Anda di halaman 1dari 24

HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI METODE MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING DI SMK DHARMA KARYA

PROPOSAL

Oleh : SUHANTO

FAKULTAS EVALUASI PENDIDIKAN PASCA SARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA JAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan pembangunan suatu bangsa sangat tergantung pada Sumber Daya Manusia (SDM) sedangkan keberhasilan SDM sangat ditentukan oleh pendidikannya. Hal yang menjadi sorotan pada dunia pendidikan dewasa ini adalah rendahnya mutu lulusan pada setiap jenjang pendidikan lebih spesifik pada pelajaran matematika. Matematika adalah salah satu mata pelajaran dan merupakan ilmu dasar (basic science) yang penting baik sebagai alat bantu, sebagai pembimbing pola pikir maupun sebagai pembentuk sikap, maka dari itu matematika diharapkan dapat dikuasai oleh siswa di Sekolah. Namun pelajaran matematika selalu dianggap sulit dan ditakuti oleh siswa sehingga sangat berdampak pada rendahnya prestasi belajar siswa. Kenyataan di atas mengharuskan pembelajaran matematika diakukan secara intensif. Dalam hal ini dibutuhkan pembenahan serius dalam pembelajaran matematika. Pengajaran matematika di sekolah baik tingkat dasar, tingkat menengah, maupun tingkat lanjutan merupakan sarana utama pengembangan kecerdasan siswa mengenai konsep konsep yang terkandung dalam pelajaran matematika, sehingga pemahaman siswa terhadap pelajaran matematika tidak mengalami hambatan terhadap pemahaman siswa. Oleh karena itu pengajaran matematika mengarahkan pola berfikir ketelitian dan kecermatan yang mempunyai peranan yang penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terhadap sisiwa yang memiliki kecakapan dalam pelajaran matematika yang cenderung dipahami memberi konsep-konsep yang terkandung di dalam pelajaran matematika tidak dipahami disebabkan siswa belajar dengan cara menghafal.

Pada era sekarang ini, guru tidak boleh lagi menganggap peserta didik sebagai objek transfer ilmu, tetapi peserta didik adalah agen penbawa perubahan dalam pendidikan, sehingga mereka harus diperlakukan sebagai agen potensial dalam pengembangan keilmuan. Pembelajaran matematika disesuaikan dengan kekhasan bahan ajar dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan berfikir siswa, guru menyiapkan bahan ajar berdasarkan materi pokok, kompetensi dasar dan indikator pencapaian hasil belajar yang berkaitan dengan materi pokok. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan model pembelajaran, seperti model pembelajaran problem posing, dimana dengan model pembelajaran ini siswa akan kreatif. (Setiawan, 2004: 16), karena melalui model pembelajaran ini siswa diharapkan akan lebih mendalami pengetahuan dan menyadari pengalaman belajar. Selain itu Ruseffendi (dalam Surtini, 2004: 49) mengatakan bahwa upaya membantu siswa memahami soal dapat dilakukan dengan menulis kembali soal tersebut dengan katakatanya sendiri, menuliskan soal dalam bentuk lain atau dalam bentuk operasional. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka peneliti akan mengadakan suatu penelitian dalam bentuk penelitian tindakan kelas yang berjudul Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Pembelajaran Problem Posing pada siswa kelas XII SMK Dharma Karya. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Pembelajaran Problem Posing pada siswa kelas XII SMK Dharma Karya?

C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas maka secara operasional tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar matematika melalui model pembelajaran problem posing pada siswa kelas XII SMK Dharma Karya. D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Agar siswa dapat meningkatkan hasil belajar dan membantu memahami dan

menyelesaikan soal matematika.


2. Agar Guru dapat sedikit demi sedikit memperbaiki dan meningkatkan mutu

pembelajaran matematika di kelas


3. Agar sekolah dapat memberikan sumbangan yang baik dalam meningkatkan

mutu pendidikan sekolah khususnya dalam belajar matematika


4. Agar Peneliti memiliki pengetahuan yang luas tentang model pembelajaran

dan memiliki keterampilan untuk menerapkannya, khususnya dalam pengajaran matematika.

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN


A.

