4 "1 %$ #" " &  0 "%&) &0 " # '" &0 $" '& &( "#0%"% ' " ' " '! % " " ) $ )&0 " # &#! "# ! "&) " ' "( % ! "1 % %" " " &'( " 1 " $" ( $ 0"&4
i t i t j l ti i t i, il li f it t , ti it i . i li i i ti it i t li t l j ll i t i . S l i it , t .M t

&  "% 0# 5 '# # %$ #" " & 0 "#0%"% ' "'! "(% ! % " '&% # "(%% #% " & 3 " '" 1 0 5#&"! 0%% ! "1 $ !) )' $0 " " ) $)% " $)$ ! " (  5" " '& "! "(% '&0 " "5#(%# &0 &" " 0%% '# # $ 0"&4
t t i occupational therapy .M i l, i l i l i i it . Il t i i i. i i i i, A i i

"() 3 % " $ ( " $  ) ' ' "(&0%% '# $" "( & "! " $ "1 " $" ( "!# %$ #" " & 0 "%&( " 0%"&  ' " $" 2 '" ' &" "1" $' 0%) ' " ! " &) ! "1 "! "(% '&0 "#!! "! " !"( " !  $'"& &( " $" ' #%) '&( "#!! "! %" "! % " '! &$ %$ #" "! 
SESEORANG l i .S i , t i , ti it i it ti j t .U t i i occupational therapy. l i ti i i i t t li i il t i l

Peneliti menyatakan bahwa hasil studi ini mengindikasikan perlunya studi lanjutan untuk memeriksa efek oxytocin terhadap keterampilan dan perilaku sosial pada orang -orang dengan high-functioning autism. (IK/OL-5)

"Di bawah pengaruh oxytocin, pasien merespon lebih kuat terhadap orang lain dan menunjukkan perilaku sosial yang lebih tepat. Hal ini menunjukkan potensi terapisoxytocin dalam menangani autisme," terang peneliti Elissar Andari dari Cent e Ntional de la Recherche Scientifique di Bron, Prancis, seperti dikutip situs webmd.com.

http://www.autis.info/inde .php/artikel-makalah/artikel/228-hormon-oxytocin- antu-tanganiautisme

tanda visual di gambar dan melihat lebih lama pada area wajah yang berkaitan dengan informasi sosial, seperti mata.

Tingkatkan Keterampilan Anak Autis dengan Occupational Therapy

l j i li i

i l t

i .

# "(%% "' &

y y y y y y

Keterampilan sehari-hari, seperti latihan menggunakan toilet, berpakaian, menggosok gigi, dan keterampilan lainnya Keterampilan motorik halus yang diperlukan untuk memegang objek saat menulis atau memotong sesuatu dengan gunting Keterampilan motorik kasar yang digunakan untuk berjalan atau mengendarai sepeda Duduk, postur atau keterampilan persepsi, seperti menerangkan perbedaan antara warna, bentuk, dan ukuran Keahlian visual seperti membaca dan menulis Bermain, mengatasi masalah, mengurus diri sendiri, berkomunikasi dan keterampilan sosial

Dengan membantu keterampilan di atas, penderita autisme bisa melakukan hal-hal berikut:

Anda tertarik? Terapi ini telah tersedia di Jakarta, berkonsultasilah dengan dokter untuk menemukan rujukan terapis yang tepat. (IK/OL-08) Sumber : http://www.mediaindonesia.com
Penulis : I

http://www.autis.info/index.php/artikel-makalah/artikel/225-tingkatkan-keterampilan-anak-autisdengan-occupational-therapy

XW V

y y y y y y

Berteman dan membangun hubungan Belajar fokus dalam mengerjakan tugas Belajar mengontrol keinginan engekspresikan perasaan dengan cara-cara yang lebih tepat Bermain dengan teman Belajar mengontrol diri sendiri

owina Tarigan