Kajian Teori 1. Pengertian Matematika. Matematika sendiri berasal dari bahasa latin manhenern atau mathema yang berarti belajar atau hal yang harus dipelajari, sedangkan dalam bahasa Belanda disebut wiskunde atau ilmu pasti yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran. Jadi matematika itu memiliki bahasa dan aturan yang terdefinisi dengan baik, penalaran yang jelas dan sistematis, terstruktur yang berkaitan antara konsep yang kuat (Diknas, 2005: 215). Secara etimologi kata matematika berasal dari istilah mathematics, berasal dari kata lain mathematica diambil dari bahasa Yunani mathematika artinya pengetahuan, kata kerja manthanei artinya belajar. Jadi secara luas matimatika adalah ilmu cara mempelajari ilmu pengetahuan, Matematika tidak hanya berhubungan dengan bilangan serta operasi. Melainkan juga aturan yang menerapkan langkahlangkah operasinya. Lebih dari itu matematika juga berkenaan dengan ideide atau konsep abstrak yang tersusun secara hirarkis dan penalarannya secara deduktif, sehingga matematika juga merupakan ilmu yang bersifat abstarak yang mempelajari ruang dan bilangan yang keduanya berhubungan secara teratur.

Matematika berkenaan dengan ideide (gagasan-gagasan) struktur dan hubunganhubunganya yang diatur secara logika sehingga matematika itu berkaitan dengan konsepkonsep abtrak. Suatu kebenaran matematika dikembangkan berdasarkan atas logika dengan pembuktian deduktif.

Selanjutnya Hudojo, mengemukakan bahwa matematika memiliki dua cara penting, yaitu obyek kajian yang abstrak dan berpola deduktif yang konsisten. 2. Pengertian Belajar Meningkatkan prestasi siswa sangat tergantung bagaimana proses belajar yang dilakukan oleh siswa yang sedang belajar itu sendiri. Pentingnya proses belajar ini maka banyak ahli psikologi pendidikan yang telah mencurahkan perhatian terhadap masalah belajar. Ini terlihat dengan banyaknya definisi belajar yang berbedabeda. Kimble dalam Simanjuntak (1993: 222) menjelaskan belajar adalah perubahan yang relatif menetap dalam potensi tingkah laku yang terjadi sebagai akibat dari latihan dengan penguatan dan tidak termasuk perubahan perubahan karena kematangan, kelelahan atau kerusakan pada susunan syaraf atau dengan kata lain bahwa mengetahui dan memahami sesuatu sehingga terjadi perubahan dalam diri seseorang yang belajar. Adapun dalam Sudjana (1991: 5) belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari praktek dan latihan. Hal ini seperti dikemukakan dalam Djamarah (2002: 11) bahwa belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan artinya tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku. Sedangkan menurut Slameto (2003: 2) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Dalam uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang dilakukan secara sadar, bersifat permanen

sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Jadi hasil dari belajar adalah adanya perubahan tingkah laku. 3. Proses Belajar Mengajar Matematika. Belajar dan mengajar adalah dua kegiatan yang tunggal, tetapi memiliki makna yang berbeda. Belajar diartikan sebagai suatu perubahan tingkah laku karena hasil dari pengalaman yang diperoleh sedangkan mengajar adalah kegiatan menyediakan kondisi yang merangsang serta mengarahkan kegiatan belajar siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang dapat membawa perubahan tingkah laku. Sejalan dengan itu Sudjana dalam Djamarah (2002 : 45) mengemukakan bahwa mengajar pada hakekatnya adalah suatu proses yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar anak didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar mengajar. Nasution dalam Syah (2002: 182) mengemukakan bahwa mengajar pada hakekatnya adalah suatu proses yakni proses mengatur, mengorganisasikan lingkungannya sebaikbaiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar. berdasarkan berbagai pendapat tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar matematika merupakan suatu proses belajar yang dilakukan dengan sadar dan terarah dimana individu belajar matematika dengan tujuan untuk melatih cara berfikir dan bernalar serta melatih kemampuan memecahkan masalah.

4.

Hasil Belajar Matematika. Istilah prestasi dalam kamus Bahasa Indonesia berarti hasil yang

dicapai. Jadi prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh seseorang setelah melakukan usaha belajar. Prestasi belajar matematika merupakan salah satu ukuran mengenai tingkat keberhasilan siswa setelah mengalami belajar. Proses belajar yang dilakukan oleh siswa akan menghasilkan suatu perubahan atau pemahaman dalam bidang pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai. Adanya perubahan tersebut tampak dalam prestasi belajar yang dihasilkan oleh siswa. Menurut Djamarah (1997: 119) prestasi adalah tingkat keberhasilan dimana seluruh bahan pelajaran yang diberikan dapat dikuasai oleh siswa atau minimal bahan pelajaran diajarkan 60 % telah dikuasai siswa. Prestasi belajar siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam waktu tertentu.

Menurut Simanjuntak (1993: 229) bahwa salah satu faktor pendukung berhasil tidaknya pengajaran matematika adalah menguasai teori belajar mengajar matematika. Teori belajar mengajar matematika yang dikuasai para tenaga pendidik akan dapat diterapkan pada peserta didik jika dapat memilih strategi mengajar yang tepat, mengetahui tujuan pendidikan dan pengajaran atau pendekatan serta dapat melihat apakah anak atau peserta didik sudah mempunyai kesiapan atau kemampuan belajar. Dengan tercapainya tujuan pembelajaran maka dapat dikatakan bahwa guru telah berhasil dalam mengajar. Keberhasilan belajar mengajar tentu saja diketahui setelah diadakan evaluasi dan seperangkat item soal sesuai dengan rumusan beberapa indikator hasil belajar. Jadi prestasi belajar matematika merupakan hasil belajar siswa dalam suatu proses pembelajaran dengan waktu

tertentu. Setiap proses belajar mengajar, keberhasilannya diukur dari sejauh mana hasil belajar yang dicapai siswa, disamping itu diukur juga dari segi prosesnya.
5.

Model Pembelajaran Problem Posing Problem posing merupakan istilah dalam bahasa Inggris, yang

mempunyai beberapa padanan dalam bahasa Indonesia. Suryanto (1998:1) dan Asari (2000:4) memadankan istilah problem posing dengan

pembentukan soal. Sedangkan Sutiarso (1999:16) menggunakan istilah membuat soal, Siswono (1999:7) menggunakan istilah pengajuan soal, dan Suharta (2000:4) menggunakan istilah pengkonstruksian masalah.

Problem posing memiliki beberapa pengertian, yaitu : Problem posing ialah perumusan soal sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dipahami dalam rangka memecahkan soal yang rumit. Problem posing ialah perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang telah diselesaikan dalam rangka mencari alternatif pemecahan lain (Silver & Cai, 1996:294). Problem posing ialah perumusan soal dari informasi atau situasi yang tersedia, baik dilakukan sebelum, ketika, atau setelah penyelesaian suatu soal (Silver & Cai, 1996:523). Menurut Brown dan Walter (1993:15) informasi atau situasi problem posing dapat berupa gambar, benda manipulatif, permainan, teorema atau konsep, alat peraga, soal, atau selesaian dari suatu soal. Selanjutnya Suryanto (1998:3) menyatakan bahwa soal dapat dibentuk melalui soal-soal yang ada dalam buku. Stoyanova (1996) mengklasifikasikan informasi atau situasi problem posing menjadi situasi problem posing yang bebas, semiterstuktur,

dan terstruktur. Pada situasi problem posing yang bebas, siswa tidak diberikan suatu informasi yang harus ia patuhi, tetapi siswa diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk membentuk soal sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Siswa dapat menggunakan fenomena dalam kehidupan sehari-hari sebagai acuan dalam pembentukan soal. Sedangkan dalam situasi problem posing yang semi terstruktur, siswa diberi situasi atau informasi yang terbuka. Kemudian siswa diminta untuk mencari atau menyelidiki situasi atau informasi tersebut dengan cara menggunakan pengetahuan yang dimilikinya. Selain itu, siswa harus mengaitkan informasi itu dengan konsepkonsep dan prinsip-prinsip matematika yang diketahuinya untuk membentuk soal. Pada situasi problem posing yang terstuktur, informasi atau situasinya berupa soal atau selesaian dari suatu soal (Yuhasriati, 2002:12). Pada penelitian ini, problem posing yang digunakan adalah perumusan soal yang sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar menjadi lebih sederhana dan dapat dipahami dalam rangka menyelesaikan soal cerita operasi hitung campuran. Penelitian ini menggunakan informasi problem posing yang terstruktur, yaitu informasi berupa soal yang perlu diselesaikan oleh siswa. Berdasarkan soal cerita yang diberikan, siswa menyusun informasi dan kemudian membuat soal berdasarkan informasi yang telah disusun. Selanjutnya, soal-soal tersebut diselesaikan dalam rangka mencari selesaian sebenarnya dari pertanyaan soal cerita yang diberikan. Respon siswa yang diharapkan dari situasi atau informasi problem posing adalah respon berupa soal buatan siswa. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan siswa membuat yang lain, misalnya siswa hanya

membuat pernyataan. Silver dan Cai (1996:526) mengklasifikasikan respon tersebut menurut jenisnya menjadi tiga kelompok, yaitu pertanyaan matematika, pertanyaan non matematika, dan pernyataan. Pertanyaan matematika adalah pertanyaan yang memuat masalah matematika dan mempunyai kaitan dengan informasi yang diberikan. Pertanyaan matematika ini, selanjutnya diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yaitu pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan dan pertanyaan matematika yang tidak dapat diselesaikan. Pertanyaan

matematika yang dapat diselesaikan adalah pertanyaan yang memuat informasi yang cukup dari situasi yang ada untuk diselesaikan, atau jika pertanyaan tersebut memiliki tujuan yang tidak sesuai dengan informasi yang ada. Selanjutnya pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan juga dibedakan atas dua hal, yaitu pertanyaan yang memuat informasi baru dan pertanyaan yang tidak memuat informasi baru. Pertanyaan non matematika adalah pertanyaan yang tidak memuat masalah matematika dan tidak mempunyai kaitan dengan informasi yang diberikan. Sedangkan pernyataan adalah kalimat yang bersifat ungkapan atau berita yang tidak memuat pertanyaan, tetapi sekedar ungkapan yang bernilai benar atau salah.

Respon yang dihasilkan siswa mungkin lebih dari satu pertanyaan matematika. Antara pertanyaan yang satu dengan pertanyaan lainnya dapat dilihat hubungan yang terjadi. Menurut Silver dan Cai (1996:302) ada dua jenis hubungan antara respon-respon tersebut, yaitu hubungan simetrik dan berantai. Respon yang mempunyai hubungan simetrik disebut respon simetrik yaitu serangkaian respon yang objek-objeknya mempunyai

hubungan. Sedangkan respon yang mempunyai hubungan berantai disebut respon berantai. Pada respon berantai, untuk menyelesiakan respon berikutnya diperlukan penyelesaian respon sebelumnya. Sehubungan itu, Kilpatrik (dalam Siver & Cai, 1996:354) menyatakan bahwa salah satu dasar kosep koginitif yang terlibat dalam pengajuan soal adalah assosiasi, yaitu kecendrungan siswa menggunakan respon pertama sebagai pijakan untuk mengajukan soal kedua, ketiga, dan seterusnya. Berdasarkan tingkat kesukarannya, Silver dan Cai (1996:526), mengklasifikasikan respon siswa menjadi dua kelompok, yaitu: Tingkat kesukaran respon terkait dengan stuktur bahasa (sintaksis), dan tingkat kesukaran respon terkait dengan stuktur matematika (semantik). Tingkat kesukaran respon yang berkaitan dengan sintaksis dapat dilihat dari proposisi yang dikandungnya. Proposisi yang digunakan dibedakan menjadi tiga, yaitu proposisi penugasan, proposisi hubungan, dan proposisi pengandaian. Proposisi penugasan adalah pertanyaan (soal) yang memuat tugas untuk dikerjakan. Proposisi hubungan adalah pertanyaan yang memuat tugas untuk membandingkan. Sedangkan proposisi pengandaian adalah pertanyaan yang menggunakan informasi tambahan. Tingkat kesukaran respon berkaitan dengan stuktur semantik, dapat diketahui dari hubungan semantiknya. Menurut Marshall (dalam Silver & Cai, 1996:528) hubungan semantik respon siswa dapat dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu mengubah, mengelompokkan, memvariasikan. membandingkan, menyatakan kembali, dan

6. Model Pembelajaran Problem Posing dalam Pembelajaran Matematika

Problem posing adalah pembelajaran yang menekankan pada pengajuan soal oleh siswa. Oleh karena itu, problem posing dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengembangkan berpikir matematis atau pola pikir matematis. Menurut Suryanto (1998:3) merumuskan soal merupakan salah satu dari tujuh kriteria berpikir atau pola berpikir matematis. Dewasa ini, problem posing merupakan kegiatan penting agar dalam dalam untuk

pembelajaran pembelajaran

matematika. matematika,

NCTM para

merekomendasikan diberikan

siswa

kesempatan

mengajukan soal sendiri (dalam Siver dan Cai, 1996:521). Silver dan Cai (1996:293) juga menyarankan agar pembelajaran matematika lebih ditekankan pada kegiatan problem posing. Menurut Cars (dalam Suryanto, 1998:9) untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan dapat dilakukan dengan cara membiasakan siswa mengajukan soal. Sejalan dengan itu, Suparno (1997:83) menyatakan bahwa mengungkapkan pertanyaan

merupakan salah satu kegiatan yang dapat menantang siswa untuk lebih berpikir dan membangun pengetahuan mereka. Problem posing atau pembentukan soal adalah salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan keterampilan siswa guna meningkatkan kemampuan siswa dalam menerapkan konsep matematika. Tim Penelitian Tindakan Matematika (PTM) (2002: 2) mengatakan bahwa: 1. Adanya korelasi positif antara kemampuan membentuk soal dan kemampuan membentuk masalah. 2. Latihan membentuk soal merupakan cara efektif untuk meningkatkan kreatifitas siswa dalam memecahkan suatu masalah.

Adapun masalah dalam matematika diklasifikasikan dalam dua jenis antara lain:
1. Soal mencari (problem to find) yaitu mencari, menentukan, atau

mendapatkan nilai atau objek tertentu yang tidak diketahui dalam soal dan memenuhi kondisi atau syarat yang sesuai dengan soal. Objek yang ditanyakan atau dicari (unknown), syarat-syarat yang memenuhi soal (condition) dan data atau informasi yang diberikan merupakan bagian penting atau pokok dari sebuah soal mencari dan harus dipenuhi serta dikenali dengan baik pada saat memecahkan masalah.
2. Soal membuktikan (problem to prove), yaitu prosedur untuk menentukan

apakah suatu pernyataan benar atau salah. Soal membuktikan terdiri atas bagian hipotesis dan kesimpulan. Pembuktian dilakukan dengan membuat atau memproses pernyataan yang logis dari hipotesis menuju kesimpulan (Depdiknas, 2005: 219). Menurut Killpatrich (dalam Silver dan Cai, 1996:530) salah satu dasar kognitif yang ada dalam problem posing adalah asosiasi. Selanjutnya, menurut Asari (2000:9) dalam kegiatan problem posing, ketika terjadi proses asosiasi antara informasi baru dengan struktur kognitif yang dimiliki seseorang, maka proses selanjutnya yang terjadi adalah proses asimilasi dan akomodasi. Di samping itu, Brown dan Walter (1996:15) yang menyatakan pembuatan soal dalam pembelajaran matematika melalui dua tahap kegiatan kognitif, yaitu accepting (menerima) dan challenging (menantang). Menerima terjadi ketika siswa membaca situasi atau informasi yang diberika guru dan menantang terjadi ketika siswa berusaha untuk mengajukan soal berdasarkan situasi atau informasi yang diberikan. Sehubungan dengan hal tersebut, Asari

(2000:9) menegaskan bahwa proses kognitif menerima memungkinkan siswa untuk menempatkan suatu informasi pada suatu jaringan struktur kognitif sehingga struktur kognitif tersebut makin kaya, sementara proses kognitif menantang memungkinkan jaringan stuktur kognitif yang ada menjadi semakin kuat hubungannya. Dengan demikian pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing akan menambah kemampuan dan penguatan konsep dan prinsip matematika siswa. Silver dkk dalam Surtini (2004: 48) mengemukakan bahwa sebenarnya sudah sejak lama para tokoh pendidikan matematika menunjukkan pembentukan soal merupakan bagian penting dalam pengalaman matematis siswa dan menyarankan agar dalam pembelajaran matematika ditekankan kegiatan pembentukan soal. Begitupun yang ditekankan English bahwa pembentukan soal merupakan inti kegiatan matematis dan merupakan komponen penting dalam kurikulum matematika. Hasil penelitian Silver dan Cai dalam Surtini (2004: 49) menunjukkan bahwa kemampuan pembentukan soal berkorelasi positif dengan kemampuan memecahkan masalah. Serta pengablikasiannya dalam 3 bentuk aktivitas kognitif matematika yakni sebagai berikut: (a). Pre solution posing yaitu jika seorang siswa membuat soal dari situasi yang diadakan. Jadi guru diharapkan mampu membuat pertanyaan yang berkaitan dengan pernyataan yang dibuat sebelumnya,(b). Within solution posing yaitu jika seorang siswa mampu merumuskan ulang pertanyaan soal tersebut menjadi sub-sub pertanyaan baru yang urutan penyelesaiannya seperti yang telah diselesaikan sebelumnya. jadi, diharapkan siswa mampu membuat sub-sub pertanyaaan baru dari sebuah pertanyaan yang ada pada soal yang bersangkutan, (c). Post solution posing

yaitu jika seorang siswa memodifikasi tujuan atau kondisi soal yang sudah diselesaikan untuk membuat soal yang baru yang sejenis. Dengan demikian kemampuan pembentukan soal sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika di sekolah sebagai usaha meningkatkan hasil pembelajaran matematika dan dapat meningkatkan kemampuan siswa. Dari sini kita peroleh bahwa pembentukan soal penting dalam pelajaran matematika guna meningkatkan hasil belajar matematika siswa dengan membuat siswa aktif dan kreatif. Pendidikan matematika dengan pendekatan problem possing merupakan pendekatan yang efektif karena kegiatan problem possing sesuai dengan pola pikir matematika yang artinya: 1. Pengembangan matematika sering terjadi dari problem possing 2. Problem possing merupakan salah satu tahap dalam berpikir matematis. Adapun langkahlangkah pembelajaran dalam metode pengajuan soal sebagai berikut : a. Pendahuluan Pada tahap kegiatan yang dilakukan adalah memotivasi siswa, menjelaskan tujuan pemelajaran dan mengingatkan kembali tentang materi yang relevan. Selain itu juga dapat mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah yang diberikan sebelunnya. b. Tahap pengembangan Tahap ini merupakan tahap inti kegiatan pembelajaran. Guru menyajikan konsep dan prinsip serta contoh-contoh kepada siswa. Kemudian siswa diarahkan bagaimana membuat soal dan

menyelesaikannya yang sesuai dengan contoh contoh yang diberikan sebelumnya. c. Tahap penerapan Tahap ini siswa diminta untuk menerapkan materi yang telah dipelajari pada materi yang lebih luas. Bentuk kegiatannya seperti mengerjakan soal soal latihan atau membuat tugas tugas tertentu. d. Penutup Guru bersama siswa membuat rangkuman pengajaran. Rangkuman disusun berdasarkan aspekaspek penting dari materi yang telah dipelajari. B. Hipotesis Tindakan Berdasarkan kajian pustaka, kerangka pemikiran dan penelitian yang relevan maka hipotesis penelitian ini adalah melalui problem posing, hasil belajar matematika siswa KelasXII SMK Dharma Karya?.

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom action research) yang biasa disingkat PTK. Seperti dalam Wardani dkk (2003: 1.6) karakteristik yang khas dari penelitian tindakan kelas yakni adanya tindakan tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas yang meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi yang selanjutnya dirangkum dalam suatu siklus kegiatan. B. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMK Dharma Karya pada tahun ajaran 2011/2012 semester ganjil. C. Data dan Tehnik Pengambilan Data
1. Sumber data: yang dijadikan sumber data adalah guru matematika dan siswa

kelas XII SMK Dharma Karya 2. Jenis data: jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif dapat diperoleh dengan lembar observasi dan data kuantitatif diperoleh dengan tes hasil belajar. 3. Tehnik pengambilan data: a) Data tentang pelaksanaan pembelajaran problem posing secara individu diambil melalui lembar observasi. b) Data tentang hasil belajar siswa diambil melalui tes hasil belajar siswa.

D. Faktor yang Diselidiki 1.

Faktor siswa : untuk melihat minat dan kemampuan siswa dalam

pelajaran matematika. Selain itu juga diamati kemampuan siswa dalam membuat soal dan menjawabnya sendiri beserta melihat kehadiran siswa dan keaktifan, kesungguhan dan sikapnya dalam belajar dalam proses

pembelajaran.
2.

Faktor sumber pelajaran : yaitu apakah sumber pelajaran dapat

mendukung pelaksanaan model pembelajaran yang diterapkan.


3.

Faktor proses, yaitu melihat apakah proses belajar mengajar bermakna, aktif, kreatif, dan menyenangkan dengan

berlangsung

diterapkannya pendekatan problem posing.


4.

Faktor Hasil, yaitu dengan melihat hasil dari pembelajaran matematika

melalui pendekatan problem posing E. Defenisi Operasional Untuk menghindari perbedaan persepsi terhadap istilah dalam penelitian ini maka diberikan defenisi operasional sebagai berikut:
1. Model pembelajaran problem posing adalah suatu model pembelajaran yang

mana siswa menulis kembali soal dengan kata katanya sendiri, menulis soal dalam bentuk lain atau dalam bentuk operasional.
2. Prestasi belajar matematika adalah suatu hasil belajar matematika siswa yang

diperoleh melalui problem posing, setelah diberikan tes. F. Rancangan Penelitian

Rancangan yang diterapkan berupa rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dirancang dalam 2 siklus. Prosedur dan langkah langkah penelitian ini mengikuti prinsip yang berlaku dalam PTK dengan skema alur sebagai berikut: G. Prosedur Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan dalam dua siklus yaitu:

Siklus I dilaksanakan selama empat kali pertemuan, pertemuan terakhir evaluasi siklus I sebagai acuan untuk memperadakan siklus II, dan Siklus I dilaksanakan selama empat kali pertemuan, pertemuan terakhir evaluas/tes siklus II di siklus ini diharapkan adanya peningkatan/perkembangan dibanding dengan hasil evaluasi siklus I. 1. Gambaran Umum Siklus I a. Tahap Perencanaan Pada tahap perencanaan yang akan dilaksanakan yaitu: 1) Menelaah kurikulum matematika SMA kelas I semester ganjil 2) Membuat rencana pengajaran untuk setiap pertemuan 3) Menyusun tes diagnostic 4) Membuat format observasi untuk mengamati kondisi pembelajaran dikelas ketika pelaksanaan tindakan sedang berlansung. b. Tahap Tindakan Secara umum tindakan pada siklus I adalah: 1) Pembentukan kelompok 2) Mengajarkan materi sesuai dengan rencana pengajaran 3) Membimbing siswa dalam menyelesaikannya 4) Meminta siswa menanggapi masalah/ soal yang diajukan oleh temannya.

c. Tahap Observasi Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mendukumentasikan hasil pengumpulan data siklus I yang meliputi aktivitas siswa selama pengajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi yang telah disediakan sebelumnya. d.Tahap Refleksi Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan kemudian di analisis. Dari hasil tersebut direfleksikan terhadap tindakan yang dilakukan. Selanjutnya dibuat rencana perbaikan dan penyempurnaan pada siklus berikutnya. 2. Gambaran Umum Siklus II a. Tahap Perencanaan Pada tahap perencanaan yang akan dilaksanakan yaitu: 1) Menelaah kurikulum matematika SMA kelas I semester I 2) Membuat rencana pengajaran untuk setiap pertemuan 3) Menyusun tes diagnostic 4) Membuat format observasi untuk mengamati kondisi pembelajaran dikelas ketika pelaksanaan tindakan sedang berlansung. b. Tahap Tindakan Secara umum tindakan yang dilakukan pada siklus II adalah: 1) Mengajarkan materi sesuai rencana pengajaran 2) Membimbing siswa dalam membuat soal dan menyelesaikannya 3) Meminta siswa menanggapi masalah/ soal yang diajukan oleh temannya 4) Meminta siswa mengerjakan LKS yang dibagikan.

c. Tahap Observasi Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mendukumentasikan hasil pengumpulan data siklus II yang meliputi aktivitas siswa selama pengajaran berlansung dengan menggunakan lembar observasi yang telah disediakan sebelumnya. d. Tahap refleksi Refleksi dilakukan untuk melihat proses pelaksaan siklus dan hasil pemahaman siswa. Refleksi dimaksudkan sebagai kegiatan analisis,

memahami dan membuat kesimpulan. H. Teknik Pengumpulan Data Adapun teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut: 1). Sumber Data: Sumber data dari penelitian ini adalah lembar observasi, hasil tes baik tes diagnostic maupun tes siklus I dan II. 2). Jenis Data: Jenis data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data kualitatif yang diperoleh dari lembar observasi dan data kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes baik tes diagnostic maupun tes akhir siklus I dan II 3). Cara Pengambilan Data a). Data hasil belajar siswa diperoleh dari tes diagnostic dan tes akhir siklus b). Data mengenai keaktifan siswa dalam mengenai dalam proses belajar mengajar diperoleh melalui lembar observasi

c). Data mengenai sikap siswa terhadap pendekatan problem posing diperoleh dari pedoman wawancara yang diberikan pada siswa pada akhir siklus II. I. Teknik Analisis Data Data yang terkumpul pada penelitian ini selanjutnya akan dianalisis dengan menggunakan statistic deskriptif, atatistik deskriptif yang dimaksudkan untuk mendeskripsikan karakteristik responden yang dalam hal ini skor rataarata, skor terendah, skor tertinggi, rentang skor, standar deviasi, varansi, skor ideal, table distribusi frekuensi dan persentase skor. Adapun untuk keperluan analisis deskriptif digunakan teknik kategori tingkat penguasaan menurut Suherman (Junaeda,2005:29) yaitu: Tingkat penguasaan 0 % - 39 % Rendah sekali Tingkat Pebguasaan 40 % - 54 % Rendah Tingkat Penguasaan 55 % - 74 % Sedang Tingkat Penguasaan 75 % - 89 % Tinggi Tingkat Penguasaan 90 % - 100% Tinggi sekali Indikator Kinerja Indikator kinerja dalam penelitian ini adalah bila skor rata rata hasil belajar atau ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan menurut ketuntasan Dinas. Siswa dikatakan tuntas belajar apabila memperoleh skor minimal 65 % dari skor ideal dan tuntas secara klasikal minimal 85 % dari jumlah siswa telah tuntas belajar.

DAFTAR PUSTAKA Ajerianti. 2006. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Pengajaran Remedial Dengan Tutor Sebaya Pada Siswa Kelas 1 SMP Negeri 1 Lasusua Kabupaten Kolaka Utara. Makassar: Skripsi. Fkip Unismuh Makassar. Asari. Abdul Rahman. 2002. Pembelajaran matematika Dengan Pendekatan Problem Posing Pada Pembelajaran Matematika. Jakarta: Pelangi Pendidikan Volume 2 No. 2. Echols. John, M. dkk. 1995. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta. PT Gramedia. Kartini.2000. Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas III SLTP Negeri 3 Melalui Apersepsi Dan Motivasi. Makassar: Skripsi FMIPA UNM. Moleong. 1990. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. Remaja Rosda Karya. Roestiah. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Rineka Cipta. Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta. Rineka Cipta. Sudjana, Nana. 1991. Teori-Teori Belajar Untuk Pengajaran. Jakarta. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Surtini, Sri. 2004. Problem Posing dan Pembelajaran Operasi Hitung Bilangan Cacah Siswa SD. Jurnal pendidikan (on line volume 5 no. 1). http://pk.ut.ac. Id/Scan Penelitian/Sri % 2004. pdf. (13 Maret 2006). Syah, Muhibbin. 2005. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung. Remaja Rosdakarya. Tim Penelitian Tindakan Matematika (PTM). 2002. Meningkatkan Kemampuan Siswa Menerapkan Konsep Matematika Melalui Pemberian Tugas Problem Posing Secara Berkelompok. Buletin Pelangi PendidikanVolume 2. Jakarta. Direktorat Pendidikan.

Anda mungkin juga menyukai